Anda di halaman 1dari 18

Tugas OTK 3

Kelompok 1:

1. Ikhsan Solikhuddin
2. Hafid Anggito W
3. Bagus Heri Purnomo
4. Muhammad Fariz
5. Yogi Tampubolon

(121130005)
(121130011)
(121130186)
(121130276)
(121141003)

I.

Pengertian Bahan Galian

Bahan galian semua semua produk dari pertambangan yang diperoleh dengan cara pelepasan
dari batuan induknya di dalam kerak bumi, dari mineral mineral untuk keperluan manusia
Mineral merupakan sumber daya alam yang proses pembentukanya memerlukan waktu
jutaan tahun dan sifat utamanya tidak terbarukan.Mineral dapat di manfaatkan sebagai bahan
baku dalam industri/produksi. Dalam hal demikian mineral lebih dikenal sebagai bahan galian.
Mineral adalah suatu benda berbentuk padat,cair, atau gas yang homogeny dan terdapat di
alam, terbentuk secara alamiah dari bahan-bahan organis, mempunyai komposisi kimia tertentu
dengan struktur atom dan sifat fisik yang sama.
Dalam arti luas, bahan galian industry adalah bahan tambang, kecuali bahan bakar, bijih
logam dan air, yang digali dan dapat digunakan secara langsung tanpa atau sedikit melalui proses
pengolahan terlebih dahulu.
Bahan galian dibagi menjadi 3 golongan yaitu :

Bahan galian golongan A,yaitu bahan galian penting untuk pertahanan keamanan
Negara atau untuk menjamin perekonomian Negara
Contohnya :
- Minyak bumi,bitumen cair ,lilin bumi, gas alam
- Bitumen padat , aspal, nikel, cobalt , timah
- Antrasit , batubara, batubara muda
- Uranium , radium ,torium, dan bahan bahan radioaktif lainnya
Bahan galian vital atau golongan B , yaitu golongan bahan galian yang digunakan

untuk memenuhi hajat hidup orang banyak


Contohnya:
Besi,mangan, molibden, crom, wolfram, vanadium, titan
Bauksit, tembaga timbal , seng
Emas, platina, perak, air raksa, intan
Arsin, antimon , bismuth, barit
Rhutenium, cerium, dan logam logam langka lainnya
Berilium , korundum, zircon, Kristal kuarsa
Kriolit, fluorspar, barit
Yodium, brom, chlor, belerang

Bahan galian non strategis dan non vita atau golongan C, bahan galian yang tidak
termasuk bahan galian stratregis dan vital karna sifatnya tidak langsung

memerlukan pasaran yang bersifat internasional


Contohnya :
Nitrat, nitrit, phospat phospat, garam batu atau (halite)
Asbes, talk, mika, grafit, magnesit
Yarasit, leusit, tawas (alum), oker
Batu permata, batu setengah permata
Pasir kuarsa, kaolin, feldspar , gypsum, bentonit
Batu apung, trass , obsidian, berilit, tanah diatomia, tanah serap (fullers earth)
Murmer, batu tulis,
Batu kapur, dolomit, kalsit
Granit, andesit, basalt, trakhit, tanah liat , dan pasir, sepanjang tidak mengandung
unsur unsur mineral golongan A maupun B dalam jumlah yang berarti ditinjau
dari segi ekonomi pertambangan.

II.

Sifat-Sifat Fisis Bahan Galian

Semua mineral mempunyai susunan kimiawi tertentu dan penyusun atom-atom yang
beraturan, maka setiap jenis mineral mempunyai sifat-sifat fisik/kimia tersendiri. Dengan
mengenal sifat-sifat tersebut maka setiap jenis mineral dapat dikenal, sekaligus kita mengetahui
susunan kimiawinya dalam batas-batas tertentu
Sifat-sifat fisik yang dimaksudkan adalah:
1. Kilap (luster)

12. Daya Serap Air

2. Warna (colour)

13. Elastisitas

3. Kekerasan (hardness)

14. Plastisitas

4. Bentuk (form)

15. Porositas

5. Berat Jenis (specific gravity) / Bulk


6. Sifat Dalam
7. Kemagnetan
8. Kelistrikan
9. Daya Lebur Mineral
10. Agregasi
11. Kerapuhan
Kilap
Merupakan kenampakan atau cahaya yang dipantulkan oleh permukaan mineral saat terkena
cahaya
Kilap ini secara garis besar dapat dibedakan menjadi jenis:
a.

