Anda di halaman 1dari 6

http://www.family-writing.com/opini/paud.

html/
Menurut Soemiarti (2003) pendidikan prasekolah adalah hal yang menarik perhatian orangtua,
masyarakat maupun pemerintah sebagai pengambil keputusan. Mereka menyadari bahwa
kualitas masa anak-anak (early chilhood) termasuk masa prasekolah merupakan cermin kualitas
bangsa di masa yang akan datang. Pandangannya jelas menunjukkan akan betapa
pentingnya pendidikan bagi anak yang membutuhkan bimbingan dari guru dan orangtua dalam
mewarnai hubungan anak dengan teman sebaya dan lingkungan sosialnya.

Penyelenggaraan pendidikan anak prasekolah telah diatur dalam Undang-Undang Sistem


Pendidikan Nasional (UUSPN) Nomor 2 Tahun 1989 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27
Tahun 1990 tentang Pendidikan anak Prasekolah. Di sahkannya UUSPN tersebut oleh
pemerintah sebagai bentuk kepeduliannya akan arti masa prasekolah (3-6 tahun) yang
merupakan pijakan awal untuk mengenalkan pendidikan kepada anak usia dini.
Lebih dari lima belas tahun konsep pendidikan anak prasekolah berjalan hingga akhirnya
menemukan cara pandang baru tentang pendidikan anak yaitu dengan konsep PAUD pada tahun
2003. Gagasan PAUD pada dasarnya ingin mempertajam kembali konsep pendidikan anak
prasekolah sebagai pandangan awal sesuai dengan konteks jaman.
PAUD menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (SPN) dijelaskan bahwa PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang
ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui
pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani
dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lanjut.
Sederhananya konsep PAUD adalah konsep pendidikan yang ingin menawarkan kepada
masyarakat akan pentinganya karakteristik dan perilaku anak usia dini. Selain itu, juga ingin
berbagi beban dalam menyikapi berbagai persoalan yang biasa muncul dan dihadapi orangtua
baik di sekolah maupun di rumah berkaitan dengan gangguan belajar yang dialami anak
usia dini.

