Anda di halaman 1dari 2

Tinja yang watery dan tanpa mukus atau darah biasanya disebabkan oleh enterotoksin virus,

protozoa atau disebabkan oleh infeksi di luar saluran gastrointestinal.


Tinja yang mengandungi darah atau mukus bisa disebabkan oleh infeksi bakteri yang
menghasilkan sitotoksin, bakteri enteroinvasif yang menyebabkan peradangan mukosa atau parasit
usus seperti E.histolytica, B.coli dan T.trichiura. Apabila terdapat darah biasanya bercampur dalam
tinja kecuali pada infeksi dengan E.histolytica, darah sering terdapat pada permukaan tinja dan
pada infeksi EHEC terdapat garis-garis darah pada tinja. Tinja yang berbau busuk didapatkan pada
infeksi dengan Salmonella, Giardia, Cryptosporidium dan Strongyloides.
Pemeriksaan mikroskopik
1. Pemeriksaan ini untuk mencari adanya lekosit dapat memberikan informasi tentang penyebab
diare, letak anatomis serta adanya proses peradangan mukosa. Lekosit dalam tinja diproduksi
sebagai respons terhadap bakteri yang menyerang mukosa kolon.
2. Pemeriksaan mencari telur atau parasit perlu dilakukan jika terdapat riwayat baru saja
berpergian ke daerah resiko tinggi, kultur tinja negatif untuk enteropatogen, diare lebih dari 1
minggu atau pada pasien immunocompromised.
3. Pasien yang dicurigai menderita diare yang disebabkan giardiasis, cryptosporidiosis,
isosporiasis dan strongyloides di mana pemeriksaan tinja negatif, aspirasi atau biopsi duodenum
atau yeyunum bagian atas mungkin diperlukan.
4. Biopsi duodenum adalah metode spesifik dan sensitif untuk diagnosis giardiasis, strongyloides
dan protozoa yang membentuk spora.
5. Kultur tinja harus segera dilakukan bila dicurigai terdapat Hemolytic Uremic Syndrome, diare
dengan tinja berdarah, bila terdapat lekosit pada tinja, KLB diare dan pada pasien
imunocompromised.
Komplikasi
1. Hipernatremia
2. Hiponatremia
3. Hiperkalemia
4. Hipokalemia
Pencegahan
1. Mencegah penyebaran kuman patogen penyebab diare
A. Pemberian ASI yang benar
B. Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping ASI
C. Penggunaan air bersih yang cukup
D. Membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis buang air besar dan sebelum
makan.
E. Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga.
F. Membuang tinja bayi yang benar
2. Membaiki daya tahan tubuh pejamu( host)
A. Memberi ASI paling tidak sampai usia 2 tahun.

B. Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan memberi makan dalam jumlah yang
cukup untuk memperbaiki status gizi anak.
C. Imunisasi campak