Anda di halaman 1dari 10

Matematika Sekolah II:

Sejarah Apollonius dalam Menemukan Parabola, Elips,


dan Hiperbola Sebagai Pengantar Pembelajaran
Matematika SMA

Compiled by:

Maulana Al Ghofiqi
Mochamad Helmi Firmansyah

12030174236
12030174258

MATHEMATICS DEPARTMENT
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
SURABAYA
2014

A. Riwayat

Karya-karya Apollonius dari Perga membawa dampak besar bagi perkembangan


matematika. Buku aryanya yang terkenal, Conics (kerucut), mengenlkan sitilah-istilah yang
sekarang populer seperti: perabola, elips, dan hiperbola. Disebut dengan kerucut karena irisan
dari sebuah kerucut akan menghasilkan tiga bentuk yang sudah disebut di atas. Masa
mudanya tidak terlalu jelas, tapi diketahui bahwa dia mengalami masa pemerintahan Ptolemy
Euergetes, Ptolemy Philopatus; ada laporan yang menyebut bahwa Apollonius adalah
pengikut Ptolemy Philadelphus. Umurnya lebih kurang 25 40 tahun lebih muda
dibandingkan dengan Archimedes.
Seperti halnya nama Archimedes yang banyak dipakai orang. Untuk menghindari
kerancuan, maka masing-masing nama disebutkan asalnya. Begitu pula terdapat banyak nama
Apollonius yang dikenal dalam hubungannya dengan ilmu. Beberapa nama Apollonius yang
dikenal umum. Apollonius dari Rhodes yang lahir pada kisaran tahun 295 SM adalah ahli
sastra Yunani, murid Callimachus yang juga guru dari Eratosthenes; Apollonius dari Tralles,
dua abad SM, adalah seorang pemahat Yunani; Apollonius dari Tyana, abad pertama, adalah
salah satu pengikut Pythagoras (Pythagorean); Apollonius dari Dyscolus, dua abad setelah
masehi, ahli bahasa Yunani dan perintis pembelajaran tata-bahasa secara sistematis; dan
Apollonius dari Tyre adalah nama pustakawan terkenal.
Apollonius yang menjadi matematikawan lahir di Perga, Pamphylia yang sekarang
dikenal dengan sebutan Murtina atau Murtana, terletak di Antalya, Turki. Pada jaman itu,
1

Perga adalah pusat kebudayaan dan lokasi kuil Artemis, dewi alam. Saat muda usia
Apollonius pergi ke Alexandria dimana dia belajar di bawah bimbingan para pengikut Euclid
sebelum mengajar di sana. Kemudian, Apollonius pergi ke Pergamun di mana di sana
terdapat universitas dan perpustakaan besar untuk menyaingi perpustakaan besar di
Alexandria sedang dalam tahap pembangunan. Pergamum saat ini tidak lain merupakan nama
lain dari kota Bergama terletak pada propinsi Izmir di Turki, adalah kota Yunani kuno.
Dengan lokasi pada 25 km dari laut Aegean pada perbukitan sebelah utara lembah sungai
Caicus (sekarang disebut dengan sungai Bakir).
Di Pergemum, Apollonius bertemu dengan Eudemus yang menulis buku Sejarah
Geometri (Hystory of Geometry) dan Attalus, yang diperkirakan adalah Raja Attalus I dari
Pergamum. Prakiraan ini diawali dari kata pengantar buku Apollonius yang menunjukkan
rasa hormat dan sembah takzim kepada Attalus.
Seiring dengan Euclid dan Archimedes , Apollonius adalah anggota ketiga dari trio
pemikir geometris Yunani Kuno . Hanya sejumlah kecil informasi yang diketahui tentang
kehidupan Apollonius. Ia lahir di kota Perga, di Pamfilia, yang terletak di selatan Asia Kecil,
Turki. Tanggal kelahirannya kembali yang disepakati oleh Eves dan Heath menjadi sekitar
262 SM, yaitu sekitar 25 tahun setelah kelahiran Archimedes . Sebagai seorang pemuda ia
pergi ke Alexandria untuk belajar dengan penerus dari Euclid . Dia berkembang pada masa
pemerintahan Ptolemeus Euergetes ( "The Benefactor" , 247-222 SM ) . Dia terus menjadi
seorang sarjana yang diakui pada masa pemerintahan Ptolemeus Philopator ( 222-205 SM ) .
( Heath , 1921, 126 ) . Hal ini juga diketahui bahwa ia mengunjungi Pergamum , di mana ia
bertemu Eudemus, kepada siapa ia mendedikasikan dua buku pertama dari Bagian Conic
(Kerucut)-nya (Heath dalam Schmarge, 1999 ). Yang ketiga melalui buku ketujuh yang
didedikasikan untuk Raja Attalus I ( 241-197 SM ), sebuah fakta yang telah membantu
sejarawan untuk memperkirakan tahun hidupnya .
B. Irisan Kerucut
Buku pertama Conics (kerucut) membahas segala sesuatu tentang hal-hal mendasar
tentang kurva-kurva yang disebut paling lengkap dan lebih umum dibanding pengarangpengarang lain. Dalam buku ini pula disebutkan theorema dan transformasi koordinat dari
sistem yang didasarkan pada tangen dan diameter pada titik P yang berada pada kerucut ke
dalam sistem baru yang ditentukan oleh tangen dan diameter dari titik Q yang berada pada
kurva yang sama. Apollonius sangat mengenal karakteristik hiperbola dengan asimtut sebagai
2

