Anda di halaman 1dari 17

Persamaan Schrödinger

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Langsung ke: navigasi, cari
Dalam fisika, persamaan Schrödinger, diajukan oleh fisikawan Erwin Schrödinger pada tahun
1925, menjelaskan hubungan ruang dan waktu pada sistem mekanika kuantum. Persamaan ini
merupakan hal penting dalam teori mekanika kuantum, sebagaimana halnya hukum kedua
Newton pada mekanika klasik.
Dengan menggunakan notasi bra-ket Dirac, definisi persamaan Schrödinger adalah:

i adalah bilangan imaginer, t adalah waktu, ∂ / ∂t adalah turunan parsial terhadap t, ħ adalah
konstanta Planck dibagi 2π, ψ(t) adalah fungsi gelombang, dan H(t) adalah Hamiltonian.

Erwin Schrödinger
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Untuk satuan yang dinamakan menurut tokoh ini, lihat Satuan Schrödinger.

Erwin Schrödinger

Erwin Rudolf Josef Alexander Schrödinger (1887-1961) ialah fisikawan Austria.


Dilahirkan di Wina, Austria-Hongaria. Ibunya berasal dari Inggris dan ayahnya berasal dari
Austria. Ia memperoleh gelar doktor di kota itu di bawah bimbingan mantan murid Ludwig
Boltzmann.
Selama PD I, ia menjadi perwira artileri. Setelah perang ia mengajar di Zurich, Swiss. Di sana, ia
menangkap pengertian Louis Victor de Broglie yang menyatakan bahwa partikel yang bergerak
memiliki sifat gelombang dan mengembangkan pengertian itu menjadi suatu teori yang
terperinci dengan baik. Setelah ia menemukan persamaannya yang terkenal, ia dan ilmuwan
lainnya memecahkan persamaan itu untuk berbagai masalah; di sini kuantisasi muncul secara
alamiah, misalnya dalam masalah tali yang bergetar. Setahun sebelumnya Werner Karl
Heisenberg telah mengemukakan formulasi mekanika kuantum, namun perumusannya agak sulit
dipahami ilmuwan masa itu. Schrödinger memperlihatkan bahwa kedua formulasi itu setara
secara matematis.
Schrödinger menggantikan Max Planck di Berlin pada 1927, namun pada 1933, ketika Nazi
berkuasa, ia meninggalkan Jerman. Dalam tahun itu ia menerima Hadiah Nobel Fisika bersama
dengan Dirac. Pada 1939 sampai 1956 ia bekerja di Institute for Advanced Study di Dublin, lalu
kembali ke Austria.

[sunting] Pranala luar

Erwin Schrödinger
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Untuk satuan yang dinamakan menurut tokoh ini, lihat Satuan Schrödinger.

Erwin Schrödinger

Erwin Rudolf Josef Alexander Schrödinger (1887-1961) ialah fisikawan Austria.


Dilahirkan di Wina, Austria-Hongaria. Ibunya berasal dari Inggris dan ayahnya berasal dari
Austria. Ia memperoleh gelar doktor di kota itu di bawah bimbingan mantan murid Ludwig
Boltzmann.
Selama PD I, ia menjadi perwira artileri. Setelah perang ia mengajar di Zurich, Swiss. Di sana, ia
menangkap pengertian Louis Victor de Broglie yang menyatakan bahwa partikel yang bergerak
memiliki sifat gelombang dan mengembangkan pengertian itu menjadi suatu teori yang
terperinci dengan baik. Setelah ia menemukan persamaannya yang terkenal, ia dan ilmuwan
lainnya memecahkan persamaan itu untuk berbagai masalah; di sini kuantisasi muncul secara
alamiah, misalnya dalam masalah tali yang bergetar. Setahun sebelumnya Werner Karl
Heisenberg telah mengemukakan formulasi mekanika kuantum, namun perumusannya agak sulit
dipahami ilmuwan masa itu. Schrödinger memperlihatkan bahwa kedua formulasi itu setara
secara matematis.
Schrödinger menggantikan Max Planck di Berlin pada 1927, namun pada 1933, ketika Nazi
berkuasa, ia meninggalkan Jerman. Dalam tahun itu ia menerima Hadiah Nobel Fisika bersama
dengan Dirac. Pada 1939 sampai 1956 ia bekerja di Institute for Advanced Study di Dublin, lalu
kembali ke Austria.

