Anda di halaman 1dari 3

KOTA MATARAM

KOTA SURAKARTA

KOTA MALANG

KOTA PURWOKERTO

Gedung yg ramah lingkungan.


Editt (ecological Design in The Tropical) Building, di rancang oleh TR Hamzah & Yeang.
Gedung ini terdiri dari 26 lantai dan dibuat menggunakan bahan yg dapat di daur ulang. Dari
885 meter persegi lahan yang tersedia, 40% diantaranya akan dipenuhi oleh panel surya untuk
memenuhi kebutuhan energinya.

Limbah manusia yg dihasilkan oleh


penghuni bagunan ini akan dikonversikan menjadi biogas.
Dan hampir seluruh bangunan itu dapat digunakan untuk menanam tumbuhan organik.
Untuk kebutuhan menyiram tanaman dan meyiram toilet, akan digunakan teknologi "rain
water harvesting" dari air hujan yg di rampung.

ejak prewsiden terpilih Indonesia menyatakan bahwa gedung di Jakarta harus


berwawasan Green Building, banyak pihakyang kemudian menjadikannya isu hangat.
Namun, penerapan green building di Indonesia membutuhkan komitmen kuat dan keseriusan
dari pemerintah.
Merealisasikannya tidak bisa dengan jargon dan semangat musiman. Kita ambnil contoh di
negara tetangga Singapura. Negara kecil di rumpun ASEAN itu berhasil merealisasikan
green building setelah melalui masa uji keseriusan yang cukup panjang.
Negara ini mengawali komitmennya dengan membentuk Building and Construction
Authority (BCA), sebuah lembaga di bawah Kementerian Pembangunan Nasional Singapura,
untuk mengawasi, mengevaluasi, dan menerapkannya dalam membuat bangunan aman,
berkualitas tinggi, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.
Salah satu bukti yang kini menjadi kenayataan adalah Gedung EDITT (Ecological Design in
The Tropics) Singapura, yang dibangun dengan material daur ulang dan suplai energinya diback up energi surya (40%).

Gedung EDITT ini merupakan salah satu gedung ramah lingkungan di negara kota itu.
Gedung rancangan TR Hamzah & Yeang setinggi 26 lantai dibuat dengan material yang bisa
di daur ulang. Selain itu di lokasi gedung ini akan dipasang panel surya yang dapat memenuhi
sekitar 40 persen kebutuhan listrik di gedung itu.
Sejak tahun 1980-2005, BCA sudah mulai konservasi energi, tahun 2006 master plan
pertama green building dibuat, ujar Jeffery Neng Kwei Sung, Centre Director BCA,
Singapura di Jakarta, awal pekan ini.
Tidak hanya itu, tahun 2009 BCA menerbitkan master plan green building kedua.
Pemerintah Singapura menunjukkan komitemennya dengan tidak hanya menuntut, tetapi juga
memberi dorongan dengan insentif. Dana yang ditawarkan bagi pemilik gedung Green
Building cukup besar, bahkan hingga 100 juta dollar AS, selain insentif bagi gedung yang
menerapkan standar energi sangat tinggi.
Pemerintah Singapura menawarkan insentif 20 juta dollar AS selain 50 juta dollar AS dana
untuk R&D, serta training intensif untuk industri, imbuh Jeffery.
Green Building Rating System yang diterbitkan BCA saat ini sudah diikuti oleh 15 negara
dengan lebih dari 70 kota terdaftar.
Di Singapura sendiri, saat ini sudah ada lebih dari 2.100 gedung yang sudah bersertifikat
Green Mark Building. Luasan itu setara dengan 62 juta m2. Kelihatannya besar, tapi ini baru
25 persen dari seluruh gedung di Singapura. Targetnya, hingga tahun 2030 sebanyak 80
persen gedung di Singapura sudah green, imbuhnya.
Konsep penerapan green building ini akan menjadi isu krusial masa depan mengingat tahun
2050 mendatang, diprediksi sebanyak 70 persen populasi dunia akan tinggal di perkotaan.
Gedung-gedung di perkotaan itu menggunakan 40 persen energi dan air secara global selain
menghabiskan sepertiga sumber daya bumi. Penerapan green building menaikkan biaya
mulai 0-5 persen, tapi kita akan memeroleh efisiensi biaya setelah 3-6 tahun, terang Jeffrey
Tower karya Ken Yeang di Singapura adalah sebuah contoh lain dari bangunan yang
menerapkan konsep sustainable architecture dengan sangat komprehensif. Gedung berlantai
56 ini akan menggunakan bahan-bahan yang dapat di daur ulang, sedangkan luas lahan yang
mencapai 855 meter persegi akan digunakan untuk meletakan panel surya yang akan
memenuhi sekitar 40% dari total kebutuhan energi bangunan tersebut. Tidak sampai disitu,
bangunan ini juga akan memanfaatkan limbah manusia menjadi biogas.
Separuh bangunan ini dibalut dengan berbagai macam tanaman organik yang system
pengairannya menggunakan teknologi Rain Water Harvesting. Sistem yang menampung air
hujan yang kemudian akan digunakan untuk pengairan tanaman tersebut. Keberadaan
tanaman juga mampu menekan kebutuhan energi bagi bangunan tersebut.