Anda di halaman 1dari 39

GAMBARAN BERAT BADAN LAHIR BAYI DENGAN TEKANAN

DARAH IBU
DI RUMAH SAKIT PRIKASIH
Proposal penelitian ini ditulis sebagai salah satu
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Kedokteran (S.Ked)

OLEH:
ILHAM.M
1112103000083

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Dengan ini saya menyatakan bahwa:


1.

Laporanpenelitianinimerupakanhasilkaryaaslisayayangdiajukanuntuk memenuhi salah satu

persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


2.

Semuasumberyangsayagunakandalampenulisaninitelahsayacantumkan sesuai dengan

ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


3.

Jikadikemudianhariterbuktibahwakaryainibukankaryaaslisayaatau merupakan hasil jiplakan

dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 1 Agustus 2015


Materai
Rp 6000

Ilham M.

GAMBARAN BERAT BADAN LAHIR BAYI DENGAN TEKANAN


DARAH IBU
DI RUMAH SAKIT PRIKASIH
Proposal Penelitian
Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked)

Oleh:
Ilham M.
NIM: 1112103000083

Pembimbing I

Pembimbing II

dr. Taufik Zain, Sp.OG (K-Onk)

dr. Nina Afiani, Sp.OG, M.Kes

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN


ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERISYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1436 H/2015 M

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Kehamilan merupakan suatu hal yang sangat dinantikan oleh setiap
pasangan yang telah menikah. Sehingga dalam keberlangsungan kehamilan,
kesehatan ibu dan janin sangat diperhatikan. Terdapat beberapa penyulit yang
terjadi selama kehamilan. Salah satunya adalah hipertensi dalam kehamilan.
Di Indonesia prevalensi hipertensi pada kehamilan di Indonesia cukup
banyak. Pada riset kesehatan dasar 2007 yang diterbitkan tahun 2012 oleh
departemen kesehatan Indonesia menyatakan bahwa prevalensi hipertensi
pada ibu hamil sebesar 12,7%.21
Kesehatan seorang ibu sangat berpengaruh terhadap kesehatan
seorang bayi. Salah satu masalah kesehatan yang harus diperhatikan adalah
berat badan lahir. Menurut Riskesdas tahun 2013 di Indonesia terdapat
sebanyak 10,2% dari anak yang baru lahir mengalami berat badan lahir
rendah (BBLR). Walaupun ditahun 2010 terdapat 11,1%, yang menunjukkan
penurunan ditahun 2013. Selain itu, bayi yang mengalami berat badan lahir
besar(BBLB) pada laki-laki 5,6% sedangkan perempuan 3,9%. Keadaan ini
menjadi sesuatu hal yang sangat memprihatinkan untuk menciptakan
generasi yang berkualitas.2
Begitu pentingnya perhatian terhadap berat bayi lahir untuk
kelangsungan hidupnya. Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa umur
kehamilan dan berat bayi lahir sangat berkaitan dengan risiko kematian
perinatal. Pada kehamilan diatas 32 minggu dengan berat bayi >1.500 gram
keberhasil hidup sekitar 85% jika <1.500 gram maka kemungkinan
berhasilnya 80%. Sedangkan pada umur kehamilan <32 minggu dengan berat
bayi lahir <1.500 gram angka keberhasilannya hanya sekitar 59%.3
Berat badan lahir janin sangat bergantung pada potensi pertumbuhan
herediter dan efektivitas dukungan untuk pertumbuhan dari lingkungan
uteroplasenta. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi kehidupan janin pada
uteroplasenta adalah ada tidaknya penyakit yang telah dialami oleh seorang
ibu.

Faktor resiko untuk insidens bayi dengan berat badan rendah adalah
sosioekonomi (usia ibu<17 atau > 35), berat badan sebelum hamil <50 kg
atau >75 kg, merokok, dan minum alcohol berlebihan), riwayat kebidanan
(bayi sebelumnya dengan berat badan lahir rendah, dan anemia pada ibu),
kehamilan sekarang (penyakit hipertensi, perdarahan antepartum, dan
kehamilan multiple), dan janin (defek kongenital, dan infeksi intra uterin).4
Diantara faktor resiko diatas hipertensi dalam kehamilan adalah salah
satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas pada ibu bersalin
dan sekitar 5-15% menjadi penyulit dalam kehamilan. Semua ibu hamil dapat
mengalami hipertensi dalam kehamilan sehingga semua tenaga medik baik
dipusat maupun didaerah harus mengetahui cara pengelolaannya. 3
Klasifikasi yang sering dipakai Indonesia adalah berdasarkan Report
of the National High Blood Pressure Education Program Working Group on
High Blood Pressure in Pregnancy tahun 2000 telah mengklasifikasikan
hipertensi dalam kehamilan yaitu hipertensi kronik, preeklamsia-eklamsia,
hipertensi kronik dengan superimposed preeklamsia dan hipertensi
gestasional..3,17
Berdasarkan tingginya angka mortalitas pada neonatal yang
mengalami berat badan lahir rendah dengan faktor resiko hipertensi dalam
kehamilan. Maka peneliti merasa perlu untuk mengetahui besar perbandingan
berat badan lahir seorang bayi dengan hipertensi dan tekanan darah normal.
Sehingga setiap wanita hamil dapat meningkatkan kesiapan untuk menekan
1.2.

1.3.

angka mortalitas tersebut.


Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran berat badan lahir bayi dengan tekanan darah ibu?

Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran berat badan lahir bayi dengan tekanan darah
ibu berdasarkan data Antenatal Care di Rumah Sakit Prikasih tahun
2014.
1.3.2. Tujuan Khusus

1.3.2.1.

Mengetahui rata-rata tekanan darah ibu hamil di Rumah

1.3.2.2.

Sakit Prikasih tahun 2014


Mengetahui rata-rata berat badan lahir bayi di Rumah
Sakit Prikasih tahun 2014

1.4.

Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Peneliti
1.4.1.1. Untuk mengamalkan dan menerapakan ilmu pengetahuan
yang dipelajari di preklinik untuk memajukan kesehatan
1.4.1.2.

masyarakat
Untuk melatih dan meningkatkan kemampuan diri

khususnya dalam bidang penelitian


1.4.2. Bagi Instansi Terkait
Memberikan informasi tentang gambaran berat badan lahir bayi
dengan tekanan darah ibu berdasarkan data Antenatal Care di Rumah
Sakit Prikasih tahun 2014.
1.4.3. Bagi Masyarakat sekitar
1.4.3.1.
Untuk meningkatkan perhatian masyarakat akan dampak
yang
1.4.3.2.

diakibatkan oleh hipertensi dalam kehamilan

terhadap berat badan lahir bayi


Untuk menekan tingginya angka mortalitas bayi dengan
berat badan lahir

rendah akibat hipertensi dalam

kehamilan.
1.4.4. Bagi Peneliti Lain
Hasil dari penelitian yang kami lakukan ini diharapkan dapat menjadi
suatu dasar dan acuan bagi peneliti lain dalam melakukan penelitian
selanjutnya demi keajuan ilmu pengetahuan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Anatomi danFisiologi Kehamilan

Berbagai perubahan anatomi dan fisiologi yang terjadi pada perempuan


hamil sebagin telah terjadi setelah fertilisasi dan akan terus berlanjut selama
berlangsungnya kehamilan. Dan akan kembali seperti keadaan sebelum hamil setelah
proses persalinan dan menyusui telah selesai.3
2.1.1.1. Perubahan hormonal
a. Kelenjar hipofisis
Sekresi dari FSH dan LH sampai pada tingkat yang rendah pada saat
hamil, sedangkan peningkatan terjadi pada sekresi dari ACTH,
tirotropin, dan prolaktin.4
b. Kelenjar adrenal

Kortikosteroid totak pada wanita hamil akan meningkat secara


progresif sampai genap bulan. Sehingga dibeberapa kasus wanita hamil
mengalami striae abdomen, glikosuria, dan hipertensi.4
2.1.1.2.

Kelenjar tiroid
Mengalami pembesaran selama kehamilan yang disebabkan karena
penumpukan koloid yang disebabkan penurunan kadar yodium di dalam
plasma, ini disebabkan karena kemampuan ginjal untuk mengekskresi unsur
tersebut. Estrogen akan merangsang peningkatan sekresi thyroxin binding
globulin. Sehingga terjadi peningkatan dari kadar T3 dan T4. Keadaan ini
bukan sebagai tanda hipertiroidisme karena kadar TSH dan tiroksin bebas
masih dalam batas normal.4

2.1.1.3. Perubahan pada traktus genitalia


a. uterus
Dengan adanya rangsangan hormonal,tampak paling nyata pada
jaringan-jaringan genitalia dan panjang serabut otot uterus berkembang
samapi sekitar 15 kali lipat dari keadaan normalnya. Kemudian berat
uterus juga mengalami peningkatan dari 50 gram menjadi sekitar 950
gram pada saat genap bulan.perengan serabut otot sangat dipengaruhi
oleh efek mekanik dari pertumbuhan janin. Pembuluh darah pembuluh
darah pada masa kehamilan mengalami hipertrofi dan menjadi
berkelok-kelok pada awal kehamilan, setelah itu tidak ada lagi
pertumbuhan dan pemanjangan tambahan yang diperlukan yang
dilakukan untuk melanjutkan pengembangan uterus diperoleh dengan
meluruskan kelokan dari pembuluh darah tersebut.4
b. Serviks
Estradiol yang meningkatkan sifat higroskopik jaringan ikat serviks
membuat encer asam mukopolisakarida pada bahan dasar yang
mengikat kolagen sehingga serviks menjadi lebih lunak dan bengkak
pada kehamilan, pada keaan ini epitelium kolumnar yang melapisi
kanalis servikalis terpajan oleh sekret dari vagina. Selain itu,

prostaglandin bekerja pada serabut kolagen, sehingga serviks menjadi


lebih lunak dan mudah untuk berdilatasi.4
c. Vagina
Otot vagina mengalami hipertrofi, mukosa vagina lebih tebal, dan
terjadi perubahan susunan jaringan ikat disekitarnya sehingga vagina
lebih udah untuk berdilatasi dan memudahkan saat persalinan.4
2.1.1.4.

Sistem kardiovaskular
Pada saat kehamilan semua sistem yang berhubungan akan mengalami
perubahan. Diantaranya sistem kardiovaskular, pada minggu ke 5 kehamilan
cardiac output akan meningkat dengan tujuan dapat mengurangi reistensi
vaskular sistemik. Selain itu, peningkatan peningkatan denyut jantung juga
terjadi. Diantara minggu ke 10 sampai 20 terjadi peningkatan volume
plasma yang mengakibatkan peningkatan preload dan mengisi ruang
intravaskular yang dibentuk oleh plasenta dan pembuluh darahnya. Dengan
terjadinya penurunan resistensi vaskular sistemik dan perubahan pada aliran
pada aliran pulsasi arterial maka akan mempengaruhi keadaan dari ventrikel
saat kehamilan. vasodilatasi dan penurunan resistensi vaskular perifer juga
dipengaruhi oleh peningkatan estrogen dan progesteron.3,4
Dengan adanya perubahan pada cardiac output ventrikel kiri akan
mengalami hipertrofi untuk mengatasi perubahan tersebut, tetapi tidak
mengubah kontraktilitas dari jantung. Kemudian perubahan posisi dari
diafragma, apeks jugan akan bergerak ke arah anterior dan ke kiri, sehinga
ketika dilakukan pemeriksaan EKG maka akan di dapatkan deviasi aksis
kiri, depresi segmen ST, dan inverse atau pendataran gelombang T pada lead
III.3
Setelah masuk pertengahan kehamilan maka pembesaran uterus dapat
menekan vena kava inferior dan aorta bawah ketika dalam posisi terlentang.
Dengan adanya penekanan terhadap vena kava inferior maka akan darah
balik vena ke jantung. Sehingga dapat berakibat penurunan preload dan
cardiac output yang dapat mengakibatkan hipotensi arterial yang dikenal
dengan sindrom hipotensi supine. Penekanan aorta juga akan mengurangi

aliran darah uteroplasenta ke ginjal. Sehingga jika posisi ibu hamil


terlentang maka akan mengganggu fungsi fungsi ginjal jika dibandingkan
posisi miring.3
Pada minggu ke 6 sampai 8 kehamilan volume darah akan meningkat
secara progresif dan akan mencapai puncaknya pada minggu ke 32-34
setelah minggu tersebut hanya mengalami sedikit peningkatan. Peningkatan
volume darah yang sebagian besar berupa plasma dan eritrosit ini
dipengaruhi oleh aksi progesteron dan estrogen pada ginjal yang diinisiasi
oleh jalur renin-angiotensin dan aldosteron.3
Tidak tercapainya keseimbangan antara jumlah sel darah merah dan volume
plasma yang mengakibatkan hemodilusi dan penurunan konsentrasi
hemoglobin dari 15 g/dl menjadi 12,5 g/dl. Bahkan beberapa perempuan
mencapai 11g/dl. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya zat besi yang
diabsorpsi dari makanan dan cadangan dalam tubuh. Sehingga penambahan
zat besi dan asam folat sangat membantu untuk mengembalikan kadar
normal hemoglobin.3
2.1.1.5. Sistem Pernapasan
Pada saat hamil pernapasan masih diafragmatik, akan tetapi pergerakan
diafragma terbatas saat minggu ke 30 kehamilan sehingga wanita hamil
akan bernapas lebih dalam, dengan meningkatkan volume tidal dan
kecepatan ventilasi, kejadian ini memungkinkan pencampuran gas
meningkat dan konsumsi oksigen juga akan meningkat.4
2.1.1.6.

