Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ANALISIS

FISIKOKIMIA 2
IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN
ALKOHOL,FENOL, DAN ASAM
KARBOKSILAT

Disusun Oleh:MOHAMAD AMIRULZAKI


BIN MOHAMAD RAFI
NPM: 260110132023
LABORATORIUM ANALISIS
FISIKOKIMIA FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR 2014

IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN ALKOHOL,FENOL, DAN ASAM KARBOKSILAT

I.

TUJUAN
Mengetahui dan memahami identifikasi senyawa golongan alcohol, fenol dan asam
karboksilat.

II.

PRINSIP
1. Senyawa golongan alcohol
Terbentuk ester jika ditambahkan asam karboksilat yang dapat diamati dari aromanya.
2. Senyawa fenol
Fenol ditambahkan larutan FeCl3 akan terbentuk kompleks berwarna ,fenol pengkapelan
dengan reagensia diazotasi ,fenol ditambahkan pereaksi marquis akan terbentuk
kompleks berwarna.
3. Senyawa asam karboksilat
Asam dapat menukarkan kertas litmus biru menjadi merah ,asam dapat tersublimasi jika
dipanaskan dan asam dapat diesterifikasikan dengan alcohol

III.

TEORI DASAR

Alkohol adalah golongan senyawa yang mengandung gugus fungsi hidroksil (OH) terikat
pada karbon .Semua alcohol mempunyai reaksi kimia yang sama karena mengandung gugus
fungsional ini. Ikatan rangkap dua dan ikatan rangkap tiga yang menghubungkan atom-atom
karbon juga dianggap gugus fungsional sebab lebih reaktif daripada ikatan tunggal karbonkarbon.
(Clark, 2002)
Fenol adalah zat Kristal tidak berwarna yang memiliki bau khas .Rumus kimianya adalah
C6H5OH dan strukturnya berikatan pada gugus hidroksil. Fenol memiliki sifat cenderung asam
kerana ia dapat melepaskan ion H+ dari gugus hidroksil dan memiliki kelarutan terbatas dalam
air .
(Kelly. 2009)
Gugus fungsi adalah suatu atom yang melekat pada suatu senyawa dan berperan
memberikan sifat yang khas dan berpengaruh pada sifat fisik dan kimia senyawa tersebut .
Semyawa organic yang mempunyai ikatan tunggal karbon-karbon dan karbon oksigen dalam
senyawa organic biasanya tidak reaktif kerana mereka non-polar .Golongan polar membentuk
bagian yang reaktif dalam suatu molekul organic yaitu gugus fungsional tersebut.
(Svehla,1985)

Tujuan identifikasi adalah untuk mengenali gugus fungsi tertentu yang terdapat dalam
suatu senyawa melalui reaksi kimia yang spesifik yaitu reaksi kimia yang hanya bereaksi dengan
gugus fungsi lain .Masing-masing senyawa organic memiliki sifat tertentu yang bergantung pada
gugus fungsional yang dimilikinya .Beberapa senyawa dengan gugus fungsi berbeda dapat
memiliki sifat yang mirip.
(Chang, 2005)
Oksidasi alcohol mudah terbakar membentuk gas karbon dioksida dan uap air .Oleh kerana
itu ,ethanol digunakan sebagai bahan bakar spirtus .Gugus karbonil merupakan gugus fungsional
dalam asam asam karboksilat misalnya asam asetat (CH3COOH) ,asam sitrat ,asam benzoate,
asam oksalat dan lain-lain .Dalam air asam karboksilat terdisosiasi menjadi ion karboksilat dan
ion hidroksonium .
(Fessenden. 1986)
Beberapa reaksi yang menunjukkan adanya gugus karboksil adalah seperti memerahkan
kertas lakmus biru ,dengan logam dapat menghasilkan hydrogen ,dengan alcohol menghasilkan
ester yang berbau harum ,melepaskan iodium dari campuran KI dan KIO3 dan melepaskan
belerang dari larutan tiosulfat
(Petrucci, 1992)

IV.

REAKSI

V.

DATA PENGAMATAN DAN HASIL

No.
1.

Perlakuan

Golongan alkohol
(a) Etanol
- Etanol + K2Cr2O7 +
H2SO4 50%

Hasil

Larutan warna biru

Gliserin + CuSO4 > biru


jernih
+ NaOH > Larutan jernih

Menjadi cair

(b) Gliserin
-

Gliserin + 1 tetes CuSO4


+ dibasakan NaOH

Dikisatkan

(c) Mentol
- Organoleptis

- Mentol + H2SO4 + Vanilin


sulfat

2.

