Anda di halaman 1dari 16

1.

PEMBANGUNAN EKONOMI DAN OTONOMI DAERAH


1.1 Latar Belakang dan Dasar hukum Otonomi Daerah
Indonesia mempunyai fondasi semangat kebangsaan yang kuat di tengah realitas
keberagaman. Hal ini bisa dilihat dari sejarah pendirian negara yang diperoleh dari
penyatuan kedaulatan kebangsaan kebangsaan kecil di daerah. Oleh karena itu,
pengakuan terhadap keberadaan entitas masyarakat daerah di era kemerdekaan
melalui kebijakan desentralisasi menjadi mandat sejarah yang sulit dielakan.
Semenjak awal kemerdekaan sampai sekarang telah terdapat beberapa peraturan
perundang undangan yang mengatur tentang kebijakan otonomi daerah, yakni :
1) UU No. 1 Tahun 1945, tentang Komite Nasional Daerah,
2) UU No. 22 Tahun 1948, Undang Undang Pokok tentang Pemerintahan Daerah,
3) UU No. 1 Tahun 1965, tentang Pokok Pokok Pemerintah Daerah,
4) UU No. 18 Tahun 1965, tentang Pokok Pokok Pemerintah di Daerah,
5) Tap MPRS No. XXI Tahun 1966, tentang pemberian otonomi seluas luasnya
6)
7)
8)
9)

Kepada Daerah (tetapi tidak pernah ditindak lanjuti oleh pemerintah),


UU No Tahun 1974, tentang Pokok Pokok Pemerintahan di Daerah,
Tap MPR No. XV Tahun 1998,
UU No. 22 Tahun 1999, tentang Pemerintah Daerah,
UU No. 25 Tahun 1999, tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan

Pusat dan Daerah,


10) UU No. 32 Tahun 2004, tantang Pemerintah Daerah
11) UU No. 33 Tahun 2004, tentang Perimbangan Keungan antara Pemerintah Pusat
dan Daerah
Dalam perjalanannya, sejarah politik Indonesia diwarnai dengan ketegangan
antara pusat dan daerah. Namun pada dasarnya, tuntutan untuk merdeka tidak pernah
menjadi target utama dari pergerakan daerah. Gerakan PRRI permesta misalnya,
merupakan pemberontakan setengah hati yang yang menuntt merdeka sebagai bagian
dari negosiasi politik dengan pusat. Sementara gerakan Aceh untuk Merdeka di masa
pemerintahan Sukarno ddigambarkan sebagai Pemberontakan Kaum Republik,
yaitu pemberontakan oleh pendiri republik yang kecewa terhadap republik yang
didirikannya. Pemberontakan daerah yang terjadi selama pemerintahan orde lama
tersebut dipicu oleh ketidak adilan pemerintah pusat dalam memperlakukan daerah
secara ekonomi, politik dan kultural. Pembrontakan daerah pada prinsipnya adalah
politik untuk menuntut perhatian.

Orde baru meredam konflik internal melalui penciptaan stabilitas semu dengan
cara melakukan kontrol terhadap kehidupan masyarakat baik secara politik maupun
ekonomi. Kekerasan militer maupun kekerasan hukum dalam dalam kehidupan
politik dan kekuasaan ekonomi dengan mekanisme money politics untuk membeli
dukungan yeng berhasil dilakukan berkat melimpahnya sumber daya ekonomi dari
hasil ekspor minyak dan hasil alam lainya. Kedaan demikian ini mengakibatkan
mengurangnya tekanan daerah untuk meminta perhatian akan otonomi daerah
sehnggga UU No. 5 Tahun 1974, tentang Pokok Pokok Pemerintah di Daerah dapat
dipertahankan sampai akhir pemerintahan orde baru.
Kebebasan dan keterbukaan politik yang terjadi pasca orde baru membawa
konsekunsi logis pada pemerintahan untuk segera mengubah diri. Segala macam
kebijakan dan regulasi yang berbau orde baru yang sentralistis diubah sedemikian
besarnya menjadi sangat desentralisasi. Kebijakan radikal (big bang) desentralisasi
diperkenalkan pada tahun 1999 melalui UU No. 22/1999 dan UU No 25/1999. Dua
undang undang ini lahir untuk merespon dua kondisi sosial politik yaitu mrebaknya
tuntutan daerah untuk memperoleh otonomi yang lebih luas, bahkan tuntutan federasi
dan merdeka (khussnya muncul di daerah daerah yang kaya sumber daya alam seperti
Papua, Aceh, dan Riau ), serta semangat demokrasi yang menuntuk ruang partisispasi
yang luas. UU No. 22/1999 dan UU 25/1999 hadir untuk memuaskan semua daerah
dengan memberikan ruang partsispaipolitik yang tinggi melalui desentralisai
politik dari pusat kepada daerah dan untuk memuaskan daerah daerah kaya sumber
daya alam yang memberontak dengam memberikan akses yang lebih besar untuk
menikmati sumber daya alam yang ada di daerah mereka masing masing. Sedangkan
dua undang undang tentang otonomi dearah berikutnhya, yakni UU No 32 No. 33,
merupakan perbaikan dari undang undang sebelumnya.

