Anda di halaman 1dari 18

Refrat

LIMFEDEMA

Oleh :
Adya Sitaresmi

G99142024

Jati Febriyanto ALP

G99142025

Annisa Susilowati

G99142026

Silvia Putri KS

G99142027

Aninda Dwi Anggraeni

G99142028
G99142017

Pembimbing

Dr. dr. Hj. Noer Rachma, Sp.KFR

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN FISIK DAN


REHABILITASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA
2015

HALAMAN PENGESAHAN

Refrat ini disusun untuk memenuhi persyaratan Kepaniteraan Klinik Bagian


Rehabilitasi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret / RSUD
Dr. Moewardi Surakarta. Refrat ini telah disetujui dan dipresentasikan :
Hari

: Jumat

Tanggal

: 19 Juni 2015

Oleh :
Adya Sitaresmi

G99142012
G99142013
G99142014
G99142015
G99142016
G99142017

Mengetahui dan menyetujui


Pembimbing

Dr. dr. Hj. Noer Rachma, Sp.KFR


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
segala rahmat dan hidayatNya sehingga penulis mampu menyelesaikan refrat
sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan kepaniteraan klinik di SMF
Rehabilitasi Medik RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
Refrat ini dapat tersusun dengan baik berkat bimbingan, petunjuk, dan
bantuan maupun sarana dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dr. dr. Hj. Noer Rachma, Sp.KFR., selaku pembimbing sekaligus
kepala bagian SMF Rehabilitasi Medik RSUD Dr. Moewardi
Surakarta.
2. Para staf SMF Rehabilitasi Medik selaku pembimbing pada SMF
Rehabilitasi Medik
3. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian refrat ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan refrat


ini. Semoga saran dan koreksi dapat penulis jadikan masukan. Semoga karya tulis
ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Surakarta,

Penulis

Juni 2010

DAFTAR ISI

Judul......................................................................................................................1
Halaman Pengesahan............................................................................................2
Kata Pengantar......................................................................................................3
Daftar Isi...............................................................................................................4
Bab I.....................................................................................................................5
Bab II....................................................................................................................7
Bab III.................................................................................................................22
Daftar Pustaka.....................................................................................................23

BAB I
PENDAHULUAN

Edema merupakan penimbunan cairan yang berlebihan di antara sel


sel tubuh atau dalam rongga tubuh (Price dan Wilson, 2006). Pada kasus edema
dapat terjadi mekanisme sumbatan pada keluaran pembuluh limfe yang akan
menyebabkan terkumpulnya cairan limfe sehingga disebut sebagai limfedema.
Limfedema merupakan kondisi medis yang kronis yang ditandai dengan retensi
cairan getah bening, yang mengakibatkan pembengkakan jaringan (Lugito dkk,
2014).
Diperkirakan di Amerika Serikat bahwa kasus pasien dengan
limfedema paling banyak terjadi berkaitan dengan kejadian post operasi kanker
payudara terutama pada kasus kanker yang mendapatkan radioterapi. Selain itu
juga diketahui orang dengan obesitas juga rentan terkena kondisi lifedema ini
(Zuther, 2009). Di seluruh dunia, pada kasus infeksi filariasis diketahui paling
banyak ditemukan kondisi limfedema ini (McPherson, 2006).
Berdasarkan usia penderitanya limfedema ditemukan pada berbagai
tingkatan usia; yaitu kongenital limfedema (0-1 tahun), limfedema praecox (135 tahun), dan limfedema tarda (>35 tahun) (Levinson dkk., 2003).

BAB II
ISI

A. DEFINISI
B. ETIOLOGI
Limfedema

dapat

dibedakan

menjadi

primer

dan

sekunder.

