Anda di halaman 1dari 45

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN THPOID

A. KONSEP DASAR
1. Pengertian
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi
salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah
terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella.
( Bruner and Sudart, 1994 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella Thypi ( Arief Maeyer, 1999 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah
Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1996 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga
paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis (.Seoparman,
1996).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala
sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan
terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi
(Mansoer Orief.M. 1999).
Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid
adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B
dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang
terkontaminasi.
2. Etiologi
Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. Ada dua
sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien
dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus
mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.
3. Patofisiologi

Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang


dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus
(muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella
thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat,
dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat.
Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci
tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang
yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian
kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus
bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman
berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial.
Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah
dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan
kandung empedu.
Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh
endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa
endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia
berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada
usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya
merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang
meradang.
4. Manifestasi Klinik
Masa tunas typhoid 10 14 hari
a. Minggu I
pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari.
Dengan keluhan dan gejala demam, nyeri otot, nyeri kepala, anorexia dan mual,
batuk, epitaksis, obstipasi / diare, perasaan tidak enak di perut.
b. Minggu II

pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi, lidah yang
khas (putih, kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, meteorismus, penurunan
kesadaran.
5. Komplikasi
a. Komplikasi intestinal
1) Perdarahan usus
2) Perporasi usus
3) Ilius paralitik
b. Komplikasi extra intestinal
1) Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis),
miokarditis, trombosis, tromboplebitis.
2) Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia
hemolitik.
3) Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
4) Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.
5) Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.
6) Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan
arthritis.
7) Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis,
polineuritis perifer, sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.
6. Penatalaksanaan
a. Perawatan.
1) Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk mencegah
komplikasi perdarahan usus.
2) Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila
ada komplikasi perdarahan.
b. Diet.

1) Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.


2) Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
3) Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
4) Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7
hari.
c. Obat-obatan.
1) Klorampenikol
2) Tiampenikol
3) Kotrimoxazol
4) Amoxilin dan ampicillin
7. Pencegahan
Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci tangan
setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan,
hindari minum susu mentah (yang belum dipsteurisasi), hindari minum air mentah,
rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas
8. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium,
yang terdiri dari :
a. Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia
dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai.
Pada kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi
berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun
tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah
leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.
b. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT

SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali
normal setelah sembuhnya typhoid.
c. Biakan darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila
biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid.
Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor :
1) Teknik pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain,
hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan.
Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada
saat bakteremia berlangsung.
2) Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit.
Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama
dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan
darah dapat positif kembali.
3) Vaksinasi di masa lampau
Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan
antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga
biakan darah negatif.
4) Pengobatan dengan obat anti mikroba.
Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba
pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin
negatif.
d. Uji Widal

Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
(aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam
serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan.
Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah
dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk
menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita
typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau
aglutinin yaitu :
1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh
kuman).
2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel
kuman).
3) Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai
kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya
untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.
Faktor faktor yang mempengaruhi uji widal :
a. Faktor yang berhubungan dengan klien :
1. Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.
2. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru dijumpai
dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada
minggu ke-5 atau ke-6.
3. Penyakit penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat menyertai
demam typhoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti
agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma lanjut.
4. Pengobatan dini dengan antibiotika : pengobatan dini dengan obat anti
mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.

5. Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat tersebut dapat


menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem
retikuloendotelial.
6. Vaksinasi dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi dengan
kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O
biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer
aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh sebab itu
titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai
nilai diagnostik.
7. Infeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya : keadaan
ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif, walaupun dengan hasil
titer yang rendah.
8. Reaksi anamnesa : keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin
terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi dengan demam yang
bukan typhoid pada seseorang yang pernah tertular salmonella di masa
lalu.
b. Faktor-faktor Teknis
1. Aglutinasi silang : beberapa spesies salmonella dapat mengandung antigen
O dan H yang sama, sehingga reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat
menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies yang lain.
2. Konsentrasi suspensi antigen : konsentrasi ini akan mempengaruhi hasil uji
widal.
3. Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen : ada penelitian
yang berpendapat bahwa daya aglutinasi suspensi antigen dari strain
salmonella setempat lebih baik dari suspensi dari strain lain.
9. Tumbuh kembang pada anak usia 6 12 tahun

Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan


dengan masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel.
Pertambahan berat badan 2 4 Kg / tahun dan pada anak wanita sudah mulai
mengembangkan cirri sex sekundernya.
Perkembangan menitik beratkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi
termasuk perubahan sosial dan emosi.
a. Motorik kasar
1) Loncat tali
2) Badminton
3) Memukul
4) motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara bertahap
meningkatkan irama dan keleluasaan.
b. Motorik halus
1) Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan
2) Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat
musik.
c. Kognitif
1) Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi
2) Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah
3) Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal
4) Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang
d. Bahasa
1) Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak

2) Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata
penghubung dan kata depan
3) Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal
4) Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan
10. Dampak hospitalisasi
Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak dan keluarga akan menimbulkan
stress dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stress tergantung pada persepsi anak
dan keluarga terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan.
Penyebab anak stress meliputi ;
a. Psikososial
Berpisah dengan orang tua, anggota keluarga lain, teman dan perubahan peran
b. Fisiologis
Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri
c. Lingkungan asing
Kebiasaan sehari-hari berubah
d. Pemberian obat kimia
Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun)
a. Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya
b. Dapat mengekspresikan perasaan dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri
c. Selalu ingin tahu alasan tindakan
d. Berusaha independen dan produktif

Reaksi orang tua


a. Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur, pengobatan dan
dampaknya terhadap masa depan anak
b. Frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak
familiernya peraturan Rumah sakit

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Faktor Presipitasi dan Predisposisi
Faktor presipitasi dari demam typhoid adalah disebabkan oleh makanan yang
tercemar oleh salmonella typhoid dan salmonella paratyphoid A, B dan C yang
ditularkan melalui makanan, jari tangan, lalat dan feses, serta muntah diperberat bila
klien makan tidak teratur. Faktor predisposisinya adalah minum air mentah, makan
makanan yang tidak bersih dan pedas, tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah
makan, dari wc dan menyiapkan makanan.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang mungkin muncul pada klien typhoid adalah :
a. Resti ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit b.d hipertermi dan muntah.
b. Resti gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang
tidak adekuat.
c. Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypi.
d.

Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan


kelemahan fisik.

e. Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang


informasi atau informasi yang tidak adekuat.

3. Perencanaan
Berdasarkan diagnosa keperawatan secara teoritis, maka rumusan
perencanaan keperawatan pada klien dengan typhoid, adalah sebagai berikut :
Diagnosa. 1
Resti gangguan ketidak seimbangan volume cairan dan elektrolit, kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan hipertermia dan muntah.
Tujuan
Ketidak seimbangan volume cairan tidak terjadi
Kriteria hasil
Membran mukosa bibir lembab, tanda-tanda vital (TD, S, N dan RR) dalam batas
normal, tanda-tanda dehidrasi tidak ada
Intervensi
Kaji tanda-tanda dehidrasi seperti mukosa bibir kering, turgor kulit tidak elastis
dan peningkatan suhu tubuh, pantau intake dan output cairan dalam 24 jam, ukur
BB tiap hari pada waktu dan jam yang sama, catat laporan atau hal-hal seperti
mual, muntah nyeri dan distorsi lambung. Anjurkan klien minum banyak kira-kira
2000-2500 cc per hari, kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, K,
Na, Cl) dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan tambahan melalui
parenteral sesuai indikasi.
Diagnosa. 2
Resiko tinggi pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang tidak adekuat
Tujuan
Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak terjadi

