Anda di halaman 1dari 4

METABOLISME ERITROSIT

Eritrosit di dalam tubuh manusia diproduksi oleh sumsum tulang, mempunyai umur kira-kira 3
bulan, dan setelah itu mati dan dibuang ke luar tubuh. Sel-sel eritrosit yang mati diganti dengan
eritrosit yang baru yang terus diproduksi oleh sumsum tulang, sehingga manusia tidak
kekurangan sel-sel darah merah, kecuali pada penyakit tertentu.
Fungsi dari eritrosit adalah membawa oxigen yang 'diserap' dari paru-paru dan didistribusikan ke
seluruh sel-sel tubuh agar sel-sel tubuh tetap hidup, yakni melakukan metabolisme
Sel otak jika dalam waktu kira-kira 5 menit tidak mendapat suply oksigen sel-selnya akan mati,
sedang sel-sel organ lain tahan lebih lama.Untuk itulah jika tubuh kehilangan darah dalam
jumlah cukup besar perlu ditolong segera dengan tranfusi darah berasal dari donor yang berisi
eritrosit , yang dimasukkan ke dalam tubuh lewat jarum tranfusi langsung kepembuluh darah
pasien.
Metabolisme eritrosit : Proses yang dialami makanan dalam tubuh berupapencernaan,
penyerapan dan penggunaan zat gizi oleh tubuh untuk membawa oxigen yang 'diserap' dari paruparu dan didistribusikan ke seluruh sel-sel tubuh agar sel-sel tubuh tetap hidup
Manusia memiliki sistem organ yang sangat kompleks. Salah satunya adalah sistem
kardiovaskular atau sistem sirkulasi. Komponen dari sistem sirkulasi adalah darah sebagai
transporter, pembuluh darah sebagai jalannya dan jantung sebagai pompanya. Darah berperan
dalam proses transport, pengaturan pH dan komposisi elektrolit, pembekuan darah, pertahanan
tubuh serta menjaga/menstabilisasi suhu tubuh. Darah terdiri dari bagian utama yaitu plasma
darah (55%) dan elemen darah (45%). Plasma darah sebagian besar disusun oleh air (92%),
sedangkan elemen darah terdiri dari eritrosit, leukosit, dan platelet. Sekarang, mari kita fokuskan
bahasan kita pada eritrosit yang darinya kita belajar banyak hal.
Eritrosit berperan terutama dalam transport gas. Ukurannya sekitar 7,5m, bentuknya cakram
bikonkaf atau cakram pipih dengan bagian pusat lebih tipis dan lebih terang dari bagian tepinya.
Bentuk ini menguntungkan karena permukaannya menjadi lebih luas untuk proses difusi gas
(dibandingkan bentuk bola atau kubus). Eritrosit merupakan sel tidak berinti, tidak punya organel
seperti sel-sel lain. Ia seolah-olah merupakan kantung untuk hemoglobin (Hb). Hb adalah protein

eritrosit yang berfungsi dalam mentransport O2.


Eritrosit didedikasikan sepenuhnya untuk mentransport gas respirasi (O2 & CO2). O2
merupakan gas yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh kita untuk proses metabolisme. Sedangkan
CO2 merupakan gas buangan yang harus dikeluarkan dari tubuh. Eritrosit tidak memiliki
mitokondria sehingga energi yang diperolehnya berasal dari metabolisme anaerob (tidak
membutuhkan O2). Oleh karena itu eritrosit tidak akan mengkonsumsi O2 yang ditransportnya.
Hal ini membuat eritrosit sebagai pentransport yang efisien dan profesional.
Betapa sel yang suprakecil itu telah berbuat banyak untuk sel-sel sahabatnya yang lain. Mereka
adalah sel-sel yang menyusun otak, lambung, usus, telinga, semuanya.. Eritrosit bekerja sesuai
dengan perintah yang diberikan oleh sang Arsitek, yaitu mentransport. Dan tidak ada korupsi,
karena sekali korupsi energi, maka tubuh akan lemah dan akan berdampak secara tidak
langsung pada fungsi eritrosit itu sendiri. Subhanalloh..
Bagaimana eritrosit dibentuk? Pembentukan eritrosit atau disebut juga eritropoiesis terjadi di
sumsum merah yang terletak pada tulang belakang, sternum (tulang dada), tulang rusuk,
tengkorak, tulang belikat, tulang panggul serta tulang-tulang anggota badan (kaki dan tangan).
Eritrosit ini memiliki waktu hidup yang relatif pendek. Hal ini disebabkan gangguan mekanis
dan kondisi internal eritrosit itu sendiri. Tidak adanya inti menyebabkan eritrosit memiliki
sejumlah keterbatasan. Eritrosit tidak mampu mensintesis protein untuk tumbuh, atau untuk
memperbanyak diri. Eritrosit lama kelamaan akhirnya menjadi tua dan kehilangan
fleksibilitasnya. Eritrosit menjadi kaku dan rapuh.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 700 mil dalam 120 hari, membran selnya rusak dan hal ini
dideteksi oleh sel-sel fagosit dan selanjutnya eristrosit ditelan. Lalu eritrosit baru memasuki
sirkulasi dengan kecepatan yang sebanding dengan eliminasinya. Sekitar 1 persen dari eritrosit
yang bersirkulasi diganti setiap hari, dan sekitar 3 juta eritrosit baru memasuki sirkulasi setiap
detik untuk menggantikan peran pendahulupendahulu eritrosit. Pelajaran kedua dari eritrosit
adalah Kerja keras dan kaderisasi/regenerasi. Eritrosit dalam 1 menit mengalami sirkulasi dari
jantung ke seluruh bagian tubuh hingga akhirnya kembali ke jantung. Bukan pekerjaan yang