Limfedema sekunder lebih sering terjadi. Limfedema primer tidak diketahui


sebabnya. Tiga kali lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria.
Limfedema sekunder lebih sering terjadi karena proses patologis yang
menghalangi jalannya peredaran sistem limfatik. Limfedema primer mungkin
disebabkan tidak adanya atau hipoplastik saluran atau kurangnya saluran.
Pada beberapa kasus, mungkin terdapat cukup jumlah dari saluran namun
terjadi kelemahan pada fungsinya. Limfedema primer tampak pada tahun
pertama kehidupan. Dapat diturunkan secara familial dan disebut Milroys
disease atau Meiges disease.
Limfedema sekunder karena obstruksi yang disebabkan karena
filariasis, malignansi, tindakan pembedahan pengambilan lympanodi, radiasi,
infeksi kronis, dan trauma. Penyebab dari pembengkakan yang ekstrim
mungkin bisa ditentukan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pasien dengan edema masif dari ekstremitas bawah karena sumbatan
dari sistem limfatik karena filaria biasa disebut elephantiasis. Biasanya
mempengaruhi seluruh anggota gerak. Penyakit ini terjadi karena adanya
obstruksi, aplasia, dan hipoplasia dari pembuluh limfa. Elephantiasis
disebabkan oleh 3 tipe cacing filaria yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia

malayi, dan Brugia timori, sering disebut sebagai tipe filariasis limfatik. Pada
tipe non filaria limfatik elephantiasis biasanya disebabkan oleh kontak
berulang dari abu vulkanik. Bahan kimia yang terkandung di dalamnya
diteruskan melalui telapak kaki dan menyebar ke sistem limfatik dan
menyumbat pengalirannya. Sebab lain pada non filarial limfatik elephantiasis
adalan infeksi penyakit menular seksual seperti lymphogranuloma venerum),
tuberculosis, leishmaniasis, infeksi bakteri streptococcus tertentu. Dan pada
beberapa kasus tidak diketahui penyebabnya.
C. PATOFISIOLOGI
Fungsi normal limfatik adalah mengembalikan protein, lipid, dan air
dari interstitium ke ruang intravaskuler. 40-50% dari protein serum diangkut
dengan rute ini setiap hari. Tekanan hidrostatik yang tinggi dalam arteri
kapiler memaksa protein ke interstisial, mengakibatkan tekanan interstitial
onkotik meningkat yang menarik air.
Cairan interstisial biasanya memberikan kontribusi makanan dari
jaringan. Sekitar 90% dari cairan kembali ke sirkulasi melalui kapiler masuk
ke vena. 10% sisanya terdiri dari protein dengan berat molekul tinggi dan
airnya, yang terlalu besar untuk mudah menembus dinding kapiler vena. Hal
ini menyebabkan mengalir ke kapiler limfatik dan dapat mengakomodasi
ukuran besar dari protein dan air yang menyertainya. Protein kemudian
melakukan perjalanan melalui berbagai kelenjar getah bening kemudian
bergabung dengan sirkulasi vena.
Dalam keadaan sakit, kapasitas transportasi limfatik berkurang. Hal
ini menyebabkan volume normal pembentukan cairan interstisial melebihi
tingkat pengembalian limfatik, mengakibatkan stagnasi protein dengan berat
molekul tinggi dalam interstitium. Ini biasanya terjadi setelah aliran telah
berkurang 80% atau lebih. Hasilnya, dibandingkan dengan bentuk lain dari
edema yang memiliki konsentrasi jauh lebih rendah protein, edema ini
memiliki kadar protein yang lebih tinggi, dengan konsentrasi protein 1,0-5,5
g / mL.

Akumulasi cairan interstisial menyebabkan dilatasi besar saluran


aliran yang tersisa dan inkompetensi katup yang menyebabkan pembalikan
aliran dari jaringan subkutan ke dalam pleksus dermal. Dinding limfatik
mengalami fibrosis, dan fibrinoid trombi terakumulasi dalam lumen,
melenyapkan

banyak

saluran

getah

bening

yang

tersisa.

