Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Percobaan
1. Menentukan kelarutan elektrolit yang bersifat sedikit larut.
2. Menentukan panas pelarutan (H) PbCl2 dengan menggunakan sifat
ketergantungan Ksp pada suhu.
1.2 Dasar Teori
Konsentrasi dari larutan jenuh dinamakan kelarutan dari suatu zat dalam
pelarut tertentu. Jika pada larutan yang jenuh ditambahkan zat yang
dilarutkan, konsentrasi tidak bertambah dan kelebihan zat tidak larut.
Misalnya, Kristal Natrium Klorida (NaCl) ditambahkan sedikit kedalam
segelas air. Mula-mula garam tidak larut tapi pada suatu saat larutan menjadi
jenuh, Kristal garam tidak dapat larut lebih banyak lagi. Jumlah maksimum
zat yang dapat larut dalam sejumlah tertentu pelarut disebut kelarutan zat itu
(solubility), jika larutan dalam kesetimbangan berarti banyaknya zat yang
melarut sama dengan banyaknya zat yang mengendap. Berarti larutan jenuh
ialah larutan yang dalam kesetimbangan dengan kelebihan zat.
Kelarutan bergantung pada tiga hal berikut :
1. Bahan pelarut normal, jika molekul-molekul zat yang dilarutkan
mempunyai struktur yang sama dengan molekul-molekul bahan pelarut
maka kelarutan termasuk tinggi, misalnya keduanya mempunyai momen
dipol yang tinggi maka gaya tarik menarik antara zat yang dilarutkan dan
pelarut besar hingga kelarutan tinggi.
2. Zat yang dilarutkan normal.
Kelarutan biasanya dinyatakan dalam satuan mol/L, jadi kelarutan sama
dengan molaritas larutan jenuh, misalnya didalam 2 Liter larutan dapat
larut 2,87 mg AgCl, maka kelarutan AgCl = 2,87 mg/L = 1,435 mol/L
=

1,435 X 102
mol / L
143,5

= 1 X 10-5 mol /L
Dalam larutan jenuh terdapat kesetimbangan antara zat padat dan larutannya,
khusus untuk garam dan basa, kesetimbangan itu ialah zat padat dan ionionnya, karena garam atau basa yang larut dianggap mengion sempurna.

Konsentrasi ion-ion dalam larutan jenuh dapat dihubungkan langsung dengan


kelarutan garam atau basa yang bersangkutan.
1.2.1 Pengaruh ion senama terhadap kelarutan
Contoh NaCl dan AgCl mempunyai ion senama yaitu Cl -, AgNO3 dan
AgCl juga mempunyai ion senama yaitu Ag+. Ion senama memperkecil
kelarutan, hal ini sesuai dengan azas Le Chatelier tentang pergeseran
kesetimbangan, misalnya reaksi :
AgCl Ag+ + ClBila kedalam larutan jenuh AgCl ditambahkan suatu klorida atau suatu
garam perak maka kesetimbangan akan bergeser dari kanan ke kiri
membentuk endapan AgCl, berarti bahwa jumlah AgCl yang terlarut
berkurang. Jumlah AgCl yang mengendap ialah sedemikian hingga larutan
tetap jenuh dimana hasil kali konsentrasi ion senama makin kecil kelarutan.
1.2.2
Reaksi Pengendapan
Ksp adalah ambang maksimum hasil kali konsentrasi ion-ion dengan
larutan. Penambahan selanjutnya akan menghasilkan pengendapan. Jumlah
zat yang mengendap adalah sedemikian sehingga larutan tetap jenuh. Untuk
elektrolit AxBy dapat disimpulkan sebagai berikut :
AxBy xAy+ + yBxBila :
(Ay+)x . (Bx-)y< Ksp AxBy berarti larutan belum jenuh.
(Ay+) . (Bx-)y = Ksp AxBy berarti larutan tepat jenuh.
(Ay+)x . (Bx-) > Ksp AxBy berarti terjadi pengendapan.
Hasil kali kelarutan ialah hasil kali konsentrasi ion-ion suatu elektrolit dalam
larutan yang tepat jenuh. Timbal klorida (PbCl 2) sedikit larut dalam air.
Kesetimbangan yang terjadi pada larutan PbCl2 jenuh dituliskan sebagai
berikut :
PbCl2 Pb2+(aq) + 2Cl-(aq)
Konstanta kesetimbangan termodinamika untuk persamaan reaksi diatas
adalah :

