Anda di halaman 1dari 20

2.

TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Pengertian dan Sifat Larutan
Larutan adalah campuran homogen dua zat atau lebih yang saling
melarutkan dan masing-masing zat penyusunnya tidak dapat dibedakan
lagi secara fisik .

Komposisi dan sifat fase suatu larutan

berbeda dengan air murni. Larutan merupakan campuran yang terdiri dari
dua bahan. Larutan terbagi menjadi larutan

homogen dan larutan

heterogen. Larutan homogen mempunyai sifat-sifat yang sama diseluruh


cairan, sedangkan larutan heterogen merupakan campuran dua fase dan
memiliki

sifat-sifat

yang

tidak

seragam

(Brown,2013).

1.2 Pengertian Konsentrasi dan Perhitungan dalam Konsep


Larutan

Konsentrasi adalah istilah umum untuk menyatakan

banyaknya

bagian

zat

terlarut

dan

pelarut

yang

terdapat

dalam larutan. Konsentrasidapat dinyatakan secara kuantitatif maupun


secara

kualitatif.

Untuk

kualitatif, konsentrasi larutan dinyatakan

ukuran
dengan

istilah

secara
larutan

pekat

(concentrated) dan encer (dilute). Kedua isitilah ini menyatakan bagian


relatif zat terlarut dan pelarut dalam larutan. Larutan pekat berarti jumlah
zat terlarut relatif besar, sedangkan larutan encer berarti jumlah zat
terlarut relatif lebih sedikit. Biasanya, istilah pekat dan encer digunakan
untuk

membandingkan

konsentrasi

dua

atau

lebih

larutan

(Anggraeni,2008).
Dibawah ini adalah berbagai cara untuk menyatakan konsentrasi larutan.
1. Persen massa, persen volum, dan persen massa/volum
Persen massa dan volum adalah cara paling sederhana untuk
menyatakan konsentras suatu larutan dengan membandingkan massa
atau volum masing-masing bagian. Cara lain untuk menytakan konsentrasi
adalah persen massa/volum. (Malone,2008).

2.

Bagian per juta, bagian per miliar, dan bagian per triliun
Cara lain untuk menuliskan konsentrasi suatu larutan yang konsentrasinya
sangat kecil adalah dengan bagian perjuta, miliar, atau triliun. Prinsip yang
digunakan pada dasarnya adalah persen massa dengan konsentrasi yang

sangat kecil. Cara pernyataan konsentrasi seperti ini banyak digunakan


dalam ilmu lingkungan (Malone,2008).
3. Fraksi mol dan persen mol
Fraksi mol (i) merupakan perbandingan mol dari pelarut atau zat terlarut
nilai total fraksi mol zat terlarut dan pelarut haruslah sama dengan 1
,Persen mol merupakan nilai mol yang dikalikan 100% (Malone,2008).
4. Molaritas
M = mol zat terlarut = gram . 1000 = %..10
Volume
Keterangan:

Mr.volume

volume

M = Molaritas (konsentrasi)

= massa jenis

% =

persentase
5. Molalitas
m=

mol

= gram larutan . 1000

kilogram pelarut
m=molalitas

Mr . gram pelarut

keterangan:

1.3 Aplikasi Larutan dalam Teknologi Pertanian


APLIKASI BLANCHING LARUTAN KALSIUM KLORIDA (CaCl2) DAN EDIBLE
COATING METILSELULOSA DENGAN PLASTICIZER SORBITOL SEBAGAI
PENGHAMBAT ABSORPSI MINYAK PADA KERIPIK PISANG KEPOK (Musa
parasidiaca formatypica)
Aplikasi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan
blanching

dengan

variasi

konsentrasi

CaCl2

dan

edible

coating

metilselulosa dengan variasi konsentrasi sorbitol terhadap karakteristik


kimia, fisik dan sensori keripik pisang kepok dan dampaknya pada kualitas
minyak

goreng

bekas

penggorengan.

