Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PERCOBAAN

NO. PERCOBAAN

: 01

JUDUL

: MULTIMETER 1 (OHM METER)

NAMA PRAKTIKAN

: RONI APRIANTORO

KELAS/KELOMPOK

: TE1B / 1

TGL. PERCOBAAN

: 3 MARET 2015

PENYERAHAN LAPORAN

: 10 MARET 2015

PENGAMPU

: THOMAS AGUNG S., S.T., M.T.

NILAI

:...........................................................................................................................

KETERANGAN

:...........................................................................................................................

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
TAHUN 2014
1. NOMOR JOBSHEET

: 01

Politeknik Negeri Semarang,


Prodi Teknik Telekomunikasi

2. JUDUL
3. TUJUAN

Jurusan Teknk Elektro


Praktek Alat Ukur & Pengukuran

: MULTIMETER 1 (OHM METER)


:

1) Dapat mengoperasikan Ohm Meter analog dan digital dengan benar.


2) Dapat membandingkan nilai resistor antara yang tertera dan pengukuran.
3) Dapat membandingkan nilai resistor dalam berbagai macam hubungan/rangkaian antara
yang tertera dan pengukuran.

4. ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN :


1)
2)
3)
4)

Multimeter Analog
Multimeter Digital
Proto board
Resistor

1 buah
1 buah
1 buah
7 buah

5. TEORI SINGKAT :
Multimeter (Multitester, AVO meter), pada dasarnya alat ini merupakan gabungan dari alat
ukur dengan tegangan bolak-balik. Untuk mengetahui fungsi dan sifatnya, bacalah spesifikasi
alat tersebut.
Pada pengukuran tegangan (DC maupun AC) perlu diperhatikan sensitivitas yang
dinyatakan dalam Ohm/Volt. Resistansi dalam voltmeter (dalam ohm) = batas ukur (range)
X sensitivitas. Pelajari cara-cara : zero adjustment, memilih batas ukur, memilih terminal
yang dipakai, cara mengukur dan membaca skala penunjukan. Pada pengukuran tegangan AC
perlu diperhatikan pula spesifikasi daerah frekuensi. Perlu diketahui pula bahwa harga efektif
(rms) tegangan AC dikalibrasi (ditera) dengan gelombang sinusoide murni.
Ohm meter pada prinsipnya dibentuk dari Ammeter yang dipasang seri dengan baterai dan
resistansi yang diukur, ditambah dengan resistansi dalam Ammeter. Multimeter elektronik,
fungsi alat ini seperti multimeter biasa. Adanya rangkaian elektrinos menyebabkan alat ini
mempunyai beberapa kelebihan. Bacalah spesifikasi alat tersebut! Perhatikan tahanan dalam
pada pengukuran tegangan DC dan AC.
Pelajarilah kedudukan on-off, cara melakukan zero adjustment, cara memilih batas ukur, cara
mempergunakn probe dan cara membaca skala. Mengenai pemilihan skala perhatikan hal-hal
seperti pada multimeter biasa.

6. LANGKAH PERCOBAAN
1) Ukur nilai-nilai resistor yang telah disediakan denga memasang pada protoboard,
gunakan ohm meter analag dan ohm meter digital.
2) Bandingkan hasil pengukuran nilai resistor dengan nilai yang tertera pada masing-masing
resistor.
3) Hasilnya tulis dalam bentuk tabel 1.
1

Politeknik Negeri Semarang,


Prodi Teknik Telekomunikasi

Jurusan Teknk Elektro


Praktek Alat Ukur & Pengukuran

4) Ukur nilai resistansi total dari konfigurasi rangkaian berikut ini (gambar rangkaian), dan
variasikan nilai-nilai resistornya dari yang telah tersedia.
5) Bandingkan hasil pengukuran nilai resistor dengan nilai yang tertera pada masing-masing
resistor.
6) Hasilnya tulis dalam bentuk tabel 2.
7) Utarakan pandapat saudara dengan percobaan ini pada bagian pembahasan, perhitungan,
analisa data pada laporan saudara.
a

R1

R2

b
R2

R1

R3
R2

R1
R1

c
R2

dR3

R1

R2

R1

R3

R3

R1

R2
R4

R2

R6
R5

R3

R4

R7

7. DATA PERCOBAAN 1
TABEL 1
Nilai Tertera

Hasil Pengukuran ()

Resistansi ()

Toleransi (%)

