Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

( Efek Lokal Obat )


Dra. Refdanita Wahab M.Si, Apt

Kelompok IV
(Anestesi Konduksi)

Irma Abriantika N.

13334602

Program Studi Farmasi


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Sains dan Teknologi Nasional
Jakarta 2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang
Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan
karunianya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Laporan Praktikum Farmakologi
ini dengan baik.
Praktikum ini merupakan salah satu mata kuliah
yang wajib ditempuh dalam Program Studi
Farmasi.
Dengan selesainya Laporan Praktikum
Farmakologi ini tidak terlepas dari bantuan
banyak pihak yang telah memberikan masukanmasukan kepada penulis. Untuk itu penulis
mengucapkan banyak terimakasih kepada Dosen
Pembimbing dan para rekan-rekan mahasiswa.
Penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dari laporan ini, baik dari materi
maupun teknik penyajiannya, mengingat
kurangnya pengetahuan dan pengalaman
penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
membangun sangat penulis harapkan.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jakarta, 4 Agustus 2015


Penulis
I.
II.
III.
IV.
V.

Bab
: BAB III { Efek Lokal Obat }
Nomor
: III.2.3
Judul Praktikum
: Efek Anestetika Lokal
Sub Judul
: Anestesi Konduksi
Tanggal Praktikum : Sabtu Pagi, 15 Agustus
2015
Tujuan Praktikum

o Mengenal tiga teknik (Anestesi permukaan, mukosa


/metoda regnier, konduksi) untuk menyebabkan anestesi
lokal pada beberapa hewan percobaan.
o Memahami faktor-faktor yang melandasi perbedaanperbedaan dalam sifat dan potensi anestetika lokal.
o Mengenal berbagai faktor yang mempengaruhi kerja
anestetika lokal
o Menghubungkan potensi kerja Anestetika lokal dengan
manifestasi gejala toksisitasnya serta pendekatan rasional

VI.

untuk mengatasi toksisitas anestetika.

Prinsip Percobaan

Anestetika lokal yang di suntikan di sekitar saraf tertentu yang


dituju dan hantaran rangsang pada tempat ini diputuskan.

VII.

Dasar Teori

Anestesia konduksi (juga di sebut blockade-saraf perifer), yaitu


injeksi di tulang belakang pada suatu tempat berkumpulnya
banyak saraf, hingga tercapai anesthesia dari suatu daerah
yang lebih luas, terutama pada operasi lengan atau kaki, juga
bahu. Lagi pula digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat.
Pada anestesi konduksi, Anestetika lokal yang di suntikan di

sekitar saraf tertentu yang dituju dan hantaran rangsang pada


tempat ini diputuskan. Bentuk khusus dari anestesi konduksi ini
adalah anestesi spinal, anestesi epidural dan anestesi kaudal :
Anestesi spinal
Anestesi spinal (blokade subarakhnoid atau intratekal)
merupakan anesthesia blok yang luas.Anestetika lokal biasanya
disuntikan kedalam ruang subarakhnoid di antara konus
medularis dan bagian akhir dari ruang subarakhnoid untuk
menghindari kerusakan medula spinalis.
Anestesi epidural
Merupakan suatu anesthesia blok yang luas, yang diperoleh
dengan jalan menyuntikan zat anestetik lokal kedalam ruang
epidural. Dengan teknik ini anesthesia bagian sensorik dapat
diperluas sampai setinggi dagu. Pada cara ini dapat digunakan
dosis tunggal atau dosis yang diberikan secara terus menerus.
Anestesia kaudal
Merupakan bentuk anesthesia epidural yang larutan
anestetiknya di suntikan kedalam kanalis sakralis melalui hiatus
sakralis. Ada dua bahaya utama pada teknik ini, yaitu jarum
masuk kedalam pleksus vena yang terletak sepanjang kanalis
sakralis yang berakibat masuknya obat ke vena dan jarum
menembus duramater disertai dengan anesthesia spinal yang
luas.

VIII.

