Anda di halaman 1dari 8

MEMPERSIAPKAN FORMULASI OBAT HERBAL BARU UNTUK ULSER

APHTHOUS MINOR
Shahin Gavanji, Behrouz Larki

ABSTRAK
Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) atau Stomatitis Aphtous Rekuren merupakan salah satu
masalah yang paling sering dijumpai oleh dokter gigi dan spesialis kulit. Masalah ini ditandai
dengan adanya ulserasi kecil pada mukosa oral berbentuk bulat atau oval, sakit, dan bersifat
rekuren, yang sering muncul pada mukosa keratin, pipi, dan pada permukaan di bawah lidah.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh obat herbal baru pada RAS minor
sebagai pengobatan yang lebih efektif dan memiliki efek samping yang lebih sedikit. Penelitian
ini dilakukan dengan metode Double-Blind. Ekstrak tanaman obat Mellisa officinalis, Myrtus
communis dan Quercus robur digunakan dalam bentuk cairan. Analisis statistik pada
penyembuhan untuk lesi iritasi pada kelompok A, B, C, D dan E pada interval waktu yang
berbeda menunjukkan bahwa subjek pada kelompok C mengalami penurunan iritasi paling besar
dibandingkan dengan kelompok lain pada interval waktu 72, 96 dan 120 jam.
Kata kunci: Stomatitis Aphthous Rekuren, pengobatan komplementer, Mellisa officinalis, Myrtus
communis Linn dan Quercus robur

PENDAHULUAN
Stomatitis Apthous Rekuren (RAS) adalah salah satu dari penyakit yang sering dijumpai
oleh dokter, spesialis kulit, dan dokter gigi. Masalah ini terjadi baik pada anak-anak maupun
orang dewasa. Penelitian menunjukkan angka kejadian RAS mulai dari 2% hingga mencapai
50% di antara populasi yang berbeda. Populasi dengan risiko tinggi seperti pelajar dan tentara,
angka kejadiannya dilaporkan mencapai 50% hingga 60% (Gavanji dkk., 2012a; Ship dkk.,
1966). Terdapat beberapa etiologi yang berkaitan terhadap masalah ini. (Weusten, 1998). Etiologi
dari RAS masih belum jelas, tetapi riwayat keluarga menunjukkan keadaan positif terlihat pada
sekitar sepertiga dari pasien dan disertai dengan peningkatan "HLA" dari A2, A11, B12 dan DR2
yang menegaskan adanya pengaruh faktor genetik dalam beberapa kelompok (Juara dkk, 2004;.
Eversole, 1994; Porter, 2000, 2001). Pada beberapa pasien (10% sampai 20%) hematologi biasa
menjadi latar belakang terjadinya penurunan Fe, feritin, folat dan B12 (Eversole, 1994).
Etiologi lainnya adalah karena stres dan trauma. Dan juga kebiasaan mengisap bibir yang
mekanismenya belum diketahui secara akurat. Beberapa pasien mengklaim bahwa RAS dapat

muncul karena siklus menstruasi dan alergi nutrisi (Champion dkk., 2004). RAS ini juga terlihat
pada sindrom suite, sindrom Behcet dan infeksi HIV. RAS ini jarang terlihat pada anak-anak
dengan demam faringitis dan adenitis servikal (Gavanji dkk, 2012a;. Marshall dkk, 1987.).
Selain itu dapat pula dikaitkan dengan kondisi klinis gigi, imunologi, mikrobiologi, hematologi
dan histologi dengan terjadinya RAS, terdapat banyak hal yang belum diketahui terkait dengan
masalah ini. RAS dibagi menjadi 3 jenis: minor, mayor dan herpetiformis (Burgess dkk, 1990;
Rogers, 1997).
Jenis yang paling sering terjadi adalah jenis minor yang ditandai dengan adanya ulserasi
kecil pada mukosa oral berbentuk bulat atau oval, sakit, dan rekuren (Burgess dkk., 1990).
Ulkus Apthous Minor ditandai dengan lesi yang berukuran antara 2 hingga 4 mm yang sering
muncul pada mukosa keratin, pipi, dan permukaan mulut di bawah lidah. Tetapi jarang pada
gingiva dan langit-langit (Champion dkk, 2004;. Eversol, 1994; Porter, 2000, 2001). Terdapat
beberapa jenis pengobatan untuk RAS untuk mengurangi rasa sakit. Meskipun obat yang
digunakan untuk RAS memiliki efek samping rendah (Casiglia, 2002), tetapi sekarang untuk
pengobatan RAS, obat antiseptik, antibiotik dan modulator imun dapat digunakan (Champion,
2004; Eversole, 1994; Porter, 2001;. McBride et al, 2000; Rotan, 1994).
Obat herbal dalam hal ini dikategorikan sebagai agen alternatif dan selama beberapa tahun
telah digunakan di seluruh dunia. Obat-obatan seperti: sage, wortel, cantalop, liquorice, wild
geranium, aloevera dan oak. (Mcbride dkk, 2000; Rodu, 1992; Gavanji dkk, 2012b, 1998;
Weinberg, 1997; Burgess, 1990). Sampai saat ini semua penelitian tentang aphthous minor belum
ditemukan pengobatan yang pasti. Salah satu tanaman yang paling penting pada pengobatan
RAS yaitu Myrtus communis Linn. (Family Myrtaceae). Tanaman tersebut digunakan sebagai
antiseptik, karminatif, penawar rasa sakit, analgesik, tonik rambut, hemostatik, antiemetik,
lithotripsic, kardiotonik, diuretik, anti inflamasi, obat

