Anda di halaman 1dari 46

Kisah Pertempuran Arek-Arek Suroboyo

Peristiwa 10 Nopember 1945 di Kota Surabaya merupakan peristiwa besar dalam


sejarah perjuangan bangsa Indonesia di dalam mempertahankan kemerdekaannya.
Arek-arek Suroboyo yang terdiri dari berbagai suku, lapisan dan kedudukan secara
gagah berani dan dengan semangat kepahlawanannya menentang setiap keinginan
dari kaum penjajah yang akan kembali merampas kemerdekaan Bangsa dan Negara
Indonesia. Dengan semboyan "Merdeka atau Mati", dengan gagah berani, arek-arek
Suroboyo dengan senjata apa adanya menghadapi kekuatan penjajah yang
menggunakan senjata modern. Dengan semangat rela berkorban demi nusa dan
bangsa, jiwa dan raga mereka dipertaruhkan untuk tegaknya kemerdekaan Republik
Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai titik darah
penghabisan.

Mengingat betapa tinggi nilai peristiwa bersejarah ini, tentunya sebagai wahana
untuk mengenang kembali betapa besar jasa para pahlawan kita yang telah rela
mengorbankan jiwa dan raganya, selain memperingatinya setiap tanggal 10
Nopember, juga dibangunnya Monumen Perjuangan TUGU PAHLAWAN, tidaklah
berlebihan kalau tempat-tempat bersejarah dalam rangkaian peristiwa 10
Nopember tersebut dijadikan suatu paket wisata sejarah "NAPAK TILAS
PERTEMPURAN AREK-AREK SUROBOYO". Sekitar Jembatan Merah (Gedung
Internatio), sekitar Tugu Pahlawan (Markas Kentepai Jepang / Gedung Raad Van
Justitie) dan Hotel Mandarin Majapahit ( Hotel Orange / Hoteru Yamato ).
Peristiwa Hotel Oranye - Surabaya - 19 Sept
1945

Pada hari RABU WAGE tanggal 19 September 1945 pada saat kelompok orang-orang
Sekutu / Belanda yang tergabung dalam Mastiff Carbolic merupakan salah satu
organisasi Anglo Dutch Country Saction (ADCS) yang bergerak di bidang spionase
dengan kedok Petugas / Organisasi Palang Merah Internasional beroperasi di
Surabaya dan mengunjungi Markas Besar Tentara Jepang yang berkedudukan di
Surabaya. Maka pada saat yang sama ada beberapa orang Belanda yang tergabung
dalam Komite Kontak Sosial mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) pada
tiang bendera sebelah kanan (Utara) Gapura Hotel Yamato (Orange / Mojopahit
sekarang). Sehingga dinilai oleh para pejuang dan Arek-arek Suroboyo tindakan
orang-orang Belanda tersebut sangat congkak dan tidak simpatik karena
merupakan lambang akan ditegakkannya kembali kekuasaan Pemerintah Kolonial
Belanda di Bumi Surabaya. Kemudian Resimen SUDIRMAN dengan mengendarai
Mobil Sedan Hitam mendatangi Hotel Orange dan memerintahkan dengan tegas
kepada Komite Perwakilan Sekutu untuk segera menurunkan bendera Belanda
tersebut. Tetapi justru perintah Residen Sudirman tidak diindahkan sama sekali oleh
orang-orang Sekutu/Belanda yang berada di Hotel Orange, bahkan Residen
Sudirman yangdalam kedudukannya sebagai Pejabat dan Wakil Pemerintah
Indonesia malahan ditodong dengan pistol Revolver oleh seorang pemuda Belanda
pada waktu itu. Sehingga memicu perkelahian massal yang tidak seimbang antara
20 orang sekutu/Belanda berhadapan dengan massa - rakyat / Pemuda Surabaya
yang berasal dari Genteng, Embong Malang, Praban dan sekitarnya.

Akhirnya beberapa orang pemuda berhasil mendekati dan memanjat dinding serta
puncak Gapura Hotel, berhasil menurunkan bendera Belanda dan menyobek bagian
birunya serta menaikkan kembali bendera Merah-Putih dengan ukuran yang tidak
seimbang dengan diiringi pekikan "MERDEKA", "MERDEKA", "MERDEKA", yang
disambut dengan gempita oleh massa Rakyat yang berkerumun di bawah tiang
bendera dan berada di depan Hotel Orange.
Tercatat dalam insiden penyobekan bendera Belanda di Hotel Orange tersebut telah
gugur sebagai Kusuma Bangsa 4 (empat) orang Pemuda / Arek Suroboyo yaitu Sdr.
SIDIK, Sdr. MULYADI, Sdr. HARIONO dan Sdr. MULYONO. Sedangkan dari pihak
Warga Belanda Mr. Ploegman tewas terbunuh oleh amukan massa ditusuk senjata
tajam.
Insiden Bendera 19 September 1945 di Hotel YAMATO / Hotel ORANGE (sekarang
Hotel Mandarin Oriental MAJAPAHIT) Surabaya. Rakyat Surabaya marah dengan
adanya bendera merah putih biru berkibar di atas menara hotel. Dan terjadilah aksi
perobekan bendera warna biru, hingga menjadi merah dan putih. (Sumber : Album
Perang Kemerdekaan 1945-1950, Perpustakaan DHD 45 Propinsi Jatim).
Peristiwa "Incident Surabaya

Pada tanggal 30 Oktober 1945 diadakan pertemuan antara Presiden Sukarno,


Wapres Moh. Hatta, Menpen Amir Syarifuddin, Gubernur Soerjo, residen Soedirman
dengan Mayjen D.C. Hawthorn, pimpinan tentara Sekutu di Jakarta. Sebagai salah
satu hasil pertemuan itu dibentuk suatu Kontak Komisi, yang diharapkan dapat
memudahkan hubungan kedua belah pihak.Disetujui pula agar tembak-menembak
oleh kedua belah pihak dihentikan.

Suasana setelah penghentian tembak menembak yang disepakati para pemimpin


Pemerintah Republik Indonesia dengan tentara Sekutu. Pada foto tampak Brigadir
Jenderal Mallaby dan Dr. Soegiri sedang berkeliling kota memberitahukan adanya
penghentian tembak menembak. (Sumber: Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka 1945-
1949, Perpustakaan DHD 45 Propinsi Jatim).

Namun dalam kenyataannya, tembak-menembak berlangsung terus. Akhirnya


diputuskan para anggota kontak Komisi turun ke lapangan. antara lain yang
dikunjungi daerah Jembatan Merah. Disitu terletak gedung Internatio, yang
merupakan markas Pasukan Komandan Brigade ke-49 Inggris, yang bertugas di
Surabaya. Di seberangnya, para pejuang Arek-arek Suroboyo berada di sekitar
Jembatan Merah.
Tembak-menembak sering terjadi antara kedua tempat itu. Pada tanggal 30
Oktober 1945, dengan berkendaraan beberapa mobil para anggota Kontak Komisi
berusaha menuju gedung Internatio, yang dituntut oleh arek Suroboyo agar
dikosongkan oleh tentara Sekutu yang menurut persetujuan harus ditarik mundur
ke Tanjung Perak. Di antara para anggota Komisi itu terdapat Residen Soedirman,
Doel Arnowo, T.D. Kundan, Brigjen Mallaby. Hari sudah mulai gelap ketika
rombongan itu melalui tempat perhentian trem listrik, yang terletak beberapa belas
meter sebelah utara Jembatan Merah ke arah gedung Internatio.

Tewasnya Birg.Jendral Mallaby


Di situlah mobil yang ditumpangi Brigjen Mallaby terdengar mengalami ledakan
sekitar jam 20.30. Ia kemudian ditemukan tewas.

Pertempuran Surabaya/Battle of
Surabaya

Tewasnya Brigjen Mallaby itulah yang menjadi salah satu alasan bagi penggantinya
sebagai panglima tentara Sekutu di Jawa Timur, Mayjen E.C. Mansergh, untuk
mengeluarkan ultimatum pada tanggal 9 November 1945 agar pihak Indonesia di
Surabaya meletakkan senjata selambat-lambatnya jam 06.00 tanggal 10 November
1945.

Ultimatum itu ditolak oleh pihak Indonesia dan pada pukul 06.00 pagi tanggal 10
November 1945 tentara Inggris mulai menggempur kota Surabaya dari kapal
perang, psawat udara, serta pasukannya yang bergerak dari Tanjung Perak menuju
tengah kota. Para pejuang Indonesia mengambil siasat mengundurkan diri dari
dalam kota Surabaya dan meneruskan perjuangan dari luar kota.
Peristiwa 10 November 1945

Bung Tomo

Bala bantuan pemuda-pemuda luar kota terus datang menggunakan alat


transportasi kereta api. Mereka ikut berjuang mempertahankan Tanah Air tercinta
dari serangan tentara Sekutu.

Para pemuda di Surabaya bersiap-siap menuju medan pertempuran untuk


mempertahankan Tanah Air tercinta dari tangan penjajah.
Senjata rakyat berbicara. Meriam penangkis udara, senjata - senjata peninggalan
Jepang atau hasil rampasan, senjata-senjata mesin, golok, bambu runcing
digunakan untuk melawan Sekutu.

Para Narapidana rumah penjara Kalisosok tidak mau ketinggalan terjun dalam
perjuangan. Tampak mereka berbaris dengan memanggul takeyari (bambu runcing)
di tengah Kota Surabaya.

Laskar Rakyat juga turut serta melakukan perlawanan terhadap pasukan sekutu.
Pada 10 Nopember 1945 mulai pukul 06.00 WIB pertempuran besar-besaran dan
dasyat berkobar di Surabaya. Rakyat Surabaya tidak mau menyerahkan sejengkal
tanahnya pun kepada Sekutu. TKR, pemuda, buruh, dan semua lapisan masyarakat
ikut berjuang. Hanya wanita, orang tua dan anak-anak yang tampak mengungsi.

Jembatan Merah Lokasi Tewasnya General Mallaby

Diaroma "Battle of Surabaya


+plus
Sekutu Gurkha
Peristiwa 10 Nopeber 1945
Mengapa Inggris Membom Surabaya ??
Phase Pertama
Peristiwa Hotel Oranye Insiden Bendera 19 September
1945 di Hotel YAMATO / Hotel ORANGE (sekarang Hotel
Mandarin Oriental MAJAPAHIT) Surabaya. Rakyat Surabaya
marah dengan adanya bendera merah putih biru berkibar di
atas menara hotel. Dan terjadilah aksi perobekan bendera
warna biru, hingga menjadi merah dan putih.

Di Jakarta pada tanggal yang sama 19 September 1945 mulai


pukul 10.00 pagi bertempat digedung KNIP Lapangan Banteng
Jakarta (Mahkamah Agung samping Dep.Keuangan sekarang)
diadakan Rapat Kabinet yang langsung dipimpin oleh Presiden
Soekarno. Cukup banyak yang dibicarakan dalam rapat
tersebut termasuk rencana pembentukan Bank Negara
Indonesia (BNI) oleh ayahnya Prof DR Soemitro Djojohadikusumo yaitu Margono.

Tetapi ada agenda cukup penting yang rupanya dibicarakan secara khusus, yaitu
berlangsungnya “Rapat Raksasa Ikada” yang penyelenggaraannya dipersiapkan
dan dilaksanakan rakyat Jakarta dan sekitarnya yang dimotori Pemuda-Mahasiswa
Jakarta.

Phase Kedua :

"Surabaya-incident" Pertempuran 28 – 30
Oktober 1945

Pada bulan Agustus 1943 di Quebec, Kanada, dicapai


kesepakatan antara Presiden Roosevelt dan Perdana
Menteri Inggris Churchill, untuk membentuk South East
Asia Command (SEAC –Komando Asia Tenggara), dan
mulai tanggal 16 November, SEAC di bawah pimpinan
Vice Admiral Lord Louis Mountbatten. Wewenang SEAC
meliputi Sri Lanka, sebagian Assam, Birma, Thailand,
Sumatera, dan beberapa pulau kecil di Lautan Hindia.

Pulau-pulau lain dari wilayah bekas Hindia Belanda


berada di bawah wewenang Letnan Jenderal Douglas MacArthur, Panglima
tentara Sekutu Komando Wilayah Pasifik Baratdaya (South West Pacific Area
Command – SWPAC).
Setelah Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945, Mac
Arthur diperintahkan untuk segera membawa
pasukannya ke Jepang, dan kewenangan atas wilayah
SWPAC diserahkan kepada Mountbatten.

