Anda di halaman 1dari 118

Analisis Realisasi APBD Tahun Anggaran 2011

Daftar IsI

DAFTAR ISI

 

iii

KATA PENGANTAR

ix

RINGKASAN EKSEKUTIF

xi

BAB I

GAMBARAN UMUM REALISASI APBD

1

A. Gambaran Umum Realisasi APBD 2011 Secara Nasional

2

B. Gambaran Umum Realisasi APBD 2011 Provinsi

5

C. Gambaran Umum Realisasi APBD 2011 Kabupaten/Kota

6

BAB II

REALISASI PENDAPATAN DAERAH

9

A. Komposisi Pendapatan Daerah

10

B. Tren Realisasi Pendapatan Daerah Nasional (Harga Berlaku dan Harga Konstan)

14

BAB

III

REALISASI BELANJA DAERAH

17

 

A. Perbandingan Anggaran dengan Realisasi Belanja Daerah

17

B. Komposisi Realisasi Belanja Daerah

20

C. Tren Realisasi Belanja Daerah Secara Nasional

23

D. Realisasi Belanja Daerah Per Kapita

26

E. Realisasi Belanja Modal Daerah Per Kapita

27

BAB IV

REALISASI SURPLUS/DEFISIT DAN PEMBIAYAAN DAERAH

29

A. Surplus/Defisit

29

B. Pembiayaan Daerah

32

 

C. SiLPA

35

 

D. Penerimaan Pinjaman Daerah dan Obligasi Daerah

39

BAB V

ANALISIS INDIKATOR KONDISI KEUANGAN DAERAH

43

A.

Dasar Teoretis Analisis Indikator Kondisi Keuangan Daerah

43

B.

Analisis Indikator Kondisi Keuangan Daerah

48

1. Analisis Indikator Kondisi Keuangan per Daerah Provinsi

48

2. Analisis Indikator Kondisi Keuangan per Daerah Kabupaten

51

3. Analisis Indikator Kondisi Keuangan per Daerah Kota

60

BAB VI IMPLIKASI REALISASI APBD TA 2011 TERHADAP PEREKONOMIAN DAERAH

67

DAFTAR LAMPIRAN

78

DAFTAR PUSTAKA

100

UCAPAN TERIMA KASIH

101

Daftar tabel

Tabel 1.1

Realisasi Apbd Tahun Anggaran 2011

1

Tabel 4.1

Rata-Rata besaran surplus/defisit perdaerah

31

Tabel 4.2

daerah dengan SiLpA Tahun berkenaan Negatif

37

Tabel 4.3

Rata-rata pinjaman daerah per-kab/kota yang melakukan

Rata-rata pinjaman daerah per-provinsi yang melakukan

Tabel 4.4

pinjaman

pinjaman

42

42

Tabel 5.1

Tabel Indikator-Indikator Kondisi Keuangan daerah

46

Tabel 5.2

Gambaran deskriptif Skor Seluruh daerah provinsi

49

Tabel 5.3

Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah provinsi

49

Tabel 5.4

Gambaran deskriptif Skor Seluruh daerah Kabupaten

52

Tabel 5.5

Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Tertinggi (Kluster 1 - luas wilayah di bawah 1, 213 km 2 )

52

Tabel 5.6

Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Terendah (Kluster 1 - luas wilayah di bawah 1, 213 km 2 )

53

Tabel 5.7

Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Tertinggi (Kluster 2 - luas wilayah antara 1, 213km 2 s/d 1,989km 2 )

54

Tabel 5.8

Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Terendah (Kluster 2 - luas wilayah antara 1, 213km 2 s/d 1,989km 2 )

55

Tabel 5.9

Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Tertinggi (Kluster 3 - luas wilayah antara 1,990km 2 s/d 3,571km 2 )

55

Tabel 5.10

Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Terendah (Kluster 3 - luas wilayah antara 1,990km 2 s/d 3,571km 2 )

56

Tabel 5.11

Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Tertinggi (Kluster 4 - luas wilayah antara 3,572km 2 s/d 6,276km 2 )

57

Tabel 5.12

Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Terendah (Kluster 4 - luas wilayah antara 3,572km 2 s/d 6,276km 2 )

58

Tabel 5.13

Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Tertinggi (Kluster 5 - luas wilayah di atas 6,276km 2 )

58

Tabel 5.14

Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Terendah (Kluster 5 - luas wilayah di atas 6,276km 2 )

59

Tabel 5.15

Gambaran deskriptif Skor Seluruh daerah Kota

60

Tabel 5.16

Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Kota (Kluster 1 - jumlah penduduk di bawah 131.423 jiwa)

61

Tabel 5.17

Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Kota (Kluster 2 - jumlah penduduk antara 131.423 jiwa sampai 189.381 jiwa)

62

Tabel 5.18

Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Kota (Kluster 3 - jumlah penduduk antara 189.382 jiwa sampai 264.608 jiwa)

63

Tabel 5.19

Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Kota (Kluster 4 - jumlah penduduk antara 264.609 jiwa sampai 643.043 jiwa)

64

Tabel 5.20

Skor Tingkat Kondisi Keuangan daerah Kota (Kluster 5 - jumlah penduduk di atas 643.043 jiwa)

65

Tabel 6.1

perbandingan Volume Apbd dengan pdRb

68

Tabel 6.2

perbandingan Apbd per Kapita dengan Indikator Kesejahteraan Masyarakat

71

Daftar GrafIk

Grafik 1.1

perbandingan Apbd dan Realisasi Apbd secara Nasional TA 2011

3

Grafik 1.2

perbandingan Apbd dan Realisasi Apbd provinsi TA 2011

6

Grafik 1.3

perbandingan Apbd dan Realisasi Apbd Kabupaten/Kota TA 2011

7

Grafik 2.1

perbandingan Anggaran - Realisasi pendapatan Nasional 2011

10

Grafik 2.2

Komposisi Realisasi pendapatan daerah Nasional

11

Grafik 2.3

Komposisi Realisasi pendapatan daerah provinsi

12

Grafik 2.4

Komposisi Realisasi pendapatan daerah Kabupaten/Kota

13

Grafik 2.5

Tren Realisasi pendapatan daerah Nasional (harga berlaku)

14

Grafik 2.6

Tren Realisasi pendapatan daerah Nasional (harga konstan, tahun 2000)

15

Grafik 3.1

perbandingan Anggaran dengan Realisasi belanja daerah Apbd Tahun Anggaran 2011

17

Grafik 3.2

Komposisi Realisasi belanja daerah Nasional

20

Grafik 3.3

Komposisi Realisasi belanja daerah provinsi

21

Grafik 3.4

Komposisi Realisasi belanja daerah Kabupaten/Kota

22

Grafik 3.5

Tren Realisasi belanja daerah Nasional (harga berlaku)

24

Grafik 3.6

Tren Realisasi belanja daerah Nasional (harga konstan, tahun 2000)

24

Grafik 3.7

Realisasi belanja daerah per Kapita

26

Grafik 3.8

Realisasi belanja Modal daerah perKapita

27

Grafik 4.1

perbandingan Suplus/defisit Anggaran dan realisasi Apbd 2009-

2011

29

Grafik 4.2.

Tren kabupaten/kota yang mengalami surplus/defisit realisasi

30

Grafik 4.3

Tren provinsi yang mengalami surplus/defisit realisasi

30

Grafik 4.4

Rincian penerimaan pembiayaan

32

Grafik 4.5

Rincian pengeluaran pembiayaan

34

Grafik 4.6

perbandingan Tren SiLpA Tahun Sebelumnya antara Anggaran dan

Realisasi

36

Grafik 4.7

Tren SiLpA Tahun berkenaan

37

Grafik 4.8

perbandingan Anggaran dan Realisasipenerimaan pinjaman Kab/

Kota

39

Grafik 4.9

perbandingan Anggaran dan Realisasi penerimaan pinjaman provinsi

40

Grafik 4.10 Jumlah Kab/kota yang melakukan pinjaman

41

Grafik 4.11 Jumlah provinsi yang melakukan pinjaman

41

Grafik

6.1

Realisasi pendapatan perkapita

72

Grafik 6.2

perbandingan Realisasi belanja dengan pertumbuhan Ekonomi

74

Grafik 6.3

perbandingan Realisasi belanja dengan Tingkat pengangguran

75

Grafik 6.4

perbandingan Realisasi belanja dengan Tingkat Kemiskinan

75

Grafik 6.5

perbandingan Realisasi belanja per Kapita dengan delta Tingkat Kemiskinan 2010-2011

77

Grafik 6.6

perbandingan Realisasi belanja per Kapita dengan delta Tingkat pengangguran 2010-2011

77

kata PeNGaNtar

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa dalam konteks kebijakan fiskal, pemerintah daerah selama ini mengelola dana yang dikelolanya dalam Anggaran pendapatan dan belanja daerah (Apbd), yang sekaligus menjadi instrumen vital bagi kebijakan publik di daerah. Apbd yang ditetapkan dengan persetujuan dari dewan perwakilan Rakyat daerah (dpRd) menunjukkan sumber-sumber pendapatan daerah, berapa besar alokasi belanja untuk melaksanakan program/kegiatan, serta pembiayaan yang muncul bila terjadi surplus atau defisit.

Selanjutnya, ketika pemerintah daerah telah selesai melaksanakan dan menyusun suatu laporan terhadap realisasi dari Apbd maka hal-hal yang ingin dilihat oleh semua stakeholder terkait antara lain: (1) membandingkan antara kinerja pengelolaan keuangan dilihat dari sisi kesesuaian dengan perencanaan, (2) konsistensi pelaksanaan anggaran untuk merealisasikan program / kegiatan, (3) seberapa baik pihak pemerintah daerah dalam mengelola keuangan daerah, dan (4) dampak pelaksanaan Apbd terhadap perekonomian regional. dalam konteks itulah, buku ini disusun untuk menyajikan analisis atas realisasi Apbd seluruh daerah dan diharapkan dapat memberikan potret yang informatif dan akurat mengenai hasil dari pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah di tahun anggaran 2011.

pengelolaan dana dalam Apbd sudah seharusnya dilaksanakan sebaik- baiknya sehingga dapat mendorong peningkatan kualitas belanja daerah (quality of spending), dengan memastikan dana tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk program dan kegiatan yang memiliki nilai tambah besar bagi masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah perlu selalu menerapkan kebijakan-kebijakan yang kondusif terhadap pembangunan ekonomi dan terus mendorong peningkatan kualitas layanan publik, baik melalui kebijakan fiskal maupun kebijakan non fiskal.

Kami mengharapkan agar buku Analisis Realisasi Apbd Tahun Anggaran 2011 ini dapat bermanfaat bagi semua pihak-pihak yang berkepentingan baik di pusat maupun di daerah sebagai bahan masukan dalam pengambilan kebijakan yang terkait dengan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.

Jakarta,

desember 2012

direktur Evaluasi pendanaan dan Informasi Keuangan daerah

Yusrizal Ilyas
Yusrizal Ilyas

rINGkasaN eksekUtIf

• Realisasi APBD TA 2011 memperlihatkan bahwa realisasi pendapatan dan realisasi belanja daerah lebih tinggi dibandingkan dengan anggarannya, sehingga mengakibatkan terjadinya suplus di akhir tahun. Realisasi pendapatan lebih tinggi Rp66,9 triliun dan realisasi belanja daerah juga lebih tinggi Rp22,7 triliun dari anggarannya. Yang patut menjadi perhatian adalah bahwa terjadinya surplus dalam realisasi Apbd 2011 ternyata lebih banyak didorong oleh terjadinya pelampauan pendapatan, dan bukan terjadi karena tidak terealisasikannya belanja.

• Realisasi belanja daerah secara nasional adalah Rp498,04 triliun dengan komposisi realisasi belanja daerah secara nasional didominasi oleh belanja pegawai yaitu sebesar 46,2%, diikuti oleh belanja modal yaitu sebesar 21,7%, belanja barang dan jasa sebesar 21,2%, dan belanja lainnya sebesar 10,8%.

• Beberapa hal yang cukup memprihatinkan justru terlihat bahwa ternyata yang mengalami pelampauan target belanja (dari pagu anggaran induk) cukup tinggi adalah belanja pegawai Tidak Langsung, atau biasa orang awam menyebutnya sebagai “Gaji pNS”. Sementara belanja pegawai yang terkait langsung dengan kegiatan justru mengalami under-target, dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah belanja modal yang realisasinya hanya mencapai 95% dari anggaran induk, atau masih kurang Rp5,4 triliun dari anggaran. padahal seharusnya dengan peningkatan alokasi pendapatan transfer dari pusat (yang informasinya baru didapat pada saat tahun anggaran 2011 berjalan), maka anggaran belanja juga harus segera menyesuaikan sehingga pendapatan daerah bisa semaksimal mungkin teralokasikan untuk belanja yang langsung berdampak pada peningkatan kuantitas dan kualitas layanan publik.

• Realisasi belanja daerah per kapita per provinsi memperlihatkan bahwa belanja daerah per kapita paling besar terjadi pada provinsi yang berada di wilayah timur Indonesia. Hal ini disebabkan oleh besarnya dana transfer pusat yang diberikan pada provinsi tersebut dan jumlah penduduk pada provinsi tersebut sedikit. Sedangkan belanja daerah per kapita di beberapa provinsi di pulau Jawa merupakan yang terkecil. belanja daerah per kapita terbesar adalah provinsi papua barat yaitu sebesar Rp13.052.807,00, sedangkan provinsi dengan belanja per kapita terkecil adalah provinsi Jawa barat yaitu sebesarRp1.080.351,00.

