Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN KETUBAN PECAH DINI (KPD)

A.
1.

TINJAUAN TEORITIS
Pengertian

Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya/rupturnya selaput amnion sebelum


dimulainya persalinan yang sebenarnya atau pecahnya selaput amnion sebelum usia
kehamilannya mencapai 37 minggu dengan atau tanpa kontraksi.(mitayani,2011.buku
keperawatan maternitas,hal:74)
Ketuban pecah dini didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktu nya
melahirkan,hal ini dapat terjadi pada akhirnya kehamilan maupun jauh sebelum
waktunya melahirkan,(sujiyati,2009,asuhan patologi kebidanan,hal:13)
Ketuban pecah dini (KPD) merupakan pecahnya selaput janin sebelum proses persalinan
dimulai,pada usia kurang dari 37 minggu.(errol norwiz,dan john,obstetric dan
ginekologi,2007,hal:56)
Kesimpulan dari ketiga pengertian diatas adalah
Ketuban pecah dini adalah pecah/rupturnya selaput amnion sebelum dimulainya
persalinan,dan sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu,dengan kontraksi atau
tanpa kontraksi.
2.

Etiologi

a.

Persalinan prematur

b.

Korioamnionitis terjadi dua kali sebanyak KPD

c.

Malposisi atau malpresentasi janin

d.

Faktor yang mengabitkan kerusakan serviks

1)
Pemakaian alat-alat pada serviks sebelumnya (misalnya aborsi terapeutik, LEEP,
dan sebagainya
2)
Peningkatan paritas yang memnungkinkan kerusakan serviks selama pelahiran
sebelumnya
3)

Inkompeteni serviks

e.

Riwayat KPD sebelumnya sebanyak dua kali atau lebih

f.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan berat ibu

1)

Kelebihan berat badan sebelum kehamilan

2)

Penambahan berat badan sebelum kehamilan

g.

Merokok selama kehamilan

h.
Usia ibu yang lebih tua mungkin menyebabkan ketuban kurang kuat daripada ibu
muda
i.
Riwayat hubungan seksual baru-baru ini.(buku obstetric dan ginekologi,2009,geri
morgan)
3.

Patofisiologi

Infeksi dan inflamasi dapat menyebabkan ketuban pecah dini dengan menginduksi
kontraksi uterus dan atau kelemahan fokal kulit ketuban . Banyak mikroorganisme
servikovaginal, menghasilkan fosfolipid C yang dapat meningkatkan konsentrasi secara
local asam arakidonat, dan lebih lanjut menyebabkan pelepasan PGE2 dan PGF2 alfa dan
selanjutnya menyebabkan kontraksi miometrium . Pada infeksi juga dihasilkan produk
sekresi akibat aktivitas monosit/makrofag , yaitu sitokrin, interleukin 1 , factor nekrosis
tumor dan interleukin 6. Platelet activating factor yang diproduksi oleh paru-paru janin
dan ginjal janinyang ditemukan dalam cairan amnion , secara sinergis juga mengaktifasi
pembentukan sitokin. Endotoksin yang masuk kedalam cairan amnion juga akan
merangsang sel-sel disidua untuk memproduksi sitokin dan kemudian prostaglandin yang
menyebabkan dimulainya persalinan.
Adanya kelemahan local atau perubahan kulit ketuban adalah mekanisme lain terjadinya
ketuban pecah dini akibat infeksi dan inflamasi . Enzim bacterial dan atau produk host
yang disekresikan sebagai respon untuk infeksi dapat menyebabkan kelemahan dan
rupture kulit ketuban .Banyak flora servikoginal komensal dan patogenik mempunyai
kemampuan memproduksi protease dan kolagenase yang menurunkan kekuatan tenaga
kulit ketuban.Elastase leukosit polimorfonuklear secara spesifik dapat memecah kolagen
tipe III papa manusia, membuktikan bahwa infiltrasi leukosit pada kulit ketuban yang
terjadi karena kolonisasi bakteri atau infeksi dapat menyebabkan pengurangan kolagen
tipe III dan menyebabkan ketuban pecah dini.

Enzim hidrolitik lain , termasuk katepsin B , katepsin N, kolagenase yang dihasilkan


netrofil dan makrofag , nampaknya melemahkan kulit ketuban . Sel inflamasi manusia
juga menguraikan aktifator plasminogen yang mengubah plasminogen menjadi plasmin ,
potensial , potensial menjasi penyebab ketuban pecah dini.
(http://www.scribd.com/doc/83328609/Ketuban-Pecah-Dini)
4.

