Anda di halaman 1dari 109

Tentang Matinya Para Jendral

Oleh
Ben Anderson
Orang sering menjadi terkesima ketika membongkar-bongkar gudang yang
bertimbun dan berdebu. Sementara iseng membolak-balik ratusan halaman fotokopi
rekaman stenografis dari sidang pengadilan Letkol AURI Atmodjo di depan Mahmilub,
saya temukan dokumen-dokumen yang saya terjemahkan di bawah ini, yang aslinya
merupakan lampiran-lampiran pada berkas sidang pengadilan itu.

Dokumen itu adalah laporan yang disusun oleh sebuah tim terdiri dari lima orang ahli
kedokteran forensik, yang telah memeriksa mayat-mayat enam orang jendral (Yani,
Suprapto, Parman, Sutojo, Harjono, dan Pandjaitan), dan seorang letnan muda
(Tendean) yang terbunuh pada pagi-pagi buta tanggal 1 Oktober 1965.

Laporan mereka yang lugas merupakan lukisan paling obyektif dan tepat yang
pernah kita miliki, tentang bagaimana tujuh orang itu mati. Mengingat kontroversi
yang telah lama tentang masalah ini, dan berita-berita yang disajikan oleh suratkabar
dan majalah umum berlain-lainan, maka saya memandang perlu menerjemahkan
dokumen-dokumen tersebut sepenuhnya untuk kepentingan kalangan ilmiah.

Bagian atas setiap visum et repertum (otopsi) menunjukkan bahwa tim tersebut
bekerja pada hari Senin tanggal 4 Oktober, atas perintah Mayjen Suharto selaku
Komandan KOSTRAD ketika itu, kepada kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat
(RSPAD). Tim terdiri dari dua orang dokter tentara (termasuk Brigjen Roebono
Kertopati yang terkenal itu), dan tiga orang sipil ahli kedokteran forensik pada
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Di antara ketiga orang ini yang paling senior ialah Dr. Sutomo Tjokronegoro, ketika
itu ahli paling terkemuka dalam kedokteran forensik di Indonesia. Tim bekerja sama
selama 8 jam, yaitu dari pukul 4.30 sore tanggal 4 Oktober sampai 12.30 lewat
tengah malam tanggal 5 Oktober, bertempat di Kamar Bedah RSPAD. Jelas mereka
harus bekerja cepat, oleh karena dari berita-berita pers kita ketahui mayat-mayat itu
baru bisa diangkat dari lubang sumur di Lubang Buaya (di mana para pembunuh
telah melemparkannya) menjelang siang tanggal 4 Oktober, lebih 75 jam setelah
pembunuhan terjadi.

Dalam jangka waktu itu, dalam iklim tropis bisa diperkirakan mayat sudah sangat
membusuk. Dan sesudah hari siang, Selasa tanggal 5 Oktober, mayat-mayat itu
dimakamkan dengan upacara militer di Taman Pahlawan Kalibata. Satu hal yang pasti
patut diperhatikan. Mengingat bahwa otopsi itu dilakukan atas perintah langsung
Mayjen Suharto, maka kiranya tidak akan mungkin jika laporan para dokter tersebut
tidak segera disampaikan kepadanya, segera setelah tugas dilaksanakan.

Tujuh buah laporan itu masing-masing disusun menurut bentuk yang sama :

1. pernyataan adanya perintah Mayjen Suharto kepada lima orang ahli itu;
2. identifikasi atas mayat;
3. deskripsi tubuh, termasuk pakaian atau hiasan-hiasan badan;
4. uraian rinci tentang luka-luka;
5. kesimpulan tentang waktu dan penyebab kematian;
6. pernyataan di bawah sumpah dari kelima ahli itu,
7. bahwa pemeriksaan telah dilaksanakan sepenuh-penuhnya dan sebagaimana
mestinya.

Karena gambaran umum tentang matinya tujuh tokok itu, kita, sebagaimana halnya
masyarakat pembaca di Indonesia tahun 1965, harus banyak bersandar pada apa
yang diberitakan oleh dua suratkabar tentara, yaitu Angkatan Bersenjata dan Berita
Yudha, serta dinas informasi ABRI yang memasok suratkabar-suratkabar tersebut.
Walaupun ada beberapa suratkabar non-militer yang tetap terbit, namun pers kiri
telah ditindas pada petang hari tanggal 1 Oktober, sedangkan radio dan televisi yang
dikuasai negara, dan telah ada di tangan militer sepenuhnya menjelang 1 Oktober,
tidak mengudara.
Karena itu perlu diperbandingkan berita-berita yang disajikan oleh suratkabar-
suratkabar tentara tersebut, dengan ini laporan dari para ahli kedokteran yang
ditunjuk militer yang selesai tersusun pada hari Selasa tanggal 5 Oktober, yang bisa
kita simpulkan dari dokumen-dokumen lampiran itu.

Mengingat bahwasanya dua suratkabar tersebut adalah harian-harian pagi, sehingga


edisi 5 Oktober mereka mungkin sudah "ditidurkan" sementara para dokter masih
menyelesaikan pekerjaannya, maka tidak aneh bila pemberitaan mereka tentang hari
itu barangkali tergesa-gesa, tanpa memanfaatkan informasi yang panjang lebar itu.
Angkatan Bersenjata memuat beberapa buah foto kabur mayat-mayat yang telah
membusuk, dan menggambarkan pembunuhan tersebut sebagai "perbuatan biadab
berupa penganiayaan yang dilakukan di luar batas perikemanusiaan".

Berita Yudha yang selalu lebih garang, mengatakan bahwa mayat-mayat itu penuh
dengan bekas-bekas penyiksaan. "Bekas-bekas luka di sekujur tubuh akibat siksaan
sebelum ditembak masih membalut tubuh-tubuh pahlawan kita." Mayjen Suharto
sendiri dikutip menyatakan, "jelaslah bagi kita yang menyaksikan dengan mata
kepala (jenazah-jenazah itu), betapa kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh
petualang-petualang biadab dari apa yang dinamakan 'Gerakan 30 September'".

Suratkabar itu meneruskan dengan menggambarkan saat-saat terakhir kehidupan


Jendral Yani, mengatakan bahwa sesudah ditembak rubuh di rumahnya, ia
dilemparkan hidup-hidup ke dalam sebuah truk dan terus menerus disiksa sampai
"penyiksaan terakhirnya di Lubang Buaya." Bukti-bukti tentang penyiksaan ini
ditunjukkan dengan adanya luka-luka pada leher dan mukanya, dan kenyataan
bahwa "anggota-anggota tubuhnya tidak sempurna lagi".

Apa yang dimaksud oleh kata-kata yang agak kabur itu menjadi lebih jelas pada hari-
hari berikut. Pada hari Kamis tanggal 7 Oktober, Angkatan Bersenjata menyatakan
bahwa "matanya (Yani) dicungkil". Berita ini dikuatkan dua hari kemudian oleh Berita
Yudha dengan menambahkan bahwa muka mayat itu ditemukan terbungkus dalam
sehelai kain hitam.

Pada tanggal 7 Oktober itu juga Angkatan Bersenjata melukiskan lebih lanjut, tentang
bagaimana Jendral Harjono dan Jendral Pandjaitan tewas oleh berondongan
tembakan senjata api di rumah masing-masing, lalu mayat mereka dilempar ke
dalam sebuah truk yang menghilang dalam kegelapan malam dengan "deru
mesinnya yang seperti harimau haus darah". Sementara itu Berita Yudha
memberitakan tentang bekas-bekas siksaan pada kedua tangan Harjono.

Pada tanggal 9 Oktober Berita Yudha memberitakan, bahwa meskipun muka dan
kepala Jendral Suprapto telah dihancurkan oleh "penteror-penteror biadab", namun
ciri-cirinya masih bisa dikenali. Pada Letnan Tendean terdapat luka-luka pisau pada
dada kiri dan perut, lehernya digorok, dan kedua bola matanya "dicungkil".

Harian ini pada hari berikutnya mengutip saksi mata pengangkat mayat bulan
Oktober itu, yang mengatakan bahwa di antara kurban beberapa ada yang matanya
keluar, dan beberapa lainnya "ada yang dipotong kelaminnya dan banyak hal-hal lain
yang sama sekali mengerikan dan di luar perikemanusiaan."

Pada tanggal 11 Oktober Angkatan Bersenjata menulis panjang lebar tentang


matinya Tendean, dengan menyatakan bahwa ia mengalami siksaan luar biasa di
Lubang Buaya, sesudah diserahkan kepada para anggota Gerwani (Gerakan Wanita
Indonesia). Ia dijadikan benda "permainan jahat" perempuan- perempuan ini,
digunakan sebagai "bulan-bulanan sasaran latihan menembak sukwati Gerwani."
Begitu surat kabar-surat kabar tentara memulai, maka yang lain pun segera serta
merta mengikuti. Misalnya Api Pantjasila, orang partai IPKI yang bernaung di bawah
militer, pada tanggal 20 Oktober memberitakan, bahwa "alat pencungkil" yang
digunakan untuk jendral-jendral itu telah ditemukan oleh pemuda-pemuda anti
komunis, ketika mereka menyerbu gedung-gedung Partai Komunis, di desa
Harupanggang di luar kota Garut. Walaupun tanpa diterangkan, mengapa partai
tersebut memandang desa itu cocok untuk menyimpannya.

Pada tanggal 25 Oktober surat kabar ini juga memuat pengakuan seseorang bernama
Djamin, anggota organisasi pemuda Partai Komunis, Pemuda Rakyat, yang
mengatakan telah menyaksikan bagaimana Jendral Suprapto telah disiksa "di luar
batas kesusilaan" oleh anggota-anggota Gerwani.

Pengakuan-pengakuan serupa itu dimuat berturut-turut, dan memuncak pada cerita


menarik tentang Nyonya Djamilah, disiarkan pada tanggal 6 Oktober oleh Dinas
Penerangan ABRI kepada seluruh kalangan pers. Nyonya Djamilah diceritakan
sebagai hamil tiga bulan, pimpinan Gerwani dari Pacitan berumur lima belas tahun,
mengaku bahwa ia dan kawan-kawannya di Lubang Buaya telah menerima
pembagian pisau kecil serta silet dari anggota-anggota pasukan Gerakan 30
September.

Lalu mereka, yang seluruhnya berjumlah seratus orang itu, mengikuti perintah orang-
orang itu pula, mulai memotong dan menyayat-sayat kemaluan jendral-jendral yang
telah mereka tangkap itu. ("Dibagi-bagikan pisau kecil dan pisau silet... menusuk-
nusuk pisau pada kemaluan orang-orang itu. Api Pantjasila, 6 November 1965).

Malahan tidak berhenti di situ saja. Antara yang telah dikuasai militer itu, pada
tanggal 30 November melukiskan bagaimana orang-orang Gerwani itu dengan
mudahnya telah menyerahkan tubuh mereka kepada para personel AURI yang ikut
serta dalam Gerakan 30 September. Sementara itu pada tanggal 13 Desember
Angkatan Bersenjata melukiskan mereka bertelanjang menarikan "Tarian Bunga
Harum" di bawah pimpinan Ketua Partai Komunis Dipa Nusantara Aidit, sebelum
terjun dalam pesta pora massal bersama para anggota Pemuda Rakyat.

Di dalam cerita-cerita yang memenuhi suratkabar selama bulan- bulan Oktober,


November dan Desember ini -- sementara itu pembantaian besar-besaran terhadap
orang-orang yang berhubungan dengan Partai Komunis terus berjalan -- terkandung
dua hal yang sangat menarik diperhatikan. Pertama, ditiup-tiupkan bahwa tujuh
kurban itu mengalami siksaan yang mengerikan -- khususnya dicungkil mata dan
dipotong kemaluan mereka; kedua, ditonjolkan bahwa pelaku-pelaku kejahatan
adalah orang-orang sipil dari organisasi yang berafiliasi dengan komunis.

Apakah yang diberitakan kepada kita oleh laporan para ahli forensik pada tanggal 5
Oktober itu? Pertama, dan terutama, bahwa tidak ada satu biji mata pun dari para
kurban yang telah dicungkil, dan bahwa semua kemaluan mereka pun masih utuh.
Kepada kita bahkan diberitakan bahwa empat berkhitan dan tiga tidak berkhitan.

Kecuali itu, barangkali perlu kurban-kurban itu dibagi ke dalam dua golongan:
mereka yang dengan sebagian besar bukti non-forensik menunjukkan telah dibunuh
dengan ditembak selagi masih di rumah oleh para penculik mereka, yaitu Jendral
Yani, Jendral Pandjaitan, dan Jendral Harjono; dan mereka yang dibunuh sesudah
dibawa ke Lubang Buaya, yaitu Jendral Parman, Jendral Suprapto, dan Jendral Sutojo,
serta Letnan Tendean.

Golongan I. Berita paling lengkap tentang kematian mereka terbit jauh sesudah
peristiwa terjadi: tentang Yani dalam Berita Yudha tanggal 5 Desember; Pandjaitan
dalam Kompas tanggal 25 Oktober; Berita Yudha Minggu tanggal 21 November, dan
Berita Yudha tanggal 13 Desember; dan Harjono dalam Berita Yudha Minggu tanggal
28 November. Semua pemberitaan menunjukkan, bahwa jendral-jendral itu telah
dibunuh dengan mendadak dan seketika di rumah dengan berondongan tembakan
yang dilakukan oleh anggota-anggota Resimen Kawal Cakrabirawa, di bawah
pimpinan operasi Lettu Doel Arief.

Gambaran demikian hanya sebagian saja dibenarkan oleh laporan forensik. Para ahli
forensik itu menyatakan bahwa luka-luka pada tubuh Yani sajalah yang merupakan
sepuluh luka tembak masuk dan tiga tembus. Pandjaitan mengalami tiga luka tembak
pada kepala, serta luka robek kecil di tangan. Pada luka-luka yang dialami Harjono
timbul tanda tanya, karena tidak disebut-sebut sebagai akibat tembakan. Penyebab
kematiannya rupanya adalah torehan panjang dan dalam pada bagian perut, luka
yang lebih mungkin disebabkan oleh bayonet ketimbang pisau lipat atau silet.
Sebuah luka serupa yang tak mematikan terdapat pada punggung korban. Cedera
lain satu-satunya digambarkan "pada tangan dan pergelangan tangan kiri, luka-luka
disebabkan oleh barang tumpul."

Tak ada cara lain yang lebih tepat untuk menafsirkan luka-luka ini kecuali harus
mengatakan, bahwa luka-luka tesebut tidak mungkin karena siksaan -- jarang
penyiksa memilih pergelangan kiri dalam melakukan pekerjaan mereka -- dan luka itu
barangkali karena mayat itu dilempar ke dalam sumur di Lubang Buaya yang 36 kaki
dalamnya.

Golongan II. Cerita lengkap tentang matinya korban-korban ini terdapat dalam
suratkabar-suratkabar berikut: Parman, Berita Yudha, 17 Oktober dan juga Berita
Yudha serta Angkatan Bersenjata tanggal 2 Desember; Soeprapto, Berita Yudha
Minggu tanggal 5 Desember; Sutojo, Berita Yudha Minggu tanggal 21 November.
Terhadap empat orang inilah berita-berita tentang siksaan biadab dan seksual paling
banyak diberikan. Apa yang diungkapkan oleh laporan forensik adalah sebagai
berikut :

1. S. Parman mengalami lima luka tembak, termasuk dua yang mematikan pada
kepala; dan, di samping itu, "robek dan patah tulang pada kepala, rahang, dan
kaki kiri bawah, semuanya sebagai akibat benda tumpul dan keras -- popor bedil
atau dinding dan lantai sumur -- tetapi jelas bukan luka-luka "siksaan", juga tidak
sebagai akibat silet atau pisau lipat.

2. Soeprapto mati oleh karena sebelas luka tembak pada berbagai bagian
tubuhnya. Luka-luka lain berupa enam luka robek dan patah tulang sebagai akibat
dari benda tumpul pada kepala dan muka; satu disebabkan oleh benda keras
tumpul pada betis kanan; luka- luka dan patah tulang itu "akibat benda tumpul"
yang sangat keras pada bagian pinggul dan pada paha kanan atas"; dan tiga
sayatan yang, melihat pada ukuran dan kedalamannya, mungkin disebabkan oleh
bayonet. Sekali lagi "benda tumpul" mempertunjukkan terjadinya benturan
dengan benda-benda keras yang besar dan berbentuk tak menentu (popor bedil
dan batu-batu sumur), dan bukannya silet atau pisau,
3. Sutojo mengalami tiga luka tembak (termasuk satu yang fatal pada kepala),
sedang "tangan kanan dan tempurung kepala retak sebagai akibat benda tumpul
keras". Sekali lagi kombinasi ganjil antara tangan kanan, tulang tengkorak, dan
benda pejal berat yang memberikan kesan popor bedil atau batu-batu sumur.
4. Tendean mati akibat empat luka tembak. Kecuali itu para ahli tersebut
menemukan luka gores pada dahi dan tangan kiri, demikian juga "tiga luka akibat
trauma pejal pada kepala."
Tak terdapat sepatah kata pun di laporan-laporan ini tentang adanya siksaan yang
tak tersangkal, dan tak ada juga bekas silet atau pisau kecil apapun. Bukan saja
karena hampir semua luka-luka bukan tembak itu dilukiskan sebagai akibat dari
benda pejal dan keras, tetapi karena pembagiannya secara jasmaniah pun "pergelan
gan kaki, tulang kering, pergelangan tangan, paha, pelipis dan lain-lain -- pada
umumnya tampak sembarangan.

Adalah sangat menarik, bahwa sasaran para penyiksa yang lazim yaitu pelir, dubur,
mata, kuku, telinga, dan lidah tidak disebut-sebut.

Maka dengan cukup meyakinkan bisa dikatakan bahwa enam orang dari korban-
korban itu mati oleh tembakan senjata api (perihal Harjono yang mati di dalam
rumahnya tetap membingungkan); dan jika tubuh mereka mengalami tindak
kekerasan lain adalah akibat pemukulan dengan gagang bedil yang mematahkan
peluru-peluru mematikan itu, atau cedera yang mungkin diakibatkan karena jatuh
dari ketinggian 36 kaki -- yaitu kira-kira tiga tingkat lantai -- ke dalam sumur yang
berdinding batu.

Perlu juga dikemukakan, bahwa dalam pidatonya tanggal 12 Desember 1965 kepada
Kantor Berita Indonesia Antara, Presiden Soekarno mengutuk para wartawan yang
telah membesar-besarkan pernyataan mereka, dan menegaskan bahwa dokter-
dokter yang telah memeriksa mayat para korban menyatakan, tentang tidak adanya
perusakan mengerikan pada mata dan alat kelamin sepeti telah diberitakan dalam
pers (Lihat Suara Islam, 13 Desember 1965, dan FBIS, 13 Desember 1965).***

Ditulis ulang oleh Pamong Saka

Ben Anderson Tentang Pembunuhan


Massal 65
Ben Anderson adalah profesor ilmu politik di Cornell. Sekarang dia sedang menjadi
dosen tamu di Yale. Bagaimana jenderal-jenderal itu dibunuh? "Tentara atau
pimpinan tentara tahu betul bahwa jenderal-jenderal itu dibunuh oleh sesama
tentara. Sama sekali tidak ada siksaan, tidak ada penganiayaan, dsb." Mengapa
media massa menyiarkan kabar bohong? "Saya yakin itu justru diperintahkan oleh
Suharto bersama orang yang dekat-dekat dia seperti Ali Murtopo. Mereka dengan
darah dingin sekali membuat kampanye fitnah untuk kepentingan politik."

BAGAIMANA JENDERAL-JENDERAL ITU DIBUNUH?

T : Untuk studi tentang pembunuhan 6 orang jenderal dan seorang letnan pada tgl 1
Oktober 1965, Pak Ben menggunakan laporan otopsi jenasah mereka. Studi Pak
Ben diterbitkan dalam majalah Indonesia nomor 43, April 1987, berjudul "How did
the generals die?" Kami ingin mengetahui hasil studi itu. Apakah laporan otopsi itu
asli? Dari mana Pak Ben mendapat laporan otopsi itu?

J : Asli. Ini suatu kebetulan. Waktu itu kira-kira awal tujuh puluhan. Atas desakan dari
Pak Kahin, saya, dsb, akhirnya disampaikan, oleh orang-orang CSIS-nya Benny
Murdani, beberapa kilo berkas-berkas Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa)
yang pernah diadakan oleh pemerintah Indonesia. Setiap proses verbal itu
tebalnya bukan main. Sekarang ini saya tidak ingat persis proses verbal yang
mana, tapi di dalamnya ada serentetan lampiran yang panjang sekali. Pada kira-
kira halaman 700 atau 800 saya temukan laporan otopsi itu sebagai dokumen
resmi yang ditanda-tangani oleh dokter-dokter Universitas Indonesia. Mereka
disuruh Soeharto untuk mengadakan pemeriksaan mayat-mayat yang ditemukan
di Lubang Buaya. Jadi jelas sumbernya dari berkas yang diserahkan kepada kami
oleh pemerintah Indonesia. Jadi itu sama sekali bukan barang palsu, tanda tangan
semuanya ada di situ, dan laporannya cukup mendetail.

T : Apakah laporan otopsi ini pernah dijadikan barang bukti di pengadilan?

J : Kalau masuk berkas Mahmilub itu berarti termasuk dokumen yang dipakai di
pengadilan. Tetapi saya tidak tahu apakah dokumen ini memang pernah
dibacakan di pengadilan. Tapi jelas termasuk barang-barang yang seharusnya
dipikirkan oleh para hakim.

T : Siapa yang memerintahkan para dokter untuk melakukan otopsi?

J : Itu jenderal Soeharto. Pemeriksaan diadakan atas perintah dari pejabat Kasad
saat itu, yaitu Soeharto. Dan tanda-tangan Soeharto memang ada di situ.

T : Tanggal 7 Oktober 65 koran Angkatan Bersenjata bilang, "Matanya dicongkel."


Apakah memang ditemukan bukti-bukti penganiayaan sebelum mereka dibunuh?
Apa ada yang dicukil matanya atau disayat-sayat badannya?

J : Sama sekali tidak ada. Itu yang menarik buat saya sewaktu membaca. Karena
jelas mereka semua mati karena ditembak. Dan kalau ada luka-luka lain itu arena
kena pinggiran sumur atau terbentur batu-batu di dalamnya. Jenasah itu
dilemparkan ke dalam sumur yang dalamnya lebih dari 10 meter. Jadi sama sekali
tidak ada tanda siksaan. Dan dokter tidak pernah menyebutkan ada ekas-bekas
siksaan. Jadi matanya, oke. Kemaluannya juga utuh, malah disebut 4 disunat dan
3 nggak disunat.

