Anda di halaman 1dari 10

2.

3 Activity Based Costing with Idle Capacity


Kelemahan model Activity Based Costing dalam model ini adalah hanya akan
memberikan gambaran mengenai kondisi perusahaan yang akurat pada saat ini.
Namun demikian, jika model Activity Based Costing ini tidak dapat digunakan untuk
melihat dari dampak efisiensi yang dilakukan oleh perusahaan. Meskipun perusahaan
dapat melakukan efisiensi sedemikian rupa, sehingga dapat menghilangkan salah satu
aktivitas yang dilakukannya. Hal tersebut belum tentu menjamin bahwa biaya-biaya
yang dikeluarkan perusahaan akan otomatis mengalami penurunan. Hal ini
dikarenakan, jika perusahaan menghilangkan aktivitas, maka biaya tetap dari aktivitas
tersebut tidak serta merta hilang, yang dapat dihilangkan adalah biaya non tetap.
Karena itu, model Activity Based Costing yang dapat dipergunakan untuk efisiensi
adalah model activity based costing yang memisahkan biaya tetap dengan biaya non
tetap.
Dalam model Activity Based Costing, pembagian biaya berdasarkan
prilakunya dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu biaya fleksibel dan biaya tetap
yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Maka biaya commited ini harus dibebankan berdasarkan kapasitas teoritis,
atau kapasitas praktikal. Kapasitas teoritis adalah kapasitas maksimal dari pengguna
sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Misalkan, perusahaan membayar
seseorang untuk berkerja dalam perusahaan selama 8 jam per harinya. Jumlah itulah
yang akan menjadi kapasitas teoritis orang per harinya. Sedangkan kapasitas teoritis
dari mesin adalah kapasitas terpasang dari mesin tersebut.
Literatur mengenai manajemen kapasitas pertama kali diterbitkan pada tahun
1920-an, berdasarkan literatur yang diterima oleh Robin Cooper dan Robert Kaplan,
literatur tersebut mengemukakan bahwa cost of idle capacity seharusnya tidak
termasuk kedalam cost of product atau cost of service dan harus dihapuskan dari
income statement (Sopariwala, 2006). Cooper dan Kaplan (1998:249) berpendapat
bahwa ketika activity cost driver rate berdasarkan practical capacity, cost of unused
capacity tidak akan dibebankan kedalam masing-masing produk atau konsumen,
namun cost of unused capacity akan dibebankan dengan menggunakan rational
customer rule, individu yang memiliki kekuasaan dalam menggunakan kapasitas. Jika
unused capacity berkaitan dengan lini produk, maka cost of unused capacity dapat
dibebankan kemasing-masing lini produk dimana permintaan terhadap produk
tersebut tidak dapat dipenuhi. Dalam konsep pengukuran kapasitas yang bersifat
tradisional kapasitas diukur dengan menggunakan theoretical, practical, budgeted, dan

actual yang bertujuan untuk membantu manajemen dalam membagi biaya fixed cost
dalam menilai persediaan untuk tujuan financial accounting. Ada beberapa kelemahan
dalam pendekatan tradisional yang diungkapkan oleh Cotton (2005) yaitu pendekatan
tradisional tidak dapat menjawab kenapa muncul idle capacity, pengalokasian unused
capacity dibebankan kedalam product cost dan perusahan tidak dapat mengendalikan
biaya yang tersembunyi didalam unused capacity, dan tidak dapat menentukan siapa
yang bertanggung jawab dalam manajemen kapasitas jika semua beban tersebut
dialokasikan kedalam overhead.
H.L.Grant dalam kaitannya dengan manajemen kapasitas
mengkritik mengenai pengalokasian biaya yang hanya berdasarkan
output yang dihasilkan sehingga jika produk yang dihasilkan besar
maka biaya per unit akan rendah dan jika produk yang dihasilkan
rendah

maka

Pengalokasian

biaya

perunit

biaya

yang

akan

tepat

tinggi

harus

(Stratton,

bisa

1996).

menggambarkan

bagaimana pengalokasian dari biaya dapat menggambarkan kondisi


yang sesungguhnya di dalam proses pemanfaatan sumber daya
yang ada sehingga dapat digunakan dalam menentukan harga
pokok penjualan secara tepat di samping dapat digunakan sebagai
salah satu alat untuk pengambilan keputusan investasi modal
(capital

expenditure).