Top of Form
Cari
Go

Bottom of Form

• Beranda
• BukuKecil
• DotCard
• FlashCard
• Visi dan Misi
• Ebook
• Forum
Aneka Permainan dan Manfaatnya bagi si Batita
admin March 16th, 2009
Pilihlah sarana bermain yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak batita. Perhatikan pula
aspek-aspek kebersihan dan keamanannya.
Dunia anak usia batita memang dunia bermain. Boleh dibilang sepanjang waktu mereka diisi
hanya dengan bermain, kecuali saat tidur. Baik bermain menggunakan alat dengan berbagai
bentuk dan ukuran, maupun tidak. Si anak menggunakan tubuhnya sendiri sebagai alat bermain
untuk berlari, meloncat-loncat, merangkak, dan sebagainya. Bisa dibilang tak ada tempat yang
tidak bisa dijadikan tempat bermain baginya. Entah yang outdoor maupun indoor. Tari Sandjojo,
Psi., dari Cikal Jakarta memaparkan aneka jenis sarana bermain yang bisa sesuai bagi anak
batita. Tentu saja lengkap dengan manfaatnya bagi berbagai aspek perkembangan anak.
Perosotan
Anak bisa menikmati sensasi ketinggian, terlebih saat ia berada di puncak perosotan dan siap
meluncur. Belum lagi merasakan bagaimana tubuhnya terasa melayang kala meluncur ke bawah
hingga akhirnya mendarat di ujung perosotan. Sebelum meluncur pun anak harus menjalani
proses naik tangga. Motorik kasar anak benar-benar teruji, termasuk bagaimana menjaga
keseimbangan tubuhnya saat menapaki anak tangga.
Selain itu, anak juga belajar mengenai peraturan. Di antaranya mesti tertib bergiliran naik satu
per satu dan tidak boleh naik dari papan luncurnya agar tidak tertabrak anak lain di atasnya.
Ayunan
Anak akan merasakan kenikmatan tersendiri saat tubuhnya terayun secara kencang atau lambat
maupun tinggi atau rendah dari tempat berpijak. Ia juga jadi belajar mengantisipasi bahaya. Jika
ada yang mengayunnya dari depan atau belakang, misalnya, tentu harus diingatkan karena
tindakan ini justru membahayakan si pengayun. Selain itu anak pun dilatih untuk mempertajam
kemampuan kontrol dirinya agar tidak berayun terlalu cepat dan tidak pula kelewat lamban.
Permainan Pasir
Pilih butiran pasir yang lembut dan halus serta tidak menempel di kulit anak. Dengan dikenalkan
pada permainan pasir, anak akan belajar mengenai tekstur kasar. Begitu juga tentang panas dan
dinginnya pasir, maupun perubahan bentuk saat dicampur air. Bukankah ini berarti mengenalkan
anak pada dunia ilmu pengetahuan, tepatnya belajar IPA secara sederhana.
Tentu saja dalam memilih pasir tersebut orang tua harus hati-hati mengingat material ini dapat
pula menjadi tempat tinggal bagi binatang kecil. Bukan tidak mungkin ada binatang yang bisa
membahayakan atau setidaknya membuatnya takut dan cedera.
Stepping dan Balok Keseimbangan
Imajinasi anak dirangsang melalui permainan ini. Arahkan anak seakan ia harus menyebrangi
sungai yang deras dengan balok itu. Jika cuma berjalan dan berlalu begitu saja di atasnya, yang
didapat anak hanyalah kesempatan melatih motorik dan keseimbangannya saja, tapi bukan
imajinasinya.
Mandi Bola
Lewat permainan ini anak akan mengalami sensasi yang beragam. ”Oh seperti ini ya rasanya
berenang dalam kolam bola. Beda dengan masuk kolam air yang bisa membuatku tenggelam,
terjun ke kolam ini empuk dan tidak membuatku tenggelam. Kalaupun aku tenggelam karena
banyak gerak, aku tetap bisa bernapas, kok.” Belajar mengenai konsep warna dan bentukpun bisa
diperoleh anak di sini. Begitu juga dengan belajar menentukan arah jika anak ingin main lempar
bola.
Main Air
Umumnya anak usia batita hobi main air. Ia masih dikuasai rasa ingin tahu atau keinginan
bereksplorasi, termasuk terhadap air. Meski ada juga yang takut terhadap air karena pernah
mengalami pengalaman tak menyenangkan dengan material ini. Sayangnya, tidak sedikit orang
tua yang justru membentengi rasa ingin tahu anak terhadap air dengan banyak melarang. Semisal
jangan mandi lama-lama, enggak boleh main hujan-hujanan atau becek-becekan, dan sejenisnya.
Padahal menurut Tari, manfaat bermain air itu sendiri cukup banyak. Selain bisa merasakan
adanya sensasi yang menyenangkan, mengapa tidak dioptimalkan dengan mengarahkan anak
untuk mencintai dunia ilmu pengetahuan? Fasilitasi rasa ingin tahunya dan kegemarannya
bermain air dengan menghadirkan wadah dalam berbagai bentuk dan ukuran. Mencampur air
dengan cat air, pasir, atau tepung akan membantu anak menemukan banyak hal baru mengenai
berat jenis, volume, perubahan bentuk, warna, dan sebagainya.
Gorong-gorong/Terowongan
Karena suasana yang dihadirkannya amat berbeda, gorong-gorong memberi sensasi tersendiri
sebagai sarana bermain bagi anak. Saat berada didalamnya anak mendapati suasana yang agak
gelap, sempit, lebih dingin dan membuat suaranya bergema. Anak pun belum bisa menerka-
nerka apa yang bakal ditemuinya di depan sana, di setiap belokan ataupun di mulut gorong-
gorong.
Latihan semacam ini akan meningkatkan kemampuan anak dalam hal antisipasi. Selain
melatihnya mengatasi rasa takut saat menghadapi suasana berbeda. Ini akan menjadi tantangan
tersendiri bagi anak yang ujung-ujungnya akan mengasah kemampuan beradaptasi.
Jala/Jaring
Saat manapaki jala/jaring, sensasi ketinggian juga akan didapat anak sebagai salah satu manfaat.
Manfaat lainnya adalah mengasah ketrampilan motorik, rasa percaya diri, keberanian, maupun
keseimbangan dan koordinasi tubuh.
Tumpangan Bergoyang
Bentuknya bisa bermacam-macam, dari pesawat terbang, tokoh film kartun, mobil, motor,
hewan, atau apa saja. Namun menurut Tari, keinginan batita mencoba permainan ini lebih karena
ketertarikannya pada aneka bentuk yang ada. Sementara dari segi manfaatnya nyaris tidak ada,
selain sensasi saat mainan bergoyang ke kiri dan kanan atau ke depan dan belakang secara teratur
saat dimasukkan koin.

Guna membantu orang tua memilihkan arena bermain yang baik bagi anaknya, Tari memberikan
beberapa saran berikut:
Tips Memilih Arena Bermain

Jangan pernah memilih arena bermain yang sarananya sudah dipenuhi debu dan ditumbuhi
jamur, lumut, apalagi sampai menimbulkan bau tak sedap. ”Sebagai konsumen, kita berhak
bertanya kepada pihak pengelola mengenai sistem perawatan arena bermain tersebut.”
Utamakan Kebersihan

Tari menyayangkan banyaknya pengelola/pemilik arena bermain, baik outdoor maupun indoor,
yang mengabaikan sisi perawatan dan kebersihan. Padahal biasanya keteledoran semacam ini
yang menjadikan tempat bermain umum tidak layak lagi dipergunakan bagi anak.
Idealnya, setelah sekian jam digunakan atau dimanfaatkan oleh sejumlah anak, setiap mainan
harus dibersihkan. Bahkan untuk meminimalkan peluang penularan penyakit tertentu, mainan
juga harus dibersihkan secara berkala menggunakan bahan pembersih yang bisa membunuh
jamur, bakteri, dan kuman.

