Anda di halaman 1dari 6

A.

Tumbuhan Pegagan
1. Taksonomi tanaman
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Spermathophyta
Classis
: Dycotyledonaee
Ordo
: Umbillates
Familia
: Umbelliferae
Genus
: Centella
Spesies
: Centella asiatica L.Urb

Tanman pegagan
Sumber: Winarto dkk., 2003
2. Deskripsi tanaman
Pegagan tumbuh merayap menutupi tanah, tidak berbatang, tinggi
tanaman antara 10-50 cm, memiliki daun satu helaian yang tersusun
dalam roset akar dan terdiri dari 2-10 helai daun. Daun berwarna hijau,
berbentuk seperti kipas, buah pinggang atau ginjal, permukaan dan
punggungnya licin, tetapi agak melengkung keatas, bergerigi, dan
kadang-kadang berambut, tulang berpusat di pangkal dan tersebar ke
ujung, serta berdiameter 1-7 cm (Winarto dkk., 2003).
Tangkai daun berbentuk seperti pelepah, agak panjang, berukuran
5-15 cm tergantung dari kesuburan tempat tumbuhnya. Sepanjang
tangkai beralur dan dipangkalnya terdapat daun sisik yang sangat
pendek, licin, tidak berbulu, berpadu dengan pangkal tangkai daun
(Winarto dkk., 2003).

Tangkai bunga pegagan sangat pendek, keluar dari ketiak daun,


tersusun dalam karangan seperti payung, berwarn putih sampai merah
muda atau agak kemerah-merahan. Jumlah tangkai bunga antara 1-5.
Bentuk bunga bundar lonjong, cekung, dan runcing ke ujung dengan
ukuran sangat kecil. Kelompok bunga tidak bercuping serta tajuk
berbentuk blat telur dan meruncing ke bagian ujung (Winarto dkk.,
2003).
Buah pegagan berukuran kecil, panjang 2-2,5 mm, lebar 7 mm,
berbentuk lonjong atau pipih, menggantung, bunya wangi, rasanya pahit,
berdinding agak tebal, kulit keras, berlekuk dua, berusuk jelas, dan
berwarna kuning. Sementara itu, akarnya rimpang dengan banyak
stolon(akar membentuk rumpun), berkelopok dan lama kelamaan meluas
hingga menutupi tanah, merayap, dan berbuku-buku. Akar keluar dari
buku-buku tersebut dan tumbuh menjurus kebawah atau masuk kedalam
tanah. Akar berwarna agak kemerah-merahan. Perkembangbiakan pegaan
bisa dari stolon atau bisa pula dengan biji (Winarto dkk., 2003).
3. Kandungan kimia dan efek farmakologis
Pegagan memiliki kandungan zat kimia yang bermanfaat bagi
manusia. Berbagai kandungan kimia yang sudah diketahui antara lain
triterpenoid acid, minyak atsiri, alkaloid, glikosida, flavonoid, dan
beberapa senyawa lain seperti mesoinositol, oligosakarida, centellose,
kaempferol, quercetin, stigmasterol, sitosterol, campesterol, poliacetilen,
karotenoid, vitamin B, dan vitamin C (Jamil et al., 2007).
Efek farmakologis dari pegagan secara tradisional dan secara imiah
sudah lama berkembang. Pegagan telah dikenal sebagai obat untuk

mengobati ulkus peptikum, antikanker dan antitumor, meningkatkan daya


ingat atau memori, neuroprotektif, kardioprotektif, hepatoprotektif,
antioksidan, dan imunostimulan (Jamil et al., 2007).

B. Infeksi Salmonella Typhi


Penyakit infeksi (infectious disease), yang juga dikenal sebagai
communicable disease atau transmissible disease adalah penyakit yang nyata
secara klinik (yaitu, tanda-tanda dan/atau gejala-gejala medis karakteristik
penyakit) yang terjadi akibat dari infeksi, keberadan dan pertumbuhan agen
biologik patogenik pada organisme host individu. Dalam hal tertentu,
penyakit infeksi dapat berlangsung sepanjang waktu. Patogen penginfeksi
meliputi virus, bakteri, jamur, protozoa, parasit multiseluler dan protein yang
menyimpang yang dikenal sebagai prion. Patogen-patogen ini merupakan
penyebab epidemi penyakit, dalam artian bahwa tanpa patogen, tidak ada
epidemi infeksi terjadi (Brooks et al., 2007).
Salmonella Typhi bersifat infeksius untuk manusia. Organisme ini
hampir selalu masuk

melalui rute oral, biasanya bersama makanan atau

minuman yang terkontaminasi. Dosis interaktif rata-rata untuk menimbulkan


infeksi klinis atau subklinis pada manusia adalah 103 organisme Salmonella
Typhi. Beberapa faktor pejamu yang menimbulkan resistensi terhadap infeksi
salmonella ini adalah keasaman lambung, flora mikroba normal usus, dan
kekebalan usus setempat (Brooks et al., 2007).