Penelitian

ini

menggunakan

Rancangan Acak Faktorial dengan dua faktor yaitu variasi konsentrasi


kalsium klorida dan variasi konsentrasi sorbitol. Konsentrasi kalsium
klorida yang ditambahkan sebesar 0,25%, 0,50% dan 0,75%, sedangkan
konsentrasi sorbitol yang ditambahkan sebesar 1%, 2% dan 3% dengan
tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar
konsentrasi CaCl2 dalam larutan blanching berpengaruh secara signifikan

dalam menghambat absorpsi minyak pada keripik pisang kepok dan


berpengaruh terhadap peningkatan kadar air, peningkatan bilangan
peroksida minyak goreng bekas penggorengan; penurunan kadar lemak,
penurunan tingkat kekerasan dan penurunan bilangan asam minyak
goreng bekas penggorengan. Semakin besar konsentrasi sorbitol dalam
larutan

edible

coating

juga

berpengaruh

secara

signifikan

dalam

menghambat absorpsi minyak pada keripik pisang kepok dan berpengaruh


terhadap peningkatan kadar air, peningkatan bilangan peroksida minyak
goreng bekas penggorengan; penurunan kadar lemak, penurunan tingkat
kekerasan

dan

penurunan

bilangan

asam

minyak

goreng

bekas

penggorengan. Pada analisis sensori kesukaan, keripik pisang yang paling


disukai adalah keripik pisang dengan perlakuan blanching dengan
konsentrasi kalsium klorida 0,75% dan edible coating dengan konsentrasi
sorbitol 2% (Mutia,2013).

3. DIAGRAM ALIR
1. Pembuatan 100 ml larutan NaCl 0,1 M

Dihitung konsentrasi larutan yang akan dibuat


NaCl 0,585 gram
NaCl ditimbang dengan timbangan analitik

Dimasukkan pada beaker glass


Aquades secukupnya
Dilarutkan

Dipindahkan kedalam labu takar ukuran 100 ml


Aquades
DiTambahkan hingga tanda batas

Dihomogenkan

Hasil
2.Pembuatan 100 ml larutan NACl 100 ppm
Dihitung massa NaCl

NaCl di timbang dengan timbangan analitik


NaCl 10 mg
Dimasukkan dalam beaker glass
Aquades secukupnya
Dilarutkan

Dipindahkan kedalam labu ukur ukuran 100 ml


Aquades
Ditambahkan hingga tanda batas

Dihomogenisasi

Hasil

3. Pembuatan 100 ml larutan etanol 20% (v/v)


Etanol 96%

Dihitung volume etanol dengan rumus pengenceran

Aquades Secukupnya
Dimasukkan kedalam labu takar ukuran
Etanol 20,83 ml
Dimasukkan ke dalam labu ukur dengan menggunakan pipet
Aquades
Ditambahkan hingga tanda batas

Dihomogenkan

Hasil

4. Pembuatan 100 ml larutan gula 5 % (b/v)


Dihitung massa gula pasir

Ditimbang dengan menggunakan neraca anlitik


Gula 5 gram
Dimasukkan dalam beaker glass
Aquades secukupnya
Dilarutkan

Dipindahkan kedalam labu ukur 100 ml


Aquades
Ditambahkan hingga tanda batas

Dihomogenkan

Hasil

5. Pembuatan 100 ml laruatn HCl 0,1 M dari larutan HCl 32%


Dihitung konsentrasi HCl 32% dalam (M)

Dihitung volume HCl yang akan diambil dengan rumus pengenceran


Larutan HCl 0,96 ml
Dimasukkan ke dalam labu ukur
Aquades
Diambahkan hingga tanda batas

Dihomogenkan

Hasil

Data Hasil Praktikum


N
o
1.
2.
3.
4.
5.

Larutan
Gula
HCl
Etanol
NaCl
NaCl

Konsentrasi
5% (b/v)
0,1 M
20% (v/v)
0,1 M
100 ppm

1. Pembuatan 100 ml larutan gula 5 % (b/v)

Jumlah Zat
Terlarut
5 gram
0,96 ml
20,83 ml
0,585 gram
0,1 gram

( 4.) Pembuatan 100 ml

larutan NaCl 0,1 M


5% = gr x 100 %
M = gr x 1000
Mr

100 ml
100

= 5 mg = 0,005 gram
0,1 = gr x 1000
58,5

Jumlah Zat
Pelarut
100 ml
99,04 m
79,17 ml
100 ml
100 ml

100

2. Pembuatan 100 ml laruatn HCl 0,1 M dari larutan HCl 32%


= 0,585 gram

Berat jenis = 1,19

.) V1 x M1 = V2 x M2

M = % x 10 x

100 x 0,1 = V2 x 10,43

Mr
larutan NACl 100 ppm

V2 = 10

= 32 x 10 x 1,9
ppm = mg

(5.) Pembuatan 100 ml

10,43

36,5

= 0,958

v larutan
= 10,43 M
= mg
0,1

= 0,96 ml

100

3. Pembuatan 100 ml larutan etanol 20% (v/v)


mg = 100 x 0,1
V1 x M1 = V2 x M2
mg = 10
20 x 100 = V2 x 96
= 0,01 gram
V2 = 2000
96
= 20,83 ml