Mengenai penambahan tugas yang diberikan


kepadanya, Mountbatten menulis

“Having taken over the NEI (Netherlands East Indies –


pen.) from the South-West Pacific Area without any
intelligence reports, I had been given no hint of the
political situation which had arisen in Java. It was
known of course, that an Indonesian Movement had
been in existence before the war; and that it had been
supported by prominent intellectuals, some of whom had suffered banishment for
their participation in nationalist propaganda –but no information had been made
available to me as to the fate of this movement under the Japanese occupation.

Dr. H.J. van Mook, Lieut.-Governor-General of the NEI who had come to Kandy on 1st
September, had given me no reason to suppose that the reoccupation of Java would
present any operational problem beyond the of rounding up the Japanese”

Van mook

Catatan Admiral Lord Mountbatten tersebut menunjukkan dengan jelas, bahwa


informasi yang diberikan oleh Dr. van Mook kepada Mountbatten salah dan
menyesatkan sehingga berakibat sangat fatal, bukan saja bagi rakyat Indonesia,
namun juga bagi tentara Inggris, sebagaimana kemudian dialami oleh Brigade 49
di Surabaya bulan Oktober 1945.
Secara resmi, tugas pokok yang diberikan oleh pimpinan Allied Forces kepada
Mountbatten adalah :

1. Melucuti tentara Jepang serta mengatur pulangkan kembali ke negaranya (The


disarmament and removal of the Japanese Imperial Forces),
2. Membebaskan para tawanan serta interniran Sekutu yang ditahan oleh Jepang
di Asia Tenggara (RAPWI - Rehabilitation of Allied Prisoners of War and
Internees), termasuk di Indonesia, serta
3. Menciptakan keamanan dan ketertiban (Establishment of law and order).

Namun di kemudian hari, ternyata ada tugas rahasia yang dilakukan oleh
tentara Inggris -dengan mengatasnamakan Sekutu- yaitu mengembalikan Indonesia
sebagai jajahan kepada Belanda. Pada waktu itu, para
pemimpin Indonesia belum mengetahui adanya hasil
keputusan konferensi Yalta yang sehubungan dengan
Asia, yaitu mengembalikan situasi kepada status quo,
seperti sebelum invasi Jepang tahun 1941; dan juga
belum diketahui ada perjanjian bilateral antara Belanda
dan Inggris di Chequers, mengenai komitmen bantuan
Inggris kepada Belanda. Selain itu, pernyataan
kontroversial yang dikeluarkan oleh Jenderal Sir Philip
Christison di Singapura sebelum berangkat ke Jakarta –
mungkin waktu itu pernyataan tersebut tulus
disampaikannya- telah membesarkan hati pimpinan
Republik Indonesia. Dengan demikian boleh dikatakan,
bahwa para pemimpin Republik Indonesia waktu itu
terkecoh oleh Inggris.

Mungkin jalan sejarah akan lain, apabila waktu itu telah diketahui isi surat
Mountbatten kepada komandan-komandan pasukan, terutama apabila pimpinan
Republik Indonesia telah mengetahui adanya kesepakatan Inggris dengan Belanda
di Chequers tanggal 24 Agustus 1945. Apabila hal-hal tersebut telah diketahui pada
waktu itu, dapat dipastikan bahwa para pimpinan Republik –terutama dari garis
keras- tidak akan menerima perdaratan tentara Sekutu, yang di banyak tempat
ternyata membawa perwira dan serdadu Belanda dengan berkedok RAPWI. Paling
sedikit, perlawanan bersenjata telah dimulai di seluruh Indonesia sejak September
1945, dan tidak pada akhir bulan Oktober/awal November, di mana tiga divisi
British-Indian Divisions secara lengkap telah mendarat di Jawa dan Sumatera.

Untuk pelaksanaan tugasnya, Mountbatten membentuk Allied Forces in the


Netherlands East Indies (AFNEI) –Tentara Sekutu di Hindia Belanda; dan jabatan
Komandan AFNEI, semula dipegang oleh Rear Admiral Sir Wilfred Patterson,
yang kemudian digantikan oleh Letnan Jenderal Sir Philip Christison, juga
seorang bangsawan Inggris. Christison sendiri baru tiba di Jakarta tanggal 30
September 1945. Pasukan yang akan ditugaskan adalah British-Indian Divisions,
yaitu Divisi 5 di bawah Mayor Jenderal Robert C. Mansergh untuk Jawa Timur,
Divisi 23 di bawah Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn untuk Jawa Barat dan
Tengah dan Divisi ke 26 di bawah Mayor Jenderal H.M. Chambers untuk Sumatera.

Brigade 49, dengan julukannya “The Fighting Cock” di bawah pimpinan


Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby, 42 tahun, mendarat di
Surabaya tanggal 25 Oktober 1945. Brigade 49 adalah bagian dari Divisi 23, yang
seharusnya ditugaskan untuk Jawa Barat dan Jawa Tengah, namun karena Divisi 5
yang seharusnya ditugaskan ke Jawa Timur, masih tertahan di Malaysia, oleh karena
itu, Mallaby diperintahkan untuk segera ke Surabaya.

Pada tanggal 27 Oktober 1945 sekitar pukul 11.00, satu pesawat terbang
Dakota yang datang dari Jakarta, menyebarkan pamflet di atas kota Surabaya. Isi
pamflet -atas instruksi langsung dari Mayor Jenderal Hawthorn, panglima Divisi
23- yang disebarkan di seluruh Jawa, memerintahkan kepada seluruh penduduk
untuk dalam waktu 2 x 24 jam menyerahkan semua senjata yang mereka miliki
kepada Perwakilan sekutu di Surabaya, yang praktis ketika itu hanya diwakili
tentara Inggris. Dalam seruan tersebut tercantum a.l :

“Supaya semua penduduk kota Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan kembali
semua senjata dan peralatan Jepang kepada tentara Inggris….Barangsiapa yang
memiliki senjata dan menolak untuk menyerahkannya kepada tentara Sekutu, akan
ditembak di tempat (persons beeing arms and refusing to deliver them to the Allied
Forces are liable to be shot)”

Dikabarkan, bahwa Mallaby sendiri terkejut dengan isi


pamflet, karena jelas bertentangan dengan kesepakatan
antara pihak Inggris dan Indonesia tanggal 26 Oktober,
sehari sebelum pamflet tersebut disebarkan. Namun
pimpinan brigade Inggris mengatakan, mereka terpaksa
melakukan perintah atasan. Mereka mulai menahan
semua kendaraan dan menyita senjata dari pihak
Indonesia. Maka berkobarlah api kemarahan di pihak
Indonesia, karena mereka menganggap pihak Inggris telah
melanggar kesepakatan yang ditandatangani tanggal 26
Oktober. Di samping itu langkah-langkah Inggris yang
akan mendudukkan Belanda kembali sebagai penguasa di
Indonesia kian nyata. Gubernur Suryo segera mengirim
kawat yang disusul dengan laporan panjang lebar ke Pemerintah Pusat di Jakarta.
Jawaban baru diterima sekitar pukul 15.00 dan berbunyi :

Gubernur Suryo tidak berhasil menemui Mayor Jenderal drg. Mustopo, lalu
menyerahkan kawat tersebut kepada Residen Sudirman. Tepat pukul 17.00,
Residen Sudirman tiba di markas Divisi TKR Surabaya di Jalan Embong Sawo dan
menyerahkan kawat tersebut kepada komandan Divisi, Mayor Jenderal Yonosewoyo.

Tak lama kemudian, datang Kolonel Pugh, yang menyampaikan pendirian


Brigadier Mallaby mengenai seruan pamflet terrsebut, bahwa Mallaby akan
melaksanakan tugas, sesuai perintah dari Jakarta. Pugh kembali ke markasnya,
tanpa mendapat jawaban dari pimpinan Divisi TKR.
Setelah kepergian Kolonel Pugh, dilakukan perundinngan sekitar setengah jam
antara Residen Sudirman dan Panglima Divisi Yonosewoyo, dengan keputusan:
“Komando Divisi Surabaya akan segera memberikan jawaban terhadap
ultimatum tersebut secara militer.”

Dalam pertemuan kilat pimpinan Divisi TKR Surabaya, dibahas berbagai


pertimbangan dan diperhitungkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi.
Apabila mereka menyerahkan senjata kepada Sekutu, berarti pihak Indonesia akan
lumpuh, karena tidak mempunyai kekuatan lagi. Apabila tidak menyerahkan
senjata, ancamannya akan ditembak di tempat oleh pasukan Inggris/ Sekutu.

Kubu Indonesia memperhitungkan, pihak Inggris tidak mengetahui kekuatan


pasukan serta persenjataan lawannya. Sedangkan telah diketahui dengan jelas,
bahwa kekuatan Inggris hanyalah satu brigade, atau sekitar 5.000 orang. Artinya,
kekuatan musuh jauh di bawah kekuatan Indonesia di Surabaya dan sekitarnya,
yang memiliki pasukan bersenjata kurang lebih 30.000 orang. Jenis senjata yang
dimiliki mulai dari senjata ringan hingga berat, termasuk meriam dan tank
peninggalan Jepang yang, sebagian terbesar masih utuh. Selain kekuatan pasukan
terbatas, pasukan Inggris yang baru 2 hari mendarat, dipastikan tak mengerti liku-
liku kota Surabaya.

Sesuai dengan strategi Carl von Clausewitz, pakar teori militer


Prusia, bahwa :
”Angriff ist die beste Verteidigung” (Menyerang adalah
pertahanan yang terbaik), maka dengan suara bulat
diputuskan: “Menyerang Inggris!”.

Perintah diberikan langsung oleh Komandan Divisi Surabaya, Mayor Jenderal


Yonosewoyo. Subuh baru merekah. Serangan besar-besaran pun mulai dilancarkan
pada hari Minggu, 28 Oktober pukul 4.30 dengan satu tekad, tentara Inggris yang
membantu Belanda, harus dihalau dari Surabaya, dan penjajah harus dipaksa
angkat kaki dari bumi Indonesia. Praktis seluruh kekuatan bersenjata Indonesia
yang berada di Surabaya bersatu. Juga pasukan-pasukan dan sukarelawan Palang
Merah/kesehatan dari kota-kota lain di Jawa Timur a.l. dari Sidoarjo, Gresik, Jombang
dan Malang berdatangan ke Surabaya untuk membantu.

Hal ini benar-benar di luar perhitungan Inggris, terutama mereka tidak


mengetahui kekuatan dan persenjataan pihak Indonesia. Selama ini, informasi yang
mereka peroleh mengenai Indonesia, hanya dari pihak Belanda, sedangkan Belanda
sendiri diperkirakan tidak mengetahui perkembangan yang terjadi di Surabaya –di
Indonesia pada umumnya- sejak Belanda menyerah kepada Jepang tanggal 8 Maret
1942. Sebagian terbesar dari mereka diinternir oleh Jepang, dan baru dibebaskan
pada akhir Agustus 1945.

Nampaknya, informasi yang diberikan oleh Belanda kepada Inggris sangat


minim, atau salah.

Di samping BKR/TKR yang menjadi cikalbakal TNI, juga tercatat sekitar 60


pasukan dan laskar yang didirikan oleh para pemuda atau karyawanberbagai
profesi, Pasukan Pelajar (TRIP), Pasukan BKR Tanjung Perak, Pasukan Kimia TKR,
Pasukan Genie Tempur (Genie Don Bosco), Pasukan BKR Kereta Api, Pasukan BKR
Pekerjaan Umum, Pasukan Sriwijaya, Pasukan Buruh Laut, Pasukan Sawunggaling,
TKR Laut, Barisan Hizbullah, Lasykar Minyak, TKR Mojokerto, TKR Gresik, Pasukan
Jarot Subiantoro, Pasukan Magenda Bondowoso, Pasukan Sadeli Bandung. Selain itu
ada pula pasukan-pasukan pembantu seperti Corps Palang Merah, Corps Kesehatan,
Corps PTT, Corps Pegadaian, bahkan ada juga Pasukan Narapidana Kalisosok, dll.
Puluhan kelompok pemuda yang berasal dari suku tertentu membentuk pasukan
sendiri, seperti misalnya Pasukan Pemuda Sulawesi (KRIS-Kebaktian Rakyat
Indonesia Sulawesi), Pasukan Pemuda Kalimantan, Pemuda Ponorogo, dan juga ada
Pasukan Sriwijaya, yang sebagian terbesar terdiri dari pemuda mantan Gyugun
(sebutan Heiho di Sumatera) dari Batak dan ada juga yang dari Aceh. Pasukan
Sriwijaya ini telah mempunyai pengalaman bertempur melawan tentara Sekutu di
Morotai, Halmahera Utara.