[sunting] Pranala luar


Persamaan adalah suatu pernyataan matematika dalam bentuk simbol yang menyatakan bahwa
dua hal adalah persis sama. Persamaan ditulis dengan tanda sama dengan, seperti berikut:
x + 3 = 5, yang menyatakan bahwa nilai x = 2.

2x + 3 = 5, yang menyatakan bahwa nilai x = 1.

Pernyataan di atas adalah suatu kesamaan. Persamaan dapat digunakan untuk menyatakan
kesamaan dua ekspresi yang terdiri dari satu atau lebih variabel. Sebagai contoh, untuk x anggota
bilangan nyata, persamaan berikut selalu benar:
x(x - 1) = x2 − x.

Persamaan di atas adalah contoh dari identitas: persamaan yang selalu benar, tak peduli berapa
pun nilai variabel yang ada di dalamnya. Persamaan berikut bukanlah suatu identitas:
x2 - x = 0.

Persamaan di atas adalah salah untuk sejumlah tak hingga x, dan hanya benar untuk satu nilai;
nilai akar unik dari persamaan, x=1. Karenanya, jika suatu persamaan diketahui bernilai benar,
persamaan tersebut membawa informasi mengenai nilai x. Secara umum, nilai variabel di mana
suatu persamaan menjadi benar disebut dengan solusi atau penyelesaian. Menyelesaikan suatu
persamaan berarti menemukan solusinya.
Banyak pengarang yang menggunakan istilah persamaan untuk kesamaan yang bukan identitas.
Perbedaan antara kedua konsep tersebut kadang sulit dibedakan; sebagai contoh,
(x + 1)2 = x2 + 2x + 1

adalah identitas, sedangkan


(x + 1)2 = 2x2 + x + 1

adalah persamaan yang memiliki akar x=0 dan x=1. Apakah suatu pernyataan dimaksudkan
sebagai suatu identitas atau suatu persamaan, menentukan informasi mengenai variabelnya
sering dapat ditentukan berdasarkan konteksnya.
Huruf-huruf awal alfabet seperti a, b, c, ... sering kali digunakan sebagai konstanta, dan huruf-
huruf di akhir alfabet, seperti x, y, z, umumnya digunakan sebagai lambang variabel.

[sunting] Pranala luar

Persamaan Schrodinger dan


Energi Kuantum
Apabila prinsip komplemeter dan prinsip korespondensi serta asumsi interpretatif dasar (yakni
yang menyatakan bahwa hasil yang mungkin dari suatu besaran diberikan oleh persamaan nilai
eigen), maka akan diperoleh persamaan yang menentukan semua tingkatan energi dari sistem.
Secara eksplisit operator energi dalam sajian Schrodinger adalah

(72)

Persamaan nilai eigen energi adalah

(73)

Sajian ini merupakan persamaan Schrodinger.

Persamaan Schrodinger untuk sebuah partikel yang berada dalam pengaruh potensial
adalah

(74)
Dalam 3 dimensi persamaan ini menjadi
(75)

Persamaan di atas akan diselesaikan untuk syarat batas yang menjadikan berhingga
dimana-mana (termasuk pada daerah tak hingga). Bentuk syarat batas dan makna fisisnya akan
diulas pada bagian selanjutnya.

Gambar 3.1: Diagram energi dari potensial Coulomb.


Kasus khusus yang penting adalah persamaan atom hidrogen dengan energi potensial seperti
dalam diagram berikut. Dengan menganggap proton tak bergerak, kita gunakan koordinat kutub

dan memasukkan potensial Coulomb . Sehingga,

(76)

Hal penting yang patut diperhatikan adalah bahwa persamaan ini menghasilkan tingkatan energi
diskret yang sesuai pengamatan. Pembuktiannya menyangkutkan perhitungan rumit, yang akan
diulas pada Bab 7. Untuk sementara, akan dibahas model sederhana.
Diagram energi untuk atom hidrogen ditunjukkan dalam Gambar 3.1. Jika energi kinetik adalah

dan energi total adalah , maka


Oleh karena secara klasik harus dipenuhi , partikel dengan energi dapat diamati hanya pada

daerah dengan garis di atas kurva

Garis putus-putus pada diagram bersesuaian dengan energi kinetik negatif, karena itu berada

pada posisi yang tak teramati. Untuk elektron dapat berada pada posisi sampai

takhingga. Untuk elektron terikat (bound). Untuk harga yang besar tetapi negatif, elektron
terbatas pada potensial yang berubah sangat cepat dalam daerah yang sangat sempit. Untuk
menganalisis sifat kualitatif dari sistem yang demikian kita tinjau harga energi kuantum dari
sebuah partikel yang terbatas dalam dinding potensial takhingga 1-d, yakni

(77)
Gambar 3.2: Diagram energi dinding potensial takhingga 1-d.

