Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Campak, measles atau rubeola adalah penyakit virus akut yang disebabkan
oleh virus campak. Penyakit ini sangat infeksius, dapat menular sejak awal masa
prodromal sampai lebih kurang 4 hari setelah munculnya ruam. Penyebaran
infeksi terjadi dengan perantara droplet.1,2
Morbili merupakan penyakit endemis terutama di negara sedang
berkembang. Di Indonesia, menurut survei kesehatan rumah tangga, campak
menduduki tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada bayi dan
pada anak umur 1-4 tahun. Di Indonesia campak sudah dikenal sejak lama dan
epidemiologinya terjadi tidak teratur. Wabah rentan terjadi pada anak yang
memiliki status gizi kurang baik.1
Virus penyebab campak merupakan virus RNA, termasuk dalam genus
Morbilivirus dan famili Paramyxovirus. Kondisi anak yang belum mendapatkan
vaksinasi merupakan risiko terbesar penularan penyakit ini disebabkan belum
adanya antibodi yang terbentuk dalam tubuh anak selain

itu dapat pula

diakibatkan kegagalan vaksinasi akibat berbagai kemungkinan contohnya adanya


antibodi yang dibawa sejak lahir yang dapat menetralisir virus vaksin campak
yang masuk, vaksinnya rusak akibat pemberian Ig yang diberikan bersama-sama.2
Virus campak ditularkan melalui infeksi droplet, masuk ke saluran nafas
dan berkembang biak di epitel nasofaring. Manifestasi morbili terbagi menjadi
beberapa stadium yaitu: (1) stadium inkubasi sekitar 10-12 hari tanpa gejala, (2)
stadium prodromal dengan gejala demam ringan sampai sedang, coryza, batuk,
konjungtivitis, bercak koplik di mukosa bukalis dan batuk, (3) stadium erupsi,
dengan rashmakulopapular yang muncul berturut-turut pada leher dan muka,
tangan, kaki, dan badan yang disertai dengan demam tinggi, (4) stadium

konvalesensi, dimana rash akan menghilang mulai dari daerah awal timbulnya
rash dan trejadi hiperpigmentasi pada kulit.1,3
Morbili merupakan suata penyakit yang dapat sembuh sendiri dan jarang
menimbulkan

kematian bagi penderitanya, sehingga pengobatannya bersifat

suportif yaitu istirahat yang cukup, pemberian makanan dan minuman yang
bergizi, antipiretik seperti acetaminofen dan ibuprofen per oral, tetapi bila terjadi
komplikasi maka angka kematian meningkat. Komplikasi dapat terjadi pada
morbili adalah bronkopneumonia, gastroenteritis, encepalitis, otitis media,
mastoiditis, laringitis akut, dan SSPE.2,3

KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. M.Z

Umur

: 3 tahun 9 bulan

Jenis kelamin

: laki-laki

Agama

: Islam

Tanggal masuk

: 26 September 2015

ANAMNESIS
Keluhan utama

: Panas

Riwayat penyakit sekarang : pasien masuk dengan keluhan panas sejak 5 hari
sebelum masuk rumah sakit, panas naik turun, panas turun dengan pemberian obat
penurun panas namun kemudian panas naik lagi. Panas tidak disertai menggigil,
kejang (-), mimisan (-). Selain itu ibu pasien mengeluhkan munculnya ruam
kemerahan pada seluruh tubuh anaknya sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit,
awalnya ruam muncul pertama kali pada daerah belakang wajah, dan kemudian
menyebar ke dada, punggung dan keseluruh tubuh. Mata pasien sering berair dan
kemerahan. Selain itu pasien juga mengalami batuk (+) yang timbul bersamaan
dengan munculnya keluhan utama, beringus (+), sesak nafas (-), dan muntah (-).
Buang air besar cair (+) 3 kali, dengan warna tinja kuning (+), berampas (-), darah
(-), volume sedang, dan bau tinja biasa. Buang air kecil biasa.

Riwayat penyakit dahulu

: Pasien tidak pernah menderita penyakit yang sama


sebelumnya.

Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan


serupa.
Riwayat sosial-ekonomi

: Menengah

Riwayat Kehamilan dan persalinan :


Pasien lahir di rumah sakit, bayi lahir dengan SC atas indikasi permintaan
ibu pasien , dengan usia kehamilan cukup bulan dan Berat Badan Lahir : 3.500
gram, Panjang Badan Lahir tidak di ketahui.

Anamnesis Makanan

ASI diberikan sejak lahir hingga usia 2 tahun. Pasien tidak diberikan susu
formula, usia 8 bulan mulai diberikan makanan bubur hingga usia 1 tahun. Nasi dari usia
1 tahun hingga sekarang.
Riwayat Imunisasi

: Pasien belum imunisasi campak.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum

: Sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Berat badan

: 7 kg

Tinggi badan

: 44 cm

Status Gizi (CDC)


Tanda vital

Kulit

: Z score 0 1 (Gizi baik)

:Tekanan darah: 100/60 mmHg


Nadi

= 120 x/menit

Respirasi

= 40 x/menit

Suhu badan

= 38,3 0C

: Ruam (+), turgor < 2 detik, RLT (-), tampak ruam macula
eritematosa pada wajah, leher, perut, punggung, tangan, dan
kaki.

Kepala

: Normocephal, rambut hitam, tidak mudah dicabut

Mata

: Konjungtiva hiperemis (+), sklera tidak ikterik, refleks kornea


kesan normal, refleks cahaya normal, tidak cekung

Hidung

: Rhinorrhea (+), epistaksis (-), pernapasan cuping hidung (-)

Mulut

: Sianosis (-), mukosa bibir kering (+), Tonsil T1/ T1tidak


hiperemis.

Leher

: Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, tidak ada


pembesaran kelenjar tiroid

Paru-Paru
Inspeksi
Palpasi

: Pergerakan dinding dada simetris bilateral


: Vocal Fremitus kanan sama dengan kiri

Perkusi paru

: Sonor pada lapang paru kanan dan kiri

Auskultasi

:Suara napas bronchovesikuler (+/+), ronchi (-/-), wheezing


(-/-)

Jantung

Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Teraba pulsasi ictus cordis pada SIC V midclavicula sinistra

Perkusi

: Batas atas pada SIC II para sternal sinistra, batas kiri jantung
pada SIC V midclavicula sinistra dan batas kanan pada SIC IV
para sternal dextra

Auskultasi

: Bunyi jantung I-II murni regular, tidak ada murmur, tidak ada
gallop

Abdomen
Inspeksi

: Datar, tidak tampak sikatrik, dan tidak tampak massa.

Auskultasi

: Peristaltik usus (+) kesan meningkat

Perkusi

: Timpani

Palpasi

: nyeri tekan epigastrik (-), hepar dan lien tidak teraba

Genitalia

: Dalam batas normal

Anggota gerak

: Akral hangat, kekuatan otot normal, tidak dijumpai edema.

Punggung

: Deformitas (-), Tidak Skoliosis, Lordosis, dan kifosis

PEMERIKSAAN PENUNJANG

26 September 2015
Laboratorium :
Darah rutin : - RBC : 4.68 x 1012/L (normal) range normal : 3,8 5,2 mill/mm3
-

HCT : 38.2 % (normal) range normal : 35 47 %

PLT : 201 x 109/L (menurun) range normal : 150 400 x 103 /mm3

WBC : 3.7 x 109/L (normal) range normal : 3,6 11 x 103 / mm3

HGB : 12,7 g/dL (normal) range normal : 11,5 16,0 g/dL

RESUME
Pasien anak laki-laki usia 3 tahun 9 bulan, berat badan 7 kg, panjang
badan 63 cm, status gizi baik, datang dengan keluhan panas sejak 5 hari yang lalu.
Panas naik turun, turun dengan obat penurun panas namun naik kembali.
Selanjutnya Timbul ruam macula eritema sejak 2 hari sebelum masuk RS,
awalnya muncul dari bagian wajah, kemudian menjalar kebagian leher, badan
punggung dan ke seluruh tubuh.Mata berair dan merah. Batuk (+). BAB cair 3
kali.
Pemeriksaan fisik didapat keadaan umum compos mentis, tampak sakit
sedang. Pemeriksaan fisik dan tanda vital didapatkan tekanan darah 100/60
mmHg, nadi 112x/menit, respirasi 52x/menit, suhu 38,2oC. Pada kulit tampak
ruam macula eritematosa pada wajah, leher, perut, punggung, tangan, dan kaki,

pada pemeriksaan thoraks didapatkan suara napas broncovesikular. Pada


pemeriksaan laboratorium didapapatkan hasil masih dalam batas normal.
DIAGNOSIS : Morbili
TERAPI :
-

