Anda di halaman 1dari 30

LUKA BAKAR

I. IDENTITAS PASIEN
NAMA

:An. Nurul Annisa

UMUR

: 1 tahun

JENIS KELAMIN : Perempuan


RM

:162790

MRS

: 2 Mei 2015

KAMAR

: IRD Bedah

II. ANAMNESIS
Keluhan utama : Luka bakar air panas
Anamnesis Terpimpin : Dialami sejak 1 jam sebelum masuk RS akibat terkana
air panas
Mekanisme trauma : OSI sedang digendong oleh ibunya, pada saat ibunya
membuat susu. Nyeri (+), demam (-). Riwayat pingsan (-), muntah (-), sesak (-).
Riwayat perawatan sebelumnya (-)
BAB : biasa
BAK : lancar
III. STATUS GENERALISATA
Sakit sedang/Gizi cukup/Sadar
IV. PRIMARY SURVEY
A

: patent obstruksi (-)

: RR : 20 x/menit, reguler, tipe thoracoabdominal, ronkhi (-)

: PR : 84 x/menit, regular, kuat angkat

: GCS 15 (E4M6V5), pupil isokor diameter 2,5 mm

dextra et, sinistra, reflex cahaya ada.


E

: 36,5C (axillar)

V. SECONDARY SURVEY
Status Regional
Kepala : Anemis (-), ikterus (-)
Leher : DVS+2cmH2O, massa tidak teraba
A) Kepala
Regio Facialis
I

: Tidak tampak kelainan

P : Nyeri tekan (-)

Mata : Konjungtiva anemis tidak ada

Sklera : Ikterus tidak ada

Bibir : Sianosis tidak ada

Leher : Pembesaran kelenjar getah bening tidak ada

B) Thoraks
Inspeksi

: Tampak simetris, pergerakan simetris, retraksi suprasternal (-),

retraksi interkosa (-), retraksi subcostal (-), Ictus Cordis tidak tampak
Palpasi
: Ictus cordis teraba pada ICS 5 midclavicula sinistra, pelebaran
ICS (-), fremitus raba D=S
Perkusi
: Sonor, normal pada batas jantung
Auskultasi : Vesikuler, Rhonki (-), Whez (-), bising jantung (-)
C) Abdomen
Inspeksi
: Flat
Palpasi
: Soefl, nyeri tekan (-) Hepatomegali (-) Splenomegali (-)
Perkusi
: Timpani.
Auskultasi
: Bising usus (+) kesan normal
D) Ekstremitas
Ekstremitas superior
: Akral dingin, pucat (-/-), edem (-/-)
Ekstremitas inferior
: Akral dingin, pucat (-/-), edem (-/-)
Status Lokalis
Regio Abdomen
I : tampak luka bakar grade IIB luas 9%, hiperemis (+)
P: Nyeri tekan (+)

Regio Costovertebra Dextra et Sinistra


I: tampak luka bakar grade IIB luas 9%, hiperemis (+)
P: Nyeri tekan (+)

VII. RESUME
Seorang perempuan, umur 2 tahun, MRS dengan keluhan luka bakar, dialami
sejak kurang lebih 1 jam sebelum masuk RS akibat terkena air panas. OSI sedang
digendong oleh ibunya yang sedang membuat susu dan terkena air panas yang
dipegang oleh ibunya. Pingsan (-), demam (-) muntah (-), sesak (-),Riwayat
perawatan sebelumnya(-). BAB : biasa, BAK : lancar.
Dari pemeriksaan fisis didapatkan tanda vital dalam batas normal, Dari
pemeriksaan fisis didapatkan tanda vital dalam batas normal, pada regio abdomen
tampak luka bakar grade IIB seluar 9% dan pada regio costo vertebrae tambak
luka bahakr grade IIB seluas 9%
VIII. DIAGNOSA
Luka Bakar Air Panas Grade IIB 18%
IX. PENATALAKSANAAN
1. Resusitasi A,B,C, D, E

Airway: Clear

Breathing: Oksigen 2 4 lpm

Circulation: IVFD: RL
Resusitasi pada 24 jam pertama:
Resusitasi cairan dengan menggunakan rumus Baxter/ Parkland
(untuk pasien anak):

3-4 cc x kgBB x % luka bakar + maintenance (BBx100cc) : 4 cc x


12 kg x 18% = 864 cc (/24 jam) + 1200cc
Jadi, total cairan yang diberikan dalam 24 jam pertama adalah 864
cc + 1200 cc = 2064 cc dengan 1032 cc pada 8 jam I dan 1032 cc
pada 16 jam II.
Pemasangan kateter.
Resusitasi cairan lanjut.
Periksa laboratorium lengkap : darah rutin, kimia darah, elektrolit
darah, GDS, ureum, kreatinin.
Monitoring resusitasi = Target urin : 1 cc/kgBB/jam (0,5-2
cc/kgBB/jam) = 9 cc/ jam. (Kesan cukup)
2.
3.
4.
5.

