Anda di halaman 1dari 14

PORIFERA DAN CNIDARIA

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Emi Lestari
: B1J013213
: VII
:3
: Senja Rahayu Kinanti

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Klasifikasi hewan didefinisikan sebagai penggolongan hewan ke dalam
kelompok tertentu berdasarkan kekerabatannya, yaitu yang berhubungan dengan
kontiguitas (kontak), kemiripan atau keduanya. Klasifikasi dapat berdasarkan
hubungan evolusi, habitat dan cara hidupnya. Klasifikasi berhubungan dengan upaya
mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri (idealnya seluruh ciri yang dimiliki)
(Darbohoesosdo, 1976).
Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomi
individu yang beranekaragam dan memasukkannya ke dalam suatu takson. Prosedur
identifikasi berdasarkan pemikiran yang bersifat deduktif. Pengertian identifikasi
berbeda sekali dengan pengertian klasifikasi. Identifikasi berhubungan dengan ciriciri taksonomi dalam jumlah sedikit (idealnya satu ciri), akan membawa spesimen ke
dalam satu urutan kunci identifikasi, sedangkan klasifikasi berhubungan dengan
upaya mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri (idealnya seluruh ciri-ciri yang dimiliki).
Peranan buku kunci identifikasi adalah mutlak diperlukan dalam melakukan
identifikasi. Determinasi merupakan cara untuk mengidentifikasi suatu makhluk
hidup dengan mencocokkan dengan buku panduan kunci determinasi (Mayr, 1969).
Porifera merupakan hewan yang berpori dan sering juga disebut hewan
berongga karena seluruhn tubuhnya dipenuhi oleh lubang-lubang kecil yang disebut
pori.

Hewan ini sederhana karna selama hidupnya menetap pada karang atau

permukaan benda keras lainnya di dasar laut. Phylum porifera yaitu spons hidup di
air dan sebagian besar hidup di air laut yang hangat dan dekat dengan pantai yang
dangkal walaupun ada pula yang hidup pada kedalaman 8500 meter bahkan lebih.
Spons sering ditemukan hidup melekat pada substrat yang keras dan hidupnya
berkoloni yang statif atau tidak bergerak . Spons belum memiliki alat-alat ekskresi
khusus dan sisa metabolismenya dikeluarkan melalui proses difusi yaitu dari sel
tubuh ke epidermir kemudian lingkungan hidup yang berair (Kimball, J.W. 1990).
Cnidaria merupakan hewan yang tidak mempunyai usus yang sesungguhnya,
tetapi pemberian nama dengan istilah Hewan Berongga itupun masih belum tepat
mengingat Coelenterata adalah hewan yang tidak mempunyai rongga tubuh yang
sebenarnya (coelom), yang dimiliki hanyalah sebuah rongga sentral yang ada di

dalam tubuh yang disebut coelenteron. Dalam kenyataan coelenteron merupakan alat
yang berfungsi ganda, yaitu sebagai alat pencerna makanan dan sebagai alat
pengedar sari-sari makanan ke seluruh sari-sari makanan ke seluruh bagian tubuh
(Jasin, 1992).

B. Tujuan
Tujuan praktikum acara Porifera dan Cnidaria, antara lain :
1. Mengenal beberapa anggota Phylum Porifera dan Cnidaria.
2. Mengetahui beberapa karakter penting untuk identifikasi dan klasifikasi anggota
Phylum Porifera dan Cnidaria.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengadakan klasifikasi yaitu
pencandraan sifat-sifat, pengelompokan berdasarkan ciri-ciri dan pemberian nama
kelompok. Pencandaraan (identification), setiap ciri, yang tengah diteliti harus
diperhatikan dan dijadikan sebagai data utama (main data). Langkah selanjutnya
yaitu

pengelompokkan

(classification).

