Anda di halaman 1dari 25

UNIVERSITAS INDONESIA

Strategi Kepemimpinan Dalam Melawan Diskriminasi; Review Film Invictus

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Kepemimpinan Strategis dan Berpikir Sistem

Oleh :
Ahmad Sulaiman
Astasari
Baiq Qurrata Aini
Cynthia Caroline
Martina Pakpahan
Raden Danu Ramadityo
Risky Kusuma Hartono
Rr. Ajeng Arumsari Yayi Pramesti

(1406594291 )
( 1406520444 )
( 1406594404 )
( 1406594436 )
( 1406594915 )
(1406521176 )
( 1406521283)
( 1406521314 )

PROGRAM STUDI PASCASARJANA KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK, 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, dengan limpahan
rahmat serta karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah berjudulStrategi
Kepemimpinan dalam melawan diskriminasi; Review Film Invictus untuk memenuhi tugas
mata kuliah Kepemimpinan Strategis dan Berpikir Sistem. Makalah ini kami susun untuk
memberikan pembelajaran penting nilai-nilai yang telah dipraktekkan oleh Nelson Mandela
untuk membangun persatuan suatu negara, menghapus perbedaan antara orang berkulit
hitam dan putih yang diperagakan dalam film Invictus. Selain itu, besar harapan kami nilainilai tersebut dapat diterapkan oleh kami dan para pembaca nantinya untuk menyelesaikan
suatu permasalahan secara berpikir sistem dan strategis dalam organisasi.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih mempunyai banyak kekurangan. Untuk
itu kami sangat mengharapkan segala saran dan kritik yang konstruktif dan inspiratif dari
semua pihak sehingga dapat menambah wawasan dan sebagai evaluasi diri dalam
penyusunan makalah kami selanjutnya.

Depok, September 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Cover
Kata Pengantar ............................................................................................... .

Daftar Isi ......................................................................................................... .

Bab 1 Pendahuluan ........................................................................................ .


1.1 Latar Belakang .................................................................................... .....

1.2 Rumusan masalah ................................................................................ .

1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................. .

Bab 2 Tinjauan Pustaka ...


2.1. Defenisi Kepemimpinan .

2.2. Karakteristik Pemimpin . .

2.3. Macam Gaya Kepemimpinan .

Bab 3 Pembahasan ......................................................................................... .


3.1. Perkembangan Politik Apartheid di Afrika Selatan.....................................

3.2. Nelson Mandela dan Harapan Rakyat Afrika Selatan................................

10

3.3. Dari Prinsip Keras Leadership Menjadi Partnership..........

11

3.4. Olahraga Membangun Nasionalisme .

19

BAB 4 Penutup ............................................................................................... .


3.1 Kesimpulan ........................................................................................ .

22

3.2 Saran ................................................................................................... .

22

Daftar Pustaka

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pada era saat ini, membuat kebijakan strategis sangat diperlukan untuk menciptakan
perubahan. Hal ini dimungkinkan bila para pemimpin peka untuk membuat strategi untuk
menciptakan perubahan yang diinginkan. Kesalahan perencanaan strategis dapat membuat
kemunduran. Dalam hal ini peran pemimpin sangat diperlukan untuk menentukan maju atau
mundurnya keadaan. Lebih lanjut lagi Kepemimpinan menurut Grifin (2000) merupakan
proses dalam mengarahkan dan mempengaruhi para anggota untuk melaksanakan aktivitas
yang seharusnya dilakukan. Dalam hal ini difokuskan pada proses yag dilakukan pemimpin
menggunakan pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi serta menciptakan budaya
yang produktif. Selain itu karakteristik yang harus dimiliki seorang pemimpin untuk
mempengaruhi perilaku orang lain, sehingga orang-orang yang dipimpinnya menerima
budaya yang dibuat oleh pemimpinnya.
Salah satu contoh studi kasus pembuatan perubahan yaitu penghapusan rasialisme
antara kulit hitam dan kulit putih yang terjadi di Afrika Selatan oleh Presiden Nelson
Mandela.Perwujudan perubahan ini tentunya tidaklah mudah dikarenakan lingkupnya dalam
suatu negara. Sehingga diperlukan pemikiran yang mendalam beserta karakteristik
kepemimpinan yang dimiliki oleh sosok Nelson Mandela untuk mempengaruhi masyarakat
Afrika Selatan yang dipimpinnya untuk menghaus rasialisme.
Dari uraian diatas, kami menilai bahwa dibutuhkan sebuah penjelasan penting peran
kepemimpinan dalam membuat kebijakan strategis yang dilakukan untuk membuat
perubahan. Manusia yang seperti ini memiliki tekad kuat di dalam dirinya untuk membuat
suatu perubahan dari pada sibuk mementingkan urusan dirinya sendiri dan lebih
mementingkan kemajuan bersama. Seperti halnya peran yang dicontohkan oeh Nelson
Mandela. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami membahas kebijakan strategis, tipe
kepemimpinan, serta nilai-nilai yang dapat diambil dari sosok tokoh Nelson Mandela
melalui sebuah film yang berjudul Invictus.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Strategi Kepemimpinan Nelson Mandela dalam menghapus Rasialisme?
2. Bagaimana nilai-nilai strategi kepemimpinan Nelson Mandela diterapkan dalam
organisasi?
4

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui Strategi Kepemimpinan Nelson Mandela dalam menghapus
Rasialisme
2. Untuk mengetahui nilai-nilai strategi kepemimpinan Nelson Mandela diterapkan
dalam organisasi.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Definisi Kepemimpinan
Kepemimpinan berisi konotasi tentang citra citra individu yang berkuasa dan dinamis
yang memimpin armada yang menang perang, yang mengendalikan kerajaan-kerajaan
korporasi dari atas-atas gedung pencakar langit yangberkilauan, atau yang mengarahkan
tujuan bangsa-bangsa.
Beberapa definisi yang dapat dianggap cukup mewakili selama seperempat abad adalah
sebagai berikut :
1. Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitasaktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal).
(Hemhill & Coons, 1957,hlm 7)
2. Kepemimpinan adalah sebuah proses member arti (pengarahan yang berarti)
terhadap usaha kolektif dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha
yang diinginkan untuk mencapai sasaran. (Jacobs & Jacques, 1990, hlm.281)
3. Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu
kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan
pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai
tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
4. Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk
dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau
mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh
kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan


kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan
mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian
khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan
organisasi atau kelompok.