Debridement NaCL
Rawat luka dengan burnazin cream (silver sufadiazine)
Viccilin 250mg/8jam/IV
Paracetamol sirup 3x1/2cth

6. Rujuk ke RSWS dengan alasan tidak perwatan luka bakar di RSUD


Pangkep

X. DISKUSI
LUKA BAKAR
PENDAHULUAN

Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan kontak dengan sumber panas (suhu, bahan kimia, listrik). Luas dan
dalamnya luka bakar terhantung dari sumber panasnya dan lama kontak dengan
kulit. Suhu di atas 50 C akan menyebabkan nekrosis jaringan, terutama jika
terpapar pada kulit yang tipis seperti pada anak-anak atau orang. Luka bakar dapat
mengakibatkan angka morbiditas dan mortalitas tinggi yang memerlukan
penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok) sampai fase lanjut. Hal ini
disebabkan karena pada luka bakar terdapat keadaan sebagai berikut :
1. Terdapat kuman dengan patogenitas tinggi
2. Terdapat banyak jaringan mati
3. Mengeluarkan banyak air, serum dan darah
4. Terbuka untuk waktu yang lama (mudah terinfeksi dan terkena trauma)
5. Memerlukan jaringan untuk menutup
Di Indonesia, luka bakar masih merupakan problem yang berat. Perawatan
dan rehabilitasinya masih sukar dan memerlukan ketekunan, biaya mahal, tenaga
terlatih dan terampil. Oleh karena itu, penanganan luka bakar lebih tepat dikelola
oleh suatu tim trauma yang terdiri dari spesialis bedah (bedah anak, bedah plastik,
bedah thoraks, bedah umum), intensifis, spesialis penyakit dalam, ahli gizi,
rehabilitasi medik, psikiatri, dan psikologi.
ANATOMI KULIT
Kulit adalah organ tubuh terluas yang menutupi otot dan mempunyai
peranan dalam homeostasis. Kulit merupakan organ terberat dan terbesar dari
tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar
2,7 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 1,9 meter persegi. Tebalnya kulit bervariasi
mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin. Kulit
tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium minus dan kulit bagian medial
lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki,
punggung, bahu dan bokong. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang
berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari

ectoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis
atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat.

1. EPIDERMIS

Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari
epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan
Merkel. Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal
pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh
ketebalan kulit. Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu. Fungsi Epidermis : Proteksi
barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin, pembelahan dan mobilisasi

sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans). Epidermis


terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) :
1. Stratum Korneum : Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan
berganti.
2. Stratum Lusidum : Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit
tebal telapak kaki dan telapak tangan. Tidak tampak pada kulit tipis.
3. Stratum Granulosum : Ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang
intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang
dinamakan granula keratohialin yang mengandung protein kaya akan
histidin. Terdapat sel Langerhans.
4. Stratum Spinosum : Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan
tonofibril, dianggap filamen-filamen tersebut memegang peranan penting
untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi.
Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan
mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril. Stratum
basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. Terdapat sel
Langerhans.
5. Stratum Basale (Stratum Germinativum) : Terdapat aktifitas mitosis yang
hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara
konstan. Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke
permukaan, hal ini tergantung letak, usia dan faktor lain. Merupakan satu
lapis sel yang mengandung melanosit.

2.

DERMIS

Terdiri

atas

jaringan

ikat

yang

menyokong

epidermis

dan

menghubungkannya dengan jaringan subkutis. Tebalnya bervariasi, yang paling


tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm. Dermis terdiri dari dua lapisan :

Lapisan papiler; tipis : mengandung jaringan ikat jarang.

Lapisan retikuler; tebal : terdiri dari jaringan ikat padat.


Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang dengan

bertambahnya usia. Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal,


kandungan elastin kulit manusia meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai
dewasa. Pada usia lanjut kolagen saling bersilangan dalam jumlah besar dan
serabut elastin berkurang. Hal ini menyebabkan kulit terjadi kehilangan
kelemasannya dan tampak mempunyai banyak keriput. Dermis mempunyai
banyak jaringan pembuluh darah. Dermis juga mengandung beberapa derivat
epidermis yaitu folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Kualitas
kulit tergantung banyak tidaknya derivat epidermis di dalam dermis. Fungsi
Dermis : struktur penunjang, mechanical strength, suplai nutrisi, menahan
shearing forces dan respon inflamasi.
3. SUBKUTIS

Dermis merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri


dari lapisan lemak. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit
secara longgar dengan jaringan di bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda
menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi individu. Berfungsi menunjang
suplai darah ke dermis untuk regenerasi.
Fungsi Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar, isolasi panas,
cadangan kalori, kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber.
ETIOLOGI
Luka bakar dapat disebabkan oleh paparan api, baik secara langsung
maupun tidak langsung, misalnya akibat tersiram air panas yang banyak terjadi
pada kecelakaan rumah tangga. Selain itu, pajanan suhu tinggi dari matahari,
listrik maupun bahan kimia juga dapat menyebabkan luka bakar.
Secara garis besar, penyebab terjadinya luka bakar dapat dibagi menjadi:

Paparan api
o Flame: Akibat kontak langsung antara jaringan dengan api terbuka, dan
menyebabkan cedera langsung ke jaringan tersebut. Api dapat membakar
pakaian terlebih dahulu baru mengenai tubuh. Serat alami memiliki

kecenderungan untuk terbakar, sedangkan serat sintetik cenderung


meleleh atau menyala dan menimbulkan cedera tambahan berupa cedera
o

kontak.
Benda panas (kontak): Terjadi akibat kontak langsung dengan benda
panas. Luka bakar yang dihasilkan terbatas pada area tubuh yang
mengalami kontak. Contohnya antara lain adalah luka bakar akibat rokok

dan alat-alat seperti solder besi atau peralatan masak.