• Tren realisasi belanja modal secara nasional berdasarkan harga berlaku mengalami penurunan pada tahun 2010, yaitu sebesar 8,17% (Rp8,4 triliun) dan tahun 2011 kembali mengalami peningkatan sebesar 14,95% (Rp14,1 triliun). Sementara itu berdasarkan harga konstan, belanja modal juga mengalami penurunan pada tahun 2010, yaitu sebesar 14,34% (2,4 triliun), dan pada tahun 2011 belanja modal kembali meningkat sebesar 6,04% (Rp2,4 triliun).

• Berbeda dengan kabupaten/kota, jumlah provinsi yang mengalami surplus di tahun 2011 mengalami penurunan dibanding dengan tahun 2010 meskipun secara nominal besaran rata-rata surplus realisasi per provinsi justru mengalami peningkatan, dari Rp257 miliar di tahun 2010 menjadi Rp396 miliar pada tahun 2011. Sementara untuk kabupaten/ kota, peningkatan jumlah daerah yang mengalami surplus sebanding dengan peningkatan rata-rata besaran surplus realisasi per kabupaten/ kota. Fenomena peningkatan surplus realisasi Apbd pada dasarnya kembali menunjukkan lemahnya kualitas pengelolaan keuangan daerah, yaitu menunjukkan bahwa jumlah dana masyarakat yang tidak tergunakan menjadi belanja daerah ternyata menjadi semakin besar. dengan mengesampingkan adanya perbedaan kualitas belanja antar- daerah (atau dengan asumsi bahwa kualitas belanja daerah adalah pada level rata-rata) maka kondisi tidak tergunakannya dana publik dalam belanja daerah sudah pasti akan mengurangi kesempatan daerah untuk

memperbaiki kuantitas dan kualitas layanan publik. dalam teori ekonomi, tidak tergunakannya dana publik ke dalam belanja juga akan mengurangi kemampuan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan perekonomian secara nasional.

• Untuk mengetahui potret kondisi kesehatan keuangan daerah, dilakukan analisis terhadap indikator-indikator kondisi keuangan daerah. berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa provinsi Nusa Tenggara barat mempunyai tingkat kondisi keuangan yang tertinggi, sedangkan provinsi papua mempunyai tingkat kondisi keuangan yang terendah. Yang menarik adalah hampir semua provinsi di wilayah Jawa selain provinsi banten memiliki tingkat kondisi keuangan yang rendah. Kondisi ini sungguh ironis karena provinsi di wilayah Jawa memiliki tingkat pengelolaan keuangan daerah yang relatif lebih bagus dibandingkan dengan daerah Indonesia Timur. di samping itu, juga memiliki keunggulan dalam sumber daya manusia dan sarana dan prasarana infrastruktur dibandingkan daerah lain di wilayah Indonesia Timur. Selain daerah provinsi, analisis terhadap indikator kondisi keuangan daerah juga dilakukan untuk daerah kabupaten dan kota. Analisis indikator kondisi keuangan per kabupaten dan kota dilakukan untuk mengetahui tingkat kondisi keuangan masing-masing kabupaten dan kota dengan melihat nilai akhir (score) dari masing-masing kabupaten dan kota. dalam analisis ini digunakan pengelompokan daerah berdasarkan suatu kluster yang membagi daerah kabupaten menjadi 5 (lima) kluster berdasarkan luas wilayah, dan membagi daerah kota menjadi 5 (lima) kluster berdasarkan jumlah penduduk. Hasil perhitungan dan analisis secara lengkap terlampir.

• Perbandingan antara realisasi belanja dengan pertumbuhan ekonomi berdasarkan provinsinya pada tahun 2011 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional adalah sebesar 6,57%, dengan 16 provinsi memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Meskipun jumlah provinsi yang memiliki pertumbuhan ekonomi di bawah pertumbuhan ekonomi nasional jauh lebih besar, akan

tetapi pertumbuhan ekonomi daerah-daerah tersebut masih berada di sekitar angka pertumbuhan ekonomi nasional. provinsi yang mempunyai pertumbuhan ekonomi tertinggi adalah provinsi papua barat yaitu sebesar 27.22%, sedangkan dua provinsi yang mempunyai pertumbuhan ekonomi negatif adalah provinsi NTb dan provinsi papua meskipun kedua provinsi tersebut memiliki realisasi belanja yang tinggi, namun pertumbuhan ekonominya negatif. dasar penyebab yang paling memungkinkan dari fakta tersebut adalah sektor swasta maupun masyarakat di ketiga wilayah tersebut kontribusinya dalam pdRb kecil sehingga laju pertumbuhan pdRb hanya tergantung dari government spending.

bab I GaMbaraN UMUM realIsasI aPbD

Realisasi Apbd pada dasarnya menunjukkan kinerja pengelolaan keuangan dilihat dari sisi kesesuaian dengan perencanaan dan konsistensi pelaksanaan anggaran. Fakta dan potret mengenai realisasi Apbd Tahun Anggaran (TA) 2011 yang akan dianalisis secara deskriptif dalam buku ini meliputi data realisasi Apbd TA 2011 seluruh daerah di Indonesia, terdiri dari 33 provinsi, 398 kabupaten dan 93 kota.

Secara ringkas buku ini akan membahas tentang perbandingan realisasi Apbd TA 2011 dengan anggarannya dan perbandingan data realisasi Apbd TA 2011 dengan realisasi Apbd tahun-tahun sebelumnya, baik dari sisi pendapatan, belanja maupun pembiayaannya. Selain itu akan disajikan analisis tentang beberapa indikator kinerja keuangan maupun implikasinya terhadap indikator perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

potret mengenai Realisasi Apbd TA 2011 secara agregat nasional, seluruh provinsi, kabupaten, dan kota bisa dilihat pada tabel 1.1.

Tabel 1.1 Realisasi APBD Tahun Anggaran 2011 (dalam miliar Rupiah)

 

Jumlah Anggaran

 

Mata Anggaran

Nasional*

Provinsi

Kabupaten

Kota

Pendapatan

526,830

140,034

328,381

78,370

Pendapatan Asli Daerah

109,213

73,700

22,371

13,142

Dana Perimbangan

344,034

52,731

243,427

47,876

Lain-lain Pendapatan yang Sah

73,582

13,602

62,583

17,352

 

Jumlah Anggaran

 

Mata Anggaran

Nasional*

Provinsi

Kabupaten

Kota

Belanja

498,036

132,290

310,664

75,037

Pegawai

230,197

30,411

159,297

40,489

Barang dan Jasa

105,786

33,604

56,870

15,313

Modal

108,127

26,264

67,773

14,090

Lain-lain

53,926

42,011

26,725

5,145

Surplus/Defisit

28,794

7,743

17,717

3,334

Pembiayaan

49,266

17,681

25,927

5,659

Penerimaan

58,278

20,503

31,123

6,652

Pengeluaran

9,011

2,823

5,196

993

SiLPA Tahun Berkenaan

78,060

25,424

43,643

8,992

Sumber: DJPK

*) konsolidasi Apbd adalah proses penggabungan Apbd Kab/kota dengan provinsi dengan menghilangkan reciprocal account, hal tersebut dilakukan supaya tidak ada penghitungan ganda antara transfer provinsi ke kab/kota dengan pendapatan kab/kota, dengan menghilangkan reciprocal account besaran pendapatan dan belanja secara total lebih kecil namun besaran surplus/defisit tetap.

a. Gambaran Umum realisasi aPbD 2011 secara Nasional

Gambaran mengenai tingkat penyerapan Apbd 2011 secara nasional dengan perbandingannya terhadap Apbd dapat dilihat pada grafik 1.1.

Grafik 1.1 Perbandingan APBD dan Realisasi APBD secara Nasional TA 2011

Perbandingan APBD dan Realisasi APBD secara Nasional TA 2011 Sumber: DJPK (data diolah) Realisasi Apbd TA

Sumber: DJPK (data diolah)

Realisasi Apbd TA 2011 memperlihatkan bahwa realisasi pendapatan dan realisasi belanja daerah lebih tinggi dibandingkan dengan anggarannya, sehingga mengakibatkan terjadinya suplus di akhir tahun. Yang patut menjadi perhatian adalah bahwa terjadinya surplus dalam realisasi Apbd 2011 ternyata lebih banyak didorong oleh terjadinya pelampauan pendapatan, dan bukan terjadi karena tidak terealisasikannya belanja. pada tahun 2011 ini, realisasi pendapatan lebih tinggi Rp66,9 triliun dan realisasi belanja daerah bahkan juga lebih tinggi Rp22,7 triliun dari anggarannya. Kondisi ini telah terjadi pada dua tahun terakhir (2010 dan 2011), sementara pada tahun-tahun sebelumnya, surplus realisasi lebih banyak didorong oleh tidak terealisasikannya belanja.

pada tahun 2011, faktor yang paling dominan dalam mendorong pelampauan perkiraan pendapatan daerah adalah terjadi pada pos dana penyesuaian, yang menyumbang 36% dari total pelampauan pendapatan, diikuti oleh pelampauan pAd yang menyumbang 28% dan pelampauan dana

perimbangan 26%. pelampauan dana penyesuaian terjadi karena pada saat menetapkan Apbd 2011 memang belum ada informasi tentang besaran dana penyesuaian tersebut, utamanya dana Ad Hoc 2011 yaitu dana penyesuaian Infrastruktur daerah (dpId) dan/atau dana percepatan pembangunan Infrastruktur daerah (dppId) yang muncul belakangan setelah ditetapkannya sebagian besar Apbd 2011, bahkan untuk dppId mendekati akhir tahun 2011. Sementara untuk pelampauan dana perimbangan terutama terjadi pada pos dana bagi Hasil, baik pajak maupun SdA yang pelampauannya mencapai kisaran Rp17 triliun. Hal ini terjadi memang karena realisasi dbH, utamanya dbH SdA melampaui target yang dialokasikan dalam ApbN 2011. Sedangkan pAd lebih banyak didominasi oleh pelampauan pajak daerah propinsi, yang pelampauannya mencapai lebih dari Rp12 triliun, sementara pelampauan pajak daerah Kabupaten/Kota sebesar Rp3 triliun. pelampauan pendapatan pada tahun 2011 ini jauh lebih tinggi apabila dibandingkan tahun 2010 yang pelampauannya mencapai Rp47 triliun, begitu pula apabila dibandingkan pelampauan pendapatan 2009 yang hanya berkisar Rp10,7 triliun.

di sisi lain, belanja juga terjadi pelampauan. Tahun 2011 adalah kali pertama terjadi realisasi pelampauan belanja. Namun demikian, pelampauan belanja yang terjadi jauh lebih kecil dari pelampauan pendapatannya. Hal ini menunjukkan bahwa daerah tidak cukup mampu mengejar peningkatan belanja pada saat terjadi tambahan pendapatan yang cukup signifikan dari transfer pusat ataupun peningkatan penerimaan pajak daerah, atau dengan kata lain daerah belum cukup mampu melakukan penyesuaian yang diperlukan untuk menyerap pelampauan pendapatan tersebut. Satu hal yang cukup memprihatinkan adalah bahwa pelampauan belanja yang terjadi di daerah ternyata justru terjadi pada peningkatan belanja pegawai tidak langsung (realisasi 111% dari anggaran), sementara belanja modal justru tidak tercapai (realisasi hanya di kisaran 95% dari anggaran).

Kondisi tersebut di atas patut mendapat perhatian serius baik dari pusat maupun daerah sendiri. Harus diakui bahwa pendapatan Apbd masih sangat

tergantung kepada transfer dari pusat, sehingga informasi yang relatif cepat dan akurat atas besaran transfer yang dialokasikan ke daerah akan menjadi kunci bagi kecepatan dan keakurasian perencanaan anggaran di daerah. pemerintah pusat perlu secara serius memperbaiki kedua hal tersebut. Salah satu langkah maju yang telah dilakukan untuk bisa menjawab hal tersebut adalah telah disepakatinya untuk tidak mengalokasikan dana ad hoc pada tahun 2012 dan seterusnya, sehingga semua bentuk transfer telah dapat memberikan kepastian yang lebih baik. pekerjaan rumah yang cukup bagi pemerintah pusat adalah memperbaiki kualitas perencanaan alokasi dbH, mengingat ini memerlukan kerjasama yang cukup besar dengan berbagai Kementerian dan Lembaga yang terkait dengan penerimaan Negara yang dibagihasilkan ke daerah. di sisi lain, daerah juga harus secara serius memperbaiki kinerja pengelolaan keuangannya dan juga memperbaiki kualitas belanjanya, sehingga lebih fokus kepada upaya peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan publik, bukan sekedar menyerap belanja untuk keperluan aparatur.

b. Gambaran Umum realisasi aPbD 2011 Provinsi

pola realisasi Apbd provinsi sama dengan pola realisasi Apbd secara nasional, realisasi pendapatan dan realisasi belanja lebih tinggi dibanding anggaran. Realisasi pendapatan lebih tinggi Rp20,9 triliun dan realisasi belanja lebih tinggi Rp4,4 triliun. Apbd provinsi yang semula dianggarkan defisit, dalam realisasinya menjadi surplus Rp7,7 triliun. Sedangkan realisasi pembiayaan netto provinsi lebih tinggi Rp8,7 triliun, maka Sisa Lebih perhitungan Anggaran (SiLpA) tahun berkenaan untuk pemerintah provinsi naik dari tahun sebelumnya (2010) sebesar Rp19,0 triliun menjadi sebesar Rp25,4 triliun.

pelampauan pendapatan propinsi lebih banyak diakibatkan oleh adanya pelampauan pAd, utamanya dari pajak daerah yaitu dengan kontribusi terhadap pelampauan pendapatan hingga 67%, sedangkan porsi pelampauan pendapatan karena peningkatan realisasi dbH hanya sebesar 25%. Sebagai konsekuensi pelampauan target pajak daerah tersebut, maka secara otomatis

juga terjadi pelampauan belanja bagi Hasil ke Kabupaten/Kota karena pajak propinsi memang harus dibagihasilkan ke Kabupaten/Kota. pelampauan belanja propinsi sebesar Rp4,4 trilun tersebut di atas hampir sepenuhnya merupakan pelampauan belanja bagi hasil. belum nampak upaya propinsi untuk menggenjot belanja publik guna menyesuaikan dengan peningkatan pendapatan yang terjadi.