Kriteria hasil
Nafsu makan bertambah, menunjukkan berat badan stabil/ideal, nilai bising
usus/peristaltik usus normal (6-12 kali per menit) nilai laboratorium normal,
konjungtiva dan membran mukosa bibir tidak pucat.
Intervensi
Kaji pola nutrisi klien, kaji makan yang di sukai dan tidak disukai klien, anjurkan
tirah baring/pembatasan aktivitas selama fase akut, timbang berat badan tiap hari.
Anjurkan klien makan sedikit tapi sering, catat laporan atau hal-hal seperti mual,
muntah, nyeri dan distensi lambung, kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian
diet, kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium seperti Hb, Ht dan Albumin dan
kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antiemetik seperti (ranitidine).
Diagnosa 3
Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi
Tujuan
Hipertermi teratasi
Kriteria hasil
Suhu, nadi dan pernafasan dalam batas normal bebas dari kedinginan dan tidak
terjadi komplikasi yang berhubungan dengan masalah typhoid.
Intervensi
Observasi suhu tubuh klien, anjurkan keluarga untuk membatasi aktivitas klien,
beri kompres dengan air dingin (air biasa) pada daerah axila, lipat paha, temporal
bila terjadi panas, anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat
menyerap keringat seperti katun, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
anti piretik.
Diagnosa 4

Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan


kelemahan fisik
Tujuan
Kebutuhan sehari-hari terpenuhi
Kriteria hasil
Mampu melakukan aktivitas, bergerak dan menunjukkan peningkatan kekuatan
otot.
Intervensi
Berikan lingkungan tenang dengan membatasi pengunjung, bantu kebutuhan
sehari-hari klien seperti mandi, BAB dan BAK, bantu klien mobilisasi secara
bertahap, dekatkan barang-barang yang selalu di butuhkan ke meja klien, dan
kolaborasi dengan dokter dalam pemberian vitamin sesuai indikasi.
Diagnosa 5
Resti infeksi sekunder berhubungan dengan tindakan invasive
Tujuan
Infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil
Bebas dari eritema, bengkak, tanda-tanda infeksi dan bebas dari sekresi
purulen/drainase serta febris.
Intervensi
Observasi tanda-tanda vital (S, N, RR dan RR). Observasi kelancaran tetesan
infus, monitor tanda-tanda infeksi dan antiseptik sesuai dengan kondisi balutan
infus, dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti biotik sesuai
indikasi.
Diagnosa 6

Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurang informasi atau


informasi yang tidak adekuat
Tujuan
Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria hasil
Menunjukkan pemahaman tentang penyakitnya, melalui perubahan gaya hidup
dan ikut serta dalam pengobatan.
Intervensinya
Kaji sejauh mana tingkat pengetahuan keluarga klien tentang penyakit anaknya,
Beri pendidikan kesehatan tentang penyakit dan perawatan klien, beri kesempatan
keluaga untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti, beri reinforcement positif
jika klien menjawab dengan tepat, pilih berbagai strategi belajar seperti teknik
ceramah, tanya jawab dan demonstrasi dan tanyakan apa yang tidak di ketahui
klien, libatkan keluarga dalam setiap tindakan yang dilakukan pada klien
4. Evaluasi
Berdasarkan implementasi yang di lakukan, maka evaluasi yang di harapkan
untuk klien dengan gangguan sistem pencernaan typhoid adalah : tanda-tanda vital
stabil, kebutuhan cairan terpenuhi, kebutuhan nutrisi terpenuhi, tidak terjadi
hipertermia, klien dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri, infeksi
tidak terjadi dan keluaga klien mengerti tentang penyakitnya

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Gangguan Sistem Pencernaan


Akibat Penyakit Diare dan Tifoid

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Luasnya daerah permukaan saluran cerna (traktus GL) dan fungsi digestifnya
menunjukan betapa pentingnya makna pertukaran antara organisme manusia dengan
lingkungan nya. Kelainan inflamasi dan malabsorpsi akan mengganggu keutuhan fungsi
traktus gastrointestinal, di samping itu karena system dan sawar (barier) mukosa usus setelah
bayi lahir masih berada dalam proses menuju maturitas, maka usus bayi sangat rentan
terhadap ancaman infeksi. Diare menular akut dapat menyebabakan signifikan pada
keseimbangan cairan serta elektrolit pada bayi dan anak-anak. ( Dona L.Wong, 2008 )
Diare akut masih merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas
anak-anak di berbagai Negara yang sedang berkembang, setiap tahun di perkirakan lebih dari
satu milyar kasus diare di dunia dengan 3,3 juta kasus kematian sebagai akibatnya. Diare
masih merupakan penyebab penting kematian kepada anak-anak di Negara-negara
berkembang. Kombinasi paparan lingkungan yang patogenik, diet yang tidak memadai,
malnutrisi menunjang timbulnya kesakitan dan kematian karena diare. (Dr.T.H. Rampengan,
DSAK, 1993)
Sedangkan demam tifoid dan paratifoid merupakan salah satu penyakit infeksi
endemik di Asia, Afrika, Amerika latin, Karibia, dan Ocenia, termasuk Indonesia. Penyakit
ini tergolong penyakit menular yang dapat menyerang banyak orang melalui makanan dan
minuman yang terkontaminasi. Insiden demam tifoid diseluruh dunia menurut data pada
tahun 2002 sekitar 16 juta pertahun, 600.000 diantaranya menyebabkan kematian. Di
Indonesia prevalensi 91% kasus demam tifoid terjadi pada umur 3-19 tahun. Demam tifoid
masih merupakan penyakit infeksi tropik sistematik, bersifat endemis, dan masih merupakan
problema kesehatan. Masyarkaat pada negara-negara sedang berkembang di dunia, termasuk
Indonesia. Di Indonesia penderita demam tifoid cukup banyak diperkirakan 800/100.000
penduduk pertahun dan tersebar di mana-mana. Demam typoid dapat ditemukan pada semua
umur, tetapi yang paling sering pada anak besar, umur 5-9 tahun dan laki-laki lebih banyak

dari perempuan dengan perbandingan 2-3:1. Demam tifoid merupakan penyakit infeksi
sistematik yang disebabkan kuman batang gram negatif salmonella typhi maupun salmonella
para typhi A, B, C. Penyakit ini ditularkan melalui makanan atau minuman yang
terkontaminasi oleh kuman tersebut, dikenal sebagai penularan tinja-mulut (Fecaloral). Oleh
karena itu penting kebiasaan untuk cara hidup bersih. (Ngastiyah, 2005)
Di Indonesia, demam tifoid masih merupakan penyakit endemis utama. Bila timbul
penyakit ini dapat menimbulkan kematian. Diagnosis awal amat penting untuk dapat
ditegakkan agar penyakit dapat diterapi dengan adekuat untuk mencegah timbulnya penyakit
yang mungkin terjadi. Masalah yang terjadi pada pasien demam tifoid diantaranya yaitu
hipertermi dan dapat terjadi penurunan kesadaran, nyeri pada ulu hati yang disebabkan
karena proses inflamasi pada usus, kekurangan volume cairan, gangguan nutrisi kurang dari
kebutuhan dan dapat terjadi resiko infeksi.
Fenomena inilah yang menarik kami untuk mengadakan penyusunan makalah dengan
judul "Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Pencernaan Pada Anak Akibat Penyakit Diare
dan Demam Tifoid" dengan harapan karya ini dapat dipakai untuk mengetahui tentang diare
demam tifoid lebih lanjut.

1.2 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari makalah ini kami bedakan menjadi tujuan umum dan tujuan
khusus. Untuk tujuan umum dari penyusunan makalah ini yaitu untuk memberikan
pemahaman mengenai gangguan system pencernaan pada anak dengan bahasan diare dan
typoid, dan untuk mengetahui bagaimana penerapan asuhan keperawatan terhadap anak
dengan gangguan sistem pencernaan diare dan demam Tifoid . Sedangkan tujuan khususnya
yaitu:
1.

