Anda di halaman 1dari 21

LAMPIRAN 1 REVIEW DED IPAL KOMUNAL PT. TSM

A. Perencanaan

A.1 Bentuk dan Dimensi

Gambar dibawah ini merupakan salahsatu contoh konstruksi bak IPAL menggunakan beton bertulang dan pasangan bata.

bak IPAL menggunakan beton bertulang dan pasangan bata. Gambar 2. Contoh konstruksi IPAL Komunal Sumber :

Gambar 2. Contoh konstruksi IPAL Komunal Sumber : dwikusumapu.wordpress.com

Adapun bentuk, dimensi, dan penempatan rencana posisi IPAL adalah sebagai berikut :

Adapun bentuk, dimensi, dan penempatan rencana posisi IPAL adalah sebagai berikut : Gambar 3. Bentuk dan

Gambar 3. Bentuk dan dimensi IPAL

Gambar 4. Posisi IPAL A.2 Data Geoteknik Data geoteknik yang digunakan masih berupa perkiraan (asumsi)

Gambar 4. Posisi IPAL

A.2 Data Geoteknik

Data geoteknik yang digunakan masih berupa perkiraan (asumsi) untuk kondisi tanah di lokasi. Sehingga perlu dilakukan penyelidikan tanah seperti tes Sondir sebelum IPAL ini dibangun, hal ini penting untuk memverifikasi data agar desain rencana benar-benar aman untuk dibangun.

Diketahui :

γ

=

16 kN/m 3

c

=

20 kPa

ϕ

=

5 o

h

=

2,97 m (tinggi tanah galian)

Muka air tanah = 2 m dibawah permukaan tanah

A.3 Perhitungan gaya-gaya

KP RB1 RB2 Dinding bata 3 Dinding bata 2 Dinding beton 1 Dinding bata 1
KP
RB1
RB2
Dinding bata 3
Dinding bata 2
Dinding beton 1
Dinding bata 1
Dinding beton 2

2

Air Limbah 2 Pelat atap
Air Limbah 2
Pelat atap

Air Limbah 2

Pelat lantai
Pelat lantai

Air Limbah 1

BEBAN KONSTRUKSI

Keterangan

panjang

lebar

tinggi

Volume

jumlah

Volume

berat jenis

beban

m

m

m

m3

buah

m3

kN/m3

kN

Dinding Beton 1

2

0.15

2.75

0.83

2

1.65

24

39.6

Dinding Beton 2

13.73

0.15

2.75

5.66

2

11.32725

24

271.854

Dinding batu bata 1 (bak perata)

0.3

0.15

0.72

0.03

4

0.1296

21

2.7216

Dinding batu bata 2 (bak perata)

2

0.15

0.72

0.22

2

0.432

21

9.072

Dinding batu bata 3 (shettler+ABR)

2

0.15

2.75

0.83

11

9.075

21

190.575

RB1

2

0.15

0.15

0.05

13

0.585

24

14.04

RB2

0.3

0.15

0.15

0.01

4

0.027

24

0.648

kolom praktis

0.15

0.15

0.72

0.02

4

0.0648

24

1.5552

pelat lantai

14.63

2.3

0.2

6.73

1

6.7298

24

161.5152

pelat atap

14.63

2.3

0.12

4.04

1

4.03788

24

96.90912

Air Limbah 1 (shettler+ABR)

13.43

2

2.5

58.08

1

58.075

10.3

598.1725

Air Limbah 2 (bak perata)

2

0.3

0.72

0.43

2

0.864

10.3

8.8992

Lain-lain

             

10

 

Total beban konstruksi

 

1405.56

BEBAN GALIAN

Keterangan

panjang

lebar

tinggi

Volume

jumlah

berat jenis

beban

m

m

m

m3

buah

kN/m3

kN

Tanah

2.3

14.63

2.97

99.94

1

16

1599.00

A.3.1 Tinjauan gaya vertikal

Beban tambahan untuk tanah pada kedalaman 2,97 m dapat dihitung dari selisih berat konstruksi baru dengan berat tanah yang digali.

Selisih berat

= w konstruksi w tanah

= 1405,56 - 1599,00

= -193,44 kN

Dari hasil perhitungan diatas tidak terjadi penambahan beban akibat konstruksi, karena beban konstruksi lebih ringan daripada beban tanah yang digali, sehingga beban konstruksi tidak akan menyebabkan settlement.