Golongan Fenol
(a) Fenol
- Fenol + FeCl3
- Fenol + p-DAB
- Fenol + lieberman
- Fenol + K2Cr2O7

(b) Nipagin

Serbuk kristal putih, aroma


pepermin, rasa dingin

Endapan putih terbentuk

Larutan hitam abu-abu


Endapan coklat kekuningan
Larutan ungu kehitaman
Larutan kuning oren

Nipagin + FeCl3

Terbentuk ungu kehitaman

Tiada perubahan, Nipagin larut


sedikit.

Larutan hijau lumut


Endapan hitam
Precipitasi putih

Bewarna coklat

Larutan merah muda


Larutan ungu kehitaman
Larutan kuning telor
Larutan hitam

Nipagin + HNO3

(c) Hidrokuinon
- Hidrokuinon +
Ag(NH3)NO3
- Hidrokuinon + FeCl3
- Hidrokuinon +
Pb(CH3C00)2 + NH4OH
- Hidrokuinon + NaOH

(d) Resorsinol
- Resorsinol + H2O + pDAB
- Resorsinol + FeCl3
- Resorsinol + Lieberman
- Resorsinol +
Ag(NH3)NO3

e)Asetosal
-reaksi Marquis
-ditambah FeCI3

3.

-kristal sublimasi
Golongan Asam Karbosilat
(a) Asam Tartrat
- Asam Tartrat + CuSO4 +
NaOH

Asam Tartrat + besi (ii)


sulfat + hidrogen

-Marquis putih
-keunguan

-tidak dilakukan

Larutan bewarna biru muda

-tidak dilakukan

peroksida
-tidak dilakukan
-

Asam Tartrat + KBr +


resorsin + H2SO4

(b) Asam Benzoat


-panaskan sampel + H2SO4
-

Asam Benzoat + FeCl3

-larutan kuning bening


-

Menjadi larutan kuning tua dan


terbentuk endapan

-tidak dilakukan

-sublimasi
(c)Asam stearat

VI.

-tidak dilakukan

PEMBAHASAN

Praktikum kali ini dilakukan percobaan mengenai identifikasi senyawa golongan alkohol,
fenol, dan asam karboksilat. Praktikum ini dilakukan berdasarkan prinsip esterifikasi,
pembentukan kompleks, dan reaksi pembentukan kristal. Esterifikasi adalah reaksi terbentuknya
ester dari alkohol yang direaksikan dengan asam karboksilat dan aromanya dapat diamati.
Esterifikasi merupakan prinsip dasar dari identifikasi senyawa alkohol. Reaksi pembentukan
kompleks adalah reaksi yang membentuk kompleks suatu kompleks yang sehingga dapat
teridentifikasi dengan adanya perubahan warna dari larutan..Reaksi pembentukan komplek
adalah prinsip dasar dari identifikasi senyawa fenol..Reaksi pembentukan kristal adalah reaksi