IVFD RL 16 tpm
Paracetamol 4 x cth
Cefadroxil syr 2x2 cth
Salbultamol 0,4 mg
Epexol 0,5 mg
di puyer 3 x 1
Imunos syr 1x1 cth

ANJURAN

Pemeriksaan isolasi virus (apusan mukosa hidung)


Pemeriksaan serologi

DISKUSI

Morbili/ campak merupakan penyakit akut yang sangat menular,


disebabkan oleh virus yang menyerang anak.Morbili merupakan penyakit endemis
terutama di negara sedang berkembang. Di Indonesia, menurut survei kesehatan
rumah tangga, campak menduduki tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit
utama pada bayi dan pada anak umur 1-4 tahun. Di Indonesia campak sudah
dikenal sejak lama dan epidemiologinya terjadi tidak teratur. Wabah rentan terjadi
pada anak yang memiliki status gizi kurang baik.1
Virus penyebab campak merupakan virus RNA, termasuk dalam genus
Morbilivirus dan famili Paramyxovirus. Kondisi anak yang belum mendapatkan
vaksinasi merupakan risiko terbesar penularan penyakit ini disebabkan belum
adanya antibodi yang terbentuk dalam tubuh anak selain

itu dapat pula

diakibatkan kegagalan vaksinasi akibat berbagai kemungkinan contohnya adanya


antibodi yang dibawa sejak lahir yang dapat menetralisir virus vaksin campak
yang masuk, vaksinnya rusak akibat pemberian Ig yang diberikan bersama-sama.2
Penyebaran virus maksimal adalah selama masa prodromal (stadium
kataral), melaluikontak langsung dengan orang yang terinfeksi, yakni melalui
percikan ludah (droplet infection) yang keluar ketika bersin atau batuk. Orang
yang terinfeksi menjadi menular pada hari ke 9 10 sesudah pemajanan (mulai
fase prodromal). Fokus infeksi terwujud yaitu ketika virus masuk kedalam
pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva,
saluran nafas, kulit, kandung kemih dan usus Pada hari ke 9-10 fokus infeksi yang
berada di epitel saluran nafas dan konjungtiva, satu sampai dua lapisan mengalami
nekrosis. Pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh
darah dan menimbulkan manifestasi klinisdari sistem saluran nafas diawali
dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtivayang tampak merah.
Respon imun yang terjadi ialah proses peradangan epitel pada system saluran
pernafasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak tampak

sakit berat dan ruam yang menyebar keseluruh tubuh, tampak suatu ulsera kecil
pada mukosa pipi yang disebut bercak koplik. Akhirnya muncul ruam
makulopapular pada hari ke 14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibodi
humoral dapat dideteksi.Selanjutnya daya tahan tubuh menurun, sebagai akibat
respon delayed hypersensitivityterhadap antigen virus terjadilah ruam pada kulit.
Daerah epitel nasofaring yang mengalami nekrosis akan mudah terjadi infeksi
sekunder sehingga dapat memberikan komplikasi/penyulit berupa laringitis akut,
bronkopneumoni, enteritis, otitis media, konjungtivitis, dan encephalitis.1,2,4
Manifestasi klinis:

Masa prodromal antara 2-4 hari ditandai dengan demam 38,4 40,6C,

koriza, batuk, konjungtivitis,bercak Koplik.


Bercak Koplik timbul 2 hari sebelum dan sesudah erupsi kulit, terletak
pada mukosa bukal posteriorberhadapan dengan geraham bawah, berupa
papul warna putih atau abu-abu kebiruan di atas dasar bergranulasi atau

eritematosa.
Demam sangat tinggi di saat ruam merata dan menurun dengan cepat

setelah 2-3 hari timbulnya eksantema.