Kebanyakan

definisi

mengenai

kepemimpinan

mencerminakan

asumsi

bahwa

kepemimpinan menyangkut sebuah proses pengaruh social yang dalam hal ini pengaruh
yang disengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur
6

aktivitas-aktivitas serta hubungan-hubungan di dalam sebuah kelompok atau organisasi


(Yukl. G, 1998)

2.2.Karakteristik Pemimpin
a. Pemimpin Karismatik
Karisma adalah sebuah kata Junani yang berarti karunia diinspirasi Illahi (divinely
inspired gift) seperti kemampuan untuk melakukan mukjizat atau memprediksi
peristiwa-peristiwa di masa mendatang (Gary Yukl, 1998)
Menurut House (1977), pemimpin karismatik kemungkinan akan mempunyai
kebutuhan yang tinggi akan kekuasaan, rasa percaya diri, serta pendirian dalam
keyakinan-keyakinan dan cita-cita mereka sendiri. Rasa percaya diri dan pendirian
yang kuat meningkatkan rasa percaya para pengikut terhadap pertimbangan dan
pendapat pemimpin tersebut.
Perilaku kepemimpinan menurut House (1977) akan: 1) berhubungan dengan
perilaku-perilaku yang dirancang untuk menciptakan kesan di antara para pengikut
bahwa pemimpin tersebut kompeten; 2) menekankan kepada tujuan-tujuan ideologis
yang menghubungkan misi kelompok kepada nilai-nilai, cita-cita, serta aspirasiaspirasi yang berakar dalam yang dirasakan bersama oleh para pengikut; 3)
menetapkan suatu contoh dalam perilaku mereka sendiri agar diikuti oleh para
pengikut; 4) mengkomunikasikan harapan-harapan yang tinggi tentang kinerja para
pengikut sedangkan pada saat yang bersamaan juga mengekspresikan rasa percaya
terhadap para pengikut; 5) berperilaku dengan cara-cara yang menimbulkan motivasi
yang relevan bagi misi kelompok.
Kebanyakan teori tentang kepemimpinan karismatik setuju bahwa para pemimpin
karismatik lebih besar kemungkinannya akan muncul bilamana sebuah organisasi
berada dalam keadaan stres dan transisi. Karisma diperkuat bila kekuasaan formal
gagal untuk menanggapi sebuah krisis besar dan bila nilai-nilai tradisional dan
keyakinan-keyakinan dipertanyakan. Jadi, kepemimpinan karismatik lebih besar
kemungkinannya akan diketemukan dalam sebuah organisasi yang sedang berjuang
untuk kelangsungan hidupnya, atau sebuah organisasi tua yang gagal, daripada
sebuah organisasi tua yang sangat berhasil (Bass,1985).

b. Kepemimpinan Transformasional
Bass

(1985)

mengusulkan

sebuah

teori

kepemimpinan

transformasional

(transformational leadership) yang dibangun atas gagasan-gagasan yang lebih awal


dari Burns (1978). Para pengikut seorang pemimpin transformasional merasa adanya
kepercayaan, kekaguman, kesetiaan, dan hormat terhadap pemimpin tersebut, dan
mereka termotivasi untuk melakukan lebih dari pada yang awalnya diharapkan
terhadap mereka.
Formulasi asli dari teori Bass (1985) mencakup tiga komponen kepemimpinan
transformasional: karisma, stimulasi intelektual (intellectual stimulation), dan
perhatian yang diindividualisasi (invidualized consideration). Stimulasi intelektual
adalah sebuah proses dimana pemimpin meningkatkan kesadaran terhadap masalah
dan mempengaruhi para pengikut untuk memandang masalah-masalah dari sebuah
perspektif yang baru. Perhatian yang diindividualisasi termasuk member dukungan,
membesarkan hati dan member pengalaman-pengalaman tentang pengembangan
kepadapara pengikut. Sebuah revisi baru dari teori tersebut menambahkan perilaku
transformasional lain yang disebut inspirasi (atau motivasi inspirasional), yang
didefinisikan sebagai sejauh mana seorang pemimpin mengkomunikasikan sebuah
visi yang menarik,menggunakan symbol-simbol untuk mengfokuskan usaha-usaha
bawahan, dan memodelkan perilaku-perilaku yang sesuai (Bass& Aviolo, 1990).

2.3.Macam Gaya Kepemimpinan


1. Gaya Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian
Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang
diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung
jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan
hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan.
2. Gaya Kepemimpinan Demokratis / Democratic
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan
wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu
mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan
demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung
jawab para bawahannya.
3. Gaya Kepemimpinan Bebas / Laissez Faire

Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para
bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang
dihadapi.

BAB 3
PEMBAHASAN

Afrika Selatan merupakan salah satu negara tertua dibenua Afrika. Ada banyak suku
yang telah menjadi penghuninya. Penjelajah Belanda yang dikenal sebagai Afrikaner tiba
disana pada 1652, pada saat itu juga Inggris berminat dengan Negara ini, terutama setelah
penemuan cadangan berlian yang melimpah. Hal inilah yang kemudian menyebabkan
terjadinya perang Britania-Belanda dan dua perang Boer. Pada 1910, empat republik utama
digabung dibawah kesatuan Afrika Selatan, kemudian pada 1931, Afrika Selatan menjadi
jajahan Britania sepenuhnya.
Walaupun Negara ini berada dibawah jajahan Britania, mereka terpaksa berbagi
kekuasaan dengan pihak Afrikaner. Pembagian kekuasaan inilah yang berlanjut hingga
tahun 1940, saat partai pro-Afrikaner yaitu Partai Nasional (NP) memperoleh mayoritas di
parlemen. Strategi partai tersebutlah yang telah menciptakan dasar apartheid, suatu cara
untuk mengawal sistem ekonomi dan sosial Negara dengan dominasi kulit putih dan
diskriminasi ras.