T : Bagaimana pemberitaan koran dan TV pada bulan Oktober dan Nopember 1965?
Misalnya Angkatan Bersenjata 5 Oktober 65 itu bilang, "Perbuatan biadab berupa
penganiayaan yang dilakukan di luar batas perikemanusiaan." Berita sejenis ini
muncul setiap hari selama beberapa minggu baik di koran, radio maupun di TV.

J : Itu jelas direkayasa. Karena pimpinan tentara tahu betul bahwa tidak ada siksaan.
Tapi ini salah satu strategi untuk menimbulkan suasana yang tegangnya bukan
main. Ini sudah biasa. Di mana saja di dunia, kalau mau diadakan pembataian
massal, harus diciptakan suasana di mana orang merasa apa saja boleh. Karena
calon korban sudah berbuat hal-hal diluar perikemanusiaan.

T : Otopsi selesai tgl 5 Oktober sekitar jam 12 siang. Karena Soeharto yang
memerintahkan, tentu dia orang pertama yang diberi tahu hasil otopsi itu.
Soeharto tahu tidak ada bukti-bukti penyiksaan di Lubang Buaya. Mengapa
Soeharto membiarkan koran-koran -terutama Angkatan Bersenjata dan Berita
Yudha, koran Angkatan Darat yang bisa dia kontrol- menyiarkan kabar bohong
tentang penyiksaan, kekejaman, dsb?
J : Saya tidak mengatakan bahwa Soeharto membiarkan. Saya yakin itu justru
diperintahkan oleh Soeharto bersama orang yang dekat-dekat dia seperti Ali
Murtopo. Ini jelas justru untuk membantu mereka dalam hal menghancurkan PKI
dan pada akhirnya mengambil kekuasaan dari tangan Bung Karno. Yang bisa
menjadi penyokong Bung Karno yang paling kuat dan paling terorganisir adalah
PKI. Kalau PKI sudah tidak ada, Bung Karno tidak punya kekuatan konkrit yang
terorganisir yang bisa melawan tentara.

T : Apakah Soeharto, sebagai Pangkopkamtib pada tahun 1965 itu, pernah


menjelaskan pada masyarakat umum tentang bagaimana sebenarnya jenderal-
jenderal itu dibunuh, siapa yang membunuh, dsb?

J : Saya nggak yakin Soeharto saat itu sudah menjadi Pangkopkamtib. Saya lupa
persis kapan dia menjadi Pangkopkamtib. Yang paling penting ketika itu adalah
pidato Jenderal Nasution sewaktu anaknya yang malang itu dikuburkan. Jadi
Soeharto sendiri pada waktu itu tidak menonjol sebagai tukang pidato. Tetapi
media massa yang dikuasai oleh Soeharto dkk terus menerus mengatakan itu PKI
yang menjadi dalang dari peristiwa. Soeharto itu sendiri juga memberi pidato.
Tapi saya merasa yang penting bukan pidato dia sendiri tapi suasana yang
diciptakan media massa yang direkayasa oleh kelompok Soeharto.

T : Bagaimana dengan kabar ditemukannya alat-alat pencukil mata? Misalnya dalam


berita di koran Api Pancasila tgl 20 Oktober, "Alat cukil mata ditemukan di kantor
PKI di desa Haurpanggang di Garut."

J : Saya yakin ini bikin-bikinan. Masa orang menyimpan alat pencukil di Garut? Juga
apa yang disebut sebagai alat pencukil, saya kurang tahu persis. Rasanya ini
sebenarnya cuma satu alat yang dipakai oleh petani untuk urusan sehari-hari.
Atau mungkin alat untuk buruh yang kerja di perkebunan. Jadi bukan alat khusus
pencukil mata. Mungkin kalau anda sendiri lihat gambarnya bisa menjelaskan
sebenarnya itu alat apa.

T : Bagaimana dengan berita tentang pengakuan dari saksi mata yang dimuat dalam
Angkatan Bersenjata tgl 10 Oktober, "Korban dicungkil matanya. Ada yang
dipotong alat kelaminnya dan banyak hal-hal lain yang sama sekali mengerikan
an di luar perikemanusiaan." Apakah ‘pengakuan’ saksi mata itu benar? Atau
bikinan tentara?

J : Saya kira nggak. Waktu itu ada dua saksi penting. Yang paling penting itu seorang
gadis berumur 15 tahun yang jelas sudah diteror habis-habisan. Buktinya kedua
wanita ini, yang pernah mengaku ikut mencukil mata, tidak pernah diadili. Jadi ini
jelas bikin-bikinan.

T : Jadi mereka dituduh ikut menyiksa tetapi tidak ada bukti?

J : Sama sekali tidak ada bukti. Kalau ada bukti ini akan menjadi kasus yang bagus
untuk pihak pimpinan tentara. Tapi ini cuma dibikin untuk memanaskan suasana.
Setelah itu gadis ini tidak pernah kedengaran namanya lagi.

T : Apa kesimpulan studi tentang pembunuhan di Lubang Buaya ini?

J : Apa yang sebenarnya terjadi di Lubang Buaya itu lain soal. Yang penting ialah
sebelum kampanye media massa, tentara atau pimpinan tentara tahu betul
bahwa jenderal-jenderal itu dibunuh oleh sesama tentara. Sama sekali tidak ada
siksaan, tidak ada penganiayaan dsb. Jadi mereka dengan darah dingin sekali
membuat kampanye fitnah untuk kepentingan politik. Dan itu bisa dibuktikan oleh
dokumen yang berasal dari tokoh itu sendiri, juga oleh dokter-dokter dari fakultas
kedokteran Universitas Indonesia yang kejujurannya dalam hal ini tidak
disangsikan.

T : Apakah Pak Ben mendapatkan data baru yang merubah kesimpulan atau hasil
studi yang ditulis tahun 1987 ini?

J : Tidak ada. Dalam versi sejarah dan juga film yang dibuat Orde Baru, pembunuhan
para jenderal itu dilakukan oleh orang-orang PKI. Tetapi sebenarnya siapa yang
membunuh para jenderal itu? "Jelas oleh kelompok tentara sendiri. Sama sekali
tidak ada bukti bahwa orang sipil ikut."

SIAPA YANG MEMBUNUH

T : Siapa yang membunuh 3 jenderal (Yani, Panjaitan dan Haryono) di rumahnya?

J : Sepengetahuan kami sampai sekarang pembunuhan yang terjadi di rumah


jenderal-jenderal dilakukan oleh kesatuan dari Cakrabirawa yang dipimpin
langsung oleh letnan Dul Arief yang sampai sekarang nggak ada bekasnya.
Bagaimana nasibnya, ke mana larinya, dibunuh di mana, itu tidak diketahui. Jadi
jelas oleh kelompok tentara sendiri. Jenderal Nasution sendiri dalam
pengakuannya mengatakan memang rumahnya diserang oleh tentara.

T : Siapa yang melakukan pembunuhan 3 jenderal (Parman, Suprapto dan Sutoyo)


dan letnan Tendean di Lubang Buaya?

J : Kalau yang terjadi di Lubang Buaya itu saya kira sama juga. Mungkin bukan
orang-orang dari Cakra saja, tetapi juga dapat bantuan dari kelompok kecil dari
AURI. Sampai sekarang tidak jelas, karena bagaimanapun waktu itu Halim alam
kekuasaan AURI. Sama sekali tidak ada bukti bahwa orang sipil ikut.

T : Jadi bunuh-membunuh itu antara tentara sendiri.

J : Oh iya. Justru itu menjadi faktor yang sangat menentukan. Karena perpecahan di
kalangan tentara ini justru sesuatu yang menjadi skandal besar yang bisa
menghancurkan nama ABRI di mata umum. Jadi kalau ada ABRI membunuh ABRI,
ya bagaimana? Sangat diperlukan dalang yang bukan ABRI.

T : Apakah ada anggota PKI, atau ormasnya seperti Pemuda Rakyat dan Gerwani,
yang ikut melakukan pembunuhan di Lubang Buaya?

J : Tidak ada bukti.

T : Apakah semua pembunuh diajukan ke pengadilan?

J : Ya, satu dua. Malah masih ada satu yang dulu sersan dari Cakra. Kalau nggak
salah dia sampai sekarang masih nongkrong di yang dalam bahasa Inggris
dinamakan "Death Row." Dia divonis hukum mati 25 tahun yang lalu. Tapi sampai
sekarang belum dijalankan. Tapi sebagian besar dari kelompok Cakra itu hilang
tanpa bekas. Kita nggak tahu bagaimana nasibnya mereka. Untung sendiri
ditangkap dan diadili. Tapi dia sendiri tidak langsung memimpin kesatuan yang
menyerbu rumah jenderal dan sebagainya.

T : Apakah kesaksian yang pernah diadili itu konsiten dengan otopsi?

J : Saya tidak ingat lagi. Kami tidak pernah menerima berkas proses verbal dari
sersan-sersan Cakra. Yang kami terima cuma berkas-berkas dari perkaranya
orang-orang yang dianggap tokoh dalam G-30-S dan beberapa orang sipil seperti
Subandrio, dll. Kalau yang dianggap orang kecil, seperti sersan ini dan sersan itu,
tidak pernah disampaikan.

T : Apakah ada orang yang mempermasalahkan tentang hilangnya para pelaku


pembunuhan di Lubang Buaya yang tanpa bekas ini?

J : Tidak pernah. Yang lebih mengherankan adalah bahwa kelompok pimpinan


Kodam Diponegoro yang mendukung G-30-S, Kolonel Suherman asiten satu,
Kolonel Maryono asisten tiga, Letkol Usman asisten empat, dsb, untuk selama
kira-kira 48 jam, menguasai hampir seluruh Jawa Tengah, kemudian mereka juga
hilang. Tidak pernah diantara mereka ada yang diadili, diajukan ke pengadilan,
dsb. Mereka hilang tanpa bekas. Itu tidak pernah diisukan. Malah kalau membaca
laporan dari Buku Putih apa yang terjadi di Jawa Tengah sama sekali tidak menjadi
masalah. Jadi semua perhatian dengan sengaja dipusatkan pada apa yang terjadi
di Jakarta.

T : Sebenarnya yang tahu soal orang hilang ini siapa?

J : Ya, harus tanya pada pemerintah di Indonesia. Suherman di mana? Maryono,


Usman di mana? Dsb. Banyak sekali tokoh-tokoh dari G-30-S hilang tanpa bekas.
Yang tahu bagaimana nasibnya, ya tentara sendiri.

T : Kemudian bagaimana Pak Ben menjelaskan kehadiran anggota Pemuda Rakyat


dan Gerwani di Halim?

J : Ini dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. Memang ada kebijaksanaan dari
pemerintah. Selain dari anggota ABRI ada juga orang sipil yang dilatih sebagian
sebagai sukarelawan untuk dikirim ke perbatasan. Tapi ada sebagian juga yang
dilatih untuk membantu seandainya Ingris melakukan serangan udara ke Jakarta
sebagai pembalasan terhadap aksi dari pihak Indonesia. Dan pada umumnya
Angkatan Darat tidak begitu antusias. Tapi AURI di bawah pimpinan Omar Dhani
yang dekat dengan Bung Karno, rupanya mulai suatu sistim latihan itu di
beberapa pangkalan udara. Dan mereka minta dari parpol-parpol dan ormas-
ormas supaya anggota-anggota mereka dilatih. Dan yang paling antusias pada
waktu itu, ya PKI. Jadi kalau ada Gerwani dan Pemuda Rakyat di Halim itu karena
mereka dikirim oleh pimpinan PKI di Jakarta untuk latihan.

Dan karena tugasnya setengah militer, mereka ini harus yang muda-muda.
Mereka bisa dilatih oleh petugas-petugas dari AURI, dalam hal ini ya mayor
Suyono. Bukan PKI saja, juga ada PNI dan NU dilatih.

T : Apa yang dilatih di Halim itu tidak hanya PKI tetapi juga PNI dan NU.

J : NU saya nggak jelas apakah dilatihnya di Halim. Tetapi di pangkalan lain jelas ada.

T : Kalau begitu keberadaan mereka secara kebetulan saja?

J : Tidak kebetulan. Memang ada program dari pemerintah. Tetapi tidak dilatih untuk
membunuh jenderal. Mereka dilatih untuk mempertahankan pangkalan kalau
diserang oleh Inggris.

T : Bagaimana Pak Ben menjelaskan kehadiran DN Aidit, ketua PKI, di Halim? Apa
yang dia lakukan selama di Halim pada tanggal 1 Oktober itu?

J : Sampai sekarang ini menjadi teka-teki yang besar. Karena sepengetahuan kami
tidak ada bukti bahwa DN Aidit berbuat apa-apa. Justru ini yang aneh. seolah-olah
dia dijemput oleh kelompok tertentu, dibawa ke Halim, terus ditaroh di salah satu
rumah di situ sepanjang hari. Pada akhirnya dia dapat pesan, mungkin ada kurir
atau apa dari Bung Karno, dia disuruh pergi ke Jawa Tengah untuk menenangkan
situasi. Jadi tidak ada bukti kalau dia ketemu dengan pimpinan G-30-S. Tidak ada
bukti bahwa dia memberi instruksi apa-apa. Malah ada kemungkinan juga dia mau
disembunyikan di Halim di bawah perlindungan AURI. Seandainya ada usaha
menculik dia dari rumahnya atau dari kantor PKI.

T : Tadi dikatakan bahwa dia disuruh pergi ke Jawa Tengah untuk menenangkan
situasi. Jadi ke Jawa Tengahnya bukan inisiatif dia sendiri?

J : Tidak ada bukti. Yang jelas setelah Bung Karno melihat situasi pada malam hari
tanggal 1 Oktober, dia tahu bahwa situasi itu sangat berbahaya. BK juga tahu
situasi di Jawa Tengah. Dia merasa mungkin ini bisa menjadi permulaan dari suatu
perang saudara. Dia juga takut jangan-jangan PKI merasa harus berbuat sesuatu,
padahal mereka tidak bisa berbuat banyak. Mereka kan tidak punya senjata. Saya
kira Aidit juga takut jangan-jangan ada kelompok di daerah yang tidak mengerti
keadaan lantas membuat sesuatu yang bisa dipakai sebagai provokasi oleh lawan.
Kita harus sadar bahwa dalam ingatan orang-orang PKI, Peristiwa Madiun tahun
1948 itu menjadi trauma yang besar. Waktu Madiun, orang-orang tingkat lokal
membuat sesuatu yang kemudian menyeret pimpinan partai dan akhirnya
menghancurkan partai pada waktu itu. Jadi seperti, ya sudah ada ide dalam partai,
itu jangan terjadi lagi, jangan sampai bisa diprovokasi sekali lagi Pada bulan
Januari 1966 Ben Anderson dan Ruth McVey, waktu itu masih mahasiswa S-3,
menulis makalah yang kemudian dikenal luas dengan nama "Cornell Paper."
Dalam makalah itu Pak Ben menyatakan, "Tokoh-tokoh utama dari gerakan ini
baik di Jawa Tengah maupun Jakarta sendiri adalah perwira-perwira dari kodam
Diponegoro. Mereka semuanya bekas bawahan dari Soeharto sendiri." Bagaimana
peranan PKI dan Bung Karno? "Sampai sekarang sama sekali tidak ada bukti
bahwa Bung Karno ada di belakangnya. Masalah PKI lebih ruwet. Setelah tahun 66
ada beberapa data yang masuk seolah-olah ada orang PKI yang terseret. Saya
tidak bisa mengatakan bahwa sama sekali PKI tidak ada sangkut pautnya. Tapi
saya masih tetap berpendapat mereka bukan penciptautama G-30-S."

CORNELL PAPER

T : Tiga bulan setelah pembunuhan para jenderal, Pak Ben dan Ibu Ruth menyusun
hasil studi berjudul "A preliminary analysis of the October 1, 1965, coup in
Indonesia." Studi itu selesai ditulis tgl 10 Januari 1966 dan semula cuma diedarkan
di kalangan terbatas. Baru diterbitkan untuk umum, tanpa perubahan, pada tahun
1971. Studi itu kemudian dikenal dengan nama "Cornell Paper." Apa pokok pikiran
dalam Cornell Paper? Dan apa bukti-bukti utama yang menunjang pokok pikiran
itu?

J : Pada waktu itu kami ingin mengecek sampai kemana versi resmi dari apa yang
terjadi itu masuk di akal. Versi resmi bunyinya, "Ini suatu komplotan jahat, yang
didalangi oleh PKI." Pada waktu itu kami ingin mengecek apa ini cocok dengan
informasi dan data-data yang masuk. Laporan itu selesai ditulis tanggal 10
Januari. Tapi saya kira bahan-bahan itu makan waktu tiga minggu untuk
penulisan. Jadi bahan-bahan yang masuk itu hanya sampai pertengahan
Desember. Nah, kebetulan kira-kira tiga minggu setelah peristiwa, situasi belum
100% bisa dikontrol oleh Soeharto. Jadi masih banyak koran beredar di Jawa
Timur, Jawa Tengah, Medan, dsb. Dan kebetulan Cornell punya koleksi koran
Indonesia yang paling lengkap di dunia. Pada waktu itu memang luar biasa kami
dapat segala macam koran dari Surabaya, semarang, Yogya, Solo, dll. Dan
ternyata dari laporan-laporan itu banyak yang tidak cocok dengan versi resmi.
Selain itu kami punya arsip tentang tentara. Dari situ kami bisa juga sedikit
banyak mengecek siapa sebenarnya orang-orang seperti Suherman, Usman, dsb.
Dari situ kami bisa mengetahui bahwa umpamanya Suherman baru kembali dari
latihan di Amerika. Dia dilatih sebagai orang inteljen oleh AS. Untuk kita tidak
masuk di akal bahwa ada seorang PKI bisa menjadi lulusan latihan AS dan dikasih
jabatan sebagai tokoh intel di Jawa Tengah. Selain dari itu juga ada beberapa
informasi dalam bentuk surat dari teman-teman yang kebetulan jalan-jalan di Jawa
Tengah dan Jawa Timur pada waktu itu. Mereka menulis apa yang mereka lihat
dengan mata sendiri.

T : Cornell Paper dibuka dengan kalimat ini, "The weight of the evidence so far
assembled and the (admittedly always fragile) logic of probabilities indicate that
the coup of October 1, 1965, was neither the work of PKI nor of Sukarno himself."
Apa yang Pak Ben maksud dengan "logic of probabilities" itu?

J : Ini kesimpulan dari dua sudut logika. Bung Karno sama sekali tidak dapat
keuntungan dari peristiwa berdarah ini. Justru beliau bisa berdiri di atas segala
kelompok diIndonesia karena bisa mengimbangi kelompok ini dengan kelompok
itu. Kalau politik sudah bergeser dari politik sipil, yaitu omong-omong, organisasi,
dsb, ke lapangan kekerasan, BK nggak bisa apa-apa. Jadi jelas G-30-S
membahayakan dia, bukan membantu dia. Dari sudut PKI, kami merasa selain dari
faktor trauma-48, PKI pada waktu tahun 1965 cukup sukses dalam politiknya.
Yaitu politik damai. Di mana dia semakin lama semakin berpengaruh. Justru
karena mereka tidak mengambil jalan seperti Ketua Mao dengan perang gerilya,
dsb. Mereka pakai strategi sipil. Justru mereka akan jadi susah kalau mulai konflik
bersenjata. Karena mereka tidak punya senjata, tidak punya kesatuan-kesatuan
yang bersenjata. Jadi logika dua kelompok ini, BK dan PKI, menuntut supaya politik
tetap politik normal bukan politik bedil. Logika ini diperkuat dengan hal-hal yang
kongkrit. Banyak hal yang aneh dalam G-30-S. Pertama, pengumuman-
pengumuman dari G-30-S itu nggak mungkin disusun oleh tokoh-tokoh PKI yang
cukup berpengalaman dalam bidang politik.

Saya kasih dua contoh. Pertama, yang dikatakan Dewan Revolusi yang
diumumkan G-30-S, itu suatu Dewan yang sama sekali tidak masuk di akal.
Karena banyak tokoh-tokoh yang penting, seperti Ali Sastroamidjojo, yang tidak
masuk. Tapi banyak tokoh-tokoh yang hampir tidak dikenal namanya justru
masuk. Malahan banyak orang kananpun masuk, itu umpamanya Amir Machmud.
Jadi ini bukan suatu Dewan Revolusi yang meyakinkan. Jadi rasanya kacau. Yang
kedua, yang lebih meyakinkan lagi, adalah pengumuman dari Untung kepada
sesama tentara, bahwa mulai saat itu tidak akan ada lagi pangkat dalam tentara
yang lebih tinggi dari pangkatnya Letkol Untung sendiri. Nah itu jelas membuat
setiap kolonel, brigjen, mayjen, letjen, dsb, jengkelnya bukan main. Dan ini suatu
move yang membuat semua pimpinan tentara akan anti dengan gerakan ini.
Nggak mungkin ada orang yang punya otak politik akan membiarkan suatu
pengumuman seperti itu. Itu jelas suatu pengumuman yang keluar dari hati nurani
Letkol Untung sendiri. Karena dia jengkel dengan atasannya. Atau bisa juga itu
provokasi yang diatur oleh dalang sebenarnya dari peristiwa ini. Yang memakai
Untung, yang jelas bukan orang pinter, sebagai pionnya.

T : Setelah 30 tahun, apakah Pak Ben tetap berpegang pada pendapat itu?

J : Kalau Sukarno jelas. Sampai sekarang sama sekali tidak ada bukti bahwa Bung
Karno ada di belakangnya. Masalah PKI lebih ruwet. Setelah tahun 66 ada
beberapa data yang masuk seolah-olah ada orang PKI yang terseret. Saya sendiri
pernah ikut persidangan Mahmilub Sudisman pada tahun 1967, dan mendengar
pidato uraian tanggung jawabnya. Dalam pengadilan itu yang dinamakan Ketua
Biro Khusus yaitu si Kamaruzaman, atau Syam, nongol sebagai saksi. Di sana
cukup jelas bahwa Syam ini adalah orang yang dikenal betul oleh Sudisman.
Bagaimanapun Syam ada hubungan langsung dengan pimpinan PKI. Jadi apa ada
sebagian dari orang-orang PKI ikut-ikutan, apa ada sebagian dari PKI yang
dibodohin oleh kelompok ini-itu, masih tidak jelas. Jadi saya tidak bisa
mengatakan bahwa sama sekali PKI tidak ada sangkut pautnya. Tapi saya masih
tetap berpendapat mereka bukan pencipta utama G-30-S.

T : Kalimat terakhir dalam alinea pertama "Cornell Paper" itu, "The actual originators
of the coup are to be found not in Djakarta, but in Central Java, among middle-
level Army officers in Semarang, at the headquarters of the Seventh (Diponegoro)
Territorial Division." Apa bukti-bukti utama dari pernyataan ini?