Alat/Bahan/Hewan :

Hewan Percobaan

: Mencit

Obat yang diberikan : Lidocain dan Tetracain


Alat yang digunakan

: Alat suntik 1 ml, pinset ekor, silinder

mencit

IX.

Prosedur Kerja

o Semua mencit dicoba dulu respon Haffner (ekor mencit di


jepit dan dilihat angkat ekor atau mencit bersuara) dan
hanya dipilih hewan-hewan yang memberi respon Haffner
negatif, artinya hewan mengangkat ekor/bersuara.
o Hewan-hewan dikelompokkan dan, ditimbang dan diberi
tanda.
o Mencit dimasukkan ke dalam silinder (kotak penahan
mencit) dan hanya ekornya yang dikeluarkan. Jumlah
silinder disesuaikan dengan jumlah mencit dari satu
kelompok
o Ekor mencit kemudian dijepit pada jarak 0,5 cm dari
pangkal ekor. Manifestasi rasa nyeri ditunjukkan dengan
refleks gerakan tubuh mencit atau dengan suara
kesakitan. Respon demikian dicatat sebagai Haffner
negatif.
o Pada waktu t=0, masing-masing mencit dari kelompok
yang sama disuntik. Prokain HCI di vena ekor; kelompok
kontrol hanya disuntik larutan pembawanya dengan cara
penyuntikan yang sama.

o Setelah waktu t=10 menit, masing-masing mencit


diperiksa respon haffner; dan selanjutnya dilakukan hal
yang sama pada t=15 dan 20 menit.
o Hasil pengamatan dicatat dalam sebuah tabel

X.

Data/Perhitungan Dosis

Mencit
Bobot
1
30 g
2
30 g
3
30 g
Konversi Dosis Manusia ke Dosis Mencit
0,026 x 20 mg = 0,52 mg
Mencit 1 :
30
0,52=0,78 mg
20

Mencit 2 :
30
0,52=0,78 mg
20

Mencit 3 : (Kontrol Negatif)


Hewa
n
Mencit

Obat

CP

Respon Haffner pada waktu


0

Intravena

10
Nafas

15

tak

Timbul

beratur

kejang

Lidocain

Normal

Tetracain

an
Normal
Nafas

Tidak

20
Makin
melem
ah
Baru

tak
beratur

bergera

timbul

kejang

an
Kontrol (-)

XI.

Hasil Pengamatan

Normal

Karena dari awal mencit tidak memberikan respon sama sekali


di awal , pada saat di lakukan penyuntikan mencit langsung
lemah dan tak dapat berdiri , serta terjadi kejang dan mata
sayu selama beberapa menit , setelah efek obat habis mencit
mulai kembali sadar dan segar serta dapat beraktifitas kembali
seperti di awal

XII.

Pembahasan

Pada praktikum kali ini kami melakukan kesalahan yang


mendasar dikarenakan kurangnya pengetahuan dari kami dan
kurangnya bimbingan dari para pengajar pada saat paraktikum
di laboratorium , semoga ke depan kami dapat memperbaiki
kesalahan ini sehingga proses praktikum berjalan dengan
lancar.
Berdasarkan pada apa yang kami praktekkan, pada saat awal
praktikum mencit di ambil kemudian ekor di jepit sampai
memberikan respon rasa sakit , namun mencit sama sekali
tidak memberikan respon rasa sakit , setelah itu mencit di
masukan ke dalam tempat khusus untuk di lakukan
penyuntikan di bagian ekor dengan lidocain dan tetracain
kemudian di amati , setelah di lakukan penyuntikan beberapa

