Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS KERENTANAN PENCEMARAN AIR TANAH DENGAN

MENGGUNAKAN METODE DRASTIC DI SUB DAS AMPRONG HILIR

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh
Ali Atul Rodiansyah
120722420605

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
PROGRAM STUDI S1 GEOGRAFI
Maret 2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Air adalah sumber kehidupan bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Tanpa air tidak
ada kehidupan di bumi. Dari awal kehidupan manusia, masyarakat memilih tempat
tinggal yang dekat dengan sumber air, seperti sepanjang sungai, dipinggir danau atau di
dekat mata air. Sumber-sumber air tersebut diharapkan dapat mencukjupi kebutuhan
mereka untuk air minum, penggunaan domestik, hewan peliharaan dan pertanian.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dituntut baik dari segi kuantitas maupun
kualitas yang memadai. seringkali air tanah tidak cukup dari segi kuantitas, namun
kualitas tidak memenuhi syarat untuk pemenuhan kebutuhan. Banyak faktor yang
berpengaruh terhadap kualitas air, baik alami maupun non alami (antropogenic factor).
Faktor alami yang berpengaruh terhadap kualitas air adalah iklim, geologi, vegetasi dan
waktu, sedangkan faktor non alami adalah manusia. Faktor manusia yang paling banyak
membawa pengaruh terhadap kualitas air, dimana pertumbuhan penduduk, tindakan
terhadap lingkungan, proses pembuangan limbah dan aktivitas manusia lainnya membawa
dampak terhadap kualitas dan kuantitas air terutama air tanah dangkal yang banyak
digunakan oleh manusia.
Sub Das Amprong yang menjadi daerah penelitian ini, di dalamnya terdapat
sumber mata air yang besar dan di kelola oleh PDAM sebagai sarana sumber penyediaan
air bersih yang menyediakan air bersih bagi sekitar 63,12 % penduduk kota Malang dan
beberapa kecamatan di kabupatan Malang (Raden Faridz, 2011). Kondisi perubahan guna
lahan dan pesatnya pembangunan, di kawatirkan dapat mencemari kualitas air tanah
dangkal yang mensuplai air di sumber wendit. pada tahun ini laju pembangunan sekitar
12 %, dengan laju pembangunan yang pesat tersebut di kawatirkan ancaman pencemaran
terhadap kondisi air tanah di wilayah tersebut. sehingga perlu di lakukan kajian dan
analisis mengenai kerentana terhadap kondisi air tanah ini.
Dalam formulasi DRASTIC, Proses pencemaran air tanah dangkal di pengaruhi
oleh beberapa faktor yaitu: Kedalaman muka air tanah, curah hujan, topografi (lereng),
litologi, tekstur tanah, dan konduktivitas hidrolik (Aller, Bennett et al. 1987). Atiqur
Rahman (2008), DRASTIC merupakan suatu metode untuk menduga tingkat pencemaran
polusi air tanah yang di pengaruhi oleh faktor-faktor hidrogeologis yaitu: Depth to water
table (D), Net Recharge(R), Aquifer media(A), Soil media(S), Topographic aspect(T),
Impact effect of Vadose Zone (I) and Hydraulic Conductivity(C). Salah satu modifikasi
dari pada metode DRASTIC di kembangkan oleh Piscopo (2001) dari Department of
1