ringan bagi makhluk Alloh yang mungil ini, itu sama halnya kita diminta berlari mengelilingi
stadion senayan sampai KO :p. Dan kelelahan ini pastinya akan sampai pada puncak sehingga
harus ada yang menggantikan. Seperti panglima perang yang syahid di atas kudanya sambil
memegang panji, maka harus ada yang kembali menjunjung panji itu hingga perang usai dan
kemenangan di genggaman. Dan proses regenerasi tidak hanya dikenal dalam dunia manusia
(makro) saja, tapi juga dunia sel (mikro) dimana markas sumsum merah atas perintah sistem
pengaturan dan tentunya kehendak Alloh menjadi basis pencetak generasi fresh eritrosit yang
akan kembali menunaikan amanah tanpa pamrih. Dan begitu seterusnya.. wallahualam
Defisiensi Glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) ditemukan pertama kali oleh Carson dkk
(1956) saat mereka menyelidiki suatu reaksi hemolitik yang timbul pada individu ras kulit hitam
yang mendapatkan primaquin, suatu 8-aminoquinoline, sebagai terapi radikal malaria.1
Kemudian primaquine sensitivity dikenali pula pada ras bangsa lainnya. Pada tahun 1960-an,
empat sindrom, termasuk hemolisis intravaskuler masif sebagai reaksi idiosinkrasi terhadap
beberapa jenis obat dan bahan kimia, hemolisis setelah mengkonsumsi kacang koro ( fava bean )
atau yang biasa disebut sebagai Favisme, hemolisis sebagai komplikasi penyakit yang tidak biasa
, dan ikterus neonatorum yang menyebabkan kernicterus, semuanya dapat terjadi pada individu
yang

secara

genetik

menderita

defisiensi

enzim

G6PD.2,3,4

Enzim Glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) adalah enzim yang memiliki peran penting
dalam proses metabolisme eritrosit. G6PD adalah enzim yang bekerja pada tahap awal proses
glikolisis, yaitu pada jalur Hexose Monophosphate shunt. Jalur metabolisme ini berfungsi untuk
mereduksi glutation yang melindungi gugus sulfhidril hemoglobin dan membran sel eritrosit dari
oksidasi yang disebabkan oleh radikal oksigen. Kelainan pada jalur heksose monofosfat
mengakibatkan tidak adekuatnya perlindungan terhadap oksidan, yang menyebabkan oksidasi
gugus sulfhidril dan presipitasi hemoglobin yang dikenali sebagai Heinz bodies dan lisisnya
membran

eritrosit.2,3,4,5

Diperkirakan 400 juta manusia di dunia menderita defisiensi G6PD, frekuensi yang tinggi
tersebar di belahan dunia timur. Varian mutan gen G6PD yang mengakibatkan gejala anemia
berat hampir seluruhnya berasal dari Afrika. Selain itu defisiensi G6PD di dapatkan pula di
Eropa Selatan , Semenanjung Arabia, Brasilia kulit hitam, juga hampir seluruh negara-negara
sekitar laut Tengah (Mediterrania),benua Asia dan Papua New Guinea, termasuk Indonesia.
2,3,4,5

Eritrosit mempunyai masa hidup dalam peredaran darah tepi selama 100-120 hari, dan sekitar
1% dari total eritrosit akan mengalami penghancuran atau destruksi serta penggantian setiap
harinya. Eritrosit dibentuk di sumsum tulang, akan beredar di dalam sirkulasi, selanjutnya terjadi
destruksi pada limpa, hati serta sumsum tulang. Sisa penghancuran eritrosit terlihat berupa zat
warna kuning di urin dan tinja. Terdapat suatu sistem feedback control sehingga jumlah masa
eritrosit selalu konstan. Kurangnya kadar hemoglobin di dalam darah akan menyebabkan
kurangnya oksigen di dalam darah, karena hemoglobin bertugas mengikat oksigen yang berasal
dari udara yang diangkut oleh paru. Oksigen merupakan faktor yang sangat penting dalam
mengatur

berbagai

proses

metabolisme

sel

di

dalam

tubuh

manusia.

Anemia dapat terjadi akibat berkurangnya produksi eritrosit (anemia defisiensi, anemia pada
keganasan, anemia pada gangguan ginjal), meningkatnya kebutuhan (anemia karena perdarahan,
anemia pada kehamilan) serta peningkatan destruksi eritrosit (anemia hemolitik antara lain
malaria, thalassemia). Seringkali anemia terjadi akibat adanya penyakit lain atau terjadi beserta
penyakit lain yang menyertainya (anemia pada penyakit kronik misalnya TBC ). Dengan
demikian jenis-jenis anemia sangat banyak, tergantung dari penyebab terjadinya anemia.

Anda mungkin juga menyukai