pengukuran

baru

Saat

yang

ini

ada

memfokuskan

beberapa
terhadap

pendekatan
bagaimana

melakukan pengelolaan kapasitas, salah satunya adalah yang


dikembangkan

oleh

Consortium

for

Advanced

Manufacturing-

International (CAM-I) yaitu CAM-I capacity model. Selain itu konsep


Activity Based Costing dengan idle capacity dapat digunakan untuk
mengeluarkan biaya idle capacity sehingga pembebanan terhadap
biaya produk menjadi lebih tepat.
2.4 Time Driven Activity Based Costing
(Kaplan dan Anderson, 2007) mempresentasikan metoda baru Time Driven
Activity Based Costing. Metoda ini disajikan sebagai sebuah metoda revolusioner
dalam bidang biaya yang ditentukan. Di sisi lain, (Adkins 2008) menyatakan bahwa
TDABC bukanlah sesuatu yang baru, tetapi hanya merupakan pembaharuan dari
metoda ABC tradisional. Mengingat penetapan sumber aktivitas, sebuah versi baru

dari ABC menggunakan persamaan waktu. Prinsip metoda ini didasarkan pada
transformasi cost driver untuk persamaan waktu yang menyatakan waktu yang
dibutuhkan untuk melakukan kegiatan sebagai fungsi driver.Karakteristik tersebut
yang disebut dengan 'time driver', karena hal tersebut memimpin konsumsi waktu dari
sebuah aktivitas.
Adkins (2008) juga menyatakan, bahwa setiap proses estimasi rentan terhadap
kesalahan. Satu menit salah catat dalam waktu estimasi dikalikan dengan ribuan
transaksi dan hasilnya bisa sangat berbeda. Bahkan, kesalahan estimasi sederhana
tersebut mungkin bisa lebih besar dari itu dan akan berada di bawah metoda ABC
tradisional. Ketika mengalikan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas
sumber penghasilan per unit, kita bisa menghitung biaya aktivitas individu dan
transaksi. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut merupakan
perkiraan untuk setiap kasus tertentu. Persamaan waktu pemodelan adalah bagaimana
time driver dikelola oleh waktu yang dihabiskan oleh aktivitas. Dengan cara ini kita
bisa menghitung jumlah driver yang tidak terbatas. Persamaan waktu bisa menutupi
struktur komplikasi sebuah aktivitas. Setelah menggunakan TDABC, kita bisa
menekankan biaya dari bagian tugas.
Metoda ini perlu membuat analisis isi dari semua kegiatan dalam
penerapannya. Kita harus mendefinisikan semua kemungkinan variasi aktivitas yang
berjalan dan faktor waktunya. Dengan demikian kita bisa memperkirakan dan
menentukan konsumsi dari satu faktor melalui bukti penghitungan dengan Enterprise
Resource Planning (ERP) dan Customer Relationship Management (CRM) atau
dengan pengukuran waktu (Adkins, 2008) menunjukkan bahwa hanya vendor tertentu
dapat melakukan TDABC. Beberapa vendor utama perangkat biaya dapat menghitung
biaya melalui metoda penugasan ganda, yang dapat mendorong biaya berdasarkan
jumlah driver yang dikumpulkan atau menarik model biaya berdasarkan persamaan
yang referensinya secara otomatis diperbarui. Pengguna memiliki pilihan untuk
memilih metoda untuk bagian yang berbeda dari setiap modelnya.
Penerapan metoda TDABC memiliki langkah-langkah menurut Brugemann
(2005):
A. Penilaian biaya melalui keterangan sumber-sumber pembelanjaan pada
kapasitas yang tersedia.
1. Identifikasi kelompok sumber yang telah melakukankegiatan.
2. Estimasi biaya pada setiap kelompok sumber.

3. Estimasi kapasitas waktu praktik setiap kelompok sumber


4. Perhitungan biaya kelompok sumber dengan membagi total kelompok
biaya sumber dengan kapasitasnya yang tersedia.
B. Penilaian waktu untuk variasi yang dibutuhkan dalam menjalankan
aktivitas.
1. Identifikasi faktor yang berpengaruh pada periode waktu aktivitas yang
tepat(time driver), ketika kita menentukan faktor untuk setiap variasi nyata dari suatu
aktivitas.
2. Pembuatan persamaan waktu, yang mengekspresikan ketergantungan pada
berjalannya waktu aktivitas pada semua faktor berikutnya dengan mengakui nilai-nilai
faktor dan konsumsi perhitungan total waktu untuk setiap variasi aktivitas konkrit.
C. Kelipatan biaya unit dari sumber penghasilan tertentu denganwaktu total
konsumsi variasi konkrit dalam menjalankan proses dan meringkas biaya untuk setiap
sumber konsumsi
Metoda TDABC memiliki banyak keuntungan dibandingkan dengan teknik
akuntansi tradisional atau metoda ABC.Metoda ini memberikan mahalnya biaya
hanya ke dalam satu persamaan waktu, yang mencakup semua aspek khusus dalam
memilih aktivitas di database aktivitas perusahaan. TDABC mengalokasikannya
dengan cara yang lebih baik dan cara yang fair untuk aktivitas yang sesuai, pelanggan,
wilayah kerja, atau produk. TDABC menemukan kemungkinan kapasitas yang tidak
terpakai, memungkinkan perbaikan operasional, hal interaksi antara time driver,
mendeteksi proses tanpa nilai dan perubahan dalam produksi, pemuatan, pengiriman,
penyimpanan dll. TDABC adalah instrumen yang baik untuk mendesain strategi
rantai pasokan kompetitif yang baru, tidak hanya dengan anggota lain dari rantai,
tetapi juga antara divisi perusahaan tertentu dan sebagai instrumen untuk
mengidentifikasi profitabilitas pelanggan perusahaan dan peluang pasar baru.
TIME-DRIVEN ABC: PENDEKATAN YANG SEDERHANA DAN
AKURAT
Pendekatan alternatif untuk mengestimasi model ABC, yaitu
TimeDriven ABC, mampu mengatasi segala keterbatasan dari

