Anda di halaman 1dari 25

Material Safety Data Sheet

NaOH
-Nama kimia: Natrium Hidroksida
-Chemical Formula: NaOH
-Keadaan fisik dan penampilan: Solid.
-Bau: berbau.
-Rasa: Tidak berasa.
-Berat Molekul: 40 g / mol
-Warna: Putih.
-pH (1% soln / air): [. Dasar] 13,5
-Titik Didih: 1388 C (2530,4 F)
-Melting Point: 323 C (613,4 F)
Potensi Efek Kesehatan Akut:
-Sangat berbahaya jika terjadi kontak kulit (korosif, mengiritasi,
permeator), kontak mata (iritan, korosif), terelan, dari terhirup. Kontak
mata dapat mengakibatkan kerusakan kornea atau kebutaan. Kontak kulit
dapat menghasilkan peradangan dan terik. Menghirup debunya akan
menghasilkan iritasi pada gastro-intestinal atau saluran pernapasan, yang
ditandai dengan rasa terbakar, bersin dan batuk.
Aspek K3
Kontak Mata:
Periksa dan lepaskan jika ada lensa kontak. Dalam kasus terjadi kontak,
segera siram mata dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit. Air
dingin dapat digunakan. Dapatkan perawatan medis dengan segera.
Kulit Hubungi:
Dalam kasus terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air
sedikitnya selama 15 menit saat mengeluarkan pakaian yang
terkontaminasi dan sepatu. Tutup kulit yang teriritasi dengan yg
melunakkan. Air dingin mungkin pakaian used.Wash sebelum digunakan
kembali. Benar-benar bersih sepatu sebelum digunakan kembali. Dapatkan
perawatan medis dengan segera.
Kulit Serius Hubungi:
Cuci dengan sabun desinfektan dan menutupi kulit terkontaminasi dengan
krim anti-bakteri. Cari bantuan medis.
Inhalasi:
Jika terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan
pernapasan buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Dapatkan medis
perhatian segera.
Serius Terhirup:
Evakuasi korban ke daerah yang aman secepatnya. Longgarkan pakaian
yang ketat seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau ikat pinggang. Jika sulit
bernapas, mengelola oksigen. Jika korban tidak bernafas, melakukan mulut
ke mulut resusitasi.
Penyimpanan: Simpan wadah tertutup rapat. Simpan wadah di tempat
yang sejuk dan berventilasi cukup. Jangan simpan di atas 23 C (73,4
F).

Material Safety Data Sheet


Cl2
-Nama kimia: Klorin
-Chemical Formula: Cl2
-Keadaan fisik dan penampilan: Gas
-Bau:. Bau mencekik tajam
- Berat Molekul: 70,9 g/mol
-pH (1% soln / air): Tidak berlaku (bereaksi dengan air untuk membentuk
larutan asam)
-Titik Didih: -34,6 C
-Melting Point: -101C
Potensi Efek Kesehatan Akut:
Klorin
mengiritasi
hidung,
tenggorokan,
dan
paru-paru. Gejala
termasuk:batuk, sesak napas, nyeri dada, mual, muntah, dan
pusing. Edema paru (pembengkakan) dan pneumonia kimia dapat
mengembangkan jam setelah paparan. Konsentrasi tinggi dapat
menyebabkan ketidaksadaran dan kematian.Konsentrasi tinggi dapat
menyebabkan iritasi parah dan kerusakan jaringan.Gejala termasuk:
terbakar dan menusuk-nusuk sensasi, kemerahan, dan lecet. Kontak
langsung dengan cairan menyebabkan iritasi lokal yang parah, terik dan
luka bakar.Sebuah iritasi parah mata. Gejala termasuk: menyengat dan
membakar sensasi dengan produksi air mata yang berlebihan. Kontak
langsung dengan cairan Mei menyebabkan luka bakar, kerusakan
permanen, dan mungkin kebutaan.Bukan rute kemungkinan paparan
klorin adalah gas pada suhu kamar. Cairan dapat menyebabkan nyeri,
terbakar, haus, kram perut, mual, dan muntah. Iritasi dan pembengkakan
tenggorokan menyebabkan kesulitan bernapas
Aspek K3 :
Pindahkan korban ke udara segar. Berikan pernapasan buatan hanya jika
pernapasan berhenti. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Carilah medis
segera
perhatian. Hindari kontak langsung dengan bahan kimia ini. Lepaskan
pakaian yang terkontaminasi. Cuci daerah yang terkena dengan sabun dan
air. Mencari perhatian medis segera jika terjadi iritasi atau berlanjut. Siram
segera dengan air selama minimal 20 menit. Paksa terus kelopak mata
selain untuk memastikan irigasi lengkap jaringan mata. Carilah medis
segera perhatian. Jangan memaksakan muntah. Jika muntah terjadi,
korban bersandar ke depan untuk mencegah menghirup muntah dan bilas
mulut. Berikan secangkir air untuk mencairkan jika pasien sadar. Jangan
memberikan apapun melalui mulut kepada korban sadar atau

kejang. Mencari perhatian medis segera.


