Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Air memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, hewan,
tumbuhan dan jasad-jasad lain. Air yang kita perlukan adalah air yang
memenuhi

persyaratan

kesehatan

baik

persyaratan

fisik,

kimia,

bakteriologis dan radioaktif. Air yang tidak tercemar, didefinisikan sebagai


air yang tidak mengandung bahan-bahan asing tertentu dalam jumlah
melebihi batas yang ditetapkan sehingga air tersebut dapat dipergunakan
secara normal. Air yang memenuhi syarat, diharapkan dampak negatif
penularan penyakit melalui air bisa diturunkan.
Pemenuhan kebutuhan air minum sendiri sangat tergantung pada
faktor cakupan layanan air minum dan kondisi sanitasi pada masyarakat,
baik pedesaan atau perkotaan. Standar kebutuhan air di Indonesia untuk
masyarakat pedesaan adalah 60 lt/org/hr, sedangkan untuk masyarakat
perkotaan 150 lt/org/hr. Sanitasi juga sangat berperan dalam proses
pengelolaan, pendistribusian dan konsumsi air minum pada masyarakat.
Target pemenuhan Air Minum Indonesia pada tahun 2015 adalah
70% dan sanitasi sebesar 63,5%, sesuai dengan komitmen para
Pemimpin Dunia di Johannesburg pada Summit 2002. Komitmen yang
menghasilkan Millenium Development Goals(MDGs) ini menyatakan
bahwa pada tahun 2015 separuh penduduk dunia yang saat ini belum
mendapatkan akses terhadap air minum (Save Drinking Water) harus
telah mendapatkannya. Sedang pada tahun 2015 seluruh penduduk
dunia harus telah mendapatkan akses terhadap air minum (Rohim,2006).
Standar baku kualitas air di Indonesia ditetapkan oleh sebuah
Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

416/MENKES/PER/IX1990 tertanggal 30 September 1990 yang berisi


tentang syarat-syarat disesuaikan dengan standar yang ditetapkan WHO
(Awaluddin, 2007).
PDAM Klaten berdiri pada tahun 1977 dan mulai beroprasi pada
tahun 1980. Melalui APBN (DIP-DEP.PU) dibangun SPAB (Proyek

penanggulangan darurat) Oleh Pemerintah Pusat dibuat program


Pengembangan SPAB untuk 6 kota di Indonesia : Ambon, Pare-Pare,
Jember,Klaten, Purwakarta, Tangerang . Dana untuk mendirikan PDAM
Klaten berasal dari Danapinjaman 70 % Penyertaan Modal Pemerintah
30 %. Pinjaman berasal dari PerjanjianPinjaman (IBRD Loan 1709 IND)
Antara Pemerintah RI dengan Bank Dunia . dari dana tersebutdapat
dibangun 1 buah sumur dalam kapasitas 15 Lt/Det , jaringan pipa
transmisi & Distribusi12.000 M, pemasangan Sambungan Rumah 180
buah dan hidran Umum 14 buah .Dasar hukum pembangunan PDAM
Klaten adalah Perda No. 2 Tahun 1977. Disahkandengan SK Gubernur
Jawa Tengah No. HK.057/P/1977 tanggal 9 September 1977. Tupoksi
:Mendukung dan mewujudkan program pemerintah di bidang penyediaan
air minum dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
Indonesia pada umumnya dan masyarakat Kabupaten Klaten pada
khususnya (Anonim, 2012)
B. Tujuan
1. Mengetahui sumber air baku yang ada di PDAM Klaten?
2. Mengetahui debit air yang terdapat di IPA Desa Gayamprit dan Mata
air Ponggok?
3. Mengetahui proses pengolahan air baku di PDAM Klaten?
4. Mengetahui pemeliharaan yang dilakukan di PDAM Klaten?
C. Manfaat
1. Dapat menjadi sumber informasi

dan referensi bagi pembaca

mengenai sumber air, debit air proses pengolahan air baku serta
pemeliharaannya.
2. Menjadi pengalaman berharga bagi penulis dan menambah
wawasan mengenai sumber air, debit air proses pengolahan air
baku serta pemeliharaannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Air Bersih
Air merupakan zat yang memiliki peranan sangat penting bagi
kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Manusia akan

lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan


makanan. Di dalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari
air. Tubuh orang dewasa, sekitar 55-60 % berat badan terdiri dari air,
untuk anak-anak sekitar 65 % dan untuk bayi sekitar 80%. Air dibutuhkan
oleh manusia untuk memenuhi berbagai kepentingan antara lain:
diminum, masak, mandi, mencuci dan pertanian. Menurut perhitungan
WHO, di negara-negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120
liter per hari. Sedangkan di negara-negara berkembang termasuk
Indonesia, tiap orang memerlukan air 30-60 liter per hari. Diantara
kegunaan-kegunaan air tersebut yang sangat penting adalah kebutuhan
untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum air harus
mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan
penyakit bagi manusia.
Air minum harus steril (steril = tidak mengandung hama penyakit apapun).
Sumber-sumber air minum pada umumnya dan di daerah pedesaan
khususnya tidak terlindung sehingga air tersebut tidak atau kurang
memenuhi persyaratan kesehatan. Untuk itu perlu pengolahan terlebih
dahulu. (Anonim, 2012)
B. Sumber-sumber Air
Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum.
Sumber-sumber air ini, sebagai berikut:
1. Air hujan
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum, tetapi air hujan
ini tidak mengandung kalsium. Oleh karena itu, agar dapat dijadikan air
minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.
2. Air sungai
Air sungai dan danau berdasarkan asalnya juga berasal dari air hujan
yang mengalir melalui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau.
Kedua sumber air ini sering juga disebut air permukaan. Oleh karena air
sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh berbagai
macam kotoran, maka bila akan dijadikan air minum harus diolah terlebih
dahulu.

3. Mata air
Air yang keluar dari mata air ini berasal dari air tanah yang muncul
secara alamiah. Oleh karena itu, air dari mata air ini bila belum tercemar
oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum langsung. Tetapi karena
kita belum yakin apakah betul belum tercemar maka alangkah baiknya air
tersebut

direbus

dahulu

sebelum

diminum

4. Air sumur
Air sumur dangkal adalah air yang keluar dari dalam tanah, sehingga
disebut sebagai air tanah. Air berasal dari lapisan air di dalam tanah yang
dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan tanah dari tempat yang
satu ke yang lain berbeda-beda. Biasanya berkisar antara 5 sampai
dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini
belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah
masih ada. Oleh karena itu perlu direbus dahulu sebelum diminum. Air
sumur dalam yaitu air yang berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah.
Dalamnya dari permukaan tanah biasanya lebih dari 15 meter. Oleh
karena itu, sebagaian besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk
dijadikan air minum yang langsung (tanpa melalui proses pengolahan)
(Anonim, 2012).

a.

C. Persyaratan dalam Penyediaan Air Bersih


Persyaratan Kualitas
Persyaratan kualitas menggambarkan mutu dari air baku air
bersih. Dalam Modul Gambaran Umum Penyediaan dan Pengolahan Air
Minum Edisi Maret 2003 hal. 4-5 dinyatakan bahwa persyaratan kualitas
air bersih adalah sebagai berikut :
1. Persyaratan fisik
Secara fisik air bersih harus jernih, tidak berbau dan tidak berasa.
Selain itu juga suhu air bersih sebaiknya sama dengan suhu udara atau
kurang lebih 25oC, dan apabila terjadi perbedaan maka batas yang
diperbolehkan adalah 25oC 3oC.

2. Persyaratan kimiawi
Air bersih tidak boleh mengandung bahan-bahan kimia dalam
jumlah yang melampaui batas. Beberapa persyaratan kimia antara lain
adalah : pH, total solid, zat organik, CO2 agresif, kesadahan, kalsium
(Ca), besi (Fe), mangan (Mn), tembaga (Cu), seng (Zn), chlorida (Cl),
nitrit, flourida (F), serta logam berat.
3. Persyaratan bakteriologis
Air bersih tidak boleh mengandung kuman patogen dan parasitik
yang mengganggu kesehatan. Persyaratan bakteriologis ini ditandai
dengan tidak adanya bakteri E. coli atau fecal coli dalam air.
4. Persyaratan radioaktifitas
Persyaratan radioaktifitas mensyaratkan bahwa air bersih tidak
boleh

mengandung

zat

yang

menghasilkan

bahan-bahan

yang

mengandung radioaktif, seperti sinar alfa, beta dan gamma.


b.