Grafik 1.2 Perbandingan APBD dan Realisasi APBD Provinsi TA 2011

1.2 Perbandingan APBD dan Realisasi APBD Provinsi TA 2011 Sumber: DJPK (data diolah) C. Gambaran Umum

Sumber: DJPK (data diolah)

C. Gambaran Umum realisasi aPbD 2011 kabupaten/kota

pola realisasi Apbd kabupaten/kota berbeda dengan provinsi, yaitu realisasi pendapatan lebih besar dan belanja lebih kecil dari anggaran. Realisasi pendapatan kabupaten/kota lebih tinggi Rp46,8 triliun dan realisasi belanjanya lebih rendah Rp0,8 triliun. Sehingga yang semula dianggarkan defisit, ternyata realisasi kabupaten/kota menjadi surplusRp21,1 triliun. Realisasi pembiayaan netto kabupaten/kota juga mengalami peningkatan sebesarRp31,6 triliun.

Sebagaimana gambaran yang telah diberikan sebelumnya, nampak sekali bahwa realisasi surplus yang tinggi pada kabupaten/kota sangat didorong oleh pelampauan pendapatan utamanya dari transfer dana penyesuaian yang menyumbang hampir 50% pelampauan pendapatan. di sisi lain, justru kinerja belanja yang semakin menurun, tidak saja dengan tidak tercapainya target realisasi secara total namun juga diperparah dengan pelampauan belanja pegawai yang cukup tinggi sementara belanja modal justru jauh tertinggal.

Grafik 1.3 Perbandingan APBD dan Realisasi APBD Kabupaten/Kota TA 2011

Perbandingan APBD dan Realisasi APBD Kabupaten/Kota TA 2011 Sumber: DJPK (data diolah) Bab I Gambaran Umum

Sumber: DJPK (data diolah)

bab II realIsasI PeNDaPataN DaeraH

Realisasi pendapatan Apbd Tahun Anggaran 2011 secara nasional menunjukkan kenaikan sebesar 14,6% (Rp66,94 triliun) dari anggaran semula. Semua komponen pendapatan mengalami kenaikan dengan kontributor pelampauan anggaran terbesar adalah lain-lain pendapatan yang sah sebesar Rp31,5 triliun, yaitu dari anggaran sebesar Rp42,1 triliun terealisasi sebesar Rp73,58 triliun (realisasi 174,6%). Urutan kedua adalah pelampauan pendapatan Asli daerah (pAd) sebesar Rp18,8 triliun (realisasi 120,8%) dan pelampauan dana perimbangan sebesar Rp16,6 triliun (realisasi 105,1%). Termasuk di dalam pos Lain-lain pendapatan adalah dana penyesuaian. Sebagaimana telah disampaikan dalam bab sebelumnya, pos pendapatan dana penyesuaian inilah yang kontribusi pelampauannya tertinggi. Secara persentase, pelampauan pendapatan propinsi (sebesar 18%) ternyata lebih besar apabila dibandingkan dengan pelampauan pendapatan kabupaten/kota (sebesar 13%).

Satu hal lain yang juga cukup menarik adalah bahwa di dalam pos “Lain- lain pendapatan” ini terdapat juga pos “lain-lain” yang ternyata pelampauannya juga cukup tinggi, yaitu mencapai kisaran Rp7 triliun. demikian juga dengan pos pAd, di mana di dalamnya terdapat pos “Lain-lain pAd”, yang ternyata pelampauannya juga cukup signifikan, yaitu mencapai kisaran Rp2,5 triliun, bahkan lebih besar dari pelampauan yang terjadi pada pos Retribusi daerah. besarnya pelampauan pendapatan pada pos “lain-lain” menunjukkan masih rendahnya kualitas perencanaan anggaran pendapatan daerah pada pos-pos yang bukan merupakan pos utama.

Hal ini patut menjadi perhatian karena meskipun semua pos pendapatan pada Apbd secara resmi akan diaudit, namun seringkali karena bukan

merupakan pos utama justru terabaikan dalam proses audit dan juga luput dari perhatian masyarakat secara umum. Keterabaian terhadap pos-pos tersebut harus diwaspadai agar tidak mengurangi kualitas governance pengelolaannya, mengingat fakta menunjukkan bahwa besaran nominalnya ternyata cukup besar.

Grafik 2.1 Perbandingan Anggaran - Realisasi Pendapatan Nasional 2011

Perbandingan Anggaran - Realisasi Pendapatan Nasional 2011 Sumber: DJPK (data diolah) a. komposisi Pendapatan Daerah

Sumber: DJPK (data diolah)

a. komposisi Pendapatan Daerah

pola komposisi realisasi pendapatan daerah berbeda antara Nasional, provinsi, dan Kabupaten/Kota. di tingkat Nasional, komposisi pendapatan yang terbesar adalah dana perimbangan (65%) diikuti oleh pAd (21%) dan

Lain-lain pendapatan yang sah (14%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pendapatan daerah berasal dari transfer pusat ke daerah.

Grafik 2.2 Komposisi Realisasi Pendapatan Daerah Nasional (agregat Prop, Kab, Kota)

Pendapatan Daerah Nasional (agregat Prop, Kab, Kota) Sumber: DJPK (data diolah) Kembali seperti yang telah

Sumber: DJPK (data diolah)

Kembali seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, perlu kiranya disoroti komponen “lain-lain” dalam pendapatan Apbd, khususnya pos “Lain-lain pAd” di dalam pos “pAd”. dari realisasi pendapatan pAd tahun 2011 yang sebesar Rp109,2 triliun tersebut, didalamnya terdapat pendapatan “Lain-lain pAd” yang besarnya mencapai kisaran Rp17 triliun. Realisasi ini 17% lebih besar dari anggarannya, yaitu dianggarkan sebesar Rp14,5 triliun. Isi dari pos “Lain-lain pAd” ini terutama adalah “pendapatan bunga”. Hal ini cukup menarik mengingat bahwa sepanjang tahun 2011, dana yang tersimpan di bank relatif cukup besar yaitu selalu bergerak di kisaran Rp80 triliun sepanjang tahun (Sumber: bank Indonesia). Selanjutnya fakta data juga menunjukkan bahwa SiLpA tahun berkenaan 2011, atau surplus penerimaan meningkat cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu mencapai Rp78 triliun (tahun 2010 di

kisaran Rp56 triliun). Semua hal tersebut pada akhirnya saling terkait, yaitu karena kemampuan perencanaan dan eksekusi belanja yang kurang baik telah mengakibatkan dana lebih banyak menganggur di bank sehingga pemda justru mendapat pendapatan bunga yang lebih tinggi, dan pada akhirnya SiLpA daerah meningkat cukup tajam.

Grafik 2.3 Komposisi Realisasi Pendapatan Daerah Provinsi

Grafik 2.3 Komposisi Realisasi Pendapatan Daerah Provinsi Sumber: DJPK (data diolah) di tingkat provinsi, sebagaimana

Sumber: DJPK (data diolah)

di tingkat provinsi, sebagaimana terlihat dalam grafik 2.3, komposisi realisasi pendapatannya berbeda dengan nasional. Komposisi pendapatan terbesar adalah pAd yaitu sebesar 52% yang didominasi oleh penerimaan dari pajak daerah. proporsi dana perimbangan yang diterima oleh provinsi tidak terlalu tinggi, hanya sebesar 38%, sedangkan Lain-lain pendapatan yang sah hanya memiliki kontribusi 10% yang didominasi oleh transfer dana penyesuaian dan otonomi khusus yang berasal dari pemerintah pusat.

Realisasi pendapatan Apbd provinsi secara berturut turut adalah pendapatan Asli daerah sebesar Rp73,7 triliun (realisasi 123,6%), Lain-Lain

pendapatan yang Sah sebesar Rp13,6 triliun (realisasi 113,2%), dan dana perimbangan sebesar Rp52,7 triliun (realisasi 111,18%).

Grafik 2.4 Komposisi Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten/Kota

2.4 Komposisi Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten/Kota Sumber: DJPK (data diolah) Komposisi realisasi pendapatan

Sumber: DJPK (data diolah)

Komposisi realisasi pendapatan kabupaten/kota pada Grafik 2.4. sangat didominasi oleh dana perimbangan yaitu sebesar 71%, di urutan kedua pAd 20%, dan Lain-lain pendapatan yang sah sebesar 9%.

Realisasi pendapatan Apbd kabupaten/kota secara berturut turut adalah Lain-Lain pendapatan yang Sah sebesar Rp79,9 triliun (realisasi 162,4%), pendapatan Asli daerah sebesar Rp35,5 triliun (realisasi 115,3%), dan dana perimbangan sebesar Rp291,3 triliun (realisasi 104,1%).

b. tren realisasi Pendapatan Daerah Nasional (Harga berlaku dan Harga konstan)

Untuk mengetahui tren realisasi pendapatan daerah dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan dengan menggunakan harga berlaku dan menggunakan harga konstan. Harga konstan digunakan untuk melihat apakah nilai yang tertuang dalam Apbd memang secara riil mengalami kenaikan atau penurunan.

Grafik 2.5 Tren Realisasi Pendapatan Daerah Nasional (harga berlaku)

atau penurunan. Grafik 2.5 Tren Realisasi Pendapatan Daerah Nasional (harga berlaku) 14 Analisis Realisasi APBD 2011

Grafik 2.6 Tren Realisasi Pendapatan Daerah Nasional (harga konstan, tahun 2000)

Pendapatan Daerah Nasional (harga konstan, tahun 2000) Sumber: DJPK (data diolah) Tren realisasi pendapatan daerah

Sumber: DJPK (data diolah)

Tren realisasi pendapatan daerah secara nasional sebagaimana ditunjukkan pada grafik 2.5 dan grafik 2.6, sama-sama menunjukkan pola realisasi pendapatan daerah yang terus mengalami kenaikan dari tahun 2009- 2011 meskipun dengan pendekatan yang berbeda.

Grafik 2.5 menunjukkan tren realisasi pendapatan dengan menggunakan harga berlaku yang tidak memperhitungkan faktor perubah harga pada tahun 2009-2011, sedangkan Grafik 2.6 menggunakan perhitungan dengan harga konstan berdasarkan angka Gdp deflator dengan tahun dasar 2000. Harga

konstan memperhitungan faktor perubah harga seperti inflasi pada tahun 2009-

2011.

Tren realisasi pAd secara nasional berdasarkan harga berlaku terus mengalami peningkatan setiap tahun. pada tahun 2010 meningkat sebesar 20,1% (Rp14 triliun) dan tahun 2011 kembali mengalami peningkatan sebesar 34,6% (Rp28 triliun). Sementara itu berdasarkan harga konstan, pAd juga

mengalami peningkatan dari tahun 2009 – 2011 dengan persentase yang lebih rendah. Tahun 2010 pAd meningkat sebesar 12% (Rp4 triliun) dan tahun 2011 meningkat 24,2% (Rp8 triliun).

Tren realisasi dana perimbangan secara nasional juga mengalami kenaikan baik berdasarkan harga berlaku maupun harga konstan. berdasarkan harga berlaku pada tahun 2010 terjadi peningkatan dana perimbangan sebesar 9% (Rp25 triliun) dan 2011 meningkat sebesar 12,2% (Rp37 triliun), sedangkan menurut harga konstan, dana perimbangan juga mengalami kenaikan meskipun secara persentase jauh lebih rendah dari harga berlaku. Tahun 2010 telah terjadi peningkatan sebesar 1,7% (Rp2 triliun) dan pada tahun 2011 kembali naik sebesar 3,5% (Rp4 triliun).

Tidak berbeda dengan pAd dan dana perimbangan, tren Lain-lain pendapatan yang Sah juga mengalami peningkatan baik dalam harga berlaku maupun harga konstan. peningkatan harga berlaku tahun 2010 sebesar 38,2% (Rp17 triliun) dan 20% (Rp12 triliun) di tahun 2011 dan berdasarkan harga konstan peningkatannya sebesar 29% (Rp6 triliun) pada tahun 2010 dan 10,7% (Rp3 triliun) di tahun 2011.

dengan demikian, pendapatan daerah baik secara keseluruhan maupun per jenis pendapatan mengalami kenaikan, baik dengan memasukkan faktor perubah harga maupun tidak, atau dengan kata lain terjadi peningkatan realisasi pendapatan secara riil dari tahun ke tahun.

bab III realIsasI belaNJa DaeraH

a. Perbandingan anggaran dengan realisasi belanja Daerah

Grafik 3.1 Perbandingan Anggaran dengan Realisasi Belanja Daerah APBD Tahun Anggaran 2011

dengan Realisasi Belanja Daerah APBD Tahun Anggaran 2011 Sumber: DJPK (data diolah) Realisasi belanja daerah secara

Sumber: DJPK (data diolah)

Realisasi belanja daerah secara nasional tahun 2011 adalah Rp498,04 triliun lebih besar dibandingkan dari pagu anggaran sebesar Rp495,27 triliun atau realisasi belanja daerah mencapai sebesar 100,56%. Komponen belanja yang tingkat penyerapannya di atas 100% adalah belanja pegawai yaitu 100,48% (realisasi Rp230,20 triliun sedangkan pagu anggaran sebesar Rp229,08 triliun), belanja barang dan jasa yaitu 101,50% (realisasi Rp105,79 triliun sedangkan pagu anggaran sebesar Rp104,22 triliun), dan belanja lainnya

sebesar 111,31% (realisasi Rp53,93 triliun sedangkan pagu anggaran Rp48,45 triliun). Sedangkan realisasi belanja modal masih di bawah 100% yaitu hanya sebesar 95,25% (realisasi Rp108,13 triliun sedangkan pagu anggaran sebesar Rp113,52 triliun).