Penyimpanan: Simpan dengan wadah tertutup rapat di tempat yang sejuk
dan kering terbuka atau di tempat yang berventilasi baik, terpisah /
daerah terpisah dari bahan noncombustible

Material Safety Data Sheet


Metanol
-Nama kimia: Metil Alkohol
-Chemical Formula: CH4O
-Keadaan fisik dan penampilan: Cairan
-Bau:. Seperti Alkohol bau lemah
- Berat Molekul 32,04 g/mol
-pH (1% soln / air): Tidak tersedia
-Titik Didih: 64,7C
-Melting Point: -98C
Potensi Efek Kesehatan Akut:
Mata: Menghasilkan iritasi, ditandai dengan sensasi terbakar, kemerahan,
merobek, peradangan, dan kemungkinan cedera kornea. Dapat
menyebabkan sensitisasi menyakitkan untuk cahaya.
Kulit: Menyebabkan gangguan pada kulit moderat. Dapat diserap melalui
kulit dalam jumlah yang berbahaya. Berkepanjangan dan / atau berulang
dapat menyebabkan defatting dari kulit dan dermatitis.
Tertelan: kebutaan, iritasi, mual, muntah dan diare. sistemik dengan
asidosis. Dapat menyebabkan depresi sistem saraf pusat, yang ditandai
dengan kegembiraan, diikuti oleh sakit kepala, pusing, mengantuk, dan
mual. Stadium lanjut dapat menyebabkan kolaps, tidak sadar, koma dan
kematian mungkin karena kegagalan pernapasan.
Inhalasi: Berbahaya jika terhirup. Dapat menyebabkan efek sistem saraf
yang merugikan termasuk sakit kepala, kejang, dan kematian
mungkin. Dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan kebutaan
permanen mungkin. Menyebabkan iritasi selaput lendir.
Aspek K3 : Mata: Segera basuh mata dengan banyak air selama
minimal 15 menit, sesekali mengangkat kelopak mata atas dan
bawah. Dapatkan bantuan medis.
Kulit: Segera siram kulit dengan banyak sabun dan air selama minimal 15

menit sambil melepaskan pakaian dan sepatu yang terkontaminasi.


Tertelan: Jika korban sadar dan waspada, memberikan 2-4 cupfuls susu
atau air. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang
yang tidak sadar. Dapatkan bantuan medis. Menginduksi muntah dengan
memberikan satu sendok teh sirup dari Ipecac.
Inhalasi: Jika sulit bernapas, berikan oksigen. JANGAN menggunakan
mulut ke mulut resusitasi. Jika pernapasan telah berhenti berlaku
pernapasan buatan menggunakan oksigen dan alat mekanis yang sesuai
seperti tas dan masker.
Penyimpanan: Wadah tertutup rapat. Jauhkan dari panas, percikan api,
dan api. Jauhkan dari sumber api. Menyimpan di tempat yang sejuk,
kering, dan berventilasi baik.

Material Safety Data Sheet


Benzena
-Nama kimia: Benzene
-Chemical Formula: C6H6
-Keadaan fisik dan penampilan: Cairan
-Bau:.Aromatik seperti bensin
-Berat Molekul:78,11 g/mol
-pH (1% soln / air): Tidak tersedia
-Titik Didih: 80,1C
-Melting Point: 5,5C
Potensi Efek Kesehatan Akut:
Sangat berbahaya dalam kasus kontak mata (iritan), inhalasi. Berbahaya
dalam kasus kontak kulit (iritan, permeator), dari
konsumsi. Radang mata ditandai dengan kemerahan, berair, dan gatalgatal.
Aspek K3 :
Kontak mata:
Periksa dan lepaskan lensa kontak. Dalam kasus kontak, segera basuh
mata dengan banyak air selama minimal 15
menit. Air dingin dapat digunakan. Air hangat HARUS digunakan. Dapatkan
perhatian medis segera.
Kontak Kulit:
Dalam kasus kontak, segera siram kulit dengan banyak air. Tutupi kulit
yang teriritasi dengan emolien. Hapus terkontaminasi

pakaian dan sepatu. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali. Bersihkan


sepatu sebelum digunakan kembali. Dapatkan perhatian medis.
Inhalasi:
Jika terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan
pernapasan buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Dapatkan medis
perhatian jika gejala muncul..
Tertelan:
JANGAN menginduksi muntah kecuali diarahkan untuk melakukannya oleh
tenaga medis. Tidak pernah memberikan apapun melalui mulut kepada
sadar
orang. Jika sejumlah besar bahan ini tertelan, panggil dokter
segera. Kendurkan pakaian ketat seperti kerah,dasi, ikat pinggang atau
pinggang
Penyimpanan: Simpan wadah di tempat yang sejuk, berventilasi
baik. Simpan wadah tertutup rapat dan disegel sampai siap untuk
digunakan. Hindari semua sumber yang memungkinkan penyulutan
(percikan atau api)

Material Safety Data Sheet


HCl
-Nama kimia: Asam Hidroklorik
-Chemical Formula: HCl
-Keadaan fisik dan penampilan: Cairan
-Bau:.Menyengat
-Berat Jenis : 1,18
-pH (20C): 1
-Titik Didih: 85C
-Melting Point: -20C
Potensi Efek Kesehatan Akut:
MATA : Menyebabkan iritasi bahkan dapat menyebabkan kebutaan
KULIT : Menyebabkan luka bakar dan dermatitis
TERTELAN : Menyebabkan luka bakar membrane mukosa di mulut,
Esophagus dan mulut
TERHIRUP : Menyebabkan bronchitis kronis
Aspek K3 :
MATA : Bilas dengan air mengalir sekurang-kurangnya 15 menit

KULIT : Cuci dengan air sebanyak-banyaknya. Segera lepaskan pakaian


yang terkontaminasi.
TERTELAN : Bila sadar, beri minum 1 2 gelas untuk pengenceran. Hindari
pemanis buatan.
TERHIRUP : Segera pindahkan korban ke tempat yang cukup udara,
berikan pernafasan buatan atau oksigen
korban segera bawa ke dokter.
Penyimpanan: Simpan di tempat dingin, berventilasi dan lantai gedung
harus tahan asam. Jauhkan dari bahan oksidator dan bahan alkali, serta
sianida, sulfida, formadehid, logam natrium, merkuri sulfat dan amonium
hidroksida. Periksa kebocoran wadah asam.