Sistem ginjal
Dilatasi yang terjadi akibat oto polos pelvis renalis dan ureter relaks akan
meningkatkan kapasitas pelvis renalis dan ureter sehingga kemungkinan
statis urin akan semakin besar. Oleh karena itu, kejadian infeksi traktus
urinarius lebih sering terjadi pada saat hamil.4
Pada saat hamil aliran darah ginjal juga meningkat sampai minggu ke 16
kemudian menurun. Laju filtrasi glomerulus meningkat sampai 60 % dan
akan menurun pada 4 minggu terakhir kehamilan.4

2.1.1.7. Sistem Imun

Penurunan reaksi imun pada ibu hamil dapat juga disebabkan oleh Human
chronic gonadotrophin. Begitu pula IgG, IgA, dan IgM mengalami
penurunan mulai pada minggu ke 10 kehamilan sampai minggu ke 30 dan
akan menetap sampai term.4
2.1.1. Hipertensi dalam kehamilan
2.1.1.1.

Definisi
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik dan diastolik 140/90 mmHg.

2.1.1.2.

Epidemiologi
hipertensi adalah komplikasi dari 5% sampai 7% dari semua kehamilan yang
berpengaruh terhadap morbiditas janin. Di Indonesia prevalensi hipertensi
pada kehamilan di Indonesia cukup banyak. Pada riset kesehatan dasar 2007
yang diterbitkan tahun 2012 oleh departemen kesehatan Indonesia
menyatakan bahwa prevalensi hipertensi pada ibu hamil sebesar 12,7%.18,21

2.1.1.3.

Faktor resiko
Terdapat banyak faktor resiko untuk terjadinya hipertensi pada kehamilan
diantaranya adalah.3,6
1.

Primigravida, primipaternitas

2.

Umur yang terlalu ekstrim

3.

Riwayat keluarga yang pernah preeklamsia/eklamsia

4.

Penyakit ginjal dan hipertensi yang dialami ebelum kehamilan

5.

Hiperplasentosis (molahidatidosa, kehamilan multipel, diabetes


melitus, hidrops fetalis dll.)

6.

2.1.1.8.

Obesitas.

Klasifikasi
Klasifikasi hipertensi menurut Joint National Committee 7.19

Kategori
Normal
Prehipertensi

Sistol(mmHg)
<120
120-139

Dan/atau
Dan
Atau

Diastol(mmHg)
<80
80-89

Hipertensi tahap 1
Hipertensi tahap 2

140-159
160

Atau
Atau

90-99
100

Klasifikasi yang sering dipakai di Indonesia untuk hipertensi dalam


kehamilan adalah berdasarkan Report of the National High Blood Pressure
Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy
tahun 2000 yaitu:
1. Hipertensi kronik
Hipertensi yang timbul sebelum umur 20 minggu kehamilan atau
hipertensi yang yang pertama kali didiagnosis setelah umur kehamilan 20
minggu dan tetap berlangsung sampai 12 minggu pascaperalinan.
2. Preeklamsia dan eklamsia
Preeklamsia adalah hipertensi yang timbul setelah setelah 20 minggu
kehamilan yang disertai proteinuria sedangkan eklamsia adalah
preeklamsia yang disertai dengan kejang dan/atau koma.
3. Hipertensi kronik dengan superimposed preeklamsia
Hipertensi kronik yang disertai tanda-tanda preeklamsia atau hipertensi
kronik yang disertai proteinuria
4. Hipertensi gestasional
Hipertensi ini biasa disebut transient hypertension. Hipertensi ini timbul
pada kehamilan tanpa disertai proteinuria dan menghilang 3 bulan
pascapersalinan atau terdapat tanda-tanda preeklamsia tetapi tanpa
proteinuria.
2.1.1.9. Etiologi
Ada beberapa teori yang yang telah dikemukakan tentang terjadinya
hipertensi dalam kehamilan, dari beberapa teori ini tidak ada yang mutlak
dianggap paling benar. Teori-teori yang sekarang banyak dianut adalah
a.

Teori kelainan Vaskularisasi Plasenta

Dalam keadaan normal, rahim dan plasenta mendapat suplai darah dari
cabang arteri uterina dan arteri ovarika. Pembuluh darah tersebut akan
menembus miometrium berupa arteri arkuata yang nantinya akan
bercabang menjadi arteri radialis. Selanjutnya akan menembus
endometrium menjadi arteri basalis dan arteri basalis akan bercabang
menjadi arteri spiralis(Gambar 2.1.).3
Gambar 2.1. Suplai darah pada uterus9

Selama perkembangan plasenta yang normal, trofoblas menginvasi


arterior endometrium uterus dan selanjutnya melakukan pembentukan
kembali arterior ibu menjadi pembuluh darah besar dengan resistensi
yang rendah terhadap aliran darah. Sedangkan pada penderita
preeklamsia, arterior ibu tidak berhasil mengalami adaptasi terhadap
perubahan tersebut. 7
Pada kehamilan normal, di dalam lapisan otot arteri spiralis terjadi invasi
trofoblas yang menimbulkan degenerasi lapisan otot tersebut selanjutnya
arteri spiralis akan dilatasi. Keadaan ini juga terjadi pada jaringan sekitar
arteri spiralis yang mengakibatkan distensi dan dilatasi yang berdampak
penurunan tekanan darah, penurunan resistensi vaskular, dan peningkatan
aliran darah pada daerah utero plasenta. Sehingga dapat menjamin
pertumbuhan dari janin. Proses ini disebut remodeling arteri spiralis.3

Dalam keadaan hipertensi tidak terjadi invasi sel trofoblas pada lapisan
arteri spiralis maupun jaringan yang berada disekitarnya. Sehingga tidak
memungkinkan untuk terjadinya distensi dan vasodilatasi. Kemudian
terjadi penurunan aliran darah uteroplasenta dan terjadinya hipoksia dan
iskemia plasenta. Dengan penyebab yang belum jelas, dan terjadi
insufisiensi suplai darah ke plasenta. Selanjutnya menyebabkan plasenta
mengeluarkan berbagai bahan yang memasuki sirkulasi ibu dan
menyebabkan gangguan fungsi endotel vaskular, menurunkan aliran
darah ke ginjal, retensi garam yang berlebihan, dan peningkatan tekanan
darah.3,7
Gambar 2.2. Pembuluh darah pada preeklamsia10

b.

