Anda di halaman 1dari 9

Pengukuran SP Fungsi Waktu

(Resume)
Metode self potential sendiri pertama kali ditemukan oleh Robert Fox
ketika berusaha menemukan endapan tembaga sulfida di Inggris tahun 1830. Dan
dalam pengukuran SP terdapat fungsi waktu dan fungsi posisi. Menurut Corwin,
(Corwin, 1990), potensial listrik yang ada di permukaan bumi ini berubah sebagai
fungsi waktu. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan perubahan potensial listrik
tersebut bisa dari perubahan lingkungan, sifat fisis, kimia, dan biologi yang ada di
sekitarnya. Contohnya pengukuran SP di San Fransisco Bay (Corwin, 1990).

Pada gambar diatas menunjukkan pengukuran secara kontinyu beda


potensial yan direkam dari porouspot yang berjarak 8.5 meter yang diukur di
DownTown San Fransisco Bay. Dapat dilihat bahwa pada pukul 00.00 tengah
malam hingga jam 2 pagi terlihat adanya perubahan nilai, sedangkan pada jam
02.00 pagi sampai jam 09.00 pagi potensial terlihat tenang, tidak ada grafik yang
muncul. Kemudian dari jam 09.00 pagi sampai jam jam 02.00 dini hari, terjadi
lagi perubahan potensial, kemudian potensial terlihat tenang lagi, dan kemudian
terdapat lagi perubahan potensialnya, dan begitu seterusnya. Hal ini bisa saja
terjadi akibat faktor dari luar seperti aktivitas masyarakat San Fransisco dengan
asumsi bahwa masyarakat San Fransisco melakukan kegiatan dan akitivitasnya
mulai dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 02.00 dini hari.

Gambar diatas merupakan perbesaran sebagian data dan dapat terlihat


bahwa terdapat perubahan potensial dalam skala yang kecil (2-3 mV) yang
berubah-ubah. Sehingga dalam skala ini memungkinkan adanya faktor-faktor lain
selain aktivitas manusia seperti aktivitas biologi, aktivitas kelistrikan, dan lain
sebagainya.

TATA LAKSANA
- Model porouspot
Kawat
tembaga

Kawat tembaga

CuSO
4
jenuh

CuSO4
jenuh

keramik

keramik
Model spidol
bekas

Model guci
tanah liat

Cara Kerja:
1. Guci Keramik, spidol bekas, penutup karet, kawat tembaga, serta
kristal/larutan CuSO4 disiapkan terlebih dahulu.
2. Beberapa cm dari kawat tembaga di buat seperti membentuk spiral untuk
nanti dibenamkan pada larutan CuSO4 pada desain porouspot yang akan
dibuat.
3. Penutup karet dipasang (ditusuk) dengan kawat tembaga tersebut sebagai
penutup porouspot.
4. Untuk larutannya sendiri dapat dibuat terlebih dahulu dengan melarutkan
kristal CuSO4 dan akuades yang kemudian didiamkan selama satu malam
hingga menjadi larutan CuSO4 yang jenuh.
5. Untuk model spidol bekas, ujung spidol dipotong sehingga bentuknya
seperti paralon dengan tutupnya.
6. Potong keramik sesuai dengan diameter yang sama dengan penutup spidol
kemudian di lem daerah pinggirnya.
7. Larutan CuSO4 dimasukkan kedalam model porouspot (Guci keramik dan
spidol bekas).

8. Tutup porouspot dengan kawat tembaga yang juga sudah dipasang penutup
karetnya kemudian ditutup rapat pada guci keramik dan spidol dan
pastikan tidak terjadi kebocoran pada desain porouspot tersebut.
Cara Kalibrasi Porouspot:
1. Setiap porouspot diberikan nama terlebih dahulu.
2. Ember yang sudah berisi air (beberapa cm) disiapkan dimana bagian
porouspotnya yang lembab terkena air secara bersamaan.
3. Masukkan porouspot guci keramik kedalam ember dimana elektroda
kedua porouspot guci disambungkan ke voltmeter digital, begitu juga
dengan porouspot model spidol.
4. Ukur dan catat beda potensial masing-masing porouspot dimana porouspot
yang baik adalah yang memiliki beda potensial kurang dari 2 mV.

PEMBAHASAN
A. Hasil Porouspot
Model porouspot yang dibuat ada dua yaitu porouspot dari guci
keramik dan porouspot dari spidol bekas dimana masing-masing model
dibuat 2 buah porousput sehingga terdapat 4 buah porouspot. Dua model
porouspot ini menggunakan eletroda berupa kawat tembaga dan isi
daripada porouspot itu sendiri adalah larutan CuSO4 jenuh. Untuk
porouspot dengan menggunakan spidol bekas, ujung spidol dipotong
terlebih dahulu sehingga membentuk seperti paralon dan kemudian dibuat
penutupnya dari keramik dengan diameter yang sama seperti penutup
spidol tersebut. Masing-masing porouspot ditutup rapat dengan elektroda
yang sudah dipasang karet penutupnya dan pastikan
tidak terjadi kebocoran pada porouspot. Dibawah ini
adalah gambar hasil porouspot guci keramik serta
porouspot spidol yang sudah dibuat oleh kelompok
kami.

