Anda di halaman 1dari 8

PERAN FUNGSI PENGAWASAN DPR

TERHADAP PERSIAPANTATA KELOLA BPJS YANG BAIK1

Soepriyatno2
Fungsi Pengawasan adalah salah satu fungsi yang berdasarkan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dimiliki oleh Dewan
Perwakilan Rakyat berikut dengan dua fungsi lainnya, yaitu Fungsi Legislasi
dan Fungsi Budgeting/Anggaran.
Konstitusi

Indonesiamengamanatkan

kepada

Negara

untuk

mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagai


perwujudan

dari

amanat

kontitusi

tersebut

dan

juga

dalam

rangka

pelaksanaan Fungsi Legislasi, maka DPR bersama dengan Pemerintah telah


menyusun dan mengesahkan Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN) dan kemudian dilengkapi dengan
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (UU BPJS).
Selain melaksanakan Fungsi Legislasi, DPR juga melaksanakan Fungsi
Budgeting, di mana setiap tahun DPR memberikan persetujuan terhadap
rancangan APBN yang diajukan oleh Pemerintah. Khusus untuk program
jaminan

sosial,

DPR

sangat

mendukung

upaya

Pemerintah

untuk

mempersiapkan berbagai tahapan transformasi PT. ASKES menjadi BPJS


Kesehatan, sehingga pada tanggal 1 Januari 2014 ketika BPJS Kesehatan
mulai beroperasi, masalah yang ada dapat diminimalkan. Dukungan DPR
tersebut antara lain dalam bentuk persetujuan untuk program peningkatan

Disampaikan pada acara Seminar Nasional XII Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) pada tanggal 6
November 2013 di Plenary Hall JakartaConvention Center.
2
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI merangkap Ketua Panitia Kerja BPJS DPRRI dari Fraksi Partai Gerindra.

kapasitas dan kapabilitas fasilitas pelayanan kesehatan dan juga untuk


anggaran bagi penerima bantuan iuran.
Setelah melaksanakan kedua fungsi tersebut di atas, DPR juga berusaha
untuk melaksanakan Fungsi Pengawasan dengan sebaik-baiknya, salah
satunya adalah melalui pembentukan Panitia Kerja BPJS (PANJA BPJS) yang
merupakan kelanjutan dari Panitia Kerja Jaminan Kesehatan Masyarakat
(PANJA

JAMKESMAS).

PANJA

BPJS

bekerja

simultan

dengan

rutin

mengundang para stakeholders terkait untuk membicarakan perkembangan


persiapan transformasi BPJS Kesehatan, hal ini dilakukan untuk mengawasi
apakah program Pemerintah tersebut telah berjalan baik sesuai dengan peta
jalan yang telah dibuat oleh Pemerintah sendiri.
Memasuki bulan November 2013, kurang dari 2 bulan lagi, BPJS
Kesehatan sudah mulai beroperasi, tentu masa persiapan menjadi lebih kritis
dan membutuhkan lebih banyak kerja keras serta pengawasan yang lebih
komprehensif. DPR melalui PANJA BPJS dan Komisi IX berulang kali
mengadakan rapat; baik itu rapat kerja, rapat dengar pendapat, maupun rapat
dengar pendapat umum, dengan Kementerian Kesehatan RI, Kementerian
Keuangan RI, Badan Pusat Statistik, Ikatan Dokter Indonesia, Asosiasi Rumah
Sakit Swasta Indonesia, Asosiasi Rumah Sakit Daerah seluruh Indonesia, dan
lain-lain untuk membahas persiapan beroperasinya BPJS Kesehatan.
Makalah ini akan menjabarkan pelaksanaan fungsi pengawasan DPR
terkait tahapan transformasi BPJS Kesehatan untuk memastikan tata kelola
BPJS yang baik, terutama mengenai proses penganggaran; baik untuk modal
awal BPJS, Penerima Bantuan Iuran BPJS Kesehatan maupun untuk
pemenuhan fasilitas pelayanan kesehatan penunjang; penerbitan peraturan
pelaksana UU BPJS, penahapan kepesertaan; dan e-katalog.