Teori Iskemia Plasenta, radikal bebas, dan disfungsi endotel


1. Iskemia plasenta dan pembentukan oksidan/radikal bebas
Sebagaimana proses teori sebelumnya yang menjelaskan terjadinya
kegagalan remodeling arteri spiralis dengan dampak iskemia dan
hipoksia. Keadaan ini akan menghasilkan oksidan. Salah satu
oksidan yang dihasilkan adalah radikal hidroksil yang sangat
toksik. Radikal ini akan merusak membran sel, yang mengandung
banyak asam lemak tidak jenuh menjadi peroksida lemak yang
dapat merusak membran sel, nukleus, dan protein pada sel endotel.3

Selain itu, keadaan ini juga memicu pelepasan factor vasoaktif


seperti soluble fms-like tyrosine kinase-1 (sFlt-1). Beberapa
penelitian yang menunjukkan bahwa beredarnya sFlt-1 mungkin
tanda timbulnya gejala klinis preeklamsia.11
Sehingga dapat menyebabkan disfungsi sel endotel vaskular

dilseluruh tubuh, termasuk didalamnya ginjal. Ketika terjadi


disfungsi endotel maka akan menurunkan pelepasan dari nitrit
oksida dan bahan-bahan vasodilator lainnya sehingga terjadi
vasokonstriksi, penurunn laju filtrasi cairan dari glomerulus ke
dalam tubulus ginjal, tergangguanya natriuresis tekanan oleh ginjal
dan timbulnya hipertensi. Semuanya berlawanan dengan perubahan
yang terjadi pada wanita hamil normal.3,7

2. Peroksida lemak sebagai oksidan pada hipertensi dalam kehamilan

Ketidak seimbanagn oleh oksidan khususnya lemak meningkat


dengan

antioksidan

maka

akan

mempermudah

terjadinya

hipertensi. Radikal bebas ini akan beredar keseluruh tubuh melalui


aliran darah dan akan merusak membran sel endotel.2
Gambar 2.3. Mikroskopik pembuluh darah pada preeklamsia 10
3. Disfungsi endotel
Ketika terjadi disfungsi endotel maka akan terjadi:3

a.

Gangguan metabolisme prostaglandin yaitu menurunkan


produksi prostasiklin(PGE2) yang merupakan vasodilator

b.

kuat.
Agregasi sel-sel trombosit pada daerah endotel terjadi
kerusakan. Sehinggal memproduksi tromboksan (TXA2)
lebih banyak. Tromboksan adalah vasokonstriktor kuat. Pada
saat

preeklamsia

dibandingkan
c.
d.
e.

kadar

kadar

tromboksan

prostasiklin

lebih

dominan

sehingga

vasokonstriksi.
Perubahan khas pada sel endotel kapiler glomerulus.
Peningkatan permeabilitas kapiler.
Peningkatan produksi bahan-bahan vasopresor
endotelin.

Kadar NO (vasodilator)menurun

terjadi

yaitu

sedangkan

endotelin meningkat.
Dengan demikian, peningkatan dari soluble fms-like tyrosine
kinase-1 (sFlt-1), TNF- and IL-6, angiotensin II type 1 receptor
autoantibodies (AT1-AA), dan thromboxane (TX). Akan memicu
disfungsi endotel dengan penurunan dari nitrit oksida (NO) dan
peningkatan dari reactive oxygen species (ROS) and endothelin-1
(ET-1). Sehingga mengganggu fungsi dari ginjal yang pada
akhirnya memicu terjadinya hipertensi.11

Bagan 1. Iskemia plasenta sampai terjadi hipertensi 11

c. Teori intoleransi imunologik antara ibu dan janin


Pada kehamilan normal, respon imun tidak menolak adanya hasil
konsepsi yang dianggap asing. Ini dikarenakan adanya HLA-G yang
dapat berperang sebagai modulasi respons imun. Sehingga ibu tidak
menolak hasil konsepsi. Karena HLA-G dapat melindungi trofblas dari
lisis oleh Natural Killer (NK) ibu. Selain itu, HLA-G juga dapat
mendukung invasi dari trofoblas kedalam desidua. Pada preeklamsia
terjadi penurunan pada HLA-G yang menghambat invasi trofoblas
kedalam desidua. akhirnya jaringan desidua susah menjadi lunak dan
gembur sehingga arteri spiralis tidak direnovasi dan akhirnya susah
untuk dilatasi.3,13

d.

Gambar 2.4 peran HLA-G dalam modulasi respon imun 13


Teori Defisiensi Gizi (teori diet)
Dari beberapa penelitian juga menjelaskan bahwa defisiensi gizi juga
dapat berperan dalam terjadinya preeklamsia. Ada peneliti yang
menyatakan bahwa mengkonsumsi minyak ikan, termasuk minyak hati
halibut dapat mengurangi risiko preeklamsia. Minyak ikan mengandung
banyak asam lemak tidak jenuh yang dapat menghambat produksi
tromboksan.

Menghambat

aktivasi

trombosit,

dan

mencegah

vasokonstriksi pembuluh darah.3


Selain itu beberapa peneliti juga telah munghubungkan antara defisiensi
vitamin D dengan kejadian preeklamsia. vitamin D sangat berpengaruh
terhadap disfungsi kekebalan tubuh, implantasi plasenta, angiogenesis
abnormal,dan peradangan yang berlebihan.14

Gambar. 2 Regulasi dari kalsium plasma dan vitamin D pada


preeklamsia 15
2.1.1.10.
Patologi
Kemungkinan akibat dari gangguan hipertensi sangat banyak, berikut ini
akan dibahas mengguakan sitem organ sasaran spesifik. Dengan kausa utama
adalah berkurangnya perfusi uteroplasenta.
a.
Perubahan kardiovaskular
Perubahan ini berkaitan dengan peningkatan afterload jantung akibat
dari hipertensi. Hemokonsentrasi adalah tanda utama dari preeklamsia.
Volume darah yang seharusnya bertambah selama kehamilan hampir
sama sekali tidak terjadi dikarenakan vasokonstriksi generalisata dan
b.