Land and water conservation dimana dimodifikasi beberapa nilai dari pada weight, range
dan ratings.
Sesuai dengan peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2008
tentang Air Tanah Pasal 45 pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air tanah
dilaksanakan dengan cara: a) Mencegah pencemaran air tanah, b) Menanggulangi
pencemaran air tanah, c) Memulihkan kualitas air tanah yang telah tercemar, (ayat 2).
Perlindungan terhadap air tanah dari pencemaran menjadi sangat penting pada saat ini
dengan melihat pesatnya variasi bentuk dan perkembangan penggunaan lahan. Salah satu
cara yang dapat ditempuh untuk melindungi air tanah dari pencemaran adalah melalui
zonasi atau pemetaan kerentanan air tanah terhadap pencemaran. Dengan mengetahui
tingkat kerentanan air tanah suatu daerah terhadap pencemaran, maka hal tersebut dapat
menjadi pertimbangan yang sangat penting, khususnya dalam suatu pengambilan
keputusan mengenai penataan wilayah ataupun pengaturan kegiatan dalam rangka
pengembangan wilyah daerah yang bersangkutan.
Tujuana Penelitian adalah untuk menghasilkan Peta Kerentanan Air Tanah di
wilayah Kota Meulaboh dengan menggunakan metode DRASTIC yang dimodifikasi oleh
Piscopo. Adapun sasaran Peta kerentanan air tanah dijadikan sebagai bahan acuan dalam
proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan perencanaan pengembangan
wilayah, sehingga penggunaan lahan dan aktifitas-aktifitas yang diizinkan terhadap suatu
areal tertentu tidak menyebabkan dampak yang negatif terhadap kualitas sumberdaya air
tanah.
1.2 IDENTIKASI MASALAH
Dari latar belakang di ambilnya penelitian ini, maka ada beberapa masalah penelitian
yang ada di dalamnya di antaranya adalah:
1. Bagaimana cara mengukur nilai setiap parameter dari Metode DRASTIC?
2. Bagaimana Tingkat kerentanan pencemaran air tanah di wilayah Sub DAS Amprog
hilir?
3. Bagaimana cara mencegah dan menanggulangi pencemaran air tanah?
1.3 BATASAN MASALAH
Ruang lingkup dari penelitian ini yaitu mengalianalisis kerentanan pencemaran air
tanah dengan menggunakan metode DRASTIC, dengan memperhitungkan 7 parameter,
yaitu Kedalaman (Depth) air tanah,

laju

pengisian

kembali

(Recharge rate)
2

akifer/curah hujan, Media akifer (Aquifer media), Media tanah (Soil media), Kemiringan
(Topography), dampak

terhadap

zone

vadose (Impact of the vadose zone),

Konduktifitas hidrolik

akifer, dengan masalah yang di kaji meliputi analisis faktor

penyebab, dampak, Pencegahan dan upaya perbaikan terhadap tanah yang rentan akan
pencemaran air.
1.4 TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan penelitian ini yaitu;
1. Untuk mengetahui faktor penyebab pencemaran air tanah di Sub DAS Amprong Hilir.
2. Untuk Mengetahui Tingkat kerentanan pencemaran air tanah.
3. Untuk mengetahui cara pencegahan dan menanggulangi pencemaran air tanah.
1.5 MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat penelitian yang di harapkan adalah:
1. Manfaat Secara Teoritis
a. Melatih mahasiswa dalam proses suatu penelitian
b. Memperkaya bidang ilmu pengetahuan.
c. Sebagai bentuk tanggung jawab civitas akademika terhadap ilmu pengetahuan
2. Manfaat Secara Praktis
a. Memberi pengetahuan terhadap masyarakat sekitar mengenai potensi kerentanan
pencemaran tanah.
b. Memberi informasi terhadap pemerintah sebagai salah satu masukan sebagai dasar
perencanaan maupun kebijakan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Air Tanah
Air tanah di gunakan untuk memenuhi kebutuhan air untuk berbagai keperluan
sesuai dengan kualitas dan kuantitasnya. penggunaan air tanah dalam setiap CAT
dilaksanakan sesuai dengan penatagunaan air tanah antara lain untuk memenuhi (PP
No.43/2008 Pasal 50):
1. Kebutuhan pokok sehari-hari
Pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari mencakup keperluan air minum, masak, mandi,
cuci, peturasan, dan ibadah. Penyediaan air tanah untuk kebutuhan pokok sehari-hari
merupakan prioritas utama di atas segala keperluan lain. Penyediaan air tanah untuk
kebutuhan pokok harus memenuhi kriteria air bersih, di mana air tidak tercemar oleh
bahan-bahan yang membahayakan bagi kesehatan masyarakat. Sistem drainase juga perlu
diperhatikan, sehingga air bekas atau air yang sudah digunakan dapat didaur ulang atau
dibuang pada tempat yang baik dengan menerapkan sistem drainase permukaan, misalnya
dialirkan ke sungai. Oleh karena penyediaan air tanah merupakan prioritas utama, maka
dapat diusahakan di semua daerah dan semua kedalaman dengan cara membuat sumursumr produksi dengan tetap memperhatikan batas debit pengambilan air tanah pada
akuifer.
2. Pertanian rakyat
Penyediaan air tanah untuk memenuhi kebutuhan pertanian rakyat antara lain budidaya
pertanian dalam berbagai komoditas, yaitu pertanian tanaman pangan, hortikultura,
perikanan, peternakan, perkebunan, dan kehutanan yang dikelola oleh rakyat dengan luas
tertentu yang kebutuhan airnya tidak lebih dari 2 liter per detik per kepala keluarga.
Pertanian tanaman pangan diutamakan bagi tanaman yang tidak membutuhkan air tanah
dalam jumlah banyak, antara lain tanaman palawija.
3. Industri
Pengambilan air tanah merupakan salah satu implementasi pengusahaan air tanah yang
seharusnya dapat dilaksanakan jika kebutuhan pokok sudah terpenuhi. Agar terwujud
suatu keberlanjutan air tanah, maka pendayagunaan air tanah untuk keperluan industri
harus dilaksanakan secara seimbang dengan upaya konservasi air tanah. Upaya tersebut
juga harus terintegrasi dalam kebijakan dan pola pengelolaan sumber daya air, terpadu,
saling menunjang antara air tanah, air permukaan dan air hujan untuk memenuhi
4