Multimeter Analog

Multimeter Digital

39 K

38 K

38,3 K

56 K

55 K

55,1 K

Politeknik Negeri Semarang,


Prodi Teknik Telekomunikasi

Jurusan Teknk Elektro


Praktek Alat Ukur & Pengukuran

2K7

2K62

2,652 K

120 K

120 K

119,7 K

68 K

70

69,7

47 K

46,3 K

46,5 K

12 K

12,1 K

12,05 K

TABEL 2
Nilai Tertera
Hubungan Rangkaian
Seri
R1+R2
Seri
R1+R2+R3
Parallel
R1//R2
Seri Parallel
R1+(R2//R3)
Seri Parallel
(R1+R2)//R3
Seri Parallel
(R1+R2)//(R3+R4)
Seri Parallel
((R1+R2)//(R3+R4))
+
(R5+(R6//R7))

Hasil Pengukuran ()

Nilai dihitung ()

Multimeter Analog

Multimeter Digital

95 K

96 K

93,6 K

97,7 K

99 K

96,3 K

22,98 K

22,4 K

22,67 K

41,57 K

41,5 K

41 K

2,625 K

2,6 K

2,58 K

53,54 K

51 K

50,2 K

63,17 K

68 K

67,3 K

8. ANALISA DATA
Berdasarkan data yang diperoleh dari tabel 1, menyatakan bahwa nilai resistansi dari masingmasing resistor antara yang tertera pada penampang fisik resistor yang ditunjukkan dengan
gelang warna dengan nilai resistansi resistor sebenarnya yang dibuktikan dengan pengukuran
menggunakan multimeter analog maupun digital adalah berbeda nilainya. Adapun nilai
resistansi yang sama antara teori dan kenyataan adalah sangat sedikit persentasenya, itupun
hanya ditunjukkan dengan menggunakan multimeter analog (tabel 1, nilai resistor 120 K).
Keadaan seperti ini biasanya disebabkan oleh keterbatasan kemampuan mata dalam membaca
skala alat ukur dan kemampuan kita dalam mengira-ngira nilai yang ditunjukkan multimeter.
Nilai resistansi antara teori dan kenyataan di lapangan kebanyakan berbeda, namun nilai
3

Politeknik Negeri Semarang,


Prodi Teknik Telekomunikasi

Jurusan Teknk Elektro


Praktek Alat Ukur & Pengukuran

resistansi tersebut tetap benar selama nilai resistansinya masih dalam range toleransi (batas
atas dan batas bawah).
Dari data yang diperoleh dari tabel 2 yang menyatakan nilai resistansi dari resistor yang
berupa rangkaian seri/parallel/seri-parallel, bahwa nilai resistansi total antara rangkaian yang
dihitung menggunakan perhitungan teori dengan perhitungan menggunkan alat ukur adalah
berbeda nilai resistansi totalnya. Walaupun berbeda nilainya, namun selama masih dalam
range toleransi nilai tersebut tetap benar. Perhitungan nilai resistansi total akan terjadi
simpangan agak jauh jika resistor yang disusun dalam rangkaian mempunyai nilai toleransi
yang berbeda (tabel 2, rangkaian gambar g). Nilai resistansi akan semakin besar jika
resistor dipasang secara seri. Dan nilai resistansi akan menjadi kecil jika resistor dirangkai
dalam rangkain parallel.
Jika terjadi simpangan atau perbedaan nilai resistansi yang terlalu jauh dengan melampaui
nilai toleransi antara nilai resistansi yang ditunjukkan dengan perhitungan secara teori dan
pengukuran dengan multimeter maka dapat dipastikan bahwa resistor tersebut telah rusak
atau alat ukur yang sudah tidak layak dipakai atau rusak. Selain itu adapun pengaruh
tegangan baterai yang mulai berkurang dengan signifikan yang membuat pengukuran dari
multimeter digital menjadi tidak cocok lagi. Nilai resistansi yang ditunjukkan antara
perhitungan teori dengan hasil pengukuran yang berbeda dapat disebabkan karena alat ukur
yang mempunyai persentase kesalahan maupun pengaruh resistansi dalam dari alat ukur.
Untuk mengurangi tingkat kesalahan dalam pembacaan sebaiknya menggukan faktor pengali
yang sesuai, jika nilai resistansi resistor kecil gunakan faktor pengali yang kecil, jika nilai
resistansi resistor besar maka gunakan faktor pengali yang besar pula untuk penggunaan
multimeter analog. Perlu diperhatikan pula untuk selalu mengkalibrasi alat setiap mau ganti
faktor pengali, jika tidak dikalibrasi dengan benar maka semakin besar tingkat kesalahan
pengukuran.
Semakin sedikit simpangan atau perbedaan nilai resistansi yang tertera dengan nilai resistansi
yang dihitung melalui pengukuran, maka resistor tersebut dalam kondisi yang sangat baik.
Untuk penghitungan nilai resistansi yang besar akan lebih presisi jika menggunakan
multimeter digital, akan tetapi multimeter digital mempunyai kekurangan yaitu nilai yang
selalu berubah-ubah jika kita terlalu banyak gerakan.