J : G-30-S hanya sukses bisa menguasai daerah di Jawa Tengah. Dan tokoh-tokoh
utama dari gerakan ini baik di Jawa Tengah maupun Jakarta sendiri adalah
perwira-perwira dari kodam Diponegoro, kecuali Supardjo. Mereka semuanya
bekas bawahan dari Soeharto sendiri, termasuk Supardjo. Yang paling menonjol
tentu pada waktu itu adalah fakta bahwa Untung dan Latif kedua-duanya dekat
sekali dengan Soeharto. Soeharto sendiri pada tahun 64 pergi jauh-jauh ke salah
satu desa di Jawa Tengah untuk ikut menghadiri perkawinan bawahannya yang
tercinta, yaitu Untung. Jadi itu yang pertama. Kedua, fakta bahwa apa yang terjadi
di Jawa Tengah sampai sekarang 100% ditutupi oleh versi resmi. Ini aneh. Karena
nggak ada pengadilan, nggak ada cerita apa yang terjadi di Semarang. Terus
kesatuan-kesatuan utama yang ikut gerakan di Jakarta itu sebagian besar juga
dari Diponegoro. Itu yang penting.

T : Apa motivasi perwira-perwira Diponegoro itu?

J : Ini jelas tentara yang belum berbintang. Otaknya seolah-olah pangkat mayor,
letkol, kolonel, dibantu oleh kapten, letnan, sersan, dsb. Kalau kita membaca
pengumuman G-30-S, seolah-olah masalahnya itu masalah intern. Mereka
menuduh jenderal-jenderal ikut serta dengan CIA dalam rangka mendongkel Bung
Karno. Menuduh jenderal-jenderal orang yang hidup mewah, orang yang suka
main perempuan, yang tidak menghiraukan nasib dari bawahannya, dsb. Jadi
terasa sekali ada semacam konflik antara tentara yang bawahan, yang pada
umumnya miskin-miskin, dan tokoh jenderal-jenderal yang berduit. Pada waktu itu
di Jakarta cuma ada satu mobil Lincoln Continental yang putih. Dan pemiliknya
siapa? Jenderal Yani, kan? Padahal Indonesia saat itu miskinnya bukan main. Jadi
sangat menyolok. Jadi kalau motivasinya dikatakan sebagai kecemburuan sosial,
juga bisa.

T : Apa ada hubungan antara motivasi itu dengan lingkungan para perwira
Diponegoro pendukung G-30-S itu?

J : Sebagian karena Jawa Tengah terkenal sebagai daerah yang paling miskin
dibandingkan dengan Jawa Barat dan Timur. Juga kultur di Jawa Tengah di mana
patriotisme kejawa-jawaan itu paling kuat. Dari dulu ada persaingan antara
Diponegoro dan Siliwangi. Perwira Siliwangi dianggap orang yang statusnya lebih
tinggi, biasa pakai bahasa Belanda diantara mereka sendiri dan biasa kebarat-
baratan, dan paling dekat dengan Amerika. Perwira Jawa Tengah sebagian besar
berasal dari Peta, bikinan Jaman Jepang. Waktu revolusi mereka merasa diri
sebagai orang Jogya lah. Orang yang mempertahankan nilai-nilai dari revolusi 45,
patriotisme Jawa, dsb. Pokoknya kalau jenderal-jenderal Bandung omong, mereka
tidak pernah pakai—ken, ken. Tapi ini bukan masalah suku. Karena tokoh utama
dari semuanya itu orang Jawa dan sasaran utamanya juga orang Jawa.

T : Pada minggu pertama Oktober 1965, dari 5 pucuk pimpinan PKI, 3 orang ada di
Jawa Tengah (Aidit, Lukman dan Sakirman). Nyoto sedang berada di Sumatra
Utara sedangkan Sudisman di Jakarta. Kemudian Lukman dan Nyoto menghadiri
Rapat Kabinet di Bogor tgl 6 Oktober. Apa yang dilakukan para pimpinan PKI
selama berada di Jawa Tengah setelah 1 Oktober?

J : Dari informasi yang masuk, dari laporan sopirnya Lukman, dsb, ya mereka putar-
putar. Aidit dan Lukman menghubungi cabang dan ranting-ranting PKI, memberi
tahu apa yang sedang terjadi, dan diminta untuk waspada dan jangan sampai bisa
diprovokasi. Dalam hal ini kita belum tahu banyak. Karena sampai sekarang
kebanyakan orang PKI yang masih hidup, di dalam maupun di luar negeri, belum
sempat menulis secara jujur, terang-terangan, tentang kehidupan intern partai
pada saat itu. Munculnya tokoh Syam, Ketua Biro Khusus PKI, membuat pendapat
Ben Anderson bergeser. Tentang tokoh itu, "Syam ini orangnya cukup misterius."
Tentang Biro Khusus, "Banyak hal yang masih belum jelas." Tentang peranan
RPKAD, "Pembunuhan juga baru mulai di Jawa Timur setelah RPKAD berpindah
dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Di Bali, pembunuhan massal baru mulai setelah
RPKAD pindah dari Jawa Timur ke Bali."

BIRO KHUSUS

T : Tadi Pak Ben bilang, munculnya tokoh Syam itu membuat pendapat Pak Ben
bergeser?

J : Ya. Maka itu kami menamakan "Laporan Sementara." Dan sampai sekarang status
sebagai laporan sementara tetap dipertahankan. Karena bagaimanapun sebagian
besar tokoh-tokoh yang paling penting sudah dibunuh, atau sudah hilang. Dan ada
juga yang berkaitan langsung tetapi belum mau ngomong. Jadi harus nunggu.

T : Ini bukan bahan dari Cornell Paper, tapi dari Buku Putih yang diterbitkan
Sekretariat Negara tahun 1994. Dalam Buku Putih soal Biro Khusus PKI dibahas
panjang lebar. Menurut Pak Ben sendiri seberapa besar peranan Biro Khusus PKI
ini dalam G-30-S?

J : Dalam hal Biro Khusus ini ada beberapa sisi yang sampai sekarang sulit
dimengerti. Pertama, pada umumnya partai komunis, di manapun juga di dunia,
punya format yang sama. Susunan organisasinya sangat standard. Dan sampai
sekarang belum ditemukan partai komunis lain yang pernah menciptakan
semacam Biro Khusus. Ini tidak mustahil. Tetapi cukup aneh. Kedua, istilah atau
bahasa yang dipakai oleh orang-orang yang dianggap tokoh Biro Khusus ada juga
yang mencurigakan. Umpamanya mereka pakai istilah "pembina." Jadi, untuk
menggambarkan aktivitas mereka, ada para pembina yang mengadakan
pembinaan-pembinaan. Sepanjang pengetahuan saya, ini bukan bahasa marxist
dan bukan bahasa komunis. Tapi dari dulu ini bahasanya tentara. Rada aneh kalau
waktu itu PKI berlawanan dengan tentara, kok yang dianggap organisasi rahasia
PKI itu justru pakai istilah teknis dari tentara? Yang ketiga, sampai sekarang
identitas dan nasibnya Kamaruzaman alias Syam tu masih menjadi teka-teki.
Setelah memeriksa beberapa dokumen di Amerika, di Indonesia dan di Belanda,
ternyata si Syam ini pernah menjadi anggota PSI. Dalam majalah resmi dari PSI
namanya pernah disebut pada tahun 1951 sebagai ketua ranting. Kalau tidak
salah di Rangkasbitung, Banten. Selain itu ditemukan juga dokumen dalam arsip
Belanda di mana Kamaruzaman ini pada waktu revolusi pernah diangkat sebagai
orang intelnya Recomba Jawa Barat. Recomba itu pemerintah federal buatan
Belanda. Itu bisa juga. Karena pada waktu itu ada juga patriot-patriot yang pura-
pura jadi pegawai Belanda untuk mengetahui rahasianya Belanda. Tapi toh rada
aneh. Terus di koran-koran Indonesia ada informasi bahwa pada akhir tahun 50-an
Kamaruzaman nongol sebagai informan dari komandan KMK (Komando Militer
Kota) Jakarta. Jadi Syam ini orangnya cukup misterius. Jelas dia dikenal baik oleh
pimpinan PKI. Tetapi dia juga pegang peranan di Recomba, di PSI, di tentara, dsb.
Sampai sekarang serba misterius. Di mana kesetiaannya? Buat saya tidak jelas.
Walaupun pemerintah mengumumkan bahwa Syam sudah dieksekusi, itu masih
disangsikan kebenarannya. Mungkin dia cuma disimpen saja. Yang terakhir, ini
kesan saya waktu mengikuti pengadilan Sudisman. Di sana Syam diberi
kesempatan untuk omong panjang lebar. Saya bisa membandingkan
kesaksiannya dengan kesaksian Sudisman. Itu sangat berbeda. Kesaksian
Sudisman itu mengesankan, jelas, mendalam dan bahasanya teratur. Sedangkan
kesaksian Syam itu bukan main kacau-balaunya. Dia banyak memakai bahasa-
bahasa dari jaman revolusi yang sudah tidak berlaku lagi. Malahan seolah-olah
orangnya itu agak sinting. Jadi sulit masuk di akal kalau orang seperti ini menjadi
kepala biro yang sangat rahasia dan penting. Jadi banyak hal yang masih belum
jelas.

T : Pak Ben mengikuti sendiri pengadilan Sudisman. Dia satu-satunya pucuk pimpinan
PKI yang diadili. Apa kesimpulan Pak Ben dari pengadilan Sudisman itu?

J : Dari kesaksian Sudisman saya dapat kesan bahwa dia merasa diri dalam keadaan
di mana partai yang ikut dia pimpin itu dihancurkan secara mengerikan. Ratusan
ribu yang mati. Dan dia sebagai seorang pemimpin dan sebagai seorang Jawa
merasa bertanggung-jawab. Bagaimanapun, kalau pimpinannya baik dan beres
seharusnya hal seperti itu tidak terjadi. Karena itu dia menamakan pembelaannya
itu "Uraian Tanggung Jawab." Dia tidak mau debat tentang soal ini-itu. Dia cuma
bilang, "Bagaimanapun juga, sebagai pimpinan tertinggi yang masih hidup, saya
memakai kesempatan ini untuk meminta maaf atas apa yang terjadi." Sudisman
tidak pernah bilang bahwa dia ikut merencanakan G-30-S. Dia cuma bilang bahwa
rupanya ada unsur-unsur PKI yang terseret. Dia tidak membicarakan soal Biro
Khusus. Tidak membenarkan dan juga tidak membantah adanya. Waktu Syam
memberi kesaksian, Sudisman tidak mau melihat mukanya dan tidak mau
menjawabnya. Yang jelas, untuk sebagian besar dari saksi-saksi waktu itu
informasi tentang adanya Biro Khusus itu sesuatu yang mengejutkan sekali. Jelas
mereka sama sekali tidak tahu menahu.

PERANAN RPKAD

T : Ini catatan dalam Cornell Paper. Pasukan RPKAD sampai di Semarang tgl 19
Oktober. Bentrokan pertama dengan ormas PKI terjadi di Boyolali tgl 21 Oktober.
Selama 3 minggu, tgl 1 sampai 21 Oktober, tidak ada bentrokan berdarah.
Walaupun pemberitaan di koran, TV dan radio tentang Lubang Buaya sangat
memanaskan suasana, menyebarkan ketakutan, dst. Bagaimana Pak Ben
menjelaskan 3 minggu tanpa bentrokan ini?

J : Saya kira sebagian karena kekuatan sosial pada tingkat sipil cukup seimbang. Jadi
orang merasa bahwa organisasi PKI dan keluarga besar PNI itu kira-kira seimbang.
Di Jawa Tengah NU itu tidak begitu berpengaruh. Pertama orang merasa tidak ada
kelompok yang dominan. Dan walaupun suasana tegangnya bukan main, saya
nggak yakin bahwa orang Jawa Tengah, kalau tidak ada orang yang mengipasi
mereka, mau cepat-cepat membantai tetangganya. Kita harus ingat di desa-desa,
di kota-kota, orang PKI itu bukannya bergerak di bawah tanah. Mereka itu
tetangga, yang saban hari ketemu, masih famili, dsb. Banyak anggota PNI yang
punya saudara PKI, dsb. Kalau tidak dibikin suasana yang luar biasa tegangnya
tidak akan terjadi apa-apa, dalam arti pembantaian. Justru pentingnya kedatangan
RPKAD adalah orang-orang anti PKI merasa bahwa angin sudah berada di pihak
mereka. Mereka yang mau netral dapat petunjuk dari RPKAD kalau membuktikan
kamu bukan orang PKI maka kamu harus membunuh PKI. Ini khususnya ditujukan
kepada pemuda-pemuda, pemuda Islam, pemuda Banteng, pemuda Kristen,
Katolik, dsb. Jadi kalau tidak ada pembantaian sebelum RPKAD datang. Itu justru
menunjukan apa yang terjadi tidak spontan. PKI sendiri juga takut.

T : Kesatuan-kesatuan yang mendukung G-30-S itu dari Diponegoro, lalu mereka


menguasai Jawa Tengah. Lalu RPKAD datang. Bukankah kedua kekuatan itu
seimbang?

J : Itu benar pada hari-hari pertama. Tetapi jangan lupa bahwa Suherman, Maryono,
sman, dkk, itu hanya berkuasa selama kira-kira 48 jam. Setelah itu Pangdamnya,
Suryosumpeno, sempat ambil kembali posisi sebagai panglima.

Lalu orang-orang ini hilang entah ke mana. Bahwa ada kesatuan-kesatuan di Jawa
Tengah yang bersimpati pada PKI, itu mungkin sekali. Karena sebagai kelompok
teritorial bagaimanapun mereka berada di tengah masyarakat Jawa Tengah.
Tentara ini sedikit-banyak akan membantu PKI. Tapi kira-kira mulai tanggal 3
Oktober, pimpinan Diponegoro tidak lagi di tangan perwira-perwira yang pro G-30-
S. Dan kesatuan-kesatuan yang dicurigai itu langsung ditarik ke daerah lain. Tapi,
ini dapat dibuktikan, pembunuhan juga baru mulai di Jawa Timur setelah RPKAD
berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Di Bali, pembunuhan massal baru
mulai setelah RPKAD pindah dari Jawa Timur ke Bali. Kalau membandingkan tiga
propinsi ini, tiga minggu yang tenang di Jawa Tengah itu aneh. Lebih aneh lagi
karena ada enam minggu yang tenang di Jawa Timur. Dan malahan ada dua bulan
yang tanpa pembunuhan di pulau Bali. Bagaimana pembunuhan massal itu
dilaksanakan? "Faktor yang pertama adalah policy atau kebijaksanaan dari
pimpinan tentara di Jakarta yang diwujudkan dengan pengiriman RPKAD ke Jawa
Tengah, Jawa Timur dan Bali. Senjata, latihan, perlindungan, kendaraan, dsb,
dikasih kepada kelompok-kelompok pemuda yang mereka hubungi." Mengapa
orang mau disuruh membunuh? Mau dipakai sebagai alat? "Itu mungkin
menunjukan gejala yang lebih mendasar. Buat saya faktor yang utama adalah
keadaan ekonomi. Mulai kira-kira tahun 1961-62 inflasi di Indonesia melejit secara
mengerikan." Tentang konflik antara kelompok agama dengan PKI, "Ini timbul
sebagai akibat Undang-Undang Pokok Agraria dan Undang-Undang Pokok Bagi
Hasil."

PEMBUNUHAN MASSAL

T : Sekarang (1996) hampir semua koran di dunia melaporkan orang PKI yang
dibunuh pada tahun 1965 itu jumlahnya sekitar 500 ribu. Misalnya dalam editorial
New York Times (1 Ags), The Economist (3 Ags) dan editorial Washington Post (20
Ags). Dalam pemberitaan media di Indonesia, jumlah korban ini jarang
diungkapkan. Dan siapa yang jadi korban itu juga tidak dijelaskan. Tahun 1985,
dalam majalah Indonesia nomor 40, Pak Ben bilang, "Probably between 500.000
and 1.000.000 Indonesians died at the hands of other Indonesians."

J : Pertama harus dikatakan bahwa tidak ada orang yang tahu persis berapa
jumlahnya orang yang dibunuh pada waktu itu. Angka 500 ribu itu diambil dari
pernyataan Adam Malik dan pernah juga dari Soedomo. Tapi apa mereka sendiri
tahu? Itu nggak jelas. Itu cuma perkiraan.

T : Menurut Pak Ben apa sebab terjadinya pembunuhan massal selama akhir 1965
itu?

J : Kalau sebab-sebab ada dua faktor. Faktor yang pertama adalah policy atau
kebijaksanaan dari pimpinan tentara di Jakarta yang diwujudkan dengan
pengiriman RPKAD ke Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Mereka ingin supaya PKI
dihancurkan dan mereka ingin juga bahwa ini tidak hanya dikerjakan oleh tentara
tapi juga oleh kelompok-kelompok yang mau dijadikan sekutu untuk membangun
apa yang belakangan dinamakan Orde Baru. Jadi mereka menyertakan warga
Banteng, NU, Katolik, Protestan, dsb. Karena itu senjata, latihan, perlindungan,
kendaraan, dsb, dikasih kepada kelompok-kelompok pemuda yang mereka
hubungi. Jadi kalau policy pimpinan tentara ini tidak ada, kemungkinan terjadi
pembunuhan massal itu saya kira tidak besar. Tetapi mengapa orang mau disuruh
membunuh? Mau dipakai sebagai alat? Itu mungkin menunjukan gejala yang lebih
mendasar. Buat saya faktor yang utama adalah keadaan ekonomi.

Mulai kira-kira tahun 1961-62 inflasi di Indonesia melejit secara mengerikan. Saat
itu saya sendiri ada di Indonesia. Saya lihat saban minggu itu harga barang bisa
berlipat ganda. Duit tidak ada arti sama sekali. Khususnya bagi orang-orang gajian
itu menimbulkan suasana yang panik. Kalau pejabat gajinya tidak berarti lagi,
mereka cepat-cepat lari ke dunia korupsi, catut, dsb. Orang melarikan duitnya
untuk beli tanah. Karena tanah dianggap sesuatu yang bisa mempertahankan
harganya. Keadaan ekonomi waktu itu menimbulkan suatu kegelisahan di seluruh
Indonesia. Orang merasa masa depannya sangat gelap, tidak normal dan serba
tak tentu. Ini yang penting. Terus, ada kemiskinan yang luar biasa. Saya ingat
waktu itu jalan-jalan di Yogya-Solo, banyak orang yang geleparan di pinggir jalan.
Orang yang mati karena busung lapar. Bung Karno sendiri tidak malu untuk bikin
propaganda supaya orang makan tikus sawah. Dan dia sendiri mengaku pernah
makan tikus sawah. Saya sendiri nggak percaya. Tapi itu penting. Ketiga, konflik
antara kelompok agama dengan PKI. Ini timbul sebagai akibat undang-Undang
Pokok Agraria (UUPA) dan Undang-Undang Pokok Bagi Hasil (UUPBH). PKI
memperjuangkan Land Reform justru ketika tanah menjadi sangat penting, beras
menjadi sangat penting, pembagian hasil menjadi sumber konflik yang luar biasa.
Apalagi dalam hal Land Reform salah satu pengecualian yang penting adalah
tanah-tanah yang menjadi milik dari lembaga agama -umpamanya mesjid, surau,
gereja dsb- tidak boleh diganggu gugat. Dalam suasana seperti itu orang-orang
yang punya tanah lebih, supaya bisa tetap pegang tanahnya, lebih sering justru
menyerahkannya kepada wakaf, kalau Islam. Dan lembaga yang seperti itu juga
untuk yang Kristen. Di mana dia bisa ikut sebagai pimpinan. Jadi seperti
dilaporkan oleh Lance Castles dalam artikelnya dalam majalah Indonesia pada
tahun 1966 itu, kita ambil contoh pesantren Gontor. Dalam satu tahun tanah yang
dimiliki oleh Gontor ini bisa bertambah sepuluh kali. Jadidengan mendadak
lembaga agama menjadi tuan tanah yang terbesar. Kalau orang-orang kiri, orang-
orang yang pro-Land Reform, mau ribut soal tanah ini, mereka langsung
berhadapan bukan dengan individu tuan tanah tapi langsung menghadapi
lembaga agama. Banyak orang tergugah untuk membela. Mereka bukannya mau
melindungi tuan tanah tapi bagaimanapun mereka pasti mau melindungi atau
membela lembaga agama mereka.

T : Pembunuhan massal terjadi di desa-desa Jateng, Jatim dan Bali. Di Jateng yang
dominan itu Islam abangan. Di Jatim Islam santri, dan di Bali itu semuanya Hindhu.
Tapi di Jawa Barat, tidak ada pembunuhan besar-besaran. Padahal Jabar adalah
daerah yang Islamnya paling taat, daerahnya Masyumi. Pemenang Pemilu-55 dan
Pemilu Daerah-57 di Jabar adalah Masyumi. Bagaimana Pak Ben memahami
hubungan antara pembunuhan massal ini dengan agama penduduk setempat?

J : Isu agama ini gampang dipakai selama PKI dapat dianggap sebagai kelompok anti
agama. Dan harus diingat bahwa paman Karl Marx pernah mengatakan bahwa
agama itu candu supaya masyarakat tidak menghadapi realitas siapa yang
menindas. Ini sulit dicabut oleh PKI, walaupun mereka berusaha supaya tidak
confrontational terhadap agama. Tapi isu agama ini gampang dipakai. Apalagi di
negara komunis pimpinan agama diusir, Uni Soviet itu atheis, dsb. Jadi
bagaimanapun isu agama ini salah satu alat pemukul di kalangan lawan PKI.
Tetapi waktu mengikuti pengadilan Sudisman, saya lihat banyak saksi-saksi dari
pihak PKI. Dan hanya sedikit - Sudisman sendiri, mungkin satu-dua lagi yang tidak
mau ambil sumpah secara agama, menggunakan Al Qur’an, Al Kitab, dsb. Jadi
saya yakin sebagian besar dari orang-orang PKI itu sebenarnya juga orang
beragama. Itu faktor penting.

