Anda di halaman 1dari 17

MUJAHADAH TERHADAP JIWA

‫مجاهدة النفــــس‬
MUJAHADAH TERHADAP JIWA
‫مجاهدة النفــــس‬
(‫ة‬ َ ُ ‫ )ل‬MAKNA MUJAHADATUN NAFSI SECARA ETIMOLOGIS
ً ‫غ‬
Mujahadatun nafsi adalah susunan idlofah (kata majmu’), yang terdiri dari mudlaf (kata yang
.disandarkan), yaitu mujahadah dan mudlaf ilahi (kata yang dijadikan sandaran), yaitu an-nafsi
Mujahadah menurut Ibnu Manzhur dalam Lisanul ‘Arab adalah: Menyapih jiwa dari syahwat
.dan melepaskan hati dari angan-angan rusak serta syahwat
Nafs dalam Bahasa Arab bermakna ruh, hati, hakikat, dzat sesuatu (Lisanul Arab), kebesaran,
.kesombongan, kebanggaan, obsesi, inti, dan harga diri

(ً ‫لحا‬
َ ِ‫صط‬
ْ ِ ‫ )ا‬MAKNA MUJAHADATUN NAFS SECARA TERMINOLOGIS
Memerangi jiwa yang selalu menyuruh berbuat buruk dengan cara memaksanya melakukan hal-
hal yang berat, namun diperintahkan dalam syari’at. (Dikutip dari At-Ta’rifat: 263 secara ringkas
dan dengan sedikit perubahan. Ada pembagian lain mengenai jiwa, sebagaimana yang
disebutkan oleh Al-Jurjani, yaitu jiwa nafs nabatiyah, nafs insaniyah, nathiqah dan lain
(sebagainya
Al-Munawi berkata, “Dinyatakan bahwa mujahadah adalah memaksa jiwa melakukan hal-hal
yang memberatkan fisik dan menentang hawa nafsu. Juga dinyatakan bahwa mujahadah adalah
mencurahkan hal yang dimampui untuk melakukan perintah Dzat Yang ditaati; Allah azza wa
(jalla.” (At-Tauqif: 297
Ibnu ‘Alan berkata, “Mujahadah adalah bentuk mufa’alah dari kata al-juhdu yang bermakna
kemampuan. Maka manusia bermujahadah terhadap jiwanya dengan menggunakannya dalam
hal-hal yang memberi manfaat, baik saat ini atau yang akan datang. Dan, jiwa pun berjihad
(padanya untuk melakukan apa yang diinginkannya.” (Dalilul Falihin, 1: 302
Ibnu Hajar –rahimahullah- mengomentari ungkapan Bukhari, “Bab siapa yang berjihad terhadap
jiwanya dalam mentaati Allah azza wa jalla.” Ini merupakan penjelasan keutamaan orang yang
bermjahadah. Dan, yang dimaksud mujahadah adalah: Menahan jiwa dari kehendak-
.(kehendaknya yang dapat menyibukkannya dengan selain ibadah (kepada Allah

MACAM-MACAM JIWA
َ
ّ ‫س ا ْل‬
yaitu yang cenderung ,(ُ‫ماَرة‬ ْ ّ ‫ )َالن‬Jiwa yang sangat menyuruh pada kejahatan.1
ُ ‫ف‬
pada tabi’at fisik, menyuruh pada kelezatan dan syahwat indrawi, dan menarik hati
menuju arah kerendahan. Dengan demikian jiwa ini merupakan rumah kejahatan dan
.sumber akhlak tercela. Dan, jiwa inilah yang harus diperangi
yaitu jiwa yang memantulkan sinar hati ,(‫ة‬ ُ ‫م‬ ّ ّ ‫س الل‬
َ ‫وا‬ ُ ‫ف‬ ْ ّ ‫ )َالن‬Jiwa yang sangat mencela.2
seukuran yang menyebabkanya tersadar dari kelupaan. Sehingga setiap kali terjadi
.kejahatan karena tabi’at jiwa, ia mencela dirinya sendiri
jiwa yang benar-benar tersinari oleh cahaya hati, ,(‫ة‬ َ ْ ‫مط‬
ُ ّ ‫مئ ِن‬ ُ ْ ‫س ال‬
ُ ‫ف‬ْ ّ ‫ )َالن‬Jiwa yang tenang.3
.sehingga terlepas dari siafat-sifat tercela dan terhiasi akhlak-akhlak mulia

AYAT-AYAT TENTANG MUJAHADATUN NAFS

Allah swt. berfirman, “Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah dengan.1
jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri. Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak
akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami
(kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.” (Al-Qiyamah: 1-4
Allah swt. berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya.2
dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat
(tinggal (nya).” (An-Nazi’at: 40 – 41
Allah swt. berfirman, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah.3
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya
(beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” (Asy-Syams: 7 – 9
Allah swt. berfirman, “Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda.4
Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya
berkata, ’Marilah ke sini.’ Yusuf berkata, ’Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku
telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang lalim tiada
akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu)
dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata
dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan
daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-
hamba Kami yang terpilih. Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu
menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati
suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata, ’Apakah pembalasan terhadap orang
yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum)
dengan azab yang pedih?’ Yusuf berkata, ’Dia menggodaku untuk menundukkan diriku
(kepadanya),’ dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya, ’Jika
baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang
yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta,
dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.’ Maka tatkala suami wanita itu melihat baju
gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia, ’Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di
antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.’ (Hai) Yusuf,
’Berpalinglah dari ini dan (kamu hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena
kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.’ Dan wanita-wanita di
kota berkata, ‘Istri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya
(kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam.
(Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” (Yusuf: 23 – 30

HADITS-HADITS MENGENAI MUJAHADATUN NAFS


,Fudlalah bin Ubaid meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda.1
‫في‬ ِ ً ‫مَراِبطا‬ ُ ‫ت‬ َ ‫ما‬ َ ‫ذي‬ ِ ّ ‫ه إ ِل ّ ال‬ِ ِ ‫مل‬ َ ‫عَلى‬
َ ‫ع‬ َ ‫م‬ ُ َ ‫خت‬ْ ُ‫ت ي‬ ٍ ّ ‫مي‬ َ ‫ل‬ ّ ُ‫ك‬
،‫ة‬
ِ ‫ممم‬ ِ ْ ‫وم ِ ا ل‬
َ ‫قَيا‬ ْ ‫ه إ ِل َممى ي َ م‬ ُ ُ ‫مل‬
َ ‫ع‬
َ ‫ه‬ ُ َ ‫مي ل‬ َ ْ ‫ه ي ُن‬ ُ ّ ‫فإ ِن‬ َ ،‫ه‬ ِ ‫ل الل‬ ِ ْ ‫سب ِي‬ َ
r ‫ه‬ َ ‫و‬ َ ْ ‫ة ال‬ ْ
ِ ‫ل الل م‬ ْ ‫سم‬ ُ ‫ت َر‬ ُ ‫ع‬ْ ‫م‬ِ ‫سم‬ َ ‫و‬َ "‫ر‬ ِ ‫قب ْم‬ ِ ‫فت ْن َم‬ ِ ‫ن‬ ْ ‫مم‬ ِ ‫ن‬ ُ ‫م‬ َ ‫وي َ مأ‬ َ
"‫ه‬
ُ ‫س‬ ْ
َ ‫هدَ ن َف‬ َ ‫جا‬ َ ‫ن‬ ْ ‫م‬ َ ُ ‫هد‬ ِ ‫جا‬ َ ‫م‬ ْ َ
ُ ‫ " ال‬: ‫ل‬ ُ ‫و‬ ُ
ْ ‫ي َق‬
Setiap orang yang mati ditutup (pahala) amalnya, kecuali orang yang (mati) dalam”
keadaan berjaga di jalan Allah; maka (pahala) amalnya dikembangkan hingga hari kiamat
dan mendapatkan keamanan dari fitnah kubur.” Dan, saya juga mendengar Rasulullah
saw. bersabda, ”Mujahid adalah orang yang berjihad terhadap jiwanya.” (HR. Ahmad
dalam Al-Musnad 6/20-22, Turmudzi 1612 dan redaksi di atas dari riwayat beliau. Dan,
ia berkata Hadits ini Hasan Shahih. Juga diriwayatkan oleh Abu Daud 2500, hingga lafal
(”Fitnah kubur.” Muhaqqiq Jami’ul ushul mengatakan bahwa sanadnya baik 11/21
,.Sabrah bin Abu Fakihah ra. meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw.2

