Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konjungtiva
Konjungtiva adalah satu lapisan membrane mucous yang nipis dan bening, dan
menyelaputi bagian anterior dari mata (kecuali kornea) dan permukaan dalam dari kelopak mata.
Epitelnya terdiri dari stratified columnar epithelium dengan sel goblet yang banyak, manakala
lapisan lamina proprianya terdiri dari jaringan ikat longgar. Konjungtiva mempunyai tiga bagian
berdasarkan anatomis; konjungtiva tarsalis, konjungtiva bulbi dan forniks.
Dari segi fisiologis, lapisan epitel dari konjungtiva memproduksi mucus, yang
merupakan pelincir yang sangat bagus. Ia juga mungkin mempunyai sel-sel melawan infeksi.
Jadi, konjungtiva memainkan peranan yang penting dalam sistem pertahanan imunologis untuk
bagian luar mata, dan memproduksi mukus yang sangat diperlukan untuk stabilitas tear film.
Tanpa lapisan mucin dari tear filem, lapisan tear yang lain akan destabilisasi, dan kornea bisa
terkompromi eksposure, kondisi kering, malnutrisi atau infeksi. Mukus juga melincirkan bola
mata untuk mengurangkan geseran dan lekatan dari kelopak mata.

2.2 Hipersensitiviti Tipe I (Immediate)


Tipe 1 Hipersensitiviti dimulai dengan sensitisasi mast cell atau basophil. Ketika
proses sensitisasi atau priming, alergen-spesifik antibodi IgE akan menempel pada reseptor di
permukaan mast cell dan basophil. Dengan eksposure seterusnya, alergen yang sudah
disensitisasi akan mengikat pada IgE pada sel dan memulakan satu siri proses-proses yang
akhirnya akan membawa kepada degranulasi mast cell atau basophil, yang menyebabkan
pelepasan preformed mediatornya.

Antara reaksi dari hipersensitiviti tipe I adalah anafilaksis, alergi, asma ekstrinsik, dan
alergi rhinitis. Lesi patologis termasuk dilatasi pembuluh darah, edema, kontraksi dari smooth
muscle, produksi mukus, dan inflamasi.

2.3 Konjungtivitis
Konjugtivitis dapat didefinisikan sebagai inflamasi konjungtiva akibat infeksi, alergen,
toksin atau trauma kimia. Konjungtivitis dapat dibagi menjadi dua; akut (5-7 hari) dan kronis (>7
hari). Dari segi etiologi, konjungtivitis dapat disebabkan oleh:
1. Virus
2. Bakteri
3. Alergi
4. Jamur
Perbedaan etiologi konjungtivitis:
Virus
Minimal
Menyeluruh
Sedang

Bakteri
Minimal
Menyeluruh
Mencolok

Jamur
Minimal
Menyeluruh

Alergi
Berat
Menyeluruh
Ringan sedang

Lakrimasi
Eksudasi
Adenopati
Preaurikuler

Amat banyak
Minimal
Biasanya ada

Sedang
Amat banyak
Langka

Sedang
Amat banyak
Biasanya hanya
pada k.inklusi

Sedang
Minimal
Tidak ada

Pewarnaan
kerokan
konjungtiva dan
eksudat

Monosit

Bakteri PMN

Sel PMN,
plasma, badan
inklusi

Eosinofil

Kaitan dengan
sakit
kerongkongan
dan demam

Kadang-kadang
ada

Kadang-kadang
ada

Tidak pernah

Tidak pernah

Gatal-gatal
Hiperemia

Kotoran

Sedikit, serous

Purulen: banyak
Non purulen
(mukopurulen):
sedikit

Kemosis
Pseudomembran
Papil
Folikel

+/+/+

++
+/+/-

Sedikit

Sedikit, lengket
putih

++
+
-

2.4 Konjungtivitis Alergi


Konjungtivitis alergi dapat didefinisikan sebagai bentuk radang konjungtiva akibat reaksi
alergi terhadap noninfeksi, dapat berupa reaksi cepat seperti alergi biasa dan reaksi lambat
sesudah beberapa hari kontak seperti pada reaksi terhadap obat, bakteri, dan toksik. Pasien
biasanya mempunyai riwayat atopi.
Etiologinya bisa menjadi hipersensitivitas tipe cepat atau lambat, atau reaksi antibodi
humoral terhadap alergen. Konjungtivitas alergi dapat diklasifikasi menjadi empat:
1. Konjungtivitis Vernal
2. Konjungtivitis flikten
3. Konjungtivitis iatrogenik
4. Konjungtivitis atopik