PENGANGGARAN
Terkait modal awal BPJS, di dalam UU BPJS disebutkan bahwa modal
awal bagi masing-masing BPJS adalah paling banyak sebesar Rp2 Triliun yang
bersumber dari APBN. Penetapan angka Rp2 Triliun di dalam UU BPJS
tersebut berasal dari Pemerintah dan sudah melalui perhitungan yang matang.
Namun, Pemerintah hanya menyediakan modal awal BPJS bagi masingmasing sebesar Rp500 Miliar melalui APBN-P 2013.
Hal ini patut menjadi perhatian kita bersama, karena meskipun Wakil
Menteri Keuangan Mahendra Siregar, menjelaskan bahwa alokasi anggaran
Rp500 Miliar tersebut telah melalui perhitungan yang matang terhadap
kebutuhan riil PT. ASKES untuk bertransformasi menjadi BPJS Kesehatan
dan PT. JAMSOSTEK untuk bertransformasi menjadi BPJS Ketenagakerjaan,
namun tentu kita tidak ingin di dalam prakteknya akan terjadi berbagai
masalah hanya karena minimnya modal awal untuk BPJS yang disediakan
oleh Pemerintah.
Lebih lanjut, Komisi IX DPR RI berulang kali mempertanyakan
keseriusan Pemerintah dalam mengalokasi anggaran bagi sektor kesehatan di
dalam APBN, terlebih apabila kita merujuk kepada Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2009 di mana anggaran kesehatan dialokasikan paling sedikit 5% dari
APBN dan 10% dari APBD di luar gaji, ketentuan ini belum pernah
dilaksanakan oleh Pemerintah. Data menunjukkan bahwa pada APBN 2010
alokasi anggaran kesehatan sebesar 2.39% dari APBN, pada tahun 2011
sebesar 2.51% dari APBN, pada tahun 2012 sebesar 2.34% dari APBN, dan
pada tahun 2013 sebesar 2.05% dari APBN. Bahkan dalam APBN Tahun
Anggaran 2014, alokasi anggaran kesehatan turun sekitar Rp 2 Triliun.
UU SJSN dan UU BPJS mengamanatkan bahwa iuran bagi fakir miskin
dan orang tidak mampu dibayarkan oleh Negara melalui APBN. Pemerintah
memakai data peserta JAMKESMAS yang pada tahun 2013 berjumlah sekitar

86.4 juta jiwa, dengan rencana alokasi anggaran sekitar Rp19.225/jiwa/bulan,


sehingga total anggaran yang dipersiapkan untuk tahun 2014 adalah sebesar
Rp19.93 triliun. Komisi IX DPR RI sangat menaruh perhatian terhadap
besaran alokasi anggaran PBI tersebut. Komisi IX menerima masukan dari
berbagai pemangku kepentingan di dunia kesehatan bahwa alokasi tersebut
masih sangat minim dan dikhawatirkan tidak dapat memenuhi kebutuhan
ketika nanti BPJS Kesehatan mulai beroperasi. Walaupun angka Rp19.225
tersebut telah disetujui dalam APBN 2014, namun Komisi IX DPR RI meminta
Pemerintah

untuk

mempertimbangkan

menaikkan

lagi

sesuai

dengan

kebutuhan riil pelayanan kesehatan di masyarakat.