Apabila hanya melihat bahwa realisasi belanja yang tinggi dibandingkan dengan anggaran (induk/awal), maka hal tersebut bisa menjadi sangat bias, karena seolah-olah penyerapan belanja Apbd sangat baik padahal tidak sepenuhnya seperti itu. pada tahun 2011 telah terjadi perubahan yang cukup signifikan terhadap Apbd pada saat tahun anggaran sedang berjalan, terutama di sisi pendapatan Apbd. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa penetapan angka pendapatan Apbd sangat tergantung kepada informasi transfer dari pusat, dan sayangnya, praktis hanya dana Alokasi Umum (dAU) dan dana Alokasi Khusus (dAK) saja yang informasinya benar-benar sesuai dengan jadwal tenggat waktu penetapan Apbd 2011, yaitu sebelum 31 desember 2010. Informasi atas seluruh jenis dana transfer lainnya sudah melewati tanggal tersebut. beberapa jenis dana bagi Hasil (dbH) perpajakan dan bantuan Operasional Sekolah (bOS) meskipun pMK telah ditetapkan sebelum 31 desember 2010, namun sangat mepet waktunya yaitu pMK tertanggal 27 desember 2010. Sementara dbH Sumber daya Alam (SdA) rata- rata ditetapkan di atas bulan Maret 2011, demikian juga dana penyesuaian yaitu dana penyesuaian Infrastruktur daerah (dpId) ditetapkan dengan pMK pada tanggal 11 pebruari dan bahkan dana percepatan pembangunan Infrastruktur daerah (dppId) pada Agustus 2011. dengan kondisi semacam itu, bisa dipastikan bahwa sebagian besar anggaran pendapatan Apbd 2011 akan under-estimate, karena wajar bagi daerah apabila mencantumkan angka yang relatif pesimis karena belum ada informasi akurat. Sebagai akibatnya, penetapan angka anggaran belanja Apbd akan mengikutinya, yaitu cenderung kecil. Oleh karena itulah yang paling tepat seharusnya melihat angka pada perubahan Apbd, namun mengingat data Apbd perubahan tidak lengkap maka dalam buku ini sebagai pembanding realisasi Apbd menggunakan angka Apbd induk/awal.

beberapa hal yang cukup memprihatinkan justru terlihat apabila melihat data secara lebih detail. pada Grafik 3.1 di atas terlihat bahwa ternyata yang mengalami pelampauan target belanja (dari pagu anggaran induk) cukup tinggi adalah belanja pegawai Tidak Langsung, atau biasa orang awam menyebutnya sebagai “Gaji pNS”. Sementara belanja pegawai yang terkait langsung dengan kegiatan justru mengalami under-target, dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah belanja modal yang realisasinya hanya mencapai 95% dari anggaran induk, atau masih kurang Rp5,4 triliun dari anggaran. padahal seharusnya dengan peningkatan alokasi pendapatan transfer dari pusat (yang informasinya baru didapat pada saat tahun anggaran 2011 berjalan), maka anggaran belanja juga harus segera menyesuaikan sehingga pendapatan daerah bisa semaksimal mungkin teralokasikan untuk belanja yang langsung berdampak pada peningkatan kuantitas dan kualitas layanan publik.

Salah satu kelemahan yang seringkali terjadi adalah adanya kecenderungan daerah untuk melakukan perubahan Apbd pada saat menjelang akhir tahun anggaran berjalan (di atas bulan September). Hal ini tentu saja sangat mengurangi kemampuan SKpd untuk menyesuaikan belanja, karena waktu yang tersisa untuk mengeksekusi belanja menjadi sangat sempit. daerah mempunyai kecenderungan untuk melakukan perubahan Apbd setelah diketahuinya hasil audit atas LKpd tahun sebelumnya sehingga dapat mengetahui secara pasti berapa besarnya SiLpA tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi perubahan Apbd hanya pada penyesuaian yang sifatnya administratif dan kurang menyentuh aspek substansi penyebab perubahan serta dampak yang mungkin bisa didapatkan apabila momentum perubahan dilakukan lebih awal. Hal ini mungkin juga dipengaruhi oleh aturan permendagri yang memang mengaturnya sedemikian rupa. Namun apabila merujuk pada UU 17 Nomor 2003 tentang Keuangan Negara, dalam pasal 28 menyebutkan bahwa perubahan Apbd dapat dilakukan apabila terjadi perkembangan yang tidak sesuai dengan kebijakan umum Apbd. Yang dimaksudkan dengan kebijakan umum Apbd mencakup di antaranya adalah kebijakan yang terkait dengan upaya peningkatan pendapatan dan faktor-faktor

yang mempengaruhi peningkatan belanja daerah. dua hal tersebut seharusnya sudah bisa dijadikan sebagai dasar bagi perubahan Apbd. dengan demikian, apabila melihat kondisi yang terjadi pada tahun 2011, seharusnya perubahan Apbd sudah dapat dilakukan paling tidak sejak bulan Mei 2011.

di samping permasalahan yang telah disebutkan di atas, beberapa hal yang juga menyebabkan rendahnya penyerapan belanja modal daerah adalah penetapan Apbd yang terlambat, adanya efisiensi belanja modal dan berbagai kebijakan penghematan. Apbd yang terlambat ditetapkan dapat menyebabkan pelaksanaan proyek jadi terhambat. penyerapan belanja yang tidak dapat dimulai pada awal tahun anggaran akan menyebabkan proyek yang direncanakan pemerintah tidak dapat diselesaikan tepat waktu sehingga akan menghambat daya dorong pertumbuhan ekonomi di daerah. proses tender yang memakan waktu relatif lama menyebabkan waktu yang tersisa untuk menyelesaikan proyek-proyek di daerah menjadi lebih sedikit sehingga terdapat beberapa proyek yang tidak selesai pada akhir desember 2011.

b. komposisi realisasi belanja Daerah

Grafik 3.2 Komposisi Realisasi Belanja Daerah Nasional (dalam triliun rupiah dan persentase)

Daerah Nasional (dalam triliun rupiah dan persentase) Sumber: DJPK (data diolah) 20 Analisis Realisasi APBD 2011

Sumber: DJPK (data diolah)

Grafik 3.2 menggambarkan bahwa secara nasional komposisi belanja daerah tahun 2011 didominasi oleh belanja pegawai yaitu sebesar 46,2% relatif hampir sama dengan realisasi tahun lalu sebesar 46,0%. Selanjutnya diikuti oleh belanja modal yaitu sebesar 21,7% lebih tinggi dari realisasi tahun lalu sebesar 21,0%, belanja barang dan jasa sebesar 21,2% lebih tinggi dari realisasi tahun lalu sebesar 18%, dan belanja lainnya hanya sebesar 10,8% lebih rendah dari realisasi tahun lalu sebesar 15%.

Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian, karena secara implisit daerah hanya menganggarkan sebagian kecil Apbd-nya untuk jenis-jenis belanja selain belanja pegawai. Hal ini akan menyebabkan keterbatasan program dan kegiatan daerah di luar belanja pegawai yang bisa didanai, khususnya yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Seharusnya dengan melihat realisasi pendapatan yang ternyata jauh lebih tinggi, maka belanja pelayanan publik bisa didorong lebih besar.

Grafik 3.3 Komposisi Realisasi Belanja Daerah Provinsi (dalam triliun rupiah dan persentase)

Daerah Provinsi (dalam triliun rupiah dan persentase) Sumber: DJPK (data diolah) Bab III Realisasi Belanja Daerah

Sumber: DJPK (data diolah)

Grafik 3.3 menunjukkan bahwa persentase realisasi belanja daerah provinsi terbesar adalah belanja lainnya, yaitu sebesar 31,8% lebih tinggi dibanding realisasi tahun lalu sebesar 24,0%, diikuti belanja barang dan jasa sebesar 25,4% lebih tinggi dibanding realisasi tahun lalu sebesar 24,0%, belanja pegawai sebesar 23,0% lebih rendah dibanding realisasi tahun lalu sebesar 24,0%, dan belanja modal sebesar 19,9% lebih rendah dibanding realisasi tahun lalu sebesar 23,0%.

berbeda dengan komposisi realisasi belanja daerah secara nasional, persentase realisasi belanja provinsi seluruh Indonesia yang terbesar adalah untuk belanja lainnya, yaitu berupa transfer bagi hasil dan bantuan keuangan kepada kabupaten dan kota. Hal ini wajar mengingat pelampauan pendapatan yang tertinggi untuk propinsi adalah dari pajak daerah, sehingga memang harus dibagihasilkan. Untuk provinsi, persentase realisasi belanja lainnya dan belanja barang dan jasa memiliki tren meningkat sedangkan realisasi belanja pegawai dan belanja modal memiliki tren menurun.

Grafik 3.4 Komposisi Realisasi Belanja Daerah Kabupaten/Kota (dalam triliun rupiah dan persentase)

Daerah Kabupaten/Kota (dalam triliun rupiah dan persentase) Sumber: DJPK (data diolah) 22 Analisis Realisasi APBD 2011

Sumber: DJPK (data diolah)

Untuk komposisi realisasi belanja daerah kabupaten/kota seluruh Indonesia, secara persentase realisasi belanja daerah didominasi oleh belanja pegawai yaitu sebesar 51,8% lebih rendah dibanding realisasi tahun lalu sebesar 53%, posisi kedua ditempati belanja modal dengan persentase sebesar 21,2% relatif hampir sama dengan tahun lalu sebesar 21,0%, selanjutnya diikuti oleh belanja barang dan jasa sebesar 18,7% lebih tinggi dibanding realisasi tahun lalu sebesar 16,0% dan belanja lainnya sebesar 8,3% lebih rendah dibanding realisasi tahun lalu sebesar 10%.

pada level kabupaten/kota, persentase realisasi belanja barang dan jasa memiliki tren meningkat sedangkan realisasi belanja pegawai dan belanja lainnya memiliki tren menurun.

C. tren realisasi belanja Daerah secara Nasional

Untuk mengetahui tren realisasi belanja daerah dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan dengan menggunakan harga berlaku dan menggunakan harga konstan. Harga konstan digunakan untuk melihat apakah nilai yang tertuang dalam Apbd memang secara riil mengalami kenaikan atau penurunan.

Grafik 3.5 menunjukkan tren realisasi belanja dengan menggunakan harga berlaku yang tidak memperhitungkan faktor perubah harga pada tahun 2009- 2011, sedangkan Grafik 3.6 menggunakan perhitungan dengan harga konstan berdasarkan angka Gdp deflator dengan tahun dasar 2000. Harga konstan memperhitungan faktor perubah harga seperti inflasi pada tahun 2009-2011.

Grafik 3.5 Tren Realisasi Belanja Daerah Nasional (harga berlaku)

3.5 Tren Realisasi Belanja Daerah Nasional (harga berlaku) Sumber: DJPK (data diolah) Grafik 3.6 Tren Realisasi

Sumber: DJPK (data diolah)

Grafik 3.6 Tren Realisasi Belanja Daerah Nasional (harga konstan, tahun 2000)

Belanja Daerah Nasional (harga konstan, tahun 2000) Sumber: DJPK (data diolah) Tren realisasi belanja pegawai

Sumber: DJPK (data diolah)

Tren realisasi belanja pegawai secara nasional berdasarkan harga berlaku terus mengalami peningkatan setiap tahun. pada tahun 2010 meningkat sebesar 19,47% (Rp32,7 triliun) dan tahun 2011 kembali mengalami

peningkatan sebesar 14,59% (Rp29,3 triliun). Sementara itu berdasarkan harga konstan, belanja pegawai juga mengalami peningkatan dari tahun 2009 s.d. 2011 dengan persentase yang lebih rendah. pada tahun 2010 belanja pegawai meningkat sebesar 11,4% (Rp8,7 triliun) dan tahun 2011 meningkat sebesar 5,7% (Rp4,8 triliun).

Tren realisasi belanja barang dan jasa secara nasional juga mengalami kenaikan baik berdasarkan harga berlaku maupun harga konstan. berdasarkan harga berlaku pada tahun 2010 terjadi peningkatan belanja barang dan jasa sebesar7,48% (Rp5,6 triliun) dan 2011 meningkat sebesar 31,0% (Rp25,1 triliun). berdasarkan harga konstan, pada tahun 2010 telah terjadi peningkatan untuk realisasi belanja barang dan jasa sebesar 0,25% (Rp0,08 triliun) dan pada tahun 2011 kembali naik sebesar 20,9% (Rp7,1 triliun).