2.4 Konjungtivitis Vernal

Etiologi: reaksi Hipersensitivitas (tipe I) yang mengenai kedua mata


Ciri: papil besar dengan permukaan rata pada konjungtiva tarsal, dengan rasa gatal berat,
sekret gelatin yang berisi eosinofil, atau granula eosinofil, pada kornea terdapat
keratitis,neovaskularisasi, dan tukak indolen.

Epidemiologi: dapat rekuren dan bilateral terutama pada musim panas. Usia muda antara
3-25 tahun dan kedua jenis kelamin sama. Biasanya pada laki-laki mulai pada usia

dibawah 10 tahun. Vernal biasa terjadi pada anak-anak.


Dua bentuk utama (yang dapat bersamaan):
- Bentuk palpebra
Pada tipe palpebra terutama mengenai konjungtiva tarsal superior
Terdapat pertumbuhan papil yang besar yang diliputi skeret yang mukoid
Konjungtiva tarsal bawah hiperemi dan edema, dengan kelainan kornea lebih

berat dibanding dengan bentuk limbal.


Secara klinis papil besar ini tampak sebagai benjolan bersegi banyak dengan
permukaan yang rata dan dengan kapiler ditengahnya.

- Bentuk limbal

bentuk limbal, hipertrofi papil pada limbus superior yang dapat membentuk
jaringan hiperplastika gelatin, dengan Trantas dots yang merupakan degenerasi
epitel kornea atau eosinofil di bagian epitel limbus kornea, terbentuknya pannus,
dengan sedikit eosinofil.

2.5 Konjungtivitis flikten

Merupakan konjungtivitis nodulas yang disebabkan oleh karena alergi terhadap bakteri

atau antigen tertentu.


Pathogenesis: kerana alergi (Hipersensitiviti Tipe IV)
Epidemiologi: lebih sering ditemukan pada anak-anak di daerah padat, yang biasanya gizi
kurang atau sering mendapatkan radang saluran nafas. Biasanya unilateral dan kadang-

kadang mengenai kedua mata.


Ciri: Pada konjungtiva terlihat sebagai bintik putih yang dikelilingi daerah hiperemi,
kumpulan pembuluh darah yang mengelilingi suatu tonjolan bulat dengan warna kuning

kelabu seperti suatu mikroakses yang biasanya terletak di dekat limbus. Biasanya abses

ini menjalar kearah sentral atau kornea dan terdapat tidak hanya satu.
Gejala: mata berair, iritasi dengan rasa sakit, fotofobia dapat ringan sampai berat. Bila
kornea ikut terkena, selain rasa sakit pasien juga akan merasa silau disertai

blefarospasme.
Dapat sembuh sendiri dalam 2 minggu, dengan kemungkinan akan terjadi kekambuhan.

2.6 Konjungtivitis Iatrogenik

Konjungtivitis akibat pengobatan yang diberikan dokter.

2.7 Konjungtivitis atopik

Reaksi alergi selaput lendir mata atau konjungtiva terhadap polen, disertai dengan

demam.
Memberikan tanda mata berair, bengkak, belek berisi eosinofil.

Manifestasi klinis
Semua gejala bersifat rentan terhadap benda asing. Gejala utama adalah radang (merah,
sakit, bengkak, dan panas), gatal, silau berulang dan menahun. Tanda karakteristik lainnya
terlihat dengan terdapatnya papil besar pada konjungtiva (cobble stone), datang bermusim, yang
dapat mengganggu penglihatan. Pada hasil laboratorium ditemukan sel eosinofil, sel plasma,
limfosit dan basofil.