diperparah lagi dengan meningkatnya permeabilitas dari vaskular.5


Perubahan hematologis
Perubahan ini terjadi pada sebagian wanita yang mengalami
preeklamsia. Dengan kadar plasma sebagian dari faktor pembekuan

bisa menurun dan eritrosit juga mengalami trauma sehingga bentuknya


c.

abnormal dan cepat mengalami hemolisis.5


Ginjal
Pada keadaan preeklamsia perfusi dari ginjal dan filtrasi glomerulus
berkurang. Konsentrasi asam urat plasma biasanya meningkat, terutama
jika pasien dengan penyakit yang parah. Untuk menegakkan diagnosis
preeklamsia harus terdapat proteinuria 300 mg/24 jam atau dipstick 1
+.5
Pada perempuan hamil normal terdapat peningkatan terhadap rennin,
angiotensin dan aldosteron yang diikuti dengan penurunan terhadap
sensitivitas terhadap Ang II. Sebaliknya, pada preeklamsia rennin dan
aldosteron mengalami penurunan dan sensitivitas terhadap ang II

d.

meningkat.12
Hati
Pada preeklamsia berat biasanya terjadi perubahan dalam fungsi dan
integritas hati. Dasar perubahan pada organ ini adalah vasospsme,
iskemia dan perdarahan. Jika pada sel periportal lobus perifer terjadi
perdarahan maka akan memudahkan terjadinya nekrois sel hepar dan
peningkatan pada enzim hepar. Jika menyebar hingga kapsula hepar

e.

maka disebut subkapsular hematoma.3,5


Neurologik
Salah satu manifestasi preeklamsia pada sistem saraf pusat adalah
kejang pada eklamsia. Selain itu, jika terjadi spasme arteri retina dan
edema retina maka akan mengganggu visus.jika perubahan neurologik
ini semakin parah maka dapat berakibat perdarahan intrakranial.3,5

2.1.2. Berat Badan Lahir Rendah


2.1.2.1.

Definisi
BBLR adalah neonatus yang berat badan pertama ketika ditimbang setelah
lahir kurang dari 2500 g.5

2.1.2.2.

Epidemiologi
Menurut RISKESDAS 2013 prevalensi bayi dengan berat badan lahir rendah
(BBLR) berkurang dari 11,1 persen tahun 2010 menjadi 10,2 persen tahun

2013. Variasi antar provinsi sangat mencolok dari terendah di Sumatera Utara
(7,2%) sampai yang tertinggi di Sulawesi Tengah (16,9%). 2

Pada tabel diatas terdapat presentasi berat badan bayi baru lahir menurut
karakterisktinya. Ketika melihat perbedaan jenis kelamin, BBLR pada
perempuan (11,2%) lebih tinggi daripada laki-laki(9,2%). Tetapi untuk
presentasi berat lahir 4000 gram pada laki-laki (5,6%) lebih tinggi
dibandingkan dengan perempuan(3,9%).2
Faktor resiko5

2.1.2.3.

Hipertensi dalam kehamilan

b.

Gemeli

c.

Anomali janin

d.

SLE

e.

Infeksi: rubela, sifilis

f.

Penyakit jantung

g.

Asma

h.

Gaya hidup: merokok atau mengkonsumsi narkoba

i.

Kekurangan gizi terutama ekonomi rendah

2.1.2.4.

a.

Diagnosis

Terhambatnya pertumbuhan janin dapat diprediksi setelah 28 minggu.


Dengan adanya biometri dan taksiran berat janin yang tidak sesuai dengan
usia gestasi dapat memprediksi lebih awal. Pada berat badan lahir rendah
didapatkan berat badan <2500 g.5

2.1.3. Hubungan preeklamsia dengan Berat Badan Lahir Rendah


Pada keadaan BBLR biasanya disebabkan oleh kelainan sirkusi uteroplasenta akibat
dari perkembangan plasenta yang abnormal, kebutuhan oksigen yang kurang
memadai, masukan nutrisi yang tidak mencukupi, dan pengeluaran dari hasil
metabolik menjadi abnormal.3
Penyulit medis pada ibu seperti penyakit vaskular kronis, terutama jika diperberat
dengan adanya preeklamsia, sering menyebabkan hambatan pertumbuhan pada janin.
Bahkan preeklamsia ini dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan janin, terutama
jika awitannya sebelum 37 minggu kehamilan. Secara teoritis insufisiensi plasenta
yang berkaitan dengan hipertensi dapat menyebabkan berkurangnya penyaluran
glukosa dan penyimpanan di hati.5
Pada keadaan hipoksia sebagaimana pada preeklamsia, produksi dari radikal bebas
diplasenta sangat banyak sedangkan antioksidan sangat sedikit maka keadaan ini
akan memperparah.3

2.2. Kerangka teori

Bagan 2. Kerangka Teori

2.3. Kerangka konsep

Bagan 3. Kerangka konsep

2.4. Definisi operasional

No.
1.

Variabel
Tekanan

Normal

Jenis Variabel

Pengertian

Variabel bebas

Pengukuran
Tekanan darah dengan sistol Skala

Darah

Skala

<120 mmHg

dan

diikuti nominal

dengan diastol <80 mmHg


Prehipertensi

Tekanan darah dengan sistol


120-139 mmHg atau diastol

2.

Hipertensi

80-89 mmHg
Tekanan darah dengan sistol

Grade 1

140-159 mmHg atau diastol

Hipertensi

90-99 mmHg
Tekanan darah dengan sistol

Grade 2

160 mmHg atau diastol

Berat

Berat Badan Variabel

100 mmHg
Bayi yang mempunyai berat Skala

Badan

Lahir Rendah tergantung

badan lahir < 2.500 gram nominal

Lahir

(BBLR)

pada waktu pertama kali

Berat Badan

ditimbang
Bayi yang mempunyai berat

Lahir Normal

badan lahir 2500-4000 gram

(BBLN)

pada waktu pertama kali

Berat Badan

ditimbang
Bayi yang mempunyai berat

Lahir

badan lahir >4000 gram pada

Besar(BBLB)

waktu
ditimbang

BAB III

pertama

kali

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1.

Desain Penelitian
Pada penelitian ini akan nmenggunakan metode penelitian deskriptif
untuk melihat perbandingan berat badan lahir pada ibu dengan
hipertensi dan tekanan darah normal berdasarkan data Antenatal Care
di Rumah Sakit Prikasih tahun 2014.

3.2.

