Anda di halaman 1dari 46

Abortus dan Penatalaksanaannya

Masalah pada kehamilan muda dan


penatalaksanaan kasus sesuai dengan
Program APK

PELATIHAN OBSTETRI EMERGENSI DASAR (POED) KEPANITERAAN KLINIK


DISIPLIN ILMU OBGIN FK UMI / UNISMUH 2015

Latar Belakang
Abortus merupakan salah satu penyulit pada
awal kehamilan
Menimbulkan dampak psikologis dan biologis
bagi wanita yang mengalaminya
Dampak tersebut sangat ditentukan jenis,
derajat dan komplikasi yang terjadi.

Batasan
Abortus adalah berakhirnya dan
dilepaskannya kehamilan dengan usia
gestasi < 20 minggu atau berat janin <500
gram dari tempat implantasinya

Pada literatur tertentu, batasan tersebut


disesuaikan dengan viabilitas janin
ekstrauterin sehingga usia gestasi disebutkan
dibawah 22 minggu

Batasan
Abortus spontan (keguguran / miscarriage)
Abortus buatan atau abortus provokatus
terapetik / provokatus medisinalis
induksi haid atau menstrual regulation
voluntary termination of pregnancy
Abortus provokatus non-terapetik / kriminalis

Etiologi Abortus
Kelainan Perkembangan Zigote
Faktor Maternal
Infeksi
Penyakit sistemik yang kronis
Gangguan hormonal
Alkohol dan merokok
Faktor imunologis
Abnormalitas organ reproduksi
Trauma fisik dan psikis

Faktor Paternalistik

Jenis dan Derajat Abortus Spontan

Abortus Iminens
Abortus Insipiens
Abortus Inkomplit
Abortus Komplit
Retensi Embrio (Missed Abortion)

Indikasi Abortus Medisinalis


Gangguan kesehatan yang sangat mengancam
keselamatan ibu
Kehamilan akibat perkosaan atau incest
Dipastikan terjadi cacat berat pada janin (severe
physical deformities) atau retardasi mental

Indikasi dan Frekuensi Abortus Buatan


ABORTUS TERAPETIK
Indikasi dan frekuensi
Gawatdarurat
25.0%
Alasan medis
12.0%

Atas permintaan
40.0%

Aspek sosial
23.0%

Sumber: Van Look & von Hertzen, 1990

Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan abortus inkomplit adalah
pembersihan sisa konsepsi dari dalam kavum
uteri
Evakuasi sisa konsepsimenggunakan AVM &
DK dapat dilakukan untuk usia kehamilan 12-14
minggu
Hasil penelitian aspirasi vakum lebih aman
dibandingkan dengan kuret tajam

Pikirkan terjadinya abortus:


Bila seorang wanita usia reproduksi
datang dengan gejala sebagai berikut:

terlambat haid
perdarahan per vaginam
spasme atau nyeri perut bawah
keluarnya massa kehamilan/konsepsi

JENIS ABORTUS
Diagnosis

Perdarahan

Serviks

Besar uterus

Gejala lain

Abortus
iminens

Sedikit
sedang

Tertutup
Lunak

Sesuai usia
kehamilan

Pt positif
Kram ringan
Uterus lunak

Abortus
insipiens

Sedang
banyak

Terbuka
Lunak

Sesuai atau
lebih kecil

Kram sedang/kuat
Uterus lunak

Abortus
inkomplit

Sedikit
banyak

Terbuka
Llunak

usia
kehamilan

Kram kuat
Keluar jaringan
Uterus lunak

Abortus
komplit

Sedikit
tidak ada

Tertutup
Lunak

usia
kehamilan

Sedikit/tanpa kram
Massa kehamilan (+/-)
Uterus agak kenyal

Prosedur Klinik Evakuasi Sisa Konsepsi

Penilaian awal
Stabilisasi, evaluasi medik dan determinasi jenis abortus
Konseling pra-tindakan dan persetujuan tindakan medik
Persiapan peralatan
pasien
penolong
Pemeriksaan bimanual
Tindakan AVM
Evaluasi hasil tindakan
Pemeriksaan jaringan
Pemeriksaan bimanual pasca-tindakan
Konseling pasca-tindakan
Rekam medik dan (asuhan mandiri) instruksi tertulis

Penilaian Awal Klien APK


Penilaian awal berkaitan dengan ketepatan diagnosis
dan melakukan tindakan resusitasi-stabilisasi
Kenali berbagai komplikasi yang dapat mengancam
keselamatan pasien seperti syok, infeksi/ sepsis,
perdarahan hebat (masif) atau trauma intra-abdomen
Tegakkan diagnosis kerja, lakukan pemeriksaan
penunjang diagnosis, dan segera lakukan rencana
terapi untuk menyelamatkan jiwa pasien