Data

utama

yang

telah

diperoleh

dibandingkan dengan data acuan yang telah ada. Masukkan spesies tersebut pada
kelompok acuan ketika ditemukan suatu pola kemiripan. Langkah terakhir setelah
dikelompokkan, kelompok tersebut akan diberikan nama sesuai dengan karakteristik
umum spesies-spesies yang ada di dalamnya. Sebagai contoh, sapi, kucing, dan
anjing dapat dikelompokkan dalam mammalia (memamah biak) (Widiyadi, 2009).
Identifikasi penting artinya bila ditinjau dari segi ilmiahnya, sebab seluruh
urutan pekerjaan berikutnya sangat tergantung kepada hasil identifikasi yang benar
dari suatu spesies yang sedang diteliti. Dalam melakukan identifikasi, peranan buku
kunci identifikasi adalah mutlak diperlukan (Darbohoesodo, 1976). Identifikasi
makhluk hidup berarti suatu usaha menemukan identitas suatu makhluk hidup.
Identifikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara yang paling populer yakni
dengan membandingkan tumbuhan atau hewan yang ingin diketahui dengan gambar
didalam buku atau antara tumbuhan dengan material herbarium yang sudah diketahui
identitasnya (Suhardi, 1983).
Identifikasi dan pengenalan kelompok dan jenis hewan merupakan bagian
yang sangat penting dalam taksonomi. Salah satu alat bantu identifikasi adalah kunci
(identifikasi) yang dipakai untuk menentukan kedudukan hewan dalam sistematika
hayati. Ada kunci untuk menentukan Filum (Phylum), Kelas (Class), Bangsa (Ordo),
Suku (Family), Marga (Genus) dan Jenis (Species) hewan (Saanin, 1986).
Menurut Kozloff (1990) sebagaimana dikutip oleh Meutia Samira et al.
(2011). Spons adalah hewan metazoa multiseluler, yang tergolong ke dalam Phylum
Porifera, yang memiliki perbedaan struktur dengan metazoan lainnya. Romimohtarto
dan Juwana (1999) sebagaimana yang dikutip oleh Meutia Samira et al. (2011)
menyatakan bahwa hal ini disebabkan seluruh tubuh spons terbentuk dari sistem pori,
saluran dan ruang-ruang, sehingga air dapat dengan mudah mengalir keluar dan
masuk secara terus menerus. Hewan ini mencari makan dengan mengisap dan
menyaring air yang melalui seluruh permukaan tubuhnya secara aktif.

Ukuran tubuh Porifera sangat bervariasi, dari sebesar kacang polong sampai
setinggi 90 cm dan lebar 1 m. Bentuk tubuh Spons juga bermacam-macam, beberapa
simetri radial, tetapi kebanyakan berbentuk tidak beraturan dengan pola bervariasi.
Genus Leucosolenia adalah salah satu jenis spons yang bentuknya sangat sederhana,
seperti kumpulan jambangan kecil yang berhubungan satu sama lain pada bagian
pangkalnya, hidup di laut menempel pada batu karang di bawah batas air surut
terendah. Di dalam setiap individu yang berbentuk seperti jambangan tersebut
terdapat rongga yang disebut spongocoel atau atrium. Pada permukaan tubuhnya
terdapat lubang-lubang atau pori-pori yang merupakan lubang air masuk ke
spongocoel, kemudian akhirnya keluar melalui osculum (Soest et al., (2012),).
Secara umum spons terdiri dari beberapa jenis sel yang menyusun struktur
tubuh dan biomassanya. Sel-sel tersebut memiliki fungsi yang berperan dalam
organisasi tubuh spons. Dinding tubuh spons terorganisasi secara sederhana. Lapisan
luar dinding tubuh disusun oleh sel-sel pipih yang disebut pinacocytes. Pada dinding
tubuh spons juga terdapat pori-pori tempat masuknya air ke dalam tubuh, yang
dibentuk oleh porocyte. Sel-sel ini dapat membuka dan menutup dengan adanya
kontraks (Meutia Samira et al, 2011)
Pada bagian dalam pinacoderm terdapat mesohyl, yang terdiri dari matriks
protein bergelatin yang mengandung skeleton dan sel-sel amoeboid. Lapisan ini
berfungsi seperti jaringan ikat pada metazoa lainnya. Skeleton spons Demospongia
terbentuk dari spikula bersilika dan serat protein spongin. Spikula spons memiliki
jenis yang beragam, sehingga dijadikan dasar untuk identifikasi spons. Spikula
berada di dalam mesohyl, namun sering juga ditemukan pada lapisan
pinacoderm (Meutia Samira et al, 2011).
Phylum Porifera umumnya dikenal sebagai spons, yang terdiri dari lebih 8500
spesies didistribusikan di seluruh dunia, terutama di lingkungan laut. Lebih dari 83 %
dari spesies termasuk dalam Kelas Demospongiae, yang sebagian besar hidup dilaut
meskipun ada beberapa yang hidup di air tawar (Jakhalekar and Ghate, 2013).
Porifera yang telah dewasa tidak dapat berpindah tempat (sesil), hidupnya menempel
pada batu atau benda lainya di dasar laut. Karena porifera yang bercirikan tidak dapat
berpindah

tempat,

kadang

porifera

dianggap

sebagai

tumbuhan.