3.1. Perkembangan Politik Apartheid di Afrika Selatan


Politik apartheid dirancang oleh Hendrik Verwoed. Apartheid dalam bahasa
resmi Afrika Selatan adalah aparte ontwikkeling artinya perkembangan yang terpisah.
Memperhatikan makna dari arti apartheid itu sendiri kedengarannya baik yaitu tiap
golongan masyarakat, baik golongan kulit putih maupun golongan kulit hitam harus
sama-sama berkembang. Tapi perkembangan itu didasarkan pada tingkatan sosial dalam
masyarakat yang pada prakteknya menjurus pada pemisahan warna kulit dan terjadinya
penistaan dari penguasa kulit putih terhadap rakyat kulit hitam.
Segregasi atau pemisahan dan perkembangan terpisah tidak hanya berlaku
untuk golongan rasial yang penting, tetapi juga untuk kelompok-kelompok yang lebih
kecil. Pada 1948, saat Partai Nasional terpilih untuk menguasai Afrika Selatan inilah
yang kemudian memperkuat implementasi pemisahan rasial dibawah kekuasaan
kolonial Inggris dan Belanda.
Pemerintahan Nasionalis kemudian mengatur jalannya undang-undang
pemisahan, menggolongkan orang-orang kedalam tiga ras, mengembangkan hak-hak
dan batasan untuk masing-masing golongan. Minoritas kulit putih menguasai mayoritas
kulit hitam yang jauh lebih besar.
10

Pemencilan ini dimaksudkan kulit putih untuk mengontrol kekayaan yang


mempercepat industrialisasi dari 1950an, 60an, dan 70an yang kemudian minoritas
kulit putih menikmati standar paling tinggi di seluruh Afrika sementara mayoritas kulit
hitam terus dirugikan dalam setiap tingkat, meliputi pendapatan, pendidikan, rumah, dan
tingkat harapan hidup. Apartheid menjadi semakin kontroversial, mendorong kearah
meluasnya sanksi internasional, divestasi dan kerusuhan serta penindasan di Afrika
Selatan.
Mayoritas kulit hitam yang semula tidak mengerti akan kebijakan
pemerintahannya lambat laun mengerti bahwa tujuan sebenarnya adalah diskriminasi
rasial. Oleh karena itu mereka bangkit mengadakan perlawanan, yang dalam kacamata
konflik sosial disebut dengan istilah stratifikasi, antara kelas atas yang juga sebagai
penguasa termasuk pemerintahan (borjuasi) dan kelas bawah (buruh). Namun dibawah
pemerintahan Pieter Botha saat itu dengan kejam menumpas setiap perlawanan yang
terjadi. Banyak tokoh-tokoh kulit hitam yang dijebloskan dalam penjara, seperti tokoh
kharismatik Nelson Mandela yang terpaksa mendekam dalam penjara selama 27 tahun.
Selain perlawanan bersenjata, usaha-usaha mengakhiri politik apartheid juga dilakukan
melalui perjuangan politik. Partai-partai yang terkenal anatara lain Partai Kongres
(ANC) pimpinan Nelson Mandela dan Inkatha Freedom Party pimpinan Mongosuthu
Buthulesi.

3.2. Nelson Mandela dan Harapan Rakyat Afrika Selatan


Nelson Rolihlahla Mandela merupakan seorang revolusioner anti apartheid
Afrika Selatan. Mandela lahir di Mveso, Afrika Selatan 18 Juli 1918. Terlahir dari
keluarga kerajaan Thembu dan bersuku Xhosa, Mandela belajar hokum di Fort Hare
University dan University of Witwatersrand. Ketika menetap di Johannesburg, ia
terlibat dalam politik anti-kolonial, bergabung dan kemudian mengetuai ANC (African
National Congress). Setelah kaum nasionalis Afrikaner dari partai nasional berkuasa
ditahun 1948 dan menerapkan kebijakan apartheid, popularitas Mandela melejit karena
melakukan serangkaian perlawanan dalam menentang pemerintahan yang menerapkan
apartheid. Akibat upayanya melawan kebijakan pemerintah dengan melakukan
persekongkolan dan sabotase untuk penggulingan, Mandela akhirnya dijatuhi hukuman
penjara seumur hidup di pengadilan Rivonia.
Mandela menjalani masa kurungan selama kurang lebih 27 tahun, pertama di
pulau robben, kemudian di penjara pollsmor dan penjara victor verster. Pada Februari
11

1990, akibat dorongan dari bangsa lain dan tentangan hebat dari berbagai gerakan antiapartheid khususnya ANC, pemerintahan partai nasional dibawah pimpinan F.W. de
Klerk menarik balik larangan terhadap ANC dan partai-partai politik berhaluan kiri
yang lain dan membebaskan Nelson Mandela dari penjara. Setelah pembebasan
Mandela, undang-undang apartheid mulai dihapus secara perlahan. Mandela kemudian
melakukan upaya negosiasi dengan presiden F.W. de Klerk untuk penghapusan
apartheid secara keseluruhan dan melaksanakan pemilu multiras 1994 yang kemudian
dimenangkan oleh ANC, Nelson Mandela dilantik sebagai presiden kulit hitam yang
pertama di Afrika Selatan.
Terpilihnya Nelson Mandela sebagai presiden Afrika Selatan tentu membawa
angin perubahan bagi warga kulit hitam, setelah sekian lama dalam penindasan era baru
kesetaraan kemudian dimulai. Tak sedikit dari warga kulit hitam yang menganggap
keterpilihan Nelson Mandela akan membalaskan dendam rasisme yang telah lama
mereka pendam, mencerabut hak atau bahkan melakukan hal yang serupa yang pernah
dilakukan oleh warga kulit putih (perbudakan).
Namun Mandela menilai kepemimpinannya bukanlah sebuah pertarungan
otoritas yang kemudian mengharuskannya melakukan hal yang serupa yang pernah ia
alami, mendekam di penjara selama 27 tahun dan diperlakukan sangat tidak manusiawi
oleh kerasnya kebijakan politik apartheid. Mandela yang dulu dan Mandela yang saat
ini menjabat sebagai orang nomor satu di Afrika Selatan itu tetap sama, pejuang antipolitik apartheid.