sakit perut, nephroprotective,

antidiaphoretic dan antidiabetes. Perbedaan mekanisme farmakologi dari daun myrtle terkait
penggunaannya sebagai antiseptik, hipoglikemik, laxative, analgesik, hemostatik, tonik rambut
dan stimulan. Dilaporkan bahwa akarnya memiliki kemampuan antibakteri. Yang secara
tradisional digunakan sebagai antiseptik, obat desinfektan dan agen hipoglikemik. Berbagai
bagian tanaman telah digunakan dalam industri makanan misalnya untuk penyedap daging dan
saus, dan juga dalam industri kosmetik. Dioscorides memperlihatkan produksi minyak dan
diresepkan sebagai ekstrak dalam anggur untuk infeksi paru-paru dan kantung kemih. Makanan

yang dibumbui dengan pengasapan dari myrtle umum ditemukan di daerah pedesaan Italia atau
Sardinia. Dalam pengobatan tradisional, ramuan dari daun dan buah myrtle digunakan sebagai
obat sakit perut, hipoglikemik, antimikroba, batuk dan penyakit mulut, sembelit, anti hemoragik
dan untuk penyembuhan luka eksternal . Minyak esensial dari daun myrtle telah banyak
digunakan di Perancis sebagai desinfektan dan antiseptik, juga digunakan di rumah sakit di Paris
untuk penyakit pernapasan tertentu dan penyakit kandung kemih dan diresepkan sebagai aplikasi
lokal pada penyakit rematik.
Rebusan buah dari myrtle digunakan untuk menyiram luka bakar baru dengan keadaan
kulit masih memerah, sementara rebusan daun dan buahnya sangat membantu untuk
membersihkan luka. Rebusan daunnya masih digunakan untuk membersihkan daerah vagina,
enema dan mengobati penyakit pernapasan. Minyak yang diperoleh dari buah dapat memperkuat
dan mendorong pertumbuhan rambut karena digunakan sebagai hair tonik. Konsumsi myrtle
dapat bermanfaat untuk diet, karena mengandung antioksidan, yang dapat melindungi terhadap
peroksidasi lipid dan dapat melindungi dari radikal bebas. Di masa lalu, buah-buahan matang
dari myrtle digunakan sebagai integrator makanan karena kandungan vitamin yang tinggi. Dosis
terapi dari buah M. communis yang disebutkan dalam literatur Unani adalah sekitar 3 sampai 5
gram. Daunnya berguna untuk pengobatan penyakit cerebral terutama epilepsi (Sumbul dkk.,
2011).
Tanaman obat yang digunakan untuk pengobatan RAS adalah Mellisa officinalis, Myrtus
communis Linn, dan Quercus robur pada banyak penelitian digunakan sebagai obat tradisional.
Mellisa officinalis memiliki 0,03% sampai 0,02% minyak atsiri yang mengandung lebih dari 70
komponen. Mellisa officinalis memiliki sifat antispasme dan efek antibakteri (Kaufman, 1999).
Tanaman ini digunakan dalam bentuk bubuk kering atau ekstrak dan tidak ada efek samping baik
dalam bentuk obat atau bubuk kering. Terdapat beberapa jenis obat yang berbeda disediakan
secara komersial dari Mellisa officinalis di negara-negara Eropa (Gavanji dkk., 2012a). Tanaman
obat lainnya adalah Quercus robur yang memiliki sifat yang berbeda dari komponen minyak,
glukosa yang berbeda, pentosa dan tanin (Motevaselian, 1979).
Selain sifat antimikroba dari berbagai spesies oak yang tersedia pada banyak sumber,
buah, daun, kulit batang, dan bunga oak dilaporkan memiliki beberapa sifat terapeutik (Sharify,
2004). Tannin dengan kemampuan antiseptik merupakan salah satu komponen penting dari oak
(Khosravi , 2006). Ekstrak metanol buah Quercus lusitanica sangat berguna untuk mengontrol

