Anda di halaman 1dari 4

Hukum Berhutang untuk Qurban

Oleh: Badrul Tamam


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menjadikan banyak syariat untuk kebaikan hamba-hamba-Nya.
Shalawat dan salam untuk Rasulullah, yang keluarga dan sahabatnya.
Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mensyariatkan udhiyah(berkorban) sebagai sarana untuk bertaqarrub
kepada-Nya dan sebagai kemurahan untuk umat manusia pada hari raya. Allah telah memerintahkan kepada
bapak para Nabi, Ibrahim 'alaihis salam supaya menyembelih anaknya, Ismail. Lalu beliau menyambut perintah
Allah tadi tanpa ragu. Karenanya Allah Taala memberikan ganti dari langit sebagai tebusan bagi anaknya, Dan
Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. Al-Shafat: 107). Sejak saat itulah, umat
manusia menyembelih hewan ternak dalam rangka melaksanakan perintah Allah dengan mengalirkan darah.
Dan berkurban merupakan amal ketaatan yang sangat utama.
Kemudian sunnah ini diperintahkan kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dan beliau telah
melaksanakannya. Diriwayatkan dalam Shahihain, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam berkurban dua ekor
domba yang putih dan bertanduk. Beliau menyembelih sendiri dengan kedua tangannya sambil menyebut nama
Allah dan bertakbir serta meletakkan kakinya di samping lehernya.
Dan dalam riwayat lain dari Ibnu Umar radhiyallaahu 'anhuma, Adalah Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam selama
sepuluh tahun tinggal di Madinah, beliau selalu menyembelih kurban. (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi, sanadnya
hasan).
Sudah selayaknya setiap muslim bersemangat dalam mengikuti sunnah Nabinya Shallallahu 'Alaihi
Wasallam untuk berkurban. Semoga dengan demikian, dia akan menjadi orang mendapatkan kecintaan dari
Allah Subhanahu wa Ta'ala.





"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni
dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran: 31)
Keutamaan Berkurban

Tidak didapatkan hadits shahih yang menerangkan keutamaan berkurban kecuali semangat dan kesungguhan
Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dalam menjalankan syariat ini. Ada beberapa hadits yang masih
diperbincangkan keshahihannya, akan tetapi satu sama lain saling menguatkan. Di antaranya sabda
Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam,












Tidak ada satu amalan yang dikerjakan anak Adam pada hari nahar (hari penyembelihan) yang lebih dicintai
oleh Alah 'Azza wa Jalla daripada mengalirkan darah. Sungguh dia akan datang pada hari kiamat dengan
tanduk-tanduknya, kuku dan rambutnya. Sesunggunya darahnya akan sampai kepada Allah 'Azza wa Jalla
sebelum jatuh ke tanah (HR. Ibnu Majah dan al-Tirmidzi, beliau menghassankannya)
Dan sabda beliau ketika di tanya apakah sembelihan ini, maka beliau menjawab, Tuntunan ayah kalian Ibrahim.
Mereka bertanya, Apa bagian kita darinya/apa pahala yang akan kita dapatkan? Beliau menjawab, "Setiap helai
rambut, akan dibalasi dengan satu kebaikan. Lantas mereka bertanya, "Bagaimana dengan bulu (domba)?
Maka beliau menjawab, "Setiap bulu juga akan dibalas dengan satu kebaikan. (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi,
beliau menghasankannya)

"Setiap bulu juga akan dibalas dengan satu kebaikan.

Al-

Hadits
Hukum Berkurban Bagi yang Mampu
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum berkurban bagi yang mampu, antara wajib dan sunnah
muakkadah. Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat, berkurban hukumnya sunnah muakkadah.
Meninggalkannya, padahal mampu, termasuk sikap yang dibenci (makruh).
Sebagian ulama yang lain berpendapat hukumnya wajib bagi setiap keluarga muslim yang mampu
melaksanakannya. Hal tersebut didasarkan kepada firman Allah Taala,



Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (QS. Al-Kautsar: 2)
Dan juga sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, Siapa yang telah menyembelihnya sebelum shalat,
hendaknya dia mengulanginya. (Muttafaaq alaih)
Sikap yang paling selamat yang selayaknya diambil seorang muslim, tidak meninggalkan berkurban ketika
mampu, karena melaksanakan berkurban merupakan sikap yang melepaskan dirinya dari tanggungan dan
tuntutan. Dan keluar darinya adalah lebih selamat. Sedangkan bagi yang tidak mampu, tidak memiliki harta
kecuali sekedar mencukupi kebutuhan pokok keluarganya, maka berkorban tidak wajib atas mereka. Sedangkan
siapa yang memiliki tanggungan hutang, maka selayaknya mendahulukan pembayaran hutang atas berkurban.
Karena melepaskan diri dari beban tanggungan ketika mampu hukumnya wajib.

