Anda di halaman 1dari 56

McDonaldisasi adalah istilah yang dipakai oleh sosiolog George Ritzer dalam

bukunya, The McDonaldization of Society (1993). Ia menjelaskan bahwa


McDonaldisasi terjadi ketika suatu budaya memiliki ciri-ciri restoran makanan
cepat saji. McDonaldisasi adalah rekonseptualisasi rasionalisasi, atau
perpindahan dari mode pemikiran tradisional ke rasional, dan manajemen ilmiah.
Jika Max Weber memakai model birokrasi untuk mewakili arah masyarakat yang
mengalami peralihan, Ritzer memandang bahwa restoran cepat saji telah
menjadi paradigma kontemporer yang lebih mengena pemikirannya (Ritzer,
2004:553). Dalam masyarakat kontemporer, konsep McDonaldisasi mendapat
perhatian dalam berbagai aspek seperti budaya. Tesis McDonaldisasi dalam versi
budayanya merupakan ide komparatif baru mengenai homogenisasi budaya
global.[1] Proses McDonaldisasi dapat diringkas menjadi "prinsip-prinsip restoran
cepat saji yang semakin mendominasi sektor-sektor masyarakat Amerika Serikat
dan seluruh dunia

McDONALISASI
(Sebuah Model Globalisasi dan Modernisasi Sistem Sosial)
1. LATAR BELAKANG
McDonalisasi merupakan komsumsi baru bagi masyarakat perkotaan maupun di pedesaan.
Dipedesaan ingin mengetahui bagaimana rasanya, ini sebuah pengalaman yang saya rasakan
kalau kalau ke desa, keluarga, adik, om bertanya hamburger, donkin donat dan pizza hutt
yang bagaimana, dan juga bilang yang biasa ke kota pernah merasakan enak dan sebagainya,
pengalaman saya ini didesa mebuktikan bahwa betapa besar pengaruh makanan modern itu,
masyarakat pedesaan saja begitu ingin mengetahui.
McDonalisasi merupakan sebuah proses dengan apa prinsip-prinsip dari restoran cepat saji
semakin lama semakin banyak sector dari masyarakat Amerika dan sejumlah besar
masyarakat lainnya di seluruh dunia. Ada beberapa prinsip kerja yang menjadi model
McDonalisasi yaitu: efesiensi, kemampuan memperhitungkan, kemampuan memperediksi
dan mengontrol terutama melalui penggantian tehnologi manusia dengan mesin. Dan tidak
saja pada industry cepat saji tetapi diterapkan pada industry pendidikan, politik agama, serta
peradilan criminal.
Pokok pembahasan makalah kelompok V bukan pada McDonal sibagai pola komsumsi
masyarakat modern, namun pada sistem yang diterapkan McDonal dalam proses sosial
masyarakat modern. Ritzer(1999; 567) McDonalisasi adalah salah satu dari alat komsumsi
yang baru, selain alat lainnya, seperti mall, megamall,(misalnya Mall of Amaerca) cybermall,
superstore ( misalnya, Toys, R Us) discounter (WalMart), salauran hiburan, hotel-kasino
Las Vegas, teman bertemakan ala Disney dan sebagainya.
McDonaldisasi adalah istilah yang dikemukakan oleh George Ritzer (sosiolog dari
Universitas Maryland) dalam The McDonaldization of Society (1993) untuk menunjukkan
suatu proses dimana prinsip-prinsip restoran cepat saji (lebih khusus lagi: McDonalds) mulai
mendominasi berbagai sektor masyarakat di seluruh dunia, mulai dari bisnis restoran, agama,
seks, pendidikan, dunia kerja, biro periklanan, politik, program diet, keluarga dsb.

Empat Prinsip McDonaldisasi


Ritzer menjelaskan empat prinsip McDonalds (dan model McDonalds) yang kemudian
mendominasi sektor lain (McDonaldisasi).
Pertama, McDonalds menawarkan efisiensi. Sistem McDonalds menawarkan kepada kita
sebuah metode yang optimal untuk mendapatkan satu hal ke hal yang lain. Secara umum
McDonalds menawarkan cara-cara terbaik untuk mengubah rasa lapar kita menjadi kenyang.
Kedua, McDonalds menawarkan kepada kita makanan dan layanan yang terkuantifikasi dan
terkalkulasi. McDonalds membuktikan nilai budaya yang diyakini banyak orang, yang lebih
besar adalah yang lebih baik, kuantitas adalah sejajar dengan kualitas. Karena itu kita
memesan Big Mac, karena kita dapat mengkalkulasi dan merasakan bahwa kita mendapatkan
porsi makanan yang lebih besar dan banyak.
Ada bentuk kalkulasi lain yang ditawarkan McDonalds, yaitu kalkulasi penghematan waktu.
McDonalds menjanjikan, entah benar atau tidak, bahwa pergi dan makan di McDonalds
lebih hemat waktu ketimbang makan di rumah. Kalkulasi waktu ini juga meruapak kunci
sukses sistem home-delivery (pesanan diantar ke rumah) McDonalds. Beberapa restoran
cepat saji mengkombinasikan kalkulasi waktu ini dengan uang. Misalnya Pizza Hut (tidak di
semua tempat/kota) menjanjikan pesanan pan pizza akan sampai dalam 5 menit atau pizza itu
menjadi milik Anda tanpa perlu membayar.
Ketiga, McDonalds menawarkan kepada kita keterprediksian. Kita tahu bahwa Big Mac
yang kita makan di Malioboro Mall akan sama isi dan rasanya dengan apa yang akan kita
makan di New York atau Chicago. Kita juga mengetahui bahwa apa yang kita pesan minggu
depan atau tahun depan akan identik dengan apa yang kita makan hari ini. Mengetahui bahwa
McDonalds tidak menawarkan kejutan adalah sebuah kenyaman besar, bahwa makanan yang
kita makan dalam satu waktu atau satu tempat pasti akan identik dengan yang akan kita
makan di waktu dan tempat yang lain. Kita tahu bahwa Big Mac berikutnya yang kita makan
tidak akan tidak enak, tidak ada pengecualian bagi kelezatan, semuanya pasti akan lezat dan
enak. Kesuksesan McDonalds mengindikasikan bahwa banyak orang lebih senang dengan
sebuah dunia tanpa kejutan.
Keempat, McDonalds menawarkan kontrol, terutama penggantian pekerja manusia dengan
mesin. Orang-orang yang bekerja di restoran cepat saji dilatih untuk melakukan hal-hal yang
sangat terbatas dengan sangat tepat seperti yang diperintahkan. Manajer harus mendapat
kepastian bahwa semuanya bekerja pada jalurnya. Orang yang makan di di restoran cepat saji
juga terkontrol, meskipun secara tidak langsung. Aturan-aturan, menu terbatas, pilihan
terbatas, kursi yang tidak nyaman, semuanya mengarahkan acara makan seperti yang
diinginkan oleh manajemen: makan cepat dan pergi.
McDonalds juga mengontrol orang dengan mengganti pekerja manusia dengan mesin.
Pekerja manusia, betapapun terlatihnya mereka, masih dapat berbuat kesalahan yang akan
mengacaukan sistem. Pekerja yang kurang tangkas juga membuat pemasakan dan
pengantaran Big Mac menjadi tidak efisien. Pekerja yang lainnya juga bisa saja kelupaan
menambahkan saus khusus untuk hamburger, yang membuatnya menjadi tak terprediksi.
Yang lain lagi bisa saja memasukkan kentang terlalu banyak ke dalam kotak, sehingga sajian
kentang menjadi jelek dan kedodoran. Dengan banyak alasan lain, McDonalds mengganti
manusia dengan mesin, seperti soft-drink dispenser yang akan berhenti secara otomatis begitu

gelas penuh, mesin penggoreng kentang yang akan berbunyi begitu kentang renyah, mesin
pembayaran yang terprogram yang membuat kasir meminimalkan penjumlahan, dan yang
segera menyusul adalah robot pembuat hamberger. Semua teknologi ini menjanjikan kerja
yang lebih terkontrol di restoran cepat saji.
Prisip-prinsip McDonalds adalah komponen dasar sistem masyarakat modern yang rasional.
Ritzer menunjukkan bagaimana sistem yang rasional ini sebenarnya penuh dengan
irasionalitas. Meningkatnya layanan home-delivery di Jepang misalnya, bukannya
meningkatkan efisiensi, tetapi malah membuat jalan raya dipenuhi mobil-mobil pengantar
pesanan dan membuat meningkatnya kemacetan. Contoh lain, karena kantor-kantor dipenuhi
dengan mesin-mesin penjawab dan pengatur lalu-lintas telepon, kini untuk menghubungi
seseorang kita harus melewati banyak sekali nomor.
Penggantian manusia dengan mesin dengan dalih efisiensi juga bisa dipertanyakan: efisien
untuk siapa? Dalam kasus mesin ATM misalnya, kita bisa melihat dari perspektif pemilik
bank bahwa ini berarti mempekerjakan orang dengan tanpa dibayar (yaitu konsumen yang
diposisikan sebagai pengganti teller). Dari perspektif ini akhirnya konsumenlah yang harus
melakukannya sendiri; melakukan transaksi, mengambil nota, menghitung uang dsb.
Berdasarkan pemaparan dilatar belakang diatas, maka permasalahan ini bahas dan
didiskusikan.
1. RUMUSAN MASALAH.
Apakah dengan sistem McDonalisasi efektifitas dan efesiensi sistem sosial masyarakat sudah
sesuai harapan ?
1. PEMBAHASAN MAKALAH
Ritzer(1999; 567) McDonalisasi adalah salah satu dari alat komsumsi yang baru, selain alat
lainnya, seperti mall, megamall,(misalnya Mall of Amaerca) cybermall, superstore
( misalnya, Toys, R Us) discounter (WalMart), salauran hiburan, hotel-kasino Las Vegas,
teman bertemakan ala Disney dan sebagainya. Setiap dimensi McDonalisasi dapat
menggunakan kartu keredit membantu masyarakat berbelanja makan pizza hutt tampa uang
kontan di tangan.
Proses modernisasi dan globalisasi mencakup proses yang sangat luas dan sifatnya sangat
relative, tergantung pada dimensi dan waktu. System budaya pramodern sebenarnya telah
memiliki perhitungan waktu. System kalender merupakan kekuatan kebudayaan yang banyak
dimiliki masyarakat agraris untuk menetukanmasa tanam dan masa panen. Waktu masih
dikaitkan dengan dimensi ruang dan tempat sampai dengan keseragaman pengukuran waktu
oleh jam mekanis yang dicocokan dengan keragaman dalam organisasi social waktu. Salah
satu aspek utama adalah adanya standarisasi kalender Internasional (Giddens, 2005)
Cirri-ciri modern menurut Kumar (1994) yang
1. Individualsm, era modern individu mempunyai peran yang sangat besar dalam system
social.

2. Deferensiasi yaitu terjadinya spesialisasi bidang kerja dan profesionalisme, sehingga


memerlukan keragaman keterampilan.gaya hidup, komsumsi
3. Rasionalitas yaitu adanya cirri efisiensi dan rasional dalam aspek kehidupan
4. Ekonomisme yaitu adanya domnasi aktivitas ekonomi, tujuan ekonomi, kreteria
ekonomi, dan prestasi ekonomi.
Selanjutnya Lauer (1982) memberikan beberapa fenomena yang merupakan imbas
modernisasi yaitu: terdapat kecendrungan peningkatan peran status wanita, wanita dan remaja
mendapatkan status baru dan wanita tua kehilangan status tingginya, posisi perempuan
mendat tempat dalam masyarakat modern, seiring dengan emansipasi wanita yang
memposisikan perempuan sama derajad dengan laki-laki.
Konsep modernisasi mengacu pada pemikiran Comte, maka dapat dicirikan dengan karakter
manusia yang semakin mengedepankan akal sehat, yang kemudian diistil;akan dengan
perkembangan positivism. Perkembangan akal pemikiran manusia akan menyingkirkan
berbagai pemikiran yang selalu mengagung-agungkan mitos ataupun kepercayaannya yang
sifatnya abtrak yang sulit diterima akal sehat hal ini segera ditinggalkan masyarakat modern,
ketika manusia modern lebih mempercayai hal-hal yang sifatnya nyata, mereka hanya
mempercayai hal-hal yang dapat ditangkap indra mereka.
Birokrasi bagi Weber merupakan hasil dari rasionalitas masyarakat barat yang diaplikasikan
lembaga kerja manusia yang mengurus segala keperluan tehnis untuk memudahkan
pelayanan kepada public atau konsumen..
Pada bagian masyarakat birokrasi dimaknai sebagai sebuah produk politik yang menjadi
wujud dari dominasi Negara atas rakyatnya, namun bagi Weber birokrasi tetap bagian dari
masyarakat yang rasional, birokrasi pertandah berkembangnya manusia yang diposisikan
sebagai ideal type kehidupan manusia modern.
Menurut Sztompka, (1994) modernisasi menyebabkan manusia jauh dengan manusia lain
mereka terpiasah dengan tehnologi, alenasi menyebabkan hilangnya dorongan manusia untuk
bergaul, kehilangan control, kehilangan tindakan dan singkatnya modernisasi telah
menghancurkan potensi kemanusiaan.
Kemudian menurut Robertson dalam Sztompka (1994) modernisasi diartikan sebagai proses
yang menghasilkan dunia tunggal, manusia dimuka dunia semakin tergantung disemua aspek
kehidupan, politik , ekonomi, dan budaya.
Sedangkan menurut Ritzer (2008) globalisasi mencakup sejumlah proses transnasional yang
dipisahkan satu sama lain walaupun mereka dapat dilihat sebagai sebuah hal yang
menggelobal dalam capaian mereka, globalisasi telah menjadi perhatian bagi kalangan bisnis,
khususnya munculnya pasar-pasar global dan berbagai tehnlogi, dan menurut Plummer
(2010) globalisasi dari bank dunia ke PBB hingga ke greenpeace dan disneywork dari
marathon internasional dan konser global hingga wisata umum dan internet, kita dapat
menjumpai orang bergerak dalam jaringan tampa dibatasi oleh ruang komunikasi, manusia
membentuk jaringan diseluruh dunia dan membuat wilayah local menjadi global dan wilayah
global menjadi local. Contoh untuk dapat ayam goring ala Kentucky,kue ala Dunkin tidak
perlu ke AS karena sudah ada di Indonesia bahkan sudah merambah ke kota-kota kecil.