Mengetahui

mengenai

pengertian,

faktor-faktor

penyebab,

epidemiologi,

etiologi,

pathogenesis, patofisiologi, gambaran klinis dan komplikasi yang terjadi pada penyakit diare
dan typoid.
2. Mengetahui pengkajian pada pasien dengan gangguan sitem pencernaan diare dan demam
tifoid, mengetahui cara menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan
sitem pencernaan diare dan demam tifoid, dapat mengetahui cara membuat rencana tindakan
keperawatan pada pasien dengan gangguan sitem pencernaan diare dan demam tifoid, dan

dapat mengetahui cara keperawatan dan mengevaluasi pasien dengan gangguan sistem
pencernaan diare dan demam tifoid.

1.3 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat penulisan dari makalah yang kami susun adalah sebagai berikut:
1. Manfaat pengetahuan
Menambah keragaman ilmu pengetahuan bagi dunia keperawatan umumnya, khususnya
adalah keperawatan anak.
2. Manfaat pendidikan
Memberikan referensi tentang tingkat perkembangan anak dalam dunia pendidikan
keperawatan anak.
3. Manfaat praktis
a. Bagi profesi
Sebagai salah satu sumber literature dalam pengembangan bidang profesi keperawatan
khususnya tentang penyakit diare dan emam tifoid pada anak.
b. Bagi orang tua
Memberikan masukan kepada orang tua khususnya ibu dalam mengasuh anak saat terserang
c.

penyakit diare dan demam typhoid.


Bagi peneliti
Menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang proses keperawatan dan perkembangan anak.

1.4 Metodologi Penulisan


Adapun metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah
dengan menggunakan metode kepustakaan yaitu dengan mencari sumber dari berbagai
literature baik itu buku maupun dari berbagai media elektronik.

1.5 Sistematika Penulisan


Adapun sistematika dari penulisan makalah ini terdiri dari:
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
1. Latar belakang

PENDAHULUAN

2.
3.
4.
5.

Tujuan penulisan
Manfaat penulisan
Metodologi penulisan
Sistematika penulisan
BAB II

PEMBAHASAN

BAB III

KESIMPULAN
SARAN

DAFTAR PUSTAKA

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Teoritis


Saluran cerna berperan dalam serangkaian proses : yakni proses ingesti makanan,
proses digesti makanan yang dibantu oleh getah pencernaan yang dihasilkan oleh kelenjar
ludah, hati dan pancreas. Hasil digesti berupa zat gizi akan diserap ( absorpsi ) ke dalam
tubuh. Proses ini berlangsung mulai dari mulut sampai ke rectum. Massa yang berupa bolus
hasil campuran makanan dan getah pencernaan di dorong / digerakan ke arah anus, sisa dari
masa yang tidak diserap akan dikeluarkan dari anus (defekasi) berupa tinja. (Dr.IKG, Suandi,
SpA. 1998)
Gangguan pada saluran pencernaan pada bayi dan anak dapat disebabkan oleh
kelainan bawaan atau di dapat. Gangguan akibat kelainan yang di dapat disebabkan trauma
atau adanya infeksi baik pada saluran pencernaan atau di luar saluran cerna. Kelainan bawaan
dapat terjadi pada mulut, esophagus, pylorus, dan gangguan pasase di daerah duodenum,
atresia rekti , dan anus imperforate, penyakit hirschsprung, obstruksi biliaris, dan omfalokel.
Sedangkan gangguan akibat infeksi dapat disebabkan oleh jamur (Candida albicans); basil
coli (Escherichia coli); virus ; basil : Salmonella, Shigella, Vibrio cholerae dan parasit.
(Ngastiyah. 2005)
Berbagai gangguan saluran cerna yang sering terjadi pada anak diantaranya adalah
diare dan typhoid, penyakit tersebut dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna dan reaksi

pertahanan tubuh yang bersifat akut akan mengakibatkan berbagai gejala dan komplikas
sehingga akan menstimulasi terjadinya perubahan-perubahan pada saluran pencernaan itu
sendiri.
Diare dapat disebabkan oleh berbagai infeksi, selain penyebab lain seperti
malabsorbsi. Penyakit diare terutama pada bayi perlu mendapatkan tindakan secepatnya
karena dapat membawa bencana bila ditanggulangi terlambat. Makanan dan minuman yang
terkontaminasi seperti makanan basi dan beracun, merupakan salah satu faktor penyebab
timbulnya penyakit diare, sehingga penyakit ini dianggap sangat rentan terhadap anak-anak
yang sedang melalui masa pertumbuhan dan perkembangan. Komplikasi kehilangan yang
akan ditimbulkan akibat diare diantaranya adalah : dehidrasi ( ringan, sedang, berat,
hipotonik, isotonic, atau hipertonik ), renjatan hipovolemik, hipokalemia ( dengan gejala
meteorismus,

hipotoni

otot,

lemah,

bradikardia,

perubahan

elektrokardiogram

),

hipoglikemia, intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim
lactase, kejang, malnutrisi energy protein ( akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik ).
(Dr.IKG, Suandi, SpA. 1998)
Sama halnya dengan typhoid, Demam Tifoid adalah penyakit menular yang bersifat
akut, yang di tandai dengan bakteremia, perubahan pada system retikuloendotelial yang
bersipat difus, pembentukan mikroabses dan ulseri Nodus Payer di distar ileum. Kriteria
demam tifoid yaitu penyakit infeksi akut yang di sebabkan salmonella typhi, di tandai adanya
demam 7 hari atau lebih, gejala saluran pencernaan dan gangguan pada system saraf pusat
(sakit kepala, kejang dan gangguan kesadaran). (Ngastiyah. 2005)
2.2. Diare
2.2.1. Pengertian Diare
Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih
dari 3 kali pada anak, dengan konsistensi encer, dapat berwarna hijau, atau dapat pula
bercampur lender dan darah atau lender saja. (Hidayat.A, Aziz Alimul .2008)
Diare merupakan gejala yang terjadi karena kelainan yang melibatkan fungsi
pencernaan, penyerapan, dan sekresi. Diare di sebabkan oleh transfortasi air dan elektrolit
yang abnormal dalam usus. Di dunia terdapat kurang lebih 500 juta anak yang menderita
diare setiap tahunnya, dan 20% dari seluruh kematian yang hidup di Negara berkembang
berhubungan dengan diare serta dehidrasi. Gangguan diare dapat melibatkan gangguan

lambung dan usus (gastroenteritis), usus halus (enteritis), kolon (colitis),atau kolon dan usus
(entrokolitis). Diare biasanya diklasifikasikan sebagai diare akut dan kronis. ( Dona L.Wong,
2008 )
Diare akut merupakan penyebab utama keadaan sakit pada anak-anak balita. Diare
akut di definisikan sebagai keadaan peningkatan dan perubahan tiba-tiba frekuensi defekasi
yang sering di sebab kab oleh agens infeksius dalam traktus GI. Keadaan ini dapat menyertai
infeksi saluran nafas atas (ISPA), atau sluran kemih (ISK), terapi antibiotic,atau pemberian
obat pencahar (laksativ). Diare kronis di definisikan sebagai keadaan meningkatnya frekuensi
dan kandungan air dalam feses dengan lamanya sakit lebih dari 14 hari. Kerap kali diare
kronis terjadi karena keadaan kronis seperti sindrom malabsorbsi, penyakit inflamasi
usus,defisiensi kekebalan, keracunan makanan,intoleransi laktosa atau diare nonspesifik yang
kronis, atau akibat dari penatalaksanaan diare akut yang tidak memadai. ( Dona L.Wong,
2008 )

2.2.2. Faktor-faktor Penyebab Diare


Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor diantaranya :
1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral : Infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab
utama diare pada anak. Meliputi infeksi enternal sebagai berikut :
Infeksi enternal : Vibrio, E.Coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia,
Aeromonas, dan sebagainya.
Infeksi Virus : Enterovirus (Virus ECHO, coxsackie, Poliomyelitis), Adeno virus,
Rotavirus, Astrovirus, dan lain-lain .
Infeksi parasit : Cacing (Ascaris, Trihuris, okyuris, strongyloide) ; Protozoa (Entamoeba
histolytika, Giardian Lambli, Trichomonas hominis). Jamur (Candida Albicans).
b.