Evaluasi Medik
RIWAYAT MEDIK
INFORMASI KHUSUS
Alergi obat
Gangguan hematologi
Penggunaan obat jangka panjang
Minum jamu atau obat-obatan yang tidak jelas
Kondisi gangguan kesehatan lain
PEMERIKSAAN FISIK
Tanda vital
Gangguan kesehatan umum
Periksa keadaan paru, jantung dan ekstremitas
PEMERIKSAAN ABDOMEN
Massa atau kelainan intra abdomen lainnya
Perut kembung dengan bising usus melemah
Nyeri ulang-lepas
Nyeri atau kaku dinding perut (pelvik/suprapubik)
PEMERIKSAAN PANGGUL
Pemeriksaan dengan spikulum (Inspekulo)
Pemeriksaan bimanual
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan golongan darah dan Hb
Uji kehamilan

Segera kenali komplikasi


yang dapat mengancam keselamatan ibu
hamil dengan perdarahan pada kehamilan
muda:
Syok
Perdarahan hebat
Infeksi/Sepsis
Trauma intra abdomen

Kendali Nyeri Tindakan


Sebagian besar prosedur AVM untuk kasus
abortus inkomplit tidak mememerlukan
analgesia, sedativa, ataupun anestesia
Komunikasi Verbal (Verbocain) cukup efektif
untuk tindakan alih nyeri saat prosedur AVM
Pilih jenis analgesia dan sedativa yang sesuai
apabila dibutuhkan

Masalah teknis sebagai penyebab AVM


tidak bekerja efektif
Tabung AVM penuh
Kanula tercabut sebelum proses evakuasi
selesai
Kanula tersumbat
Kegagalan membuat tekanan negatif di dalam
tabung AVM

Masalah diagnosis yang mengurangi dan


penyulit dalam prosedur AVM

Perdarahan bukan akibat kehamilan


Kehamilan ektopik
Sindroma pascaabortus (hematometra akut)
Syok neurogenik (reaksi vaso-vagal)

Komplikasi selama Prosedur


Perforasi uterus
Robekan serviks
Syok, perdarahan lanjutan yang hebat dan
infeksi pascatindakan
Emboli udara

Konsep Kerja Peralatan AVM


Menggunakan tekanan negatif sekitar 1 atmosfir
(26 inches/660 mmHg)
Tekanan negatif akan menghisap sisa konsepsi
dari dalam kavum uteri
Tekanan negatif disalurkan melalui kanula yang
kemudian dirotasikan dan digerakkan majumundur sehingga semua mencakup semua
dinding dalam kavum uteri

Bagian-Bagian Peralatan AVM


Tabung pengisap (60 ml) dengan toraks
pembuat tekanan negatif, dilengkapi dengan
ganjal penahan
Cincin penahan toraks (collar stop) agar toraks
tidak tercabut dari tabung
Pengatur katub (single/double valves) tekanan
vakum yang menyatu dengan konektor kanula
Berbagai diameter kanula dengan sepasang
atau satu lubang pengisap di bagian ujungnya
Adaptor kanula

Peralatan AVM

Mengurangi risiko infeksi


Cuci tangan sebelum dan setelah bekerja
Gunakan sarung tangan DTT atau steril
Pastikan tabung AVM dalam kondisi bersih dan
kanula telah DTT atau steril
Gunakan antiseptik pada porsio dan teknik
tanpa sentuh untuk memasukkan kanula
Bekerja secara hati-hati dan hindarkan percikan
atau tumpahan darah/sisa konsepsi

Menyiapkan Tekanan Negatif


Kunci katup penahan
tekanan negatif
Pegang tabung vakum
di bagian tengahnya
Tarik toraks (plunger)
hingga ganjalnya
terbuka dan tertahan
baik pada keping
penahan

Persiapan Klien
Siapkan kondisi emosional klien
Minta klien berkemih atau lakukan kateterisasi
bila ia tidak mampu untuk melakukannya
Bersihkan perut bawah, area genitalia, lipat
paha dengan sabun dan air bersih
Jangan melakukan pencukuran rambut pubis,
bila mengganggu lapang pandang lakukan
pengguntingan
Pasang alas bokong dan alur darah ke tempat
yang telah disediakan

Upaya Menilai Adanya Penyulit


Tentukan arah, besar, dan konsistensi uterus
Perhatikan kondisi vagina dan serviks (kondisi
sekret, adanya pus atau cairan berbau,
perdarahan > 1 minggu, kondisi sisa konsepsi,
gumpalan darah atau jaringan yang terjepit pada
serviks atau tertampung dalam vagina, robekan
atau adanya benda asing pada bukaan serviks)

Tentukan arah dan besar uterus


Antefleksio
dan
anteversio

Tentukan arah dan besar uterus


Retrofleksio
dan
retroversio

Memasukkan kanula

Mengukur kedalaman dan besar kavum


uteri

Menghubungkan kanula dengan tabung


AVM

Membuka katup tekanan negatif


Tekanan negatif akan
segera bekerja saat
katup dibuka
Perhatikan bahwa
sebagian sisa konsepsi
akan terhisap bila
tabung pengisap
berfungsi baik