‫ه‬ ُ ‫عممدَ َلمم‬ َ ‫ق‬ َ ‫ف‬ َ ‫ه‬ ِ ‫ق‬ ِ ‫م ِبممأ َطُْر‬ َ َ‫ن آد‬ ِ ‫عممدَ ِلْبمم‬ َ ‫ق‬ َ ‫ن‬ َ ‫طا‬ َ ْ ‫شممي‬ ّ ‫ن ال‬ ّ ِ‫إ‬
‫ك‬ َ ِ ‫ن آب َممائ‬ َ ‫وِدي‬ َ ‫ك‬ َ َ ‫وت َذَُر ِدين‬ َ ‫م‬ ُ ِ ‫سل‬ ْ ُ‫ل ت‬ َ ‫قا‬ َ ‫ف‬ َ ِ ‫سَلم‬ ْ ِ ‫ق اْل‬ ِ ‫ري‬ ِ َ‫ب ِط‬
ْ َ َ ‫فعصاه‬ َ ‫ء أ َِبي‬
‫ة‬ ِ ‫جَر‬ ْ ‫ه‬ ِ ‫ق ال‬ ِ ‫ري‬ ِ َ‫ه ب ِط‬ ُ َ ‫عد َ ل‬ َ ‫ق‬ َ ‫م‬ ّ ُ‫م ث‬ َ َ ‫سل‬ ْ ‫فأ‬
َ
ُ َ َ َ ‫ك‬ ِ ‫وآَبا‬ َ
‫ل‬ ُ ‫مث َمم‬ َ ‫ممما‬ َ ّ ‫وإ ِن‬ َ ‫ماءَك‬ َ َ ‫سم‬ َ ‫و‬ َ ‫ض مك‬ َ َ ‫ع أْر‬ ُ َ ‫و ت َ مد‬ َ ‫جُر‬ ِ ‫همما‬ َ ُ‫ل ت‬ َ ‫قمما‬ َ ‫ف‬ َ
‫جَر‬ َ ‫همما‬ َ ‫ف‬ َ ُ‫صمماه‬ َ ‫ع‬ َ ‫ف‬ َ ‫ل‬ ِ ‫و‬ َ ‫في الطّم‬ ِ ‫س‬ ِ ‫فَر‬ َ ْ ‫ل ال‬ ِ َ ‫مث‬ َ َ‫ر ك‬ ِ ‫ج‬ ِ ‫ها‬ َ ‫م‬ ُ ْ ‫ال‬
‫د‬
ُ ‫هم‬ ْ ‫ج‬َ ‫و‬ َ ‫هم‬ ُ ‫ف‬ َ ُ ‫ه مد‬ ِ ‫جا‬ َ ُ‫ل ت‬ َ ‫قمما‬ َ ‫ف‬ َ ‫همماِد‬ َ ‫ج‬ ِ ْ ‫ق ال‬ ِ ‫ري‬ِ َ‫ه ب ِط‬ ُ َ ‫عد َ ل‬ َ ‫ق‬َ ‫م‬ ّ ُ‫ث‬
ُ َ ‫مممْرأ‬
‫ة‬ َ ْ ‫ح ال‬ ُ ‫كمم‬ َ ْ ‫فت ُن‬ َ ‫ل‬ ُ ‫قَتمم‬ ْ ُ ‫فت‬ َ ‫ل‬ ُ ‫قاِتمم‬ َ ُ ‫فت‬ َ ‫ل‬ ِ ‫ممما‬ َ ْ ‫وال‬ َ ‫س‬ ِ ‫فمم‬ ْ ّ ‫الن‬
‫ه‬ِ ‫ل الل ّم‬ ُ ‫سممو‬ ُ ‫ل َر‬ َ ‫قمما‬ َ ‫ف‬ َ َ ‫ه مد‬ َ ‫جا‬ َ ‫ف‬ َ ُ‫صمماه‬ َ ‫ع‬ َ ‫ف‬ َ ‫ل‬ ُ ‫ممما‬ َ ْ ‫م ال‬ ُ ‫س‬ َ ‫ق‬ ْ ُ ‫وي‬ َ
‫قما‬ ّ ‫ح‬ َ ‫ن‬ َ ‫ك كما‬ َ َ ‫ل ذَل ِم‬ َ ‫عم‬ َ ‫ف‬ َ ‫ن‬ ْ ‫مم‬ َ ‫ف‬ َ ‫م‬ َ ‫سمل‬ ّ َ ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ ‫علْيم‬ َ َ ‫ه‬ ّ
ُ ‫صلى الل‬ ّ َ
َ
‫ن‬ َ ‫ل ك َمما‬ َ ‫قت ِ م‬ ُ ‫ن‬ ْ ‫مم‬ َ ‫و‬ َ ‫ة‬ َ ّ ‫جن‬ َ ْ ‫ه ال‬ ُ َ ‫خل‬ ِ ْ‫ن ي ُد‬ ْ ‫لأ‬ ّ ‫ج‬ َ ‫و‬ َ ‫عّز‬ َ ‫ه‬ ِ ّ ‫عَلى الل‬ َ
َ
‫ق‬
َ ‫ر‬ ِ ‫غمم‬ َ ‫ن‬ ْ ِ ‫وإ‬ َ ‫ة‬ َ ‫جّنمم‬ َ ْ ‫ه ال‬ ُ َ ‫خل‬ ِ ْ ‫ن ي ُ مد‬ ْ ‫لأ‬ ّ ‫ج‬ َ ‫و‬ َ ‫عّز‬ َ ‫ه‬ ِ ّ ‫عَلى الل‬ َ ‫قا‬ ّ ‫ح‬ َ
َ َ
‫ه‬ ُ ‫داب ُّتمم‬ َ ‫ه‬ ُ ْ ‫صت‬ َ ‫ق‬ َ ‫و‬ َ ‫و‬ ْ ‫ةأ‬ َ ّ ‫جن‬ َ ْ ‫ه ال‬ ُ َ ‫خل‬ ِ ْ‫ن ي ُد‬ ْ ‫هأ‬ ِ ّ ‫عَلى الل‬ َ ‫قا‬ ّ ‫ح‬ َ ‫ن‬ َ ‫كا‬ َ
َ ّ ‫عَلى الل‬
‫ة‬َ ّ ‫جن‬ َ ْ ‫ه ال‬ ُ َ ‫خل‬ ِ ْ‫ن ي ُد‬ ْ ‫هأ‬ ِ َ ‫قا‬ ّ ‫ح‬ َ ‫ن‬ َ ‫كا‬ َ
Sesungguhnya syetan duduk di jalan-jalan yang dilalui manusia; ia mengganggu”
manusia di jalan Islam, ia berkata, ’Engkau masuk Islam, meninggalkan agamamu,
agama ayahmu, dan agama nenek moyangmu?’ Maka manusia pun mendurhakainya dan
masuk Islam. Kemudian ia duduk mengganggu di jalan hijrah; ia berkata, ’Engkau
berhijrah meninggalkan tanah airmu. Padahal perumpamaan orang yang hijrah itu seperti
kuda yang diikat dengan tali.’ Maka manusia pun mendurhakainya dan berhijrah.
Kemudian ia menggoda manusia di jalan jihad, ia berkata, ’Engkau berjihad, padahal
jihad itu memberatkan jiwa dan harta; engkau berperang dan akan terbunuh, lantas
istrimu dinikahi orang dan hartamu dibagi-bagi?’ Maka manusia pun mendurhakainya
dan berjihad. Rasulullah saw. bersabda, ’Siapa yang melakukan hal itu, maka ia Allah
akan memasukkannya ke surga. Siapa yang terbunuh, maka Allah akan memasukkannya
ke surga. Apabila ia tenggelam, maka Allah akan memasukkannya ke surga, atau jika
kendaraannya membawanya ke tempat jauh, maka Allah akan memasukkannya ke
surga.” (HR. An-Nasai 6/21 – 22 dalam bab Jihad. Muhaqqiq jami’ul ushul mengatakan
(9/540-541) bahwa sanad Hadits ini Shahih. Dianggap shahih oleh Ibnu Hibba serta di
(anggap hasan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah 3/64
Anas ra. berkata, ”Pamanku Anas bin Nadlor tidak ikut serta dalam perang Badr. Maka ia .3
berkata kepada Rasulullah saw., ’Wahai Rasulullah saw., saya tidak ikut serta dalam
peperangan engkau yang pertama melawan kaum musyrikin. Apabila Allah memberi
kesempatan padaku untuk memerangi kaum musyrikin, maka Ia akan melihat apa yang
akan aku perbuat.’ Ketika perang Uhud terjadi dan kaum muslimin terkalahkan, ia
berdoa, ’Ya Allah, aku mohon ampun kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh mereka
(kaum muslimin yang melarikan diri) dan aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang
dialkukan oleh mereka (kaum musyrikin).’ Kemudian ia maju dan bertemu Sa’d bin
Mu’adz, ia berkata, ’Wahai Sa’d, surga demi Tuhan Nadlor. Sesungguhnya saya
mencium baunya di balik Uhud.’ Sa’d berkata, ’Aku tidak mampu melakukan seperti apa
”.yang dilakukannya, wahai Rasulullah saw
Anas ra. berkata, ”Kami menjumpai delapan puluh lebih luka ditubuhnya, baik karena
sabetan pedang, tusukan tombak, atau lemparan anak panah. Kami menjumpainya telah
terbunuh dan tubuhnya dipotong-potong oleh kaum musyrikin. Sehingga tiada seorang
”.pun yang mengenalinya, kecuali saudarinya melalui jari jemarinya
Anas ra. melanjutkan penuturannya, ”Kami beranggapan bahwa karena dia dan orang-
orang sepertinyalah ayat berikut diturunkan, ”Di antara orang-orang mukmin itu ada
orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara
mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan
mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya). (Al-Ahzab: 23).” (HR. Bukhari, Fathul
(Bari 6/2805 dan Muslim 1903. Redaksi di atas dari riwayat Bukhari
Rabi’ah bin Ka’b Al-Aslami ra. berkata, ”Aku bermalam bersama Rasulullah saw.,.4
kemudian aku membawakan air wudlu dan kebutuhan beliau. Beliau berkata kepadaku,
’Ajukan permintaan!’ Aku pun berkata, ’Aku mohon bisa menemanimu di surga.’ Beliau
’ ,bertanya, ’Apa ada selain itu?’ Aku menjawab, ’Hanya itu.’ Beliau bersabda
َ
ِ‫جوْد‬ ّ ‫ك ب ِك َث َْرةِ ال‬
ُ ‫س‬ َ ‫س‬
ِ ‫ى ن َْف‬
َ ‫عل‬
َ ‫ي‬ ِ ‫فَأ‬
ّ ‫عن‬
Bantulah aku untuk kepentingan dirimu dengan memperbanyak sujud (shalat).’ (HR.’
(Muslim 489
,Mughirah bin Syu’bah ra. meriwayatkan.5
َ
:‫ه‬ ُ ‫ل ل َم‬َ ‫قي ْم‬ َ . ُ‫ماه‬
ِ ‫ف‬ َ َ ‫قد‬ َ ‫ت‬ ْ ‫خ‬َ ‫ف‬ َ َ ‫حّتى ا ِن ْت‬ َ ‫صّلى‬ َ r ‫ي‬ ّ ِ ‫ن الن ّب‬ ّ ‫أ‬
‫ممما‬َ ‫و‬
َ ‫ك‬ َ ِ ‫ن ذَن ْب‬ ْ ‫م‬
ِ ‫م‬ َ ّ ‫قد‬ َ َ ‫ما ت‬
َ ‫ك‬ َ َ‫ه ل‬ ُ ‫فَر الل‬ َ ْ ‫قد‬
َ ‫غ‬ َ ‫و‬ َ ‫ه‬
َ ‫ذا‬ َ ‫ف‬ ُ ّ ‫أ َت ُك َل‬
"‫ورا ً ؟‬ َ ً ‫عْبدا‬ َ َ َ ‫ "أ‬: ‫ل‬ ّ َ ‫ت َأ‬
ْ ُ ‫شك‬ َ ‫ن‬ َ ‫و‬ ْ ُ ‫فل َ أك‬ َ ‫قا‬َ ‫ف‬َ .‫خَر‬
Sesungguhnya Rasulullah saw. melakukan shalat hingga dua telapak kaki beliau”
bengkak. Maka ditanyakan kepada beliau, ”Apakah engkau memaksakan seperti ini,
padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” beliau
menjawab, ”Tidakkah aku menjadi hamba yang sangat bersyukur?” (Fathul Bari 1130
(dan Muslim 2819. Redaksi di atas dari riwayat Muslim