PEMBAHASAN
1.Hal apakah yang harus diperhatikan dalam pembuatan larutan dari
padatan dan cairan (larutan pekat), sebutkan dan jelaskan.
a. Sifat analisis: tetapkan apakah akan melakukan analisis kuantitatif atau
kualitatif(sesuaikan dengan tujuan analisis)
b.

Kuantitas

kebutuhan

larutan(volum,

konsentrasi):

tetapkan

sesuai

dengan

c. kuantitas zat padat(rumus, kelarutan, massa): tetapkan rumus zat


padat(kristal),

daya

larut

dan

massa

padatan

yang

akan

dilarutkan(dihitung)
d. sifat zat padat: tetapkan apakah stabil, higroskopis, atau dapat bereaksi
dengan air.
e. alat ukur massa(neraca): jika kualitatif gunakan neraca T atau Sa dan
jika kuantitatif gunakan neraca T dan neraca A.
f. alat ukur volum: jika kualitatif gunakan gelas ukur dan jika kuantitatif
gunakan labu takar.
g. pelarutan, meliputi:
- peralatan pendukung: siapkan gelas kimia, batang pengaduk, botol
timbang, corong, pipet tetes, botol semprot, botol kemasan pereaksi.
- pelaksanaan: jika kualitatif pindahkan padatan kedalam gelas kimia dan
larutkan dengan akuades secukupnya, lalu pindahkan kedalam gelas ukur
dan tuang akuades sampai tanda batas. sedangkan jika kualitatif
pindahkan dulu seluruh padatan kedalam gelas kimia dan larutkan dengan
akuades

secukupnya,

lalu

pindahkan

seluruhnya

secara

kuantitatif

kedalam labu takar lewat corong; tambahkan akuades sedemikian;


keringkan bagian atas skala; lalu secara tetes per tetes sampai tanda
batas volum; tutup labunya dan homogenkan (Doran,2013).
Membuat larutan dari cairan pekat ( pengenceran).
pra pengenceran:
- volume cairan pekat dan volume akuades yang akan diukur
teknik pengukuran volume cairan pekat
- mengingat sifat zat cair pekat, maka pengukuran volumenya harus
dilakukan diruang asam dan pembacaan skala volumenya harus sesegera
mungkin
- sebaiknya menggunakan masker

pencampuran atau pelarutan


- segera alirkan perlahan cairan pekat lewat batang pengaduk kedalam
gelas kimia berisi akuades diatas.
- hitung balik, konsentrasi cairan hasil pengenceran; tambahkan sesuai
dengan kekurangan akuades (Kenkel,2013).
2. Jelaskan langkah-langkah pembuatan larutan NaCl 10 M dan 100 ppm
dari kristal padat NaCl! Jelaskan langkah kerja pengenceran larutan
tersebut menjadi 1 M !
Pertama-tama kita harus menghitung massa Nacl yang akan dibuat
ppm =

mg
v larutan

V1 x M1

= V2 x M2

0,1 x 10 M = 1 x M2

100 = mg

M2 = 1 M

0,1
mg = 100 x 0,1
= 10 mg
= 0,1 gram
Setelah dihitung ternyata massa dari NaCl adalah 0,05 gram. Lalu NaCl
ditimbang dengan timbangan analitik . Lalu 0,1 gram Nacl tersebut
dimasukkan pada beaker glass. Aquades ditambahkan secukupnya pada
beaker glass. Kemudian kedua zat tersebut dilarutkan. Setelah itu
campuran tersebut Dipindahkan kedalam labu ukur .