Porites

memanfaatkan gerakan silia untuk membersihkan permukaan dari sedimen atau


memanfaatkan arus untuk membersihkan sedimen di permukaanpermukaan yang
cembung dan datar (Paruntu et al, 2013). Sedangkan, golongan Favidae mempunyai

tentakel-tentakel yang panjang sehingga memungkinkan untuk dapat membersihkan


permukaan secara aktif dari sedimen (Riedel et al,2013).
Cnidaria disebut juga Coelenterata karena memiliki rongga tubuh yang
berfungsi sebagai alat pencernaan (gastrovaskuler). Dalam bahasa yunani, cnido
berarti penyengat, karena sesuai dengan cirinya yang memiliki sel penyengat. Sel
penyengat terletak pada tentakel yang terdapat disekitar mulutnya. Cnidaria memiliki
struktur tubuh yang lebih kompleks. Sel-sel Cnidaria sudah terorganisasi membentuk
jaringan dan fungsi dikoordinasi oleh saraf sederhana (Jasin, 1989).
Pada Cnidaria reproduksi vegetatif dan generatif berlangsung secara
metagenesis (bergiliran). Secara vegetatif yaitu dengan membentuk tunas dan polip,
dan secara generatif yaitu dengan menghasilkan ovum (gamet betina) dan
spermatozoid (gamet jantan) yang dihasilkan Cnidaria berbentuk medusa, medusa
menghasilkan ovum dan spermatozoid yang dilepaskan ke air untuk melakukan
pembuahan yang menghasilkan zigot dan tumbuh menjadi larva (planula) dimana
planula akan berenang dan akhirnya akan menempel pada substrat yang nantinya
tumbuh menjadi polip muda dimana polip tumbuh dalam kelompok yang seolah-olah
satu individu (Jasin, 1989).
Cnidaria umumnya hidup di laut, hanya beberapa jenis yang hidup di air
tawar. Dalam siklus hidupnya ia dapat berbentuk polip yaitu hidup menempel pada
suatu substrat atau berbentuk medusa yang bebas berenang. Bentuk polip tubuhnya
berbentuk silindris, bagian proksimal melekat, bagian distal mempunyai mulut yang
dikelilingi tentakel. Mulut bermuara ke dalam rongga gastrovaskuler atau enteron
yang berfungsi untuk mencerna makanan dan mengedarkan sari-sari makanan.
Medusa umumnya berbentuk seperti payung atau lonceng, tentakel menggantung
pada permukaan payung. Tentakel berfungsi untuk menangkap makanan, alat gerak
dan mempertahankan diri. Susunan saraf berupa anyaman sel-sel saraf yang tersebar
secara difusi. Cnidaria

merupakan hewan yang belum memiliki anus (Amir &

Budiyanto, 1996).
Kelas Demospongiae adalah kelompok spons yang terdominan di antara
Porifera masa kini. Mereka tersebar luas di alam, serta jumlah jenis maupun
organismenya sangat banyak. Mereka sering berbentuk massive dan berwarna cerah
dengan sistem saluran yang rumit, dihubungkan dengan kamar-kamar bercambuk
kecil yang bundar. Spikulanya ada yang terdiri dari silikat dan ada beberapa
(Dictyoceratida, Dendroceratida dan Verongida) spikulanya hanya terdiri serat