UNGKAPAN PARA ULAMA MENGENAI MUJAHADATUN NAFS


,Isa as. berkata.1
‫ه‬ ْ َ‫ب ل‬
ُ ‫م ي ََر‬ َ ‫د‬
ٍ ِ ‫غائ‬ ٍ ‫ع‬
ِ ‫و‬
ْ ‫م‬
َ ِ ‫ضَرةً ل‬
ِ ‫حا‬
َ ً‫وة‬
َ ‫ه‬
ْ ‫ش‬ َ ‫ن ت ََر‬
َ ‫ك‬ ْ ‫م‬ ْ ُ‫ط‬
َ ِ ‫وَبى ل‬
Berbahagialah orang yang meninggalkan syahwat yang nyata (di dunia) untuk janji yang”
(masih ghaib, yang belum dilihatnya.” (Ihya’ ulumuddin 3/71
Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. memberi wasiat kepada Umar ra. saat melantiknya sebagai .2
,penggantinya
ُ َ
َ ْ ‫جن ْب َي‬
‫ك‬ َ ْ ‫ك ال ِّتي ب َي‬
َ ‫ن‬ َ ‫س‬
َ ‫ف‬ َ ‫حذُّر‬
ْ َ ‫ ن‬:‫ك‬ َ ‫ما أ‬ َ ‫و‬
َ ‫ل‬ ّ ‫نأ‬ّ ِ‫إ‬
Hal pertama yang aku peringatkan padamu adalah jiwamu yang berada di antara dua ”
(lambungmu.” (Jami’ul ulum wal hikam 172
,Umar bin Khathab ra. berkata.3
، ‫وا‬ َ َ ‫فس هك ُم قَب ه‬ َ َ َ ‫فسك ُم قَب‬ َ
ْ ‫ن ت ُوَْزن ُه‬ْ ‫لأ‬ ْ ْ َ ُ ْ ‫وا أن‬
ْ ‫ وَزِن ُه‬،‫وا‬
ْ ُ ‫سب‬َ ‫حا‬ َ ُ‫ن ت‬
ْ ‫لأ‬ ْ ْ َ ُ ْ ‫وا أن‬ ْ ُ ‫سب‬
ِ ‫حا‬َ
َ َ
ٍ‫مئ ِذ‬
َ ْ‫ {ي َهو‬.‫م‬ ْ ُ ‫مههال ُك‬
َ ْ ‫فههى ع َل َي ْههِ أع‬ َ ‫خ‬ْ َ‫ن ل َ ت‬
ْ ‫مه‬ َ ‫ض ا ْلك ْب َهرِ ع َل َههى‬ ْ ْ ُ ‫وَت ََزي ّن‬
ِ ‫وا ل ِلعَهْر‬
}‫ة‬ٌ َ ‫خافِي‬ َ ‫م‬ْ ُ ‫من ْك‬
ِ ‫فى‬ ْ َ‫ن ل َ ت‬
َ ‫خ‬ َ ْ ‫ضو‬ ُ ‫ت ُعَْر‬
Hisablah (koreksilah) diri kalian, sebelum kalian dihisab (oleh Allah), timbanglah diri”
kalian sebelum kalian ditimbang (oleh Allah), dan berhiaslah untuk menyambut hari
pertemuan terbesar di hadapan Dzat yang tiada tersembunyi dari-Nya amal-amal kalian.”
”Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu
(yang tersembunyi (bagi Allah).” (Al-Haqqah: 18). (Madarijus salikin, 1/189-190

KEDUDUKAN MUJAHADATUN NAFS


Ibnu Bathal berkata, ”Jihad seseorang terhadap jiwa adalah jihad yang paling sempurna,
sebagaimana firman Allah swt., ’Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran
Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat
tinggal (nya).’ (An-Nazi’at: 40 – 41) Jihad tersebut dapat dilakukan dengan mencegah jiwa dari
melakukan maksiat, hal-hal yang syubhat, dan memperbanyak melakukan syahwat yang
diperbolehkan, untuk menabung di akhirat.” Ia melanjutkan ungkapannya, ”Agar manusia tidak
biasa memperbanyak yang mubah, hingga menjadi kebiasaan yang dapat menyeretnya pada hal-
”.hal syubhat, hingga dihawatirkan terjatuh pada yang haram