Ritzer (2008) menjelaskan gejala globalisasi dengan beberapa konsep, yaitu globalisasi virus,
globalisasi kapitalismeMcDonalisasi; Amerikanisasi. Contoh restoran cepat saji di Indonesia.
Globalisasi tempe makanan khas Indonesia sekarang dapat dinikmati masyarakat jepang
dengan rasa khas Jepang dan sebaliknya Shushi ala Jepang dapat dinikmati di Indonesia
dengan khan Sushi Indonesia dan system pemilu langsung sebuah adopsi system politik barat
Amerikalisasi dapat didefinisikan sebagai proses pengembang biakan ide-ide kebiasaan
social, industry modal amerika keseluruh dunia. Sebagai contoh model-model serta artis-artis
Amerika dengan mudah memasukan Albunnya ke Indonesia, bahkan sampai ke acara televise
Amerika yang diadopsi televise swsta nasional, seperti Teke me aut, dan tekhim aut,
Indonesian Idol dan sebagainya serta beberapa produk asal amerika juga leluasa dipajang
disupermaket besar sampai took-toko kecil seperti coca cola company, McDonald, KFC.
Homogenisasi budaya pada skala global ditampilkan melalui media massa, terutama televisi,
inperialisme media semakin lama semakin mengubah dunia menjadi dusun global dimana
lingkut pengalaman kultur dan produknya pada dasarnya adlah sama, melihat kenyataan ini
Hanner dalam Sztompka (1994) mencetuskan teori dengan nama ecumene merupakan
kawasan interaksi interprestasi dan pertukaran budaya yang langsung terus menerus. Budaya
tradisional muncul dalam batas komunitas, terpaku pada ruang dan waktu tertentu dan
diciptakan, diperagakan dan dicipta ulang dalam interaksi langsung secara tatap muka.
Budaya modern melintasi ruang dan waktu, melalui tehnologi komunikasi dan transportasi
tampa terikat pada ruang dan waktu.
Hanners menggambarkan ada empat kemungkinan akan terjadi sehubungan adanya
penyatuan budaya dimasa mendatang yaitu:
1. Homogenisasi global artinya barat akan mendominasi seluruh dunia, dan menjadi
jiplakan gaya hidup, pola konsumsi, nilai dan norma serta gagasan, dan keyakinan
masyarakat barat, kemudian budaya local lenyap karena didominasi budaya barat.
2. Kejenuhan merupakan versi khusus dari proses homogenisasi global, perlaha-lahan
masyarakat pinggiran akan menyerap pola budaya barat, dalam jangka panjang
setelah melewati beberapa generasi maka budaya local akan lenyap dimasyarakat
pinggiran.
3. Kerusakan budaya pribumi dimana budaya pribumi belum siap menyerap budaya
barat yang serba canggi, maka orang pinggirana hanya dapat menyerap nilai murahan
yang tidak sesuai dengan budaya pinggiran.
4. Kedewasaan , penerimaan budaya barat melalui dialog dan pertukaran lebih
seimbang.
Perkembangan Globalisasi pada akhirnya akan membawa empat wacana besar yaitu adanya
delokalisasi, dan lokalisasi, innivasi, dan tehnologi informasi, kebangkitan koperat
multinasional serta privatisasi dan dan pembentukan pasar bebas(Lie, 2004 dalm Nanang,
S,2011 )
1. Delokalisasi dan lokalisasi yaitu transpormasi budaya local dalam segala aspek
sebagai interaksi dengan budaya asing dan adopsi budaya asing menjadi bagian
budaya local.terjadinya penyebaran budaya secara sepihak.

2. Perkembangan innovasi tehnologi informasi yaitu dapat dilihat dengan semakin


cepatnya perkembangan tehnologi informasi yang hamper dirasakan dari semua
Negara, hal ini sebenarnya berkontribusi pada cepatnya arus penyebaran budaya barat
dalam setiap aspek kehidupan manusia di dunia.
3. Kebangkitan koperat multi nasional, koperat tingkat dunia akan berkembang diseluruh
dunia, proses ini akan mempermudah masuknya kapitalisme di seluruh dunia. Dan
mematikan koperat local dibeberapa Negara yang modalnya kecil.
4. Privatisasi dan pembentukan pasar bebas artinya peran Negara dalam pelayanan
public semakin berkurang, semua diserahkan pada mekanisme pasar, sementara
campur tangan pemerintah hanya sebatas pada regulasi, hal ini secara langsung
membuka pintu sangat lebar bagi masuknya kapitalisme global.
5. PANDANGAN TEORI DEPEDENSI (KETERGANTUNGAN)
Teori Dependensi lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan
negara pinggiran. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teori dependensi mewakili suara
negara-negara pinggiran untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan
intelektual dari negara maju. Munculnya teori dependensi lebih merupakan kritik terhadap
arus pemikiran utama persoalan pembangunan yang didominasi oleh teori modernisasi. Teori
ini mencermati hubungan dan keterkaitan negara pinggiran dengan negara sentral di Barat
sebagai hubungan yang tak berimbang dan karenanya hanya menghasilkan akibat yang akan
merugikan negara pinggiran.
Negara sentral di Barat selalu dan akan menindas negara pinggiran dengan selalu berusaha
menjaga aliran surplus ekonomi dari negara pinggiran ke negara sentral. Bila teori
Dependensi Klasik melihat situasi ketergantungan sebagai suatu fenomena global dan
memiliki karakteristik serupa tanpa megenal batas ruang dan waktu. Teori Dependensi Baru
melihat melihat situasi ketergantungan tidak lagi semata disebabkan faktor eksternal, atau
sebagai persoalan ekonomi yang akan mengakibatkan adanya polarisasi regional dan
keterbelakangan. Ketergantungan merupakan situasi yang memiliki kesejarahan spesifik dan
juga merupakan persoalan sosial politik.
Pada tulisan diatas, dalam konteks pembangunan, konsep Gramsci memang sangat dekat
dengan dasar pemikiran teori dependensi (Cardoso), termasuk imperialisme struktural (Johan
Galtung) dan imperialisme kultural (Herbert Schiller). Menurut Cardoso sebagai tokoh utama
teori Dependensi Baru, negara Dunia Ketiga tidak lagi hanya semata bergantung pada asing,
tetapi sebagai aktor yang aktif yang secara cerdik berusaha untuk bekerja sama dengan modal
domestik dan modal internasional. Konsep ini dapat menjelaskan sekalipun dalam era
globalisasiwajah lain dari kapitalisme internasionaltelah melakukan penetrasi kultural ke
segala mata angin dunia, maka seharusnya ekspresi kebudayaan dunia akan bermuka tunggal
dalam satu kontrol. Seluruh ekspresi kebudayaan termasuk ekspresi simboliknya akan
mengacu pada ekspresi dominan dalam nama pasar. Tidak ada celah lagi untuk menjadi
independen. Namun kenyataannya masyarakat secara cerdik memanfaatkan intrusi pasar itu
menjadi terobosan identitas.
Teori dependensi berbicara tentang kapitalisme dan eksploitasi sebagai penyebab kegagalan
negara pinggiran Frank menyajikan lima tulisan tentang dependensi, yaitu terdapat
kesenjangan pembangunan antara negara sentral dan pinggiran, pembangunan pada negara

satelit dibatasi oleh status negara satelit tersebut.Kemampuan negara satelit dalam
pembangunan ekonomi terutama pembangunan industri kapitalis meningkat pada saat ikatan
terhadap negara sentral sedang melemah. Pendapat ini merupakan antitesis dari modernisasi
yang menyatakan bahwa kemajuan negara dunia ketiga hanya dapat dilakukan dengan
hubungan dan difusi dengan negara maju. Tulisan ini dapat dijelaskan dengan menggunakan
dua pendekatan, yaitu isolasi temporer yang disebabkan oleh krisis perang atau
melemahnya ekonomi dan politik negara sentral.
Frank megajukan bukti empirik untuk mendukung tulisannya ini yaitu pada saat Spanyol
mengalami kemunduran ekonomi pada abad 17, perang Napoleon, perang dunia pertama,
kemunduran ekonomi pada tahun 1930 dan perang dunia kedua telah menyebabkan
pembangunan industri yang pesat di Argentina, Meksiko, Brasil dan Chili. Pengertian isolasi
yang kedua adalah isolasi secara geografis dan ekonomi yang menyebabkan ikatan antara
sentral-satelit menjadi melemah dan kurang dapat menyatukan diri pada sistem
perdagangan dan ekonomi kapitalis. Negara yang terbelakang dan terlihat feodal saat ini
merupakan negara yang memiliki kedekatan ikatan dengan negara sentral pada masa lalu.
Frank menjelaskan bahwa pada negara satelit yang memiliki hubungan sangat erat telah
menjadi sapi perah bagi negara sentral. Negara satelit tersebut hanya sebatas sebagai
penghasil produk primer yang sangat dibutuhkan sebagai modal dalam sebuah industri
kapitalis di negara sentral. Eksploitasi yang menjadi ciri khas kapitalisme menyebabkan
menurunnya kemampuan berproduksi pertanian di negara satelit. Ciri pertanian subsisten
pada negara terbelakang menjadi hilang dan diganti menjadi pertanian yang kapitalis.
Frank telah memberikan alasan dari kegagalan negara pinggiran untuk maju seiring dengan
negara sentral. Kegagalan ini disebabkan oleh adanya eksploitasi dan sistem ekonomi
kapitalisme yang dilakukan oleh negara sentral. Santos mengamsusikan bahwa bentuk dasar
ekonomi dunia memiliki aturan-aturan perkembangannya sendiri, tipe hubungan ekonomi
yang dominan di negara sentral adalah kapitalisme sehingga menyebabkan timbulnya usaha
melakukan ekspansi keluar dan tipe hubungan ekonomi pada negara pinggiran merupakan
bentuk ketergantungan yang dihasilkan oleh ekspansi kapitalisme oleh negara sentral.
Keterbatasan sumber daya pada negara maju mendorong mereka untuk melakukan ekspansi
besar-besaran pada negara miskin. Pola yang dilakukan memberikan dampak negatif berupa
adanya ketergantungan yang dialami oleh negara miskin. Negara miskin akan selalu menjadi
negara yang terbelakang dalam pembangunan karena tidak dapat mandiri serta selalu
tergantung dengan negara maju. Apabila kita lihat, tampak bahwa teori dependensi memiliki
kecenderungan untuk mempersoalkan kapitalisme sebagai penyebab kemiskinan dan
kegagalan pembangunan di negara pinggiran. Eksploitasi sumber daya alam serta proses
pertukatan yang tidak seimbang antara negara sentral dan negara pinggiran menyebabkan
tidak seimbangnya keuntungan yang didapatkan oleh masing-masing kelompok negara.
Modernisasi yang mendorong terjadinya perubahan sosial, budaya, ekonomi dan politik tak
jarang menghadapi resistensi yang tak kecil. Cara pandang yang sempit dan tingkat kesulitan
yang tinggi menerima cakrawala berpikir baru, adalah sekelumit catatan yang sangat berarti
untuk diperhatikan. Mengingat pada masyarakat mekanik yang berwatak tradisional telah
terbangun sebuah formasi sosial yang telanjur mapan. Sehingga, ada kalanya pembangunan
tidak direspon positif dengan segenap aspeknya. Yang pada tingkat tertentu tak hanya
memunculkan stagnasi pembangunan, tapi bahkan membawa akibat buruk berupa
kebangkrutan budaya. Berbeda dari masyarakat organik yang berubah pasca-berlangsungnya
industrialisasi yang telah membawa dampak yang sangat besar dalam masyarakat.