Tanda dan gejala

Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ktuban merembes melalui vagina,aroma air
ketuban berbau amis dan tidak seperti bbau amoniak,mungkin cairan tersebut masih
merembes atau menetes dengan cirri pucat dan bergaris warna darah,cairan ini tidak
akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran.tetapi bila anda
duduk atau berdiri,kepala janin yang sudah terletak dibawah biasanya mengganjal
atau menyambut kebocoran untuk sementara.
Demam ,bercak vagina yang banyak ,nyeri perut ,denyut jantung janin bertambah cepat
merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.(buku asuhan patologi
kebidanan,sujiyatini,2009,hal:14)
5.
A.
1.

Penatalaksanaan
Pencegahan
Obati infeksi gonokokus, klamidi, dan vaginosis bakterial

2.
Diskusikan pengaruh merokok selama kehamilan dan dukung untuk mngurangi
atau berhenti.
3.

Motivasi untuk menambah berat badan yang cukup selama hamil

4.
Anjurkan pasangan agar menghentikan koitus pada trisemester akhir bila ada
faktor predisposisi.
B.
Panduan mengantisipasi : jelaskan pasien yang memiliki riwayat berikut ini saat
prenatal bahwa mereka harus segera melapor bila ketuban peccah.
1.

Kondisi yang menyebabkan ketuban pecah dapat mengakibatkan prolaps tali pusat

a.

Letak kepala selain verteks

b.

Polihdramnion

2.

Herpes aktif

3.

Riwayat infeksi streptokus beta hemolitiukus sebelumnya

C.

Bila ketuban telah pecah

1.
Anjurkan pengkajian secara saksama. Upayakan mengetahui waktu terjadinya
pecahnya ketuban
2.

Bila robekan ketuban tampak kasar :

a.
Saat pasien berbaring terlentang , tekan fundus untuk melihat adanya semburan
cairan dari vagina.
b.
Basahai kapas asupan dengan cairan dan lakukan pulasan pada slide untuk
mengkaji ferning dibawah mikroskop.
c.
Sebagian cairan diusapkan kekertas Nitrazene. Bila positif, pertimbangkan uji
diagnostik bila pasien sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual tidak ada
perdarahan dan tidak dilakukan pemeriksaan pervagina menggunakan jeli K-Y.
3.
Bila pecah ketuban dan / atau tanda kemungkinan infeksi tidak jelas, lakukan
pemeriksaan pekulum steril.
a.

Kaji nilai bishop serviks (lihat Nilai Bishop, tabel 5-2).

b.

Lakukan kultur serviks hanya bila ada tanda infeksi.

c.
Dapatkan spesimen cairan lain dengan lidi kapas steril yang dipulaskan pada slide
untuk mengkaji ferning dubawah mikroskop.
4.
Bila usia gestasi kurang dari 37 minggu atau pasien terjangkit herpes Tipe 2, rujuk
ke dokter.
D.
a.

Penatalaksanaan konservatif
Kebanyakan persalinan dimulai dalam 24-72 jam setelah ketuban pecah.

b.
Kemungkinan infeksi berkurang bila tidak ada alat yang dimasukan kevagina ,
kecuali spekulum steril ; jangan melakukan pemeriksaan vagina.
c.

Saat menunggu , tetap pantau pasien dengan ketat.

1.
Ukur suhu tubuh empat kali sehari ; bila suhu meningkatkan secara signifikan, dan /
atau mencapai 380 C , berikan macam antibiotik dan pelahiran harus diselesaikankan.
2.
Observasi rabas vagina : bau menyengat menyengat, purulen atau tampak
kekuningan menunjukan adanya infeksi.
3.
E.

Catat bila ada nyeri tekan dan iritabilitas uterus serta laporkan perubahan apa pun
Penatalaksaan agresif

a.
Jel prostaglandin atau misoprostol (meskipun tidak disetujui penggunaannya)
dapat diberikan setelah konsultasi dengan dokter
b.

Mungkin dibutuhkan rangkaian induksi pitocin bila serviks tidak berespons

c.
Beberapa ahli menunggu 12 jam untuk terjadinya persalinan. Bila tidak ada tanda,
mulai pemberian pitocin
d.

Berikan cairan per IV , pantau janin

e.

Peningkatan resiko seksio sesaria bila induksi tidak efektif.

f.
Bila pengambilan keputusan bergantung pada kelayakan serviks untuk di indikasi,
kaji nilai bishop (lihat label 5-2) setelah pemeriksaan spekulum. Bila diputuskan untuk
menunggu persalinan, tidak ada lagi pemeriksaan yang dilakukan, baik manipulasi
dengan tangan maupun spekulum, sampai persalinan dimulai atau induksi dimulai
g.
Periksa hitung darah lengka bila ketuban pecah. Ulangi pemeriksaan pada hari
berikutnya sampai pelahiran atau lebih sering bila ada tanda infeksi
h.
Lakukan NST setelah ketuban pecah ; waspada adanya takikardia janin yang
merupakan salah satu tanda infeksi
i.