2+
Pb

Ka = Cl

Karena aktivitas padatan murni = 1, maka persamaan diatas dapat


disederhanakan menjadi :
Ksp = (aPb2+) (aCl-)
Dalam larutan, aktivitas dapat dianggap sama dengan konsentrasi dalam
larutan dalam satuan molar. Nilai Ksp diatas sebagai konstanta hasil kali
kelarutan PbCl2 secara matematis dapat ditulis :
[Pb2+] [Cl-] < Ksp PbCl2 ( belum terlihat endapan PbCl2)
[Pb2+] [Cl-] > Ksp PbCl2 ( terjadi endapan )
[Pb2+] [Cl-] = Ksp PbCl2 ( tepat jenuh )
1.2.3
Efek Temperature Pada Kelarutan
1.2.3.1
Zat Padat Dalam Cairan
Kebanyakan dari zat padat akan semakin melarut jika dilarutkan
penambahan temperature namun ada beberapa zat padat yang kelarutannya
menurun jika suhunya dinaikkan. Contohnya adalah pembentukan larutan
Kalium Nitrat dalam larutan air yang bersifat endoterm, yaitu kalor diserap
ketika KNO3 padat melarut dalam air. Untuk suatu larutan jenuh KNO3yang
tidak lagi melarut dalam air. Namun jika dinaikkan suhunya, maka tidak lagi
dalam kondisi setimbang karena padatan KNO3 akan mudah larut dalam air
jika suhu semakin tinggi. Reaksi dalam setimbang :
KNO3(s) + H2O(g) KNO3(aq)
KNO3(s) KNO3
Sebaiknya dalam pembentukan larutan air dari Serium Sulfat (CO2(SO4)2) :
Ce2 (SO4)3(s) + H2O(g) Ce(SO4)3(aq)
Proses pelarutan ini bersifat eksoterm yaitu membebaskan kalor dalam proses
pelarutannya. Sedangkan dalam proses pengkristalannya reaksi ini akan
menimbulkan pengkristalan.

1.2.4
Faktor-faktor Penyebab Kelarutan
Umumnya yang membuat zat melarut adalah kejenisan, yaitu senyawa
yang non-polar larut dalam pelarut yang non polar, begitu juga sebaliknya
senyawa yang polar larut pada senyawa yang polar juga. Dalam hal ini dapat
diambil contoh Heksena dan Heptena yang keduanya adalah senyawa non
polar. Kedua zat tersebut mempunyai kerapatan jenis kecil akan mengapung.
Namun beberapa saat molekul-molekul akan menyebar secara acak apalagi
bila temperature dinaikkan kecepatan difusi akan lebih tinggi, sehingga
selang beberapa waktu akan diperoleh larutan homogennya yang seragam
(mislible).
1.2.5
Zat-Zat Yang Tak Melarut
Zat-zat yang dipersatukan dengan ikatan yang kuat otomatis tidak larut
dalam cairan biasa apa saja. Contohnya adalah batuan silikat dan mineral,
plastik yang terbentuk dari molekul yang sangat besar dan logam. Logam
hanya cenderung untuk larut dalam logam lain.
Mengenai cairan bila dua cairan tak saling melarut dapat dikatakan sebagai
immiscible. Contohnya adalah air dan minyak, molekul air saling menarik
begitu kuat berdasarkan ikatan hidrogen. Sehingga molekul non polar
(minyak) terperas keluar, sehingga air dan minyak selalu membentuk dua
lapisan diatas karena memiliki kerapatan yang lebih rendah dibandingkan air.
1.2.6
Hubungan Kelarutan
1.2.6.1
Kelarutan Jenuh
Larutan jenuh adalah larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah
yang diperlukan untuk adanya kesetimbangan antara zat terlarut yang dapat
larut dan tidak dapat larut. Pembentukan larutan jenuh dapat dipercepat
dengan pengadukan yang kuat dengan zat terlarut yang berlebih. Banyaknya
zat terlarut yang melarut dalam pelarut yang banyaknya tertentu untuk
menghasilkan suatu larutan jenuh disebut kelarutan zat terlarut tersebut
biasanya dinyatakan dalam gram zat terlarut dalam 100 cm 3 atau 100 gram
pelarut temperature yang ditentukan.
1.2.6.2
Larutan Tak Jenuh dan Lewat Jenuh
Larutan tak jenuh adalah lebih encer dibandingkan dengan larutan jenuh,
sedangkan lewat jenuh adalah larutan yang lebih pekat dibandingkan dengan

emnggunakan air panas, karena zat terlarut akan banyak melarut dengan
pelarut panas dibanding pelarut yang dingin