Aquades pun

ditambahkan hingga tanda batas. Setelah mencapai tanda batas larutan


tersebut dihomogenkan.
3.Jelaskan cara pembuatan larutan 100 ml HCl 0,1 M dari larutan HCl
pekat 37% !
Pertama-tama kita harus menghitung konsentrasi HCl 37% dalam (M) . dan
hitung volume HCl yang akan diambil dengan rumus pengenceran
M = % x 10 x
Mr

100 x 0,1 = V2 x 19,26


V2 = 10

= 37 x 10 x 1,9
36,5

19,26
= 0,51 ml

= 19,26 M
Lalu HCl tersebut dimasukkan pada labu ukur. Aquades pun ditambahkan
hingga tanda batas. Setelah mencapai tanda batas larutan tersebut
dihomogenkan
4. Jelaskan cara pembuatan larutan 50 ml larutan NaCl 100 ppm dari krital
garam NaCl !
Pertama-tama kita harus menghitung massa Nacl yang akan dibuat.
. ppm =

mg
v larutan

100 = mg
0,05
mg = 100 x 0,05
= 5 mg
= 0,05 gram
Setelah dihitung ternyata massa dari NaCl adalah 0,05 gram. Lalu NaCl
ditimbang dengan timbangan analitik . Lalu 0,05 gram Nacl tersebut
dimasukkan pada beaker glass. Aquades ditambahkan secukupnya pada
beaker glass. Kemudian kedua zat tersebut dilarutkan. Setelah itu
campuran tersebut Dipindahkan kedalam labu ukur .

Aquades pun

ditambahkan hingga tanda batas. Setelah mencapai tanda batas larutan


tersebut dihomogenkan.

5. Jelaskan cara pembuatan larutan gula 10%(b/v) !


Pertama-tama hitung massa gula pasir yang akan digunakan.
Gula 10% (b/v )
10% = gr x 100 %

100 ml
gr = 10 mg
Setelah dihitung ternyata massa gula adalah 10 mg. Kemudian gula
pasir tersebut ditimbang dengan menggunakan neraca anlitik . 10 mg gula
tersebut dimasukkan dalam beaker glass Aquades secukupnya
ditambahkan ke dalam beaker glass. Kedua zat dilarutkan lalu dipindahkan
kedalam labu ukur. Ditambahkan lagi aquades hingga mencapai tanda
batas. Setelah itu larutan tersebut dihomogenkan.

Analisis Prosedur
Percobaan pertama adalah pembuatan 100 ml larutan NaCl 0,1 M,
pertama tama siapkan alat dan bahan untuk membuat larutan tersebut.
Hitung massa Nacl yang akan dibuat.Setelah dihitung ternyata hasilnya
adalah 0,585 gram. Kemudian NaCl tersebut ditimbang di timbangan
analitik. Masukkan NaCl ke dalam beaker glass dan tambahkan aquades
secukupnya.

Kemudian

dua

zat

tersebut

dilarutkan.

Setelah

larut,

campuran tersebut dipindahkan kedalam labu ukur. Aquades ditambahkan


hingga tanda batas dan larutan tersebut di homogenkan.
Pada percobaan kedua adalah pembuatan 100 ml larutan NACl 100
ppm. pertama tama siapkan alat dan bahan untuk membuat larutan
tersebut. Hitung massa Nacl yang akan dibuat.Setelah dihitung ternyata
hasilnya adalah 10 mg. Kemudian NaCl tersebut ditimbang di timbangan
analitik. Masukkan NaCl ke dalam beaker glass dan tambahkan aquades
secukupnya.

Kemudian

dua

zat

tersebut

dilarutkan.

Setelah

larut,

campuran tersebut dipindahkan kedalam labu ukur. Aquades ditambahkan


hingga tanda batas dan larutan tersebut di homogenkan.
Percobaan yang ketiga adalah embuatan 100 ml larutan etanol 20%
(v/v). pertama tama siapkan alat dan bahan untuk membuat larutan
tersebut. Di laboratorium terdapat etanol 96%. Hitung volume etanol
dengan rumus pengenceran. Setelah dihitung ternyata hasilnya adalah
20,83 ml. Kemudian aquades secukupnya dimasukkan kedalam labu ukur.
Lalu masukkan juga etanol tersebut kedalam labu ukur. Tambahkan

aquades

hingga

tanda

batas.m.

Dan

kemudian

larutan

tersebut

dihomogenkan.
Pada yang percobaan yang keempat adalah pembuatan 100 ml
larutan gula 5 % (b/v). pertama tama siapkan alat dan bahan untuk
membuat larutan tersebut. Hitung massa gula pasir

yang akan dibuat.