3.3. Dari Prinsip Keras Leadership Menjadi Partnership


Tanggung jawab adalah inti kepemimpinan. Ini adalah kearifan tua yang kini
menjadi isu kontemporer ketika dunia mengalami katastrofi multidimensi. Kecemasan
terhadap daya dukung bumi, disparitas ekonomi antarnegara, konflik ideologi,
persaingan nuklir, semuanya telah menghadapkan dunia pada satu pertanyaan final ;
bagaimana peradaban harus dikelola agar kita dapat berbagi oksigen, bergantian
memakai energy, dan bergandengan tangan membersihkan bumi? Pertanyaan itu
sesungguhnya mendahului segala perbedaan ideologi dan semua ambisi politik,
manakala kita paham bahwa kita adalah penumpang satu perahu yang sedang
menghadapi masalah dengan samudera dan cuaca.
Kepemimpinan adalah kompas untuk meyakinkan kita bahwa pembagian
tanggung jawab merupakan keperluan untuk keselamatan bersama. Itulah alasan etis
12

kepemimpinan saat ini. Artinya, kepemimpinan bukan lagi dipahami dalam arti
kompetisi otoritas, melainkan sebagai ko-operasi humanitas. Keputusan dibuat di meja
bundar dan dilaksanakan dalam skema kemitraan. Pendekatan kepemimpinan beralih
dari prinsip keras leadership menjadi partnership. Dalam skema itu, pemimpin
mendistribusikan persoalan, bukan sebagai beban teknis, tetapi sebagai tanggung jawab
etis. Dengan cara itu, keterlibatan ditempuh dalam proses, dan bukan ditunggu dalam
pembagian hasil. Pendekatan semacam ini mengubah persoalan menjadi perhatian setiap
orang, dan bukan sekedar keahlian beberapa orang. Kepemimpinan berarti keahlian
advokasi setiap orang, dan bukan hak eksekusi beberapa ahli. Reformulasi konsep
kepemimpinan itu menghendaki reformulasi berbagai konsep konvensional tentang
politik, bisnis dan kebudayaan (The Dancing Leader 2002 : 7).
Nelson Mandela merupakan seorang pemimpin yang memiliki banyak
karismatik yang menginspiratif orang-orang disekitarnya. Meskipun menghadapi
berbagai konflik maupun krisis sosial yang masih melanda Afrika Selatan yang
membutuhkan

sebuah kerja keras dan kesabaran yang extra untuk benar-benar

menghilangkannya dari Afrika Selatan, seperti kemiskinan, kejahatan yang semakin


marak, konflik ras, ekonomi yang lemah dan pengangguran, Mandela tetap dengan
keyakinannya yang tinggi, keteguhan, dan kerja kerasnya tetap mencari berbagai solusi
yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut sampai ke akar-akarnya. Pekerjaan
pertama yang harus Mandela selesaikan adalah mencari formula dan langkah-langkah
strategis untuk mengakomodir antara aspirasi warga kulit hitam dengan prasangka
warga kulit putih meskipun terkadang langkah-langkahnya dan kemampuannya tersebut
masih diragukan oleh pihak-pihak tertentu. Namun, Mandela tetap berpikir positif
dengan segala cemooh maupun keraguan masyarakat itu dijadikannya sebagai cambuk
dan semangat untuk membuktikan kepada dunia bahwa dia dapat menciptakan
perdamaian di bumi Afrika Selatan.
Gaya Kepemimpinan Karismatik
Sikap karismatik Mandela ini merupakan wujud nyata dari pernyataan ahli
sosiologi Max Weber (1974) yang menggunakan istilah karisma untuk menjelaskan
sebuah bentuk pengaruh yang didasarkan bukan atas tradisi atau kewewenangan namun
atas persepsi para pengikut bahwa pemimpin tersebut dikaruniakan dengan
kemampuan-kemampuan yang luar biasa. Menurut Weber, karisma terjadi bilamana
terdapat suatu krisis social, yang pada krisis itu, seorang pemimpin dengan kemampuan
13