Lebih lanjut, Komisi IX DPRRI juga menaruh perhatian khusus kepada
penduduk fakir miskin dan orang tidak mampu yang tidak termasuk dalam
skema PBI. Sebagaimana dilaporkan oleh Menteri Kesehatan bahwa saat ini
ada sekitar 45 juta jiwa penduduk Indonesia yang termasuk dalam skema
Jaminan

Kesehatan

Daerah

(JAMKESDA)

yang

diselenggarakan

oleh

Pemerintah Daerah. Peserta JAMKESDA saat ini terdiri dari orang tidak
mampu maupun fakir miskin juga yang tersebar di kantong_kantong
kemiskinan di daerah. Bagaimana dengan fakir miskin dan orang tidak
mampu yang selama ini sudah menikmati program JAMKESDA? Tentu sangat
tidak adil bagi mereka kalau mereka

tidak termasuk di dalam skema PBI

BPJS Kesehatan. Hal ini harus segera dicarikan jalan keluarnya oleh
Pemerintah.
Pemerintah memang mencadangkan anggaran sebesar Rp400 miliar
untuk fakir miskin dan orang tidak mampu yang tidak termasuk dalam skema
PBI, namun yang menjadi persoalan, apakah dana tersebut mencukupi dan
bagaimana pertanggungjawaban penggunaan anggarannya? Bukankah lebih
baik apabila Pemerintah melakukan pendataan ulang dengan memasukkan
fakir miskin dan orang tidak mampu yang belum termasuk dalam skema PBI
tersebut ke dalam data PBI, seperti gelandangan, pengemis dan anak-anak

yang terlantar? Sehingga proses pendataan dapat lebih akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan.
PERATURAN PELAKSANA
UU BPJS mengamanatkan kepada Pemerintah untuk membuat 8
Peraturan Pemerintah, 7 Peraturan Presiden, dan 1 Keputusan Presiden.
Sampai saat ini, baru 1 PP dan 1 Perpres, masing-masing Peraturan
Pemerintah nomor 101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan
Kesehatan dan Peraturan Presiden nomor 12 tahun 2013 tentang Jaminan
Kesehatan yang sudah diselesaikan oleh Pemerintah.
UU BPJS hanya memberikan waktu satu tahun untuk penyelesaian
peraturan pelaksana terkait BPJS Kesehatan dan waktu dua tahun untuk
penyelesaian peraturan pelaksana terkait BPJS Ketenagakerjaan. Dengan
jangka waktu setahun tersebut, seharusnya Pemerintah sudah menyelesaikan
seluruh peraturan pelaksana terkait BPJS Kesehatan pada tanggal 25
November 2012, namun hingga saat ini masih banyak yang belum selesai,
antara lain PP tentang Besaran dan tata cara pembayaran iuran selain
program Jaminan Kesehatan, Perpres tentang Besaran Iuran Jaminan
Kesehatan, Perpres tentang Besaran Iuran untuk PBI, dll.
Menteri Kesehatan, di dalam Rapat Kerja dengan PANJA BPJS Komisi IX
DPRRI menjanjikan bahwa seluruh peraturan pelaksana tersebut akan segera
selesai paling lambat akhir bulan November 2013. Terkait hal tersebut, Komisi
IX DPRRI benar-benar mendesak Pemerintah untuk segera menyelesaikan
pembahasan dan menerbitkan peraturan pelaksana. Hal tersebut penting agar
supaya segera diperoleh kejelasan mengenai bagaimana operasional BPJS
Kesehatan nantinya dan akan menjadi pegangan bagi PT. ASKES, PT.
JAMSOSTEK, dan seluruh pemangku kepentingan kesehatan termasuk
PERSI dalam menyiapkan langkah antisipasi.

