Anda di halaman 1dari 35

Laporan Kasus

Tonsilitis Kronis Akseserbasi Akut

Oleh :
Kadek Soga Prayaditya Putra
H1A010033
Pembimbing :
dr. M. Alfian Sulaksana, Sp.THT-KL

Anatomi Tonsil
Merupakan

kumpulan limfonodi permanen yang letaknya di


bawah epitel yang telah terorganisir sebagai suatu organ

Dibagi

berdasarkan letaknya

tonsilla lingualis (radix linguae)

tonsilla palatina (ismus faucium antara


glossopalatinus dan arcus glossopharingicus)

tonsilla pharingica (dinding dorsal dari nasofaring)

tonsilla tubaria (lateral nasofaring di sekitar ostium tuba


auditiva )

arcus

Kelima tonsil akan membentuk ring of waldeyer

Secara fisiologi tonsil tersebut akan mengalami hipertrofi


dan mencapai fungsi maksimal hingga usia 5 tahun kecuali
adenoid (3 tahun) setelah itu akan mengalami aatrofi

Vaskularisasi

Persarafan

Tonsil
dipersarafi
glossofaringeus.

oleh

nervus

trigeminus

dan

Nervus trigeminus mempersarafi bagian atas tonsil melalui


cabangnya yang melewati ganglion sfenopalatina yaitu
nervus palatine. Sedangkan nervus glossofaringeus selain
mempersarafi bagian tonsil, juga dapat mempersarafi
lidah bagian belakang dan dinding faring

Tonsilitis

Tonsilitis peradangan tonsil palatina yang merupakan


bagian dari cincin Waldeyer

Tonsilitis kronis sifatnya menahun

predisposisi :

rangsangan yang menahun dari rokok

Makanan iritatif

hygiene mulut yang buruk

Pengobatan fase akut yang tidak adekuat

Etiologi

Etiologi : serangan ulangan dari tonsilitis akut yang


mengakibatkan kerusakan permanen pada tonsil atau
kerusakan ini dapat terjadi bila fase resolusi tidak
sempurna

Bakteri penyebab : Streptococcus hemolyticus,


Staphylococcus, Pneumococcus, Haemophylus influenza,
virus, jamur dan bakteri anaerob.

Patofisiologi

bakteri masuk ke tonsil melalui kripte-kriptenya Bakteri


yang masuk dihancurkan oleh makrofag dan sel-sel
polimorfonuklear, tetapi ketika proses ini terjadi berulangulang tidak semua bakteri yang masuk akan mati,
bakteri yang bertahan akan bersarang pada tonsil dan
menyebabkan hipertrofi yang bersifat ireversibel

Manifestasi

rasa mengganjal di tenggorokan

tenggorokan terasa kering dan pernafasan berbau

Tmembesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus


membesar, dan kriptus berisi detritus

Eksaserbasi akut :

tanda infeksi

tonsil terlihat hiperemi, membengkak, ada kripte melebar,


dan detritus

Rasio tonsil dan orofaring :

TO : tonsil masuk di dalam fossa atau sudah diangkat

T1 : <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

T2 : 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

T4 : > 75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

Terapi

Terapi utama : Pembedahan

Indikasi : The American Academy of Otolaryngology, Head


and Neck Surgery

Absolut :
Pembesaran

tonsil yang menyebabkan sumbatan


jalan nafas atas, disfagia menetap, gangguan tidur
atau komplokasi kardiopulmunar.

Tonsil

hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi


dan menyebabkan gangguan pertumbuhan orofacial

Rhinitis

dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses


peritonsil yang tidak hilang dengan pengobatan.
Otitis media efusi atau otitis media supuratif.