Dapat disertai adanya adenopati generalisata dan splenomegali
Eksantema timbul pada hari ke 3- 4 masa prodromal, memudar setelah 3

hari dan menghilang setelah 6-7 hari


Erupsi timbul dimulai dari belakang telinga dan perbatasan rambut kepala
kemudian menyebar secara sentrifugal sampai keseluruh badan pada hari

ke 3 eksantema
Eksantema berupa papul eritematosa berbatas jelas dan kemudian
berkonfluensi menjadi bercak yang lebih besar, tidak gatal dan kadang

disertai purpura.
Bercak menghilang disertai dengan hiperpigmentasi kecoklatan dan

deskuamasi ringan yang menghilang setelah 7-10 hari


Black measless merupakan keadaan yang berat dari campak, terdapat
demam dan delirium diikuti penekanan fungsi pernapasan dan erupsi
hemoragik yang luas

Waktu dari pemajanan sampai berkembangnya gejala pertama infeksi campak


biasanya 8 sampai 12 hari dan dari pemajanan sampai munculnya ruam sekitar 2
minggu. Penampakkan awal penyakit berupa malaise, iritabilitas, temperatur
setinggi 40,6 C, konjungtivitis dengan lakrimasi berlebih, edema kelopak mata
dan fotofobia, serta batukkeras yang cukup berat. Morbili memiliki gejala klinis
khas, yang terdiri dari tiga stadium yaitu:
a. Stadium Prodromal
Stadium ini berlangsung 4-5 hari. Demam biasanya merupakan tanda pertama
dan menetap selama masa prodromal. Panas dapat memuncak pada hari ke
lima atau ke enam yaitu pada saat puncak timbulnya erupsi. Temperatur
berkisar antara 38,3 C-40 C pada saat erupsi rash mencapai puncaknya.
Nyeri tenggorok, sekret hidung dan batuk kering sering dijumpai selama
masa prodromal.Konjungtivitis nonpurulen terjadi pada akhir prodromal dan
disertai dengan fotofobia dan peningkatan lakrimasi. Konjungtivitis akan
menghilang setelah demam turun. Bercak koplik adalah bintik-bintik putih
halus dengan dasar eritematous yang tipis, yang timbul pertama kali pada
mukosa bukal yang menghadap gigi molar dan menjelang kira-kira hari ke 3
atau ke 4 dari masa prodromal dapat meluas sampai seluruh mukosa mulut.
Bercak koplik ini merupakan tanda patognomonis dari campak yang biasanya
akan menghilang ketika eksantema menjadi jelas.Diagnosis perkiraan yang
besar dapat ditegakkan jika adanya

bercak koplik dan penderita pernah

kontak dengan penderita morbili.1,2

b. Stadium Erupsi
Gejala pada stadium kataral bertambah dan timbul enantem di palatum durum
dan palatum mole. Kemudian terjadi ruam eritematosa yang berbentuk

makula papula disertai dengan meningkatnya suhu badan. Ruam mula-mula


timbul di belakang telinga, di bagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut,
dan bagian belakang bawah. Dapat terjadi pendarahan ringan, rasa gatal dan
muka bengkak. Ruam mencapai anggota bawah pada hari ke tiga dan
menghilang sesuai urutan terjadinya. Dapat terjadi pembesaran kelenjar getah
bening mandibula dan leher bagian belakang, splenomegali, diare dan muntah
Pada campak tipe hemoragik (black measles), pendarahan dapat terjadi dari
mulut, hidung atau usus besar.1,2,3
c. Stadium Konvalesensi
Pada stadium ini, erupsi berkurang menimbulkan bekas yang berwarna
lebih tua atau hiperpigmentasi (gejala patognomonik) yang lama kelamaan
akan

hilang

sendiri.

bersisik.Hiperpigmentasi

Selain
ini

itu

ditemukan

merupakan

gejala

pula

kelainan

patognomonik

kulit
untuk

morbilli.Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam


kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai normal
kecuali bila ada komplikasi.1,2,3
Penegakan diagnosis pada kasus ini didasarkan pada anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Pada kasus ini, pasien datang dengan keluhan panas sejak
6 hari sebelum masuk rumah sakit dan saat datang telah timbul ruam
makulaeritema pada wajah, leher, perut, punggung, tangan, dan kaki yang
timbul sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluhkan
matanya sering berair, batuk, dan diare.
Berdasarkan kepustakaan, morbili diawali dengan timbulnya demam yang
mendadak, diikuti dengan batuk, coryza, konjungtiva yang hiperemis sampai
konjungtivitis, anoreksia, dan adanya bercak koplik pada mukosa bukalis
yang merupakan tanda patognominik dari morbili.1,5
Pada pasien ini di temukan gejala klasik morbili, yaitu Cough, Coryza, dan
Conjungtivitas. Pasien ini juga mengalami demam dengan gejala prodormal

anoreksia. Terdapat batuk dan mata merah, muncul ruam makulopapular.


