Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Mangrove
Mangrove berasal dari kata mangue/mangal (Portugish) dan grove
(English). Secara umum hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe
ekosistem hutan yang tumbuh di suatu daerah pasang surut (pantai, laguna, muara
sungai) yang tergenang pasang dan bebas pada saat air laut surut dan komunitas
tumbuhannya mempunyai toleransi terhadap garam (salinity) air laut.Mangrove
adalah vegetasi yang tumbuh pada tanah lumpur di dataran rendah di daerah batas
pasang-surutnya air, tepatnya daerah pantai dan sekitar muara sungai. Tumbuhan
tersebut tergenang di saat kondisi air pasang dan bebas dari genangan di saat
kondisi air surut. Mayoritas pesisir pantai di daerah tropis & sub tropis didominasi
oleh tumbuhan mangrove. Tumbuhan mangrove merupakan ekosistem peralihan
atau dengan kata lain berada di tempat perpaduan antara habitat pantai dan habitat
darat yang keduanya bersatu di tumbuhan tersebut. Pada hutan mangrove: tanah,
air, flora dan fauna hidup saling memberi dan menerima serta menciptakan suatu
siklus ekosistem tersendiri. Hutan mangrove sangat berbeda dengan tumbuhan
lain di hutan pedalaman tropis dan subtropis, ia dapat dikatakan merupakan suatu
hutan di pinggir laut dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Akarnya, yang
selalu tergenang oleh air, dapat bertoleransi terhadap kondisi alam yang ekstreem
seperti tingginya salinitas dan garam. Hal ini membuatnya sangat unik dan
menjadi suatu habitat atau ekosistem yang tidak ada duanya.
Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh
di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi
oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana
terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang
terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air
melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.Ekosistem hutan
bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan
kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur
penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang
bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat
khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.Tumbuhan

yang hidup di ekosistem mangrove adalah tumbuhan yang bersifat halophyte, atau
mempunyai toleransi yang tinggi terhadap tingkat keasinan (salinity) air laut dan
pada umumnya bersifat alkalin.Hutan mangrove di Indonesia sering juga disebut
hutan bakau. Tetapi istilah ini sebenarnya kurang tepat karena bakau (rhizophora)
adalah salah satu family tumbuhan yang sering ditemukan dalam ekosistem hutan
mangrove.
2.2 Ekosistem Mangrove
Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang
didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang mampu tumbuh dan
berkembang pada daerah pasang-surut pantai berlumpur. Komunitas vegetasi ini
umumnya tumbuh pada daerah intertidal dan supratidal yang cukup mendapat
aliran air, dan terlindung dari gelombang besar dan arus pasang-surut yang kuat.
Karena itu hutan mangrove banyak ditemukan di pantai-pantai teluk yang
dangkal, estuaria, delta dan daerah pantai yang terlindung.
Penyebaran hutan mangrove ditentukan oleh berbagai faktor lingkungan,
salah satu diantaranya adalah salinitas. Berdasarkan salinitas kita mengenal zonasi
hutan mangrove sebagai berikut (De Haan dalam Russell & Yonge, 1968):
1. Zona air payau hingga air laut dengan salinitas pada waktu terendam air
pasang berkisar antara 10 - 30 0/00 :

Area yang terendam sekali atau dua kali sehari selama 20 hari dalam
sebulan: hanya Rhizophora mucronata yang masih dapat tumbuh.

Area yang terendam 10 - 19 kali per bulan: ditemukan Avicennia (A.


alba, A. marina), Sonneratia griffithii dan dominan Rhizophora sp.

Area yang terendam kurang dari sembilan kali setiap bulan: ditemukan
Rhizophora sp., Bruguiera sp.

Area yang terendam hanya beberapa hari dalam setahun: Bruguiera


gymnorhiza dominan, dan Rhizophora apiculata masih dapat hidup.

2. Zona air tawar hingga air payau, dimana salinitas berkisar antara 0 - 10 0/00:

Area yang kurang lebih masih dibawah pengaruh pasang surut:


asosiasi Nypa.

Area yang terendam secara musiman: Hibiscus dominan.