yang menyebabkan asam membentuk kristal dengan proses sublimasi. Reaksi pembentukan
kristal adalah prinsip dasar dari identifikasi senyawa asam karboksilat dimana kristal yang
terbentuk akan diamati pada mikroskop dan akan dibandingkan dengan literatur. Sebelum
percobaan dilakukan, alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan. Alat yang digunakan dicuci
bersih terlebih dahulu agar tidak menggangu hasil dari percobaan. Pada identifikasi etanol
digunakan 3 sampel yaitu etanol, gliserin, dan mentol. Alkohol adalah senyawa yang memiliki
satu atau lebih gugus hidroksi yang berikatan pada rantai alifatik. Pada sampel etanol, reaksi
yang dilakukan adalah reaksi esterifikasi, iodoform, dan reaksi penambahan kalium dikromat
(K2Cr2O7). Pada reaksi identifikasi etanol dengan reaksi esterifikasi hal pertama yang dilakukan
adalah menambahkan etanol ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan asam salisilat
dimana dari hasil penambahan ini terbentuk larutan bening. Kemudian ditambahkan H 2SO4
melalui dinding tabung yang dilakukan di ruang asam. Larutan berubah menjadi sedikit keruh.
Asam sulfat pekat berfungsi sebagai katalis untuk mempercepat reaksi dimana reaksi esterifikasi
cenderung berjalan lambat. Asam sulfat akan mendonorkan H+ dan bereaksi dengan reaktan
namun bersifat reversibel setelah reaksi berjalan sempurna. Reaksi esterifikasi bersifat reversibel
makan asam sulfat pekat juga berfungsi sebagai penghidrasi yang dapat menarik air untuk
mendorong reaksi ke arah kanan (produk). Kemudian tabung reaksi ditutup dengan kapas
kemudian tabung reaksi dipanaskan di atas penangas air. Pemanasan disini bertujuan untuk
mempercepat proses esterifikasi karena terjadi tumbukan partikel antar molekul yang ada dalam
larutan sehingga dapat mempercepat reaksi. Fungsi penutupan tabung reaksi dengan kapas
adalah supaya uap yang dihasilkan dari larutan yang dipanaskan terjebak di kapas sehingga
aroma dari hasil reaksi dapat diamati. Setelah pemanasan, aroma yang terjerap pada kapas
diamati. Aroma yang dihasilkan dari reaksi tersebut adalah aroma balsam dimana aroma tersebut
berasal dari etil salisilat yang terbentuk. Pada reaksi identifikasi etanol dengan dilakukan reaksi
iodoform, pertama-tama tabung reaksi yang sudah berisikan etanol ditambahkan reagen NaOH
yang tidak menyebabkan perubahan warna. Kemudian ditambahkan I 2, warna larutan menjadi
bening sedikit kekuningan. Pada reaksi iodoform akan diperoleh iodoform (endapan kuning).
Endapan kuning ini menunjukan bahwa adanya alkohol monovalen sekunder. Etanol merupakan
alkohol primer sehingga pada reaksi iodoform tidak diperoleh endapan kuning (iodoform). Pada
reaksi identifikasi etanol dengan penambahan kalium dikromat, pertama-tama tabung reaksi
yang sudah berisikan etanol ditambahkan dengan larutan kalium dikromat jenuh yang
menyebabkan terjadi perubahan warna pada larutan di dalam tabung rekasi yaitu dari warna
bening menjadi kuning. Kemudian ditambahkan beberapa tetes asam sulfat (H2SO4) di ruang
asam kemudian terjadi perubahan warna dari oranye menjadi biru. Kalium dikromat merupakan
oksidator kuat yang dapat mengoksidasi alkohol primer dan alkohol sekunder dimana etanol
merupakan alkohol primer. Alkohol primer dan sekunder akan bereaksi positif dengan kalium
dikromat dan terjadi reaksi oksidasi dimana alkohol primer di oksidasi menjadi aldehida.
Perubahan warna menjadi biru ini menunjukan adanya proses oksidasi dari etanol. Kalium
dikromat berkerja sebagai oksidator dimana dia akan mengalami reduksi dari Cr 2O7-2 menjadi Cr
+3. Fungsi dari penambahan dari asam sulfat adalah sebagai katalisator dimana dia akan

