Anda di halaman 1dari 51

MAKALAH FARMAKOLOGI

KANKER PAYUDARA

DISUSUN OLEH :
Ilmi Hur Hafizah (G1F014008)
Ribka Natalia (G1F014048)
Rahma Ayu Esalia (G1F014068)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kanker terjadi saat sel-sel dalam tubuh membelah diri diluar kendali. Sel-sel abnormal ini
kemudian menyerang jaringan terdekat, atau berpindah ke daerah yang jauh dengan cara masuk
ke dalam pembuluh darah atau sistem limpatik.
Agar tubuh manusia berfungsi secara normal, setiap organ tubuh harus memiliki sejumlah
sel tertentu. Sel-sel ini dalam sebagian besar organ, memiliki usia yang pendek, dan untuk
menjaga fungsi tubuh, sel-sel ini harus digantikan melalui proses pembelahan sel.
Pembelahan sel dikendalikan oleh gen yang terletak pada inti sel. Mereka berfungsi
seperti buku instruksi yang memerintahkan sel, protein apa yang harus dibuat, bagaimana cara
sel membelah dan berapa lama usia mereka. Kode genetik ini bisa rusak akibat beberapa faktor
yang kemudian menimbulkan cacat dalam buku instruksi tersebut. Cacat ini dapat secara
dramatis mengubah fungsi sel. Bukannya berhenti, namun bisa saja sel terus menerus
membelah diri, bukannya mati, sel tersebut bisa saja terus bertahan hidup.
Beberapa mekanisme bekerja untuk mencegah kerusakan genetik ini terjadi dan untuk
menyingkirkan sel abnormal secara genetis dari dalam tubuh. Namun pada beberapa orang,
pertahanan tubuh ini kurang dan populasi sel abnormal bisa saja lolos dari kendali tubuh. Inilah
sel-sel kanker yang kemudian berkerumun dan menghancurkan jaringan tubuh yang
sehat/normal.
Sel-sel kanker membutuhkan nutrisi untuk bertahan dan bertumbuh. Banyak tipe kanker
dapat menstimulasi pertumbuhan pembuluh darah untuk menyediakan bahan makanan yang
mereka butuhkan. Bahkan kata kanker itu sendiri berasal dari bahasa latin Cancri yang berarti
kepiting. Hal ini dikarenakan bentuk pembuluh darah yang besar yang mengelilingi tumor
dianggap berbentuk seperti capit serta kaki-kaki kepiting bagi orang-orang jaman dahulu
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana proses terjadinya kanker payudara?
2. Bagaimana ciri ciri kanker payudara?
3. Bagaiman mekanisme obat dari kanker payudara?

BAB II
PRAVELENSI
Baca secara fonetik diseluruh dunia, kanker payudara terdiri dari 10,4% dari semua
kejadian kanker pada wanita, sehingga jenis yang paling umum kanker non-kulit pada wanita dan
menjadi penyebab paling umum kelima kematian kanker. Pada tahun 2004, kanker payudara
menyebabkan 519.000 kematian di seluruh dunia (7% dari kematian kanker; hampir 1% dari
semua kematian).
Kanker payudara adalah sekitar 100 kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan
laki-laki, meskipun laki-laki cenderung memiliki hasil yang lebih buruk akibat tertundanya
diagnosis. Di seluruh dunia, kanker payudara terdiri dari 10,4% dari seluruh kanker kejadian
pada wanita, membuatnya menjadi jenis yang paling umum dari kanker non-kulit pada wanita
dan menjadi penyebab paling umum kelima kematian kanker. Pada tahun 2004, kanker payudara
yang diakibatkan 519.000 kematian di seluruh dunia 7% kematian kanker; 1% dari seluruh
kematian. (Nocholas L.,dkk, 1982)

BAB III
ISI
A. PEMBAHASAN
1. Proses terjadinya kanker payudara
Di dalam payudara wanita, 15 sampai 20 bagian yang disebut lobus. Setiap lobus terdiri
dari bagian yang lebih kecil disebut lobulus. Lobulus memiliki kelompok kelenjar kecil yang
bisa memproduksi susu. Setelah bayi lahir, payudara wanita mengeluarkan susu dari lobulus
melalui tabung tipis yang disebut saluran ke puting. Lemak dan jaringan berserat mengisi ruang
antara lobulus dan saluran. Payudara juga mengandung pembuluh getah bening. Kelompok
kelenjar getah bening yang dekat dengan payudara terletak di ketiak dalam (ketiak), di atas
tulang, dan di dada di belakang tulang dada.ListeRead phonetically
Kanker berawal dari sel, meluas ke jaringan. Jaringan membentuk payudara dan bagian
lainnya. Sel-sel normal tumbuh dan membelah membentuk sel-sel baru sesuai kebutuhan tubuh.
Ketika sel normal menjadi tua atau rusak, kemudian mati, dan sel-sel baru menggantikan tempat
mereka.
Kadang-kadang, proses ini berjalan salah. Sel baru terbentuk ketika tubuh tidak
membutuhkannya, dan tua atau sel yang rusak tidak mati seperti seharusnya. Penumpukan sel-sel
ekstra sering membentuk suatu massa dari jaringan yang disebut benjolan, pertumbuhan, atau
tumor.
Tumor pada payudara bisa jinak (bukan kanker) atau ganas (kanker). Tumor jinak yang
tidak berbahaya sebagai tumor ganas.
Tumor jinak:
1.Jarang menjadi ancaman
2.Dapat dihilangkan dan biasanya tidak tumbuh kembali
3.Tidak menyerang jaringan di sekitar mereka
4.Tidak menyebar ke bagian lain dari tubuh
Tumor ganas:
1.Dapat menjadi ancaman
2.Sering dapat dihilangkan tetapi kadang-kadang tumbuh kembali
3.Dapat menyerang dan merusak organ terdekat dan jaringan
4.Dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh
Sel-sel kanker payudara dapat menyebar dengan melepaskan diri dari tumor asli. Kemudian
memasuki pembuluh darah atau pembuluh getah bening, yang bercabang ke seluruh jaringan dari

tubuh. Sel-sel kanker dapat ditemukan pada kelenjar getah bening dekat payudara. Sel-sel kanker
dapat melampirkan untuk lainnya jaringan dan tumbuh untuk membentuk tumor baru yang dapat
merusak jaringan tersebutListen.Read phoneticallyListe
Pada tahap awal kanker payudara biasanya tidak muncul adanya tanda-tanda atau gejala. Tetapi
ketika tumor semakin membesar, dapat terjadi perubahan yang terlihat atau dirasakan pada
payudara.
Ada beberapa jenis kanker payudara, antara lain:
1.Ductal karsinoma in situ (DCIS)
Ductal karsinoma in situ (DCIS) juga dikenal sebagai karsinoma intraductal adalah jenis kanker
payudara non-invasif yang paling umum. DCIS berarti bahwa sel-sel kanker berada di dalam
saluran tetapi belum menyebar melalui dinding saluran ke dalam payudara di jaringan sekitarnya.
2.Lobular karsinoma in situ
Merupakan lobular neoplasia yang diklasifikasikan sebagai jenis kanker payudara non-invasif.
Kanker ini dimulai dalam kelenjar susu tetapi tidak tumbuh melalui dinding lobulus.
Kebanyakan spesialis kanker payudara berpikir bahwa LCIS sendiri tidak menjadi kanker
invasif, tetapi wanita dengan kondisi ini memiliki resiko yang lebih tinggi dapat menjadi invasif.
3.Invasif (atau infiltratif) karsinoma duktal
Merupakan jenis kanker payudara yang paling umum. Invasif (atau infiltratif) karsinoma duktal
(IDC) dimulai dari sebuah bagian saluran susu dari payudara, menerobos dinding saluran, dan
tumbuh ke dalam jaringan lemak payudara. Pada titik ini, mungkin dapat menyebar (metastasis)
ke bagian lain dari tubuh melalui sistem limfatik dan aliran darah. Sekitar 8 dari 10 kanker
payudara invasif adalah infiltratif karsinoma duktal.
4.Invasif (atau infiltrating) lobular carcinoma
Karsinoma invasif lobular (ILC) mulai di kelenjar susu (lobulus). Seperti IDC, dapat menyebar
(metastasis) ke bagian lain dari tubuh. Sekitar 1 dari 10 payudara invasif kanker adalah ILC.
Lobular carcinoma invasif lebih sulit untuk dideteksi oleh mammogram dari karsinoma duktal
invasif.
Stadium dalam kanker payudara:
1.Stadium 1
Tumor terbatras pada payudara,bebas dari jaringan sekitarnya,tidak ada fiksasi/infiltrasi ke kulit
dan jaringan dibawahnya(otot). Besar tumor 1-2cm.Kelenjar getah bening regional belim teraba.
2.Stadium 2
Sesuai dengam stadium 1 , hanya besar tumor 2,5-5cm dan sudah ada satu beberapa kelenjar
bening aksila yang masih bebas dengfan diameter < 2cm. 3.Stadium IIIA Tumor sudah meluas
dalam payudara (5-10cm) tapi masih bebas disekitarnya, KGB aksila masih bebas satu sama lain.
4.Stadium IIIB Tumor sudah kedalam payudara (5-10cm) fiksasi pada kulit atau dinding dada
dan ada oedema (>1/3 permukaan kulit payudara), ulserasi dan atau nodul satelit, kelenjar getah
bening aksila melekat satu sama lain atau terhadap jaringan disekitarnya. Diameternya > 2,5cm ,
belum ada metastasis jauh.
5.Stadium IV

Tumor seperti pada yang lain, tetapi sudah disertai dengan KGB aksila supra-klavikula dan
metastasis jauh lainnya. (NCI, 2009)
2. Ciri-Ciri Kanker Payudara
Ciri-ciri kanker payudara yang paling umum adalah adanya/timbulnya benjolan di sekitar
payudara, bisa kecil, sedang, atau besar, dapat pula terasa mengganggu atau tidak.
1. Benjolan / Penebalan di Sekitar Payudara

Benjolan di sekitar payudara merupakan salah satu ciri atau tanda paling awal yang harus
diperhatikan. Sebagian wanita memiliki benjolan di daerah ketiak atau sekitar payudara sebagai
tanda awal mereka telah terkena kanker payudara stadium awal.
Walau tidak 100 % benjolan ini menandakan bahwa seseorang terkena kanker, namun setidaknya
harus tetap diwaspadai, mulai dari yang terasa kecil atau yang sudah mengganggu, sebaiknya
langsung berkonsultasi ke dokter terkait.
Untuk membedakan mana benjolan yang kemungkinan besar adalah kanker payudara dan mana
yang tidak, berikut adalah beberapa karakteristiknya.
Tanda Benjolan Yang Kemungkinan Kanker

Benjolan terasa keras

Benjolan ini tidak diskrit; tidak mudah dibedakan

Benjolan tetap di payudara; tidak bergerak

Hanya ada satu benjolan

Tidak ada benjolan yang sama di payudara sebelahnya

Kulit payudara berlesung pipit

Benjolan disertai dengan keluarnya cairan

Benjolan Yang Kemungkinan Kecil Menjadi Kanker

Benjolan lunak

Benjolan diskrit; mudah dibedakan

Benjolan bergerak di payudara

Ada beberapa benjolan payudara

Ada benjolan di payudara sebelahnya.