Untuk mengetahui daya dukung dibawah area konstruksi, maka perlu dilakukan tinjauan daya dukung tanah dengan asumsi sudut geser adalah 5 o . Koefisien daya dukung tanah disajikan pada Tabel dibawah ini :

Tabel 1. Nilai koefisien daya dukung tanah menurut Terzaghi

Tabel 1. Nilai koefisien daya dukung tanah menurut Terzaghi Q ult = 1,3 c Nc +

Q ult

= 1,3 c Nc + q Nq + 0,4 B γ Nγ

= [1,3 x 20 x 7,3] + [((16 x 1)+(16-9,81 x 1,97)) 1,6] + [0,4 x 2,3 x 16 x 0,5]

= 189,8 + 45,11 + 7,36

= 242,27 kPa

Qall

= Qult/SF

= 242,27/3 = 80,75 kPa

Tegangan vertikal

= w ipal / A

= 1405,56 / (14,63 x 2,3)

= 1405,56 / 33,649

= 41,77 kN/m 2

= 41,77 kPa

Cek keamanan kapasitas tanah,

Safety Factor = Qult/Qkonstruksi = 242,27 / 41,77 kPa = 5,80 …. (Aman)

Konstruksi bak ipal menyerupai struktur pelat untuk fondasi maka dari itu di dalam analisis struktur bak ipal jenis perletakan yang digunakan adalah joint spring karena mempunyai perilaku pelat fleksibel. Penyaluran beban dilakukan dengan cara meshing dengan luasan 1,0 m x 1,0 m.

Pada setiap joint spring pada mesh memiliki daya dukung sebesar koefisien reaksi subgrade (ks)

Gambar 5. Skema pembebanan fondasi fleksibel Tabel 2. Kisaran nilai koefisien rekasi subgrade atau spring

Gambar 5. Skema pembebanan fondasi fleksibel

Tabel 2. Kisaran nilai koefisien rekasi subgrade atau spring constraint (ks) (Bowles,

1997)

Jenis Tanah

K s (kN/m 3 )

Loose sand

4800

16000

Medium dense sand

9600

80000

Dense sand

64000

128000

Clayey medium dense sand

32000

80000

Silty medium dense sand

24000

48000

Clayey soil :

 

Qa < 200 kPa

12000

24000

200 < qa < 800 kPa

24000

48000

Qa > 800 kPa

>48000

Untuk pendekatan nilai ks Bowles (1997) menyarankan nilai ks ditentukan dari kapasitas dukung ijin tanah (qa) dengan rumus, ks = 40 x SF x qa ; jika faktor aman (SF) diambil 3 maka nilai ks= 120 qa

Berdasarkan perhitungan sebelumnya diketahui qa = 80,75 kPa. Sehingga nilai Ks adalah 40 x 3 x 80,75 = 9690 kN/m 3

Nilai ks pada masing-masing joint pada elemen mesh 1,0 m x 1,0 m :

Pada joit tengah = 9690 x 1 = 9690 kN/m

Pada joint tepi = 0.5 x 9690 x 1 = 4845 kN/m

Pada joint ujung pelat = 0,25 x 9690 = 2422,5 kN/m

tengah Ujung tepi pelat
tengah
Ujung
tepi
pelat

Gambar 6. Sketsa meshing pelat untuk penentuan joint spring

A.3.2 Tinjauan Gaya Lateral

Gaya lateral dihitung dengan tinjauan per 1 m panjang dari struktur bak Ipal. Dengan keadaan tanah homogen sampai kedalaman ± 2,97 m (dasar bak ipal).

K a = tan 2 (45 – ϕ/2) = tan 2 (45 5/2) = 0,621

K p = tan 2 (45 + ϕ/2) = tan 2 (45 + 5/2) = 0,854

Tekanan Lateral aktif (P a )

= h 1 x γ x Ka

= 2,97 x (16-9,81) x 0,621

= 29,509 kN/m

Tekanan hidrostatis (P h ) = h 1 x γlimbah

= 2,75 x 10,3

= 28,325 kN/m

Tekanan akibat kohesi (P ac ) = 2 c (Kp)^ 0,5

= 2 x 5 (0,854) ^ 0,5

= 9,24kN/m

Nilai-nilai gaya tekanan lateral nanti akan dijadikan sebagai input beban dalam perencanaan struktur.