Diagnosis
1. Anamnesis

Gejala:
a. sekret, kelopak mata terasa lengket
b. mata merah
c. sensai benda asing
Rekurensi musiman (vernal): biasanya terjadi pada musim panas dan gatal terasa pada

sore hari
Riwayat alergi (atopi/alergi)

2. Pemeriksaan fisik

Konjungtivitas vernal/atopi:
- sekret seperti benang tebal
- papil konjungtiva besar (giant papil) pada konjungtiva tarsal superior atau limbus (tipe
palpebra)
- Shield ulcer pada kornea superior
- bintik putih pada limbus dan kelopak mata yang meninggi (horner-trantas dots) (tipe

limbal)
Konjungtivitas alergi:
- kemosis
- papil konjungtiva (bukan giant papil)
- sekret mucus minimal
- edema ringan
- eritema kelopak mata

Pemeriksaan Penunjang

Apus konjungtiva untuk kultur dan sensitivitas: agar darah, agar coklat, agar Thayermartin, pewarnaan gram jika parah

Penatalaksanaan
Diet dan gaya hidup:
1. Konjungtivitis alergi: hindari alergen atau eliminasi pemicu.
2. Pakai handuk, bantal, guling sendiri dan diganti setelah sembuh.

Terapi farmakologis:
1. Konjungtivitis vernal/atopic:
a) Edukasi
- hindari hal yang memicu timbulnya alergi: jangan panas-panasan
- kalau gatal kompres dingin
- kalau gatal sekali boleh ditambah antihistamine
b) Ringan
- Air mata atificial 6x/hari
- Mastel stabilizer 4x/hari
c) Sedang
- Levokabastin atau olopatadin HCL 0.1% 4x/hari
- Ketorolak 4x/hari
d) Berat
- Jika sekret banyak sekali dan visus turun
- Fluorometholon 4x/hari selama 1-2 minggu ditambah natrium kromolin 4% topical atau
lodoksamid untuk penyakit vernal atau atopi
- Jika ada shield ulcer (karena cobble stone yang melukai kornea) tambah dengan steroid
dan antibiotik topikal.

2. Konjungitivitis alergi:
a) hilangkan faktor pemicu
b) kompres dingin

c) AIr mata artificial


d) Olopatadin 1%, lodoksamid 0.1%, nedokromil 2%, ketofiten 0.025% 2x/hari
e) Steroid topical 4x/hari

Konjungtivitis

Injeksi konjungtiva pada konjungtivitis


Konjungtivitis adalah suatu peradangan pada konjungtiva. Berdasarkan penyebabnya,
konjungtivitis dapat diklasifikasikan menjadi:
Infeksi
bakterial
virus
parasit
Jamur
Noninfeksi
iritasi yang tetap (mata kering)
alergi
toksin
Berdasarkan perjalanan penyakitnya terbagi menjadi:
1.
Konjungtivitis akut : biasanya dimulai pada satu mata yang menyebar ke mata yang
sebelahnya, terjadi kurang dari 4 minggu.
2.
Konjungtivitis kronik : terjadi lebih dari 4 minggu.
Patofisiologi Konjungtivitis
Konjungtivitis alergika disebabkan oleh respon imun tipe 1 terhadap alergen. Alergen terikat
dengan sel mast dan reaksi silang terhadap IgE terjadi, menyebabkan degranulasi dari sel mast
dan permulaan dari reaksi bertingkat dari peradangan. Hal ini menyebabkan pelepasan histamin
dari sel mast, juga mediator lain termasuk triptase, kimase, heparin, kondroitin sulfat,
prostaglandin, tromboksan, dan leukotrien. histamin dan bradikinin dengan segera menstimulasi
nosiseptor, menyebabkan rasa gatal, peningkatan permeabilitas vaskuler, vasodilatasi,
kemerahan, dan injeksi konjungtiva.3
Tanda tanda konjungtivitis adalah:
Hiperemis konjungtiva bulbi (Injeksi konjungtiva). Kemerahan paling nyata didaerah
forniks dan berkurang ke arah limbus, disebabkan dilatasi arteri konjungtiva posterior akibat
adanya peradangan. Warna merah terang mengesankan konjungtivitis bakterial, dan warna
keputihan mirip susu mengesankan konjungtivitis alergi.