1.2 Prinsip Otonomi Daerah


Sejak ketetapan MPR No. XXI Tahun 1966 prinsip dalam otonomi daerah bersifat
seluas luasnya dan kemudian berkembang menjadi otonomi dearah yang luas, nyata
2

dan bertanggung jawab. Kewenangan otonomi yang luas adalah keleluasaan daerah
untuk menyelanggarakan pemerintahan yang mencangkup kewenangan semua bidang
pemerintahan, kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri, pertahanan
keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan bidang lain yang
ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Yang dimaksud dengan otonomi

nyata

adalah kelaluasaan daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintah di


bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh hidup, dan
berkembang di daerah, sedangkan yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung
jawab

adalah berupa perwujudan pertanggungjawaban sebagai konsekuensi

pemberian hak dan kewajiban yang dipikul oleh daerah dalam wujud tugas da
kewajiban yang dipikul oleh daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi,
berupa peningkatan pelayanan dan kesejahtraan masyarakat yang semakkin baik,
pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan, pemerataan, serta pemeliharaan
hubungan yang serasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta antar
daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1.3 Desentralisasi, Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan


Dalam UU No. 32 dan UU No. 33 dikenal adanya desentralisasi kewenangan,
pelimpahan kewenangan, dan penugasan dari pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerih
pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintah dalam
sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Yang dimaksud dengang daerah
otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai btas batas wilayah yang
berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setampat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasu masyarakat
dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat
kepada gubernur sebagai wakil pemerintah dan/ atau kepada instansi vertikal di
wilayah tertentu. UU No. 32 Tahun 2004 memperpendek jangkauan asas
dekonsentrasi yang dibatasi hanya sampai pemerintahan provinsi dan hanya untuk
kegiatan yang bersifat non fisik. Sedangkan tugas pembantuan adalah penugasan dari
3

pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dan/ atau desa dari pemerintah provinsi
kepada kabupaten atau kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten atau kota
kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang bersifat fisik.

1.4 Pembangunan Daerah


Pemerintah daerah memiliki kesempatan lebih luas untuk memperbaiki kondisi
pelayanan publik, perkembangan perekonomian daerah, serta dalam mengembangkan
berbagai trobosan baru dalam pengelolaan pemerintahan daerah. Daerah-daerah
semakin memiliki kebebasan untuk memngembangkan wilayahnya sebagai
kebutuhan masyarakat lokal. Kewenangan pemerintah daerah melalui otonomi daerah
akan memberikan pelayanan maksimal kepada para peleku ekonomi di daerah, baik
lokal, nasional, regional, maupun global. Otonomi daerah juga akan mendorong
munculnya aktivitas perekonomian dan akselerasi pertumbuhan ekonomi di daerah
perbatasan dan tertinggal. Melalui kewenangan yang dimilikinya untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat, pemerintah daerah akan berupaya untuk
meningkatkan perekonomian sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan kemanmpuannya.
Jadi kebijakan otonom daerah yang bertujuan untuk pemberdayaan kapasitas daerah
akan memberikan kesempatan bagi daerah untuk mengembangkan dan meningkatkan
perekonoiannya. Peningkatan dan pertumbuhan perekonomian daerah akan membawa
pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kesejahtraan rakyat di daerah.

2. PERIMBANGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH


Prinsip. Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah
merupakan subsistem keuangan negara sebagai konsekuensi pembagian tugas diantara
kedua tingkat pemerintahan. Pemberian sumber keuangan negara kepada pemerintahan
daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi didasarkan atas penyerahan tugas oleh
pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dengan memperhatikan stabilitas dan
keseimbangan fiskal. Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan
daerah

merupakan

satu

sistem

yang

menyeluruh

dalam

rangka

pendanaan

penyelenggaraan asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan.


