Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS I

MODUL ORGAN: TUMBUH KEMBANG


KELOMPOK IV

030-10-151 Kezia Marsilina

030-10-159 Latifah

030-10-152 Komang Ida W.R

030-10-161 Lidya Christy A.B

030-10-154 Krisliana Jeane

030-10-163 Luzelia M.S.S

030-10-155 Kumala Sari

030-10-164 M Agung Pratama Y.

030-10-156 Lana Novira Ys.

030-10-165 M HafisMuttaqin

030-10-157 Laras Asia Cheria

030-10-166 Muhammad Reza A.

030-10-158 Larasayu Citra Mandra

Jakarta
19 September 2011
Bab I Pendahuluan

Kehidupan seorang anak tidak bisa dilepaskan dari proses tumbuh kembang. Tumbuh
kembang sebenarnya mencakup 2 peristiwa yang berbeda tetapi sangat sulit dipisahkan.
Tumbuh menunjukkan bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan intraseluler, berarti
bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau keseluruhan.
Pertumbuhan berkaitan dengan masalah besar, jumlah, ukuran, atau dimensi tingkat sel,
organ, maupun individu yang bersifat kuantitatif.1,2 Kembang menunjukkan bertambahnya
kemampuan, struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan berkaitan dengan
bertambahnya kemampuan (skill) dan menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel,
jaringan, organ, dan system organ, termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan
tingkah laku yang bersifat kualitatif.1,2 Tumbuh kembang anak saling berkaitan dan
berkesinambungan, dimulai dari sejak konsepsi sampai dewasa.
Dewasa ini, sering ditemukan anak-anak dengan gangguan tumbuh kembang.
Gangguan tumbuh kembang adalah suatu keadaan dimana berat badan pada anak secara
signifikan lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya, hal ini menimbulkan adanya

keterlambatan pertumbuhan baik secara fisik maupun perkembangannya. 3 Pada anak-anak


dengan gangguan tumbuh kembang sering ditemukan penundaan proses maturasi.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan tumbuh kembang.
Untuk pencapaiannya tumbuh kembang yang optimal tergantung pada petensi biologiknya.
Tingkat tercapainya potensi biologik seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor
yang saling berkaitan, yaitu faktor genetik, lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial dan perilaku.
Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda akan memberikan ciri tersendiri pada setiap
anak.

Bab II Laporan Kasus

Seorang anak berusia 3 tahun dibawa ke Rumah Sakit dengan keluhan diare dan
campak. Menurut ibu kehamilan cukup bulan, ditolong oleh bidan, berat badan lahir 2200
gram, dan panjang 46 cm. Anak ini merupakan anak kelima dari lima orang bersaudara. Air
susu eksklusif sampai 6 bulan dan kemudian diganti dengan susu formula. Tinggal serumah
dengan seorang nenek yang sering batuk dan telah mendapatkan pengobatan di puskesmas
secara teratur. Anak belum pernah divaksinisasi. Pada pemeriksaan anak kompos mentis, BB
6,9 kg dan pajang badan 70 cm. tidak terdapat udem di kedua tunkai. Pemeriksaan
laboratorium Hb : 6 gr%

Bab III Pembahasan

Tumbuh kembang mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling
berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan (growth)
berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel,
organ, maupun individu, yang bias diukur dengn ukuran berat, panjang, umur tulang, dan
keseimbangan metabolic (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Sedangan perkembangan
(development) adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih
kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses
pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh,
organ-organ, dan system organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing
dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual, dan tingkah
laku sebagai hasil dari interaksi denganlingkungannya.

TAHAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN JANIN INTRAUTERIN

Pertumbuhan dan perkembangan sudah dimulai sejak janin msaih di dalam


kandungan. Tahap pertumbuhan dalam kandungan pada minggu pertama bermula dari setelah
terjadi ovulasi, 12-24 jam kemudian terjadi pembuahan ovum oleh sperma (fertilisasi) di
bagian lateral/ampula tuba uterine. Setelah 30 jam mulai terjadi pembelahan/cleavage.
Setelah mencapai stadium 2, sel zigot akan mengalami pembelahan mitosis sehingga jumlah
selnya bertambah, sel-sel ini bernama blastomer. Sekitar 3 hari setelah pembuahan, sel-sel
mudigah membelah membentuk morula (16 sel) dan pada hari ke 4 morula memasuki lumen
uterus.
Morula terbagi dua, yaitu masa sel dalam dan masa sel luar. Masa sel dalam
menghasilkan embryoblas dan masa sel luar membentuk trofoblas. Pada hari ke 4 dan 5,
morula berubah menjadi blastokista yang mempunyai rongga berisi cairan (blastokel)
dikarenakan masuknya cairan dari lumen uterus. Pada fase ini zona pelusida telah hilang.
Pada hari ke 6 dimulailah fase implantasi, blastokista tertanam di endometrium sepanjang
dinding anterior atau posterior.
Pada minggu kedua trofoblas terbagi dua menjadi sitotrofoblas (mononucleus) dan
sinsitiotrofoblas (multinucleus). Sedangkan embryoblas juga terbagi dua menjadi hipoblas
dan epiblas. Minggu ketiga dinamakan minggu gastrulasi. Pada minggu ini terjadi
pembentukan endoderm, mesoderm, dan ektoderm. Dari minggu ketiga hingga ke 8 adalah
waktu dimana ke 3 lapisan tadi menghasilkan jaringan dan organ spesifik atau organogenesis
Pada minggu kedelapan hidung, kuping dan jari-jari mulai dibentuk. Posisi kepala
membungkuk. Pada minggu kedua belas daun kuping lebih jelas terlihat, kelopak mata masih
melekat, leher mulai terbentuk, tetapi genitalia externa belum berdiferensiasi. Pada minggu
ini beratnya hanya mencapai 1 gram dan panjangnya 2,5 cm. Pada minggu kedua belas
beratnya sudah mencapai 14 gram dan panjang 7,5 cm. Pada minggu keenam belas genitalia
externa sudah berdiferensiasi, kulit merah dan tipis sekali. Pada minggu ini ebrat janin
biasanya sudah mencapai 100 gram dengan panjang 17 cm. Pada minggu kedua puluh kulit
sudah tebal berwarna opaq, terdapat lanugo, dan sudah mulai menendang. Pada minggu ini
berat janin sudah mencapai 500 gram. Minggu kedua puluh empat kelopak mata sudah
terpisah, alis dan bulu mata sudah ada, telinga mendekati bentuk akhir dan sudah bisa
mendengar. Pada minggu kedua puluh delapan indra perasa baru mulai berkembang.
Biasanya beratnya sudah mencapai 1000 gram dengan panjang 35 cm. Minggu ke tiga puluh
dua janin mulai tampak menghisap jempol, dan letak kepala biasanya sudah berada dibawah.

Pada minggu ini berat janin biasanya sudah mencapai 1500 gram. Minggu ke tiga puluh enam
posisi janin sudah menetap dan semakin masuk ke pintu panggul. Pada minggu ini janin
biasanya sudah mempunyai berat 3200 gram dengan panjang 50 cm, dan lingkar kepala 34
cm. 1

PENENTUAN USIA KEHAMILAN


Usia kehamilan dapat ditentukan dengan berbagai cara. Diantaranya:
1. Dengan menghitung HPTA (Hari Pertama Haid Terakhir) atau LMP (Last
Menstruation Period)
Metode ini membutuhkan pengetahuan tentang siklus haid. Metode ini hanya dapat
2.
3.
4.
5.

diterapkan untuk wanita dengan siklus haid yang teratur.


Berdasarkan tinggi fundus uteri,
Metode ini tidak tepat bagi ibu yang obesitas karna lemak ikut terhitung.
Palpasi kepala janin
Menggunakan 2 jari tangan
Metode ini juga kurang tepat untuk ibu yang obesitas.
USG
Merupakan cara yang paling tepat untuk menghitung usia janin. Pada trimester 1
sebelum struktur mudigah(5-6 minggu) terlihat dilakukan pengukuran diameter ratarata kantung gestasi(KG). Jika struktur mudigah sudah terlihat(setelah 6 minggu)
ditentukan pengukuran panjang mudigah(JKB). Jika sudah melewati akhir trimester
1, organ organ sudah spesifik, maka dilakukan pengukuran DBP(diameter biparietal).
Penentuan usia kehamilan

berdasarkan tabel data atau nomogram yang

menggambarkan hubungan antara ukuran biometri janin dengan usia kehamilan pada
kehamilan normal. Selain menggunakan nomogram ,usia kehamilan dapat juga
dihitung dengan menggunakan formula sederhana: Usia kehamilan (hari) + diameter
KG(mm)+ 305
Penentuan usia kehamilan pada trimester II paling akurat dilakukan sebelum
kehamilan 20 minggu, misalnya melalui pengukuran kepala dan tulang panjang.
Setelah kehamilan 20 minggu variasi pertumbuhan janin semakin melebar ,sehingga
pengukuran biometri untuk menetukan usia kehamilan tidak akurat lagi.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN 1