Gambar 1

Salah satu tipe zonasi hutan mangrove di Indonesia adalah sebagai berikut
(Gambar 1):

Daerah yang paling dekat dengan laut sering ditumbuhi Avicennia dan
Sonneratia. Sonneratia biasa tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan
organik.

Lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh


Rhizophora spp. Di zona ini juga dijumpai Bruguiera dan Xylocarpus.

Zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera spp. Selanjutnya terdapat


zona transisi antara hutan mangrove dan hutan dataran rendah yang
biasanya ditumbuhi oleh nipah (Nypa fruticans), dan pandan laut
(Pandanus spp.).

Macnae (1966), distribusi mangrove dan zonasinya merupakan interaksi


antara :
Frekuensi pasang surut, Salinitas air tanah, kandungan air tanah.
Jonstone and Frodin (1982) menganalisis lebih jauh bahwa zonasi dan
penggenangan tergantung dari : Penggenangan dan ketinggian kolom air,
Gelombang, Drainase, Salinitas/pengaruh air tawar, Substrat, Interaksi Biota dan
biotic.

2.3 Morfologi dan Fisiologi Tumbuhan Mangrove


Menurut

Kitamura,

dkk

(1997),

karakteristik, diantaranya sebagai berikut :

mangrove

memiliki

beberapa

A. Sistem Perakaran
Daerah yang menjadi tempat tumbuh mangrove menjadi anaerob (tak ada
udara) ketika digenangi air. Beberapa spesies mangrove mengembangkan
sistem perakaran khusus yang dikenal sebagai akar udara (aerial roots),
yang sangat cocok untuk kondisi tanah yang anaerob. Akar udara ini dapat
berupa akar tunjang, akar napas, akar lutut dan akar papan. Akar napas dan
akar tunjang yang muda berisi zat hijau daun (klorofil) di bawah lapisan
kulit akar (epidermis) dan mampu untuk berfotosintesis. Akar udara
memiliki fungsi untuk pertukaran gas dan menyimpan udara selama akar
terendam.
B. Buah
Semua spesies mangrove menghasilkan buah yang biasanya disebarkan
oleh air. Buah yang dihasilkan oleh spesies mangrove memiliki bentuk
silindris, bola, kacang, dan lain-lain. Rhizophoraceae (Rhizophora,
Bruguiera, Ceriops, dan Kandelia) memiliki buah silindris (serupa tongkat)
yang dikenal sebagai tipe vivipari. Buah semacam ini dikenal sebagai tipe
buah vivipari. Biji Rhizophoraceae telah berkecambah sejak biji masih
berada di dalam buah dan hipokotilnya telah mencuat ke luar pada saat
buah masih bergelantung di pohon induk.
Avicennia (buah berbentuk seperti kacang), Aegiceras (buah silindris) dan
Nypa membentuk tipe buah yang dikenal sebagai kriptovivipari, dimana
biji telah berkecambah tetapi tetap terlindungi oleh kulit buah (perikarp)
sebelum lepas dari pohon induk. Sonneratia dan Xylocarpus memiliki
buah berbentuk bola yang berisi biji yang normal. Buah dari berbagai jenis
lainnya berbentuk kapsul atau seperti kapsul yang berisi biji normal.

C. Kelenjar Garam
Beberapa spesies mangrove dapat menyesuaikan diri terhadap kadar garam
tinggi, yaitu antara lain dengan cara membentuk kelenjar garam (salt

