Anda di halaman 1dari 5

Maulid (1)1

Sebagai sebuah tradisi dan budaya, Maulid Nabi adalah


inovasi kreatif yang baik (bidah hasanah). Maulid Nabi
bukanlah improvisasi ritual yang tercela (bidah sayyiah).
Hal ini bisa dirunut dari dua perspektif: basis teologis dan
historisnya.
Dari sisi basis teologis, berkebalikan dengan klaim
sebagian kalangan yang menganggapnya sebagai tradisi
heretik, peringatan kelahiran Nabi berlandaskan pada
penafsiran dengan logika silogis dari Alquran. Pertama, Nabi
Muhammad diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam (QS. 21:
107). Kedua, seorang muslim dianjurkan untuk menyambut
gembira terhadap datangnya rahmat Tuhan (QS. 10: 58).
Konklusinya adalah menyambut gembira datangnya rahmat
Tuhan, yakni Nabi Muhammad, adalah baik dan ia bisa
diejawantahkan, antara lain, dengan tradisi maulid itu.
Dari sisi historisnya, Muhammad Zaki Ibrahim dalam
Fiqh as-Shalawat wa al-Madaih an-Nabawiyyah (2011:
103-105) menceritakan bahwa tradisi maulid dimulai oleh
Tulisan ini pernah dimuat di Media Indonesia [22/01/2013] dengan judul
Maulid dan Perlawanan Kultural.
1

Tadarus

kalangan Syiah dari Dinasti Fathimiyah di Mesir. Tradisi


maulid waktu itu digalakkan untuk membangkitkan semangat
cinta Nabi dan Ahlul Bait, serta memperkokoh persatuan dan
konsolidasi negara sebagai oposisi Pemerintahan Sunni di
Baghdad.
Melihat efek dari tradisi maulid itu, Sultan Muzhaffar adDin di Irbil (masih bawahan Abbasiyah Baghdad yang Sunni)
ikut membudayakannya. Ia bahkan menggelontorkan lebih
dari 1.000 dinar sebagai hadiah bagi siapa saja yang mampu
menyusun syair-syair pujian kepada Nabi (madah nabawiy).
Sejak saat itu, tradisi maulid menjadi budaya populer dan
semarak dilakukan di negara-negara kekhilafahan lainnya.
Tradisi maulid semakin berkembang ketika Shalahuddin
al-Ayyubi (penakluk Yerussalem dan pahlawan Perang
Salib) memanfaatkan efek tradisi maulid itu. Shalahuddin
berpandangan bahwa maulid bisa menjadi manifesto
persatuan dan persaudaraan (ukhuwah) umat Islam. Untuk
membangkitkan semangat juang prajuritnya, Shalahuddin
mengadakan sayembara menggubah syair-syair madah. Salah
satu karya besar yang lahir waktu itu adalah kitab maulid alBarzanji, karya Syaikh Jafar al-Barzanji, yang masih banyak
dibaca hingga kini dan sering didendangkan rutin mingguan
di masyarakat santri.
Intinya, maulid menjadi tradisi dan budaya populer pada
mulanya untuk membangkitkan rasa cinta kepada Nabi dan
semangat persaudaraan, bahwa umat Islam punya Nabi yang
sama, jadi mengapa harus berpecah belah?
Hingga kini, tradisi itu masih diperingati dengan
semarak. Di Turki, seminggu sebelum puncak maulid, masjidmasjid dihiasi dengan lampion-lampion warna-warni. Di
4

Azis Anwar Fachrudin

Mesir dulu, ketika masa Mamluk, sebagaimana diceritakan


Annemarie Schimmel dalam bukunya Muhammad Utusan
Allah, perayaan besar-besaran diselenggarakan di pelataran
benteng Kairo hingga ruas-ruas jalan penuh sesak dengan
manusia. Di sebagian negara berpenduduk mayoritas muslim,
peringatan kelahiran Nabi dirayakan dengan semarak pula.