HAL-HAL YANG PERLU DIKETAHUI MENGENAI JIHAD TERHADAP JIWA


Ibnu Jauzi berkata, ”Aku merenungkan jihad terhadap jiwa, maka aku memandang bahwa ia
merupakan jihad yang paling agung. Aku memandang bahwa ada beberapa ulama dan ahli zuhud
yang kurang memahami maknanya. Sebab di antara mereka ada yang memahami bahwa jihad
terhadap jiwa adalah menahan jiwa dari segala keinginannya secara muthlak. Dan, anggapan
:tersebut salah karena dua aspek
Pertama: Terkadang orang yang mencegah syahwat dapat memperoleh kesenangan lebih
sempurna dengan mencegahnya daripada memberinya. Misalnya ia mencegahnya dari yang
mubah, hingga ia terkenal dengan sifat tersebut. Maka jiwanya puas dengan pencegahan itu,
sebab mendapatkan pujian sebagai penggantinya. Bahkan yang lebih lembut dari itu adalah,
bahwa sikapnya menahan jiwa itu menjadikannya memandang dirinya lebih utama dari orang
lain yang belum mencegahnya. Dan, ini merupakan sifat tersembunyi yang membutuhkan
.pemahaman cermat untuk melepaskannya
Kedua: Kita diperintahkan untuk menjaga jiwa. Dan, di antara sebab terjaganya jiwa adalah
kecenderungannya pada hal-hal yang dapat menjaga eksistensinya. Karena itu jiwa harus diberi
hal-hal yang dapat menjaga eksistensinya. Di mana kebanyakannya, atau bahkan seluruhnya
.berasal hal-hal yang disukai jiwa
Kita hanyalah orang-orang diserahi untuk menjaga jiwa, sebab ia bukanlah milik kita. Ia
hanyalah titipan yang diserahkan kepada kita. Maka menghalanginya mendapatkan haknya
.secara muthlak adalah berbahaya
Di samping itu, terkadang penahanan memberikan kenyamanan dan terkadang mempersempit
jiwa merupakan cermin sikap menghindarkan diri darinya. Karena itu ia akan kesulitan
menghindari tindakan-tindakan tersebut. (Dalam hadits disebutkan, ”Sesungguhnya agama ini
sangat kokoh, masuklah di dalamnya dengan lemah lembut. Sebab yang memaksakan diri tidak
dapat melintasi bumi dan tidak menyisakan kendaraan.” HR. Bazzar 1/57 (74). Juga
diriwayatkan oleh Al-Qudla’i dalam Musnad Asy-Syhab 2/184 (1147 – 1148) dari Jabir bin
((Abdullah. Lihat juga Al-Maqashid Al-Hasanah, hal. 391 (1403
Jihad terhadap jiwa itu seperti jihadnya orang sakit yang cerdas. Ia berupaya memaksa jiwanya
melakukan hal yang dibencinya, yaitu mengkonsumsi obat yang diharapkan dapat
menyembuhkannya. Namun di sela-sela pahitnya obat terdapat sedikit rasa manis. Ia pun
mengkonsumsi makanan seukuran yang ditentukan oleh dokter dan tidak mungkin ia terbawa
.syahwatnya untuk memenuhi segala keinginannya, bahkan terkadang ia rela lapar
Demikian juga mukmin yang berakal; ia tidak mungkin melepaskan kendali jiwanya dan juga
mengikatnya kuat-kuat. Sesekali waktu ia melonggarkan kendali, tetapi tali kendali masih ada di
tangannya. Karena itu, selama jiwa masih berada dalam kesungguhan, ia tidak akan
mempersempitnya. Apabila ia melihat jiwanya mulai condong, maka ia mengembalikannya
.dengan lembut. Tetapi jika jiwa itu merasa berat dan enggan, maka ia memaksanya
Dalam hal rayuan, jiwa itu seperti seorang istri yang akalnya dibangun di atas kelemahan dan
keterbatasan. Karenanya ia harus dirayu dengan nasihat saat membangkang. Jika tidak dapat
.dinasehati, maka dijauhi. Dan, jika masih juga tidak berubah, maka dipukul
.Cambuk pemberian sangsi tidak lebih bagus dari cambuk tekad
Hal-hal di atas adalah aspek aplikatif. Sedangkan dari aspek nasihat dan kritikan, maka setiap
orang yang melihat jiwa tengah cenderung dan nyaman pada makhluk, serta melakukan akhlak-
,akhlak rendah, maka ia harus mengenalkan jiwa tersebut pada Penciptanya, dengan mengatakan
Bukankah engkau (wahai jiwa) yang dinyatakan oleh Pencipta, ”Aku telah menciptakanmu ”
dengan kedua tangan-Ku, memerintahkan malaikat untuk memberi penghormatan padamu,
”?meridlaimu sebagai khalifah di bumi, memberikan pinjaman padamu, dan memberi darimu
Apabila jiwa menyombongkan diri, maka hendaknya dikatakan padanya, ”Bukankah engkau
hanyalah setetes air yang hina; Kamu dapat terbunuh oleh sinar mentari dan merasa sakit
”?disengat serangga
Apabila jiwa terlihat teledor, maka hendaknya dikenalkan dengan kewajiban-kewajiban hamba
.terhadap tuannya
Apabila jiwa terlihat lemah dalam beramal, maka hendaknya diberitahu mengenai pahala yang
.besar
Apabila jiwa cenderung pada nafsu, maka hendaknya ditakuti dengan besarnya dosa, kemudian
,.diingatkan dengan siksa indrawi yang dapat disegerakan, sebagaimana firman Allah swt

Katakanlah, ’Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta”
menutup hatimu, siapakah Tuhan selain Allah yang Kuasa mengembalikannya kepadamu?’
perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami),
(kemudian mereka tetap berpaling (juga).” (Al-An’am: 46

,.Juga siksaan mental, seperti firman Allah swt

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan”
yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak
beriman kepadanya. dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka
tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus
memenempuhnya. yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan
(mereka selalu lalai dari padanya.” (Al-A’raf: 146
.Ini adalah jihad dengan ucapan, sementara sebelumnya adalah jihad dengan perbuatan

MENGENDALIKAN JIWA DENGAN BAIK


Hal yang paling mengagumkan adalah mujahadah terhadap jiwa. Sebab ia membutuhkan kreasi
yang menakjubkan, di mana beberapa orang memberinya kebebasan sesukanya, sehingga ia
mengantarkan mereka pada hal-hal yang mereka benci. Sebagian lagi memasungnya secara
berlebihan, sehingga mengharamkannya mendapatkan hak-haknya dan menzhaliminya. Dan,
kezhaliman mereka kepadanya berpengaruh pada ibadah-ibadah mereka. Sebagian dari mereka
tidak memberinya gizi dengan baik, sehingga fisiknya tidak mampu melaksanakan kewajiban.
Sebagian yang lain mengisolasinya dalam kesendirian, sehingga ia terasing di kalangan umat
manusia, akibatnya ia meninggalkan yang diwajibkan atau yang utama, misalnya menjenguk
.orang sakit, berbakti kepada ibu, atau lainnya
Orang yang kuat tekad adalah yang mendidik jiwanya untuk bersungguh-sungguh dan menjaga
prinsip. Apabila ia memberi peluang luas pada jiwa untuk menikmati yang mubah, maka ia tidak
membiarkannya melampui batas. Ia dan jiwanya ibarat raja yang bergurau dengan sebagian
prajuritnya; Ia tidak terbuka luas dengan budak. Jika ia telah berlebihan dalam bergurau dengan
budak, maka ia diingatkan dengan wibawa kerajaan. Demikian juga orang cerdik, ia akan
memberikan kepada jiwa akan hak-haknya dan menuntutnya melakukan kewajiban-
.kewajibannya
Orang yang berakal tidak akan melakukan hal-hal yang berat, hingga mengukur jiwanya, apakah
jiwanya kuat? Ia juga mencoba jiwanya untuk melakukannya tanpa sepengetahuan orang lain,
sebab boleh jadi ia terlihat oleh orang lain dalam keadaan tidak sabar melakukan hal yang berat
.tersebut, sehingga ia kembali dalam keadaan dipermalukan
Misalnya seseorang mendengar sebutan ahli zuhud, lantas ia membuang pakaiannya yang bagus,
mengenakan pakaian yang lebih jelek, menyendiri di pojok, dan hatinya dipenuhi dengan dzikrul
maut serta akhirat. Namun tidak seberapa lama tuntutan tabi’atnya muncul dan terus-menerus
.mengajaknya kembali ke kebiasaannya, akhirnya ia pun kembali ke kondisi semula
Sebagian orang kembali lagi ke penyakitnya, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Seperti orang
.yang banyak makan daging unta, setelah sembuh dari sakit
Sebagian lagi ada yang kondisinya di tengah-tengah, hingga ia tetap berada dalam keragu-
.raguan
Orang cerdas berupaya mengenakan pakaian pertengahan saat tampil di tengah manusia; ia tidak
keluar dari kebiasaan orang-orang baik dan tidak masuk dalam kelompok orang-orang yang
mengenakan pakaian kaum miskin. Apabila tekadnya kuat, maka ia beramal di rumahnya sesuai
kemampuan, tidak mengenakan pakaian perhiasan untuk menutupi kondisi sebenarnya dan tidak
memamerkan sesuatu pada orang lain. Ini lebih jauh dari sikap riyaa’ dan lebih terhindar dari
.keadaan dipermalukan
Di antara manusia ada yang pendek angan-angan dan selalu ingat akhirat, hingga menelantarkan
buku-buku tentang keilmuan. Menurutku, tindakan ini salah besar, meski telah dilakukan oleh
sekelompok tokoh terkenal. Saya pernah menyebut tindakan seperti itu kepada sebagian guru
”.kita, lantas ia berkata, ”Mereka semua keliru
Saya mengira sebagian mereka berasal dari cerita kaum yang lemah, tanpa diseleksi.
Sebagaimana diriwayatkan bahwa Sufyan telah mengubur buku-bukunya. Atau hanya sekedar
pendapat yang tidak boleh dianut, seperti tindakan Utsman bin ’Affan ra. membakar seluruh
.mushaf, agar tidak terjadi perselisihan setelah ada kesepakatan
Adapun mengenai tindakan Ahmad bin Abi Al-Hawari dan Ibnu Asbath yang mencuci buku-
.bukunya, maka itu semata-mata keteledoran dari mereka berdua
Oleh karena itu, hendaklah setiap muslim waspada terhadap amal yang dilarang syrai’at,
melakukan hal-hal yang diduga merupakan kewajiban, namun ternyata salah, atau menampakkan
.sesuatu yang tidak dimampui, sehingga kembali ke belakang
Rasulullah saw. Bersabda, ”Hendaklah kalian mengerjakan apa yang kalian mampui.” (h.r.
Bukhari, Kitabul Iman, 1/17, Muslim, Kitab Shalatul Lail, 3/208. Dan Ibnu Majah, Kitabuz
(Zuhdi, 1415 (4238
Ibnul Jauzi berkata, “Aku merenungkan hal yang mengherankan dan prinsip yang baik, yaitu
bertubi-tubinya ujian pada mukmin. Namun ia mengingat Allah, padahal ia mempu meraihnya.
Bahkan dapat meraihnya dengan mudah, tanpa kesusahan. Seperti cinta yang disambut untuk
”.berduaan di tempat yang aman
Setelah itu saya (Ibnul Jauzi) berkomentar, “Mahasuci Allah! Di situlah nampak pengaruh iman,
.bukan sekedar pada shalat dua rakaat
Demi Allah, Nabi Yusuf tidak mencapai ketinggian dan kebahagiaan kecuali karena situasi
seperti di atas. Maka demi Allah, wahai saudaraku, renungkanlah situasi yang menyertai Yusuf;
?andaikan ia menuruti hawa nafsunya, maka bagaimana jadinya
Analogikan situasi tersebut dengan situasi yang menyertai Adam as. Kemudian timbanglah
dengan timbangan akal untuk mengetahui akibat kekeliruan Adam dan buah kesabaran Yusuf.
Dan, jadikan pemahaman kalian terhadap situasi itu sebagai bekal untuk menghadapi segala yang
”.menggoda jiwa