Scalds (air panas)
Terjadi akibat kontak dengan air panas. Semakin kental cairan dan semakin
lama waktu kontaknya, semakin besar kerusakan yang akan ditimbulkan.
Luka yang disengaja atau akibat kecelakaan dapat dibedakan berdasarkan
pola luka bakarnya. Pada kasus kecelakaan, luka umumnya menunjukkan
pola percikan, yang satu sama lain dipisahkan oleh kulit sehat. Sedangkan
pada kasus yang disengaja, luka umumnya melibatkan keseluruhan
ekstremitas dalam pola sirkumferensial dengan garis yang menandai

permukaan cairan.
Uap panas
Terutama ditemukan di daerah industri atau akibat kecelakaan radiator
mobil. Uap panas menimbulkan cedera luas akibat kapasitas panas yang
tinggi dari uap serta dispersi oleh uap bertekanan tinggi. Apabila terjadi
inhalasi, uap panas dapat menyebabkan cedera hingga ke saluran napas

distal di paru.
Gas panas
Inhalasi menyebabkan cedera thermal pada saluran nafas bagian atas dan
oklusi jalan nafas akibat edema.

Aliran listrik
Cedera timbul akibat aliran listrik yang lewat menembus jaringan tubuh.
Umumnya luka bakar mencapai kulit bagian dalam. Listrik yang
menyebabkan percikan api dan membakar pakaian dapat menyebabkan luka

bakar tambahan.
Zat kimia (asam atau basa)
Radiasi
Sunburn sinar matahari, terapi radiasi.

Adapun etiologi luka bakar paling sering berdasarkan usia dikelompokkan


antara lain :
Anak :
o Scalds (air panas)
o Kontak
o Paparan Api
o Gesekan
o Aliran Listrik
o Zat kimia
o Lain-lain
Dewasa :
o Paparan Api
o Scalds (air panas)
o Kontak
o Zat kimia
o Gesekan
o Lain-lain
o Aliran Listrik

55%
21%
13%
8%
1%
1%
1%
44%
28%
14%
5%
5%
3%
2%

KLASIFIKASI LUKA BAKAR


Kedalaman luka bakar dideskripsikan dalam derajat luka bakar, yaitu luka
bakar derajat I, II, atau III:

Derajat I
Pajanan hanya merusak epidermis sehingga masih menyisakan banyak
jaringan untuk dapat melakukan regenerasi. Luka bakar derajat I biasanya
sembuh dalam 5-7 hari dan dapat sembuh secara sempurna. Luka biasanya
tampak sebagai eritema dan timbul dengan keluhan nyeri dan atau
hipersensitivitas lokal. Contoh luka bakar derajat I adalah sunburn.

Derajat II
Lesi melibatkan epidermis dan mencapai kedalaman dermis namun masih
terdapat epitel vital yang bisa menjadi dasar regenerasi dan epitelisasi.
Jaringan tersebut misalnya sel epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar
keringat, dan pangkal rambut. Dengan adanya jaringan yang masih sehat
tersebut, luka dapat sembuh dalam 2-3 minggu. Gambaran luka bakar
berupa gelembung atau bula yang berisi cairan eksudat dari pembuluh darah
karena perubahan permeabilitas dindingnya, disertai rasa nyeri.

Apabila luka bakar derajat II yang dalam tidak ditangani dengan baik, dapat
timbul edema dan penurunan aliran darah di jaringan, sehingga cedera
berkembang menjadi full-thickness burn atau luka bakar derajat III.

Derajat III
Mengenai seluruh lapisan kulit, dari subkutis hingga mungkin organ atau
jaringan yang lebih dalam. Pada keadaan ini tidak tersisa jaringan epitel
yang dapat menjadi dasar regenerasi sel spontan, sehingga untuk
menumbuhkan kembali jaringan kulit harus dilakukan cangkok kulit. Gejala
yang menyertai justru tanpa nyeri maupun bula, karena pada dasarnya
seluruh jaringan kulit yang memiliki persarafan sudah tidak intak.