mempercepat proses oksidasi dari etanol yaitu dengan cara mencegah terjadinya hidrolisis
produk reaksi atau mencegah terjadinya reaksi berjalan ke sebelah kiri. Pada sampel gliserin,
reaksi yang dilakukan dengan mereaksikannya dengan CuSO4 dan NaOH. Pertama-tama gliserin
didalam tabung reaksi ditambahkan beberpa tetes CuSO4 dimana tidak terjadi perubahan larutan
tetap bening kemudian ketika ditambahkan NaOH larutan menjadi berwana biru muda.Pengujian
gliserin selanjutnya adalah dengan mengambil gliserin ke atas kaca arloji, kemudian dikisatkan
di atas penangas air. Setelah beberapa saat, gliserin menjadi lebih cair. Hal ini disebabkan
karena struktur gliserin menjadi tidak stabil karena adanya kenaikan panas sehingga terjadi
perubahan viskositas dimana awalnya kental menjadi agak encer. Pada sampel mentol dilakukan
uji organoleptik dan mentol direaksikan dengan asam sulfat dan vanilin. Pada pengujian
organoleptik, mentol beraroma pepermint. Pada percobaan selanjutnya mentol direaksikan
dengan asam sulfat dan vanilin namun tidak terbentuk reaksi dengna vanilin sulfat, hal ini bisa
disebabkan karena kurang baiknya pembuatan fanilin sulfat sehingga tidak terjadi reaksi dengan
mentol. Seharusnya mentol dan vanilin sulfat membentuk suatu senyawa yang dihubungkan
dengan ikatan jembatan O, yang memberikan warna spesifik berwarna merah (Svehla, 1985).
Pada identifikasi golongan selanjutnya yaitu fenol dilakukan 3 sampel yaitu fenol, nipagin , dan
resorsinol. Prinsip dari reaksi pendahuluan untuk golongan ini adalah pembentukan kompleks
berwarna dengan FeCl3, pembentukan kompleks berwarna dengan pereaksi Marquis, dan
pengkopelan dengan reagensia diazotasi. Pembentukan senyawa kompleks dengan FeCl3 dan
pereaksi Marquis terjadi karena adanya pembentukan senyawa kompleks yang terbentuk.
Senyawa kompleks ini menghasilkan suatu warna yang dapat diidentifikasi. Untuk pengkopelan
dengan reagen diazotasi perlu dilakukan sehingga terbentuk warna-warna yang khas untuk setiap
sampel uji terhadap setiap reagen yang digunakan. Pada sampel fenol dilakukan 4 reaksi yaitu
reaksi dengan penambahan larutan FeCl3, p-DAB , Lieberman dan kalium dikormat. Pertamatama dilakukan pengujian dengan penambahan larutan FeCl3.Pertama-tama sampel yang berada
diatas pelat tetes diteteskan larutan FeCl3kemudian diamati perubahnnya. Perubaan yang terjadi
adalah terbentuk larutan berwarna ungu kehitaman yaitu senyawa kompleks yang terbentuk
adalah [Fe(OC6H5)6]-3. Ion Fe dalam senyawa kompleks tersebut merupakan atom pusat yang
merupakan atom yang menyusun struktur dasar sehingga terbentuk senyawa kompleks. Reaksi
yang kedua adalah dengan menggunakan p-DAB (para-dimetilaminobenzaldehida). Pertamatama sampel dilarutkan dengan air terlebih dahulu, kemudian dipipet ke atas cawan petri
kemudian diteteskan p-DAB kemudian perubahan diamati. Perubahan yang terjadi adalah
terbentuknya larutan berwarna pink oranye dan larutan tidak berwarna. Hal ini menunjukkan
adanya reaksi p-DAB terhadap gugus fenol. Warna ini terbentuk karena fenol tidak mengikat
gugus konjugat yang lain. Reaksi yang ketiga adalah dengna menggunakan lieberman, namun
karena sediaan lieberman habis, maka diganti dengan asam sulfat dan natrium nitrit. Sampel
disimpan diatas pelat tetes kemudian ditambahkan natrium nitrit secukupnya kemudian
ditambahkan asam sulfat. Hasil yang terjadi adalah terbentuk larutan berwarna coklat kemudian
pada saat pereaksian terbentuk gas berwarna coklat, terjadi ledakan-ledakan dan tercium aroma
kaporit. Reaksi selanjutnya adalah dengan mereaksikan fenol dengan kalium dikromat. Sampel