Soal perbedaan antara daerah-daerah memang menarik. Karena pembunuhan ini


tidak terjadi di mana-mana secara merata di seluruh Indonesia. Di sini kami bisa
melihat betapa menentukan faktor pimpinan tentara lokal. Ambil contoh
umpamanya Jabar. Pada tahun 68 saya sempat mewawancara jenderal Ibrahim
Adjie yang pada waktu peristiwa dia menjadi Pangdam Siliwangi. Pada waktu itu
dia dianggap sebagai saingannya Soeharto, lalu dibuang ke London jadi Dubes di
sana. Saya ngomong lama sama beliau. Saya tanya, kenapa kok tidak ada
pembunuhan besar-besaran di Jawa Barat? Sebenarnya memang ada,
umpamanya di Indramayu, tetapi tidak meluas. Dia bilang, "Itu sebabnya karena
saya tidak ingin ada pembantaian di Jawa Barat. Karena merasa bagaimanapun ini
sebagian besar orang biasa, orang-orang kecil. Akan mengerikan kalau mereka itu
dibunuh. Saya sudah kasih perintah kepada semua kesatuan di bawah saya, orang
ini ditangkap, diamankan. Tapi jangan sampai ada macem-macem." Ternyata
kewibawaan si Adjie yang terkenal jenderal kanan, yang dekat dengan Amerika,
itu berlaku penuh. Sebaliknya di Jawa Timur pimpinan tentara pada waktu itu
lemah. Saya lupa nama panglimanya. Mungkin Sunaryadi? Tapi jelas kolonel-
kolonel, komandan Korem merasa bisa bergerak dangan sendirinya. Umpamanya
Danrem di Kediri yang masih famili dengan salah satu jenderal yang dibunuh di
Jakarta, itu mengambil inisiatif sendiri. Sebagian timbul karena perpecahan. Kalau
RPKAD sudah masuk orang merasa bahwa untuk selamat mereka harus berbuat
sesuatu. Di Bali juga begitu. Ini menarik dan penting. Karena di Jawa Barat, di
mana RPKAD tidak pernah putar-putar, justru tidak terjadi pembantaian.

T : Mengapa tidak ada perlawanan dari orang PKI?

J : Ya karena mereka tidak punya senjata. Mau apa?

PENGARUH LUAR NEGERI? BUDAYA?


T : Bagaimana pengaruh faktor luar negeri?

J : Daftar orang PKI yang dibikin orang kedutaan Amerika itu?

T : Ya. Orang kedutaan AS itu kan bikin daftar 5 ribu orang PKI, lalu dia serahkan ke
Soeharto.

J : Saya juga kenal dengan orang Amerika itu. Karena waktu di Jakarta saya kadang-
kadang ke Kedutaan Amerika dan ini orang memang punya obsesi yang aneh.
Mungkin karena dia dididik sebagai Kremlinologist, dia sibuk bikin daftar dari
orang-orang PKI. Pada waktu itu menjadi bahan ketawaan pegawai di kedutaan
sendiri. Seolah-olah tentara Indonesia tidak pernah bikin daftar. Padahal mereka
jauh lebih mengikuti seluk beluknya politik di Indonesia dari pada orang Aamerika.
Pada waktu itu orang kedutaan Amerika yang dapat berbahasa Indonesia dengan
fasih, boleh dikatakan baru satu-dua. Saya tidak percaya bahwa tentara
memerlukan daftar yang dibuat oleh pegawai kedutaan Amerika. PKI itu tidak di
bawah tanah.

T : Salah satu studi Pak Ben yang lain adalah tentang "Mitologi dan Toleransi Orang
Jawa," terbit tahun 1965. Bagaimana Pak Ben menjelaskan pembunuhan massal
itu dari pemahaman tentang budaya Jawa?

J : Saya merasa kita harus membedakan kebudayaan dalam keadaan normal, ketika
tidak ada ketegangan mencekam, tidak ada suasana ketakutan yang luar biasa.
Kalau melihat kehidupan sehari-hari dari orang Jawa, apalagi orang Jawa Tengah,
mereka berusaha menghindari konflik yang terbuka, dsb.

Tapi dalam masyarakat apapun juga kalau kita lihat sejarah dunia modern
pembantaian, pembunuhan yang luar biasa kejamnya, bisa timbul dalam suasana
ketika orang merasa situasi sudah tidak ada ketentuan. Saya ambil contoh,
umpamanya Yugoslavia. Pada akhir kesatuan Yugoslavia orang makin merasa
bahwa hukum tidak berlaku, alat negara jelas terpecah, sebagian ikut ini sebagian
ikut itu. Situasi ekonomi sudah mulai hancur. Dalam situasi seperti itu orang akan
coba menyelamatkan diri sendiri dengan cara apapun. Mereka harus berbuat
sesuatu yang dalam keadaan normal tidak mungkin terjadi. Kita lihat umpamanya
di Yugoslavia banyak sekali terjadi perkawinan antara orang Serbia dan Bosnia.
Dan memang bahasanya sama. Jadi selama tiga puluh tahun sebelum terjadi
huru-hara nggak ada masalah. Tapi kalau ketakutan besar sudah mulai, ya bisa
terjadi bahwa si bapak yang Serbia terpaksa - supaya tidak dianggap antek karena
bininya sebagai orang Bosnia calon penghianat dia harus berbuat sesuatu yang
kejem, demi keselamatan diri sendiri. Bisa juga dia malah membunuh istrinya
sendiri. Dan ini bener-bener terjadi. Kita lihat situasi yang sama umpamanya
ketika terjadi pembagian India dan Pakistan oleh Inggris. Dan terjadi juga di
tempat-tempat yang lain. Saya yakin di Amerikapun, kalau dalam situasi
ketakutan seperti itu, akan banyak kekejaman yang bisa terjadi. Jadi saya merasa
ini tidak kontradiktif dengan toleransi sehari-hari orang Jawa. Kekejaman ini harus
dikaitkan dengan situasi yang serba tidak tentu. Kita lihat bagaimana setelah
peristiwa terjadi tidak pernah ada orang yang nongol di depan umum dengan
bangga ngaku bahwa saya telah membunuh seratus lima puluh orang PKI. Malah
propaganda dari pemerintah seolah-olah korban dari pihak pemerintah dan dari
PKI kira-kira samalah. Jadi tidak ada kebanggaan atas pembantaian. Jaman
sekarang istilah yang paling sering disebut adalah trauma. Itu jelas bukan trauma
untuk yang mati, karena mereka sudah mati. Trauma justru untuk yang menang
dan yang membunuh. Banyak orang yang membunuh akhirnya menjadi gila.

T : Orang Jawa sangat dipengaruhi cerita wayang. Dalam cerita wayang, Mahabarata
itu diakhiri dengan Perang Baratayuda. Ramayana juga diakhiri dengan perang
besar menyerbu Alengka. Apakah ada pengaruh dari budaya wayang ini?

J : Mahabarata dan Ramayana itu berasal dari India. Kalau orang Jawa itu pantang
menggelarkan lakon Baratayuda karena sangat bahaya. Lakon itu dianggap dapat
membawa malapetaka. Jadi itu pantang sekali. Setahu saya cuma ada satu desa
di Delanggu, entah karena apa, setiap setahun sekali Baratayuda itu harus
digelar. Tapi itupun harus dengan macam-macam upacara sebelumnya. Jadi sulit
juga kalau dikatakan bahwa orang Jawa suka Baratayuda Siapa yang
bertanggung-jawab? "Soeharto dan pimpinan Angkatan Darat itu bertanggung
jawab atas pembunuhan ini, itu jelas." Tentang kesalahan PKI, "Bisa dikatakan
bahwa pimpinan PKI yang bertanggung-jawab atas politik partai itu mungkin
memang ada salahnya." Lalu Pak Ben membuat catatan panjang tentang
kesalahan pimpinan PKI. Tentang anak muda sekarang, "Kalau anak muda
mengerti apa yang terjadi, mereka tidak bisa melihat situasi secara hitam-putih.
Mereka harus melihat ke depan, jangan cuma menengok ke belakang." Pelajaran
apa yang bisa ditarik, "Kita sebagai manusia dalam situasi tertentu bisa menjadi
pembunuh. Jadi kita harus berusaha keras supaya tidak timbul situasi di mana
sifat binatang di dalam diri kita masing-masing bisa ke luar."
PELAJARAN SEJARAH

T : Pelajaran apa yang bisa kami tarik dari pembunuhan jenderal-jenderal itu?

J : Saya tidak tahu pelajaran apa yang diambil dari pembunuhan jenderal. Kecuali
bahwa orang yang hidup dari kekerasan akan dihancurkan oleh kekerasan. Jadi
Untung, Supardjo, Latif, dll, harus bertanggung jawab atas apa yang mereka
kerjakan. Bagaimanapun kalau orang tidur di rumah tahu-tahu dibrondong
mitraliyur itu mengerikannya bukan main.

T : Kalau orang Indonesia tahu kebohongan tentang Lubang Buaya, lalu tahu ada
pembunuhan massal, bagaimana sejarah akan menilai Suharto?

J : Banyak sejarah yang hilang. Ratusan ribu orang yang jadi korban itu tidak bisa
bicara lagi. Berapa sebenarnya jumlah yang dibunuh, itu mungkin kita tidak akan
bisa tahu dengan pasti. Dan dalam sejarah memang banyak peristiwa
pembunuhan atau kekejaman yang kemudian tidak bisa diungkapkan. Misalnya
saja sejarah perdagangan budak di Afrika. Kita tidak tahu berapa yang dibunuh,
bagaimana dibunuhnya, siapa yang membunuh, dst. Jadi jangan terlalu yakin
bahwa seluruh sejarah 1965 ini akan bisa diungkapkan. Sekarang memang
banyak sejarah yang dihapus. Kita juga harus ingat bahwa Orba selama ini justru
melakukan apa yang suka saya sebut "kebijaksanaan pembodohan" masyarakat
Indonesia sendiri. Bukan hanya tentang pembunuhan tahun 65. Tetapi juga
tentang bagaimana munculnya kesadaran nasional, sejarah Jaman Pergerakan
yang sebenarnya, tentang Jaman Jepang, Jaman Revolusi, dsb. Karena yang mau
dijadikan pahlawan itu cuma ABRI. Padahal ABRI kan belum lahir waktu orang lain
sudah berjuang puluhan tahun. Tapi toh sekarang mulai terlihat usaha anak-anak
muda untuk mencari informasi, untuk menggali kembali sejarah bangsanya.
Seperti terlihat dalam buku "Bayang-Bayang PKI" itu, antara lain. Dan memang ini
tugas anak muda, kan? Untuk tidak mau dibodohi. Tapi bahwa Suharto dan
pimpinan Angkatan Darat itu bertanggung jawab atas pembunuhan ini, itu jelas.
Dan bukan pembunuhan ini saja. Mereka juga bertanggung jawab atas ratusan
ribu korban pembunuhan di Timtim, dan ribuan lagi orang yang dibunuh dalam
kasus-kasus Irian Jaya, Aceh, Petrus, dsb. Sepanjang sejarah Indonesia, termasuk
selama Jaman Belanda dan Jaman Jepang, belum pernah ada kelompok penguasa
yang tangannya begitu berlumuran darah. Ya, itu fakta.

T : Tadi Pak Ben bilang soal pembunuhan di Kediri yang luar biasa kejam. Tapi ada
juga propinsi seperti Jabar, di mana pembunuhan tidak meluas. Apa yang bisa
dipelajari dari fakta-fakta seperti itu?

J : Laporan Cornell itu topik utamanya bukan pembunuhan massal. Tetapi apa yang
terjadi dalam Gerakan 30 September. Apa sebabnya terjadi pembunuhan massal?
Itu soal lain lagi. Untuk tahu tentang pembunuhan massal itu kita sudah tahu
politik dari tentara di pusat. Tapi itu tidak selalu dilaksanakan pada tingkat lokal.
Mengapa di Kediri pembunuhan meluas, tadi sudah dibicarakan, karena
Danremnya saudara dari jenderal yang dibunuh. Kenapa di Jabar pembunuhan
tidak meluas, juga sudah kita bicarakan. Pembunuhan di Aceh juga sangat kejam.
Dan di Aceh juga banyak sekali orang Cina yang dibunuh. Itu juga karena inisiatif
Pangdam Aceh waktu itu, Ishak Juarsa. Jadi ada dua tingkat. Kebijaksanaan pusat
dan kebijaksanaan lokal dari pangdam, danrem, dsb. Studi yang lengkap memang
belum ada.

T : Ini soal media. Sebelum pembunuhan massal, media massa-koran, radio, TV


dipakai Suharto untuk menyebarkan kabar bohong tentang kekejaman PKI di
Lubang Buaya. Akibatnya masyarakat jadi tegang, ketakutan, saling curiga. Apa
yang bisa kami pelajari dari pengalaman dengan media ini?

J : Kita harus belajar menghadapi media massa. Apalagi kalau sudah dimonopoli oleh
suatu kelompok. Kita harus skeptis, curiga, jangan cepat percaya. Harus bisa
membandingkan informasi dari media yang dikontrol penguasa itu dengan
informasi lain, dengan pengalaman diri sendiri, dengan media luar negeri,
internet, dll. Karena media massa itu jelas alat penguasa yang dipakai untuk
kepentingan penguasa. Bukan hanya di Indonesia, di Amerika juga begitu. Kalau
lihat TV di sini selalu saya punya sikap curiga. Pokoknya belum tentu benar.
Apalagi kalau media itu condong menghasut si penonton untuk jadi fanatik, untuk
membenci, dsb. Kita harus skeptis. Belajar menjaga diri supaya nggak ikut
terseret. Saya sudah mengalami keadaan demikian di beberapa negara. Bukan
cuma di Indonesia saja. Saya lihat bagaimana media massa di Inggris waktu
Perang Malvinas. Media massa di Amerika waktu Perang Vietnam juga begitu. Jadi
ini bukan sifat khusus media massa di Indonesia. Tetapi sifat khusus dari
penguasa yang kalang kabut atau yang punya maksud jelek. Kalau sekarang, kita
bisa lihat umpamanya dalam Peristiwa 27 Juli. Tahu-tahu dicarikan kambing hitam.
Sekelompok anak muda yang nggak sampai 200 orang jumlahnya. Ini jelas suatu
usaha untuk bikin suasana panik. Untuk menutupi sebab-sebab sebenarnya dari
peristiwa itu.

T : Menurut Pak Ben apa kesalahan PKI?

J : Saya tidak mau bilang bahwa PKI punya salah. Karena PKI itu suatu keluarga besar
yang isinya jutaan orang. Saya tidak percaya kalau suatu organisasi yang begitu
banyak manusianya, yang begitu beraneka warna, itu punya salah. Tapi bisa
dikatakan bahwa pimpinan PKI yang bertanggung-jawab atas politik partai itu
mungkin memang ada salahnya. Pertama, pimpinan PKI mungkin tidak betul-betul
mengerti atau tidak mempertimbangkan dengan matang kontradiksi yang ada
antara strategi politik yang berdasarkan pemilihan umum, aktivitas terbuka yang
legal, keanggotaan partai yang jutaan dengan retorika yang sangat radikal.
Retorika PKI waktu itu cocok untuk dipakai dalam perang gerilya. Di mana pada
akhirnya perjuangan akan ditempuh dengan jalan kekerasan. PKI menganjurkan
banyak sekali orang-orang biasa untuk ikut. Dan mereka jelas tidak pernah ada
pikiran bahwa sewaktu-waktu bakal ada pembunuhan besar-besaran. Kalau mau
mengajak jutaan orang biasa yang kerja di kantor, di desa, di kampung, untuk ikut
suatu partai yang legal, di atas tanah, memakai lembaga-lembaga parlemen,
pemilu, dsb. Tetapi sekaligus juga memakai retorika bahwa seolah-olah sewaktu-
waktu bakal terjadi krisis yang revolusioner, di mana ini mau dihancurkan, itu mau
dihancurkan, maka itu menimbulkan kontradiksi yang lumayan bahayanya.
Karena lawan politik yang mendengar retorika seperti itu bahwa sekali waktu
kamu akan dihancurkan, akan dibeginikan-dibegitukan tentu merasa pada
akhirnya akan terjadi suatu konflik fisik yang luar biasa dahsyatnya. Jadi dengan
sendirinya mereka akan mempersiapkan diri. Dan pada waktu itu justru lawan PKI
lah yang punya senjata. Saya pernah dengar-dengar, Mao Tse Tung pernah
mengatakan begini kepada pimpinan PKI, "Ini nggak bener. Kalau kamu mau
menghancurkan ini, menghancurkan itu, ya itu nggak bisa di kota-kota, nggak
bisa di parlemen,nggak bisa di tengah orang ramai. Itu harus di gunung, harus
bikin perang pembebasan rakyat.

Dan sebaliknya kalau kamu betul-betul mau pakai cara parlementer, maka
retorika dan analisamu harus cocok dengan situasi dan strategi yang kamu pakai."
Jadi dengan demikian ada kemungkinan pimpinan PKI juga ikut membuka
kesempatan untuk apa yang kemudian terjadi. Tapi, ya tentu ini cuma pendapat
orang luar, seorang outsider. Saya juga merasa, kadang-kadang PKI juga terlalu
mencari musuh yang nggak perlu. Umpamanya kampanye terhadap Manikebu
(Manifesto Kebudayaan). Itu bukan kelompok yang penting, cuma beberapa orang
yang sama sekali tidak berbahaya. Padahal lawan sebenarnya dari PKI itu, ya
konglomerat, pimpinan tentara, dsb. Tetapi PKI tidak berani langsung menghadapi
mereka. Lalu dicarikan target yang lebih gampang. Secara taktis ini tidak baik.
Dan menimbulkan kesan PKI selalu ingin menang sendiri. Pada waktu ada
pemilihan umum yang bebas di Indonesia, partai yang paling besarpun tidak bisa
dapat pendukung lebih dari 25% dari masyarakat. Tidak mungkin ada suatu
organisasi yang bisa menang secara mutlak. Bagaimanapun Indonesia baru akan
bisa maju dengan baik kalau ada persekutuan, ada aliansi antara kelompok-
kelompok yang beraneka ragam. Selain itu saya juga dapat kesan begini. Ini
kesan yang timbul ketika mengikuti pengadilan Sudisman. Pada waktu Sudisman
menghadapi kematiannya sendiri, dia tahu bahwa pengadilan itu adalah saat
terakhir dia bisa ngomong. Dia banyak melepaskan diri dari bahasa resmi, bahasa
formal, bahasa standard dari partainya. Lalu dia mulai ngomong sebagai manusia.
Ya tentu bahasa partainya juga cukup banyak. Tetapi pidatonya itu mengesankan
justru karena tidak pakai bahasa resmi. Dia ngomong sebagai orang Jawa, sebagai
orang Indonesia, orang yang pernah ikut revolusi, yang ikut berjuang, dsb. Itu
mengesankan. Jadi sepertinya PKI terlalu mengajak orang untuk ngomong dengan
bahasa yang terlalu distandarisasikan, terlalu monoton, terlalu uniform. Sehingga
bisa dibilang itu membunuh atau mengurangi kreatifitas.

T : Apakah rasa dendam dari mereka yang keluarganya dibunuh itu mungkin bakal
muncul sekali waktu nanti?

J : Ada kemungkinan bakal muncul individu-individu yang demikian. Tapi jangan lupa
bahwa peristiwa ini terjadi 30 tahun yang lalu. PKI sudah hancur selama 30 tahun.
Dan kemenangan tentara adalah kemenangan yang mengerikan. Tetapi, dan ini
perlu dimengerti juga, bahwa dalam proses membunuh, menyiksa, dsb, ternyata
ada juga sebagian anggota partai, malahan juga di kalangan atasnya, yang
kemudian ikut jadi penyiksa dan pembunuh. Jadi PKI tidak hanya dihancurkan oleh
lawannya. Tetapi sebagian juga dihancurkan oleh anggotanya sendiri. Nah ini
suatu luka yang sangat dalam. Kalau anak muda mengerti apa yang terjadi,
mereka tidak bisa melihat situasi secara hitam-putih. Dan toh Indonesia sudah
banyak berubah. Masalah Indonesia sudah lain dan dunia juga sudah lain. Mereka
harus melihat kedepan, jangan cuma menengok ke belakang. Harapan ada
didepan. Tidak pernah ada di belakang.

T : Dalam periode sejarah yang serem ini, apakah Pak Ben melihat orang-orang yang
bisa dianggap pahlawan?

J : Saya bukan orang yang gampang mencari pahlawan. Tapi saya tahu ada orang-
orang yang semangat dan achlaknya memang saya kagumi. Saya kasih contoh 3
orang. Pertama, Pak Pram tentunya. Yang dengan segala penderitaannya toh bisa
menciptakan karya sastra yang luar biasa dan tidak pernah mau tunduk kepada
penindasnya. Saya juga angkat topi kepada teman saya yang sudah lama
meninggal, si Soe Hok Gie. Yang walaupun aktif melawan PKI, tetapi pada waktu
pembantaian massal, penangkapan dan pengiriman ke Buru, dia satu-satunya
orang yang pada waktu itu berani mengatakan di pers bahwa ini salah.

Dia satu-satunya orang yang menyatakan begitu pada tahun 60-an. Yang ketiga,
tentunya almarhum Pak Yap. Dia bersedia membela orang-orang yang sudah pasti
akan dihukum mati. Yang notabene adalah lawan politiknya. Tapi dia berusaha
keras membela mereka sebagus mungkin. Walaupun karena itu dia sendiri tentu
rugi. Karena jadi dibenci oleh penguasa. Apakah mereka ini bisa dianggap
pahlawan? Mungkin belum tentu. Tetapi sebagai orang yang punya karakter,
punya moralitas, punya integritas, saya mengagumi mereka.

T : Kalau di antara politikus?


J : Sorry ya, nggak ada yang saya kagumi.

T : Kalau di kalangan orang-orang biasa? Pahlawan saya itu orang-orang biasa, pak.
Tentu banyak juga orang-orang biasa yang sudah berani ambil resiko untuk
menolong korban waktu itu. Atau menolong keluarga dan anak-anak orang yang
dibunuh, dipenjara atau dibuang. Atau orang seperti Ibu Pram, dalam memoar Pak
Pram di P. Buru, "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu." Atau seperti Ibu Oey dalam
„Memoar Oey Tjoe Tat." Mereka itu istri yang setia luar biasa dan tabah bukan
main. Mereka bisa terus mengurus keluarga ketika suaminya dibuang belasan
tahun, waktu anaknya masih kecil-kecil. Mereka kan orang biasa. Mungkin lebih
gampang buat jadi contoh.

J : Ya. Tentu banyak orang yang bisa kita jadikan contoh. Cuma kita tidak tahu ama
mereka. Tapi saya tahu dua contoh. Waktu pengadilan Sudisman saya masih ingat
banyak saksi dari PKI, dari atas sampai bawah. Banyak sekali dari golongan atas
yang sebenarnya memalukan sekali kesaksiannya. Mereka elas-jelas mau
mencoba mencuci tangan, melarikan diri dari tanggung-jawab ebagai atasan. Tapi
ada dua orang yang sikapnya bagus. Yang pertama Sri Ambar dari Gerwani. Dan
yang paling mengesankan itu seorang anak Cina yang masih muda. Saya tidak
ingat namanya. Dia menjadi kurirnya Sudisman waktu dalam persembunyian.
Anak muda itu orangnya polos, berani, sopan, dan tidak pernah mau bertekuk
lutut terhadap pengadilan. Tentu dia bukan orang yang penting, bukan orang
yang dikenal namanya. Tetapi sikapnya hebat.