Kekuatan Budaya

Bila melihat sisi historisnya, maka salah satu aspek


penting yang bisa kita gali dari tradisi maulid adalah soal
kekuatan budaya. Budaya ini menggerakkan semangat rakyat
populer. Suatu ideologi, propaganda, dakwah, ajaran agama,
atau hal-hal lain semacamnya akan efektif jika disebarkan
secara bersenyawa dengan budaya populer. Ia bisa menyebar
luas dan publik menyambutnya tanpa terpaksa.
Beda halnya jika ia disampaikan secara elitis, misalnya,
dengan kajian atau ceramah sebagaimana umumnya. Ini
cenderung membuat orang awam bosan dan sering hanya
dinikmati oleh mereka yang benar-benar punya kesadaran
religius. Tradisi maulid yang dibalut dengan kreativitas
musikal akan menarik perhatian masyarakat hingga ke akar
rumput.
Kekuatan budaya yang termanifestasikan dalam tradisi
maulid ini patut dilestarikan. Pada hemat saya, ia punya
setidaknya tiga signifikansi dalam kehidupan sosial. Pertama,
nilai edukatif. Kitab maulid al-Barzanji berisi pemaparan
etika-etika luhur yang diteladankan oleh Nabi. Di bagian akhir
kitab itu, misalnya, disebutkan beberapa perangai mulia Nabi,
yaitu lebih suka bersama para fakir miskin, hidup dengan
amat sederhana, menjahit sandal dan bajunya sendiri, sangat
Tadarus

pemalu, bila berjalan tidak membusungkan dada, selalu


berjalan di belakang para sahabatnya, sangat penyayang
dengan keluarganya, dan seterusnya.
Kedua, sebagai oposisi kultural. Di tengah dominasi
budaya populer yang cenderung memanjakan konsumen
dalam gemerlap materi, tradisi maulid punya eksistensi
penting sebagai budaya tandingan. Ia berperan minimal
sebagai penyeimbang dari hegemoni lagu-lagu populer yang
akhir-akhir ini cenderung tidak punya nilai edukatif sama
sekali, bahkan cenderung memopulerkan hal-hal yang kurang
baik dan tabu.
Ketiga, untuk menginternalisasikan kembali idealisme
etika Nabi. Salah satunya yang penting adalah sikap asketis
(zuhud). Sikap ini menjadi benteng dari gempuran budaya
materialisme. Sikap zuhud berdasar pada paradigma bahwa
kehidupan dunia ini fana dan sementara, sebagaimana sabda
Nabi, Di dunia ini, jadilah kamu seolah-olah orang yang
mengembara atau orang yang melewati jalan. Persiapkan
bahwa dirimu akan termasuk (kelompok) orang-orang yang
mati.
Ini sekaligus menjadi nasihat untuk para pemimpin kita.
Masih ingatkah Anda dengan membengkaknya dana Banggar
DPR tahun lalu untuk hal-hal remeh semacam renovasi ruang,
bikin kalender, pengharum ruangan, pembenahan toilet, jasa
internet, dan lain-lain? Para pemimpin kita hari ini pun gemar
memamerkan kekayaannya, mobilnya, ataupun jam tangan
Rolex-nya.
Kepemimpinan ala Nabi adalah kepemimpinan yang
sarat dengan asketisme. Sementara para raja di Persia dan
Romawi bergelimang materi, Nabi Muhammad kerap tidak
6

Azis Anwar Fachrudin

menemukan sarapan di meja makannya dan karena itu ia


memilih untuk berpuasa. Jika seorang anak Adam memiliki
dua lembah emas, niscaya ia masih menginginkan lembah
yang ketiga, demikian sabdanya, dan tidak ada yang mampu
memenuhi perut anak Adam kecuali tanah.
Peringatan Maulid Nabi merupakan momentum untuk
mengingat kembali dan menginternalisasikan sikap-sikap
kesederhanaan Nabi itu. Teladan Nabi adalah teladan tentang
perlawanan terhadap konsumerisme. Zuhudlah dari apa-apa
yang ada di tangan manusia, kata Nabi, niscaya engkau akan
dicintai manusia.

Tadarus

Anda mungkin juga menyukai