kebutuhan air berbagai keperluan dengan mengutamakan kebutuhan pokok hidup seharihari.
Pelaksanaan konservasi air tanah secara utuh pada cekungan air tanah terutama pada
kawasan padat industri perlu dilakukan dengan diawali studi keseimbangan air tanah pada
cekungan daerah dimaksud. Pada proses industri pemanfaatan air tanah digunakan
sebagai bahan pelarut atau bahan utama. Air tanah yang digunakan pada proses industri
harus memenuhi kriteria syarat air untuk industri.
4. Pertambangan
Pemanfaatan air tanah pada bidang pertambangan digunakan untuk pencucian hasil
eksplorasi bahan tambang. Meningkatnya pemanfaatan bahan galian konstruksi sebagai
konsekuensi dari pesatnya pembangunan di samping akan menimbulkan dampak positif
akan pula menimbulkan dampak negatif baik yang diderita oleh lingkungan setempat
maupun wilayah yang lebih luas. Dampak negatif yang terjadi antara lain ialah
meningkatnya erosi dan gerakan tanah, hilangnya sumber-sumber air, dan tanah pucuk
yang subur.
5. Pariwisata
Penyediaan air tanah untuk pariwisata antara lain pemanfaatan sungai bawah tanah,
pemanfaatan untuk hotel serta rumah makan. Pemanfaatan pada bidang pariwisata seperti
pemanfaatan pada sungai bawah tanah, misalnya pada daerah karst. Aliran-aliran air yang
terjadi akan membentuk sebuah aliran air tanah (sungai bawah tanah) dan membentuk
suatu tipe topografi tiga dimensi yang sering disebut dengan gua karst. Gua karst dengan
stalaktit dan stalakmit memberikan suatu daya tarik, sehingga bisa dimanfaatkan untuk
pariwisata selain sebagai sumber air tanah.
2.2 Transport Kontaminan Dalam Tanah Dan Airtanah
Airtanah merupakan bagian dari siklus hidrologi, dan didefinisikan sebagai air
yang berada di bawah permukaan tanah pada zone jenuh air dengan tekanan hidrostatis
sama atau lebih besar daripada tekanan udara. Keterdapatan airtanah dipengaruhi oleh
perkembangan dan sifat-sifat geologi, kondisi batas formasi, iklim, aktivitas manusia dan
lingkungan.
Kontaminan yang