T : Secara umum, pelajaran apa yang bisa kami tarik dari pembunuhan massal-65?

J : Kalau tentang pembunuhan massal, ada perasaan umum di Indonesia yang


seolah-olah peristiwa serem semacam itu jangan sampai terjadi lagi. Ini suatu
yang mengerikan dan memalukan. Pelajaran satu lagi, bahwa kita sebagai
manusia dalam situasi tertentu bisa menjadi pembunuh. Jadi kita harus berusaha
keras supaya tidak timbul situasi di mana sifat binatang di dalam diri kita masing-
masing bisa ke luar.

Ditulis ulang oleh Pamong Saka

Prof. Ben Anderson tentang


Suharto, G30S, PKI, Orde Baru,
TNI dll
Wawancara Radio Nederland Siaran Indonesia , 2 September 2005

.Hari Jum'at 30 September mendatang, tepat 40 tahun lalu terjadi peristiwa G30S
yang mengubah sejarah Indonesia. Profesor Benedict Anderson guru besar emeritus
pada Cornell University di Ithaca, Amerika Serikat adalah salah satu pengarang apa
yang disebut Cornell Paper atau Makalah Cornell, yaitu risalah pertama yang
meragukan versi Soeharto terhadap peristiwa yang dikenal sebagai G30S/PKI itu. Apa
sebenarnya Cornell Paper itu dan penemuan-penemuan lebih lanjut apa yang
didapatkan oleh Profesor Ben Anderson?

Baret merah Ben Anderson [BA] :

"Apa yang terjadi begini. Kebetulan pada waktu itu saya masih mahasiswa di Cornell
terus ada dua teman lagi. Satu cowok namanya Fred Bunnell masih mahasiswa dan
mbak Ruth McVey yang sudah lulus dan senior kita. Kami mengikuti apa yang terjadi
di Indonesia dengan sangat cermat karena bingung. Kok ini bisa terjadi? Apa asal
usulnya? Dan kebetulan pada waktu itu Cornell satu-satunya tempat di Amerika di
mana hampir semua koran, majalah masuk dengan cukup cepat. Majalah dalam
bahasa Indonesia, majalah dalam bahasa Jawa. Jadi kita dapat koran dari Medan, dari
Balikpapan dari Solo dari Bali, dari Surabaya dan sebagainya. Ini luar biasa. Jadi kami
bisa mengikuti apa yang terjadi pada bulan Oktober-November-Desember 1965,
bukan bergantungan pada sumber-sumber di Jakarta yang dikuasai sepenuhnya oleh
Soeharto. Tapi di lain-lain daerah."

"Dan dari situ kami melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Jakarta, sama sekali tidak
masuk akal. Karena mengikuti apa yang terjadi di Solo, Yogya dan sebagainya, kita
lihat bahwa pembunuhan massal mulai di Solo, Jawa Tengah, persis pada hari itu
baret merah masuk. Sebelumnya tidak ada. Terus satu bulan lagi kira-kira tanggal 17
November 1965 itu sudah mulai di Surabaya persis pada waktu RPKAD masuk. Dan
sebaliknya, baru di pertengahan Desember 1965, dus hampir tiga bulan setelah
G30S, pembunuhan mulai di Bali. Sekali lagi, ketika baret merah masuk." Versi
Soeharto tak masuk akal

"Jadi itu jelas sekali bahwa pembunuhan ini bukan sesuatu yang spontan, yang timbul
karena kemarahan rakyat dan sebagainya. Tapi timbul dalam situasi di mana tentara
masuk dan memberi sokongan kepada golongan-golongan yang anti PKI. Malah di
beberapa kasus yang saya tahu betul pada waktu itu, mereka masuk di salah satu
desa. Terus bilang pada salah satu orang di situ, mana itu orang komunis di sini.
Orang dalam desa ingin menjaga mereka punya keluarga dan sanak saudara, bisanya
bilang, ya tidak ada. Tapi tentara bilang ini daftarnya, mana orangnya? Lalu orangnya
didorong ke depan. Terus tentara itu bilang sama salah satu orang di sekitarnya,
kamu anti komunis atau tidak? Ya, saya anti komunis. Baik, untuk membuktikan,
silahkan membunuh empat orang ini. Jadi orang seperti ini, tani biasa, antara dibunuh
oleh tentara, atau membunuh temennya sendiri atau keluarga sendiri, ya akhirnya
harus cari selamat."

"Nah, cara yang begini yang sangat sadis, itu kami sudah tahu pada waktu itu. Jadi,
timbul usaha untuk coba membongkar rahasia apa sebenarnya yang terjadi pada
waktu itu. Kami mencek beberapa hipotesa. Seandainya ini Bung Karno di
belakangnya, PKI di belakangnya, tentara di belakangnya.

Dan walaupun kita tidak dapat suatu kepastian yang jelas, tapi berdasar informasi
yang ada pada waktu itu, versinya Soeharto jelas tidak masuk akal."

Proyek penting tak terlaksana "Kami dapet kesimpulan bahwa ini mulainya dengan
perselisihan di dalam tentara sendiri. Itu selesai kira-kira tanggal 3 Januari atau 4
Januari 1966. Kami kerja siang malam. Bertiga. Setelah selesai, kami merasa bahwa
ini suatu dokumen yang berbahaya. Bukan untuk kita sendiri. Tapi kalau tentara di
Jakarta tahu bahwa dokumen ini ada, mungkin orang-orang yang pernah ke Cornell,
orang-orang yang pernah menjadi teman kita, walaupun mereka sama sekali tidak
ada hubungan dengan apa yang kita tulis, toh bisa dikorbankan."
"Tapi di lain pihak kami ingin supaya orang-orang yang kami percaya, orang-orang
seperti Pak Wertheim, Pak Dan Lev, bisa melihat hasil riset kami. Kami menulis pada
mereka, bilang, ini kalian bisa pakai fakta-fakta yang kami sudah dapatkan, kalau
kalian ingin menulis, terserah. Tapi jangan sebut dokumen ini. Pada waktu itu kami
amatiran. Ternyata itu akhirnya bocor dan tentunya bukan golongan Ali Moertopo cs
yang marah, tapi banyak orang Amerika di pemerintah Amerika juga marah. Karena
ini seolah-olah cerita bahwa tentara berhak untuk membunuh banyak orang. Karena
memang PKI yang mau bikin kup sebelumnya, mungkin tidak benar. Dan legitimasi
pemerintah Soeharto yang sudah jelas menuju ke diktatoran harus direstui. Dan
memang itu maksudnya pemerintah Amerika pada waktu itu."

"Yang tidak lama setelah itu saya diusir dari Indonesia. Dan dalam satu hal
sebenarnya saya merasa salah sendiri. Artinya, karena itu saya sudah merasa tidak
ada harapan untuk meneruskan riset itu tadi karena gak ada akses ke Indonesia. Dan
pada waktu itu belum ada orang lain yang bersedia untuk meneruskannya. So ini
proyek tentang saat yang sangat penting di Indonesia, tidak sampai terlaksana. Itu
ceritanya."

Kampanye Machiavellis Radio Nederland [RN] :

"Tapi menurut Profesor Anderson bahan untuk melanjutkan studi Cornell Paper itu
masih banyak dan ada dan bisa dilakukan ya?"

BA :

"Ya. Bahan yang utama adalah segala macem dokumen-dokumen dari Mahmilub
yang ada. Entah berapa, mungkin 20 jilid. Yang walaupun banyak sekali informasi
lainnya, jelas itu hasil dari siksaan, toh juga cukup banyak yang menarik. Apalagi
kalau dibandingkan satu sama yang lain. Nah ini memerlukan pekerjaan yang lama
dan berat. Untuk memeriksa ini semua, membandingkannya satu sama yang lain.
Mencari kunci-kunci yang ada. Itu sampai sekarang belum dilakukan."

"Tetapi betapa pentingnya sumber ini bisa dijelaskan oleh suatu insiden yang terjadi
waktu saya kebetulan periksa ratusan halaman dari salah satu Mahmilub. Dan di sana
saya ketemu satu dokumen yang sangat penting. Yaitu visum et repertum tentang
meninggalnya Ahmad Yani dan teman-temannya yang dituduh sebagai dewan
jenderal."

"Pemeriksaan terhadap tubuh-tubuh jenderal-jenderal ini sangat teliti. Dikerjakan


oleh dokter-dokter militer dan dokter-dokter sipil di Universitas Indonesia.
Diselesaikan tanggal 3 Oktober 1965.

Dan laporannya ditujukan kepada Soeharto sebagai Pangkostrad pada waktu itu. Dari
laporan ini jelas sekali bahwa cerita yang dikeluarkan oleh Soeharto cs pada tanggal
5-6 Oktober 1965, di koran dan di massa media bahwa orang-orang ini disiksa oleh
PKI. Kemaluan mereka dipotong-potong oleh Gerwani yang gila seks dan gila drugs.
Bahwa ada segala macam horor, dicungkil matanya dan sebagainya. Itu sama sekali
tidak bener."

"Itu sangat sengaja. Jadi laporan tentang apa yang sebenarnya terjadi sudah ada di
tangan Soeharto tiga hari sebelum kampanye horor anti PKI mulai. Jadi itu sangat
sinis, sangat dingin. Anehnya, laporan ini menjadi lampiran entah keberapa pada
akhir dari jilid Mahmilub ini itu. Dan jelas masuk dengan tidak sengaja oleh seorang
tentara kecil-kecilan yang dengan lugunya mungkin merasa bahwa ini dokumen yang
tidak penting."
"Padahal itu satu dokumen yang sangat penting dan sangat menghancurkan konsep
bahwa Moertopo, Soeharto dan sebagainya itu bertindak atas dasar keyakinan. Tidak.
Justru sebaliknya, itu suatu kampanye yang sangat Machiavellis, yang dilaksanakan
dengan penuh kesadaran."

Informasi selalu ada "Jadi ini suatu contoh bagaimana kalau orang rajin mencari
informasi itu bisa ketemu. Jadi orang-orang tua, baik dari pihak yang menang,
maupun dari pihak yang kalah, juga bisa diusahakan. Orang-orang yang mengunjungi
tapol-tapol dalam penjara pada waktu itu mungkin mereka bikin catatan dan
sebagainya, itu belum ditelusuri."

"Saya masih ingat, sangat kebetulan pada waktu, mungkin tahun 1972, saya
membeli suatu bungkusan, apa saya nggak tahu di jalan Surabaya di Jakarta. Itu
memang daerah loak. Dan saya heran karena bungkusan itu, ternyata itu dokumen-
dokumen intel Jawa Timur, yang setelah itu saya terjemahkan dan memang sudah
diterbitkan di majalah Indonesia. Ini semacam mata-mata dari Jakarta yang putar-
putar di Jawa Timur, untuk lapor tentang apa yang terjadi di Jawa Timur pada waktu
itu." "Dia cerita tentang perselisihan antara perwira-perwira tinggi di situ. Dia melihat
bahwa pembersihan yang jalan sangat baik di Jombang, kok ada masalah
umpamanya di Jember dan sebagainya. Banyak orang dibunuh di situ, tapi kok
sayang di daerah Bojonegoro tidak ada, dan kemungkinan sebab-sebabnya begini
begini. Kan bagaimanapun pemerintah itu suatu birokrasi yang selalu tulis menulis,
selalu ada laporan, selalu ada ini ini." "Dan saya yakin ada gudang yang penuh
dengan segala macam dokumen, yang orang sekarang, malah tidak tahu ada apa di
situ. Memang pada waktu reformasi lagi bergejolak, salah satu harapan tersembunyi
dalam hati saya adalah bahwa anak-anak muda yang pergi rame-rame akan
membongkar gudang-gudang ini dari tangan tentara dan tangan pemerintah. Seperti
yang terjadi pada tahun 1965, di mana Deplu dibongkar, waktu itu banyak dokumen-
dokumen dari zamannya Soebandrio, kan masuk gelanggang umum."

Demikian bagian pertama wawancara Profesor Benedict Anderson dari Cornell


University.

Letkol Heru Bantah Dalangi


G30S/PKI
SOLO - Satu lagi saksi Gerakan 30 September 1965 atau yang sering disebut
G30S/PKI angkat bicara. Letkol Pnb (Purn) Heru Atmodjo, asisten Direktur Intelijen
Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), membantah tudingan yang menyebut
dirinya dalang gerakan tersebut.

Setidaknya dia membantah tulisan-tulisan Dr Coen Holtzappel, guru besar Universitas


Leiden yang datang ke Indonesia pada 1966 untuk mengikuti sidang-sidang
Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) atas perkara Letkol Untung dan Njono,
Sekretaris CDB PKI Jakarta Raya saat Gestok berlangsung. Celakanya, tulisan-tulisan
itu justru dijadikan salah satu acuan dalam penyebaran sejarah di Indonesia.
Pada forum bedah buku Gerakan 30 September 1965, Kesaksian Letkol Pnb Heru
Atmodjo yang digelar di Hotel Agas Solo, kemarin, purnawirawan perwira menengah
itu menegaskan, buku-buku sejarah tentang G30S/PKI yang diajarkan tidak utuh
dalam menggambarkan fakta.''G30S/PKI dipotong hanya pada kejadian itu sendiri.
Saya tak percaya bahwa gambaran yang sesungguhnya dapat dimunculkan. Teman-
teman saya ajak mempelajari apa yang terjadi sejak Proklamasi (17 Agustus 1945)
dibacakan Bung Karno hingga sekarang,'' tegas dia pada forum yang diadakan LSM
Yaphi dan People's Empowerment Consortium (PEC) itu.

Mantan penerbang yang dibebaskan pada 31 Agustus 1980 setelah 15 tahun


meringkuk di penjara dengan tudingan terlibat G30S/PKI itu menuding, berbagai buku
putih dan film yang bermateri kejadian tersebut mengandung banyak kebohongan.

Berbagai bantahan dan tepisan itu dia luapkan dalam bukunya yang diterbitkan PEC
Jakarta dengan cetakan pertama Oktober 2004. Pada buku itu, Heru menuliskan, apa
yang diketahui dan dijalaninya jam per jam pada 30 September dan 1 Oktober 1965
hingga hari-hari berikutnya termasuk perintah dan orang-orang yang dia temui pada
waktu itu.

Salah seorang editor bukunya, Harsono Sutedjo (editor lainnya Garda Sembiring),
pada forum itu juga menandaskan, sekarang sejarah hanya merupakan konsep dan
bukan hanya berdasarkan fakta. Menurut penilaiannya, banyak tudingan yang
menyebutkan bahwa yang bergerak pada peristiwa G30S adalah PKI tanpa ada yang
menyebut kemungkinan-kemungkinan lain.

Serial G30S ( 17 - 17 )
G30S DIRANCANG UNTUK GAGAL
Oleh : Harsutejo

Meletusnya peristiwa G30S dan seluruh tragedi 1965 [dan 1966] merupakan salah
satu ujung perang dingin antara dua kubu kekuatan di dunia, baik kubu kapitalis
versus komunis maupun kubu revisionis versus dogmatis ekstrim kiri [berdasarkan
istilah para pihak] dan kubu imperialis versus gerakan kemerdekaan yang ikut
menyeret Indonesia ke dalam pusarannya. Menurut rumusan Bung Karno (BK)
pertentangan dua kubu antara oldefos melawan nefos. Hanya dengan memahami
situasi ini semua maka kita dapat mengerti tragedi 1965 beserta seluruh akibatnya,
sebagai bagian suksesnya kubu anti-Sukarno di dalam negeri [yang dipandegani
sejumlah jenderal AD] dan luar negeri [yang dibenggoli Amerika Serikat] untuk
menjatuhkan Presiden Sukarno.
Kekuatan dalam dan luar negeri anti-komunis dan anti-Sukarno memiliki kepentingan
yang sama untuk menghancurkan PKI yang perkembangannya ketika itu menakutkan
musuh-musuhnya, serta menggulingkan Presiden Sukarno sekaligus. Pertentangan
internal Indonesia antara kekuatan kaum kanan [yang didukung oleh kaum militer
kanan, khususnya AD] melawan kaum kiri dengan PKI sebagai kekuatan pokoknya
[tentunya juga dengan dukungan tersembunyi kaum militer kiri].

Pertentangan politik yang terus memanas sepanjang 1960-an sebelum 1 Oktober


1965 ditandai dengan berbagai peristiwa yang menelan korban di Jawa Timur, Jawa
Tengah, Sumatra Utara dsb. dalam skala kecil. Pertentangan yang memanas itu
ditandai juga adanya sejumlah teror terhadap pimpinan dan organisasi kiri,
kampanye pengganyangan setan kota dan desa, kabir, masalah Manikebu dan BPS,
aksi sepihak untuk melaksanakan undang-undang yang telah disetujui DPR berupa
UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria) dan UUPBH (Undang-Undang Pokok Bagi Hasil)
yang menguntungkan petani penggarap dan buruh tani yang jumlahnya berjuta-juta.

Situasi politik memang panas, akan tetapi tidak ada situasi yang menjurus apa yang
disebut sebagai keadaan "membunuh atau dibunuh." Ini sama sekali tidak ada dan
tidak ada buktinya, apalagi situasi yang kadang disebut menuju "perang saudara,"
suatu sebutan yang mengada-ada. Situasi panas itu dengan arus pokok yang
menguntungkan kubu pendukung Presiden Sukarno serta kaum kiri, PKI khususnya.
Setelah dihancurkannya PKI dan kekuatan kiri yang lain serta digulingkannya
Presiden Sukarno, maka hasilnya Indonesia jatuh ke tangan kekuasaan diktator
militer di bawah Jenderal Suharto, menjadi negeri tergadai yang tunduk dan
tergantung pada kapital global sebagai bagian dari neokolonialisme dengan
dukungan senjata dan hukum sampai saat ini.

Tinjauan dan Kegagalan G30S

Dalam sejumlah pertemuan sebelum 1 Oktober 1965 yang dihadiri oleh mereka yang
oleh pimpinan PKI dinamai Perwira Progresif terdiri dari Kolonel Inf Latief, Letkol Inf
Untung, Mayor Udara Suyono, Mayor Inf Agus Sigit, Kapten Art Wahyudi, dihadiri
sejumlah orang sipil yakni Syam, Pono dan Bono dari Biro Chusus (BC) PKI. Dengan
kehadiran pimpinan BC PKI, apakah ini berarti konsep G30S berasal dari mereka?
Bagaimana sebenarnya hubungan orang-orang militer ini dengan BC?

Apa sekedar karena sama-sama alat revolusi sesuai dengan ajaran Bung Karno (BK)
dan pendukung BK? Atau suatu komplotan? Hubungan ini diungkapkan dalam buku
putih Orba sebagai komplotan PKI. Jika G30S merupakan komplotan PKI, apa sebab
massa PKI yang amat besar, yang berjuta-juta itu sama sekali tidak dikerahkan atau
dipersiapkan, bahkan mereka tidak tahu-menahu, termasuk banyak pimpinan PKI
yang tersebar di seluruh Indonesia tidak tahu dengan tepat? Msih banyak pertanyaan
lain yang jawabnya tidak begitu jelas dan tidak memuaskan yang selalu
menimbulkan pertanyaan baru.

Dalam salah satu pertemuan (ke 5 pada 17 September 1965) anak buah Latief,
Mayor Inf Agus Sigit, Dan Yon 203, mendebat arahan Syam tentang rencana operasi
penangkapan para jenderal yang dipandangnya tidak profesional. Usulan dia tentang
penutupan jalan masuk ke Jakarta dari arah Bogor, Tangerang dan Bekasi pada saat
gerakan, ditolak sebagai kekiri-kirian. Ia menyampaikan pertanyaan tajam, apa sebab
Presiden tidak memerintahkan segera menangkap Dewan Djenderal (DD, ejaan
lama)? Apa tidak mampu? Apa sebab orang-orang dalam pertemuan itu yang harus
menangkapnya? Karena Mayor Inf Agus Sigit, anak buah Kolonel Inf Latief, tidak
setuju dengan sejumlah masalah penting yang dibicarakan dalam rapat 17
September 1965, ia tidak lagi mengikuti pertemuan-pertemuan berikutnya, bahkan
kemudian pada 1 Oktober 1965 pasukannya tidak muncul. Masalah-masalah penting
yang dikemukakan dan dipertanyakan Agus Sigit rupanya tidak mendapatkan
perhatian semestinya dari yang lain. Kemudian terbukti hal-hal itu menjadi sebagian
kelemahan mendasar gerakan.

Berbagai macam persiapan (misalnya gerakan dipimpin Letkol Untung yang baru lima
bulan berada di pasukan Cakrabirawa/Jakarta, pasukan yang mengambil bagian
dalam gerakan tidak jelas atau terlalu sedikit tidak seperti yang dilaporkan, logistik
tidak memadai, atau bahkan tidak ada), dokumen-dokumen G30S saling
bertentangaqn satu sama lain, tidak menyebut kedudukan BK. Dekrit No.1
menyebutkan, "Dengan jatuhnya segenap kekuasaan Negara ke tangan Dewan
Revolusi Indonesia, maka Kabinet Dwikora dengan sendirinya berstatus demisioner";
dalam Keputusan No.2 disebut, "Berhubung segenap kekuasaan dalam Negara RI
pada 30 September 1965 diambilalih oleh Gerakan 30 September..." lalu ada
penurunan pangkat.

Selanjutnya pasukan G30S membunuh tiga orang jenderal di tempat, membunuh


sisanya di Pondokgede/Lubang Buaya, bertentangan dengan pemahaman perintah
Letkol Untung. Sebelum 1 Oktober Latief setidaknya menemui Jenderal Suharto dua
kali. Siapa yang menugaskan dirinya? Syam bersaksi ia yang berada di tempat agak
jauh di tempat yang sama. Latief sebagai Dan Brigif I Kodam Jaya membawahi tiga
batalion tetapi yang ikut bergerak bersamanya cuma dua peleton Detasemen Kompi
Markas.

Nama Latief tidak tercantum dalam daftar Komando Gerakan, tetapi "hanya" sebagai
anggota Dewan Revolusi, sedang dari segi pangkat dia nomor dua setelah Brigjen
Suparjo. Dapat ditambahkan bahwa Brigjen Suparjo tidak pernah ikut rapat-rapat
persiapan, mungkin sekali ia hanya menerima informasi bahwa segala sesuatunya
beres, sebagaimana tercantum dalam "dokumen Suparjo."