Salmonella Typhi menyebabkan penyakit demam tifoid. Salmonella


yang tertelan mencapai usus halus, masuk kedalam aliran limfatikdan
kemudian masuk ke aliran darah. Organisme ini dibawa oleh darah ke
berbagai organ termasuk usus. Salmonella bermultiplikasi di jaringan limfoid
usus dan diekstraksi didalam feses. Setelah masa inkubasi selama 10 hari-14
hari, tmbul demam, malaise, sakit kepala, konstipasi, bradikardi, dan mialgia.
Demam meningkat sampai plateu yang tinggi, dan terjadi pembesaran limpa
serta hati. Meski jarang, beberapa kasus terlihat bintik-bintik merah yang
timbul sebentar. Pada demam tifoid ini jumlah sel darah putih akan menurun
(Brooks et al., 2007).

Bab 1 pendahuluan
Salah satu penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan di
Indonesia adalah demam tifoid. Demam tifoid merupakan penyakit infeksi
yang diakibatkan oleh infeksius Salmonella typhi pada usus. Infeksi S. typhi
pada manusia ini disebabkan oleh sistem imunitas tubuh yang mengalami
penurunan aktivitas (defisiensi), sehingga sistem imunitas tubuh tidak mampu
membunuh dan menghancurkan bakteri S.typhi. Hal ini mengakibatkan
S.typhi yang berada didalam peredaran darah dapat bertahan hidup,
berkembang, melakukan invasi serta merusak sel-sel tubuh (Ugrinovic et al.,
2003)
Salah satu cara untuk menangani dan menanggulangi infeksi
salmonellosis dapat dilakukan dengan cara meningkatkan ketahanan tubuh

melalui aktivitas sel fagositik. Hal ini dikarenakan sel fagositik ini memiliki
fungsi yang sama seperti makrofag dan netrofil yang berperan penting dalam
melenyapkan semua agen infeksi yang masuk kedalam tubuh (Tizard, 2000).
Salah satu tanaman obat yang yang dapat meningkatkan ketahanan tubuh
adalah pegagan.
Centella asiatica (C. asiatica.) atau di Indonesia dikenal dengan nama
pegagan telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional baik dalam bentuk
segar, kering maupun yang sudah dalam bentuk ramuan (jamu). Efek
farmakologis dari pegagan secara tradisional dan secara imiah sudah lama
berkembang. Pegagan telah dikenal sebagai obat untuk mengobati ulkus
peptikum, antikanker dan antitumor, meningkatkan daya ingat atau memori,
neuroprotektif,

kardioprotektif,

hepatoprotektif,

antioksidan,

dan

imunostimulan (Jamil et al., 2007).


Suatu penelitian menunjukkan bahwa ekstrak pegagan dengan dosis
500 mg/kgbb dapat meningkatkan kapasitas fagosit makrofag peritoneum
mencit yang telah diinfeksi oleh Salmonella typhi. Dengan adanya
peningkatan fagosit makrofag ini menunjukkan bahwa ekstrak pegagan
memiliki aktivitas sebagai imunostimulan (Besung, 2011)

Tambahan dapus

Winarto W.P., Surbakti Maria. 2003. Khasiat & Manfaat Pegagan :


Tanaman Penambah Daya Ingat. Jakarta. AgroMedia Pustaka
Jmil S.Shakir, Nizami Qudsia, Salam Mehboobus. 2007. Review Article Centella
asiatica. Natural product rediance, Vol. 6(2) page 158-170.
Brooks Geo F., Janet S.Butel, Stephen A.Morse. 2007. Mikrobilogi Kedokteran
Jawetz, Melnick, & Adelberg Edisi 23. Jakarta: EGC
Tizard. 2000. Veterinary Immunology. An Introduction. 6th ed. WB Saundres
Company. Philadelpia. Pp. : 26-34.
Besung I.N.Kerta. 2011. Pengaruh Ekstrak Pegagan (Centella Asiatica) Dalam
Meningkatkan Kapasitas Fagosit Makrofag Peritoneum Mencit Terhadap
Salmonella Typhi. Buletin Veteriner Udayana. ISSN: 2085-2495
Ugrinovic S, Menager N, Goh N, Mastroeni P. 2003. Characterization and
development of T-cell immune responses in B cell Deficient (Igh-6-/-) mice
with Salmonella enterica serovar typhimurium infection. Infect Immun 71 :
6808-6819.