Kecenderungan untuk bersikap rasional dan berkembang dalam lingkungan yang lebih
majemuk, telah merekonstruksi formasi sosial lama pada pola baru yang lebih mampu
mengakomodasi pandangan-pandangan baru yang sebelumnya di masyarakat mekanik
menghadapi resistensi.
Bahwa telah terjadi pergesaran, hal itu memang menjadi kemutlakan. Yang menjadi soal
sesungguhnya, tidak pada perubahan itu sendiri. Karena perubahandalam bentuk
kehidupan apa punadalah realitas niscaya. Yang menjadi penting dalam konteks ini adalah,
sejauh mana perubahan yang berlangsung dalam masyarakat memberikan dampak yang
positif di banyak segi menyangkut kemanusiaan. Dan pada saat yang sama, membangun
sikap kritis atas setiap pergeseran yang memberikan implikasi negatif kemanusiaan.
Sementara perubahan, adalah tetap perubahan yang tak mungkin ditolak.
Perspektif teori Modernisasi Klasik menyoroti bahwa negara Dunia Ketiga merupakan negara
terbelakang dengan masyarakat tradisionalnya. Sementara negara-negara Barat dilihat
sebagai negara modern.
McClelland menyarankan agar Dunia Ketiga mengembangkan dirinya untuk memiliki nilainilai kebutuhan berprestasi yang dimiliki Barat untuk menumbuhkan dan mengembangkan
kaum wiraswasta modernnya. Artikel diatas, menggambarkan keinginan kuat masyarakat
untuk mengadaptasi nilai-nilai gaya hidup Barat sebagai identitas modernnya. Secara kasat
mata dapat dikatakan telah terjadi proses homogenisasi budaya dunia. (fastfood) dengan
hanya mencontoh (akulturasi) atau melakukan cultural borrowing (westernisasi). Hal ini
sejalan dengan aliran pemikiran yang berakar pada perspektif fungsionalisme maka aliran
modernisasi memiliki ciri-ciri dasar antara lain: Sumber perubahan adalah dari dalam atau
dari budaya masyarakat itu sendiri (internal resources) bukan ditentukan unsur luar.
Modernisasi pada tulisan diatas digambarkan tidak hanya menyentuh wilayah teknis, tetapi
juga menyentuh nilai-nilai, adanya karakteristik ditemukan sebagian dari ciri-ciri manusia
modern sebagaimana menurut Alex Inkeles (1969-1983) dalam teorinya Manusia Modern,
yaitu :
o Sikap membuka diri pada hal-hal yang baru.
o Tidak terikat (bebas) terhadap ikatan institusi maupun penguasa tradisional.
o Percaya pada keampuhan ilmu pengetahuan
o Menghargai ketepatan waktu
o Melakukan segala sesuatu secara terencana
Bila dalam teori Modernisasi Klasik, tradisi dianggap sebagai penghalang pembangunan,
dalam teori Modernisasi Baru, tradisi dipandang sebagai faktor positif pembangunan.
Sebagaimana digambarkan pada tulisan tersebut, masyarakat tradisional Indonesia pada
dasarnya memiliki ciri yang dinamis, mengolah resistensi serbuan budaya Barat sesuai
dengan tantangan inetrnal dan kekuatan eksternal yang mempengaruhinya. Hal ini sejalan
dengan pandangan Michael R. Dove dalam kajiannya tentang Indonesia, bahwa budaya
tradisional merupakan sesuatu yang dinamis dan selalu mengalami perubahan, mampu
melakukan penyesuaian dengan baik terhadap kondisi lokal. Teori ini merumuskan implikasi
kebijakan pembangunan yang diperlukan untuk membangun Dunia Ketiga sebagai
keterkaitan antara negara berkembang dengan negara maju akan saling memberikan manfaat
timbal balik, khususnya bagi negara berkembang. Teori Modernisasi, klasik maupun baru,
melihat permasalahan pembangunan lebih banyak dari sudut kepentingan Amerika Serikat
dan negara maju lainnya.

Kemiskinan dalam konteks teori moderinsasi adalah keberadaan tradisionalitas yang


seringkali menjadi hambatan pembangunan itu sendiri. Negara Dunia Ketiga merupakan
negara terbelakang dengan masyarakat tradisionalnya. Dunia Ketiga mengembangkan dirinya
untuk memiliki nilai-nilai kebutuhan berprestasi yang dimiliki Barat untuk menumbuhkan
dan mengembangkan kaum wiraswasta modern menggambarkan keinginan kuat masyarakat
untuk mengadaptasi nilai-nilai gaya hidup Barat sebagai identitas modernnya.
1. KESIMPULAN
2.

McDonalisasi merupakan sebuah proses dengan apa prinsip-prinsip dari restoran


cepat saji semakin lama semakin banyak sector dari masyarakat Amerika dan
sejumlah besar masyarakat lainnya di seluruh dunia. Ada beberapa prinsip kerja yang
menjadi model McDonalisasi yaitu: efesiensi, kemampuan memperhitungkan,
kemampuan memperediksi dan mengontrol terutama melalui penggantian tehnologi
manusia dengan mesin. Dan tidak saja pada industry cepat saji tetapi diterapkan pada
industry pendidikan, politik agama, serta peradilan criminal.

3. Lebih merupakan kritik terhadap arus pemikiran utama persoalan pembangunan yang
didominasi oleh teori modernisasi. Teori ini mencermati hubungan dan keterkaitan
negara pinggiran dengan negara sentral di Barat sebagai hubungan yang tak
berimbang dan karenanya hanya menghasilkan akibat yang akan merugikan Teori
Dependensi lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan
negara pinggiran. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teori dependensi mewakili
suara negara-negara pinggiran untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya
dan intelektual dari negara maju. Munculnya teori dependensi negara pinggiran.

iis ini bisa di jadikan contoh ke


untungan adanya homogenisasi

19Aug

Globatiksasi dan Desakralisasi Budaya:


Tinjauan Dampak Globalisasi Terhadap
Budaya
Publish By Fendy Wahyudi August 19, 2013 5 CommentsTags : batik, culture, global,
globalization, identity, local, value

Abstract
Globalization has been associated with a range of cultural consequences. These can be
analysed by three thesis of globalization and culture. First, homogenization thesis; second,
hybridization; and third, polarization. The homogenization theses stated that globalization
makes culture become standardized to western or American pattern. Despite of the growth of
American culture, described as Mcdonaldization the appear of local culture like Batik also a
new phenomenon that comes in globalization recently. This phenomenon I called as
globatikzation (globatiksasi). By describing culture as identity, this paper concludes that the
appearenc of local culture into the global culture doesnt mean emerging of cultural value
and identity into global society. The globalization of local culture means that local culture
becoming commercialized and converted into western globalization of economy.
Key Words: Globalization, Culture, Globatiksasi, Identity
Dimuat Dalam Majalah Pengembangan Ilmu Sosial Forum, Vol. 40 No. 2. Oktober 2012,
ISSN 0126-0731
Pendahuluan
Salah satu isu yang sangat sering dibicarakan dalam lingkungan akademis Hubungan
Internasional dewasa ini adalah isu seputar globalisasi. Perbincangan terkait globalisasi
sendiri kemudian dikaitkan dengan efek globalisasi terhadap berbagai isu strategis yang
berkembang dalam konstelasi global. Salah satu topik strategis yang marak dibicarakan
adalah efek dari globalisasi dengan kultur.
Globalisasi sering diidentikan dengan homogenisasi sosial, termasuk keseragaman dalam
tataran kultur. Ritzer (1993:19) menyebut homogenisasi tersebut dengan menggunakan
istilah McDonaldisasi. Kalangan yang sering kali mengidentikan globalisasi sebagai
McDonaldisasi dan juga Cocacolanisasi mengasumsikan bahwa kultur global ikut
beriringan dengan perkembangan ekonomi global (Holton 2000). Berdsarakan asumsi
tersebut maka kemajuan dalam globalisasi kemudian identic dengan Americanization atau
westernization (Zakaria 2008:71).
Selama ini topic globalisasi dan kultur lebih sering mendiskusikan prihal homogenisasi
budaya Barat (lihat Said 1978, Huntington 1996, Barber 1996, Friedman 2005). Globalisasi
ternyata tidak hanya membawa persebaran nilai-nilai barat dan Amerika, namun juga
membawa kultur local dan masuk ke dalam tataran global. Salah satu contoh yang menarik

adalah mengglobalnya batik yang merupakan kultur local Indonesia kemudian mampu
mengglobal dan menjadi trend dunia. Batik sendiri ditetapkan oleh UNESCO sebagai
warisan budaya dunia (www.unesco.org 2009).
Paska ditetapkannya Batik sebagai warisan dunia keberadaan batik juga mendapat perhatian
publik dunia. Bahkan simbol-simbol budaya pop yakni dunia perfilman AS ikut menjadikan
batik sebagai trend busana. Sejumlah artis Hollywood pun dalam berbagai kesempatan juga
mengenakan pakaian batik, walau dengan rancangan busana a la pop. Di Indonesia sendiri
sebagai daerah asal Batik juga mendapatkan imbas positif dari mengglobalnya Batik. Omzet
penjualan Batik dari Indonesia pun mengalami penginkatan sebesar 20%
(www.tempointeraktif.com 29/10/2009). Berdasarkan hal tersebut, muncul anggapan bahwa
globalisasi ternyata juga memberi keuntungan bagi budaya-budaya local seperti Batik.
Kondisi tersebut sekilas menunjukkan bahwa dalam globalisasi, budaya local justru
mendapat kesempatan untuk tumbuh diluar budaya Amerikanisasi-barat. Namun,
pertanyaannya kemudian, apakah globalisasi, memang memberikan jalan bagi budaya-budaya
lokal seperti batik untuk menjadi lestrari dan mengglobal, atau justru globalisasi memberikan
dampak negatif berupa desakralisasi kultur?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka pembahasan lebih diarahkan pada topic kajian
globalisasi dan kultur. Kultur atau budaya menurut Said (1994:xiii) didefinisikan sebagai
sumber dari identitas. Berdasrakan definisi tersebut maka budaya bukan hanya dinilai sebagai
sebuah produk, namun juga identitas.
Dengan menggunakan pendekatan polarisasi budaya yang dikemukakan oleh Huntington
(1993), Babrber (2002) dan Edwar Said (1979), serta konsep culture industry (Adorno&Max
Horkheimer 2002:94). Maka tulisan ini mengangkat argumen bahwa globalisasi memang
menjadikan budya local mendapat tempat dalam ruang global, namun dengan masuknya
budaya local ke dalam ruang global justru memunculkan komersialisai budaya yang artinya
mengakibatkan desakralisasi nilai budaya itu sendiri.

Kultur dan Identitas


Diskusi seputar globalisasi dan budaya sering kali menimbulkan perdebatan yang panjang.
Hal ini terjadi dikarenakan sebenarnya masing-masing akademisi berdebat terkait konsep
kebudayaan atau kultur yang berbeda. Oleh kerena itu dalam tulisan ini perlu dirumuskan
terlebih dahulu konsep kultur yang dimaksud.
Berbicara terkait kultur, terdapat definisi kultur yang beragam. Anthony D. King (2000:1)
mendiefinisikan kultur sebagai atribut yang mendefinisikan suatu masyarakat. Artinya budaya
merupakan bentuk anti thesis dari kondisi identik antara satu kelompok masyarakat dengan
kelompok masyarakat yang lain. Sementara Edward W. Said (1994:xiii) menyatakan bahwa
kultur adalah sumber dari identitas. Senada dengan Edward Said, Wallerstein (1991)
berpendapat bahwa budaya adalah seperangkat karakteristik yang membedakan satu
kelomppok dengan kelompok yang lain. Berdasarakan sejumlah konsep kultur diatas maka
seberanya budaya itu sendiri bukanlah sekedar produk. Namun lebih tepatnya, budaya

merupakan identitas suatu masyarakat. Lebih lanjut kalangan atropolog seperti Clifford
Geertz juga mendefinisikan budaya sebagai sebuah identitas. Bahkan dalam karya
monumentalnnya berjudul The Intepretation of Culture, Clifford Geertz (1973:4)
mendefinisikan budaya sebagai sebuah jalan hidup (way of life ) suatu kelompok masyarakat.
Pendefinisian budaya sebagai sebuah identitas maka akan berkonsekuensi pada polarisasi
budaya itu sendiri. Identitas sendiri dapat diartikan sebagai pembeda antara satu individu
dengan individu yang lain (Maalouf 2003:10). Dalam tataran yang lebih luas, identitas pada
wilayah komunal atau masyarakat merupakan bentuk pembeda antara satu kelompok
masyarakat dengan kelompok masyarakat yang lain. Budaya Jawa misalnya merupakan
pembeda antara kelompok masyarakat yang memiiki identitas Jawa dengan kelompok
masyarakat yang lain.
Bagi sebuah kelompok masyarakat seluruh produk dari masyarakat itu merupakan
perwujudan dari budaya masyarakat itu, yang juga berfungsi sebagai identitas yang
membedakan antara masyarakt tersebut dengan masyarakat yang lain. Sebagai contoh
Budaya Jepang tidak bisa hanya didefinsiskan sebagai samurai, atau kimono semata. Samurai
sendiri misalnya merupakan perwujudan spirit bangsa Jepang itu sendiri, demikian halnya
dengan kimono. Oleh karenanya budaya tidak dapat hanya didefinisikan sebagai sebuah
symbol.
Setelah didefinisikan makna kultur yang dimaksud dalam tulisan ini berikutnya dibahas
pengaruh globalisasi terhadap budaya. Pembahasan akan diarahkan pada pemetaan jawaban
akademisis terkait pengaruh globalisasi terhadap budaya. Pemetaan tersebut sama halnya
dengan pembahasan terkait budaya dan identitas, maka perlu didefinisikan dauhulu makan
globalisasi yang dimaksud dalam tulisan ini.
Globalisasi dan Reinkarnasi Imperialisme
Hilbourne A. Watson dalam tulisannya yang berjudul Globalization as Capitalism in the Age
of Electronics (Watson 2002), menyatakan bahwa globalisasi tak lain adalah kapitalisme
dalam era kemajuan teknologi. Dengan kata lain maka watson termasuk akademisi yang
percaya bahwa gobalisasi sendiri bukanlah hal yang baru. Globalisasi adalah bentuk dari
kapitalisme yang muncul di era kemajuan teknologi, yang disebut oleh watson dengan istilah
The Electronic Age.
Senada dengan Watson, Robert O. Keohane & Joseph S. Nye Jr (2000) menyatakan bahwa
istilah globalisasi yang ada saat ini terutama yang muncul pada dekade 1990-an merupakan
isitilah yang merujuk pada peningkatakan dari globalisme. Koehane dan Nye berargumen
bahwa globalisasi telah berlangsung cukup lama, dan menurut mereka isu yang perlu
diangkat bukan lagi seberapa lama globalisasi ini telah berlangsung namun lebih kepada
seberapa jauh tingkat ketebalan dari globalsasi itu sendiri. Lebih lanjut kedua penulis
tersebut menjelaskan bahwa globalisaasi kontemporer cenderung lebih tebal dibanding
globalisasi masa lalu. Maksudnya globalisasi kekinian merujuk istilah Thomas Friedman
Farther, Faster, deeper, and Cheaper. Artinya praktek yang terjadi adalah sama yang
berbeda adalah intensitas, volume, serta space yang digunakan.
Dua argumen diatas sangatlah tepat ketika disandingkan dengan karya Immanuel Wallerstein
(2000) yang menyatakan bahwa globalisasi adalah suatu bentuk transisi dari apa yang terjadi
di masa lalu. Menurut Wallerstein globalisasi tidaklah membawa konten yang secara