Secara klasik partikel terbatas dalam daerah , dan berapapun energinya partikel
terpantul setiap kali menumbuk dinding potensial.

Persamaan Schrodinger untuk sistem dengan potensial , yang didefiniskan oleh (3.25), untuk

, adalah
(78)

Oleh karena bernilai takhingga pada , sementara suku-suku lainnya tetap berhingga,
maka diperlukan syarat batas sebagai
(79)

Dengan memperkenalkan

(80)

Persamaan menjadi

(81)

Solusi persamaan di atas yang memenuhi syarat batas pada , adalah

(82)

dimana

(83)

dan
(84)

dimana

(85)

Dengan menggabungkan (3.31) dan (3.33), diperoleh

(86)

dan dengan menggunakan (3.28), tingkatan energi yang mungkin adalah

(87)

Sifat penting dari spektrum energi diskret telah muncul secara alamiah dari formalisme di atas,
dan dapat dibandingkan dengan rumus Bohr untuk atom hidrogen,

(88)

Kenyataan bahwa model yang ditinjau masih sederhana tetapi telah mendekati model real atom
hidrogen merupakan kesuksesan. Perbedaan dengan faktor merupakan kekhususan dari
pendekatan 1-d (dinding potensial) terhadap sistem 3-d (atom hidrogen). Sedangkan perbedaan
tanda muncul dari kenyataan bahwa tingkatan energi atom hidrogen diukur dari puncak potensial
ke bawah. Pada dinding potensial, tingkatan energi dari bawah ke atas.

Persamaan Schrodinger diajukan pada tahun 1925 oleh fisikawan Erwin Schrodinger (1887-
1961). Persamaan ini pada awalnya merupakan jawaban dari dualitas partikel-gelombang
yang lahir dari gagasan de Broglie yang menggunakan persamaan kuantisasi cahaya Planck
dan prinsip fotolistrik Einstein untuk melakukan kuantisasi pada orbit elektron. Selain
Schrodinger dua orang fisikawan lainnya yang mengajukan teorinya masing-masing adalah
Werner Heisenberg dengan Mekanika Matriks dan Paul Dirac dengan Aljabar Kuantum.
Ketiga teori ini merupakan tiga teori kuantum lengkap yang berbeda dan dikerjakan
terpisah namun ketiganya setara. Teori Schrodinger kemudian lebih sering digunakan
karena rumusan matematisnya yang relatif lebih sederhana. Meskipun banyak mendapat
kritikan persamaan Schrodinger telah diterima secara luas sebagai persamaan yang menjadi
postulat dasar mekanika kuantum.
Persamaan Schrodinger merupakan persamaan pokok dalam mekanika kuantum –
seperti halnya hukum gerak kedua yang merupakan persamaan pokok dalam mekanika
Newton – dan seperti persamaan fisika umumnya persamaan Schrodinger berbentuk
persamaan diferensial. Bentuk umum persamaan Schrodinger adalah sebagai berikut,

dengan ? adalah fungsi Schrodinger yang mendefinisikan partikel yang bergerak dalam tiga
dimensi dengan energi tertentu dan berada di bawah pengaruh medan potensial V tertentu.
Bentuk khusus persamaan Schrodinger yaitu persamaan Schrodinger bebas waktu adalah