Kilap Logam (metallic luster): bila mineral tersebut mempunyai kilap atau kilapan seperti

logam. Contoh mineral yang mempunyai kilap logam:

Gelena

Pirit

Magnetit

Kalkopirit

Grafit


b.

Hematit

Kilap Bukan Logam (non metallic luster), terbagi atas:

Kilap Intan (adamantin luster), cemerlang seperti intan.

Kilap kaca (viteorus luster), misalnya pada kuarsa dan kalsit.

Kilap Sutera (silky luster), kilat yang menyeruai sutera pada umumnya terdapat pada
mineral yang mempunyai struktur serat, misalnya pada asbes, alkanolit, dan gips.

Kilap Damar (resinous luster), memberi kesan seperti damar misalnya pada spharelit.

Kilap mutiara (pearly luster), kilat seperti lemak atau sabun, misalnya pada serpentin,opal
dan nepelin.

Kilap tanah, kilat suram seperti tanah lempung misalnya pada kaolin, bouxit dan limonit.

Kilap mineral sangat penting untuk diketahui, karena sifat fisiknya ini dapat dipakai dalam
menentukan mineral secara megaskopis. Untuk itu perlu dibiasakan membedakan kilap mineral
satu dengan yang lainnya, walaupun kadang-kadang akan dijumpai kesulitan karena batas kilap
yang satu dengan yang lainnya tidak begitu tegas
Warna
Warna mineral merupakan kenampakan langsung yang dapat dilihat, akan tetapi tidak dapat
diandalkan dalam pemerian mineral karena suatu mineral dapat berwarna lebih dari satu warna,
tergantung keanekaragaman komposisi kimia dan pengotoran padanya. Sebagai contoh, kuarsa
dapat berwarna putih susu, ungu, coklat kehitaman atau tidak berwarna. Walau demikian ada
beberapa mineral yang mempunyai warna khas, seperti:

Putih

: Kaolin (Al2O3.2SiO2.2H2O), Gypsum (CaSO4.H2O), Milky Kwartz

(Kuarsa Susu) (SiO2)

Kuning

: Belerang (S)

Emas

: Pirit (FeS2), Kalkopirit (CuFeS2), Ema (Au)

Hijau

: Klorit ((Mg.Fe)5 Al(AlSiO3O10) (OH)), Malasit (Cu CO3Cu(OH)2)

Biru

: Azurit (2CuCO3Cu(OH)2), Beril (Be3Al2 (Si6O18))

Merah

: Jasper, Hematit (Fe2O3)

Coklat

: Garnet, Limonite (Fe2O3)

Abu-abu

: Galena (PbS)

Hitam

: Biotit (K2(MgFe)2(OH)2(AlSi3O10)), Grafit (C), Augit

Kekerasan
Adalah ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan nisbi suatu mineral dapat
membandingkan suatu mineral terentu yang dipakai sebagai kekerasan yang standard. Mineral
yang mempunyai kekerasan yang lebih kecil akan mempunyai bekas dan badan mineral tersebut.
Standar kekerasan yang biasa dipakai adalah skala kekerasan yang dibuat oleh Friedrich Mohs
dari Jeman dan dikenal sebagai skala Mohs. Skala Mohs mempunyai 10 skala, dimulai dari skala
1 untuk mineral terlunak sampai skala 10 untuk mineral terkeras .