menit mencit mulai melemah dan tidak dapat berdiri , selang


beberapa menit terjadi kejang pada mencit dan mata mulai
meredup sampai kemudian pingsan tertidur , beberapa menit
kemudian mencit mulai tersadar dan segar sehingga dapat
beraktifitas kembali seperti di awal.
Sedangkan prosedur yang harus dilakukan yaitu pilih terlebih
dahulu mencit yang memberikan efek Haffner negatif (mencit
memberikan suara atau mengangkat ekor saat ekor dijepit)
setelah itu disuntikkan lidocain dan tetracain sebagai
penghilang nyeri. Kemudian amati setelah 10 menit
penyuntikan, jepit kembali ekor mencit, apakah masih ada efek
Haffner. Amati kembali pada menit ke-15 dan menit ke-20.
Lidokain memiliki efek anestetika local karena menimbulkan
berkurangnya respon terhadap stimulus-stimulus yang
diberikan. Kemudian telah terjadi anestesi permukaan karena
anestetika lokal digunakan pada permukaan kulit dan mencapai
ujung saraf sensori sehingga menghambat penghantaran
impuls nyeri pada serabut saraf. Sebagai anestetika local,
lidokain menstabilkan membrane saraf dengan cara mencegah
depolarisasi pada membrane saraf melalui penghambatan
masuknya ion natrium. Obat anestesi local mencegah transmisi
impuls saraf (blockade konduksi) dengan menghambat
perjalanan ion sodium (Na+) melalui saluran ion selektif Na+
dalam membrane saraf (butterworth danstricharrtz 1990).
Saluran Na+ sendiri merupakan reseptor spesifik untuk molekul
anestesi local. Kemacetan pembukaan saluran Na oleh molekul
anestesi local sedikit memperbesar hambatan keseluruhan
permeabilitas Na+. Kegagalan permeabilitas saluran ion

terhadap Na+ memperlambat peningkatan kecepatan


depolarisasi sehingga ambang potensial tidak dicapai dan
dengan demikian potensial aksi tidak disebarkan.
Bila konsentrasi yang meningkat dari suatu anestesi
local diterapkan pada suatu serabut saraf, maka nilai ambang
aksitasi akan meningkat, konduksi impuls lambat, kecepatan
peningkatan potensial aksi menurun, amplitude potensial
berkurang, dan akhirnya kemampuan untuk membangkitkan
potensial aksi akan hilang. Efek progresif ini diakibatkan oleh
adanya ikatan antara anestetika local dengan saluran ion Na+
yang semakin meningkat. Pada setiap saluran ion, ikatan
menghasilkan penghambatan arus ion Na. Apabila arus ion Na
dihambat disepanjang serabut saraf maka impuls yang
melewati daerah yang dihambat tidak terjadi. Pada dosis
minimum yang diperlukan untuk menghambat impuls, potensial
aksi tidak dipengaruhi secara berarti.

XIII.

Kesimpulan/Saran

Lidokain memiliki efek Anestetika lebih cepat dan dapat


bertahan lebih lama dibanding Tetracain. Lidokain menstabilkan
membrane saraf dengan cara mencegah depolarisasi pada
membrane saraf melalui penghambatan masuknya ion natrium.

XIV.

Daftar Pustaka

Departemen Farmakologi dan Terapeutik,Farmakologi dan


Terapi,Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,2007.

Tim Dosen Praktikum Farmakologi,Penuntun Praktikum


Farmakologi,Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Isntitut Sains Dan Teknologi Nasional,2008.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.Farmakope
Indonesia,ed.IV,1995
http://wahyudinstr.blogspot.com/2008/12/kumpulan-jurnalfarmakologi-dasar.html
http://miraclefarmasi.blogspot.com/2011/06/httpriyanpharmacy
blogspotcom.html
https://www.scribd.com/doc/31395584/Anestesi-Lokal-FinalPunya-Kelompokny-Aria

XV.

Data Kelompok Lain

Kelompok I
(Efek Obat pada Membran Mukosa dan Kulit
Mukosa)
UNTUK EFEK

Menggugurkan bulu

Korosif

OBAT
Larutan natrium hidroksida
20%; larutan natrium sulfida
20%; Veet cream (Dae Health
Lab. Ltd, London, England)
Lainnya;
Larutan raksa (II) klorida 5%;
larutan fenol 5%; larutan
natrium hidroksida 10%; asam
sulfat pekat; asam klorida
pekat; tingtura iod; larutan
perak nitrat 1%.