Bukan saja BKR/TKR yang menjadi cikalbakal Angkatan Darat, melainkan


dibentuk juga pasukan Laut dan Udara. Tercatat a.l. Pasukan BKR Laut/TKR Laut
Tanjung Perak, Pasukan Angkatan Muda Penataran Angkatan Laut, Pasukan
BKR/TKR Udara di Morokrembangan.

Selain pasukan-pasukan yang bersenjata, diperkirakan lebih dari 100.000


pemuda dari Surabaya dan sekitarnya, hanya dengan bersenjatakan bambu runcing
dan clurit ikut dalam pertempuran selama tiga hari. Kebanyakan dari mereka yang
belum memiliki senjata, bertekad untuk merebut senjata dari tangan tentara
Inggris.

Selain para wanita yang rela berkorban sebagai anggota Palang Merah, juga
tak dapat diabaikan peran serta ibu-ibu juru masak dan yang membantu di dapur
umum yang didirikan untuk kepentingan para pejuang Republik Indonesia. Para
pejuang dan sukarelawan itu bukan hanya penduduk Surabaya, melainkan
berdatangan dari kota-kota lain di sekitar Surabaya, seperti Gresik, Jombang,
Sidoarjo, Pasuruan, Bondowoso, Ponorogo bahkan dari Mojokerto, Malang, pulau
Madura, dan Bandung.

Inggris Mengibarkan Bendera Putih

Serbuan ke pos-pos pertahanan Inggris di tengah


kota dilengkapi dengan blokade total: Aliran listrik dan
air di wilayah pos pertahanan Inggris dimatikan. Truk-
truk yang mengangkut logistik untuk pasukan Inggris,
terutama yang akan mengantarkan makanan dan
minuman bisa dicegah. Kekacauan demi kekacauan
menyebabkan suplai yang dijatuhkan pesawat Inggris
dari udara, ikut pula terganggu. Tidak sedikit yang
meleset dari sasaran, bahkan boleh dikatakan hampir
semua jatuh ke tangan pasukan Indonesia.

Dalam penyerbuan itu, korban di pihak Indonesia


tidak sedikit, sebab berbagai pasukan –khususnya laskar
pemuda- tanpa pendidikan militer dan pengalaman
tempur, hanya bermodalkan semangat dan banyak yang hanya bersenjatakan clurit
atau bambu runcing, begitu bersemangat maju menggempur musuh yang notabene
tentara profesional.

Dengan bermodalkan keberanian serta semangat ingin mempertahankan


kemerdekaan dan tak mau dijajah lagi, para pejuang Indonesia akhirnya mampu
memporak-porandakan kubu Inggris. Setelah dua hari tidak menerima kiriman
makanan dan minuman, serta korban yang jatuh di pihak mereka sangat besar,
pasukan Inggris akhirnya mengibarkan bendera putih, meminta berunding.

Mallaby menyadari, bila pertempuran dilanjutkan, tentara Inggris akan disapu


bersih, seperti tertulis dalam kesaksian Capt. R.C. Smith:
“…….. on further consideration, he (Mallaby, red.) decided that the
company had been in so bad a position before, that any further fighting
would lead to their being wiped out.”

Walaupun ia sadari tidak ada pilihan lain, tetapi ketika persyaratan yang
diajukan Indonesia antara lain Inggris harus angkat kaki dari Surabaya dan
meninggalkan persenjataan yang ada di pos-pos pertahanan yang telah dikepung,
Mallaby menilai tampaknya terlalu berat baginya sebagai pimpinan tentara yang
baru memenangkan Perang Dunia II untuk melakukan hal itu.

Pertemuan Christison & Soekarno in 25 Okt 1945

Presiden Sukarno Diminta Melerai “Insiden Surabaya”

Ternyata pada hari pertama penyerbuan rakyat Indonesia terhadap pos-pos


pertahanan tentara Inggris di Surabaya, pimpinan tentara Inggris menyadari, bahwa
mereka tidak akan kuat menghadapi gempuran rakyat Indonesia di Surabaya.
Mallaby (lihat kesaksian Kapten R.C. Smith) memperhitungkan, bahwa Brigade 49
ini akan “wiped out” (disapu bersih), sehingga pada malam hari tanggal 28
Oktober 1945, mereka segera menghubungi pimpinan tertinggi tentara Inggris di
Jakarta untuk meminta bantuan. Menurut penilaian pimpinan tertinggi tentara
Inggris, hanya Presiden Sukarno yang sanggup mengatasi situasi seperti ini di
Surabaya. Kolonel. A.J.F. Doulton menulis :

”The heroic resistance of the british troops could only end in the extermination of
the 49th Brigade, unless somebody could quell the passion of the mob. There was
no such person in Surabaya and all hope rested on the influence of Sukarno.”
(Perlawanan heroik tentara Inggris hanya akan berakhir dengan
musnahnya Brigade 49, kecuali ada yang dapat mengendalikan nafsu
rakyat banyak itu. Tidak ada tokoh seperti itu di Surabaya dan semua
harapan tertumpu pada pengaruh Sukarno).
Panglima Tertinggi Tentara Sekutu untuk Asia Timur, Letnan Jenderal Sir Philip
Christison meminta Presiden Sukarno untuk melerai “incident” di Surabaya.
Pimpinan tentara Inggris menilai, situasi di Surabaya sangat mengkhawatirkan bagi
mereka, sehingga Presiden Sukarno yang sedang tidur, didesak agar segera
dibangunkan. Dalam Autobiografi yang ditulis oleh Cindy Adams, Sukarno
menuturkan :

“Tukimin yang setia berbisik-bisik. Itu ada seorang yang menamakan


dirinya Pembantu Khusus (ADC - aide-de-camp = perwira pembantu –pen.)
dari komandan Tentara Inggris. Ia menyatakan, bahwa ada persoalan yang
amat penting. Kepadanya telah saya jawab, bahwa Bapak sedang tidur,
tetapi ia mendesak agar supaya saya membangunkan Bapak.

Akhirnya setelah saya bangun, selama 30 menit terpaksa berbicara


melalui telepon. Tetapi tidak sepatah kata pun apa yang sedang
menggelisahkan perasaan saya dari pembicaraan telepon itu saya
ungkapkan kepada intern keluarga saya, baik Fatmawati maupun kepada
Tukimin. Saya hanya menyatakan bahwa besok pagi saya akan ke
Surabaya dengan kapal terbang militer kepunyaan Inggris. Dan kemudian
saya kembali ke kamar tidur, dan pelan-pelan menutup pintu.

Saya dengan Hatta, yang baru saja dipilih menjadi Wakil Presiden, selama
lebih kurang 2 jam berbicara dengan pihak Sekutu Inggris, tetapi pihak
Inggris mengharapkan saya, sebab saya dibutuhkan. Dan saya tahu,
bahwa tidak akan ada sesuatu pun yang akan dapat menghentikan
persoalan ini”

Di Surabaya, ternyata Inggris telah menempatkan markasnya di gedung-gedung di


tengah kota Surabaya sebagai pusatnya….”

Pada 29 Oktober 1949 di Kompleks Darmo, Kapten Flower yang telah


mengibarkan bendera putih, masih ditembaki oleh pihak Indonesia; untung dia
selamat, tidak terkena tembakan. Kapten Flower, yang ternyata berkebangsaan
Australia, kemudian diterima oleh Kolonel dr. Wiliater Hutagalung. Hutagalung
mem-fait accompli, dengan menyatakan :

“We accept your unconditional surrender!”

dan mengatakan, bahwa pihak Indonesia akan membawa tentara Inggris -setelah
dilucuti- kembali ke kapal mereka di pelabuhan.

Pimpinan Republik Indonesia di Jakarta pada waktu itu tidak menghendaki


adanya konfrontasi bersenjata melawan Inggris, apalagi melawan Sekutu. Pada 29
Oktober sore hari, Presiden Sukarno beserta Wakil Presiden M. Hatta dan Menteri
Penerangan Amir Syarifuddin Harahap, tiba di Surabaya dengan menumpang
pesawat militer yang disediakan oleh Inggris. Segera hari itu juga Presiden Sukarno
bertemu dengan Mallaby di gubernuran. Malam itu dicapai kesepakatan yang
dituangkan dalam “Armistic Agreement regarding the Surabaya-incident; a
provisional agreement between President Soekarno of the Republic
Indonesia and Brigadier Mallaby, concluded on the 29th October 1945.”
Isinya a.l. :

• Perjanjian diadakan antara Panglima Tentara Pendudukan Surabaya dengan


PYM Ir. Sukarno, Presiden Republik Indonesia untuk mempertahankan
ketenteraman kota Surabaya.
• Untuk menenteramkan, diadakan perdamaian : ialah tembakan-tembakan dari
kedua pihak harus diberhentikan.
• Syarat-syarat termasuk dalam surat selebaran yang disebarkan oleh sebuah
pesawat terbang tempo hari (yang dimaksud adalah pada tanggal 27 Oktober
1945) akan diperundingkan antara PYM Ir Sukarno dengan Panglima Tertinggi
Tentara pendudukan seluruh Jawa pada tanggal 30 Oktober besok.

Mayjen Hawthorn tiba tanggal 30 Oktober pagi hari. Perundingan yang juga
dilakukan di gubernuran segera dimulai, antara Presiden Sukarno dengan Hawthorn,
yang juga adalah Panglima Divisi 23 Inggris. Dari pihak Indonesia, tuntutan utama
adalah pencabutan butir dalam ultimatum/pamflet tanggal 27 Oktober, yaitu
penyerahan senjata kepada tentara Sekutu; sedangkan tentara Sekutu menolak
memberikan senjata mereka kepada pihak Indonesia. Perundingan alot, yang
dimulai sejak pagi hari dan baru berakhir sekitar pukul13.00, menghasilkan
kesepakatan, yang kemudian dikenal sebagai kesepakatan Sukarno – Hawthorn.
Isi kesepakatan antara lain :

• The Proclamation previously scatttered by aircraft shall be annulled; that is to


say, the disarmament of the TKR and the Pemudas shall not be carried out.
• The Allied forces shall not guard the city.
• The TKR shall be recognized; its continued use of arms shall be allowed.

Yang terpenting bagi pihak Indonesia dalam kesepakatan ini adalah


pencabutan perintah melalui pamflet tertanggal 27 Oktober dan pengakuan
terhadap TKR yang bersenjata.

Brigadir Jenderal Mallaby Tewas

Setelah disepakati truce (gencatan senjata) tanggal 30 Oktober, pimpinan sipil


dan militer pihak Indonesia, serta pimpinan militer Inggris bersama-sama keliling
kota dengan iring-iringan mobil, untuk menyebarluaskan kesepakatan tersebut. Dari
8 pos pertahanan Inggris, 6 di antaranya tidak ada masalah, hanya di dua tempat,
yakni di Gedung Lindeteves dan Gedung Internatio yang masih ada
permasalahan/tembak-menembak.
Setelah berhasil mengatasi kesulitan di Gedung Lindeteves, rombongan
Indonesia-Inggris segera menuju Gedung Internatio, pos pertahanan Inggris terakhir
yang bermasalah. Ketika rombongan tiba di lokasi tersebut, nampak bahwa gedung
tersebut dikepung oleh ratusan pemuda. Setelah meliwati Jembatan Merah, tujuh
kendaraan memasuki area dan berhenti di depan gedung. Para pemimpin Indonesia
segera ke luar kendaraan dan meneriakkan kepada massa, supaya menghentikan
tembak-menembak.

Kapten Shaw, Mohammad Mangundiprojo dan T.D. Kundan ditugaskan


masuk ke gedung untuk menyampaikan kepada tentara Inggris yang bertahan di
dalam gedung, hasil perundingan antara Inggris dengan Indonesia. Mallaby ada di
dalam mobil yang diparkir di depan Gedung Internatio. Beberapa saat setelah
rombongan masuk, terlihat T.D. Kundan bergegas keluar dari gedung, dan tak lama
kemudian, terdengar bunyi tembakan dari arah gedung. Tembakan ini langsung
dibalas oleh pihak Indonesia. Tembak-menembak berlangsung sekitar dua jam.
Setelah tembak-menembak dapat dihentikan, terlihat mobil Mallaby hancur dan
Mallaby sendiri ditemukan telah tewas.