spongin, serat kolagen atau spikulanya tidak ada. Seluruh Demospongiae memiliki
saluran air tipe Leukonoid (Amir & Budiyanto, 1996).
Karang jenis Acropora terlihat hanya tersebar dibeberapa lokasi saja. Karang
Acropora termasuk jenis fastgrowing corals yang sangat rentan terhadap perubahan
lingkungan. Menurut Suharsono (2008), apabila dalam kondisi arus yang lemah,
Acropora menjadi sangat intolerant terhadap penutupan sedimen dan akan menderita
kematian yang tidak dapat balik apabila sedimentasi mengubur keseluruhan karang
dan hal ini berbeda dengan karang jenis Porites yang mampu melakukan recovery
meskipun telah terkubur keseluruhan selama 3 hari.
Karkteristik Porites sp. yaitu bentuk hidupnya berupa polip, bentuknya
seperti batu koral karena mengandung CaCO3. Koloni mempunyai bentuk perubahan
massive, encrusting, bercabang dan lembaran, Koralit kecil cereoid. Septa saling
bersatu dan membentuk struktur yang sangat khas yang dipakai untuk indentifikasi
jenis. Ciri khas ini antara lain adalah adanya tiga septa yang bergabung jadi satu
disebut triplet dengan satu pali. Porites mempunyai jenis sekitar 25 jenis, tersebar
diseluruh perairan Indonesia (Suharsono, 2008).
Montastrea curta memiliki karakter koloni massive berbentuk kubah atau
melebar. Koralit cenderung membulat, cenderung berhimpitan satu dengan lainnya.
Septa terdiri dari dua, panjang dan pendek saling bergantian secara teratur. Pali relatif
kecil tetapi terlihat dengan jelas. Warna koloni coklat gelap atau coklat kekuningan
(Suharsono, 2008).
Goniastrea favulus mempunyai karakter koloni massive dengan ukuran yang
relatif besar. Koralit cerioid atau submeandroid dengan dinding bervariasi. Septa
teratur dengan pali yang membentuk mahkota. Warna kekuningan atau coklat muda.
Jenis Yang Mirip Goniastrea retiformis, yang mempunyai koralit lebih seragam dan
teratur. Distribusi tersebar di seluruh perairan Indonesia dan umum dijumpai di
daerah rataan terumbu (Suharsono, 2008).
Goniastrea retiformis memiliki karakter koloni massive membentuk kubah.
Koralit umumnya bersudut empat sampai lima, cerioid. Septa berselang seling antara
yang panjang dan pendek. Kolumela membentuk mahkota. Warna Hijau muda, coklat
tua, atau kuning pucat. Jenis Yang Mirip Goniastrea edwardsi, yang mempunyai
ukuran koralit dengan dinding yang lebih besar. Distribusi Umum dijumpai di daerah
rataan terumbu (Suharsono, 2008).

Karakter yang dimiliki Platygyra sp. yaitu koloninya massive dengan ukuran
besar. Koralit hampir semuanya meandroid dengan alur yang memanjang dan ukuran
sedang. Pali tidak berkembang, kolumela berada ditengah saling berhubungan antara
satu dengan lainnya. Marga ini mempunyai sekitar 7 jenis (Suharsono, 2008).
Ada berbagai cara untuk menyusun sebuah kunci. Susunan yang paling
praktis adalah kunci dengan deskripsi umum dan singkat yang disusun secara
berpasangan (dikotom). Kunci ini dapat digunakan untuk memilih satu diantara dua
kemungkinan yang ada. Jika spesimennya sangat unik, biasanya salah satu diantara
dua pilihan deskripsi yang diberikan kunci akan cocok. Kunci merupakan alat bantu
yang sangat penting dalam taksonomi. Kunci juga dapat bersifat membatasi upaya
identifikasi. Sebuah spesimen yang unik atau menyimpang dari karakteristik umum
akan mustahil teridentifikasi oleh kunci yang bersifat umum (Jasin, 1989).