absisnya. Persamaan xy = c2 adalah hiperbola sama sisi yang mirip dengan rumus hukum
Boyle tantang gas.
Buku kedua melanjutkan bahasan tentang tangen dan diameter. Dengan menggunakan
proposisi-proposisi dan gambar-gambar kurva.
Buku ketiga disebut oleh Apollonius yang paling membanggakan dirinya karena
disebutkan berisi theorema-theorema yang bermanfaat untuk melakukan (operasi) sintesis
dan solid loci penentuan limit. Disebutkan olehnya bahwa Euclid belum menyinggung topik
ini. Locus tiga dan empat garis memegang peran penting dalam matematika sejak Euclid
sampai Newton.
Buku keempat menggambarkan keinginan pengarangnya untuk menunjukkan Berapa
banyak cara bagian kerucut dapat saling berpotongan. Ide tentang hiperbola dua cabang
yang berlawanan arah adalah gagasan Apollonius.
Buku kelima berhubungan dengan maksimum dan minimum garis lurus yang
bersinggungan dengan kerucut.
Pada saat buku Apollonius dibuat, tidak pernah terpikirkan bahwa akan konsepkonsep didalamnya mendasari dinamika bumi (terrestial) dan mekanika alam semesta
(celestial). Tanpa pengetahuan tentang tangen terhadap parabola mustahil analisis terhadap
lintasan peluru tidaklah dimungkinkan.
Buku keenam, berisikan proposisi-proposisi tentang bagian dari kerucut apakah sama
atau beda, mirip atau berlainan. Terdapat satu proposisi yang membuktikan bahwa apabila
sebuah kerucut dipotong oleh dua garis sejajar terjadilah bagian-bagian hiperbolik dan eliptik,
bagian yang mirip namun tidak sama.
Buku ketujuh kembali membicarakan tentang mentasrifkan (conjungate) diameterdiameter dan berbagai proposisi-proposisi baru yang membahas diameter dari bagianbagian kerucut.
C. Asal-Usul Istilah Parabola, Elips, dan Hiperbola
Menurut Eves dalam Schmarge, istilah " elips " , " parabola " , dan " hiperbola "
diadopsi dari awal vernakular Pythagoras mengacu pada penerapan daerah bangun persegi
panjang ( bentuk " aljabar geometri" dalam Elements Euclid , Buku II . Ketika menerapkan
persegi panjang ke segmen garis (dengan menyelaraskan salah satu ujung persegi panjang
3

untuk segmen dengan satu sudut persegi panjang yang cocok dengan salah satu ujung). Sudut
persegi panjang yang lain baik besar kecil bertemu tepat melewati ujung akhir segmen garis.
Ketiga kasus tersebut masing-masing disebut "elipsis", "parabola", atau "hiperbola". Eves
menunjukkan bagaimana hal tersebut diterapkan dalam semangat yang sama dengan bagian
berbentuk kerucut oleh Apollonius dengan cara sebagai berikut:

Let AB be the principal axis of a conic.