Ada dua kejadian pada tanggal 30 Oktober 1945, yang pada waktu itu
dilemparkan oleh Inggris ke pihak Indonesia, sebagai yang bertanggung jawab, dan
kemudian dijadikan alasan Mansergh untuk “menghukum para ekstremis”

dengan mengeluarkan ultimatum tanggal 9 November 1945 :

1. Orang-orang Indonesia memulai penembakan, dan dengan demikian telah


melanggar gencatan senjata (truce),

2. Orang-orang Indonesia membunuh Brigadier Mallaby

Tewasnya Mallaby memang sangat kontroversial, tetapi mengenai siapa yang


memulai menembak, di kemudian hari cukup jelas. Kesaksian tersebut justru
datangnya dari pihak Inggris. Ini berdasarkan keterangan beberapa perwira Inggris
yang diberikan kepada beberapa pihak. Yang paling menarik adalah yang
disampaikan kepada Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai
Buruh (Labour). Pada 20 Februari 1946, dalam perdebatan di Parlemen (House of
Commons) Tom Driberg, menyampaikan :

“….. some of the press reports from Indonesia have been entirely responsible. In
particular, I have learned from officers who have recently returned that some of the
stories which have been told, not only in the newspaper, but, I am sorry to say, from
the Government Front Bench in his House, have been very far from accurate and
have innecessarily imparted prejudice and concerns the lamented death of
Brigadier Mallaby. That was announced to us as a foul murder, and we accepted it
as such. I have learned from officers who were present when it happened the exact
details and it is perfectly clear that Brigadier Mallaby was not murdered but was
honourably killed in action……. The incident was somewhat confused –as such
incidents are- but it took place in and near Union Square in Surabaya. There had
been discussions about a truce earlier in the day. A large crowd of Indonesians –a
mob if you like- had gathered in the square and were in a rather excited state.

About 20 Indians, in a building on the other side of the square, had been cut off
from telephonic communication and did not know about the truce. They were firing
sporadically on the mob. Brigadier Mallaby came out from the discussions, walked
straight into the crowd, with great courage, and shouted to the Indians to cease fire.
They obeyed him. Possibly half an hour later, the mob in the square became
turbulent again. Brigadier Mallaby, at a certain point in the proceedings, ordered the
Indians to open fire again. They opened fire with two Bren Guns and the mob
dispersed and went to cover; then fighting broke out again in good earnest. It is
apparent that when Brigadier Mallaby gave the order to open fire again, the truce
was in fact broken, at any rate locally. Twenty minutes to half an hour after that, he
was unfortunately killed in his car –although it is not absolutely certain whether he
was killed by Indonesians who were approaching his car; which exploded
simultaneously with the attack on him.

I do not think this amounts to charge of foul murder …..because my information


came absolutely at first hand from a British officer who was actually on the spot at
the moment, whose bona fides I have no reason to question…..”

Di sini Tom Driberg meragukan, bahwa Mallaby terbunuh oleh orang Indonesia.
Dia menyatakan :

“….it is not absolutely certain whether he was killed by Indonesians who were
approaching his car; which exploded simultaneously with the attack on him.”

Selanjutnya dia juga membantah, bahwa tewasnya Mallaby akibat “dibunuh


secara licik” (foully murdered). Kelihatannya pihak pimpinan tentara Inggris -untuk
membangkitkan/memperkuat rasa antipati terhadap Indonesia- rela mendegradasi
kematian seorang perwira tinggi menjadi “dibunuh secara licik” daripada
menyatakan “killed in action” –tewas dalam pertempuran- yang menjadi
kehormatan bagi setiap prajurit.

Juga penuturan Venu K. Gopal, waktu itu berpangkat Mayor, yang adalah
Komandan Kompi D, Batalion 6, Mahratta. Kompi D ini mengambil tempat
pertahanan di Gedung Internatio. Tanggal 8 Agustus 1974, dia menulis kepada
J.G.A. Parrot antara lain :

“Let me first give you some background. “D” Coy had been under fire off and on
and had already casualties. The firing came from other buildings on the square and
by and large we were able to contain it. We could, however, see that armed men
barred all the exits from the square.

Meanwhile armed Indonesians swarmed over to the veranda of the building and I
had to bluntly tell them that I would fire if they started pressing into the building. By
this time I could not see Brigade Mallaby or the LOs (Liaison Officers) because of the
crowds on the veranda.

Just then Capt. Shaw and Kundan ( I did not know their names at that time) tried to
get into the building but were prevented. Kundan then shouted to the crowd that he
would get us surrender and he and Capt.Shaw were then allowed to go into the
building if they took an Indonesian officer with them. I allowed them in hoping to
play for time. After a little time Kundan went out of the building, leaving Capt. Shaw
and the Indonesian Officer behind.
Soon thereafter the armed men started pushing in and I was left with no option but
to open fire. The Decision was mine and mine alone. Capt. Smith is correct when he
says that BM (Mallaby-pen.) did not give any orders to Capt. Shaw..”

Dengan pengakuan Mayor Gopal, Komandan Kompi D yang bertahan di


Gedung Internatio, sekarang terbukti, bahwa yang memulai menembak adalah
pihak Inggris; tetapi kelihatannya dia masih ingin melindungi bekas atasannya
dengan menggarisbawahi, bahwa perintah menembak tersebut adalah
keputusannya sendiri. Ini jelas bertentangan dengan kesaksian T.D. Kundan, yang
diperkuat dengan kesaksian seorang perwira Inggris melalui Tom Driberg. Dengan
pengakuan ini terlihat jelas, bahwa Inggris pada waktu itu memutar balikkan fakta
dan menuduh bahwa gencatan senjata telah dilanggar pihak Indonesia (the truce
which had been broken). Di dalam situasi tegang bunyi ledakan ataupun tembakan
akan menimbulkan kepanikan pada kelompok-kelompok yang masih diliputi
suasana tempur, sehingga tembakan tersebut segera dibalas; maka pertempuran di
seputar Gedung Internatio pun pecah lagi.

Dari pengakuan kedua perwira Inggris tersebut telah jelas, bahwa pemicu terjadinya
tembak-menembak adalah pihak Inggris sendiri. Dugaan ini sebenarnya tepat, bila
disimak jalan pikiran Mallaby, seperti dituliskan oleh Capt. Smith :

“…He (Mallaby, red.) did not believe in the safe-conducts in so far as it applied to
us, but thought that some at least of the Company might get away. Accordingly
Capt. Shaw was sent into the building to give the necessary orders…”

Sebelum itu, menurut Smith, telah terjadi perbedaan pendapat antara Kapten
Shaw dan Mallaby mengenai permintaan para pemuda Indonesia, agar tentara
Inggris meninggalkan persenjataan mereka di dalam gedung. Awalnya, Kapten
Shaw menyetujui permintaan ini, tetapi Mallaby kemudian membatalkannya. Uraian
Tom Driberg di Parlemen Inggris (House of Commons) kelihatannya keterangannya
diperoleh dari Kapten Shaw.
Kemudian tuduhan kedua, bahwa orang Indonesia “secara licik membunuh
Mallaby”, perlu diteliti lebih lanjut. Di pihak Indonesia banyak orang mengaku
bahwa dialah yang menembak Mallaby.

Rajamin-Supandhan mencatat, ada sekitar 12 orang yang mengaku sebagai


yang menembak Mallaby. Namun menurut penilaian beberapa pelaku sejarah, dari
sejumlah keterangan yang diberikan, cerita yang benar kemungkinan besar yang
disampaikan oleh Abdul Azis. (Lihat: Barlan Setiadijaya, 10 November 1945…., hlm.
429-435.) Dul Arnowo mencatat laporan seorang saksi mata, Ali Harun, yang
kemudian diteruskan ke Presiden Sukarno. Surat tersebut dibawa oleh Kolonel dr.
W. Hutagalung ke Jakarta, dan diserahkan langsung kepada Presiden Sukarno pada
tanggal 8 November 1945.

Dari berbagai penuturan, memang benar adanya penembakan dengan


menggunakan pistol oleh seorang pemuda Indonesia ke arah Mallaby, tetapi tidak
ada seorang pun yang dapat memastikan, bahwa Mallaby memang tewas akibat
tembakan tersebut.

Yang menarik untuk dicermati adalah pengakuan Kapten R.C. Smith dari
Batalyon 6, Resimen Mahratta, yang pada waktu itu menjabat sebagai Liaison
Officer Brigade 49. Tanggal 31 Oktober, dia memberikan laporannya yang pertama,
kemudian pada bulan Februari, sehubungan dengan keterangan Tom Driberg di
House of Commons. Laporan Smith dimuat oleh J.G.A. Parrot, dalam analisisnya,
Who Killed Brigadier Mallaby? Kapten R.C. Smith menulis :

“The Report by Capt. R.C. Smith.

At approximately 1230 hrs. on 30th October, Capt T.L. Laughland and I were
ordered by Col. L.H.O.Pugh, DSO, 2i/c (Second in Command) of the Bde., to proceed
to the Government offices, where we were each to collect an Indonesian
representative. From there one of us was to go north, and the other south, through
the town, and try to persuade the mobs to go back to their barracks. Brigadier
Mallaby was at this time in conference with the Governor in the Government Offices.

On arrival there, we were told by the Brigadier that the Indonesians had refused to
treat with anyone except him. Accordingly we set off with the Brigadier and the FSO
(Field Security Officer), Capt. Shaw, plus the leaders of the various parties, in
several cars, the foremost of which was flying the white flag.

The first place to which we went was a large building about 150 yards west of the
Kali Mas River, which runs north and south through the town. One Coy of the 6
Mahrattas had been having a very stiff fight in this building against about five
hundred Indonesians, and had been in considerable difficulties.
On our arrival there, the mob was collected round the cars, and the various party
leaders made speeches to them, in an attempt to persuade them to return to their
barracks. The speeches were at first quite well received, and the necessary
promises given.

We then got into our cars and set off for the next position. We had only gone about
100 yards when we were stopped by the mob aproximately 20 yards from the Kali
Mas. From then on the situation rapidly deteriorated. The mob leaders began to
incite the mob, and the party leaders gradually lost control. The mob, which up to
that time had seemed fairly friendly towards us, became distinctly menacing:
swords were waved, and pistols pointed at us and we were left with very little doubt
as to their intentions.

Eventually, the mob demanded that the troops in the building laid (sic) down their
arms and marched (sic) out: they and us (sic) guaranteed a safe-conduct back to
the air field. The Brigadier flatly refused to consider this proposal. After further
pressure, however, Capt.Shaw, who was well known to some of the indonesians
through his job as FSO, and who had been under a considerable strain since our
arrival in Surabaya, agreed to the terms on his own responsibility. The Brigadier at
once countemanded this: on further consideration, he decided that the company
had been in so bad a position before, that any further fighting would lead to their
being wiped out.

He did not believe in the safe-conduct in so far as it applied to us, but thought that
some at least of the company might get away. Accordingly Capt. Shaw was sent
into the building to give the necessary orders.
The rest of us were disarmed – except for a grenade which Capt. Laughland
managed to keep concealed – and made to sit in one of the cars.

The Brigadier was on the side nearest to the Kali Mas, Capt. Laughland in the
middle, and myself on the outside nearest to the building in which our troops were.

When Capt. Shaw got into the building, the Indonesians brought up a machine gun
to cover the entrance. He and the company commander decided that any attempt
to walk out unarmed would lead to a massacre and so the order to open fire was
given.

As soon as the firing started, the three of us who were in the car crouched down on
the floor as far as possible. An Indonesian came up to the Brigadier’s window with a
rifle. He fired four shots at three of us, all of which missed. He went away while we
shammed dead. The battle went on for about two and a half hours, to about 2030
hrs, by which time it was dark. At the end of that time, the firing died down to some
extent, and we could hear shouting as though the Indonesians were being collected.
Two of them came up to the car and attempted to drive it away. That failed and one
of them opened the back door on the Brigadier’s side. The Brigadier moved, and as
they saw from that, that he was still alive, he spoke to them and asked to be taken
to one of the party leaders. The two Indonesians went away to discuss this, and one
of them came back to the front door on the Brigadier’s side. The Brigadier spoke to
him again, the Indonesian answered, and then suddenly reached his hand in
through the front window,

and shot the Brigadier. It took from fifteen seconds to half-a-minute for the
Brigadier to die, but from the noise he made at the end, there was absolutely no
doubt that he was dead. (Notes from Parrot: This was the first time that these
details of the final moments of Brigadier Mallaby had been made public. In this
second report Smith offered the following explanation:”In the report made by
Capt.Laughland and myself the following morning we stated that the Brigadier was
killed instantly. This was done in order to spare the feelings of the family.”)

As soon as he had fired, the Indonesian ducked down beside the car, and remained
there until after the Brigadier was dead. I took the pin out of the grenade which
Capt.Laughland had previously passed to me, and waited. The Indonesian appeared
again, and fired another shot which grazed Capt. Laughland’s shoulder. I let go the
lever of the grenade, held it for two seconds to make sure it was not returned and
threw it out of the open door by Brigadier’s body. As soon as it had exploded, Capt.
Laughland and I went out of the door on my side of the car, waited for a short time,
then ran around the car and dived into the Kali Mas. As the two Indonesians by the
side of the car did not attemp to interfere with us it is presumed that they were
killed by the grenade—which also set the back seat of the car on fire. After five
hours in the Kali Mas, we managed to reach our troops in the Dock area.”