Tanda-tanda patognomik yakni bercak koplik tidak tampak pada pasien ini.
bercak koplik biasanya muncul pada 1-2 hari sebelum dan setelah 2 hari ruam
muncul. Bercak ini mulau mengelupas bersaman dengan munculnya ruam.
Meskipun tanda patognomik dari campak tidak ditemui ,hal ini tidak membuat
diagnosis campak dieksklusif. Selain itu juga pasien datang ke rumah sakit saat
ruam telah muncul.
Pada kasus ini, saat pasien datang ke rumah sakit kemungkinan pasien
sudah dalam stadium erupsi karena ruam makuloeritema sudah timbul. Adapun
Bercak koplik sebagai tanda patognomonik morbili biasanya didapatkan pada
akhir stadium prodromal dan menghilang dalam waktu 24 jam sampai hari ke-2
sampai timbulnya rash.

Gambar

Morbili bersifat self limiting disease sehingga pengobatnnya hanya bersifat


simptomatik, yaitu untuk mengurangi gejala yang muncul dan mencegah
komplikasi yang dapat terjadi. Antipiretik diberika untuk menurunkan demam dan
antibiotik diberikan untuk mengobati dan mencegah infeksi sekunder seperti
bronkopneumoni. Diberikan ekspektoran atau mukolitik untuk mengurangi batuk,
vitamin A dosis tunggal untuk mencegah terjadinya gangguan ophtalmologi. Dosis
vitaminA untuk kurang dari 6 bulan 50.000 IU, usia 6 bulan- 1 tahun 100.000 IU,
1 tahun-5 tahun 200.000 IU.1,4
Pada pasien ini diberikan paracetamol (sanmol syrup) sebagai penurun
panas, dengan dosis 10-15mg/kgBB perdosis, setiap 6 jam sehari. Pasien juga
diberika antibiotik cefadroxil 2x2 tablet untuk infeksi sekunder dari ruam
makulaeritema dan mencegah kompilkasi infeksi sekunder lain. Pemberian

antihistamin dan kortikosteroid dipertimbangkan untuk mengurangi proses


inflamasi. Jika pasien mengalami konjungtivitis ringan dengan cairan mata
jernih maka tidak perlu diberikan terapi. Sedangkan apabila pasien mengalami
konjungtivitis berat berupa banyaknya sekret pada mata, maka perlu diberikan
tetracyclin 1% atau kloramphenicol 0,25% dan apabila terdapat kekeruhan
kornea, kapsul vitamin A diberikan pada hari ke-1, ke-2, dan ke-14. Pada
pasien ini tidak diberikan untuk pengobatan mata karena hanya mengalami
konjungtivitis ringan.4,6
Pada morbilli biasanya memberikan komplikasi seperti sebagai berikut :
1. Bronkopnemonia
Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh virus campak atau oleh infeksi
sekunder oleh bakteri pneumococcus, streptococcus atau staphylococcus.
Bronkopneumonia ini dapat menyebabkan kematian bayi yang masih
muda, anak dengan malnutrisi energi protein, penderita penyakit menahun
seperti tuberkulosis, leukemia dan lain-lain. Oleh karena itu pada keadaan
tertentu perlu dilakukan pencegahan.2,3
2. Encephalitis morbili akut
Encephalitis morbili akut ini timbul pada stadium eksantem, angka
kematian rendah. Angka kejadian ensefalitis setelah infeksi morbili ialah
1:1000 kasus, sedangkan ensefalitis setelah vaksinasi dengan virus
morbili hidup adalah 1,16 tiap 1.000.000 dosis.2