Shunts

lymphovenous spontan dapat terbentuk. Kelenjar getah bening mengeras dan


mengecil, kehilangan arsitektur normal mereka.
Dalam akumulasi interstitium, protein dan cairan memulai reaksi
inflamasi yang ditandai. Aktivitas makrofag meningkat, mengakibatkan
kerusakan serat elastis dan produksi jaringan fibrosklerotik. Fibroblas
bermigrasi ke interstitium kolagen dan deposit. Hasil dari reaksi inflamasi
adalah perubahan dari pitting edema awal untuk karakteristik edema
nonpitting limfedema. Akibatnya, penjagaan kekebalan lokal ditekan, infeksi
kronis, serta degenerasi ganas untuk lymphangiosarcoma, dapat terjadi.
Kulit di atasnya menjadi menebal dan menampilkan peau d'orange,
khas (oranye kulit) penampilan limfatik dermis padat. Epidermis bentuk
deposito bersisik tebal dan dapat menampilkan verrucosis berkutil. Fisura
sering mengembangkan dan menampung bakteri yang mengarah ke
kebocoran getah bening ke permukaan kulit (Revis, 2010).
D. GEJALA KLINIS
Gejala awal dari limfedema adalah pembengkakan pada daerah atau
tungkai yang terkena yang sifatnya lunak, tidak nyeri tekan, dan pitting
edema. Pembengkakan paling sering pada ekstremitas bagian distal. Lamalama pembengkakan tampak lebih jelas dan makin ke arah atas tidak
menghilang secara sempurna meskipun telah beristirahat semalaman.
Pada limfedema yang didapat, kulit tampak sehat tapi mengalami
pembengkakan.

Penekanan

pada

daerah

yang

membengkak

tidak

meninggalkan lekukan. Pada beberapa kasus, lengan maupun tungkai yang


membengkak tampak sangat besar dan kulitnya tebal serta berlipat-lipat,
sehingga hampir menyerupai kulit gajah (elefantiasis).

Klasifikasi klinis pembengkakan limfedematous telah didefinisikan


oleh International Society of Lymphology menggunakan parameter berikut:
Tahap 0
Kondisi laten atau subklinis dimana tidak terlihat pembengkakan yang
jelas meskipun telah terjadi gangguan transportasi limfatik. Tahap ini terjadi
beberapa bulan atau tahun sebelum muncul edema yang jelas (tahap I-III).
Tahap I
Akumulasi awal cairan yang relatif tinggi kandungan protein.
Pembengkakan akan menghilang dengan elevasi tungkai, mungkin terjadi
pitting edema.
Tahap II
Dapat atau tidak dapat terjadi pitting saat fibrosis jaringan
berkembang. Pembengkakan tidak berkurang bila hanya dengan elevasi
ekstremitas.
Tahap III
Limfostatik elefantiasis dimana tidak terjadi pitting (non pitting
edema). Terlihat perubahan trofik kulit, seperti akantosis, timbunan lemak,
dan papillomatosis.
Bila sudah terjadi limfedema parah, akan menyebabkan gangguan
dalam fungsi maupun secara estetika. Selain itu kulit dari bagian yang
membengkak juga rentan mengalami trauma atau infeksi berulang (selulitis)
sehingga dapat memperberat kelainan yang sudah terjadi.
Peradangan pada sistem limfatik biasanya dimulai dengan selulitis
atau limfangitis yang berulang. Dapat terjadi dengan atau tanpa suhu yang
meningkat, seringkali terlihat bercak merah yang makin hari makin melebar,
akhirnya sebagian besar tungkai akan bengkak dan merah, panas serta perih.
Kelenjar limfe di bagian proksimalnya juga akan ikut membengkak dan nyeri
pada perabaan.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk

mendiagnosis

limfedema

maka

diperlukan

rangkaian

pemeriksaan mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksan

penunjang. Pada anamnesis ditanyakan sejak kapan kelainan itu muncul, hal
apa yang terjadi sebelum kelainan muncul, dan pertanyaan yang mengarah
pada pencarian penyebab.
Pemeriksaan fisik limfedema biasanya tidak disertai dengan pelebaran
pembuluh darah setempat, berbeda dengan pembengkakan yang disebabkan
oleh kelainan pembuluh darah. Kemudian dilakukan penekanan, apakah
bagian yang ditekan bisa kembali seperti semula atau tidak. Pada tahap awal
pembengkakan bila ditekan masih bisa kembali lagi. Jika telah mencapai
tahap lanjut dimana sudah tidak bisa kembali lagi, menandakan bahwa ada
pengerasan jaringan di dalamnya.
Pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk mendiagnosis
limfedema antara lain:
1. CT Scan dan MRI
Indikasi untuk CT Scan dan MRI adalah kecurigaan keganasan. MRI
berguna untuk menunjukkan anatomi limfatik. Tanda-tanda klasik dari
limfedema yang terlihat pada MRI meliputi penebalan kulit, "honeycombing"
dari jaringan subkutan karena adanya jaringan fibrotik dan cairan di sekitar
akumulasi lemak, dan tidak adanya edema dalam kompartemen otot.
2. Ultrasonografi
Ultrasonografi dapat digunakan untuk mengevaluasi sistem limfatik dan
sistem venosus. Perubahan struktural dan volumetrik dalam sistem limfatik
dapat diidentifikasi menggunakan modalitas ini, dan kelainan venosus seperti
deep vein thrombosis dan fistula arteriovenosa dapat disingkirkan dari
diagnosis banding berdasarkan temuan ultrasonografi.
3. Limfangiografi
Limfangiografi adalah teknik invasif yang dapat digunakan untuk
mengevaluasi sistem limfatik dan patensinya. Pemeriksaan ini dilakukan
dengan memasukan zat kontras ke dalam pembuluh limfe kemudian
dirontgen.

Nantinya

bisa

dilihat

pembuluh

mana

yang

tersumbat.

Pemeriksaan ini sekarang jarang digunakan karena efek sampingnya yang


merugikan.

4. Limfoskintigrafi
Merupakan pemeriksaan gold standard untuk mendiagnosis limfedema.
Limfoskintigrafi memberikan visualisasi yang mendetail dari saluran limfatik
tanpa memberikan kerusakan lebih lanjut. Tes ini dapat digunakan untuk
mengevaluasi dinamika arus limfatik dan menentukan tingkat keparahan
obstruksi.
F. DIAGNOSIS
Sebagian besar pasien, didiagnosis berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik, termasuk kemungkinan penyebab edema lain seperti
penyakit jantung, ginjal, hati, dan penyakit vena. Pada fase awal, terdapat
kesulitan untuk membedakan limfedema dengan edema yang disebabkan oleh
penyakit lain. Pada limfedema, pembengkakan biasanya dimulai distal dan
proksimal berlangsung selama beberapa bulan sampai bertahun-tahun.
Awalnya berupa pitting edema. Kemudian bertahap menjadi non-pitting
edema, berkembang menjadi fibrosis dan jaringan menjadi keras.
Perubahan kulit dapat terjadi, tetapi jarang terjadi ulserasi. Pasien
mungkin mengeluh kelelahan atau tekanan di ekstremitas. Adanya riwayat
keluarga atipikal pada limfedema, tapi karakteristik limfedema, sebuah
lipodistrofi menyebabkan pembesaran ekstremitas bawah yang simetris,
paling sering pada wanita.
Teknik pencitraan dapat digunakan dalam diagnosis banding dan dalam
penilaian hasil terapi. Limfoskintigrafi menggunakan radiokoloid telah
berhasil dalam menggambarkan anatomi pembuluh getah bening dan dalam
mengevaluasi dinamika aliran getah bening. Teknik ini mungkin berguna
dalam perencanaan bentuk operasi.
Walaupun lymphoskintigrafi dianggap sebagai baku emas untuk
diagnosis limfedema, pemeriksaan radiologis lain mungkin diindikasikan
untuk kasus-kasus tertentu. Pada pasien dengan Deep Vein Thrombosis, atau
kelainan vaskuler kronis, juga didapatkan risiko terjadinya edema ekstrim,
maka ultrasonografi duplex perlu dilakukan. Limfedema dengan onset yang
akut pada pasien dewasa dapat mengindikasikan terjadinya keganasan yang