Setelah dihitung ternyata hasilnya adalah 5 gram. Kemudian gula pasir


tersebut ditimbang di timbangan analitik. Masukkan gula pasir yang sudah
ditimbang ke dalam beaker glass dan tambahkan aquades secukupnya.
Kemudian dua zat tersebut dilarutkan. Setelah larut, campuran tersebut
dipindahkan kedalam labu ukur. Aquades ditambahkan hingga tanda batas
dan larutan tersebut di homogenkan.
Terakhir adalah percobaan yang kelima yaitu pembuatan 100 ml
laruatn HCl 0,1 M dari larutan HCl 32%. pertama tama siapkan alat dan
bahan untuk membuat larutan tersebut. Hitung konsentrasi HCl dalam
bentuk (M). Lalu hitung volume HCl yang akan diambil dengan rumus
pengenceran.

Setelah

dihitung

ternyata

hasilnya

adalah

0,96

ml.

Kemudian masukkan HCl tersebut kedalam labu ukur. Tambahkan aquades


hingga tanda batas.. Dan kemudian larutan tersebut dihomogenkan.

Analisis Hasil
Pada percobaan pertama adalah pembuatan 100 ml larutan gula 5
% (b/v) . untuk mengetahui massa

gula pasir yang akan dibuat. Maka

dilakukan penghitungan sebagai berikut:


ppm = berat zat terlarut
volume larutan

5% = gr x 100 %
100 ml
gr = 5 mg

Percobaan yang kedua adalah pembuatan 100 ml larutan HCl 0,1 M


dari larutan HCl 32%. Kita harus mengetahui konsentrasi HCl dalam
bentuk (M) dan volume larutan HCl yang akan dibuat dengan
penghitungan sebagai berikut:
Berat jenis = 1,19
M = % x 10 x
Mr
= 32 x 10 x 1,9

V1 x M1 = V2 x M2
100 x 0,1 = V2 x 10,43
V2 = 10
10,43

36,5

= 0,958

= 10,43 M

= 0,96 ml

Percobaan yang ketiga adalah pembuatan 100 ml larutan etanol


20% (v/v). Untuk mengetahui volume etanol yang akan dibuat maka
dilakukan penghitungan dengan menggunakan rumus pengenceran
larutan sebagai berikut:
V1 x M1 = V2 x M2

*etanol 96 %

20 x 100 = V2 x 96
V2 = 2000
96
= 20,83 ml
Percobaan yang keempat adalah pembuatan 100 ml larutan NaCl
0,1 M. Untuk mengetahui massa NaCl yang akan dibuat maka dilakukan
penghitungan sebagai berikut:
M = gr

x 1000

Mr
0,1 = gr

100
x

58,5

1000
100

= 0,585 gram

Terakhir adalah percobaan yang kelima yaitu pembuatan 100 ml


larutan NACl 100 ppm. Untuk mengetahui massa NaCl yang akan dibuat
maka dilakukan penghitungan sebagai berikut:
ppm = mg
v larutan
100 =

mg
0,1

mg = 100 x 0,1
mg = 10
= 0,01 gram.

Hasil Literatur
Pembuatan Larutan Methyl Red (C15H15N3O2 )

1. Larutan Induk
Larutan induk 1000 ppm dibuat dengan cara menimbang kristal
methyl red sebanyak 1 gram, dilarutkan dalam etanol sebanyak 600 ml
dan distirrer selama 4 jam. Larutan kemudian diencerkan menggunakan
etanol hingga volume 1000 ml, sehingga didapatkan larutan zat warna
dengan konsentrasi 1000 ppm (Clayden,2012).
2. Larutan Standar
Larutan standar dibuat dengan cara mengencerkan larutan induk menjadi
100 ppm terlebih dahulu. Kemudian diencerkan menjadi 2, 4, 6, 8, 10, 12,
dan 14 ppm.
Rumus pengenceran :
V1xM1 = V2xM2
Keterangan :
V1 = volum larutan induk yang diambil
M1 = konsentrasi larutan yang diencerkan
V2 = volum larutan hasil pengenceran
M2 = konsentrasi larutan hasil pengenceran
Untuk larutan 2 ppm sebanyak 10 ml diencerkan dari larutan 100 ppm
maka ;
V1xM1 = V2xM2
V1x100ppm = 10x2
V1 = 0,2 ml
3. Larutan Adsorbat
Larutan adsorbat sebanyak 40 hingga 100 ppm diencerkan dari larutan
induk 1000 ppm menggunakan rumus pengenceran. Untuk membuat
larutan 40 ppm sebanyak 100 ml dari larutan induk 1000 ppm maka;

V1xM1 = V2xM2
V1x1000ppm = 100x40
V1 = 4 ml
Sehingga untuk membuat larutan adsorbat 40 ppm sebanyak 100 ml
volume
larutan induk 1000 ppm yang diambil sebanyak 4 ml. Analog dengan cara
diatas
maka untuk larutan 50, 60, 70, 80, 90, dan 100 ppm diambil berturut-turut
sebanyak
5, 6, 7, 8, 9, dan 10 ml larutan induk 1000 ppm (Clayden,2012).