Keterangan Smith ini a.l. menguatkan penjelasan Gopal, bahwa memang benar
pihak Inggris yang memulai penembakan. Kesaksian Smith ini mirip dengan
keterangan Abdul Azis; dan ternyata dia tidak mati seperti dugaan Smith.

Sehubungan dengan penembakan dengan senapan yang terjadi sebelum


penembakan terhadap Mallaby, dalam surat kepada Parrot tertanggal 23 November
1973, Smith menulis antara lain :

“I have no idea what hapenned to the four shots from the rifleman. He approached
the car from the left (the Brigadiers side) with the rifle at the ready, and looking at
the three of us. I am not ashamed to say at this point I shut my eyes and started
counting the shots!
I think all three of us were equally surprised at finding both ourselves and the others
alive afterwards!”

Tentu sangat luar biasa, bahwa menembak tiga orang yang sedang duduk di
dalam mobil yang sempit dengan empat tembakan, namun tak satupun yang
mengena. Hal ini menunjukkan, bahwa dapat dipastikan, pemilik senapan itu baru
pertama kali menembak, sehingga menembak tiga orang dengan jarak mungkin
paling tinggi 2 meter, empat tembakan meleset semua.

Mengenai ciri-ciri penembak Mallaby, dalam surat kepada Parrot tanggal 20


Februari 1974, Smith menulis :

“… the indonesian who killed the Brigadier was a young lad around 16 or 17
approximately, but it was too dark to see whether he was wearing any sort of
uniform. The weapon was an automatic pistol …”

Kemudian pada 20 Februari 1974, Smith menulis kepada Parrot yang isinya antara
lain :

“I have no recollection of the conversation that the Indian interpreter reported and
while I certainly could not state that I heard everything that happenned, I think I
should have remembered this, if not now after 30 years, certainly at the time when I
wrote my report. However, in all fairness, I must say that there were moments when
my attention was distracted from the Brigadier myself. For instance, I can
remember spending some time trying to convince a very angry young Indonesian
that I had not personally be responsible for his brother’s death.

Going back to my report, the position of all of us was very closely gouped around
one car so that there was only a matter of a very few feet between us. Therefore,
Brigadier Mallaby was certainly able to hear when Captain Shaw agreed to the
demands of the mob, which was why he was able to countermand it immediately.
As I said, he then changed his mind in the hope that some of the men at least might
reach safety, but the orders that he gave Captain Shaw were that the troops in the
building should lay down their arms and come out unarmed, in the hope of safe-
conduct.

I definitely did not hear any suggestion that they should be ordered to open fire
after a certain length of time had elapsed. The one thing that has always been quite
firmly established in my memory is that the orders to fire were given by Captain
Shaw once he had got into the building.”

Yang perlu diragukan di sini adalah dugaan Smith, bahwa Mallaby tewas
sebagai akibat tembakan pistol pemuda Indonesia. Seperti dalam tulisannya, dia
mengatakan bahwa pada saat itu sekitar pukul 20.30 dan keadaan gelap. Memang
aliran listrik di daerah tersebut telah diputus oleh pihak Indonesia. Dia hanya
mengatakan :

“…berdasarkan suara yang didengar dari arah Mallaby, dia yakin bahwa
Mallaby telah tewas 15 – 30 detik setelah ditembak dengan pistol…”

Selain itu dia juga mengakui, bahwa granat yang dilemparkannya melewati
tubuh Mallaby telah mengakibatkan terbakarnya jok belakang mobil mereka, artinya
tempat Mallaby duduk.

Menurut pemeriksaan di rumah sakit, jenazah Mallaby sangat sulit dikenali,


karena hangus dan hancur. Dia dikenali melalui tanda bekas jam tangan di kedua
lengannya, karena Mallaby dikenal dengan kebiasaannya untuk memakai dua jam
tangan; jadi bukan identifikasi wajah atau ciri-ciri tubuh lain. Hal ini disampaikan
oleh dr. Sugiri, kepada Kolonel dr. W. Hutagalung.

Seandainya keterangan Smith benar, bahwa Mallaby tidak memberikan


perintah untuk memulai menembak, bahkan sebaliknya, yaitu menginstruksikan
Kapten Shaw untuk memerintahkan tentara Inggris yang di dalam gedung agar
mereka meletakkan senjata dan ke luar gedung tanpa senjata, maka telah terjadi
pembangkangan yang berakibat fatal,

yaitu perintah dari komandan kompi, Mayor Gopal, untuk memulai menembak.
Dilihat dari sudut mana pun, timbulnya tembak-menembak yang berakibat
tewasnya Mallaby, adalah kesalahan tentara Inggris.

Mengenai tuduhan bahwa Mallaby tewas akibat tembakan pistol, sangat


diragukan. Jelas untuk membela diri, Smith dan Laughland harus menyatakan
dahulu bahwa Mallaby telah tewas ketika Smith melemparkan granat, yang
kemudian justru membakar bagian belakang mobil yang mereka dan Mallaby
tumpangi. Beberapa saksi mata di pihak Indonesia mengatakan bahwa mobil
Mallaby meledak akibat granat tersebut sehingga dengan demikian, boleh dikatakan
Mallaby tewas karena kesalahan pihak Inggris sendiri. Dari kronologi kejadian dapat
disimpulkan, bahwa Mallaby tewas karena tembak-menembak berkobar lagi.

Yang sangat menarik untuk dicermati sehubungan dengan pelemparan granat


oleh Kapten Smith, adalah kesaksian Imam Sutrisno Trisnaningprojo, seorang
pemuda berpangkat kapten, mantan anggota PETA. Trisnaningprojo ikut dalam
iring-iringan mobil dalam rangka penyebarluasan hasil kesepakatan Sukarno-
Hawthorn. Bahwa Smith adalah orang yang melemparkan granat yang
mengakibatkan mobil yang ditumpangi Mallaby terbakar, diakui oleh Smith sendiri,
tetapi Trisnaningprodjo menuturkan, bahwa Smith tidak berada di dalam mobil
bersama Mallaby, melainkan bersama Laughland di luar mobil ketika terjadi
penembakan terhadap Mallaby. Trisnaningprojo melihat, Smith berada di dekat
gedung dan melemparkan granat ke arah pemuda yang menembak Mallaby, tetapi
granat meledak di sebelah mobil Mallaby yang pintu belakangnya terbuka. Jadi,
Captain Smith melempar granat tidak dari dalam mobil, melainkan dari luar mobil.
Ini berarti bahwa tidak ada yang mengetahui kondisi Mallaby setelah penembakan
dari pemuda Indonesia tersebut, apakah terluka atau memang telah tewas seperti
penuturan Smith.

Baik dari kesaksian Smith, maupun keterangan Trisnaningprojo yang dilengkapi


sketsa lokasi pada saat kejadian, pemuda Indonesia menembak dengan pistol ke
arah Mallaby melalui jendela depan di sisi kiri mobil, sedangkan Mallaby –masih
menurut Smith- duduk di jok belakang, di sisi paling kiri. Dari posisi pemuda
Indonesia tersebut, walaupun dia menggunakan tangan kiri, kemungkinan besar
bagian tubuh Mallaby sebelah kanan yang akan terkena tembakan, dan ini biasanya
tidak mematikan. Berbeda, apabila yang terkena adalah tubuh bagian kiri, di bagian
jantung.

Di samping itu, juga tidak ada yang bisa memastikan, bahwa tembakan
pemuda tersebut benar mengenai sasaran karena sebelumnya -juga menurut
Smith- ketika bertiga masih duduk di bagian belakang mobil, ada yang menembak
ke arah mereka dengan senapan sebanyak empat kali, namun tak satu peluru pun
yang mengenai mereka. Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pemuda yang
menembak dengan pistol, juga baru pertama kali memegang pistol, sehingga belum
mahir menggunakannya.

Ketika diwawancarai oleh Ben Anderson pada tanggal 13 Agustus 1962, Dul
Arnowo menyatakan, bahwa dia yakin Mallaby secara tidak sengaja, telah terbunuh
oleh anak buahnya sendiri.

Dalam laporan rahasia kepada atasannya, Kolonel Laurens van der Post
mantan Gubernur Militer Inggris di Batavia/Jakarta tahun 1945, menuliskan (Sir
Laurens van der Post, The Admiral’s Baby, John Murray, London, 1996) :

“The detail of what happenned at Sourabaya is not really relevant to this


review but it is interresting that the very latest evidence suggests that the Mallaby
Murder, far from being premiditatet or a deliberate breach of faith, was caused
more by the indescribable confusion and nervous excitement of everyone in the
town. Had General Hawthorn, the General Officer Commanding Java at the same
time, had proper Civil Affairs and political officers on his staff to draft his
unfortunate proclamations for him and to keep [in] continuous and informed contact
with population, the story of Sourabaya may well have been different.

Phase Ketiga :
"Battle of Surabaya"

Setelah Letnan Jenderal Sir Phillip Christison mengeluarkan ancamannya,


dalam waktu singkat Inggris menambah kekuatan mereka di Surabaya dalam
jumlah sangat besar, mobilisasi militer Inggris terbesar setelah Perang Dunia II usai.
Pada 1 November, Laksamana Muda Sir. W. Patterson, berangkat dari Jakarta
dengan HMS Sussex dan mendaratkan 1.500 Marinir di Surabaya. Mayor Jenderal
Mansergh, Panglima 5th British-Indian Division, berangkat dari Malaysia memimpin
pasukannya dan tiba di Surabaya tanggal 3 November 1945. Masuknya pasukan
Divisi 5 yang berjumlah 24.000 tentara secara berangsur-angsur, sangat
dirahasiakan. Divisi 5 ini sangat terkenal karena ikut dalam pertempuran di El
Alamein, di mana pasukan Marsekal Rommel, Perwira Jerman yang legendaris
dikalahkan. Mansergh juga diperkuat dengan sisa pasukan Brigade 49 dari Divisi 23,
kini di bawah pimpinan Kolonel Pugh, yang menggantikan Mallaby. Rincian pasukan
Divisi 5 :

4th Indian Field Regiment.

5th Field Regiment.

24th Indian Mountain Regiment.

5th (Mahratta) Anti-Tank Regiment (artileri).

17th Dogra Machine-Gun Battalion.

1/3rd Madras Regiment (H.Q. Battalion).

3/9th Regiment (reconnaissance battalion)

(infanteri, di bawah komando Brigadir Jenderal Robert Guy Loder-Symonds)

9th Indian Infantry Brigade.

2nd West Yorkshire Regiment

3/2nd Punjab Regiment.

1st Burma Regiment.

(infanteri, di bawah komando Brigadir Jenderal H.G.L. Brain)

123rd Indian Infantry Brigade.

2/1st Punjab Regiment.

1/17th Dogra Regiment.

3/9th Gurkha Rifles.

(infanteri, di bawah komando Brigadir Jenderal E.J. Denholm Young)


161st Indian Infantry Brigade.

I/1st Punjab Regiment.

4/7th Rajput Regiment.

3/4th Gurkha Rifles.

(infanteri, di bawah komando Brigadir Jenderal E.H.W. Grimshaw)

Armada di bawah komando Captain R.C.S. Carwood a.l. terdiri dari: Fregat
HMS Loch Green dan HMS Loch Glendhu; kapal penjelajah HMS Sussex serta
sejumlah kapal pengangkut pasukan dan kapal pendarat (landing boot).

Persenjataan yang dibawa adalah skuadron kavaleri yang semula terdiri dari
tank kelas Stuart, kemudian diperkuat dengan 21 tank kelas Sherman, sejumlah
Brenncarrier dan satuan artileri dengan meriam 15 pon dan Howitzer kaliber 3,7 cm.
Tentara Inggris juga dipekuat dengan squadron pesawat tempur yang terdiri dari 12
Mosquito dan 8 pesawat pemburu P-4 Thunderbolt, yang dapat membawa bom
seberat 250 kilo. Jumlah pesawat terbang kemudian ditambah dengan 4
Thunderbolt dan 8 Mosquito.

Tanggal 9 November 1945, Mansergh menyerahkan 2 surat kepada


Gubernur Suryo. Yang pertama berupa ULTIMATUM yang ditujukan kepada “All
Indonesians of Sourabaya” lengkap dengan “Instructions”. Yang kedua
merupakan penjelasan/rincian dari ultimatum tersebut.