diletakkan di atas pipet tetes kemudian diteteskan dengan kalium dikromat kemudian perubahan
yang terjadi diamati. Perubahan yang terjadi adalah terbentuknya larutan berwarnya oranye dan
larutan tidak berwarna. Hasil reaksi tersebut menunjukan adanya aminofenol yang memiliki dua
atau lebih gugus hidroksil pada posisi bersebelahan pada cincin. Sampel uji selanjutnya adalah
nipagin dimana dilakukan 2 percobaan yaitu reaksikan dengan FeCl3 dan di reaksikan dengan
HNO3. Pada percobaan pertama, pertama-tama nipagin dilarutkan terlebih dahulu dalam
aquadest namun hasilnya nipagin sedikit larut. Kemudian larutan dipanaskan sehingga nipagin
larut sempurna. kemudian larutan ditambahkan FeCl3 kemudian amati perubahan yang terjadi.
Perubahan yang terjadi adalah larutan berubah menjadi ungu anggur. Perubahan warna ini
menunjukan terbentuknya kompleks CH3(C6H4(OH)COOFeCl2. Pada percobaan kedua,
dilakukan dengan menambahkan HNO3. Hasilnya adalah tidak terjadi perubahan warna. Sampel
uji selanjutnya adalah resorsinol dimana dilakukan 4 percobaan yaitu pereaksian dengan pDAB, FeCl3, Lieberman, dan peka nitrat amoniakal. Pertama-tama dibuat larutan resorsinol yang
dilarutkan di dalam air yang akan digunakan pada empat percobaan tersebut. Pada percobaan
pertama, larutan resorsinol diteteskan di atas pelat tetes kemudina ditambahkan pereaksi p-DAB
kemudian perubahan yang terjadi diamati. Hasilnya adalah terbentuknya larutan bening
keoranyean sedikit. Perubahan warna ini menandai terbentuknya senyawa kompleks. Pada
percobaan kedua, pertama-tama larutan resorsinol diteteskan di atas pelat tetes kemudian
ditambahkan larutan FeCl3, perubahan yang terjadi diamati. Perubahan yang terjadi adalah
terbentuknya larutan berwarna ungu kehitaman. Hal ini menunjukan terbentuknya reaksi
kompleks antara resorsinol dan ion Fe3+ sehingga terjadinya perubahan warna. Pada percobaan
ketiga, pertama-tama larutan resorsinol diletakan di atas pelat tetes kemudian ditambahkan
natrium nitrit secukupnya kemudian ditambahkan asam sulfat lalu amati perubahan yang terjadi.
Hasilnya adalah terbentuknya larutan berwarna coklat, mengahsilkan gas berwarna coklat, dan
pada saat pereaksinnya terjadi ledakan-ledakan. Terjadinya perubahan warna ini berarti
menunjukan terbentuknya senyawa kompleks pada percobaan tersebut. Pada percobaan keempat,
pertama-tama larutan resorsinol yang berada di dalam tabung reaksi ditambahkan dengan perak
nitrat amonikal kemudian perubahan yang terjadi diamati. Perubahan yang terjadi adalah larutan
yang asalnya berwarnya bening kecoklatan menjadi hitam pekat. Terjadinya perubahan warna ini
berarti menunjukan terbentuknya senyawa kompleks pada percobaan tersebut. Pada identifikasi
golongan selanjutnya yaitu fenol dilakukan 3 sampel yaitu asam tartrat, asam sitrat, dan asam
benzoat. Prinsip dari golongan karboksilat sendiri adalah asam dapat memerahkan lakmus biru.
Karena kertas lakmus yang berubah warna menjadi merah atau tetap merah, mengindikasikan
bahwa sampel yang diuji memiliki sifat asam. Lalu senyawa asam dapat tersublimasi jika
dipanaskan. Senyawa asam dapat menyublim jika dilakukan pemanasan. Selanjutnya asam
karboksilat dapat teresterifikasi dengan alkohol memebntuk senyawa ester yang memiliki aroma
yang khas. Pada sampel asam tartat dilakukan dua percobaan, yaitu pereaksian dengan CuSO4
dan NaOH dan dilakukannya sublimasi. Pada percobaan pertama, pertama asam tartrat di
reaksikan dengan CuSO4 terjadi perubahan warna menjadi biru. Hal ini disebakan pewarnaan
oleh CuSO4.Kemudian ketika ditambahkan NaOH terjadi perubahan warna dari biru menjadi

biru langit. Perubaan warna-warna tersebut disebabkan kareana adanya dua reaksi yang terjadi
pada asam tartrat, yang pertama adalah terjadinya penggantian gugus hidroksil dimana atom H
ini akan digantikan dengan ikatan Cu, dimana Cu akan berikatan dengan dua senyawa asam
tartrat yang masing-masing dua atom O dari asam tartrat akan berikatan dengan Cu yang sama.
Yang kedua adalah Cu akan berikatan denga asam tratrat, tetapi hanya satu gugus hidroksil asam
tartrat yang kehilangan atom H dari gugus hidroksil, sementara gugus hidroksil lainnya tidak
mengalami reaksi. Pada percobaan kedua dilakukan sublimasi, yaitu proses perubahan wujud zat
dari padat ke gas tanpa melalui wujud cair terlebih dahulu.Sampel diletakkan di dalam ring
sublimasi di atas kaca objek 1(bagian bawah) yang kemudian ditutup dengan menggunakan kaca
objek 2(bagian atas). Di atas kaca objek 2(bagian atas), diletakkan kapas basah dengan posisi
tepat di atas ring sublimasi kemudian dipanaskan di atas kawat kassa di atas spirtus. Penggunaan
kapas basah ini bertujuan untuk mendinginkan gas yang terbentuk saat pemanasan, sehingga
kristal asam salisilat akan terbentuk kembali dan menempel pada permukaan kaca Sampel
selanjutnya adalah asam benzoat yang akan dilakukan dua percobaan yaitu sampel direaksikan
dengan asam sulfat dan sublimasi. Pada percobaan pertama sampel dimasukkan ke dalam tabung
reaksi kemudian ditambahkan asam sulfat ke dalam tabung reaksi, kemudian tabung reaksi
dipanaskan kemudian amati perubahan yang terjadi. Perubahan yang terjadi adalah terbentuknya
endapan putih pada dinging tabung reaksi. Kemudian pada percobaan kedua dilakukan
sublimasi. Sampel diletakkan di dalam ring sublimasi di atas kaca objek 1 (bagian bawah) yang
kemudian ditutup dengan menggunakan kaca objek 2 (bagian atas). Di atas kaca objek 2,
diletakkan kapas basah dengan posisi tepat di atas ring sublimasi kemudian dipanaskan di atas
kawat kassa di atas spirtus. Penggunaan kapas basah ini bertujuan untuk mendinginkan gas yang
terbentuk saat pemanasan, sehingga kristal asam salisilat akan terbentuk kembali dan menempel
pada permukaan kaca objek 2.