Fenol dalam berbagai


pelaut
Astringen

Larutan fenol 5% dalam air;


larutan fenol 5% dalam etanol;
larutan fenol 5% dalam gliserin
25%; larutan fenol 5% dalam
minyak lemak
Larutan tanin 1%

Pengamatan :
1. Efek menggugurkan bulu.
a Catat bau asli dari zat-zat yandg digunakan.
b Perhatikan bau, sifat kaustik dan efek menghilangkan bulu
serta efek lain (kalau ada) dari zat-zat tersebut pada
jaringan yang digunakan. Catat saat terjadi efek setelah
pemberian.
c Tabelkan hasil-hasil pengamatan.

Larutan
obat
Bahan
Percoba
diberika
percoba
an
n pada
an
kulit

Gugur
Bulu

Kulit
tikus
2,5cm

Larutan
NaOH
20%

Larutan
natrium
sulfida
20%

Efek diamati
Kaustik
/ gugur
Bau
bulu
Efek
awal
(...men
lainnya
it)
Bulu
berwarna
kuning,
jaringan
kulit rusak
Apek 8 menit
dan
menebal,
berlubang
(seperti
melepuh)
Tengik
13
Bulu tidak
menit
berubah
warna

Veet
cream

Pembahasan

Amis

10
menit
22 detik

Bulu rontok,
kulit tidak
berubah
warna,
berbau
tajam dari
veet cream

Pada percobaan menggugurkan bulu dengan bahan percobaan


Kulit tikus 2,5cm dan pemberian larutan obat yang berbedabeda yang diberikan pada kulit tikus, yaitu larutan NaOH 20%,
larutan natrium sulfida 20% dan veet cream.
Pada larutan NaOH 20% memberikan bau awal apek ini dan
kaustik/gugur bulunya dalam waktu 8 menit lebih cepat dari
larutan obat lainnya, efek lainnya Bulu berwarna kuning,
jaringan kulit rusak dan menebal, berlubang (seperti melepuh).
ini terjadi mungkin dikarenakan Ia bersifat lembap cair dan
secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia
sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika
dilarutkan, karena pada proses pelarutannya dalam air bereaksi
secara eksotermis. Ia juga larut dalam etanol dan metanol,
walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil
daripada kelarutan KOH. Ia tidak larut dalam dietil eter dan
pelarut non-polar lainnya. Larutan natrium hidroksida akan
meninggalkan noda kuning pada kain dan kertas.
Larutan natrium sulfida 20% memberikan bau awal tengik dan
kaustik/gugur bulunya dalam waktu 13 menit, tidak
memberikan efek lainnya bulu tidak berubah warna,Natrium

sulfide adalah senyawa yang biasanya digunakan dalam


penyamakan kulit pada proses liming sebagai perontok bulu.
Hal ini dapat terjadi, karena senyawa sulfide dapat
memutuskan jembatan sulfide dari bulu keratin yang akhirnya
lepas dari kulit. Tetapi kualitas Na2S dikatakan baik apabila
mempunyai kadar Na2S 70% keatas. Na2Sdikatakan
mempunyai kualitas cukup apabila mempunyai kadar Na2S
antara 50%-69%.Sedangkan Na2S dengan Kualitas kurang baik
apabila mempunyai kadar kurang dari 50%. Fungsi Natrium
Sulfida dalam Proses Penyamakan Kulit. Juga pada Proses
penghancuran rambut dapat dikendalikan dengan pengaturan
suhu, waktu dan pH, jumlah zat yang digunakan, perbandingan
air dan kulit, serta bobot bulu dan kulit, sehingga
kemungkinanya sangat luas, apakah ingin diperhatikan bulunya
atau dihancurkan.
Sedangkan pada veet cream memberikan bau awal amis dan
kaustik/gugur bulunya dalam waktu 10 menit, efek lainnya Bulu
rontok, kulit tidak berubah warna, berbau tajam dari veet
cream. Karena veet cream diformulasikan kulit. untuk
penghilang bulu jadi hanya memberi efek bulu rontok tidak
merubah warna
2. Efek korosif.
a Amati sifat korosif dari obat-obat yang digunakan.
b Perhatikan sejauh mana terjadi kerusakan pada jaringan.
c Catat sebaik mungkin hasil-hasil yang diamati.
Bahan
Larutan
Percoba Percoba
obat
an
an
diberika
n pada