Tonsilitis
Biopsi

yang menimbulkan febris dan konvulsi

untuk menentukan jaringan yang patologis


(dicurigai keganasan)

Relatif :
Penderita

dengan infeksi tonsil yang kambuh 3 kali atau lebih


dalam setahun meskipun dengan terapi yang adekuat

Bau

mulut atau bau nafas yang menetap yang menandakan


tonsilitis kronis tidak responsif terhadap terapi medikamentosa

Tonsilitis

kronis atau rekuren yang disebabkan bakteri


streptococus yang resisten terhadap antibiotik betalaktamase

Pembesaran

tonsil unilateral yang diperkirakan neoplasma

Kontra

indikasi :

Diskrasia

darah kecuali di bawah pengawasan ahli


hematologi

Usia

di bawah 2 tahun bila tim anestesi dan ahli


bedah fasilitasnya tidak mempunyai pengalaman
khusus terhadap bayi

Infeksi

saluran nafas atas yang berulang

Perdarahan

atau penderita dengan penyakit sistemik


yang tidak terkontrol.

Celah

pada palatum

Komplikasi

Perkontinuitatum : rhinitis kronik, sinusitis atau otitis


media

hematogen atau limfogen : endokarditis, arthritis,


miositis, nefritis, uveitis, iridosiklitis, dermatitis, pruritus,
urtikaria, dan furunkolosis.

Prognosis

Tonsilitis biasanya sembuh dalam beberapa hari dengan


beristirahat dan pengobatan suportif

Laporan Kasus
Identitas Pasien
Nama pasien

: An T

Umur

: 7 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Mataram

Agama

: Islam

Suku

: Sasak

Tanggal Pemeriksaan

: 7 September 2015

ANAMNESIS

KU : Nyeri tenggorokan.

RPS

Pasien datang dengan keluhan nyeri tenggorakan sejak 7 hari


yang lalu, nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk, dan
memberat ketika pasien menelan makanan maupun
minuman. Sebelumnya pasien sering merasakan nyeri pada
tenggorakan namun nyeri tenggorakan yang dirasakan saat
ini terasa lebih berat.

Selain itu, pasien juga mengeluhkan kesulitan menelan


sejak 7 hari yng lalu. Setiap kali pasien menelan seperti
ada yang mengganjal di tenggorakannya. Orang tua pasien
mengatakan keluhan ini dirasakan hilang timbul sejak 2
tahun yang lalu. Keluhan kambuh jika pasien minum es
dan makan makanan ringan. Dalam setahun pasien bisa
mengalami kekambuhan hingga lebih dari 5 kali. Saat ini
pasien juga mengeluhkan demam (+), pilek (+) dan batuk
(+), mengorok ketika tidur (+), sesak (-).

RPD dan RPO :

Pasien memiliki riwayat nyeri tenggorokan dan susah


menelan yang cukup lama dan hilang timbul sejak 2 tahun
terakhir. Pasien telah berobat ke puskesmas dan diberi obat
amoksisilin dan parasetamol. Gejala sudah berkurang namun
belum menghilang.

Riwayat penyakit keluarga/sosial:

Keluhan serupa (nyeri tenggorakan dan susah menelan)


disangkal oleh keluarga pasien, riwayat penyakit asma (-),
batuk lama (-), penyakit jantung (-).

Riwayat alergi:

Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi makanan


maupun obat-obatan.

PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis

Keadaan umum : Baik


Kesadaran

: Compos mentis

Tanda vital

Tensi

: Tidak di evaluasi

Nadi

: 122 x/menit

Respirasi
Suhu

: 24 x/menit

: 37,5oC

Berat badan

: 21 kg

Status Lokalis
No.

Pemeriksaan

Telinga kanan

Telinga kiri

1.

Telinga
Tragus

Nyeri tekan (-), edema (-)

2.

Daun telinga

Bentuk dan ukuran dalam Bentuk dan ukuran dalam

Nyeri tekan (-), edema (-)

batas normal, hematoma batas normal, hematoma


(-), nyeri tarik aurikula (-)

(-), nyeri tarik aurikula (-)

3. Liang telinga Serumen


hiperemis

(-), Serumen
(-),

hiperemis

(-),
(-),

furunkel (-), edema furunkel (-), edema


(-), otorhea (-)

(-), otorhea (-)

4. Membran

Intak.