Persyaratan Kuantitas (Debit)


Persyaratan kuantitas dalam penyediaan air bersih adalah ditinjau
dari banyaknya air baku yang tersedia. Artinya air baku tersebut dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan kebutuhan daerah
dan jumlah penduduk yang akan dilayani. Persyaratan kuantitas juga
dapat ditinjau dari standar debit air bersih yang dialirkan ke konsumen
sesuai dengan jumlah kebutuhan air bersih. Kebutuhan air bersih
masyarakat bervariasi, tergantung pada letak geografis, kebudayaan,
tingkat ekonomi, dan skala perkotaan tempat tinggalnya. Besarnya
konsumsi air berdasarkan kategori kota dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Konsumsi Air Berdasarkan Kategori Kota
Kategori Kota
Metropolitan

Jumlah Penduduk (orang)


> 1.000.000

Konsumsi Air (lt/org/hari)


210

Besar

500.000 1.000.000

170

Sedang

100.000 500.000

150

Kecil
20.000 100.000
Sumber : Kimpraswil, 2003
c.

90

Persyaratan Kontinuitas

10

Air baku untuk air bersih harus dapat diambil terus menerus
dengan fluktuasi debit yang relatif tetap, baik pada saat musim kemarau
maupun musim hujan. Kontinuitas juga dapat diartikan bahwa air bersih
harus tersedia 24 jam per hari, atau setiap saat diperlukan, kebutuhan air
tersedia. Akan tetapi kondisi ideal tersebut hampir tidak dapat dipenuhi
pada setiap wilayah di Indonesia, sehingga untuk menentukan tingkat
kontinuitas pemakaian air dapat dilakukan dengan cara pendekatan
aktifitas konsumen terhadap prioritas pemakaian air. Prioritas pemakaian
air yaitu minimal selama 12 jam per hari, yaitu pada jam-jam aktifitas
kehidupan, yaitu pada pukul 06.00 18.00. Kontinuitas aliran sangat
penting ditinjau dari dua aspek. Pertama adalah kebutuhan konsumen.
Sebagian besar konsumen memerlukan air untuk kehidupan dan
pekerjaannya, dalam jumlah yang tidak ditentukan. Karena itu, diperlukan
pada waktu yang tidak ditentukan. Karena itu, diperlukan reservoir
pelayanan dan fasilitas energi yang siap setiap saat. Sistem jaringan
perpipaan didesain untuk membawa suatu kecepatan aliran tertentu.
Kecepatan dalam pipa tidak boleh melebihi 0,61,2 m/dt. Ukuran pipa
harus tidak melebihi dimensi yang diperlukan dan juga tekanan dalam
sistem harus tercukupi. Dengan analisis jaringan pipa distribusi, dapat
ditentukandimensi atau ukuran pipa yang diperlukan sesuai dengan
tekanan minimum yang diperbolehkan agar kuantitas aliran terpenuhi.
d.

Persyaratan Tekanan Air


Konsumen memerlukan sambungan air dengan tekanan yang
cukup, dalam arti dapat dilayani dengan jumlah air yang diinginkan setiap
saat. Untuk menjaga tekanan akhir pipa di seluruh daerah layanan, pada
titik awal distribusi diperlukan tekanan yang lebih tinggi untuk mengatasi
kehilangan tekanan karena gesekan, yang tergantung kecepatan aliran,
jenis pipa, diameter pipa, dan jarak jalur pipa tersebut. Dalam
pendistribusian air, untuk dapat menjangkau seluruh area pelayanan dan
untuk

memaksimalkan

tingkat

pelayanan

maka

hal

wajib

untuk

diperhatikan adalah sisa tekanan air. Sisa tekanan air tersebut paling
rendah adalah 5mka (meter kolom air) atau 0,5 atm (satu atm = 10 m),
dan paling tinggi adalah 22mka (setara dengan gedung 6 lantai). Menurut
standar dari DPU, air yang dialirkan ke konsumen melalui pipa transmisi

11

dan pipa distribusi, dirancang untuk dapat melayani konsumen hingga


yang terjauh, dengan tekanan air minimum sebesar 10mka atau 1atm.
Angka tekanan ini harus dijaga, idealnya merata pada setiap pipa
distribusi. Jika tekanan terlalu tinggi akan menyebabkan pecahnya pipa,
serta merusak alat-alat plambing (kloset, urinoir, faucet, lavatory, dll).
Tekanan juga dijaga agar tidak terlalu rendah, karena jika tekanan terlalu
rendah maka akan menyebabkan terjadinya kontaminasi air selama aliran
dalam pipa distribusi.
a.