menekan saluran limfatik, dan harus dieksklusi dengan Computed


Tomography (CT) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).
G. TERAPI
Pengobatan utama untuk limfedema baik primer dan sekunder adalah
pembedahan. Meskipun berbagai terapi yang tersedia yang secara signifikan
dapat mengubah perjalanan penyakit, tidak ada pilihan pengobatan kuratif
yang lengkap dan permanen.
Perawatan kulit dasar sangat penting dalam pencegahan infeksi dan dapat
membantu dalam mencegah perubahan kulit yang terkait, termasuk
dermatitis, hiperkeratosis, dan verrucosis, serta kerusakan pada epidermis dan
kebocoran cairan getah bening (lymphorrhea).
Perawatan kaki dengan hati hati dan penggunaan sehari-hari lotion
dengan pH rendah dan berbasis air akan membantu untuk mencegah infeksi
jamur. Terapi anti jamur topikal dianjurkan untuk infeksi jamur lokal, tetapi
infeksi invasif mungkin memerlukan terapi anti jamur sistemik. Infeksi
parasit yang melibatkan W.bancrofti dan Brugia malayi pada awalnya diobati
dengan diethylcarbamazine.
Antihistamin dan/atau agen anti-inflamasi digunakan untuk mengontrol
reaksi alergi terhadap parasit. Pengobatan agresif dan cepat dari limfangitis
atau cellulitis dianjurkan untuk mencegah perkembangan sepsis. Disarankan
pengobatan dengan obat anti staphylococcal sistemik dan anti streptococcal,
dikombinasikan dengan istirahat dan elevasi dari anggota badan yang terkena.
Lymphangitis berulang atau selulitis terjadi pada 15% sampai 25% pasien
dengan limfedema, dan beberapa pasien memerlukan terapi antibiotik
profilaksis jangka panjang.
Diuretik telah digunakan dalam pengobatan limfedema, tetapi efek
mereka relatif singkat. Benzopyrenes, termasuk kumarin, merangsang
proteolisis makrofag dan efektif dalam pengobatan limfedema dengan
berbagai penyebab.
Penurunan berat badan dan elevasi ekstremitas penting sebagai langkah
sederhana untuk mengurangi edema. Pasien harus mengangkat ekstremitas

yang terkena di malam hari. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan sling
untuk edema ekstremitas atas atau mengangkat kaki tempat tidur di 4 - 6 inci
untuk edema pada ekstremitas bawah. Pakaian dengan elastis tekan (lengan
atau stoking) sering dipakai siang hari untuk mempertahankan volume
ekstremitas. Panjang garmen harus sesuai dengan luasnya edema.
Kenyamanan penting untuk memastikan kepatuhan pasien.
Pneumatic Compressive Machines telah digunakan secara luas untuk
mengobati limfedema perifer dan efektif jika digunakan di awal perjalanan
penyakit, sebelum pengembangan fibrosklerotik jaringan. Yang paling
canggih