Benjolan menghilang setelah siklus menstruasi

Selain benjolan, penebalan payudara di bawah ketiak juga wajib diwaspadai dan harus segera
dikonsultasikan kepada dokter terkait.
2. Perubahan Ukuran dan Bentuk Payudara

Perubahan Ukuran
Dari yang sebelumnya besar, 34 hanya menjadi 32 (Contoh dalam ukuran bra)
Perubahan Bentuk

Dari yang sebelumnya mancung, sekarang menjadi tengkulai ke bawah.


Perubahan ukuran dan bentuk ini dapat terjadi pada salah satu payudara, atau kedua-duanya. Jadi
ada baiknya jika diperhatikan perubahan salah satu, atau keduanya dalam hal bentuk dan
ukurannya.
3. Terdapat Kerutan di Sekitar Payudara

Kerutan biasanya dialami oleh orang yang sudah tua, namun tidak halnya jika seseorang
mengalami atau terkena gejala awal kanker payudara, kerutan mungkin saja terdapat di bagian
tertentu di payudara.
Kulit payudara normal
Kulit payudara normal tidak memiliki kerutan, cenderung halus dan permukaan yang rata
(kecuali di daerah puting)
Kerutan Tanda Kanker Payudara
Kerutan tanda kanker payudara ini dapat dirasakan dengan tangan perbedaannya, permukan
kasar dan spesifik di daerah tertentu pada kulit payudara.
Biasanya kerutan ini akan berwarna sedikit hitam dan tidak terlalu besar lingkupnya.
4. Keluarnya Cairan Dari Puting Secara Tiba Tiba

Ketika tanpa sebab yang jelas (tidak sedang menyusui) tiba tiba keluar cairan dari puting, maka
ini adalah salah satu gejala anda terkena kanker payudara.
Cairan putih/bening
Cairan yang keluar dari puting ini dapat berwarna putih dan bening, agak kental atau encer.
Cairan Darah/Kecoklatan
Jika puting mengeluarkan cairan coklat atau bahkan berupa cairan berwarna merah darah, ini
sudah tahap kronis. Kemungkinan besar ini merupakan gejala awal kanker payudara.
5. Nyeri Tidak Kunjung Hilang Di Bagian Tertentu Payudara

Payudara mungkin saja terasa nyeri ketika seseorang mengalami menstruasi ataupun ketika
sedang hamil. Namun tentu rasa nyeri tersebut dapat hilang seiring dengan selesainya siklus yang
dilalui.
Namun jika rasa nyeri tidak kunjung hilang coba diteliti lagi apakah bagian yang nyeri tersebut
terletak pada posisi yang sama atau tidak. Jika pada bagian yang sama maka akan semakin besar
kemungkinan bahwa itu merupakan gejala kanker payudara yang harus diwaspadai.
Apa yang harus dilakukan pada nyeri tersebut?

Jangan di pencet atau ditempelkan denganminyak pereda nyeri

Segera konsultasikan ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut

Jangan dibiarkan terlalu lama, karena akan sangat berbahaya

6. Payudara Nampak Kemerahan dan Bengkak

Jika seseorang mengalami perubahan drastis dari warna kulit sekitar payudara seperti memerah,
bengkak, atau terlihat gelap di salah satu sisi dan bagian tertentu pada payudara, maka sebaiknya
dikonsultasikan pada dokter spesialis terkait.
Kemerahan
Amati kulit sekitar payudara, lihat apakah ada warna aneh di bagian bawah, atas, atau samping.
Tanda merah ini biasanya akan membawa kehangatan jika di sentuh. Seperti orang pada saat
demam, namun hanya pada daerah tersebut saja.
Bengkak

Selain benjolan ada juga bengkak yang lunak, tidak seperti benjolan yang keras bengkak ini
cenderung lebih lunak sifatnya.
7. Puting Masuk Ke Dalam

Puting susu biasanya akan timbul, kalau pun sedang mengecil setidaknya dia akan sejajar dengan
kulit. Namun keanehan harus diperhatikan ketika ia telah menukik ke dalam dan tidak
sewajarnya.
Apakah puting susu saja ?
Tidak. Semua bagian di payudara yang menukik di dalam harus diwaspadai sebagai gejala
kanker payudara yang patut dilakukan pengecekan lebih lanjut agar tidak menjadi lebih bahaya.
Puting susu yang bersembunyi di dalam dapat terjadi di hanya salah satu bagian saja atau di
kedua bagian sekaligus.

8. Gatal, Bersisik Sakit, dan Ruam di Puting Susu

Faktor lain yang dapat menjadi ciri-ciri penyakit kanker payudara adalah timbulnya gatal yang
tidak terduga di sekitar daerah payudara. Gatal ini dapat terjadi dalam skala kecil dan tidak
terlalu mengganggu sampai yang cukup mengganggu karena sulit hilang serta intensitasnya
sudah sangat tinggi.
Bersisik
Di kulit payudara juga timbul semacam sisik yang cukup mengganggu karena sakit jika
dikelupas atau dipegang. Bersisik pada bagian kulit mana pun tentu harus mendapat treatment
yang lebih karena sewajarnya kulit manusia tidak akan bersisik, terlebih jika terjadi di daerah
payudara.
Ruam
Khusus untuk ruam hanya terjadi di sekitar puting susu, jika terjadi ruam, sebaiknya
berkonsultasi di dokter terkait.

Gejala Lanjut Kanker Payudara


8 Ciri di atas merupakan gejala awal kanker payudara, namun tentu jika kanker sudah menyebar
tentu tidak hanya memberikan efek pada fisik di sekitar payudara tersebut. Berikut adalah tanda
dan efek kanker payudara yang terlambat diketahui atau ketika kanker telah menyebar dan
mempengaruhi bagian lain di tubuh kita.
1. Nyeri tulang
2. Mual
3. Kehilangan nafsu makan

4. Penurunan berat badan


5. Penyakit kuning
6. Penumpukan cairan di sekitar paru-paru (efusi pleura)
7. Sesak napas
8. Sakit kepala hebat dan tidak lekas sembuh
9. Batuk
10. Penglihatan ganda
11. Kelemahan otot

3. Diagnosis Kanker Payudara


Ada beberapa diagnosis kanker payudara yang dapat dilakukan oleh para medis yaitu :
1. Mammogram

Adalah cara paling ampuh untuk mendeteksi kanker payudara, mammogram adalah gambar xray dari payudara untuk mengetahui jaringan yang ada di dalamnya.
Orang-orang yang memerlukan pemeriksaan mammography
1. Wanita berusia 40 tahun keatas. Bila ada riwayat keluarga menderita kanker payudara,
kemungkinan perlu dilakukan pemeriksaan mammography sebelum usia 40 tahun, diskusi hal ini
dengan dokter anda.

2. Wanita yang mempunyai resiko tinggi terkena kanker payudara, wanita yang tidak menyusui,
dan lain - lain

3. Wanita dengan keluhan sebagai berikut :

Benjolan pada payudara dan atau ketiak

Rasa tidak enak atau nyeri pada payudara

Puting susu mengeluarkan cairan atau darah

Pernah mengalami operasi atau biopsy pada payudara

Ada kelainan pada kulit payudara yaitu menjadi seperti kulit jeruk

Puting susu tertarik kedalam

4. Wanita yang akan mendapat terapi sulih hormone


Prosedur mammography

Untuk screening (pasien tanpa keluhan), pemeriksaan dilakukan pada hari ke-7 sampai
hari ke-12 setelah bersih haid. Pasien dengan keluhan dapat segera dilakukan
pemeriksaan, tanpa perlu menunggu bersih haid.

Payudara pasien akan diperiksa untuk melokalisasi benjolan / kelainan.

Pemeriksaan dilakukan di ruang khusus oleh seorang radiografer wanita.

Pasien mengganti bajunya dengan baju yang disediakan oleh rumah sakit.

Lempengan plastik pada alat mammography akan diturunkan perlahan-lahan kearah


payudara untuk mendapatkan tebal dan posisi payudara optimal.

Dilakukan pengambilan gambar pada beberapa posisi

2. Biopsi

Tes biopsi digunakan untuk orang yang diduga menderita kanker payudara, tes ini dilakukan
untuk menindaklanjuti hasil screening dan gejala yang mereka rasakan untuk mengetahui apakah
ada kanker payudara atau tidak dan untuk menindaklanjutinya.
Pengertian biopsy

Biopsi adalah pengambilan sejumlah kecil jaringan dari tubuh manusia untuk pemeriksaan
patologis mikroskopik. Dari bahasa latin bios:hidup dan opsi: tampilan. Jadi secara umum biopsi
adalah pengangkatan sejumlah jaringan tubuh yang kemudian akan dikirim ke laboratorium
untuk diperiksa. Biopsi kebanyakan dlakukan untuk mengetahui adanya kanker. Bagian apapun
dari tubuh, seperti kulit, organ tubuh maupun benjolan dapat diperiksa. X-ray, CT scan ataupun
ultrasound dapat dilakukan terlebih dahulu untuk mengalokasikan area biopsi. Biopsi dapat
dilakukan juga dengan proses pembedahan. Dengan demikian biopsi adalah pemeriksaan
penunjang untuk membantu diagnosa dokter bukan untuk terapi kanker kecuali biopsi eksisional
dimana selain pengambilan sampel juga mengangkat semua massa atau kelainan yang ada.

Tujuan biopsy
1. Mengetahu morfologi tumor

Tipe histologic tumor

Subtipe tumor

Grading sel

2. Radikalitas operasi
3. Staging tumor

Besar specimen dan tumor dalam centimeter

Luas ekstensi tumor

Bentuk tumor

Nodus regional
- Banyak kelenjar limfe yang ditemukan
- Banyak kelenjar limfe yang mengandung metastasis
- Adanya invasi kapsuler
- Metastase ekstranodal

Syarat Biopsi
1. Tidak boleh membuat flap
2. Dilakukan secara tajam
3. Tidak boleh memasang drain
4. Letaknya dibagian tumor yang dicurigai
5. Garis insisi harus memperhatikan rencana terapi definitif (diletakkan dibagian yang akan
diangkat saat operasi definitif)
Kontra indikasi operasi

Biopsi insisional pada tumor kecil yang dapat diangkat secara keseluruhan

Infeksi pada lokasi yang akan dibiopsi (relatif)

Gangguan faal hemostasis berat (relatif)

Biopsi diluar daerah yang direncanakan akan dieksisi saat operasi

Jenis Biopsi
Bentuk yang paling sederhana dari biopsi adalah pengambilan sebagian potongan tumor yang
viable seperti pads kulit atau permukaan lain yang mudah dijangkau dengan tang pemotong yang
sesuai. Prosedur semacam ini umumnya tidak menimbulkan rasa sakit dan biasanya dilakukan
tanpa pemberian Novocain selama kanker tidak disuplai oleh saraf. Namun, kadang diperlukan
biopsi yang melibatkan jaringan sehat serta yang dicurigai sakit untuk mendapatkan sel yang
hidup. Dalam hal ini , tentu diperlukan anastesi lokal. Ada beberapa jenis biopsi yaitu:

Biposi insisional yaitu pengambilan sampel jaringan melalui pemotongan dengan pisau
bedah. Anda akan dibius total atau lokal tergantung lokasi massa, lalu dengan pisau
bedah, kulit disayat hingga menemukan massa dan diambil sedikit untuk diperiksa.