BAB II
METODOLOGI
2.1.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Alat yang digunakan :


Rak tabung reaksi
Tabung reaksi
Labu Erlenmeyer 250 ml
Buret
Hot plate
Termometer

2.2.

Bahan yang digunakan


1. Larutan Pb(NO3)20,075 M
2. Larutan KCl 1,0 M

2.3.

Prosedur Kerja
1. Menempatkan larutan Pb(NO3)2 dan larutan KCl pada buret yang berbeda.

2. Menyiapkan larutan dengan cara pertama-tama menambahkan 12 ml


Pb(NO3)2 kedalam tiap tabung reaksi, kemudian menambahkan KCl
sebanyak volume yang berbeda-beda. Pada alat setelah pencampuran
tabung reaksi harus dikocok. Mendiamkan selama 5 menit dan
mengamati apakah sudah terbentuk endapan atau belum.
3. Menempatkan campuran yang terdapat endapan pada penangas labu
Erlenmeyer. Ketika penangas dipanaskan gunakan termometer untuk
mengaduk larutan secara perlahan-lahan kecepatan pemanasan penangas
sekitar 10C (per menit). Mencatat suhu ketika endapan tepat larut.

2.4 Diagram Alir


Pb(NO3) 0,075 M

Buret

Buret

Tabung reaksi
Pengocokan
Mendiamkan 5 menit
Pengamatan
Tidak terbentuk
endapan

Terbentuk endapan
Pemanasan dan
pengadukan
Pencatatan suhu saat
endapan hilang.
Menghitung Qsp tiap tabung
Menghitung panas pelarutan
Menghitung suhu sebenarnya

KCl 1 M

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Data Pengamatan
Tabel 3.1.1 Suhu yang dibutuhkan untuk melarutkan endapan PbCl 2
Volume Pb(NO3)2
No

0,075 M (ml)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

10
10
10
10
10
10
10
10
10
10

Volume KCl 0,1

Pembentukan

M (ml)

Endapan

0,7
1
1,3
1,6
1,9
2,2
2,5
2,8
3,1
3,4

Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
ada

TC

TK

52
55
63
69
70
72
75
76

325
328
336
342
343
345
347
348

Tabel 3.1.2 Hasil perhitungan

No

TK

Qsp

-log Qsp

1/T (x)

1
2

Suhu sebenarnya
-

3
4
5
6
7
8
9
10

325
328
336
342
343
345
347
348

8,8 . 10-4
1,2 . 10-3
1,6 . 10-3
2 . 10-3
2,4 . 10-3
2,8 . 10-3
3,2 . 10-3
3,6 . 10-3

3,0555
2,921
2,796
2,699
2,620
2,553
2,495
2,444

3,077 . 10-3
3,048 . 10-3
2,976 . 10-3
2,924 . 10-3
2,915 . 10-3
2,898 . 10-3
2,882 . 10-3
2,874 . 10-3