glands) yang berfungsi untuk membuang kelebihan garam. Avicennia,


Aegiceras, Acanthus, dan Aegialitis mengatur keseimbangan kadar garam
dengan mengeluarkan garam dari kelenjar garam (Tomlinson, 1986).
Kelenjar garam banyak ditemukan pada bagian permukaan daun, sehingga
kadang-kadang pada permukaan daun sering terlihat kristal-kristal garam.
Spesies lainnya, Rhizophora , Bruguiera, Ceriops, Sonneratia dan
Lumnitzera mengatur keseimbangan garam dengan cara yang lain yaitu
dengan menggugurkan daun tua yang berisi akumulasi garam atau dengan
melakukan tekanan osmosis pada akar. Meskipun demikian secara detil hal
ini belum terungkap dengan jelas.
2.4 Jenis-Jenis Mangrove
A. Mangrove Sejati
Mangrove sejati / komponen mayor adalah mangrove yang hanya dapat
hidup di lingkungan mangrove (pasang surut). Adapun jenis-jenis mangrove
sejati sebagai berikut :
1. Acanthus ebracteatus
2. Acanthus ilicifolius
3. Acrostichum aureum
4. Acrostichum speciosum
5. Aegialitis annulata
6. Aegiceras corniculatum
7. Aegiceras floridum
8. Amyema anisomeres
9. Amyema gravis
10. Amyema mackayense
11. Avicennia alba
12. Avicennia eucalyptifolia
13. Avicennia lanata
14. Avicennia marina
15. Avicennia officinalis
16. Bruguiera cylindrica
17. Bruguiera exaristata
18. Bruguiera gymnorrhiza
19. Bruguiera hainessii
20. Bruguiera parviflora
21. Bruguiera sexangula
22. Camptostemon philippinense
23. Camptostemon schultzii
24. Ceriops decandra
25. Ceriops tagal

26. Excoecaria agallocha


27. Gymnanthera paludosa
28. Heritiera globosa
29. Heritiera littoralis
30. Kandelia candel
31. Lumnitzera littorea
32. Lumnitzera racemosa
33. Nypa fruticans
34. Osbornia octodonta
35. Phemphis acidula
36. Rhizophora apiculata
37. Rhizophora mucronata
38. Rhizophora stylosa
39. Sarcolobus globosa
40. Scyphiphora hydrophyllacea
41. Sonneratia alba
42. Sonneratia caseolaris
43. Sonneratia ovata
44. Xylocarpus granatum
45. Xylocarpus mekongensis
46. Xylocarpus moluccensis
47. Xylocarpus rumphii
B. Mangrove Ikutan
Mangrove Ikutan / komponen minor mengrove yang dapat hidup di luar
lingkungan mangrove (tidak langsung kenah pasang surut air laut). Adapun
jenis-jenis mangrove ikutan yaitu :
1. Barringtonia asiatica
2. Calophyllum inophyllum
3. Calotropis gigantea
4. Cerbera manghas
5. Clerodendrum inerme
6. Derris trifoliata
7. Finlaysonia maritima
8. Hibiscus tiliaceus
9. Ipomoea pes-caprae
10. Melastoma candidum
11. Morinda citrifolia
12. Pandanus odoratissima
13. Pandanus tectorius
14. Passiflora foetida
15. Pongamia pinnata
16. Ricinus communis
17. Scaevola taccada
18. Sesuvium portulacastrum
19. Stachytarpheta jamaicensis

20. Terminalia catappa


21. Thespesia populnea
22. Wedelia biflora

BAB III
MATERI DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Hari, Tanggal : Selasa, 16 Oktober 2012
Pukul
: 09.00 10.00
Tempat: MECoK ( Mangrove Education Centre of KeSEMaT)
3.2 Alat dan Bahan
1 roll tali rafia sepanjang 20 m
1 roll tali rafia sepanjang 10 m
1 roll tali rafia sepanjang 2 m
Plastik
Label
Alat tulis
Papan jalan
Jangka sorong
Buku identifikasi mangrove
Kardus
Gunting
Selotip bening
Kamera digital
3.3 Cara Kerja
Persiapkan transek tali rapiah 3 buah , yaitu 4 buah tali rapiah sepanjang
10 meter, 4 buah tali rapiah sepanjanng 5 meter, 4 buah tali rapiah sepanjang 1
meter.Kemudian letakkan tali rapiah tersebut didalam kawasan mangrove,
sehingga didapat masing masingplt 10 x 10 m, plot 5 x 5 m, dan plot 1 x 1m.