Tren realisasi belanja modal secara nasional berdasarkan harga berlaku mengalami penurunan pada tahun 2010, yaitu sebesar 8,17% (Rp8,4 triliun) dan tahun 2011 kembali mengalami peningkatan sebesar 14,95% (Rp14,1 triliun). Sementara itu berdasarkan harga konstan, belanja modal juga mengalami penurunan pada tahun 2010, yaitu sebesar 14,34% (2,4 triliun), dan pada tahun 2011 belanja modal kembali meningkat sebesar 6,04% (Rp2,4 triliun). pada tahun 2010, penurunan belanja modal berdasarkan harga konstan ternyata lebih besar dibanding penurunan berdasarkan harga yang berlaku, dan pada tahun 2011 peningkatan belanja modal berdasarkan harga konstan ternyata lebih kecil dibanding peningkatan belanja modal berdasarkan harga yang berlaku.

Tren belanja lainnya mengalami peningkatan pada tahun 2010 baik dalam harga berlaku maupun harga konstan, yaitu sebesar 8,25% (Rp4,9 triliun) berdasarkan harga yang berlaku, dan sebesar 0,97% (Rp0,26 triliun) berdasarkan harga konstan. Sedangkan pada tahun 2011, realisasi belanja lainnya berdasarkan harga yang berlaku menurun sebesar 15,54% (Rp9,9 triliun) dan pada tahun 2011 berdasarkan harga konstan realisasi belanja lainnya juga menurun sebesar 22,09% (Rp5,9 triliun).

dengan demikian, belanja daerah baik secara keseluruhan maupun per jenis belanja mempunyai pola kenaikan atau penurunan yang sama, meskipun besarannya berbeda, baik dengan memasukkan faktor perubah harga maupun tidak. Namun demikian, besaran persentase kenaikan berdasarkan harga yang berlaku lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan berdasarkan harga konstan, sebaliknya penurunan berdasarkan harga yang berlaku lebih rendah di bandingkan dengan penurunan berdasarkan harga konstan.

D. realisasi belanja Daerah Per kapita

Grafik 3.7 Realisasi Belanja Daerah Per Kapita

Per kapita Grafik 3.7 Realisasi Belanja Daerah Per Kapita Sumber: DJPK (data diolah) berdasarkan Grafik 3.7

Sumber: DJPK (data diolah)

berdasarkan Grafik 3.7 dapat diketahui bahwa rata-rata realisasi belanja daerah per kapita adalah sebesar Rp3.289.815,00. Realisasi belanja daerah per kapita per provinsi memperlihatkan bahwa belanja daerah per kapita paling besar terjadi pada provinsi yang berada di wilayah timur Indonesia. Hal ini

disebabkan oleh besarnya dana transfer pusat yang diberikan pada provinsi tersebut dan jumlah penduduk pada provinsi tersebut sedikit.

belanja daerah per kapita terbesar adalah provinsi papua barat yaitu sebesar Rp13.052.807,00, diikuti oleh provinsi papua, dan provinsi Kalimantan Timur dengan belanja per kapita masing-masing sebesar Rp7.552.516,00 dan Rp7.081.413,00. Sedangkan belanja daerah per kapita di beberapa provinsi di pulau Jawa merupakan yang terkecil. Hal ini disebabkan karena provinsi di pulau Jawa memiliki jumlah penduduk yang besar. provinsi dengan belanja per kapita terkecil adalah provinsi Jawa barat yaitu sebesarRp1.080.351,00, diikuti oleh provinsi banten dan provinsi Jawa Tengah, masing-masing sebesar Rp1.166.984,00 dan Rp1.280.012,00.

e. realisasi belanja Modal Daerah Per kapita

Grafik 3.8 Realisasi Belanja Modal Daerah PerKapita

kapita Grafik 3.8 Realisasi Belanja Modal Daerah PerKapita Sumber: DJPK (data diolah) berdasarkan Grafik 3.8 dapat

Sumber: DJPK (data diolah)

berdasarkan Grafik 3.8 dapat diketahui bahwa rata-rata realisasi belanja modal per kapita adalah sebesar Rp823.953,00. Sama halnya dengan realisasi

belanja daerah per kapita per provinsi, belanja modal daerah per kapita juga menunjukkan bahwa belanja modal per kapita paling besar terjadi pada provinsi yang berada di wilayah timur Indonesia.

belanja modal daerah per kapita terbesar adalah provinsi papua barat yaitu Rp3.619.045,00 diikuti oleh provinsi Kalimantan Timur dan provinsi papua dengan belanja modal per kapita masing-masing adalah Rp2.389.944,00 dan Rp2.383.817,00. Sedangkan belanja modal daerah per kapita terendah tetap dimiliki oleh beberapa provinsi di pulau Jawa yaitu provinsi Jawa barat, provinsi Jawa Tengah, dan provinsi d.I. Yogyakarta dengan belanja perkapita masing- masing adalah sebesar Rp154.120,00, Rp158.112,00, dan Rp182.982,00.

bab IV realIsasI sUrPlUs/DefIsIt DaN PeMbIaYaaN DaeraH

A. Surplus/Defisit

perbedaan antara realisasi pendapatan dan belanja menimbulkan selisih belanja lebih besar dari pendapatan maka disebut defisit, sedangkan jika pendapatan yang lebih besar dari belanja maka terjadi surplus. berdasarkan tren dari beberapa tahun terakhir, realisasi Apbd cenderung mempunyai defisit yang lebih rendah dari anggaran bahkan cenderung terjadi surplus. perbandingan Apbd dan realisasi selama tiga tahun terakhir dapat dilihat dalam grafik berikut.

Grafik 4.1 Perbandingan Suplus/Defisit Anggaran dan realisasi APBD 2009-2011

Suplus/Defisit Anggaran dan realisasi APBD 2009-2011 Sumber: DJPK (data diolah) Grafik 4.1 menunjukkan bahwa pada

Sumber: DJPK (data diolah)

Grafik 4.1 menunjukkan bahwa pada tiga tahun terakhir, Apbd dianggarkan defisit, sedangkan dalam realisasinya selalu defisit tersebut menjadi lebih kecil atau bahkan terjadi surplus. pada tahun 2009 besaran realisasi defisit lebih kecil dari anggaran, namun pada tahun 2010 dan 2011 dalam realisasi Apbd

terjadi surplus. Walaupun di tahun 2011 belanja daerah mempunyai realisasi 100% namun masih terjadi surplus, hal tersebut terjadi karena adanya kenaikan realisasi pendapatan (114,6%) yang lebih besar dari belanja (100,6%). Jumlah kabupaten/kota yang mengalami surplus realisasi selama tiga tahun terakhir mengalami peningkatan, sebaliknya daerah yang mengalami defisit dalam realisasi Apbd semakin menurun. Secara terpisah antara kabupaten/kota dan provinsi, jumlah daerah yang mengalami surplus/defisit daerah dapat dilihat dalam grafik berikut.

Grafik 4.2. Tren kabupaten/kota yang mengalami surplus/defisit realisasi

Tren kabupaten/kota yang mengalami surplus/defisit realisasi Grafik 4.3 Tren provinsi yang mengalami surplus/defisit

Grafik 4.3 Tren provinsi yang mengalami surplus/defisit realisasi

4.3 Tren provinsi yang mengalami surplus/defisit realisasi Sumber: DJPK (data diolah) 30 Analisis Realisasi APBD 2011

Sumber: DJPK (data diolah)

berbeda dengan kabupaten/kota, jumlah provinsi yang mengalami surplus di tahun 2011 mengalami penurunan dibanding dengan tahun 2010. Meskipun jumlah provinsi yang mengalami surplus menurun pada tahun 2011, namun ternyata secara nominal besaran rata-rata surplus realisasi per provinsi justru mengalami peningkatan, dari Rp257 miliar di tahun 2010 menjadi Rp396 miliar pada tahun 2011. Sementara untuk kabupaten/kota, peningkatan jumlah daerah yang mengalami surplus sebanding dengan peningkatan rata-rata besaran surplus realisasi per kabupaten/kota. perbandingan rata-rata tersebut dapat dilihat dalam tabel 4.1.

Tabel 4.1 Rata-Rata Besaran surplus/defisit perdaerah

 

2009

2010

2011

 

Surplus

3.200.107.472

41.232.821.608

57.232.307.990

Kab/Kota

Defisit

-54.073.281.750

-36.879.354.227

-24.089.773.113

Provinsi Surplus 200.124.464.546 257.710.984.820 396.612.455.079 Defisit -225.999.378.117 -173.931.306.666 -89.278.056.085

Sumber: DJPK

Fenomena peningkatan surplus realisasi Apbd pada dasarnya kembali menunjukkan lemahnya kualitas pengelolaan keuangan daerah, yaitu menunjukkan bahwa jumlah dana masyarakat yang tidak tergunakan menjadi belanja daerah ternyata menjadi semakin besar. dengan mengesampingkan adanya perbedaan kualitas belanja antar-daerah (atau dengan asumsi bahwa kualitas belanja daerah adalah pada level rata-rata) maka kondisi tidak tergunakannya dana publik dalam belanja daerah sudah pasti akan mengurangi kesempatan daerah untuk memperbaiki kuantitas dan kualitas layanan publik. dalam teori ekonomi, tidak tergunakannya dana publik ke dalam belanja juga akan mengurangi kemampuan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan perekonomian secara nasional.

b. Pembiayaan Daerah

Komposisi penerimaan pembiayaan masih didominasi oleh Sisa Lebih perhintungan Anggaran (SiLpA), secara nasional kontribusi SiLpA tahun sebelumnya terhadap penerimaan pembiayaan adalah 96,6%, sedangkan pinjaman daerah yang tiap tahunnya selalu diawasi pemerintah pusat melalui peraturan Menteri Keuangan hanya mempunyai kontribusi sebesar 1,4% terhadap penerimaan pembiayaan. Secara lebih detail komposisi penerimaan pembiayaan dapat dilihat dalam grafik 4.4 berikut.

Grafik 4.4 Rincian Penerimaan Pembiayaan

grafik 4.4 berikut. Grafik 4.4 Rincian Penerimaan Pembiayaan Keterangan Total : total penerimaan realisasi pembiyaan 32

Keterangan

Total

: total penerimaan realisasi pembiyaan

SiLPA

: Sisa Lebih Perhitungan Anggaran

PDC

: Pencairan Dana Cadangan

HPKyD

: Hasil Penjualan Kekayaan yang Dipisahkan

PPD&OD : Penerimaan Pinjaman Daerah dan Obligasi Daerah

PKPP

Sumber: DJPK (data diiolah)

: Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman

Secara total realisasi pembiayaan lebih tinggi yaitu 130% anggaran (Apbd Rp44,5 triliun dan realisasinya mencapai Rp58,3 triliun). Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh besaran realisasi SiLpA tahun sebelumnya yang dalam realisasinya mencapai Rp56,3 triliun (138,3% anggaran). berbeda dengan SiLpA tahun sebelumnya, pencairan dana Cadangan (pdC) dan penerimaan pinjaman daerah dan Obligasi daerah (ppd&Od) mempunyai realisasi yang lebih kecil, 52,1% (dianggarkan sebesar Rp323 miliar namun hanya terealisasi Rp168 miliar) untuk pencairan dana Cadangan dan 30,4% (dianggarkan sebesar Rp2,6 triliun namun hanya terealisasi Rp802 miliar) untuk penerimaan pinjaman daerah dan Obligasi daeerah. Sementara itu, untuk Hasil penjualan Kekayaan yang dipisahkan (HpKyd) mempunyai persentase realisasi terbesar (431%), namun jika dilihat secara nominal, penjualan asset merukan sumber penerimaan pembiayaan yang relatif sangat kecil. Sumber penerimaan pembiayaan yang terakhir adalah penerimaan Kembali pemberian pinjaman (pKpp) yang mempunyai realisasi sebesar 108,2% (dianggarkan sebesar Rp809 miliar, terealisasi sebesar Rp875 miliar).

Secara total, pengeluaran pembiayaan daerah jauh lebih rendah dari penerimaannnya, baik pada saat dianggarkan maupun pada saat realisasinya. Secara rata-rata pengeluaran pembiayaan hanya mencapai seperlima penerimaannya. Sisi pengeluaran pembiayaan, secara total mempunyai realisasi yang lebih besar dari anggaran, secara detail dapat dilihat dalam grafik 4.5 berikut

Grafik 4.5 Rincian Pengeluaran Pembiayaan

Grafik 4.5 Rincian Pengeluaran Pembiayaan Keterangan Total : Total pengeluaran realisasi pembiayaan PDC :

Keterangan

Total

: Total pengeluaran realisasi pembiayaan

PDC

: Pembentukan Dana cadangan

PMD

: Pembentukan Modal Daerah

PPU

: Pembayaran Pokok Utang

PPD

: Pemberian Pinjaman Daerah

PKL

: Pembayaran Kegiatan Lanjutan

PPFK

: Pengeluaran Perhitungan Fihak ke Tiga

Sumber: DJPK (data diolah)

Secara nominal penyertaan Modal daerah (pMd) dan pembayaran pokok Utang (ppU) merupakan pengeluaran pembiayaan yang terbesar, yaitu mencapai Rp3,3 trliun dan Rp3,5 triliun, namun kedua jenis pengeluaran pembiayaan tersebut mempunyai realisasi dibawah 100% yaitu 92,5% dan 98,6%. Untuk pengeluaran pembiyaan pembentukan dana Cadangan (pdC) dan pemberian pinjaman daerah (ppd) mempunyai realisasi lebih dari 100%, yaitu 246,1% (dianggarkan sebesar Rp540 miliar terealisasi sebesar Rp1,3 triliun) untuk daan cadangan dan 136,7% (dianggarkan sebesar Rp364 miliar terealisasi sebesar Rp498 miliar) untuk pemberian pinjaman.