LUAS LUKA BAKAR


Luasnya kerusakan akan ditentukan oleh suhu permukaan dan lamanya
kontak. Luka bakar menyebabkan koagulasi jaringan lunak. Seiring dengan
peningkatan suhu jaringan lunak, permeabilitas kapiler juga meningkat, terjadi
kehilangan cairan, dan viskositas plasma meningkat dengan resultan pembentukan
mikrotrombus. Hilangnya cairan dapat menyebabkan hipovolemi dan syok,
tergantung banyaknya cairan yang hilang dan respon terhadap resusitasi. Luka
bakar juga menyebabkan peningkatan laju metabolik dan energi metabolisme.
Semakin luas permukaan tubuh yang terlibat, morbiditas dan mortalitasnya
meningkat, dan penanganannya juga akan semakin kompleks. Luas luka bakar
dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh.
Luka bakar menyebabkan sejumlah besar penyimpanan cairan di daerah
yang cedera, dan ketika ukuran lebih dari TBSA 20%, proses ini menjadi luas.
Edema terbentuk dalam jumlah besar, dan apabila kombinasi dengan kehilangan
cairan saat penguapan karena dari permukaan luka bakar yang lembab secara
signifikan akan mengurangi volume plasma. Hal ini akan menyebabkan
hipovolemia intravaskuler, yang jika tidak diperbaiki dapat menyebabkan
kegagalan sistem organ, terutama gagal ginjal.
Anak-anak memiliki cadangan fisiologis yang terbatas dan permukaan
rasio massa yang lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa. Ambang di
mana resusitasi cairan yang diperlukan pada anak lebih rendah dari pada orang
dewasa (sekitar 10 %) dan cenderung membutuhkan volume yang lebih besar per
kilogram. Bahkan, peningkatan kebutuhan cairan ini sama dengan kebutuhan
volume dari kebutuhan normal yang dihitung dengan menggunakan rumus
resusitasi cairan. Trauma inhalasi meningkatkan kebutuhan cairan. Pembentukan
edema berhenti antara 18-30 jam pasca luka bakar. Oleh karena itu, durasi
resusitasi bervariasi, tetapi dapat diketahui apabila volume yang dibutuhkan untuk
mempertahankan pengeluaran urin yang adekuat sama dengan untuk kebutuhan
pemeliharaan.

Ada beberapa metode cepat untuk menentukan luas luka bakar, yaitu:
Estimasi luas luka bakar menggunakan luas permukaan palmar pasien. Luas

telapak tangan individu mewakili 1% luas permukaan tubuh.


Rumus 9 atau rule of nine untuk orang dewasa
Pada dewasa digunakan rumus 9, yaitu luas kepala dan leher, dada,

punggung, pinggang dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri,
paha kanan, paha kiri, tungkai dan kaki kanan, serta tungkai dan kaki kiri masingmasing 9%. Sisanya 1% adalah daerah genitalia. Rumus ini membantu menaksir
luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada orang dewasa. Pada anak dan bayi
digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar
dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil.

Metode Lund dan Browder


Metode yang diperkenalkan untuk kompensasi besarnya porsi massa tubuh
di kepala pada anak. Metode ini digunakan untuk estimasi besarnya luas
permukaan pada anak. Apabila tidak tersedia tabel tersebut, perkiraan luas
permukaan tubuh pada anak dapat menggunakan Rumus 9 dan disesuaikan
dengan usia:

Pada anak di bawah usia 1 tahun: kepala 18% dan tiap tungkai 14%.

Torso dan lengan persentasenya sama dengan dewasa.


Untuk tiap pertambahan usia 1 tahun, tambahkan 0.5% untuk tiap tungkai
dan turunkan persentasi kepala sebesar 1% hingga tercapai nilai dewasa.

Lund and Browder chart illustrating the method for calculating the
percentage of body surface area affected by burns in children.
PATOFISIOLOGI LUKA BAKAR
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke
tubuh. Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan.
Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. Sel

darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia.
Meningkatnya permeabilitas menyebabkan edema dan menimbulkan bula yang
mengandung banyak elektrolit. Hal itu menyebabkan berkurangnya volume cairan
intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan
akibat penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke bula yang terbentuk pada
luka bakar derajat II, dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat III.
Bila luas luka bakar kurang dari 20%, biasanya mekanisme kompensasi
tubuh masih bisa mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20%, akan terjadi syok
hipovolemik dengan gejala yang khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat,
nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun dan produksi urin yang berkurang.
Pembengkakan terjadi pelan-pelan, maksimal terjadi setelah delapan jam.
Setelah 12-24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi
mobilisasi serta penyerapan kembali cairan edema ke pembuluh darah. Ini
ditandai dengan meningkatnya diuresis.
Pembagian zona kerusakan jaringan menurut Jackson Burn Wound :

1.

Zona Nekrosis Koagulasi


Merupakan daerah yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi protein)
akibat pengaruh cedera termis, hampir dapat dipastikan jaringan ini
mengalami nekrosis beberapa saat setelah kontak. Oleh karena itulah disebut

2.

juga sebagai zona nekrosis.


Zona Statis
Merupakan daerah yang langsung berada di luar/di sekitar zona koagulasi.
Di daerah ini terjadi kerusakan endotel pembuluh darah disertai kerusakan
trombosit dan leukosit, sehingga terjadi gangguam perfusi (no flow

phenomena), diikuti perubahan permeabilitas kapilar dan respon inflamasi


lokal. Proses ini berlangsung selama 12-24 jam pasca cedera dan mungkin
3.

berakhir dengan nekrosis jaringan.


Zona Hiperemi
Merupakan daerah di luar zona statis, ikut mengalami reaksi berupa
vasodilatasi tanpa banyak melibatkan reaksi selular. Tergantung keadaan
umum dan terapi yang diberikan, zona ketiga dapat mengalami
penyembuhan spontan, atau berubah menjadi zona kedua bahkan zona
pertama.

INDIKASI RAWAT INAP PASIEN LUKA BAKAR


Menurut American Burn Association, seorang pasien diindikasikan untuk
dirawat inap bila:
1.