5m
10 m

1m

5m

1m

5m
10 m

laut

(Gambar transek)
1. Pohon/tress
Gunakan Plot yang berukuran 10 x 10 m . Dengan data diameter
pohon.dengan data yang diameternya pohon > 4 cm, spesies , organisme , serta
keteranagan lain yang diperlukan. . Dengan beberapa rekomendasi tentang
diameter pohon menurut Cintrin dan Novelli (1984) digunakan yaitu:
1. Apabila batang bercabang di bawah ketinggian sebatas dada (1,3 m) dan
masing-masing cabang memiliki diameter 4 cm maka diukur sebagai dua
pohon yang terpisah,
2. Apabila percabangan batang berada di atas setinggi dada atau sedikit di
atasnya maka diameter diukur pada ukuran setinggi dada atau di bawah
cabangnya,
3. Apabila batang mempunyai akar tunjang / udara, maka diameter diukur 30
cm diatas tonjolan tertinggi.
4. Apabila batang mempunyai batang yang tidak lurus, cabang atau terdapat
ketidak-normalan pada poin pengukuran maka diameter diambil pada 30
cm diatas atau dibawah setinggi dada.
5. Ketinggian diukur dari pohon bagian paling bawah yang menyentuh tanah
sampai daun yang paling ujung.
-

Kemudian data yang diambil tersebut dianalisa untuk diketahui nilai


Basal Area (BA Dominansi Relaitf (DR),

Kemudian tentukan nilai indeks Kerapatan (K), Kerapatan Relatif


(KR),

2.

Sampling
-

Sedangkan sapling dengan menggunakan plot 5 x 5 meter.

Data Sapling berupa yaitu data yang berupa diameter batangnya 1- < 4
Cm.

Data yang diambil berupa spesies, dan keterangan penting lainnya


mengenai individu sapling tersebut.

Data yang diambil tersebut kemudian dianalisa untuk diketahui nilai


indeksnya sebagaimana untuk pohon..

3. Seedling
- Sedangkan sedling menggunakan plot ukuran 1 x 1 meter.
-

Mencari Sampel seedling berupa vegetasi mangrove dengan ketinggian <


1 m pada subplot 1m x 1m

Mencatat Data dalam data sheet adalah berupa spesies, jumlah spesies dan

prosentasei penutupan terhadap subplot 1m x 1m.


Tentukan persentase penutupan seedling ke dalam enam kelompok yaitu:
< 5 %, 5-10 %, 10-25 %, 25-50 %, 50-75 %, 75-100 %

Tentukan nilai Donimasi relative (DR),

Kemudian tentukan nilai indeks Kerapatan (K), Kerapatan Relatif (KR),


Indeks Keanekaragaman (H), dan Indeks Keseragaman (J).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Analisis Data
Provinsi
Kotamadya / Kabupaten
Kecamatan
Tanggal / Bulan / Tahun
Transek 1

: Jawa Tengah
: Jepara
: Tahunan
: 16 / Oktober / 2012

1. Pohon
No

Spesies

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora

mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata

Diameter

Tinggi

(cm)

5,9
7,4
4,9
4,51
5,26
5,8
4,17
6
5,3
5,1
7,4
4,46
5,5
6,4
4,5
6,1
5,5
6,4
5,3
5
5,3
5,7
4,4
5,3
4,8
4,3
5,3

(cm)
5,5
4,5
4
5
5,1
4,5
4
4
4,5
4,5
4,5
4
3,5
5,6
4
5
4,5
5,2
4,5
5,2
4,5
4
4
4
4
4
3,5

Diamete

Tinggi

r (cm)

(cm)
3
2,5
2,2
3

2. Sapling
No

Spesies

1
2
3
4

Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora

mucronata
mucronata
mucronata
mucronata

2,6
1,23
2,75
2,02

3. Sedling
No

1
Transek 2
1. Pohon

Spesies

IND

Rhizophora mucronata

14

% Cover
30

No

Spesies

Rhizophora
1 mucronata
Rhizophora
2 mucronata
Rhizophora
3 mucronata
Rhizophora
4 mucronata
Rhizophora
5 mucronata
Rhizophora
6 mucronata
Rhizophora
7 mucronata
Rhizophora
8 mucronata
Rhizophora
9 mucronata
Rhizophora
10 mucronata
Rhizophora
11 mucronata
Rhizophora
12 mucronata
Rhizophora
13 mucronata
Rhizophora
14 mucronata
Rhizophora
15 mucronata
Rhizophora
16 mucronata
Rhizophora
17 mucronata
Rhizophora
18 mucronata
Rhizophora
19 mucronata
Rhizophora
20 mucronata
Rhizophora
21 mucronata
Rhizophora
22 mucronata
23 Rhizophora

Diamete

Tinggi

r (cm)