berada

dalam tanah selalu dalam kondisi dinamis, yaitu

berinteraksi dengan partikel tanah atau mengalami transformasi hingga mencapai


5

keseimbangan. Selain itu, larutan tanah dan airtanah dapat bergerak sesuai dengan energi
yang dimilikinya, ke arah dimana energinya lebih rendah. Dengan adanya pergerakan
massa air tersebut, maka kontaminan yang berada dalam air ikut bergerak.
Peristiwa penting yang terlibat dalam transport kontaminan di tanah dan airtanah,
antara lain: adveksi, dispersi hidrodinamika dan retardasi. Transport karena adveksi
merupakan proses fisik dimana air sebegai medium bergerak sambil membawa
kontaminan yang berada di dalamnya. Sedangkan transport karena proses dispersi
hidrodinamika merupakan transport atau perpindahan massa akibat difusi kontaminan,
karena gradien konsentrasi yang mengakibatkan gerak brown serta mekanisme dispersi.
Retardasi merupakan fenomena yang menunjukkan perubahan jumlah dari kontaminan
selama

terjadi proses transport akibat reaksi antara kontaminan dengan media tanah,

yang memberikan efek seolah-olah gerakan kontaminan menjadi terhambat.


Tidak semua proses perubahan konsentrasi kontaminan yang terjadi dalam tanah
dan airtanah dapat didekati dengan anggapan terjadinya keseimbangan. Seperti pada
kasus transformasi oleh aktivitas mikrobiologis atau peluruhan material radioaktif.
Pengaruh reaksi kinetis selain dalam hal perlambatan laju front kontaminan juga pada
waktu tercapainya puncak konsentrasi kontaminan disuatu titik yang ditinjau.
2.3 Metode DRASTIC
Banyak metode yang digunakan untuk analisis kerentanan (vulnerability) airtanah
terhadap pencemaran, yaitu metode HCS (hydrological complex and setting method);
metode sistem parametrik (parametric system method) yang terdiri atas; metode MS
(matrix system), RS (rating system), dan PCSM (point count system models) yang sering
pula disebut sebagai metode pembobotan dan penilaian (parameter weighting and rating
method); serta model hubungan analogi dan numeric (analogical relations and numerical).
Metode DRASTIC merupakan salah satu teknik dari PCSM, dikembangkan oleh
US-EPA yang merupakan bagian dari SIA (Surface impoundment assesment). SIA
digunakan untuk mengevaluasi pengaruh penggenangan limbah cair (impoundment pond)
baik dari industri maupun domestik (misalnya tangki septik, pond atau lagoon) terhadap
akifer di Amerika serikat.
Metode DRASTIC merupakan singkatan dari tujuh faktor yang dianggap
penting dalam evaluasi akifer dan airtanah. Singkatan tersebut adalah:
D = kedalaman (Depth) air tanah
6

R = laju pengisian kembali (Recharge rate) akifer/curah hujan


A = media akifer (Aquifer media)
S = media tanah (Soil media)
T = kemiringan (Topography)
I

= dampak

terhadap

C = konduktifitas

zone

hidrolik

vadose (Impact of the vadose zone)


akifer (Hydraulic conductivity)

Indeks DRASTIC untuk suatu area dihitung dengan persamaan berikut:


DrDw+RrRw+ArAw+SrSw+TrTw+IrIw+CrCw
Dimana: W = nilai weight ; r = nilai rating
Pada tahun 2001 Piscopo melakukan modifikasi terhadap rumus empiris
DRASTIC sehingga dihasilkan:
DRASTIC Index (DI) = 4Dr+ 2Rr+5Ar+2Sr+Tr+5Ir
Berikut ini merupakan parameter dan nilai bobt dari masing-masing parameter yang di
gunakan
DRASTIC Parameters

Depth to Wa ter ta ble (m)

Recha rge (mm)

Aquifer Media

Soil Media

Range
<5
5.0 - 10.0
10.0 - 15.0
15.0 - 20.0
> 20
11.0 - 13.0
9.0- 11.0
7.0 - 9.0
5.0 - 7.0
3.0-5.0
Alluvium 1
Alluvium 2
Porous Sedimenta ry
Limestone
Volca nic (tertia ry)
Igneous (ca rboniferous)
Igneous (Pa lea zoic)
Meta sediments
High
Mod-High
Modera te
Slow
Very Slow

Rating
10
8
6
4
1
10
8
5
3
1
10
6
6
9
7
5
3
1
10
8
6
4
1

Weight

< 2.0
2.0 0
10.0 - 20.0
20.0 - 33.0
> 33.0
8.0 - 10.0
6.0 - 8.0
4.0 - 6.0
3.0 - 4.0
2.0 - 3.0