Luka bakar derajat III > 5%

2.
3.

Luka bakar derajat II > 10%


Luka bakar derajat II atau III yang melibatkan area kritis (wajah, tangan,
kaki, genitalia, perineum, kulit di atas sendi utama) risiko signifikan

4.
5.

untuk masalah kosmetik dan kecacatan fungsi


Luka bakar sirkumferensial di thoraks atau ekstremitas
Luka bakar signifikan akibat bahan kimia, listrik, petir, adanya trauma
mayor lainnya, atau adanya kondisi medik signifikan yang telah ada

6.

sebelumnya
Adanya trauma inhalasi

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pemeriksaan darah rutin dan kimia darah


Urinalisis
Pemeriksaan keseimbangan elektrolit
Analisis gas darah
Radiologi jika ada indikasi ARDS
Pemeriksaan lain yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis SIRS dan
MODS

PENATALAKSANAAN LUKA BAKAR


Pertolongan Pertama

Menghentikan proses trauma bakar. Segera tanggalkan pakaian untuk

menghentikan proses trauma bakar.


Dinginkan luka bakar dengan air (8-150C) selama sekitar 20 menit.
Tutup luka bakar.
Berikan analgetik

Primary Survey

Airway
Diperlukan kewaspadaan adanya obstruksi yang mengancam jalan napas
pada trauma panas karena tanda-tanda terjadinya obstruksi napas pada saatsaat awal tidak jelas. Indikasi klinis adanya trauma inhalasi antara lain:
1. Luka bakar yang mengenai wajah dan atau leher
2. Alis mata dan bulu hidung hangus
3. Adanya timbunan karbon dan tanda peradangan akut orofaring
4. Sputum yang mengandung karbon/arang
5. Suara serak
6. Riwayat gangguan mengunyah dan atau terkurung dalam api
7. Luka bakar kepala dan badan akibat ledakan
8. Kadar karboksihemoglobin lebih dari 10% setelah berada di tempat
kebakaran.
Bila ditemukan salah satu dari keadaan di atas, sangat mungkin terjadi
trauma inhalasi yang memerlukan penanganan dan terapi definitive,
termasuk pembebasan jalan napas.

Breathing
o Perhatikan pengembangan dada, adekuat dan bilateral? Hitung
respiratory rate.
o Palpasi - adakah krepitasi atau fraktur?
o Auskultasi - samakah bunyi napas di kedua lapangan paru?
o Pasang monitor saturasi oksigen.

Circulation
o Perhatikan jika ada perdarahan tekan langsung.
o Ukur tekanan darah, raba nadi.

Disability

o Periksa kesadaran.
o Periksa ukuran pupil.

Environment
o Jaga pasien dalam keadaan hangat.

Tentukan luas luka bakar


Telah dibahas sebelumnya.

Resusitasi Cairan
Estimasi Kebutuhan Cairan
Besarnya luas luka bakar dapat ditentukan dengan metode rule of nine. Jika
memungkinkan, pasien harus ditimbang atau ditanyakan berat badannya. Data ini
digunakan dalam resusitasi cairan pasien luka bakar.
Pada orang dewasa : 3-4 ml crystalloid x BB x persentasi luka bakar (%)
Pada anak-anak : 3-4 ml crystalloid x BB x persentasi luka bakar (%)
ditambahkan 5% glucosein 0,45% (1/2 normal) salin
100 ml/kg (10 kg pertama)
50 ml/kg (10-20 kg kedua)
20 ml/kg (untuk setiap kelebihan 20 kg)
Catatan : perhitungan kebutuhan cairan pada pasien luka bakar dimulai pada saat
terjadi luka bakar, bukan pada saat pasien datang ke rumah sakit.
Cairan sebaiknya di masukan melalui dua kanul infus yang dipasang pada kulit
yang tidak terbakar.

Pemberian cairan diberikan selama 24 jam pertama.


-

Setengah dari kebutuhan cairan diberikan pada 8 jam pertama dan

sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya


Pemberian cairan maintenance pada anak-anak diberikan setelah 24
jam.

Jika produksi urin tidak adekuat, dapat diberikan tambahan cairan :


-

Bolus 5-10 ml/kg atau tingkatkan pemberian cairan 150% dari rencana
pemberian awal.

Pada 24 jam kedua setelah terjadi luka bakar, cairan koloid dapat digunakan untu
memperbaiki volume sirkulasi dengan menggunakan formula:
-

0,5 ml albumin 5% x BB x % luka bakar

Dalam resusitasi cairan pasien luka bakar, cairan elektrolit juga harus disediakan
untuk menilai jumlah kehilangan evaporasi dan cairan maintenance yang
dibutuhkan. Cairan yang umumnya digunakan adalah : normal salin + potassium
(+dextrose untuk anak-anak).
Baxter menemukan pasien dengan trauma inhalasi memerlukan tambahan
cairan jika dibandingkan dengan yang lainnya. Pruitt melaporkan pasien dengan
trauma elektrik dan yang resusitasinya tertunda memerlukan cairan tambahan.
Bagaimana pun juga, muncul bukti bahwa pasien dengan luka bakar mayor
memerlukan cairan lebih banyak dari pada yang direkomendasikan Parkland
formula. Volume resusitasi cairan yang besar berhubungan dengan peningkatan
resiko komplikasi infeksi, acute respiratory distress syndrome (ARDS),
abdominal compartment syndrome dan kematian. Pruitt menggunakan istilah fluid
creep untuk mendeskripsikan fenomena ini.
Formula yang sering digunakan untuk manajemen cairan pada luka bakar
mayor yaitu Parkland, modified Parkland, Brooke, modified Brooke, Evans dan
Monafos formula.
a. Parkland formula