substansial benar-benar baru, namun hanya membawa transisi dari yang telah terjadi masa
lalu. Jika dahulu perpindahan barang dan manusia belum berlangsung secara cepat dan masiv,
maka era globalisasi saat ini telah membawa suatu transisi dimana perpindahan dapat
berlangsung begitu cepat dan masiv. Teknologi menjadi salah satu jawaban atas
dimungkinkannya transisi tersebut.
Sebuah contoh menarik untuk menjelaskan fenomena globalisasi sebagai sebuah transisi
adalah, jika kini telah dikenal jalur ekspor impor barang yang begitu luas antar benua maka
sejak dahulu perpindahan barang seperti yang terjadi saat ini juga telah terjadi antar benua.
Perpindahan trans benua tersbut terjadi melalui apa yang disebut jalur sutra, sebuah jalur
yang menghubungkan antara Cina, Asia Tengah, Persia, Asia Barat, dan Eropa di abad ke-19.
(Rossabi 2007). Yang membedakan adalah jenis barang yang mampu dipindahkan, kecepatan,
serta jumlah barang yang berpindah.
Dari penjelasan beberapa akademisi diatas maka dapat dikatakan bahwa globalisasi adalah
suatu era transisi dimana fenomena serupa telah terjadi beberapa abad silam. Jika dalam
beberpa tulisan diatas dimuat fenomena perpindahan barang antar benua, beberapa bentuk
transisi juga terjadi dalam meknisme ekonomi internasional. Jika pada abad ke-18 dunia
mulai populer dengan istilah pasar bebeas dengan gagasan Leissez Faire Adam Smith dalam
The wealth of Nations nya (1776) hingga kini pun asumsi-asusmsi pasar bebeas juga masih
terjadi. (Skousen, 2001). Bahkan kini dapat berlangsung lebih (menggunakanistilah Koehane
dan Nye) tebal lagi. Kemjuan teknologi informasi memungkinkan perdagangan bebas
tersebut berlangsung antar benua. Bedanya adalah kini kemajuan teknologi memungkinakn
transaksi non-riil berlangsung lebih besar dan cepat. Oleh karenanya sangat tepat jika
Wallerstein (2000) menyebut globalisasi sebagai age of transition.
Kemudian pertanyannya jika memang gobalisasi adalah sutau bentuk teransisi yang telah
terjadi di masa lalu maka apakah fase awal yang mendahului globalisasi itu sendiri? Dari
penelaahan argumen diatas para pemkir yang percaya bahwa gobalsasi adalah transisi
seperti Wallerstein (2000) menyebut bahwa kapitlasime adalah awal dari globalisasi.
Asumsinya kapitalisme memungkinkan globalisasi itu sendiri terjadi. Tanpa kapitalisme
globalisasi tidak akan tercipta. Hanya kapitlasime yang memungkinakan terbukanya
transaksi pasar global sebgai salah satu bentuk globalisasi. Hanya kapitalisme yang mampu
mentransfer secara masif budaya dari satu benua dan peradaban ke benua dan peradabanyang
lain (wallerstein 2000).
Pendapat menarik disampaikan oleh Mansour Fakih (2004) yang meyakini keberadaan
globalisasi sebagai salah satu fase dari perjalanan panjang perkembangan kapitalisme liberal.
Fakih menyebut bahwa globalisasi adalah kelanjutan dari kolonialisme dan
developmentalism pasca Perang Dunia II. Bahkan Fakih (2004) telah mencurigai globalisasi
sebagai bungkus baru dari imperialisme dan kolonialisme.
Pendapat Fakih tersebut sejalan degan apa yang disamapaikan oleh Samir Amin (2001).
Dalam ceramahnya pada pertemuan World Social Forum di Porto Alegre Januari 2001,
Amin berargumen bahwa ada kaitan anatara globalisasi dan imperialisme. Namun yang
menarik adalah Amin mengawali argumennya dengan mengatakan bahwa imperialisme
bukanlah tingkat, bukan juga tingkat tertinggi dari kapitalisme (Amin 2001). Menurut Amin
(2001) imperialisme secara alami melekat pada perluasan kapitalisme.

Dalam paparannya tersebut Amin (2001) menyebut bahwa terdapat tiga fase perluasan
kapitalisme atau dengan kata lain praktek imperialisme itu sendiri. Pertama, adalah fase
perluasan kapitalisme dengan praktek imperialisme di benua amerika. Fase ini merupakan
fase merkantilis. Kedua, adalah fase revolusi industri dimana terjeadi perluasan imperialisme
dengan praktek kolonialisme di asia dan afrika. Ketiga, adalah fase ketika terjadi perluasan
imperialisme pasca perang dingin berakhir. Praktek dan tujuan yang ada di fase ketiga ini
tidak lah jauh berbea dengan fase-fase sebelumnya, yakni: mengontrol perluasan pasar,
pengerukan hasil bumi, serta ekspolitasi besar-besaran tenaga buruh di wilayah periphery
(Amin, 2001).
Dalam setiap ketiga fase tersebut jika ditelaah lebih lanjut maka keberadaan setiap fase selalu
diikuti dengan kerusakan yang luar biasa. Fase pertama diikuti dengan kerusakan serta
pemusnahan suku indian di benua Amerika, fase kedua ditandai dengan penderitaan dan
kehancuran masyarakat Asia Afrika. Pertanyannya bagaimana dengan fase ketiga? Fase
ketiga juga tak jauh berbeda dengan fase pertama dan kedua. Sama-sama terjadi kerusakan
dan penindasan yang dilakukan oleh negara negara maju, bahkan akibat perkemabngan
teknologi kerusakan yang diahasilkan pun juga lebih besar.
Merujuk pada dua seri buku fenomenal John Perkins , dalam kata pengantarnya di bukunya
yang kedua The Secret History of American Empire (2007) Perkins menjelaskan arti
imperium itu sendiri. Imperium didefinisikan sebagai negara-bangasa yang mendominasi
negara-bangasa lainnya dan menunjukkan satu atau lebih ciri-ciri berikut : pertama,
melakukan eksploitasi sumber daya dari negara yang didominasi; kedua, menguras sumber
daya yang tidak proporsional dibanding dengan jumlah penduduknya; ketiga, memiliki
kekeutan militer yang hebat dan akan digunakan jika upaya non militer gagal; keempat,
melakukan praktek persebaran peradaban di seluruh wilayah pengaruhnya; kelima, menarik
pajak bukan hanya dari warganya namun juga dari warga negara lain; keenam, mendorong
penggunaan mata uangnya sendiri di negara-negara yang berada di bawah kendalinya.
Dari definisi diatas maka kesemuanya juga terjadi di era globalisasi kontemporer ini.
Demikian juga telah terjadi di era globalisasi masa lalu. Jika merujuk pada pendapat Samir
Amin maka praktek imperialisme tersebut terjadi dalam setiap fase dari ketiga fase
imperialisme, dan dalam setiap fase globalisasi ikut membaur didalamnya.
Adalah tepat apa yang disampaikan Karl Marx beberapa abad sialam :
This is the abolition ofthe capitalist mode of production within the capitalist mode of
production itself, and hence a self-abolishing contradiction, which presents itself prima facie
as a mere point oftransition to a new form of production. (Karl Marx dalam Hardt&Negri,
2000)

Globalisasi merupakan saksi hidup dimana transisi kapitalisme dari model yang satu ke
model yang lain terjadi. Kapitalisme dalam setiap transisi tersebut berbagai upaya termasuk
konsep bermunculan. Dahulu dikenal jalur sutera, kini dikenal blok perdagangan global,
dahulu dikenal kolonialisme, kini dikenal kerjasama internasional, dahulu dikenal
imeprialisme kini dikenal globalisasi.

Oleh karenanya Jika sejumlah kalangan seperti Wallerstein (2000) dan Watson (2002)
menyebut bahwa kapitalisme sebagai fase awal dari globalisasi, maka sebenarnya globalisasi
sama halnya dengan imperialisme bukanlah suatu tahap, demikian juga bukan merupakan
suatu tahapan tertinggi dari kapitalisme namun globalisasi telah melekat bersama dengan
kapitalsme dan juga imperilisme. Atau dengan kata lain globalisasi adalah reinkarnasi dari
imperialisme itu sendiri.
Tiga thesis globalisasi dan kultur
Jika globalisasi itu sendiri merupakan bentuk lain imperialisme, pertanyaannya berikutnya
adalah, terkait relasi globalisasi dengan kultur. Diskusi seputar pengaruh globalisasi terhadap
budaya sendiri, setidaknya bisa diklasifikasikan kedalam tiga kelompok besar. Kelompok
pertama, adalah kelompok homogenisasi yang mengasumsikan bahwa kultur global menjadi
homogen dan terstandarisasi dengan model Barat atau Amerikanisasi (Friedman 2005, Ritzer
2003). Kelompok kedua, adalah pandangan yang mengasumsikan bahwa globalisasi
menciptakan hibridisasi budaya, atau sinkretisasi budaya (lihat Ulf Hannerz 1992, Pieterse
2004).Kelompok ketiga, adalah kelompok polarisasi yang mengasumsikan bahwa globalisasi
juga membawa budaya-budaya lokal yang melakukan perlawanan dan membentuk kutub
sendiri di luar kutub barat atau Amerika (lihat Said 1993, Huntington 1996, dan Benjamin
Barber 1996).
Kelompok pertama atau kelompok homogenisasi yang juga identik disebut sebagai kelompok
McDonaldization. Ritzer (2003) menjelaskan bahwa McDonaldization merupakan
perlambangan homogenisasi lingkungan sosial secara luas akibat keberadaan perusahaan
multinasional. McDonaldisasi sendiri merupakan istilah yang ditujukan pada meluasnya
prinsip-prinsip restoran cepat saji a la Amerika di lingkungan masyrakat Amerika sendiri dan
juga masyarakat di luar Amerika (Ritzer 1993). Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah:
efisiensi (pelayanan cepat), sesuai dengan perhitungan (cepat dan tidak mahal), terprediksi
(tidak ada kejutan), serta control terhadap pegawai dan juga pelanggan. Globalisasi kemudian
identic dengan mengglobalnya prinsip-prinsip McDonaldisasi ini. Keberadaan McDonald
sebagai restoran cepat saji kemudian menjadi ikon globalisasi yang dengan mengglobalnya
McDonald tersebut, ternyata juga diikuti dengan mengglobalnya nilai-nilai fast-food
Amerika.
Senada dengan Ritzer, Holton (2000) menjelaskan bahwa thesis kelompok homogenisasi
identic dengan persebaran nilai dan keseragaman budaya. Holton (2000) menambahkan kini
keberadaan globalisasi mulai mendapat ikon-ikon baru, jika dulu McDonaldisasi menjadi
symbol keseragaman dalam globalisasi, kini mulai digantikan dengan budaya internet
interaktif seperti Yahoo!, Facebook, serta berebagai situs jejaring sosial lainnya. Namun
kelompok homogenisasi mulai dari McDonaldisasi maupun budaya internet interaktif
menjelaskan bahwa globalisasi justru membawa pada homogenisasi budaya. Atau dengan
keberadaan globalisasi maka sejatinya tengah terjadi persebaran nilai-nilai barat yang
tercerminkan dalam budaya McDonald atau internet interaktif dan menggerus budaya-budaya
lokal.
Asumsi kelompok homogenisasi sebenarnya dapat dikatakan overoptimistic terhadap ide
budaya yang homogen. Kini dunia pun tengah menyaksikan munculnya kultur-kultur di luar
budya McDonald-Amerika. Perlu dibedakan konsep moderenitas dengan Barat itu sendiri.
Dalam beberapa decade kedepan tiga dari empat ekonomi terbesar dunia bukan justru bukan
berasal dari barat (Jepang, Cina dan India). Kasus jepang memberikan gambaran yang