Skala Kekerasan Mohs


Skala Kekerasan
1
2
3
4
5

Mineral
Talc
Gypsum
Calcite
Fluorite
Apatite

Rumus Kimia
H2Mg3 (SiO3)4
CaSO4. 2H2O
CaCO3
CaF2
CaF2Ca3 (PO4)2

6
7
8
9
10

Orthoklase
Quartz
Topaz
Corundum
Diamond

K Al Si3 O8
SiO2
Al2SiO3O8
Al2O3
C

Sebagai perbandingan dari skala tersebut di atas maka di bawah ini diberikan kekerasan dari alat
penguji standar :
Alat Penguji

Derajat Kekerasan

Kuku manusia
Kawat Tembaga
Paku
Pecahan Kaca
Pisau Baja
Kikir Baja
Kuarsa

Mohs
2,5
3
5,5
5,5 6
5,5 6
6,5 7
7

Bentuk
Mineral ada yang berbentuk kristal, mempunyai bentuk teratur yang dikendalikan oleh
sistem kristalnya, dan ada pula yang tidak. Mineral yang membentuk kristal disebut mineral
kristalin. Mineral kristalin sering mempunyai bangun yang khas disebut amorf
Mineral kristalin sering mempunyai bangun yang khas, misalnya:
a.

Bangun kubus

: galena, pirit.

b.

Bangun pimatik

: piroksen, ampibole.

c.

Bangun doecahedon

: garnet

Mineral amorf misalnya

: chert, flint.

Kristal dengan bentuk panjang dijumpai. Karena pertumbuhan kristal sering mengalami
gangguan. Kebiasaan mengkristal suatu mineral yang disesuaikan dengan kondisi sekelilingnya

mengakibatkan terjadinya bentuk-bentuk kristal yang khas, baik yang berdiri sendiri maupun di
dalam kelompok-kelompok. Kelompok tersebut disebut agregasi mineral dan dapat dibedakan
dalam struktur sebagai berikut:

Struktur granular atau struktur butiran yang terdiri dari butiran-butiran mineral yang
mempunyai dimensi sama, isometrik. Dalam hal ini berdasarkan ukuran butirnya dapat
dibedakan menjadi kriptokristalin/penerokristalin (mineral dapat dilihat dengan mata
biasa). Bila kelompok kristal berukuran butir sebesar gula pasir, disebut mempunyai
sakaroidal.

Struktur kolom: terdiri dari prisma panjang-panjang dan ramping. Bila prisma tersebut
begitu memanjang, dan halus dikatakan mempunyai struktur fibrous atau struktur
berserat. Selanjutnya struktur kolom dapat dibedakan lagi menjadi: struktur jarring-jaring
(retikuler), struktur bintang (stelated) dan radier.

Struktur Lembaran atau lameler, terdiri dari lembaran-lembaran. Bila individu-individu


mineral pipih disebut struktur tabuler,contoh mika. Struktur lembaran dibedakan menjadi
struktur konsentris, foliasi.

Sturktur imitasi : kelompok mineral mempunyai kemiripan bentuk dengan benda lain.
Mineral-mineral ini dapat berdiri sendiri atau berkelompok.
Bentuk kristal mencerminkan struktur dalam sehingga dapat dipergunakan untuk

pemerian atau pengidentifikasian mineral


Berat Jenis
Adalah perbandingan antara berat mineral dengan volume mineral. Cara yang umum
untuk menentukan berat jenis yaitu dengan menimbang mineral tersebut terlebih dahulu,
misalnya beratnya x gram. Kemudian mineral ditimbang lagi dalam keadaan di dalam air,
misalnya beratnya y gram. Berat terhitung dalam keadaan di dalam air adalah berat miberal
dikurangi dengan berat air yang volumenya sama dengan volume butir mineral tersebut.

Sifat Dalam
Adalah sifat mineral apabila kita berusaha untuk mematahkan, memotong,
menghancurkan, membengkokkan atau mengiris. Yang termasuk sifat ini adalah

Rapuh (brittle): mudah hancur tapi bias dipotong-potong, contoh kwarsa, orthoklas,
kalsit, pirit.