Mulai induksi setelah konsultasi dengan dokter bila :

1.

Suhu tubuh ibu meningkat signifikan

2.

Terjadi takikardia janin

3.

Lokia tampak keruh

4.

Iritabilitas atau nyeri tekan uterus yang signifikan

5.

Kultur vagina menunjukan strepkus beta hemolitikus

6.

Hitung darah lengkap menunjukan kenaikan sel darah putih

F.

Penatalaksanaan persalinan lebih dari 24 jam setelah ketuban pecah

a.

Pesalinan spontas

1)

Ukur ssuhu tubuh pasien setiap 2 jam, berikan antibiotik bila ada demam

2)

Anjurkan pemantauan janin internal

3)
Beritahu dokter spesialis obstetri dan spesialis anak atau praktisi perawat
neonatus
4)

Lakukan kultur sesuai panduan

b.

Indikasi persalinan

1)

Lakukan secara rutin setelah konsultasi dengan dokter

2)

Ukur suhu tubuh setiap 2 jam

3)
Antibiotik : pemberian antibiotik memiliki beragam panduan , banyak yang
memberikan 1-2 g ampisilin per IV atau 1-2 g Mefoxin per IV ssetiap 6 jam sebagai
profilakis . Beberapa panduan lainnya menyarankan untuk mengukur suhu tubuh ibu dan
DJJ untuk menentuan kapan aantibiotik mungkin diperlukan.(buku obstetric dan
ginekologi,2009,geri morgan)
6.Pemeriksaan penunjang
1)

Pemeriksaan laboratorium

Cairan yang bkeluar dari vagina perlu di periksa warna konsentrasi,baud an PH


nya.Cairan yang keluar dari vagina kecuali air ketuban mungkin juga urine atu secret

vagina,Sekret vagina ibu hamil pH :4,5 dengan kertas nitrazin tidak berubah warna ,tetap
kuning .1.a tes lakmus (tes nitrazin),jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukkan adanya air ketuban (alkalis).Ph air ketuban 7-7,5 darah dan infeksi vagina
dapat menghaslkan tes yang positif palsu .1b. mikroskop (tes pakis ),dengan meneteskan
air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering.Pemeriksaan mikroskopik
menunjukkan gambaran daun psikis.
2)

Pemeriksaan ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri
pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit .Namun sering terjadi
kesalahan pada penderita oligohidroamion.Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup
banyak macam dan caranya ,namun pada umunya KPD sudah bisa terdiagnosis dengan
anamnesa dan pemeriksaan sederhana.(buku asuhan patologi
kebidanan,sujiyatini,2009,hal:16-17)

7.Komplikasi
Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia 37 minggu adalah sindrom
distress pernapasan,yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir.Risiko infeksi meningkat
pada kejadian KPD.Semua ibu hamil dengan KPD premature sebaiknya dievaluasi untuk
kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang pada korion dan amnion).Seklain itu
kejadian prolaps atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD.
Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD Praterm.Hipoplasia paru
merupakan komplikasi fatal terjadi pada KPD praterm.Kejadiannya mencapai hampir
100% apabila KPD prater mini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu.
a.

Infeksi intrauterine

b.

Tali pusat menumbung

c.

Prematuritas

d.

Distosia

(buku asuhan patologi kebidanan,sujiyatini,2009,hal:17)

B.

TINJAUAN TEORITIS KEPERAWATAN

1.

PENGKAJIAN

a)

Identitas ibu

b)

Riwayat penyakit

a.
Riwayat kesehatan sekarang ;ibu dating dengan pecahnya ketuban sebelum usia
kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa komplikasi
b.

Riwayat kesehatan dahulu

1.

Adanya trauma sebelumnya akibat efek pemeriksaan amnion

2.

Sintesi ,pemeriksaan pelvis dan hubungan seksual

3.

Infeksi vagiana /serviks oleh kuman sterptokokus

4.

Selaput amnion yang lemah/tipis

5.

Posisi fetus tidak normal

6.

Kelainan pada otot serviks atau genital seperti panjang serviks yang pendek

7.

Multiparitas dan peningkatan usia ibu serta defisiensi nutrisi.

c)

Pemeriksaan fisik

a.

Kepala dan leher

1.

Mata perlu diperiksa dibagian skelra,konjungtiva

2.
Hidung ,ada atau tidaknya pembebngkakan konka nasalis .Ada /tidaknya
hipersekresi mukosa
3.

Mulut :gigi karies/tidak ,mukosa mulut kering dan warna mukosa gigi,

4.

Leher berupa pemeriksaan JVP,KGB Dan tiroid

b.

Dada

1.