Bunyi ultimatum yang disebarkan sebagai pamflet melalui pesawat udara pada
9 November pukul 14.00. adalah :

“November, 9th. 1945.

TO ALL INDONESIANS OF SOERABAYA.

On October 28th, the Indonesians of Soerabaya treacherously and without


provocation, suddenly attacked the british Forces who came for the purpose of
disarming and concentrating the Japanese Forces, of bringing relief to Allied
prisoners of war and internees, and of maintaining law and order. In the fighting
which ensued British personel were killed or wounded, some are missing, interned
women and children were massacred, and finally Brigadier Mallaby was foully
murdered when trying to implement the truce which had been broken in spite of
Indonesian undertakings.

The above crimes against civilization cannot go unpunished. Unless therefore, the
following ordes are obeyed without fail by 06.00 hours on 10th.November at the
latest, I shall enforce them with all the sea, land and air forces at my disposal, and
those Indonesians who have failed to obey my orders will be solely responsible for
the bloodshed which must inevitably ensue.

(Signed) Maj.Gen.R.C.Mansergh

Commander Allied Land Forces,

East Java.

Instructions

My orders are :

1. All hostages held by the Indonesians will be returned in good condition by


10.00 hours 9th. November.

2. All Indonesian leaders, including the leaders of the Youth Movements, the Chief
Police and the the Chief Official of the Soerabaya Radio will report at
Bataviaweg by 18.00 hours, 9th November. They will approach in single file
carrying any arms they possess. These arms will be laid down at a point 100
yards from the rendezvous, after which the Indonesians will approached with
their hands above their heads and will taken into custody, and must be
prepared to sign a document of unconditional surrender.

3. (a) All Indonesians unauthorized to carry arms and who are in possession of
same will report either to the roadside Westerbuitenweg between South of
the railway and North of the Mosque or to the junction of Darmo Boulevard
and Coen Boulevard by 18.00 hours 9 th November, carrying a white flag
and proceeding in single file. They will lay down their arms in the same
manner as prescribed in the preceeding paragraphs. After laying down
their arms they will be permitted to return to their homes. Arms and
equipment so dumped will taken over by the uniformed police and regular
T.K.R. and guarded untill dumps are later taken over by Allied Forces from
the uniformed police and regular T.K.R.

(b) Those authorises to carry arms are only the uniformed police and the
regular T.K.R.

4. These will thereafter be a search of the city by Allied Forces and anyone found
in possession of firearms of conealing them will be liable to sentence of death.

5. Any attemp to attack or molest the Allied internees will be punishable by


death.
6. Any Indonesian women and children who wish to leave the city may do so
provided that they leave by 19.00 hours on 9th November and go only towards
Modjokerto or Sidoardjo by road.

(Signed) Maj.Gen.R.C.Mansergh

Commander Allied Land Forces, East Java

Mansergh telah menyusun “orders”nya pada butir 2 sedemikian rupa, sehingga


boleh dikatakan tidak akan mungkin dipenuhi oleh pihak Indonesia :

“Seluruh pemimpin bangsa Indonesia termasuk pemimpin-pemimpin Gerakan


Pemuda, Kepala Polisi dan Kepala Radio Surabaya harus melapor ke Bataviaweg
pada 9 November jam 18.00. Mereka harus datang berbaris satu per satu
membawa senjata yang mereka miliki. Senjata-senjata tersebut harus
diletakkan di tempat berjarak 100 yard dari tempat pertemuan, setelah itu
orang-orang Indonesia itu harus mendekat dengan kedua tangan mereka di atas
kepala mereka dan akan ditahan, dan harus siap untuk menandatangani
dokumen menyerah tanpa syarat.”

(All Indonesian leaders, including the leaders of the Youth Movements, the Chief
Police and the Chief Official of the Soerabaya Radio will report at Bataviaweg by
18.00 hours, 9th November. They will approach in single file carrying any arms
they possess. These arms will be laid down at a point 100 yards from the
rendezvous, after which the Indonesians will approached with their hands above
their heads and will taken into custody, and must be prepared to sign a
document of unconditional surrender.)

Dalam butir dua ini sangat jelas tertera “ …menandatangani dokumen


menyerah tanpa syarat.” Dengan formulasi yang sangat keras dan kasar ini,
Mansergh pasti memperhitungkan, bahwa pimpinan sipil dan militer di Surabaya
tidak akan menerima hal ini, sebab bila sebagai pemimpin-pemimpin bangsa
Indonesia menandatangani pernyataan MENYERAH TANPA SYARAT, berarti
melepaskan kemerdekaan dan kedaulatan yang baru saja diproklamasikan pada 17
Agustus 1945.

Yang dimaksud dengan senjata adalah : senapan, bedil, pedang, pistol,


tombak, pisau, pedang, keris, bambu runcing, tulup, panah berbisa atau alat tajam
yang dapat dilemparkan.

Sejarah mencatat, bahwa pimpinan sipil dan militer di Surabaya memutuskan,


untuk tidak menyerah kepada tentara Sekutu dan memilih untuk melawan.

Peristiwa 10 November 1945


Bung Tomo
Inggris menepati ultimatumnya dan memulai pemboman dan penembakan dari
meriam-meriam kapal pukul 06.00. Serangan hari pertama berlangsung sampai
malam hari. Meriam-meriam di kapal-kapal perang dan bom-bom dari udara
mengenai tempat-tempat yang penting dalam kota, seperti daerah pelabuhan,
kantor PTT, kantor pengadilan, gedung-gedung pemerintah dan juga pasar-pasar.
Pemboman dari darat, laut dan udara ini diselingi dengan tembakan-tembakan
senapan-mesin yang dilancarkan oleh pesawat pemburu, sehingga mengakibatkan
korban beribu-ribu orang yang tidak menduga akan kekejaman perang modern.
Residen dan Walikota segera memerintahkan pengungsian semua wanita dan anak-
anak ke luar kota.

Semua saksi mata, begitu juga berita-berita di media massa, baik Indonesia
maupun internasional mengatakan, bahwa di mana-mana mayat manusia dan
hewan bergelimpangan, bahkan ada yang bertumpukan. Bau busuk mayat berhari-
hari memenuhi udara kota Surabaya karena mayat-mayat tersebut tidak dapat
dikuburkan. Mereka yang bekerja di rumah-sakit menceriterakan, bahwa korban-
korban tewas tidak sempat dikubur dan hanya ditumpuk saja di dalam beberapa
ruangan.

Dalam bukunya, Birth of Indonesia, David Wehl menulis :

“Di pusat kota, pertempuran lebih dahsyat, jalan-jalan harus diduduki satu
per satu, dari satu pintu ke pintu lainnya. Mayat dari manusia, kuda-kuda
dan kucing-kucing serta anjing-anjing, bergelimpangan di selokan-
selokan; gelas-gelas berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat
telepon bergelantungan di jalan-jalan, dan suara pertempuran menggema
di tengah-tengah gedung-gedung kantor yang kosong ... Perlawanan
Indonesia berlangsung dalam dua tahap, pertama pengorbanan diri secara
fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati
menyerang tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih
terorganisasi dan lebih efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku
petunjuk militer Jepang.”
Kolonel Dr. Wiliater Hutagalung menuliskan dua peristiwa yang tak dapat
dilupakannya :

“… ketika seorang pemuda dibawa masuk ke ruang bedah dengan kedua


kakinya hancur terlindas roda kereta api. Rupanya karena terlalu lelah
sehabis pertempuran, tertidur di pinggir rel kereta api dengan kedua
kakinya melintang di atas rel. Dia tidak terbangun ketika ada kereta api
yang lewat, sehingga kedua kakinya putus dilindas kereta api. Dia masih
sadar waktu dibaringkan ke tempat tidur, tetapi sebelum kita dapat
menolongnya dia berseru :
‘Merdeka! Hidup Indonesia!’, lalu menghembuskan napas terakhirnya.”

Peristiwa yang kedua adalah, ketika melihat kesedihan seorang ibu muda yang
menatap wajah anak perempuannya yang kira-kira berumur dua tahun, yang tewas
akibat lengannya putus terkena pecahan peluru mortir. Dia menggendong anak itu
ke Pos Sepanjang tanpa mengetahui, bahwa anaknya telah tewas ketika sampai di
Sepanjang. Kami menanyakan :

‘Di mana ayah anak ini?’

Ibu muda itu menjawab : ‘Tidak tahu, suami diambil tentara Jepang,
dijadikan romusha (pekerja paksa). Dia belum pernah melihat anaknya.’

Pihak Inggris menyebutkan, bahwa berdasarkan data yang mereka kumpulkan,


tercatat “hanya” 6.000 korban tewas di pihak Indonesia. Dr. Ruslan Abdulgani
dalam satu kunjungan ke Inggris, mendapat kesempatan untuk melihat arsip
nasional, dan antara lain melihat catatan mengenai jumlah korban yang tewas.
Abdulgani menulis :

Pihak Inggris menemukan di puing-puing kota Surabaya dan di jalan-jalan


1.618 mayat rakyat Indonesia ditambah lagi 4.697 yang mati dan luka-
luka. Menurut laporan dr. Moh. Suwandhi, kepala kesehatan Jawa Timur,
dan yang aktif sekali menangani korban pihak kita, maka jumlah yang
dimakamkan secara massal di Taman Bahagia di Ketabang, di makam
Tembokgede, di makam kampung-kampung di Kawatan, Bubutan,
Kranggan, Kaputran, Kembang Kuning, Wonorejo, Bungkul, Wonokromo,
Ngagel dan di tempat-tempat lain adalah sekitar 10.000 orang. Dengan
begitu dapat dipastikan bahwa sekitar 16.000 korban telah jatuh di medan
laga bumi keramat kota Surabaya.

Berdasarkan data yang dikumpulkan rekan-rekan dokter serta paramedis lain,


Kolonel dr. Wiliater Hutagalung memperkirakan, korban tewas akibat agresi militer
Inggris dapat melebihi angka 20.000, dan sebagian terbesar adalah penduduk sipil,
yang sama sekali tidak menduga akan adanya serangan tentara Inggris. Di Pasar
Turi dan sekitarnya saja diperkirakan ratusan orang yang sedang berbelanja tewas
atau luka-luka, termasuk orang tua, wanita dan anak-anak, bahkan pasien-pasien
yang rumah sakitnya ikut terkena bom. Pelaku sejarah yang menjadi saksi mata
menilai pemboman tersebut adalah suatu kebiadaban.

Menurut Woodburn Kirby, korban di pihak tentara Inggris dari tanggal 10


sampai 22 November 1945 di Jawa tercatat 608 orang yang tewas, hilang atau
luka-luka, dengan rincian sebagai berikut :

- tewas 11 perwira dan 87 prajurit.

- hilang 14 perwira dan 183 prajurit.

Hampir semua adalah korban pertempuran di Surabaya. Namun diduga, korban


di pihak Inggris sebenarnya lebih tinggi, karena menurut Anthony James-Brett,
korban di pihak Inggris dalam pertempuran tanggal 28 – 30 Oktober saja sudah
mencapai 392 orang, yang tewas, luka-luka atau hilang (18 perwira dan 374
prajurit). Diperkirakan korban di pihak Inggris dalam pertempuran dari tanggal 28
Oktober – 28 November 1945 mencapai 1.500 orang yang tewas, luka-luka dan
hilang.

Pihak Indonesia menyebut, bahwa sekitar 300 tentara Inggris asal


India/Pakistan melakukan desersi dan bergabung dengan pihak Republik Indonesia.

Kolonel Laurens van der Post dalam laporannya menulis :

“…But the important lessons of Sourabaya were not these so much as the extent to
which they proved that Indonesian nationalism was not a shallow, effiminate,
intellectual cult but a people-wide, tough and urgent affair.”

Willy Meelhuijsen dalam bukunya “Revolutie in Soerabaya, 17 agustus – 1


december 1945” mengutip seorang pakar sejarah Australia, M.C. Ricklefs, yang
menulis :

“ The Republicans lost much manpower and many weapons in the battle of
Sourabaya, but their sacrificial resistance there created a symbol of rallying cry for
the Revolution. It also convinced the British thet wisdom lay on the side of neutrality
in the Revolution. The battle of Sourabaya was a turning point for the Dutch as well,
for it schocked many of them into facing reality. Many had quite genuinely believed
that the Republic represented only a gang of collaborators without popular support.
No longer could any serious observer defend such a view.”

Pertempuran heroik di Surabaya merupakan satu dari empat pertempuran dan


perlawanan terhadap tentara Inggris –di samping Palagan Ambarawa,
Pertempuran “Medan-Area” dan Bandung Lautan Api- yang membuat Inggris
menyadari, bahwa masalah Indonesia tidak dapat diselesaikan melalui kekuatan
militer, dan Inggris sebagai tulang punggung Belanda waktu itu, kemudian
memaksa Belanda ke meja perundingan, dan Inggris menjadi fasilitator pertama
dalam perundingan Linggajati.