Biopsi eksisional yaitu pengambilan seluruh massa yang dicurigai untuk kemudian
diperiksa di bawah mikroskop. Metode ini dilakukan di bawah bius umum atau lokal
tergantung lokasi massa dan biasanya dilakukan bila massa tumor kecil dan belum ada
metastase atau penyebaran tumor.

Biopsi jarum yaitu pengambilan sampel jaringan atau cairan dengan cara disedot lewat
jarum. Biasanya cara ini dilakukan dengan bius lokal (hanya area sekitar jarum) dan bisa
dilakukan langsung atau dibantu dengan radiologi seperti CT scan atau USG sebagai
panduan bagi dokter untuk membuat jarum mencapai massa atau lokasi yang diinginkan.
Bila biopsi jarum menggunakan jarum berukuran besar maka disebut core biopsi,
sedangkan bila menggunakan jarum kecil atau halus maka disebut fine needle aspiration
biopsi.

Biopsy jarum dengan bantuan endoskopi. Prinsipnya sama yaitu pengambilan sampel
jaringan dengan aspirasi jarum, hanya saja metode ini menggunakan endoskopi sebagai
panduannya. Cara ini baik untuk tumor dalam saluran tubuh seperti saluran pernafasan,
pencernaan dan kandungan. Endoskopi dengan kamera masuk ke dalam saluran menuju
lokasi kanker, lalu dengan jarum diambil sedikit jaringan sebagai sampel.

Punch biopsy. Biopsi ini biasa dilakukan pada kelainan di kulit. Metode ini dilakukan
dengan alat yang ukurannya seperti pensil yang kemudian ditekankan pada kelainan di
kulit, lalu instrument tajam di dalamnya akan mengambil jaringan kulit yang ditekan.
Anda akan dibius lokal saja dan bila pengambilan kulit tidak besar maka tidak perlu
dijahit.

Jaringan yang diperoleh dari hasil biopsi difiksasi, dan dikirim untuk pemeriksaan patologi dan
atau imunohistokimia. Tujuan pemeriksaan patologi ini adalah untuk menentukan apakah lesi
tersebut ganas atau jinak, dan membedakan jenis histologisnya. Pada beberapa keadaan, biopsi
dari kelenjar getah bening menentukan staging dari keganasan. Tepi dari specimen (pada biopsi
eksisional) juga diperiksa untuk mengetahui apakah seluruh lesi sudah terangkat (tepi bebas dari
infiltrasi tumor)
Satu jenis biopsi khusus yang dapat mengetahui sitologi dari lesi adalah FNAB (fine needle
aspiration biopsy). Untuk beberapa jenis keganasan, sensitifitas dan spesifisitas FNAB sama atau
lebih
baik
dari
biopsi
konvensional
Persiapan Biopsi

Selama 1 minggu sebelumnya Anda harus menghentikan segala macam konsumsi obat
yang membuat pembekuan darah terganggu seperti aspirin, Coumadin dan nonsteroidal
anti-inflammatory Drugs (NSAIDs).

Konsultasikan pada dokter apakah Anda harus tetap menkonsumsi obat-obatan yang
diresepkan untuk Anda

Selama Pemeriksaan

Anda akan dibaringkan di atas meja periksa dengan memakai gaun rumah sakit.

X-ray, CT scan atau ultrasonografi mungkin akan dilakukan terlebih dahulu untuk
menentukan lokasi biopsi.

Lokasi biopsi dibersihkan.

Obat bius dimasukkan ke dalam tubuh. Anda akan merasakan sakit menyengat ringan.

Saat area biopsi sudah terbius, jarum kecil akan dimasukkan ke area yang akan diteliti.

Sebagian jaringan-jaringan atau sel-sel diambil. Dalam beberapa kasus, pembedahan


kecil dapat dilakukan agar jaringan atau benjolan dapat diambil untuk diperiksa.

Beritahu dokter anda jika Anda merasa tidak nyaman.

Setelah itu jarum akan diangkat.

Daerah biopsi akan ditekan lalu akan dipasang kassa kecil. Jika dilakukan pembedahan ,
maka akan dilakukan penjahitan.

Setelah Pemeriksaan

Kemungkinan akan ada memar, rasa tidak nyaman ataupun bengkak di tempat biopsi
dilakukan.

Jika perlu, pakailah obat penghilang rasa sakit yang tidak mengandung aspirin.

Letakkan es batu secukupnya di atas luka untuk mengurangi memar dan bengkak.

Hindari aktivitas berat ataupun mengangkat beban lebih dari 2,5 kg selama 24 jam.
Perlahan-lahan Anda dapat melakukan aktivitas normal kecuali ada pemberitahuan
sebelumnya dari dokter.

Hasil tes akan dikirim langsung ke dokter Anda. Dokter Anda akan memberitahukan
hasilnya kepada Anda.

Lain-lain yang hendaknya diketahui.

Bila anda dibawah pengaruh bius umum, maka tindakan biopsi tidak akan menimbulkan
rasa sakit. Tapi bila biopsi dilakukan dengan bius lokal seperti pada biopsi jarum, maka
anda mungkin akan merasakan sensasi nyeri tajam akibat tusukan jarum sesaat saja.

Biasanya dibutuhkan waktu 2-3 hari, tapi ini tergantung keadaan jaringan dan teknologi
laboratorium yang ada.

Bila hasil biopsi dinyatakan normal, maka tidak ada kelainan atau keganasan pada
jaringan yang diambil. Tapi bila hasil biopsi dinyatakan abnormal, bukan berarti anda
terkena kanker. Hasil abnormal berarti ada kelainan pada jaringan yang bisa berarti jinak
atau ganas jadi tanyakan pada dokter anda intrepetasi yang lengkap. Bila hasil biopsi
anda adalah inconclusive atau tidak dapat disimpulkan, maka kemungkinan sampel
jaringan yang diambil tidak representative dan mungkin biopsi harus diulang.

Bila pengambilan sampel tepat dan pemeriksaan sampel jaringan dilakukan oleh ahlinya,
maka biopsi insisional dan biopsi eksisional hampir 100% tepat. Tetapi khusus untuk
biopsi jarum, maka kemungkinan meleset hanya 2-5 kasus dari 100 kasus kanker. Bila
hasil biopsi jarum meragukan, maka dokter biasanya akan mengambil tindakan biopsi
jaringan.

Efek samping yang mungkin timbul adalah perdarahan, lebam, dan infeksi. Bila anda
mengalami tanda-tanda tersebut segeralah ke dokter.

Menurut penelitian, biopsi jaringan bila dilakukan oleh ahlinya maka kemungkinan
penyebaran sel kanker melalui darah menjadi minimal.

4.

Cara Pencegahan

1.) .Pencegahan primordial


Upaya ini dimaksudkan dengan memberi kondisi pada masyarakat yang memungkinkan penyakit
tidak mendapat dukungan dasar dari kebiasaan, gaya hidup dan faktor risiko lainnya. Upaya
pencegahan ini sangat kompleks dan tidak hanya merupakan upaya dari pihak kesehatan saja,
misalnya menciptakan prakondisi sehingga masyarakat merasa bahwa rokok itu suatu kebiasaan
yang kurang baik, dan mempromosikan program berolahraga secara teratur serta melakukan
salah satu bentuk promosi kesehatan yang ditujukan pada orang yang sehat melalui upaya pola
hidup sehat.
2.).Pencegahan Primer
Pencegahan primer pada kanker payudara dilakukan pada orang yang memiliki resiko untuk
terkena kanker payudara melalui upaya menghindarkan diri dari keterpaparan pada berbagai
faktor resiko. Beberapa cara yang dilakukan adalah :

a. .Perbanyak makan buah dan sayuran berwarna kuning atau hijau karena banyak mengandung
vitamin, seperti beta karoten, vitamin c, mineral, klorofil, dan fitonutrien lainnya yang dapat
melindungi tubuh dari kanker.
b. Kurangi makanan yang mengandung lemak tinggi. Telah banyak bukti yang menunjukan
adanya hubungan makanan tinggi lemak dengan beberapa jenis kanker, dan yang terbanyak
terjadi pada kanker payudara.
c. Konsumsilah makanan yang banyak mengandung serat. Serat akan menyerap zat-zat yang
bersifat karsinogen dan lemak, yang kemudian membawanya keluar dengan feses.
d. Makanlah produk kedelai seperti tahu dan tempe. Kedelai selain mengandung flonoid yang
berguna untuk mencegah kanker, juga mengandung genestein yang berfungsi sebagai estrogen
nabati (fitoestrogen). Estrogen nabati iini akan menempel pada reseptor estrogen sel-sel epitel
saluran kelenjar susu, sehingga akan menghalangi estrogen asli untuk menempel pada saluran
susu yang akan merangsang tumbuhnya sel kanker.
e. Kurangi makan makanan yang diasinkan, dibakar, diasap atau diawetkan dengan nitrit.
Makanan tersebut dapat menghasilkan senyawa kimia yang dapat berubah menjadi karsinogen
aktif.
f. Hindari alkohol dan rokok.
g. Pengontrolan berat badan dengan diet seimbang dan olahraga akan mengurangi resiko terkena
kanker payudara.
h. Upayakan pola hidup yang seimbang seperti menghindari gaya hidup yang sering
mengkonsumsi makanan tinggi lemak, makanan cepat saji dan usahakan olahraga teratur.
i.Hindari stress. Kaum perempuan harus mewaspadai setiap perubahan yang terjadi pada
payudaranya. Untuk mengetahui perubahan-perubahan tersebut, ada cara sederhana yang disebut
SADARI atau periksa payudara sendiri. Pada wanita produktif, SADARI harus dilakukan
sebulan sekali, 5-7 hari setelah haid berakhir, karena saat ini pengaruh hormonal estrogen
progesterone sangat rendah dan jaringan kelenjar payudara saat itu dalam keadaan tidak oedema
sehingga lebih mudah meraba adanya tumor atau kelainan.
3.) Pecegahan Sekunder
Pencegahan sekunder berupa usaha untuk mencegah timbulnya kerusakan lebih lanjut akibat
kanker payudara dengan mengidentifikasi kelompok populasi berisiko tinggi terhadap kanker
payudara, dan deteksi dini pada individu yang tanpa gejala. Deteksi dini dapat dilakukan
dengan :4.) Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah usaha untuk mencegah timbulnya komplikasi kanker payudara.
( Anonim, 2010 ).