A.4 Perhitungan Struktur

A.4.1 Material Struktur

Struktur bak ipal didesain dengan menggunakan bahan beton bertulang dengan

mutu dan persyaratan sesuai dengan standar peraturan yang ada sebagai

berikut :

Beton

Beton yang diisyaratkan, fc’

Modulus elastisitas beton

Angka poison, υ

Modulus elastisitas geser

Pasangan Bata

Beton yang diisyaratkan, fc’

Modulus elastisitas beton

Angka poison, υ

Modulus elastisitas geser

= 20 MPa (K-250)

= 4700 √fc’= 4700 √20,75=21410 MPa

= 0,2

= Ec/[2(1+υ)] =8920,83 MPa

= 3,71 MPa

= 4700 √fc’= 2040,5 MPa

= 0,2

= Ec/[2(1+υ)] =784,81 MPa

Baja Tulangan

Diameter ≤ 12 mm menggunakan baja tulangan polos BJTP 24 dengan fy =

240 MPa

A.4.2 Pembebanan

-Beban mati

Beban mati akibat elemen struktur dihitung secara otomatis oleh program SAP 2000 dengan berat volume 2400 kg/m 3 . Kemudian beban mati tambahan berupa beban air limbah itu sendiri dengan berat volume 1300 kg/m 3 .

Selain dari itu beban lateral tanah juga termasuk beban mati , yang telah dihitung sebelumnya menjadi beban segitiga

mati , yang telah dihitung sebelumnya menjadi beban segitiga Gambar 7. Input beban lateral -Beban Gempa

Gambar 7. Input beban lateral

-Beban Gempa

Beban tergantung pada lokasi konstruksi berada, dalam perencanaan ini lokasi

berada di Kota Jakarta yang termasuk area gempa dengan percepatan puncak

dasar di batuan dasar 0,3 0,4 g.

yang termasuk area gempa dengan percepatan puncak dasar di batuan dasar 0,3 – 0,4 g. Gambar

Gambar 8. Peta zonasi gempa

Kondisi tanah di lokasi rencana IPAL ternasuk ke dalam kategori tanah sedang.

Untuk tanah lunak,

Percepatan puncak di batuan dasar

(PGA)

= 0.348 g

Percepatan batuan dasar pada perioda pendek (SD s )

= 0.607 g

Percepatan batuan dasar pada perioda 1 detik (SD 1 )

= 0.548 g

batuan dasar pada perioda 1 detik (SD 1 ) = 0.548 g Gambar 8. Diagram percepatan

Gambar 8. Diagram percepatan spektral untuk wilayah Jakarta

Gambar 8. Diagram percepatan spektral untuk wilayah Jakarta Gambar 9. Response Spectrum Functional Definition pada SAP

Gambar 9. Response Spectrum Functional Definition pada SAP 2000

IPAL komunal difungsikan sebagai fasilitas umum, maka Faktor keutamaan

struktur, I = 1,0 dan untuk Dinding geser beton bertulang biasa, faktor modifikasi

respon struktur R = 4

A.4.3 Kombinasi Pembebanan

Struktur bangunan dirancang mampu menahan beban mati, hidup dan beban

gempa yang seuai sesuai dengan peraturan SNI Gempa 1726:2012 Pasal 4.1.1

diman gempa rencana yang ditetapkan mempunyai periode ulang 2500 tahunan,

sehingga probabiltas terjadimya terbatas 2 % selama umur gedung 50 tahun.

Kombinasi pembebanan yang digunakan mengacu pada SNI Beton 03-2847-

2002 Pasal 11.2 sebagai berikut :

1. 1,0 D

2. 1,4 D

3. 1,2 D + 1,0 Ex + 0,3 Ey

4. 1,2 D + 0,3 Ex + 1,0 Ey

Keterangan :

D = beban mati (dead load), meliputi berat sendiri gedung (self weight, SW)

dan beban mati tambahan (superimposed dead load, D),

E = beban gempa (earthquake load)

A.4.4 Pemodelan Struktur Pemodelan struktur dilakukan dengan secara 3D dengan menggamabar semua elemen pelat. Untuk elemen lainnya dijadikan input pembebanan. Hasil dari pemodelan ini adalah untuk memeriksa gaya-gaya dalam seperti momen, gaya aksial, gaya geser, dan displacement.

gaya-gaya dalam seperti momen, gaya aksial, gaya geser, dan displacement. Gambar 10. Pemodelan elemen struktur 9