Pertumbuhan janin selama kehamilan dipengaruhi oleh faktor genetik (faktor


intrinsik) yang menentukan potensi pertumbuhan janin seperti factor bawaan yang normal
maupun yang patologik, jenis kelamin, dan suku bangsa. Faktor lainnya yaitu faktor
lingkungan (faktor ekstrinsik) seperti gizi ibu, trauma, paparan zat kimia, hormone, paparan
radiasi, infeksi, stress, imunitas, dan lain-lain. Potensi pertumbuhan janin akan terganggu
misalnya oleh kelainan kromosom ,infeksi,radiasi dan obat-obatan. Faktor lingkungan yang
dapat mengganggu pertumbuhan janin misalnya kondisi geografi, status sosal ekonomi,
penyakit dan kebiasaan ibu (hipertensi,malnutrisi,merokokmalkoholik) dan gangguan utero
plasenta. Faktor lingkungan juga berpengaruh pada masa post-natal seperti lingkungan
tempat tinggal, adat istiadat, dan lain-lain.

Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak

Faktor Lingkungan
Faktor genetik

Pre natal

Post - natal

BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)


Bayi berat lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram
tanpa memandang usia kehamilan. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam
setelah lahir. Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah prematur dengan bayi berat lahir
rendah (BBLR). Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat lahir kurang dari
2.500 gram adalah prematur.
Berdasarkan dengan penanganan dan harapan hidupnya, bayi berat lahir rendah
dibedakan dalam:

1. Bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir 1.500-2.500 gram.


2. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir <1.500 gram.
3. Bayi berat lahir ekstrem rendah (BBLER), berat lahir <1000 gram.
Penyebab BBLR sangat kompleks. BBLR dapat disebabkan oleh kehamilan kurang
bulan (prematur), bayi kecil masa kehamilan (KMK), atau kombinasi keduanya.
Bayi premature adalah bayi yang lahir sebelum umur kehamilan 37 minggu. Sebagian
bayi kurang bulan belum siap hidup di luar kandungan dan mendapatkan kesulitan untuk
mulai bernafas, menghisap, melawan infeksi dan menjaga tubuhnya agar tetap hangat.
Faktor risiko tejadinya kelahiran prematur dapat dibagi menjadi :2
1. Faktor Ibu/Maternal
Keadaan fisik maupun mental ibu dapat mempengaruhi kehamilan termasuk saat
kelahiran sang anak. Kelahiran prematur dapat terjadi pada keadaan ibu yang :
malnutrisi, memiliki kelainan uterus, perdarahan antepartum, hipertensi, berpenyakit
jantung/kronik lainnya, trauma, stress, dan lain-lain. Ibu yang memiliki riwayat
melahirkan prematur sebelumnya juga berkemungkinan melahirkan prematur pada
kelahiran selanjutnya. Kebiasaan ibu seperti merokok serta bekerja berlebihan pun
dapat mendukung terjadinya kelahiran prematur.
2. Faktor Janin
Kelahiran prematur juga dapat terjadi karena kelainan pada janin itu sendiri, misalnya
pada janin yang memiliki cacat bawaan atau hidramnion. Pada kehamilan ganda serta
keadaan ketuban pecah dini kemungkinan lahir prematur pun ada.
3. Faktor Lain: keadaan sosial ekonomi yang rendah.

Bayi Kecil masa Kehamilan (KMK) adalah bayi yang tidak tumbuh dengan baik di
dalam kandungan. Ada 3 kelompok bayi yang termasuk bayi KMK, KMK lebih bulan, KMK
cukup bulan, KMK kurang bulan. Bayi KMK cukup bulan kebanyakan mampu bernafas dan
menghisap dengan baik. Sedangkan bayi KMK kurang bulan kemampuan bernafas dan
menghisapnya lemah.