5. TERAPI KANKER PAYUDARA

1. Radioterapi, pengobatan pada payudara dan daerah ketiak yang dilakukan dengan
memberikan serangkaian radiasi berdosis ringan untuk membunuh sel kanker. Radiasi dilakukan
untuk membersihkan sisa-sisa sel kanker yang tersisa pasca operasi.
2. Kemoterapi (chemotherapy), pengobatan dengan obat-obatan anti kanker untuk mencegah
pembiakan sel-sel kanker. Bisa dilakukan terpisah ataupun disertai dengan bedah atau
radioterapi. Namun, kemoterapi memiliki efek samping berupa rasa mual, rambut rontok dan
kehilangan tenaga.
3. Terapi hormon, ini adalah upaya pencegahan hormone estrogen memperparah sel kanker yang
ada, dengan cara menyeimbangkan hormon. Seperti diketahui, hormon esterogen merupakan
salah satu faktor yang bertanggung jawab terhadap risiko terjadinya kanker payudara. Pada terapi
hormon terdapat beberapa golongan obat yang digunakan, antara lain adalah golongan
antiesterogen, salah satunya adalah tamoksifen.
4.Terapi antibodi monoklonal (Monoclonal Antibody drug), terapi inovasi baru untuk
mengatasi kanker dengan meningkatkan imunitas tubuh untuk mengatasi perkembangan sel
kanker. Obat-obatan golongan antibodi monoklonal, seperti Rituximab membuat sel kanker akan
lebih dikenali oleh sistem imun, sedangkan Cetuximab bekerja menghambat ikatan antara growth
factor dengan reseptor pada sel. Selain itu, kombinasi obat antibodi monoklonal dengan partikel
radioaktif (terapi radiasi) dapat menghantarkan radiasi langsung tepat sasaran pada sel kanker.
Hal ini digunakan untuk memastikan radiasi tersebut tidak merusak sel yang sehat.

PENGGOLONGAN OBAT PADA KANKER

A. Golongan Alkilator
Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan alkilator yaitu :
1) Mekloretamin
Indikasi :
Penyakit Hodgkin, limfusar, karsinoma mama, dan karsinoma ovarium.
2) Siklofosfamid
Sediaan :
Siklofosfamid tersedia dalam bentuk kristal 100, 200, 500 mg dan 1,2 gram untuk suntikan, dan
tablet 25 dan 50 gram untuk pemberian per oral.
Indikasi :
Leukemia limfositik Kronik, Penyakit Hodgkin, Limfoma non Hodgkin, Mieloma multiple,
Neuro
Blastoma, Tumor Payudara, ovarium, paru, Cerviks, Testis, Jaringan Lunak atau tumor Wilm.
Mekanisme kerja :
Siklofosfamid merupakan pro drug yang dalam tubuh mengalami konversi oleh enzim sitokrom
P-450 menjadi 4-hidroksisiklofosfamid dan aldofosfamid yang merupakan obat aktif.
Aldofosfamid selanjutnya mengalami perubahan non enzimatik menjadi fosforamid dan akrolein.
Efek siklofosfamid dipengaruhi oleh penghambat atau perangsang enzim metabolismenya.
Sebaliknya, siklofosfamid sendiri merupakan perangsang enzim mikrosom, sehingga dapat
mempengaruhi aktivitas obat lain.
3) Melfalan
Indikasi :
Mieloma multipel, kanker payudara, Ovarium.
4) Klorambusil
Sediaan :
Klorambusil tersedia sebagai tablet 2 mg. Untuk leukemia limfositik kronik, limfoma hodgkin
dan non-hodgkin diberikan 1-3 mg/m2/hari sebgai dosis tunggal (pada penyakit hodgkin
mungkin diperlukan dosis 0,2 mg/kg berat badan, sedangkan pada limfoma lain cukup 0,1 mg/kg
berat badan).
Indikasi :
Leukimia limfositik Kronik, Penyakit Hodgkin, dan limfoma non Hodgkin,
Makroglonbulinemia primer.
Mekanisme kerja :
Klorambusil (Leukeran) merupakan mustar nitrogen yang kerjanya paling lambat dan paling
tidak toksik. Obat ini berguna untuk pengobatan paliatif leukemia limfositik kronik dn penyakin
hodgkin (stadium III dan IV), limfoma non-hodgkin, mieloma multipel makroglobulinemia
primer (Waldenstrom), dan dalam kombinasi dengan metotreksat atau daktinomisin pada
karsinoma testis dan ovarium.

5) Trietilenmelamin
Indikasi :
Penyakit Hodgkin, Limfosarkoma, Retinobalstoma, Leukimia kronik, Tumor payudara dan
ovarium.
6) Trietilentriofosforamid
Indikasi :
Penyakit Hofgkin, Limfosarkoma, Retinolblastoma, Tumor payudara dan ovarium.
7) Prokarbazin
Sediaan :
Prokarbazin kapsul berisi 50 mg zat aktif. Dosis oral pada orang dewasa : 100 mg/m2 sehari
sebagai dosis tunggal atau terbagi selama minggu pertama, diikuti pemberian 150-200 mg/m2
sehari selama 3 minggu berikutnya, kemudian dikurangi menjadi 100 mg/m2 sehari sampai
hitung leukosit dibawah 4000/m2 atau respons maksimal dicapai. Dosis harus dikurangi pada
pasien dengan gangguan hati, ginjal dan sumsum tulang.
Indikasi :
Limfoma Hodgkin.
Mekanisme kerja :
Mekanisme kerja belum diketahui, diduga berdasarkan alkilasis asam nukleat. Prokarbazin
bersifat non spesifik terhadap siklus sel. Indikasi primernya ialah untuk pengobatan penyakit
hodgkin stadium IIIB dan IV, terutama dalam kombinasi dengan mekloretamin, vinkristin dan
prednison (regimen MOPP).
8) Busulfan
Indikasi :
Leukimia mielositik kronik.
9) Karmustin
Indikasi :
Penyakit Hodgkin yang refrakter terhadap pengobatan, melanoma malignum, mieloma multipel
(kombinasi dengan prednison).
10) Lomustin
Indikasi :
Karsinoma paru dan Kolorektal, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, dan karsinoma renal.

11) Semustin
Indikasi :
Karsinoma paru lewis, melanoma malignum, tumor otak metastatik, penyakit Hodgkin, limfoma
non-Hodgkin dan neoplasma saluran cerna.

12) Streptozosin
Indikasi :
Karsinoma pankreas.
13) Sisplatin
Indikasi :
Kanker testis, ovarium, buli-buli, esofagus, paru, kolon.
Mekanisme kerja :
Mekanisme kerja pasti dari sisplastin belum diketahui, tapi diduga mirip dengan alkilator.
Tempat ikatan utama adalah N7 pada guanin, namun juga terbentuk ikatan kovalen dengan
adenin dan sitosin.
14) Karboplatin
Sediaan :
Serbuk injeksi 50 mg, 150 mg, 450 mg.
Indikasi :
Kanker ovarium lanjut.
Mekanisme kerja :
Mekanisme pasti masih belum diketahui dengan jelas, namun diperkirakan sama dengan agen
alkilasi. Obat ini membunuh sel pada semua tingkat siklus, menghambat biosintesis DNA dan
mengikat DNA melalui ikatan silang antar untai. Titik ikat utama adalah N7 guanin, namun juga
terjadi interaksi kovalen dengan adenin dan sitosin.
B. Golongan Antimetabolit
Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan antimetabolit yaitu :
1) 5-fluorourasil (5-FU)
Sediaan :
Obat ini tersedia sebagai larutan 50 mg/mL dalam ampul 10 mL untuk IV.
Indikasi :
Kanker payudara, kolon, esofagus, leher dan kepala, Leukimia limfositik dan mielositik akut,
Limfoma non-Hodgkin.

2) 6-azauridin
Indikasi :
Mikosis fungoides, polisitemia vera.
3) Floksuridin
Indikasi :
Leukimia limfostik akut dan kronik, leukimia granulositik akut dan kronik, koriokarsinoma.

4) Fludarabin
Indikasi :
Hairy cell leucemia, leukemia limfositik kronik, limfoma non-Hodgkin sel kecil.
5) Gemsitabin
Sediaan :
Obat ini tersedia dalam bentuk larutan infus 1-1,2 g/m2.
Indikasi :
Kanker paru, pankreas dan ovarium.
Mekanisme kerja :
Sebelum menjadi bahan aktif, gemsitabin mengalami fosforilasi oleh enzim deoksisitidin kinase
dan kemudian oleh nukleosida kinase menjadi nukleotida di- dan trifosfat yang dapat
menghambat sintesis DNA. Gemsitabin difosfat dapat menghambat ribonukleotida reduktase
sehingga menurunkan kadar deoksiribonukleotida trifosfat yang penting untuk sintesis DNA.
6) 6-Merkaptopurin
Sediaan :
Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 50 mg.
Indikasi :
Leukimia limfositik akut dan kronik, leukemia mieloblastik akut dan kronik, kariokarsinoma.
Mekanisme kerja :
Merkaptopurin dimetabolisme oleh hipoxantin-guanin fosforibosil transferase (HGPRT) menjadi
bentuk nukleotida (asam-6-tioinosinat) yang menghambat enzim interkonversi nukleotida purin.
Sejumlah asam tioguanilat dan 6-metilmerkaptopurin ribotida (MMPR) juga dibentuk dari 6merkaptopurin. Metabolit ini juga membantu kerja merkaptopurin. Metabolisme asam nukleat
purin menghambat proliferasi sel limfoid pada stimulasi antigenik.
7) Methotrexat
Sediaan :
Tablet 2,5 mg, vial 5 mg/2ml, vial 50 mg/2ml, ampul 5 mg/ml, vial 50 mg/5ml.
Indikasi :

Leukimia limfositik akut, kariokarsinoma, kanker payudara, leher dan kepala, paru, buli-buli,
Sarkoma osteogenik.
Mekanisme kerja :
Metotreksat adalah antimetabolit folat yang menginhibisi sintesis DNA. Metotreksat berikatan
dengan dihidrofolat reduktase, menghambat pembentukan reduksi folat dan timidilat sintetase,
menghasilkan inhibisi purin dan sintesis asam timidilat. Metotreksat bersifat spesifik untuk fase
S pada siklus sel. Mekanisme kerja metotreksat dalam artritis tidak diketahui, tapi mungkin
mempengaruhi fungsi imun. Dalam psoriasis, metotreksat diduga mempunyai kerja mempercepat
proliferasi sel epitel kulit.
8) Pemetrexed
Indikasi :
Mesotelioma, Kanker paru.
9) Sitarabin
Sediaan :
Vial 100 mg/ml, dan Vial 1 g/10 ml.
Indikasi :
Termasuk zat paling aktif untuk leukemia, juga untuk limphoma, leukemia meningeal, dan
limphoma meningeal. Sedikit digunakan untuk tumor solid.
Mekanisme kerja :
Inhibisi DNA sintesis. Sitosin memasuki sel melalui proses carrier dan harus mengalami
perubahan menjadi senyawa aktifnya : arasitidin trifosfat. Sitosin adalah analog purin dan
bergabung ke dalam DNA, sehingga cara kerja utamanya adalah inhibisi DNA polimerase yang
mengakibatkan penurunan sintesis dan perbaikan DNA. Tingkat toksisitasnya mempunyai
korelasi linear dengan masuknya sitosin ke dalam DNA, bergabungnya DNA dengan sitosin
berpengaruh terhadap aktivitas obat dan toksisitasnya.