Infeksi parenteral : ialah infeksi di luar alat pencernaan makanan seperti :

otitis media akut (OMA), tonsilitas / tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan


sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.
c.

Faktor Malabsorbsi

Malabsorbsi karbohidrat disakarida ( intoleransi laktosa, maltose, dan sukrosa ),


monosakarida ( intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa ). Pada bayi dan anak yang
terpenting dan tersering adalah intoleransi laktosa.
Malabsorbsi lemak.
Malabsorbsi protein.

d. Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan
e.

Faktor psikologis
Rasa takut dan cemas ( jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar ).
(Dr.T.H. Rampengan, DSAK. 1993)

2.2.3.

Epidemiologi
Diare ISPA dan penyakit-penyakit yang dapat di cegah dengan imunisasi merupakan

tiga penyebab utama kematian pada golongan umur balita. Berbagai factor memepengaruhi
kejadian diare diantaranya adalah factor lingkungan, gizi, kependudukan, pendidikan,
keadaan social ekonomi dan perilaku masyarakat. (Soegeng Soegijanto, 2002)
Faktor lingkungan yang di maksud adalah kebersihan lingkungan dan perorangan seperti
kebersihan putting susu, kebersihan botol susu dan dot susu, maupun kebersihan air untuk
mengolah susu dan,makanan. Factor gizi misalnya adalah tidak di berikannya makanan
tambahan maskipun anak telah berusia 4-6 bulan, factor pendidikan yang utama adalah
pengetahuan Ibu tentang masalah kesehatan. Factor kependudukan menunjukan bahwa
insidens diare lebih tinggi pada penduduk perkotaan yang padat dan miskin atau kumuh.
Sedangkan factor perilaku orang tua dan masyarakat misalnya adalah kebiasaan ibu yang
tidak mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, setelah buang air besar atau membuang
tinja anak. Kesemua factor yang tersebut di atas terkait dengan factor ekonomi masingmasing keluarga. (Soegeng Soegijanto, 2002)
2.2.4. Etiologi
Kebanyakan mikroorganisme pathogen penyebab diare disebarluaskan lewat jalur
fekal oral melalui makanan atau air yang terkontaminasi atau di tularkan antar manusia

dengan kontak yang erat. Kurang nya air bersih, tinggalnya berdesakan, hygiene yang buruk,
kurang gizi dan sanitasi yang jelek merupakan factor resiko utama, khususnya untuk
terjangkit infeksi bakteri atau parasit yang patogen. Peningkatan insidensi dan beratnya
penyakit diare pada bayi juga berhubungan dengan perubahan yang spesifik menurut usia
pada kerentanan terhadap mikroorganisme patogen. Sistem kekebalan bayi belum pernah
terpajan dengan banyak mikroorganisme patogen sehingga tidak mempunyai antibody
pelindung yang di dapat. ( Dona L.Wong, 2008 )
Rotavirus merupakan agen yang paling penting yang menyebabkan penyakit diare
disertai dehidrasi pada anak-anak kecil di seluruh dunia. Infeksi rotavirus menyebabakan
sebagian perawatan di rumah sakit karena diare berat bagi anak-anak kecil dan merupakan
infeksi nosokomial yang signifikan oleh mikroorganisme patogen. Miroorgisme Giardia
Lamblia dan Cryptosporidium merupakan parasit yang paling banyak menimbulkan diare
infeksius akut. Pemakaian antibiotic juga berkaitan dengan diare. Antibiotik dapat mengubah
flora usus yang normal, dan penurunan jumlah bakteri kolon akan mengakibatkan absorpsi
karbohidrat yang berlebihan serta diare osmotic. ( Dona L.Wong, 2008 )

2.2.5. Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah :
1. Gangguan osmotic
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi sehinggaterjadi pergeseran air dan elektrolit ke
dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk
mengeluarkannya sehingga diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu ( misalnya toksin ) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare
karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu ( misalnya toksin ) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare
karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
4. Gangguan motilitas usus

Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap


makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan
mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan selanjutnya timbul diare pula. (Ngastiyah. 2005)
2.2.6. Patofisiologi
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi :
1.

Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan

keseimbangan asam basa (asidosis metabolic, hipokalemia)


2. Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurangt, pengeluaran bertambah).
3. Hipoglikemia
4. Gangguan sirkulasi darah. (Ngastiyah. 2005)

2.2.7. Gambaran Klinis


Mul-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan
berkurang atau tak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair, mungkin disertai lendir atau lendir
darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau hijauan karena bercampur dengan cairan
empedu. Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama
makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak
diabsorbsi oleh usus selama diare. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare
dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan
asam basa dan elektrolit. Bila pasien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, gejala
dehidrasi mulai nampak, yaitu berat badan turun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun
besar menjadi cekung ( pada bayi , selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.
(Ngastiyah. 2005)

2.2.8. Komplikasi kehilangan akibat diare


1. Dehidrasi ( ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic, atau hipertonik ).
2. Renjatan hipovolemik.
3.

Hipokalemia ( dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia, perubahan


elektrokardiogram ).

4. Hipoglikemia.
5. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim lactase.

6. Kejang,
7.

Malnutrisi energy protein ( akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik ). (Ngastiyah.
2005)

2.3. Tifoid
2.3.1. Pengertian
Demam tifoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan
dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan
kesadaran. Penyebab penyakit ini adalah Shalmonella typhosa, basil gram negative yang
bergerak dengan bulu getar, tidak berspora. (Ngastiyah. 2005)
2.3.2. Faktor faktor penyebab tifoid
Manusia merupakan satu-satu nya sumber penularan alami salmonella tyfhi, melalui
kontak langsung atau tidak langsung dengan seorang penderita demam typoid atau karier
kronis. Transmisi kuman terutama dengan cara menelan makan atau air yang tercemar tinja
manusia. Epidemi demam typoid yang berasal dari sumber air yang tercemar merupakan
masalah yang paling utama. Transmisi secara kongenital dapat terjadi secara transplasental
dari seorang ibu yang mengalami bakteriemia kepada bayi dalam kandungan, atau tertular
pada saat di lahirkan oleh seorang ibu yang merupakan karier typoid dengan rute fekal oral.
Seorang yang telah terinfeksi salmonella typhi dapat karier kronis dan mengekresikan mikro
organis selama beberapa tahun. (Dr.T.H. Rampengan, DSAK. 1993)

2.3.3. Epidemiologi
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai secara luas di daerah tropis
dan subtropics terutama di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak memadai dengan
standar hygiene dan sanitasi yang rendah. Beberapa hal yang mempercepat terjadinya
penyebaran demam tifoid di Negara sedang berkembang adalah urbanisasi, kepadatan
penduduk, sumber air minum, dan standar hygiene industry pengolahan makanan yang masih
rendah titik menurut pang, selain karena meningktnya urbanisasi, demam tifoid masih terus
menjadi masalah karena beberapa factor lain yaitu, penyediaan air bersih yang kurang

memadai, adanya strain yang resisten terhadap antibiotic, masalah pada identifikasi dan
penatalaksanaan karier, keterlambatan mambuat diagnosis yang pasti, pathogenesis dan factor
virulensi. Demam tifoid disebakan oleh Salmonella Thypi yang dapat bertahan hidup lama di
lingkungan kering dan beku, peka erhadap proses klorinasi dan pateurisasi pada suhu 63 0 C.
(Soegeng Soegijanto,2002)

2.3.4. Etiologi
Etiologi demam tifoid adalah salmonella typhi yang berhasil di isolasi pertama kali
dari seorang pasien demam typhoid oleh Geffkey di Jerman pada tahun 1884.mikroorganisme
ini merupakan bakteri gram negative yang motil, bersifat aerob dan tidak membentuk
spora.salmonella typhi dapat tumbuh dalam semua media, pada media yang selektif bakteri
ini memfermentasi glukosa dan manosa,tetapi tidak dapat mempermentasikan laktosa.
Bakteri ini mempunyai beberapa komponen antigen yaitu :
1.
2.