Material Safety Data Sheet


H2SO4
-Nama kimia: Asam Sulfat
-Chemical Formula: H2SO4
-Keadaan fisik dan penampilan: Cairan
-Bau:. Berbau, namun memiliki bau tersedak ketika panas
-Berat Molekul : 98,08 g/mol
-pH (1% soln / air): Asam
-Titik Didih: 270C
-Melting Point: -35C

Potensi Efek Kesehatan Akut:


Menyebabkan iritasi parah dan luka bakar. Mungkin berbahaya jika
tertelan. Hindari menghirup uap atau debu. Gunakan dengan ventilasi
yang memadai. Hindari kontak dengan mata, kulit, dan pakaian. Cuci
sampai bersih setelah menangani. Simpan wadah tertutup.
Menyebabkan iritasi parah dan luka bakar. Mungkin berbahaya jika
tertelan. Hindari menghirup uap atau debu. Gunakan dengan ventilasi
yang memadai. Hindari kontak dengan mata, kulit, dan pakaian. Cuci
sampai bersih setelah menangani. Simpan wadah tertutup.
Aspek K3 :
KULIT: Cuci daerah yang terkena dengan sabun dan air. Jika terjadi iritasi,
dapatkan bantuan medis.
MATA: Cuci mata dengan banyak air sedikitnya selama 15 menit, angkat
tutup sesekali. Mencari Bantuan Medis.

TERHISAP: Hapus untuk udara segar. Jika tidak bernapas, berikan


pernapasan buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen
Tertelan: Berikan beberapa gelas susu atau air. Muntah dapat terjadi
secara spontan, tapi TIDAK MENYEBABKAN! Jangan pernah memberikan
apapun melalui mulut kepada orang yang tidak sadar.
Penyimpanan: Simpan denan wadah tertutup rapat . Simpan di tempat
yang sejuk, kering, berventilasi baik jauh dari bahan mudah
terbakar. Jangan simpan di dekat zat alkalin.

Material Safety Data Sheet


TNT
-Nama kimia: Tri Nitro Toluena (TNT)
-Chemical Formula: C7H5N3O6
-Keadaan fisik dan penampilan: Padat
-Bau: Tidak Berbau
-Berat Molekul : 227,13 g/mol
-pH (20C): Tidak tersedia
-Titik Didih: 240C
-Melting Point: 80,8C

Potensi Efek Kesehatan Akut:


adalah Divisi 1.1 peledak, dan ledakan dapat menyebabkan cedera fisik
yang parah, termasuk kematian. Menghirup bahan peledak serbuk dapat
menyebabkan penyimpangan sistem saraf termasuk sakit kepala dan
pusing. Nitrogen oksida yang dihasilkan selama penggunaan yang kulit,
mata, dan iritasi saluran pernapasan.

Aspek K3
Kontak Mata: Bilas mata dengan air.
Kontak Kulit: Cuci kulit dengan sabun dan air.
Inhalasi: Jika asap ledakan yang terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika
tidak bernapas, berikan buatan respirasi, sebaiknya mulut ke mulut. Jika
sulit bernapas, berikan oksigen dan memanggil dokter.
Tertelan: Menginduksi muntah segera dengan memberikan dua gelas air
dan menempel jari ke bawah tenggorokan.
Cedera dari ledakan: Carilah perhatian medis yang segera.

Material Safety Data Sheet


KClO3
-Nama kimia: Kalium Klorat
-Chemical Formula: KClO3
-Keadaan fisik dan penampilan: Padat (serbukj)
-Bau: Tidak Berbau
-Berat Jenis : 122,5 g/mol
-pH (20C): Tidak Tersedia
-Titik Didih: 400C
-Melting Point: 368C

Potensi Efek Kesehatan Akut:


Bahaya! Oksidator kuat.
Kontak dengan bahan lainnya dapat menyebabkan kebakaran. Dapat
menyebabkan iritasi saluran pernafasan. Mungkin berbahaya jika tertelan.
Dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Dapat menyebabkan iritasi mata
dan kulit. Dapat menyebabkan iritasi saluran pencernaan dengan mual,
muntah, dan diare. Dapat menyebabkan sianosis dengan kulit kebiruan.
Kemungkinan menyebabkan kelainan darah. Target Organ: Darah, ginjal.

Aspek K3
Inhalasi:
Hilangkan dengan udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan
buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Segera mendapatkan
perhatian medis.
Ingesti:
Jika muntah segera mendapatkan perhatian dari petugas medis. Jangan
pernah memberikan sesuatu melalui mulut kepada orang yang tidak sadar.
Kontak dengan Kulit:
Segera basuh kulit dengan banyak air selama minimal 15 menit. Lepaskan
pakaian dan sepatu yang terkontaminasi sambil menghilangkan
kontaminasinya. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali. Bersihkan
sepatu sebelum digunakan kembali. Atau segera meminta pertolongan
medis jika iritasi berkembang.
Kontak dengan Mata:
Segera basuh mata dengan banyak air selama minimal 15 menit, sesekali
mengangkat kelopak mata ke atas ke bawah (dikedip-kedipkan).
Mendapatkan perhatian medis segera jika berkelanjutan.
2. TINJAUAN PUSTAKA
Nama alat

Pengertian & Fungsi

Gambar

2.1 Pipet Volum

Pipet volum atau yang


biasa disebut Pipet
volumetrik terbuat dari
gelas transparan /
tembus pandang .
kegunaan pipet
volumetrik ini adalah
untuk mengambil dan
memindahkan cairan
dengan volume
tertentu sebagaimana
tertera pada batang
pipet volumetrik
( Masri,2013).