Traditional ABC. Time-Driven ABC memerlukan dua estimasi baru


yaitu: (1) Biaya per unit dari kapasitas yang tersedia, dan (2)
konsumsi unit waktu oleh setiap aktifitas.

Estimasi Biaya Per Unit


Prosedur yang baru dimulai dengan menggunakan informasi
yang

sama

dengan

pendekatan

Traditional

ABC,

yaitu:

1.

Menentukan besarnya biaya dari sumber daya yang menyediakan


kapasitas. 2. Mengestimasi kapasitas aktual dari sumber daya yang
tersedia. Dengan estimasi dari: (1) Biaya dari kapasitas yang
tersedia, dan (2) Kapasitas pada prakteknya dari sumber daya yang
tersedia, maka dapat dihitung biaya per unit dari kapasitas yang
tersedia sebagai berikut:

Sebagai contoh, Diketahui data dari PT X: Jumlah biaya dari


tenaga kerja tidak langsung yang tersedia sebesar $ 84,000 (sudah
termasuk bonus). Jumlah biaya dari kapasitas computer yang
tersedia sebesar $ 30,000. Tenaga kerja tidak langsung ada 5 orang,
di mana masing-masing menyediakan 500 jam kerja untuk setiap
kwartal, atau totalnya sebanyak 2500 jam kerja. Kapasitas tenaga
kerja tidak langsung pada prakteknya sebanyak 2000 jam kerja per
kwartal. Kapasitas computer pada prakteknya sebanyak 500 jam per
kwartal. Berdasarkan data tersebut, maka biaya per unit (per jam
kerja) dari kapasitas tenaga kerja tidak langsung yang tersedia
adalah sebagai berikut:

Sedangkan biaya per unit (per jam) dari kapasitas komputer


yang tersedia adalah sebagai berikut:

Estimasi Unit Waktu


Bagian kedua dari informasi baru yang diperlukan pada
pendekatan Time-Driven ABC adalah estimasi waktu yang
diperlukan untuk melakukan suatu transaksi. Prosedur Time-Driven
ABC menggunakan estimasi waktu yang diperlukan setiap saat
transaksi terjadi. Estimasi unit waktu ini menggantikan proses
interview pekerja untuk mempelajari berapa persen waktu pekerja
yang dihabiskan untuk semua aktifitas. Sebagai contoh: Manajer PT
X mengestimasi unit waktu dari sumber daya tenaga kerja tidak
langsung dan computer sebagai berikut:

Tarif cost driver untuk aktivitas, menangani production runs,


bisa dihitung sebagai biaya menggunakan tenaga kerja tidak
langsung dan Komputer untuk setiap production run:

Selanjutnya, dapat dihitung pula tarif cost driver untuk


aktifitas support product dengan cara yang sama seperti
sebelumnya:

Update Model
Dengan pendekatan Time-Driven ABC, manajer perusahaan dapat dengan
mudah men-update model Time-Driven ABC perusahaannya untuk mencerminkan
perubahan kondisi operasionalnya. Selain itu, manajer juga dapat dengan mudah men-

update tarif cost driver untuk aktifitasnya. Ada dua hal yang menyebabkan tarif cost
driver untuk aktifitas berubah, yaitu: (1) Perubahan pada harga dari kapasitas yang
tersedia mempengaruhi tarif biaya per jam, dan (2) Perubahan pada tarif cost driver
merupakan perubahan pada efisiensi aktivitas. Adapun Kunci utama dari Time-Driven
ABC adalah: (1) Estimasi kapasitas pada prakteknya dari sumber daya yang terlibat
dan biayanya, dan (2) Estimasi unit waktu untuk melaksanakan aktivitas transaksi.