Pengamatan
Sifat korosif
Kerusakan
pada
jaringan

Usus
Larutan
raksa (II)
klorida
5%;

Korosif

Usus
tikus
@5cm

Pembahasan

Pada 30 detik
pertama warna
Usus
usus berubah
membengkak
menjadi putih
pucat
Pada 15 detik
warna usus
Larutan
Usus
putih pucat
fenol 5%
membengkak
dan masih ada
merah darah
Pada 7 detik
Larutan
usus berubah
natrium
Jaringan tidak
warna dari
hidroksid
rusak
merah menjadi
a 10%
lebih pucat
Usus
mengecil,
Asam
Usus menjadi
berwarna
sulfat
putih, berbusa
kuning, menit
pekat
pada 5 detik
ke 25 usus
hancur
Usus
Asam
Usus menjadi
mengecil
klorida
putih pucat
kurang lebih
pekat
pada 30 detik
3 cm
Tingtura
iod
Larutan
perak
nitrat 1

Pada percobaan ini efek korosif usus tikus pemberian larutan


raksa (II) klorida 5% menunjukkan sifat korosif pada 30 detik

pertama warna usus berubah menjadi putih pucat dan


kerusakan pada jaringan usus membengkak, mungkin
dikarenakan larutan raksa(II) klorida mengandung senyawa
logam yang dapat merusak jaringan tubuh.
Pemberian larutan fenol 5% menunjukkan sifat korosif pada 15
detik warna usus putih pucat dan masih ada merah darah dan
kerusakkan pada jaringan usus membengkak, karena fenol
mengandung OH
Pemberian larutan natrium hidroksida 10% menunjukkan sifat
korosif pada 7 detik usus berubah warna dari merah menjadi
lebih pucat namun jaringan tidak rusak. Natrium hidroksida
merupakan senyawa kimia yang bekerja secara lokal dan
bersifat iritasi. Tergantung dari seberapa kadar dari natrium
hidroksida untuk sampai merusak jaringan usus tersebut.
Pemberian asam sulfat pekat menunjukkan sifat korosif Usus
menjadi putih, berbusa pada 5 detik dan kerusakkan pada
jaringan Usus mengecil, berwarna kuning, menit ke 25 usus
hancur. Senyawa H2SO4 termasuk kedalam golongan asam
kuat yang bersifat korosif. H2SO4 pekat bersifat higroskopik,
yaiutu dapat menyerap air dari zat-zat yang basah, termasuk
dengan jaringan tubuh.
Pemberian asam klorida pekat menunjukan sifat korosif Usus
menjadi putih pucat pada 30 detik dan kerusakkan pada
jaringan Usus mengecil kurang lebih 3 cm. Asam klorida
merupakan komponen utama dalam asam lambung,
mengasamkan kandungan perut hinggan mencapai ph sekitar 1
sampai dengan 2.

Kelompok II (Anestesi permukaan)


Pengamatan
Catat dan tabelkan pengamatan, dengan penentuan secara
seksama saat muncul dan hilangnya efek
Hewa
n

Mat
a

Kelinc
i

Kana
n

Kelinc
i

Kiri

Obat
ditetesk
an

Pengamatan pada reflek mata


pada waktu (...menit)
0
5-10
15
20
25-60
Norm
Mata
al
Efek
tdk
Lidokain Normal
efek hilan Normal
berhilan
g
kedip
g
Mata Mata
Efek
tdk tidak
Tetrakain Normal
hilan Normal
ber- berk
g
kedip edip

Pertanyaan
1 Jelaskan kokain sebagai anestetika lokal
2 Jelaskan penggolongan kimia dari anestetika lokal
3 Sebutkan anestetika lokal yang dapat digunakan sebagai
anestetika permukaan
4 Keburukan apa yang dapat terjadi bila permukaan kornea
dianestesi untuk periode waktu yang lama, jelaskan