C.

silPa

Sisa Lebih penghitungan Anggaran (SiLpA) merupakan sisa anggaran yang tidak tergunakan di tahun anggaran berkenaan, namun dapat digunakan di tahun berikutnya. dalam realisasi Apbd terdapat dua macam SiLpA, pertama adalah SiLpA yang menjadi salah satu penerimaan pembiayaan yang dikenal dengan SiLpA tahun sebelumnya. Kedua adalah hasil penjumlahan surplus/defisit dengan netto pembiayaan yang disebut SiLpA tahun berkenaan. SiLpA tahun sebelumnya merupakan sisa anggaran dari tahun sebelumnya (akumulatif sisa Apbd sampai dengan tahun 2010) yang digunakan dalam anggaran berikutnya (Apbd 2011). dalam anggaran (induk), SiLpA tahun sebelumnya selalu lebih rendah dari realisasinya, perbandingan tersebut dapat dilihat dalam grafik 4.6.

Grafik 4.6 Perbandingan Tren SiLPA Tahun Sebelumnya antara Anggaran dan Realisasi

Tren SiLPA Tahun Sebelumnya antara Anggaran dan Realisasi Sumber: DJPK (data diolah) SiLpA tahun berkenaan merupakan

Sumber: DJPK (data diolah)

SiLpA tahun berkenaan merupakan suatu indikator yang cukup krusial dalam realisasi Apbd. SiLpA tahun berkenaan yang merupakan selisih positif antara surplus/defisit dengan netto pembiayaan akan menunjukkan kinerja realisasi anggaran secara keseluruhan. Semakin tinggi SiLpA tahun berkenaan, maka semakin rendah kinerja pengelolaan Apbd secara keseluruhan. SiLpA tahun berkenaan (atau sering juga disebut sebagai surplus penerimaan) menunjukkan besarnya dana publik yang tidak tergunakan dalam belanja maupun tidak tergunakan dalam transaksi pembiayaan. dengan demikian, SiLpA tahun berkenaan betul-betul menunjukkan total dana idle pada akhir tahun yang telah berjalan. SiLpA tahun berkenaan akan menjadi SiLpA tahun sebelumnya pada tahun berikutnya, sebagai contoh SiLpA tahun berkenaan Apbd 2011 akan menjadi SiLpA tahun sebelumnya pada Apbd 2012. SiLpA tahun berkenaan mengalami penurunan di tahun 2009 namun pada dua tahun berikutnya mengalami peningkatan, bahkan di tahun 2012 diprediksi angka tersebut dapat lebih tinggi lagi. Untuk realisasi SiLpA tahun berkenaan tahun 2008-2011 dapat dilihat dalam grafik 4.7 berikut.

Grafik 4.7 Tren SiLPA Tahun Berkenaan

Grafik 4.7 Tren SiLPA Tahun Berkenaan Sumber: DJPK (data diolah) Walaupun secara nasional SiLpA tahun berkenaan

Sumber: DJPK (data diolah)

Walaupun secara nasional SiLpA tahun berkenaan mempunyai nilai yang cukup besar, namun jika dilihat per daerah terdapat beberapa daerah yang mempunyai nilai negatif atau lebih kecil dari nol. SiLpA tahun berkenaan yang bernilai negatif (atau biasa disebut sebagai SiKpA tahun berkenaan) mempunyai arti bahwa pemerintah daerah belum bisa menutup belanja dan/ atau pengeluaran pembiayaan pada tahun tersebut, sehingga nilai tersebut akan menjadi beban pada tahun berikutnya. beberapa daerah tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 4.2 Daerah dengan SiLPA Tahun Berkenaan Negatif

 

SiLPATahun

No

Daerah

Defisit

Pembiayaan

Berkenaan

1

Kab. Teluk Wondama

-72,170,479,344

-1,500,000,000

-73,670,479,344

2

Kab. Polewali Mandar

-12,752,710,845

-5,223,378,633

-17,976,089,478

3

Kab. Bolaang

-4,496,536,628

0

-4,496,536,628

Mongondow

Utara

 

SiLPATahun

No

Daerah

Defisit

Pembiayaan

Berkenaan

4

Kab. Halmahera Barat

38,516,745,617

-40,483,350,863

-1,966,605,246

5

Kota Sorong

22,962,141,678

-24,816,372,624

-1,854,230,946

6

Kab. Bolaang

-761,440,543

0

-761,440,543

Mongondow

Timur

7

Kota Ternate

-4,904,774,981

4,765,190,786

-139,584,195

Kabupaten Teluk Wondama mempunyai nilai minus terbesar di mana nilai tersebut dikarenakan belanja yang lebih besar dari pendapatan dan besaran pengeluaran pembiayaan yang lebih besar pula. Apbd Kabupaten Teluk Wondama dianggarkan defisit dengan sumber pembiayaan berasal dari SiLpA, namun dalam realisasinya realisasi pendapatan 90,3% dan belanja mempunyai realisasi 102,6%, sehingga Apbd yang dianggarkan defisit dalam realisasinya nilai defisit tersebut semakin besar. Selain itu sumber pembiayaan yang dianggarkan berasal dari SiLpA tahun sebelumnya dalam realisasinya ternyata tidak ada (nol), sehingga membuat pembiayaan bernilai minus.

daerah lainnya seperti Kabupaten polewali Mandar, Kabupaten bolaang Mongondow Utara, Kabupaten Halmahera barat dan Kabupaten bolaang Mohondow Timur mempunyai kendala yang sama, yaitu mempunyai realisasi SiLpA tahun sebelumnya lebih rendah dari yang dianggarkan, sehingga hal tersebut membuat pembiayaan tidak dapat menutup defisit.

Kota Sorong mempunyai SiLpA tahun berkenaan negatif dikarenakan adanya pembayaran pokok pinjaman yang lebih besar dari yang dianggarkan pada Apbd. Realisasi pembayaran pokok utang Kota Sorong adalah 171,7% anggaran. pembayaran pokok utang tersebut merupakan akibat pinjaman yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya karena pada tahun anggaran 2011 tidak ada realisasi penerimaan pinjaman daerah, oleh karena itu seyogyanya nilai pembayaran pokok utang sudah bisa diprediksi dalam anggaran dan tidak terjadi minus dalam realisasinya.

D.

Penerimaan Pinjaman Daerah dan Obligasi Daerah

pinjaman daerah merupakan sumber untuk menutup defisit yang cukup menjadi perhatian pemerintah dalam tiap tahunnya. pengawasan terhadap pinjaman daerah salah satunya tertuang dalam peraturan Menteri Keuangan yang terbit setiap bulan Agustus, meskipun dalam prakteknya hingga saat ini pinjaman daerah belum menjadi sumber penerimaan pembiayaan yang utama. Selama tiga tahun terakhir realisasi penerimaan pinjaman daerah cenderung lebih kecil dibanding dengan anggaran. Terlebih untuk realisasi tahun 2011, realisasi pinjaman kabupaten/kota hanya sebesar 24,9% dan provinsi sebesar 63,4%, di mana angka tersebut merupakan yang terendah dari tiga tahun terakhir. perbandingan antara realisasi dan anggaran dapat dilihat dalam grafik berikut.

Grafik 4.8 Perbandingan Anggaran dan RealisasiPenerimaan Pinjaman Kab/Kota

berikut. Grafik 4.8 Perbandingan Anggaran dan RealisasiPenerimaan Pinjaman Kab/Kota Bab III - Analisis Belanja Daerah 39

Grafik 4.9 Perbandingan Anggaran dan Realisasi Penerimaan Pinjaman Provinsi

Anggaran dan Realisasi Penerimaan Pinjaman Provinsi Sumber: DJPK (data diolah) dalam grafik di atas tampak bahwa

Sumber: DJPK (data diolah)

dalam grafik di atas tampak bahwa realisasi pinjaman kabupaten/kota mempunyai tren menurun, di mana hal tersebut berbanding terbalik dengan penerimaan SiLpA tahun sebelumnya yang meningkat dalam kurun waktu yang sama, sedangkan provinsi mempunyai penerimaan pinjaman yang lebih tinggi di tahun 2011. di sisi lain, daerah yang melakukan pinjaman antara anggaran dan realisasi juga terdapat perbedaan. daerah yang menganggarkan pinjaman tidak selalu merealisasikan pinjaman dan juga sebaliknya terdapat daerah yang tidak menganggarkan penerimaan pinjaman daerah namun merealisasikan adanya penerimaan pinjaman daerah (melalui Apbd-p).

Grafik 4.10 Jumlah Kab/kota yang melakukan Pinjaman

Grafik 4.10 Jumlah Kab/kota yang melakukan Pinjaman Grafik 4.11 Jumlah Provinsi yang melakukan Pinjaman Sumber: DJPK

Grafik 4.11 Jumlah Provinsi yang melakukan Pinjaman

Pinjaman Grafik 4.11 Jumlah Provinsi yang melakukan Pinjaman Sumber: DJPK (data diolah) Bab III - Analisis

Sumber: DJPK (data diolah)

Jumlah daerah yang menganggarkan dan merealisasikan pinjaman daerah secara terpisah kabupaten/kota dan provinsi dapat dilihat dalam grafik diatas. Untuk kabupaten/kota jumlah daerah yang merealisasikan pinjaman semakin menurun. di tahun 2011 jumlah daerah antara yang menganggarkan dan merealisasikan pinjaman berbanding terbalik, daerah yang menggarkan pinjaman naik sedangkan daerah yang merealisasikan menurun. di tahun 2011, dari 51 daerah yang merealisasikan pinjaman terdapat 26 daerah yang menganggarkan dalam Apbd induk dan merealisasikannya, sedangkan sisanya sebanyak 25 daerah tidak menganggarkan dalam Apbd induk.

Tabel 4.3 Rata-rata Pinjaman Daerah

Tabel 4.4 Rata-rata Pinjaman Daerah

per-kab/kota yang melakukan pinjaman per-Provinsi yang melakukan pinjaman

kab/kota

anggaran

realisasi

Provinsi

anggaran

realisasi

2009

4,650,232,367

3,167,863,739

2009

2,848,522,727

2,338,712,300

2010

3,467,568,069

1,885,385,796

2010

3,015,244,308

2,577,431,675

2011

4,607,671,510

1,117,976,408

2011

11,428,796,106

7,243,593,205

Kabupaten/kota mempunyai rata-rata besaran yang menurun dari tahun 2009 hingga 2011, ditahun 2009 rata-rata pemda merealisasikan pinjaman perdaerah berkisar Rp3,2 miliar namun ditahun 2011 menurun hingga Rp1,1 miliar per daerahnya. Sedangkan provinsi mempunyai tren yang sebaliknya, di tahun 2011 rata-rata besaran pinjaman daerah adalah Rp7,2 miliar per provinsi naik sebesar tiga kali lipat dari tahun 2009 yang hanya Rp2,3 miliar per provinsi. Hal tersebut mengindikasikan bahwa provinsi mulai tertarik untuk melakukan pinjaman sebagai suatu bentuk alternatif pembiayaan daerah.

bab V aNalIsIs INDIkatOr kONDIsI keUaNGaN DaeraH

a. Dasar teoretis analisis Indikator kondisi keuangan Daerah

Analisis indikator kondisi keuangan per daerah dilakukan atas daerah yang mempunyai data Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan data non keuangan secara lengkap yang tersedia di direktorat Jenderal perimbangan Keuangan. Analisis tersebut mengadopsi pada teori Ten Point Test untuk mengetahui tingkat kondisi keuangan masing-masing daerah dengan melihat nilai akhir (score) dari masing-masing daerah. The Ten-Point Test of Fiscal Condition dikembangkan oleh Kenneth W. brown (1993), dan termuat dalam jurnal yang disusun oleh Honadle, b.W., James M. Costa, and beverly A. Cigler, 2004, Fiscal Health for Local Governments: An Introduction to Concept, Practical Analysis, and Strategies, Elsevier Academic press: New York.

Alat pengukuran ini pada dasarnya memotret kondisi fiskal antar pemerintah daerah dengan berdasarkan beberapa rasio sederhana, yang setiap rasionya terfokus pada empat aspek kesehatan fiskal yaitu pendapatan, pengeluaran, posisi operasi dan struktur utang. Metode penilaian yang tidak terlalu rumit tapi penilaiannya cukup komprehensif merupakan kelebihan dari alat pengukuran kesehatan fiskal dari brown.

Untuk mengetahui potret kondisi kesehatan keuangan daerah di Indonesia dilakukan modifikasi terhadap metode ten-poin-test tersebut. penyesuaian atau modifikasi tersebut dilakukan karena adanya perbedaan jenis dan standarisasi data dan informasi keuangan daerah yang ada di Indonesia dengan tempat

dilakukannya penelitian brown, yaitu di Amerika Serikat. berdasarkan telaah dan diskusi yang telah dilakukan dan memperhatikan pula ketersediaan data, maka dihasilkan 9 (sembilan) indikator keuangan yang dapat digunakan dalam memotret kondisi keuangan daerah.

1. Indikator pendapatan daerah per kapita; Rasio ini pada dasarnya menunjukkan ukuran riil dari besarnya pendapatan daerah karena dibagi dengan jumlah penduduk yang harus dilayani oleh pemerintah daerah. Semakin besar jumlah penduduk maka akan semakin besar pula beban yang harus ditanggung oleh pemerintah daerah, sehingga kedepannya perlu ditingkatkan effort yang lebih kuat dalam meningkatkan seluruh pendapatan daerahnya.

2. Indikator kemandirian keuangan daerah; indikator ini diukur dengan menggunakan rasio pendapatan Asli daerah dibagi dengan total pendapatan daerah. dengan mengetahui kemandirian keuangan daerah ini menunjukkan seberapa besar local taxing power suatu daerah, serta seberapa besar kemampuan pAd dalam mendanai belanja daerah yang dianggarkan untuk memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Rasio akan menunjukkan tingkat kesehatan semakin baik bila terus meningkat, akan tetapi perlu diperhatikan pula bila terjadi kenaikan secara kontinyu atas pendapatan bunga, karena hal tersebut bisa diartikan terdapat peningkatan dana pemda yang disimpan dalam bank dan tidak dibelanjakan.