9. TUGAS DAN PERTANYAAN


Dari rangkaian campuran berikut ini, hitung R total secara teori dan bandingkan denganb
hasil pengukuran, jika diketahui R1=2K2; R2=3K3; R3=1K5; R4=2K7; R5=4K7; R6=3K9;
R7=3K3

R1

R2

R6
R5

Jawaban :

R3

R4

R7
4

Politeknik Negeri Semarang,


Prodi Teknik Telekomunikasi
D1 :

Jurusan Teknk Elektro


Praktek Alat Ukur & Pengukuran

R1=2K2;
R2=3K3;
R3=1K5;
R4=2K7;
R5=4K7;
R6=3K9;
R7=3K3

D2 : R total secara teori dan hasil pengukuran ?


D3 : ((R1+R2)//(R3+R4))+(R5+(R6//R7))
RS1= R1+R2
= 2.200+3.300
= 5.500
RS2= R3+R4
= 1.500+2.700
= 4.200
RP1=

RS 1 xRS 2
RS 1+ RS 2
5500 x 4200
5500+4200

= 2381,443
RP2=

R 6 xR 7
R 6+ R 7
3900 x 3300
3900+3300

= 1787,5
RS3= R5+RP2
= 4700+1787,5
= 6487,5

Rtotal= RS3+RP1
5

Politeknik Negeri Semarang,


Prodi Teknik Telekomunikasi

Jurusan Teknk Elektro


Praktek Alat Ukur & Pengukuran

= 6487,5 + 2381,443
= 8868,943
Nilai Tertera
Hubungan Rangkaian
Seri Parallel
((R1+R2)//(R3+R4))+
(R5+(R6//R7))
=8,868 K

Hasil Pengukuran ()
Nilai dihitung
()

Multimeter Analog

Multimeter Digital

8,868 K

10,5 K

10,35 K

10. KESIMPULAN
Untuk dapat mengoperasikan Ohmmeter analog dan digital dengan benar, maka perlu
memperhatikan beberapa faktor berikut. Sebelum melakukan perhitungan dengan multimeter
alangkah lebih baik menghitung batas toleransi terlebih dahulu. Sebelum melakukan
pengukuran pastikan faktor pengali sesuai dengan spesifikasi komponen (untuk multimeter
analog), hal ini dilakukan untuk memperkecil prosentase kesalahan pengukuran. Jika terjadi
perbedaan nilai resistansi yang melampaui batas toleransi dapat dipastikan komponen
tersebut rusak atau alat ukur yang rusak. Penunjukan nilai pengukuran yang tidak presisi
dapat disebabkan beberapa faktor antara lain komponen yang rusak, alat ukur yang rusak,
pengaruh resistansi dalam dari alat ukur, menggunaka faktor pengali yang tidak sesuai, belum
dikalibrasi untuk multimeter analog, pengaruh tegangan baterai pada multimeter digital yang
mulai menurun, jarum probe yang terpasang kurang kencang, cara pembacaan yang tidak
sesuai prosedur penggunaan alat, dan protoboard yang mulai longgar menyebabkan
komponen tidak menancap dengan baik.
Untuk dapat membandingkan nilai resistor antara yang tertera dan pengukuran perlu
diketahui jika nilai resistansi secara perhitungan teori dengan kenyataan dilapangan adalah
berbeda. Sangat kecil kemungkinan untuk nilai resistansi yang sama antara teori dengan
kenyataan di lapangan. Nilai resistansi akan tetap benar selama masih dalam batas toleransi
(batas bawah dan batas atas) dari spesifikasi komponen. Semakin sedikit perbedaan nilai
resistansi antara hasil pengukuran dengan nilai pada teori maka komponen tersebut dalam
keadaan baik dan hasil pengukuran yang dilakukan adalah benar.
Nilai resistansi akan semakin besar jika resistor dipasang dalam rangkaian seri. Jika resistor
dipasang dalam rangkaian parallel maka nilai resistansinya akan semakin kecil. Nilai
resistansi total antara perhitungan teori dan pengukuran adalah berbeda. Jika nilai resistansi
totalnya masih dalam batas toleransi maka pengukuran yang kita lakukan adalah benar. Untuk
dapat membandingkan nilai resistor dalam berbagai rangkaian antara yang tertera dan
pengukuran perlu memperhatikan hal tersebut.