Mata berair (Epiphora). Sekresi air mata diakibatkan oleh adanya sensasi benda asing
atau karena gatal.
Eksudasi (Sekret), terutama pada pagi hari. Pada konjungtivitis sekret dapat bersifat:
Serous-mukous, kemungkinan disebabkan infeksi virus akut
Mukous (bening, kental), kemungkinan disebabkan alergi
Purulent/ Mukopurulen, kemungkinan disebabkan infeksi bakteri
Pseudoptosis, yaitu turunnya palpebra superior akibat kelopak mata bengkak. Terdapat
pada konjungtivitis berat seperti trachoma dan keratokonjungtivitis epidemik.
Tanda lainnya adalah hipertrofi papila, kemosis konjungtiva, folikel (khas terdapat pada
konjungtivitis virus), pseudomembran dan membran, flikten, dan limfadenopati preaurikuler.
Pemeriksaan laboratorium sekret konjungtiva bulbi akan memberikan gambaran khusus untuk
jenis infeksi, yang akan memperlihatkan tanda-tanda infeksi virus, bakteri,jamur, atau alergi pada
pemeriksaan sitologik.

Diagnosis Banding Konjungtivitis


Virus
+
+
Serous
mucous

Gatal
Mata merah
Hemoragi
Sekret
Kemosis
Lakrimasi
Folikel
Papil
Pseudomembra
n
Pembesaran
kelenjar limfe
Panus
Bersamaan
dengan
keratitis
Demam
Sitologi

Alergi
++
+
Viscus

Toksik
+
-

++
+

Bakteri
++
+
Purulen,
kuning,
krusta
++
+
+

++
+
+
+
-

++

Granulosit

Limposit,
monosit

Eosinofil

Sel epitel,
granulosit

Diagnosa Banding Konjungtivitis


Konjungtivitis

Keratitis

Uveitis Anterior

Glaukoma Kongestif

Akut
Visus

Normal

Tergantung letak
infiltrat

Hiperemi
Epifora,
fotofobia
Sekret
Palpebra

konjungtiva

perikornea

Menurun perlahan,
tergantung letak
radang
siliar

Banyak
Normal

Normal

normal

Kornea

Jernih

Bercak infiltrat

COA

Cukup

cukup

H. Aquous

Normal

normal

Iris

Normal

normal

Pupil
Lensa

Normal
Normal

normal
normal

Menurun mendadak
Mix injeksi
-

Edema
Edema, suram (tidak
Gumpalan sel radang
bening), halo (+)
Sel radang (+)
dangkal
Sel radang (+), flare
Kental
(+), tyndal efek (+)
Kadang edema
Kripta menghilang
(bombans)
karena edema
miosis
Mid midriasis (d:5mm)
Sel radang menempel
Keruh

Terapi spesifik terhadap konjungtivitis tergantung temuan agen mikrobiologiknya. Sambil


menunggu hasil laboratorium, dapat diberikan terapi empirik dengan antibiotika spektrum luas
secara topikal atau sistemik, misalnya: gentamisin, kloramfenicol, tobramisin, polimiksin, dll.
Komplikasi yang terjadi apabila tidak ditangani dengan baik berupa terjadinya keratitis, ulkus,
dan bisa perforasi sehingga menyebabkan uveitis anterior, glaukoma, dan endoftalmitis.
Diagnosa Konjungtivitis
Gejala penting konjungtivitis adalah sensasi benda asing, yaitu tergores atau panas, sensasi
penuh di sekitar mata, gatal dan fotofobia. Sensasi benda asing dan tergores atau terbakar sering
berhubungan dengan edema dan hipertrofi papiler yang biasanya menyertai hiperemi
konjungtiva. Sakit pada iris atau corpus siliaris mengesankan terkenanya kornea.4
Tanda penting konjungtivitis adalah hiperemia, berair mata, eksudasi, pseudoptosis, hipertrofi
papiler, kemosis (edem stroma konjungtiva), folikel (hipertrofi lapis limfoid stroma),
pseudomembranosa dan membran, granuloma, dan adenopati pre-aurikuler.4
Gejala Konjungtivitis8
1.
Rasa adanya benda asing
Rasa ini disertai dengan rasa pedih dan panas karena pembengkakan dan hipertrofi papil. Jika
rasa sakitnya berat, maka harus dicurigai kemungkinan terjadinya kerusakan pada kornea.
1.
Rasa sakit yang temporer
2.5.1

