Anda di halaman 1dari 5

Nama : Rifky Octavia P

Anjurkan untuk BAK

Anjurkan untuk BAK

NIM

setiap 2-4 kali/jam

setiap 2-4 kali/jam

apabila ada tekanan dari

apabila ada tekanan dari

VU

VU

: 131211132019

Kelas : B

Faktor Resiko

Tn. Y

a. Usia
b. Memiliki

Observasi dan catat

Seorang laki laki berusia 65

riwayat infeksi
c. Klien memiliki
riwayat sering
mengonsumsi

tahun datang ke UGD RSUA

Retens

dengan keluhan susah buang air

i Urin

Diagnosa Medis : BPH

waktu & frekwensi


BAK

Genitourinary

makanan

(BPH Grade I)
a. Klien mengatakan harus
mengejan saat BAK
b. Saat miksi, hanya sedikit
urin yang keluar,

Pengosongan VU dapat
dilakukan

saat

ingin

Observasi distensi
bladder

tidur

Terhindar

Pola
Tidur

Saluran Kemih

Saw palmetto
Lycopene
Observasi intake dan

Kaji Pola Tidur &

Batasi konsumsi

Ciptakan suasana

alkohol, kafein dan

nyaman

diuretik

malam hari karena BAK

Hasil. Lab
BUN/Ureum : 8,8 mg/dl

dari

Terapi Alternatif

Ggn

pancaran lemah
c. Sering bangun pada

dengan

nyenyak

5-ARI agents

output

berkemih
Dapat

Terapi Farmakologi
Alpha-blocking agents

Monitor dan catat

konsumsi

Kriteria Hasil :

urin

kecil sudah 2 bulan.

alkohol
d. Kurang

berserat

jumlah, pancaran

Infeksi
(rendah)

kelebihan cairan

Adanya residual urin

Atur jadwal

Gunakan alat bantu

pemberian obat agar

tidur (mis : air hangat

tidak mengganggu

utk kompresi relax

waktu istirahat

otot)

Resiko
infeksi

Atur diet dengan

Dorong asupan

gizi seimbang

cairan adekuat

Hasil Skoring IPPS (INTRENATIONAL PROSTATE SYMPTOM SCORE)


Dalam satu bulan terakhir:
a. Terasa sisa kencing
b. Sering kencing
c. Terputus-putus
d. Tidak bisa menunda
e. Pancaran lemah
f. Mengejan
g. Kencing malam

012345
012345
012345
012345
012345
012345
012345

Total : 7 (Ringan)

a. Derajat berat Hiperplasia prostat bedasarkan gambaran klinik


Derajat I, colok dubur : penonjolan prostat, batas atas mudah diraba, sisa
volume urin <50ml.
b. Rektal grading, dengan rektal toucher
Stage 1 : prostat teraba 1 2 cm, berat 10 -25 gram
c. Clinical Grading
Pada pagi hari atau setelah klien minum banyak, klien diminta untuk miksi
sampai habis, dengan kateter diukur sisa urin dalam buli buli.
Grade 1 : sisa urin 0 -50 cc

Intervensi
Pemberian terapi pada klien dengan BPH didasarkan pada berat atau ringannya gejala yang timbul. Pada kasus Tn.Y, dengan melihat gejala yang
timbul, maka masih tergolong keluhan ringan. Hal ini didasarkan pada hasil pemeriksaan dengan sistem skoring IPSS. Dari skoring IPSS, klien
mendapat skor 7 atau dengan menggunakan skoring Madsen Inversen mendapat skor kurang dari 9. Tindakan yang dilakukan diantaranya :
1. Observasi (Watchfull Waiting)
Observasi dilakukan dengan melakukan pemeriksaan ulang setiap 3 hingga 6 bulan kemudian setiap tahun bergantung keadaan penderita.
Pada pemeriksaan ulang dilakukan skoring terhadap simtom, fisik, laboratorium dan flow urinnya.
2. Medikamentosa
Indikasi dari terapi medikamentosa adalah BPH dengan keluhan ringan, sedang dan berat tanpa disertai penyulit dan BPH dengan indikasi
terapi pembedahan namun masih terdapat kontra indikasi. Beberapa obat yang dapat digunakan adalah :
a. Penghambat Adrenergik Alfa
Obat yang biasa digunakan adalah prazosin, doxazosin, terazoxin, alfuzoxin atau yang lebih spesifik adalah alfa 1a (tamulosin).
Penggunaan antagonis alfa 1a secara selektif mengurangi obstruksi pada buli buli tanpa merusak kontraktilitas detrusor. Obat obat
ini menghambat reseptor yang banyak ditemukan pada otot polos trigonum, leher vesica, prostatdan kapsul prostat sehigga terjadi
relaksasi si daerah prostat. Hal ini akan menurunkan tekanan di daerah uretra pars prostatika sehingga gangguan aliran seni dan gejala
gejala akan berkurang. Biasanya pasien akan merasakan keluhan berkurang setelah 1 hingga 2 minggu mengonsumsi obat. Efek
samping yang mungkin timbul adalah pusing (dizziness), rasa lelah, sumbatan hidung dan lemas selain itu juga dapat menurunkan
tekanan darah sehingga harus diperhatikan tekanan darah klien sebelum memberikan obat untuk mencegah terjadinya hipotensi.