pribadi yang luar biasa tampil dengan sebuah visi yang radikal yang memberi suatu
pemecahan terhadap krisis tersebut, dan pemimpin tersebut menarik perhatian para
pengikut yang percaya pada visi itu dan merasakan bahwa pemimpin tersebut sangat
luar biasa (Trice & Beyer, 1993).
Menurut House, seorang pemimpin yang karismatik mempunyai dampak
yang dalam dan tidak biasa terhadap para pengikut; mereka merasakan bahwa
keyakinan pemimpin tersebut adalah benar, mereka menerima pemimpin tersebut tanpa
mempertanyakannya lagi, mereka tunduk kepada pemimpin dengan senang hati, mereka
merasa sayang terhadap pemimpin tersebut, mereka terlibat secara emosional dalam
misi kelompok atau organisasi tersebut, mereka percaya bahwa mereka dapat memberi
kontribusi terhadap keberhasilan misi tersebut, dan mereka mempunyai tujuan-tujuan
kinerja tinggi. Hal ini juga tergambarkan pada film ini disaat Mandela pertama kali
melaksanakan tugasnya di gedung Presiden dan disaat bersamaan pegawai yang berkulit
putih pada masa pemerintahan sebelumnya akan berhenti bekerja untuk Presiden.
Namun, Mandela dengan sikapnya yang berkarisma dapat meyakinkan seluruh pegawai
untuk tetap tinggal bekerja bersama dalam masa Pemerintahannya, berkontribusi
terhadap Negaranya tanpa harus memikirkan lagi perbedaan ras untuk mewujudkan
tujuan yang sama yaitu perdamaian Afrika Selatan. Selain itu, sikap tersebut juga dapat
digambarkan dari meleburnya pengawal-pengawal Mandela dalam pelaksanaan tugas
tanpa memikirkan lagi permasalahan ras dan masalah yang terjadi masa lalu.
Teori Bass (1985) mengungkapkan bahwa terdapat tiga komponen
kepemimpinan transformasional yaitu karisma, stimulasi intelektual (intellectual
stimulation), dan perhatian yang diindividualisasi (invidualized consideration).
Stimulasi intelektual adalah sebuah proses dimana pemimpin meningkatkan kesadaran
terhadap masalah dan mempengaruhi para pengikut untuk memandang masalah-masalah
dari sebuah perspektif yang baru. Perhatian yang diindividualisasi merupakan sikap
memberikan dukungan, membesarkan hati dan memberikan pengalaman-pengalaman
tentang pengembangan kepada para pengikut. Selain itu juga perilaku transformasional
disebut sebagai inspirasi (atau motivasi inspirasional) (Bass& Aviolo, 1990). Dari
berbagai komponen kepemimpian transformasional yang disebutkan sebelumnya ini
merupakan cerminan dari sikap-sikap yang ditunjukkan oleh seorang Mandela. Mulai
dengan Mandela memberikan stimulasi intelektualnya kepada orang-orang yang bekerja
dengannya juga terhadap asosiasi Proteas yang menginginkan tim nasional Springbooks
untuk bubar. Sikap invidualized consideration juga ditunjukkan Mandela ketika,
14

memberikan pengalaman dan motivasi serta mendukung tim nasional Springbooks


untuk meraih juara dalam kejuaraan dunia dalam upaya mempersatukan seluruh rakyat
Afrika Selatan.
Gaya Kepemimpinan kotemporer: Servant Leadership
The first responsibility of a leader is to define reality. The last is to say thank you. In
between, the leader is a servant. Max DePree
Istilah servant leader dipakai untuk pertama kalinya oleh Robert K.
Greenleaf pada tahun 1970 dalam tulisannya yang berjudul The Servant as Leader.
Kepemimpinan yang melayani (Servant Leadership) merupakan suatu tipe atau model
kepemimpinan yang dikembangkan untuk mengatasi krisis kepemimpinan yang dialami
oleh suatu masyarakat atau bangsa. Para pemimpin-pelayan (Servant Leader)
mempunyai kecenderungan lebih mengutamakan kebutuhan, kepentingan dan aspirasi
orang-orang yang dipimpinnya di atas dirinya. Orientasinya adalah untuk melayani, cara
pandangnya holistik dan beroperasi dengan standar moral spiritual.
Kata pemimpin dan pelayan biasanya sering dipandang sebagai sesuatu yang
berlawanan.. Dalam hal ini kata pelayan dan pemimpin disatukan untuk menciptakan
gagasan paradoksal kepemimpinan pelayan. Istilah kepemimpinan pelayan muncul
berdasarkan suatu buku yang ditulis oleh Robert K. Greenleaf (1904-1990) pada tahun
1970 dengan bukunya yang berjudul The Servant as Leader . Greenleaf adalah Vice
President American Telephone and Telegraph Company (AT&T) . Tujuan utama
penelitian dan pengamatan Greenleaf akan kepemimpinan pelayan adalah untuk
mebangun suatu kondisi masyarakat yang lebih baik dan lebih peduli. Greenleaf
berpandangan bahwa yang dilakukan pertama kali oleh seorang pemimpin besar adalah
melayani orang lain. Kepemimpinan yang sejati timbul dari mereka yang motivasi
utamanya adalah keinginan menolong orang lain.
Apakah Kepemimpinan Pelayan Itu ?
Dari semua hasil karyanya, Greenleaf membicarakan keperluan akan jenis
baru model kepemimpinan, suatu model kepemimpinan yang menempatkan pelayanan
kepada orang lain, termasuk karyawan, pelanggan dan masyarakat sebagai prioritas
15

nomor satu. Kepemimpinan pelayan menekankan makin meningkatnya pelayanan


kepada orang lain, sebuah cara pendekatan holistik kepada pekerjaan, rasa
kemasyarakatan dan kekuasaan pembuatan keputusan yang dibagi bersama.
Greenleaf menyatakan bahwa pemimpin pelayan adalah orang yang mulamula menjadi pelayan. Dalam buku The Servant as Leader dia menulis : Ini dimulai
dengan perasaan alami bahwa orang ingin melayani, melayani lebih dulu. Kemudian
pilihan sadar membawa orang untuk berkeinginan memimpin. Perbedaan ini
memanifestasikan diri dalam kepedulian yang dimiliki oleh pelayan yang menempatkan
kebutuhan prioritas tertinggi orang lain adalah dilayani. Orang ini jauh berbeda dengan
orang yang menjadi pemimpin lebih dulu, mungkin karena keperluan untuk membantu
dorongan kekukasaan yang tidak biasa atau untuk memperoleh hak milik duniawi.
Pemimpin dulu dan pelayan dulu adalah tipe yang berbeda. Perbedaannya dilukiskan
dalam kepedulian yang diambil oleh pelayan lebih dulu untuk memastikan bahwa
kebutuhan prioritas tertinggi orang lain adalah dilayani. Ujian yang terbaik dan sulit
untuk melaksanakannya adalah apakah mereka yang dilayani tumbuh sebagai pribadi ,
atau apakah mereka ketika dilayani menjadi lebih sehat (lebih baik), lebih bijaksana,
lebih bebas, lebih mandiri, dan lebih memungkinkan diri mereka menjadi pelayan ? Dan
apakah pengaruhnya terhadap tanggung jawab dalam lingkungan social; akankah
menguntungkan atau merugikan ?
Sementara Max Depree, dalam bukunya The Art of Leadership mengatakan
bahwa kepemimpinan pelayan adalah Respek terhadap orang lain. Hal ini diawali
dengan mengerti bahwa setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda. Perbedaan
ini menuntut kita untuk dapat menumbuhkan rasa saling percaya.Perbedaan telah
menuntut kita untuk lebih mengetahui kekuatan orang lain. Setiap orang datang dengan
bakat yang kuhusus, tetapi bukan bakat yang sama.. Hidup bukan sekedar mencapai
tujuan. Sebagai individu dan bagian suatu kelompok kita membutuhkan pencapaian
potensi maksimal yang dimiliki. Seni dari kepemimpinan bersandar pada kemampuan
memfasilitasi, memberi kesempatan dan memaksimalkan setiap bakat yang berbeda dari
setiap individu. Jadi jelaslah bahwa kepemimpinan bukanlah suatu popularitas, bukan
kekuasaan, bukan keahlian melakukan pertunjukkan, dan bukan kebijaksanaan dalam
perencanaan jangka panjang. Dalam bentuk yang paling sederhana kepemimpinan