(cm)
5

7
5
4,4
7,4
6,58
5
6,5
6,4
6,3
5,74
4,26
5,12
6,83
4,4
6,2
6,43
4,17
5,35
4,25
4,13
6,1
4,10
5,4

5
4,5
5
4,5
5
4
5
4,5
4
4
5
5
4,5
4
4,5
5
5
4
4
4,5
4
4

24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34

mucronata
Rhizophora
mucronata
Rhizophora
mucronata
Rhizophora
mucronata
Rhizophora
mucronata
Rhizophora
mucronata
Rhizophora
mucronata
Rhizophora
mucronata
Rhizophora
mucronata
Rhizophora
mucronata
Rhizophora
mucronata
Rhizophora
mucronata

4,03
7,18
7,19
6,19
6,46
4,42
5,56
6,8
6,71
6,88
6,70

4,5
4
5
5
5
4,5
4
4,5
5
5
5

2. Sapling
No

Spesies

1
2
3
4
5
6
7
8

Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora
Rhizophora

mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata
mucronata

Diamete

Tinggi

r (cm)

(cm)
3,5
3,5
3,2
3,5
3,5
3,5
3
3,5

3,25
3,50
3,16
2,40
2,68
2,74
2,2
2,7

3. Sedling
No

1
4.1.2

Spesies

IND

Rhizophora mucronata

Pengolahan Data
1. Kerapatan Jenis
D = n1
A
Transek 1

% Cover
5

D = 46
100

= 0.46

Transek 2
D = 32
100

= 0.32

2. Kerapatan Relatif Jenis


RD1 = (n1 / n ) x 100 %
Transek 1
RD = (46 / 46 ) x 100 %
= 100 %
Transek 2
RD = ( 32/ 32 ) x 100 %
= 100 %
3. Penutupan Jenis ( C )
C1 = Z BA / A
BA = (BH2 ) / 4
Transek 1
BA1 = 3,14 (3,252) / 4
= 9.73
BA2 = 3,14 (3,52) / 4
= 9,61
BA3 = 3,14 (3,162) / 4
= 7,83
BA4 = 3,14 (2.402) / 4
= 4,52
BA5 = 3,14 (2,072) / 4
= 3,36
BA6 = 3,14 (2,742) / 4
= 5,8
BA7 = 3,14 (2,22) / 4
= 3,8
BA8 = 3,14 (2,72) / 4
= 5,72
BA9 = 3,14 (3,142) / 4
= 7,73
C1 = ZA / A
= 58,09 / 25
= 2,32
Transek 2
BA1 = 3,14 (2,62) / 4
= 5,306
BA2 = 3,14 (1,232) / 4
= 1,18
BA3 = 3,14 (2,742) / 4

= 5,93
BA4 = 3,14 (2,022) / 4
= 3,2
C1 = ZA / A
= 15,61 / 25
= 0,6244
4.1.3

Jenis Jenis Mangrove


1. Lumnitzera racemosa

Ciri ciri :
-

Daun agak tebal berdaging, keras/kaku, dan berumpun pada ujung

dahan. Panjang tangkai daun mencapai 10 mm.


Buah berbentuk kembung/elips, berwarna hijau kekuningan,
berserat, berkayudan padat.

2. Rhizophora mucronata

Ciri ciri :
-

Daun berkulit. Gagang daun berwarna hijau,

Gagang kepala bunga seperti cagak,


Buah lonjong/panjang hingga berbentuk telur berukuran 5-7 cm,
berwarna hijaukecoklatan, seringkali kasar di bagian pangkal,
berbiji tunggal.

3. Aegiceras coniculatum

Ciri ciri :
- Daun berkulit, terang, berwarna hijau mengkilat pada bagian atas
dan hijau pucat di bagian bawah, seringkali bercampur warna agak
kemerahan. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan
-

daun dan gagangnya.


Dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan
seperti lampion, dengan masing-masing tangkai/gagang bunga

panjangnya 8-12 mm.


Buah berwarna hijau hingga merah jambon (jika sudah matang),
permukaan halus, membengkok seperti sabit.

4. Sesuvium portulacastrum

Ciri ciri :
-

Tebal berdaging
Bunga kecil, warna ungu, memiliki tangkai panjangnya 3-15 mm

dan tabung panjangnya 3 mm.