2.2 Pipet Ukur

Pipet Ukur berfungsi


untuk memindahkan
larutan atau cairan ke
dalam suatu wadah
dengan berbagai
ukuran volume. Untuk
ukuran volume pada
Pipet ukur yang paling
besar adalah pipet ukur
dengan volume 50ml
( Sutrisno,2013) .

2.3 Labu Ukur

Labu ukur : berupa


labu dengan leher yang
panjang dan bertutup;
terbuat dari kaca dan
tidak boleh terkena
panas karena dapat
memuai. Ukurannya
mulai dari 1 mL hingga
2 L.
Fungsi:Untuk membuat
larutan dengan
konsentrasi tertentu
dan mengencerkan
larutan
(Nuryono,2006).

2.4 Buret

2.5 Erlenmeyer

]
2.6 Spektrofotometer

Alat yang terbuat dari


gelas. Digunakan untuk
melakukan titrasi. Zat
yang digunakan untuk
menitrasi (titran)
ditempatkan dalam
buret, dan dikeluarkan
sedikit demi sedikit
melalui kran. Volume
dari zat yang dipakai
dapat dilihat pada skala
(Sutrisno,2013).
Sebuah labu erlenmeyer
adalah jenis labu ukur
yang banyak digunakan
dan dilengkapi dengan
dasar datar, tubuh
berbentuk kerucut, dan
leher silinder.
Erlenmeyer yang
biasanya ditandai di sisi
(lulus) berfungsi untuk
menunjukkan volume
perkiraan isi, dan
memiliki tempat kaca
tanah atau tempat
enamel yang dapat
diberi label dengan
pensil (Doran,2013).
Spektrofotometer
merupakan alat yang
digunakan untuk
mengukur absorbansi
dengan cara
melewatkan cahaya
dengan panjang
gelombang tertentu
pada suatu obyek kaca
atau kuarsa yang
disebut kuvet.[1]
Sebagian dari cahaya
tersebut akan diserap
dan sisanya akan
dilewatkan
(Kenkel,2013).

2.7 Tabung Reaksi

2.8 Timbangan Analitik

2.9 Pipet Tetes

fungsi tabung reaksi


adalah sebagai tempat
dimana kita
mereaksikan bahan
kimia dalam
laboratorium. Alat ini
terbuat dari bahan kaca
bening sehingga proses
reaksi kimia didalam
tabung ini dapat terlihat
jelas oleh analis. Tabung
ini juga mempunyai sifat
tahan terhadap panas /
api ( Sutrisno,2013).

timbangan yang biasa


di gunakan untuk
menimbang terutama
di gunakan untuk
sesuatu yang bersifat
halus dan tidak bisa
menggunakan
timbangan biasa
biasanya timbangan
anaitik dimulai dari
dua angka di belakang
koma sampai lima
angka dibelakang
koma (Kenkel,2013).
Adalah jenis pipet yang
berupa pipa kecil
terbuat dari plastik
atau kaca dengan
ujung bawahnya
meruncing serta ujung
atasnya ditutupi karet.
Berguna untuk
mengambil cairan
dalam skala tetesan
kecil. (Nuryono,2006).

2.10 Bulb

Bola hisap adalah alat


laboratorium yang
berupa bola bertangkai
yang digunakan untuk
membantu proses
pengambilan cairan.
Bahan bola ini terbuat
dari karet yang disertai
dengan tanda untuk
menyedot cairan
(suction=S),
mengambil udara
(aspirate=A), dan
mengosongkan
(empty=E)
(Doran,2013).

2.11 Ph meter

Sebuah alat elektronik


yang digumakan untuk
mengukur ph (kadar
keasaman atau
alkalinitas) ataupun
basa dari suatu larutan
(Kenkel,2013).

2.12 Piknometer

Piknometer adalah
suatu alat yang terbuat
dari kaca, bentuknya
menyerupai botol
parfum atau
sejenisnya. Piknometer
merupakan alat yang
digunakan untuk
mengukur nilai massa
jenis atau densitas
fluida
(Thompson,2008).

2.13 Corong Pisah

2.14 Hot Plate Stirrer

2.15 Gelas Ukur

Corong pemisah atau


corong pisah adalah
peralatan laboratorium
yang digunakan dalam
ekstraksi cair-cair
untuk memisahkan
komponen-komponen
dalam suatu campuran
antara dua fase pelarut
dengan densitas
berbeda yang tak
campur
(Alaydrus,2013).
Hot plate stirrer dan
Stirrer bar (magnetic
stirrer) adalah alat
yang berfungsi untuk
menghomogenkan
suatu larutan dengan
pengadukan. Pelat
(plate) yang terdapat
dalam alat ini dapat
dipanaskan sehingga
mampu mempercepat
proses homogenisasi
(Beran,2010).
Gelas ukur merupakan
suatu alat yang di
gunakan untuk
mengukur volume
larutan yang
bentuknya seperti
corong ataupun gelas
yang mempunyai
ukuran volume mililiter
yang bervariasi
(Nuryono,2006).