Gambar 10. Pemodelan elemen struktur

Gambar 11. Pemodelan pembebanan lateral akibat tanah Gambar 12. Analisis displacement 10

Gambar 11. Pemodelan pembebanan lateral akibat tanah

Gambar 11. Pemodelan pembebanan lateral akibat tanah Gambar 12. Analisis displacement 10

Gambar 12. Analisis displacement

Berdasarkan analisis struktur displacement maksimum yang terjadi adalah sebesar 4 mm

Untuk merencanakan tebal elemen dan banyaknya besi tulangan dalam perencanaan pelat maka perlu dilakukan peninjuan pada gaya momen dan geser. Berikut ini merupakan gambar distribusi gaya :

a. Gaya Momen

gaya momen dan geser. Berikut ini merupakan gambar distribusi gaya : a. Gaya Momen Gambar 13.

Gambar 13. Kontur momen lentur M22

Gambar 14. Kontur momen lentur M11 b. Gaya Geser Gaya geser pada dinding disebabkan oleh

Gambar 14. Kontur momen lentur M11

b. Gaya Geser

Gaya geser pada dinding disebabkan oleh resultan gaya tekanan lateral tanah, sedangkan gaya geser pada pelat dasar disebabkan oleh resultan gaya akibat tekanan hidrostatis air limbah.

Gaya gese ultimate, Vu = 1,4 D

Resultan Gaya Lateral aktif (P a ) = 0,5 x γ x h 1 2 x Ka

= 0,5 x 16 x 2.97 2 x 0.621 = 43,82 kN/m’ (per 1 m lebar)

Sehingga Vu dinding = 1,4 x 43,82 kN/m’

= 61,35 kN/m’ (per 1 m lebar)

Sedangkan untuk menghitung gaya geser pada pelat dasar diturunkan dengan mekanisme penyaluran beban amplop.

V 2 V 1 V 1 V 2
V 2
V 1
V 1
V 2

L 1 =10 35 m

L 2 = 3.5 m
L 2 = 3.5 m

Diketahui :

γ limbah = 1300 kg/m3 = 13 kN/m3

h limbah

L 1

L 2

= 2,5 m

= 13,58 m

= 2,30 m

Resultan V 1

= 0,5 x L 2 x (1/2 L 2 ) x h limbah x γ limbah

= 0,5 x 2,30 x 1,15 x 2,5 x 13

= 42,98 kN

V 1 (per 1 m)

= RV 1 / L 2

= 42,98 /2,3

= 18,68 kN/m’

Resultan V 2

= 0,5 x (2xL 1 - L 2 ) x (1/2 L 2 ) x h limbah x γ limbah

= 0,5 x (2x13,582,3) x 1,15 x 2,5 x 13

= 464,57 kN

V1 (per 1 m)

= RV 2 / L 1

= 467,57 /13,58

= 34,21 kN/m’

Dari kedua tinjauan diatas besar gaya geser yang paling menentukan adalah V 1 sebesar 34,21 kN.

Sehingga Vu pelat dasar = 1,4 x 34,21

= 47,89 kN/m’

Tabel 3. Rekapitulasi Gaya dalam maksimum

No

Komponen gaya

 

Kombinasi

Besar gaya

 

Pelat dinding

     

2

Vu

(akibat

tekanan

1,4 D

61,35 kN/m

tanah)

3

M11

1,4 D

16,3 kNm/m

4

M22

1,4 D

16,22 kNm/m

 

Pelat dasar

 

1,4 D

 

2

Vu (akibat tekanan air)

1,4 D

47,89kN/m

3

M11

1,4 D

3,34 kNm/m

4

M22

1,4 D

17,17 kNm/m

A.4.5 Perhitungan Tulangan -Penulangan lentur pelat dinding . Arah 1-1 Data :

f'c

=

20 MPa

=

0.8

 

f'y

=

240 MPa

β,

=

0.85

 

b

=

1000 mm

dx

=

124

mm

dy

=

112

mm

Mu

=

M11

=

16.3

kNm

 

Mu

16300000

Mn =

 
 

=

=

 

0.8

0.92

D rencana

12

mm

Tebal Plat

150

mm

Slimut beton

20

mm

=

16300000 Nmm

20375000

Nmm

ρ

b

=

=

ρ max =

m

Rn

ρ

=

=

=

=

=

=

=

=

0,85. f'c

f'y

0.0430

0,75. ρ b

0.0323

f'y

0,85 . f'c

14.1176

Mn

 

=

bd 2

1.3251

1

.