D. Sistem Distribusi dan Sistem Pengaliran Air Bersih


Sistem Distribusi Air Bersih
Sistem distribusi adalah sistem yang langsung berhubungan
dengan konsumen, yang mempunyai fungsi pokok mendistribusikan air
yang telah memenuhi syarat ke seluruh daerah pelayanan. Sistem ini
meliputi unsur sistem perpipaan dan perlengkapannya, hidran kebakaran,
tekanan tersedia, sistem pemompaan (bila diperlukan), dan reservoir
distribusi (Enri Damanhuri, 1989). Sistem distribusi air minum terdiri atas
perpipaan, katup-katup, dan pompa yang membawa air yang telah diolah
dari instalasi pengolahan menuju pemukiman, perkantoran dan industri
yang mengkonsumsi air. Juga termasuk dalam sistem ini adalah fasilitas
penampung air yang telah diolah (reservoir distribusi), yang digunakan
saat kebutuhan air lebih besar dari suplai instalasi, meter air untuk
menentukan banyak air yang digunakan, dan keran kebakaran.
Dua hal penting yang harus diperhatikan pada sistem distribusi
adalah tersedianya jumlah air yang cukup dan tekanan yang memenuhi
(kontinuitas pelayanan), serta menjaga keamanan kualitas air yang
berasal dari instalasi pengolahan. Tugas pokok sistem distribusi air bersih
adalah menghantarkan air bersih kepada para pelanggan yang akan
dilayani, dengan tetap memperhatikan faktor kualitas, kuantitas dan
tekanan air sesuai dengan perencanaan awal. Faktor yang didambakan
oleh para pelanggan adalah ketersedian air setiap waktu. Suplai air
melalui pipa induk mempunyai dua macam sistem; yaitu
(Kamala, bab VII hal 97) :

1. Continuous system

12

Dalam sistem ini air minum yang disuplai ke konsumen mengalir


terus menerus selama 24 jam. Keuntungan sistem ini adalah konsumen
setiap saat dapat memperoleh air bersih dari jaringan pipa distribusi di
posisi pipa manapun. Sedang kerugiannya pemakaian air akan
cenderung akan lebih boros dan bila terjadi sedikit kebocoran saja, maka
jumlah air yang hilang akan sangat besar jumlahnya.
2.

Intermitten system
Dalam sistem ini air bersih disuplai 2-4 jam pada pagi hari dan 2-4
jam pada sore hari. Kerugiannya adalah pelanggan air tidak bisa setiap
saat mendapatkan air dan perlu menyediakan tempat penyimpanan air
dan bila terjadi kebocoran maka air untuk fire fighter (pemadam
kebakaran) akan sulit didapat. Dimensi pipa yang digunakan akan lebih
besar karena kebutuhan air untuk 24 jam hanya disuplai dalam beberapa
jam saja. Sedang keuntungannya adalah pemborosan air dapat dihindari
dan juga sistem ini cocok untuk daerah dengan sumber air yang terbatas.

b. Sistem Pengaliran Air Bersih


Untuk mendistribusikan air minum kepada konsumen dengan
kuantitas, kualitas dan tekanan yang cukup memerlukan sistem perpipaan
yang baik, reservoir, pompa dan dan peralatan yang lain. Metode dari
pendistribusian air tergantung pada kondisi topografi dari sumber air dan
posisi para konsumen berada. Menurut Howard S Peavy et.al (1985, Bab
6 hal. 324-326) sistem pengaliran yang dipakai adalah sebagai berikut;
a. Cara Gravitasi
Cara pengaliran gravitasi digunakan apabila elevasi sumber air
mempunyai perbedaan cukup besar dengan elevasi daerah pelayanan,
sehingga tekanan yang diperlukan dapat dipertahankan. Cara ini
dianggap cukup ekonomis, karena hanya memanfaatkan beda ketinggian
lokasi.
b. Cara Pemompaan
Pada cara ini pompa digunakan untuk meningkatkan tekanan
yang diperlukan untuk mendistribusikan air dari reservoir distribusi ke
konsumen. Sistem ini digunakan jika elevasi antara sumber air atau
instalasi pengolahan dan daerah pelayanan tidak dapat memberikan
tekanan yang cukup.