Jika Suharto bukan dari bagian komplotan, maka Latief yang telah menemuinya
sampai dua kali dan menyampaikan tentang gerakan yang sedang diikutinya
merupakan pembocoran rahasia gerakan sebagai yang dituduhkan sementara orang.
bahkan ada juga yang menuduhnya ia berkhianat terhadap gerakan, padahal
kepergiannya setahu Letkol Untung dan Brigjen Suparjo.

Latief mempuyai hubungan dekat dengan bekas atasannya, tentunya sedikit banyak
ia tahu tentang pandangan politik Suharto. Apalagi justru Jenderal Suharto yang
memanggil dan menginspeksi pasukan Yon 530 Brawijaya dan Yon 434 Diponegoro
yang dianggap terlibat G30S.

Setidaknya menurut Syam pasukan itu mendukung gerakan meskipun kita tidak
dapat melihat di mana letak dukungannya itu, kecuali sebagian pasukan Yon 434
Diponegoro yang hendak mengundurkan diri ke PAU Halim dan yang ditolak oleh
pihak AU, lalu berada di pinggiran Halim. Mereka ini yang terlibat kontak senjata
dengan pasukan RPKAD.

Pada pagi setelah jam 08.30 1 Oktober 1965 Letkol Pnb Heru Atmodjo sesuai dengan
tugasnya mengantarkan Brigjen Suparjo yang baru saja bertemu Men/Pangau Omar
Dani ke rumah Sersan Anis Suyatno di kompleks perumahan bintara di Halim. Di sana
Heru Atmodjo melihat kembali beberapa orang yang pagi itu diperkenalkan
kepadanya di gedung Penas, Kolonel Latief, Letkol Untung dan dua orang sipil
bersama Mayor Suyono. Di belakang hari diketahuinya kedua orang sipil itu bernama
Syam Kamaruzaman dan Pono. Sebagai seorang tentara yang memiliki pengalaman
memimpin operasi militer, ia tidak melihat adanya sekelompok pimpinan yang
sedang memimpin operasi. Apalagi operasi yang dilakukan [seperti dikatakan oleh
Mayor Udara Suyono setingkat divisi, tentunya ada staf pemikir dan pembantu bagi
komandan atau panglima pasukan. Karena ia melihat sendiri gerakan itu dari dekat,
maka "gerakan ini seperti dirancang sedemikian rupa untuk menemui kegagalannya"
Demikian tulis Heru Atmodjo. G30S tidak mempunyai rencana alternatif, tetapi hanya
ada satu rencana, itu merupakan permulaan kegagalan dari kacamata militer
maupun politik seperti ditulis Jenderal Nasution.

Pada sore hari 1 Oktober 1965 dari Halim Presiden Sukarno mengeluarkan perintah
dihentikannya tembak-menembak di antara seluruh pasukan serta ajakan menunggu
penyelesaian politik oleh Presiden. Perintah tersebut oleh pasukan RPKAD tidak boleh
disiarkan lewat RRI Jakarta. Ini merupakan permulaan pemberangusan terhadap
Presiden Sukarno yang dilakukan oleh kekuasaan Jenderal Suharto. Sejak jam 19.00 1
Oktober 1965 RRI terus-menerus menyiarkan pernyataan Jenderal Suharto. Kini
bukan saja pasukan Suharto menguasai lapangan, tetapi juga bidang komunikasi.
Sabotase ini berlanjut sampai dijatuhkannya Presiden Sukarno.

Sebagai diulas oleh Letkol Pnb Heru Atmodjo, jika G30S itu suatu gerakan militer
yang serius, seharusnya dipimpin seorang jenderal seperti Brigjen Suparjo yang
secara intelektual maupun pengalaman lapangan memadai. Tetapi justru dia tidak
pernah dilibatkan dalam rapat persiapan. Dalam buku Jenderal Nasution (1988), apa
yang biasa disebut "dokumen Suparjo," suatu dokumen yang dipercaya sebagai
ditulis oleh Brigjen Suparjo setelah gagalnya G30S, telah diulas secara singkat,
antara lain sbb: (1) Tidak ada diskusi maupun rancangan Syam dkk menghadapi
kegagalan gerakan, semuanya beres, pasti menang; (2) Setelah gagal, mereka
bingung, tidak ada perintah jelas, pimpinan operasi tidak menarik kesimpulan apa
pun; (3) Pasukan tidak mendapat makanan, bahkan ada yang minta ke Kostrad.
Pasukan meninggalkan RRI tanpa ada instruksi; (4) Rapat memutuskan
menghentikan gerakan, masing-masing bubar, pulang, sambil menunggu situasi.

Peran Intelijen, Amerika Pura-Pura Kaget

Perang dingin yang di Indonesia berpuncak pada tragedi 1965 tidak dapat dilepaskan
dari peranan barisan dinas intelijen dalam dan luar negeri dengan operasi
intelijennya yang saling bekerjasama, menusuk, menjegal, menipu, menyesatkan dan
memerangi. Jika BC PKI setidaknya sebagian tugasnya menyerupai dinas intelijen,
mereka ini jauh lebih asor dibandingkan dengan yang dimiliki AD misalnya. Syam
Kamaruzaman biasanya disebut sebagai agen ganda, dari kesaksiannya di Mahmillub
kita ketahui dengan cekatan ia sepenuhnya mengabdi pada militer di bawah Jenderal
Suharto. Seorang spion AD bernama Sriharto Harjomiguno yang sudah bertahun-
tahun berada di tubuh PKI, dalam jangka tertentu menjadi pengawal DN Aidit selama
di Jawa Tengah sesudah 2 Oktober 1965 tanpa bisa diendus. Belum lagi kita bicara
tentang kecanggihan CIA atau dan KGB.

CIA dan moyangnya telah malang melintang di Indonesia sejak permulaan


kemerdekaan, salah satu puncaknya di masa pemberontakan PRRI dan Permesta.
Dalam bulan Desember 1964, seorang Duta Besar Pakistan di Eropa menulis laporan
kepada Menteri Luar Negeri Zulfikar Ali Bhutto antara lain berisi percakapannya
dengan seorang perwira intelijen Nato. Sejumlah dinas intelijen Barat sedang
menyusun suatu skenario akan terjadinya suatu kudeta militer yang terlalu dini yang
dirancang untuk gagal. Dengan itu akan terbuka kesempatan legal yang ditunggu-
tunggu bagi AD untuk menghancurkan kaum komunis dan menjadikan Sukarno
sebagai tawanan AD. Demikian diungkapkan oleh penelitian Neville Maxwell. Dalam
memorandum rahasia Washington 23 Februari 1965 dibicarakan tentang dukungan
terhadap elemen anti-komunis menghadapi PKI dan politik Sukarno dengan selebaran
dan siaran radio gelap, kalau perlu menggunakan ajaran Sukarno. Dalam telegram
rahasia Dubes Jones 24 Mei 1965 dibicarakan tentang rancangan kudeta yang
terpaksa diundur. Dubes AS ini menyebutkan tentang adanya "hubungan pribadi
dengan salah satu pemimpin kelompok kudeta yang mewakili elemen sipil dan militer
penting." Setelah kudeta [di radio] oleh G30S pada 1 Oktober 1965, Dubes Marshall
Green yang menggantikan Jones menyatakan dengan "bijaksana,"...... "bahwa sikap
yang paling bijaksana [pihak AS] ialah mengakui kup itu benar-benar mengagetkan
kami [AS]..... " Pendeknya pemerintah AS dan CIA yang sudah tahu jauh-jauh hari
serta ikut merancangnya itu pura-pura kaget dan tidak tahu apa yang harus
diperbuat..... Tipuan sederhana inilah yang dipercaya sebagian sejarawan dan
pengulas sejarah G30S meski sudah dibuat jelas oleh mantan Dubes AS Marshall
Green sebagai tipuan. Kudeta di radio itu kemudian segera diikuti oleh kudeta
sebenarnya Jenderal Suharto.

Setelah kegagalan G30S dan PKI mendapat hantaman palu godam Jenderal Suharto
cs, selapisan pimpinan PKI [di antaranya Sudisman yang mengaku terlibat]
mengadakan kritik otokritik pada 1965/1966 [yang terkenal dengan sebutan KOK].
Sudisman menghubungkan kegagalan G30S tersebut dengan kelemahan dan
kesalahan PKI di bidang ideologi, politik dan organisasi sejak 1950-an. Tak pelak para
penyusunnya ikut ambil bagian dan bertanggungjawab terhadap kesalahan tersebut,
hal ini didasarkan pada kenyataan tidak adanya oposisi mendasar yang berarti
sebelum tragedi 1965 terhadap pimpinan kolektif PKI.

Apa pun yang terjadi, dari berbagai kelemahan dan kesalahan mendasar G30S yang
merugikan dan bahkan menyabot diri sendiri, maka hanya ada satu kesimpulan
bahwa G30S memang dirancang untuk gagal sebagai tangga panjatan sang dalang
sebenarnya.

Serial G30S ( 16 - 17 )
SEKITAR G30S, SUHARTO, PKI DAN TNI-AD DEWAN REVOLUSI DAN KUDETA
DI RADIO
Oleh : Harsutejo

Menyerimpung Politik PKI

Dalam pengakuannya di depan Mahmillub pada 1967-1968, Ketua BC PKI Syam


menyatakan seluruh perbuatannya sebagai pelaksanaan instruksi Ketua PKI Aidit
termasuk pengumuman dan dekrit yang disampaikan lewat RRI Jakarta menurut
pengakuannya disusun oleh Aidit. Segala pengakuan Syam tentang G30S boleh
dibilang tidak dapat diperiksa dan dirujuk kebenarannya. Dokumen G30S yang
diumumkan pada 1 Oktober 1965 yang terdiri dari pengumuman Letkol Untung,
Dekrit No.1, Keputusan No.1 dan Keputusan No.2, rendah mutu politiknya. Dalam
pengumuman pertama bernada emosional. Sulit dipercaya dokumen semacam itu
disusun oleh seorang Aidit, seorang pemimpin politik yang telah malang melintang
secara nasional dan internasional, pemimpin komunis kaliber dunia.

Dalam pengumuman yang dibacakan di RRI Jakarta pada 1 Oktober 1965 jam 07.00
pagi a.l. disebutkan, “Presiden Sukarno selamat dalam lindungan Gerakan 30
September. Juga sejumlah tokoh-tokoh masyarakat lainnya yang menjadi sasaran
tindakan Dewan Jenderal berada dalam lindungan Gerakan 30 September.”
Pernyataan ini tidak benar karena keberadaan Presiden Sukarno di PAU Halim
merupakan kehendak beliau sendiri berdasarkan prosedur baku penyelamatan.
Rombongan presiden ini berada dalam lindungan lingkungan PAU Halim, sedang
pasukan G30S berada di luarnya, ketika hendak masuk ke wilayah PAU Halim mereka
diusir oleh pasukan penjaga pangkalan. Memang Brigjen Suparjo, salah seorang
pemimpin G30S menemui BK di Halim. Dari Halim Presiden Sukarno memanggil
sejumlah petinggi negara untuk menemuinya.

Selanjutnya dokumen itu bertentangan dengan politik front nasional yang mati-
matian diperjuangkan oleh pimpinan PKI. Terlebih lagi dokumen itu menafikan
persekutuan PKI dengan Presiden Sukarno. Dalam Dekrit No.1 antara lain disebut,
“Dewan Revolusi Indonesia menjadi sumber daripada segala kekuasaan dalam
Negara Republik Indonesia,” selanjutnya, “Dengan jatuhnya kekuasaan negara ke
tangan Dewan Revolusi Indonesia, maka Kabinet Dwikora dengan sendirinya
berstatus demisioner.” Ini berarti kudeta terhadap kekuasaan Presiden Sukarno,
meski dalam kenyataannya hanya di atas kertas dan tidak pernah mewujud. Apa
mungkin Aidit mengubah dasar politik PKI dalam semalam pada saat BK masih segar
bugar? Pendeknya dokumen-dokumen tersebut menyerimpung politik PKI ketika itu,
sesuatu yang mokal jika disusun oleh seorang Ketua PKI DN Aidit.

Kekanak-kanakan dan Mencari Musuh

Dalam pengumuman Letkol Untung tentang gerakan termuat retorika emosional.


“Jenderal-jenderal dan perwira-perwira yang gila kuasa, yang menelantarkan nasib
anak buah, yang di atas tumpukan penderitaan anak buah hidup bermewah-mewah
dan berfoya-foya menghina kaum wanita dan menghambur-hamburkan uang negara
harus ditendang keluar dari Angkatan Darat dan diberi hukuman setimpal....”

Kegiatan Dewan Revolusi (DR) sehari-hari disebutkan diwakili oleh Presidium Dewan
yang terdiri dari komandan dan wakil-wakil Gerakan 30 September (G30S), yang
semuanya dari kalangan ABRI (termasuk polisi) yakni Letkol Untung (Komandan),

Brigjen Suparjo (Wakil Komandan), Letkol Udara Heru (Wakil Komandan), Kol Laut
Sunardi (Wakil Komandan), Ajun Komisaris Besar Polisi Anwas (Wakil Komandan).
Dengan kata lain pemerintah harian dipegang oleh militer alias pemerintah militer.
Lima orang ini sekaligus menjadi Ketua dan Wakil ketua DR yang seluruh anggotanya
terdiri dari 45 orang (termasuk ketua dan wakilnya), dengan 23 orang dari kalangan
ABRI, 2 orang pemimpin PKI eselon dua atau tiga. Apa pun susunannya, dewan ini
tidak pernah eksis dalam sejarah Indonesia.

Dalam keputusan No.2 disebutkan, “... segenap kekuasaan dalam negara Republik
Indonesia.... diambil alih oleh Gerakan 30 September....” Dokumen ini masih berlanjut
“....Gerakan 30 September yang Komandannya adalah perwira dengan pangkat
Letnan Kolonel, maka dengan ini dinyatakan tidak berlaku lagi pangkat dalam
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang di atas Letnan Kolonel atau
setingkat....” Pendeknya dokumen ini selain sekali lagi menegaskan penyingkiran
Presiden Sukarno, sementara dalam pengumuman pertama disebutkan tentang
penyelamatan Presiden Sukarno, secara kekanak-kanakan tidak mengakui pangkat
setara atau di atas sang komandan Letkol Untung. Bukan saja kekanak-kanakan,
tetapi juga mencari musuh lebih banyak lagi alias memperlebar front musuh.

Dokumen DARIPADA

Dua dokumen penting yang disiarkan oleh RRI Jakarta pada Oktober1965 yang
mungkin selama ini kurang mendapat perhatian dari segi bahasanya. Yang pertama
dokumen pengumuman G30S tentang penurunan dan penaikan pangkat yang
disiarkan RRI pada siang hari 1 Oktober 1965. Dokumen kedua pidato Mayjen Suharto
di Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965 yang malamnya disiarkan oleh RRI.

Dokumen pertama dari G30S pada butir kedua berbunyi sbb, “Karena Gerakan 30
September pada dasarnya adalah gerakan DARIPADA Prajurit bawahan, terutama
DARIPADA Tamtama dan Bintara, maka dengan ini dinyatakan, bahwa semua
Tamtama dan Bintara dari semua Angkatan Bersenjata RI yang mendukung Gerakan
30 September dinaikkan satu tingkat lebih tinggi DARIPADA sebelum tanggal 30
September 1965”. Sedangkan dokumen kedua pidato Mayjen Suharto pada bagian
akhir kalimat alinea kedua dan kalimat pertama alinea ketiga berbunyi sbb, “…. tidak
mungkin tidak ada hubungan dengan peristiwa ini DARIPADA oknum-oknum
DARIPADA anggota AURI. Oleh sebab itu saya sebagai warga DARIPADA anggota AD
mengetok jiwa perasaan DARIPADA patriot anggota AU bilamana benar-benar ada
oknum-oknum yang terlibat dengan pembunuhan yang kejam DARIPADA para
Jenderal kita yang tidak berdosa ini saya mengharapkan agar supaya para patriot
anggota AU membersihkan juga DARIPADA anggota-anggota AU yang terlibat”.

Meninjau kedua dokumen tersebut haruslah dalam konteks jamannya, gaya bahasa
dengan penggunaan kata DARIPADA semacam itu tidaklah lazim di masa itu. Hal ini
amat berbeda dengan gaya bahasa selama lebih dari 30 tahun Orba yang begitu
dominan, bahkan sampai saat ini sering masih kita temukan keluar dari mulut
‘daripada’ para pemimpin dan ‘daripada’ birokrat di depan publik, juga mereka yang
bicara di televisi. Kita semua mengenal gaya bahasa itu mula-mula milik Suharto,
selalu dipeliharanya tanpa putus sepanjang kekuasaan dan sesudahnya. Dalam
pidato pendek pengalihan kekuasaannya kepada BJ Habibie, Jenderal Besar Suharto
telah menggunakan berpuluh ‘daripada’. Rupanya Suharto memang ‘daripada’
kampiun dan pencinta ‘daripada’ yang tiada bandingnya.

Dalam dokumen pertama dalam satu kalimat terdapat 3 (tiga) ‘daripada’, sedang
pada dokumen kedua dalam dua kalimat terdapat 6 (enam) ‘daripada’. Dari situ
dapat dibuat beberapa kesimpulan sementara, Letkol Untung, Komandan G30S [atau
katakan DN Aidit] mempunyai gaya bahasa yang sama dengan Mayjen Suharto,
Panglima Kostrad yang baru saja melumpuhkan G30S. Atau dokumen-dokumen
tersebut mempunyai pabrik tunggal?

Menurut pengakuan Letkol Untung kepada Letkol Heru Atmodjo, mantan Perwira
Intelijen AURI selama di penjara, ia tidak tahu menahu dokumen tersebut di atas.
Sedang dokumen sebelumnya tentang pengumuman G30S yang disiarkan RRI pada 1
Oktober 1965 setelah warta berita jam 7.00 pagi disodorkan oleh Syam
Kamaruzaman kepadanya untuk ditandatangani.
Serial G30S ( 15 - 17 )
DN AIDIT, PKI DAN G30S
Oleh : Harsutejo

Pemimpin Muda yang Enerjetik

Sudah sejak muda, sejak jaman penjajahan Belanda, Aidit dalam umur belasan tahun
telah ikut serta dalam gerakan melawan penjajahan dalam berbagai bentuknya.
Sudah sejak muda pula ia gemar membaca dan tertarik pada marxisme. Di masa
revolusi fisik ada sebutan populer di kalangan kaum kiri, "mabuk marxisme" dalam
artian positif, giat belajar teori dengan membaca, berdiskusi dan berdebat serta
kursus-kursus politik sejak masa pendudukan Jepang, serta menerapkannya dalam
praktek perjuangan. Selanjutnya juga menuliskan berbagai gagasannya.

Di Menteng 31 bersama banyak pemuda yang lain ia digembleng para pemimpin


nasional. Sejumlah pemuda di antara mereka itu di kemudian hari menjadi tokoh
komunis, di samping DN Aidit, di antaranya Wikana (salah seorang tokoh pemuda
yang berperan penting dalam "penculikan" Bung Karno dan Bung Hatta pada 15
Agustus 1945), MH Lukman, Sidik Kertapati dsb. Jadi tidak benar jika sejarawan Prof
Dr Brigjen Nugroho Notosusanto menyatakan kaum komunis tidak punya peran
dalam Proklamasi 17 Agustus 1945, ini bagian dari pemalsuan sejarah. Pada usia 38
tahun pada 1951 Aidit menjadi pemimpin tertinggi PKI bersama MH Lukman dan
Nyoto. Pada 1952, setahun setelah kepemimpinannya, anggota PKI terdiri dari 8.000
orang. Tetapi pada 1964 mereka telah menghimpun jutaan anggota. Dalam pemilu
demokratis pertama pada 1955 PKI keluar sebagai partai terbesar keempat, dalam
pemilu di Jawa pada 1957 PKI meningkat sebagai partai terbesar pertama. Ini
sungguh suatu prestasi luar biasa yang dicapai para pemimpin PKI muda usia. Oleh
karenanya pihak pimpinan AD tidak menyukai pemilu semacam itu. Sebelum tragedi
1965 PKI mengklaim memiliki 3 juta anggota dengan 20 juta pengikut dan
simpatisan, di antaranya terhimpun dalam organisasi massa.

PKI menjadi partai komunis terbesar di luar kubu sosialis. Dengan demikian Aidit
menjadi tokoh komunis internasional yang suaranya tidak dapat diabaikan oleh
kawan maupun lawan. Namanya berkibar dalam iklim perang dingin antara blok
kapitalis dengan blok komunis, perang ideologi antara komunis "murni" dan komunis
"revisionis", persaingan dan perkelahian antara blok Partai Komunis Uni Soviet (PKUS)
dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT). Dalam perselisihan ideologi ini PKI di bawah
pimpinan Aidit cs berusaha bersikap netral secara politik.

Sebagai partai massa PKI memiliki disiplin tinggi, keanggotaannya diatur secara
berjenjang yang dimulai dengan calon anggota sebelum seseorang diterima sebagai
anggota penuh yang didampingi seorang pembina. Hal itu di antaranya didasarkan
pada ideologi seseorang serta pengalaman perjuangan dan kontribusinya terhadap
Partai. Dengan kriteria semacam itulah seseorang dapat menduduki kepengurusan
Partai maupun jabatan dalam pemerintahan setelah kemenangan pemilu. Untuk hal-
hal penting semacam di atas, butir kredit buat pemimpin kolektif tertinggi PKI,
utamanya pada tokoh Aidit. Pemimpin muda ini sangat dinamis, berani, bergerak
cepat, dengan daya tahan fisik dan mental luar biasa, bisa jadi sejumlah kawannya
terkadang tertinggal dengan geraknya. Di samping itu ia pun tak lupa menekankan
akan pentingnya kesabaran revolusioner dalam perjuangan jangka panjang.

Teori Kudeta, Retorika Revolusi

Aidit berada dalam rombongan delegasi Indonesa keluar negeri dalam rangka KAA di
Aljazair yang gagal pada akhir Juni 1965, karena kudeta Kolonel Boumedienne
terhadap Presiden Ben Bella yang baru saja terjadi. Delegasi melanjutkan perjalanan
ke Paris,. di kota ini Aidit bertemu dengan enam orang kameradnya pelarian dari
Aljazair. Ia menganjurkan mereka kembali ke negerinya untuk mendukung Kolonel
Boumedienne. Kudeta itu disebutnya sebagai kudeta progresif. Jika kudeta itu
didukung oleh paling tidak 30% rakyat maka hal itu dapat diubah menjadi revolusi
rakyat. Demikian kata Aidit sebelum bertolak ke Moskow.

Barangkali ia pun mengambil model Revolusi Oktober 1917 yang digerakkan Lenin
dan Trotsky berupa pengambilalihan kekuasaan dengan kekuatan militer. Sekalipun
demikian banyak pihak di kalangan kaum komunis yang tidak setuju dengan teori
baru ini, dikatakan sebagai bertentangan dengan teori marxis. Konon hal ini juga
menjadi perdebatan di Moskow. Perkembangan politik di tanahair yang relatif damai
ketika itu dengan arus pokok berpihak kepada PKI.