Tempat dan Waktu Penelitian


3.2.1. Tempat
Penelitian akan dilakukan di Rumah Sakit Prikasih tahun
2015.
3.2.2. Waktu
Penelitian akan dimulai tanggal ......... sampai....

3.3.

Populasi dan sampel penelitian


3.3.1. Populasi

Populasi adalah sekelompok orang yang menjadi sumber


pengambilan sampel dan telah memenuhi syarat tertentu yang
berkaitan dengan masalah penilitian. (KBBI).
Populasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.3.1.1.
Populasi target : pasien bayi dengan data berat
badan lahirnya dan mempunyai ibu
riwayat

hipertensi

dalam

dengan

kehamilan

atau

tekanan darah normal


Populasi terjangkau : pasien bayi dengan data

3.3.1.2.

berat badan lahirnya dan mempunyai ibu


dengan riwayat hipertensi dalam kehamilan atau
tekanan darah normal di rumah sakit prikasih
selama .............. bulan/tahun
Subjek yang dikehendaki : pasien bayi dengan

3.3.1.3.

data berat badan lahirnya dan mempunyai ibu


dengan riwayat hipertensi dalam kehamilan atau
tekanan darah normal dan telah memenuhi
kriteria

inklusi

dan

eksklusi

yang

telah

ditentukan peneliti.
3.3.2. Sampel penelitian
Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan cara
tertentu hingga dapat mewakili populasinya. Pada sampel ini
telah memenuhi kriteria pemilihan, yakni kriteria inklusi dan
eksklusi.8
3.3.3. Estimasi besar sapel
Pada penelitian ini menggunakan rumus besar sampel dengan
rancangan cross section.8
Za 2 PQ
n
d2
1,96 2.0,5.0,5
0,12
n 96
n

Keterangan:
n

: Jumlah sample

Z : Deviat baku alpha (95% = 1,96)


P : Proporsi variable yang diteliti (50%)
Q :1P
d : Presisi (10%)
sehingga jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini
3.4.

adalah 96 orang.
Teknik sampling
Pada penelitian ini akan menggunakan consecutive sampling yaitu
semua sabyek yang datang dan telah memenuhi kriteria akan
dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah yang diinginkan peneliti
tercapai.

3.5.

Kriteria retriksi
3.5.1. Kriteria inklusi yang akan digunakan pada penelitian ini
adalah:
3.5.1.1.

Bayi yang dilahirkan pada usia kehamilan 28

minggu
3.5.1.2.
Lahir hidup.
3.5.1.3.
Mendapat izin dari rumah sakit.
3.5.2. Kriteria eksklusi yang akan digunakan pada penelitian ini
adalah :
3.5.2.1.
3.5.2.2.
3.5.2.3.
3.5.2.4.
3.6.

Kehamilan multiple.
Defek kongenital.
Infeksi intra uterina
Data tidak lengkap

Intervensi dan instrumentasi


3.6.1. Pengukuran yang dilakukan untuk variabel bebas dalam hal ini
menentukan tekanan darah ibu dengan pengukuran tekanan
darah.
3.6.2. Pengukuran yang dilakukan untuk variabel tergantung dalam
hal ini mengetahui berat badan lahir adalah timbangan bayi
yang dinyatakan dalam gram.

3.7.

Cara kerja penelitian


3.7.1. Makukan persiapan penelitian (di Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta)
3.7.2. Mengurus perizinan ke Rumah sakit prikasih untuk mengambil
data
3.7.3. Mengambil data rekam medik yang sesuai dengan syarat
penelitian melalui seleksi subjek dari populasi terjangkau
berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi
3.7.4. Didapatkan jumlah pasien yang sesuai dengan besar sampel
yang peneliti telah tentukan

3.8.

Alur Penelitian

3.9.

Pengumpulan data
Mengambil data sekunder rumah sakit Prikasih dari tanggal.........
sampai...

3.10. Metode pengolahan data dan analisis data


Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan SPSS versi 21,
yaitu
3.10.1.

Melakukan pemeriksaan seluruh data yang terkumpul

(editing).
3.10.2. Memberi angka-angka atau kode kode tertentu yang telah
disepakati terhadap data rekam medik(coding).
3.10.3. Memasukkan data rekam medic sesuai kode yang telah
ditentukan untuk masing masing variable sehingga menjadi
suatu data dasar (entry).
3.10.4. Menggolongkan, mengurutkan, serta menyederhanakan data,
sehingga mudah dibaca dan diinterpretasikan (cleaning).
...........................

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data rekap medis ibu
yang melahirkan dan bayi dari kelahiran aterm dari tanggal 1 Januari 2014 sampai
31 Desember 2014 di Rumah sakit Prikasih Jakarta Selatan. Penelitian ini
menggunakan metode pengambilan sampel yaitu rundom sampling. Sehinggal dari
metode tersebut maka didapatkan sampel sebanyak 96 orang yang telah memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi.
4.1.
Gambaran Kelahirandi RS Prikasih
4.1.1. Jumlah kelahiran dan Jenis Kelamin
Tabel 4.1 Jumlah Kelahiran dan Jenis Kelamin di RS Prikasih Tahun 2014

Jumlah kelahiran
643

Jenis kelamin
Laki-Laki

Perempuan

330

313

Berdasarkan jenis kelamin, dari 643 kelahiran terdapat 330 bayi laki-laki
yang lahir dan 313 bayi perempuan yang lahir. Sehingga dari hasil terebut kita dapat
simpulkan rasio jenis kelamin (RJK) bayi laki terhadap bayi perempuan sebesar 105,
yaitu setiap kelahiran 100 bayi perempuan didapatkan 105 bayi laki-laki yang lahir.
Angkat ini lebih rendah dari RJK Jakarta Selatan pada tahun 2013 yaitu sebesar 110,
serta RJK Kecamatan Cilandak sebesar 166.