13

c. Cara Gabungan
ada cara gabungan, reservoir digunakan untuk mempertahankan
tekanan yang diperlukan selama periode pemakaian tinggi dan pada
kondisi darurat, misalnya saat terjadi kebakaran, atau tidak adanya
energi. Selama periode pemakaian rendah, sisa air dipompakan dan
disimpan dalam reservoir distribusi. Karena reservoir distribusi digunakan
sebagai cadangan air selama periode pemakaian tinggi atau pemakaian
puncak, maka pompa dapat dioperasikan pada kapasitas debit rata-rata.
E. Tolok Ukur Penilaian Kinerja dalam Penyediaan Air Bersih
Ada tiga kegiatan yang dapat digunakan untuk melakukan
penilaian

kinerja

secara

efektif,

yakni

relevancy,

reliability,

dan

discrimination. Dimana relevancy menunjukkan tingkat kesesuaian antara


kriteria dan tujuan kinerja. Reliability menunjukkan tingkat makna kriteria
yang menghasilkan hasil yang konsisten. Sedangkan diskriminasi
digunakan untuk mengukur tingkat dimana suatu kriteria kinerja dapat
memperlihatkan perbedaan-perbedaan dalam kinerja. Dengan merujuk
pada beberapa pengertian di atas, baik berkaitan dengan pengertian
kinerja serta kriteria penilaian, maupun berbagai pengertian efektifitas dan
efisiensi, penilaian kinerja dalam penyediaan air bersih ditentukan oleh :
a. Kinerja penyediaan air bersih sangat terkait dengan kualitas
dan kuantitas air yang dapat dinikmati oleh konsumen sebagai pengguna
jasa pelayanan, termasuk tingkat kepuasan yang dapat dicapai
b. Kinerja penyediaan air bersih ditentukan oleh tingkat efektifitas
dan efisiensi dalam pengadaannya
c. Berbagai kriteria teknis dan standar desain yang berlaku dalam
perencanaan sisitem penyediaan air bersih, seperti kualitas air baku,
sistem transmisi, sistem distribusi, dan proses pengolahan air serta
mengacu pada standar kualitas air bersih yang telah ditetapkan
pemerintah
d. Penilaian tingkat efisiensi ditentukan atas dasar perbandingan
antara jumlah biaya yang dikeluarkan dibandingkan dengan kualitas dan
kuantitas air yang dihasilkan, serta tingkat kepuasan yang ingin dicapai.