Troraks

Inspeksi kesimetrisan dada,jenis oernapasan torakaabdominal,dan tidak ada retraksi


dinding dada.Frekuensi pernapasan normal.
Palpasi :payudara tidak ada pembengkakan
Auskultasi:terdengar Bj 1 dan II di IC kiri/kanan,Bunyi napas normal vesikuler
2.

Abdomen

Inspeksi :ada a/tidak bekas operasi ,striae dan linea


Palpasi:TFU kontraksi ada/tidak ,Posisi ,kansung kemih penuh/tidak
Auskultasi: DJJ ada/tidak.
c.

Genitalia

1.
Inspeksi :kebersihan ada/tidaknya tanda-tanda
REEDA(Red,Edema,discharge,approxiamately); pengeluaran air ketuban (jumlah
,warna,bau 0dan lender merah mda kecoklatan .
2.

Palpas :pembukaan serviks(0-4)

3.

Ekstrimitas :edema ,varises ad/tidak.

d)

Pemeriksaan diagnostic

1.

Hitung darah lengkap untuk menentukan adanya anemia,infeksi

2.

Golongan darah dan faktor Rh

3.

Rasio lestin terhadap spingomielin (rasio US):menentukan maturitas janin

4.

Tes ferning dan kertas nitrazine:memastikan pecah ketuban

5.
Ultrasonografi ;menentukan usia gestasi ,ukuran janin ,gerakan jantung janinmdan
lokasi plasenta.
6.

Pelvimetri ;identifikasi posisi janin

4.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

a.
risiko tinggi infeksi maternal yang berhubungan dengan prosedur
infasif,pemeriksaan vagina berulang dan rupture membrane amniotic
b.
kerusakan perutakaran gas pada janin nyang berhubungan dengan adanya
penyakit
c.
risiko tinggi cedera pada janin yang berhubungan dengan melahirkan bayi
premature /tidak matur
d.

ansietas yang berhubungan dengan krisis situasi,abcaman pada diri sendiri/janin

e.
risiko tinggi penyebaran infeksi /sepsis yang berhubungan dengan adanya
infeksi ,prosedur infasif ,dan peningkatan pemahaman lingkungan.
f.
Resiko tinggi keracunan karena toksik yang berhubungan dengan dosis/efek
samping tokolitik
g.
Risiko tinggi cedera pada ibu yang berhubungan dengan intervensi pembedahan
,penngunaan obat tokolitik
h.

Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan hipersensitivitas

i.
Risiko tinggi kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan penurunan
masukan cairan

5.

INTERVENSI KEPERAWATAN

a.
Diagnosis 1 : Ansietas yang berhubungan dengaan krisis situasi, ancaman konsep
diri, ancaman yang dirasakan/actual dari kesejahteraan maternal, dan janin transmisi
interpersonal.
Tujuan : Ansietas pada iibu dapat teratasi
Kriteria hasil :
1)

Mengungkapkan rasa takut pada keselamatan ibu dan janin

2)

Mendiskusikan perasaan tentang kelahiran caesarea

3)

Pasien tampak benar benar rileks

4)

Menggunakan sumber / system pendukung dengan efektif

Intervensi :
a)

Kaji respon psikologi pada kejadian dan ketersediaan system pendukung

Rasional : makin ibu merasakan ancaman, makin besar tingkat ansietas.


b)

Pastikan apakah prosedur direncanakan atau tidak direncanakan.

Rasional : pada kelahiran caesarea yang tidak direncanakan, ibu dan pasangan biasanya
tidak mempunyai waktu untuk persiapan psikologi dan fisiologi.
c)

Tetap bersama ibu, dan tetap bicara perlahan, tunjukan empati.

Rasional : membantu transmisi ansietas interpersonal dan mendemonstrakan perhatian


terhadap ibu.
d)

Beri penguatan aspek positif dari ibu dan janin

Rasional : memfokuskan pada kemungkinan keberhasilan akhir dan membantu


membawa ancaman yang dirasakan/ actual kedalam prespektif.
e)

Anjurkan ibu dan pasangannya mengungkapkan atau mengekspresikan perasaan

Rasional : membantu membatasi perasaan dan memberikan kesempatan untuk


mengatasi perasaaan ambivalen atau berduka. Ibu dapat merasakan ancaman emosional
pada harga diri nya karena perasaannya bahwa ia telah gagal, wanita yang lemah.
f)

Dukung atau arahkan kembali mekanime koping yang diekspresikan

Rasional : mendukung mekanisme kopin dasar dan otomatis meningkatkan kepercayaan


diri serta penerimaan dan menurunkan ansietas.

g)
Berikan masa privasi terhadap rangsangan lingkungan seperti jumlah orang yang
ada sesuai kenginan ibu.
Rasional : memungkinkan kesempatan bagi ibu untuk memperoleh informasi, menyusun
sumber sumber, dan mengatasi cemas dengan efektif.
b.
Diagnosis 2 : Resiko tinggi terhadap infeksi yang berhubungan dengan prosedur
invasif pecah ketuban, kerusakan kulit dan penurunan Hb.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi
Kriteria Hasil :
1)

Klien bebas infeksi

2)

Pencapaian tepat waktu dalam pemulihan luka tanpa komplikasi

Intervensi :
a)

Tinjau ulang kondisi factor resiko yang ada sebelumnya.