C. Golongan Produk Alamiah


Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan Produk Alamiah yaitu :
1) Vinkristin (VCR)
Sediaan :

Tersedia dalam bentuk vial berisi larutan 1, 2, dan 5 mL yang mengandung 1 mg/mL zat aktif
untuk penggunaan IV.
Indikasi :
Leukimia limfositik akut, neuroblastoma, tumor Wilms, Rabdomiosarkoma, limfoma Hodgkin
dan non-Hodgkin.
Mekanisme kerja :
Berikatan dengan tubulin dan inhibisi formasi mikrotubula, menahan sel pada fase metafase
dengan mengganggu spindel mitotik, spesifik untuk fase M dan S. Vinblastin juga
mempengaruhi asam nukleat dan sintesis protein dengan memblok asam glutamat dan
penggunaannya.
2) Vinblastin (VLB)
Sediaan :
Tersedia dalam bentuk vial 10 mg/10 ml.
Indikasi :
Penyakit Hodgkin, limfosarkoma, kariokarsinoma dan tumor payudara.
Mekanisme kerja :
Vinblastin berikatan pada tubulin dan menghambat formasi mikrotubula, kemudian menahan sel
pada fase metafase dengan cara mengganggu spindel mitotik, spesifik untuk fase M dan S.
Vinblastin juga mempengaruhi asam nukleat dan sintesis protein dengan memblok asam
glutamat dan penggunaannya.
3) Paklitaksel
Indikasi :
Kanker ovarium, payudara, paru, buli-buli, leher dan kepala.
Mekanisme kerja :
Obat ini berfungsi sebagai racun spindel dengan cara berikatan dengan mikrotubulus yang
menyebabkan polimerisasi tubulin. Efek ini menyebabkan terhentinya proses mitosis dan
pembelahan sel kanker.
4) Etoposid
Sediaan :
Tersedia dalam bentuk kapsul dan larutan injeksi.
Indikasi :
Kanker testis, paru, payudara, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, leukimia mielositik akut,
sarkoma kaposi.
Mekanisme kerja :
Etoposid bekerja untuk menunda transit sel melalui fase S dan menahan sel pada fase S lambat
atau fase G2 awal. Obat mungkin menginhibisi transport mitokrondia pada level NADH
dehidrogenase atau menginhibisi uptake nukleosida ke sel Hella. Etoposid merupakan inhibitor
topoisomerase II dan menyebabkan rusaknya strand DNA.

5) Irinotekan, Topotekan
Indikasi :
Karsinoma ovarium, karsinoma paru sel kecil, karsinoma kolon.
Mekanisme kerja :
Irinotekan merupakan bahan alami yang berasal dari tanaman Camptotheca acuminata yang
bekerja menghambat topoisomerase I, enzim yang bertanggung jawab dalam proses pemotongan
dan penyambungan kembali rantai tunggal DNA. Hambatan enzim ini menyebabkan kerusakan
DNA.
6) Daktinomisin ( AktinimisinD)
Sediaan :
Tersedia dalam bentuk Injeksi, bubuk untuk rekonstitusi : 0,5 mg (mengandung manitol 20 mg).
Indikasi :
Kariokarsinoma, tumor Wilms, testis, rabdomiosarkoma, sarkoma kaposi
Mekanisme kerja :
Terikat pada posisi guanin pada DNA, mengalami interkalasi antara pasang basa guanin dan
sitosin sehingga menginhibisi sintesis DNA dan RNA serta protein.
7) Antrasiklin : Daunorubisin, Doksorubisin, Mitramisin
Sediaan :
Daunorubisin tersedia dalam bentuk 20 mg daunorubisin hidroklorida dengan mannitol 100 mg.
2 mg/mL (50 mg) daunorubisin dengan 10 : 5 : 1 rasio molar distearofosfatidilkolin : kolesterol :
daunorubisin.
a. Doksorubisin tersedia dalam bentuk vial 10 mg dan 50 mg.
Indikasi :
Leukimia limfositik dan mielositik akut sarkoma jaringan lunak, sarkoma ostiogenik, limfoma
Hodgkin dan non-Hodgkin, leukemia akut, karsinoma payudara, genitourinaria, tiroid, paru,
lambung, neuroblastoma dan sarkoma lain pada anak-anak.
Mekanisme kerja :
Interkalasi dengan DNA, mempengaruhi transkripsi dan replikasi secara langsung. Selain itu,
obat ini juga mampu membentuk kompleks tripartit dengan topoisomerase II dan DNA.
(Topoisomerase II adalah enzim dependen ATP yang terikat pada DNA dan memisahkan untai
DNA dimulai dari 3 fosfat, menyebabkan DNA terpisah dan kemudian menggabungkannya lagi,
fungsi penting dalam replikasi DNA dan repair). Formasi kompleks tripartit dengan antrasiklin
dan etoposid menghambat pengikatan kembali untai DNA rusak, mengakibatkan apoptosis.
Defek ini memungkinkan sel rusak karena obat ini, sementara adanya overekspresi repair DNA
terkait transkripsi menunjukkan resistensi. Antrasiklin juga membentuk radikal bebas dalam
larutan pada jaringan normal dan maligna. Intermediat semikuinon yang dihasilkan dapat
bereaksi dengan oksigen membentuk radikal anion superoksida yang membentuk radikal

hidroksil dan hidrogen peroksida yang menyerang dan mengoksidasi basa DNA
(~kardiotoksisitas). Produksi ini dipicu interaksi antrasiklin dengan besi. Antrasiklin berik atan
dengan membran sel mempengaruhi fluiditasdan transpor ion.
Inhibisi sintesis DNA dan RNA dengan interkalasi antara basa DNA oleh inhibisi topoisomerase
II dan obstruksi sterik. Doksurubisin menginterkalasi pada titik lokal uncoiling dari ikatan
heliks ganda. Meskipun mekanisme aksi yang pasti belum diketahui, mekanismenya diduga
melalui ikatan langsung DNA (interkalasi) dan inhibisi pembentukan DNA (topoisomerase II)
yang selanjutnya memblokade sintesis DNA dan RNA dan fragmentasi DNA. Doksorubisin
merupakan logam khelat yang kuat, komplek logam doksorubisin dapat mengikat DNA dan sel
membran dan menghasilkan radikal bebas yang akan merusak DNA dan membran sel dengan
cepat.
8) Antrasenedion : Mitoksantron
Indikasi :
Leukemia mielositik akut, kanker prostat dan payudara.
Mekanisme kerja :
Obat ini berikatan dengan DNA dan menyebabkan putusnya untaian DNA dengan akibat
terhentinya sintesis DNA dan RNA.
9) Bleomisin
Sediaan :
Bleomisin sulfat terdapat dalam vial berisi 15 unit untuk pemberian IV, IM, atau kadang-kadang
SK atau intraarterial.
Indikasi :
Kanker paru, lambung dan anus karsinoma testis dan serviks, limfoma Hodgkin dan nonHodgkin.
Mekanisme kerja :
Menghambat sintesis DNA, ikatan-ikatan DNA untuk selanjutnya terjadi pemutusan untai
tunggal dan ganda.
10) Mitomisin C
Indikasi :
Kanker lambung.
11) L-asparaginase
Sediaan :
Obat ini tersedian dalam bentuk serbuk untuk Injeksi.
Indikasi :
Leukemia limfositik akut.
Mekanisme kerja :

Asparaginase menghambat sintesis protein melalui hidrolisis asparaginase menjadi asam aspartat
dan amonia. Sel leukimia, terutama limfoblast, memerlukan asparaginase eksogen, sel normal
dapat memproduksi asparaginase. Asparaginase adalah daur spesifik untuk fase G1.
D. Golongan Hormon dan Antagonis
Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan Hormon dan Antagonis yaitu :
1) Prednison
Sediaan :
Obat tersedia dalam bentuk tablet 5 mg dan kaptab 5 mg.
Indikasi :
Leukemia limfositik akut dan kronik, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, tumor payudara.
Mekanisme kerja :
Sebagai glukokortikoid, bersifat menekan sistem imun, anti radang.
2) Hidroksiprogesteron kaproat
Indikasi :
Karsinoma payudara dan endometrium.
3) Medroksiprogesteron asetat
Sediaan :
Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 5 mg, 10 mg, 100 mg.
Indikasi :
Tumor endometrium.
Mekanisme kerja :
Mencegah sekresi gonadotropin pituitari yang akan menghambat maturasi follicular yang
menyebabkan penebalan endometrial.
4) Megestrol asetat
Indikasi :
Tumor endometrium.
5) Dietilstilbestrol
Indikasi :
Karsinoma prostat dan payudara.
6) Etinil estradiol
Sediaan :
Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 0,02 mg, 0,03 mg, 0,05 mg dan 0,5 mg.
Indikasi :

Gejala vasomotor sedang atau parah yang dihubungkan dengan menopause (Tidak ada bukti
bahwa estrogen efektif mengatasi gejala kecemasan atau depresi yang mungkin terjadi selama
atau sebelum menopause, oleh sebab itu tidak boleh diberikan untuk indikasi tersebut).
Hipogonadism pada wanita. Terapi paliatif karsinoma prostat yang tak dapat dioperasi, pada
tahap lanjut terapi paliatif kanker payudara yang tak dapat dioperasi, hanya dilakukan dengan
pertimbangan khusus : misalnya pada wanita yang sudah lebih 5 tahun postmenopause dengan
penyakit yang makin parah dan resisten terhadap radiasi.
7) Tamoksifen
Sediaan :
Tamoksifen tersedia dalam bentuk tablet 10 mg dan 20 mg.
Indikasi :
Tumor payudara.
Mekanisme kerja :
Berikatan secara kompetitif dengan reseptor estrogen pada tumor atau target lain, membentuk
kompleks nuklear yang menurunkan sintesis DNA dan menghambat efek estrogen, agen
nonstreroidal dengan sifat antiestrogenik yang berkompetisi dengan estrogen untuk berikatan di
bagian aktif pada payudara dan jaringan lain, sel terakumulasi pada fase Go dan G1. Sehingga
tamoksifen lebih sifat sitostatik daripada sitosidal.
8) Testosteron propionat
Sediaan :
Obat ini tersedia dalam bentuk kapsul, injeksi, topikal, mucoadhesive, pellet, dan transdermal.
Indikasi :
Tumor payudara.
Mekanisme kerja :
Androgen endogen bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan organ seks pria
dan mempertahankan karakteristik seks sekunder pada pria yang mengalami defisiensi androgen.
9) Flutamid
Indikasi :
Karsinoma prostat.
10) Mitotan, aminoglutetimid
Indikasi :
Karsinoma kortek adrenal, karsinoma payudara.
11) Leuprolid
Indikasi :
Karsinoma prostat.