Bentuk ini lebih sering digunakan karena energi dan medan potensial sistem fisika
umumnya hanya bergantung pada posisi.
Walaupun rumusan matematis persamaan Schrodinger lebih sederhana dibandingkan
Mekanika Matriks dan Aljabar Kuantum, pemecahan persamaan ini tetap membutuhkan
pengetahuan matematika lanjut. Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan
energi kinetik dan potensial sistem dan mensubstitusikannya ke dalam persamaan di atas.
Langkah kedua adalah merubah persamaan di atas kedalam sistem koordinat yang sesuai
dengan sistem yang ditinjau. Untuk sistem atom hidrogen sistem koordinat yang sesuai
adalah sistem koordinat bola. Langkah kedua adalah melakukan pemisahan variabel.
Persamaan Schrodinger mengandung tiga koordinat ruang yang saling ortogonal dan harus
dipisahkan menjadi 3 persamaan berbeda yang hanya mengandung satu koordinat ruang.
Langkah ketiga adalah memecahkan ketiga persamaan tersebut secara simultan. Hasil yang
diperoleh merupakan bilangan-bilangan kuantum yang memerikan struktur sistem
berdasarkan tingka-tingkat energi yang menyusun sistem tersebut. Struktur sistem ini
selanjutnya dipergunakan untuk meramalkan perilaku sistem dan interaksinya dengan
sistem lain.
Penerapan persamaan Schrodinger pada sistem fisika memungkinkan kita mempelajari
sistem tersebut dengan ketelitian yang tinggi. Penerapan ini telah memungkinkan
perkembangan teknologi saat ini yang telah mencapai tingkatan nano. Penerapan ini juga
sering melahirkan ramalan-ramalan baru yang selanjutnya diuji dengan eksperimen.
Penemuan positron – yang merupakan anti materi dari elektron – adalah salah satu ramalan
yang kemudian terbukti. Perkembangan teknologi dengan kecenderungan alat yang
semakin kecil ukurannya pada gilirannya akan menempatkan persamaan Schrodinger
sebagai persamaan sentral seperti halnya yang terjadi pada persamaan Newton selama ini.

Persamaan gelombang (ilang persamaannya)