4.1.2. Insidensi Berat Badan Lahir


Diagram 4.1InsidensiBerat Badan Lahir di RS Prikasih Tahun 2014

Dari Diagram 4.1. diatas dapat kita lihat bahwa sebanyak 10% berat badan
lahir bayi tidak normal. Dengan rincian 7 bayi (1%) mengalami berat badan lahir
sangat rendah (BBLSR), 43 bayi (7%) mengalami berat badan lahir rendah (BBLR),
578 bayi (90%) denagn berat badan lahir normal, dan 15 bayi (2%) mengalami berat
badan lahir besar (BBLB). Angka kejadian BBLR dan BBLB lebih rendah
dibandingkan data RISKESDAS tahun 2013 dengan BBLR 10,2%, BBLN 85%, dan
BBLB 4,8%.2

4.2.
Karakteristik Sampel
4.2.1. Distribusi Sampel berdasarkan Demografi
Diagram 4.2 Tingkat Pendidikan dan Distribusi Usia Ibu

Pada Diagram 4.2. didapatkan bahwa pasien dengan pendidikan S1 sebanyak


31%, D3 sebanyak 1%, SMP sebanyak 9% dan terdapat 31% data rekap medis yang
tidak mencantumkan riwayat pendidikan. Sehingga dari data diatas dapat
disimpulkan bahwa rata-rata sampel memiliki pendidikan cukup baik.
4.2.2. Gambaran Berat Badan Lahir Berdasarkan Tekanan Darah Ibu
Diagram 4.3. Gambaran Berat Badan Lahir Rendah Terhadap Tekanan Darah
Ibu

Tabel 4.1 Rata-rata Berat Badan Lahir terhadap Tekanan Darah

Kategori
Normal
Prehipertensi
Hipertensi Grade 1
Hipertensi Grade 2

Jumlah sampel
44
47
5
0

Rata-rata
3262
3191
3022
0

Pada Tabel diatas memperlihatkan bahwa sampel penelitian ini didapatkan bahwa
lebih dominan prehipertensi dengan 47 sampel, kemudian disusul tekanan darah normal
44 sampel dan hipertensi Grade 1 sebanyak 5 orang. Sedangkan untuk hipertensi grade 2
tidak didapatkan pada penelitian ini. Angka kejadian hipertensi pada penelitian ini lebih
rendah dibandingkan Riset Kesehatan Dasar 2007 yang mengungkapkan bahwa di
indonesia terdapat 12,7% yang mengalami hipertensi dalam kehamilan.21
Dilihat dari tekanan darah maka rata-rata berat badan lahir bayi tertinggi pada
tekanan darah normal yaitu 3262, selanjutnya prehipertensi 3191 dan hipertensi grade 1
dengan rata-rata 3022. Sesuai dengan penelitian Andammori F, dkk. yang
mengemukakan bahwa pada RSUP Dr. M. Djamil Padang ditemukan rata-rata berat
badan lahir pada ibu dengan hipertensi adalah 2.799 sedangkan pada tekanan darah
normal adalah 3.408.22
4.2.3. Gambaran Berat Badan Lahir Berdasarkan Umur Kehamilan
Diagram 4.4. Gambaran Jumlah Sampel dan Berat Badan Lahir Terhadap Usia
Kehamilan

Diagram 4.4. menggambarkan bahwa sampel terbanyak terdapat pada umur


kehamilan 40 minggu. Kemudian disusul umur kehamilan 38 minggu, 39 minggu, 37
minggu, dan 41 minggu. Dan pada data tersebut hanya umur kehamilan 37 minggu
yang terdapat BBLR sedangkan BBLB mulai umur kehamilan 38 minggu sampai 41
minggu memiliki masing-masing 1 sampel.
Untuk BBLN rata-rata tertiggi terdapat pada umur kehamilan 40 minggu yaitu
3313 gram disusul oleh umur kehamilan 41 minggu yaitu 3208, 38 minggu yaitu 3135,
39 minggu yaitu 3118, dan 37 minggu yaitu 2997 gram.
Dari rata-rata berat badan lahir yang ditentukakan oleh WHO setiap umur
kehamilan yang ditentukan didapatkan bahwa semua umur kehamilan sesuai dengan
standar kecuali umur kehamilan 41 minggu hanya 3375 gram sedangkan WHO
mempunyai rata-rata 3428 gram.23
4.3.

Keterbatasan Penelitian
1. Pada penelitian ini menggunakan motode deskriptif sehingga hanya sebatas
menggambarkan dari setiap variabel tanpa melihat keterkaitan antara sebab dan
akibat antar variabel maupun kebermaknaan dari keterkaitan tersebut.
2. Pana penelitian ini data yang digunakan berasal dari rumah sakit swasta yang
jumlah angka kelahirannya tidak sebanyak rumah sakit pemerintah sehingga
angka kelahiran dengan berat badan lahir dan tekanan darah ibu yang tidak
normal hanya sedikit.

3. Dari rekap medis yang kami teliti terdapat beberapa data yang kurang digali oleh
petugas medis sehingga peneliti mengalami kesulitan dalam mengumpulkan data
yang dibutuhkan.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1.

Simpulan
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Berdasarkan jenis kelamin pada penelitian ini, dari 643 kelahiran terdapat 330
bayi laki-laki yang lahir dan 313 bayi perempuan yang lahir. Sehingga dari hasil
terebut kita dapat simpulkan rasio jenis kelamin (RJK) bayi laki terhadap bayi
perempuan sebesar 105, yaitu setiap kelahiran 100 bayi perempuan didapatkan
105 bayi laki-laki yang lahir. Data pada tahun 2014 di dapatkan bahwa sebanyak
10% berat badan lahir bayi tidak normal. Dengan rincian 7 bayi (1%)
mengalami berat badan lahir sangat rendah (BBLSR), 43 bayi (7%) mengalami
berat badan lahir rendah (BBLR), 578 bayi (90%) denngn berat badan lahir
normal, dan 15 bayi (2%) mengalami berat badan lahir besar (BBLB).
2. Pada penelitian ini sampel terbanyak terdapat pada umur kehamilan 40 minggu.

Kemudian disusul umur kehamilan 38 minggu, 39 minggu, 37 minggu, dan 41

minggu. Dan pada data tersebut hanya umur kehamilan 37 minggu yang terdapat
BBLR sedangkan BBLB mulai umur kehamilan 38 minggu sampai 41 minggu
memiliki masing-masing 1 sampel. Untuk BBLN rata-rata tertiggi terdapat pada
umur kehamilan 40 minggu yaitu 3313 gram disusul oleh umur kehamilan 41
minggu yaitu 3208, 38 minggu yaitu 3135, 39 minggu yaitu 3118, dan 37
minggu yaitu 2997 gram.
3. Pada sampel penelitian ini didapatkan bahwa lebih dominan prehipertensi
dengan 47 sampel, kemudian disusul tekanan darah normal 44 sampel dan
hipertensi Grade 1 sebanyak 5 orang. Sedangkan untuk hipertensi grade 2 tidak
didapatkan pada penelitian ini.
4. Dilihat dari tekanan darah maka rata-rata berat badan lahir bayi tertinggi pada
tekanan darah normal yaitu 3262, selanjutnya prehipertensi 3191 dan hipertensi
grade 1 dengan rata-rata 3022.