Aspirasi Sisa
Konsepsi

Rotasikan dan gerakkan


maju-mundur kanula
(tabung pengisap)
Sisa konsepsi akan
terhisap dan mengisi
tabung (tekanan negatif
akan hilang bila tabung
penuh, terjadi perforasi
atau kanula tercabut
Adanya busa, rasa
bersabut pada dinding
uterus atau jepitan
serviks pada kanula
menunjukkan kavum
uteri telah bersih

Lepaskan koneksi kanula dan tabung


apabila :
Tabung penuh
dan akan
segera
digunakan
kembali
Prosedur
aspirasi telah
selesai

Lakukan
Pemeriksaan
Jaringan
Bersihkan darah
dari jaringan
Lakukan pada
alat penyaring
dan bila dengan
air
Perhatikan
adanya korionik
vili atau massa
konsepsi diatas
lampu periksa

Segera dekontaminasi dan proses


peralatan yang telah terpakai

Asuhan Pascatindakan
Pastikan bahwa prosedur evakuasi telah
membersihkan seluruh sisa konsepsi
Observasi keadaan umum dan tanda vital klien
minimal 2 jam pascatindakan
Bacakan, jelaskan, dan berikan Asuhan Mandiri
atau Instruksi Tertulis untuk klien dan pastikan
klien/keluarganya mengerti isinya, kapan
melakukan kunjungan ulang atau mencari klinik
atau fasilitas kesehatan untuk pertolongan
segera

Jenis Nyeri
Nyeri dalam akibat dilatasi serviks atau
rangsangan mekanik pada ostium serviks
Nyeri sebar atau difus akibat spasme dan
kontraksi atau kerokan pada dinding dalam
uterus

Penjalaran Sensasi Nyeri dari Serviks dan


Uterus
Jalaran sensasi nyeri dalam

Jalaran sensasi nyeri


difus atau nyeri sebar

KASUS 1
Ny. A. 28 thn datang ke puskesmas tgl 18 Maret
13 dengan keluhan perdarahan pervagianam
yang dialami sejak 3 hr yang lalu dan semakin
banyak sejak pagi ini. Riwayat HT tgl 10
Januari 13. Ku : lemah, TD 100/60 mmHg, N :
89 dpm, S : 36, 8 C.
Pada pem luar : TFU 2 jr atas SOP. VT : OUI/E
terbuka dan teraba jaringan.

KASUS 2
Ny. B. 21 thn datang ke puskesmas tgl 18 Maret
13 dengan keluhan perdarahan pervagianam
sedikit2(Spotting) yang dialami sejak 1 mgg
yang lalu dan nyeri perut dirasakan sejak pagi
ini. Riwayat HT tgl 28 Januari 13. Ku : Baik. TV
Normal
Pada pem luar : TFU ttb. Inspekulo : tanda
kehamilan (+) VT : Porsio Bombans dan nyeri
tekan (+)

KASUS 3
Ny. C. 30 thn, GIIIPIIA0 datang ke puskesmas tgl 18
Maret 13 dengan keluhan perdarahan pervagianam
sedikit2(Spotting) yang dialami sejak 3 hr yang lalu
dan nyeri perut dirasakan sejak pagi ini. Riwayat HT
tgl 12 Januari 13. Ku : lemah. TD : 100/60
Pada pem luar : TFU ttb. Inspekulo : tanda kehamilan
(+) VT : Hegar (+). Slinger pain (+), Forniks post
bombans & nyeri tekan (+). Riwayat Plano tes (+)

Kasus 4
Seorang ibu masuk ke kamar bersalin tgl 30
Desember 2013 dengan keluha perdarahan
banyak dari jalan lahir sejak 3 hari yg lalu.
HPHT tgl 20 Oktober 2013 pada pemeriksaan
fisis tanda vital tensi 90/50 mmHg. TFU
setinggi 2 jari pusat.

Kasus 5
Perempuan 35 tahun GIVPIIIA0, MRS tgl 30
Des 2013 dengan keluhan utama perdarahan
dari jalan lahir sedikit-sedikit. Riwayat coitus 2
hari yl HPHT 1 Mei 2013.

Kasus 6
Perempuan 28 tahun, GIP0A0 gravid 34-34
mgg masuk kamar bersalin dengan keluhan
nyeri perut tiba-tiba dgn perdarahan bercak
dari jalan lahir. Tensi 170/100 mmHg. Pada
pemeriksaan fisis uterus tegang dan DJJ 188
x/menit. HB 7,5 gr%

Kasus 7
Perempuan 30 thn PIIA0 post partum 3 jam yl
di Bidan masuk RS dengan keluhan
perdarahan dari jalann lahir. TD 90/50 mmHg.
Kontraksi uterus tidak baik.