b. Penghambat Enzim Reduktase


Menggunakan obat finasteride (proscar) dengan dosis 1 x 5 mg/hari. Obat golongan ini akan menghambat pembentukan DHT
sehingga prostat yang membesar akan berangsur dapat mengecil. Obat ini berkerja lebih lambat dari golongan alfa bloker dan
manfaatnya hanya pada pembesaran prostat yang besar. Hingga saat ini efektivitas finasteride masih dalam penelitian lebih lanjut
karena hanya menunjukkan sedikit perbaikan pada klien setelah 6 12 bulan pengobatan. Salah satu efek samping obat ini adalah
melemahkan libido, ginekomastia dan dapat menurunkan PSA (masking effect).
Cara pengobatan konservatif dengan obat yang lain adalah menggunakan obat obat anti androgen yang berpengaruh pada
tingkat hipofisis. Misalnya dengan pemberian Gn-RH analogue sehingga menekan produksi testoteron oleh sel Leydig berkurang.
Cara ini dapat menyebabkan penurunan libido karena penurunan testoteron darah.
Pada tingkat prostat dapat diberikan obat anti androgen yang mekanismenya mencegah hidrolise testoteron menjadi DHT dengan
memberikan penghambat 5 alfa reduktase inhibitors, sehingga jumlah DHT berkurang tetapi jumlah testoteron tidak berkurang,
sehingga libido tidak berkurang.
Obat anti androgen lain yang juga berkerja pada tingkat prostat adalah obat yang mempunyai mekanisme kerja sebagai inhibitors
kompetitif terhadap reseptor DHT sehingga DHT tidak dapat membentuk kompleks DHT- reseptor. Obat ini juga tidak menurunkan
kadar testoteron dalam darah, sehingga libido tidak turun.
Pada keadaan lebih lanjut, seperti BPH dengan penyulit maka perlu dilakukan tindakan pembedahan. Tindakan / Intervensi Medis yang
paling tepat dan menjadi Gold standart pada klien dengan kasus di atas adalah TURP (Transurethral Resection of the Prostate), yaitu suatu
tindakan dimana bagain pembesaran prostat (benigna prostat) akan dihilangkan melalui bantuan alat endoskopi.
Rasional dari tindakan ini adalah klien memenuhi kriteria indikasi dilakukan tindakan TURP karena klien di atas memiliki berbagai
indikasi seperti: retensi urin, inkontinensia urin, hematuria, ISK (prostatitis), serta klien mengalami pembesaran prostat sehingga terjadi

obstruksi jaringan prostat yang menyebabkan klien kesulitan dalam berkemih untuk itu Dokter harus melakukan tindakan pembedahan TURP
tersebut. Indikasi tindakan operasi TURP antara lain:
1.
2.
3.
4.

Retensi urin akut


ISK kronik sekunder dengan residu urin pada bladder
Hematuria
Hidronefrosis

Sumber :
1. AUA practice guidelines committee. AUA guideline on management of benign prostatic hyperplasia (2003). Chapter 1: diagnosis and
treatment recommendations. J Urol 170: 530-547, 2003
2. Ignatavicius & Workman. 2010. Medical Surgical Nursing Patient Centered Collaborative Care 6th Edition. Canada: Elsevier. Hal 17121716
3. Purnomo, Basuki B. 2000. Dasar-Dasar Urologi. Sagung Sto, Jakarta.