Mudah ditempa (malleable): dapat ditempa menjadi lapisan tipis, seperti emas, tembaga.

Dapat diiris (secitile): dapat diiris dengan pisau, hasil irisan rapuh, contoh gypsum.

Fleksible: mineral berupa lapisan tipis, dapat dibengkokkan tanpa patah dan sesudah
bengkok tidak dapat kembali seperti semula. Contoh mineral talk, selenit.

Blastik: mineral berupa lapisan tipis dapat dibengkokkan tanpa menjadi patah dan dapat kembali
seperti semula bila kita henikan tekanannya, contoh: muskovit.
Daya lebur mineral
Yaitu meleburnya mineral apabila dipanaskan, penyelidikannya dilakukan dengan
membakar bubuk mineral dalam api. Daya leburnya dinyatakan dalam derajat keleburan.
Magnetic Susceptibility (sifat kemagnetan)
Setiap mineral mempunyai sifat kemagnitan yang berbeda, yaitu ada yang kuat, lemah
bahkan ada yang tidak sama sekali tertarik oleh magnet. Berdasarkan sifat kemagnetan yang
berbeda-beda itulah mineral dapat dipisahkan dengan alat yang disebut magnetic separator. Alat
ini bekerja berdasarkan pada kuat lemahnya mineral tersebut tertarik oleh magnet sehingga dapat
terpisah antara mineral magnetik dan non magnetik. Pemisahan dapat dilakukan dalam keadaan
kering atau basah.
Electric Conductivity (daya hantar listrik)
Mineral memiliki sifat konduktor dan non konduktor. Untuk memisahkan mineral jenis

ini digunakan alat yang disebut high tension separator atau electrostatic separator dan hasilnya
berupa mineral konduktor dan non konduktor. Proses selalu dalam keadaan kering.
Agregasi
Bergabungnya bagian bagian yang terpisah

III.

Alat Pengecil Ukuran (Size Reduction)


Semua cara yang digunakan untuk memotong partikel zat padat dan dipecahkan menjadi

kepingan kepingan yang lebih kecil dinamakan size reduction atau pemecahan/ pengecilan
ukuran. Di dalam industri pengolahan, zat padat diperkecil dengan berbagai cara yang sesuai
dengan tujuannya. Produk produk komersial biasanya harus memenuhi spesifikasi yang sangat
ketat dalam hal ukuran maupun bentuk partikelnya yang sangat berpengaruh terhadap reaktifitas
zat padat tersebut. Pemecahan ini juga dapat memisahkan komponen yang mungkin tidak
diinginkan dengan cara mekanik, serta dapat juga memperkecil bahan bahan berserat untuk
memudahkan proses penanganannya.
Secara umum tujuan dari size reduction atau pemecahahan ini adalah:

Menghasilkan padatan dengan ukuran maupun spesifik permukaan tertentu

Memecahkan bagian dari mineral atau kristal dari persenyawaan kimia yang terpaut pada
padatan tertentu.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan alat size reduction:

Ukuran umpan,

Size reduction ratio,

Distribusi ukuran partikel dii arus produk,

Kapasitas,

Sifat bahan, seperti hardness, abrasiveness, stickiness, densitas, flammability.

Kondisi basah atau kering

Beberapa cara untuk memperkecil ukuran zat padat dapat dilakukandengan menggunakan
berbagai cara, yaitu:

Kompresi (tekanan)

Impak (pukulan)

Atrisi (gesekan)

Pemotong
Kompresi umumnya digunakan untuk pemecahan kasar zat padat keras dengan

menghasilkan relatif sedikit halusan. Pukulan menghasilkan zat yang berukuran kasar, sedang,
dan halus. Atrisi menghasilkan zat yang sangat halus dari bahan yang lunak dan tidak abrasif,
sedangkan pemotongan menghasilkan ukuran yang kasar dan beberapa yang halus. Peralatan
pemecahan atau pengecilan ukuran zat padat dapat dibedakan berdasarkan bagaimana tenaga
pemecah dilakukan, yaitu sebagai berikut:

Antara dua permukaan padatan, seperti crushing dan shearing.