Diambil dari Koichi Ohno pada 15-02-2009
Pada tahun 1926, persamaan dasar yang secara inklusif menyatakan sifat partikel dan gelombang
diusulkan dalam kerangka mekanika gelombang oleh Schrödinger dan mekanika matriks oleh
Heisenberg. Meskipun bentuk matematika yang diusulkan oleh mereka berbeda, teori ini
dibuktikan memiliki kesamaan dalam pengertian fisika yang sangat penting oleh E. Schrödinger.
Dalam buku ini, persamaan fundamental untuk mekanika kuantum akan diperlakukan
berdasarkan mekanika gelombang. Sebagaimana telah kita pelajari pada bagian 1.3, contoh untuk
sebuah gelombang yang memiliki frekuensi v dan panjang gelombang direpresentasikan oleh
Dengan menggunakan sebuah rumus untuk proses diferensiasi fungsi ekponesial (deax / dx = ae
ax), turunan terhadap waktu t atau posisi x akan menghasilkan persamaan berikut, masing-
masing yaitu:
Harus diperhatikan bahwa simbol diferensiasi parsial ? digunakan untuk menggantikan d ketika
jumlah variabelnya lebih dari satu. Dengan menggunakan persamaan yang menghubungkan sifat
partikel dan gelombang, E = hv dan p = h/?, kita akan mendapatkan persamaan diferensial
simultan sebagai berikut yang tidak mengandung v dan ? secara eksplisit.
(1.28)
(1.29)
Di sini, h adalah sebuah konstanta yang dinyatakan sebagai (h/2?). Persamaan (1.28) dan (1.29)
menghubungkan besaran partikel E dan p dengan fungsi gelombang ?. Marilah kita mempelajari
sifat matematika dari persamaan-persamaan ini sebelum mengaplikasikannya pada beberapa
sistem. Persamaan (1.28) menunjukkan bahwa operasi dari ih? / ?t pada ? dari sisi sebelah kiri
adalah ekivalen dengan sebuah perkalian sederhana dari ? dengan energi E. Persamaan (1.29)
menunjukkan bahwa operasi dari – ih? / ?x pada ? dari sisi sebelah kiri adalah sama dengan
perkalian sederhana ? dengan momentum p. Operasi matematika, seperti ih? / ?t dan – ih? / ?x
disebut sebagai operator. Operator-operator ini masing-masing berkaitan dengan energi E dan
momentum p.
Untuk mengaplikasikan persamaan-persamaan simultan ini pada suatu masalah tertentu, adalah
penting untuk mengetahui terlebih dahulu relasi antara E dan p. Dalam mekanika klasik sebelum
lahirnya mekanika kuantum, sebuah hubungan penting antara E dan p diketahui dalam fungsi
Hamilton yang merepresentasikan energi dari sistem sebagai sebuah fungsi dari momentum, p,
posisi, x dan waktu, t.
(1.30)
Dengan bantuan fungsi Hamilton H, persamaan (1.28) dan (1.29) dapat digabungkan ke dalam
satu persamaan. Agar hal ini dapat dilakukan, marilah kita menurunkan sebuah fungsi Hamilton
untuk sebuah sistem di mana sebuah partikel dengan masa bergerak dengan energi kinetik ½mv2
dalam energi potensial U. Dapat dicatat bahwa momentum dari partikel ini p = mv, sehingga
diperoleh
(1.31)
Substitusi dari persamaan ini pada sisi kanan pada persamaan (1.28) dengan menggunakan (1.30)
akan menghasilkan persamaan berikut.
(1.32)
Sebagaimana dapat dilihat pada contoh ini, persamaan (1.28) dan (1.29) dapat disatukan menjadi
sebuah persamaan yang mana energi E pada suku suku di sebelah kanan pada persamaan (1.28)
digantikan dengan fungsi Hamiltoin yang berkaitan H dan momentum p harus digantikan dengan
operator momentum .
(1.33)
Secara umum, menggantikan momentum p dalam ekspresi fungsi Hamilton dengan operator
pada persamaan (1.33) kita akan memperoleh fungsi Hamilton mekanika kuantum ??.
(1.34)
?? disebut sebagai operator Hamilton atau Hamiltonian dengan menggunakan operator ini dua
persamaan yaitu (1.28) dan (1.29) digabungkan menjadi satu persamaan yaitu
(1.35)
Persamaan ini adalah pesamaan yang paling mendasar pada mekanika kuantum dan disebut
sebagai persamaan Schrödinger yang merupakan nama dari penemunya. Fungsi gelombang, ?
dalam persamaan ini menyatakan keadaan di mana terdapat sistem materi. Arti fisis yang penting
dari ? akan didiskusikan kemudian pada bagian yang lain.
Meskipun persamaan (1.35) dapat diturunkan dari persamaan gelombang yang sederhana, akan
tetapi persamaan ini diketahui dapat diterapkan pada masalah-masalah yang umum. Perluasan
dari Hamiltonian dan fungsi gelombang dalam persamaan (1.35) akan dipelajari kemudian.
Prosedur untuk memecahkan persamaan gelombang dan arti dari solusi juga akan dipelajari pada
bagian setelah ini
Keadaan stasioner dan persamaan nilai eigen
Ditulis oleh Koichi Ohno pada 03-01-2009
Jika energi E bebas terhadap waktu t, probabilitas untuk menemukan sebuah partikel juga akan
bebas terhadap waktu t. Keadaan yang bebas terhadap waktu disebut sebagai keadaan stasioner.
Ketika energi E adalah konstan, tidak bergantung dengan waktu, maka persamaan (1.28) akan
mudah untuk diintegrasi terhadap waktu untuk menghasilkan persamaan berikut
(1.39)