PEMBAHASAN

Pipet Volume

Kegunaan pipet volumetrik ini adalah untuk mengambil dan memindahkan


cairan dengan volume tertentu sebagaimana tertera pada batang pipet
volumetrik ( Masri,2013).
Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:
Prosedur penggunaan pipet volume bersamaan dengan penggunaan bulb
karena kedua alat ini berkesinambungan.
a. Memasang pippet filler/bulb pada ujung bagian atas pipet.
b.Menekan bagian bertuliskan huruf A pada pippet filler/bulb sekaligus
untuk mengempiskan pippet filler/bulb.
c.Memasukkan pipet volume ke dalam cairan yang akan dihisap/ diambil,
lalu tekan bagian bertuliskan huruf S pada pippet filler/bulb, cairan akan
terhisap masuk ke dalam pipet volume atau pipet ukur.
d.Cairan dapat dikeluarkan dengan menekan bagian bertuliskan E pada
pipet filler/bulb.

Pipet Ukur
Pipet Ukur berfungsi untuk memindahkan larutan atau cairan ke dalam
suatu wadah dengan berbagai ukuran volume. Untuk ukuran volume pada
Pipet ukur yang paling besar adalah pipet ukur dengan volume 50ml
( Sutrisno,2013)
Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:
Prosedur penggunaan pipet ukur bersamaan dengan penggunaan bulb
karena kedua alat ini berkesinambungan.
a. Memasang pippet filler/bulb pada ujung bagian atas pipet.
b.Menekan bagian bertuliskan huruf A pada pippet filler/bulb sekaligus
untuk mengempiskan pippet filler/bulb.
c.Memasukkan pipet ukur ke dalam cairan yang akan dihisap/ diambil, lalu
tekan bagian bertuliskan huruf S pada pippet filler/bulb, cairan akan
terhisap masuk ke dalam pipet volume atau pipet ukur.
d.Cairan dapat dikeluarkan dengan menekan bagian bertuliskan E pada
pipet filler/bulb.

Labu Ukur
Fungsi:Untuk membuat larutan dengan konsentrasi tertentu dan
mengencerkan larutan (Nuryono,2006).
Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:
1. Zat terlarut di timbang teliti ke dalam labu ukur
2. Ditambahkan air suling.

3. Campuran digoyang melingkar untuk melarutkan zat terlarut


4. Setelah ditambahkan air lagi, digunakan pipet tetes untuk
menambahkan air dengan hati- hati sampai velume permukaan cairan
tepat berimpit dengan tanda lingkaran pada leher labu 5. Labu disumbat
dan kemudian dikocok agar larutan seragam atau homogen

Buret
Alat yang terbuat dari gelas. Digunakan untuk melakukan titrasi. Zat yang
digunakan untuk menitrasi (titran) ditempatkan dalam buret, dan
dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui kran. Volume dari zat yang dipakai
dapat dilihat pada skala (Sutrisno,2013).
Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:
Setelah bahan yang akan di titrasi siap dalam erlenmeyer, dekatkan mulut
erlenmeyer tepat di bawah buret. tangan kiri memegang Erlenmeyer,
sedang tangan kanan mengontrol kran buret agar aliran cairan yang
keluar dari dalam buret meluncur setetes demi setetes. Setelah indikator
analisa menampakan warnanya, biasanya titrasi dianggap selesai.
Selanjutnya tinggal menghitung berapa banyak reagen kimia yang
digunakan untuk titrasi dengan cara membaca skala yang tertera pada
buret.
Ketika membaca buret, mata harus tegak lurus dengan permukaan cairan
untuk menghindari kesalahan paralaks. Bahkan ketebalan garis ukur juga
mempengaruhi; bagian bawah meniskus cairan harus menyentuh bagian
atas garis. Kaidah yang umumnya digunakan adalah dengan
menambahkan 0,02 mL jika bagian bawah meniskus menyentuh bagian
bawah garis ukur. Oleh karena presisinya yang tinggi, satu tetes cairan
yang menggantung pada ujung buret harus ditransfer ke labu penerima,
biasanya dengan menyentuh tetasan itu ke sisi labu dan membilasnya ke
dalam larutan dengan pelarut.

Erlenmeyer
Berfungsi untuk menunjukkan volume perkiraan isi, dan memiliki tempat
kaca tanah atau tempat enamel yang dapat diberi label dengan pensil
(Doran,2013).
Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:
- Pegang leher Erlenmeyer, masukkan larutan yang akan di
encerkan/titrasi.
- Diguncangkan dengan perlahan dan hati-hati serta lihat perubahan
warna.

Spektrofotometer

Berfungsi untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya


dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa
yang disebut kuvet.[1] Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan
sisanya akan dilewatkan (Kenkel,2013).
Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:
1. Buka plastik pelindung alat dan nyalakan mesin dengan menekan
tombol power di bagian belakang mesin (tombol di sebelah kiri bawah)
2. Tunggu hingga 30 menit untuk memanaskan mesin sebelum dilakukan
pengukuran sampel. 3. Tekan tombol A/T/C, pilih absorbance (A).
4. Bersihkan cuvet dengan aquades, tiriskan dengan tisu hingga bagian
dalam cuvet tidak mengandung aquades lagi.
5. Ukur absorbansi blanko dengan memasukkan larutan blanko ke dalam
cuvet (volume minimal hingga dari tinggi cuvet). Bersihkan bagian luar
cuvet yang transparan dari debu dan bekas jari tangan.
6. Masukkan cuvet ke dalam cell holder pada sample chamber. Cuvet
harus diletakkan hingga sampai dasar cell.
7. Tutup sample chamber
8. Tekan tombol untuk mengatur blanko pada konsentrasi 0
9. Pilih panjang gelombang yang akan digunakan untuk mengukur sampel
dengan menekan tombol
10. Bersikan cuvet seperti pada metode no. 4
11. Siapkan sampel yang akan diukur, pastikan sampel homogen sebelum
memasukkan ke dalam cuvet.
12. Masukkan sampel ke dalam cuvet hingga volume minimal dari tinggi
cuvet. Pastikan bagian luar cuvet besih dari debu dan bekas jari tangan.
13. Masukkan cuvet ke dalam cell holder, tutup sample chamber
14. Baca absorbance-nya
15. Ambil sampel dari cuvet, bersihkan, dan ganti dengan sampel baru.
16. Jika pengukuran semua sampel sudah selesai, matikan mesin,
bersihkan cuvet dan tiriskan. Tutup kembali mesin dengan plastik.