Pada satu permukaan padatan, seperti pukulan (impact).
Tidak pada permukaan padatan tertentu tetapi sebagai media disekitar padatan, seperti

coloid mill.
Tidak dengan energi mekanik melainkan menggunakan thermal shock, explosive
shattering, electrohydroulyc.

Berdasarkan ukuran zat padat yang akan dikecilkan (umpan) maka peralatan pemecah
atau pengecil ukuran zat padat dibedakan atas:

Pemecahan kasar, yaitu menghasilkan padatan dengan ukuran umpan antara 2 sampai

96 inchi.
Pemecahan antara (intermediate), yaitu menghasilkan padatan dengan ukuran antara 2

sampai 3 inchi
Pemecah halus, yaitu menghasilkan padatan dengan ukuran 0.25 sampai 0.5 inchi.

Berdasarkan cara kerja dan ukuaran produk yang diperoleh, maka peralatan size reduction dapat
dibedakan menjadi empat kelompok yaitu:
1. Crusher (mesin pemecah)
2. Grinder (mesin giling)
3. Ultrafine Grinder (mesin giling ultra halus)
4. Cutting machine (mesin pemotong)

IV.

Jenis jenis alat pengecilan ukuran

Peralatan pemecahan atau pengecilan ukuran zat padat dapat dibedakan berdasarkan
bagaimana tenaga pemecah dilakukan, yaitu sebagai berikut:

Antara dua permukaan padatan, seperti crushing dan shearing.


Pada satu permukaan padatan, seperti pukulan (impact).
Tidak pada permukaan padatan tertentu tetapi sebagai media disekitar padatan, seperti

coloid mill.
Tidak dengan energi mekanik melainkan menggunakan thermal shock, explosive

shattering, electrohydroulyc.
Berdasarkan ukuran zat padat yang akan dikecilkan (umpan) maka peralatan pemecah

atau pengecil ukuran zat padat dibedakan atas:


Pemecahan kasar, yaitu menghasilkan padatan dengan ukuran umpan antara 2 sampai 96

inchi.
Pemecahan antara (intermediate), yaitu menghasilkan padatan dengan ukuran antara 2
sampai 3 inchi

Pemecah halus, yaitu menghasilkan padatan dengan ukuran 0.25 sampai 0.5 inchi.
Berdasarkan cara kerja dan ukuran produk yang diperoleh, maka peralatan size reduction
dapat dibedakan menjadi empat kelompok yaitu:
1.

Crusher (mesin pemecah)

2.

Grinder (mesin giling)

3.

Ultrafine Grinder (mesin giling ultra halus)

4.

Cutting machine (mesin pemotong)

Peralatan yang digunakan :


a. Hammer Mill
Hammer mill merupakan aplikasi dari gaya pukul (impact force). Prinsip kerja hammer mill
adalah rotor dengan kecepatan tinggi akan memutar palu-palu pemukul di sepanjang lintasannya.
Bahan masuk akan terpukul oleh palu yang berputar dan bertumbukan dengan dinding, palu atau
sesama bahan. Akibatnya akan terjadi pemecahan bahan. Proses ini berlangsung terus hingga
didapatkan bahan yang dapat lolos dari saringan di bagian bawah alat. Jadi selain gaya pukul
dapat juga terjadi sedikit gaya sobek.
Penggiling palu ( Hammer Mill ) merupakan penggiling yang serbaguna, dapat digunakan
untuk bahan kristal padat, bahan berserat dan bahan yang agak lengket. Pada skala industri
penggiling ini digunakan untuk lada dan bumbu lain, susu kering, gula dan lain-lain
Menurut Mc Colly (1955), penggunaan hammer mill mempunyai beberapa keuntungan antara
lain adalah :
1. konstruksinya sederhana
2. dapat digunakan untuk menghasilkan hasil gilingan yang bermacam-macam ukuran
3. tidak mudah rusak dengan adanya benda asing dalam bahan dan beroperasi tanpa bahan
4. biaya operasi dan pemeliharaan lebih murah dibandingkan dengan burr mill
Sedangkan beberapa kerugian menggunakan hammer mill antara lain adalah :
1. biasanya tidak dapat menghasilkan gilingan yang seragam
2. biaya pemasangan mula-mula lebih tinggi dari pada menggunakan burr mill
3. untuk gilingan permulaan atau gilingan kasar dibutuhkan tenaga yang relatif besar sampai
batas-batas tertentu.