Bayi Kecil masa Kehamilan disebabkan karena kegagalan bertumbuh dalam


kandungan atau disebut juga dengan Intrauterine Growth Retardation (IUGR). Faktor risiko
terjadinya IUGR dapat dibagi menjadi :3
1. Faktor Ibu/Maternal
Pada ibu yang hipertensi dan berpenyakit ginjal kronis, perokok, penderita diabetes
mellitus berat, toksemia, hipoksia ibu, gizi buruk, peminum alkohol, risiko terjadinya
IUGR akan meningkat.
2. Faktor Uterus dan Plasenta
Gangguan pada uterus atau plasenta yang terjadi selama kehamilan dapat
mengganggu pertumbuhan janin hingga terjadi IUGR. Kelainan pembuluh darah
(hemangioma), insersi tali pusat yang tidak normal, infark plasenta, kelainan uterus,
dan gangguan lainnya dapat menyebabkan IUGR.
3. Faktor Janin
Beberapa keadaan pada janin dapat menyebabkan janin tersebut terganggu
pertumbuhannya dalam kandungan. Keadaan tersebut seperti : kelainan kromosom,
memiliki cacat bawaan, terinfeksi dalam kandungan, dan lain-lain.
4. Faktor Lain
Keadaan sosial dan ekonomi yang buruk dapat menjadi salah satu faktor terjadinya
IUGR.

Perbedaan tanda- tanda bayi premature dengan bayi Kecil masa Kehamilan adalah
sebagai berikut:
No

Bayi premature

Bayi KMK

1.
2.

Kulit tipis dan mengkilap


Jaringan payudara tidak terlihat

Kulit keriput
Jaringan payudara

3.

Labia mayor tidak menutupi labia minor

kehamilan
Bila cukup bulan labia mayor menutupi

4.
5.

Skrotum banyak lipatan, testis tidak turun


Rajah telapak kaki kurang dati 1/3 bagian

labia minor
Testis mengalami penurunan
Rajah kaki lebih dari 1/3 bagian

6.
7.
8.
9.

atau belum terbentuk


Pernafasan tidak teratur
Aktifitas tangisan lemah
Refleks menghisap dan menelan tidak efektif
Gerakan kurang aktif

Pernafasan teratur
Aktifitas tangisan kuat
Refleks menghisap cukup kuat
Gerakan cukup aktif

sesuai

masa

Untuk menghidari hal-hal tersebut diperlukan usaha-usaha untuk menjaga


pertumbuhan dalam kandungan seperti minumsusu secara teratur pada masa hamil, memakan
ikan segar sebagai sumber yodium yang sangat baik untuk ibu hamil, olahraga ringan, dan
menjaga kesehatan dengan mengindari paparan radiasi dan zat toksik/kimia.

SKOR DUBOWITZ
Mengetahui dengan tepat lamanya masa gestasi untuk setiap neonatus sangat penting
untuk penatalaksanaan setiap neonatus secara individu. Salah satu penilaiannya dilakukan
dengan cara dubowitz, dengan cara menggabungkan hasil penilaian skor fisik eksternal
sebanyak 11 buah dan neurologis sebanyak 10 buah, yang kemudian dengan grafik regresi
linier dicari masa gestasinya, dengan sumbu x sebagai skor total dan sumbu y sebagai masa
kehamilan dalam minggu.
Berikut adalah contoh penilaian dubowitz

SKOR APGAR
Sesaat setelah bayi lahir, penolong persalinan biasanya langsung melakukan penilaian
terhadap bayi tersebut. Perangkat yang digunakan dinamakan skor APGAR. Penilaian skor
ini dilakukan dengan cepat pada menit pertama dan menit kelima setelah bayi dilahirkan.
Penilaian pada menit pertama bertujuan untuk menilai seberapa baik bayi mentoleransi proses
kelahiran. Sedangakan penilaian pada menit kelima bertujuan untuk menilai seberapa baik
bayi tersebut beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Skor Apgar dihitung dengan menilai kondisi bayi yang baru lahir menggunakan lima
kriteria sederhana dengan skala nilai nol, satu, dan dua. Kelima nilai kriteria tersebut
kemudian dijumlahkan untuk menghasilkan angka nol hingga 10. Kata "Apgar" belakangan
dibuatkan jembatan keledai sebagai singkatan dari Appearance, Pulse, Grimace, Activity,
Respiration (warna kulit, denyut jantung, respons refleks, tonus otot/keaktifan, dan
pernapasan), untuk mempermudah menghafal. Tes ini umumnya dilakukan pada waktu satu
dan lima menit setelah kelahiran.