Rasional : kondisi dasar ibu : seperti DM dan hemoragi menimbulkan potensial resiko
infeksi atau penyembuhan luka yang buruk. Adanya proses infeksi dapat meningkat
resiko kontaminasi janin.
b)
Kaji terhadap tanda dan gejala infeksi ( misalnya peningkatan suhu, nadi, jumlah
sel darah putih atau bau / warna secret vagina.
Rasional : pecah ketuban terjadi 24 jam sebelum pembedahan dapat mengakibatkan
korioamonitis sebelum mengintervensi bedah dan dapat mengubah penyembuhan luka.
c)

Berikan perawatan perineal sedikitnya setiap 4 jam bila ketuban telah pecah.

Rasional : membantu mengurangi resiko infeksi asenden.


KOLABORASI

d)

Lakukan persiapan kulit praoperatif, scrub sesuai protocol.

Rasional : menurunkan kontaminan kulit memasuki insisi, menurunkan resiko infeksi


pasca-operatif
e)

Dapatkan kultur darah vagina dan plasenta sesuai indikasi.

Rasional : mengidentifikasi organisme yang meninfeksi dan tingkat keterlibatan.


f)

Catat Hb dan Ht catat perkiraan kehilangan darah selama prosedur pembedahaan.

Rasional : resiko infeksi pasca melahirkan serta penyembuhan lebih lama bila kadar Hb
rendah dan kehilangan darah berlebihan.
g)

Berikan antibiotic spectrum luas parental pada pra-operasi

Rasional : Antibiotik profilaktik dapat dipesankan untuk mencegah terjadinya proses


infeksi sebagai pengobatan pada infeksi sebagai pengobatan pada infeksi yang
teridentifikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Mitayani ,2009,Asuhan Keperawatan Maternitas,Jakarta : Salemba Medika
Errol norwiz,2011,anatomi dan fisiologi ,
Geri morgan ,2009,obsteri dan ginekologi panduan praktik,Jakarta EGC.
Sujiyati ,2008,asuhan patologi kebidanan,jakarta ; Numed.

TINJAUAN TEORI
A.

PENGERTIAN

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda mulai persalinan
dan ditunggu satu jam sebelum terjadi inpartu. Ketuban pecah dini merupakan pecahnya
selaput janin sebelum proses persalinan dimulai. (Manuaba, 1998)
1.

KPD saat preterm (KPDP) adalah KPD pada usia <37 minggu

2. KPD memanjang merupakan KPD selama >24 jam yang berhubungan dengan
peningkatan risiko infeksi intra-amnion
Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.
Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau
meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya
kekuatan membran disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina serviks.
(Prawirohardjo, 2002)
Ketuban pecah dini atau sponkaneous/ early/ premature rupture of the
membrane (PROM) adalah pecahnya ketuban sebsalum partu : yaitu bila pembukaan
pada primigravida dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. (Mochtar, 1998).
B.

ETIOLOGI

Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau
meningkatnya tekanan intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya
kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan
serviks. Selain itu ketuban pecah dini merupakan masalah kontroversi obstetri. Penyebab
lainnya adalah sebagai berikut :
1.

Inkompetensi serviks (leher rahim)

Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot leher atau
leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka ditengahtengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang semakin
besar. Adalah serviks dengan suatu kelainan anatomi yang nyata, disebabkan laserasi
sebelumnya melalui ostium uteri atau merupakan suatu kelainan kongenital pada serviks
yang memungkinkan terjadinya dilatasi berlebihan tanpa perasaan nyeri dan mules
dalam masa kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga yang diikuti dengan
penonjolan dan robekan selaput janin serta keluarnya hasil konsepsi.
(Manuaba, 2002).
2.
Peninggian tekanan intra uterin
Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat
menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini. Misalnya :

a.

Trauma : Hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis

b.
Gemelli
Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada kehamilan gemelli
terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya ketegangan
rahim secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih, isi rahim yang lebih
besar dan kantung (selaput ketuban ) relative kecil sedangkan dibagian bawah tidak ada
yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis dan mudah pecah.
(Saifudin. 2002)
a. Makrosomia
Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan dengan makrosomia
menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi dan menyebabkan
tekanan pada intra uterin bertambah sehingga menekan selaput ketuban, manyebabkan
selaput ketuban menjadi teregang,tipis, dan kekuatan membrane menjadi berkurang,
menimbulkan selaput ketuban mudah pecah.
(Winkjosastro, 2006)
d. Hidramnion
Hidramnion atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion >2000mL. Uterus dapat
mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Hidramnion kronis adalah
peningaktan jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur-angsur. Hidramnion akut,
volume tersebut meningkat tiba-tiba dan uterus akan mengalami distensi nyata dalam
waktu beberapa hari saja.
3.

Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang.

4.
Kemungkinan kesempitan panggul : bagian terendah belum masuk PAP (sepalo
pelvic disproporsi).
5.
Korioamnionitis
Adalah infeksi selaput ketuban. Biasanya disebabkan oleh penyebaran organisme vagina
ke atas. Dua factor predisposisi terpenting adalah pecahnya selaput ketuban > 24 jam
dan persalinan lama.
6.

Penyakit Infeksi

Adalah penyakit yang disebabkan oleh sejumlah mikroorganisme yang meyebabkan


infeksi selaput ketuban. Infeksi yang terjadi menyebabkan terjadinya proses biomekanik
pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah.
7.

Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik)

8.

Riwayat KPD sebelumya

9.

Kelainan atau kerusakan selaput ketuban

10.

Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu

C.

PATOFISIOLOGI

Banyak teori, mulai dari defect kromosom kelainan kolagen, sampai infeksi. Pada
sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan infeksi (sampai 65%)
High virulensi : Bacteroides ; Low virulensi : Lactobacillus
Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblast, jaringa retikuler korion dan
trofoblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh system aktifitas dan
inhibisi interleukin -1 (iL-1) dan prostaglandin.

Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas iL-1 dan prostaglandin,
menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerasi kolagen pada selaput
korion/ amnion, menyebabkan ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan. (Taylor,
2006)

D.

MANIFESTASI KLINIK
Menurut Mansjoer ( 2000) Achadiat (2004) manifestasi ketuban pecah dini adalah:

1.
Keluar air krtuban warna keruh. Jernih,kuning, hijau, atau kecoklatan sedikitsedikit atau sekaligus banyak
2.

Dapat disertai demam bila sudah terjadi infeksi

3.

Janin mudah diraba

4.
Pada pemeriksaan dalam selaput ketuban sudah tiadak ada, air ketuban sidah
kering
5.
Inspekulo: tampak air ketuban mengalir atau selaput keruban tidak ada dan air
ketuban sudah kering
6.

Usia kehamilan vible (>20 minggu)

7.

Bunyi jantung bisa tetap normal

E.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang menurut Achadiat (2004) adalah:


1.

Pemeriksaan leukosit/WBC, bila >15.000/ml kemungkinan telah terjadi infeksi

2. Ultrasonografi (USG) sangat membantu dalam menentukan usia kehamilan, letak


atau persentasi janin, berat janin, letak dan gradasi plasenta serta jumlah air ketuban.
3. Monitor DJJ dengan fetoskoplaennec atau Doppler atau dengan melakikan
pemeriksaan atau kardiotokografi ( bila usia kehamial >32 mmingu).
4. Memeriksa adanya cairan yang berisi mekonium, verniks kassceosa, rambut lanugo/
telah terinfeksi atau berbau
5.
Inspekulo: lihat dan oerhatikan apakah memang air ketuban keluar dari kanalis
servik dan apakah ada bagian yang sudah pecah
6. Gunakan kertas lakmus
Bila menjadi biru (basa): air ketuban
Bila menjadi merah(asam): air kemih (urine)
7.

Pemeriksaan PH forniks posterior pada prom PH adalah basa air ketuban

8.

Pemeriksaan histopatologi air (ketuban)

9.

Aborization dan sitologi air ketuban

F.

KOMPLIKASI

1. Infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenden dari vagina
atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.
2.

Partus peterm

Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan
kurang dari 37 minggu ( antara 20 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari
2500 gram ( Manuaba, 1998)
3. Prolaps Tali pusat
Tali pusat menumbung
4. Distasia ( partus Kering)
Pengeluaran cairan ketuban untuk waktu yang akan lama akan menyebabkan dry labour
atau persalinan kering
5.
Ketuban pecah dini merupakan penyebab pentingnya persalinan premature dan
prematuritas janin.
6. Resiko terjadinya ascending infection akan lebih tinggi jika persalinan dilakukan
setelah 24 jam onset
7. Hipoplasia pulmonal janin sangat mengancam janin, khususnya pada kasus
oligohidramnion
G.

PENANGANAN MEDIS

a.