Bagian utama dari hammer mill adalah corong pemasukan, pemukul, corong pengeluaran, motor
penggerak, alat transmisi daya, rangka penunjang dan ayakan :

Corong pemasukan
Corong pemasukan terbuat dari plat esher 1.5 mm, bagian atas dari corong pemasukan

berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 350 mm x 350 mm dan bagian bawahnya menyempit
sampai 90 mm x 50 mm dengan kemiringan dinding corong 40o.

Pemukul
Pemukul terbuat dari stainless steel. Pada bagian ini terdapat lima pasang pemukul yang juga

terbuat dari bahan stainless steel. Ukuran pemukul adalah antara 100 mm x 25 mm x 5 mm dan
pada kedua sisi pemukul dibuat tajam, hal ini bertujuan agar sisi pemukul yang satu dapat
menggantikan sisi pemukul yang sudah tumpul dengan cara membalik posisi. Pemukul dipasang
dengan posisi horizontal dengan jumlah lima pasang yang disatukan oleh empat buah poros yang
terbuat dari stainless steel dengan berdiameter 10 mm dipasang vertikal.

Saringan

Saringan yang digunakan pada hammer mill terbuat dari plat baja. Pada hammer mill saringan
memegang peranan penting dalam menentukan besar ukuran butir biji-bijian, saringan dapat
diganti-ganti tergantung dati besar ukuran butir hasil gilingan yang dikehendaki.

Corong pengeluaran
Corong pengeluaran terbuat dari plat esher 1.5 mm yang berbentuk kerucut terpancung pada

posisi terbalik. Diameter corong adalah 550 mm dan diameter bawahnya adalah 120 mm.

Ayakan
Alat ini berukuran 600 mm x 600 mm yang mana konstruksinya terbuat dari kayu dengan

bentuk seperti trapezium dan kostruksi penyangga terbuat dari plat siku 25 mm x 25 mm x 2.5
mm dengan ukurannya sama dengan ukuran ayakan. Posisi ayakan ini adalah miring dengan
kemiringan 10oC, ini bertujuan untuk memudahkan gerak dari transmisi yang menggerakkan
ayakan dan mempercepat proses pengayakan.

Motor penggerak

Motor penggerak yang digunakan adalah motor listrik dengan daya dan kecepatan putaran
berturut-turut 1 hp dan 148 rpm. Motor tersebut dipasang pada dudukan yang terbuat dari baja

plat 8 mm yang berukuran 250 mm x 147 mm yang dipasang dengan sebuah engsel. Fungsi
engsel adalah jarak antara poros terhadap motor dengan poros utama dapat diatur untuk
memperoleh tegangan sabuk yang diinginkan.
Menurut Smith (1955), tipe hammer mill dibedakan berdasarkan sifat dari gigi penggiling
yaitu gigi penggiling dapat berayun bebas pada porosnya dan gigi penggiling tidak dapat berayun
bebas pada porosnya (statis). Kedua tipe hammer mill tersebut dalam operasinya tidak
mempunyai banyak perbedaan, yang penting diperhatikan adalah jumlah ketebalan dari gigi-gigi
penggiling.
b. Disk mill
Disc mill merupakan jenis alat pengecil bahan yang dapat menghasilkan produk dalam
ukuran sedang maupun halus, seperti kedelai, jagung kentang dan lainnya. Alat ini digunakan
untuk mengupas kulit ari, pembelah dan penghancur biji kedelai dalm keadaan kering maupun
basah.
Disk mill merupakan alat yang memiliki konstruksi dan prinsip kerja yang sama seperti
dengan stone mill. Keduanya sama-sama memiliki dua piringan yang dipasangkan pada sebuah
shaft. Terdapat dua macam disk mill yaitu (1) disk mill yang bergerak pada satu roda dan roda
lainnya stasioner dan (2) disk mill dimana kedua rodanya bergerak. Pada keadaan pertama, satu
piringan terpasang permanen (stasioner) pada badan mesin. Sedangkan pada keadaan kedua,
piringan berputar bersamaan dalam arah putaran yang berlawanan satu dengan lainnya. Bahan
yang akan diproses dimasukkan melalui bagian atas alat (corong pemasukan) yang mempunyai
penampung bahan. Selama proses, bahan akan mengalami gesekan diantara kedua piringan
sehingga ukurannya menjadi lebih kecil dan halus (AEL, 1976). Bagian-bagian dari disc mill
adalah sebagai berikut :
Corong pemasukan
Corong ini berfungsi untuk memasukkan biji yang akan dikupas kulit arinya dan
dihancurkan. Bagian ini dilengkapi dengan katup pemasukkan untuk mengatur jumlah biji yang
akan dikupas oleh cakram sehingga pengupasan akan berjalan lancar.
Penyemprot air

Penyemprot air berfungsi untuk membantu kelancaran turun dan keluarnya biji ke ruang
pengupasan. Air akan mendorong biji agar jatuh ke ruang pengupasan. Pada praktikum ini tidak
dilakukan penyemprotan air.

Ruang pengupasan dan penghancuran


Ruang pengupasan berfungsi sebagai tempat mengupas dan menghancurkan sekaligus

sebagai rangka dudukan bagi landasan gesek. Ruangan ini diberi penutup dan dibuat agak rapat
agar kedelai tidak lolos keluar sebelum mengalami pengupasan dan penghancuran.
Dinding penutup dan cakram
Dinding penutup dan cakram berfungsi sebagai pengupas dan penghancur biji karena
adanaya gerak putar dari cakram terhadap diniding penutup yang diam. Biji yang terkupas dan
hancur itu merupakan akibat dari efek atrisi dan kompresi dari cakram.

Poros penggerak
Poros penggerak berfungsi untuk memutar silinder pengupas yang digerakkan oleh motor

listrik dengan menggunakan puli dan belt sebagai penyalur daya. Pada poros penggerak terdapat
pengunci untuk mengatur jarak antar cakram. Semakin kecil jarak antar cakram maka ukuran
hasil pengolahan akan semakin halus.

Corong pengeluaran

Corong pengeluaran berfungsi untuk mengeluarkan biji yang telah dikupas dan dihancurkan
yang terletak di bagian bawah silinder pengupas. Biji yang akan pecah dan keluar dari corong ini
masih bercampur dengan kulit arinya.
c.

Multi mill
Multi mill bekerja dengan impact. Sama seperti hammer mill impact dilakukan cara

menghantam bahan dengan padatan, yang biasanya berupa besi, sehingga momentum yang
terdapat pada pergerakan besi tersebut dapat memecah ikatan antara padatan bahan. Perbedaan
hammer mill dengan multi mill terletak pada besi yang digunakan untuk menghantam bahan.
Pada multi mill besi yang digunakan mempunyai dua sisi, salah satu sisi berujung runcing dan
satu sisi berujung tumpul. Putaran alat pun dapat dirubah-rubah sesuai dengan ujung besi yang
mana yang akan digunakan. Dengan alat seperti ini maka dapat digunakan untuk berbagai jenis
bahan sehingga disebut multi mill.
Multi mill dapat digunakan untuk berbagai macam bahan. Pada industri multi mill ini
digunakan dalam aplikasi penepungan basah dan kering, serta pembubukan. Industri yang sering

menggunakan alat ini adalah industri farmasi, kimia, kosmetik, keramik, indsutri serta industri
pangan. Multi mill juga ditemukan pada pembuatan pestisida, pupuk, detergen, insektisida,
plastik, dan industri resin.
d. Attrition mills