16

adalah menyelesaikan sesuatu bersama orang lain dan membantu orang lain dalam
mencapai suatu tujuan bersama.
Sepuluh Ciri Khas Kepemimpinan Pelayan

Dari beberapa tulisan Greenleaf, Spears (1996) menyimpulkan bahwa sedikitnya


terdapat sepuluh cirri khas kepemimpinan pelayan yang paling dominan, yaitu :
1. Mendengarkan (Listening receptively to what others have to say). Secara tradisional,
pemimpin dihargai karena keahlian komunikasi dan kemampuan mereka dalam
pembuatan keputusan. Pemimpin pelayan harus memperkuat keahlian yang penting
ini dengan menunjukkan komitmen yang mendalam dalam mendengarkan secara
intensif ide-ide atau kata-kata orang lain. Pemimpin pelayan berusaha mengenali dan
memahami dengan jelas kehendak kelompok. Mereka berusaha mendengarkan secara
tanggap apa yang dikatakan (dan tidak dikatakan). Mendengarkan dan memahami
apa yang dikomunikasikan oleh tubuh, jiwa dan pikiran.
2. Menerima orang lain dan Empati (Acceptance of others and having empathy for
them). Pemimpin pelayan berusaha keras memahami dan memberikan empati kepada
orang lain. Orang perlu diterima dan diakui sebagai suatu individu yang istimewa
dan

unik.

Setiap

individu

tidak

ingin

kehadirannya

dalam

suatu

organisasi/perusahaan ditolak oleh orang lain yang berada di sekitar dirinya.


Pemimpin pelayan yang paling sukses adalah mereka yang mampu menjadi seorang
pendengar yang penuh dengan empati.
3. Kemampuan

meramalkan

(foresight

and

intuition).

Kemampuan

untuk

memperhitungkan kondisi yang sudah terjadi atau meramalkan kemungkinan hasil


suatu situasi sulit didefinisikan, tetapi mudah dikenali. Orang mengetahui kalau
melihatnya. Kemampuan meramalkan adalah cirri khas yang memungkinkan
pemimpin pelayan bisa memahami pelajaran dari masa lalu, realita masa sekarang
dan kemungkinan konsekuensi sebuah keputusan untuk masa depan. Hal ini
menanamkan inti permasalahan sampai jauh ke dalam pikiran intuitif. Jadi
kemampuan meramalkan adalah salah satu cirri khas pemimpin pelayan yang dibawa
sejak lahir. Semua ciri khas lainnya bisa dikembangkan secara sadar.
4. Kesadaran (Awareness and perception). Kesadaran akan diri sendiri dan keberadaan
orang lain dapat turut memperkuat pemimpin pelayan. Kesadaran juga membantu
17

dalam memahami persoalan yang melibatkan etika dan nilai-nilai. Hal ini
memungkinkan orang dapat memandang sebagian besar situasi dari posisi yang lebih
terintegrasi.
5. Membangun kekuatan Persuasif (Having highly develoved power of persuasion). Ciri
khas kepemimpinan pelayan lainnya adalah mengandalkan kemampuan meyakinkan
orang lain, bukannya wewenang karena kedudukan, dalam membuat keputusan di
dalam organisasi. Pemimpin pelayan berusaha meyakinkan orang lain, bukannya
memaksakan kepatuhan. Elemen ini memberikan perbedaan yang paling jelas antara
model wewenang tradisional dan model kepemimpinan pelayan. Pemimpin pelayan
efektif dalam membangun konsensus dalam kelompok.
6. Konseptualisasi (An ability to conceptualize and to communicate concepts).
Pemimpin pelayan berusaha memlihara kemampuan mereka untuk memiliki impian
besar. Kemampuan untuk melihat kepada suatu masalah (atau sebuah organisasi)
dari persfektif konseptualisasi berarti bahwa orang harus berpikir melampaui realita
dari hari ke hari. Manajer tradisional disibukkan oleh kebutuhan untuk mencapai
tujuan operasional jangka pendek. Seorang manajer yang ingin menjadi pemimpin
pelayan harus mampu mengoptimalkan pemikirannya sampai mencakup pemikiran
konseptual yang mempunyai landasan lebih luas (visioner). Pemimpin pelayan harus
mengusahakan keseimbangan yang rumit antara konseptualisasi dan fokus seharihari.
7. Kemampuan Menyembuhkan (ability to exert a healing influence upon individual
and institutions). Belajar menyembuhkan merupakan daya yang kuat untuk
perubahan dan integrasi. Salah satu kekuatan besar kepemimpinan pelayan adalah
kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri dan orang lain. Banyak orang yang
patah semangat dan menderita karena berbagai masalah emosional. Walaupun hal
tersebut merupakan sesuatu yang alami dalam kehidupan manusia, akan tetapi
seorang pemimpin pelayan harus mampu dan mempunyai kesempatan menggerakkan
hati dan memberi semangat kepada orang-orang yang berhubungan dengan mereka.
8. Kemampuan Melayani. Peter Block (pengarang buku Stewardship dan Empowered
Manager) mendefinisikan kemapuan melayani (stewardship) dengan pengertian
memegang sesuatu dengan kepercayaan orang lain. Dalam suatu organisasi, setiap
level manajemen, dari top management sampai shoop floor semuanya mempunyai
peranan penting dalam memegang organisasi mereka dengan kepercayaan kepada
kebaikan masyarakat yang lebih besar. Kepemimpinan pelayan, seperti kemampuan
18