3. SSPE (Subacute Scleroting panencephalitis)


SSPE yaitu suatu penyakit degenerasi yang jarang dari susunan saraf
pusat.Ditandai oleh gejala yang terjadi secara tiba-tiba seperti kekacauan
mental, disfungsi motorik, kejang, dan koma.Perjalan klinis lambat,
biasanya meninggal dalam 6 bulan sampai 3 tahun setelah timbul gejala
spontan.Meskipun demikian, remisi spontan masih dapat terjadi. Biasanya
terjadi pada anak yang menderita morbili sebelum usia 2 tahun. SSPE
timbul setelah 7 tahun terkena morbili, sedang SSPE setelah vaksinasi

morbili terjadi 3 tahun kemudian.Penyebab SSPE tidak jelas tetapi ada


bukti-bukti

bahwa

virus

morbilli

memegang

peranan

dalam

patogenesisnya. Anak menderita penyakit campak sebelum umur 2 tahun,


sedangkan SSPE bisa timbul sampai 7 tahun kemudian SSPE yang terjadi
setelah vaksinasi campak didapatkan kira-kira 3 tahun kemudian.
Kemungkinan menderita SSPE setelah vaksinasi morbili adalah 0,5-1,1
tiap 10.000.000, sedangkan setelah infeksi campak sebesar 5,2-9,7 tiap
10.000.000.2,3
4. Entritis
Pada beberapa anak yang menderita campak mengalami muntah dan
mencret pada fase prodromal.Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel
mukosa usus.Dapat pula timbul enteropati yang menyebabkan kehilangan
protein.

Pada kasus ini komplikasi atau penyulit yang timbul yakni enteritis.
Beberapa anak yang menderita campak dapat pula mengalami muntah dan
menceret pada fase prodromal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel
mukosa usu halus.

Pencegahan penyakit morbilli dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut


:
1. Imunisasi aktif.
Imunisasi aktif dapat dirangsang dengan memberikan virus campak
hidup yang dilemahkan.Pencegahan utama dengan melakukan imunisasi
campak, imunisasi campak termasuk yang wajib diberikan terhadap anak
usia 9 bulan yang dapat diulang saat anak berusia dan termasuk ke dalam

program pengembangan imunisasi (PPI). Imunisasi dapat pula diberikan


bersama Mumps dan Rubela (MMR) pada usia 12-15 bulan. Anak yang
telah mendapat MMR tidak perlu mendapat imunisasi campak ulangan
pada usia 6 tahun.2
2. Imunisasi pasif.
Imunisasi pasif dengan kumpulan serum orang dewasa, kumpulan
serum konvalesen, globulin plasenta, atau gamma globulin plasma.
Campak dapat dicegah dengan menggunakan immunoglobulin serum
(gamma

globulin)

dengan

dosis

0,25

mL/kg

diberikan

secara

intramuskuler dalam 5 hari sesudah pemajanan tetapi lebih baik sesegera


mungkin.1,2,3
3. Isolasi
Penderita rentan menghindari kontak dengan seseorang yang
terkena penyakit campak dalam kurun waktu 20-30 hari, demikian pula
bagi penderita campak untuk diisolasi selama 20-30 hari guna
menghindari penularan lingkungan sekitar.

Prognosis juga baik pada anak dengan keadaan umum yang baik tetapi
prognosisburuk bila keadaan umum buruk, anak yang sedang menderita penyakit
kronis atau bila ada komplikasi.Pada kasus ini prognosis pasien baik karena gejala
simptomatik dan komplikasi dari pasien dapat diatasi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Widagdo. 2011. Masalah dan Tatalaksana penyakit Infeksi Pada Anak.


Jakarta. Sagung Seto.
2. Penyakit Tropik dan Infeksi Anak. Kapikta Selekta Kedokteran, Edisi III
Jilid 2. FKUI. 2004.
3. Rampengan, H.T., 2006. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta. EGC
4. Soedarmp, P,S,S., Garna, H., Hadinegoro, S,R,S,. 2002. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Anak. Jakarta. IDAI
5. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 1985. Ilmu Kesehatan Anak 2. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan
Anak Fakultas Universitas Indonesia.
6. Hasan R. dkk.Buku Kuliah 2, Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia : Jakarta. 2005