1

m

1

.

1

14

0.0058

.β, .

=

600

0.85 .

20

600

600 + f'y

=

240

0.85

600 +

240

0.8 .

0.0430

=

240

0.85 .

20

20375000

1000

124 ^ 2

2 .

m .

Rn

 

f'y

2 .

m .

Rn

 

f'y

8 5 . 20 20375000 1000 124 ^ 2 2 . m . Rn   f'y

8 5 . 20 20375000 1000 124 ^ 2 2 . m . Rn   f'y

1 -

1 -

ρ min

=

Jika ρ

>

0.0025

ρ

min

maka digunakan

ρ

nilai yang digunakan ρ

=

=

0.0058

ρ

As

=

ρ. b . d

 

=

0.0058

1000

124

=

714

.

2

.

 

mm

n

=

As

 

μ/4 . D 2

 
 

=

6.3099

7

S

=

b/n

 

=

143

mm

=

140

mm

S pakai adalah 140 mm, jadi tulangan dinding arah horizontal adalah Φ12-140

Arah 2-2

Data :

f'c

=

20 MPa

=

0.8

 

f'y

=

240 MPa

β,

=

0.85

 

b

=

1000 mm

dx

=

124

mm

dy

=

112

mm

Mu

=

M22

=

16.22

kNm

 

Mu

16220000

Mn =

 
 

=

=

 

0.8

0.92

D rencana

12

mm

Tebal Plat

150

mm

Slimut beton

20

mm

=

16220000 Nmm

20275000

Nmm

ρ b

=

0,85. f'c

f'y

= 0.0430

.β, .

600

0.85 .

20

600

600 + f'y

=

240

0.85

600 +

240

ρ max =

m

Rn

ρ

ρ min

=

=

=

=

=

=

=

=

=

Jika ρ

0,75. ρ b

0.0323

f'y

0,85 . f'c

14.1176

Mn

 
 

=

bd

2

1.3186

 

1

 

.

1

m

 

1

 

.

1

14

 

0.0057

0.0025

=

0.8 .

0.0430

=

240

0.85 .

20

20275000

1000 124 ^ 2

0.8 . 0.0430 = 240 0 . 8 5 . 20 20275000 1000 124 ^ 2

2 .

m .

Rn

 

f'y

2 .

m .

Rn

 

f'y

  f'y 2 . m . Rn   f'y 1 - 1 - > ρ min

1 -

1 -

>

ρ

min

maka digunakan

ρ

nilai yang digunakan =

ρ

=

0.0057

ρ

As

=

ρ. b . d

=

0.0057

1000

124

=

710

.

2

.

 

mm

n

=

As

 

μ/4 . D 2

 
 

=

6.2776

7

S

=

b/n

=

143

mm

=

140

mm

S pakai adalah 140 mm, jadi tulangan dinding arah vertikal adalah Φ12-140.

-Penulangan lentur pelat dasar Arah 1-1 Data :

f'c

=

20 MPa

=

0.8

f'y

=

240

MPa

β,

=

0.85

 
 

b

=

1000 mm

dx

=

175

mm

dy

=

165

mm

Mu

=

M11

=

3.34

kNm

 

Mu

3340000

Mn =

 
 

=

=

 

0.8

0.92

D rencana

10

mm

Tebal Plat

200

mm

Slimut beton

20

mm

=

3340000

4175000

Nmm

Nmm

ρ b

=

0,85. f'c

f'y

= 0.0430

ρ max =

m

Rn

ρ

=

=

=

=

=

=

=

=

0,75. ρ b

0.0323

f'y

0,85 . f'c

14.1176

Mn

 
 

=

bd

2

0.1363

 

1

 

.

1

m

 

1

 

.

1

14

 

0.0006

.β, .

=

600

0.85 .

20

600

600 + f'y

=

240

0.85

600 +

240

0.8 .

0.0430

=

240

0.85 .

20

4175000

1000 175 ^ 2

1 -0.8 . 0.0430 = 240 0 . 8 5 . 20 4175000 1000 175 ^ 2

2 .

m .

Rn

 

f'y

2 .

m .

Rn

 

f'y

8 5 . 20 4175000 1000 175 ^ 2 1 - 2 . m . Rn

1 -

ρ min

=

Jika ρ

<

0.0025

ρ

min

maka digunakan

ρmin

nilai yang digunakan

=

ρmin

ρmin

=

0.0025

As

=

ρ. b . d

=

0.0025

1000

175

=

438

.