3. Indikator Rasio Ruang Fiskal daerah; Indikator ini pada dasarnya menunjukkan seberapa besar ruang fiskal atau keleluasaan yang dimiliki daerah dalam menggunakan dananya secara bebas dalam menentukan prioritas belanja yang akan didanai.

4. Indikator peningkatan pajak daerah dan Retribusi daerah; peningkatan pajak daerah dan retribusi daerah secara tidak langsung bisa tercermin dari kemampuan daerah dalam mengkonversi seluruh potensi penerimaan pajak daerah menjadi pajak daerah yang bisa dipungut. potensi

penerimaan pajak daerah bisa tercermin dari besarnya pdRb dari masing- masing daerah.

5. Indikator Kemampuan Mendanai belanja daerah; Kemampuan keuangan daerah tentu saja tercermin dari seluruh penerimaan daerah baik pendapatan Apbd dan penerimaan pembiayaan, yang seharusnya bisa mencukupi untuk digunakan dalam mendanai seluruh belanja daerah dan pengeluaran pembiayaan yang direncanakan.

6. Indikator belanja Modal; Salah satu ukuran kualitas belanja yang baik adalah dengan semakin besarnya porsi belanja modal sebagai bagian dari total belanja daerah. belanja modal yang besar diharapkan akan memberikan dampak yang positif bagi pertumbuhan ekonomi di daerah dan pada akhirnya akan meningkatkan potensi-potensi penerimaan daerah yang baru.

7. Indikator belanja pegawai Tidak Langsung; Semakin membaiknya kualitas belanja daerah bisa juga dilihat dari semakin menurunnya porsi belanja pegawai tidak langsung dalam Apbd. Hal ini menunjukkan bahwa semakin sedikit porsi Apbd yang digunakan untuk belanja aparatur, sehingga Apbd bisa lebih terkonsentrasi pada belanja yang langsung terkait dengan layanan publik. Asumsinya belanja ini semakin berkurang maka akan direalokasikan ke belanja modal dan belanja barang dan jasa yang lebih efektif dalam mendorong roda perekonomian daerah.

8. Indikator optimalisasi SiLpA; besarnya SiLpA pada akhir tahun tentunya menjadi salah satu sumber pembiayaan pada tahun berikutnya untuk mendanai belanja daerah. Rasio ini diharapkan akan semakin turun mengingat tingginya SiLpA yang terjadi bisa ditengarai oleh karena rendahnya penyerapan belanja daerah, yang pada dasarnya mengidikasikan tidak efisien dan efektifnya perencanaan kegiatan di daerah. Sumber SiLpA selain itu adanya dana dari pusat yang tidak terserap. Sehingga rasio ini juga perlu dicermati oleh pemerintah pusat dalam melakukan kebijakan transfer ke daerah yang efisien dan efektif.

9. Indikator kemampuan pembayaran pokok hutang dan bunga daerah; indikator ini menunjukkan seberapa besar porsi pendapatan daerah yang digunakan untuk membayar pokok pinjaman beserta bunganya dalam satu periode waktu tertentu.

Secara ringkas seluruh indikator kondisi keuangan daerah beserta definisi dan jenis datanya bisa digambarkan dalam tabel berikut ini:

Tabel 5.1 Tabel Indikator-Indikator Kondisi Keuangan Daerah

 

Sumber

No

Rasio

Definisi

Jenis Data

Data

1

Total Pendapatan

Daerah / Jumlah Penduduk

Tingkat kemampuan daerah

dalam melayani per satu orang penduduknya

Pendapatan Daerah,

APBD,

Jumlah Penduduk

BPS

 

Tingkat kemandirian daerah

2 PAD /Total

Pendapatan Daerah

yaitu kemampuan daerah dalam mendanai belanjanya

PAD, Pendapatan Daerah

APBD

 

Tingkat kemampuan daerah

Pendapatan Daerah, DAK, Hibah, Dana Penyesuaian, Dana Darurat, Bel Pegawai tdk langsung, Bel Bunga

 

3 Ruang Fiskal / Total pendapatan Daerah

dalam mendanai program dan kegiatan yang menjadi prioritas daerahnya.

APBD

 

Pajak Daerah dan

Tingkat kemampuan daerah dalam menggali potensi

4 Retribusi Daerah / PDRB

pajak dan retribusi daerahnya menjadi penerimaan pajak daerah

Pajak dan Retribusi Daerah, PDRB non migas

APBD,

BPS

 

Total Pendapatan

5

Total Pendapatan

Daerah+Penerimaan

Pembiayaan /

Total Belanja

Daerah+Pengeluaran

Pembiayaan

Tingkat kemampuan keuangan daerah dalam mendanai belanja dan pengeluaran daerah.

daerah, Total

Penerimaan

Pembiayaan, Total

belanja daerah,

Total Pengeluaran

Pembiayaan

APBD

 

Sumber

No

Rasio

Definisi

Jenis Data

Data

 

Seberapa besar daerah

6

Belanja Modal / Total Belanja Daerah

mengalokasikan seluruh belanjanya untuk belanja modal

Belanja modal, Total belanja daerah

APBD

 

Belanja Pegawai

Seberapa besar daerah

mengalokasikan seluruh belanjanya untuk belanja Pegawai Tidak Langsung

Belanja pegawai tidak langsung, Total belanja daerah

 

7

Tidak Langsung / Total Belanja Daerah

APBD

 

SiLPA tahun

Proporsi SiLPA tahun

SiLPA, Total belanja Daerah

 

8

sebelumnya / Belanja Daerah

sebelumnya terhadap belanja daerah tahun berjalan

APBD

 

Pembayaran Pokok

Proporsi pembayaran pokok

utang dan bunga yang harus dibayar dari pendapatan daerah dalam satu periode

Pembayaran Pokok Pinjaman, Belanja Bunga, Total pendapatan Daerah

 

9

Utang+Bunga / Total Pendapatan Daerah

APBD

Cara penghitungan sembilan rasio analisis ini dengan mengacu pada cara penghitungan ten point test analysis-nya brown adalah sebagai berikut:

1. Ke sembilan rasio tersebut masing-masing dihitung berdasarkan data yang sudah tersedia.

2. Hasil perhitungan rasio tersebut kemudian diurutkan dari atas ke bawah, atau dari bawah ke atas. Cara pengurutannya didasarkan pada nilai yang diinginkan dari masing-masing rasio. Misalnya, rasio pendapatan perkapita, maka nilai yang lebih diinginkan adalah rasio yang tinggi adalah semakin bagus. Sebaliknya, untuk rasio yang menurut common sense dianggap rasio yang semakin rendah semakin bagus, misalnya rasio belanja pegawai tidak langsung / total belanja daerah, maka pengurutannya dibalik.

3. Setelah rasio-rasio tersebut sudah sesuai dengan urutannya, kemudian disesuaikan berdasarkan kuartil-kuartilnya. Nilai tengah atau nilai median observasi dari urutan tersebut menunjukkan titik 50%. Rasio-rasio yang berada di bawah persentil ke-25 berarti masuk kuartil pertama. Rasio-

rasio diantara persentil 50 dan 75 berarti masuk kuartil ketiga. Rasio-rasio sisanya yang berada diatas persentil 75 diklasifikasikan masuk ke kuartil keempat.

4. Rasio-rasio yang nilainya dianggap semakin tinggi semakin bagus yang berada di bawah persentil 25 dari seluruh daerah maka diberi skor +1, rasio yang berada diantara persentil 25 dan 50 diberi skor +2, rasio-rasio yang berada diantara persentil 50 dan 75 diberi skor +3, dan yang diatas persentil 75 diberi skor +4. Sebaliknya untuk rasio-rasio yang nilainya dianggap semakin rendah semakin bagus maka rasio yang berada di bawah persentil 25 dari seluruh daerah maka diberi skor +4, rasio yang berada diantara persentil 25 dan 50 diberi skor +3, rasio-rasio yang berada diantara persentil 50 dan 75 diberi skor +2, dan yang diatas persentil 75 diberi skor +1.

Khusus untuk rasio Total pendapatan daerah+penerimaan pembiayaan/ Total belanja daerah+pengeluaran pembiayaan, pemberian rasionya adalah jika rasionya < 1 (kurang dari 1) diberikan skor +1. untuk daerah yang mempunyai rasio diatas 1 dibagi menjadi 3 kelompok dengan menggunakan batas persentil ke-33 dan ke-66 , yaitu Apabila rasio yang berada dibawah persentil ke 33 diberikan skor +4, rasio yang berada antara persentil 33 dan persentil 66 diberikan skor +3, dan di atas persentil 66 diberikan skor +2.

5. Selanjutnya seluruh skor dari masing-masing rasio di atas lalu dijumlahkan semua, sehingga dihasilkan nilai total skornya.

b. analisis Indikator kondisi keuangan Daerah

1. analisis Indikator kondisi keuangan per Daerah Provinsi

Analisis indikator kondisi keuangan per provinsi dilakukan untuk mengetahui tingkat kondisi keuangan masing-masing provinsi dengan melihat nilai akhir (score) dari masing-masing provinsi. berdasarkan penghitungan atas

indikator-indikator tersebut, maka secara keseluruhan hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 5.2 Gambaran Deskriptif Skor Seluruh Daerah Provinsi

Peringkat

Total Skor

Tertinggi

30

Terendah

18

Rata-rata

25

Sumber: DJPK (Data Diolah)

berdasarkan hasil perhitungan dapat disampaikan bahwa terdapat 7 provinsi yang memiliki skor sama dengan nilai rata-rata, 10 provinsi memiliki skor di bawah rata-rata, sedangkan 15 provinsi lainnya memiliki skor di atas rata-rata (tidak termasuk provinsi dKI Jakarta). Seluruh provinsi selanjutnya diurutkan berdasarkan besaran total skornya sehingga dihasilkan 10 daerah provinsi dengan peringkat total skor yang tertinggi seperti terlihat pada tabel berikut ini :

Tabel 5.3 Skor Tingkat Kondisi Keuangan Daerah Provinsi

No.

Daerah

Skor

1

Prov. Nusa Tenggara Barat

30

2

Prov. Sulawesi Tenggara

29

3

Prov. Lampung

28

4

Prov. Sulawesi Barat

28

5

Prov. Sumatera Selatan

27

6

Prov. Kalimantan Selatan

26

7

Prov. Jambi

26

8

Prov. Maluku Utara

26

9

Prov. Kalimantan Tengah

26

No.

Daerah

Skor

10

Prov. Bangka Belitung

26

11

Prov. Sulawesi Selatan

26

12

Prov. Bengkulu

26

13

Prov. Maluku

26

14

Prov. Sumatera Barat

26

15

Prov. Gorontalo

26

16

Prov. Kalimantan Timur

25

17

Prov. Riau

25

18

Prov. Sumatera Utara

25

19

Prov. Banten

25

20

Prov. Kalimantan Barat

25

21

Prov. Sulawesi Utara

25

22

Prov. Nusa Tenggara Timur

25

23

Prov. Jawa Tengah

24

24

Prov. Bali

23

25

Prov. DI Yogyakarta

23

26

Prov. Papua Barat

23

27

Prov. Jawa Timur

23

28

Prov. Sulawesi Tengah

23

29

Prov. Kepulauan Riau

22

30

Prov. Jawa Barat

22

31

Prov. Aceh

20

32

Prov. Papua

18

Sumber: DJPK (Data Diolah)

berdasarkan tabel di atas maka dapat diketahui bahwa provinsi Nusa Tenggara barat mempunyai tingkat kondisi keuangan yang tertinggi yaitu sebesar 30, sedangkan provinsi papua mempunyai tingkat kondisi keuangan yang terendah. Yang menarik adalah hampir semua provinsi di wilayah Jawa selain provinsi banten memiliki tingkat kondisi keuangan yang rendah. Kondisi ini sungguh ironis karena provinsi di wilayah Jawa memiliki tingkat pengelolaan

keuangan daerah yang relatif lebih bagus dibandingkan dengan daerah Indonesia Timur. di samping itu, juga memiliki keunggulan dalam sumber daya manusia dan sarana dan prasarana infrastruktur dibandingkan daerah lain di wilayah Indonesia Timur.