4

PAD bertujuan memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk


mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudan
desentralisasi. Dana perimbangan bertujuan mengurangi kesenjangan fiskal antara
pemerintah pusat dan pemerintahan daerah dan antar pemerintahan daerah. Pinjaman
daerah bertujuan memperoleh sumber pembiayaan dalam rangka penyelenggaraan urusan
pemerintahan daerah. Lain-lain pendapatan bertujuan memberi peluang kepada
pemerintah daerah untuk memperoleh pendapatan selain pendapatan yang disebutkan
diatas.
Dasar pedanaan. Penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi didanai APBD. Pelimpahan kewenangan dalam rangka
pelaksanaan dekonsentrasi dan atau penugasan dalam rangka pelaksanaan tugas
pembantuan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah diikuti dengan pemberian
dana. Dengan demikian penyelenggaraan urusan pemerintah yang dilaksanakan oleh
gubernur dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi dan penyelenggaraan urusan
pemerintah pusat yang dilaksanakan oleh gubernur dalam rangka tugas pembantuan
didanai APBD.

3. SUMBER-SUMBER PENERIMAAN DAERAH


Penerimaan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi terdiri atas pendapatan
daerah dan pembiayaan. Pendapatan suatu daerah terdiri dari:
3.1 Pendapatan Asli Daerah (PAD)
PAD bersumber dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan
daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah (yang meliputi
hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, jasa giro, pendapatan bunga,
keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, dan komisi, potongan,
ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau jasa oleh Daerah). Dalam
upaya meningkatkan PAD, pemerintah daerah dilarang menetapkan peraturan tentang
pendapatan yang menghambat mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa
antardaerah, dan kegiatan impor-ekspor, sehingga menyebabkan ekonomi biaya
tinggi. Ketentuan mengenai pajak daerah, retribusi daerah, dan hasil pengelolaan
kekayaan daerah yang dipisahkan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan.
5

3.2 Dana Perimbangan


Dana perimbangan terdiri atas: (i) dana bagi hasil, (ii) dana alokasi umum, dan
(iii) dana alokasi khusus, yang jumlahnya ditetapkan setiap tahun anggaran dalam
APBN.
3.2.1 Dana Bagi Hasil
Dana ini bersumber dari pajak dan sumber daya alam. Dana bagi hasil
yang bersumber dari pajak terdiri atas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTP), dan Pajak Penghasilan
(PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan
PPh Pasal 21 dibagi antara pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Sedangkan
dana bagi hasil dari sumber daya alam berasal dari: kehutanan, pertambangan
umum, perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, dan
3.2.2

pertambangan panas bumi.


Dana Alokasi Umum
Jumlah DAU keseluruhan ditentukan sekurang-kurangnya 26 persen dari
pendapatan dalam negeri neto yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN). Jumlah ini adalah untuk seluruh provinsi dan
seluruh kabupaten/kota. Dasar untuk menentukan berapa jumlah DAU yang
diterima oleh satu daerah (provinsi, kabupaten/kota) adalah apa yang disebut
celah fiskal dan alokasi dasar. Celah fiskal adalah kebutuhan fiskal dikurangi
dengan kapasitas fiskal, sedangkan alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah
gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah.
Kebutuhan fiskal daerah merupakan kebutuhan pendanaan daerah untuk
melaksanakan fungsi layanan dasar umum. Setiap kebutuhan pendanaan
diukur secara berturut-turut dengan jumlah penduduk, luas wilayah, indeks
kemahalan konstruksi, produk domestik regional bruto per kapita, dan indeks
pembangunan manusia. Kapasitas fiskal daerah merupakan sumber pendanaan
daerah yang berasal dari PAD dan dana bagi hasil.
Proporsi DAU antara daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan
berdasarkan rasio kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. DAU atas
dasar celah fiskal untuk satu daerah provinsi dihitung berdasarkan perkalian
bobot daerah provinsi yang bersangkutan dengan jumlah DAU seluruh daerah
provinsi. Bobot daerah provinsi merupakan perbandingan antara celah fiskal

daerah provinsi yang bersangkutan dan total celah fiskal seluruh daerah
provinsi. Perhitungan yang sama berlaku juga untuk daerah kabupaten/kota.
Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol (kebutuhan
fiskalnya = kapasitas fiskalnya) menerima DAU sebesar alokasi dasar. Daerah
yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil
dari alokasi dasar menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai
celah fiskal. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif
tersebut sama atau lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima DAU.
Kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal dihitung dengan memakai data yang
diperoleh dari lembaga statistik pemerintah dan/atau lembaga pemerintah
yang berwenang menerbitkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pemerintah

merumuskan

formula

dan

perhitungan

DAU

dengan

memperhatikan pertimbangan dewan yang bertugas memberikan saran dan


pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah. Hasil perhitungan DAU ke
provinsi, kabupaten, dan kota ditetapkan dengan Keputusan Presiden dan
disalurkan setiap bulan sebelum bulan bersangkutan, masing-masing sebesar
3.2.3

1/12 (satu perdua belas) dari DAU daerah yang bersangkutan.