14

Untuk dapat menilai kinerja PDAM sebagai suatu institusi,


digunakan acuan berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) antara
Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pekerjaan Umum, yang dikaluarkan
pada tahun 1987, yang menetapkan suatu standar dan krietria penilaian
kondisi internal atas kinerja PDAM yang dikenal dengan WEPA (Water
Enterprise Performance Appraisal), yang penekanannya lebih pada aspek
pengelolaan keuangan atau sistem akuntansi PDAM. Sehingga ukuran
kinerja dinyatakan dalam opini manajemen pengelolaan baik dan tidak
baik. Oleh karena itu untuk menyempurnakan penilaian kinerja, maka
padatahun 1987 telah dibuat suatu perangkat lumak pembantu, yang
dikenal dengan SIM-PAM (Sistem Informasi Manajemen Pengelolaan Air
Minum) yang dapat menilai kinerja PDAM secara lebih komprehensif
dengan mempertimbangkan berbagai aspek terkait. Kinerja pelayanan
atau penyediaan air bersih di setiap daerah yang dilayani oleh PDAM
belum tentu kualitas dan kuantitasnya sama dengan daerah lainnya.
Karenanya dalam penelitian ini, penilaian kinerja pelayanan air bersih
pada suatu lokasi atau daerah tertentu akan digunakan acuan berupa
kriteria teknis pelayanan air bersih dengan sistem perpipaan, antara lain :
a. Air tersedia secara kontinyu 24 jam sehari
b. Tekanan air di ujung pipa minimal sebesar 1,5 2 atm
c. Kualitas air harus memenuhi standar yang ditetapkan
E. Tolok Ukur Kepuasan dalam Penyediaan Air Bersih
Hal yang paling diharapkan oleh masyarakat sebagai pengguna
pelayanan air bersih (customers expectation) adalah tersedianya air,
terutama setiap saat dibutuhkan, serta jumlahnya dapat memenuhi
kebutuhan air bersih harian, sehingga kuantitas dan kontinuitas aliran air
bersih menjadi hal yang utama dalam penentuan tingkat kepuasan bagi
masyarakat pengguna jasa layanan. Selain itu, kualitas air bersih yang
didistribusikan ke pelanggan, yang memenuhi standar baku mutu kualitas
air bersih, serta tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi kesehatan
manusia maupun lingkungan juga merupakan harapan bagi setiap
pengguna jasa layanan air bersih. Dengan adanya kualitas air bersih
yang memenuhi sntandar baku mutu, maka akan meningkatkan tingkat
kepuasan masyarakat pengguna jasa layanan. Berdasarkan tolok ukur

15

yang telah disebutkan sebelumnya, maka dapat dilihat bahwa ada suatu
hubungan keterkaitan yang erat antara Kinerja Pelayanan penyedia
layanan air bersih yang dalam hal ini adalah PDAM dan Tingkat
Kepuasan Pelanggan yang dalam hal ini adalah masyarakat pengguna
layanan. Jika PDAM sebagai penyedia layanan dapat meningkatkan
kinerja sistem jaringan distribusi air minum nya, maka secara otomatis
akan juga meningkatkan Tingkat Kepuasan Pelanggan terhadap layanan
yang diberikan.
F. Pengolahan Air Bersih
secara teknis, tulisan ini sebenarnya akan membahas mengenai
jenis-jenis pengolahan air bersih. Secara umum, pengolahan air bersih
terdiri dari 3, yaitu pengolahan secara fisika, kimia, dan biologi. Pada
pengolahan secara fisika, biasanya dilakukan secara mekanis, tanpa
adanya penambahan bahan kimia. Contohnya adalah pengendapan,
filtari, adsorpsi, dan lain-lain. Pada pengolahan secara kimiawi, terdapat
penambahan bahan kimia, seperti klor, tawas, dan lain-lain, biasanya
digunakan untuk menyisihkan logam-logam berat yang terkandung dalam
air.

Pada

pengolahan

secara

biologis,

biasanya

memanfaatkan

mikroorganisme sebagai media pengolahnya.


PDAM, biasanya melakukan pengolahan secara fisika dan kimiawi
dalam proses penyediaan air bersih. Secara umum, skema pengolahan
air bersih di daerah-daerah di Indonesia terlihat seperti pada gambar di
bawah. Terdapat 3 bagian penting dalam sistem pengolahannya
(Aryansah, 2010).
1. Bangunan Intake
Bangunan intake ini berfungsi sebagai bangunan pertama untuk
masuknya air dari sumber air. Pada umumnya, sumber air untuk
pengolahan air bersih, diambil dari sungai. Pada bangunan intake ini
biasanya terdapat bar screen yang berfungsi untuk menyaring bendabenda yang ikut tergenang dalam air. Selanjutnya, air akan masuk ke

16

dalam sebuah bak yang nantinya akan dipompa ke bangunan


selanjutnya, yaitu WTP Water Treatment Plant.
2. Water Treatment Plant
Water Treatment Plant atau lebih populer dengan akronim WTP
adalah bangunan utama pengolahan air bersih. Biasanya bagunan ini
terdiri dari 4 bagian, yaitu : bak koagulasi, bak flokulasi, bak sedimentasi,
dan bak filtrasi. Nah, sekarang kita bahas satu per satu bagian-bagian ini.
a. Koagulasi
Dari bangunan intake, air akan dipompa ke bak koagulasi ini. Apa
yang terjadi dalam bak ini..?? pada proses koagulasi ini dilakukan proses
destabilisasi partikel koloid, karena pada dasarnya air sungai atau air-air
kotor biasanya berbentuk koloid dengan berbagai partikel koloid yang
terkandung di dalamnya. Destabilisasi partikel koloid ini bisa dengan
penambahan bahan kimia berupa tawas, ataupun dilakukan secara fisik
dengan rapid mixing (pengadukan cepat), hidrolis (terjunan atau hydrolic
jump), maupun secara mekanis (menggunakan batang pengaduk).
Biasanya pada WTP dilakukan dengan cara hidrolis berupa hydrolic jump.
Lamanya proses adalah 30 90 detik.