Kelima hal diatas dinilai kemudian dijumlahkan. Jika jumlah skor bekisar di 7-10
pada menit pertama, bayi dianggap normal. Jika jumlah skor bekisar 4-6 pada menit pertama,
bayi memerlukan tindakan medis segera. Jika skor berkisar 0-3 diperlukan tindakan medis
yang lebih intensif lagi. Biasanya jika tindakan medis berjalanlancar, skor apgar akan naik
pada menit keliama.

AIR SUSU IBU (ASI)


Air susu ibu (ASI) sebagai makanan alamiah adalah makanan terbaik yang dapat
diberikan oleh seorang ibu pada anak yang baru dilahirkan. Komposisinya berubah sesuai
dengan kebutuhan bayi pada setiap saat, yaitu kolostrum pada hari pertama sampai 4 - 7 hari,
dilanjutkan dengan ASI peralihan sampai 3 - 4 minggu, selanjutnya ASI matur.5
Kolustrum mengandung tinggi protein, mineral, garam, vitamin A, nitrogen, sel darah
putih dan antibodi yang tinggi daripada ASI matur. Selain itu, kolustrum masih mengandung

rendah lemak dan laktosa. Protein utama pada kolustrum adalah imunoglobulin (IgG, IgA dan
IgM), yang digunakan sebagai zat antibodi untuk mencegah dan menetralisir bakteri, virus,
jamur dan parasit. Kolostrum juga merupakan pencahar ideal untuk membersihkan zat yang
tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bagi
makanan bayi yang akan datang. Pada ASI peralihan yang berlangsung selama 3 4 minggu,
kadar imunoglobulin dan protein menurun atau lebih sedikit dari ASI awal (kolostrum),
sedangkan lemak dan laktosa meningkat. ASI matur, kandungannya relatif konstan, tidak
menggumpal bila dipanaskan. ASI yang keluar pada permulaan menyusu (foremilk = susu
awal) berbeda dengan ASI yang keluar pada akhir penyusuan (hindmilk = susu akhir).
Foremilk mempunyai kandungan rendah lemak dan tinggi laktosa, gula, protein, mineral dan
air, sedangkan hindmilk kaya akan lemak dan nutrisi.
Tabel. Kandungan kolustrum (ASI awal), ASI transisi dan ASI matur. 6
Kandungan
Energi (kgkal)
Laktosa (gr/100 ml)
Lemak (gr/100 ml)
Protein (gr/100 ml)
Mineral (gr/100 ml)
Immunoglubin :
Ig A (mg/100 ml)
Ig G (mg/100 ml)
Ig M (mg/100 ml)
Lisosin (mg/100 ml)
Laktoferin

Kolustrum

Transisi

ASI matur

57,0
6,5
2,9
1,195
0,3

63,0
6,7
3,6
0,965
0,3

65,0
7,0
3,8
1,324
0,2

335,9
5,9
17,1
14,2-16,4
420-520

119,6
2,9
2,9
24,3-27,5
250-270

Selain sebagai makanan bagi bayi yang baru lahir yang memiliki peran seperti yang
telah dijelaskan diatas ASI juga memiliki peran lainnya yang tidak kalah penting yaitu
pemberian ASI mempunyai pengaruh emosional yang luar biasa yang mempengaruhi
hubungan batin ibu dan anak dan perkembangan jiwa anak.5
Perbedaan antara ASI dan susu formula adalah sebagai berikut:

ASI

Mengandung zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan
perkembangan kecerdasan bayi. Antara lain, faktor pembentuk sel-sel otak, terutama
DHA, dalam kadar tinggi. ASI juga mengandung whey (protein utama dari susu yang
berbentuk cair) lebih banyak daripada casein(protein utama dari susu yang berbentuk
gumpalan) dengan perbandingan 65 : 35. Komposisi ini menyebabkan nprotein ASI
lebih mudah diserap oleh tubuh bayi.
Komposisi zat gizi ASI sejak hari pertama menyusui biasanya berubah sesuai
kebutuhan bayi pada setiap saat. Misalnya kolostrum (cairan bening berwarna
kekuningan yang biasanya keluar pada awal kelahiran) terbukti mempunyai kadar
protein yang lebih tinggi, serta kadar lemak dan laktosa (gula susu) yang lebih rendah
dibandingkan ASI matur. Kandungan kolostrum yang seperti ini akan membantu
sistem pencernaan bayi baru lahir yang memang belum berfungsi optimal. Selain itu
komposisi ASI pada saat mulai menyusui ( foremilk ) berbeda dengan komposisi pada
akhir menyusui ( hindmilk ).
ASI mengandung banyak zat pelindung, antara lain immunoglobulin dan sel-sel darah
putih hidup. Selain itu, ASI mengandung faktor bifidus. Zat ini penting untuk
merangsang pertumbuhan bakteriLactobacillus bifidus yang membantu melindungi
usus bayi dari peradangan atau penyakit yang ditimbulkan oleh infeki beberapa jenis
bakteri

merugikan,seperti

keluarga

coli .

Susu formula
Tidak seluruh zat gizi yang terkandung di dalamnya dapat diserap oleh tubuh bayi.
Misalnya, protein susu sapi tidak mudah diserap karena mengandung lebih banyak
casein. Perbandingan whey dan casein dalam susu sapi adalah 20 : 80.
Komposisi zat gizinya selalu sama untuk setiap kali minum (sesuai aturan pakai).
Susu formula hanya sedikit mengandung immunoglobulin. Selain itu, tidak
mengandung sel-sel darah putih dan sel-sel lain dalam keadaan hidup.

IMUNISASI 7

Imunisasi dibedakan dua jenis, yaitu imunisasi aktif daan imunisasi pasif. Pada
imunisasi aktif, tubuh anak akan membuatr sendiri antibody setelah satu atau serangkaian
suntikan antigen, kekebalan yang didapat akan bertahan selama bertahun-tahun.
Pada imunisasi pasif tubuh tidak dapat membuat sendiri antibody, tetapi
mendapatkannya dengan cara penyuntikan

serum yang telah mengandung antibody;

kekebalan yang diperoleh biasanya hanya akan berlangsung 1-2bulan. Karena itu imunisasi
pasif hanya dilakukan dalam keadaan darurat, yaitu bila diduga tubuh anak belum
mempunyai kekebalaan yang cukup ketika terinfeksi oleh kuman yang virulen. Contoh
imunisasi pasif yang sering dilakukan adalah pemberian profilaksis serum anti tetanus, serum
anti difteria dan berbagai serum hiperimun, seperti yang spesifik untuk pertusis, hepatitis b
dan rubela.
Jenis imunisasi yang lazim diberikan adalah imunisasi aktif, karena jauh lebih murah,
sederhana, aman, dan lebih efektif. Dengan memperhatikan segi epidemiologis penyakit,
penyediaan dana, serta manfaatnya bagi masyarakat maka dapat dibedakan 3 jenis imunisasi
aktif, yaitu
1. Imunisasi wajib
Sesuai dengan Pengembangan Program imunisasi Departemen kesehatan, saat ini
yang termasuk dalam imunisasi wajib adalah pencegahan terhadap 6 jenis penyakit,
yaitu tuberculosis, difteria, tetanus, pertusis, poliomyelitis, dan campak. Imunisasi
terhadap cacar tidak lagi dilakukan sejak tahun 1980, ketika WHO menyatakan dunia
bebas cacar.
2. Imunisasi anjuran
Imunisasi anjuran mencakup pencegahan terhadap penyakit yang dampak negatifnya
belum meluas di masyarakat. Karena keadaan lingkungannya sekelompok anggota
masyarakat mempunyai resiko tinggi untuk terjangkit penyakit, sehingga mereka
membutuhkannya. Kedalam imunisasi anjuran ini termasuk pencegahan terhadap
penyakit hepatitis B, parotitis, rubella, rabies, tifus, dan paratifus, varisela, influenza,
dan bergagai jenis meningitis. Dan beberapa diantara jenis

penyakit tersebut ,

mungkin pada masa mendatang akan digolongkan ke dalam penyakit dengan status
imunisasi wajib.
3. Imunisasi masa depan