Pada kehamilan preterm berupa penanganan konservatif, antara lain :

1. Rawat di rumah sakit, ditidurkan dalam posisi trendelenberg, tidak perlu dilakukan
pemeriksaan dalam untuk mencegah terjadinya infeksi dan kehamilan diusahakan bisa
mencapai 37 minggu
2. Berikan antibiotika (ampisilin 4x500 mg atau eritromisin bila tidak tahan ampisilin)
dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari
3. Jika umur kehamilan < 32-34 minggu dirawat selama air ketuban masih keluar, atau
sampai air ketuban tidak keluar lagi
4. Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memacu kematangan paru
janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu.
Sedian terdiri atas betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari atau
deksametason IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali
5. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi, tes busa (-): beri
deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan janin. Terminasi pada
kehamilan 37 minggu
6. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan tokolitik
(salbutamol), deksametason dan induksi sesudah 24 jam
7.

Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan induksi

8.

Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intrauterin)

b.

Pada kehamilan aterm berupa penanganan aktif, antara lain:

1. Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesaria. Dapat
pula diberikan misoprostol 50 g intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
2.

Bila ada tanda-tanda infeksi, berikan antibiotika dosis tinggi, dan persalinan di akhiri:

Bila skor pelvik < 5 lakukan pematangan serviks kemudian induksi. Jika tidak
berhasil akhiri persalinan dengan seksio sesaria.

H.
1.

Bila skor pelvik > 5 induksi persalinan, partus pervaginam.

ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN

a. Biodata klien
berisi tentang : Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat, No. Medical
Record, Nama Suami, Umur, Pendidikan, Pekerjaan , Suku, Agama, Alamat, Tanggal
Pengkajian.
b. Keluhan utama :
keluar cairan warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau / kecoklatan sedikit / banyak, pada
periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering, inspeksikula tampak
air ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudah kering
c. Riwayat haid
Umur menarchi pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar, konsistensi, siklus
haid, hari pertama haid dan terakhir, perkiraan tanggal partus
d. Riwayat Perkawinan
Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa? Apakah perkawinan sah atau
tidak, atau tidak direstui dengan orang tua ?
e. Riwayat Obstetris
Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, hasil laboraturium : USG , darah, urine, keluhan
selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi, upaya mengatasi keluhan,
tindakan dan pengobatan yang diperoleh.
f. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu, bagaimana cara pengobatan yang
dijalani nya, dimana mendapat pertolongan, apakah penyakit tersebut diderita sampai
saat ini atau kambuh berulang ulang
g. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara genetic
seperti panggul sempit, apakah keluarga ada yg menderita penyakit menular, kelainan
congenital atau gangguan kejiwaan yang pernah di derita oleh keluarga
h. Kebiasaan sehari hari

Pola nutrisi : pada umum nya klien dengan KPD mengalami penurunan nafsu
makan, frekuensi minum klien juga mengalami penurunan

Pola istirahat dan tidur : klien dengan KPD mengalami nyeri pada daerah pinggang
sehingga pola tidur klien menjadi terganggu, apakah mudah terganggu dengan suarasuara, posisi saat tidur (penekanan pada perineum)

Pola eliminasi : Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah inkontinensia


(hilangnya infolunter pengeluaran urin),hilangnya kontrol blas, terjadi over distensi blass
atau tidak atau retensi urine karena rasa takut luka episiotomi, apakah perlu bantuan
saat BAK. Pola BAB, freguensi, konsistensi,rasa takut BAB karena luka perineum,
kebiasaan penggunaan toilet.

Personal Hygiene : Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, penggunaan pembalut
dan kebersihan genitalia, pola berpakaian, tata rias rambut dan wajah.

Aktifitas : Kemampuan mobilisasi klien dibatasi, karena klien dengan KPD di


anjurkan untuk bedresh total


Rekreasi dan hiburan : Situasi atau tempat yang menyenangkan, kegiatan yang
membuat fresh dan relaks.
i. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan umum: suhu normal kecuali disertai infeksi.

Pemeriksaan abdomen: uterus lunak dan tidak nyeri tekan. Tinggi fundus harus
diukur dan dibandingkan dengan tinggi yang diharapkan menurut hari haid terakhir.
Palpasi abdomen memberikan perkiraan ukuran janin dan presentasi maupun cakapnya
bagian presentasi. Denyut jantung normal.

Pemeriksaan pelvis: pemeriksaan speculum steril pertama kali dilakukan untuk


memeriksa adanya cairan amnion dalam vagina. Karna cairan alkali amnion mengubah
pH asam normal vagina, kertas nitrasin dapat dipakai untuk mengukur pH vagina. Kertas
nitrasin menjadi biru bila ada cairan alkali amnion. Bila diagnose tidak pasti adanya
skuama anukleat, lanugo, atau bentuk Kristal daun pakis cairan amnion kering dapat
membantu.

Pemeriksaan vagina steril: menentukan penipisan dan dilatasi serviks.