Simbol ψ(x) adalah konstanta integrasi yang muncul dari integrasi terhadap waktu t dan dengan
demikian ψ(x) akan bebas terhadap waktu meskipun ia akan bergantung pada posisi x. Meskipun
fungsi gelombang untuk keadaan stasioner Ψ(x,t) dalam persamaan (1.39) berosilasi sebagai
sebuah fungsi terhadap t, kuadrat dari nilai absolut dari Ψ(x,t) , yang merupakan produk dari
Ψ(x,t)∗Ψ(x,t) akan tetap konstan.
Karenanya, probabilitas untuk menemukan sebuah partikel dalam keadaan stasioner adalah bebas
terhadap waktu t dan menghasilkan perhitungan yang sama bahkan jika fungsi ψ(x) yang bebas
terhadap waktu itu digunakan untuk menggantikan Ψ(x,t). Dengan demikian ψ(x) disebut sebagai
fungsi gelombang dari keadaan stasioner. Dengan memasukkan Ψ(x,t) pada persamaan (1.39) ke
dalam persamaan gelombang (1.35) dan kemudian melakukan pengaturan pada perumusan
tersebut kita akan mendapatkan
(1.40)
Sehingga persamaan berikut merupakan fungsi gelombang dari keadaan stasioner ψ(x) dan
dinyatakan dengan
(1.41)
Persamaan ini disebut sebagai persamaan Schrödinger untuk keadaan stasioner atau persamaan
Schrödinger bebas waktu.
Contoh 1.10 Tuliskan persamaan Shrödinger bebas waktu untuk sebuah osilator harmonik satu
dimensi yang mengandung sebuah partikel dengan masa m dan bergerak sepanjang sumbu-x di
bawah pengaruh gaya potensial U(x) = ½kx2 (k > 0).
(Jawaban) Persamaan Schrödinger bebas waktu dinyatakan sebagai ??ψ = Eψ . Dalam kasus ini
gerak partikel dibatasi hanya pada sumbu-x, sehingga fungsi gelombang adalah sebuah fungsi
terhadap x dan direpresentasikan sebagai ψ = ψ(x). Hamiltonian ?? yang ada pada sistem ini ada
pada sistem ini diperoleh dari fungsi Hamilton H yang terdiri dari penjumlahan atas energi
kinetik dan energi potensial. Untuk sistem ini, momentum p dari partikel akan menjadi energi
kinetik p2 / 2m dan energi potensialnya adalah ½kx2 dan kita akan mendapatkan
Dengan demikian Hamiltonian ?? dapat diturunkan dengan mudah hanya dengan mengganti
momentum p dengan operator = −ih∂ / ∂x dalam ekspresi terhadap H. Penggantian ini harus
dilakukan dua kali untuk p2 / 2m dan kita akan mendapatkan
Energi potensial ½kx2 dapat digunakan langsung karena tidak mengan dung momentum p.
Karenanya Hamiltonian ?? dapat dinyatakan sebagai berikut
Dengan memasukkan Hamiltonian ?? ini ke dalam ??ψ = Eψ, persamaan Schrödinger bebas
waktu untuk osilator harmonik satu dimensi dinyatakan sebagai berikut
Catatan: F( x) = −dU(x)/dx = −kx (k > 0) merepresentasikan gaya yang bekerja pada partikel.
Sebuah partikel dalam osilator harmonik akan menerima gaya kembali (gaya balik) yang
sebanding dengan jarak dari titik setimbangnya dan berosilasi di sekitar titik seimbangnya.
Pergeseran sebuah benda elastis seperti pegas adalah sebanding dengan gaya yang bekerja
padanya. Hal ini dikenal sebagai hukum Hooke.
dan ?? adalah operator yang masing-masing berhubungan dengan momentum dan energi. Sebuah
operator yang berhubungan dengan sebuah satuan sembarang yang dapat diamati F( ,x) dapat
dimasukkan sebagai F(p,x) dengan memasukkan persamaan (1.33) ( = −h∂/∂x pada posisi p) ke
dalam F(p,x). Operator berhubungan dengan sebuah koordinat kartesian x dan dinyatakan secara
sederhana dengan = x , karena tidak ada faktor momentum p dalam x.
Secara umum, pilihan yang tepat dari sebuah fungsi φ akan menghasilkan Fφ yang berbanding
dengan φ dan sama terhadap suatu konstanta yang dikalikan dengan φ.
(1.42)
Perkalian konstanta f adalah nilai eigen dari operator dan fungsi φ adalah nilai eigen dari
operator yang berkorespondensi dengan nilai eigen f. Ketika beberapa fungsi eigen (contoh φ1
dan φ2) berkaitan dengan nilai eigen f yang sama saling bebas linier satu dengan lainnya (contoh
φ1 tidak proporsional dengan φ2) nilai eigen f dikatakan sebagai generate. Jumlah dari fungsi
eigen yang saling bebas berkaitan dengan nilai eigen yang sama disebut sebagai tingkat
degenerasi. Persamaan (1.42) termasuk di dalamnya sebuah himpunan yang terdiri dari fungsi
eigen φ dan nilai eigen f untuk operator disebut sebagai persamaan nilai eigen dari . Persamaan
gelombang (1.41) untuk keadaan stasioner (persamaanschrödinger bebas waktu) adalah
persamaan nilai eigen dari operator Hamiltonian ?? yang berhubungan dengan energi. Persamaan
(1.41) memberikan himpunan fungsi eigen φ dan nilai eigen E untuk energi yang mungkin
terjadi.
Dalam keadaan stasioner, energi E dan probabilitas untuk menemukan partikel adalah bebas
terhadap waktu t. Akan tetapi, kita tidak harus memikirkan bahwa partikel tersebut diam pada
suatu posisi tertentu. Bahkan dalam keadaan stasioner, gerak sebuah partikel harus
diperhitungkan sebagai osilasi dari faktor fasa pada persamaan (1.39) yang memenuhi persamaan
gelombang bebas waktu pada persamaan (1.35).