2. analisis Indikator kondisi keuangan per Daerah kabupaten

Analisis indikator kondisi keuangan per kabupaten dilakukan untuk mengetahui tingkat kondisi keuangan masing-masing kabupaten dengan melihat nilai akhir (score) dari masing-masing kabupaten. dalam analisis ini digunakan pengelompokan daerah berdasarkan suatu kluster yang membagi daerah Kabupaten menjadi 5 (lima) kluster berdasarkan luas wilayah, yaitu:

a. Kluster 1, kabupaten dengan luas wilayah di bawah 1, 213 km 2

b. Kluster 2, kabupaten dengan luas wilayah antara 1, 213 km 2 s/d 1,989 km 2

c. Kluster 3, kabupaten dengan luas wilayah antara 1,990 km 2 s/d 3,571 km 2

d. Kluster 4, kabupaten dengan luas wilayah antara 3,572 km 2 s/d 6,276 km 2

e. Kluster 5, kabupaten dengan luas di atas 6,276 km 2

Clustering merupakan salah satu tehnik statistik untuk mengelompokan individu-individu atau obyek menjadi beberapa kelompok yang mempunyai sifat yang berbeda antar kelompok. Individu-individu dalam satu kelompok lebih homogen dibandingkan dengan individu yang ada dalam kelompok yang lain. Oleh karena itu dalam analisis ini, daerah kabupaten mempunyai ciri-ciri atau karakteristik yang hampir sama atau homogen. Clustering dalam menganalisis indikator kondisi keuangan per kabupaten ini didasarkan pada luas wilayah.

berdasarkan penghitungan atas indikator-indikator tersebut, maka secara keseluruhan hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 5.4 Gambaran Deskriptif Skor Seluruh Daerah Kabupaten

 

Total Skor

Peringkat

Kluster 1

Kluster 2

Kluster 3

Kluster 4

Kluster 5

Tertinggi

26

31

29

30

31

Terendah

15

15

14

12

16

Rata-Rata

20

21

21

22

24

Sumber: DJPK (Data Diolah)

Tabel di atas menunjukan bahwa skor kondisi keuangan per kabupaten pada masing-masing kluster mempunyai nilai tertinggi dan terendah serta nilai rata-rata yang berbeda. Untuk kluster 1 memiliki skor tertinggi sebesar 26 dan terendah sebesar 15, sedangkan rata-ratanya sebesar 20. Kluster 2 memiliki skor tertinggi sebesar 31 dan terendah sebesar 15, sedangkan rata-ratanya sebesar 21. Untuk kluster 3 memiliki skor tertinggi sebesar 29 dan terendah sebesar 14, sedangkan rata-ratanya sebesar 21. Kluster 4 memiliki skor tertinggi sebesar 30 dan terendah sebesar 12, sedangkan rata-ratanya sebesar 22. Untuk kluster 5 memiliki skor tertinggi sebesar 31 dan terendah sebesar 16, sedangkan rata-ratanya sebesar 24.

daerah kabupaten yang memiliki skor tingkat kondisi keuangan yang tinggi di tahun 2011 dalam kluster 1 adalah sebagai berikut :

Tabel 5.5 Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan Daerah Tertinggi (Kluster 1 - luas wilayah di bawah 1, 213 km 2 )

No.

Daerah

Skor

1

Kab. Kepulauan Anambas

26

2

Kab. Deiyai

25

No.

Daerah

Skor

3

Kab. Bolaang Mongondow Timur

25

4

Kab. Karimun

25

5

Kab. Kepulauan Sitaro

25

6

Kab. Tulang Bawang Barat

24

7

Kab. Sinjai

24

8

Kab. Minahasa Tenggara

24

9

Kab. Pidie Jaya

24

10

Kab. Badung

23

Sumber : Ditjen Perimbangan Keuangan (Data Diolah)

berdasarkan tabel diatas maka dapat diketahui bahwa Kabupaten Kepulauan Anambas mempunyai tingkat kondisi keuangan yang tertinggi dalam kluster 1, dengan nilai sebesar 26. Sedangkan Kabupaten Madiun mempunyai tingkat kondisi keuangan yang terendah dalam kluster 1 dengan nilai sebesar 15, sebagaimana tabel di bawah ini.

Tabel 5.6 Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan Daerah Terendah (Kluster 1 - luas wilayah di bawah 1, 213 km 2 )

No.

Daerah

Skor

1

Kab. Takalar

17

2

Kab. Magelang

17

3

Kab. Jombang

17

4

Kab. Purworejo

17

5

Kab. Trenggalek

17

6

Kab. Minahasa

17

7

Kab. Magetan

17

No.

Daerah

Skor

8

Kab. Tulungagung

16

9

Kab. Klaten

16

10

Kab. Madiun

15

Sumber : Ditjen Perimbangan Keuangan (Data Diolah)

daerah kabupaten yang memiliki skor tingkat kondisi keuangan yang tinggi di tahun 2011 dalam kluster 2 adalah sebagai berikut :

Tabel 5.7 Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan Daerah Tertinggi (Kluster 2 - luas wilayah antara 1, 213km 2 s/d 1,989km 2 )

No.

Daerah

Skor

1

Kab. Sumbawa Barat

31

2

Kab. Sumba Tengah

28

3

Kab. Bintan

28

4

Kab. Bekasi

28

5

Kab. Pakpak Barat

26

6

Kab. Sumba Barat Daya

26

7

Kab. Nias

26

8

Kab. Hulu Sungai Tengah

26

9

Kab. Bolaang Mongondow Utara

25

10

Kab. Maros

25

Sumber: DJPK (Data Diolah)

berdasarkan tabel di atas maka dapat diketahui bahwa Kabupaten Sumbawa barat mempunyai tingkat kondisi keuangan yang tertinggi dalam kluster 2, dengan nilai sebesar 31. Sedangkan Kabupaten bireuen mempunyai

tingkat kondisi keuangan yang terendah dalam kluster 2 dengan nilai sebesar 15, sebagaimana dalam tabel di bawah ini.

Tabel 5.8 Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan Daerah Terendah (Kluster 2 - luas wilayah antara 1, 213km 2 s/d 1,989km 2 )

No.

Daerah

Skor

1

Kab. Blora

16

2

Kab. Pati

16

3

Kab. Blitar

16

4

Kab. Gunung Kidul

16

5

Kab. Lumajang

16

6

Kab. Kediri

16

7

Kab. Wonogiri

15

8

Kab. Dairi

15

9

Kab. Brebes

15

10

Kab. Bireuen

15

Sumber: DJPK (Data Diolah)

daerah kabupaten yang memiliki skor tingkat kondisi keuangan yang tinggi di tahun 2011 dalam kluster 3 adalah sebagai berikut :

Tabel 5.9 Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan Daerah Tertinggi (Kluster 3 - luas wilayah antara 1,990km 2 s/d 3,571km 2 )

No.

Daerah

Skor

1

Kab. Pulau Morotai

29

2

Kab. Empat Lawang

28

No.

Daerah

Skor

3

Kab. Halmahera Tengah

28

4

Kab. Kolaka Utara

28

5

Kab. Aceh Singkil

27

6

Kab. Belitung Timur

26

7

Kab. Manggarai Barat

26

8

Kab. Sumba Barat

26

9

Kab. Penajam Paser Utara

25

10

Kab. Lingga

25

Sumber: DJPK (Data Diolah)

berdasarkan tabel di atas maka dapat diketahui bahwa Kabupaten pulau Morotai mempunyai tingkat kondisi keuangan yang tertinggi dalam kluster 3 dengan nilai sebesar 29. Sedangkan Kabupaten Tasikmalaya mempunyai tingkat kondisi keuangan yang terendah dalam kluster 3 dengan nilai sebesar 14, sebagaimana dalam tabel di bawah ini.

Tabel 5.10 Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan Daerah Terendah (Kluster 3 - luas wilayah antara 1,990km 2 s/d 3,571km 2 )

No.

Daerah

Skor

1

Kab. Pandeglang

17

2

Kab. Tanah Karo

17

3

Kab. Indramayu

16

4

Kab. Cilacap

16

5

Kab. Tanggamus

16

6

Kab. Sumenep

16

7

Kab. Pesawaran

16

No.

Daerah

Skor

8

Kab. Ciamis

16

9

Kab. Garut

15

10

Kab. Tasikmalaya

14

Sumber: DJPK (Data Diolah)

daerah kabupaten yang memiliki skor tingkat kondisi keuangan yang tinggi di tahun 2011 dalam kluster 4 adalah sebagai berikut :

Tabel 5.11 Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan Daerah Tertinggi (Kluster 4 - luas wilayah antara 3,572km 2 s/d 6,276km 2 )

No.

Daerah

Skor

1

Kab. Sukamara

30

2

Kab. Gayo Lues

30

3

Kab. Tabalong

30

4

Kab. Halmahera Utara

29

5

Kab. Buru Selatan

29

6

Kab. Sekadau

28

7

Kab. Ogan Komering Ulu

27

8

Kab. Kepulauan Sula

27

9

Kab. Tana Tidung

26

10

Kab. Teluk Wondama

26

Sumber: DJPK (Data Diolah)

berdasarkan tabel di atas maka dapat diketahui bahwa Kabupaten Sukamara mempunyai tingkat kondisi keuangan yang tertinggi dalam kluster 4 dengan nilai sebesar 30. Sedangkan Kabupaten Lampung Timur mempunyai

tingkat kondisi keuangan yang terendah dalam kluster 4 dengan nilai sebesar 12, sebagaimana tabel di bawah ini.

Tabel 5.12 Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan Daerah Terendah (Kluster 4 - luas wilayah antara 3,572km 2 s/d 6,276km 2 )

No.

Daerah

Skor

1

Kab. Konawe

17

2

Kab. Simalungun

17

3

Kab. Asahan

17

4

Kab. Banyuwangi

17

5

Kab. Kupang

16

6

Kab. Pesisir Selatan

16

7

Kab. Lampung Tengah

16

8

Kab. 50 Kota

15

9

Kab. Bone

14

10

Kab. Lampung Timur

12

Sumber: DJPK (Data Diolah)

Tabel 5.13 Kabupaten Dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan Daerah Tertinggi (Kluster 5 - luas wilayah di atas 6,276km 2 )

No.

Daerah

Skor

1

Kab. Seram Bagian Timur

31

2

Kab. Halmahera Timur

30

3

Kab. Raja Ampat

30

4

Kab. Jayawijaya

30

No.

Daerah

Skor

5

Kab. Berau

29

6

Kab. Merauke

29

7

Kab. Malinau

28

8

Kab. Bulungan

28

9

Kab. Kutai Barat

28

10

Kab. Sorong

28

Sumber: DJPK (Data Diolah)

berdasarkan tabel di atas maka dapat diketahui bahwa Kabupaten Seram bagian Timur mempunyai tingkat kondisi keuangan yang tertinggi dalam kluster 5 dengan nilai sebesar 31. Sedangkan Kabupaten Aceh Timur mempunyai tingkat kondisi keuangan yang terendah dalam kluster 5 dengan nilai sebesar 16, sebagaimana dalam tabel di bawah ini.

Tabel 5.14 Kabupaten dengan Skor Tingkat Kondisi Keuangan Daerah Terendah (Kluster 5 - luas wilayah di atas 6,276km 2 )

No.

Daerah

Skor

1

Kab. Sambas

21

2

Kab. Indragiri Hilir

20

3

Kab. Indragiri Hulu

20

4

Kab. Barito Selatan

20

5

Kab. Banyuasin

20

6

Kab. Sintang

20

7

Kab. Kapuas

20

8

Kab. Banggai

20

9

Kab. Maluku Tengah

18

10

Kab. Aceh Timur

16

Sumber: DJPK (Data Diolah)

3.

analisis Indikator kondisi keuangan per Daerah kota

Analisis indikator kondisi keuangan per kota dilakukan untuk mengetahui tingkat kondisi keuangan masing-masing kota dengan melihat nilai akhir (score) dari masing-masing kota. dalam analisis ini digunakan pengelompokan daerah berdasarkan suatu cluster yang membagi daerah kota menjadi 5 (lima) kluster berdasarkan jumlah penduduk.

a. Kluster 1, kota dengan jumlah penduduk di bawah 131.423 jiwa

b. Kluster 2, kota dengan jumlah penduduk antara 131.423 jiwa sampai

189.381 jiwa

c. Kluster 3, kota dengan jumlah penduduk antara 189.382 jiwa sampai

264.608 jiwa

d. Kluster 4, kota dengan jumlah penduduk antara 264.609 jiwa sampai

643.043 jiwa

e. Kluster 5, kota dengan jumlah penduduk di atas 643.043 jiwa

berdasarkan penghitungan atas indikator-indikator tersebut, maka secara keseluruhan hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 5.15 Gambaran Deskriptif Skor Seluruh Daerah Kota

 

Total Skor

Peringkat

Kluster 1

Kluster 2

Kluster 3

Kluster 4

Kluster 5

Tertinggi

30

26

24

28

26

Terendah

16

17

16

16

15

Rata-Rata

22

22

20

21

21

Sumber: DJPK (Data Diolah)

Tabel di atas menunjukan bahwa skor kondisi keuangan per kota pada masing-masing kluster mempunyai nilai tertinggi dan terendah serta nilai rata- rata yang berbeda. Untuk kluster 1 memiliki skor tertinggi sebesar 30 dan

terendah sebesar 16, sedangkan rata-ratanya sebesar 22. Kluster 2 memiliki skor tertinggi sebesar 26 dan terendah sebesar 17, sedangkan rata-ratanya sebesar 22. Untuk kluster 3 memiliki skor tertinggi sebesar 24 dan terendah sebesar 16, sedangkan rata-ratanya sebesar 20. Kluster 4 memiliki skor tertinggi sebesar 28 dan terendah sebesar 16, sedangkan rata-ratanya sebesar 21. Untuk kluster 5 memiliki skor tertinggi sebesar 26 dan terendah sebesar 15, sedangkan rata-ratanya sebesar 21.

daerah kota yang memiliki skor tingkat kondisi keuangan yang tinggi di tahun 2011 dalam kluster 1 adalah sebagai berikut :

Tabel 5.16 Skor Tingkat Kondisi Keuangan Daerah Kota (Kluster 1 - jumlah penduduk di bawah 131.423 jiwa)

No.

Daerah

Skor

1

Kota Subulussalam

30

2

Kota Pagar Alam

28

3

Kota Pare-Pare

26

4

Kota Sabang

26

5

Kota Mojokerto

25

6

Kota Tual

25

7

Kota Tidore Kepulauan

25

8

Kota Sibolga

23

9

Kota Padang Panjang

23

10

Kota Sawahlunto

21

11

Kota Solok

21

12

Kota Magelang

21

13

Kota Gunung Sitoli

20

14

Kota Sungai Penuh

20