BAB III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara 1 yaitu bak preparat, kaca
pembesar, mikroskop, dan alat tulis.
Bahan yang digunakan yaitu preparat yang termasuk Phylum Cnidaria berupa
Goniastrea retrivormis, Acropora sp., Montastrea curta, Porites sp., Platygira sp.,
Goniastrea falvulus, dan Phylum Porifera berupa Demospongia sp.
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum antara lain:
1. Karakter spesimen berdasarkan ciri-ciri morfologi diamati, digambar, dan di
deskripsikan.
2. Spesimen diidentifikasi dengan kunci identifikasi.
3. Kunci identifikasi sederhana dibuat berdasarkan karakter spesimen yang diamati.
4. Laporan sementara dibuat dari hasil praktikum.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

B. Pembahasan
Porifera merupakan salah satu Phylum dari kingdom animalia yang sangat
primitif yang hidup di alam. Kata Porifera berasal dari bahasa Latin, porus yang
berarti lubang kecil atau pori dan ferre yang berarti mempunyai. Jadi, Porifera dapat
diartikan hewan yang memiliki pori pada struktur tubuhnya.
Phylum Porifera dikenal juga dengan nama sponges, yaitu hewan berpori yang
tersusun dari sel-sel. Hewan ini memiliki karakteristik yaitu tidak memiliki simetri
(asimetri), belum memiliki jaringan dan organ, memiliki sel-sel dengan bentuk dan
fungsi yang berbeda, dan memiliki koanosit dibagian dalamdari tubuh hewan. Bagian
tubuh porifera terdapat pinakosit yang terspesialisasi menjadi porosit yang
membentuk ostia sebagai pintu masuk air. Phylum Porifera termasuk proteostema
yaitu pembentukan dimulai dari mulut, tidak memiliki lapisan tubuh, tidak
bermetamer dan bertagmatisasi, serta spikula didalam mesohil.
Porifera memiliki 3 tipe bentuk tubuh, yaitu ascon, sycon, dan leucon. Ciri dari
tipe ascon yaitu dinding tubuh tidak terlipat, pada sycon dinding tubuh terlipat dan
membentuk kanal, sedangkan pada tipe leucon kanal lebih kompleks dan bercabang.
Berdasarkan jenis penyusun tubuh, spikula, dan serabut spongia maka Phylum
Porifera dibedakan menjadi 3 kelas yaitu kelas Calcarea, kelas Hexactinellida, dan
kelas Demospongiae.
Phylum Cnidaria merupakan hewan marine. Karakteristik Phylum ini adalah
adanya knidosit yang berfungsi dalam pertahanan diri, menangkap mangsa dan
pergerakan serta alat pelengkap. Ciri lain yang dimiliki yaitu memiliki kontruksi
jaringan, simetri radial atau biradial, diploblastik, dan rongga gastrovaskular.
Cnidaria memiliki dua bentuk tubuh, yaitu polip dan medusa. Polip bersifat
sessile atau menempel pada substrat sedangkan medusa bersifat aktif bergerak.
Phylum cnidaria dibedakan menjadi 5 Kelas berdasarkan bentuk tubuh, letak
knidosit, dan reproduksi yaitu Kelas Hydrozoa, Kelas Scyphozoa, Kelas Staurozoa,
Kelas Cubozoa, dan Kelas Anthozoa.
Berdasarkan praktikum yang dilakukan preparat yang dilakukan yaitu terdiri dari
5 spesies dari Phylum Cnidaria dan 1 Phylum Porifera. Spesies dari Phylum Cnidaria
yang digunakan terdiri dari Goniastrea retrivormis, Acropora sp., Montastrea curta,
Porites sp., Platygira sp., Goniastrea falvulus, dan spesies dari Phylum Porifera