Antigen dinding sel (O) yang merupakan lipop[olisakarida dan berifat sfesifik group.
Antigen flagella (H) yang merupakan komponen protein berada dalam flagella dan bersifat

spesifik spesies.
3. Antigen virulen (Vi) merupakan polisakarida dan berada di kapsul yang melindungi seluruh
permukaan sel.
4. Outer Membrane protein (OMP), Antigen OMP S. typhi merupakan bagian dari dinding
terluar yang terletak di luar membran sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi
sel dengan lingkungan sekitarnya.OMP berfungsi sebagai barier fisik yang mengendalikan zat
dan cairan kedalam membrane sitoplasma.
Salmonella thypi hanya dapat hidup pada tubuh manusia. sumber penularan berasal
dari tinja dan urine karier, dari penderita pada fase akut dan penderita dalam fase
penyembuhan. (Soegeng Soegijanto, 2002)

2.3.5. Patogenesis
Infeksi terjadi pada saluran pencernaan. Basil diserap di usus halus, melalui
pembuluh limfe halus masuk ke dalam peredaran darah sampai di organ organ terutama hati
dan limpa. Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam dalam hati dan limpa
sehingga organ-organ tersebut akan membesar disertai nyeri pada perabaan. Kemudian basil

masuk kembali ke dalam darah (bakteremia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke
dalam kelenjar limfoid usus halus menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa di atas
plak penyeri. Tukak tersebut dapat menyebabkan pendarahan dan perforasi usus. Gejala
demam disebabkan oleh endotoksin, sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan
oleh kelainan pada usus. (Ngastiyah. 2005)

2.3.6. Patofisiologi
Umumnya prognosis tifus abdominalis tidak begitu berbahaya, asal pasien cepat
berobat. Mortalitas pada pasien yang dirawat ialah 6%. Prognosis menjadi berbahaya jika
terdapat gambaran klinis yang berat seperti :
a. Demam tinggi ( hiperpireksia ) atau febris kontinua.
b. Kesadaran sangat menurun ( sopor, koma atau delirium )
c. Terdapat komplikasi yang berat, misalnya dehidrasi dan asidosis perforasi. (Ngastiyah. 2005)

2.3.7. Gambaran Klinis


Gambaran klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan dari pada orang
dewasa. Masa tunas 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan,
sedangkan jika melalui minuman yang terlama 30 hari. Selama masa inkubasi mungkin
ditemukan gejala prodromal, yaitu perassaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing
tidak bersemangat dan nafsu makan kurang.
Gambaran klinis yang biasa ditemukan ialah :
1. Demam
Pada kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu, bersifat febris remiten dan
suhu tidak tinggi sekali. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur naik setiap
hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam
minggu kedua pasien terus berada dalam keadaan demam, pada minggu ketiga suhu
berangsung turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.
2. Gangguan pada saluran pencernaan.
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak seda, bibir kering dan pecah-pecah
( ragaden ). Lidah tertutup selaput putih kotor ( coated tongue ), ujung dan tepinya
kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut kembung
( meteorismus ). Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya sering
terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare atau normal.

3. Gangguan Kesadaran
Umunya kesadaran pasien menurun walaupun tidak dalam yaitu apatis sampai
somnolen., jarang terjadi sopor, koma atau gelisah ( kecuali penyakit berat dan terlambat
mendapatkan pengobatan ). (Ngastiyah. 2005)

2.3.8. Komplikasi
Pada usus halus, umumnya jarang terjadi tetapi bila terjadi sering fatal.
a.

Pendarahan usus
Bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Jika
pendarahan banyak dapat terjadi melena, dapat disertai nyeri perut dengan tanda tanda
renjatan.

b. Perforasi usus
Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga
peritoneum, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara diantara hati dan diafragma pada
foto rontgen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak.
c.

Peritonitis
Biasanya menyertai perforasi tetapi terdapat terjadi tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala
abdomen akut, yaitu nyeri perut yang hebat, dinding abdomen tegang ( defence musculair ).
Komplikasi di luar usus, terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis
( bakteremia ), yaitu meningitis, kolesistitis, ensefalopati, dll. Terjadi karena infeksi sekunde,
yaitu bronkopneumonia. (Ngastiyah. 2005)

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1

Asuhan Keperawatan Anak dengan Masalah Diare

A. Pengkajian

Anamnesa
Anamnesa adalah mengetahui kondisi pasien dengan cara wawancara atau interview.
Mengetahui kondisi pasien untuk saat ini dan masa yang lalu.
Anamnesa mencakup identitas pasien, keluhan utama, riwayat kesehatan sekarang,
riwayat kesehatan dahulu, riwayat kesehatan keluarga, riwayat imunisasi, riwayat kesehatan
lingkungan dan tempat tinggal.
1. Identitas
Meliputi identitas klien yaitu : nama lengkap, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, agama,
pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, suku/bangsa, golongan darah, tanggal masuk RS,
tanggal pengkajian, No. RM, diagnose medis, dan alamat.
Identitas penanggung jawab : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan,
hubungan dengan klien, dan alamat.
2. Keluhan utama
Merupakan hal yang paling klien rasakan
Contoh : BAB lebih dari 3 x

3. Riwayat Kesehatan Sekarang ( PQRST )


Mengkaji keluhan kesehatan yang dirasakan pasien pada saat di anamnesa meliputi palliative,
provocative, quality, quantity, region, radiaton, severity scala dan time.
BAB warna kuning kehijauan, bercampur lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi encer,
frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari ( diare
berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Mengkaji apakah pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau
kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit),
alergi makanan, ISPA, ISK, OMA campak.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Mengkaji ada atau tidak salah satu keluarga yang mengalami diare.
6. Riwayat Imunisasi
Mengkaji imunisasi yang pernah di berikan kepada klien, seperti imunisasi Polio, BCG, DPT,
dll.
7. Riwayat Psikososial

Psiko sosial sangat berpengaruh sekali terhadap psikologis pasien, dengan timbul gejalagejala yang dalami, apakah pasien dapat menerima pada apa yang dideritanya.
8. Lingkungan dan tempat tinggal
Mengkaji lingkungan tempat tinggal klien, mengenai kebersihan lingkungan tempat tinggal,
area lingkungan rumah, dll.
Pemeriksaan Fisik
1. Antopometri
Pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar
kepala, lingkar abdomen membesar,
2. Keadaan umum
Klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.
3. Kepala
Ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun lebih.
4. Mata
Cekung, kering, sangat cekung
5. Sistem pencernaan
Mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic meningkat > 35 x/mnt, nafsu
makan menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan
haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum.
6. Sistem Pernafasan
Dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis metabolic (kontraksi otot
pernafasan)
7. Sistem kardiovaskuler
Nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare sedang .