Dalam bulan Agustus 1965, koran PKI Harian Rakjat memuat pernyataan Aidit berupa
isyarat yang mengatakan biarlah mangkok, piring, gelas berpecahan untuk
kepentingan revolusi. Pada 9 September 1965, di depan sukwati Deppen Aidit
menyatakan kaum revolusioner bagaikan bidan dari masyarakat baru yang hendak
dilahirkan, sang bayi pasti lahir dan tugas mereka untuk menjaga keselamatannya
dan agar sang bayi cepat menjadi besar. Hal ini disambut dengan pernyataan
petinggi PKI yang lain, Anwar Sanusi, tanahair sedang hamil tua. Sementara itu
serangkaian sidang Politbiro dan Politbiro yang diperluas selama bulan Agustus dan
September 1965 membicarakan tentang sakitnya Presiden Sukarno dan rencana
pukulan dari pihak Dewan Djenderal (DD) ketika BK tak lagi dapat menjaga
keseimbangan politik. Selanjutnya dilaporkan oleh Aidit adanya sejumlah perwira
maju yang hendak mendahului guna mencegah kudeta DD.
Sangat menarik pesan Aidit kepada kedua adiknya, Sobron Aidit dan Asahan Aidit
yang bertemu di Beijing dalam bulan Agustus 1965. "...Dan juga ingat, sementara ini,
mungkin bertahun-tahun ini, jangan dulu memikirkan pulang! ...tanahair dalam
keadaan gawat dan semakin akan gawat...". "...kita ini dalam keadaan ancaman...
dari pihak tentara... Angkatan Darat." Sedang kepada Asahan setelah mengetahui
adiknya baru akan pulang setahun lagi, ia menyatakan sayang karena ia takkan
dapat ikut revolusi. "Revolusi tidak akan menunggumu." Dalam dua catatan dari dua
orang berdasarkan ingatan setelah sekian puluh tahun berlalu itu secara implisit
mengandung persamaan penting yakni disebut akan terjadinya sesuatu yang gawat,
malah yang ke dua disebut sebagai revolusi.

Sementara itu selama bulan September 1965 terjadi juga serangkaian pertemuan
sejumlah perwira militer (Letkol Inf Untung, Kolonel Inf Latief, Mayor Udara Suyono,
Mayor Inf Agus Sigit, Kapten Art Wahyudi) yang juga dihadiri oleh Ketua Biro Chusus
(BC) PKI Syam beserta pembantunya Pono. Gerakan ini berlanjut dengan penculikan
dan pembunuhan 6 orang jenderal AD dan seorang perwira pertama pada dini hari 1
Oktober 1965 oleh gerakan militer yang menamakan dirinya Gerakan 30 September
sesuai dengan apa yang diumumkan oleh RRI Jakarta pada pagi harinya.

Diculik atau Dijemput untuk Memimpin Gerakan?

Dalam salah satu kesaksiannya dr Tanti Aidit, pada 30 September 1965 malam hari
DN Aidit, suaminya, diculik tentara. Murad Aidit yang juga sedang berada di rumah
yang sama tidak memberikan gambaran kecuali "dibawa dengan mobil oleh orang
yang tidak kukenal" bersama ajudannya Kusno. Memori seorang anak berumur 6
tahun, Ilham Aidit, agaknya lebih jernih, "Ibunya membentak dua orang berseragam
militer warna biru di depan rumah" (Tempo 7 Okt.2007:76). Salah seorang yang
menjemputnya ialah Mayor Udara Suyono (dengan seragam AU warna biru) dan
membawa DN Aidit ke lingkungan PAU Halim. Di Halim ia kemudian ditemui oleh
Ketua BC PKI Syam.

Apakah Aidit diculik bersama pengawalnya? Itu mokal, tidak ada adegan kekerasan di
rumahnya di Jl. Pegangsaan, ia pun kemudian "bebas" pergi ke Yogya bersama
pegnawalnya dengan pesawat pada tengah malam 2 Oktober 1965. Apa itu sesuai
dengan kehendak dan rencana dirinya? Ini sulit dijawab karena terbukti segala
rencana dilakukan oleh Ketua BC Syam, ia toh pembantu Ketua PKI Aidit. Apakah dia
tidak mengetahui rencana G30S? Mokal jika dia tidak tahu, bisa saja pengetahuan
dirinya kemudian dimanipulasi oleh Syam. Apalagi jika kita hubungkan dengan teori
Aidit tentang kudeta tersebut di atas, lalu retorika sejumlah petinggi PKI selama
bulan Agustus dan September 1965 serta topik sejumlah sidang Politbiro serta
pesannya kepada kedua adiknya di Beijing. Apakah dia memimpin G30S? Ini tidak
ada buktinya, sebab yang terbukti gerakan ini di lapangan dipimpin oleh Letkol
Untung (yang mungkin sekali sekedar wayang), di baliknya lagi-lagi Ketua BC Syam.
Apa Syam pun bukan sekedar wayang? Dari mana Syam menerima segala instruksi?
Lagi-lagi ini sulit dijawab. Lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Salah satu
saksi kunci, DN Aidit telah dilenyapkan dengan buru-buru atas instruksi Jenderal
Suharto, tentu dengan suatu alasan kuat. Ada kepentingan apa Jenderal Suharto
menghendaki Aidit cepat-cepat dibungkam? Adakah informasi yang dapat
mencelakakan diri Suharto jika Aidit diberi kesempatan bicara di depan pengadilan,
pengadilan sandiwara sekalipun? Saksi kunci yang lain, Jenderal Suharto, telah
melenyapkan banyak hal dan memanipulasi segala sesuatu. Apa yang bisa diharap
dari kesaksiannya? Apa dia masih punya hati nurani untuk bicara yang sebenarnya
terjadi ketika belum "pikun"? Sementara sejumlah pelaku seperti Letkol Untung,
Brigjen Suparjo, Mayor Udara Suyono dieksekusi mati dengan segera maka Syam
yang ditangkap pada 1967, dijatuhi hukuman mati pada 1968, menurut catatan resmi
baru dieksekusi pada 1986.

Dalam pengakuannya di depan Mahmillub pada 1967-1968, Syam menyatakan


seluruh perbuatannya sebagai pelaksanaan instruksi Ketua PKI Aidit termasuk
pengumuman dan dekrit yang disampaikan lewat RRI Jakarta menurut pengakuannya
disusun oleh Aidit. Segala pengakuan Syam tentang G30S boleh dibilang tidak dapat
diperiksa dan dirujuk kebenarannya. Dokumen G30S yang diumumkan pada 1
Oktober 1965 yang terdiri dari pengumuman Letkol Untung, Dekrit No.1, Keputusan
No.1 dan Keputusan No.2, rendah mutu politiknya. Dalam pengumuman pertama
bernada emosional. Sulit dipercaya dokumen semacam itu disusun oleh seorang
Aidit, seorang pemimpin politik yang telah malang melintang secara nasional dan
internasional, pemimpin komunis kaliber dunia. Dokumen itu bertentangan dengan
politik front nasional yang mati-matian diperjuangkan oleh pimpinan PKI. Terlebih lagi
dokumen itu menafikan persekutuannya dengan Presiden Sukarno, kekuasaan
negara diambilalih oleh Dewan Revolusi, kabinet Presiden Sukarno didemisionerkan.

Apa mungkin Aidit mengubah dasar politik PKI dalam semalam pada saat BK masih
segar bugar? Pendeknya dokumen-dokumen tersebut menyerimpung politik PKI
ketika itu.

Pembelaan Sudisman dan KOK

Tidak ada pihak di lingkungan PKI [setidaknya yang pernah saya ketahui], di dalam
maupun di luar negeri yang meragukan kesahihan dokumen Kritik Otokritik (KOK)
Politbiro CC PKI, terlepas di mana dan siapa saja penyusunnya. Sesuai dengan
namanya, dokumen ini disusun oleh Politbiro CC PKI dengan sejumlah anggota yang
pada akhir 1965 masih hidup sebagai buron rezim militer. Dewasa ini masih ada saksi
hidup dalam hal proses penyusunan dokumen ini. Selanjutnya ada dokumen lain
berupa pembelaan yang dibacakan Sudisman di depan Mahmillub pada 21 Juli 1967
yang diberi judul "Uraian Tanggungjawab." Dari tangan Sudisman masih ada satu
dokumen lagi berupa pernyataan politik (yang belum selesai ditulis) sebelum ia
dieksekusi mati beberapa bulan sesudah Oktober 1968. Sejauh ini juga belum ada
pihak yang meragukan kesahihan dokumen yang disusun oleh orang nomor satu PKI
ini setelah dibunuhnya DN Aidit, Nyoto dan MH Lukman [sekali lagi setidaknya yang
pernah saya dengar].

Dalam pembelaannya Sudisman dengan tegas mengakui "Saya pribadi terlibat dalam
G30S yang gagal." Adakah ini berarti Sudisman atau Aidit terlibat langsung pada
operasional gerakan militer G30S, setidaknya memberikan arahan politik? Tidak ada
bukti yang mendukungnya. Di bagian lain Sudisman juga dengan tegas menyatakan
"tokoh-tokoh PKI, [maksudnya pemimpin teras PKI, hs].... terlibat dalam G30S, tetapi
PKI sebagai Partai tidak terlibat...." Mari kita cermati, Sudisman memisahkan antara
pimpinan teras PKI dengan partai bernama PKI, artinya memisahkan pimpinan itu
dengan jutaan anggota dan puluhan juta massa PKI.

Bukankah di sini antara lain letak keblingernya pimpinan PKI, sejak kapan pimpinan
PKI harus dipisahkan dengan Partai-nya, anggota dan massanya, melangkah sendiri
tanpa keterlibatan anggota dan massa pendukung? Ataukah kata-kata Sudisman ini
sekedar upaya terakhir untuk menyelamatkan Partai yang dia ketahui telah
berantakan? Instruksi yang dibawa para utusan dari Jakarta atas petunjuk Aidit,
"dengarkan pengumumam RRI pusat dan sokong Dewan Revolusi [DR]." Dan itulah
yang dilakukan sejumlah massa kiri di Yogyakarta pada 2 Oktober 1965 melakukan
demonstrasi yang kepancal kereta, ketika gerakan di Jakarta telah berhenti sehari
sebelumnya dan situasi sudah berada dalam genggaman Jenderal Suharto. Instruksi
untuk mendukung DR tidak dijalankan di tempat lain.
Sudisman juga menyatakan, "Dalam mengatur gerakan sangat dibutuhkan di
samping keberanian adanya kepandaian revolusioner dalam menentukan waktu yang
tepat dan memimpin gerakan. Faktor-faktor ini tidak dipenuhi oleh G30S sehingga
menyebabkan kegagalannya. Ditambah lagi gerakan itu terpisah sama sekali dari
kebangkitan massa." Dapatkah dikatakan menurut Sudisman secara implisit,
setidaknya secara politik, G30S dipimpin oleh para petinggi PKI yang terpisah dari
massa anggota dan pendukungnya? Selanjutnya Sudisman menghubungkan hal
tersebut dengan kelemahan dan kesalahan PKI di bidang ideologi, politik dan
organisasi sebagaimana dibahas dalam KOK. Ada keterangan menarik, ketika Aidit
baru saja sampai dari Jakarta, ia mengatakan, "Wah celaka, kita ditipu oleh Suharto."
Demikian yang diceritakan oleh seseorang yang pernah bekerja di kantor CC PKI.
Sayang keterangan ini tidak dapat dirujuk silang dengan narasumber lain yang
memadai.

Ketika PKI dan seluruh organisasi massa pendukungnya diobrak-abrik oleh


pasukan militer Jenderal Suharto dengan dukungan massa kanan, maka ada
instruksi dari pimpinan PKI yang tersohor di kalangan anggota bawah, yakni
apa yang disebut "defensif aktif.' Suatu istilah yang tidak dikenal dalam
yargon mereka, instruksi kabur yang membingungkan tanpa keterangan jelas.
Umumnya mereka menafsirkan sebagai "selamatkan diri, jangan melakukan
perlawanan apa pun." Karena tidak ada lagi tempat untuk menyelamatkan diri
dan berlindung maka berbondong-bondonglah orang menyerahkan diri kepada
musuh, sebagian dengan ilusi akan mendapatkan perlindungan. Kenyataan
tiadanya perlawanan sebagai yang digembar-gemborkan pimpinan PKI
semasa damai ini cukup mengejutkan pihak pasukan Suharto dan para aktivis
kanan. Maka tidak aneh jika sejarawan Jacques Leclerc kemudian menyebut
PKI sebagai raksasa berkaki lempung. Tetapi hampir dapat dipastikan Leclerc
akan menulis yang lain jika ia lakukan sebelum tragedi, terlebih apabila ia
menghadiri parade 45 tahun PKI pada 23 Mei 1965.

Bagaimanapun PKI sebuah partai politik, tidak memiliki barisan bersenjata. Di


pihak lain pimpinan PKI mengklaim memiliki pengaruh besar di kalangan
angkatan bersenjata. Dalam kenyataannya pengaruh ini tidak punya peran
dalam memperkecil korban. Sejumlah batalion yang disebut "merah" yang
ditarik dari Kalimantan dalam rangka konfrontasi, kemudian dilucuti dan
dijebloskan ke penjara. Pembersihan di kalangan angkatan bersenjata
dilakukan bertahap dan sangat sistimatis.

Sebagian besar pendukung BK terutama di kalangan angkatan bersenjata


sampai akhir 1965 dan permulaan 1966 berharap BK akan segera
memberikan perintah untuk menindak keras para pembangkang, Jenderal
Suharto cs, sebelum mereka lebih merajalela dan menjerumuskan negeri ini.
Itulah yang juga ditunggu pimpinan PKI untuk waktu tertentu, setidaknya
suatu penyelesaian politik yang tidak kunjung tiba, sampai PKI hancurluluh.
Sebagaimana diuraikan dalam KOK, pimpinan PKI tidak bertindak independen,
tetapi menggantungkan diri pada Presiden Sukarno.

Diukur dari ajaran BK maka apa yang telah dilakukan Jenderal Suharto
sepenuhnya keblinger, kita tak dapat berharap yang lain dari dirinya. Para
pemimpin lain yang memiliki kapasitas untuk melakukan perlawanan terhadap
kegiatan berdarah Jenderal Suharto serta menghentikannya juga telah
keblinger karena praktis membiarkan Suharto bersimaharajalela.
Serial G30S (14 - 17 )
PRESIDEN SUKARNO, G30S, PKI
Oleh : Harsutejo

"Teori" Presiden Sukarno Sebagai Dalang G30S

Bung Karno (BK) yang sejak remaja berjuang untuk kemerdekaan rakyat Indonesia,
pada puncak kekuasaannya sebagai Presiden Republik Indonesia, tiba-tiba dituduh
dan diperlakukan sebagai orang yang hendak melakukan perebutan kekuasaan alias
kudeta, bahkan sebagai pemberontak. Betapa absurdnya! Prof Dr Brigjen Nugroho
Notosusanto menulis, "Pada 1 Oktober 1965 beberapa kelompok pemberontak
berkumpul di Pangkalan Udara Halim. Kelompok Cenko menempati gedung Penas,
Presiden beserta pengikut-pengikutnya menempati rumah Komodor Udara Susanto,
dan kelompok ketiga (yang lebih kecil jumlahnya), yang terdiri dari Ketua PKI Aidit
beserta pembantunya, menempati rumah Sersan Dua Udara Suwardi". Seperti kita
ketahui keberadaan BK di Halim pada 1 Oktober 1965 berdasarkan prosedur baku
penyelamatan Presiden, karena di Halim selalu siap pesawat yang dapat
membawanya ke mana pun pada saat keadaan memerlukan.

Presiden Sukarno dituduh melakukan pemberontakan dan kudeta.

Kudeta itu dilakukan terhadap pemerintahan Presiden Sukarno, untuk menjatuhkan


dirinya dipimpin oleh Presiden Sukarno sendiri. Betapa kacau balaunya jalan pikiran
Pak Profesor yang ahli filsafat sejarah ini, tidak masuk akal dan tidak tahu malu. Tak
aneh jika Pak Profesor ini pula yang berusaha menghapuskan gambar BK dalam foto
bersejarah detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, Jakarta,
seolah BK tak pernah hadir di sana. Doktor sejarah ini telah memperlakukan ilmu
sejarah dan sejarah sebagai milik pribadinya ketika ia ikut kemaruk kekuasaan yang
sedang berkibar, seperti lupa bahwa masih ada pakar sejarah lain di samping dirinya
serta pelajar sejarah di kemudian hari maupun kaum awam yang cukup cerdas
membaca sejarah.

Apa yang dituduhkan oleh sejarawan Orde Baru tersebut dioper dalam analisis
terhadap G30S yang dilakukan oleh Jenderal Nasution (dengan "bijak" Jenderal
Suharto tidak ikut menuduhnya secara terbuka) dalam bukunya Memenuhi Panggilan
Tugas, Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru, 1988. Nasution menggunakan dua hal,
pertama pidato BK di Senayan pada malam hari 30 September 1965 yang mengambil
dunia pewayangan antara lain BK mengutip nasehat tokoh Kresna kepada ksataria
Arjuna bahwa tugas itu tidak menghitung-hitung korban [ia menghubungknnya
dengan G30S yang sedang dipersiapkan]. Lalu disebutkan bahwa BK bergembira ria
malam itu dengan menyanyi-nyanyi dan menari [maksudnya menyongsong
kemenangan G30S].

Selanjutnya ia juga menggunakan kesaksian Kolonel KKO Bambang Wijanarko, salah


seorang pengawal Presiden Sukarno dalam interogasi yang dilakukan oleh Kopkamtib
tentang penerimaan surat oleh BK di Senayan malam itu dari Letkol Untung [yang
notabene sedang mempersiapkan pasukan G30S untuk menculik para jenderal].

Analisis tersebut menjadi dongeng semacam kisah detektif yang dirangkai murahan.
Seluruh rakyat Indonesia, bahkan seluruh dunia, mengenal BK sebagai orator yang
selalu berpidato berapi-api sejak muda dengan mengutip kata-kata bijak banyak
tokoh dunia, juga kisah pewayangan yang sangat disukainya.

Beliau pun menyukai bernyanyi dan menari bergembira ria dalam banyak
kesempatan. Jadi kisah Jenderal Nasution tentang hal itu mengenai BK sama sekali
bukan hal baru. Kisah itu sekedar menggiring pembacanya yang dapat dibodohi dan
ditipu untuk mendapatkan persepsi bahwa BK terlibat G30S, bahkan dalangnya.

Apa yang dikemukakan Jenderal Nasution di atas kemudian dikemas secara lebih
"ilmiah" dan dijadikan "teori" oleh Antonie Dake dalam bukunya In the Spirit of Red
Banteng: Indonesian Communists Between Moscow and Peking, 2002. Lalu diperbarui
dalam bukunya Sukarno File - Berkas-Berkas Sukarno1965-1967, Kronologi Suatu
Keruntuhan, 2005. Bahwa inisiatif G30S untuk mengambil tindakan terhadap
sejumlah jenderal datang dari Presiden Sukarno, selanjutnya Aidit cs menggunakan
kesempatan untuk membonceng. Boleh dibilang "teori" Dake ini semata-mata
didukung oleh bahan interogasi terhadap Bambang Wijanarko. Tanpa mengupas
bagaimana suatu kesaksian dapat dikorek dan disusun oleh penguasa militer yang
memperlakukan mereka bagai nyamuk yang dapat dijentiknya setiap saat tanpa
perlindungan. Mereka yang berpengalaman dengan interogasi model rezim ini
mengetahui benar kesaksian macam apa yang mungkin diberikan oleh Wijanarko
yang dikutip Dake dan dijadikan pilar teorinya. Dake menambahkan kenyataan ketika
1972 ia datang ke Indonesia, ia mendapati pemerintah Suharto memandang Sukarno
tidak tersangkut dalam peristiwa G30S. Dengan begitu kemungkinan kesaksian
Wijanarko direkayasa untuk merugikan Sukarno terbantah meski masih terbuka
kemungkinannya. Agaknya Dake kurang dapat menangkap roh rezim Orba.

Setiap pelajar politik mengetahui, pada saat diperlukan jika para pembantu Suharto
bicara tentang Sukarno, mereka pun hendak merangkul dengan cara "menghibur"
jutaan rakyat yang masih tetap mencintai BK dengan ungkapan Jawa yang digemari
Suharto, mikul dhuwur mendhem jero. Kesaksian Bambang Wijanarko tersebut
dibantah keras oleh Kolonel Pomad Maulwi Saelan, Wadan Cakrabirawa yang malam
itu, 30 September 1965 di Senayan, tidak pernah beranjak dari dekat BK sampai
kembali ke istana, tak ada gerak gerik BK yang lepas dari pengamatan Saelan. Ia
menganggap hal itu sebagai aneh dan direkayasa. Keterangan yang direkayasa ini
mendapat imbalan, Bambang Wijanarko tidak ditahan dan Saelan yang di depan
pemeriksa membantah keras keterangan Bambang Wijanarko ditahan selama lebih
dari 4 tahun. "Teori" di atas selanjutnya dikembangkan oleh Victor M Fic dengan
memasukkan unsur romantik ke dalam bukunya Kudeta 1 Oktober 1965, Sebuah
Studi Tentang Konspirasi yang melibatkan buah diskusi antara Aidit dengan Mao
Dzedong yang juga mirip dengan kisah detektif, yang pernah menghebohkan Jakarta
pada 2005 yang lalu.

Yang Keblinger

Menurut analisis Presiden Sukarno tentang G30S yang sebelumnya juga disebut
dengan Gestok, sebagai yang tercantum dalam pidato pelengkap Nawaksara,
"ditimbulkan oleh 'pertemuannya' tiga sebab, yaitu: a) keblingernya pimpinan PKI, b)
kelihaian subversi Nekolim, c) memang adanya oknum-oknum yang 'tidak benar'".
Menurut sementara orang apa yang dikatakan BK ini sangat merugikan PKI karena
melegitimasi tuduhan Jenderal Suharto dan pendukungnya terhadap PKI sebagai
dalang G30S, dengan demikian memberikan andilnya yang penting dalam
penghancuran PKI termasuk pembantaian massal.

Benarkah begitu?