perangkat

memompa

udara

menggunakan

lengan

tiup

multikompartmental yang menerapkan pola berurutan kompresi untuk


ekstremitas dengan gradien tekanan, memungkinkan fisiologis tindakan
memerah limfedematous ekstremitas dari distal ke proximal. Terapi harus
dilanjutkan secara berkala, dan compressive garments harus dipakai selama
perawatan. Gagal jantung, infeksi aktif, dan trombosis vena dalam merupakan
kontraindikasi untuk terapi.
Noninvasif kompleks limfedema terapi terdiri drainase getah bening,
perban tekan, dan latihan terapi fisik. Pengobatan ini memakan waktu dan
tenaga kerja intensif. Mengukur tingkat edema dilakukan untuk mengikuti
perjalanan penyakit dan keberhasilan pengobatan. Meskipun berbagai metode
memungkinkan penilaian terhadap volume anggota tubuh, termasuk
mengukur volume dan perpindahan cairan, tetapi rumit dan mudah terjadi
kesalahan dalam penilaian. Setelah mencoba beberapa metode, fotografi
standar yang paling membantu dalam mengikuti pasien ini. Foto-foto yang
terbaik diambil pertama di hari itu, untuk mewakili hari itu biasanya dibuat
foto dengan efek edema minimal.
TERAPI REHABILITASI MEDIK
Terapi Reham Medik pada Limfedema
1. Latihan.
Latihan ringan menggerakkan lengan atau kaki yang terkena limfedema
dapat mendorong pergerakan cairan getah bening keluar dari tungkai. Latihan

ini tidak boleh terlalu berat atau membuat lelah. Latihan harus berfokus pada
kontraksi otot-otot lembut di lengan atau kaki. Terapi latihan membantu aliran
getah bening dan meningkatkan reabsorpsi protein. Peran utama dari sistem
limfatik selama latihan adalah untuk membantu pengaturan volume jaringan
dengan menciptakan perbedaan sehingga dapat membawa cairan serta protein
plasma terpancar melalui ruang interstitial dari jaringan ke sistem
kardiovaskular. Sebuah penelitian mengemukakan program latihan seminggu
enam kali disertai latihan beban dapat meringankan gejala serta
perkembangan dari limfedema tersebut. Latihan aman dilakukan untuk
limfadema sekunder pada perempuan pasca mastektomi karena kanker
payudara.
Terapi latihan dapat dilakukakan dengan beberapa cara untuk
mempengaruhi fisiologis sistem limfatika dan penurunan volume limfedema.
Terapi latihan dibagi menjadi 4 kategori utama yaitu healing, aerobic
healing, latihan kekuatan fokal, latihan range og motion. Latihan healing
merupakan aktifitas fisik yang dirancang secara spesifik untuk meningkatkan
kontraksi otot secara serial dan ritmik pada daerah limfedema. Latihan ini
selalu dilakukan dengan beberapa teknik kompresi dari luar seperti
penggunaan armband atau bandages.Latihan aerobic healing mengaktifkan
pembuluh getah bening dengan mekanisme yang berbeda. Latihan ini
mengembangkan kesehatan jantung sehingga dapat meningkatkan aliran balik
vena serta limfe. Latihan kekuatan dengan resistensi lembut dapat
memperkuat kapasitas fungsional otot. Secara bertahap akan meningkatkan
kekuatan dan tonus dari otot. Latihan ROM harus dilakukan pada seluruh
persendian yang terpengaruh oleh limfedema termasuk persendian di bagian
proksimal.Dengan latihan ROM dapat menurunkan pembentukan jaringan
fibrotik serta jaringan parut, menormalkan biomekanik, mengembangkan
postur dan meningkatkan aliran getah bening.
2. Membungkus atau Kompresi
Kompresi dapat dilakukan dengan memasang perban melilit seluruh tungkai
atau lengan yang terkena limfedema. Dengan cara ini akan mendorong cairan