Pembahasan

Pada pengamatan dari mata kanan hewan kelinci diteteskan


obat lidokain reflek yang diberikan mulai pada menit ke 5 dan
pada menit ke 15 efek sudah mulai hilang. Namun pada mata
kiri hewan kelinci diteteskan obat tetrakain reaksi obat lebih
lama reflek yang diberikan pada meni ke 5 dan efek hilang
pada menit ke 20. Itu dikarenakan tetrakain

III.2.2. Metode Regnier


Pengamatan
Hewa
n

Mat
a

Kelinc
i

Kana
n

kelinc
i

Kiri

Jumlah sentuhan member reflex berkedip


pada mata dimenit ke...
20500
8
15
40
30
60
30
80
1
sentuha sentuha sentuha
1
1
1
n4
n1
n1
point point point
kedip
kedip
kedip
30
80
Tidak
Tidak
Tidak sent
sentuha
Tutup
berkedi berkedi berk uhan
n1
mata
p
p
edip
1
kedip
kedip

Pertanyaan
1 Apakah yang perlu diperhatikan pada persiapan larutan
obat mata agar dapat terjamin khasiatnya ?
2 Pada percobaan, mata kelinci harus terlindung dari cahaya
langsung. Jelaskan !
3 Sebutkan anestetika lokal mata yang digunakan, selain
pada percoaan ini !

Kelompok V
(Anestesi Infiltrasi)
A Alat dan Bahan
Alat
Gunting, peniti
Veet, spidol
spuit 1ml
Bahan
larutan procain HCl 1% dosis 0,2ml
larutan lidokain HCl 2%, dosis 0,2ml
cara pemberian

intrakutan

B Prosedur Kerja
1 Mencuci tangan terlebih dahulu

2 Memakai jas laboratorium, hand scoon dan masker


dengan rapih dan bersih
3 Menyiapkan alat, bahan dan hewan percobaan
4 Meja pratikum dilapisi koran terlebih dahulu
5 Gunting bulu kelinci pada punggungnya dan cukur
hingga bersih kulitnya (hindari terjadinya luka)
6 Buat daerah penyuntikan dengan spidol dengan jarak
minimal 3cm
7 Uji getaran otot dengan memberikan sentuhan ringan
pada daerah penyuntikan dengan peniti, setiap kali enam
sentuhan
8 Suntikkan

larutan-larutan

diatas

pada

daerah

penyuntikan
9 Lakukan uji getaran setelah penyuntikan seperti point
3
10 Setelah melakukan pratikum pada hewan percobaan,
bersihkan semua alat dan tempat pratikum. Cuci tangan
dengan sabun agar bersih dari kotoran hewan percobaan
C Pengamatan
1. tabelkan data yang diperoleh dengan mencatat waktu
timbul dan hilangnya anestesi dan jumlah respon negative
(tidak ada getaran)
2. buat kurva antara respon negative sebagai ordinat dan
larutan yang dipakai sebagai absis

D Hasil pengamatan

HASIL PENGAMATAN CARA PEMBERIAN INTRA KUTAN

Hewa
n

Kelinci
Kelinci
Kelinci

Organ

Punggun
g kiri
Punggun
g
Kanan

Obat

Cara pem

Diberikan

Berian
Intra

Tetracain

kutan
Intra

Lidokain
Lidokain +

kutan
Intra

adrenalin

kutan

Getaran otot punggung kelinci dengan 6sentuhan


(menit)
0
5
10
15 20 25 30 35 40 45 50
55
60
-

normal

normal

Normal

Rute pemberian : intra kutan


Keterangan :

(-) tidak getar, obat berefek


(+) bergetar, obat tidak berefek

Metode:
Kelinci disuntik secara intrakutan 0,2ml pada bagian yang telah
dibersihkan dari bulunya dengan larutan procain HCl 1%,
lidocain HCl 1%, procain 1% dalam adrenalin 1:50.000, lidocain
HCl 1% dalam adrenalin 1:50.000
Pertanyaan :
1 Mengapa ada perbedaan antara efek
anestesi lokal dengan anestetika lokal dalam
adrenalin
Jawab :
Karena penambahan adrenalin pada larutan anestetika lokal
akan memberikan rangsangan pada saraf adrenergic yang ada
pada otot polos pembuluh darah kulit dan menyebabkan
vasokontriksi (penyempitan pembuluh darah) sehingga
berkurangnya kecepatan absorpsi dalam darah