12) Anastrozol, letrozol, eksemestan


Indikasi :
Karsinoma payudara.
E. Golongan Lain-lain
Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan lain- lain yaitu :
1) Hidroksiurea
Sediaan :
Obat ini tersedia dalam bentuk kapsul 500 mg.
Indikasi :
Leukemia mielositik kronik, melanoma malignum, polisitemia vera, trombositosis esensial.
Mekanisme kerja :
Hidroksi urea mempengaruhi sintesis DNA, selama fase S pada pembelahan sel, tanpa
mempengaruhi sintesis RNA, inhibisi ribonukleosida difosfat reduktase, mencegah konversi
ribonukleotida menjadi deoksribonukleotida, bersifat spesifik untuk fase S pada siklus sel dan
menahan sel lain pada fase G1 siklus sel.
2) Tretinoin
Indikasi :
Leukimia promielositik akut.
3) Imatinib
Indikasi :
Leukemia mielositik kronik, tumor stroma gastrointestinal, sindrom hiper eosinofilia.
4) Gefitinib
Indikasi :
Non small cell lung cancer.
5) Bortezumib
Indikasi :
Mieloma multipel.
6) Interferon alfa, interleukin 2
Indikasi :
Hairy cell leukemia, sarkoma kaposi, melanoma malignum, tumor karsinoid, ginjal, ovarium,
buli-buli, limfoma non-Hodgkin, mycosis fungoides, mieloma multipel, leukemia mielositik
kronik.

2. PRINSIP KEMOTERAPI KANKER

Suatu tumor ganas harus di anggap sebagai sejumlah sel yang seluruhnya harus di basmi.
Perpanjangan hidup pasien berbanding langsung dengan jumlah sel yang berhasil di basmi
dengan pengobatan. Hal-hal di bawah ini yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan
pengobatan :
1. Kanker baru dapat dideteksi bila jumlah sel kanker kira-kira 109. Jumlah yang dapat dibasmi
diperkirakan 99,9 % jadi sel kanker yang tersisa sekurang-kurangnya 106 sel.
2. Adanya hubungan dosis-respon yang jelas.
Berkurangnya sel kanker ternyata berbanding lurus dengan dosis.
3. Diperlukan jadwal pengobatan yang tepat.
Untuk dosis total yang sama, pemberian dosis besar secara intermiten memberikan hasi;l yang
lebih baik dan imunosupresi yang lebih ringan, di bandingkan dengan pemberian dosis kecil
setiap hari.
4. Kemoterapi harus di mulai sedini mungkin.
Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa pada keadaan dini jumlah sel kanker lebih sedikit dan
fraksi sel kanker yang dalam pertumbuhan lebih besar
5. Kemoterapi harus tertuju kepada sel kanker Tanpa menyebabakan ganguan menetap pada
jaringan normal. Obat kanker yang ada pada saat ini umumnya bersifat sitotoksik, baik pada sel
normal maupun sel kanker. Toksisitas terhadap sel normal selalu terjadi. Tetapi kenyataan bahwa
kemoterapi dapat menghasilkan pemulihan jangka panjang pada leukemia limfositik akut
membuktikan bahwa penyembuhan kanker dapat di capai dengan kemoterapi. Sel sistem imun
yang juga rusak akibat kemoterapi menyebabkan infeksi lebih muda terjadi dan juga memberi
peluang untuk pertumbuhan tumor.
6. Sifat pertumbuhan tumor ganas harus menjadi pertimbangan.
Pertumbuhan tumor mengikuti fungsi gompertzian, mula-mula bersifat eksponensial kemudian
bersifat lambat. Apabila populasi tumor dikurangi misalnya dengan radiasi atau penyinaran maka
sel sisa berkembang secara esponensial kembali dan menjadi lebih peka terhadap kemoterapi.
7. Beberapa sitostatik dan hormon memperlihatkan efek selektif relatif terhadap sel dengan tipe
histologik tertentu.
5-fluorourasin lebih efektif terhadap tumor gastrointestinal dari pada terhadap tumor payudara,
dan bleomisin terutama efektif terhadap kanker kulit. Hormon kelamin terutama efektif terhadap
tumor payudara, tumor prostat dan tumor endometrium yang fisiologik dipengaruhi hormon
tersebut.
8. Terapi kombinasi.
Dasar pemberian dua atau lebih anti kanker ialah untuk mendapatkan sinergisme tanpa
menambah toksisitas. Selain meningkatkan indeks terapi, kemoterapi kombinasi mungkin juga
dapat mencegah atau menunda terjadinya resistensi terhadap obat-obat itu. Untuk mencapai hasil
yang baik terapi kombinasi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Masing-masing obat harus memiliki mekanisme kerja yang berbeda.
b. Efek toksik masing-masing obat harus berbeda sehingga dapat diberikan dengan dosis

maksimum yang masih dapat diterima pasien.


c. Masing-masing obat harus diberikan pada masa siklus sel dimana obatnya paling efektif.
PENGGOLONGAN OBAT PADA KANKER PAYUDARA DAN TUMOR PAYUDARA
Jenis Obat Anti Kanker Dan Kemoterapi Kanker
Golongan Alkilator
Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan alkilator yaitu :
1.
Siklofosfamid
Sediaan : Siklofosfamid tersedia dalam bentuk kristal 100, 200, 500 mg dan 1,2 gram untuk
suntikan, dan tablet 25 dan 50 gram untuk pemberian per oral.
Indikasi : Leukemia limfositik Kronik, Penyakit Hodgkin, Limfoma non Hodgkin, Mieloma
multiple, Neuro Blastoma, Tumor Payudara, ovarium, paru, Cerviks, Testis, Jaringan Lunak atau
tumor Wilm.
Mekanisme kerja : Siklofosfamid merupakan pro drug yang dalam tubuh mengalami konversi
oleh enzim sitokrom P-450 menjadi 4-hidroksisiklofosfamid dan aldofosfamid yang merupakan
obat aktif. Aldofosfamid selanjutnya mengalami perubahan non enzimatik menjadi fosforamid
dan akrolein. Efek siklofosfamid dipengaruhi oleh penghambat atau perangsang enzim
metabolismenya. Sebaliknya, siklofosfamid sendiri merupakan perangsang enzim mikrosom,
sehingga dapat mempengaruhi aktivitas obat lain.

Golongan Antimetabolit
Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan antimetabolit yaitu :
1.

5-fluorourasil (5-FU)

Sediaan : Obat ini tersedia sebagai larutan 50 mg/mL dalam ampul 10 mL untuk IV.
Indikasi : Kanker payudara, kolon, esofagus, leher dan kepala, Leukimia limfositik dan
mielositik akut, Limfoma non-Hodgkin.
Target enzim untuk 5-FU ini adalah timidilat sintetase. Perbedaan respon ini berkaitan erat
dengan adanya polimorfisme gen yang bertanggungjawab terhadap ekspresi enzim timidilat
sintetase (TS). Enzim ini sangat penting dalam sintesis DNA yaitu merubah deoksiuridilat
menjadi deoksitimidilat. Diketahui bahwa sekuen promoter dari gen timidilat sintetase bervariasi
pada setiap individu. Ekspresi yang rendah dari mRNA TS berhubungan dengan meningkatnya
kemungkinan sembuh dari penderita kanker yang diobati dengan 5-FU.
2.

Methotrexat

Sediaan : Tablet 2,5 mg, vial 5 mg/2ml, vial 50 mg/2ml, ampul 5 mg/ml, vial 50 mg/5ml.
Indikasi : Leukimia limfositik akut, kariokarsinoma, kanker payudara, leher dan kepala, paru,
buli-buli, Sarkoma osteogenik.
Mekanisme kerja : Metotreksat adalah antimetabolit folat yang menginhibisi sintesis DNA.
Metotreksat berikatan dengan dihidrofolat reduktase, menghambat pembentukan reduksi folat
dan timidilat sintetase, menghasilkan inhibisi purin dan sintesis asam timidilat. Metotreksat
bersifat spesifik untuk fase S pada siklus sel. Mekanisme kerja metotreksat dalam artritis tidak
diketahui, tapi mungkin mempengaruhi fungsi imun. Dalam psoriasis, metotreksat diduga
mempunyai kerja mempercepat proliferasi sel epitel kulit.
Golongan Produk Alamiah
Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan Produk Alamiah yaitu :
1. Vinblastin (VLB)
Sediaan : Tersedia dalam bentuk vial 10 mg/10 ml.
Indikasi : Penyakit Hodgkin, limfosarkoma, kariokarsinoma dan tumor payudara.
Mekanisme kerja : Vinblastin berikatan pada tubulin dan menghambat formasi mikrotubula,
kemudian menahan sel pada fase metafase dengan cara mengganggu spindel mitotik, spesifik
untuk fase M dan S. Vinblastin juga mempengaruhi asam nukleat dan sintesis protein dengan
memblok asam glutamat dan penggunaannya.
2. Paklitaksel
Sediaan : Anzatax (vial), Ebetaxel (vial), Paxus kalbe farma (vial)
Indikasi : Kanker ovarium, payudara, paru, buli-buli, leher dan kepala.
mikrotubulus yang menyebabkan polimerisasi tubulin. Efek ini menyebabkan terhentinya proses
mitosis dan pembelahan sel kanker.
3. Etoposid
Sediaan : Tersedia dalam bentuk kapsul dan larutan injeksi.
Indikasi : Kanker testis, paru, payudara, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, leukimia mielositik
akut, sarkoma kaposi.
Mekanisme kerja : Etoposid bekerja untuk menunda transit sel melalui fase S dan menahan sel
pada fase S lambat atau fase G2 awal. Obat mungkin menginhibisi transport mitokrondia pada
level NADH dehidrogenase atau menginhibisi uptake nukleosida ke sel Hella. Etoposid
merupakan inhibitor topoisomerase II dan menyebabkan rusaknya strand DNA.
4. Antrasiklin : Daunorubisin, Doksorubisin, Mitramisin

Sediaan : Daunorubisin tersedia dalam bentuk 20 mg daunorubisin hidroklorida dengan mannitol