Topogra phy

Impa ct of Va dose Zone

10
8
5
2
1
10
8
5
3
1

Nilai pembobotan kedalaman airtanah menjadi penting karena menyangkut


ketebalan atau jarak yang harus ditempuh kontaminan sebelum mencapai airtanah.
Jarak tersebut juga menentukan lamanya waktu kontak antara tanah dan kontaminan.
Laju pengisian kembali adalah jumlah airhujan dan air buatan yang mengalami
infiltrasi

kemudian perkolasi

dan

akhirnya menjadi airtanah. Dengan demikian,

parameter ini mempengaruhi perkolasi dan transport kontaminan menuju zone airtanah
dan juga mempengaruhi peningkatan muka airtanah. Pertimbangan utama dalam
menentukan bobot laju pengisian air tanah adalah reaktivitas tanah dan transport
kontaminan. Bila media kurang reaktif, maka kontaminan mudah bergerak sehingga
bobot relatif semakin tinggi.
Parameter media akifer menunjukan kekompakkan

dan

ketidakkompakkan

batuan yang menyimpan airtanah. Akifer didefinisikan sebagai formasi batuan yang
dapat menghasilkan air dalam kuantitas cukup. Atenuasi kontaminan di akifer bergantung
jumlah dan kehalusan butiran. Pada umumnya ukuran butiran yang besar mengakibatkan
permeabilitas

yang

tinggi dan kapasitas atenuasi rendah sehingga berdampak

meningkatnya potensi pencemaran. Pada umumnya, pencemaran tanah sangat


dipengaruhi oleh jenis dan jumlah tanah liat (clay), potensi mengembang dan menyusut
dari tanah, serta ukuran butiran. Karakteristik dari tanah mempengaruhi laju infiltrasi,
dipersi dan proses terhadap kontaminan. Sifat tanah penutup mempengaruhi pergerakan
kontaminan di permukaan dan bawah permukaan. Adanya ukuran butiran halus, seperti
liat, peat, lanau dan kandungan bahan organik dalam tanah penutup dapat menurunkan
permeabilitas intrinsik dan retardasi atau mencegah pergerakan kontaminan melalui
proses fisika-kimia (sorpsi, pertukaran ion, oksidasi dan biodegradasi).
Topografi menunjukkan kemiringan dari suatu area. Area dengan kemiringan kecil
cenderung menampung air untuk jangka waktu yang lama. Kondisi ini menyebabkan
8

peningkatan infiltrasi atau pengisian air serta meningkatkan mobilitas kontaminan. Area
dengan kemiringan curam memperbesar terjadinya runoff dan menurunkan terjadinya
infiltrasi sehingga menjadikan airtanah tidak rentan terkontaminasi. Topografi
mengindikasikan apakah suatu kontaminan akan mengalami limpasan (runoff) atau
tertahan di permukaan tanah untuk mengalami infiltrasi menjadi airtanah. Parameter
dampak dari zone vadose yaitu pengaruh dari zone di atas muka airtanah. Parameter
tersebut menentukan bergerak atau tidaknya kontaminan menuju akifer.
Konduktifitas hidrolik adalah kemampuan akifer untuk mengalirkan air yang
bergantung permeabilitas intrinsik dari material dan tingkat kejenuhannya. Kedua
faktor tersebut mengendalikan perpindahan dan dispersi kontaminan dari titik injeksi
dalam zone jenuh. Pada umumnya, konduktifitas hidrolik diukur dari data
pumping test .
Tabel tingkat kerentanan pencemaran
Tingkat Kerentanan
Rendah
Sedang
Tinggi
Sanggat Tinggi

Indeks DRASTIC
1 100
100 140
141 200
> 200

2.4 HIPOTESIS
Berdasarkan

yang analisis parameter di atas maka dapat diambil Hipotesis

peneliti bahwa: Setiap parameter di dalam pengukuran dengan menggunakan metode


DRASTIC, maka di perkirakan telah terjadi pencemaran dan potensi kerentanan
pencemaran air tanah di Sub DAS amprong hilir..