menarik terkait perbedaan antara modernitas dan kultur barat. Jepang sebagai sebuah Negara
dikenal sangat modern. Dalam arti kemajuan teknologi-kereta super cepat, telepon seluler,
serta robotic-Jepang dapat dikatakan jauh lebih canggih dan modern ketimbang barat sendiri.
Namun dalam hal penyikapan masyarakt Jepang terhadap outsider, lebih khusus pengunjung
dari masyarakat Barat, kebanyakan masyarakat Jepang masih mengganggap mereka sebagai
asing dan bukan bagian dari mereka (Zakaria 2008:73-77). Di Eropa pun, culture Amerika
masih dainggap sebaagai budaya koboi yang aneh. Dalam kasus jepang dan Eropa,
globalisasi meski membawa budaya Amerika dalam globalisasi ekonomi dan tekonlogi tetap
saja mendapat resistensi budaya yang cukup tinggi.
Argumen kelompok homogenisasi kemudian banyak mendapat tentangan dari kelompok
kedua, yakni kelompok hibridisasi. Kelompok hibridisasi mengasumsikan bahwa globalisasi
sebagai hibridisasi budaya. Pieterse (2009:54) menjelaskan bahwa dampak globalisasi
terhadap budaya adalah memunculkan hibridisasi atau percampuran budaya. Hibridisai dapat
juga diartikan sebagai sinkretisme, kreolisasi, serta persinggungan (croseover). Dalam kasus
mengglobalnya budaya lokal kemudian masuk kedalam skema budaya global penulis
menyebut fenomena ini sebagai globatiksasi.
Fenomena globatiksasi ini namapaknya bagi sebagian kalangan dapat dianggap menguatkan
argumen kalangan hibridisasi. Artinya batik telah mengalami hibridisasi dan kemudian
bangkit dan mampu membaur dengan budaya trend global yang ada. Kalau dulu batik identik
dengan gaya hidup lokal Jawa seperti jarit, kebaya dan kemben, kini Batik pun muncul
dengan berbagai kreasi busana, dan bahkan update dengan gaya hidup modern budaya pop.
Tidak heran kemudian jika kini dapat dijumpai aktris Hollywood berpose bangga dengan
mengenakan Batik motif Parang khas Jawa Tengah dikombinasikan dengan rok mini dan
sepatu boot tinggi se lutut. Kedepan juga tidak menutup kemungkinan dapat disaksikan tang
top dan bikini dengan menggunakan batik sebgai motifnya. Kesemua itu merupakan bentuk
hibridisasi atau sinkretisasi batik dengan budaya pop yang sedang menjadi mainstream dalam
globalisasi.
Namun pendekatan hibridisasi ini memang tepat jika kultur hanya dimaknai sebagai produk
atau symbol semata. Namun ketika kultur dimaknai sebagai identitas sebagaimana yang telah
disampaikan sebelumnya, maka argumen bahwa globalisasi menjadikan budaya mengalami
hibridisasi dapat dikatakan kurang tepat.
Pendefinisian kultur sebagai identitas kemudian diadopsi oleh kelompok ketiga, Pieterse
menyebut kelompok ketiga ini sebagai kelompok Clash of civilization. Argumen
kelompok ini berawal dari thesis Huntingtonian terkait ide benturan antar peradaban (Pieterse
2009:43-44). Menurut kalangan ini justru dengan adanya globalisasi justru memicu
terciptanya benturan antar peradaban.
Konsekuensi dari keberadaan benturan antar peradaban, maka artinya peradaban
tidaklah homogen. Atau dengan kata lain, dengan adanya globalisasi maka muncul polarpolar ataukutub-kutub baru yang kemudian menjadi episentrum konflik baru paska
berakhirnya Perang Dingin. With the end of the Cold War, international politics moves out
of its Western phase, and its centerpiece becomes the interaction between the West and nonWestern civilizations and among non-Western civilizations. (Huntington 1993).

Globalisasi yang juga identik dengan kemajuan teknologi informasi ternyata dapat dengan
mudah digunakan sebagai sarana untuk memunculkan semangat lokalitas, baik dalam tataran
etnis, bangsa, serta budaya. Keberadaan globalisai teknologi informasi justru digunakan oleh
kelompok etnis yang terdiaspora sebagai sarana untuk melakukan Long Distance Nationalism
(Anderson 1998:58-74). Artinya memang meski dalam globalisasi terjadi perpindahan
manusia dan barang dalam globalisasi ekonomi namun budaya ternyata lebih sulit untuk
mengalami globalisasi atau homogenisasi seperti argumen yang disampaikn oleh kelompok
homogenisasi (Holton 2000).
Thesis polarisai budaya dalam globalisasi sebenarnya telah memiliki akar yang panjang
ketika Edward Said dating dengan magnum opusnya Orientalism (1979) dan mendefinisikan
konsep dikotomi budaya kedalam dua kubu, barat dan timur. Said (1979) menjelaskan bahwa
pandangan dikotomi budya tersebut mengakibatkan munculnya orientalisme yang
mempresepsikan pendekatan we dan the others.
Melalui Orientalisme, Edward Said (1979:8) ingin mengilustrasikan bagaimana representasi
Eropa terhadap kebudayaan Timur sebagai wilayah jajahannya telah terinstitusionalisasi
setidaknya sejak abad ke-18 sebagai manifestasi dari dominasi kultural Barat terhadap Timur.
Menurut Said melalui studi kajian Orientalisme dapat ditelusuri bagaimana berbagai institusi,
disiplin akademik, proses-proses investigasi dari berbagai macam sistem pemikiran tumbuh
dan berkembang dalam ruang publik intelektual Eropa sebagai bagian dari politik
pendefinisian Eropa untuk mengetahui tentang Oriental-Timur dan proyek akademik itu
berhubungan erat dengan konsolidasi imperialisme Eropa yang mencapai puncaknya di abad
ke-19. Konsepsi Barat misalnya, dalam memandang dunia Islam-Timur Tengah sebagai
oriental yang stagnan, tidak berubah, erotis bahakan cenderung otoriter serta penggambaran
budaya barat sebagai dinamis, innovator, rasional dan toleran telah mengakar cukup lama
dalam benak dunia Barat (Said 1979:49). Berdasarkan pendekatan orientalisme itu sendiri
dapat disimpulkan bahwa sebenarnya homogenisasi budaya itu pun akan sulit terjadi. Karena
pada faktanya diferensiasi budaya selalu terjadi. Di sisi lain, keberadaan konsepsi
orientalisme juga membantah pandangan hibridisasi budaya. Karena buday disini diartikan
sebagai identitas, yang khas dan menjadi diferensiasi dengan kelompok identitas yang lain.
Lebih lanjut polarisasi budaya dalam globalisasi digambarkan oleh Benjamin R. Barber
dengan term Jihad Vs McWorld (1996). Terma tersebut mencerminkan konflik antara
konsumerisme dalam wadah kapitalisme global dengan fundamentalisme yang
memperjuangkan keadilan dan tribalisme (Barber 1996:xviii-xvix). sekali lagi kondisi ini
menunjukkan sekalipun globalisasi menghasilkan persebaran teknologi, arus barang, serta
ekonomi pasar, ternyata homogenisasi dan hibridisasi budaya sulit untuk tercipta.
Globatiksasi Vs McDonaldisasi: Komersilaisasi budaya dan deskralisasi nilai batik
Fenomena globatiksasi yang didefinisikan sebagai mengglobalnya budaya-budaya lokal
memang diambil dari kasus kain batik yang merupakan budaya lokal dari Jawa dan kemudian
mampu mengglobal dalam tataran dunia. Namun apkah hal ini sama dengan konsep
McDonaldisasi yang merepresentasikan mendunianya nilai-nilai restoran cepat saji seperti
McDonald?
Konsep McDonaldisasi menggambarkan mengglobalnya buday instan, efisiensi, serta kontrol
ketat terhadap produk. Konsep McDonaldisasi bukan hanya sekedar keberadaan gerai-gerai
restoran McDonald semata, namun justru yang lebih penting dengan mngglobalnya

McDonald sebagai sebuah produk Amerikanisasi juga diikuti dengan persebaran nilai-nilai
yang mencerminkan identitas budaya pop amerika yakni serba instan, serba cepat, serba
terkalkulatif, serta control yang ketat terhadap produk. Paska berkembangnya McDonald
kemudian berkembang pula di berbagai wilayah dunia model-model penjualan makanan yang
identic dengan konsep McDonald.
Sebaliknya dalam kasus globatiksasi, budaya-budaya lokal yang mengglobal ternyata tidak
diikuti dengan eksport nilai serta identitas dalam budaya lokal tersebut. Jika kita merujuk
pada definsi kultur yang bukan hanya sekedar symbol atau produk, maka globatiksasi justru
merupakan bentuk langsung desakralisasi budaya dalam globalisasi.
Ada dua alasan globatiksasi justru merupakan bentuk desakralisasi budaya: Pertama,
masuknya produk budaya lokal keranah global tidak akan dapat terjadi ketika globalisasi
budaya tersebut tidak sejalan dengan globalisasi ekonomi. Dengan kata lain mengglobalnya
suatu budaya tentu harus diikuti dengan komersialisasi symbol budaya itu sendiri. Atau
dengan kata lain globalisasi justru menciptakan Culture Industry atau Industri Budaya
(Adorno 2001,2002). Melalui culture industry, syarat budaya agar dapat diterima secara
global haruslah marketable. Artinya tidak mungkin batik sebagai budaya lokal bisa
mengglobal ketika batik tidak mampu diserap oleh pasar secara global. Konsekuensinya
secara positif memang akan meningkatakan permintaan pasar akan kain batik, yang berarti
mensuport kantong ekonomi Indonesia. Namun peningkatan ini sebenarnya hanya bentuk
komersialisasi batik, atau dengan kata lain memasukkan batik dalam jaring kapitalisme
global, yang artinya batik hanya dinilai sebagai sebuah komoditas. Sayangnya
komoditasisasi batik tersebut tidak diikuti juga dengan eksport dan pelestarian batik sebagai
sebuah nilai dan identitas.
Kedua, komersialisasi budaya pada gilirannya hanya mereduksi nilai dari budaya itu sendiri,
yang semestinya budaya adalah identitas, bahkan visi kehidupan kemudian diturunkan
menjadi hanya sekedar materi. Globatiksasi dalam kasus batik msialnya, saat ini justru
mencerminkan desakralisasi batik dikarenakan terjadi reduksi nilai batik menjadi sebatas
materi semata. Padahal, batik sendiri mengandung nilai yang mendalam terkait kehidupan
masyarakat jawa. Sejak kecil ibu-ibu di Jawa biasa menggendong anak mereka yang baru
lahir dengan kain batik, yang lembut dan bermotif ceria. Ini berarti diharapakan sang anak
dikemudian hari dapat tumbuh dengan ceria dan penuh kasih sayang. Pasangan yang menikah
pun mengenakan kain jarik dengan motif Sido Mukti dan Truntum. Sido mukti artinya
diharapakan pasangan yang menikah dapat hidup bahagia dan berkecukupan, sedangkan
truntum yang berarti menuntun diharapkan dalam pernikahan orang tua juga dapat menuntun
anaknya untuk mengarungi rumah tangga yang baru. Dengan kata lain, batik sejatinya bukan
hanya materi benda hasil budaya, tapi juga budaya itu sendiri, bahkan identitas dan juga jalan
hidup.

Kesimpulan.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam globalisasi fenomena
masuknya budaya lokal kedalam ranah global atau yang penulis sebut sebagai globatiksasi
memang mungkin terjadi. Namun hal ini bukan berarti mencerminkan hibridisasi budaya.
Masuknya budaya lokal tidak dapat dilepaskan dari kultru komersialisme dalam globalisasi.

Kultur sendiri yang diidentifikasi sebagai sebuah identitas, dalam praktek globalisasi ternyata
justru tidak ikut mengglobal. Identitas lokal justru tercerabut dari akar budaya. budaya
kemudian menjadi kosong dan hanya jatuh pada terma komoditas atau produk semata.
Tercerabutnya identitas lokal dalam budaya yang mengglobal justru adalah bentuk
desakralisai dari budaya itu sendiri. Berbeda dengan McDonaldisasi, kasus Globatiksasi
ternyata sering kali tidak diikuti dengan tersebarnya nilai dan identitas dari budaya itu sendiri.
Tidak menutup kemungkinan kedepan globalisasi memberikan ruang bagi tumbuhnya
budaya-budaya lokal kemudian berkonstelasi dalam tataran global. Namun sering kali
globalisasi yang merupakan reinkarnasi dari imperialism itu sendri menyediakan pula paket
kultur global. Dengan kata lain globatiksasi-globatiksasi berikutnya mungkin sekali terjadi,
namun dengan syarat reduksi budaya hanya sebagai sekedar produk dan komoditas.
Nilai yang mesti diambil adalah memang realitasnya kita tengah menyaksiskan fenomena
globatiksasi, namun, tetap jangan overoptimistic, dan lupa bahwa kultur adalah nilai. Kita
mesti belajar dari barat bagaimana mampu mengekspor McDonald dan Coca Cola secara
sukses kepenjuru dunia. Barat, melalui McDonaldisasi dan Coca Colanisasi bukan hanya
mengekspor produk ayam goreng, burger atau minuman kola namun nilai dan way of life
instant a la Amerika.
Batik sendiri berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa jawa, amba dan nitik. Dari
padanan nama pun batik mengandung pandangan hidup masyarakat Jawa yang sabar, teliti,
dan harmoni menuju kesempurnaan. Pertanyaannya kemudian apakah kita mampu membawa
globatiksasi menjadi Mcdonaldisasi jilid dua, atau malah merelakan globatiksasi berujung
pada desakralisasi batik?
Di luar Amerika Serikat, Amerikanisasi adalah istilah untuk menyebut pengaruh
yang dimiliki Amerika Serikat di negara lain, contohnya budaya masyarakat,
masakan, teknologi, praktik bisnis, atau teknik politiknya. Istilah ini sudah
digunakan sejak tahun 1907.[1] Di Amerika Serikat sendiri, kata Amerikanisasi
berarti proses akulturasi adat dan nilai-nilai Amerika Serikat oleh imigran atau
penduduk yang dianeksasi (misalnya Californio).