324,68
329,93
334,99
339,03
342,38
345,28
347,86
350,11

3.2 Pembahasan
Pada percobaan hasil kali kelarutan (ksp) yang bertujuan untuk
menentukan kelarutan elektrolit yang bersifat sedikit larut dan menentukan
panas pelarutan (H) PbCl2 dengan menggunakan sifat ketergantungan Ksp
pada suhu. Ksp adalah ambang maksimum hasil kali konsentrasi ion-ion
dalam larutan.
Langkah pertama yang dilakukan adalah mereaksikan Pb(NO 3)2 0,075 M
dengan KCl 1 M. Dari data pengamatan dapat diketahui bahwa pada tabung
1 dan 2 sama-sama tidak terbentuk endapan. Hal ini berarti hasil kali
konsentrasi lebih kecil dari hasil kali kelarutan. Sehingga endapan belum
terbentuk.
Selanjutnya pada tabung 3 sampai 10 dengan volume KCl 1,3 ml sampai
3,4 ml sudah terbentuk endapan. Hal ini berarti hasil kali konsentrasi lebih
besar dari hasil kali kelarutan. Banyaknya endapan yang terdapat pada
larutan berbeda-beda. Dimana semakin banyak penambahan volume KCl
maka akan menghasilkan endapan yang semakin banyak pula. Reaksi yang
terjadi sebagai berikut :
Pb(NO3)2+ KCl PbCl2+ 2KNO3
Hal ini disebabkan karena dengan semakin besar volume KCl maka
jumlah ion Cl- akan semakin tinggi sehingga akan mengakibatkan hasil kali
ion-ion akan lebih besar dan endapan akan semakin banyak. Endapan yang
terbentuk merupakan endapan putih PbCl2, berbentuk jarum-jarum yang

terbentuk akibat gabungan ion-ion didalam larutan membentuk partikel yang


memiliki ukuran yang lebih besar yang selanjutnya mengendap.
Selanjutnya larutan yang terdapat endapan dipanaskan dan disertai dengan
pengadukan. Pemanasan dan pengadukan ini bertujuan untuk mempercepat
larutnya endapan. Semakin banyak endapan pada larutan maka semakin
tinggi suhu yang dibutuhkan untuk menghilangkan endapan tersebut. Jadi,
dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi suhu maka Kspnya semakin tinggi.
Pemanasan diperlukan dalam pelarutan endapan dikarenakan pada suhu
yang tinggi umumnya suatu zat akan mudah larut dikarenakan kalor
menyebabkan semakin renggangnya jarak antar partikel zat padat tersebut.
Akibatnya kekuatan gaya antar partikel menjadi lemah sehingga partikel
tersebut mudah terlepas oleh adanya gaya tarik-menarik. Dari praktikum
diperoleh derajat panas pelarutan sebesar -515,76 J/mol
Pada tabel hasil perhitungan terlihat bahwa suhu perhitungan berbeda
dengan suhu praktikum. Ada beberapa suhu praktikum yang mendekati
dengan suhu secara perhitungan. Hal ini dikarenakan ada beberapa faktor
yang mempengaruhi kelarutan. Salah satu faktor yang paling berpengaruh
pada percobaan ini adalah pengadukan.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Panas pelarutan (H) yang diperoleh adalah-515,76 J/mol
2. Pada tabung 1 dan 2 belum terbentuk endapan. Hal ini berarti Qsp < Ksp,
sehingga larutan belum jenuh dan belum terbentuk endapan.

3. Pada tabung 3 sampai 10 sudah terbentuk endapan. Hal ini berarti


Qsp > Ksp, sehingga larutan sudah lewat jenuh dan terbentuk endapan.
4. Semakin banyak volume penambahan KCl maka semakin banyak endapan
PbCl2 yang terbentuk dalam tabung reaksi 3 sampai tabung reaksi 10,
sehingga suhu yang dibutuhkan endapan untuk dapat larut juga semakin
tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Laboratorium Kimia Fisika 2014. Penuntun Praktikum Kimia Fisika.
Samarinda : Politeknik Negeri Samarinda.

LAMPIRA
N

GRAFIK HASIL KALI KONSENTRASI (KSP)

Grafik -loq Ksp vs 1/T


3.5
3

f(x) = 2731.07x - 5.36


R = 0.97

2.5
2
-log Ksp

1.5

Linear (x)

1
0.5
0
0

1/T

PERHITUNGAN

Perhitungan Ksp secara teoritis


Pb(NO3)2 + 2 KCl PbCl2 + 2 KNO3
Mmol Pb(NO3)2 = M .V
= 0,075 M x 10 ml
= 0,75 mmol
Mmol KCl

=M.V
= 1 M x 1,3 ml
= 1,3 mmol

Mula-mula
Reaksi
Setimbang

Pb(NO3)2 + 2 KCl PbCl2 + 2 KNO3


0,75
1,3
0,65
1,3
0,65
1,3
0,1

PbCl2 Pb2++ 2ClKsp = [Pb2+] [Cl-]2


0,65 1,3
= 11,3 11,3

[ ][ ]