PENAHAPAN KEPESERTAAN
Pada saat launching logo resmi BPJS Kesehatan di Sukabumi pada
tanggal 21 Oktober 2013 yang lalu, Presiden SBY menargetkan bahwa pada
tahap pertama beroperasinya BPJS Kesehatan tanggal 1 Januari 2014, sekitar
121,6 juta jiwa penduduk Indonesia akan menjadi peserta BPJS Kesehatan
dan mendapatkan jaminan kesehatan, angka 121,6 juta jiwa tersebut terdiri
dari 86.4 juta jiwa eks penerima Jamkesmas, 16 juta jiwa peserta ASKES, 7
juta jiwa peserta JPK JAMSOSTEK, dan 1.2 juta jiwa anggota TNI/POLRI
beserta keluarganya. Lebih lanjut, Presiden SBY meminta kepada PresidenRI
selanjutnya untuk meneruskan program BPJS Kesehatan tersebut sehingga
pada tanggal 1 Januari 2019, seluruh rakyat Indonesia sudah menjadi peserta
BPJS Kesehatan dan mempunyai jaminan kesehatan.
Terkait penahapan kepesertaan tersebut, ada beberapa catatan yang
ditekankan oleh DPR-RI, di antaranya adalah masalah masyarakat yang saat
ini telah menjadi peserta JAMKESDA serta masalah prosedur bagi masyarakat
umum yang ingin menjadi peserta BPJS Kesehatan.
Sampai saat ini Komisi IX DPR RI belum mendapatkan penjelasan, baik
dari Kementerian Kesehatan maupun dari PT. ASKES, tentang bagaimana
prosedur tentang bagi masyarakat umum yang secara mandiri maupun
berkelompok kepada Pemberi Kerjanya -

ingin mendaftarkan diri sebagai

peserta BPJS Kesehatan. Mahkamah Konstitusi telah memutuskan bahwa


bagi pekerja yang tidak didaftarkan sebagai peserta BPJS oleh pemberi
kerjanya, maka mereka dapat mendaftarkan diri secara mandiri ke BPJS. Hal
ini untuk memastikan bahwa tidak ada penduduk Indonesia yang terhambat
dalam hal pemenuhan haknya menerima jaminan sosial, terutama jaminan
kesehatan. Oleh karena itu, Kemenkes atau PT. ASKES perlu mengintensifkan
sosialisasi tentang prosedur pendaftaran sebagai anggota BPJS, termasuk cara

pembayaran, memperoleh kartu anggota BPJS, serta cara memperoleh


manfaat dari BPJS Kesehatan.
E-KATALOG
Pemerintah pada pertengahan tahun ini memperkenalkan program ekatalog obat generik dan alat kesehatan untuk pengadaan Pemerintah.
Dengan program e-katalog tersebut, maka semua pengadaan obat generic dan
alat kesehatan untuk kebutuhan Pemerintah akan dilaksanakan secara
tersentralistik dan mengacu pada daftar obat yang tercantum di dalam ekatalog yang termuat di dalam website resmi Pemerintah. Daftar obat tersebut
mencakup nama, kemasan, harga satuan terkecil dimana harga tersebut
sudah termasuk ongkos distribusi.
DPR sangat mengapresiasi langkah Pemerintah untuk menerapkan
program e-katalog dalam pengadaan obat generik dan alat kesehatan, karena
dengan e-katalog dapat meminimalisir penyimpangan yang seringkali terjadi di
dalam tender. Selain itu program e-katalog juga mempermudah rumah sakit
pemerintah dan dinas kesehatan dalam melakukan pengadaan karena tinggal
memilih berdasarkan spesifikasi harga dan jenis yang sudah jelas.
Namun demikian, DPR meminta Pemerintah untuk segera memperbaiki
berbagai keluhan yang timbul dari penerapan program e-katalog ini. Terutama
menyangkut masalah sosialisasi. Masih ada kepala dinas kesehatan atau
direktur rumah sakit yang masih bingung mengenai program ini karena belum
mendapatkan

sosialisasi.

Kementerian

Kesehatan

tidak

bisa

hanya

mengandalkan situs internet untuk menyebarkan informasi, tetap diperlukan


sosialisasi secara langsung kepada para pemangku kepentingan.
Selain itu, Pemerintah juga harus dapat menjawab kegelisahan dari
berbagai rumah sakit yang mengalami kekurangan stok obat karena proses
pengadaan e-katalog yang membutuhkan waktu cukup lama hingga obat

tersebut sampai di rumah sakit, terutama ketika terjadi kasus luar biasa di
suatu daerah tertentu.