TIME-DRIVEN ABC VERSUS TRADITIONAL ABC


Pada tabel 4 ditunjukkan perbandingan implementasi TimeDriven ABC dengan Traditional ABC sebagai berikut:

Pada tabel 4 dapat terlihat bahwa Traditional ABC merupakan


model biaya push. Implementasinya dimulai dengan menetapkan
total biaya overhead terlebih dahulu, menghitung biaya per unit dari
aktifitas, dan pada akhirnya menghasilkan alokasi biaya kepada
produk. Sebaliknya, Time-Driven ABC merupakan model biaya

pull.

Implementasi

melakukan

estimasi

dari

Time-Driven

ABC

dimulai

dengan

dua

parameter,

dan

pada

akhirnya

menghasilkan alokasi biaya kepada produk.


Dapat disimpulkan bahwa Traditional ABC (Push Model)
menghitung biaya aktifitas yang actual dan membebankannya ke
produk. Sedangkan TimeDriven ABC menghitung biaya aktifitas
pada tarif standar dan menghilangkan biaya kapasitas yang tidak
digunakan. Pada pertengahan tahun 1980an, Traditional ABC hadir
menggantikan Traditional Costing yang sudah tidak relevan lagi
untuk digunakan oleh perusahaan-perusahaan. Adapun kelebihan
Traditional ABC dibandingkan dengan Traditional Costing adalah
sebagai berikut: (1) Menyediakan alternative metode penghitungan
dan analisis biaya yang lebih baik daripada Traditional Costing, (2)
Memberikan informasi yang efektif untuk pengambilan keputusan,
dan (3) Memberikan informasi yang berkelanjutan dalam penerapan
proses dan penurunan biaya.
Tetapi pada prakteknya, Traditional ABC memiliki banyak
kekurangan (keterbatasan) yang menyebabkannya sulit untuk
diterapkan di banyak perusahaan. Dan kemudian, Time-Driven ABC
hadir untuk memberikan alternatif yang lebih baik, lebih akurat, dan
lebih

sederhana

untuk

diterapkan

di

perusahaan-perusahaan.

Robert S. Kaplan dan Steven R. Anderson, menyatakan bahwa TimeDriven ABC akan memberikan perbaikan yang sangat hebat atas
sistem yang lama (Traditional ABC).
Kelebihan Model Time-Driven ABC
Kelebihan dari model Time-Driven ABC dibandingkan dengan
Traditional ABC adalah sebagai berikut:
1. Sangat mudah dan cepat diimplementasikan
2. Tidak mahal dan mudah diupdate
3. Mudah divalidasi dengan pengamatan langsung terhadap
model estimasi dari unit waktu
4. Mampu diterapkan pada perusahaan dengan skala besar

5. Mudah menggabungkan fitur spesifik untuk pesanan,


proses, supplier, dan pelanggan khusus
6.

Lebih

memandang

kepada

efisiensi

proses

dan

pemanfaatan kapasitas 7. Mampu meramalkan permintaan


sumber daya di masa mendatang berdasarkan prediksi
kuantitas pesanan dan kompleksitas.
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
Kesulitan implementasi dan pemeliharaan sistem Traditional
ABC menyebabkan sistem ini tidak efektif, mahal, memakan waktu,
dan sulit untuk di up-to-date. Kehadiran pendekatan Time-Driven
ABC mengatasi semua kesulitan dari semua persoalan Traditional
ABC. Time-Driven ABC menurunkan kebutuhan akan data, dan
hanya memerlukan estimasi dari dua hal berikut: (1) Biaya per unit
dari kapasitas yang tersedia, dan (2) konsumsi unit waktu oleh
setiap aktifitas.
Time-Driven

ABC

merupakan

pendekatan

yang

sangat

sederhana dibandingkan dengan Traditional ABC. Model ini mudah


dimplementasikan pada perusahaan, mudah diupdate, dan dapat
menangani perusahaan yang beroperasional pada skala besar.
Selain itu, model Time-Driven ABC secara eksplisit memasukkan
kapasitas sumber daya, menyoroti kapasitas sumber daya yang
tidak digunakan untuk tindakan manajemen selanjutnya, dan
memanfaatkan persamaan waktu yang memasukkan variasi di
dalam pesanan dan perilaku konsumen tanpa memperluas tingkat
kompleksitas model. Dengan adanya pendekatan Time-Driven ABC,
membuat implementasi sistem ABC yang awalnya rumit, mahal, dan
memakan waktu, dapat menjadi alat yang dapat menyediakan data
yang lebih berarti, cepat dan tidak mahal untuk diimplementasikan.

DAFTAR PUSTAKA
Oktavia, Deni. Implementasi Time Driven Activity Based
Costing (TDABC) pada Usaha Kecil Menengah (UKM) Tape Handayani
82 Bondowoso.