Alasan pemboman yang sebenarnya

Apabila dua butir alasan yang tertera dalam ultimatum 9 November 1945 tidak
benar, apa alasan sebenarnya, yang membuat Inggris mengerahkan pasukannya
yang terbesar dan termodern setelah Perang Dunia II usai?

I. Alasan psikologis-emosional.

• Inggris datang sebagai salah satu pemenang Perang Dunia II. Brigade 49 adalah
bagian dari Divisi 23 yang menyandang julukan kebanggaan “The Fighting Cock”,
mempunyai pengalaman tempur melawan Jepang di hutan-rimba Burma. Dalam
pertempuran 28 dan 29 Oktober ’45, mereka “dipaksa” oleh rakyat Surabaya
mengibarkan bendera putih dan mereka yang MEMINTA BERUNDING. Suatu hal
yang tentu sangat memalukan dan menjatuhkan pamor Inggris. Mereka tidak
menduga akan diserang, sehingga persiapan pertahanan hampir tidak ada, yang
mengakibatkan banyak jatuh korban di pihak Inggris.
• Setelah Perang Dunia II usai, Inggris bertepuk dada bahwa selama lebih
dari lima tahun PD-II, mereka tidak kehilangan seorang Jenderal pun. Ternyata baru
lima hari di Surabaya, mereka telah kehilangan seorang perwira tinggi, Brigadir
Jenderal Mallaby. Kegeraman pihak Inggris memuncak pada 10 November, karena
pada saat pemboman atas kota Surabaya, dua pesawat terbang mereka berhasil
ditembak jatuh oleh pejuang Indonesia. Selain pilot pesawat, Osborne, korban yang
tewas sehari kemudian akibat luka-lukanya adalah Brigadir Jenderal Robert Guy
Loder-Symonds, Komandan Brigade Infanteri. Mallaby dan Loder-Symonds
dimakamkan di Commonwealth War Cemetary, Menteng Pulo, Jakarta Selatan.

Dapat dikatakan secara singkat di sini, alasan psikologis-emosional tersebut


adalah :
• sebagai “super power” pemenang Perang Dunia II, telah dipermalukan
dengan terpaksa mengibarkan bendera putih, serta terancam akan hancur
total;
• sebagai tentara yang tangguh sangat dipermalukan, karena yang tewas
adalah komandan brigade, seorang perwira tinggi;
solidaritas korps, membalas dendam.

II. Terikat Perjanjian Dengan Belanda dan Hasil Konferensi Yalta

Bahwa langkah Inggris di Indonesia, sebenarnya hanya untuk memuluskan


jalan bagi Belanda untuk kembali berkuasa di Indonesia, sesuai dengan
beberapa perjanjian, baik bilateral maupun internasional. Ketika berlangsung
pertempuran melawan Inggris di Indonesia yang dimulai di Surabaya, perlahan-
lahan Belanda mendatangkan pasukannya ke Indonesia, sehingga pada akhir
tahun 1946, seluruh pasukan Inggris telah ditarik dan diganti oleh pasukan
Belanda…dan sebagaimana kita ketahui, itulah awal dari penjajahan Belanda di
Indonesia jilid dua. Penilaian mengenai tindakan Inggris ini diperoleh setelah
mencermati dua hal :

(1) Salah satu hasil keputusan Konferensi Yalta (4 – 11 Februari 1945), hasil
pertemuan rahasia antara Roosevelt dan Churchill, adalah mengembalikan
situasi di Asia seperti sebelum invasi Jepang, dalam arti mengembalikan
bekas-bekas jajahan kepada negara penjajah sebelumnya. Keputusan
tersebut diperkuat dengan Deklarasi Potsdam, 26 Juli 1945. Hal ini terbukti
dari surat Vice Admiral Lord Louis Mountbatten, Supreme Commander
South East Asia, kepada komandan-komandan divisi, yang isinya :

Headquarters, S.E.Asia Command

2 Sept. 1945.

From : Supreme Commander S.E.Asia

To : G.O.C.Imperial Forces.

Re. Directive ASD4743S.

You are instructed to proceed with all speed to the island of Java in the
East Indies to accept the surrender of Japanese Imperial Forces on that
island, and to release Allied prisoners of war and civilian internees.
In keeping with the provisions of the Yalta Conference you will re-establish
civilians rule and return the colony to the Dutch Administration, when it is
in a position to maintain services.

The main landing will be by the British Indian Army 5th Division, who have
shown themselves to be most reliable since the battle of El Alamein.
Intelligence reports indicate that the landing should be at Surabaya, a
location which affords a deep anchorage and repair facilities.

As you are no doubt aware, the local natives have declared a Republic,
but we are bound to maintain the status quo which existed before the
Japanese Invasion.

I wish you God speed and a sucessful campaign.

(signed)
Mountbatten

Vice Admiral.

Supreme Commander S.E.Asia.

Kalimat:
“In keeping with the provisions of the Yalta Conference you will re-
establish civilians rule and return the colony to the Dutch Administration,
when it is in a position to maintain services.” dan “……the local natives
have declared a Republic, but we are bound to maintain the status quo
which existed before the Japanese Invasion.”

menyatakan secara jelas dan gamblang maksud Inggris untuk


“...mengembalikan koloni (Indonesia) kepada Administrasi
Belanda...”
dan
“…mempertahankan status quo yang ada sebelum invasi Jepang.

(2) Melaksanakan Civil Affairs Agreement (CAA), perjanjian antara Inggris dan
Belanda yang ditandatangani tanggal 24 Agustus 1945 di Chequers,
Inggris, yang isinya kesediaan Inggris membantu Belanda dalam upaya
untuk kembali berkuasa di Indonesia. Kesepakatan 24 Agustus 1945
tersebut diperkokoh oleh Inggris dan Belanda, dalam pertemuan di
Singapura tanggal 6 Desember 1945 yang dihadiri para petinggi kedua
negara di Asia Tenggara. Radio San Francisco tanggal 10 Desember 1945
menyiarkan antara lain, bahwa dalam permusyawaratan di Singapura,
Letnan Jenderal Christison telah mendapat kekuasaan seluas-luasnya
untuk menjaga keamanan di Jawa… Christison akan menggunakan
kekerasan untuk mengembalikan keamanan dan ketenteraman, supaya
dapat memenuhi undang-undang dasar dan peraturan untuk Indonesia di
bawah kerajaan Belanda. Di samping melampiaskan dendam mereka
terhadap “para ekstremis Indonesia yang –katanya- dipersenjatai
Jepang”
Kelihatannya Inggris memanfaatkan “insiden Surabaya” tersebut untuk
memenuhi perjanjian bilateral mereka dengan Belanda, serta menjalankan
hasil keputusan Konferensi Yalta, yaitu mengembalikan situasi kepada
“Status Quo” seperti sebelum invasi Jepang

Kesimpulan

Secara moral, tanggungjawab atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Surabaya


pada bulan November 1945, terletak pada Inggris, karena seluruh garis komando,
dari mulai Panglima Tertinggi Tentara Sekutu, Admiral Lord Louis Mountbatten,
Panglima Tertinggi Tentara Sekutu di Indonesia (AFNEI), Letnan Jenderal Sir Philip
Chritison, Panglima Divisi 5, Mayor Jenderal Robert C. Mansergh, Panglima Divisi 5,
Mayor Jenderal D.C. Hawthorn, bahkan sampai ke komandan-komandan brigade,
seluruhnya adalah bangsa Inggris. Kesalahan serta tanggungjawab Inggris dapat
dibuktikan, apabila pendekatan permasalahan dilakukan dengan suatu pendekatan
logis (logical approach), yaitu dengan menggunakan kaidah kausalitas
(Kausalitätsgesetz: kaidah sebab-akibat) yang taat azas. Dari kronologi kejadian,
dapat ditelusuri penyebab atau akar permasalahan dari sesuatu peristiwa/kejadian.
Apabila ditelusuri dan diteliti satu persatu, maka rangkaian kejadian adalah sebagai
berikut :

• Mallaby tewas karena tembak-menembak di Gedung Internatio pecah lagi.


Mengenai apakah dia tewas karena tembakan pistol orang Indonesia, atau
karena ledakan granat dari Captain R.C. Smith, susah dibuktikan.
• Tembak-menembak dimulai oleh Inggris atas perintah Mayor Gopal, Komandan
Kompi “D”, Brigade ke 49, Divisi ke 23 “The Fighting Cock” Inggris, seperti
ditulisnya tanggal 24 Agustus 1974. Menurut Tom Driberg, anggota Parlemen
Inggris, perintah menembak diberikan oleh Mallaby sendiri. Perintah
menembak ini, apapun alasannya jelas telah melanggar perjanjian Sukarno-
Mallaby tanggal 29 Oktober dan Kesepakatan Sukarno-Hawthorn tanggal 30
Oktober 1945.
• Insiden tembak-menembak di Gedung Internatio pada tanggal 30 Oktober
adalah bagian dari Pertempuran 28/29 Oktober ‘45.
• Pertempuran pecah tanggal 28 Oktober karena adanya pamflet tanggal 27
Oktober, yang isinya melanggar kesepakatan yang ditandatangani antara
Inggris dan Indonesia tanggal 26 Oktober. Isi Pamflet mengenai butir ini
ternyata diakui sebagai kesalahan, dan dianulir dalam kesepakatan Sukarno-
Hawthorn tanggal 30 Oktober.

Bila dinilai tingkat kesalahan, maka akan terlihat :

• Mengenai tewasnya Mallaby, kemungkinan kesalahan ada pada kedua belah


pihak, walaupun kemungkinannya lebih besar, bahwa Mallaby tewas akibat
granat yang dilempar oleh Captain Smith. Di sini dapat dikemukakan pendapat
J.G.A. Parrot, sebagai konklusi atas analisisnya, yaitu pertanyaan ke 3,
mengenai siapa yang bersalah atas tewasnya Brigadier Mallaby :
” Who, if anyone to blame for Brigadier Mallaby’s death?” ,

maka Parrot menulis, bahwa tewasnya Mallaby adalah karena kesalahannya


sendiri :
” ….In the circumstances the only answer can be given to Question 3 is that
Brigadier Mallaby was himself responsible for the situation that resulted in his
death.”

Kesimpulan inilah yang sangat penting!

• Berdasarkan kesaksian Kapten Smith, Mayor Gopal dan keterangan Tom


Driberg -yang memperoleh informasi dari Kapten Shaw, ajudan Mallaby- telah
diakui oleh pihak Inggris, bahwa yang memulai menembak adalah tentara
Inggris yang berada di Gedung Internatio, atas perintah Mayor Gopal. Dengan
demikian, terjadinya tembak-menembak yang mengakibatkan tewasnya
Mallaby adalah kesalahan Inggris.

• Pecahnya pertempuran 28 Oktober adalah kesalahan Inggris, yaitu provokasi


pamflet dari Jakarta tertanggal 27 Oktober, karena dengan demikian Inggris
jelas telah melanggar kesepakatan tanggal 26 Oktober 1945 antara pimpinan
militer Inggris (Mallaby) dan pimpinan Republik Indonesia di Surabaya.

Jadi berdasarkan analisis yang taat asas, dengan menggunakan kaidah


kausalitas, dari rangkaian kejadian tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa
pemicu segala malapetaka dan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Surabaya pada
bulan November 1945, adalah pamflet Inggris tertanggal 27 Oktober 1945 dan oleh
karena itu :

Segala sesuatu yang terjadi sejak 27 Oktober 1945 adalah mutlak


kesalahan Inggris.

Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Tentara Inggris

Dengan agresi militer yang dilancarkan mulai tanggal 10 November 1945, tentara
Inggris telah melakukan sejumlah pelanggaran besar. Dari hasil analisis,
pelanggaran yang telah dilakukan oleh tentara Inggris adalah sebagai berikut :

1. Pelanggaran Kedaulatan Republik Indonesia

Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945,


sedangkan agresi militer yang dilancarkan tentara Inggris atas suatu wilayah
Republik Indonesia, dilakukan mulai tanggal 10 November 1945.