2

.

 

mm

n

=

As

 

μ/4 . D 2

 
 

=

5.5704

6

S

=

b/n

=

167

mm

=

160

mm

S pakai adalah 160 mm, jadi tulangan pelat dasar arah memanjang adalah Φ10-160

Arah 2-2

Data :

f'c

=

20 MPa

f'y

=

240

MPa

Mu

=

M22

=

 

Mu

Mn

=

=

 

0,85.

f'c

ρ b

=

f'y

=

0.0430

=

0.8

β,

=

0.85

b

=

1000 mm

dx

=

175

mm

dy

=

165

mm

0.92

D rencana

10

mm

Tebal Plat

200

mm

Slimut beton

20

mm

17.17

kNm

=

17170000

Nmm

17170000

0.8

=

21462500

Nmm

.β, .

600

0.85 .

20

600

600 + f'y

=

240

0.85

600 +

240

ρ max =

m

Rn

ρ

ρ min

=

=

=

=

=

=

=

=

=

Jika ρ

0,75. ρ b

0.0323

f'y

0,85 . f'c

14.1176

Mn

 
 

=

bd

2

0.7008

 

1

 

.

1

m

 

1

 

.

1

14

 

0.0030

0.0025

=

0.8 .

0.0430

=

240

0.85 .

20

21462500

1000 175 ^ 2

0.8 . 0.0430 = 240 0 . 8 5 . 20 21462500 1000 175 ^ 2

2 .

m .

Rn

 

f'y

2 .

m .

Rn

 

f'y

  f'y 2 . m . Rn   f'y 1 - 1 - < ρ min

1 -

1 -

<

ρ

min

maka digunakan

ρmin

nilai yang digunakan =

ρ

=

0.0030

ρ

As

=

ρ. b . d

=

0.0030

1000

175

=

522

.

2

.

 

mm

n

=

As

 

μ/4 . D 2

 
 

=

6.6463

7

S

=

b/n

=

143

mm

=

140

mm

S pakai adalah 140 mm, jadi tulangan pelat dasar arah melintang adalah Φ10-140

-Penulangan Geser Pelat Dinding

Vu

=

61350 N

 

B

=

1000

mm

H

=

150

mm

c

=

20

mm

d

=

130

mm

f'c

=

20

MPa

Ø

=

12

mm

fy

=

240

MPa

ΦVc

=

72672,21

N

Vu - ΦVc

=

-11322,21

N (tidak butuh tulangan geser)

-Penulangan Geser Pelat Dasar

Vu

=

47890 N

 

B

=

1000

mm

H

=

200

mm

c

=

40

mm

d

=

160

mm

f'c

=

20

MPa

Ø

=

10

mm

fy

=

240

MPa

ΦVc

=

89442,72

N

Vu - ΦVc

=

-41552,72

N (tidak butuh tulangan geser)

Tabel 4. Rekapitulasi Gaya dalam maksimum

Elemen

Tebal

Tulangan lentur

Tulangan geser

Pelat

150

mm

Arah vertical :

Tidak ada

Dinding

(selimut 20 mm)

Φ12-140 (dua lapis) Arah horizontal :

Φ12-140 (dua lapis)

Pelat Dasar

200

mm

Arah melintang :

Tidak ada

(selimut 20 mm)

Φ10-140 (dua lapis) Arah memanjang :

Φ10-160 (dua lapis)

Φ12-140 Φ12-140
Φ12-140
Φ12-140

Gambar 17. Sketsa penulangan pelat dinding

Φ 10-140 Φ10-160
Φ 10-140
Φ10-160

Gambar 18. Sketsa penulangan pelat dasar

Dengan dipilihnya material beton bertulang untuk dinding/pelat terluar maka konstruksi IPAL menjadi sangat kokoh dan kaku. Struktur yang kaku akan memiliki umur yang lama, lebih dari 15 tahun. Selain dari itu beton bertulang sangat baik untuk menghindari adanya kebocoran air limbah.

Selebihnya, umur IPAL tergantung dari perawatan/maintenance IPAL itu sendiri. Karena IPAL memiliki batas kapasitas sedimen limbah, sehingga perlu dilakukan penyedotan secara berkala untuk memastikan proses aliran air limbah mengalir dengan lancar atau tidak mampet.

21