berupa Demospongia sp. Berikut penjelasan karakteristik yang dimiliki dari maeingmasing preparat :
1. Goniastrea retrivormis
Spesies ini memiliki ciri yaitu colony shape massive, colony form cerioid,
callice medium, coneosteum narow, columella structure styliform.
2. Acropora sp.
Spesies ini memiliki ciri yaitu colony shape branching, colony form plocoid,
callice small, coneosteum medium, columella structure styliform.
3. Montastrea curta
Spesies ini memiliki ciri yaitu colony shape platy, colony form plocoid, callice
medium, coneosteum wide, columella structure styliform.
4. Porites sp.
Spesies ini memiliki ciri yaitu colony shape massive, colony form cerioid,
callice small, coneosteum narrow, columella structure absent.
5. Platygyra sp.
Spesies ini memiliki ciri yaitu colony shape massive, colony form meandroid,
callice medium, coneosteum medium, columella structure trabecular dan continuous.
6. Goniastrea falvulus
Spesies ini memiliki ciri yaitu colony shape massive, colony form meandroid,
callice medium, coneosteum fused walls, columella structure trabecular dan
continuous
7. Demospongia sp.
Spesies ini termasuk Phylum Porifera yang memiliki serabut spongin dan
spikula. Bagian-bagian tubuhnya terdiri dari osculum, pinakosit, porosit, fagositosis,
amobosit, dan mesohil.
Untuk mengidentifikasi makhluk hidup yang baru saja dikenal, kita memerlukan
alat pembanding berupa gambar, realia atau spesimen (awetan hewan), hewan yang
sudah diketahui namanya, atau yang dikenal dengan kunci identifikasi. Dari hasil
yang diperoleh maka dapat dibuat kunci identifikasi tersebut. Karakter yang dapat
membedakan yaitu colony shape, colony form, callice, coneosteum, dan columella.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan Hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Phylum Porifera terbagi menjadi tiga kelas yaitu Class Calcarea, Class
Hexactinellida dan Class Demospongidae.Sedangkan Phylum Cnidaria terbagi
menjadi lima kelas yaitu Class Hydrozoa, Class Scyphozoa, Class Staurozoa,
Class Cubozoa, dan Class Anthozoa.
2. Karakter penting anggota Phylum Porifera yaitu tersusun atas sel, berpori, tidak
memiliki simetri, terdapat koanosit dibagian tubuhnya. Sedangkan karakter
penting pada Phylum Cnidaria yaitu polip atau menempel pada substrat, medusa
lebih aktif bergerak, memiliki kontruksi jaringan biradial, dan memiliki knidosit.
B. Saran

Saran untuk praktikum kali ini yakni preparat perlu ditambah agar lebih
gampang melakukan identifikasi.

DAFTAR REFERENSI
Amir I. dan A. Budiyanto. 1996. Mengenal Sponge Laut (Demospongiae) Secara
Umum. Oseana.21(2).
Darbohoesodo, R.B. 1976. Penuntun Praktikum Taksonomi Avertebrata. Fakultas
Biologi Universitas Jenderel Soedirman, Purwokerto.
Ismet, Meutia Samira,. Soedharma, Dedi,. dan Hefni Effendi.2011. Morfologi dan
Biomassa Sel Spons Aaptos Aaptos dan Petrosia Sp. Jurnal Ilmu dan Teknologi
Kelautan Tropis. 3(2): 153-161
Jakhalekar. S. S. & H. V. Ghate. 2013. A note on five freshwater sponges (Porifera:
Spongillina: Spongillidae) from Pune, Maharashtra, India. Journal of Threatened
Taxa 5(9): 43924403
Jasin, M. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya, 1992.
Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Vertebrata dan Invertebrata. Sinar Wijaya,
Surabaya.
John R. Goldi, G. V. 2011. Phylogenetic relationships of tropical western Atlantic.
Biological Journal of the Linnean Society , 1-15.
Kimball, J. W. 1990. Biologi Jilid 1, 2, dan 3. Erlangga. Jakarta.
Mayr, E. 1969. Principles Of Systematic Zoologi. Tata McGraw-Hill Publishing
Company, New Delhi.
Paruntu C.P., Rifai H., Janny D. K. 2013. Nematosit dari Tiga Spesies Karang
Scleractinia, Genus Pocillopora. Jurnal Perikanaan dan Kelautan Tropis. 9 (2): 60-64.
Riedel, Alexander., Katayo Sagata., Yayuk R Suhardjono., Rene Tnzler., and
Michael Balke. 2013. Integrative taxonomy on the fast track towardsmore
sustainability in biodiversity research. Riedel et al. Frontiers in Zoology 10:15.
Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bina Cipta, Jakarta.
Soest R.W.M.V., Nicole B.E, Jean V., Martin D., Dirk E., Nicole J.D.V., Nadiezhda
S., Bart V., Michelle K., John N.A.H. 2012. Global Diversity of Sponges (Porifera).
Plos One. 7 (4) : 1-23.
Suhardi. 1983. Evolusi Avertebrata. UI-Press, Jakarta.
Suharsono. 2008. Jenis-jenis Karang di Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian
Oseanografi LIPI.
Widiyadi, E. 2009. Penerapan Tree dalam Klasifikasi dan Determinasi Makhluk
Hidup. Jurusan Teknik Informatika, ITB Bandung.