melayani, yang pertama dan terutama adalah memiliki komitmen untuk melayani
kebutuhan orang lain. Hal ini tentunya menekankan adanya keterbukaan dan
kejujuran, bukan pengendalian atau pengawasan.
9. Memiliki Komitmen pada Pertumbuhan Manusia. Pemimpin pelayan berkeyakinan
bahwa manusia mempunyai nilai intrinsik yang melampaui sumbangan nyata yang
telah mereka berikan selama ini. Dalam sifatnya yang seperti ini, pemimpin pelayan
sangat berkomitmen terhadap pertumbuhan pribadi, profesional dan spiritual setiap
individu di dalam organisasi. Dalam prakteknya hal ini bisa dikembangkan dengan
cara melakukan pengembangan pribadi dan profesional, menaruh perhatian pribadi
pada gagasan dan saran karyawan atau anggota, memberikan dorongan kepada
keterlibatan pekerja dalam pengambilan keputusan, toleran terhadap kesalahan dan
sebagainya.
10. Membangun komunitas/masyarakat di tempat kerja (Building community in the
workplace). Membangun komunitas ini mencakup membangun komunitas yang baik
antar karyawan, antar pimpinan dan bawahan dan membangun komunitas masyarakat
dan pelanggan. Pemimpin pelayan menyadari bahwa pergeseran komitmen lokal ke
suatu lingkungan yang lebih besar merupakan pembentuk utama kehidupan manusia.
Lingkungan kerja yang kondusif secara internal dan eksternal diharapkan akan
meningkatkan performansi organisasi secara maksimal. Kemampuan pemimpin
pelayan dalam menciptakan suasana rasa saling percaya akan membentuk kerjasama
yang cerdas dalam suatu tim kerja. Dengan ketulusan dan keteladan yang dimiliki
oleh pemimpin pelayan, rasa saling percaya dapat ditumbuhkan.

19

20

3.4. Olahraga Membangun Nasionalisme


Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat
berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.
(Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)
Olahraga merupakan kegiatan fisik yang dilakukan oleh sejumlah orang atau
masyarakat untuk berbagai kepentingan baik itu kepentingan kesehatan, pendidikan,
rekreasi, dan prestasi hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Rusli
Lutan dalam bukunya Manusia dan Olahraga, tujuan manusia melakukan aktifitas fisik
atau olahraga adalah pendidikan,rekreasi,kesehatan dan prestasi.
Menurut kamus lengkap bahasa Indonesia, penerbit Gitamedia Press, kata
olahraga merupakan kata kerja yang diartikan gerak badan agar sehat. Sedang menurut
para pakar olahraga, adalah sebuah aktivitas manusia yang bertujuan untuk mencapai
kesejahteraan (sejahtera jasmani dan sejahtera rohani) manusia itu sendiri.
Hans Kohn (Sumantri Mertodipuro,1984 : 11) dikutip dalam internet.
Mengatakan bahwa nasionalisme adalah paham yang berpendapat bahwa kesetiaan
tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Perasaan yang sangat
mendalam akan suatu ikatan yang erat dengan tanah tumpah darahnya, dengan tradisitradisi setempat dan penguasa-penguasa resmi di daerahnya selalu ada di sepanjang
sejarah dengan kekuatan yang berbedabeda.
Daerah yang telah mengalami konflik peperangan dalam jangka waktu panjang
secara tidak langsung akan mengalami pemudaran rasa nasionalime pada negaranya, hal
ini sesuai dengan pendapat Nasionalisme adalah suatu persatuan perangai atau karakter
yang timbul karena perasaan senasib. Olah raga memiliki kaitan tersendiri dalam bidang
nasionalisme anatara lain seperti pendapat yang dikemukakan oleh (Bona Beding :
2000: 5 ) dalam bukunya menjelaskan bahwa olahraga membawa keharuman bangsa
Olah raga sejak lama telah menjadi simbolisasi dari semangat jiwa manusia. Hal ini
dianggap nyata dan penting karena dalam pengolahan tubuh manusia, akan timbul
kesadaran untuk berorientasi pada satu tujuan. Pada cakupan kecil, ia menjadi usaha
manusia untuk menjaga kesehatan dan cara ampuh melawan penyakit serta
memaksimalkan raga dan pikiran. Pada cakupan yang lebih luas, ia mengandung makna
yang selalu dikaitkan dengan kemanusiaan, persaudaraan, dan semangat hidup.

21

Semangat yang universal sekaligus partikular yang ada dalam olah raga
tersebut juga dapat memperkuat rasa kebanggaan dan salah satu cara ampuh
memperkuat nasionalisme. Hal ini dapat dibuktikan dengan fakta sejarah bagaimana
prestasi di bidang olah raga mampu mengangkat derajat, harkat, dan martabat suatu
bangsa.. Hal ini dapat dibuktikan dengan fakta sejarah bagaimana prestasi di bidang
olah raga mampu mengangkat derajat, harkat, dan martabat suatu bangsa meskipun
dalam keadaan yang terpuruk. Argentina pernah berhasil mempecundangi Inggris di
Piala Dunia 1986 yang dianggap sebagai pembalasan dengan cara lain atas kekalahan
Argentina oleh Inggris di Perang Malvinas yang berakibat jatuhnya Kepulauan
Malvinas ke negara pulau itu. Argentina kemudian berhasil meraih juara I pada Piala
Dunia tersebut.
Olahraga membuka peluang bagi setiap orang untuk berprestasi dan
mengharumkan nama bangsanya. Dalam semangat HUT kemerdekaan Indonesia yang
ke-69 ini, cita-cita untuk membentuk manusia Indonesia yang tangguh dan berdaya
guna harus menjadi semangat kita dalam upaya membangun bangsa.
Olahraga merupakan bidang yang strategis untuk bisa merajut kembali rasa
kebersamaan bangsa. Tak lekang juga dari ingatan bagaimana kedigdayaan dunia bulu
tangkis kita. Prestasi demi prestasi yang ditorehkan di berbagai ajang bergengsi kelas
dunia membuat atlet bulu tangkis Indonesia menjadi yang paling disegani oleh atlet bulu
tangkis dari negara lain. Meski sekarang prestasi tersebut sudah sangat jauh menurun.
Yang dapat kita palajari dari hal tersebut adalah bagaimana olahraga telah menjadi alat
yang paling efektif untuk mengembalikan kebanggaan kita sebagai bangsa. Karena itu,
tidak salah tentunya jika kita mulai berpikir bahwa olahraga mempunyai potensi yang
sangat besar dalam menjaga semangat nasionalisme. Euforia tak boleh berhenti menjadi
kesenangan sesaat belaka.
Menurut Yukl (1998), risiko terhadap penggunaan strategi-strategi baru
membuat pentingnya para pemimpin untuk mempunyai ketrampilan dan keahlian untuk
melaksanakan strategi-strategi tersebut. Seorang pemimpin perlu memiliki ketepatan
waktu bersifat kritis dan peka terhadap kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai para
pengikut dan juga terhadap lingkungan agar dapat mengidentifikasi sebuah visi yang
inovatif, relevan, tepat waktu dan menarik. Sebagai seorang leader di suatu Negara,
Mandela memiliki ketrampilan dan keahlian tersebut. Hal ini dapat tergambarkan ketika
Mandela melihat peluang besar dan kesempatan emas untuk menyatukan kembali
22

negaranya melalui tim nasional olahraga rugby Afrika Selatan dalam kejuaran dunia.
Mandela melihat tim Springbooks dapat sebagai perantara dalam menyatukan
negaranya sehingga Mandela mendukung penuh tim nasional Afrika Selatan
Springbooks, yang pada akhirnya mampu menorehkan sejarah menjadi juara di
kejuaraan dunia dan pada saat bersamaan seluruh warganya telah melebur menjadi satu
untuk mendukung tim nasional mereka tanpa mempermasalahkan warna kulit.

23

BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan :
Intisari dari film ini adalah menggambarkan sosok Nelson Mandela yang kharismatis dan
seorang pemimpin besar yang penuh inspirasi. Dengan caranya sendiri dan dengan
keteguhannya sang pemimpin menjadikan olahraga sebagai salah satu alat untuk menghapus
perbedaan dan menjadi seorang pemimpin yang sukses menciptakan sebuah kemenangan.
Komunikasi juga merupakan hal yang sangat penting dalam kepemimpinan. Gaya persuasi
yang berwibawa tetapi lembut memberikan suasana lebih nyaman bagi para pegawai di
kantornya untuk bekerja bersama, tergambar dalam film tersebut. Tidak hanya
menyampaikan kata-kata penuh makna, tidak hanya untuk mengutarakan maksud dan
tujuan, tetapi juga mendengarkan orang lain, itu hal yang tidak kalah penting dalam
komunikasi. Mandela mau mendengarkan orang lain, ingin mengenal setiap hal lebih dekat.
Dalam kepemimpinan tidaklah hanya pendapat sendiri atau mayoritas yang menjadi suara
utama, melainkan setiap pandangan adalah berarti. Seorang pemimpin harus dapat
mengidentifikasi

potensi-potensi

yang

dimiliki

yang

dapat

dimanfaatkan

dalam

menyelesaikan permasalahan dalam kepemimpinannya, serta menemukan cara-cara untuk


dapat memberikan inspirasi kepada orang lain, baik oleh dirinya sendiri atau melalui agent
of change yang telah ia temu kenali.
Saran :
Film Biografi Nelson Mandela ini tentu sangat menginspirasi banyak kalangan dalam
penghapusan diskriminasi. Jika Marx menyebutkan bahwa stratifikasi yang kemudian
menimbulkan gejolak sosial yang terjadi dimasyarakat karena tingginya disparitas ekonomi
antara kaum yang tereksploitasi atau kaum tertindas (buruh) terhadap kaum pemilik modal
atau penindas (borjuis) lambat laun kemudian akan tersadarkan dan melakukan perlawanan
secara massif. Kondisi ini kemudian tercermin bukan hanya di Afrika Selatan melainkan
juga terjadi di repubik ini. Indonesia perlu melakukan kembali penataan pembangunan yang
berbasis kebutuhan sehingga pemerataan dari ujung barat hingga timur Indonesia menjadi
sesuatu hal yang perlu menjadi perhatian serius bangsa ini. Oleh anak bangsa harapan itu
semoga akan terwujud di bawah kepemimpinan baru selama lima tahun kedepan.

24

DAFTAR PUSTAKA

Covey, Stephen R.1992.Principle-Centered Leadership. United States of


America:Fireside
Griffin.. 2000. Management, Edisi 2, Jakarta : Erlangga
Riyanti, Sora. 2011. Perskanaka. Bali : LPM Kanaka Fakultas Sastra Universitas
Udayana
Sutanto, Jusuf. 2011. The Dancing Leader. Jakarta : Kompas
Yukl, Gary. 1998. Kepemimpinan Dalam Organisasi. Jakarta : PT Prenhallindo
http://leadhership.blogspot.com/
http://cintaimabar.blogspot.com/p/kepemimpinan-yang-melayani-servant.html
(http://fadluvvita.blogspot.com/p/pudarnya-rasa-nasionalisme-dan.html
http://www.ligamahasiswa.co.id/pupuk-nasionalisme-lewat-olahraga/

25