2. Pelanggaran Atlantic Charter dan Charter for Peace

Walaupun pada saat itu Republik Indonesia belum diakui oleh Perserikatan Bangsa
Bangsa (PBB), situasi dunia waktu itu sudah hangat dengan pernyataan
kemerdekaan dari berbagai negara bekas jajahan. Pengakuan resmi hanya masalah
waktu saja. Atlantic Charter mengenai “Rights for Selfdetermination" (hak untuk
menentukan nasib sendiri bagi setiap bangsa) dan kerjasama antar bangsa dalam
menyelesaikan pertikaian internasional. Pada tanggal 14 Agustus 1941, Presiden
Amerika Serikat, Franklin D.Roosevelt dan Perdana Menteri Inggris Sir Winston
Churchill menandatangani Atlantic Charter yang isinya a.l. :

“…Kami menjunjung tinggi hak-hak segala bangsa untuk memilih


pembangunan pemerintahan yang akan melindungi kehidupannya dan
kami menghendaki supaya hak-hak kedaulatan dan pemerintahan
sendiri (self determination) dikembalikan kepada mereka yang telah
dirampas dengan kekerasan ...”

Atlantic Charter ini menjadi juga landasan dalam pertemuan beberapa


negara di San Francisco, yang menghasilkan Charter for Peace, 26 Juni 1945.
Kesepakatan beberapa negara di San Francisco tersebut menjadi dasar
pembentukan PBB, yang diresmikan tanggal 24 Oktober 1945. Selain tidak
konsisten dengan Atlantic Charter yang ditandatangani oleh Perdana Menteri
Inggris, Inggris sebagai salah satu negara pendiri PBB melanggar beberapa
prinsip yang telah mereka tentukan sendiri. Ini dapat dilihat dari Preambel
serta beberapa pasal Anggaran Dasar PBB. Dalam informasi yang dikeluarkan
oleh PBB tertera :

“The United Nations was established on 24th October 1945 by 51 countries


committed to preserving peace through international cooperation and
collective security. When States become Members of the United Nations, they
agree to accept the obligations of the UN Charter, an international treaty which
sets out basic principles of international relations. According to the Charter, the
UN has four purposes: to maintain international peace and security, to develop
friendly relations among nations, to cooperate in solving international problems
and in promoting respect for human rights, and to be a centre for harmonizing
the actions of nations. UN Members are sovereign countries. At the UN, all the
Member States - large and small, rich and poor, with differing political views
and social systems - have a voice and vote in this process.”

Penyerangan Inggris atas Surabaya dilakukan mulai tanggal 10 November


1945, setelah berdirinya PBB tanggal 24 Oktober 1945. Sebagai pendiri dan
anggota PBB, Inggris telah menandatangani persyaratan untuk mematuhi
Charter for Peace, Preambel dan Anggaran Dasar PBB.

Kelihatannya memang benar, bahwa Inggris terbiasa mengabaikan


kesepakatan ataupun perjanjian yang telah mereka setujui dan tandatangani.

3. Pelanggaran Preambel PBB.


Dalam Preambel PBB tertulis a.l (lihat Web site: www.UN.org)

- to save succeeding generations from the scourge of war, which twice in


our lifetime has brought untold sorrow to mankind, and
- to reaffirm faith in fundamental human rights, in the dignity and worth
of the human person, in the equal rights of men and women and of nations
large and small, and
- to establish conditions under which justice and respect for the
obligations arising from treaties and other sources of international law can
be maintained, and
- to promote social progress and better standards of life in larger
freedom,
AND FOR THESE ENDS
- to practice tolerance and live together in peace with one another as
good neighbours, and
- to unite our strength to maintain international peace and security, and
- to ensure, by the acceptance of principles and the institution of
methods, that armed force shall not be used, save in the common interest,
and
- to employ international machinery for the promotion of the economic
and social advancement of all peoples,
HAVE RESOLVED TO COMBINE OUR EFFORTS TO ACCOMPLISH THESE AIMS
Accordingly, our respective Governments, through representatives assembled
in the city of San Francisco, who have exhibited their full powers found to be in
good and due form, have agreed to the present Charter of the United Nations
and do hereby establish an international organization to be known as the
United Nations.

4. Pelanggaran Bab 1 (Pasal 1 dan 2), Anggaran Dasar PBB.

Bab 1, Pasal 1 :

The Purposes of the United Nations are :

1. To maintain international peace and security, and to that end: to take


effective collective measures for the prevention and removal of threats to
the peace, and for the suppression of acts of aggression or other breaches
of the peace, and to bring about by peaceful means, and in conformity
with the principles of justice and international law, adjustment or
settlement of international disputes or situations which might lead to a
breach of the peace;

2. To develop friendly relations among nations based on respect for the


principle of equal rights and self-determination of peoples, and to take
other appropriate measures to strengthen universal peace;
3. To achieve international co-operation in solving international problems of
an economic, social, cultural, or humanitarian character, and in promoting
and encouraging respect for human rights and for fundamental freedoms
for all without distinction as to race, sex, language, or religion; and

4. To be a centre for harmonizing the actions of nations in the attainment of


these common ends.

Bab 1, Pasal 2 :

The Organization and its Members, in pursuit of the Purposes stated in Article
1, shall act in accordance with the following Principles.

1. All Members shall settle their international disputes by peaceful means in


such a manner that international peace and security, and justice, are not
endangered. All Members shall refrain in their international relations from
the threat or use of force against the territorial integrity or political
independence of any state, or in any other manner inconsistent with the
Purposes of the United Nations.

2. All Members shall give the United Nations every assistance in any action it
takes in accordance with the present Charter, and shall refrain from giving
assistance to any state against which the United Nations is taking
preventive or enforcement action.

3. The Organization shall ensure that states which are not Members of the
United Nations act in accordance with these Principles so far as may be
necessary for the maintenance of international peace and security.

4. Nothing contained in the present Charter shall authorize the United Nations to
intervene in matters which are essentially within the domestic jurisdiction of any
state or shall require the Members to submit such matters to settlement under the
present Charter; but this principle shall not prejudice the application of enforcement
measures under Chapter Vll

5. Pelanggaran HAM

- Kejahatan Atas Kemanusiaan (Crime against humanity)

Di dalam situasi perang manapun, ada perlindungan bagi penduduk sipil.


Tindakan tentara Inggris untuk membalas dendam dendam atas tewasnya
seorang perwira tinggi, telah mengakibatkan tewasnya belasan ribu,
bahkan mungkin lebih dari 20.000 jiwa penduduk sipil, serta hancurnya
banyak sarana/prasarana nonmiliter, karena waktu itu sasaran militer
sendiri tidak banyak di dalam kota Surabaya.

- Mengakibatkan Pengungsian (enforced displacement)

Diperkirakan lebih dari 100.000 penduduk terpaksa mengungsi (displaced


persons) ke luar kota Surabaya; kebanyakan hanya dengan pakaian yang
melekat di tubuh, karena dalam situasi kepanikan, tidak sempat
memikirkan untuk membawa benda berharga. Kesengsaraan yang diderita
oleh pengungsi tersebut berlanjut selama berbulan-bulan, sebelum
mereka berani kembali ke kota yang telah hancur.

- Penyimpangan Tugas Allied Forces

Tugas yang diberikan oleh Allied Forces (Tentara Sekutu/Serikat) hanyalah


tiga butir, yaitu :

1. Melucuti persenjataan tentara Jepang serta memulangkan kembali ke


negaranya.

2. Rehabilitasi tawanan tentara Sekutu dan interniran (Rehabilitation of


Allied Prisoners of War and Internees –RAPWI).

3. Memulihkan keamanan dan ketertiban (To maintain Law and Order).

Tidak ada satu patah kata pun yang menyebutkan tugas untuk membantu
Belanda kembali berkuasa di bekas jajahannya. Ini hanya ada merupakan
perjanjian rahasia antara Churchill dan Roosevelt di sela-sela konferensi
Yalta dan perjanjian bilateral antara Inggris dan Belanda (lihat dokumen
Lord Mountbatten). Berarti ini adalah penyimpangan atau penunggangan
tugas Allied Forces serta penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan yang
diberikan oleh Allied Forces kepada tentara Inggris dan Australia. Dengan
demikian, jelas bahwa baik hidden agenda di konferensi Yalta yang
diperkuat dengan deklarasi Potsdam, serta perjanjian bilateral Inggris-
Belanda, Civil Affairs Agreement, tidak sejalan dengan tugas dari Allied
Forces, yang harus dilaksanakan oleh Komando Tentara Sekutu Asia
Tenggara.

- Kejahatan Perang (War Crimes)

Bangsa Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus


1945, dan sudah mendapat pengakuan dari beberapa negara. Kini
Republik Indonesia juga tercatat sebagai anggota PBB dengan hari
kemerdekaan adalah 17.8.1945. Tidak ada pernyataan perang dari pihak
mana pun, baik dari pihak Inggris maupun dari pihak Indonesia. Bahkan
pihak Indonesia telah berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah
terjadinya pertempuran. Alasan Inggris waktu itu adalah menumpas
ekstremis, dengan mengabaikan bahwa “ekstremis” tersebut ada di dalam
wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Agresi militer yang dilakukan oleh
tentara Inggris –terbesar setelah berakhirnya Perang Dunia II- tidak dalam
konteks perang dan tanpa pernyataan perang. Pemboman terhadap
obyek-obyek non-militer dan pembunuhan terhadap non-combatant dalam
agresi militer dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang (war crimes).

Gedung Grahadi Gedung Negara dibangun pada tahun


1795, waktu itu penguasa tunggal (Gezaghebber)
Belanda Dirk Van Hogendorp (1794-1798) beranggapan
bahwa tempat kediaman resminya di kota bawah dekat
Jembatan Merah kurang sesuai dengna kedudukannya.
Ia memilih sebidang lahan di tepi Kalimas untuk
membangun sebuah rumah taman yang lebih
representatif. Tanah di jalan Pemuda yang dulu bernama
Simpang, milik seorang Cina yang mula-mula segan
menyerahkannya kepada Van Hogendorp. Namun
menurut cerita ia akhirnya berhasil dipaksa secar halus
dengan pernyataan bahwa tanah itu akan "disimpan" baginya. Menurut cerita,
pemiliknya hanya diberi uang ganti rugi segobang (2.5 sen). Dari kata "disimpan"
tadi lahirlah kata SIMPANG. Van Hogendorp membangun gedung itu dengna biaya
14.000 ringgit. Namun ia menikmati tempat kediaman itu hanya sekitar tiga tahun
saja.

Selama ia memangku jabatannya, banyak keluhan disampaikan kepada Pemerintah


Pusat Hindia Belanda di Batavia (Jakarta), antara lain ia dituduh menyalahgunakan
kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Itulah sebabnya ketika diadakan resepsi
tahun baru pada tanggal 1 Januari 1789, ia ditangkap dan dikirim ke Batavia.
Gubernur Jenderal Inggris, Daendels, yang terkenal dengna sebutan Toean Besar
Goentoer memperbaiki Gedung Grahadi itu. Ia ingin menjdaikan gedung itu sebagai
suatu istana.

Disamping itu, juga dibangun sebuah jembatan di atas Kalimas yang kini mengalir di
belakang gedung tersebut. Pada mulanya gedung itu memang menghadap ke
Kalimas, sehingga pada sore hari penghuninya sambil minum-minum teh dapat
melihat perahu-perahu yang menelusuri kali tersebut. Perahu-perahu itu juga
dimanfaatkan sebagai sarana transportasi, mereka datang dan pergi dengna naik
perahu menelusuri Kalimas.

Dalam perkembangan berikutnya Gedung yang megah itu dipakai juga untuk
tempat bersidang Raad Van Justitie (Pengadilan Tinggi), juga dipakai untuk pesta,
resepsi dengan berdansa, dan lain-lain. Pada tahun 1802, gedung Grahadi yang
semula menghadap ke Utara, diubah letaknya menjadi menghadap ke Selatan
seperti sekarang ini. Di seberangnya ada taman yang bernama Kroesen (Taman
Simpang), yang diambil dari nama Residen J.C. Th. Kroesen (1888-1896). Di
belakang taman itu ada patung Jokodolok yang berasal dari kerajaan Majapahit
yang sekarang juga masih berdiri kokoh. Diantara peninggalan dari zaman Belanda
terdapat meja tulis yang kini dipakai oleh Gubernur Jawa Timur di ruang kerjanya.
Gubernur Belanda yang terakhir mendiami gedung Grahadi ialah : CH. Hartevelt
(1941-1942).

Sejak Indonesia merdeka, Gubernur Jawa Timur pertama yang bertempat tinggal di
Grahadi ialah R.T. Soerjo (1946-1948) yang patungnya kini nampak di seberang
jalan Gedung tersebut. Sejak Gubernur Samadikoen (1945-1957) sampai sekarang
gedung ini dijadikan gedung negara untuk menerima tamu, resepsi serta
pertemuan-pertemuan lain, sedangkan Gubernur sendiri bertempat tinggal di
kediaman lain di dalam kota Surabaya.