Anda di halaman 1dari 2

Kode Etik

Kode etik keperawatan yang merupakan kumpulan dari norma, nilai dan aturan dari
profesi disusun dengan tujuan untuk memberi perlindungan bagi perawat dan memberi
jaminan kepada pengguna jasa keperawatan untuk mendapatkan asuhan keperawatan yang
optimal dan bermutu. Kode etik keperawatan dimiliki oleh semua negara dengan
memperhatikan adaptasi kultural sosial pada masing-masing negara. Kode etik keperawatan
Indonesia yang disusun oleh PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) berdasar dari
kode etik keperawatan yang di susun oleh ICN (International Council of Nursing) dan ANA
(American Nursing Association) dengan adanya adaptasi dengan pemperhatikan aspek nilai
nudaya dan sosial yang berkembang di masyarakat Indonesia (Safitri, 2010). Kode etik
keperawatan inilah yang harusnya menjadi dasar perawat dalam menjalankan tugasnya.
Kode etik keperawatan Indonesia mempunyai lima aspek tanggung jawab perawat.
Lima aspek tersebut adalah perawat bertanggung jawab pada klien, praktik, masyarakat,
teman sejawat dan profesi (PPNI, 2000). Ilustrasi kasus diatas menggambarkan bahwa patien
safety pada pelayanan keperawatan jiwa masih belum maksimal. Terdapat dua aspek
tanggung jawab yang dilanggar dalam kasus diatas, yaitu tanggung jawab perawat pada klien
dan pada praktik keperawatannya.
Tanggung jawab perawat pada klien adalah perawat bertanggung jawab untuk memberi
asuhan keperawatan kepada yang membutuhkan dengan memperhatikan aspek nilai, budaya,
keunikan individu dan adil. Selain itu perawat juga wajib untuk menjaga kerahasiaan klien
(PPNI, 2000). Ilustrasi kasus diatas menunjukkan bahwa perawat melanggar aspek tanggung
jawab untuk memberikan asuhan keperawatan kepada pasien yang membutuhkan sesuai
kebutuhannya. Pada kasus psikiatrik atau gangguan jiwa, sering terjadi kelalaian dalam
memperhatikan aspek biologis klien. Klien dengan gangguan jiwa hanya diberi pelayanan
untuk gangguan jiwa dan pemenuhan kebutuhan dasar saja, sedangkan untuk screening
ataupun penatalaksanaan untuk keluhan fisik lain terkadang belum diperhatikan. Hal ini
tercermin bahwa pada RS Y tersebut tidak ada bangsal fisik sehingga penatalaksanaan pada
penyakit fisik klien kurang maksimal. Sesuai dengan penelitian di Belgia yang menyebutkan
bahwa mayoritas tenaga kesehatan lalai akan kondisi fisik pasien dengan gangguan jiwa.
perawat hanya terfokus pada masalah mental saja, namun untuk masalah fisik belum terlalu
diperhatikan. Pasien dengan gangguan jiwa memiliki keterbatasan dalam menilai maupun
menyampaikan kondisi fisiknya, sehingga seharusnya perawat juga memberi perhatian
khusus untuk mengkaji kondisi fisik klien ataupun berkolaborasi dengan perawat umum
ataupun fasilitas kesehatan lain yang mampu menangani masalah fisik klien (Hert, Cohen,
Bobes, Cetkovich-Bakmas, & Leucht, 2011).
Tanggung jawab kedua yang dilanggar dari kode etik keperawatan adalah tanggung
jawab perawat pada praktik keperawatan yang diberikannya. Kode etik menyebutkan bahwa
perawat harus menjaga mutu pelayanan yang diberikannya (PPNI, 2000). Mutu pelayanan
pada kasus diatas kurang begitu maksimal dikarenakan kurangnya tenaga dan sarana
penunjang. Kurangnya tenaga yang menyebabkan meningkatnya beban kerja perawat
memang menjadi salah satu penyebab kurang maksimalnya mutu layanan keperawatan.
Kelalaian perawat dalam memperhatikan aspek fisik klien akhirnya berimbas pada terjadinya
cidera pada klien, meskipun akhirnya klien diberi perhatian khusus tidak dapat mengubah
fakta bahwa mutu pelayanan yang diberikan peraat kuran optimal. Pernyataan ini senada
dengan penelitian Mudayana (2012) dan Nurbaya dkk (2012) yang menyebutkan bahwa
beban kerja tidak mempengaruhi secara signifikan kualitas layanan yang diberikan. Patuh
terhadap kode etik dan memahami makna dari caring merupakan modal utama dalam
menjaga mutu layanan. Kedua hal tersebut mempengaruhi integritas perawat dalam
menjalankan tugasnya, sehingga apabila integritas perawat meningkat maka seberapun

besarnya beban kerja dan kepada siapapun perawat memberi


perawat akan selalu berusaha menjaga mutu layanan yang
Sehingga, dapat diambil kesimpulan bahwa dari ilustrasi
penyimpangan kode etik keperawatan yang berkaitan dengan
pasien dan praktik keperawatan yang dilakukannya.

asuhan keperawatan makan


diberikan dengan optimal.
kasus diatas telah terjadi
tanmggung jawab terhadap

Hert, M, Cohen, D, Bobes, J, Cetkovich-Bakmas, M, & Leucht, S. (2011). Physical illness in


patients with severe mental disorders. II. Barriers to care, monitoring and treatment
guidelines, plus recommendations at the system and individual level. World
Psychiatry, 10, 138-131`151.
PPNI. (2000). Kode Etik Keperawatan Indonesia. Jakarta: PPNI Pusat.
Safitri, M. K. (2010). Penerapan kode etik keperawatan di rumah sakit bhakti wira tamtama
semarang. Jurnal Keperawatan, 14, 42-51.
Mundayana, A. A. (2012). hubungan beban kerja dengan kinerja karyawan di rumah sakit nur
hidayah bantul. KesMas, 6(1).
Nurbaya, Hamzah, A, & Amir, Y. (2012). Factors-factors related to the perfomance of nurses
in unit general hospital ward of the year 2012 makassar. Jurnal Kesehatan
Masyarakat Repository UnHas.