Hollywood (industri film dan televisi Amerika Serikat) mendominasi sebagian besar pasar
media dunia. Inilah medium yang dipakai orang-orang di seluruh dunia untuk melihat gaya,
adat, suasana, dan cara hidup Amerika Serikat.[2]
Program-program TV A.S. disiarkan ulang ke seluruh dunia. Kebanyakan melalui saluran TV
Amerika dan anak perusahaannya (seperti HBO Asia, CNBC Europe, dan CNN
International). Sebagian distributor menyiarkan program-program Amerika di saluran TVnya. Menurut survei majalah media Britania Raya Radio Times, The Simpsons, Lost, dan
Desperate Housewives termasuk di antara acara TV yang paling banyak ditonton. CSI
menempati peringkat pertama sebagai acara yang paling banyak ditonton di 20 negara.[3]
Film-film Amerika Serikat juga sangat terkenal di seluruh dunia dan biasanya mendominasi
bioskop-bioskopnya. Jika disesuaikan dengan inflasi, film paling sukses sepanjang sejarah
adalah Gone with the Wind. Biasanya negosiasi perjanjian perdagangan adil antara A.S. dan
negara lain mencakup kuota layar, contohnya Meksiko. Meksiko menghapus kuota layarnya

setelah North American Free Trade Agreement (NAFTA) antara negara tersebut dengan A.S.
diberlakukan.[4] Korea Selatan juga mulai mengurangi kuota layarnya atas tekanan A.S.
sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan bebas mereka.[5] Banyak seniman asal A.S.
seperti Elvis Presley dan Michael Jackson menjadi terkenal di seluruh dunia dan masingmasing berhasil menjual lebih dari 500 juta album.[6] Album Michael Jackson, Thriller,
dengan penjualan sebanyak 100 juta keping, merupakan album musik terlaris sepanjang
masa.[7]

Bisnis dan merek

McDonald's kosher di Ashkelon, Israel.

Dari sepuluh merek ternama di dunia, tujuh di antaranya berkantor pusat di Amerika Serikat.
[8]
Coca-Cola, pemegang peringkat pertama, sering dipandang sebagai simbol Amerikanisasi.
[9]
Makanan cepat saji juga sering dianggap sebagai simbol dominasi pemasaran Amerika
Serikat. Perusahaan-perusahaan seperti Starbucks, McDonald's,[10] Burger King, Pizza Hut,
Kentucky Fried Chicken, dan Domino's Pizza memiliki banyak cabang di seluruh dunia.

Starbucks Coffee di Lima, Peru

Beberapa perusahaan komputer terbesar di dunia juga berkantor pusat di Amerika Serikat,
misalnya Microsoft, Apple, Dell, dan IBM. Sebagian besar perangkat lunak yang dibeli di
seluruh dunia juga diciptakan oleh perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Carayannis dan
Campbell menulis bahwa, "Secara global, Amerika Serikat memiliki posisi yang sangat kuat
di sektor perangkat lunak."[11]
Di Jerman pada tahun 1920-an, gerakan efisiensi Amerika Serikat disebut "rasionalisasi". Ini
adalah gerakan sosial dan ekonomi yang cukup kuat. Gerakan ini memandang secara

berlebihan model-model Amerika Serikat, khususnya Fordisme.[12] "Rasionalisasi" berarti


produktivitas yang lebih tinggi dan efisiensi yang lebih besar, menjanjikan bahwa ilmu
pengetahuan akan memberi kemakmuran. Secara umum, rasionalisasi menjanjikan tingkatan
modernitas baru dan diterapkan pada produksi dan konsumsi ekonomi dan administrasi
publik. Berbagai versi rasionalisasi diperkenalkan oleh para industrialis dan demokrat sosial,
insinyur dan arsitek, pendidik dan akademisi, feminis dan pekerja sosial kelas menengah,
pejabat pemerintahan dan politikus partai. Sebagai ideologi dan praktik, rasionalisasi
menantang dan mengubah tidak hanya mesin, pabrik, dan perusahaan bisnis, tetapi juga
kehidupan warga Jerman kelas menengah dan pekerja.[13]

Kejelasan
Selama 15 tahun sejak 1950 sampai 1965, investasi Amerika Serikat di Eropa melonjak 800%
menjadi $13,9 miliar dan di Komunitas Ekonomi Eropa naik 10 kali lipat menjadi $6,25
miliar. Pangsa Eropa di dunia investasi Amerika Serikat naik dari 15% ke 28%. Investasi
adalah model Amerikanisasi yang paling jelas dan sering diperbincangkan. Meski begitu,
investasi Amerika di Eropa hanya mewakili 5% dari total investasi Eropa dan perusahaan
milik Amerika di Komunitas Ekonomi Eropa hanya mempekerjakan 2 atau 3% total tenaga
kerja. Alasan yang mendasari investasi Amerika Serikat ini bukan lagi biaya produksi rendah,
pertumbuhan ekonomi cepat, atau laba tinggi di Eropa, tetapi keinginan untuk
mempertahankan posisi bersaing yang didasari superioritas teknologi Amerika Serikat.
Penolakan investasi Amerika Serikat awalnya muncul di Perancis, kemudian menyebar ke
negara-negara Eropa lainnya. Opini publik mulai menolak iklan dan metode bisnis Amerika,
kebijakan personel, dan pemakaian bahasa Inggris oleh perusahaan-perusahaan Amerika.
Kritik juga diarahkan ke sistem mata uang internasional yang dituduh sebagai penyebab
kecenderungan inflasi akibat posisi dolar A.S. yang dominan.[14] Akan tetapi pada 1970-an,
investasi Eropa di A.S. meningkat lebih cepat daripada sebelumnya. Geir Lundestad
menemukan bahwa persepsi "Amerika Serikat membeli Eropa" juga mulai berkurang.[15]

Historiograf
Berghahn (2010) menganalisis perdebatan mengenai manfaat konsep 'Amerikanisasi' dan
'Westernisasi'. Ia meninjau penelitian terkini mengenai hubungan Eropa-Amerika Serikat
selama Perang Dingin yang memengaruhi dampak budaya Amerika Serikat di Eropa. Ia
kemudian mendiskusikan penelitian yang relevan terhadap subjek ini di bidang sejarah
ekonomi dan bisnis. Secara keseluruhan, artikelnya mencoba memaparkan bahwa orangorang yang menerapkan konsep 'Amerikanisasi' ke penelitian mereka mengenai sejarah
budaya dan/atau ekonomi sudah sadar tentang kerumitan hubungan lintas Atlantik pada masa
tersebut, apakah dipandang sebagai pertukaran dua arah atau proses sirkulasi.[1
Fordisme, diambil dari nama Henry Ford, adalah konsep sistem ekonomi dan sosial modern
yang bergantung pada produksi massal dalam skala industri dengan standar tertentu. Konsep
ini digunakan di berbagai teori sosial dan studi manajemen mengenai produksi dan fenomena
sosial-ekonomi lainnya.[1] Konsep ini juga terkait dengan konsumsi massal dan perubahan
kondisi kerja seiring waktu. Pandangan teoretis saat ini sepakat bahwa Fordisme sudah
tergantikan atau masih ada dalam bentuk yang berbeda.

Daftar isi

1 Perkenalan

2 Pos-Fordisme

3 Lihat pula

4 Referensi

5 Daftar pustaka

Perkenalan
Fordisme adalah "sistem produksi yang dirancang untuk menghasilkan barang yang sama
berbiaya rendah dan memberi pekerjanya upah yang cukup untuk membeli barang tersebut".
[2]
Fordisme juga disebut sebagai "model perluasan ekonomi dan kemajuan teknologi yang
bergantung pada produksi massal: pembuatan produk yang sama berjumlah banyak
menggunakan mesin khusus dan tenaga kerja tak berketerampilan".[3] Meski Fordisme
merupakan metode yang dipakai untuk meningkatkan produktivitas dalam industri otomotif,
prinsip ini dapat dipakai di berbagai proses produksi atau manufaktur. Fordisme bergantung
pada tiga prinsip utama:
1. Standardisasi produk (tidak ada yang dibuat sendiri; semua dibuat dengan
mesin dan disusun oleh pekerja tak berketerampilan)
2. Penerapan jalur perakitan yang menggunakan alat dan/atau perlengkapan
khusus sehingga pekerja tak berketerampilan dapat membantu
mewujudkan produk akhirnya
3. Pekerja mendapat upah tinggi sehingga mereka dapat membeli produk
yang mereka buat.[3]

Prinsip-prinsip tersebut, ditambah revolusi teknologi pada zaman Henry Ford, mewujudkan
jenis tenaga kerja impiannya. Jalur perakitan Ford memang revolusioner, tetapi bukan yang
pertama. Kontribusi murni Ford bagi dunia modern adalah memecah pekerjaan rumit menjadi
beberapa pekerjaan sederhana dengan bantuan peralatan khusus.[4] Pekerjaan yang lebih
sederhana menghasilkan bagian-bagian yang dapat digunakan kapan saja.[5] Hal ini
memungkinkan terjadinya fleksibilitas yang mudah beradaptasi, menciptakan jalur perakitan
yang mampu mengganti komponen tertentu demi memenuhi kebutuhan produk yang sedang
dirakit.[4] Kenyataannya, jalur perakitan sudah ada sebelum zaman Ford, tetapi tidak seefektif
rancangan Ford. Ford berhasil melihat potensi, membaginya menjadi beberapa potongan
kecil, lalu dibangun lagi dengan cara yang lebih efektif dan produktif, lantas menciptakan
metode yang optimal di dunia nyata.[4] Keuntungan besar dari perubahan tersebut adalah
perusahaan dapat memangkas jumlah pekerja, meniadakan keterampilan (deskill) pekerja,
dan mengurangi biaya produksi.[4] Ada empat level Fordisme menurut Bob Jessop.[6]

Pos-Fordisme
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pos-Fordisme

Teknologi informasi, pekerjaan kerah putih, dan spesialisasi adalah ciri-ciri posFordisme.

Masa pasca Fordisme dijuluki Pos-Fordis dan Neo-Fordis. Pos-Fordis berarti kapitalisme
global telah berhenti menerapkan Fordisme (menyelesaikan masalah inkonsistensi Fordisme),
sedangkan Neo-Fordis berarti elemen-elemen pengembalian aset a la Fordis masih terus
diterapkan. The Regulation School memilih istilah Pasca-Fordisme (atau Aprs-Fordisme)
untuk menunjukkan bahwa konsep yang muncul setelah Fordisme masih belum jelas.[7]
Di negara-negara pos-Fordis:[7]

Teknologi informasi canggih sangat penting.

Produk dipasarkan ke pasar niche alih-alih disebarkan menurut pola


konsumsi massal berdasarkan kelas sosial.

Industri jasa mendominasi industri produksi.

Angkatan kerja mengalami feminisasi.

Pasar keuangan mengalami globalisasi.

BEBERAPA CATATAN TENTANG HOMOGENISASI


BUDAYA DI
DALAM DUNIA YANG MENGLOBAL
OLEH JEAN COUTEAU
GLOBALISASI
Adalah terlambat untuk merisaukan ancaman globalisasi serta
dampaknya terhadap kebudayaan.
Globalisasi sudah hadir.
Peradaban
peradaban agraris lama

kini sudah mati. Yang tertinggal dariny


a hanyalah sisa
sisa,
tercecer sana sini,
yang dapat difungsikan di dalam kerangka sosio
ekonomi
, sosio
kultural
dan
sosio
politik
kapitalistis
yang baru.
Kapitalisme
ini
kini menyeluruh secara geografis dan telah
bet
ul
betul
menjadi global. Usai menguasai dunia Barat (Eropa Barat dan Amerika
Utara)
dua
ratus tahun yang lalu
, dia telah meluas ke Asia Timur (pertama Jepang,
lalu
kini Taiwan, Ko
rea
dan China), ke Timur Tengah dan
Asia Tenggara (Thailand, Malaysia dan Ind
onesia), ke
Amerika Latin dan bahkan ke bekas Uni Soviet dan Asia Selatan (India)
; ia kini tengah
merambah ke Afrika
. Selain memasuki semua pelosok bumi,
k
apitalisme
juga
merasuki semua

segi kehidupan ekonomi dan, dengan sendirinya, kehidupan


sosial
pula
:
baik t
anah, tenaga kerja,
teknologi,
sistem
pengetahuan dan pendidikan, barang modal dan barang konsumsi dan
bahkan
sarana
dan isi
media
komunikasi
pun
, semuanya
menjadi komoditas.
Jadi untuk pertama kali di
dalam sejarah, kehidupan sosio
ekonomi bumi kita
ditentukan oleh
sistem
tunggal: ekonomi
pasar, nama baru
dari
kapitalisme global.
Kapitalisme
tidak lagi bersifat nasional. Hal ini berbeda dengan
situasi yang berlaku s
ebelum
akhir Perang Dunia Kedua, ketika negera
negara
kapitalis besar (Inggeris, Je
rman, Amerika,
Perancis, Italia) bertarung untuk memperluas wilayah pasar yang
dikuasainya secara ekonomi
dan politik

hal mana
telah berkali
-

kali
bermuara pada perang
.
Sebaliknya, k
ini, modal,
tenaga
kerja dan pengetahuan teknis dan manajerial
dapat
ber
pindah
pindah tempat secara leluasa,
senantiasa mencari
lahan yang
kombinasi unsur
unsur kapital
nya
menghasilkan
nilai tambah dan
untung yang
setinggi
tingginya
. Akibatnya senantiasa tumbuh
lah
zona
zona akumulasi kapital
baru yang pada gilirannya
melahirk
an sub
zona
serupa
sembari
kian ber
integrasi
di
dalam
jaringan
kapital