1. 24 jam pertama: cairan Ringer Laktat (RL) 4 mL/kgBB untuk setiap


1% permukaan tubuh yang terbakar pada dewasa dan 3 mL/kgBB
untuk setiap 1% permukaan tubuh yang terbakar pada anak. Cairan RL
ditambahkan untuk maintenance pada anak:
- 4 mL/kg BB/jam untuk anak dengan berat 0-10 kg
- 40 mL/jam + 2 mL/jam untuk anak dengan berat 10-20 kg
- 60 mL/jam + 1 mL/kg BB/jam untuk anak dengan berat 20 kg atau
lebih.
Formula ini direkomendasikan tanpa koloid di 24 jam pertama.
2. 24 jam selanjutnya: koloid diberikan sebesar 20-60% dari kalkulasi
volume plasma. Tanpa kristaloid. Glukosa pada air ditambahkan untuk
mempertahankan output urin 0,5 1 mL/jam pada dewasa dan 1
mL/jam pada anak.
b. Modified Parkland formula
1. 24 jam pertama: RL 4 mL/kg BB untuk setiap 1 % permukaan tubuh
yang terbakar (dewasa).
2. 24 jam selanjutnya: mulai infuse koloid dengan albumin 5% 0,3 1
mL/kgBB untuk setiap 1% permukaan tubuh yang terbakar/16 jam.
c. Brooke formula
1. 24 jam pertama: cairan RL 1,5 mL/kgBB untuk setiap 1% permukaan
tubuh yang terbakar ditambah koloid 0,5 mL/kg BB untuk setiap 1%
permukaan tubuh yang terbakar ditambah 2000 mL glukosa dalam air.
2. 24 jam selanjutnya: RL 0,5 mL/kg BB untuk setiap 1% permukaan
tubuh yang terbakar dan jumlah yang sama dari glukosa dalam air pada
24 jam pertama.
d. Modified Brooke
1. 24 jam pertama: tanpa koloid. Cairan RL 2 mL/kg BB untuk setiap 1%
permukaan tubuh yag terbakar (dewasa) dan 3 mL/kg BB untuk setiap
1% permukaan tubuh yang terbakar (anak).
2. 24 jam selanjutnya: koloid 0,3-0,5 mL/kg BB untuk setiap 1%
permukaan tubuh yang terbakar dan tanpa kristaloid. Glukosa di air
ditambahkan untuk mempertahankan output urin yang cukup.
e. Evans formula
1. 24 jam pertama: kristaloid 1 mL/kgBB untuk setiap 1% permukaan
tubuh yang terbakar ditambah koloid 1 mL/kg BB untuk setiap 1%
permukaan tubuh yang terbakar ditambah 2000 mL glukosa di air.

2. 24 jam selanjutnya: kristaloid 0,5 mL/kg BB untuk setiap 1%


permukaan tubuh yng terbakar ditambah glukosa di air dengan jumlah
yang sama pada 24 jam pertama.
f. Monafo formula
Monafo merekomendasikan menggunakan cairan yang mengandung Na
250 mEq, laktat 150 mEq, dan Cl 100 mEq. Jumlah ditambahkan seuai
dengan output urin. 24 jam selanjutnya, cairan dititrasi dengan 1/3 normal
saline sesuai dengan output urin.
Formula yang bisa digunakan untuk anak-anak:
a. Shriners Cincinnati
1. Anak yang lebih tua: cairan Ringer Laktat (RL) 4 mL/kg BB untuk
setiap 1% permukaan tubuh yang terbakar + 1500 mL/m 2 total (1/2
volume total diberikan 8 jam pertama, dan sisa volume totalnya
diberikan pada 16 jam selanjutnya.
2. Anak yang lebih muda: 4 mL/kg BB untuk setiap 1% permukaan
tubuh yang terbakar + 1500 mL/m 2 total, pada 8 jam pertama cairan
RL + 50 mEq NaHCO3. Cairan RL di 8 jam kedua. Albumin 5% pada
cairan RL pada 8 jam ketiga.
b. Galveston
24 jam pertama: RL 5000 mL/m 2 + 2000 mL/m2 total (1/2 volume total
pada 8 jam pertama, dan sisanya pda 16 jam selanjutnya.
Tekanan darah kadang sulit diukur dan hasilnya kurang dapat dipercaya.
Pengukuran produksi urin tiap jam merupakan alat monitor yang baik untuk
menilai volume sirkulasi darah; asalkan tidak ada dieresis osmotic (misal
glikosuria). Oleh karena itu pasang kateter urin untuk mengukur produksi urin.
Pemberian cairan cukup untuk dapat mempertahankan produksi urin 1,0
mL/kgBB/jam pada anak-anak dengan berat badan 30 kg atau kurang, dan 0,5-1
ml/kgBB/jam pada orang dewasa.
Resusitasi luka abakar yang ideal adalah mengembalikan volume plasma
dengan efektif tanpa efek samping. Kristaloid isotonic, cairan hipertonik, dan
koloid telah digunakan untuk tujuan ini, namun setiap cairan memiliki kelebihan

dan kekurangan. Tak satupun dari mereka ideal, dan tak ada yang lebih superior
dibanding yang lain.