pembelahan virus demam tulang (Muliawan, 2006). Bunga oak juga digunakan sebagai
astringent, antiseptik dan koagulan. Dan juga digunakan untuk pengobatan luka bakar (Sakar,
2005). Tanaman lain yang digunakan dalam formulasi adalah Rosa damascena Mill. Tanaman ini
memiliki sifat yang baik dalam mengendalikan pertumbuhan bakteri dan juga bertindak sebagai
fungisida. Karena obat herbal dianggap sebagai pengobatan komplementer memiliki nilai yang
besar untuk sebagian besar pengobatan penyakit seperti lesi aphthous. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui pengaruh formulasi campuran herbal baru pada RAS minor sebagai
pengobatan alami.
BAHAN DAN METODE
Persiapan Sampel
Penelitian ini dilakukan dengan metode Double-Blind. Tanaman medis Mellisa officinalis ,
Myrtus communis dan Quercus robur dipilih dari institut obat tradisional dan tanaman herbal
Iran di provinsi Esfahan dan Shahrekord. Lalu dikeringkan dalam suhu laboratorium dan bagian
yang telah kering digiling. Kemudian dilakukan metode perkolasi untuk mempersiapkan ekstrak.
Pada metode ini, tanaman herbal digiling menjadi bubuk dan kemudian dimasukkan ke
perkolator dan ditambahkan larutan ke dalamnya. Setelah 24 jam persiapan ekstrak dimulai.
Larutannya adalah etanol 70% dan proporsi larutan untuk bahan herbal adalah 5 berbanding 1.
Tanaman obat yang digunakan dalam formulasi ini untuk pengobatan RAS antara lain Mellisa
officinalis , Myrtus communis dan Quercus robur dalam persentase yang berbeda. Formulasinya
mengandung persentase ekstrak herbal yang berbeda yaitu 25, 50 dan 75%. Agar lebih
sederhana, obat itu disajikan dalam bentuk cair. pH dari formulasi yang mengandung persentase
25, 50 dan 75 % ekstrak herbal yang berbeda masing-masing adalah 5,95 , 5,64 dan 5,35.
Pada tahap awal untuk menentukan efek yang tepat dari formulasi obat herbal, maka
dipilih kelompok berjumlah 249 pasien dengan stomatitis apthous rekuren dan tanpa penyakit
sistemik. Untuk menghitung kadar Fe, B12, dan asam folat, maka dilakukan tes darah dan
kemudian dibandingkan dengan kelompok yang terdiri dari 60 orang tanpa stomatitis apthous
rekuren. Pada penelitian ini, 150 pasien berusia antara 19 hingga 53 tahun. Mereka memiliki
stomatitis apthous rekuren dengan ukuran 1 hingga 4 mm dan jumlah lesi maksimal 5 buah.
Berdasarkan hasil, 150 pasien tersebut tidak menunjukkan kekurangan Fe, B12 dan asam folat.
150 pasien ini dibagi ke dalam kelompok A, B, C, D dan E dengan jumlah masing-masing 30

orang dan formulasi obat herbal 25%, 50%, 75% dan triamcinolone (Adcortyle) diuji pada
masing-masing kelompok ini. Kelompok E tidak diberikan ekstrak atau obat. Pasien
diinstruksikan untuk menggunakan formulasi selama 10 hari (4 kali per hari, setiap kali selama
10 menit), dan juga setelah pengobatan selesai, ukuran lesi diukur pada semua kelompok pada 1,
2, 4, 6, 8 dan 10 hari pengobatan dengan menggunakan Periodontal Probe. Rasa sakit dihitung
dan dicatat untuk 10 hari pengobatan. Data dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji T,
Chi square, metode Greenhouse Geisser dan Monte Carlo.