Tabung Reaksi
Fungsi tabung reaksi adalah sebagai tempat dimana kita mereaksikan
bahan kimia dalam laboratorium. Alat ini terbuat dari bahan kaca bening
sehingga proses reaksi kimia didalam tabung ini dapat terlihat jelas oleh
analis. Tabung ini juga mempunyai sifat tahan terhadap panas / api
( Sutrisno,2013).
Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:
1.Sterilisasikan alat yang akan digunakan untuk melakukan percobaan.
2.Masukkan tabung reaksi yang telah disterilkan pada rak tabung reaksi.
3.Masukkan bahan yang akan dilarutkan pada tabung reaksi.
4.Jika ingin memanaskan tabung reaksi gunakanlah penjepit kayu khusus

tabung reaksi untuk menjepit tabung reaksi yang berada diatas api. Harus
digoyangkan secara perlahan dan jangan terlalu lama disulut diatas api
agar larutan tidak meluber keluar tabung.

Timbangan Analitik
Timbangan yang biasa di gunakan untuk menimbang terutama di
gunakan untuk sesuatu yang bersifat halus dan tidak bisa menggunakan
timbangan biasa biasanya timbangan anaitik dimulai dari dua angka di
belakang koma sampai lima angka dibelakang koma (Kenkel,2013).
Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Keadaan neraca harus siap pakai


Neraca harus bersih (terutama piring-piring neraca)
Anak timbangan dalam keadaan lengkap
Persiapan pendahuluan terhadap alat bantu penimbangan
Pemeriksaan kedataran neraca dan kesetimbangan neraca
Pekerjaan penimbangan dan perhitungan hasil penimbangan
Melaporkan hasil penimbangan
Mengembalikan neraca pada keadaan semula

Proses Pengukuran
Secara umum proses menimbangan dengan neraca elektronik/digital
adalah:
1. Pastikan bahwa timbangan sudah menyala.
2. Pastikan timbangan menunjukkan angka nol( jika tidak perlu di
koreksi).
3. Letakakan benda yang massanya akan
diukur pada piringan tempat benda.
4. Baca skala yang
tertera pada display digital sesuai skala satuan timbangan tersebut.
5. Untuk pengukuran yang sensitivitasnya tinggi perlu menunggu 30
menit, karena hanya dapat bekerja pada batas temperatur yang
ditetapkan.

Pipet Tetes
Berguna untuk mengambil cairan dalam skala tetesan kecil.
(Nuryono,2006).

Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:


Pertama, bagian bola karet yang terdapat diatas pipet dipencet lalu
ditahan dan dimasukkan ke dalam cairan. Saat pipet dimasukkan ke dalam
cairan bola karet yang dipencet di lepaskan dan angkat pipet dari cairan
untuk dipindahkan ke wdah lain. Untuk memindahkan ke dalam wadah lain

kita hanya perlu memencet kembali karet dibagian atas pipet secara
perlahan disesuaikan dengan kebutuhan banyaknya tetesan.

Bulb
Bulb / bola hisap adalah alat laboratorium yang berupa bola bertangkai
yang digunakan untuk membantu proses pengambilan cairan. Bahan bola
ini terbuat dari karet yang disertai dengan tanda untuk menyedot cairan
(suction=S), mengambil udara (aspirate=A), dan mengosongkan
(empty=E) (Doran,2013).
Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:
Prosedur penggunaan bulb bersamaan dengan penggunaan pipet volume
ataupun pipet ukur karena ketiga alat ini berkesinambungan.
a. Memasang pippet filler/bulb pada ujung bagian atas pipet.
b.Menekan bagian bertuliskan huruf A pada pippet filler/bulb sekaligus
untuk mengempiskan pippet filler/bulb.
c.Memasukkan pipet volume atau pipet ukur ke dalam cairan yang akan
dihisap/ diambil, lalu tekan bagian bertuliskan huruf S pada pippet
filler/bulb, cairan akan terhisap masuk ke dalam pipet volume atau pipet
ukur.
d.Cairan dapat dikeluarkan dengan menekan bagian bertuliskan E pada
pipet filler/bulb.

Ph meter
Sebuah alat elektronik yang digumakan untuk mengukur ph (kadar
keasaman atau alkalinitas) ataupun basa dari suatu larutan (Kenkel,2013).
Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:
1. Sediakan larutan yang akan di ukur keasamannya. Siapkan sesuai
kebutuhan, jangan terlalu banyak jangan pula terlalu sedikit, secukupnya
saja.
2. Sebelum di ukur, terlebih dahulu perhatikan kadar suhu larutan yang
akan di ukur dengan suhu larutan yang sudah dikalibrasi sebelumnya.
Pastikan keduanya harus sama, misalnya jika suhu larutan yang sudah
dikalibrasi sebesar dua puluh derajat celcius,makasuhu cairan yang akan
diukur juga harus sama.
3. Buka penutup elektroda pada alat ph dengan menggunakan air khusus,
kemudian bersihkan dengan tisu sampai kering.
4. Hidupkan alat ph,lalu celupkan elektroda ke dalam cairan yang akan
diukur, kemudian putar-putar elektroda larut menjadi homogen.