Informasi ini dapat membentu kita menegakkan diagnosis karena rasa sakit yang datang pada
saat-saat tertentu merupakan symptom bagi infeksi bakteri tertentu, misalnya;
Sakitnya lebih parah saat bangun pagi dan berkurang siang hari, rasa sakitnya (tingkat
keparahan) meningkat setiap harinya, dapat menandakan infeksi stafilokokus.
Sakit parah sepanjang hari, berkurang saat bangun tidur, menandakan keratokonjungtiva
sisca (mata kering).
1.
Gatal
Biasanya menunjukkan adanya konjungtivitis alergi.
1.
Fotofobia
Tanda Penting Konjungtivitis8
1.
Hiperemi
Hiperemi pada konjungtivitis berasal dari rasa superficial, tanda ini merupakan tanda
konjungtivitis yang paling mancolok. Hiperemi yang tampak merah cerah biasanya menandakan
konjungtivitis bakterial sedangkan hiperemi yang tampak seperti kabut biasanya menandakan
konjungtivitis karena alergi. Kemerahan paling nyata pada forniks dan mengurang ke arah
limbus disebabkan dilatasi pembuluh-pembuluh konjungtiva posterior. Terdapat perbedaan antara
injeksi konjungtiva dan siliaris yaitu;
2.5.2

Injeksi Konjungtiva

Kausa
Lokasi
Warna
Pembuluh darah
Adrenalin
Sekret
Intensitas Nyeri

Injeksi Siliaris
Keratitis, Iridosiklitis,
Iritasi, Konjungtivitis
Glaukoma Akut
Forniks ke limbus makin kecil Limbus ke forniks makin kecil
Merah terang
Merah padam
Bergerak dengan dengan
Tidak bergerak
konjungtiva
Menghilang
Menetap
Sekret (+)
Lakrimasi (+)
Sedikit
Nyeri

Gambar 3. Atas. Injeksi konjungtivitis, Bawah. Injeksi siliaris


Lakrimasi
Diakibatkan oleh adanya sensasi benda asing, terbakar atau gatal. Kurangnya sekresi airmata
yang abnormal mengesankan keratokonjungtivitis sicca.4
1.
Eksudasi
Eksudasi adalah ciri semua jenis konjungtivitis akut. Eksudat berlapis-lapis dan amorf pada
konjungtivitis bakterial dan dapat pula berserabut seperti pada konjungtivitis alergika, yang
biasanya menyebabkan tahi mata dan saling melengketnya palpebra saat bangun tidur pagi hari,
dan jika eksudat berlebihan agaknya disebabkan oleh bakteri atau klamidia.4
1.
Pseudoptosis
Pseudoptosis adalah turunnya palpebra superior karena infiltrasi ke muskulus muller (M. Tarsalis
superior). Keadaan ini dijumpai pada konjungtivitis berat. Misalnya Trachoma dan
keratokonjungtivitis epidemika.4

Khemosis (Edema Konjungtiva)