Buah berbentuk kapsul, bundar dan halus, panjang melintang kira
-kira 8 mm.

5. Acanthus ilicifolius

Ciri ciri :
-

Dua sayap gagang daun yang berduri terletak pada tangkai.


Permukaan daun halus, tepi daun bervariasi: zigzag/bergerigi
besar-besar seperti gergaji atau agak rata dan secara gradual

menyempit menuju pangkal.


Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung,

kadang agak putih.


Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin
mengkilat. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo.

6. Excoecaria agalocha

Ciri ciri :
-

Daun hijau tua dan akan berubah menjadi merah bata sebelum
rontok, pinggiran bergerigi halus, ada 2 kelenjar pada pangkal

daun.
Memiliki bunga jantan atau betina saja, tidak pernah keduanya.
Bunga jantan (tanpa gagang) lebih kecil dari betina, dan menyebar
di sepanjang tandan. Tandan bunga jantan berbau, tersebar,

berwarna hijau dan panjangnya mencapai 11 cm.


Bentuk buah seperti bola dengan 3 tonjolan, warna hijau,
permukaan seperti kulit,berisi biji berwarna coklat tua.

4.2 Pembahasan
Untuk dapat mengetahui nilai suatu ekosistem mangrove pada suatu tempat
maka dilakukan pengambilan data dengan menggunakan metode transek
berukuran 10 m x 10 m, 5 m x 5 m, 1 m x 1 m.
Transek yang memiliki ukuran 10x10 m digunakan untuk pengambilan data
Pohon transek yang memiliki ukuran 5x5 m digunakan untuk pengambilan data
sampling dan pada transek yang berukuran1x1 m digunakan untuk mengambil
data seedling.
Dari hasil praktikum di Teluk Awur Jepara tepatnya di MECoK, terdapat
beberapa spesies mangrove yang kami temukan pada ekosistem mangrove , tapi
hanya satu spesies yang terdapat di dalam transek yaitu : Rhizophora mucronata.
Pengambilan data dilakukan pada masing-masing plot transek kemudian
dilakukan pengolahan yang terdiri dari :

Plot yang digukanan untuk mengambil parameter adalah pada plot yang
berukuran 10x10 m dengan diameter batang > 4 cm. pada plot ini ditemukan
spesies Rhizophora mucronata sebanyak 61 pohon.
Pengambilan data sampling adalah pada plot yang ukurannya 5 x 5 meter
dengan mencari diameter batang antara 1 - < 4, serta organisme yang ada pada
plot tersebut. Pada plot ini ditemukan spesies Rhizophora mucronata sebanyak
12 pohon Sehingga dengan melihat dari banyaknya jenis tersebut dapat diketahui
bahwa spesies dari Rhizophora mucronata hampir menutupi seluruh ekosistem.
Pengambilan data seedling adalah pada plot yang ukurannya 1 x 1 meter
dengan mencari diameter batang antara <1, serta organisme yang ada pada plot
tersebut. Pada plot ini ditemukan spesies Rhizophora mucronata sebanyak 16
pohon. Sehingga dengan melihat dari banyaknya tersebut dapat diketahui bahwa
spesies dari Rhizophora mucronata dengan persen penutupan 25%.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Jenis jenis mangrove yang didapat antara lain :
- Rhizophora muucronata
- Lumnitzera racemosa
- Acanthus ilicifolius
- Sesuvium portulacastrum
- Excoecaria agaloca

5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
Endrawati, Hadi.2000.Biologi Laut ( Botani Laut ) Klasifikasi Dan Ciri
Lamun.

Semarang; Universitas Diponegoro Fakultas Perikanan

Dan Ilmu Kelautan.


Nantji, A. 1987. Laut Nusantara. Jakarta ; Djambatan.
Nybakken,J.W. 1988. Biologi Laut suatu pendekatan ekologis. Jakarta ;
Gramedia.

Philips,C.R. and E.G. Menez. 1988. Seagrass. Smith Sonian. Institutions Press.
WashingtonD.C.
Romimohtarto,K. dan S, Juwana. 1999.Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang
Biota Laut. Jakarta ; Puslitbang Oseanologi LIPI. Jakarta.