Beberapa penyakit dewasa ini di anggap berbahaya tetapi vaksinnya belum dapat di
produksi

dan masih dalam taraf penelitian. Diharapkan pada masa 5-10 tahun

mendatang vaksinnya telah beredar dipasaran. Ke dalam golongan imunisasi masa


depan ini termasuk pemakaian jenis vaksin terhadap penyakit diare karena rota virus,
dengue, malaria dan AIDS, berbagai infeksi saluran nafas, penyakit kelamin gonore
dan herpes, serta mungkin pula terhadap pennyakit keganasan.

Jadwal imunisasi adalah informasi mengenai kapan suatu jenis vaksinasi atau
imunisasi harus diberikan kepada anak. Jadwal imunisasi suatu negara dapat saja berbeda
dengan

negara

lain

tergantung

kepada

lembaga

kesehatan

yang

berwewenang

mengeluarkannya.
Berikut ini adalah jadwal imunisasi anak rekomendasi Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI) periode 2008:

KAJIAN KASUS
Status gizi pada anak tersebut dapat ditentukan dengan membandingkannya dengan
skala yang telah ditentukan oleh NCHS.
(BBL)

Nilai

normal Nilai si anak

BB/TB
BB/U
TB/U

(mediannya)
8.6/70
8.6/3
93.9/3

6.9/70
6.9/3
70/3

Berada

pada Kesimpulan

range
-2
-3
-3

Gizi kurang
Gizi buruk
Gizi buruk

Selain melihat hasil daripada tabel di atas, perlu diingat pula tinggi dan berat si anak
saat dilahirkan dulu. BB dan TB si anak saat baru lahir adalah 2200 gram dan tinggi 46 cm,
dimana berat bayi normal seharusnya lebih dari 2500 gram dan tinggi badan kurang dari
normal yaitu 50 cm. Karena itu dapat disimpulkan bahwa anak ini sudah mengalami
kekurangan gizi bahkan dari saat ia masih dalalm kandungan. Selain itu dilihat pula bahwa
anak ini dengan kadar Hb 6%, berarti ia mengalami anemia, ditambah dengan keluhan utama
si anak yaitu diare dan campak. Dengan begitu diagnosis sementara yang dapat simpulkan
adalah anak ini mengalami kwashiorkor marasmic.
Pemeriksaan penunjang dan laboratorium yang diperlukaan untuk mendaatkan
diagnosis pasti kasus ini diantaranya:
1. Tes LED
2. Pemeriksaan feses dan urin
3. Tuberculine test dan foto dada, mengingat anak tersebut belum pernah divaksinisasi
dan saat ini tinggal serumah dengan nenek yang menderita TB.
4. Malabsorbtion test , dan lain-lain.

Penanganan pada kasus anak gagal tumbuh ini memerlukan pemahaman dari segala
unsur yang turut menyebabkan pertumbuhan anak seperti kondisi serta status nutrisi anak.
Pada kasus ini perlu diadakan penangan dari ketiga faktor resiko. Faktor pertama adalah dari
sudut pandang orang tua anak, penangananya yaitu berupa menjaga kebersihan makanan anak
sehingga tidak memperparah penyakit diare yang sedang diderita oleh anaknya. Menjaga
lingkungan sekitar agar tetap bersih dan melakukan perawatan untuk penyakit campat yang