b. Flokulasi
Setelah dari unit koagulasi, selanjutnya air akan masuk ke dalam
unit flokulasi. Unit ini ditujukan untuk membentuk dan memperbesar flok.
Teknisnya adalah dengan dilakukan pengadukan lambat (slow mixing).

c. Sedimentasi
Setelah melewati proses destabilisasi partikel koloid melalui unit
koagulasi dan unit flokulasi, selanjutnya perjalanan air akan masuk ke

17

dalam unit sedimentasi. Unit ini berfungsi untuk mengendapkan partikelpartikel koloid yang sudah didestabilisasi oleh unit sebelumnya. Unit ini
menggunakan prinsip berat jenis. Berat jenis partikel koloid (biasanya
berupa lumpur) akan lebih besar daripada berat jenis air. Dalam bak
sedimentasi, akan terpisah antara air dan lumpur.
d. Filtrasi
Setelah proses sedimentasi, proses selanjutnya adalah filtrasi.
Unit filtrasi ini, sesuai dengan namanya, adalah untuk menyaring dengan
media berbutir. Media berbutir ini biasanya terdiri dari antrasit, pasir silica,
dan kerikil silica denga ketebalan berbeda. Dilakukan secara grafitasi.
Selesailah sudah proses pengolahan air bersih. Biasanya untuk
proses tambahan, dilakukan disinfeksi berupa penambahan chlor,
ozonisasi, UV, pemabasan, dan lain-lain sebelum masuk ke bangunan
selanjutnya, yaitu reservoir.
3. Reservoir
Setelah

dari

WTP

dan

berupa

clear

water,

sebelum

didistribusikan, air masuk ke dalam reservoir. Reservoir ini berfungsi


sebagai

tempat

penampungan

sementara

air

bersih

sebelum

didistribusikan melalui pipa-pipa secara grafitasi. Karena kebanyakan


distribusi di kita menggunakan grafitasi, maka reservoir ini biasanya
diletakkan di tempat dengan eleveasi lebih tinggi daripada tempat-tempat
yang menjadi sasaran distribusi. Biasanya terletak diatas bukit, atau
gunung.
Gabungan dari unit-unit pengolahan air ini disebut IPA Instalasi
Pengolahan Air. Untuk menghemat biaya pembangunan, biasanya Intake,
WTP, dan Reservoir dibangun dalam satu kawasan dengan ketinggian
yang cukup tinggi, sehingga tidak diperlukan pumping station dengan
kapasitas pompa dorong yang besar untuk menyalurkan air dari WTP ke
reservoir. Barulah,

setelah

dari

reservoir,

air

bersih

siap

untuk

18

didistribusikan melalui pipa-pipa dengan berbagai ukuran ke tiap daerah


distribusi (Aryansah, 2010)

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan hasil kunjungan lapangan di PDAM Klaten, terdapat 3 tempat
kunjugan lapangan yaitu
1. Tempat Instalasi Pengolahan Air (IPA)
2. Tempat Menara Air
3. Tempat Sumber Mata Air
1) PDAM Klaten bersumber dari sumur dalam dengan debit sebesar 15
ltr/dt, dan mempunyai kualitas air sebelum di proses dalam IPA
mempunyai Fe dan Mn tinggi. Dengan Unit pengolahan yang ada di Desa
gayamprit akan menurunkan kadar Fe, dan MN. IPA (Instalasi
Pengolahan Air) : Sumur dalam - Aerasi Rogingfilter Filtras
Reservoir - disalurkan ke Konsumen.
Cara Pemeliharaan :
Aerasi : 3 bulan sekali
Rogingfilter: setengah bulan sekali
Filtrasi : Tiap hari 1 bak
Dan untuk pengecekan air dilakukan 3 hari sekali untuk melihat kadar Fe,
Mn dan untuk melihat bakteri 1 bulan sekali.
2) Menara Jonggrangan merupakan menara air balance (penyeimbang)
milik PDAM Kab. Klaten. Menara ini berfungsi sebagai penyeimbang
pasokan air PDAM Klaten yang bersumber di dua mata air yaitu mata air
Lanang dan mata air Geneng yang terletak di kecamatan Kebonarum
yang kemudian didistribusikan ke rumah-rumah pelanggan PDAM se
Kabupaten Klaten. Menara air Di bangun 14 April 1985 dengan
ketingggian 42 meter Kapasitas menara air 1000 m3
Cara Pemeliharaaannnya dilakukan setiap tahun sekali pada bagian atas
(bak)