Kesimpulan
Tujuan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui
cara pembuatan dan pengenceran larutan dengan kondisi dan konsentrasi
tertentu beserta prosedur kerjanya. Definisi larutan sendiri adalah
campuran homogen dua zat atau lebih yang saling melarutkan dan
masing-masing zat penyusunnya tidak dapat dibedakan lagi secara fisik .

Komposisi dan sifat fase suatu larutan berbeda dengan air murni. Larutan
merupakan campuran yang terdiri dari dua bahan.
Pada praktikum kali ini telah dilakukan dilakukan 5 percobaan. Pada
percobaan pertama adalah pembuatan 100 ml larutan gula 5 % (b/v) .
untuk mengetahui massa
dilakukan
dibutuhkan

penghitungan.
untuk

gula pasir yang akan dibuat maka perlu


Setelah

membuat

dihitung

larutan

ternyata

tersebut

adalah

massa

yang

0,005

gram.

Percobaan yang kedua adalah pembuatan 100 ml larutan HCl 0,1 M dari
larutan HCl 32%. Kita harus mengetahui konsentrasi HCl dalam bentuk (M)
dan volume larutan HCl yang akan dibuat dengan penghitungan dan
setelah dihitung ternyata volumenya adalah 0,96 ml.
Percobaan yang ketiga adalah pembuatan 100 ml larutan etanol 20%
(v/v). Untuk mengetahui volume etanol yang akan dibuat maka dilakukan
penghitungan dengan menggunakan rumus pengenceran larutan.Ternyata
hasilnya adalah 20,83 ml. Percobaan yang keempat adalah pembuatan
100 ml larutan NaCl 0,1 M. Untuk mengetahui massa NaCl yang akan
dibuat maka dilakukan penghitungan. Setelah dihitung ternyata massanya
adalah 0,585 gram. Terakhir adalah percobaan yang kelima yaitu
pembuatan 100 ml larutan NACl 100 ppm. Untuk mengetahui massa NaCl
yang akan dibuat maka dilakukan penghitungan. Setelah dihitung ternyata
volumenya adalah 0,01 gram.
Untuk menghasilkan larutan yang diinginkan, setelah mengetahui
massa maupun volume yang dibutuhkan,
prosedur sesuai dengan diagram alir.

praktikan harus melakukan

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, Devinta Rachmawati. 2008 . Pengaruh Konsentrasi dan Jenis


Larutan
Perendaman terhadap Kecepatan Ekstraksi dan Sifat Gel Agar-agar
dari Rumput
Laut (Gracilaria Verrucosa Sperisa Distantina). Jurnal Rekayasa
Proses, Vol. 2,
No. 1. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sebelas
Maret Surakarta
Brown, Theodore L. 2013. Chemistry: The Central Science.Australia.
Pearson Higher
Education AU

Malone, Leo J. 2008 . Basic Concepts of Chemistry. Newcastle. John Wiley &
Sons
Mutia, Hapsari. 2013 . Aplikasi Blanching Larutan Kalsium Klorida (CaCl2)
dan
Edible Coating Metilselulosa Dengan Plasticizer Sorbitol Sebagai
Penghambat Absorbsi Minyak pada Keripik Pisang Kepok
(Musa Parasidiaca Formatypica). Jurusan Teknologi Hasil Pertanian,
Fakultas Pertanian,
Universitas Sebelas Maret, Surakarta
Syamsuni. 2005 .Farmasetika Dasar & Hitungan Farmasi. Jakarta. Penerbit
buku
kedokteran EGC Jakarta

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN


Clayden, Jonathan. 2012. Organic Chemistry, UK, OUP Oxford
Doran. Pauline M. 2013. e-Study Guide for Bioprocess Engineering
Principles, Birmingham.
Cram 101 Content technologies, inc
Kenkel, John . 2013 . Analytical Chemistry for Technicians, Fourth Edition.
US. CRC
Press