8. Sistem integumen
Warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu meningkat > 37 5 derajat celsius, akral
hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memajang > 2 dt, kemerahan pada
daerah perianal.
9. Sistem perkemihan

Urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ), frekuensi berkurang dari
sebelum sakit.
10. Dampak hospitalisasi
Semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang berupa perpisahan,
kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon yang ditunjukan adalah protes,
putus asa, dan kemudian menerima.
Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium :
Feses kultur : Bakteri, virus, parasit, candida
Serum elektrolit
: Hipo natremi, Hipernatremi, hipokalemi
AGD
: asidosis metabolic
Faal ginjal
: UC meningkat (GGA)
2. Radiologi
:
Mungkin ditemukan bronchopneumoni

B. Analisa Data

DATA

ETIOLOGI

MASALAH

DS : DO :
Ubun-ubun cekung
Berat badan turun
Bising
usus

meningkat
Turgor kurang
Frekuensi buang air

besar meningkat
Muntah

(Gangguan Osmotik)
Makanan / zat yang tidak dapat
diserap oleh usus.
Tekanan osmotic dalam rongga usus

Gangguan
keseimbangan
cairan dan
elektrolit

meningkat
Terjadi pergeseran air dan elektrolit
ke dalam rongga usus.
Isi rongga usus berlebihan
Merangsang rongga usus yang
berlebihan
Diare

DS :
Klien mengatakan
mulut terasa pahit dan

badan lemas
DO :
Anoreksia
Muntah
Berat badan turun

DS :
Klien menyatakan
nteri pada bagian

daerah anus
DO :
Frekuensi buang air
besar meningkat
Lecet di sekitar anus
DS :
Klien menyatakan
badannya terasa panas

Gangguan keseimbangan asam basa

Gangguan

dan elektrolit

pemenuhan

Lambung / saluran pencernaan


meradang

kebutuhan
nutrisi

Nafsu makan berkurang / tidak ada


Intake nutrisi kurang
Gangguan absorpsi usus
Frekuensi buang air besar meningkat

Potensial
kerusakan
integritas

Anus dan sekitarnya basah dan


lembab

jaringan kulit
sekitar anus.

Anus dan sekitarnya lecet


Invasi kuman di usus
Multiplikasi dalam usus

Gangguan rasa
nyaman : panas
(hypertermi)

DO :
Suhu lebih dari 380C
Cengeng

Peradangan
usus

Pengeluaran
toksin

Tanda dan
radang

Merangsang
hypotalamus

Peningkatan
Suhu tubuh

Peningkatan
Suhu tubuh

C. Diagnosa Perawatan
1.

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan output cairan yang

berlebihan melalui diare sekunder terhadap gangguan osmotic.


2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan tidak adequatnya intake nutrisi
3.

sekunder terhadap muntah dan diare.


Potensial kerusakan integritas jaringan kulit sekitar anus berhubungan dengan iritasi

sekunder terhadap frekuensi buang air besar yang meningkat


4. Gangguan rasa nyaman panas (hypertermi) berhubungan dengan proses tidak adequatnya
intake nutrisi sekunder terhadap muntah dan diare.

D. Perencanaan Keperawatan
No
.
1.

Diagnosa
Perawatan
Gangguan
keseimbangan
cairan dan elektrolit
berhubungan
dengan output
cairan yang
berlebihan melalui
diare sekunder
terhadap gangguan
osmotic. Ditandai
dengan :
DS : -

Tujuan

Intervensi

Rasional

Tupen :
- Pantau tanda dan
Kebutuhan
gejala kekurangan
cairan
cairan dan
terpenuhi
elektrolit
dalam jangka
waktu 1x 24
jam.

Penurunan
sirkulasi
volume cairan
menyebabkan
kekeringan
mukosa dan
pemekatan
urin.

Tupan :
- Pantau intake dan
Keseimbangan output
cairan dan
elektrolit

Dehidrasi
dapat
meningkatkan
laju filtrasi

DO :
Ubun-ubun cekung
Berat badan turun
Bising usus
meningkat
Turgor kurang
Frekuensi buang air
besar meningkat
Muntah

terpenuhi
dalam jangka
waktu 3x24
jam.
Dengan
criteria hasil :
- Tanda vital
dalam batas
normal (N:
120-60 x/mnt, - Timbang berat
S; 36-37,50 c,
badan setiap hari
RR : < 40
x/mnt )
- Turgor
elastik ,
membran
mukosa bibir
- Anjurkan
basah, mata
keluarga untuk
tidak cowong,
memberi minum
UUB tidak
banyak pada kien,
cekung.
2-3 lt/hr
- Konsistensi
BAB lembek,
frekwensi 1 - Kolaborasi :
kali perhari 1. Pemeriksaan
laboratorium
serum elektrolit
(Na, K,Ca, BUN)

glomerulus
membuat
keluaran tak
adekuat untuk
membersihkan
sisa
metabolisme.
Mendeteksi
kehilangan
cairan ,
penurunan 1
kg BB sama
dengan
kehilangan
cairan 1 lt
Mengganti
cairan dan
elektrolit yang
hilang secara
oral

Koreksi
keseimbang
cairan dan
elektrolit,
BUN untuk
mengetahui
faal ginjal
(kompensasi).

2. Cairan parenteral
( IV line ) sesuai
dengan umur

Mengganti
cairan dan
elektrolit
secara adekuat
dan cepat.

3. Obat-obatan :
(antisekresin,
antispasmolitik,
antibiotik)

Anti sekresi
untuk
menurunkan
sekresi cairan
dan elektrolit
agar simbang,
antispasmolitik
untuk proses
absorbsi
normal,
antibiotik
sebagai anti

bakteri
berspektrum
luas untuk
menghambat
endotoksin.
2.

Gangguan
pemenuhan
kebutuhan nutrisi
berhubungan

Tupen :
Kebutuhan
nutrisi
terpenuhi
dalam jangka
waktu 2 hari

dengan tidak
adequatnya intake
nutrisi sekunder
terhadap muntah
dan diare. Ditandai
dengan :

DS :
Klien mengatakan
mulut terasa pahit

dan badan lemas


DO :
Anoreksia
Muntah
Berat badan turun

Tupan :
Setelah
dilakukan
tindakan
perawatan
selama
dirumah di RS
kebutuhan
nutrisi
terpenuhi
Dengan
criteria hasil :
Nafsu
makan
meningkat

- Diskusikan dan
jelaskan tentang
pembatasan diet
(makanan berserat
tinggi, berlemak
dan air terlalu
panas atau dingin)

- Ciptakan
lingkungan yang
bersih, jauh dari
bau yang tak
sedap atau
sampah, sajikan
makanan dalam
keadaan hangat
- Berikan jam
istirahat (tidur)
serta kurangi
kegiatan yang
berlebihan
- Monitor intake
dan out put dalam
24 jam

- Kolaborasi
dengan tim
kesehtaan lain :
a. terapi gizi : Diet
TKTP rendah
serat, susu
b. obat-obatan atau
vitamin

Serat tinggi,
lemak,air
terlalu panas /
dingin dapat
merangsang
mengiritasi
lambung dan
sluran usus.
Situasi yang
nyaman, rileks
akan
merangsang
nafsu makan.

Mengurangi
pemakaian
energi yang
berlebihan
Mengetahui
jumlah output
dapat
merencenakan
jumlah
makanan.

Mengandung
zat yang
diperlukan ,
untuk proses
pertumbuhan

( A)
3.

Potensial kerusakan
integritas jaringan
kulit sekitar anus
berhubungan
dengan iritasi
sekunder terhadap
frekuensi buang air
besar yang
meningkat. Ditandai
dengan :

Kerusakan
- Diskusikan dan
kulit tidak
jelaskan
terjadi, dengan pentingnya
criteria hasil : menjaga tempat
Tidak terjadi tidur
iritasi :
kemerahan,
lecet,
- Demontrasikan
kebersihan
serta libatkan
terjaga
keluarga dalam
merawat perianal
(bila basah dan
mengganti
pakaian bawah
serta alasnya)

Kebersihan
mencegah
perkembang
biakan kuman
Mencegah
terjadinya
iritassi kulit
yang tak
diharapkan
oleh karena
kelebaban dan
keasaman
feces

DS :
Klien menyatakan
nteri pada bagian
daerah anus

DO :
Frekuensi buang air

besar meningkat
Lecet di sekitar

Melancarkan
vaskularisasi,
mengurangi
- Atur posisi tidur
penekanan
atau duduk dengan
yang lama
selang waktu 2-3
sehingga tak
jam
terjadi iskemi
dan iritasi .

anus

Gangguan rasa
nyaman panas
(hypertermi)
berhubungan
dengan proses tidak
adequatnya intake
nutrisi sekunder
terhadap muntah
dan diare. Ditandai
dengan :
DS :

Setelah
- Monitor suhu
dilakukan
tubuh setiap 2 jam
tindakan
perawatan
selama 3x 24
jam tidak
terjadi
peningkatan - Berikan kompres
suhu tubuh,
hangat
dengan
criteria hasil :
- Suhu tubuh
dalam batas
normal ( 3637,5 C)

Kolaborasi
pemberian

Deteksi dini
terjadinya
perubahan
abnormal
fungsi tubuh
( adanya
infeksi)
Merangsang
pusat pengatur
panas untuk
menurunkan
produksi panas
tubuh
Merangsang
pusat pengatur

Klien menyatakan

antipirektik

panas di otak.

badannya terasa

3.2

panas
DO :
Suhu lebih dari

380C
Cengeng

Asuhan Keperawatan Anak dengan Masalah Tifoid

A. Pengkajian
Anamnesa
Anamnesa adalah mengetahui kondisi pasien dengan cara wawancara atau interview.
Mengetahui kondisi pasien untuk saat ini dan masa yang lalu.
Anamnesa mencakup identitas pasien, keluhan utama, riwayat kesehatan sekarang,
riwayat kesehatan dahulu, riwayat kesehatan keluarga, riwayat imunisasi, riwayat kesehatan
lingkungan dan tempat tinggal.
1. Identitas
Meliputi identitas klien yaitu : nama lengkap, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, agama,
pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, suku/bangsa, golongan darah, tanggal masuk RS,
tanggal pengkajian, No. RM, diagnose medis, dan alamat.
Identitas penanggung jawab : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan,
hubungan dengan klien, dan alamat.
2. Keluhan utama

Pada pasien tifoid biasanya mengeluh perut merasa mual dan kembung, nafsu makan
menurun, panas dan demam.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang ( PQRST )
Mengkaji keluhan kesehatan yang dirasakan pasien pada saat di anamnesa meliputi palliative,
provocative, quality, quantity, region, radiaton, severity scala dan time.
Pada umumnya penyakit pada pasien Thypoid adalah demam, anorexia, mual, muntah, diare,
perasaan tidak enak di perut, pucat (anemi), nyeri kepala pusing, nyeri otot, lidah tifoid
(kotor), gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit thypoid, apakah tidak pernah, apakah
menderita penyakit lainnya.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita Thypoid atau sakit yang
lainnya.
6. Riwayat Imunisasi
Mengkaji imunisasi yang pernah di berikan kepada klien, seperti imunisasi Polio, BCG, DPT,
dll.
7. Riwayat Psikososial
Psiko sosial sangat berpengaruh sekali terhadap psikologis pasien, dengan timbul gejalagejala yang dalami, apakah pasien dapat menerima pada apa yang dideritanya.
8. Lingkungan dan tempat tinggal
Mengkaji lingkungan tempat tinggal klien, mengenai kebersihan lingkungan tempat tinggal,
area lingkungan rumah, dll.

Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum

Biasanya pada pasien typhoid mengalami badan lemah, panas, puccat, mual, perut
tidak enak, anorexia.
2. Kepala
Kepala tidak ada bernjolan, rambut normal, kelopak mata normal, konjungtiva
anemia, mata cowong, muka tidak odema, pucat/bibir kering, lidah kotor, ditepi dan ditengah
merah, fungsi pendengran normal leher simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
3. Dada dan abdomen
Dada normal, bentuk simetris, pola nafas teratur, didaerah abdomen ditemukan nyeri
tekan.
4. Sistem respirasi
Apa ada pernafasan normal, tidak ada suara tambahan, dan tidak terdapat cuping
hidung.
5. Sistem kardiovaskuler
Biasanya pada pasien dengan typoid yang ditemukan tekanan darah yang meningkat
akan tetapi bisa didapatkan tachiardi saat pasien mengalami peningkatan suhu tubuh.
6. Sistem integument
Kulit bersih, turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak, akral hangat.
7. Sistem eliminasi
Pada pasien typoid kadang-kadang diare atau konstipasi, produk kemih pasien bisa
mengalami penurunan (kurang dari normal). N -1 cc/kg BB/jam.
8. Sistem muskuloskolesal
Apakah ada gangguan pada extrimitas atas dan bawah atau tidak ada gangguan.
9. Sistem endokrin
Apakah di dalam penderita thyphoid ada pembesaran kelenjar toroid dan tonsil.
10. Sistem persyarafan
Apakah kesadarn itu penuh atau apatis, somnolen dan koma, dalam penderita penyakit
thypoid.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan yang mendukung diagnosis :
Darah tepi; terdapat gambaran leukopenia ringan atau normal, limfositosis relatif (jarang), dan
eosinofilia, mungkin terdapat anemia ringan.
2. Pemeriksaan konfirmasi diagnosis :

Biakan empedu dari bahan darah atau sumsum tulang


Serologis widal bila perlu diulang pada saat penyembuhan.
3. Pemeriksaan penunjang komplikasi :
Perdarahan usus ringan/tersembunyi : uji benzidin tinja.
Perforasi usus/peritonitis : foto polos perut tiga posisi.
Kolesistitis : USG hati dan kandung empe
Meningitis/ensefalitis : punksi lumbal
Bronkhopneumonia : thoraks foto.
Hepatitis : uji faal hati dan SGOT/SGP
B. Analisa Data

DATA
DS :
Klien mengeluh

badannya panas
DO :
Suhu tubuh > 380 C
Leukosit < 5000 / mm3
Frekuensi nadi > 100x /

menit
Muka merah
Bibir pecah-pecah
Banyak keringat

ETIOLOGI
Makanan yang terkontaminasi

MASALAH
Gangguan

Salmonela Typosa atau Salmonela

keseimbangan

Paratyphi A,B,C
Masuk usus halus lalu terjadi

suhu

proses infeksi
Masuk ke dalam aliran darah
Bakteri melepas Endotoksin
Merangsang sintesa dalam
pelepasan zat pytrogen oleh
leukosit pada jaringan yang
merangsang
Infeksi disampaikan Hypotalamus
bagian termoregulator melalui
ductus toracicus.

DS :
Klien mengatakan
mulut terasa pahit dan

badan lemas
DO :
Porsi makan tidak
habis dari yang

disediakan
Klien tampak lemah

Proses infeksi di usus halus


Fungsi usus halus dalam
mengabsorbsi makanan terganggu

Gangguan
pemenuhan
kebutuhan
nutrisi

Sari-sari makanan yang diabsorbsi


menurun
Nutrisi kurang terpenuhi

Klien muntah
Berat badan menurun
DS :
Klien mengatakan
lemah untuk melakukan

Intake nutrisi lemah

Gangguan

Metabolisme glukosa terganggu

aktivitas
sehari-hari

aktivitas
DO :
Porsi makan tidak

Pembentukan ATP dan ADP


terganggu

habis
Klien tampak lemah
Klien bedrest, aktivitas

Energi berkurang dan terjadi


kelemahan otot

di bantu

DS : DO :
Suhu tubuh . 380 C
Pengeluaran sekresi

keringat banyak
Minum air kurang
Bibir kering dan pecahpecah

Aktivitas terganggu
Peningkatan suhu tubuh

Potensial
terjadi

Dilatasi pembuluh darah

dehidrasi

Evaporasi berlebih
Dehidrasi

C. Diagnosa Perawatan
1.

Gangguan keseimbangan suhu tubuh ( hyperthermia ) berhubungan dengan adanya infeksi

2.

dalam tubuh
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan

absorbsi makanan terganggu


3. Gangguan aktivitas sehari-hari sehubungan dengan kondisi pasien lemah.
4. Potensial terjadi dehidrasi berhubungan dengan pemasukan cairan yang kurang
D. Perencanaan Keperawatan
No
.
1.