1.

Kristaloid isotonic
Kristaloid tersedia dan lebih murah dibanding alternative lain. Cairan RL,
cairan Hartmann (sebuah cairan yang mirip dengan RL) dan NaCl 0,9%
adalah cairan yang sering digunakan. Ada beberapa efek samping dari
kristaloid: pemberian volume NaCl 0,9%

yang besar memproduksi

hyperchloremic acidosis, RL meningkatkan aktivasi neutrofil setelah


resusitasi untuk hemoragik atau setelah infuse tanpa hemoragik. RL
digunakan oleh sebagian besar rumah sakit mengandung campuran ini. Efek
samping lain yang telah didemonstrasikan yaitu kristaloid memiliki
pengaruh yang besar pada koagulasi.
Meskipun efek samping ini, cairan yang paling sering digunakan untuk
resusitasi luka bakar di Inggris dan Irlandia adalah cairan Hartmann (unit
dewasa 76%, unit anak 75%). Sedangkan RL merupakan tipe cairan yang
2.

paling sering digunakan di US dan Kanada.


Cairan hipertonik
Pentingnya ion Na di patofisiologi syok luka bakar telah ditekankan oleh
beberapa studi sebelumnya. Na masuk ke dalam sel shingga terjadi edema
sel dan hipo-osmolar intravascular volume cairan. Pemasangan infus cairan
hipertonik yang segera telah dibuktikan meningkatkan osmolaritas plasma
dan membatasi edema sel. Penggunaan cairan dnegan konsentras 250
mEq/L, Moyer at al. mampu mendapatkan resusitasi fisologis yang efektif
dengan total volume yang rendah dibandingkan cairan isotonic pada 24 jam
pertama. Namun Huang et al. menemukan bahwa setelah 48 jam pasien
yang diterapi dengan cairan hipertonik atau RL memberikan hasil yang
sama. Mereka juga mendemonstrasikan bahwa resusitasi cairan hipertonik
berhuungan dengan peningkatan insidens gagal ginjal dan kematian. Saat
ini, resusitasi dengan cairan hipertonik menjadi pilihan menarik secara

fungsi fisiologis sesuai teorinya, tetapi memerlukan pemantauan ketat dan


resiko hipernatremi dan aggal ginjal menjadi perhatian utama.
3.

Koloid
Kebocoran dan akumulasi protein plasma di luar komparemen vaskular
memberikan kontribusi pada pembentukan edema. Kebocoran kapiler bisa
bertahan hingga 24 jam setelah trauma bakar. Peneliti lain menemukan
ekstravasasi ekstravasasi albumin berhenti 8 jam setelah trauma bakar.
Koloid sebagai cairan hiperosmotik, digunakan untuk meningkatkan
osmolalitas intravascular dan menghentikan ekstravasasi kristaloid.

Monitoring resusitasi cairan


Metode yang paling sering digunakan dalam menilai adekuatnya resusitasi yaitu
dengan menilai produksi urin. Pada orang dewasa produksi normal 0,5 ml/kg/jam
(30-50 ml/jam) dan pada anak-anak (<30 kg) produksi normal 1,0 ml/kg/jam
Jika produksi urin berada dalam batas nilai normal berarti resusitas cairan yang
diberikan dapat dipertahankan. Jika produksi urin berlebih, mengindikasikan
kelebihan cairan resusitasi yang dapat menyebabkan edema. Sebaliknya jika
produksi urin kurang dari produksi normal mengindikasikan perfusi cairan ke
jaringan berkurang dan dapatr menyebabkan kematian sel.
Pemasangan kateter urin pada pasien luka bakar sangat penting dalam menilai
resusitasi yang diberikan. Indikasi pemsangan kateter urin pada pasien luka bakar
dinilai berdasarkan luas luka bakar, pada anak-anak >10 % TBSA sedangkan pada
orang dewasa >20% TBSA.
Jika dalam pemeriksaan gas darah didapatkan pH < 7,35 maka hal ini menunjukan
tidak adekuatnya perfusi jaringan dan umumnya dapat menyebabkan asidosis
laktat. Hal ini membutuhkan tambahan resusitasi. Jika dengan resusitasi tidak
berhasil, penambahan bikarbonat dapat dipertimbangkan setelah diskusi dengan
ahli anastesi.