Dunia Fisika
Memahami Fisika, Memahami Dunia

• Home
• About
• Awal
• Diskusi
• Konsultasi
• Produk
Model Atom Mekanika Kuantum
Penjelasan tentang struktur atom yang lebih lengkap diperlukan untuk mengetahui
struktur yang lebih detil tentang elektron di dalam atom. Model atom yang lengkap
harus dapat menerangkan misteri efek Zeeman dan sesuai untuk atom berelektron
banyak. Dua gejala ini tidak dapat diterangkan oleh model atom Bohr.
Efek Zeeman
Spektrum garis atomik teramati saat arus listrik dialirkan melalui gas di dalam
sebuah tabung lecutan gas. Garis-garis tambahan dalam spektrum emisi teramati
jika atom-atom tereksitasi diletakkan di dalam medan magnet luar. Satu garis di
dalam spektrum garis emisi terlihat sebagai tiga garis (dengan dua garis tambahan)
di dalam spektrum apabila atom diletakkan di dalam medan magnet. Terpecahnya
satu garis menjadi beberapa garis di dalam medan magnet dikenal sebagai efek
Zeeman.

pemisahan garis spektrum atomik di dalam medan magnet


Efek Zeeman tidak dapat dijelaskan menggunakan model atom Bohr. Dengan demikian,
diperlukan model atom yang lebih lengkap dan lebih umum yang dapat menjelaskan efek
Zeeman dan spektrum atom berelektron banyak.
Model Atom Mekanika Kuantum
Sebelumnya kita sudah membahas tentang dualisme gelombang-partikel yang
menyatakan bahwa sebuah objek dapat berperilaku baik sebagai gelombang
maupun partikel. dalam skala atomik, elektron dapat kita tinjau sebagai gejala
gelombang yang tidak memiliki posisi tertentu di dalam ruang. Posisi sebuah
elektron diwakili oleh kebolehjadian atau peluang terbesar ditemukannya elektron
di dalam ruang.
Demi mendapatkan penjelasan yang lengkap dan umum dari struktur atom, prinsip
dualisme gelombang-partikel digunakan. Di sini gerak elektron digambarkan
sebagai sebuah gejala gelombang. Persamaan dinamika Newton yang sedianya
digunakan untuk menjelaskan gerak elektron digantikan oleh persamaan
Schrodinger yang menyatakan fungsi gelombang untuk elektron. Model atom yang
didasarkan pada prinsip ini disebut model atom mekanika kuantum.
posisi dan keberadaan elektron di dalam atom dinyatakan sebagai peluang terbesar elektron di
dalam atom
Persamaan Schrodinger untuk elektron di dalam atom dapat memberikan solusi yang dapat
diterima apabila ditetapkan bilangan bulat untuk tiga parameter yang berbeda yang menghasilkan
tiga bilangan kuantum. Ketiga bilangan kuantum ini adalah bilangan kuantum utama, orbital, dan
magnetik. Jadi, gambaran elektron di dalam atom diwakili oleh seperangkat bilangan kuantum
ini.
Bilangan Kuantum Utama
Dalam model atom Bohr, elektron dikatakan berada di dalam lintasan stasioner
dengan tingkat energi tertentu. Tingkat energi ini berkaitan dengan bilangan
kuantum utama dari elektron. Bilangan kuantum utama dinyatakan dengan
lambang n sebagaimana tingkat energi elektron pada lintasan atau kulit ke-n. untuk
atom hidrogen, sebagaimana dalam model atom Bohr, elektron pada kulit ke-n
memiliki energi sebesar

Adapun untuk atom berelektron banyak (terdiri atas lebih dari satu
elektron), energi elektron pada kulit ke-n adalah<!--[if gte vml 1]> <![endif]--><!--
[if !vml]--><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]> <![endif]-->