5.2.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa saran yang diberikan
sebagai berikut:
a. Masyarakat Umum
Masyarakat diharapkan lebih peduli dengan kesehatan seorang ibu, karena pada
ibu tekanan darah yang tidak normal akan sangat berpengaruh terhadap berat
badan lahir bayinya. Adapun usaha yang dapat dilakukan seorang ibu adalah
dengan melakukan asuhan antenatal secara rutin agar dapat melihat faktor-faktor
terjadinya kelahiran dengan berat badan lahir tidak normal, dan dapat dilakukan
persiapan-persiapan dan intervensi lebih dini, sehingga angka bayi dengan berat
badan lahir yang tidak normal dapat terhindarkan.
b. Rumah Sakit
Dari rekap medis yang kami teliti terdapat beberapa data yang kurang digali oleh
petugas medis sehingga peneliti mengalami kesulitan dalam mengumpulkan data
yang dibutuhkan. Oleh karena itu, peneliti sangat berharap untuk setiap point
yang terdapat pada rekap medis terisi dengan lengkap sehingga memudahkan
rumah sakit maupun peneliti selanjutnya untuk mengolah data.

c. Peneliti
Penelitian selanjutnya sangat diharapkan dilakukan penelitian pada rumah sakit
atau tempat pelayanan kesehatan dengan pasien yang melakukan kelahiran lebih
banyak, sehingga sampel penelitian yang mengalami tekanan darah ibu dan berat
badan lahir yang tidak normal lebih banyak.
Penelitian selanjutnya juga diharapkan dapat dilakukan dengan metode analitik
agar dapat melihat apakah terdapat hubungan dari setiap variabel yang
didapatkan serta dapat melihat kebermaknaan dari keterkaitan tersebut.
Karena sampel yang kami ambil tidak memungkinkan untuk melihat
kebermaknaan lebih spesifik maka kami berharap kepada peneliti selanjutnya
agar sampel yang menjadi perbandingan tidak dibiaskan oleh data-data yang juga
mempengaruhi hal tersebut seperti umur kehamilan, umur ibu, pendidikan ibu,
maupun faktor-faktor lainnya.

Daftar Pustaka
1. Riset Kesehatan Dasar 2007. Prevalensi Hipertensi Pada Kehamilan di Indonesia
Dan Berbagai Faktor Yang Berhubungan. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan, Republik Indonesia. Hal. 103
2. [RISKESDAS] Riset Kesehatan Dasar. 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan, Republik Indonesia. Hal. 5, 222-224
3. Prawihardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

Sarwono ,Prawirohardjo.
4. Llewellyn, Derek. ( 2002 ). Dasar Dasar Obstetri dan Ginekologi, ed.6 Jakarta :
Hipokrates
5. Leveno KJ, Cunningham FG, Gant NF, Alexander JM, Bloom SL, Casey BM, et al.
Obstetri Williams: Panduan Ringkas. Ed 21. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2004.
6. Norwitz, E., Jhon, S. (2007). At a Glance Obstetri & Ginekologi ed.2. Jakarta:
Erlangga
7. Guy f, Guyton, Arthur C. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran/Arthur C. Guyton, John E.
Hall ed.11.-- Jakarta : EGC, 2007
8. Sastroasmoro, Sudigdo dan ismail, sofyan. 2008. Dasar-dasar Metodologi Penelitian
Klinis. Ed. Ke-3. Jakarta:Sagung Seto.
9. Tortora G J, Derrickson B. Principle of Anatomy and Physiology. 12 th ed. USA: John

Wiley & Sons, Inc. 2009


10. Cunningham F G, Leveno K J, Bloom S L, Hauth J C, Rouse D J, Spong C Y.
Williams Obstetrics. 23th ed. US: McGraw-Hill Companies. 2010.

11. Gilbert, Jeffrey S., et al. "Pathophysiology of hypertension during preeclampsia:

linking placental ischemia with endothelial dysfunction." American Journal of


Physiology-Heart and Circulatory Physiology 294.2 (2008): H541-H550.
12. Shah, Dinesh M. "Role of the renin-angiotensin system in the pathogenesis of
preeclampsia." American Journal of Physiology-Renal Physiology 288.4 (2005):
F614-F625.
13. Goldman-Wohl, D. S., et al. "Lack of human leukocyte antigen-G expression in
extravillous trophoblasts is associated with pre-eclampsia." Molecular human
reproduction 6.1 (2000): 88-95.
14. Bodnar, Lisa M., et al. "Maternal vitamin D deficiency increases the risk of
preeclampsia." The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 92.9 (2007):
3517-3522.
15. Adamova, Zuzana, Sifa Ozkan, and Raouf A. Khalil. "Vascular and cellular calcium
in normal and hypertensive pregnancy." Current clinical pharmacology 4.3 (2009):
172.
16. Dolea, Carmen, and Carla AbouZahr. Global burden of hypertensive disorders of
pregnancy in the year 2000. GBD 2000 Working Paper, World Health Organization,
Geneva. http://www. who. int/evidence/bod.. 2003b.Global Burden of Obstructed
Labor in the Year 2000. GBD 2000 Working Paper, World Health Organization,
Geneva. http://www. who. int/evidence/bod, 2003.
17. National Heart Lung and Blood Institute. National Hight Blood Pressure Education
Program: Working Group Report on Hight Blood Pressure in Pregnancy. National
Heart Lung and Blood Institute (NHLBI); 2000.
18. Lindheimer, Marshall D., Sandra J. Taler, and F. Gary Cunningham. "ASH position
paper: hypertension in pregnancy." The Journal of Clinical Hypertension 11.4
(2009): 214-225.
19. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure(JNC 7). 2003
20. Rahmi, Dian S., Rismayanti.,Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian
Bayi Berat Badan Lahir Rendah Di Rsia Pertiwi Makassar. Bagian Epidemiologi
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin;2009.
21. Sirait AM. Prevalensi Hipertensi Pada Kehamilan Di Indonesia Dan Berbagai
Faktor Yang Berhubungan (Riset Kesehatan Dasar 2007). Jakarta: Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan, Republik Indonesia. Hal.106.
22. Andammori F, Lipoeto NI, dan Yusrawati. " Hubungan Tekanan darah Ibu Hamil Aterm
Dengan Berat Badan Lahir di RSUP DR. M Djamil Padang. Jurnal Keehatan
Andalas:2013.
23. Hadlock FP, Harrist RB, Martinez-Poyer J. In utero analysis of fetal growth: a
sonographic weight standard. /Radiology/ 1991;181(1):129-33.