Frekuensi nadi pada penderita luka bakar umumnya meningkat oleh karena rasa
nyeri, dan hal ini merupakan indikator tidak adekuatnya cairan resusitasi yang
diberkan.
Hemoglobinuria
Cedera jaringan, khususnya jaringan otot, dari pajanan listrik, trauma benda
tumpul,

atau

karena

iskemik

menyebabkan

pelepasan

myoglobin

dan

hemoglobin.Sangat dipertimbangkan untuk dilakukan fasciotomy (sebagai


perbandingan dari escharatomy yang tidak melepaskan fasia otot yang lebih
dalam). Hemochromogen ini member warna pada urinya itu merah gelap. Gagal
ginjal akut akan segera terjadi sebagai akibat dari mengendapnya hemochromogen
didalam tubulus proksimal dan diperlukan penanganan yang cepat:
-

Tingkatkan output urin sampai 2 ml/kg/jam


Berikan manitol 12.5 gram selama 1 jam dan observasi reaksinya

Masalah Pada Resusitasi


Formula/rumus hanya memperkirakan kebutuhan individu dan pasien harus
diawasi secarara ketat.
Oligouri
Pengeluaran urine yang sedikit mengidikasikan tidak adekuatnya resusitasi cairan.
Penanganan pertama adalah meningkatkan laju/tetesan infus. Diuretic jarang
dibutuhkan dan seharusnya tidak digunakan sampai dikonsul ke unit luka bakar.
Diuretic digunakan pada pasien dengan hemochromogen pada urin dan kadangkadang pada pasien dengan luka bakar yang luas.
Dibawah ini kelompok pasien yang rutin memerlukan resusitasi cairan yang
ekstra:
-

Anak-anak
Cedera inhalasi
Luka sengatan listrik
Penanganan resusitasi yang terlambat

Pemadam yang mengalamidehidrasi, pasien intoksikasi

Bayi, orang tua dan mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung harus
diberikan pengawasan yang ketat karena cairan yang overload mungkin
menyebabkan terjadinya pengendapan. Untungnya, edema paru jarang terjadi
karena peningkatan proporsional yang lebih besar dalam resistens ivaskuler paru
dari pada resistensi pembuluh darah sistemik. Edema paru terjadi pada mereka
dengan hypokinesia miokard dan seringkali memerlukan pemantauan invasif,
dukungan inotropik, ventilasi dan perbaikan yang lambat dalam penanganan
cairan.
Anak-anak
Anak-anak cenderung mengalami hipoglikemi, overload cairan dan hiponatremi
dilusi karena terbatasnya ketersediaan glikogen dan rasio volume intravascular.
Glukosa darah dan elektrolit harus diperiksa secara teratur. Air bebas harus
dibatasi dan sumber karbohidrat harus terjamin.Ini bias menjadi makanan enteral
atau penambahan dekstrosa kedalam larutan elektrolit.
Abdominal Compartment Syndrome
Keadaan ini jarang terjadi tapi menjadi komplikasi serius yang bias terjadi pada
luka bakar yang luas pada orang dewasa dan juga pada anak-anak ketika
kebutuhan cairan yang dihitung telah terlampaui untuk mencapai urin yang
adekuat. Pemantauan tekanan kandung kemih dapat memberikan informasi yang
berharga mengenai perkembangan komplikasi ini.
Sebagai kesimpulan, resusitasi cairan sangat dibutuhkan untuk kelangsungan
hidup pasien luka bakar
-

Cairan intravena untuk:


o anak-anak >10% TBSA
o dewasa >20% TBSA
perhitungan cairan dimulai dari waktu terkena cedera
o Anak-anak (<30kg) 3-4 ml/kg x %TBSA burn plus maintenance
o Dewasa 3-4 ml x kg x %TBSA burn

setengah 8 jam pertama, sisanya 16 jam berikutnya


-

Menggunakan cairan kristaloid selama 24 jam pertama


anak-anak butuh karbohidrat
pasang katete urin
hemochromogen: tingkatkan resusitasi cairan untuk pengeluaran urin yang

dua kali lebih banyak


pantau glukosa darah, serum elektrolit, tekanan darah, nadi, gas darah
arteri, foto x-ray dada

Guideline Resusitasi Cairan pada Dewasa dengan Trauma Bakar Akut

DAFTAR PUSTAKA

1. Australian and New Zealand Burn Association Course Manual. Emergency


Management of Burn Injury. Albany Cree : Australian and New Zealand
Burn Association. 2013. p. 6-12, 44-9, 80-91.

2. Ratna Yulia. Burn Injury: General Concepts and Investigation Based on


Antemortem and Postmortem of Clinical Injury. Bali: Fakultas Kedokteran
Udayana. 2004. p. 1-11.
3. S David. Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka. Surabaya
Plastic Surgery. 2008. p. 2-18.
4. Advances Trauma Life Support untuk Dokter. 2004.
5. Mehmet H, Ebru SA, Hamdi K. Fluid Management in Major Burn
Injuries. Indian J Plast Surg. 2010: S29-S36.
6. David G. Burn Resuscitation. Journal of Burn Care & Research. 2007: 4.
7. Shehan H, Peter D. Pathophysiology and Types of Burns. BMJ.
2004;328:14279.
8. Mayo clinic staff. Burns First Aids. http: // www.nlm.nih.gov/medlineplus.
Januari 2008
9. Benjamin C. Wedro. First Aid for Burns. 2008. Available from:
http://www.medicinenet.com.
10. James H. Holmes., David M. heimbach. 2005. Burns, in : Schwartzs
Principles of Surgery. 18th ed. McGraw-Hill. New York. p.189-216