Let P be any point on the conic.
Let Q be the foot of the perpendicular to AB.
Mark off a distance AR, perpendicular to AB
by a distance now known as the latus rectum
or parameter of the curve.
Apply to the segment AR, a rectangle having
for one side AQ and an area equal to (PQ).
If the rectangle exceeds the segment AR, then
the conic is a hyperbola.
If the rectangle coincides with the segment AR, then the conic is a parabola.
If the rectangle falls short of the segment AR, then the conic is an ellipse.
(Eves dalam Schmerg, 1999)

Argumen ini tampaknya tidak menjadi bukti, atau bahkan definisi. Hal ini tak sepenuhnya
muncul dalam Bagian Conic (Kerucut)-nya Apollonius. Berikut contoh (non-Yunani dari
ketiga kasus.

Sebelum masik ke metode Apollonius untuk membuktikan hubungan ini, lebih tepatnya
untuk mendifinisikan istilah yang relevan.
Jika Garis Lurus mempunyai panjang yang tak didefinisikan dan selalu melewati titik yang
tetap, dan diputar mengelilingi keliling lingkaran yang tidak sebidang dengan titik tetap
tersebut, sehingga melewati setiap titik lingkar tersebut, garis lurus yang bergerak tersebut
akan membuat permukaan kerucut. Dan titik tetap tersebut merupakan puncak dari kerucut.
Lingkaran tempat garis lurus bergerak disebut dasar kerucut. Dan sumbu didefinisikan
sebagai garis lurus yang ditarik dari titik tetap atau puncak ke pusat lingkarang membentuk
dasar kerucut.
Jika sebuah kerucut dipotong oleh bidan melewati puncak, bagian yang yang dihasilkan
adalah segitiga, dua sisi yang terpotong dari segitiga tersebut berada di permukaan kerucut
5

dan sisi ketika menjadi garis lurus yang merupakan perrpotongan dari bidang pemotong dan
kerucut.
Dari kerucut tersebut Apollonius membagi kerucut dengan suatu bidang datar dengan
berbagai posisi dan terbentuklah Elips, Parabola, dan Hiperbola

Archimedes sudah mencetuskan nama parabola yang artinya bagian sudut kanan
kerucut. Apollonius (barangkali melanjutkan penamaan Archimedes) mengenalkan kata elips
dan hiperbola dalam kaitannya dengan kurva-kurva tersebut. Istilah elips, parabola, dan
hiperbola bukanlah penemuan Achimedes maupun Apollonius; mereka mengadaptasi kata
dan artinya dari para pengikut Pythagoras (pythagorean), dalam menyelesaikan persamaanpersamaan kuadratik untuk aplikasi mencari luas. Elips berarti kurang atau tidak sempurna
digunakan untuk memberi nama apabila luas persegi panjang pada bidang yang diketahui
disetarakan dengan bagian garis tertentu yang diketahui hasilnya kurang. Hiperbola yang
artinya kelebihan dipakai apabila luas persegi panjang pada bidang yang diketahui
disetarakan dengan bagian garis tertentu yang diketahui hasilnya lebih. Parabola yang artinya
di samping atau pembanding) tidak mengindikasikan lebih atau kurang. Apollonius
menggunakan ketiga istilah di atas dalam konteks baru yaitu sebagai persamaan parabola
dengan verteks pada titik asal, (0,0), sistem Kartesian, adalah y = lx (l = latus rectum atau
parameter) sekarang diganti dengan 2p atau bahkan 4p.
D. Pembelajaran Sejarah Parabola, Elips, dan Hiperbola
Matematika juga bagian dari kehidupan manusia yang artinya juga memliki sejarah.
Sejarah matematika dimulai sekitar 4000 SM hingga kini serta memuat sumbangan dari
ribuan tokoh matematika.