100 mg. 2 mg/mL (50 mg) daunorubisin dengan 10 : 5 : 1 rasio molar distearofosfatidilkolin :
kolesterol : daunorubisin. Doksorubisin tersedia dalam bentuk vial 10 mg dan 50 mg.
Indikasi : Leukimia limfositik dan mielositik akut sarkoma jaringan lunak, sarkoma ostiogenik,
limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, leukemia akut, karsinoma payudara, genitourinaria, tiroid,
paru, lambung, neuroblastoma dan sarkoma lain pada anak-anak.
Mekanisme kerja : Interkalasi dengan DNA, mempengaruhi transkripsi dan replikasi secara
langsung. Selain itu, obat ini juga mampu membentuk kompleks tripartit dengan topoisomerase
II dan DNA. (Topoisomerase II adalah enzim dependen ATP yang terikat pada DNA dan
memisahkan untai DNA dimulai dari 3 fosfat, menyebabkan DNA terpisah dan kemudian
menggabungkannya lagi, fungsi penting dalam replikasi DNA dan repair). Formasi kompleks
tripartit dengan antrasiklin dan etoposid menghambat pengikatan kembali untai DNA rusak,
mengakibatkan apoptosis. Efek ini memungkinkan sel rusak karena obat ini, sementara adanya
overekspresi repair DNA terkait transkripsi menunjukkan resistensi. Antrasiklin juga membentuk
radikal bebas dalam larutan pada jaringan normal dan maligna. Intermediat semikuinon yang
dihasilkan dapat bereaksi dengan oksigen membentuk radikal anion superoksida yang
membentuk radikal hidroksil dan hidrogen peroksida yang menyerang dan mengoksidasi basa
DNA (~kardiotoksisitas). Produksi ini dipicu interaksi antrasiklin dengan besi. Antrasiklin berik
atan dengan membran sel mempengaruhi fluiditasdan transpor ion.
Inhibisi sintesis DNA dan RNA dengan interkalasi antara basa DNA oleh inhibisi
topoisomerase II dan obstruksi sterik. Doksurubisin menginterkalasi pada titik lokal uncoiling
dari ikatan heliks ganda. Meskipun mekanisme aksi yang pasti belum diketahui, mekanismenya
diduga melalui ikatan langsung DNA (interkalasi) dan inhibisi pembentukan DNA
(topoisomerase II) yang selanjutnya memblokade sintesis DNA dan RNA dan fragmentasi DNA.
Doksorubisin merupakan logam khelat yang kuat, komplek logam doksorubisin dapat mengikat
DNA dan sel membran dan menghasilkan radikal bebas yang akan merusak DNA dan membran
sel dengan cepat.
Golongan Hormon dan Antagonis
Jenis-jenis obat yang termasuk dalam golongan Hormon dan Antagonis yaitu :
1. Prednison
Sediaan : Obat tersedia dalam bentuk tablet 5 mg dan kaptab 5 mg.

Indikasi : Leukemia limfositik akut dan kronik, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, tumor
payudara.
Mekanisme kerja : Sebagai glukokortikoid, bersifat menekan sistem imun, anti radang.
2. Tamoksifen
Sediaan : Tamoksifen tersedia dalam bentuk tablet 10 mg dan 20 mg.
Indikasi : Tumor payudara.
Mekanisme kerja : Berikatan secara kompetitif dengan reseptor estrogen pada tumor atau target
lain, membentuk kompleks nuklear yang menurunkan sintesis DNA dan menghambat efek
estrogen, agen nonstreroidal dengan sifat antiestrogenik yang berkompetisi dengan estrogen
untuk berikatan di bagian aktif pada payudara dan jaringan lain, sel terakumulasi pada fase Go
dan G1. Sehingga tamoksifen lebih sifat sitostatik daripada sitosidal.
3. Testosteron propionate
Sediaan : Obat ini tersedia dalam bentuk kapsul, injeksi, topikal, mucoadhesive, pellet, dan
transdermal.
Indikasi : Tumor payudara.
Mekanisme kerja : Androgen endogen bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan
perkembangan organ seks pria dan mempertahankan karakteristik seks sekunder pada pria yang
mengalami defisiensi androgen.
Macam Macam Obat Kemoterapi
Obat kemoterapi ada beberapa macam, diantaranya adalah :
1. Obat golongan Alkylating agent, platinum Compouns, dan Antibiotik Anthrasiklin obst
golongan ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di inti sel, sehingga sel-sel tersebut tidak
bisa melakukan replikasi.
2. Obat golongan Antimetabolit, bekerja langsung pada molekul basa inti sel, yang berakibat
menghambat sintesis DNA.
3. Obat golongan Topoisomerase-inhibitor, Vinca Alkaloid, dan Taxanes bekerja pada gangguan
pembentukan tubulin, sehingga terjadi hambatan mitosis sel.
4. Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan menghambat sintesis protein,
sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA dari sel-sel kanker tersebut.
Mekanisme Kerja Obat Anti Kanker Dan Kemoterapi Kanker

Sebagian besar obat kemoterapi (sitostatika) yang digunakan saat ini bekerja terutama
terhadap sel-sel kanker yang sedang berproliferasi, semakin aktif sel-sel kanker tersebut
berproliferasi maka semakin peka terhadap sitostatika hal ini disebut Kemoresponsif, sebaliknya
semakin lambat prolifersainya maka kepekaannya semakin rendah , hal ini disebut
Kemoresisten.
Pada inti sel, pada waktu sel membelah (mitosis). Makin cepat sel bermitosis, makin
sensitive terhadap kemoterapi. CELL CYCLE PHASE SPECIFIC, yaitu obat yang bekerja pada
sel yang berkembang aktif, jadi harus diberikan secara kontinyu. CELL CYCLE PHASE NON
SPECIFIC, yaitu obat yang bekerja pada sel yang berkembang maupun yang istirahat, jadi dapat
diberikan secara single bolus.
Indikasi Dan Kontraindikasi Obat Anti Kanker Dan Kemoterapi
Indikasi
Persyaratan Pasien yang Layak diberi Kemoterapi :
Pasien dengan keganasan memiliki kondisi dan kelemahan kelemahan, yang apabila
diberikan kemoterapi dapat terjadi untolerable side effect. Sebelum memberikan kemoterapi
perlu pertimbangan sbb :
1.

Menggunakan kriteria Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG) yaitu status

penampilan <= 2
2.

Jumlah lekosit >=3000/ml

3.

Jumlah trombosit>=120.0000/ul

4.

Cadangan sumsum tulang masih adekuat misal Hb > 10

5.

Creatinin Clearence diatas 60 ml/menit (dalam 24 jam) ( Tes Faal Ginjal )

6.

Bilirubin <2 mg/dl. , SGOT dan SGPT dalam batas normal ( Tes Faal Hepar ).

7.

Elektrolit dalam batas normal.

8.

Mengingat toksisitas obat-obat sitostatika sebaiknya tidak diberikan pada usia diatas 70

tahun.
Status Penampilan Penderita Ca ( Performance Status ) Status penampilan ini mengambil
indikator kemampuan pasien, dimana penyait kanker semakin berat pasti akan mempengaruhi
penampilan pasien. Hal ini juga menjadi faktor prognostik dan faktor yang menentukan pilihan
terapi yang tepat pada pasien dengan sesuai status penampilannya.

Kontra Indikasi Kemoterapi


Kontra indkasi absolut:
1.
2.
3.
4.

pada stadium terminal


Kehamilan trimester pertama
Kondisi septikemia dan koma.
Kontra indikasi relatif :
Bayi <>8g/dl, leukosit > 3000/mm

Efek Samping Kemoterapi


Intensitas efek samping tergantung dari karakteristik obat, dosis pada setiap pemberian,
maupun dosis kumulatif, selain itu efek samping yang timbul pada setiap penderita berbeda
walaupun dengan dosis dan obat yang sama, faktor nutrisi dan psikologis juga mempunyai
pengaruh bermakna.
Efek samping yang selalu hampir dijumpai adalah gejala gastrointestinal, supresi sumsum
tulang, kerontokan rambut. Gejala gastrointestinal yang paling utama adalah mual, muntah,
diare, konstipasi, faringitis, esophagitis dan mukositis, mual dan muntah biasanya timbul selang
beberapa lama setelah pemberian sitostatika dan berlangsung tidak melebihi 24 jam.
Gejala supresi sumsum tulang terutama terjadinya penurunan jumlah sel darah putih
(leukopenia), sel trombosit (trombositopenia), dan sel darah merah (anemia), supresi sumsum
tulang belakang akibat pemberian sitistatika dapat terjadi segera atau kemudian, pada supresi
sumsum tulang yang terjadi segera, penurunan kadar leukosit mencapai nilai terendah pada hari
ke-8 sampai hari ke-14, setelah itu diperlukan waktu sekitar 2 hari untuk menaikan kadar
laukositnya kembali. Pada supresi sumsum tulang yang terjadi kemudian penurunan kadar
leukosit terjadi dua kali yaitu pertama-tama pada minggu kedua dan pada sekitar minggu ke
empat dan kelima. Kadar leukosit kemudian naik lagi dan akan mencapai nilai mendekati normal
pada minggu keenam. Leukopenia dapat menurunkan daya tubuh, trombositopenia dapat
mengakibatkan perdarahan yang terus-menerus/ berlabihan bila terjadi erosi pada traktus
gastrointestinal.
Kerontokan rambut dapat bervariasi dari kerontokan ringan dampai pada kebotakan. efek
samping yang jarang terjadi tetapi tidak kalah penting adalah kerusakan otot jantung, sterilitas,

fibrosis paru, kerusakan ginjal, kerusakan hati, sklerosis kulit, reaksi anafilaksis, gangguan
syaraf, gangguan hormonal, dan perubahan genetik yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker
baru.
Kardiomiopati akibat doksorubin dan daunorubisin umumnya sulit diatasi, sebagian besar
penderita meninggal karena pump failure, fibrosis paru umumnya iireversibel, kelainan hati
terjadi biasanya menyulitkan pemberian sitistatika selanjutnya karena banyak diantaranya yang
dimetabolisir dalam hati, efek samping pada kulit, saraf, uterus dan saluran kencing relatif kecil
dan lebih mudah diatasi.
Tergantung jenisnya, Kemoterapi ada yang diberikan setiap hari, seminggu sekali, tiga
minggu sekali, bahkan sebulan sekali. Berapa seri penderita harus menjalani Kemoterapi, juga
tergantung pada jenis kanker penderita. Yang paling ditakuti dari kemoterapi adalah efek
sampingnya. Ada orang yang sama sekali tidak merasakan adanya efek samping Kemoterapi.
Ada yang mengalami efek samping ringan. Tetapi ada juga yang sangat menderita karenanya.
Ada-tidak atau berat-ringannya efek samping kemoterapi tergantung pada banyak hal, antara lain
jenis obat kemoterapi, kondisi tubuh Anda, kondisi psikis Anda, dan sebagainya. Efek samping
Kemoterapi timbul karena obat-obat kemoterapi sangat kuat, dan tidak hanya membunuh sel-sel
kanker, tetapi juga menyerang sel-sel sehat, terutama sel-sel yang membelah dengan cepat.
Karena itu efek samping kemoterapi muncul pada bagian-bagian tubuh yang sel-selnya
membelah dengan cepat. Efek samping dapat muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau
beberapa waktu setelah pengobatan.
Efek samping yang bisa timbul adalah antara lain:
1.
Lemas
Efek samping yang umum timbul. Timbulnya dapat mendadak atau perlahan. Tidak langsung
menghilang dengan istirahat, kadang berlangsung terus hingga akhir pengobatan.
2.
Mual dan Muntah
Ada beberapa obat Kemoterapi yang lebih membuat mual dan muntah. Selain itu ada beberapa
orang yang sangat rentan terhadap mual dan muntah. Hal ini dapat dicegah dengan obat anti
mual yang diberikan sebelum,selama, atau sesudah pengobatan Kemoterapi. Mual muntah dapat
berlangsung singkat ataupun lama.
3.
Gangguan Pencernaan
Beberapa jenis obat Kemoterapi berefek diare. Bahkan ada yang menjadi diare disertai dehidrasi
berat yang harus dirawat. Sembelit kadang bisa terjadi. Bila diare: kurangi makanan berserat,