B. Hasil Uji Pemasangan Porouspot


Jika porouspotnya sudah jadi, kemudian kita melakukan uji coba
terhadap porouspot yang sudah dibuat. Uji coba ini berupa kalibrasi
porouspot

yang

digunakan

untuk

menentukan

nilai

kebenaran

penunjukkan alat ukur dan untuk menjaga kondisi alat ukur tetap sesuai
dengan spesifikasi. Kalibrasi porouspot sendiri dilakukan dengan cara
merendam sebagian kecil porouspot di dalam ember yang telah berisi
sedikit air kemudian elektroda dari masing-masing porouspot dihubungkan
dengan voltmeter lalu diukur dan dicatat nilai beda potensialnya. Pasangan
porouspot yang baik adalah yang memiliki nilai beda potensialnya kurang
dari 2 mV.
Hasil pengkalibrasian porouspot kelompok kami pun akhirnya
diperoleh seperti gambar dibawah ini:

a.

Setelah
dilakukan uji coba pasangan porouspot model guci keramik, diperoleh
nilai beda potensial sebesar 1.9 mV.
b.

Dan uji coba pengkalibrasian pada pasangan porouspot model


spidol bekas, didapat nilai beda potensialnya sebesar 1.2 mV.
Kedua pasangan porouspot ini memiliki beda potensial kurang dari
2 mV sehingga dapat dikategorikan sebagai pasanagn porouspot yang
bagus dan layak digunakan untuk pengukuran self potential.

PEMBAHASAN 1

Self Potential umumnya berhubungan dengan perlapisan tubuh mineral


sulfide. Aktivitas elektrokimia dan mekanik adalah penyebab dari SP di
permukaan bumi. Dalam pengukuran SP sendiri digunakan porouspot dimana
menggunakan elektroda non-polar yang dihubungkan ke voltmeter. Elektroda
dibuat sedemikian rupa sehingga bagian bawah bersifat porous yang didalamnya
telah diberi cairan elektrolit CuSO4 berfungsi sebagai kontak antara permukaan
tanah yang akan diukur dengan elektroda tembaganya. Bentuk penampang
melintang dari elektroda non-polarnya (John,2004). Kemudian dari kontak
tersebut akan menghasilkan potensial spontan yang ada di permukaan bumi yang
diakibatkan oleh adanya proses mekanis ataupun proses elektrokimia yang di
kontrol oleh air tanah. Proses mekanis akan menghasilkan potensial elektrokinetik
sedangkan proses kimia akan menimbulkan potensial elektrokimia (potensial
liquid-junction, potensial nernst) dan potensial mineralisasi (Hendrajaya,1988).
Pengukuran SP dari porouspot sendiri dilakukan tanpa menginjeksikan arus listrik
lewat permukaan tanah sehingga potensial yang dapat diukur berkisar antar
beberapa milivolt (mV) hingga 1 volt.
Elektroda yang digunakan untuk pengukuran SP adalah untuk menghindari
adanya efek polarisasi. Karena dalam pengukuran SP, elektroda yang digunkan
harus elektroda yang kontak dengan tanah tidak berpolarisasi atau non-polarisasi
sehingga digunakanlah porouspot dimana porouspot ini merupakan elektroda
logam yang digantung di dalam larutan yang sangat jenuh seperti larutan CuSO4
di dalam tempat yang porous. Elektroda porouspot ini akan menghasilkan kontak
potensial elektrolitik yang juga rendah seperti potensial di bawah permukaan
bumi. Selain itu model porouspot yang bagus adalah yang terbuat dari porcelain
agar terhindar dari evaporasi garam yang ada di pada larutan dalam porouspot
tersebut. Porouspots, dimana elektrodanya terbuat dari kawat tembaga selalu
digunakan karena merupakan elektroda yang non-polarisasi, sesuai dengan syarat
untuk melakukan pengukuran SP. Sedangkan elektroda yang terbuat dai steel
justru harus dihindari dalam pengukuran SP karena kontak potensial yang cukup
tinggi dan error yang besar akan mungkin berkembang jika pada pengukuran SP
elektroda yang digunakan adalah dari bahan stainless steel (Corwin,1989).
KESIMPULAN

1. Porouspots merupakan elektroda yang paling baik untuk pengukuran SP


karena dia merupakan elektroda yang non-polarisasi.
2. Pasangan porouspot guci keramik memiliki beda potensial sebesar 1.9 mV
sedangkan pasangan porouspot spidol memiliki beda potensial sebesar 1.2
mV. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua model porouspot tersebut
termasuk dalam porouspot yang baik karena pada saat uji coba kalibrasi,
nilai beda potensialnya tidak sampai 2 mV.
3. Perbedaan potensial di hasilkan di dalam bumi yang teralterasi oleh
kegiatan manusia maupun alam. Bisa juga dihasilkan oleh perbedaan
mineralisasi, reaksi elektrokimia, aktivitas geothermal, dan bioelektrik
oleh tumbuh-tumbuhan (vegetasi). (Suhanto,2005).

KEMENTERIAN DIKTI DAN RISTEK


PROGRAM STUDI GEOFISIKA JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS GADJAH MADA

PRAKTIKUM GEOELEKTRISITAS DAN


ELEKTROMAGNETIK
ACARA I. MEMBUAT DAN MEMAHAMI POROUSPOT

DISUSUN OLEH :

UTHARI ANGGIA DEWI


(13/ 347814/PA/15366)
ASISTEN ACARA:
SELLY MUTIARA RESTIKA
FAIZ DEJA RAMADHAN

YOGYAKARTA
2015