internasional.
Jadi kini,
s
eperti halnya p
emilik modal
Amerika
yang
aktif di
China
dan Jepang dan balikannya,
pe
milik modal
Indonesia pun
adalah
aktif, selain
di pelosok
Nusantara, di S
hangai
,
Jerman
atau dimana pun di dunia
.
APAKAH BAKAL TERJADI DISFUNGSI?
Yang jelas dari situasi di atas ialah bahwa internasionalisasi kapital yang
diramalkan Marx dan
Trotsky seratus tahun yang lalu telah menjadi kenyataan. Adalah tugas
kita agar ia ti
dak sampai
berakhir seperti pada abad yang lalu

ketika dia bubar dalam ultra


nasionalisme di satu pihak
(Jerman dan Itali), dan di dalam internasionalisme semu nan kasar yang
bernama komunisme di
lain pihak. Kita semua wajib membangun sistem institutusion
al yang mampu menjaga kita agar
tidak kita masuk kembali ke dalam jebakan nir
adab dari abad yang lalu.
Berkenaan dengan ini, munculah pertanyaan
pertanyaan

untuk horizon 2100


:
apakah kapitalisme
global
ini
akan
bersifat kekal
nan damai
dan
melahirkan ja
ringan ekonomi dan sosio
politik
supra
nasional yang akan menjadikan
negara
bangsa
(nation state)
semakin tidak
relevan

karena
terjepit antara
mega
perusahan transnasional
di satu pihak dan lembaga dan NGO transnasional
di lain pihak

dan bila itu terjadi,


apa yang akan merupakan kerangka institusional pengganti
;
apakah
n
egara
bangsa akan tetap menjadi ruang utama
yan berdaulat
dari
sistem
penawaran
institusional
baru

antara kepentingan ekonomi,


sosial
dan pol
i
tik dunia
; atau apakah seluruh
sistem institusi
onal dunia akan ambruk karena baik negara bangsa maupun lembaga
transnasional tidak akan mampu menghadapi tantangan
tantangan ekologi dan tantangan
tantangan yang berkaitan dengan akses pada sumber daya alam
.
Apa pun halnya, s
udah jelas bahwa baik dinamik
a intern
dari
kapitalisme
ke semua unsur
ekonomi;
baik juga
dinamika geografis
dari
kapitalisme
ke semua wilayah dunia; maupun
dinamika yang
ritmenya
berbeda
beda
menurut
ruang
kultural
; semuanya itu
dapat
melahirkan
disfungsi yang bermuara kepada
krisis
.
Krisis
mana dapat
disusul

oleh
keseimbangan sosio
politik
adaptatif
baru
atau
oleh
konflik.
MATINYA KEBUDAYAAN AGRARIS
Dengan matinya kebudayaan
kebudayaan agraris, yaitu dengan matinya fungsi tanah sebagai
factor penentu utama struktur sosial ekonomi,
ta
k ayal bawha
pola hidup terkait
punah
: orang
tidak lagi hidup di dalam lingkaran extended family (keluarga besar) di
wilayah pertanian serta
di kota
pasar atau kota
benteng, tetapi di dalam lingkaran keluarga batih
di ruang yang urban
atau terjalin denga
n budaya urban secara ekonomi dan kultural (TV, internet)
; penguasaan atas
surplus ekonomi tidak lagi dilakukan oleh kaum bangsawan atau
pendeta yang kemudian
mengkonsumsinya di dalam potlatch
potlach besar berbentuk kemewahan prestisius, perang atau
upa
cara besar, yang kesemuanya berfungsi memperkokoh struktur sosial
pra
feudal atau
feudal yang ada. Ia sebaliknya langsung dikonsumsi secara individual
di dalam bentuk

pemborosan konsumtif yang menjadi tujuannya tersendiri nan akumulatif


yang berfungs
i
memperkokoh kuasa kaum kapital.
Akibat dari perobahan makro
ekonomi dan makro
sosial ini
ialah surutnya pemikiran mitis serta kepercayaan pada hal
hal yang bersifat ajaib nan religus.
Sistem penjelasan yang tadinya ditawarkan oleh animism
animism trad
isional atau pun oleh
agama
agama besar

apakah agama
agama wahyu dari Barat atau agama
agama kosmis dari
India ke Timur
-kehilangan kuasa atas pengikutnya. Keyakinan agama surut atau
berubah
bentuk secara drastis: alih
alih berupa keyakinan kolektif mut
lak yang menjadi perekat sosial
yang selaras dengan tatanan politik absolut yang ada, ia kian sering
beru
bah menjadi
keyakinan
individual bersifat pragmatis nan rasional yang cenderung terstruktur di
dalam bentuk kelompok
kelompok
atau sekte
-

sekte
yang ind
ependen dari atau bahkan bertentangan dengan sistem politik
yang berkuasa. Jadi perubahan di atas tidak hanya mengoncangkan
tatanan budaya, tetapi seluruh
tatanan sosial
.
.
HOMO
GEN
ISASI BUDAYA
Tak dapat disangkal bahwa ketunggalan
sistem
kapitalis
di at
as
mempunyai
dampak
yang
besar
terhadap
sistem
budaya
, pada aneka tingkat
sistem
budaya itu:
Di satu pihak tak disangkal bahwa ekonomi kapitalistis melahirkan, di
dalam p
ola
pengelolaannya, sikap
kultural

yang
selarasnya dengannya
, dimana pun kita ber
pij
ak
di bumi
ini.
Demi sukses perusahaan
perusahan terkait
nya, ia menuntut, dan dengan sendirinya

menghasilkan suatu
mind
set
(
sikap
mental)
yang bersifat
kian
rasional
di dalam menghadapi
kenyataan. Rasionalitas ekonomi
adalah
inheren pada pen
d
jawalan kegiat
an
produksi dan
komersialisasi serta pada
penghitungan
untung
rugi,
dan dengan sendirinya
menjadi ciri yang
kian mengemuka
dari sikap para pelaku ekonomi seluruh dunia
akibat gigitan kian mendalam
dari kapitalisasi ekonomi
.
Perangkat pendukung menyusul:
fu
ngsi
utama
dari sekolah, paling
sedikit sejak
hari jayanya
dari
kapitalisme
imperialis, adalah menyiapkan tenaga kerja
yang
trampil
na
n siap pakai

untuk
dalam perusahaan
modern
.
Dampak kultural pertama dari rasionalisasi pemikiran adalah
standardisasi dar
i semua sector
kehidupan.
Standardisasi menyentuh, di seluruh dunia, semua sektor kehidupa
n: dari pendidikan,
kelembagaan, kesehatan, manajemen, teknik2 produksi
dll.
S
emua
bidang kegiatan itu
tunduk
pada norma
norma yang semakin
ketat
dan semakin homogen
:
norma manajemen, norma
penentuan anggaran
negara
, norma organisasi lembaga
negara
dan perusahan, norma pendidikan,
norma hukum, norma kegiatan olah raga,
norma
perilaku H
am dan lain
lain. Norma tersebut
bersifat
semakin
internasional
dan dijaga oleh lemba
ga
lembaga internasional
(PBB, ILO, IMF,
World Bank,

UNICEF, UNESCO,
Nobel Prize,
FIFA
, WTO, Amnisty International, ISO dan
lain
lain sebagainya
)
yang wewenang nor
matifnya semakin luas,
dan
yang
norma
organisasional,
sosial
dan eti
s
nya
cenderung mendetermi
nasi
dengan
semakin ketat
pula
apa yang disebut
kebudayaan, yaitu sistem produksi ide
ide dan kesenian
.
Di
juluki
modernisasi, perubahan ke arah homogeneisasi
dan standardisasi
ini
terasa di dalam
segala
bidang
kegiatan k
ultural kontemporer:
sastra, teat
er, seni rupa, seni tari, musik, arsitektur,
filem, telev
isi, produk video dan lain
-

lain. S
emua
produk budaya itu kini
dibuat berdasarkan
res
ep
resep
dan patrun
patrun yang berlaku dari Valpareso ke Vladivostok dan
dari
Helsinki ke
Christchurch, lewat
Madr
id
s, Istambul, Mumbai dan Shanga
i Cape Town, Sanaa dan Almati
.
Yaitu bersifat global.
Memang
tak tersangkal bahwa
produk
produk
budaya
k
ini pada umumnya
di
buat
dengan
mengacu pada
problematika
, teknik dan bahkan tema yang
local. Masing
masing o
rang C
h
ina,
India, Perancis
dll, masing
-

masing
berkrea
tivitas
berdasarkan warisan
kultural
nya
tersendiri.
T
etapi
tak tersangkal pula bahwa,
di dalam
ruang urban modern
kekinian
mereka
,
mereka semua
mengacu pada estetika yang semakin homogeny, semakin mirip dari
ujung
bumi yang satu ke
ujung bumi yang lain
:
teknik
teknik cenderung sama, pola stilistik serupa, dan ada pun narasinya
cenderung semakin miri
p
,
pada umumnya
dengan
mengangkat situasi urban keluarga batih
tipikal yang berhadapan dengan masalah cinta, lalu
linta
s, konsums
i
, entertainment
dll yang juga
bersifat serupa. Unsur
unsur
lokal
cenderung tak lebih dari imbuhan
identiter untuk kreator yang

memakainya atau imbuhan


eksotis
untuk yang menontonnya
.
Pendeknya spektrum kultural kian
menyempit. Budaya semakin hom
ogeny, semakin mendunia.
HOMOGENISASI BUDAYA, DOMINASI DAN KONFLIK POLITIK?
Meskipun demikian, janganlah
diartikan
dengan homogenisasi
bah
wa semua
negara atau
kelompok etnis
berada di dalam posisi yang setara dan sama kuatnya
di dalam menghadapi
globalisa
si
.
Kuasa kultural mencerminkan kuasa ekonomi dan politik.
Amerika, dengan
mengandalkan kekuatan ekonomi yang dominan sejak Perang Dua
kedua, telah berhasil, melalui
industri perfilman dan
TV, untuk memaksakan
ideologi
politiknya, konsep heroismenya,
b
ias gendernya dan lain
lain
pada sebagian besar dari dunia
.
Dia dengan ini menguasai budaya
global.
Kuasanya atas media itu merupakan suatu soft power yang sejatinya tak
kurang besar
daripada kekuasaan poltitik dan militernya.
Di dalam garis besar, kuasa
kultural dari suatu bangsa
memang
erat kaitanya dengan kuasa

ekonominya.
Dapat dipertanyakan sejauh mana munculnya kekuatan ekonomi baru

terutama
China
akan melahirkan budaya tandingan yang, meskipun kian dekat secara
struktural dan
bahkan dari sudut is
i, bisa jadi
bakal
tempil
bukan sebagai partner, tetapi
sebagai lawan.
Melihat masa lalu Eropa, dimana munculnya kekuatan ekonomi Jerman
pada awal abad ke
20
bermuara pada konflik dan perang,
adalah amat penting mengintegrasikan
dengan halus secara
eko
nomi dan
kultural
kekuatan
kekuatan baru

terutama
China
-di dalam
sistem
global
itu
agar
bangsa yang bersangkutan
terhindar dari
ultra
nasionalisme
ragam baru
.

MANUSIA GLOBAL ATAU MANUSIA YANG TERMARGINALKAN


L
???
Apapun ketimpangan
nya
,
dan justru karena
patrun
patrun kultural yang menyertainya,
tak dapat
disangkal bahwa globalisa
si
sejatinya menciptakan ragam manusia yang
semakin
universal,
bukan hanya secara ideal
normatif, tetapi sebagai kenyataan sosio
kultural.
Dengan bahasa
yang
lebih kongkret,
sit
uasi dan masalah yang serupa di seluruh dunia menghasilkan manusia
yang
serupa juga: warga Cina dari Beijing kini
jauh
lebih dekat
secara kultural
dari warga Inggeris
dari London daripada 200 tahun yang lalu
:
baik orang London maupun orang Beijing
sama
sam
a
nonton TV, main internet
, berpikiran abstrak
dll
.