VII.

KESIMPULAN

Dari praktikum kali ini ,mahasiswa sudah mengetahui dan memahami identifikasi senyawa
golongan alcohol , fenol dan asam karboksilat.
Ethanol
-Bila ditambah larutan H2SO4 menghasilkan bau mentol yang kuat.
-Bila dilakukan reaksi iodoform menghasilkan warna hijau kebiruan dan ada bau khas.
Gliserin
-Bila ditambah dengan satu tetes CUSO4 dan basakan dengan NaOH dari warna biru muda dan
ada endapan menjadi biru pekat.
-Bila dikisatkan di penangas air ,gliserin kental menjadi encer.

Mentol
-Bila diletakkan mentol terjadi bau khas seperti rasa dingin.
-Bila ditambahkan larutan H2SO4 dan salisilaldehid menghasilkan warna oren
Fenol
-Bila ditambahkan larutan FeCl menghasilkan dari warna pink rosa menjadi warna hitam
-Bila ditambahkan pereaksi DABdari warna pink rosa menghasilkan warna pink ungu bergas
-Bila diuji Lieberman dari warna pink rosa menghasilkan warna coklat.
-Bila ditambahkan kalium dikromat menghasilkan warna hijau.
Nipagin
-Bila ditambahkan larutan FeCl3 menghasilkan warna ungu kehitaman dan ada endapan.
-Bila ditambahkan larutan HNO3 pekat dari warna kuning tua menghasilkan endapan
kekuningan.
Hidrokuinon
-Bila ditambahkan larutan FeCl3 dari warna kelabu menghasilkan warna ungu.
-Bila ditambahkan larutan timbal asetat dan larutan NH4OH dari warna kelabu menghasilkan
larutan bening dan endapan hitam
-Bila ditambahkan dengan larutan NaOH dari warna kelabu menghasilkan warna coklat.
Resorsinol
-Bila ditambahkan pereaksi PDAB dari warna rosa menghasilkan warna rosa pekat.
-Bila ditambahkan larutan Fecl3 dari warna rosa menjadi warna coklat kehitaman.
Bila dilakukan uji Lieberman dari warna rosa menjadi warna coklat cair.
Asam Karboksilat
-Bila ditambahkan larutan senyawa tartrat dengan tembaga(ll) sulfat dan NaOH menghasilkan
larutan warna biru muda.
Asetosal
-Bila diuji dengan reaksi marquis menghasilkan endapan putih.
-Bila ditambah larutan FeCl3 menghasilkan warna keungguan.
Asam Benzoat
-Bila direaksikan dengan asam sulfat terjadi sublimasi terdapat Kristal putih di dinding tabung
dipanaskan menghasilkan larutan kuning bening.
-Bila direaksikan dengan larutan besi (ll) klorida dari warna kuning menghasilkan warna kuning
tua dan endapan putih.

VIII.

DAFTAR PUSTAKA

Clark, J. 2002. The Mechanism For The Esterification Reaction. Available online at
http://www.chemguide.co.uk/organicprops/estermenu.html#top[Diakses pada tanggal 1 Oktober
2015].
Chang, R. 2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti. Jilid 1. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Fessenden. 1986. Kimia Organik . Jilid 2. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Kelly. 2009. Identity of Phenol. Available On line at
www.sciencemadness.org/talk/files.php?pid=219850&aid=15724 (diakses 1 Oktober 2015).
Petrucci, R. H. 1992.General Chemistry. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Svehla, G. 1985.Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. PT Kalman Media
Pusaka. Jakarta.