Fungsi sejarah meliputi: (1) sebagai materi pembelajaran, (2) sebagai konteks materi
pembelajaran, (3) sebagai sumber strategi pembelajaran (Fauvel dalam Sumardyono, 2004).
Lebih Lanjut Van Ameron dalam Sumardyono (1999:7) menyatakan:
Teacher may find that information on the development of a mathematical topic makes it
easier to tell, explain or give an example to studets. It also helps to sustain the teachers
interest in mathematics. And history of mathematics can give the educationa developer
or reasearcher more insight into the subject matter and perhaps even the learning
process.
Manfaat penggunaan sejarah dalam pembelajaran matematika meliputi tiga hal: (1)
Understanding, yaitu bahwa dengan mengikuti jalan perkembangan suatu konsep matematika
maka siswa akan lebih memahami konsep terseubt, (2) Enthusiasm, yaitu penggunaan sejarah
matematika dapat meningkatan motivasi, kesenangan (enjoy) dan kepercayaan diri dalam
belajar matematika, serta (3) Skills, yaitu dengan menelaah suatu tema dalam searah
matematika maka siswa diajak untuk belajar ketrampilan meneliti, selain keterampilan
amtematika itu sendiri (Fauvel dalam Sumardyono, 2004).
Sejarah tentang Parabola, Elips, dan Hiperbola dapat

menjadi pengantar

pembelajaran.
Perkembangan konsep persegi panjang dan irisan kerucut menghasilkan konsep
Parabola, Elips, dan Hiperbola.
Apollonius dan penemu sebelumnya menemukan dan mengadaptasi kata dan artinya
dari para pengikut Pythagoras (pythagorean), dalam menyelesaikan persamaan-persamaan
kuadratik untuk aplikasi mencari luas. Elips berarti kurang atau tidak sempurna digunakan
untuk memberi nama apabila luas persegi panjang pada bidang yang diketahui disetarakan
dengan bagian garis tertentu yang diketahui hasilnya kurang. Hiperbola yang artinya
kelebihan dipakai apabila luas persegi panjang pada bidang yang diketahui disetarakan
dengan bagian garis tertentu yang diketahui hasilnya lebih. Parabola yang artinya di samping
atau pembanding) tidak mengindikasikan lebih atau kurang. Apollonius menggunakan ketiga
istilah di atas dalam konteks baru yaitu sebagai persamaan parabola dengan verteks pada titik
asal, (0,0), sistem Kartesian, adalah y = lx (l = latus rectum atau parameter) sekarang
diganti dengan 2p atau bahkan 4p.

Eves menunjukkan konsep persegi panjang yang memproduksi Parabola, Elips, dan
Hiperbola

Lalu, Apollonius membuat kerucut seperti ini: Jika Garis Lurus mempunyai panjang yang tak
didefinisikan dan selalu melewati titik yang tetap, dan diputar mengelilingi keliling lingkaran
yang tidak sebidang dengan titik tetap tersebut, sehingga melewati setiap titik lingkar
tersebut, garis lurus yang bergerak tersebut akan membuat permukaan kerucut. Dan titik tetap
tersebut merupakan puncak dari kerucut.
Dari kerucut tersebut Apollonius membagi kerucut dengan suatu bidang datar dengan
berbagai posisi dan terbentuklah Elips, Parabola, dan Hiperbola

Ternyata konsep ini mendasari dinamika bumi (terrestial) dan mekanika alam smesta
(celestiial). Tanpa pengetahuan tangen terhadap parabola, analisis terhadap lintasan perluru
tidaklah dimungkinkan.
Konsep parabolaa, hiperbola, dan elips juga banyak memberi sumbangan baggi astronomi
modern. Konsep ini memberi harapan orang melakukan perjalanan ke luar angkasa, baru
tahun 1960-an, keinginan itu terlaksana karena pemahaman konsep minima, maksima dan
tangen dari Apollonius.

Daftar Pustaka
Sumardyono. 1999. Karakteristik Matematika dan Implikasinya terhadap Pembelajaran
Matematika. Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Handjojo.
Tanpa
Tahun.
Apollonius.
kaku.com/matematikawan/apollonius.html. 02 Mei 2014 (02:54)

http://www.mate-mati-

Schmarge
Ken.
1999.
Conic
Sections
in
Ancient
Greece.
http://
http://www.math.rutgers.edu/~cherlin/History/Papers1999/schmarge.html. 02 Mei 2014
(03.02)

Anda mungkin juga menyukai