19

3) Mata air Ponggok


air kolam ini juga digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai pusat air
minum serta digunakan oleh PDAM karena ditengah kolam terdapat
sarana PDAM tersebut. keunggulan lain kolam ini yaitu terdapat banyak
sekali ikan mulai dari ikan mas, ikan nila dan ikan bawal yang berukuran
besar dan sangat indah saat kita berenang. tips bila anda ingin kesini
cobalah untuk membawa alat snorkelling karena akan memberikan
sensasi yang berbeda karena mirip sekali dengan di laut.
Kapasitas : 899 ltr/dt, yang dikelola oleh PDAM 25 ltr/dt
Wilayah pelayanan di kk karang anom
Sistem pengaliran : Gravitasi
Pengolahan : sebelum kepelanggan air di beri desinfeksi/kaporit sehingga
kualitas air terjamin.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Sumber air :
a. Sumur dalam yang terletak di desa gayamprit
b. Mata air Ponggok

20

c. Menara air terdapat 2 sumber yaitu mata air geneng dan Lanang
2. Debit air :
Debit air pada sumur dalam 15 liter/detik
Dan yang digunakan di mata air Ponggok 25 liter/detik
3. IPA (Instalasi Pengolahan Air) : Sumur dalam - Aerasi Rogingfilter
Filtras Reservoir - disalurkan ke Konsumen.
4. Pemeliharaan :
Aerasi : 3 bulan sekali
Rogingfilter: setengah bulan sekali
Filtrasi : Tiap hari 1 bak
Dan untuk pengecekan air dilakukan 3 hari sekali untuk melihat kadar Fe,
Mn dan untuk melihat bakteri 1 bulan sekali.
Menara Air : Pemeliharaaannnya dilakukan setiap tahun sekali pada
bagian atas (bak)

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2012. Penyediaan air bersih dan sehat. (online)
http://www.smallcrab.com/makanan-dan-gizi/609-penyediaan-air-bersih-dansehat diakses tanggal 15 Juni 2012 pukul 11:09
Anonim, 2012. Kunjungan PDAM. (online)
http://www.scribd.com/doc/62610750/KUNJUNGAN-PDAM-KLATEN diakses
tanggal 15 Juni 2012 pukul 10:30
Damanhuri,

Enri,

1989,

Pendekatan

Sistem

Dalam

Pengendalian

dan

Pengoperasian

21

Sistem Jaringan Distribusi Air Minum, Bandung, Jurusan Teknik Lingkungan


FTSP-ITB.
Kanth Rao, Kamala, 1999, Environmental Engineering : Water Supply sanitary
Engineering and Pollution, McGraw Hill publishing Company Ltd
Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

416/Menkes/PER/IX/1990
Syarat Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Bersih
.
Peavy, Howard.1985, Environmental Engineering, New Delhi, McGraw-Hill
Publishing
Company Ltd.
Modul Pelatihan Water Quality Analysis, Gambaran Umum Pengolahan Air
Reynold, Tom D, 1982, Unit Operation & Processes in Environmental
Engineering, new
Delhi India, McGraw Hill Publishing Company
Aryansah, 2010. Instalasi pengolahan air bersih. (online)
http://aryansah.wordpress.com/2010/12/03/instalasi-pengolahan-air-bersih/Teknik
Sipil dan Lingkungan ITB 2009 diakes tanggal 15 Juni 2012 pukul 15:30

22