getah bening mengalir keluar dari anggota badan yang terkena. Pemasangan
perban dengan membuat lilitab perban yang ketat ke arah proksimal. Bungkus
perban lebih longgar saat menggerakkan lengan atau kaki. Perban digunakan
baik saat aktifitas sehari-hari maupun saat kegiatan latihan, sehingga akan
mendorong aliran limfe dan membantu melunakkan daerah yang bengkak
karena tumpukan cairan limfe.
3. Pijat/Drainase Manual
Teknik pijat khusus yang disebut drainase getah bening manual dapat
mendorong aliran cairan getah bening keluar dari lengan atau kaki. Pijatan ini
akan mengguncangkan daerah dengan limfedema secara lembut dengan
tujuan untuk memindahkan cairan getah bening ke kelenjar getah bening yang
sehat dan dapat bekerja normal. Hindari pemijatan jika memiliki infeksi kulit,
kanker aktif, gumpalan darah atau gagal jantung kongestif. Hindari memijat
bagian tubuh yang telah menerima terapi radiasi.
4. Pneumatic Compression.
Pada prosedur pneumatik compression, pasien akan memakai pembalut di
atas lengan atau kaki yang terkena. Pembalut terhubung ke pompa yang
mengembangkan lengan sebentar dan menekan tungkai. Pengembangan ini
menyebabkan cairan getah bening bergerak cukup jauh dari jari atau jari kaki
sehingga mengurangi pembengkakan di lengan atau kaki.
5. CDT (Complete Decongestive Therapy)
Terapi CDT adalah cara utama dalam manajemen lymphedema yang
terdiri dari manipulasi manual dari saluran limfatik, pendek stretch kompresi
perban, latihan terapi, dan perawatan kulit. Manipulasi manual dari saluran
limfatik dengan lembut, memijat kulit secara berirama untuk merangsang
aliran getah bening dan kembalinya ke sistem peredaran darah. Dalam aliran
darah yang melalui ginjal, kelebihan cairan akan disaring dan dihilangkan
dari tubuh melalui pembuangan urin. Pengobatan ini sangat lembut dengan
sesi khas yang akan melibatkan drainase leher, batang tubuh, dan ekstremitas,
berlangsung sekitar 40 sampai 60 menit. CDT umumnya efektif pada

limfedema non-fibrotik dan kurang efektif pada kebanyakan limfedema


fibrosis, meskipun telah terbukti membantu memecah jaringan fibrosis.

DAFTAR PUSTAKA

Anne G. Warren, BA, Hkan Brorson, MD, PhD, Loren J. Borud, MD,
and Sumner A. Slavin, MD. Limfedema: a comprehensive review. Annals of
Plastic Surgery Volume 59, Number 4, October 2007
http://bedahfkuns-elearning.com/learning-system/mod/forum/discuss.php?d=63
http://emedicine.medscape.com/article/1087313-overview

Levinson KL, Feingold E, Ferrel RE, Glover TW, Traboulsi EI, Fenegold DN.
2003. Age of onset in hereditary limfedema. J Pediatr; 142(6):704-8
Lugito NPH, Kurniawan A, Yanto TA, Merlyn M, Setiadinata R, Wijaya I. 2014.
Diffuse large B cell lymphoma, bilateral lower extremity limfedema, and
ulcerated inguinal lymph node. Indonesian Journal of Cancer. Vol. 8, No.1
p.35-38.
McPherson T, Persaud S, Singh S, et. al. 2006. Interdigital lesions and frequency
of acute dermatolymphangioadenitis in lymphoedema in a filariasis-endemic
area. Br J Dermatol. 154(5):933-41
Price SA and Wilson LM (2006). Patofisiologi. Jakarta: EGC. p.123
Revis D.R. Limfedema [citated January 27, 2010].
http://emedicine.medscape.com/article/191350-followupmated

Tulus Putra, Sukman dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran jilid II. Jakarta:
Media Aesculapius

Turk G, Khorshid L. 2011. The Complete Decongestive Theraphy in


Lymphedema Management Developing in Relation with Mastectomy. The
Journal of Breast Health Vol 7 No.2
Zuther JE (2009). Limfedema Management: The Comprehensive Guide
for Practiotioners. 2nd ed. New York, NY: Thieme.