0,65

= 7,62 . 10-6
Qsp grafik
Qsp tabung reaksi 3
0.75 1.3
QspPbCl2 = 11.3 11.3

[ ][ ]

= 8,8 . 10-4
-Loq Qsp = y = 3,0555
1
1
X = T = 273+ 52

= 3,077 . 10-3
Qsp tabung reaksi 4
0,75 1,6
Qsp PbCl2= 11,6 11,6

[ ][ ]

= 1,2 . 10-3
-Loq Qsp = y = 2,921
1
1
X = T = 273+ 55

= 3,048 . 10-3
Qsp tabung reaksi 5
0,75 1,9
Qsp PbCl2= 11,9 11,9

[ ][ ]

= 1,6 . 10-3
-Loq Qsp = y = 2,796
1
1
X = T = 273+ 63
= 2,976 . 10-3

1,3

Qsp tabung reaksi 6


0,75 2,2
Qsp PbCl2= 12,2 12,2

[ ][ ]

= 2 . 10-3
-Loq Qsp = y = 2,699
1
1
X = T = 273+ 69

= 2,924 . 10-3
Qsp tabung reaksi 7
0,75 2,5
Qsp PbCl2= 12,5 12,5

[ ][ ]

= 2,4 . 10-3
-Loq Qsp = y = 2,620
1
1
X = T = 273+ 70

= 2,915 . 10-3
Qsp tabung reaksi 8
0,75 2,8
Qsp PbCl2= 12,8 12,8

[ ][ ]

= 2,8 . 10-3
-Loq Qsp = y = 2,553
1
1
X = T = 273+ 72
= 2,898 . 10-3

Qsp tabung reaksi 9


0,75 3,1
Qsp PbCl2= 13,1 13,1

[ ][ ]

= 3,2 . 10-3
-Loq Qsp = y = 2,495
1
1
X = T = 273+ 75

= 2,882 . 10-3
Qsp tabung reaksi 10

Qsp PbCl2=

[ ][ ]
0,75 3,4
13,4 13,4

= 3,6 . 10-3
-Loq Qsp = y = 2,444
1
1
X = T = 273+ 76

= 2,874 . 10-3
H 1
. +C
-log Ksp = 2,303 R T
y = ax + b
y = 2731,1x 5,3567
R2 = 0,9664
2731,1 =
H

H
2,303 . 0,082

= -515,76 J/mol

Perhitungan suhu sebenarnya


Suhu sebenarnya tabung reaksi 3
-log Ksp =
3,055

H 1
. +C
2,303 R T

= 2731,1 .

1
T

-5,3567

T = 324,68 K

Suhu sebenarnya tabung reaksi 4


-log Ksp =
2,921

H 1
. +C
2,303 R T

= 2731,1 .

1
T

-5,3567

T = 329,93 K

Suhu sebenarnya tabung reaksi 5

-log Ksp =

H 1
. +C
2,303 R T

2,796 = 2731,1 .

1
T

-5,3567

T = 334,99 K

Suhu sebenarnya tabung reaksi 6


H 1
. +C
-log Ksp = 2,303 R T
2,699

= 2731,1 .

1
T

-5,3567

T = 339,03 K

Suhu sebenarnya tabung reaksi 7


H 1
. +C
-log Ksp = 2,303 R T
2,620 = 2731,1 .

1
T

-5,3567

T = 342,38 K

Suhu sebenarnya tabung reaksi 8


H 1
. +C
-log Ksp = 2,303 R T
2,553 = 2731,1 .

1
T

-5,3567

T = 345,28 K

Suhu sebenarnya tabung reaksi 9


H 1
. +C
-log Ksp = 2,303 R T
2,495 = 2731,1 .

1
T

-5,3567

T = 347,86 K

Suhu sebenarnya tabung reaksi 10

-log Ksp =

H 1
. +C
2,303 R T

2,444 = 2731,1 .

1
T

-5,3567

T = 350,11 K

GAMBAR ALAT

Hot Plate

Tabung Reaksi

Erlenmeyer

Rak Tabung Reaksi

Buret