5. Kemudian tekan tombol yang bertuliskan MEAS lantas akan muncul kata
HOLD di layar. Lalu tunggu beberapa saat hingga muncul angka PH yang
menunjukan kadar ph pada cairan tersebut. Setelah itu matikan alat
tersebut.

Piknometer
Piknometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur nilai massa
jenis atau densitas fluida (Thompson,2008).
Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:
1.Melihat berapa volume dari piknometernya (tertera pada bagiantabung
ukur), biasanya ada yang bervolume 25 ml dan 50 ml.
2.Menimbang piknometer dalam keadaan kosong.
3.Memasukkan fluida yang akan diukur massa jenisnya ke dalam
piknomeer tersebut.
4.Menutup piknometer apabila volume yang
diisikan sudah tepat.
5.Menimbang massa
piknometer yang berisi fluida tersebut.
6.Menghitung massa fluida yang dimasukkan dengan cara mengurangkan
massa pikno berisi fluida dengan massa pikno kosong.
7.Setelah mendapat data massa dan volume fluidanya, kita dapat
menentukan nilai rho/masssa jenis () fluida dengan persamaan: rho () =
m/V=(massa pikno+isi) (massa pikno kosong) / volume. Adapun satuan
yang biasanya di gunakan yaitu massa dalam satuan gram (gr) dan
volume dalam satuan ml = cm3
8.Membersihkan dan mengeringkan piknometer.

Corong Pisah
Alat yang digunakan dalam ekstraksi cair-cair untuk memisahkan
komponen- komponen dalam suatu campuran antara dua fase pelarut
dengan densitas berbeda yang tak campur (Alaydrus,2013).
Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:
Pertama , campuran dan dua fase pelarut dimasukkan ke dalam corong
dari atas dengan corong keran ditutup. Corong ini kemudian ditutup dan
digoyang dengan kuat untuk membuat dua fase larutan tercampur. Corong
ini kemudian dibalik dan keran dibuka untuk melepaskan tekanan uap
yang berlebihan. Corong ini kemudian didiamkan agar pemisahan antara
dua fase berlangsung. Penyumbat dan keran corong kemudian dibuka dan
dua fase larutan ini dipisahkan dengan mengontrol keran corong.

Hot Plate Stirrer

alat yang berfungsi untuk menghomogenkan suatu larutan dengan


pengadukan. Pelat (plate) yang terdapat dalam alat ini dapat dipanaskan
sehingga mampu mempercepat proses homogenisasi (Beran,2010).
Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:
I. LANGKAH PENGOPERASIAN .
1. Pastikan alat pada posisi datar / rata dan aman.
2. Sambung socket kabel ke power.
3. Untuk menghidupkan putar ke posisi ON.
4. Untuk pengadukan putar sampai lampu stir menyala sesuai yang
diinginkan, tanda 1 ( lambat ) s.d tanda 10 ( cepat ).
5. Untuk pemanas putar sampai lampu heat menyala sesuai yang
diinginkan, tanda 1 ( kurang panas) s.d tanda10 ( sangat panas ).
II. CARA MEMATIKAN.
1. Kembalikan stir dan heat ke posisi terendah.
2. Putar tombol ke posisi OFF sampai lampunya mati.
3. Kemudian socket kabel dilepas atau dicabut dari power / listrik.

Gelas Ukur
alat yang di gunakan untuk mengukur volume larutan yang bentuknya
seperti corong ataupun gelas yang mempunyai ukuran volume mililiter
yang bervariasi (Nuryono,2006).
Petunjuk Pemakaian Secara Teknis:
1. memasukkan zat cair ke dalam gelas ukur yang kosong,
2. kemudian baca posisi permukaan zat cair menujukkan garis angka keberapa.

Prosedur Khusus Alat yang Mudah Rusak


Alat-alat laboratorium kimia kebanyakan terbuat dari gelas atau kaca diantaranya pipet
volum, pipet ukur, pipet tetes, gelas ukur, tabung reaksi, erlenmeyer, labu ukur, corong kaca,
corong pisah, gelas arloji, dan lain lain. Alat yang berbahan gelas atau kaca tersebut tentu
sangatlah mudah pecah dan rusak. Kita harus berhati-hati dalam menggunakan alat-alat
tersebut. Tidak hanya saat menggunakannya, tetapi saat menyimpan dan merwatnya juga
harus dicermati.
Ketika merawat alat gelas sebaiknya menggunakan perlengkapan pelindung, seperti
sarung tangan, kaca mata lab, apron, dan jas lab. Begitu juga ketika memakai dan bekerja
dengan glassware. Hindari dalam penggunaan alat gelas jelek atau rusak sehingga
memungkinkan untuk dapat melukai kita sebagi operator laboratorium.Periksa semua alat
gelas dari kemungkinan adanya kerusakan seperti kerusakan kecil, lubang atau tergores. Hal
ini tergantung dari kekuatan masing-masing alat gelas tersebut.