Gambar 1: Kurva pH dengan formulasi yang berbeda (25, 50, dan 75%)

HASIL DAN PEMBAHASAN


Stomatitis apthous rekuren merupakan salah satu penyakit yang paling sering terjadi
dengan frekuensi terjadinya dari 2% hingga 50%. Untuk mengobati penyakit ini, cara
pengobatan yang berbeda dengan mekanisme yang berbeda telah digunakan. Obat-obatan
kimiawi memiliki efek samping secara langsung maupun tidak langsung (Casiglia, 2002). Dari
150 subjek, 120 diantaranya digolongkan sebagai kelompok yang dilakukan pengobatan dan 30
orang sisanya sebagai kelompok kontrol. Subjek terdiri dari 98 pria dan 52 wanita. Waktu untuk
perawatan lengkap pada kelompok A adalah 6,771,23, kelompok B 5,191,81, kelompok C
4,511,49, kelompok D 8,480,52 dan untuk kelompok E 9,370,63 hari. Secara statistik
terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok C dengan kelompok lain (P>0,001). Analisis
statistik pada penyembuhan lesi iritasi pada kelompok A, B, C, D dan E dengan interval waktu
yang berbeda menunjukkan bahwa subjek dalam kelompok C mengalami penurunan iritasi
paling besar dibandingkan dengan kelompok lain pada waktu 72, 96 dan 120 jam.

Tabel 1. Distribusi penyembuhan rasa sakit setelah perawatan


Kelompok
A (Formulasi 25%)
B (Formulasi 50%)
C (Formulasi 75%)
D (Triamcinolone)
E (Kontrol)

24
7%
9%
15%
7%
-

48
20%
25%
35%
25%
-

Penyembuhan rasa sakit pada jam berbeda (jam)


72
96
120
144
168
192
56% 61%
72%
85%
97%
D
69% 74%
81%
92%
D
D
71% 83%
95%
D
D
D
32% 53%
62%
75%
83%
97%
5%
8%
15%
24%
46%
68%

(-): Tidak terjadi pengurangan rasa sakit


(D): semua pasien sembuh

216
D
D
D
D
75%

240
D
D
D
D
D

Gambar 2: Proses pengobatan lesi pada interval waktu yang berbeda


(D): semua pasien sembuh

Pada kelompok A, B, C, D, dan E setelah diberikan obat, kurva yang berhubungan dengan
ukuran lesi pada interval waktu yang berbeda menunjukkan bahwa ukuran lesi pada kelompok C
sangat berbeda dibandingkan dengan kelompok lain dan pada hari keempat ukuran lesi menurun
hingga 2 mm (Gambar 3).
Pada gambar 2, proses pengobatan lesi dengan menggunakan formulasi 75% diperlihatkan
pada 4 subjek. A1, B1, C1, dan D1 menunjukkan hari pertama tanpa pemberian obat. Ukuran lesi
diukur setelah pemberian obat dimana efek dari pengobatan tersebut ditunjukan oleh (A2, A3),
(B, B3), (C2, C3) dan (D2, D3) yang dimana semuanya menunjukkan penurunan ukuran lesi.
Bagian A4, B4, C4 dan D4 menunjukkan perawatan berhasil. Jadi dengan menggunakan obat

herbal kita dapat memperoleh efek terapeutik yang tinggi dengan efek samping yang minimum.
(Gavanji dkk., 2012b; Gavanji dkk., 2011b).

Gambar 3. Perubahan ukuran lesi (mm) pada interval waktu yang berbeda
Con + : Kelompok yang diobati denga trimcinolone (Adcortyle)
Con - : Kelompok kontrol tanpa pemberian obat

KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian terbaru, beberapa obat yang berbeda dilaporkan dapat digunakan
untuk pengobatan Stomatitis Aphthous Rekuren, masing-masing memiliki efek yang berbeda
untuk pengobatan RAS. Hasil yang diperoleh dari formulasi baru kami, 75% menunjukkan efek
yang cukup besar dibandingkan dengan formulasi lain (25 dan 50%). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa formulasi obat herbal baru mencegah infeksi sekunder pada lesi disertai
efek anti-inflamasi, menyebabkan penyembuhan lesi yang cepat. Sehingga disarankan untuk
melakukan penelitian eksperimental tambahan tentang formulasi obat herbal baru ini.