DIALOG DENGAN KELEZATAN MENGENDALIKAN NAFSU


Ibnul Jauzi berkata, “Menurutku, kecenderungan jiwa pada syahwat telah melewati batas, hingga
hati, akal, dan pikirannya ikut cenderung. Akhirnya seseorang tidak lagi dapat mengambil
.manfaat dari nasihat
Suatu hari, aku berteriak pada pada jiwa yang telah cenderung secara total kepada syahwat,
‘Celaka engkau, berhentilah sejenak untuk mendengarkan beberapa ungkapanku. Setelah itu,
”.lakukan apa saja yang kamu sukai
’.Jiwaku berkata, ‘Katakanlah, saya akan mendengarkan
Aku berkata, ‘Engkau telah terbiasa cenderung pada berbagai syahwat yang diperbolehkan.
Namun seluruh kecenderunganmu kepada hal-hal yang diharamkan. Aku menunjukkan padamu
.dua hal; mungkin engkau mengganggapnya sebagai dua hal yang manis sekaligus pahit
Mengenai syahwat-syahwat yang diperbolehkan (mubah), maka engkau mendapatkan kebebasan
penuh. Tetapi jalan untuk meraihnya sulit. Sebab boleh jadi kekayaan tidak mampu meraihnya,
kerja keras tidak dapat menghasilkan sebagian besar darinya, waktu yang mulia dapat habis
percuma untuk hal-hal di atas, dan hati akan sibuk dengannya saat berupaya meraihnya, ketika
.sudah meraihnya, serta ketika takut ia hilang
Di samping itu, kenikmatan syahwat yang mubah pasti terganggu dengan kekurangan; apabila
syahwat itu berupa makanan, maka kekenyangan dapat menimbulkan berbagai penyakit. Apabila
berupa seseorang, maka dapat muncul kebosanan, perpisahan, atau perilaku yang buruk. Bahkan,
pernikahan yang paling nikmat dapat melemahkan fisik. Dan, masih banyak lagi contoh yang
.sangat panjang kalau dibicarakan
Mengenai syahwat yang diharamkan, maka sudah tercakup dalam penjelasan mengenai syahwat
yang mubah. Ditambah, bahwa syahwat yang diharamkan dapat merusak kehormatan,
mengundang siksa di dunia, mempermalukan, ancaman di akhirat, dan dapat menimbulkan
.kesedihan setiap orang yang bertaubat mengingatnya
Kekuatan mengekang nafsu adalah kelezatan yang melebihi setiap kelezatan. Tidakkah anda
memperhatikan nasib orang yang terkalahkan oleh nafsunya? Bukankah ia terhina, sebab ia
terkalahkan? Berbeda dengan orang yang dapat mengalahkan nafsunya, ia memiliki hati yang
.kuat dan meraih kemuliaan, sebab ia menjadi pemenang
Karena itu waspadalah, jangan melihat hal-hal yang menyenangkan nafsu dengan pandangan
baik, sebagaimana seorang pencuri memandang lezatnya mengambil harta dari brangkas.
Bukalah mata hati untuk merenungkan berbagai akibatnya, tercampurnya kelezatan dengan
gangguan, dan perubahan rasa lezat karena kejenuhan, karena berbagai penyakit, atau karena
.hilang. Sebab maksiat yang pertama ibarat suapan pertama yang ditelan oleh orang yang lapar
Hendaklah setiap manusia mengingat lezatnya mengendalikan nafsu serta merenungkan berbagai
manfaat kesabaran menahan nafsu. Apabila manusia terbimbing melakukan hal tersebut, maka
.jalan keselamatan selalu dekat padanya
CARA BERMUJAHADAH
Ibnul Jauzi berkata, “Menurutku, seluruh makhluk dalam pertempuran. Di mana syetan-syetan
menghujani mereka dengan panah nafsu dan menyabet mereka dengan pedang kelezatan. Orang-
orang yang mencampur kebaikan dengan kejahatan akan terkapar di awal pertempuran.
Sedangkan orang-orang yang bertaqwa terus berjihad. Dan, jihad ini membutuhkan waktu yang
lama; mereka terluka dan melakukan pengobatan. Mereka terhindar dari kematian, namun luka di
.wajah dapat memperburuk muka, karena itu para mujahid harus selalu waspada
Abu Amr bin Bujaid meriwayatkan, “Siapa menganggap mulia agamanya, maka ia akan
”.menganggap hina jiwanya
Al-Qusyairi berkata, “Pokok mujahadah terhadap jiwa adalah menyapihnya dari hal-hal yang
menjadi kebiasaannya dan memaksanya pada hal-hal yang tidak disukai nafsunya. Jiwa itu ada
dua macam: Jiwa yang tenggelam dalam syahwat dan jiwa yang enggan melakukan ketaatan.
”.Mujahadah berada sesuai kondisi masing-masing
Sebagian ulama mengatakan, “Jihad terhadap jiwa masuk dalam kategori jihad terhadap musuh.
Sebab musuh itu ada tiga: Pimpinan mereka adalah syetan, kemudian jiwa karena ia mengajak
kepada kelezatan yang mengantar kepada keharaman yang dimurkai oleh Allah. Dan, syetan
adalah pembantu dan penghias jiwa agar melakukannya. Karena itu siapa yang menentang hawa
nafsunya, berarti telah mengalahkan syetan yang menyertainya. Dengan demikian, mujahadah
terhadap jiwa adalah memaksanya untuk mengikuti perintah-perintah Allah dan menjauhi
larangan-larangan-Nya. Apabila seorang hamba telah mendapat kekuatan dalam hal tersebut,
.maka sangat mudah baginya berjihad melawan musuh-musuh agama
Jihad pertama (jihad terhadap syetan dan jiwa) adalah jihad batin. Sedangkan jihad yang kedua
.(jihad terhadap musuh agama) adalah jihad lahir
:Jihad terhadap jiwa itu memiliki empat tingkatan
Memaksanya untuk mempelajari urusan-urusan agama.1
Memaksanya untuk mengamalkan apa yang dipelajari.2
Memaksanya untuk mengajarkan apa yang diketahui kepada orang yang belum .3
mengetahui
Menyeru kepada keesaan Allah dan memerangi orang yang menyimpang dari agama-Nya.4
.serta mengingkari nikmat-Nya
Pembantu yang paling kuat untuk berjihad melawan jiwa adalah jihad terhadap syetan, dengan
cara membuang semua syubhat dan keraguan yang dibisikkannya, membentengi diri dari hal-hal
haram yang dihiasi oleh syetan, dan mencegah diri dari memperbanyak hal-hal mubah yang
dapat menjerumuskan pada syubhat. Untuk kesempurnaan mujahadah, hendaknya hamba selalu
waspada pada jiwa dalam semua keadaannya. Sebab jika ia melupakannya, maka syetan dan
jiwanya akan mengajaknya melakukan hal-hal yang dilarang. Dan, hanya Allah yang memberi
(pertolongan.” (Fathul Bari, 11/345-346
Al-Ghazali –rahimahullah- berkata, “Para ulama sepakat bahwa tiada jalan yang mengantar pada
kebahagiaan di akhirat kecuali menahan jiwa dari hawanafsu dan menentang syahwat. Ini
merupakan hal yang wajib diimani. Sedang mengenai ilmu terperinci mengenai syahwat yang
harus ditinggalkan dan yang tidak ditinggalkan, harus diketahui melalui syari’at. Cara mujahadah
.dan latihan setiap orang berbeda-beda, sesuai kondisi masing-masing
Pada dasarnya, setiap orang perlu meninggalkan kegembiraan yang terkait dengan urusan dunia.
Misalnya, orang yang gembira pada harta, kedudukan, simpati orang saat memberi nasihat,
kemuliaan dalam peradilan atau kekuasaan, atau banyaknya pengikut saat mengajar. Hendaknya
ia meninggalkan kegembiraan itu. Tetapi ketika dia meninggalkan kegembiraan itu, kemudian
dikatakan padanya, “Pahalamu di akhirat tidak akan berkurang dengan sikap meninggalkan itu.”
Apabila ia benci ungkapan tersebut dan merasa sakit hati, maka itu salah satu tanda bahwa ia
gembira dengan kehidupan dunia dan merasa nyaman dengannya. Dan, ini merupakan hal yang
dapat membinasakannya. Karena itu, sebaiknya ia menyendiri untuk mengevaluasi hatinya dan
menyibukkannya hanya dengan dzikir kepada Allah serta memikir makhluk-makhluk-Nya.
Kemudian hendaklah mengawasi syahwat dan bisikan yang muncul dalam jiwanya, sehingga
dapat mengikatnya, meski telah nampak jelas. Setiap bisikan pasti ada sebabnya, dan bisikan
tidak akan hilang kecuali dengan meninggalkan penyebabnya. Setelah itu hendaklah mengulangi
tindakan-tindakan di atas sepanjang sisa usia, sebab jihad tidak akan berakhir, kecuali bila
(kematian telah tiba.” (Ihyaa ulumud din, 3/67
Ibnu Hajar –rahimahullah- menyatakan dalam kitabnya, syarah al-Misykat, ketika menjelaskan
Hadits dari Rabi’ah bin Ka’ab ra. yang memohon pada Nabi saw. agar dapat menemani beliau di
surga, “Berjihad pada jiwanya dengan memperbanyak sujud.” Maka ia pun mendapatkan derajat
yang tinggi itu, di mana tiada lagi harapan kecuali semakin dekat pada Allah di dunia dengan
,memperbanyak sujud, sebagaimana yang diisyaratkan dalam firman-Nya

Dan, sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (Al-‘Alaq: 19) Setiap sujud adalah“
pendekatan tertentu yang dapat mengantar pelakunya menaiki tangga kedekatan (pada Allah),
sehingga berakhir pada tingkatan menjadi teman Rasul tercinta saw. Dan, dengan begitu ia
,.mendapatkan seperti yang difirmankan Allah swt

Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi“
(dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31
Dekat dengan Rasulullah saw. tidak mungkin tercapai kecuali dengan mendekatkan diri kepada
Allah swt. Dan, kedekatan dengan Allah swt. tidak mungkin tercapai kecuali dengan kedekatan
.dengan Rasulullah saw
Dua kedekatan itu saling mempengaruhi, satu tidak mungkin dipisahkan dari yang lainnya.
Karena itulah, Allah menempatkan tindakan mengikuti Rasul-Nya di antara dua kecintaan untuk
mengajarkan kepada kita, bahwa cinta hamba kepada Allah dan cinta Allah kepada hamba-Nya
(sangat tergantung pada tindakan mengikuti RAsulullah saw.” (Dalilul falihin, 1/318
Ibnu Hajar menambahkan, “Berjihadlah pada jiwamu dengan pedang-pedang latihan. Dan,
latihan itu ada empat macam; makan yang hanya sekedar menghilangkan lapar, sedikit tidur,
sedikit bicara, dan menanggung gangguan dari seluruh manusia. Sedikit makan dapat
menyebabkan kematian syahwat, sedikit tidur dapat menjernihkan kehendak, sedikit bicara dapat
menyelamatkan dari berbagai penyakit, dan kemampuan menanggung derita dapat mengantar
pada tujuan. Tiada yang berat bagi seorang hamba melebihi sikap santun saat diperlakukan kasar
.dan sabar saat mendapatkan gangguan
Apabila kehendak syahwat dan keinginan berbuat dosa mulai bergerak dalam jiwa, hingga kata-
kata pun keluar secara berlebihan, maka pedang ssedikit makan terhunus dari sarung tahajjud dan
sedikit tidur, lalu menebas keinginan tersebut dengan menggunakan tangan sedikit bicara,
sehingga jiwa terhindar dari kezhaliman, aman dari berbagai bahaya, tercerahkan dari kegelapan
syahwatnya, selamat dari gangguan penyakitnya, dan ia menjadi bersih, bercahaya, serta ringan
mengarungi berbagai kebaikan, dan menapaki jalan-jalan ketaatan, seperti kuda yang berlari
(kencang di lapangan dan seperti raja yang rekreasi di kebun.” (Ihyaa ulumud din, 3/66
Malik bin Dinar jalan-jalan di pasar. Apabila ia melihat sesuatu yang diinginkan oleh jiwanya,
maka ia berkata kepada jiwanya, “Bersabarlah, demi Allah aku tidak mencegahmu kecuali
(karena kemuliaanmu atas diriku.” (Ihyaa ulumud din, 3/67
Ahnaf bin Qais tidak berpisah dengan lampu di malam hari; ia meletakkan jarinya pada lampu
itu seraya berkata kepada jiwanya, “Apa yang menyebabkanmu melakukan ini dan itu pada hari
”.ini dan itu
Umar bin Khathab ra. memberi sangsi pada dirinya saat tertinggal jamaah shalat Ashar, dengan
.cara menshodaqahkan tanahnya yang senilai dua ratus ribu Dirham
Apabila Ibnu Umar tertinggal shalat jamaah, maka ia menghidupkan seluruh malamnya. Dan,
suatu ketika ia mengundur shalat Maghrib, hingga dua bintang terbit, maka ia memberi sangsi
.dengan memerdekakan budak
Ibnu Abi Rabi’ah (al-Harits bin Abdullah bin Abi Rabi’ah; gubernur Bashrah dan salah satu
tokoh tabi’in, Tahdzibut Tahdzib, Al-Ishabah 2039) tertinggal dari dua rakaat sebelum shubuh,
.maka ia memerdekakan budak
Sebagian ulama memaksa dirinya untuk shaum selama setahun, menunaikan haji dengan berjalan
kaki, dan bershodaqah dengan seluruh hartanya. Itu semua sebagai pengikat jiwa dan pemberian
.sangsi kepadanya demi keselamatannya
Dikisahkan bahwa ada sekelompok orang yang menjenguk Umar bin Abdul Aziz yang sedang
sakit. Di antara mereka terdapat seorang pemuda yang badannya kurus. Umar berkata
”?kepadanya, “Wahai pemuda, apa yang membuatmu menjadi seperti yang aku lihat
”.Ia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, karena sakit
”.Umar berkata, “Saya bersumpah dengan Nama Allah, bicaralah dengan jujur padaku
Ia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, saya mencicipi manisnya dunia, tapi saya rasakan
pahit. Saya menganggap sepele bunga duna dan kelezatannya. Menurutku sama saja emas dunia
dan batunya. Dan, seolah-olah saya melihat Arsy Allah serta melihat manusia digiring ke surga
dan ke neraka. Karena itu, siang hari aku dahaga, malam hari aku begadang, dan segala apa yang
.aku miliki hanya sedikit serta hina bila dibanding pahala dan siksa Allah
Abu Darda’ berkata, “Andai tidak ada tiga hal, maka tidak ingin hidup sehari pun; Dahaga
karena Allah di siang hari, sujud untuk Allah di tengah malam, dan duduk bersama orang-orang
”.yang memilih ucapan baik, sebagaimana mereka memilih buah-buahan yang baik
Al-Aswad bin Yazid serius dalam beribadah dan shaum pada hari yang panas, sehingga
badannya membiru. Maka Al-Qamah bin Qais menegurnya, “Mengapa engkau menyiksa diri?”
”.Ia menjawab, “Aku menginginkan kemuliaannya
Kurz bin Wabrah berjihad terhadap dirinya dengan maksimal untuk melakukan ibadah. Maka
seseorang berkata kepadanya, “Engkau telah melelahkan dirimu.” Ia menjawab dengan balik
bertanya, “Berapa usia dunia?” Dijawab, “Tujuhpuluh ribu tahun.” Ia bertanya, “Berapa ukuran
sehari di hari kiamat?” Dijawab, “Limapuluh ribu tahun.” Ia bertanya, “Bagaimana mungkin
seorang dari kalian merasa tidak mampu beramal selama tujuh hari untuk mendapatkan
”?keamanan pada hari akhir
Apabila jiwamu membisikimu, “Mereka adalah tokoh-tokoh yang kuat, kita tidak dapat
menteladani mereka.” Maka kajilah kehidupan para wanita mujahidah, kemudian katakanlah
kepada jiwamu, “Wahai jiwa, apa kamu tidak malu lebih kecil dari kamu wanita?” Sungguh hina
.laki-laki yang lebih lemah dari wanita dalam urusan agama dan dunia
:Sekarang, mari kita kenang kehidupan para wanita mujahidah
Diriwayatkan bahwa Apabila Habibah Al-‘Adawiyah hendak melaksanakan shalat Isya’, maka ia
berdiri di bagian atas rumahnya, seraya mengikat pakaian dan kerudungnya, kemudian ia
berkata, “Ya Tuhan-ku, bintang-gemintang telah telah tenggelam, beberapa mata telah terlelap,
para raja telah menutup pintu-pintunya, dan setiap kekasih telah menyendiri bersama kekasihnya.
Inilah posisiku di hadapan-Mu!” Setelah itu ia melaksanakan shalat. Apabila fajar telah terbit, ia
berkata, “Ya Tuhan-ku, malam telah berlalu dan siang telah datang menjelang. Maka alangkah
”.senangnya andai malamku kembali lagi kepadaku
Diriwayatkan bahwa ‘Ajrodah menghidupkan malam, padahal ia buta. Apabila datang waktu
sahur, maka ia berseru dengan suara sedih, “Untuk-Mu (ya Allah) Para ahli ibadah menyusuri
kegelapan malam. Mereka berlomba untuk mendapatkan rahmat-Mu dan karunia ampunan-Mu.
Kepada-Mu aku memohon, wahai Tuhan-ku, tidak kepada selain-Mu, jadikanlah aku di
kelompok pertama orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Tinggikanlah derajatku di sisi-
Mu di kalangan orang-orang yang mulia dan orang-orang yang dekat dengan-Mu. Sampaikanlah
aku untuk bersama hamba-hamba-Mu yang shalih. Sebab Engkau adalah Yang Maha Kasih di
antara yang punya kasih, Yang Maha Agung di antara yang agung, dan Yang Maha Mulia di
antara yang mulia! Setelah itu, ia tersungkur sujud hingga hidangan sahur. Kemudian ia terus-
”.menerus berdoa dan menangis hingga shubuh
Yahya bin Bustham berkata, “Saya menyaksikan majlisnya Sya’wanah dan melihatnya
menangis.” Maka saya katakan kepada sahabatku, “Alangkah baiknya kalau kita mendatanginya
saat sendirian, kemudian menyuruhnya untuk belas kasihan pada dirinya?” Sahabatku menjawab,
“Ok. Setuju dengan pendapatmu.” Maka kami pun datang kepadanya kemudian saya berkata
kepadanya, “Apa tidak sebaiknya kalau kamu belas kasihan pada dirimu dan mengurangi
tangisanmu ini. Sebab itu dapat lebih menguatkanmu untuk mencapai apa yang kamu inginkan?”
Sya’wanah semakin menangis, kemudian berkata, “Demi Allah, aku ingin menangis hingga air
mataku kering, kemudian aku menangis mengeluarkan darah hingga tiada setetes pun darah di
tubuhku! Bagaimana aku tidak menangis! Bagaimana aku tidak menangis!” Ia terus-menerus
.mengulang kata-kata itu, hingga pingsan
Apabila engkau termasuk orang-orang yang mengawasi dirinya, maka hendaklah mengkaji
kehidupan tokoh-tokoh yang bermujahadah, baik laki-laki maupun perempuan. Sebab hal itu
dapat membangkitkan semangat dan menguatkan tekad. Jangan memperhatikan orang-orang
yang sezaman denganmu, sebab apabila engkau mengikuti kebanyakan orang yang ada di muka
.bumi, maka mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah
Kisah mengenai orang-orang yang melakukan mujahadah tidak terhingga. Dan, apa yang kami
sebutkan di atas sudah memadai untuk orang yang dapat mengambil pelajaran. Tetapi jika anda
ingin tambahan, maka silahkan membaca kitab, “Hilayatul auliyaa”. Sebab kitab tersebut
memuat penjelasan mengenai kehidupan para shahabat, tabi’in, dan generasi setelah mereka.
Dengan mengkaji kitab tersebut, anda akan mengerti perbedaan ahli agama pada generasimu dan
.generasi setelahmu

JIWA YANG HARUS DIPERANGI


Tidak diragukan bahwa jiwa muthmainnah dan jiwa lawwamah adalah sumber mata air akhlak
terpuji. Jiwa pertama adalah mata air keyakinan, ketenteraman, kekhusyu’an, ketundukan, dan
sifat-sifat terpuji lainnya. Sedang jiwa lawwamah membangkitkan taubat, istigfar, kesadaran
untuk kembali kepada Allah swt., dan lain sebagainya. Dengan demikian tinggal jiwa ammaroh
bis suuk, ia adalah jiwa yang menjadi sumber mata air kejahatan dan landasan akhlak tercela,
.misalnya dengki, sombong, marah, permusuhan, dan lain sebagainya
Potensi marah, syahwat, dan kecerdasan juga dinamakan jiwa, di mana kesemuanya perlu
menjadi sasaran mujahadah. Sebab semuanya dapat mempengaruhi akhlak; baik yang terpuji
.maupun yang tercela
Potensi syahwat itu amat kuat. Apabila tidak ditaklukkan dan dididik oleh manusia, maka
syahwat akan menguasai dan mengendalikannya, sehingga ia tunduk pada syahwat tersebut.
Apabila itu terjadi, manusia lebih mirip binatang ternak. Dan, jika ini benar-benar nyata, maka
manusia akan menjadi jahat, terkalahkan oleh kesia-siaan, suka main-main, dan melakukan
.berbagai kemungkaran
Potensi marah harus diperangi dan dikuasai. Jika tidak, maka manusia akan sering marah,
nampak jelas kedunguannya, selalu dengki, dan cenderung ingin membalas dendam. Tindakan-
tindakan tersebut dapat mencelakakan pelakunya dan menceburkannya ke jurang kebinasaan.
.Sebab ia terkuasai oleh kedengkian, kedunguan, dan luapan emosi
Potensi kecerdasan adalah tempat berfikir dan berdzikir. Dan, ini merupakan sifat-sifat terpuji.
Akan tetapi, potensi ini juga mempunyai aspek negatif yang harus diperangi, misalnya kelicikan,
(tipu daya, riyaa, rayuan, dan lain sebagainya. (Tahdzibul akhlak, Al-Jahizh 20015

JIHAD TERHADAP JIWA DAPAT MENGANTAR PADA AKHLAK MULIA


Jihad terhadap jiwa adalah pondasi utama bagi kesiapan manusia memegang kekhalifahan di
bumi. Karena itu ia harus disucikan dengan melakukan mujahadah. Dan, mujahadah memiliki
beberapa sebab dan faktor penunjang. Ar-Raghib berkata, “Yang dapat mensucikan jiwa adalah
ilmu, ibadah, dan kesabaran yang menjadi sebab baiknya kehidupan akhirat. Sebagaimana
penyucian badan dengan air yang menjadi sumber kehidupan dunia. Karena itulah Allah
menamai ilmu dan ibadah sebagai kehidupan dan menamai wahyu yang diturunkan dalam Kitab-
.Nya sebagai air
,Allah swt. berfirman

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul“
(menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (Al-Anfal: 24
Allah swt. menamai ilmu dan ibadah sebagai kehidupan. Sebab jika jiwa tidak mendapatkannya,
.maka ia akan binasa untk selamanya
,Allah swt. juga menjelaskan sifat air dalam firman-Nya

Dan, dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga “
(beriman?” (Al-Anbiyaa: 30
:Kesucian jiwa dapat diraih dengan
Memperbaiki pemikiran dan proses belajar, sehingga seseorang dapat membedakan✔
keyakinan yang haq dan yang batil, ungkapan yang jujur dan yang dusta, tindakan yang
.baik dan yang buruk
Memperbaiki syahwat dengan sifat iffah (menjaga diri), agar ia terbiasa dermawan dan✔
.suka menolong dengan cara terpuji sebatas kemampuannya
Meluruskan emosi dengan cara melenturkannya, agar dapat dikendalikan. Dan, ini dapat ✔
dilakukan dengan menahan jiwa dari menuruti kebutuhan rasa takut dan ambisi yang
.tercela
Dengan meluruskan tiga kekuatan tersebut, jiwa akan seimbang dan menjadi baik. (Adz-
(Dzari’ah, Ar-Raghib, 38, 48

TINGKATAN MUJAHADAH TERHADAP JIWA


Ibnul Qayyim –semoga Allah swt. merahmatinya- mengatakan bahwa jihad terhadap jiwa itu
:mempunyai empat tingkatan
.: Berjihad padanya agar mempelajari petunjuk dan agama yang benar Pertama
: Berjihad padanya agar mengamalkan petunjuk dan agama yang benar, setelah Kedua
.mengetahuinya
.: Berjihad kepadanya agar menyeru ke kebenaran Ketiga
: Berjihad kepadanya agar sabar menanggung beratnya dakwah menuju Allah swt. Keempat
.dan gangguan makhluk. Ia menanggung semua itu karena Allah swt
Setelah itu Ibnul Qayyim –semoga Allah swt. merahmatinya- berkomentar, “Apabila seorang
muslim menyempurnakan empat tingkatan jihad pada jiwa tersebut, maka ia menjadi orang-
orang rabbani. Para pendahulu yang shalih sepakat bahwa orang yang mempunyai ilmu tidak
berhak dinamai rabbani, sehingga ia mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan
mengajarkannya. Barangsiapa mengetahui, mengamalkan, dan mengajarkan kebenaran, maka ia
(disebut manusia agung dalam kerajaan langit. (Zadul ma’ad, 3/10

PENUTUP
Ketahuilah bahwa musuhmu yang sesungguhnya adalah jiwamu yang ada dalam dirimu. Sebab
jiwa diciptakan dengan membawa sifat menyuruh pada kejahatan, cenderung pada keburukan,
dan menjauh dari kebaikan. Karena itu, ia harus disucikan, diluruskan, dikendalikan dengan
rantai pemaksaan agar beribadah kepada Tuhan dan Penciptanya, dicegah dari keinginan
syahwatnya, serta disapih dari berbagai kelezatan yang diinginkannya. Apabila jiwa dibiarkan,
maka akan semakin liar dan mengalahkan pemiliknya. Tetapi jika ia selalu dikritik dan dicela,
maka ia akan menjadi jiwa lawwamah yang dipergunakan sumpah oleh Allah swt. Dan, saya
berharap semoga jiwa seperti itu akan menjadi jiwa muthma’innah yang diseru untuk bergabung
.dalam kelompok hamba-hamba Allah swt. yang ridla dan diridlai
Jangan lalaikan jiwamu meski hanya sesaat. Berilah ia peringatan dan kritikan setiap waktu.
.Jangan sibukkan diri memberi nasihat pada orang lain sebelum menasihati jiwamu sendiri
Allah swt. mewahyukan kepada Isa as., “Wahai putera Maryam, nasihati jiwamu. Apabila ia
dapat menerima nasihat, maka mulailah menasihati orang lain. Tetapi jika ia tidak menerima
.nasihat, maka hendaklah engkau malu pada-Ku
,Allah swt. berfirman
Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang- “
(orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat: 55
Cara memberi nasihat padanya adalah berbicara padanya dan menegaskan kebodohan serta
kedunguannya. Sebab ia amat cerdik dan menyombongkan diri jika dinyatakan bodoh. Katakan
padanya, “Wahai jiwa, betapa bodohnya engkau. Engkau mengklaim bijaksana, cerdas, dan
cerdik, padahal engkau adalah manusia yang paling bodoh dan dungu. Apakah engkau tidak
menyadari bahwa di hadapanmu ada surga dan neraka. Dan, engkau pasti segera masuk ke salah
satunya? Mengapa engkau bergembira, tertawa-tawa, dan sibuk menuruti nafsu, padahal engkau
menghadapi bahya besar. Boleh jadi hari ini atau besuk engkau diculik kematian. Mengapakah
?aku melihatmu memandang kematian itu jauh, padahal menurut Allah swt. sangat dekat
Tidakkah engkau mengetahui bahwa setiap yang akan datang itu sangat dekat dan yang jauh itu
?tidak mungkin akan datang
Tidakkah engkau mengetahui bahwa kematian itu datang secara tiba, tanpa pemberitahuan, tanpa
perjanjian, dan tanpa kesepakatan. Ia datang tanpa pilih-pilih; hanya di musim dingin tidak di
musim panas, hanya di musim panas tidak di musim dingin, hanya di siang hari tidak di malam
hari, hanya di malam hari tidak di siang hari, hanya mendatangi orang tua tidak anak muda, atau
hanya mendatangi anak muda dan tidak mendatangi orang tua. Tetapi, setiap jiwa pasti akan
didatangi kematian secara mendadak. Apabila kematian tidak datang secara mendadak, maka
sakit akan datang secara tiba-tiba, kemudian sakit itu mengantarkan pada kematian. Mengapa
engkau tidak bersiap-siap menghadapi kematian, padahal ia lebih dekat padamu daripada orang-
?orang terdekatmu
,.Apakah engkau tidak merenungkan firman Allah swt

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada“
dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran
pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang
mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam Keadaan lalai. dan mereka yang zalim itu
merahasiakan pembicaraan mereka: "Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti
kamu, Maka Apakah kamu menerima sihir itu, Padahal kamu menyaksikannya?” (Al-Anbiyaa:
(1-3
Celaka engkau wahai jiwa, dtk sepatutnya engkau tertipu oleh kehidupan dunia dan tertipu oleh
syetan yang menipu, hingga lupa Allah swt.! Perhatikanlah dirimu, sungguh engkau tidak
penting bagi orang lain! Janganlah engkau menyia-nyiakan waktumu, sebab nafasmu dapat
dihitung. Apabila sebagian nafas telah keluar darimu, maka sebagian dirimu telah hilang. Karena
itu gunakan masa sehat sebelum sakit, masa luang sebelum masa sibuk, masa kaya sebelum masa
miskin, masa muda sebelum masa tua, dan hidup sebelum mati. Persiapkanlah diri untuk hari
.akhirat seukuran kekekalanmu di dalamnya
Celaka engkau wahai jiwaku, apakah engkau mengetahui bahwa orang yang tertarik pada dunia
dan merasa nyaman dengannya, sementara kematian selalu mengntainya dari belakang, adalah
orang yang akan memperbanyak penyesalan saat berpisah dengan dunia? Sesungguhnya, orang
tersebut membekali diri dengan racun, tanpa ia sadari. Tidakkah engkau memperhatikan orang-
orang yang telah berlalu; bagaimana mereka membangun dan meninggikan banguan, kemudian
mereka pergi dan berlalu. Juga bagaimana Allah swt. mengguncangkan bumi, kampung, dan
perbekalan mereka? Apakah engkau tidak mengetahui bagaimana mereka mengumpulkan harta
yang tidak mereka makan, membangun rumah yang tidak mereka huni, dan mengharapkan
sesuatu yang tidak diraih. Masing-masing mereka membangun istana menjulang ke langit,
namun tempat tinggalnya kubur yang digali di dalam tanah? Adakah kebodohan dan kedunguan
di dunia melebihi hal tersebut? Seseorang memakmurkan dunianya, padahal ia pasti
.meninggalkannya, dan menghancurkan akhiratnya, padahal ia pasti akan memasukinya
Celaka engkau wahai jiwa, apakah engkau tidak malu? Engkau menghias lahirmu untuk
mendapat simpati makhluk, namun engkau menantang Allah swt. secara sembunyi-sembunyi
dengan melakukan dosa-dosa besar. Apakah engkau malu kepada makhluk, tetapi tidak malu
kepada Pencipta? Celaka engkau, apakah engkau menganggap pandangan Pencipta lebih ringan
?daripada pandangan makhluk
Wahai jiwa, apakah engkau memerintahkan yang baik, sementara dirimu berlumur kehinaan.
Engkau mengajak manusia kepada Allah swt., namun engkau justeru lari dari-Nya. Engkau
?mengingatkan hamba pada Allah swt., sementara engkau sendiri lupa pada-Nya
Sungguh engkau amat mengherankan, wahai jiwa! Meski itu semua engkau lakukan, namun
engkau mengklaim cerdik dan sangat paham. Di antara tanda kecerdikanmu adalah engkau
senang setiap hartamu bertambah, namun tidak bersedih setiap usiamu berkurang! Padahal apa
?manfaat penambahan harta, jika usia terus berkurang
Celaka engkau wahai jiwa, engkau berpaling dari akhirat padahal ia pasti datang padamu.
Sebaliknya engkau serius menghadap dunia, padahal ia pasti berpaling darimu! Betapa banyak
orang yang menghadap satu hari, namun tidak sempat menyempurnakan hari itu. Dan, betapa
.banyak orang yang mengharapkan sesuatu, namun tidak pernah sampai padanya
Ketahuilah wahai jiwaku, bahwa agamaku tidak dapat ditukar, imanku tidak dapat diganti, dan
fisikku tidak mempunyai cadangan. Karena itu sadarlah dengan nasihat ini dan terimalah
.wejangan ini. Sebab siapa yang berpaling dari nasihat, maka ia telah ridla masuk neraka

MANFAAT MUJAHADAH TERHDAP JIWA


.Menundukkan jiwa dan nafsu agar taat kepada Allah swt.1
Menjauhkan jiwa dari syahwat serta mencegah hati agar tidak hanya berangan-angan dan.2
.berni’mat-nikmat dengan dunia
Membiasakan sabar menghadapi berbagai kesulitan, melakukan ketaatan, dan menjauhi.3
.kemaksiatan
.Jalan lurus yang mengantarkan pada keridlaan Allah swt. dan surga.4
.Memasung syetan dan bisikan-bisikannya.5
.Mencegah jiwa dari mengikuti nafsu itu merupakan kebaikan dunia dan akhirat.6
Siapa yang berjihad pada jiwanya, maka akan mulia di kalangan rekan sebayanya di .7
.masyarakatnya
Siapa yang berjihad pada jiwanya, maka telah memegang kunci kebaikan dan akhlaknya .8
.menjadi baik
Kebanggaan pada diri akan terkikis dan jamaah akan terbebas dari egoisme yang.9
.membahayakan jamaah serta masyarakat