Jangan pernah memanaskan gelas yang rusak karena ketahanannya dari pemanasan
menjadi berkurang.Gunakan kassa sebagai alas saat menggunakan pemanasan langsung, atau
gunakan tingkat pemanasan medium ketika menggunakan Hot Plate.Pemanasan dan
pendinginan untuk alat gelas harus dilakukan secara perlahan. Temperatur maksimum saat
penggunaan gelas bororsilikat adalah 5000C tetapi penanganan khusus harus dilakukan
ketika suhu yang dipakai diatas 150oC.
Susun alat gelas berdasarkan bentuk dan bukan berdasarkan susunan kerapuhan alat
gelasKetika memanaskan botol gelas, lepaskan penutup botol tersebut, sehingga mengurangi
kemungkinan tubul botol tersebut terlempar karena adanya tekanan dari dalam botol yang
dihasilkan oleh pemanasan
Jangan pernah memipet dengan mulut. Karena dapat mengakibatkan keracunan,
membakar mulut, atau melukai bibir Anda. Hal ini semakin dilarang bila bahan tersebut
bersifat racun.Jangan tinggalkan pipet atau pengaduk berdiiri tegak di dalam gelas piala, atau
labu gelas.Pipet volumetric dan gelas analitikal untuk alat ukur tidak boleh dipanaskan di atas
hotplate ataupun ke dalam oven.
Sebelum digunakan, sebaiknya alat gelas dibilas terlebih dahulu menggunakan larutan
yang akan dimasukkan kedalamnya.
Alat gelas yang telah digunakan harus dicuci dan dibersihkan. Dalam pencucian dan
pembersihannya juga harus diperhatikan. Gunakan hanya busa yang halus atau kain yang
halus lainnya atau sikat plastik yang lembut dan tidak mengadung bulu-bulu keras. Pilih dari
sekian banyak macam campuran detergent yang ditawarkan oleh spesialis laboratorium untuk
pencucian manual, tergantung dari residu yang ingin dihilangkan.
Selain alat-alat yang terbuat dari gelas. Terdapat peralatan laboratorium elektronik atau
digital yang juga perlu prosedur khusus dalam perawatannya. Alat-alat digital tersebut
diantaranya timbangan anlitik, ph meter digital, hot plate stirrer,dan spektrofotometer. Kita
harus benar-benar cermat dalam perawatannya. Agar alat tidak mudah rusak pastikan setelah
menggunakan kita selalu menekan tombol power bukannya langsung melepaskan kabel dari
stopkontak. Jika kita telah selesai dan menekan tombol power, pastikan kabel telah tercabut
dari stopkontak. Jauhkan dari tempat yang lembab ataupun berair, karena jika kemasukan air
pastinya alat tersebut akan rusak. Gunakan alat seperlunya saja. Lakukan pengecekan alat
tersebut secara berkala, memastikan bahwa alat digital tersebut masih berfungsi dengan baik
atau tidak.
Alat yang mudah rusak lainnya adalah bulb atau bola hisap. Hati-hati ketika kita
menggunakan bulb bersama pipet. Jangan sampai bulb terkena air akibat menghisap air terlalu
kuat hingga air mengenai bulb. Jika bulb terkena air maka sudah tidak bisa digunakan lagi.
Oleh karena itu perawatan alat laboratium merupakan hal yang penting dalam
menunjang keberhasilan pekerjaan atau analisa sampel.

KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum tentang pengenalan alat dan budaya k3 ini


praktikan dapat mengetahui bahan-bahan kimia yang berbahaya dan
sudah mengetahui tindakan apa yang harus di lakukan bila terkena zat
berbahaya tersebut. Selain itu, dengan pengenalan alat yang dilakukan di
laboratorium, praktikan kini telah mengenal alat-alat yang ada di
laboratorium dan telah memenuhi tujuan praktikum pengenalan alat di
laboratorium itu sendiri yaitu untuk mengetahui nama masing-masing alat,
fungsi jenis-jenis alat , prinsip kerja alat, cara menggunakan, dan
perwatan alat yang baik dan benar agar pada praktikum selanjutnya
praktikan dapat menjalani praktikum dengan baik dan tidak melakukan
kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA

Doran. Pauline M. 2013. e-Study Guide for Bioprocess Engineering


Principles, Birmingham.
Cram 101 Content technologies, inc
Kenkel, John . 2013 . Analytical Chemistry for Technicians, Fourth Edition.
US. CRC

Press
Masri, Teguh Perdana. Juli 2013. KALIBRASI INTERNAL PIPET VOLUMETRIK
10 ML
PADA LABORATORIUM KIMIA DASAR UNIVERSITAS ABDURRAB PERIODE
MEI JUNI 2013 . Jurnal Academia. http://www.academia.edu/5625344.
15 September
2015
Nuryono , Tahir. I, dan Pranowo, D. 2006. Petunjuk Praktikum Kimia
Anorganik
Untuk Fakultas-Fakultas NonMIPA. Laboratorium Kimia Dasar FMIPA
UGM , Yogyakarta
Sutrisno, E. T. dan Nurminabari, I. S. 2013. Penuntun Praktikum Kimia
Dasar. Universitas
Pasundan: Bandung

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN

Alaydrus. Ismail S. 2013. PENGENALAN ALAT-ALAT PRAKTIKUM EKOLOGI


TERRESTRIAL. Program Studi S-1 Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi,
Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta
Beran, Jo Allan. 2010. Laboratory Manual for Principles of General
Chemistry. New Jersey:
John Wiley & Sons
Thompson, Robert Bruce. 2008. Illustrated Guide to Home Chemistry
Experiment. North
Sebastopol : OReilly Media