sereal, buah dan sayur. Minum banyak untuk mengganti cairan yang hilang. Bila susah BAB:
perbanyak makanan berserat, olahraga ringan bila memungkinkan.
4.
Rambut Rontok
Kerontokan rambut bersifat sementara, biasanya terjadi dua atau tiga minggu setelah kemoterapi
dimulai. Dapat juga menyebabkan rambut patah di dekat kulit kepala. Dapat terjadi setelah
beberapa minggu terapi. Rambut dapat tumbuh lagi setelah kemoterapi selesai.
5.
Otot dan Saraf
Beberapa obat kemoterapi menyebabkan kesemutan dan mati rasa pada jari tangan atau kaki
serta kelemahan pada otot kaki. Sebagian bisa terjadi sakit pada otot.
6.
Perdarahan
Keping darah (trombosit) berperan pada proses pembekuan darah. Penurunan jumlah trombosit
mengakibatkan perdarahan sulit berhenti, lebam, bercak merah di kulit.
7. Anemia
Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah yang ditandai oleh penurunan Hb
(hemoglobin). Karena Hb letaknya di dalam sel darah merah. Akibat anemia adalah seorang
menjadi merasa lemah, mudah lelah dan tampak pucat.
8.
Kulit dapat menjadi kering dan berubah warna
Lebih sensitive terhadap matahari. Kuku tumbuh lebih lambat dan terdapat garis putih melintang.
Setiap obat memiliki efek samping yang berbeda! Reaksi tiap orang pada tiap siklus
juga berbeda! Tetapi Anda tidak perlu takut. Bersamaan dengan kemoterapi, biasanya dokter
memberikan juga obat-obat untuk menekan efek sampingnya seminimal mungkin. Lagi pula
semua efek samping itu bersifat sementara. Begitu kemoterapi dihentikan, kondisi Anda akan
pulih seperti semula.
Beberapa produk suplemen makanan mengklaim bisa mengurangi efek samping
kemoterapi sekaligus membangun kembali kondisi tubuh Anda. Anda bisa menggunakannya,
tetapi konsultasikanlah dengan ahlinya, dan sudah tentu dengan dokter Anda juga.
Saat ini, dengan semakin maraknya penggunaan obat-obatan herbal (yang semakin
diterima kalangan kedokteran), banyak klinik yang mengaku bisa memberikan kemoterapi herbal
yang bebas efek samping. Kalau Anda bermaksud menggunakannya, pastikan yang menangani
Anda di klinik tersebut adalah seorang dokter medis. Paling tidak Anda harus berkonsultasi
dengan dokter yang merawat Anda, dan lakukan pemeriksaan laboratorium secara teratur untuk
memantau hasilnya.
Cara mengatasi efek samping Kemoterapi
5. Pemberian anti mual dan muntah
6. Saat merasa mual duduk ditempat yang segar

7. Makan makanan tinggi kadar protein dan karbohidrat (sereal, bakso, puding, susu,
roti panggang, sup, yoghurt, keju, susu kental, kurma, kacang, dll)
8. Lakukan perawatan mulut dengan menggosok gigi sebelum tidur dan setelah
makan. Bila tidak dapat menggosok gigi karena gusi berdarah, gunakan
pembersih mulut
9. Berikan pelembab bibir sesuai kebutuhan
10. Hindari rokok, makanan pedas dan air es.
Dalam beberapa penelitian kemoterapi mampu menekan jumlah kematian penderita
kanker tahap dini, namun bagi penderita kanker tahap akhir / metastase, tindakan kemoterapi
hanya mampu menunda kematian atau memperpanjang usia hidup pasien untuk sementara
waktu. Bagaimanapun manusia hanya bisa berharap sedangkan kejadian akhir hanyalah Tuhan
yang menentukan.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
a. Tabel Obat kanker
O GOLONGAN
CONTOH
No. OBAT

MEKANISME KERJA

1.

ALKILATOR

Siklofosfamid,
Klorambusil,
Prokarbazin,
Karboplatin, Aziridin

Menghambat sintesa DNA


dengan menukar gugus
alkali sehingga membentuk
ikatan silang DNA,
Mengganggu fungsi sel
dengan melakukan transfer
gugus alkali pada gugus
amino, karboksil, sulfhidril,
atau fosfat

2.

ANTIMETABO
LIT

5-fluorourasil (5-FU),
Gemsitabin, 6Merkaptopurin,
Methotrexat, Sitarabin

Menghambat enzym-enzym
asam nukleat efek lebih
toksis pada sel-sel yang
sedang berproliferasi,
Menghambat mitosis
( Spindle poisons )
mempengaruhi
mikrotubulus yang berperan
dalam proses mitosis.

3.

PRODUK

Vinkristin (VCR),

Golongan ini menghambat

KETERA
NGAN
LAINLAIN

4.

ALAMIAH

Vinblastin (VLB),
Paklitaksel, Etoposid,
Irinotekan, Topotekan,
Daktinomisin
( AktinimisinD),
Antrasiklin :
Daunorubisin,
Doksorubisin,
Mitramisin, Bleomisin

sintesa asam nukleat.


Beberapa antimetabolit
memiliki struktur analog
dengan molekul normal sel
yang diperlukan untuk
pembelahan sel, beberapa
yang lain menghambat
enzim yang penting untuk
pembelahan. Secara umum
aktifitasnya meningkat pada
sel yang membelah cepat.

HORMON
DAN
ANTAGONIS

Prednison,
Medroksiprogesteron
asetat, Etinil estradiol,
Tamoksifen,
Testosteron
propionate

bat ini memiliki selektifitas


relatif untuk jaringan tumor
dan toksisitasnya relatif
rendah. Obat ini dapat
menyerang sel tertentu
secara langsung, dan dapat
pula digabungkan dengan
zat radioaktif atau
kemoterapi tertentu.

b. Obat Kanker Payudara


No

1.

Golongan Obat

Alkilator

Contoh

Siklofosfamid

Mekanisme

Siklofosfamid merupakan
pro drug yang dalam tubuh
mengalami konversi oleh
enzim sitokrom P-450
menjadi 4hidroksisiklofosfamid dan
aldofosfamid yang
merupakan obat aktif.
Aldofosfamid selanjutnya

Keteranga
n lain lain

mengalami perubahan non


enzimatik menjadi
fosforamid dan akrolein.
Efek siklofosfamid
dipengaruhi oleh
penghambat atau
perangsang enzim
metabolismenya.
Sebaliknya, siklofosfamid
sendiri merupakan
perangsang enzim
mikrosom, sehingga dapat
mempengaruhi aktivitas
obat lain.

2.

Golongan Anti
Metabolisme

5-fluorourasil (5-FU)

Target enzim untuk 5-FU ini


adalah timidilat sintetase.
Perbedaan

respon

berkaitan

erat

ini

dengan

adanya polimorfisme gen


yang

bertanggungjawab

terhadap

ekspresi

enzim

timidilat

sintetase

(TS).

Enzim ini sangat penting


dalam sintesis DNA yaitu
merubah

deoksiuridilat

menjadi

deoksitimidilat.

Diketahui

bahwa

sekuen

promoter dari gen timidilat


sintetase
setiap

bervariasi

individu.

pada

Ekspresi

yang rendah dari mRNA TS


berhubungan

dengan

meningkatnya kemungkinan

sembuh

dari

penderita

kanker yang diobati dengan


5-FU.

Methotexrat

3.

Produk Alamiah

Paklitaksel

(replikasi DNA terhambat)


Metotreksat adalah
antimetabolit folat yang
menginhibisi sintesis DNA.
Metotreksat berikatan
dengan dihidrofolat
reduktase, menghambat
pembentukan reduksi folat
dan timidilat sintetase,
menghasilkan inhibisi purin
dan sintesis asam timidilat.
Metotreksat bersifat spesifik
untuk fase S pada siklus sel.
Mekanisme kerja
metotreksat dalam artritis
tidak diketahui, tapi
mungkin mempengaruhi
fungsi imun. Dalam
psoriasis, metotreksat
diduga mempunyai kerja
mempercepat proliferasi sel
epitel kulit (sintetis DNA
terhambat)
Etoposid bekerja untuk
menunda transit sel melalui
fase S dan menahan sel
pada fase S lambat atau fase
G2 awal. Obat mungkin
menginhibisi
mitokrondia

transport
pada

level

NADH dehidrogenase atau


menginhibisi

uptake

nukleosida ke sel Hella.

Etoposid

merupakan

inhibitor topoisomerase II
dan menyebabkan rusaknya
strand DNA.

4.

Hormon dan
Antagonis

Tamoksifen

Berikatan secara kompetitif


dengan reseptor estrogen
pada tumor atau target lain,
membentuk kompleks
nuklear yang menurunkan
sintesis DNA dan
menghambat efek estrogen,
agen nonstreroidal dengan
sifat antiestrogenik yang
berkompetisi dengan
estrogen untuk berikatan di
bagian aktif pada payudara
dan jaringan lain, sel
terakumulasi pada fase Go
dan G1. (berkompetisi
dengan estrogen untuk
berikatan di bagian aktif
pada payudara)

BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2010. Level of prevention.http://gwxy.sysu.edu.cn/lxbx/english/ epidemiologic
%20knowledge/Selected%20Disease%20Concepts%20in%20Epidemiology/Concepts.html.
diakses tanggal 9 April 2015
Lippman, Marc E. 2009. Breast Cancer. http://www.cancermonthly. Diakses pada tanggal 9 April
2015
National Cancer Institute. 2009. What You Need To Know About Breast Cancer.
http://www.cancer.gov. Diakses pada tanggal 9 April 2015
Nocholas L., Ernster, Virginia., King, Mary-Claire. 1982. Cancer Epidemiology and Prevention.
Canada :W.B. Saunders Company.
http://www.kalbemed.com/Products/Drugs/Branded/tabid/245/ID/4556/Tamofen.aspx diakses
tanggal 9 april 2015.