Retraksi

(-), Intak.

Retraksi

(-),

timpani

bulging (-), hiperemi bulging (-), hiperemi

(-),

edema

(-), (-),

edema

(-),

perforasi (-), cone of perforasi (-), cone of


light (+)

light (+)

Pemeriksaan Hidung
Hidung luar

Hidung kanan

Hidung kiri

Bentuk normal, hiperemi

Bentuk normal, hiperemi

(-), nyeri tekan (-),

(-), nyeri tekan (-),

deformitas (-)

deformitas (-)

Vestibulum nasi

Hiperemis (-), sekret (+)

Hiperemis (-), sekret (+)

Cavum nasi

Bentuk

Meatus nasi media

hiperemia (-)
Mukosa hiperemis, sekret

hiperemia (-)
Mukosa hiperemis, sekret

Konka nasi inferior

(+), massa (-)


Edema (-), mukosa

(+), massa (-)


Edema (-), mukosa

Septum nasi

hiperemi (-)
hiperemi (-)
Deviasi (-), perdarahan (-), Deviasi (-), perdarahan (-),

Rinoskopi anterior

(normal), Bentuk

ulkus (-), abses (-)

(normal),

ulkus (-), abses (-)

Bibir

Mukosa bibir basah, berwarna merah muda (N)

Mulut

Mukosa mulut basah berwarna merah muda

Geligi

Normal

Lidah

Tidak ada ulkus, pseudomembrane (-)

Uvula

Bentuk normal, hiperemi (+), edema (-)

Palatum mole

Ulkus (-), hiperemi (-)

Faring

Mukosa hiperemi (-), reflex muntah (+), membrane (-)

Tonsila palatine

Fossa Tonsillaris dan Arkus


Faringeus

Kanan

Kiri

T4

T3

Hiperemi (+), kripte (+),

Hiperemi (+), kripte (+),

detritus (+)

detritus (+)

hiperemi (+)

hiperemi (+)

Pemeriksaan Penunjang

(-)

Diagnosis

Tonsilitis kronis eksaserbasi akut

Diagnosis Banding

Adenotonsilitis kronis

Rencana Terapi

Obat-obatan

Cefadroxil 30 mg/kgBB/hari = 30 mg x 21 kg = 630 mg/hari setiap


12 jam selama 5-7 hari

Paracetamol 10-15 mg/kgBB/kali = 10 mg x 21= 210 mg/8 jam =


250 mg/8jam ( tablet/8 jam)

Ambroxol 3 x tablet

Cetirizine 1 x tablet

Obat kumur + desinfektan

Pembedahan

Pro Tonsilektomi

KIE

Untuk sementara hindari makanan yang berminyak, manis, pedas, dan


lainnya yang dapat mengiritasi tenggorokan. Begitu pula dengan minuman
dingin

Menjaga higiene mulut

Datang kembali untuk kontrol setelah 5 hari, untuk melihat


perkembangan penyembuhan

Sarankan keluarga untuk menjaga kesehatan pasien dan


mempertimbangkan untuk melakukan operasi pengangkatan amandel atau
tonsilektomi serta menjelaskan indikasi dan komplikasinya

Prognosis

Dubia ad bonam

Pembahasan
Keluhan

nyeri tenggorokan, sulit menelan, yang


disertai demam, batuk, dan pilek, riwayat
serangan berulang, Pada pemeriksaan daerah
tenggorok, terlihat tonsil membesar T3 (dextra)
dan T4 (sinistra) dengan tampilan hiperemis,
bengkak, kripte melebar, dan terlihat detritus
tonsillitis kronis eksaserbasi akut

OSAS

bisa disebabkan oleh tonsil palatina dan


adenoid yang membesar mengorok

keadaan

pasien merasa kesulitan untuk makan


dan minum, dan seringnya keadaan ini kambuh,
maka disarankan untuk dilakukan operasi
tonsilektomi

Terimakasih