Pemeriksaan vagina juga mengidentivikasi bagian presentasi dan stasi bagian presentasi
dan menyingkirkan kemungkinan prolaps tali pusat.
j. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboraturium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau dan pH nya.
Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau sekret
vagina. Sekret vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna,
tetap kuning.

Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika krtas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7 7,5, darah dan infeksi
vagina dapat mengahsilakan tes yang positif palsu.

Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan
dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.

Pemeriksaan ultrasonografi (USG)


pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri.
Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun sering terjadi
kesalahn pada penderita oligohidromnion.

2.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

a.

Nyeri akut b/d peredaran karakteristik kontraksi

b.

Intoleran aktifitas b/d tirah baring

c.

Kurang pengetahuan mengenai prosedur b/d kurang informasi

d. Ketakutan/ansietas b/d kondisi janin yang menurun


e.

Resiko tinggi infeksi b/d rembesan cairan ketuban

3.

FOKUS INTERVENSI

a.

Nyeri akut b/d peredaran karakteristik kontraksi

Tujuan:
-

Pasien menunjukkan ekspresi wajah rileks

Pasien tidak mengeluh kesakitan

Pasien menyatakan nyerinya berkurang

Intervensi :
1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-5), frekuensi, dan waktu.
Menandai gejala nonverbal. Misalnya: gelisah, takikardia, dan meringis.
2.

Dorong pengungkapan perasaan

3.

Berikan aktivitas hiburan, misalnya: membaca, berkunjung, dan lain-lain.

4. Lakukan tindakan paliatif, misalkan: pengubahan posisi, massase, rentang gerak


pada sendi yang sakit.
5. Intruksikan pasien/dorong untuk menggunakan visualisasi/bimbingan imajinasi,
relaksasi progresif, teknik nafas dalam.

b.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tirah baring

Tujuan : - Mengidentifikasi faktor-faktor yang menurunkan toleransi aktifitas


- Memperlihatkan kamajuan (ketingkat yang lebih tinggi dari mobilitas yang mungkin)
- Memperlihatkan penurunan tanda-tanda hipoksia terhadap aktifitas (nadi, tekanan
darah, pernapasan)
Intervensi :
1.

Kaji respon individu terhadap aktivitas

2.

Meningkatkan aktivitas secara bertahap

3.

Ajarkan klien metode penghematan energi untuk aktivitas.

4.
Instruksikan klien untuk konsulasi kepada dokter atau ahli terapi fisik untuk
program latihan jangka panjang.
5.

Rujuk kepada perawat komunitas untuk tindak lanjut jika diperlukan.

c. Kurang pengetahuan mengenai prosedur b/d kurang informasi


Tujuan: - Menggungkapkan pengetahuan tentang prosedur/situasi
- Berpartisipasi dalam prosedur pembuatan ketuban
Intervensi :
1.

Tinjauan ulang ketuban terhadap induksi/augmentasi persallin

2.
Jelaskan prosedur yang akan dirasakan klien,kontraksi dan DJJ adan dipantau
secara kontinus
3.
4.

Tinjau prosedur secara amniotomi


Demontrasikan dan jelaskan penggunaan peralatatan

d. Ketakutan/ansietas b/d kondisi janin yang menurun


Tujuan : - Gangguan sistem dukungan secara efektif
- Menyelesaikan persalinan dengan sukses
Intervensi :
1.

Kaji status psikologi dan emosi

2.

Anjurkan untuk mengungkapkan perasaan

3.
Gunakan berminologi positif, hindari penggunaan istilah yang menendakan
abnormalitas prosedur atau proses
4.

Anjurkan penggunaan/tehnik pernafasan

5.

Nyeri perabaan/perbedaan yang diantisipasi dalam pola persalinan dan kontrasi

6.

Tinjau ulang atau berikan instruksi tehnik pernafasan sederhana

7.

Anjurkan klien untuk menggunakan tehnik relaksasi

e.

Resiko tinggi infeksi b/d rembesan cairan ketuban

Tujuan : - Bebas dari proses infeksi nosokomial selama perawatan di rumah sakit
- Memperlihatkan kemampuan tentang faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan infeksi
dan melakukan tindakan pencegahan yang tepat untuk mencegah infeksi
Intervensi :
1.

Identifikasi individu yang berisiko terhadap infeksi nosokomial

2.

Kurangi organisme-organisme yang masuk ke dalam tubuh

3.

Lindungi individu yang defisit imun dari infeksi

4.

Kurangi kerentanan individu terhadap infeksi

5.
Amati terhadap manifestasi klinik infeksi (mis; demam, urine keruh, drainase
purulen)
6.
Instruksikan individu dan keluarga mengenal penyebab, risiko-risiko dan kekuatan
penularan infeksi.
7.

Laporkan penyakit-penyakit menular.