Dimana Z adalah nomor atom. Nilai-nilai bilangan kuantum utama


n adalah bilangan bulat mulai dari 1.
n = 1, 2, 3, 4, ….
Bisa dikatakan bahwa bilangan kuantum utama berkaitan dengan kulit elektron di
dalam atom. Bilangan kuantum utama membatasi jumlah elektron yang dapat
menempati satu lintasan atau kulit berdasarkan persamaan berikut.
Jumlah maksimum elektron pada kulit ke-n adalah 2n2
Bilangan Kuantum Orbital
Elektron yang bergerak mengelilingi inti atom memiliki momentum sudut. Efek
Zeeman yang teramati ketika atom berada di dalam medan magnet berkaitan
dengan orientasi atau arah momentum sudut dari gerak elektron mengelilingi inti
atom. Terpecahnya garis spektum atomik menandakan orientasi momentum sudut
elektron yang berbeda ketika elektron berada di dalam medan magnet.

Tiap orientasi momentum sudut elektron


memiliki tingkat energi yang berbeda. Meskipun kecil perbedaan tingkat energi
akan teramati apabila atom berada di dalam medan magnet. Momentum sudut
elektron dapat dinyatakan sebagai
<!--[if gte vml 1]> <![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]> <!
[endif]-->

Dimana
<!--[if gte vml 1]> <![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]> <!
[endif]-->

Bilangan l disebut bilangan kuantum orbital. Jadi, bilangan kuantum orbital l


menentukan besar momentum sudut elektron. Nilai bilangan kuantum orbital l
adalah
l = 0, 1, 2, 3, … (n – 1)
misalnya, untuk n = 2, nilai l yang diperbolehkan adalah l = 0 dan l = 1.
Bilangan Kuantum Magnetik
Momentum sudut elektron L merupakan sebuah vektor. Jika vektor momentum
sudut L diproyeksikan ke arah sumbu yang tegak atau sumbu-z secara tiga dimensi
akan didapatkan besar komponen momentum sudut arah sumbu-z dinyatakan
sebagai Lz. bilangan bulat yang berkaitan dengan besar Lz adalah m. bilangan ini
disebut bilangan kuantum magnetik. Karena besar Lz bergantung pada besar
momentum sudut elektron L, maka nilai m juga berkaitan dengan nilai l.
m = −l, … , 0, … , +l
misalnya, untuk nilai l = 1, nilai m yang diperbolehkan adalah −1, 0, +1.
Gambar
Bilangan Kuantum Spin
Bilangan kuantum spin diperlukan untuk menjelaskan efek Zeeman anomali.
Anomali ini berupa terpecahnya garis spektrum menjadi lebih banyak garis
dibanding yang diperkirakan. Jika efek Zeeman disebabkan oleh adanya medan
magnet eksternal, maka efek Zeeman anomali disebabkan oleh rotasi dari elektron
pada porosnya. Rotasi atau spin elektron menghasilkan momentum sudut intrinsik
elektron. Momentum sudut spin juga mempunyai dua orientasi yang berbeda, yaitu
spin atas dan spin bawah. Tiap orientasi spin elektron memiliki energi yang berbeda
tipis sehingga terlihat sebagai garis spektrum yang terpisah.

garis spektra atom yang terpisah di dalam medan magnet berasal dari spin elektron
Spin elektron diwakili oleh bilangan kuantum tersendiri yang disebut bilangan kuantum
magnetik spin (atau biasa disebut spin saja). Nilai bilangan kuantum spin hanya boleh satu dari
dua nilai +½ atau −½. jika ms adalah bilangan kuantum spin, komponen momentum sudut arah
sumbu-z dituliskan sebagai
Sz = msћ
Dimana
<!--[if gte vml 1]> <![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]> <!
[endif]-->
Spin ke atas dinyatakan dengan
<!--[if gte vml 1]> <![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]> <!
[endif]-->

Spin ke bawah dinyatakan dengan


<!--[if gte vml 1]> <![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]> <!
[endif]-->

Atom Berelektron Banyak


Model atom mekanika kuantum dapat digunakan untuk menggambarkan struktur
atom untuk atom berelektron banyak. Posisi atau keadaan elektron di dalam atom
dapat dinyatakan menggunakan seperangkat (empat) bilangan kuantum. Misalnya,
elektron dengan bilangan kuantum n = 2, l = 1, m = −1 dan ms = −½ menyatakan
sebuah elektron pada kulit L, subkulit p, orbital −1 dengan arah spin ke bawah.