2 Apakah kokain sebagai anestesika lokal


perlu ditambahkan adrenalin , jika ya kenapa, jika
tidak jelaskan
Jawab :
Tidak, karena kokain itu sendiri dapat menyebabkan
vasokonstriksi, sehingga masa kerja kokain lebih lama
disbanding anestesi lokal lainnya
3 Berikan penerapan klinis dari pemakaian
anestesi permukaan dan anestesi infiltrasi
Jawab:
Anestesi permukaan penghilang rasa oleh dokter gigi untuk
mencabut geraham atau untuk pembedahan kecil, seperti
menjahit luka dikulit, juga digunakan sebagai persiapan untuk
prosedur diagnostic seperti bronkoskopi, gatroskopi, anestesi
infiltrasi, seperti pada daerah kecil dikulit atau gusi (pada
pencabutan gigi)
4 Bagaimana pengaruh ph daerah yang
dianestesi lokal terhadap potensi anestetika lokal
Jawab:
Anestesi lokal yang biasa digunakan mempunyai pKa antara 89, sehingga pada ph jaringan tubuh hanya didapati 5-20%
dalam bentuk basa bebas

Kelompok VI
(Toksisitas Anestetika Lokal)
I.

II.

Alat dan bahan


Hewan
: tikus putih jantan ( 4 ekor)
Obat
: larutan lidokain 1,25% 20mg/ml ( diencerkan
menjadi 2mg/ml) tetrakain hcl 1,25% 20mg/ml
( diencerkan menjadi 2mg/ml)
Dosis
: untuk masing-masing obat 125mg/kgbb
Rute
: intraperitoneal dan subkutan
Alat
: spuit 1ml, kapas, alcohol 70%, sarung tangan,
masker
Prosedur

Diamati

kelakuan

karakteristik

tikus

sebelum

pemberian obat
Diberikan obat pada masing- masing tikus dengan
rute intraperitoneal dan subkutan
Amati kelakuan tikus setelah penyuntikkan pada
menit selama 10 menit
III.

Data pengamatan
Hewan

Berat
badan
Tikus 1
190
gram
Tikus 2
140
gram
Tikus 3
160
gram
Tikus 4
200
gram
Konversi dosis tikus dengan manusia
125mg x 0,018 = 2,25mg
Tikus 1
190
2,25 mg=2,1375 mg
200
2,1375 mg
1ml=1,068 ml 1 ml
2mg

Tikus 2
140
2,25 mg=1,575 mg
200
1,575 mg
1ml=0,787 ml 1ml
2 mg

Tikus 3

160
2,25 mg=1,8 mg
200
1,8 mg
1 ml=0,9ml 1 ml
2mg

Tikus 4
200
2,25 mg=2,25 mg
200
2,25 mg
1 ml=1,125 ml 1 ml
2mg

IV.

Hasil pengamatan

Tikus

Obat
diberikan

Rute
pemberia
n

Karakteristi
k sebelum
penyuntikka
n

Tikus 1

Lidokain

subcutan

Aktif

Tikus 2

Lidokain

Intraperiton
eal

Tikus 3

Tetrakain
(pantocain)

Tikus 4

Tetrakain

V.

Waktu
muncul
gejala

Gejala yang timbul setelah


pemberian obat

10
menit

Mulai melemah kemudian, diam

Normal

10
menit

Bola mata mengecil atau sayu,


mulai mengantuk dan diam

Subkutan

Normal

5 menit
10
menit

Leher mulai kejang , kaku


Mulai melemah kemudian diam

Intraperiton
eal

Normal

10menit

Mulai melemah kemudian diam.