diderita anaknya, dimana penyakit campak bersifat menular, maka dilakukan isolasi untuk
mencegah penularan penyakit campak tersebut.
Dari sudut pandang anak, mengigat anak tersebut tingal bersama neneknya yang
menderita penyakit tuberkulosis TBC, maka penaganan pada anak ini yaitu harus di berikan
imunisasi BCG yang berfungsi untuk mencegah anak terserang penyakit TBC. Namun perlu
diingat bahwa pemberian BCG hanya boleh dilakukan pada hasil tes tuberculosis negatif.
Dan biasanya anak dengangizi buruk dan sistem imun yang rendahcenderung mendapatkan
hasil tes false negatif.
Dari segi lingkungan juga sangat penting dijaga. Faktor kebersihan dan kenyaman
menjadi utama dalam mempermudah tahap penyembuhan.
Para orang tua yang kurang mendapatkan edukasi tentang nutrisi untuk anak lebih
mementingkan pemberian asupan makanan tambahan untuk anak mereka. Tetapi untuk
perhitungan yang lebih tepat ibu harus mengamati dan merekam masukan makanan yang
sebenarnya dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan anak. Masukan makanan yang berlebihan
dapat menimbulkan anak kelebihan berat badan serta dapat menyebabkan terjadinya masukan
nutrien lain menjadi berkurang. Susu mengandung protein kualitas tinggi, kalsium serta
fosfor. Daging dan telur mengandung provitamin A dari buah dan sayuran hijau.
Terdapat juga pengganti elemen diet untuk susu, yaitu sebuah produk yang telah
dikembangkan untuk memenuhi masalah diet dan nutrisi pada anak yang malabsorbsi
terhadap penyakit primer. Diet ini meliputi glukosa bebas, asam amino, serta asam lemak
esensial, diet ini oaling sering dipakai pada keadaan anak menderita penyakit diare untuk
mengurangi pengeluran feses padat serta berguna untuk mengistirahatkan kolon.
Jumlah pemberian makanan harian juga sangat penting. Kebanyakan bayi cukup
mendapatkan susu sebanyak 3 kali alam 1 hari, interval pemberian makanan pada bayi sangat
bervariasi. Pada umumnya berkisar antara 3-5 jam pada tahun pertama. Pemberian nutrisi
juga sangat tergantung dari kebutuhan anak tersebut. 8

Bab IV Kesimpulan
Gangguan tumbuh kembang merupakan tertundanya pertumbuhan fisik dan kenaikan
berat badan yang dapat menyebabkan tertundanyapertumbuhan fisik dan retardai
perkembangan sosial maupun motorik. Biasanya bayi lahir dengan cukup bulan dengan berat
badan yang cukup namun selanjutnya tidak menunjukkan pertambahan berat maupun panjang
badan seperti yang diharapkan. Gangguan tumbuh kembang ini disebabkan oleh faktor
organik maupun nonorganik.
Pada kasus ini, gangguan tumbuh kembang diperkirakan disebabkan oleh kurangnya
asupan gizi yang diberikan oleh ibu, sistem imunitas yang rendah disebabkan belum
diberikannya imunisasi apapun dalam tubuh anak tersebut sehingga anak lebih rentan terkena
penyakit, sanitasi dan keadaan rumah yang kurang mendukung dalam proses tumbuh
kembang anak tersebut. Seharusnya ibu secara rutin memeriksakan kesehatan dan
menimbang anak secara rutin setiap bulan untuk lebih memantau tumbuh kembang anak.
Penatalaksanaan yang diperlukan pemeriksaan laboratorium dan penunjang lebih
lanjut untuk memastikan apa penyebab pasti dari gangguan tumbuh kembang pada bayi ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. Soetjiningsih. Tumbuh-Kembang Anak. In: IG.N. Gde R editor. Tumbuh Kembang


Anak. Jakarta:EGC; 1995. p.1-18
2. MayoClinic Staff. Premature Birth. Available at:
http://www.mayoclinic.com/health/premature-birth/DS00137/DSECTION=riskfactors. Accessed on: 13th Sept, 2011
3. Vorvick L. Intrauterine Growth Restriction. Available at:
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001500.htm. Accessed on: 13th Sept,
2011
4. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. Skor Dubowitz. In: Ilmu Kesehatan Anak.
Jakarta:Penerbit bagian ilmu kesehatan anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia ; 2007. p.53
5. Prawirohardjo S. Penggunaan Air Susu Ibu dan Rawat Gabung. In: Suradi R, Editor.
Ilmu Kebidanan. 4th ed. Jakarta: P.T Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2010. p.
375-88
6. Roesli, U. Inisiasi Menyusu Dini. In: Ilmu Kebidanan. Jakarta: Pustaka Bunda; 2008.
p. 43
7. Soedjatmiko. Imunisasi. Available at: http://www.idai.or.id/imunisasi/artikel.asp?
q=2010113104241. Accessed on: 15th Sept, 2011

8. Nelson W.E. Kesehatan Anak. In: Behrman R.E, Kliegman R,Arvin A.M, editors Ilmu
Kesehatan Anak. 15th ed. Vol 1. Jakarta: ECG; 2000. p. 200