. . . Siapa yang memiliki tanggungan hutang, maka


selayaknya mendahulukan pembayaran hutang atas
berkurban. Karena melepaskan diri dari beban tanggungan
ketika mampu hukumnya wajib. . .
Siapa yang hendak mendapatkan jawaban lebih jelas berkenaan dengan hukum berkurban, silahkan baca
tulisan kami sebelumnya: Bantahan Terhadap yang Mewajibkah Berqurban
Berhutang Untuk Kurban
Meminjam uang (berhutang) untuk membeli hewan kurban pada dasarnya tidak dianjurkan, karena dia tidak
termasuk yang memiliki kelapangan dan juga kedudukan hutang jauh lebih penting.
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,













Jiwa seorang mukmin tergantung kepada hutangnya sehingga dibayarkan. (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi, beliau
mengatakan hadits hasan. Syaikh al-Albani juga menghassankannya dalam Shahih Sunan Ibnu Majah 2/53)
Hutang juga bisa menjadi sebab seseorang terhalang dari masuk surga, diriwayatkan dalam Shahih Muslim, ada
seseorang datang kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, lalu berkata, Bagaimana menurut Anda, jika aku
terbunuh di jalan Allah dalam kondisi sabar, berharap pahala dan maju terus tidak kabur, apakah Allah akan
menghapuskan kesalahan-kesalahanku? Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menjawab, Ya. Namun ketika
orang tersebut berbalik, Rasulullahshallallaahu 'alaihi wasallam memanggilnya atau memerintahkan untuk
dipanggilkan dia. Lalu Rasulullahshallallaahu 'alaihi wasallam bertanya, Apa yang kamu katakan tadi? Lalu
orang tersebut mengulangi pertanyaannya, dan Nabishallallaahu 'alaihi wasallam menjawab, Ya, kacuali hutang,
begitulah yang dikatakan Jibril. (HR. Muslim)
Dan dalam hadits lain dari Muhammad bin Jahsy, dia berkata, Kami pernah duduk di tempat jenazah bersama
Rasulullahshallallaahu 'alaihi wasallam, lalu beliau mengangkat pandangannya ke langit lalu meletakkan telapak
tangannya di dahinya sambil bersabda, Maha Suci Allah, betapa keras apa yang diturunkan Allah dalam urusan
utang-piutang? Kami diam dan meninggalkan beliau. Keesokan harinya kami bertanya, Ya Rasulullah, perkara
keras apa yang telah turun? Beliau menjawab, Dalam urusan utang-piutang. Demi Dzat yang jiwaku ada di
tangan-Nya, seandainya seorang laki-laki dibunuh di jalan Allah kemudian ia dihidupkan lalu dibunuh kemudian
dihidupkan lalu dibunuh (lagi) sedang ia memiliki hutang, sungguh ia tak akan masuk Surga sampai dibayarkan
untuknya utang tersebut. (HR. Al-Nasai dan al-Hakim, beliau menshahihkannya. Imam al-Dzahabi
menyepakatinya. Sementara syaikh al-Albani menghassankannya dalam Ahkam al-Janaiz, hal. 107)
Sedangkan bagi orang yang memiliki jaminan untuk membayarnya seperti gaji tetap atau semisalnya, maka dia
dibolehkan berhutang dan berkurban. Sementara orang yang tidak memiliki jaminan untuk membayarnya, maka
janganlah dia berhutang supaya tidak membebankan pada dirinya dengan sesuatu yang tidak diwajibkan seperti
kondisinya saat ini. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]
Tulisan Terkait:
1. Bolehkah Menjual Kulit Hewan Qurban Untuk Kepentingan Masjid?
2. Larangan Memotong Kuku dan Rambut Bagi Orang yang Ingin Berkurban

3. Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah


4. Amal-amal

Utama

di

Sepuluh

5. Bantahan Terhadap Pendapat yang Mewajibkan Qurban

Hari

Pertama

Dzulhijjah