Diagnosa
Perawatan
Gangguan

Tujuan

Intervensi

Suhu tubuh
- Observasi TTV
normal dalam
tiap 4 jam sekali
keseimbangan suhu
waktu 3x24 jam
tubuh (hyperthermia) dengan criteria :
- Suhu : 36 37 0
berhubungan dengan
C
adanya infeksi dalam
- Klien tidak
- Berikan

Rasional
Tanda-tanda
vital
merupakan
acuan untuk
mengetahui
keadaan umum
pasien

tubuh. Ditandai
dengan :

DS :
Klien mengeluh

badannya panas
DO :
Suhu tubuh > 380 C
Leukosit < 5000 /

mm3
Frekuensi nadi >

100x / menit
Muka merah
Bibir pecah-pecah
Banyak keringat

mengeluh
adanya panas
badan

penjelasan
kepada klien
dan keluarga
tentang
peningkatan
suhu tubuh

Klien dan
keluarga
mengetahui
sebab dari
peningkatan
suhu dan
membantu
mengurangi
kecemasan
yang timbul

- Anjurkan klien
menggunakan
pakaian tipis
dan menyerap
keringat

Menjaga agar
klien merasa
nyaman,
pakaian tipis
akan
membantu
mengurangi
penguapan

- Batasi
pengunjung

Agar klien
merasa tenang
dan udara di
dalam ruangan
tidak terasa
panas

Peningkatan
suhu tubuh
- Anjurkan
mengakibatkan
pasien untuk
penguapan
banyak minum, tubuh
minum 2,5 liter / meningkat
24 jam
sehingga perlu
diimbangi
dengan asupan
cairan yang
banyak

- Memberikan
kompres dingin

- Kolaborasi
dengan dokter
dalam
pemberian
antibiotik dan
antipiretik.

Untuk
membantu
menurunkan
suhu tubuh
Antibiotik
untuk
mengurangi
infeksi dan
antipiretik
untuk
menurangi
panas.

2.

Gangguan

Pasien mampu
mempertahankan
pemenuhan
kebutuhan
kebutuhan nutrisi
nutrisi adekuat,
dengan criteria :
kurang dari
- Nafsu makan
kebutuhan
meningkat
- Pasien mampu
berhubungan dengan
menghabiskan
absorbsi makanan
makanan sesuai
dengan porsi
terganggu. Ditandai
yang diberikan
dengan :

dan badan lemas


DO :
Porsi makan tidak
habis dari yang

- Timbang berat
badan klien
setiap 2 hari

DS :
Klien mengatakan
mulut terasa pahit

- Jelaskan pada
klien dan
keluarga tentang
manfaat
makanan/nutrisi

disediakan
Klien tampak lemah
Klien muntah
Berat badan
menurun

- Beri nutrisi
dengan diet
lembek, tidak
mengandung
banyak serat,
tidak
merangsang,
maupun
menimbulkan
banyak gas dan
dihidangkan
saat masih
hangat.

Untuk
meningkatkan
pengetahuan
klien tentang
nutrisi
sehingga
motivasi untuk
makan
meningkat.

Untuk
mengetahui
peningkatan
dan penurunan
berat badan
Untuk
meningkatkan
asupan
makanan
karena mudah
ditelan.

- Beri makanan
dalam porsi
kecil dan
frekuensi sering. Untuk
menghindari
mual dan
muntah
- Kolaborasi
dengan dokter
untuk
pemberian
antasida dan
Antasida
nutrisi
mengurangi
parenteral
rasa mual dan
muntah.
Nutrisi
parenteral

3.

Gangguan aktivitas

Aktivitas sehari- - Beri motivasi


hari terpenuhi
pada pasien dan
sehari-hari
dalam waktu 3x kelurga untuk
sehubungan dengan
24 jam, dengan
melakukan
criteria :
mobilisasi
kondisi pasien lemah.
- Klien mampu
sebatas
Ditandai dengan :
melakukan
kemampuan
aktivitas tanpa
(missal. Miring
DS :
dibantu
kanan, miring
Klien mengatakan
kiri)
lemah untuk

melakukan aktivitas
DO :
Porsi makan tidak

habis
Klien tampak lemah
Klien bedrest,

- Kaji
kemampuan
pasien dalam
beraktivitas
(makan, minum)

aktivitas di bantu
- Dekatkan
keperluan
pasien dalam
jangkauannya.
- Berikan latihan
mobilisasi
secara bertahap
sesudah demam
hilang
4

Potensial terjadi
dehidrasi
berhubungan dengan
pemasukan cairan

Kekurangan
cairan tidak
terjadi dalam
kurun waktu
3x24 jam ,
dengan criteria :

Berikan
penjelasan
tentang
pentingnya
kebutuhan
cairan pada
pasien dan
keluarga

yang kurang, ditandai - Turgor kembali


normal
dengan :
- Kelopak mata
DS : tidak cekung - Observasi
DO :
pemasukan dan
- Klien tampak
0
pengeluaran
Suhu tubuh . 38 C
segar
cairan
Pengeluaran sekresi

dibutuhkan
terutama jika
kebutuhan
nutrisi per oral
sangat kurang
Agar pasien
dan keluarga
mengetahui
pentingnya
mobilisasi bagi
pasien yang
bedrest

Untuk
mengetahui
sejauh mana
kelemahan
yang terjadi
Mempermudah
pasien dalam
melakukan
aktivitas.

Menghindari
kekakuan
sendi dan
mencegah
adanya
dekubitus
Mempermudah
pemberian
cairan
(minum) pada
pasien.

Untuk
mengetahui
keseimbangan
cairan

keringat banyak
Minum air kurang
Bibir kering dan
pecah-pecah

Anjurkan
pasien untuk
banyak minum
2,5 liter / 24
jam.
Observasi
kelancaran
tetesan infuse.

Kolaborasi
dengan dokter
untuk terapi
cairan (oral /
parenteral).

Untuk
pemenuhan
kebutuhan
cairan
Untuk
pemenuhan
kebutuhan
cairan dan
mencegah
adanya edema.
Untuk
pemenuhan
kebutuhan
cairan yang
tidak terpenuhi
(secara
parenteral).

BAB IV
PENUTUP
1.1.

Kesimpulan
Makna pertukaran antara organisme manusia dengan lingkungan nya. Kelainan

inflamasi dan malabsorpsi akan mengganggu keutuhan fungsi traktus gastrointestinal, di

samping itu karena system dan sawar (barier) mukosa usus setelah bayi lahir masih berada
dalam proses menuju maturitas, maka usus bayi sangat rentan terhadap ancaman infeksi.
Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih
dari 3 kali pada anak, dengan konsistensi encer, dapat berwarna hijau, atau dapat pula
bercampur lender dan darah atau lender saja.
Sedangkan demam tifoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran
pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan
dan gangguan kesadaran.
Kedua penyakit ini dapat menyebar dengan mudah melalui kontak langsung maupun
tidak langsung. Tranmisi kuman dapat melalui cara menelan makanan atau minuman yang
sudah tercemar sehingga transmisi atau penyebaran kuman ini sangat rentan terjadi pada
anak-anak, maka tak heran ketika data departemen kesehatan RI, menyebutkan bahwa angka
kesakitan diare di Indonesia saat ini adalah 230-330 per 1000 penduduk untuk semua
golongan umur balita. Anka kematian diare golongan umur balita adalah sekitar 4 per 1000
balita. Sedangkan pada kasus deman tifoid prevalensi terdapat 91% kasus demam tifoid
terjadi pada umur 3-19 tahun.
Hal ini terjadi hampir 85 % dikarenakan kurang pedulinya masyarakat terhadap
lingkungan yang bersih dan gaya hidup sehat, diantaranya paparan lingkungan yang
patogenik, diet yang tidak memadai, dan malnutrisi yang menunjang penyebab timbulnya
suatu penyakit.

1.2

Saran
Diharapkan makalah ini bisa memerikan masukan bagi rekan- rekan mahasiswa

calon perawat, sebagai bekal terutama ketika melakukan praktik atau bekerja pada ruang
perawatan anak, sehinga kami menyarankan agar teman-teman perawat membaca dan
memahami isi makalah ini sehinga menjadi bekalkan bila menghadapi kasus yang kami bahas
ini.