Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

OD KERATITIS SUBEPITEL PROFUNDA

Pembimbing / Penguji :

Dr. Rosalia, Sp. M

Disusun oleh:

Sharania Manivannan
11.2014.182

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU PENYAKIT MATA
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS
PERIODE 25 MEI 2015- 27 JUNI 2015
1

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk Jakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS KASUS KECIL ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
RS MARDI RAHAYU, KUDUS, JAWA TENGAH
PERIODE 25 MEI 2015 27 JUN 2015
Nama : Sharania Manivannan
Nim : 11-2014-182

Tandatangan
............................................

Dr Pembimbing / Penguji : Dr Rosalia, Sp.M

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Agama
Pekerjaan
Tanggal pemeriksaan
Pemeriksa
Moderator

II.

.............................................

: Tn.Y
: 40 tahun
: Islam
: Tukang las
: 28 Mei 2015
: Sharania Manivannan
: Dr Rosalia, Sp.M

PEMERIKSAAN SUBJEKTIF
Auto anamnesis tanggal : 28 Mei 2015, jam 13.00 WIB
Keluhan utama
Mata kanan terasa mengganjal sejak dua minggu yang lalu.
Keluhan tambahan
Mata kanan burem dan sering silau jika terkena sinar matahari.
Riwayat penyakit sekarang
Dua minggu yang lalu setelah terkena gram waktu lagi mengendarai motor,
OS merasa mata kanannya perih, kemeng, dan terlihat merah, kadang
mengeluarkan air mata tetapi tidak banyak dan tidak banyak mengeluarkan
kotoran. OS juga merasa mata kanannya lebih sensitif terhadap sinar. OS berobat
ke dokter umum pada hari yang sama dan diberi obat tetes mata 6 kali sehari dan
2

obat minum (OS lupa apa saja obat minumnya). Setelah beberapa hari
menggunakan obat tersebut, OS merasa matanya masih terasa mengganjal dan
kemeng walaupun tidak merah seperti awalnya. Dua hari sebelum berobat ke poli
mata, OS menyadari penglihatan mata kanannya buram dibandingkan mata kiri.
Pasien datang ke poli mata RS Mardi Rahayu dengan keluhan utama mata kanan
terasa mengganjal. OS tidak pernah menggunakan lensa kontak, sebelumnya tidak
memakai kaca mata, dan tidak pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak memiliki riwayat sakit mata sebelumnya, tidak menggunakan
kacamata (penglihatan tidak buram), tidak ada darah tinggi, kencing manis, asma,
dan alergi.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang memilki penyakit dengan keluhan yang sama dengan
pasien.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum
Tanda Vital
Tekanan darah
Nadi
Respiration rate
Suhu
Kepala
Telinga
Hidung
Tenggorokkan
Thoraks
Jantung
Paru
Abdomen
Ekstremitas

: Compos mentis
: 120/80 mmHg
: 80x/menit
: 22x/menit
: 36,7C
: Normosefali, rambut hitam, distribusi merata
: Normotia, serumen (-), secret (-)
: Deviasi septum (-), secret (-)
: Tonsil T1/T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis
: BJ I-II regular, gallop (-), murmur (-)
: SN vesikuler, wheezing (-), ronki (-)
: Nyeri tekan (-), bising usus (+) 6x/menit, supel.
: Akral hangat, udem -/-

STATUS OPHTHALMOLOGI
3

Injeksi siliaris

OD

OS

Defek epitel dengan dasar keabu-abuan

OD
20/20 dengan false
Gerak bola mata normal.
Enopthalmus (-)
Exopthalmus (-)
Strabismus (-)
Nyeri tekan (-)
Edema (-)
Hiperemis (-)
Blefarospasme (-)
Lagopthalmus (-)
Ektropion (-)
Entropion (-)
Injeksi konjungtiva (-)
Injeksi siliar (+)
Bangunan patologis (-)
Infiltrat (-)
Kemosis (-)
Sekret (-)
Normal, warna putih

epitelisasi (+), sentral, tepi


rata, berbatas tegas, jaringan

PEMERIKSAAN
Visus
Koreksi
Bulbus Oculi

Palpebra

Conjunctiva

Sclera
Kornea

sikatrik(-), fluorescein tes(-),


tes sensibilitas kornea normal
Jernih
Kedalaman cukup
Hipopion (-)
Hifema (-)
Kripta (+)
Warna coklat
Edema (-)
Sinekia (-)
Atrofi (-)
Reguler
Letak sentral
Diameter 3 mm

Camera Oculi Anterior

Iris

Pupil

OS
20/20
Gerak bola mata normal.
Enopthalmus (-)
Exopthalmus (-)
Strabismus (-)
Nyeri tekan (-)
Edema (-)
Hiperemis (-)
Blefarospasme (-)
Lagopthalmus (-)
Ektropion (-)
Entropion (-)
Injeksi konjungtiva (-)
Injeksi siliar (-)
Bangunan patologis (-)
Infiltrat (-)
Kemosis (-)
Sekret (-)
Normal, warna putih
Bulat, jernih
Edem (-)
Infiltrat (-)
Sikatrik (-)
Tes sensibilitas normal
Jernih
Kedalaman cukup
Hipopion (-)
Hifema (-)
Kripta (+)
Warna coklat
Edema (-)
Sinekia (-)
Atrofi (-)
Reguler
Letak sentral
Diameter 3 mm
4

Refleks pupil L/TL :


(+ /+)
Jernih
Sulit dinilai
Sulit dinilai
Sulit dinilai

Refleks pupil L/TL : (+/+)


Lensa
Vitreus
Fundus Refleks

Jernih
Jernih
Positif
C/D ratio 0,3. Eksudasi - ,
arteri : vena = 2:3,

Retina

perdarahan - ,
neovaskularisasi - ,

Normal
Normal

I.

Tekanan Intra Okuler


Sistem Lakrimasi

eksudasi Normal
Normal

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Tidak ada

II.

RESUME
Subjektif
Dua minggu yang lalu setelah terkena gram waktu lagi mengendarai motor,
OS merasa mata kanannya perih, kemeng, dan terlihat merah, kadang
mengeluarkan air mata tetapi tidak banyak dan tidak banyak mengeluarkan
kotoran. OS juga merasa mata kanannya lebih sensitif terhadap sinar. OS berobat
ke dokter umum pada hari yang sama dan diberi obat tetes mata 6 kali sehari dan
obat minum (OS lupa apa saja obat minumnya). Setelah beberapa hari
menggunakan obat tersebut, OS merasa matanya masih terasa mengganjal dan
kemeng walaupun tidak merah seperti awalnya. Dua hari sebelum berobat ke poli
mata, OS menyadari penglihatan mata kanannya buram dibandingkan mata kiri.
Pasien datang ke poli mata RS Mardi Rahayu dengan keluhan utama mata kanan
terasa mengganjal. OS tidak pernah menggunakan lensa kontak, sebelumnya tidak
memakai kaca mata, dan tidak pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya.
Objektif
o Pemeriksaan fisik generalis dalam batas normal.
o VOD: 20/20 dengan false
VOS: 20/20
o Konjungtiva OD: injeksi siliar
o Kornea: epitelisasi (+), sentral, tepi rata, berbatas tegas, jaringan
sikatrik(-), fluorescein tes(-), tes sensibilitas kornea normal.

III.

DIAGNOSIS KERJA
5

OD Keratitis subepitel profunda


IV.

DIAGNOSIS BANDING
- OD makula kornea
- OD leukoma kornea
- OD corpus alienum
- OD nebula kornea

V.

PENATALAKSANAAN
Non-medika Mentosa
Medika Mentosa
-

VI.

Levofloksasin tab 500 mg


Ofloxacin
Vitamin B komplex (roborantia)
Artificial tears ED
Cendo polynel

1 dd tab 1 (p.o.)
4 dd gtt I OD
1 dd tab I (p.o.)
6 dd gtt I OD
4 dd gtt 1 OD

PROGNOSIS
OD

OS

Ad Functionam

Dubia Ad bonam

Ad bonam

Ad Sanationam

Dubia Ad bonam

Ad bonam

Ad Cosmetikum

Dubia Ad bonam

Ad bonam

Ad Vitam

Ad bonam

Ad bonam

VII.

EDUKASI
- Menggunakan obat yang benar dan teratur
- Kontrol teratur ke dokter mata (tiap 2-3 hari)
- Gunakan kaca mata pelindung
- Jangan mengucek mata
- Makan makanan bergizi dan istirahat cukup untuk membantu mempercepat
-

penyembuhan penyakit.
Mata jangan terlalu sering terpapar sinar matahari ataupun debu. Disarankan

menggunakan kacamata saat berada diluar ruangan.


Menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan sebelum memegang daerah
sekitar mata.

Tinjauan Pustaka
KERATITIS ET CAUSA CORPUS ALIENUM

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Kornea merupakan bagian anterior dari mata yang harus dilalui cahaya, dalam
perjalanan pembentukan bayangan di retina. Karena itu kornea harus tetap jernih dan
permukaannya rata agar tidak menghalangi proses pembiasan sinar. Kelainan yang bisa
merusak bentuk dan kejernihan kornea dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat,
terutama bila letaknya di sentral (daerah pupil), bila kelainan ini tidak diobati maka dapat
terjadi kebutaan. Kelainan kornea yang paling sering ditemukan adalah keratitis. Keratitis
merupakan suatu proses peradangan kornea yang dapat bersifat akut maupun kronis yang
disebabkan oleh berbagai faktor antara lain bakteri, jamur, virus atau karena alergi. keratitis
dapat dibagi menjadi beberapa golongan berdasarkan kedalaman lesi pada kornea
(tempatnya), penyebab dan bentuk klinisnya.
Berdasarkan tempatnya keratitis secara garis besar dapat dibagi menjadi keratitis
pungtata superfisialis, keratitis marginal dan keratitis interstitial.Berdasarkan penyebabnya
keratitis digolongkan menjadi keratitis bakterialis, keratitis fungal, keratitis viral, keratitis
akibat alergi.Kemudian berdasarkan bentuk klinisnya dapat dibagi menjadi keratitis sika,
keratitis flikten, keratitis nurmularis dan keratitis neuroparalitik.1
Gejala umum keratitis adalah visus turun perlahan, mata merah, rasa silau, dan merasa
ada benda asing di matanya.Gejala khususnya tergantung dari jenis-jenis keratitis yang
diderita oleh pasien. Gambaran klinik masing-masing keratitis pun berbeda-beda tergantung
dari jenis penyebab dan tingkat kedalaman yang terjadi di kornea, jika keratitis tidak
ditangani dengan benar maka penyakit ini akan berkembang menjadi suatu ulkus yang dapat
merusak kornea secara permanen sehingga akan menyebabkan gangguan penglihatan bahkan
dapat sampai menyebabkan kebutaan sehingga pengobatan keratitis haruslah cepat dan tepat
1

agar tidak menimbulkan komplikasi yang merugikan di masa yang akan datang terutama pada
pasien yang masih muda.1
2.1 Anatomi dan Fisiologi Kornea
7

Kornea merupakan bagian selaput mata yang tembus cahaya, bersifat transparan,
berukuran 11-12 mm horizontal dan 10-11 mm vertikal, tebal 0,6-1mm. Indeks bias kornea
1,375 dengan kekuatan pembiasan 80%. Sifat kornea yang dapatditembus cahaya ini
disebabkan oleh struktur kornea yang uniform, avaskuler dan diturgesensatau keadaan
dehidrasi relatif jaringan kornea yang dipertahankan oleh pompa bikarbonataktif pada endotel
dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih penting daripadaepitel dalam
mencegah dehidrasi, dan cedera kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih beratdaripada
cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel jauh menyebabkan sifat transparanhilang dan
edema kornea, sedangkan kerusakan epitel hanya menyebabkan edema lokalsesaat karena
akan menghilang seiring dengan regenerasi epitel.
Batas antara sclera dan kornea disebut limbus kornea.Kornea merupakan lensa
cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43 dioptri.Jika kornea oedem karena suatu
sebab, maka kornea juga bertindak sebagai prisma yang dapat menguraikan sinar sehingga
penderita akan melihat halo. Kornea bersifat avaskuler, maka sumber-sumber nutrisi kornea
berasal dari pembuluh-pembuluh darah limbus, humor aquaeus dan air mata. Kornea
superfisial juga mendapatkan oksigen sebagian besar dari atmosfer. Kornea dipersarafi oleh
banyak serat saraf sensorik yang didapat dari percabangan pertama (oftalmika) dari nervus
kranialis V yang berjalan supra koroid, masuk kedalam stromakornea, menembus membran
bowman dan melepaskan selubung schwannya.
Bulbus Krause untuksensasi dingin ditemukan didaerah limbus. Daya regenerasi saraf
sesudah dipotong didaerahlimbus terjadi dalam waktu 3 bulan. Kornea merupakan lapis
jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas lima lapisan dari anterior ke
posterior yaitu: lapisan epitel (yang bersambung dengan lapisan epitel konjungtiva bulbaris),
membran bowman, stroma, membran descemet dan lapisan endotel.2
1. Epitel
Lapisan epitel kornea tebalnya50m berbentuk pipih berlapis tanpa tanduk, ada satu
lapis sel basal dan sel polygonal. Sel bersifat fat soluble substance. Pada sel basal sering
terlihat mitosis sel dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan semakin
maju kedepan menjadi sel pipih, sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan
sel polygonal didepannya melalui desmosom dan macula okluden. Ikatan ini menghambat

pengaliran air, elektrolit dan glukosa melalui barrier. Sel basal menghasilkan membran basal
yang saling melekat erat. Bila terjadi gangguan akan menjadi erosi rekuren. Ujung saraf
kornea berakhir di epitel, oleh karena itu kelainan pada epitel akan menyebabkan gangguan
sensibilitas korena dan rasa sakit dan mengganjal. Dayaregenerasi epitel juga cukup besar.
2. Membran Bowman
Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagenyang
tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapisan ini tidak
mempunyai daya regenerasi.Kerusakan pada lapisan ini akan berakhir dengan terbentuknya
jaringan parut.
3. Stroma
Stroma merupakan lapisan yang paling tebal dari kornea, mencakup sekitar 90% dari
ketebalan kornea. Bersifat water soluble substance.Terdiri atas jaringan kolagen yang
tersusun atas lamel-lamel, pada permukaannya terlihatanyaman yang teratur sedang dibagian
perifer serat kolagen bercabang. Stromabersifat higroskopis yang menarik air, kadar air diatur
oleh fungsi pompa sel endoteldan penguapan oleh sel epitel. Terbentuknya kembali serat
kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadangsampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel
stroma kornea yang merupakan fibroblastterletak di antara serat kolagen stroma. Diduga
keratosit membentuk bahan dasar danserat kolagen dalam perkembangan embrio atau
sesudah trauma.
4. Membran Descemet
Merupakan membran aselular yang tipis, kenyal, kuat dan bening, terletak dibawah
stroma dan pelindung atau barrier infeksi dan masuknya pembuluhdarah. Membran ini sangat
elastisdan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40m.1,2
5. Endotel
Merupakan lapisan kornea yang penting untuk mempertahankan kejernihan kornea,
mengaturcairan didalam stroma kornea dan tidak mempunyai daya regenerasi, sehingga
endotel mengkompensasi sel-sel yang mati dengan mengurangi kepadatan seluruh endotel
dan memberikan dampak pada regulasi cairan, jika endotel tidak lagi dapat menjaga
keseimbangan cairan akibat gangguan sistem pompa endotel, maka stroma akan bengkak
karena kelebihan cairan (edema kornea) dan hilangnya transparansi (kekeruhan) akan terjadi.
Dapat rusak atau terganggu fungsinya akibat traumabedah, penyakit intraokuler dan usia
lanjut. Lapisan endotel berasal dari mesotalium, terdiri atas satu lapis sel berbentuk

heksagonal dengan tebal 20-40m yang melekat padamembran descmet melalui hemi
desmosom dan zonula okluden.
2.2 Keratitis
2.2.1 Definisi
Keratitis adalah radang pada kornea atau infiltrasi sel radang pada kornea yang akan
mengakibatkan kornea menjadi keruh sehingga tajam penglihatan menurun. Infeksi pada
kornea bisa mengenai lapisan superficial yaitu pada lapisan epitel atau membran bowman
danlapisan profunda jika sudah mengenai lapisan stroma.
2.2.2 Epidemiologi
Menurut Murillo Lopez (2006), Sekitar 25.000 orang Amerika terkena keratitisbakteri per
tahun. Kejadian keratitis bakteri bervariasi, dengan lebih sedikit pada negara-negaraindustri
yang secara signifikan lebih sedikit memiliki jumlah pengguna lensa kontak. Insiden keratitis
jamur bervariasi sesuai dengan lokasi geografis dan berkisar dari2% dari kasus keratitis di
New York untuk 35% di Florida. Spesies Fusarium merupakanpenyebab paling umum infeksi
jamur kornea di Amerika Serikat bagian selatan (45-76% darikeratitis jamur), sedangkan
spesies Candida dan Aspergillus lebih umum di negara-negara utara. secara signifikan lebih
sedikit yang berkaitan dengan infeksi lensa kontak.3
2.2.3 Etiologi
Keratitis dapat disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya:
1. Virus
2. Bakteri
3. Jamur
4. Paparan sinar ultraviolet seperti sinar matahari atau sunlamps. Hubungan ke
sumbercahaya yang kuat lainnya seperti pengelasan busur
5. Iritasi dari penggunaan berlebihan lensa kontak.
6. Mata

kering

yang

disebabkan

oleh

kelopak

mata

robek

atau

tidak

cukupnyapembentukan air mata


7. Adanya benda asing di mata
8. Reaksi terhadap obat tetes mata, kosmetik, polusi, atau partikel udara seperti
debu,serbuk sari, jamur, atau ragi

10

9. Efek samping obat tertentu.3


2.2.4 Patofisiologi
Mata yang kaya akan pembuluh darah dapat dipandang sebagai pertahananimunologik
yang alamiah. Pada proses radang, mula-mula pembuluh darah mengalamidilatasi, kemudian
terjadi kebocoran serum dan elemen darah yang meningkat dan masuk kedalam ruang
ekstraseluler. Elemen-elemen darah makrofag, leukosit polimorf nuklear,limfosit, protein Creaktif imunoglobulin pada permukaan jaringan yang utuh membentukgaris pertahanan yang
pertama. Karena tidak mengandung vaskularisasi, mekanisme korneadimodifikasi oleh
pengenalan antigen yang lemah. Keadaan ini dapat berubah, kalau dikornea terjadi
vaskularisasi. Rangsangan untuk vaskularisasi timbul olehadanya jaringan nekrosis yang
dapat dipengaruhi adanya toksin, protease atau mikroorganisme.Secara normal kornea yang
avaskuler tidak mempunyai pembuluh limfe. Bila terjadivaskularisasi terjadi juga
pertumbuhan pembuluh limfe dilapisi sel.
Reaksi imunologik dikornea dan konjungtiva kadang-kadang disertai dengan kegiatan
imunologik dalam noduslimfe yang masuk limbus (korneaperifer) dan sklera yang
letaknyaberdekatan dapat ikut terkaitdalam sindrom iskhemik kornea perifer, suatu kelainan
yang jarang terjadi, tetapi merupakankelainan yang serius.Patofisiologi keadaan ini tidak
jelas, Antigen cenderung ditahan oleh komponen polisakarida di membranabasalis. Dengan
demikian antigen dilepas dari kornea yang avaskuler, dan dalam waktu lamaakan
menghasilkan akumulasi sel-sel yang memiliki kompetensi imunologik di limbus. Sel-selini
bergerak ke arah sumber antigen di kornea dan dapat menimbulkan reaksi imun di tepi
kornea.
Sindrom iskhemik dapat dimulai oleh berbagai stimuli. Bahwa pada prosesimunologik
secara histologik terdapat sel plasma, terutama di konjungtiva yang berdekatandengan ulkus.
Penemuan sel plasma merupakan petunjuk adanya proses imunologik. Padakeratitis herpetika
yang khronik dan disertai dengan neo-vaskularisasi akan timbul limfosit
yang sensitif terhadap jaringan kornea.4
2.2.5 Klasifikasi
Klasifikasi keratitis berdasarkan lapisan kornea yang terkena, yaitu:

11

A. Keratitis Pungtata
Keratitis yang terkumpul di daerah Bowman, dengan infiltrat berbentuk bercak-bercak halus.
Keratitis pungtata superfisial memberikan gambaran seperti infiltrat halus bertitik-titikpada
permukaan kornea. Merupakan cacat halus kornea superfisial dan hijau biladiwarnai
fluoresein. Sedangkan keratitis pungtata subepitel adalah keratitis yang terkumpuldi daerah
membran Bowman.3,4
B. Keratitis Marginal
Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus. Penyakit infeksi
lokal konjungtiva dapat menyebabkan keratitis kataral atau keratitis marginal ini. Keratitis
marginal kataral biasanya terdapat pada pasien setengah umur dengan adanya
blefarokonjungtivitis.
C. Keratitis Interstitial
Keratitis interstitial adalah kondisi serius dimana masuknya pembuluh darah kedalam kornea
dan dapat menyebabkan hilangnya transparansi kornea. Keratitis interstitial dapat berlanjut
menjadi kebutaan. Sifilis adalah penyebab paling sering dari keratitis interstitial.
Klasifikasi keratitis berdasarkan penyebabnya, yaitu :
A. Keratitis Bakteri
1. Faktor Risiko
Setiap faktor atau agen yang menciptakan kerusakan pada epitel kornea adalah
potensipenyebab atau faktor risiko bakteri keratitis, beberapa faktor risiko terjadinya keratitis
bakteri diantaranya:

Penggunaan lensa kontak

Trauma

Kontaminasi pengobatan mata

Riwayat keratitis bakteri sebelumnya

Riwayat operasi mata sebelumnya

Gangguan defense mechanism

Perubahan struktur permukaan kornea

12

Tabel 1. Etiologi Keratitis Bakteri.4

2. Manifestasi Klinis
Pasien keratitis biasanya mengeluh mata merah, berair, nyeri pada mata yang
terinfeksi, penglihatan silau, adanya sekret dan penglihatan menjadi kabur. Pada pemeriksaan
bola mata eksternal ditemukan hiperemis perikornea, blefarospasme, edema kornea, infiltrasi
kornea.3,4
3. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan kultur bakteri dilakukan dengan menggores ulkus kornea dan bagian
tepinya dengan menggunakan spatula steril kemudian ditanam di media cokelat,
darah dan agar Sabouraud, kemudian dilakukan pengecatan dengan Gram.

Biopsy kornea dilakukan jika kultur negatif dan tidak ada perbaikan secara klinis
dengan menggunakan blade kornea bila ditemukan infiltrat dalam di stroma.

4. Terapi
Dapat diberikan inisial antibiotik spektrum luas sambil menunggu hasil kultur bakteri.
Berikut tabel pengobatan inisial antibiotik yang dapat diberikan:

13

Tabel 2. Terapi inisial untuk keratitis bakteri.5

B. Keratitis Fungi (Jamur)


1. Etiologi
Keratitis jamur dapat disebabkan oleh:
a. Jamur berfilamen (filamentous fungi)
Bersifat multiseluler dengan cabang-cabang hifa, terdiri dari:

Jamur

bersepta

Cladosporiumsp,

Furasium

Penicillium

sp,
sp,

Acremonium
Paecilomyces

sp,
sp,

Aspergillus

sp,

Phialophora

sp,

Curvularia sp, Altenariasp.

Jamur tidak bersepta : Mucor sp, Rhizopus sp, Absidia sp.

b. Jamur ragi (yeast) yaitu jamur uniseluler dengan pseudohifa dan tunas :Candida
albicans, Cryptococcus sp, Rodotolura sp.
c. Jamur

difasik.

Pada

pembiakanmembentuk

jaringan
miselium

hidup
:

membentuk

Blastomices

sp,

ragi

sedang

media

Coccidiodidies

sp,

Histoplastoma sp,Sporothrix sp.

14

2. Patologi
Hifa jamur cenderung masuk stroma secara paralel ke lamella kornea.Mungkin ada
nekrosis koagulatif stroma kornea yang meluas dengan edema seratkolagen dan keratosit.
Reaksi inflamasi yang menyertai kurang terlihat daripadakeratitis bakterialis. Abses cincin
steril mungkin ada yang terpisah pusat ulkus.Mikroabses yang multipel dapat mengelilingi
lesi utama. Hifa berpotensi masuk ke membran descemet yang intak dan menyebar ke kamera
okuli anterior.4
3. Manifestasi Klinis
Reaksi peradangan yang berat pada kornea yang timbul karena infeksi jamur dalam
bentuk mikotoksin, enzim-enzim proteolitik, dan antigen jamur yang larut. Agen-agen ini
dapat menyebabkan nekrosis pada lamella kornea, peradangan akut ,respon antigenik dengan
formasi cincin imun, hipopion, dan uveitis yang berat.
Ulkus kornea yang disebabkan oleh jamur berfilamen dapat menunjukkan infiltrasi
abu-abu sampai putih dengan permukaan kasar, dan bagian kornea yangtidak meradang
tampak elevasi keatas. Lesi satelit yang timbul terpisah dengan lesiutama dan berhubungan
dengan mikroabses stroma. Plak endotel dapat terlihat paralelterhadap ulkus. Cincin imun
dapat mengelilingi lesi utama, yang merupakan reaksi antara antigen jamur dan respon
antibodi tubuh. Sebagai tambahan, hipopion dansekret yang purulen dapat juga timbul.
Reaksi injeksi konjungtiva dan kamera okulianterior dapat cukup parah.Untuk menegakkan
diagnosis klinik dapat dipakai pedoman berikut :

Riwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian steroid topikal lama

Lesi satelit

Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang ireguler dan tonjolan sepertihifa
di bawah endotel utuh

Plak endotel

Hypopyon, kadang-kadang rekuren

Formasi cincin sekeliling ulku

Lesi kornea yang indolen

15

4. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan kerokan kornea(sebaiknya


dengan spatula Kimura) yaitu dari dasar dan tepi ulkus denganbiomikroskop.
Dapat dilakukan pewarnaan KOH, Gram, Giemsa atau KOH + TintaIndia.

Biopsi jaringan kornea dan diwamai dengan PeriodicAcid Schiff atau


Methenamine Silver.4,5

5. Terapi
Obat-obat anti jamur yang dapat diberikan meliputi:

Polyenes termasuk natamycin, nistatin, dan amfoterisin B.

Azoles (imidazoles dan triazoles) termasuk ketoconazole, Miconazole,


flukonazol, itraconazole, econazole, dan clotrimazole.

C. Keratitis Virus
1. Etiologi
Herpes Simpleks Virus (HSV) merupakan salah satu infeksi virus tersering pada kornea.Virus
herpes simpleks menempati manusia sebagai host, merupakan parasit intraselularobligat,
dapat ditemukan pada mukosa, rongga hidung, rongga mulut, vagina dan mata.Penularan
dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dan jaringan mata, rongga hidung,mulut, alat
kelamin yang mengandung virus.
2. Patofisiologi
Patofisiologi keratitis herpes simpleks dibagi dalam 2 bentuk :

Pada epitelial : kerusakan terjadi akibat pembiakan virus intraepitelial


mengakibatkankerusakan sel epitel dan membentuk tukak kornea superfisial.

Pada stromal : terjadi reaksi imunologik tubuh terhadap virus yang menyerang
yaitureaksi antigen-antibodi yang menarik sel radang ke dalam stroma. Sel radang
inimengeluarkan bahan proteolitik untuk merusak virus tetapi juga akan merusak
stromadi sekitarnya.

3. Manifestasi Klinis
Pasien dengan HSV keratitis mengeluh nyeri, fotofobia, penglihatan kabur, mata
berair, mata merah, tajam penglihatan turun terutama jika bagian pusat yang terkena.
16

Infeksi primer herpes simpleks pada mata biasanya berupa konjungtivitis folikularis akut
disertai

blefaritis

vesikuler

yang

ulseratif,

serta

pembengkakan

kelenjar

limfe

regional.Kebanyakan penderita juga disertai keratitis epitelial dan dapat mengenai stroma
tetapijarang.
Pada dasarnya infeksi primer ini dapat sembuh sendiri, akan tetapi pada
keadaantertentu di mana daya tahan tubuh sangat lemah akan menjadi parah dan menyerang
stroma
4. Pemeriksaan Penunjang
Usapan epitel dengan Giemsa multinuklear noda dapat menunjukkan sel-sel raksasa, yang
dihasilkan dari perpaduan dari sel-sel epitel kornea yang terinfeksi dan virus intranuclear
inklusi.
5. Terapi

Debridement

Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah debridement epithelial, karena


virusberlokasi didalam epithelial. Debridementjuga mengurangi beban antigenic virus pada
stroma kornea. Epitel sehat melekat eratpada kornea namun epitel yang terinfeksi mudah
dilepaskan. Debridement dilakukandengan aplikator berujung kapas khusus. Obat siklopegik
seperti atropine 1% atauhomatropin 5% diteteskan kedalam sakus konjungtiva, dan ditutup
dengan sedikittekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya sampai
defekkorneanya sembuh umumnya dalam 72 jam.5

Terapi Obat
IDU(Idoxuridine) analog pirimidin (terdapat dalam larutan 1% dan
diberikan setiap jam, salep 0,5% diberikan setiap 4 jam)
Vibrabin: sama dengan IDU tetapi hanya terdapat dalam bentuk salep
Trifluorotimetidin (TFT): sama dengan IDU, diberikan 1% setiap 4 jam
Asiklovir (salep 3%), diberikan setiap 4 jam.
Asiklovir oral dapat bermanfaat untuk herpes mata berat, khususnya
padaorang atopi yang rentan terhadap penyakit herpes mata dan kulit
agresif.

17

Terapi Bedah

Keratoplasti penetrans mungkin diindikasikan untuk rehabilitasi penglihatan pasienyang


mempunyai parut kornea yang berat, namun hendaknya dilakukan beberapabulan setelah
penyakit herpes non aktif.6
D. Keratitis Alergi
1. Etiologi
Reaksi hipersensitivitas

tipe I yang mengenai kedua mata, biasanya

penderita

seringmenunjukkan gejala alergi terhadap tepung sari rumput-rumputan.


2. Manifestasi Klinis

Bentuk palpebra: cobble stone (pertumbuhan papil yang besar), diliputi


sekretmukoid.

Bentuk limbus: tantras dot (penonjolan berwarna abu-abu, seperti lilin)

Gatal

Fotofobia

Sensasi benda asing

Mata berair dan blefarospasme

3. Terapi

Biasanya sembuh sendiri tanpa diobati

Steroid topikal dan sistemik

Kompres dingin

Obat vasokonstriktor

Cromolyn sodium topikal

Koagulasi cryo CO2.

Pembedahan kecil (eksisi).

Antihistamin umumnya tidak efektif

Kontraindikasi untuk pemasangan lensa kontak

18

Klasifikasi keratitis berdasarkan bentuk klinisnya, yaitu:


A. Keratitis Flikten/Skrofulosa/Eksemtosa
Flikten merupakan benjolan berdiameter 1-3 mm berwarna abu-abu pada lapisan superfisial
kornea.Epitel diatasnya mudah pecah dan membentuk ulkus.Ulkus ini dapat sembuh atau
tanpa meninggalkan sikatrik.Adapula ulkus yang menjalar dari pinggir ke tengah, dengan
pinggir meninggalkan sikatrik sedangkan bagian tengah nya masih aktif, yang disebut wander
phlyctaen. Keadaan ini merupakan proses yang mudah sembuh, tetapi kemudian kambuh lagi
di tempat lain bila penyebabnya masih ada dan dapat menyebabkan kelainan kornea
berbentuk bercak-bercak sikatrik, menyerupai pulau-pulau yang disertai geographic
pattern. 5,6
B. Keratitis Sika
Merupakan peradangan konjungtiva dan kornea akibat keringnya permukaan kornea dan
konjungtiva. Penyebab keringnya permukaan konjungtiva dan kornea, yaitu:
Berkurangnya komponen lemak, seperti pada blefaritis
Berkurangnya airmata, seperti pada syndrome syrogen, setelah memakai obat diuretik,
atropin atau dijumapai pada usia tua.
Berkurangnya komponen musin, dijumpai pada keadaan avitaminosis A, penyakitpenyakit yang menyebabkan cacatnya konjungtiva, seperti trauma kimia, Sindrom
Steven Johnson, trakoma.
Penguapan yang berlebihan seperti pada kehidupan gurun pasir, lagoftalmus, keratitis
neuroparalitika.
Adanya sikatrik pada kornea.
Gejala klinis yang sering timbul yaitu mengeluh mata terasa gatal, terasa seperti ada
pasir,fotopobi,visus menurun, secret lengket, mata terasa kering. Dari hasil pemeriksaan
didapatkansekret mukus dengan tanda-tanda konjungtivitis dengan xerosis konjuntiva,
sehingga konjungtiva bulbi edema, hiperemi, menebal, kering, tak mengkilat, warnanya
mengkilat. Terdapat infiltrat-infiltrat kecil,letak epiteleal,tes fluoresen (+). Terdapat juga
19

benang-benang (filamen) yang sebenarnya sekret yang menempel, karena itu, disebut juga
keratitis filamentosa.
C. Keratitis Numularis
Diduga dari virus. Pada klinis, tanda-tanda radang tidak jelas, terdapat infiltrat bulat-bulat
subepitelial di kornea, dimana tengahnya lebih jernih, disebut halo (diduga terjadi karena
resorpsi dari infiltrat yang dimulai di tengah). Tes fluoresen (-).Keratitis ini kalau sembuh
meninggalkan sikatrik yang ringan.
2.2.6 Komplikasi
Komplikasi yang paling ditakuti dari keratitis adalah penipisan kornea dan akhirnya
perforasi kornea yang dapat mengakibatkan endophtalmitis sampai hilangnya penglihatan
(kebutaan). Beberapa komplikasi yang lain diantaranya:

Gangguan refraksi

Jaringan parut permanent

Ulkus kornea

Perforasi kornea

Glaukoma sekunder

2.2.7

Prognosis

Keratitis dapat sembuh dengan baik jika ditangani dengan tepat dan jika tidak diobati dengan
baik dapat menimbulkan ulkus yang akan menjadi sikatriks dan dapat mengakibatkan hilang
penglihatan selamanya.
Prognosis visual tergantung pada beberapa faktor, tergantung dari:

Virulensi organisme.

Luas dan lokasi keratitis.

Hasil vaskularisasi dan atau deposisi kolagen.6

BAB III
KESIMPULAN
Keratitis merupakan suatu infeksi pada kornea yang ditandai dengan adanya infiltrat
yang disebabkan oleh beberapa faktor. Berdasarkan tempatnya keratitis secara garis besar

20

dapat dibagi menjadi keratitis pungtata superfisialis, keratitis marginal dan keratitis
interstitial. Berdasarkan penyebabnya keratitis digolongkan menjadi keratitis bakterialis,
keratitis fungal, keratitis viral dan keratitis akibat alergi. Kemudian berdasarkan bentuk
klinisnya dapat dibagi menjadi keratitis sika, keratitis flikten, keratitis nurmularis dan
keratitis neuroparalitik.
Gejala umum keratitis adalah visus turun mendadak, mata merah, rasa silau, dan
merasa ada benda asing di matanya. Gejala khususnya tergantung dari jenis-jenis keratitis
yang diderita oleh pasien. Gambaran klinik masing-masing keratitis pun berbeda-beda
tergantung dari jenis penyebab dan tingkat kedalaman yang terjadi di kornea, jika keratitis
tidak ditangani dengan benar maka penyakit ini akan berkembang menjadi suatu ulkus yang
dapat merusak kornea secara permanen sehingga akan menyebabkan gangguan penglihatan
bahkan dapat sampai menyebabkan kebutaan.6
DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Ophthalmology. External Eye Disease and Cornea. San Fransisco
2008-2009. p. 179-90
2. Roderick B. Kornea. In: Vaughan & Asbury. Oftalmologi Umum Edisi 17. Jakarta : EGC.
2009. p. 125-49.
3. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata edisi2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2002. p.113116
4. Mansjoer, Arif M. 2001. Kapita Selekta edisi-3 jilid-1. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.
Hal: 56
5. Thygeson P. "Superficial Punctate Keratitis". Journal of the American Medical
Association.1997.

144:1544-1549. Available at : http://webeye. ophth.uiowa.edu/

dept/service/cornea/cornea.htm (accessed: June 2015)


6. Reed, KK. 2007. Thygeson's SPK photos. Nova Southeastern University College of
Optometry 3200 South University Drive Ft. Lauderdale, Florida. Available at:
http://www.fechter.com/Thygesons.htm. (June 2015)

21