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 RANCANGAN PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang permasalahan, dan kajian dari beberapa sumber
pustaka, maka kerangka berpikir yang disajikan dalam penelitian ini meliputi pengkajian
karakteristik kondisi fisik, dan penghitungan pembobotan setiap parameter ametode
Drastic. Kerangka berpikir dalam penelitian ini disajikan pada digram alir berikut

Kedalam

Net Rechar

Aquifer (Peta Hidrogeologi)

Media tanah (Peta Geologi)

Topografi (DEM)

Impac Of Vedose (Peta Hidrogeologi)

c Conductivity (Peta Hidrogeologi)

10

3.2 TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN


Penelitian ini di lakukan di daerah Hilir SubDas Amprong, yang meliputi sebagian
kabupaten dan kota Malang, Penelitian dilakukan dengan menggali informasi dari
berbagai sumber, dan dokumen.
3.3 ALAT DAN BAHAN PENELITIAN
No

Jenis Data
Borehole data
(water table level)

1
2

Curah Hujan Rata2

Sumber
Peta Hidrogeologi

Format
Tabel

Data curah hujan kabupaten Malang

Output
Kedalaman Muka Air
Tanah (D)

Peta

Curah Hujan (R)

Peta Geologi

Dinas Pertambangan dan Energi

Peta

Aquifer (A)

Peta Jenis Tanah

Badan Pentanahan

Peta

Jenis Tanah (S)

Peta Topografi

Peta

Profil Geologi

Badan Pentanahan/ DEM


Dinas Pertambangan dan Energi

Hydraulic
conductivity

Topografi (T)
Impact of vadose zone
(I)
Hydraulic
conductivity( C)

Dinas Pertambangan dan Energi

Tabel
Tabel

3.4 SUBYEK PENELITIAN


Subyek penelitian ini adalah kondisi air tanah di Hilir subdas amprong, obyek
penelitian meliputi semua paramater dari metode DRASTIC.
3.5 TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data di lakukan dengan cara studi Literatur, survei lapangan.
3.6 INTRUMEN PENELITIAN
Instrumen penelitian ini yaitu kondisi dan ancaman terhadap air tanah yang berada
di Hulu subdas Amprong, dengan mengukur parameter dari metode Drastic yang meliputi
kedalaman (Depth) air tanah, laju

pengisian

kembali

(Recharge rate) akifer/curah

hujan, media akifer (Aquifer media), media tanah (Soil media), kemiringan (Topography),
dampak

terhadap

hidrolik

akifer.

zone

vadose (Impact of the vadose zone), konduktifitas

3.7 TEKNIK ANALISIS DATA


Metode yang digunakan dalam pepenelitian ini adalah analsis data sekunder
dengan tahapan identifikasi parameter meteorologi dan hidrogeologi yang dibutuhkan
untuk perhitungan metode DRASTIC, antara lain: kedalaman airtanah, curah

hujan,
11

tekstur

tanah,

jenis

media akifer, topografi, jenis material penyusunan zone vadose

dan konduktifitas hidrolik. Tahap selanjutnya adalah inventarisasi pustaka terkait yaitu
terutama penelitian-penelitian sejenis sebagai bahan pertimbangan. Tahap akhir dari
penyusunan penelitian ini yaitu penentuan tingkat kerentanan dan analisis hasil.

12

DAFTAR PUSTAKA
Sayed, Murtadha dkk. Pemetaan Kerentanan Air Tanah Dangkal Di Kota Meulaboh
Menggunakan Model Drastic, Jurnal Geografi, Universitas Malaya.
Alfiyan, Moekhamad. Pengembangan Metode Drastic Untuk Analisis Tingkat Kerentanan
(Vulnerability) Pencemaran Airtanah

Calon Lokasi Landfill Tenorm. Prosiding

Seminar Nasional. Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN

Fakultas Teknik

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ISSN 1410-6086.


Iuliana Gabriela Breaban, Madalina Paiu. Application Of Drastic Model And Gis For
Evaluation

Of

Aquifer

Vulnerability:

Study

Case

Barlad

City

Area.

l.I.CuzaUniversity, Faculty of Geography and Geology. ISBN: 978-606-605-038-8


Badan Geologi. Penataan Guna Air Tanah.

(Online), http://pag.bgl.esdm.go.id/siat/?

q=content/penatagunaan. di akses pada 5 Maret 2015.

13