Homogeneisasi dan internasionalisasi terkait menghasilkan dua ragam


orang
trans
kultural/global yang
bertolak belakang satu sama lainnya. Kelompok pertama terdiri dari
para
manager, ins
inyur
dan teknokr
at publik dan swasta dari
sistem
kapitalis global
ini
:M
ereka
dengan leluasa
bertukaran produk, ide dan teknik
secara
internasional satu sama lainnya. Mereka
dengan ini
menjadi
sekaligus pemimpin dan
sarana utama dari proses
homogen
isasi,
stand
ardisasi dan
internasionalisasi
yang dibicarakan di atas.
Bertolak belakan
g
dengan
mereka
terdapat
kaum penentang
kapitalisme modern
,
yang
sering merupakan anggota atau pendukung
dari
LSM
-

LSM internas
ional dan berasal dari kaum terdidik.
Mereka
mencari
cari
kelemahan
dari sistem
kapitalis
(kelemahan politik, institusional, ekologis etc) untuk mereformasikannya
kalau moderat atau,
untuk menjatuhkannya
, bila lebih radika
l
..
Namun, d
isamping
mereka
yang berpikiran global itu,
terdapat juga
mereka
yang
merasa
termarginalka
n
secara ekonomi dan
/atau
kultural dan oleh karena sebab itu
menjadi p
enentang
proses globalisasi
.
Di
negara
negara
Utara, kaum termarginalkan
itu
terdiri dari bekas kaum
buruh yang kehilangan pekerjaan karena delokalisasi
perusahannya,
serta dari mereka y
ang

merasa tersaingi di dalam upaya pencarian pekerjaan oleh kaum


imigran. K
enyataan sosial ini
bermuara pada
munculnya gerakan ultra
kanan yang anti
globalisasi dan anti
asing. Di
negara
negara
Selatan
, orang yang
termarginalkan
berciri lain;
terdiri dari
kaum urban baru yang
terputus dari
pijakan
agrarisnya, hilang referensi ajaib
religius tradisional
nya dan tak tentu
sumber nafkahnya; orang sejenis itu
cenderung mengkonstruksi identitas
baru
dengan mengacu
pada
identitas etnis atau
agama
; yang terakhir i
ni
ditafsir kembali menjadi sarana r
e
s
istensi
terhadap goncangan
goncangan
modernisasi dan

globalisasi. Radikalisasi religius atau etnis


seperti
itu
ditemukan di sebagian besar dari dunia, di wilayah
wilayah yang telah gagal
menyediakan peluang ekonomi
baru bagi masyarakat kecil
, terutama di dunia Islam, tetapi juga
di dunia Hindu dan bahkan Buddha
.
MODUS
RESISTENSI TERHADAP GLOBALISASI
: PERAN KEBUDAYAAN
Di atas
sudah dilihat bahwa globalisasi melahirkan aneka disfungsi yang dapat
bermuara pada
konfli
k. Munculnya partai
partai ultra
kanan di Eropa dan gerakan fundamentalis
atau etnis di
sejumlah negara
merupakan resitensi politik yang amat sulit dijawab secara adaptatif.
Selain itu
,
seperti disinggung di atas,
selalu
terdapat kemungkinan bahwa
China a
tau
kekuatan ekonomi
baru lainnya gagal berintegrasi secara
supel di dalam
sistem global
, hal mana dapat bermuara
pada konflik baru
.
Di dalam situasi yang demikian,
kebudayaan
--

di dalam artian
praktek kultural
-diharapkan
berfungsi sebagai penawar.
Tet
api ambiguitasnya hendaknya disadari: terdapat unsur budaya
yang
berfungsi membenarkan secara ideologis nan integratif sistem ekonomi
global
modern
serta merangsang selera konsumptif yang menjadi kuncinya
; itulah yang dilakukan oleh segai
missal dari bud
aya global; tetapi terdapat juga elemen yang
menjadi sarana penyadar
atas
disfungsi
disfungsi so
s
io
kultural
yang
senantiasa
bermunculan
pada mesin global ini. Peran dari
produk budaya yang baik, baik
produk sastra, teater, perfileman
maupun lain
lainnya b
oleh jadi
ialah
mempertanyakan
di dalam kreasinya
keabsahan realita
sosial
demi menghasilkan koreksi
partial atau institusional.
Para seniman dan penulis dari negara
-

negara Utara, bila tidak menyanjung kapitalisme di atas,


cenderung berkreasi di seputar
masalah kemiskinan baru atau alienasi kultural yang disebabkan
oleh hiperindividualisme modern, sementara para filsuf dan pemikir
sosial
nya cenderung
mempertanyakan peran media (hyper
realitas Baudrillard) dan dasar serta jangkauan
sosial
ideologis dari k
ekuasaan (Foucault dan Bourdieu). Di Selatan kreativitas para seniman,
penulis
dan pemikir
sosial
boleh jadi lebih beraneka, karena sering menyangkut, selain masalah
dominasi
dan kemiskinan (para pemikir India), masalah yang terlihat pada tataran
individu
akibat
akselerasi sejarah yang ditimbulkan oleh dinamika ekonomi modern,
dan terutama pertemuan
dunia ajaib lama dengan keglobalan mutakhir. (Dapat dicatat bahwa
sebagian cukup besar dari
bintang
bintang sastra dan seni rupa kini berasal dari Selatan.)
BAGAIMANA POSISI BANGSA DI HADAPAN BUDAYA GLOBAL
Pertama
tama hendaknya disadari disini bahwa playing groundnya tidak adil
baik semua
pemainnya.
Apapun ideal dan peran dari institusi internasional, n
egara
negara
Selatan
bergerak
di dalam bidang budaya

eperti di dalam bidang lainnya

di dalam suatu
dunia global yang
kunci
utamanya, dan terutama kunci ekonomi, masih dipegang oleh Amerika
dan segelintir
pelaku lama (Inggeris, Perancis, Jerman).
Di dalam system global, Amerika
lah yang paling
berperan menent
ukan
standar
produk kultural yang baik
. Hal itu berarti, misalnya di dalam
bidang seni rupa, bahwa sukses suatu karya tidak tergantung pada mutu
intrinsiknya, tetapi pada
sejauh mana
ia
sesuai
dengan
standar yang diharapkan di Amerika:
K
arya
seni rupa Chin
a yang
paling laku di Amerika adalah
karya
yang ragam formalnya (seni
Pop
baru)
dan kandungan
politik
(kritik terhadap partai komunis) paling sesuai dengan standar Amerika
(Stallabras)
.
Sebaliknya
karya
seni, apa pun mutu intrinsiknya, yang kode kultural
nya terlalu menyimpang
dari standar Amerika atau Eropa
--

atau Jepang,
tidak mungkin laku atau
, paling sedikit tidak
mungkin
dapat pengakuan internasional yang berarti. Misalnya,mengapa

Opera Jawa

buatan
Garin Nugroho tidak mendapat penghargaan perfilem
en yang
lebih
besar? Oleh karena
, pada
hemat saya, karena
kode kulturalnya

cerita Ramanyana yang dimodernkan dengan lagu yang


asing

terlalu jauh dari kode yang diharapkan


oleh
media

dan public

giringan Amerika.
Seluruh
si
stem budaya memang digiring u
ntuk memenuhi permintaan dari pasaran yang
terbesarnya. Jadi globalisasi
menimbulkan homogen
isas
yang
ada pelaku aktif dan
pelaku
pasif
nya
, penentu dan pengikut.
Dan pelaku paling efisien, yang meperkokoh dominasi Amerika,
berada di Hollywood atau di Silic
on Valley.

Ujung
ujungnya, produk
produk kultural yang dapat
diterima oleh pasaran yang disebut internasional itu adalah yang
mempunyai fungsi
dan bentuk
ikonik yang menjadikannya tidak lagi bagian dari budaya lokal, tetapi
bagian dari budaya
Amerika
(
at
au Eropa
)
.
BAGAIMANA KEBIJAKAN BUDAYA INDONESIA DI DALAM
MENGHADAPI
GLOBALISASI.
Indonesia mempunyai suatu kekhasan. Ia adalah salah satu di antara
sedikit
negara
yang
menjadikan keanekaragaman budaya
budaya lokalnya sebagai dasar dari kebijakan
kebud
ayaannya.
Hal itu lahir dari situasi
politik
Indonesia sendiri, yaitu dari kenyataan bahwa,
agar bersatu, Indo
nesia harus mengakui keragaman kulturalnya.
Kenyataan itu juga dirumuskan
di dalam ideologi dan lambang negara (Pancasila dan Bhinneka Tunggal
Ika
. Dan hingga kini, 68
tahun setelah proklamasi kemerdekaan, k
ebijakan kultural Indonesia masih
tetap
mengacu pada
pernyataan Ki
Ha

djar Dewantara bahwa kebudayaan nasional adalah puncak


puncak
kebudayaan daerah.
Persatuan bersandar pada keragaman.
Dan nas
ionalisme Indonesia
menekankan kekhasan dan kekayaan budaya
budaya Nusantara.
Namun, tak terelakkan, evolusi historis menimbulkan
paradox
. Kebijakan kebudayaan Ki
Ha
djar
dikeluarkan pada waktu kebudayaan
kebudayaan lokal masih bersifat agraris dan masih te
tap
memproduksi dan mereproduksi cerita
cerita dan mitos
mitos ajaib
religius yang dibicarkan di
atas, sementara produksi kebudayaan nasional Indonesia, di dalam
bahasa Indonesia, masih
terbatas pada sastra dan segelintir karya teater dan filem.
Pada tah
un
tahun pasca
kemerdekaan
situasi tidak banyak berubah. Unsur
unsur
budaya
modern
dapat berkembang selayaknya, terutama di dalam bidang sastra dan
seni rupa, sementara
kebudayaan agraris tetap bertahan seperti sediakala

-karena ekonomi anjlok dan urbanis


asi
terbatas.
Jadi s
astra dan seni
nasional
Indonesia membahasakan problematika sosial dan
nasional dengan melekat pada realita sebagaimana ditafsir dan di
wacanakan
oleh kekuatan
kekuatan politik
dan
sosial
yang ada
, apapun acuannya: n
asionalis,
k
omunis,
Islam ds
b.
S
ementara
itu,
seni pewayangan dan teater klasik tetap menyajikan,
dalam bahasa local,
di Jawa,
Bali dan berbagai pulau yang lain, renungan dan petualangan tokoh
tokoh budaya agraris
acuannya
, dengan sana
sini menyinggung persoalan kekinian sos
ial dan politik
.
Pada tahun 1965, keseimbangan itu berubah
drastis
.
Sastra dan seni
national Indonesia,
seperti

seni pewayangan, tari dan teater dari budaya


budaya lokal,
tidak boleh menjadi lagi penyalur
dari
dinamika
sos
ial, bila dinamika tersebut be
rsifat konfliktual.
Acuan pada kekinian, kecuali
sebagai sanjungan aktif atau pasif terhadap Pembangunan,
menghilang dari landskap budaya.
Sebagai penyeimbang yang dikedepankan
oleh pemerintah Orde Baru ialah apa yang disebut
kebudayaan

yaitu
budaya y
ang di
sterilkan
dari segala unsur kontroversial, baik politik
maupun

moral

, dan sekaligus dapat dijadika


n daya tarik ikonik pariwisata serta
lambang
kebesaran Nusa dan Bangsa.
Penyempitan ruang budaya serta perekayasaan dari budaya
budaya
agraris tradi
sional ini sudah
dengan sendirinya
cukup memprihatinkan pada waktu itu, tetapi
situasi akan diperparah lagi, mulai tahun 1970
an dan sampai sekarang, dengan perubahan besar
besaran pada dunia
pendidikan
seperti pada

media dan komunikasi


. Proses penurunan m
emori
kultural (transmission of
kultural
memori) berubah drastic: pertama
semua warga Indonesia
muda dididik dalam bahasa Indonesia,
sementara bahasa
bahasa daerah dinomor duakan; lalu
masuknya TV dan
kemudian
internet ke semua pelosok Nusantara
mengubah s
ecara drastis
referensi kultural. Budaya lisan yang hingga waktu itu menjadi sarana
utama penurunan memori
kultural
dengan sendirinya merosot perannya.
Situasi kini a
dalah sebagai berikut:
budaya
budaya daerah masih dianggap sebagai
puncak
dari
kebudayaa
n nasional, tetapi latar belakang agraris dari kebudayaan itu sudah
hampir seluruhnya
punah.
Lebih
lebih lagi b
ahasa
bahasa
penunjang budaya daerah
tersebut
kini
menjadi
komponen minor dari
si

stem pendidikan
.M
emori kultural kaum muda semakin dibentuk, buk
an
lagi oleh budaya daerah di dalam bahasa dan dengan isi yang
bersangkutan, tetapi oleh budaya
nasional In
donesia, dalam bahasa Indonesia,
serta melalui media dan dengan isi yang
sepenuhnya modern dan global.
Dengan kata lain, terdapat paradok
.M
eskipun
p
roduk budaya
agraris

terutama karawitan Bali dan Jawa

tetap disanjung
sanjung sebagai puncak budaya
nasional, tetapi budaya itu mendekati kepunahan:
bahasa local acuannya tidak lagi dikuasai
dengan baik, mitos dan filsafat terkaitnya tidak lagi diturunka
n

karena wayang dan teater


kehilangan perannya
, tetapi juga karena tidak diajarkan di lembaga pendidikan

dan budaya
visualnya tidak lagi difahaminya

misalnya estetika Bali dan Jawa telah menjadi asing.


Pendeknya semua system penunjang dari puncak
puncak
budaya daerah yang dikagumi itu
ambruk. Yang tinggal dari
nya
hanya segelintir tarian yang ikonik

yang laku dijual pada pihak


asing, tetapi cerita, filsafat dan estetika terkaitnya mendekati tahap
kepunahan.
Anehnya, sementara semua itu terjadi, buda
ya dijadikan ideologi. Pejabat berwacana tentang
kebudayaan adiluhung,
seminar
seminar tentang
kebudayaan nasional
dan kebudayaan daerah
bersusulan tanpa hentinya
, tetapi hampir tidak ada langkah
kongkret untuk menurunkan mitos,
filsafat dan estetika terk
ait
melalui sistem pendidikan
.
Bila kita ingin memperkokoh resistensi budaya nasional Indonesia
terhadap serang global dan
homogenisasi terkait, kita harus memasukkan mitos, filsafat dan estetika
local di dalam
kurikulum.
Kita juga harus mengambil tindaka
n kongkret untuk merekam sisa
sisa budaya lisan
yang masih hadir di Nusantara (Bali, Jawa dll)

sebelum menghilang dan terlupakan. Kita masih


ada 20 tahun untuk itu, sebelum orang
oran tua, yang
dibentuk memori kulturalnya
sebelum
masa TV dan internet,
bak
al cepat
menghilang ditelan waktu. Bila berhasil, kita aka
n
ada pupuk
untuk melawan homogenisasi yang mengancam
.P

aling sedikit, homogenisasi


versi local
akan
lebih
berwarna Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai