Anda di halaman 1dari 12

Teori Belajar dan

Pembelajaran
Teknologi Agroindustri

Dibuat oleh:
Agnes Nurfadhilah
1401925
Pendidikan Teknologi Agroindustri
Universitas Pendidikan Indonesia
2014

Teori Belajar
Humanistik
Teori Belajar
Behavioristik
Contoh
Aplikas
i
Teori
Belajar

Teori Belajar Kognitif


Teori Belajar Gestalt
Teori Belajar sibertik
Teori Belajar
Konstruktivisme
Teori Belajar Sosial

Teori Humanistik
Teori Humanistik
Adapun contoh langkah kongkrit yang bisa

dijadikan bahan pertimbangan oleh guru adalah


1. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.
2. Menentukan materi pelajaran.
3. Mengidentifikasi kemampuan awal siswa.
4. Mengidentifikasi topik-topik pelajaran yang
memungkinkan siswa secara aktif melibatkan diri
dalam proses pembelajaran.
Sebagai contoh misalnya, guru bahasa Arab
memberikan tugas kepada para siswa untuk
membaca sebuah Qishoh yang berjudul Abu
Nawas. Melalui tugas itu, siswa-siswa tidak hanya
diharapkan memahami isi bacaan tersebut dengan
baik tetapi juga memperoleh kesadaran antar pribadi
yang lebih baik dengan jalan guru membahas nilainilai yang terkandung dalam qishoh tersebut.
Sehingga siswa tahu bagaimana seharusnya bersikap
dalam kehidupan sehari-hari.

Teori
Behavioristik

Contoh lain misalnya Contoh penerapan


teori ini dalam pembelajaran, misalnya dalam
pembelajaran IPA SD, guru memberikan
rangsangan dengan memberi pertanyaan yang
terbuka, contoh; anak-anak, kenapa kita
harus mengkonsumsi sayur-sayuran? dengan
pertanyaan seperti ini, siswa pasti
menanggapi atau merespon secara aktif
dengan berbagai jawaban, agar sehat,
supaya tidak buta. Dengan ini pikiran
mereka terbuka, dan yang paling penting
guru memberikan penghargaan (reward)
dengan tujuan agar siswa bisa dikuatkan dan
termotivasi sehingga pola tingkah laku
mereka untuk belajar lebih tinggi, dan
dengan penguatan ini, mereka saling menguji
untuk menjawab ketika diberikan pertanyaan.

Teori
Kognitif

Dalam proses pembelajaran Guru mengajar dengan


menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir
siswa. Guru harus membantu anak agar dapat
berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
Berikan peluang agar siswa belajar sesuai tahap
perkembangannya. Di dalam kelas, siswa hendaknya
diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi
dengan teman-temanya. Contohnya pada pelajaran di
SD siswa mampu menemukan sebuah masalah dan
mencari sendiri pemecahan masalahnya. Misalnya
dalam materi tentang struktur bunga, guru bisa
menyuruh siswa untuk mencari bunga yang
strukturnya lengkap (seperti bunga kembang sepatu)
lalu meyuruh siswa untuk mendiskusikan untuk dapat
menentukan dengan benar nama setiap bagian-bagian
bunga, dan mampu menunjukan bagian-bagiannya itu.

Teori Gestalt
Teori Gestalt
Akhmad Sudrajat menguraikan beberapa Aplikasi teori Gestalt dalam proses
pembelajaran antara lain :
Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam
perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan
tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau
peristiwa.
Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang
terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas
makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini
sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi
masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta
didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku
bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya
dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif
jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru
hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta
didik dalam memahami tujuannya.

Teori Sibertik

Aplikasi Teori Belajar Sibernetik dalam Kegiatan


Pembelajaran. Aplikasi teori belajar sibernetik dalam kegiatan
pembelajaran sebagaimana yang dikemukakan oleh Suciati dan
Prasetya Irwan (2001) baik diterapkan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1.
Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.
2.
Menentukan materi pembelajaran.
3.
Mengkaji sistem informasi yang terkandung dalam materi
pelajaran.
4.
Menentukan pendekatan belajar yang sesuai dengan sistem
informasi tersebut (apakah algoritmik atau heuristik).
5.
Menyusun materi pelajaran dalam urutan yang sesuai dengan
sistem informasinya.
6.
Menyajikan materi dan membimbing siswa belajar dengan
pola yang sesuai dengan urutan materi pelajaran.

Teori
Konstruktivisme

Penerapan teori konstruktivisme di kelas:


a) Mendorong kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar.
b) Guru mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan
kesempatan beberapa waktu kepada siswa untuk merespon.
c) Mendorong siswa berfikir tingkat tinggi.
d) Siswa terlibat secara aktif dalam dialog atau diskusi dengan
guru dan siswa lainnya.
e)
Siswa terlibat dalam pengalaman yang menantang dan
mendorong terjadinya diskusi.
f)
Guru menggunakan data mentah, sumber-sumber utama, dan
materi-materi interaktif.

Penerapan pendekatan konstruktivisme


dalam pembelajaran diwujudkan dalam bentuk
pembelajaran yang berpusat pada siswa
(student center). Guru dituntut untuk
menciptakan suasana belajar sedemikian rupa,
sehingga siswa dapat bekerja sama. Misalnya
dalam materi pembelajarann IPA SD tentang
struktur dan bagian tubuh manusia, guru
menyuruh siswa untuk menunjukkan sendiri
bagian-bagian tubuhnya seperti, kepala, tangan,
kaki, dll. Secara tidak langsung siswa sudah
menerapkan sistem pembelajaran yang berpusat
pada dirinya.

Teori Belajar
Sosial

Proses pembentukan perilaku dari tidak suka


belajar menjadi suka belajar dapat dilakukan melalui
banyak cara, diantaranya adalah dengan modeling.
Kalau siapapun yang ada di rumah atau di ingkungan
anak sudah terbiasa belajar sejak kecil maka hal ini
akan diobservasi oleh anak secara terus menerus dalam
hidupnya. Kemudian anak ini difasilitasi dengan
banyak media baik yang alami maupun buatan untuk
mendorong minat belajarnya,misalnya berupa buku
bacaan, buku tulis dan kelengkapannya, serta media
cetak atau audio visual yang ditata secara menarik di
rumah atau kelompok kelompok belajar yang ada.

Penerapan dalam pelajaran sejarah guru dapat


membawa siswanya misalnya ke Gua Selarong untuk
mengamati lokasi Pangeran Diponegoro bersembunyi
dari kejaran Belanda yang menjajah Indonesia. Selain
itu, mengamati tandu yang digunakan untuk mengusung
Jendral Besar Sudirman saat bergerilya dalam kondisi
sakit paru paru.Sambil mengamati objek objek belajar
tersebut guru dapat memberikan informasi yang pas
untuk menumbuhkan rasa patriotisme atau memberi
informasi penting tentang sejarah Indonesia yang harus
dikuasai oleh siswa.
Dengan metode observasi dan modeling yang
menjadi ciri utama Teori Bandura siswa dapat belajar
sambil menikmati indahnya alam sekitar ciptaan Yang
Maha Pencipta, siswa dapat menghirup segarnya udara
di luar kelas dengan sepuas puasnya.