Terdiri atas dua plat kasar yang saling berhadapan, satu diam dan satunya lagi berputar.
Material diumpankan ke ruang diantara kedua plat, dan diperkecil melalui pemecahan dan

penggeseran.
Jika material diumpankan secara pelan, maka pengecilan terjadi utama sekali akibat

geseran
Jika diumpankan dengan cepat maka pengecilan lebih diakibatkan oleh pemecahan
Jika terjadi pengumpanan berlebih maka efektivitas alat menurun dan timbul panas

berlebih
Kecepatan operasi biasanya dibawah 1200 RPM
Kehalusan output dikendalikan oleh jenis plat dan spacing.

e. Jaw Crusher
Prinsip seperti gigi geraham menghancurkan makanan
Jaw Crusher bekerja mengandalkan kekuatan motor. Melalui roda motor, poros eksentrik
digerakkan oleh sabuk segitiga dan slot wheel untuk membuat jaw plate bergerak seirama. Oleh
karena itu, material dalam rongga penghancuran yang terdiri dari jaw plate, jaw plate yang
bergerak dan side-lee board dapat dihancurkan dan diberhentikan melalui pembukaan
pemakaian.
Jaw Crusher adalah type crusher yang paling umum, dimana sistem kerjanya
memampatkan / menghimpit material hingga hancur, biasa digunakan untuk menghancurkan
batu jenis batu yang keras, seperti batu kali, batu pegunungan, batu mineral, batu emas, batu
mangan, batu besi, dsb. Unjuk kerja dari Jaw Crusher sangat-sangat ditentukan oleh ukuran Fly
wheel ( Roda Gila) nya dan kekuatan Shaft, karena kedua komponen tersebut berperan vital.
Untuk operasional produksi penambangan Jaw Crusher ini tidak bisa berdiri sendiri, harus
didukung dengan peralatan2 yang lain.
f. Ball Mill
Ball mill merupakan alat industry yang paling sangat dibutuhkan untuk hasil yang
maksimal dalam kategori penghancuran tingkat halus karena mesin grinding ball mill ini

menggunakan teknologi Balls ( bola bola ) yang di rancang sehingga memiliki luas permukaan
per unit lebih dari rod untuk menghasilkan bahan baku material yang lebih halus. Seperti halnya
dalam pabrik semen mungkin mereka juga menerapkan teknologi ball mill pada mesin industri
semen yang dikelola. Prinsip kerja Ball mill adalah memutarkan tabung berisi dengan peluru besi
seperti bola bola yang sudah diisikan di dalam mesin grinding tersebut terbuat dari baja. Proses
penghaluskan terjadi karena mesin grinding yang berputar sehingga ball di dalamnya ikut
menggelinding, menggerus dan menggiling seluruh material di dalam grinding sampai halus.
Jika kecepatan putaran terlalu cepat maka bola bola yang ada di dalam mesin grinding akan
menempel pada tabung dan hasil yang dihasilkan tidak akan bagus jadi pengaturan harus
disesuaikan untuk hasil yang maksimum.

DAFTAR PUSTAKA
Brown,GG.1950.Unit Operations.Tokyo
Danisworo, dkk. 1994. Penuntun Praktikum Kristalografi dan Mineralogi. Yogyakarta: UPN
Graha, Dodi S. 1987. Batuan dan Mineral. Nova: Bandung
Isbandi, Djoko, 1987, Minerlogi. Yogyakarta: Nur Cahaya
Sudrajat Adjat dkk.1997.Bahan Galian Industri.Pusat penilitian dan pengembangan teknologi
Mineral.Bandung
Sukandarumidi.2009.Bahan Galian Industri, Gadjah Mada University Press.Yogyakarta