Dana Alokasi Khusus (DAK)
DAK dialokasikan kepada daerah tertentu yang ditetapkan setiap tahun
dalam APBN untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah
dan sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dalam APBN. Pemerintah
pusat menetapkan kriteria DAK yang meliputi:
1)
Kriteria umum ditetapkan dengan mempertimbangkan kemampuan
2)

keuangan daerah dalam APBD.


Kriteria khusus ditetapkan dengan

3)

perundang-undangan dan karakteristik daerah.


Kriteria teknis ditetapkan oleh kementrian negara/departemen teknis.

memperhatikan

peraturan

Daerah penerima DAK wajib menyediakan dana pendamping


sekurang-kurangnya 10% (sepuluh persen) dari alokasi DAK. Dana
pendamping tersebut dianggarkan dalam APBD. Daerah dengan
kemampuan

fiskal

tertentu

tidak

diwajibkan

menyediakan

dana

pendamping.
3.3 Lain-lain Pendapatan
7

Lain-lain pendapatan terdiri atas pendapatan hibah dan pendapatan dana darurat.
Pendapatan hibah merupakan bantuan yang tidak mengikat. Hibah kepada daerah
yang bersumber dari luar negeri dilakukan melalui pemerintah pusat. Hibah
dituangkan dalam satu naskah perjanjian antara pemerintah daerah dan pemberi
hibah. Hibah digunakan sesuai dengan naskah perjanjian. Tata cara pemberian,
penerimaan, dan penggunaan hibah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri diatur
dengan Peraturan Pemerintah. Pemerintah mengalokasikan dana darurat yang berasal
dari APBN untuk keperluan mendesak yang diakibatkan oleh bencana nasional
dan/atau peristiwa luar biasa yang tidak dapat ditanggulangi oleh daerah dengan
menggunakan sumber APBD. Keadaan yang dapat digolongkan sebagai bencana
nasional dan/atau peristiwa luar biasa ditetapkan oleh Presiden. Pemerintah dapat
mengalokasikan dana darurat pada daerah yang dinyatakan mengalami krisis
solvabilitas. Daerah dinyatakan mengalami krisis solvabilitas berdasarkan evaluasi
pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Krisis solvabilitas
ditetapkan oleh pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat.

4. PINJAMAN DAERAH
Pengertian dan batasan pinjaman. Pinjaman daerah adalah semua transaksi yang
mengakibatkan pemerintah daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang
bernilai uang dari pihak lain sehingga pemerintah daerah tersebut dibebani kewajiban
untuk membayar kembali. Pemerintah pusat yang dalam hal ini Menteri Keuangan
menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman pemerintah dan pemerintah daerah
dengan memperhatikan hal-hal berikut:
1)
Keadaan dan perkiraan perkembangan perekonomian nasional,
2)
Tidak melebihi 60% (enam puluh persen) dari Produk Domestik Bruto tahun
bersangkutan.
Penentuan batas maksimum tersebut dilakukan selambat-lambatnya bulan
Agustus untuk tahun anggran berikutnya, dan harus sesuai dengan peraturan perundanguindangan. Daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri,
dan pelanggaran terhadapnya dikenakan sanksi administratif berupa penundaan dan/atau
pemotongan atas penyaluran dana perimbangan oleh Menteri Keuangan.
8

Sumber pinjaman. Pinjaman daerah dapat bersumber dari pemerintah pusat,


pemerintah daerah lain, lembaga keuangan bank dan non bank, serta masyarakat.
Pinjaman daerah yang bersumber dari pemerintah pusat dananya bisa dari dalam
negeri atau dari luar negeri. Pinjaman pemerintah pusat yang dananya berasal dari luar
negeri dapat dinyatakan dalam mata uang rupiah atau mata uang asing melalui perjanjian
penerusan pinjaman kepada pemerintah daerah antara Menteri Keuangan dan Kepala
Daerah yang bersangkutan. Pinjaman daerah yang berasal dari pemerintah daerah
lainnya, lembaga keuangan bank dan bukan bank dapat dilaksanakan berdasarkan
kesepakatan ke dua belah pihak, sedangkan yang bersumber dari masyarakat berupa
obligasi daerah diterbitkan melalui pasar modal.
Jangka waktu dan penggunaan pinjaman. Pinjaman daerah mungkin berupa:
1)

Pinjaman jangka pendek, yang merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu
kurang atau sama dengan satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran
kembali pinjaman yang meliputi poko pinjaman, bunga, dan biaya lain seluruhnya
harus dilunasi dalam tahun anggaran yang bersangkutan. Pinjaman jangka pendek

2)

ini hanya dapat dipergunakan untuk menutup persetujuan DPRD.


Pinjaman jangka menengah, yang merupakan pinjaman daerah dalam jangka
waktu lebih dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali
pinjaman yang meliputi pokok pinjaman, bunga, dan biaya lain harus dilunasi
dalam kurun waktu yang tidak melebihi sisa masa jabatan kepala daerah yang
bersangkutan. Pinjaman jenis ini dipergunakan untuk membiayai penyediaan
layanan umum yang tidak menghasilkan penerimaan dan harus mendapatkan

3)

persetujuan DPRD sebelumnya.


Pinjaman jangka panjang, merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih
dari satu tahun anggaran dan kewajiban bunga, dan biaya lain harus dilunasi pada
tahun-tahun anggaran berikutnya sesuai dengan persyaratan perjanjian pinjaman
yang bersangkutan. Pinjaman jenis ini dipergunakan untuk membiayai proyek
investasi yang menghasilkan penerimaan dan harus mendapatkan persetujuan
DPRD sebelumnya.

Persyaratan Pinjaman. Pemerintah daerah yang ingin mendapatkan pinjaman harus


memperhatikan beberapa ketentuan dan persyaratan, yakni:
1)

Pendapatan daerah dan/atau barang milik daerah,serta pinjaman dari pihak

2)

lain tidak boleh dipakai sebagai jaminan;


Pemerintah daerah yang bersangkutan tidak mempunyai tunggakan atas

3)

pengembalian pinjaman yang berasal dari pemerintah pusat.


Jumlah sisa pinjaman daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik
tidak melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah penerimaan umum
APBD tahun sebelumnya.
Rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman

4)

ditetapkan oleh pemerintah pusat, dan obligasi daerah. Pemerintah daerah


dapat menerbitkan obligasi daerah dalam mata uang rupiah di pasar modal
domestik yang nilai nominalnya pada saat jatuh tempo sama dengan nilai
nominalnya pada saat diterbitkan. Proyek yang dibiayai dari obligasi daerah
beserta barang milik daerah yang melekat dalam proyek tersebut dapat
dijadikan jaminan untuk obligasi daerah yang akan dikeluarkan. Pemerintah
pusat tidak menjamin obligasi daerah.
Prosedur dan pengelolaan penerbitan obligasi daerah. Penerbitan obligasi
daerah ditetapkan dengan peraturan daerah, di mana ditentukan bahwa kepala
daerah terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan DPRD dan dari pemerintah
pusat. Persetujuan tersebut hanya diberikan atas nilai bersih maksimal obligasi
daerah yang akan diterbitkan pada saat penetapan APBD. Nilai tersebut harus
telah meliputi pembayaran semua kewajiban bunga dan pokok yang timbul
sebagai akibat penerbitan obligasi daerah dimaksud.
Penerbitan obligasi daerah wajib mengikuti peraturan perundangundangan di bidang pasar modal, yang antara lain harus mencantumkan:
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Nilai nominal
Tanggal jatuh tempo
Tanggal pembayaran bunga
Tingkat bunga (kupon)
Frekuensi pembayaran bunga
Cara perhitungan pembayaran bunga
10

7)

Ketentuan tentang hak untuk membeli kembali obligasi daerah sebelum

8)

jatuh tempo
Ketentuan tentang pengalihan kepemilikan

Pengelolaan obligasi daerah diselenggarakan oleh kepala daerah yang sekurangkurangnya meliputi:
1)

Penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan obligasi daerah termasuk

2)
3)
4)
5)
6)
7)

kebijakan pengendalian risiko


Perencanaan dan penetapan struktur portofolio pinjaman daerah
Penerbitan obligasi daerah
Penjualan obligasi daerah melalui lelang
Pembelian kembali obligasi daerah sebelum jatuh tempo
Pelunasan pada saat jatuh tempo, dan
Pertanggungjawaban
Hasil penjualan obligasi daerah dan peruntukannya. Pemerintah daerah

dapat mengeluarkan obligasi daerah untuk membiayai investasi sektor publik


yang menghasilkan penerimaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Penerimaan dari investasi sektor publik yang dibiayai melalui obligasi daerah
digunakan untuk membiayai kewajiban bunga dan pokok obligasi daerah terkait
dan sisanya disetorkan ke kas daerah. Dana untuk membayar bunga dan pokok
pinjaman disediakan dalam APBD setiap tahun sampai dengan berakhirnya
kewajiban tersebut. Dalam hal pembayaran bunga dimaksud melebihi perkiraan
dana yang disediakan, Kepala Daerah melakukan pembayaran dan menyampaikan
realisasi pembayaran tersebut kepada DPRD dalam pembahasan Perubahan
APBD.
Pelaporan dan sanksi. Seluruh kewajiban pinjaman daerah yang jatuh tempo
wajib dianggarkan dalam APBD tahun anggaran yang bersangkutan dan
pemerintah daerah wajib melaporkan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban
pinjaman kepada pemerintah pusat setiap semester dalam tahun anggaran
berjalan. Kalau laporan tersebut tidak dibuat, pemerintah pusat dapat menunda
penyaluran dana perimbangan yang menjadi hak pemerintah daerah yang
bersangkutan. Sedangkan kalau pemerintah daerah tidak memenuhi kewajiban
membayar pinjamannya kepada pemerintah pusat, kewajiban membayar pinjaman
11

tersebut diperhitungkan dengan DAU dan/atau Dana Bagi Hasil dari penerimaan
negara yang menjadi hak pemerintah daerah yang bersangkutan. Ketentuan lebih
lanjut mengenai pinjaman daerah termasuk obligasi daerah diatur dengan
Peraturan Pemerintah.

5. DANA DEKONSENTRASI
Dekonsentrasi berbeda dengan desentralisasi. Dekonsentrasi menyangkut
pelimpahan dan bukannya penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah atau gubernur. Dalam hal dekonsentrasi wewenang masih tetap berada
di pemerintah pusat, sedangkan dalam hal desentralisasi wewenang beralih dari
pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dan daerah penerima wewenang menjadi daerah
otonom. Pelimpahan wewenang didanai oleh pemerintah pusat berdasarkan rencana kerja
dan anggaran kementrian Negara yang bersangkutan dan tidak termasuk dana yang
dialokasikan untuk instansi vertical pusat di daerah serta hanya untuk kegiatan nonfisik.
Jumlah dana dekonsentrasi disesuaikan dengan wewenang yang dilimpahkan.
Pelaksanaan. Gubernur memberitahukan rencana kerja dan anggaran kementrian
Negara/lembaga yang berkaitan dengan kegiatan dekonsentrasi di daerah kepada DPRD
pada saat pembahasan RAPBD. Kegiatan dekonsentrasi di daerah dilaksanakan oleh
satuan kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ditetapkan oleh gubernur pada setia awal
tahun anggaran. Dana dekonsentrasi disalurkan melalui Rekening Kas Umum Negara.
Dalam hal pelakanaan dekonsentrasi menghasilkan penerimaan, maka penerimaan
tersebut merupakan penerimaan APBN dan disetor ke rekening Kas Umum Negara.
Dalam hal terdapat sisa anggaran lebih atas pelaksanaan dekonsentrasi, sisa tersebut
merupakan penerimaan kembali APBN dan kalau terdapat saldo kas, saldo tersebut harus
disetor ke Rekening Kas Umum Negara. Semua barang yang diperoleh dari dana
dekonsentrasi menjadi barang milik Negara yang dapat dihibahkan maka wajib dikelola
dan ditatausahakan oleh kementrian Negara/lembaga yang memberikan pelipahan
wewenang.
Pertanggungjawaban dan pengawasan pelaksanaan. Penatausahaan keuangan
dalam pelaksanaan dekonsentrasi dilakukan secara terpisah dari penataushaan keuangan
dalam pelaksanaan tugas pembantuan dan desentralisasi yang dilakukan oleh SKPD
12

secara tertib. SKPD wajib menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan dekonsentrasi


kepada gubernur, yang kemudian meyampaikan laporan pertanggungjawaban seluruh
pelaksanaan kegiatan dekonsentrasi kepada menteri Negara/pimpinan lembaga yang
memberikan pelimpahan wewenang. Akhirnya menteri Negara/pimpinan lembaga
menyampaikan laporan pertanggungjwaban pelaksanaan kegiatan dekonsentrasi kegiatan
dekonsentrasi secara nasional kepada presiden.
Ketentuan lebih llanjut mengenai tata cara penganggaran, penyaluran, pelaporan,
pertanggungjwaban, pengawasan, dan penghibahan barang milik Negara yang diperoleh
atau pelaksanaan dana dekonsentrasi diatur dengan peraturan pemerintah. Pemeriksaan
dana dekonsentrasi dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang
pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara.
6. DANA TUGAS PEMBATUAN
Pengertian. tugas pembantuan adalah penugasan dari pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan
mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan. Tugas pembantuan
didanai oleh pemerintah pusat untuk kegiatan yang bersifat fisik. Jadi dana tugas
pembantuan adalah semua penerimaan dan pengeluaran yang berasal dari APBN yang
dilaksanakan oleh pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan.
Pelaksanaan. Kepala daerah diberitahukan rencana kerja dan anggaran
kementerian Negara/ lembaga yang berkaitan dengan kegiatan tugas pembantuan kepada
DPRD pada saat pembahasan RAPBD. Kegiatan tugas pembantuan di daerah
dilaksanakan oleh SKPD yang ditetapkan oleh gubernur, bupati, atau walikota pada setiap
awal tahun anggaran. SKPD menyelenggarakan penatausahaan uang/barang dalam
rangka tugas pembantuan secara tertib.
Dana tugas pembantuan yang merupakan bagian anggaran kementerian
Negara/lembaga dialokasikan berdasarkan rencana kerja dan anggaran kementerian
Negara/lembaga. Penatausahaan keuangan dalam pelaksanaan tugas pembantuan
dilakukan secara terpisah dari penatausahaan keuangan dalam pelaksanaan dekonsentrasi
dan desentralisasi dan dikelola melalui rekening Kas Umum Negara. Dalam hal terdapat
sisa anggaran lebih atas pelaksanaan tugas pembantuan, sisa tersebut merupakan
penerimaan kembali APBN dan saldo tersebut harus disetor ke rekening Kas Umum
Negara. Dalam hal pelaksanaan tugas pembantuan menghasilkan penerimaan, maka
penerimaan tersebut merupakan penerimaan APBN dan harus disetor ke rekening kas
13

umum Negara. Semua barang yang diperoleh dari dana tugas pembantuan menjadi milik
Negara. Kalau dihibahkan maka barang tersebut harus dikelola dan ditatausahakan oleh
pemerintah daerah. Sedangkan kalau tidak dihibahkan barang tersebut wajib dikelola dan
ditatausahakan oleh kementerian Negara/lembaga yang memberikan penugasan.
Pertanggungjawaban dan pelaporan. SKPD menyampaikan laporan pelaksanaan
kegiatan tugas pembantuan kepada gubernur, bupati, atau walikota. Kepala daerah
menyampaikan laporan pertanggungjawaban seluruh pelaksanaan kegiatan tugas
pembantuan kepada menteri Negara /pimpinan lembaga yang menugaskan. Menteri
Negara/pimpinan lembaga menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan
kegiatan tugas pembantuan secara nasional kepada presiden sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penganggaran, penyaluran, pelaporan,
pertanggungjawaban, pengawasan, dan penghibahan barang milik Negara yang diperoleh
atas pelaksanaan dana tugas pembantuan diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pemeriksaan dana tugas pembantuan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang
undangan dibidang pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab keuangan Negara.

7. MASA DEPAN OTONOMI DAERAH


Sebagian kalangan menilai bahwa kebijakan Otonomi Daerah di bawah UU
32/2004 merupakan salah satu kebijakan otonomi daerah yang terbaik yang pernah ada di
Republik ini. Prinsip prinsip dan dasar pemikiran yang digunakan dianggap sudah
cukup memadai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat dan daerah. Kebijakan
otonomi daerah yang pada hakikatnya adalah upaya pemberdayaan dan pendemokrasian
kehidupan masyarakat diharapkan dapat memenuhi aspirasi berbagai pihak dalam
konteks penyelenggaraan pemerintahan Negara serta hubungan pemerintah pusat dan
pemerintah daerah.
Dengan memperhatikan prinsip prinsip pemberian dan penyelenggaraan
otonomi daerah kita dapat memperkirakan prospek ke depan dari otonomi daerah
tersebut. Untuk mengetahui prospek tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan
berbagai pendekatan . Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah dengan
meninjau beberapa aspek dari otonomi daerah itu sendiri, yakni aspek ideologi, politik,
ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
14

Dari aspek ideologi, sudah jelas dinyatakan bahwa pancasila merupakan


pandangan, falsafah hidup dan sekaligus dasar Negara. Nilai nilai pancasila
mengajarkan antara lain pengakuan Ketuhanan, semangat persatuan dan kesatuan
nasional, pengakuan hak asasi manusia, demokrasi dan keadilan dan kesejahteraan sosial
bagi seluruh masyarakat. Jika kita memahami dan menghayati nilai- nilai tersebut maka
dapat

disimpulkan

bahwa

kebijakan

otonomi

daerah

dapat

diterima

dalam

penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui otonomi daerah nilai


nilai luhur pancasila tersebut akan dapat diwujudkan dan dilestarikan dalam setiap aspek
kehidupan bangsa Indonesia.
Dari aspek politik, pemberian otonomi dan kewenangan kepada daerah
merupakan satu wujud dari pengakuan dan kepercayaan pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah. Pengakuan pemerintah pusat terhadap eksistensi pemerintah daerah
serta kepercayaan dengan memberikan kewenangan yang luas kepada pemerintah daerah
akan menciptakan hubungan yang harmonis antar pemerintah. Selanjutnya kondisi akan
mendorong tumbuhnya dukungan daerah terhadap pusat dimana akhirnya akan dapat
memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Kebijakan otonomi daerah sebagai upaya
pendidikan politik rakyat akan membawa dampak terhadap peningkatan kehidupan
politik di daerah.
Dari aspek ekonomi, kebijakan otonomi daerah yang bertujuan untuk
pemberdayaan kapasitas daerah akan memberikan kesempatan bagi daerah untuk
mengembangkan dan meningkatkan perekonomiannya. Peningkatan dan pertumbuhan
perekonomian daerah akan membawa pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan
kesejahteraan rakyat di daerah. Melalui kewenangan yang dimilikinya untuk mengatur
dan mengurus kepentingan masyarakat, pemerintah daerah akan berupaya untuk
meningkatkan perekonomian sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan.
Kewenangan daerah melalui otonomi daerah diharapkan dapat memberikan pelayanan
maksimal kepada para pelaku ekonomi di daerah, baik local, nasional, regional maupun
global.
Dari aspek sosial budaya, kebijakan otonomi daerah merupakan pengakuan
terhadap keanekaragaman daerah, baik itu suku bangsa, agama, nilai nilai sosial dan
budaya serta potensi lainnya yang terkandung di daerah. Pengakuan pemerintah pusat
terhadap keanekaragaman daerah merupakan suatu nilai penting bagi eksistensi daerah.
15

Dengan pengakuan tersebut daerah akan merasa setara dan sejajar dengan suku bangsa
lainnya, hal ini akan sangat berpengaruh terhadap upaya mempersatukan bangsa dan
Negara. Pelestarian dan pengembangan nilai nilai budaya local akan dapat ditingkatkan
di mana pada akhirnya kekayaan budaya local akan memperkaya khasanah budaya
nasional.
Selanjutnya dari aspek pertahanan dan keamanan, kebijakan otonomi daerah
memberikan kewenangan kepada masing masing daerah untuk memantapkan kondisi
ketahan daerah dalam kerangka ketahanan nasional. Pemberian kewenangan kepada
daerah akan menumbuhkan kepercayaan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat.
Tumbuhnya hubungan dan kepercayaan daerah terhadap pusat akan dapat mengeliminir
gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Memperhatikan pemikiran dengan menggunakan pendekatan aspek ideologi,
politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan, secara ideal kebijakan
otonomi daerah merupakan kebijakan yang sangat tepat dalam penyelenggaraan
pemerintahan di daerah. Hal ini berarti bahwa kebijakan otonomi daerah mempunyai
prospek yang bagus di masa mendatang dalam menghadapi segala tantangan dalam
penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Namun demikian prospek yang bagus tersebut tidak akan dapat terlaksana jika
berbagai kendala dan tantangan yang dihadapi tidak dapat diatasi dengan baik, yang
antara lain, komitmen politik dari semua komponen bangsa, konsisten dalam
pelaksanaannya, dan kepercayaan serta dukungan masyarakat termasuk pelaku ekonomi.
Dengan kondisi tersebut bukan merupakan satu hal yang mustahil otonomi daerah
mempunyai prospek yang sangat cerah di masa mendatang.

16