Ini terjadi akibat terkumpulnya eksudat di jaringan yang longgar. Khemosis merupakan tanda
yang khas pada hay fever konjungtivitis, akut gonococcal atau meningococcal konjungtivitis,
serta kerato konjungtivitis.
1.
Hipertrofi Papil
Hipetropi papil merupakan reaksi non spesifik, terjadi karena konjungtiva terikat pada tarsus atau
limbus di bawahnya oleh serabut-serabut halus. Ketika berkas pembuluh yang membentuk
substansi papila sampai di membran basal epitel, pembuluh ini bercabang-cabang di atas papila
mirip jeruji payung.4
1.
Pembentukan Folikel
Folikel adalah bangunan akibat hipertrofi lomfoid lokal di dalam lapisan adenoid konjungtiva
dan biasanya mengandung sentrum germinotivum. Kebanyakan terjadi pada viral conjungtivitis,
chlamidial conjungtivitis, serta toxic conjungtivitis karena topical medication. Pada pemeriksaan,
vasa fecil bisa terlihat membatasi foliker dan melingkarinya.
1.
Pseudomembran dan Membran
Pseudomembran adalah koagulum yang melapisi permukaan epitel konjungtiva yang bila lepas,
epitelnya akan tetap utuh, sedangkan membran adalah koagulum yang meluas mengenai epitel
sehingga kalau dilepas akan berdarah.
1.
Adenopati Preaurikuler
Beberapa jenis konjungtivitis akan disertai adenopoti preaurikular. Dengan demikian setiap ada
radang konjungtiva harus diperiksa adalah pembebasan dan rasa sakit tekan kelenjar limfe
preaurikuler.
1.

Pemeriksaan mata awal termasuk pengukuran ketajaman visus, pemeriksaan eksternal dan slitlamp biomikroskopi.Pemeriksaan eksternal harus mencakup elemen berikut ini:5
Limfadenopati regional, terutama sekali preaurikuler
Kulit: tanda-tanda rosacea, eksema, seborrhea
Kelainan kelopak mata dan adneksa: pembengkakan, perubahan warna, malposisi,
kelemahan, ulserasi, nodul, ekimosis, keganasan
Konjungtiva: bentuk injeksi, perdarahan subkonjungtiva, kemosis, perubahan sikatrikal,
simblepharon, massa, sekret
Slit-lamp biomikroskopi harus mencakup pemeriksaan yang hati-hati terhadap:5
Margo palpebra: inflamasi, ulserasi, sekret, nodul atau vesikel, nodul atau vesikel, sisa
kulit berwarna darah, keratinisasi
Bulu mata: kerontokan bulu mata, kerak kulit, ketombe, telur kutu dan kutu
Punctum lacrimal dan canaliculi: penonjolan, sekret
Konjungtiva tarsal dan forniks
1.
Adanya papila, folikel dan ukurannya
2.
Perubahan sikatrikal, termasuk penonjolan ke dalam dan simblepharon
3.
Membran dan psudomembran
4.
Ulserasi
5.
Perdarahan

Benda asing
7.
Massa
8.
Kelemahan palpebra
Konjungtiva bulbar/limbus: folikel, edema, nodul, kemosis, kelemahan, papila, ulserasi,
luka, flikten, perdarahan, benda asing, keratinisasi
Kornea
1.
Defek epitelial
2.
Keratopati punctata dan keratitis dendritik
3.
Filamen
4.
Ulserasi
5.
Infiltrasi, termasuk infiltrat subepitelial dan flikten
6.
Vaskularisasi
7.
Keratik presipitat
Bilik mata depan: rekasi inflamasi, sinekia, defek transiluminasi
Corak pewarnaan: konjungtiva dan kornea
6.

Penatalaksanaan Konjungtivitis Alergi


Umumnya kebanyakan konjungtivitis alergi awalnya diperlakukan seperti ringan sampai ada
kegagalan terapi dan menyebabkan kenaikan menjadi tingkat sedang. Penyakit ringan sampai
sedang biasanya mempunyai konjungtiva yang bengkak dengan reaksi konjungtiva papiler yang
ringan dengan sedikit sekret mukoid. Kasus yang lebih berat mempunyai giant papila pada
konjungtiva palpebranya, folikel limbal, dan perisai (steril) ulkus kornea.3
1.
Alergi ringan
Konjungtivitis alergi ringan identik dengan rasa gatal, berair, mata merah yang timbul musiman
dan berespon terhadap tindakan suportif, termasuk air mata artifisial dan kompres dingin. Air
mata artifisial membantu melarutkan beragam alergen dan mediator peradangan yang mungkin
ada pada permukaan okuler.
1.
Alergi sedang
Konjungtivitis alergi sedang identik dengan rasa gatal, berair dan mata merah yang timbul
musiman dan berespon terhadap antihistamin topikal dan/atau mast cell stabilizer. Penggunaan
antihistamin oral jangka pendek mungkin juga dibutuhkan.
Mast cell stabilizer mencegah degranulasi sel mast; contoh yang paling sering dipakai termasuk
sodium kromolin dan Iodoxamide. Antihistamin topikal mempunyai masa kerja cepat yang
meredakan rasa gatal dan kemerahan dan mempunyai sedikit efek samping; tersedia dalam
bentuk kombinasi dengan mast cell stabilizer. Antihistamin oral, yang mempunyai masa kerja
lebih lama, dapat digunakan bersama, atau lebih baik dari, antihistamin topikal. Vasokonstriktor
tersedia dalam kombinasi dengan topikal antihistamin, yang menyediakan tambahan pelega
jangka pendek terhadap injeksi pembuluh darah, tapi dapat menyebabkan rebound injeksi dan
inflamasi konjungtiva. Topikal NSAID juga digunakan pada konjungtivitis sedang-berat jika
diperlukan tambahan efek anti-peradangan.
1.
Alergi berat
Penyakit alergi berat berkenaan dengan kemunculan gejala menahun dan dihubungkan dengan
peradangan yang lebih hebat dari penyakit sedang. Konjungtivitis vernal adalah bentuk

konjungtivitis alergi yang agresif yang tampak sebagai shield coneal ulcer. Rujukan spesialis
harus dipertimbangkan pada kasus berat atau penyakit alergi yang resisten, dimana memerlukan
tambahan terapi dengan kortikosteroid topikal, yang dapat digunakan bersama dengan
antihistamin topikal atau oral dan mast cell stabilizer. Topikal NSAID dapat ditambahkan jika
memerlukan efek anti-inflamasi yang lebih lanjut. Kortikosteroid punya beberapa resiko jangka
panjang terhadap mata termasuk penyembuhan luka yang terlambat, infeksi sekunder,
peningkatan tekanan intraokuler, dan pembentukan katarak. Kortikosteroid yang lebih baru
seperti loteprednol mempunyai efek samping lebih sedikit dari prednisolon. Siklosporin topikal
dapat melegakan dengan efek tambahan steroid dan dapat dipertimbangkan sebagai lini kedua
dari kortikosteroid. Dapat terutama sekali berguna sebagai terapi lini kedua pada kasus atopi
berat atau konjungtivitis vernal.
2.9
Komplikasi Konjungtivitis
Penyakit radang mata yang tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan pada
mata/gangguan pada mata dan menimbulkan komplikasi. Beberapa komplikasi dari
konjungtivitis yang tidak tertangani diantaranya:
1.
glaukoma
2.
katarak
3.
ablasi retina
4.
komplikasi pada konjungtivitis kataral teronik merupakan segala penyulit dari blefaritis
seperti ekstropin, trikiasis
5.
komplikasi pada konjungtivitis purulenta seringnya berupa ulkus kornea
6.
komplikasi pada konjungtivitis membranasea dan pseudomembranasea adalah bila
sembuh akan meninggalkan jaringan perut yang tebal di kornea yang dapat mengganggu
penglihatan, lama- kelamaan orang bisa menjadi buta
7.
komplikasi konjungtivitis vernal adalah pembentukan jaringan sikratik dapat
mengganggu penglihatan
3.10 Prognosa Konjungtivitis
Mata dapat terkena berbagai kondisi. beberapa diantaranya bersifat primer sedang yang lain
bersifat sekunder akibat kelainan pada sistem organ tubuh lain, kebanyakan kondisi tersebut
dapat dicegah bila terdeteksi awal dan dapat dikontrol sehingga penglihatan dapat dipertahankan.
Bila segera diatasi, konjungtivitis ini tidak akan membahayakan. Namun jika bila penyakit
radang mata tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan
dan menimbulkan komplikasi seperti Glaukoma, katarak maupun ablasi retina.