Pastikan keamanan setiap lekuk dan sudut sarana di tempat bermain yang akan digunakan dapat
diandalkan. Jika kira-kira membahayakan, lebih baik urungkan saja niat mengajak main batita di
tempat tersebut. Begitu juga materi yang mendominasi arena bermain itu. Amati aspek lunak-
kerasnya, licin atau tidak dan tajam atau tidak semua benda yang ada. Termasuk aman tidaknya
cat yang digunakan.
Perhatikan Keamanan

Mengapa hal-hal kecil tadi perlu diperhatikan baik-baik? Tak lain karena pengalaman tidak enak
kala anak terbentur atau terluka akan jauh lebih ”dirasa” daripada manfaat permainan itu sendiri.
Sayang sekali ‘kan, kalau karena pernah cedera anak jadi tak mau mencoba permainan ini-itu
atau tidak lagi terangsang melakukan berbagai eksplorasi hingga potensi/kemampuan anak jadi
tidak terasah.
Kolam mandi bola, contohnya, untuk anak batita idealnya harus dipisahkan dari kolam serupa
untuk anak prasekolah. Mengapa? Sebagian batita, terutama batita awal usia 1-2 tahun, masih
berada di fase oral. Inilah yang membuat mereka seringkali memasukkan bola-bola tersebut ke
dalam mulutnya.
Pertimbangan lain, perkembangan motorik membuat anak prasekolah cenderung ”rusuh” dengan
melompat dan meloncat atau terjun bebas tanpa memperhatikan ada atau tidak orang lain yang
mungkin bakal celaka dengan ulahnya. Di sinilah pentingnya orang tua menyeleksi arena
bermain seperti apa yang dianggapnya layak.

Pilihlah sarana bermain yang merangsang pergerakan otot batita, baik otot-otot kaki, tangan,
maupun seluruh bagian tubuhnya. Jangan lupa perhatikan juga kesesuaian bentuk, ukuran, dan
tingkat kesulitan masing-masing permainan tersebut. Balok keseimbangan, contohnya, pilihkan
yang baloknya relatif lebar dan goyangannya tidak menghentak-hentak. Sedangkan untuk
perosotan idealnya dilengkapi dengan matras atau ”bantalan” pasir yang bisa meredam benturan
saat anak mendarat. Lalu untuk permainan gorong-gorong, pilihkan yang jalan keluarnya
langsung bisa ditemukan anak dengan panjang yang terjangkau.
Cermati Aspek Kesesuaian

Tinggalkan arena bermain yang sudah penuh sesak. Dalam kondisi semacam itu jangan harap
anak bisa memetik manfaat dari aktivitas bermainnya. Begitu juga jika melihat antrian yang amat
panjang hingga harus menunggu cukup lama untuk mendapat giliran. Bisa-bisa si batita bete
duluan sebelum bermain. Padahal salah satu unsur penting bagi anak batita adalah pengalaman
yang menyenangkan. Nah, kalau dia sampai terlalu lama menunggu, kalah berebut kesempatan
dengan anak yang lebih besar, tentu saja permainan tersebut akan menjadi pengalaman tidak
menyenangkan buat si batita. Meski di usia ini anak juga harus mulai diperkenalkan pada konsep
berbagi, tapi tentu bukan dengan cara-cara seperti ini.
Kuota/Kapasitas

Yang dimaksudkan di sini adalah kualitas petugas atau kakak-kakak pendamping yang ada di
lokasi arena bermain. Ini sangat perlu mengingat mereka harus menjaga, membimbing, dan
mengarahkan anak bagaimana harusnya bermain dengan baik dan benar. Jika semua aturan main
bisa dipatuhi, bukan cuma keselamatan dan kenyamanan bermain yang didapat anak, tapi juga
manfaat lain. Semisal, ”O…begini toh caranya menjaga keseimbangan di jalan yang licin.” Atau,
”Supaya bonekanya enggak gampang hancur, aku mesti mencampur tepung ini dengan air.”
Kualitas SDM

Tentu saja agar bisa memainkan perannya sebagai pendamping, jumlah SDM yang bertugas
harus sesuai dengan kapasitas arena permainan itu sendiri. Jangan sampai satu penjaga harus
mengawasi 10 anak yang sedang asyik bermain, contohnya.

sumber: Gazali Solahuddin, Ferdi /nakita
• Buku dan Mainan Anak
• Komentar(0)
Trackback URI | Comments RSS
Punya Komentar?
You must be logged in to post a comment.
• Topik
○ Buku dan Mainan Anak (7)
○ Orang Tua (5)
○ Perilaku Anak (13)
○ Perkembangan Anak (23)
○ Produk Pendukung (2)
• Arsip
○ October 2009 (1)
○ July 2009 (1)
○ June 2009 (1)
○ May 2009 (1)
○ April 2009 (3)
○ March 2009 (5)
○ March 2008 (8)
○ February 2008 (15)
○ January 2008 (15)
BalitaCerdas. © 2010 All rights reserved.
Situs web ini memodifikasi template FallSeason