Pembahasan
Pada tikus dengan obat lidokain dengan rute subkutan
pada menit ke 10 hanya mulai melemah dan diam tidak
melakukan aktivitas normal. Sedangkan dengan rute
pemberian intraperitoneal pada menit ke-10 mulai
mengantuk dengan bola mata mengecil. Pada tikus yang
diberikan obat tetrakain denngan rute subkutan pada
menit ke 5 mengalami kejang di leher kemudian kaku dan
pada menit ke-10 mulai melemah dan kejang pun hilang
sementara pada pemberian intraperitoneal pada menit ke10 mulai melemah dan diam. Pada percobaan kali ini pada

keempat tikus hanya mengalami kelemahan dan


mengantuk yang di sertai dengan bola mata mengecil.
Dan hanya satu tikus yang mengalami kejang dan
berlangsung secara singkat tidak lebih dari 5 menit.
Tetrakain (Pontocaine) adalah obat anestesi lokal yang
biasanya digunakan sebagai obat untuk diagnosis atau
terapi pembedahan. Akan tetapi, penelitian pada hewan
menunjukkan efek samping pada janin (teratogenik atau
embriosidal atau lainnya) dan belum ada. Tetrakain
biasanya digunakan untuk anestesi pada pembedahan
mata, telinga, hidung, tenggorok, rectum, dan dan kulit.
Berkhasiat 10 kali lebih kuat daripada prokain, tapi juga 10
kali lebih toksik daripada prokain. Dosis tunggal
maksimum sebesar 20 mg. Sangat cepat diabsorpsi dari
membran mukosa yang terluka, sehingga terdapat bahaya
keracunan absorpsi.
Lidokain (xilokain) adalah anestetik lokal kuat ( potensi
bagus ) yang digunakan secara luas dengan pemberian
topikal dan suntikan. Anestesia terjadi lebih cepat, lebih
kuat, lebih lama dan lebih ekstensif daripada yang
ditimbulkan oleh prokain. Lidokain merupakan obat terpilih
bagi mereka yang hipersensitif terhadap anestetik lokal
golongan ester. Lidokain dapat menimbulkan kantuk.
VI.

Pertanyaan
1) Urutkan kekuatan toksisitas Anestetika lokal yang
dicoba? terangkan alasannya.
2) Jelaskan cara penanganan keracunan anestetika lokal
yang di coba dan mekanisme kerjanya.
3) Jika jantung tikus berhenti, apa yang

mula-rnula

dilakukan untuk menyelamatkan. dan jika ini tidak


berhasil apa lagi yang dapat dilakukan agar tikus tidak
mati.
Jawab

1) Kekuatan toksisitas yang paling kuat lidokain setelah itu


tetrakain, sebab lidokain merupakan anestetika lokal yang
bekerja cepat dan bertahan lama.
2) Tindakan terapi untuk menangani keracunannya yaitu
pemberian oksigen untuk mencegah suatu hipoksia dan
anoksia. Jika jantung berhenti lakukan massage jantung
disertai pernafasan buatan. Jika massage jantung dalam
waktu 2 menit tidak memberikan hasil maka disuntikan
adrenalin 0,5-1 mg intravena atau intrakardium. Pada
kejang-kejang
suksinilkolin.
berhentinya

dianjurkan
Jika

kejang

jantung

dan

pemberian
tidak
dengan

berulang

diakibatkan

oleh

demikian

tidak

diakibatkan oleh hipoksia, dapat diberika penyuntikan


intravena diazepam atau barbiturate yang bekerja singkat
seperti heksobarbital dalam dosis 50 mg secara berulang.
3) Jika jantung berhenti lakukan massage jantung disertai
pernafasan buatan. Jika massage jantung dalam waktu 2
menit tidak memberikan hasil maka disuntikan adrenalin
0,5-1 mg intravena atau intrakardium. Pada kejang-kejang
dianjurkan pemberian berulang suksinilkolin. Jika kejang
tidak diakibatkan oleh berhentinya jantung dan dengan
demikian tidak diakibatkan oleh hipoksia, dapat diberika
penyuntikan intravena diazepam atau barbiturate yang
bekerja singkat seperti heksobarbital dalam dosis 50 mg
secara berulang.