Kesimpulan ini jauh dari kenyataan yang terjadi. Pidato tersebut disampaikan BK
pada 10 Januari 1967 di Istana Merdeka dan tercantum dalam surat pelengkap pidato
Nawaksara kepada pimpinan MPRS pada tanggal yang sama. Ketika itu PKI sudah
dihancurlumatkan oleh Jenderal Suharto pada 1965-1966, jutaan orang telah
dibantai, ratusan ribu ada dalam penjara dan kamp tahanan di seluruh Indonesia.
Sedang yang masih selamat di luar lari lintang-pukang mencari selamat atau menjadi
buron sambil mencari makan dan tanpa perlindungan dari pihak mana pun kecuali
dari perorangan. Setiap saat mereka yang di luar maupun di tahanan terancam
kawan mereka sendiri yang menjadi cecunguk Orba termasuk sejumlah pimpinan
teras. Penghancuran PKI dan pembunuhan massal itu sudah dalam perencanaan dan
dipersiapkan jauh sebelumnya jika kita cermati dokumen rahasia CIA dan kejadian di
berbagai tempat pada permulaan Oktober 1965 seperti di Sumatra Utara, Banten dan
sejumlah tempat di Jawa Tengah dan Timur.

Seperti kita ketahui gerakan militer G30S di Jakarta hanya berlangsung kurang dari
24 jam setelah dihadapi oleh pasukan RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo
Edhie. Pada 1 Oktober 1965 Presiden Sukarno memerintahkan semua pihak
menghentikan gerakan, pimpinan militer untuk sementara dipegangnya. Hal ini tidak
dihiraukan oleh Jenderal Suharto, karena dia memang bagian dari mereka yang
kemudian disebut BK sebagai 'oknum tidak benar' yang lebih keblinger lagi.

Ia melakukan tindakan militer lebih jauh lagi dengan pembantaian. Sebagian besar
pendukung BK terutama di kalangan angkatan bersenjata sampai akhir 1965 dan
permulaan 1966 berharap sang penyambung lidah rakyat akan segera memberikan
perintah untuk menindak keras para pembangkang, Jenderal Suharto cs, sebelum
sang pembangkang lebih bersimaharajalela dan menjerumuskan negeri ini. Sukarno
tidaklah sebodoh dongengan Jenderal Nasution bahwa beliau melakukan kasak-kusuk
dan avonturisme kekanak-kanakan yang tidak bermutu. Sukarno seorang negarawan
yang terus-menerus mendambakan dan memperjuangkan persatuan rakyat
Indonesia. Negarawan besar itu pada saat-saat terakhir telah mempertaruhkan
kekuasaan dan pribadinya untuk mempertahankan persatuan yang sedang dipoteng-
poteng oleh rezim militer Jenderal Suharto.

Jenderal Suharto justru menggunakan 'celah' pihak BK guna melakukan langkah


selanjutnya untuk menjinakkan BK serta meringkusnya. BK selalu mendambakan
persatuan dan anti kekerasan, dan terus-menerus menjaganya sampai detik terakhir
kekuasaannya, justru memberi peluang kepada Jenderal Suharto untuk melakukan
kekerasan berdarah besar-besaran dan secara sistimatis membasmi sekelompok
rakyat Indonesia yang setia mendukung BK, praktis tanpa perlawanan berarti
bagaikan menyerahkan leher mereka masing-masing untuk digorok. Sampai detik
terakhir BK menolak usulan para pengikutnya terutama dari kalangan Angkatan
Bersenjata untuk melakukan perlawanan terhadap langkah-langkah kekerasan
berdarah Jenderal Suharto. Taktik yang digunakan Jenderal Suharto dalam
pembantaian PKI dan gerakan kiri sebagai kekuatan politik yang tangguh, kemudian
diikuti sasaran berikutnya: Presiden Sukarno, dipuji oleh AS dalam catatan rahasia
dokumen CIA untuk Presiden Johnson setelah suatu pertemuan dengan Dubes Green
tertanggal 23 Februari 1966 sebagai brilian.

Setelah Jatuhnya Presiden Sukarno

Setelah dijatuhkannya BK maka sejarah Indonesia menyimpang dari garis-garis yang


telah diletakkan dan diperjuangakan olehnya sejak muda, Indonesia telah
terjungkirbalik menjadi negara penuh penindasan, menjadi negeri tergantung hampir
dalam segalanya. Budaya korupsi telah benar-benar mencengkeram seluruh aspek
kehidupan bangsa dengan mengkhianati ajaran Trisakti, bebas dalam politik, berdiri
atas kaki sendiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Pancasila yang dikumandangkan oleh penggalinya sebagai alat pemersatu seluruh


potensi bangsa telah dijadikan alat pecahbelah oleh rezim militer Orba, alat
manipulasi dalam berbagai bidang. Jadilah Pancasila azas tunggal dengan tafsir
tunggal rezim militer Jenderal Suharto menurut kepentingan sang rezim, dengan
demikian Pancasila justru dijadikan alat pecahbelah dan diskriminasi terhadap
bangsa sendiri disertai budaya kekerasan yang melekat sampai saat ini.

Sang pakar sejarah Prof Dr Brigjen Nugroho Notosusanto bahkan bersikeras


menyatakan penggali Pancasila bukanlah BK, Pancasila tidak lahir pada 1 Juni 1945
dengan pidato BK yang tersohor yang kemudian diberi judul "Lahirnya Pancasila".
Setiap orang yang belajar sejarah dan membaca tulisan-tulisan BK sejak muda, sejak
1926, akan tahu Pancasila yang kemudian dirumuskan dalam pidato 1 Juni 1945 itu
suatu perkembangan wajar dari seluruh gagasan BK tentang dasar-dasar negara
Indonesia Merdeka. Pancasila bukanlah suatu gagasan baru yang tiba-tiba lahir,
tetapi sesuatu yang telah lama menjadi berbagai wacana tulisan dan gagasan BK
selama puluhan tahun dalam berbagai tulisan dan perdebatan yang kemudian
disampaikan secara lebih lengkap dalam pidato 1 Juni tersebut di atas. Selanjutnya
intisari pidato Pancasila itu dirumuskan kembali secara bersama menjadi Pembukaan
UUD 1945.
Serial G30S ( 13 - 17 )
PEMBANTAIAN MASSAL SEBAGAI PEMBUNUHAN TERENCANA
Oleh : Harsutejo
Prof Teuku Jacob mendaftar ulah kekejaman manusia dengan kata-kata lugas yang
cukup mencengangkan. Penyiksaan dan penganiayaan tahanan dan tawanan
menunjukkan kebengisan yang tak terbayangkan, mulai dari mencambuk, mencabut
kuku, menjepit ibu jari, melilit tubuh, membakar bagian badan, menyiram cairan
panas, menjepit daging dengan jepitan membara, memotong urat, membuang,
memperbudak, memenggal kepala, menggantung, melempar dari tempat tinggi,
mencekik, membenamkan, mengubur hidup-hidup, mencincang, sampai membunuh
atau memperkosa anggota keluarganya di depan mata, menjemur, tidak memberi
makan, menyeret dengan kuda, membakar dalam unggun api, dan sebagainya...
sebagian besar dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyatnya sendiri.

Begitu sulit dipercaya bahwa ulah kekejaman semacam itu dilakukan juga oleh rezim
militer Orde Baru terhadap musuh politik mereka atas nama suatu gagasan yang
begitu tinggi dan mulia, yakni Pancasila! Malahan rezim ini masih menggenapi
khasanah penyiksaan dan pembunuhan dengan penemuan baru mereka:
memasukkan tahanan politik hidup-hidup ke dalam luweng atau sumur alam yang
amat dalam, memasukkan ke dalam kapal bobrok dan menenggelamkannya,
meneggelamkan hidup-hidup tahanan dengan beban besi atau batu, menyiram gua
dan ruba tempat persembunyian dengan bensin dan membakarnya serta
melemparkan alat peledak, menyetrom kemaluan laki perempuan ketika mereka
dipaksa bersetubuh, menancapkan bambu runcing ke dalam vagina, dan tindakan
keji lain yang sulit diterima akal sehat dan akal normal dan sulit dipercaya oleh
masyarakat beradab. Dan hebatnya rezim ini berusaha keras untuk menghapusnya
dari memori orang banyak dengan segala macam cara termasuk memalsu sejarah
dan menggantinya dengan memori rekayasa, Pancasila sakti.

Perburuan dan pembantaian orang-orang PKI dan yang disangka PKI serta seluruh
gerakan kiri sering dimulai dengan apa yang disebut sebagai "penemuan" dokumen-
dokumen di kantor atau tokoh PKI atau organisasi yang lain tentang daftar hitam
tokoh-tokoh lawan PKI yang hendak dibunuh. Di samping itu juga adanya dokumen
yang berisi rencana-rencana gelap dan jahat yang lain. Setelah 1 Oktober 1965 dan
sepanjang tahun 1966, koran dan penerbitan di Indonesia penuh dengan berita
segala macam kekejian dan kekotoran PKI beserta ormasnya sampai dengan yang
paling ganjil dan tidak masuk akal, telah menimbulkan histeria nasional dan histeria
bangsa sebagai landasan subur untuk melakukan pembasmian terhadap mereka.
Tidak selembar pun dokumen semacam itu pernah diajukan di suatu pengadilan.

Dalam telegram No. 868 kepada Kemlu AS pada tanggal 5 Oktober 1965, sore hari
setelah menghadiri pemakaman para jenderal di Kalibata, Dubes AS Marshall Green
memaparkan tentang petunjuk dasar dalam membantu rezim militer di Indonesia
agar benar-benar dijaga kerahasiaannya. Pentingnya disebarkan dongeng kesalahan
dan pengkhianatan PKI serta kebiadabannya, sesuatu yang bersifat amat mendesak.
Kedubes Inggris di Jakarta menghubungi kantor besar dinas rahasia mereka di
Singapura tentang langkah-langkah yang perlu segera diambil menghadapi
perkembangan situasi di Indonesia. Perang urat syaraf alias perang penyesatan
terhadap lawan untuk merongrong dan melemahkan PKI. Tema propaganda berupa
kisah kebiadaban PKI dalam pembunuhan para jenderal dan puteri Jenderal Nasution,
bahwa PKI agen asing.

Hal-hal itu harus dilaksanakan dengan halus, seolah sama sekali tidak melibatkan
Inggris, bahan semacam itu sebaiknya dikirim dari Pakistan atau Filipina sebagai
tercantum dalam telegram rahasia kedubes Inggris No.1835 6 Oktober 1965.

Sebagai spesialis propaganda Norman Reddaway dipilih oleh Dubes Inggris

Gilchrist sebagai orang terbaik untuk pekerjaan kotor itu. Selanjutnya sang spesialis
antara lain memanfaatkan jalur koresponden BBC Asia Tenggara, Roland Challis. Ia
meminta sang koresponden melakukan apa saja untuk merusak dan menghancurkan
Sukarno, di samping PKI serta mendukung Jenderal Suharto dengan menyiapkan
dokumen-dokumen untuk dimanfaatkan olehnya. Karena sang koresponden tak bisa
masuk ke Indonesia sampai pertengahan 1966, maka ia menggunakan sumber-
sumber MI6 yang agen-agennya mondar mandir keluar masuk Indonesia. Dalam
berita-berita yang ditulisnya tak satu pun menyinggung adanya pembantaian ribuan
orang di Indonesia, yang ada perang saudara dan gerombolan komunis bersenjata.

Berita itulah yang muncul dalam koran-koran Inggris The Times, Daily
Telegraph, Observer, dan Daily Mail.

Robert J Martens, seorang agen CIA dengan jabatan Perwira Politik pada Kedubes
Amerika di Jakarta telah berhasil menyusun daftar terpilih terdiri atas 5.000 orang
kader PKI dari tingkat pusat sampai pedesaan beserta organisasi massanya dengan
rincian jabatannya. Daftar itu dibuat selama dua tahun (1963-1965) dengan bantuan
para pegawai CIA sebagaimana yang dibenarkan oleh Joseph Lazarsky, Deputi Kepala
CIA di Jakarta. Selanjutnya diadakan kesepakatan dengan perwira intelijen Kostrad Ali
Murtopo, secara berkala yang bersangkutan melaporkan siapa-siapa dari daftar itu
telah ditangkap dan siapa-siapa telah dibunuh. Kostrad menjadi pusat pemantauan
terhadap laporan pihak militer dari seluruh penjuru tentang penangkapan dan
pembunuhan terhadap kaum komunis dan golongan kiri lain. Demikian tulis Cathy
Kadane dalam San Fransisco Exeminer, 20 Mei 1990.

Penghancuran terhadap PKI dan seluruh gerakan kiri pertama-tama adalah


membasmi secara fisik para anggota dan pendukungnya. Basmi sampai akar-
akarnya, itulah yang terus-menerus diserukan baik oleh Jenderal Suharto maupun
Jenderal Nasution serta para pengikutnya. Kekuasaan, dan segalanya ada di bawah
laras senapan.

Pertama-tama perlu diingatkan bahwa segala macam aksi terhadap gerakan kiri dan
pendukung BK yang lain yang antara lain dimotori oleh KAP (Komite Aksi
Pengganyangan) Gestapu, mendapatkan dana dari kekuatan asing yang selalu
disebut oleh BK dengan Nekolim. Resminya badan ini didirikan oleh tokoh NU
Subchan ZE bersama Harry Tjan, tapi di baliknya beberapa perwira Kostrad dengan
Brigjen Sucipto sebagai pemrakarsa. Pemerintah Amerika dengan CIA nya
mendukung dana sebesar Rp50 juta [ketika itu setara dengan US1,2 juta] yang
diberikan lewat tangan Adam Malik sebagaimana yang dimintanya. Meskipun jumlah
bantuan itu menurut CIA relatif kecil, tetapi cukup berarti untuk kegiatan badan ini.
Di pihak lain bantuan ini akan dapat meningkatkan pamor Adam Malik (CIA 2001:379-
380), ini berarti pamor sang kancil telah dibeli dengan dollar.

Pada 17 Oktober 1965, pasukan elite RPKAD di bawah Kolonel Sarwo Edhi, lulusan
sekolah staf AD Australia, berada di basis PKI segi tiga Boyolali-Klaten-Sala dengan
tugas dengan cara apa pun juga untuk menghancurkan basis itu. Ketika disadari
bahwa jumlah pasukan tidak mencukupi untuk tugas, maka "Kami memutuskan
untuk menggalang barisan anti komunis untuk membantu tugas tersebut. Di Solo
kami mengumpulkan para pemuda kelompok nasionalis dan Islam.

Kami memberikan latihan selama dua tiga hari, kemudian mengirimkan mereka
untuk membantai kaum komunis", demikian kata Sarwo Edhi. Hal ini berlanjut pada
akhir Oktober dan permulaan November 1965 di Jawa Timur dan pada Desember
1965 dan permulaan 1966 di Bali.

Dalam penyelidikannya tentang pembantaian di Jawa Timur, terutama di daerah


Kediri, sejarawan Hermawan Sulistyo menemukan bahwa para perwira tertinggi [AD]
setempat (Korem, Kodim), perwira intelijen, dalam derajat tertentu memulai
pembantaian. Kemudian juga pimpinan partai politik dan tokoh setempat termasuk
beberapa ulama berpengaruh. Lapis selanjutnya adalah organisasi seperti Ansor
dengan Banser-nya. Dalam beberapa kasus, si pembunuh menjilati darah korban,
meskipun hal itu dilarang oleh para kiai, tetapi jalan terus. Dan dengan rasa
kesetanan mereka membantai korban-korban berikutnya. Algojo kadang memotong
alat kelamin korban, kuping, jari, untuk menyebarkan teror.

Di Sumatra Utara, pembunuhan-pembunuhan telah dimulai sejak 1 Oktober


1965.

Brigjen Kemal Idris yang sedang bertugas di daerah itu mengambil inisiatif
membersihkan wilayahnya dari orang-orang komunis dalam radius 5 km dari
pengkalan mereka di Tebing Tinggi. Ketika perintah datang dari Jakarta, ia telah
membunuh 20% buruh perkebunan karet di Medan area.

Dalam banyak kasus para kader dan aktivis komunis dibunuh beserta seluruh
keluarganya, agar di belakang hari tidak akan timbul pembalasan dendam atau
retaliasi (Cribb 2000:13). Pendeknya pembunuhan menumpas sampai cindil abange,
sampai bayi yang baru lahir. Ini rupanya versi pelaksanaan perintah Jenderal Suharto
dan seruan Jenderal Nasution 'menumpas sampai ke akar-akarnya'.

Di banyak tempat terutama di Jawa Timur, setelah dibantai beramai-ramai mayat


mereka ditinggalkan begitu saja berserak di berbagai tempat sampai berhari-hari tak
seorang pun berani mengurusnya. Atau mayat-mayat itu beramai-ramai diseret
dilempar ke sungai. Mendapatkan laporan keadaan itu Presiden Sukarno dalam
pidatonya pada 18 Desember 1965 mengutuk pembunuhan-pembunuhan dan
mengingatkan akan perintah agama tentang soal merawat jenasah.

Di Bali ribuan orang komunis atau yang disebut komunis diburu dan
dibantai.

Ribuan anak-anak dan perempuan diusir dari desa mereka, lalu desa itu
diluluhlantakkan dengan api. Dari malam yang satu ke malam yang lain, api menyala
di banyak desa di Bali, menghancurkan pemukiman beserta penghuninya dalam
kuburan massal. Adakah desa-desa yang hancur itu kemudian diresaikel.

Seseorang bercerita bahwa di bawah hotel Oberoi yang mewah itu sampai ke pantai
terkubur 2000 mayat mereka yang dibantai. Mungkin berbeda dengan di Jawa, di Bali
tempat-tempat kuburan massal semacam itu dijadikan sasaran pemerintah Orba
untuk mendirikan proyek-proyek sebagai cara untuk menghilangkan jejak secara
permanen. Konon sejumlah tengkorak manusia sering ditemukan dalam proyek
semacam itu, sesuatu yang biasa bagi orang Bali, dan mereka tahu tengkorak
macam apa itu. Hal ini tidak pernah diberitakan media massa [selama rezim Orba,
hs]
Penjagalan TerhadapTapol

Ratusan ribu orang ditahan dalam ratusan rumah tahanan dan penjara serta tahanan
darurat di seluruh Jawa, Sumatra, dan pulau-pulau lain. Kata-kata Jenderal Suharto,
"Siapa yang akan memberi makan mereka?" dilaksanakan dengan sebaik-baiknya di
banyak tempat. Umumnya pada malam hari puluhan atau ratusan tahanan,

tergantung pada kapasitas tahanan atau pun pada besarnya logistik yang dapat
mereka siapkan berupa truk dan tenaga pembantai. Mereka dinaikkan truk-truk untuk
dipindah, tetapi tangan mereka dalam keadaan terikat. Sesampai di suatu tempat
yang telah ditentukan, maka lubang-lubang besar sudah siap untuk menelan mereka
selama-lamanya, setelah para pembantai beraksi serentak baik dengan senjata api
mau pun senjata tajam. Sebuah kuburan massal. Mereka berasal dari penjara-penjara
Kalisosok Surabaya, Lowokwaru Malang, Banyuwangi, Madiun, Kediri, Tulungagung,
Blitar, Sala, Sragen, Yogya, Wonosobo, Semarang, Ambarawa, Nusakambangan dan
dari banyak tempat tahanan lain termasuk Jakarta dan Bandung.

Pulau Kemarau terletak di tengah Sunga Musi. Di situ terdapat bangunan bekas
tempat usaha penimbunan besi tua yang diubah sebagai tempat tahanan. Pada
permulaan Maret 1966 para tahanan mendapat jatah makan sekali sehari sebanyak
tiga sendok. Kemudian makanan ini diganti jagung sebanyak 25 butir tiap kepala.
Pada 1 Juni 1966 semua sel dikunci, selama tiga hari tiga malam para tahanan tidak
diberi makan maupun minum. Maka satu per satu mereka menjadi tengkorak dan
mayat. Mayat ditumpuk jadi satu disusun selang seling kepala dan kaki, lalu
dibungkus karung dan diikat. Dengan diganduli besi, karung-karung tersebut dibuang
ke Sungai Musi. Kejadian ini berlangsung hampir sebulan lamanya. Dari seluruh
penjuru Jawa Tengah dan Timur, ribuan tapol diangkut ke penjara-penjara
Nusakambangan, mencapai 30.000 orang. Di samping yang mati kelaparan dan
penyakit, maka tiap malam berpuluh tapol dibawa ke Pasir Putih di bagian barat
pulau untuk dibantai dan dikubur secara massal. Selama 1966-1969 jatah makanan
begitu buruknya, tiap orang menunggu kematian.

Yang sangat umum terjadi selama 1965 sampai 1969 adalah sangat buruknya jatah
makanan dan kesehatan di seluruh tahanan dan penjara, di banyak tempat hampir
tanpa layanan medis apa pun. Satu-satunya pengecualian adalah rumah tahanan
Nirbaya, tempat sejumlah menteri ditahan. Tak aneh apabila segala macam penyakit
dari hongerudim, tifus, tbc dsb melanda para tapol. Ribuan orang dibunuh secara
perlahan-lahan dengan cara ini. Selama tahun 1967/68 di penjara Kalisosok
Surabaya, puluhan orang meninggal setiap harinya, sedang di Nusakambangan rata-
rata 20 orang tiap harinya. Kembali ribuan orang ditangkap setelah operasi Trisula di
Blitar Selatan. Pendeknya pembunuhan massal telah terjadi di banyak tahanan dan
penjara. Inilah praktek dari perikemanusiaan yang adil dan beradab model Orde Baru

Para tapol yang selama bertahun-tahun dibuat lapar serta menderita busung lapar
serta berbagai penyakit lain itu secara ironis pada setiap tahunnya menjelang puasa
diajari oleh ulama yang didatangkan dari dunia bebas, tentang pentingnya berpuasa,
menahan lapar, menahan nafsu..." Demikian Pramoedya mencatat pengalamannya

Sasaran Pembunuhan

Sasaran pembunuhan yang telah direncanakan di samping tokoh-tokoh PKI dari


puncak sampai ke akar rumput, juga termasuk kader dan aktivis semua lapisan
organisasi massanya. Di samping itu terdapat target khusus yang lain berupa kaum
intelektual dan tokoh yang duduk di pemerintahan seperti walikota, bupati, juga guru,
seniman, kepala desa dsb. yang dianggap komunis atau simpatisan komunis.

Nampaknya target tertentu ini benar-benar telah direncanakan dengan matang


setelah analisis mendalam tentang kemungkinan hari depan komunisme di Indonesia.
Mungkin sekali hal ini ada kaitannya dengan daftar maut CIA seperti tersebut di atas
yang dimasak oleh dapur intelijen Jenderal Suharto.

Pemilihan target ini dilakukan baik dengan pembunuhan secara langsung maupun
ditujukan bagi mereka yang telah mendekam di ratusan kamp tahanan dan penjara.
Dengan demikian rezim militer Orba hendak memastikan bahwa tidak ada peluang
lagi bagi kemungkinan kebangkitan mereka. Sebagaimana tak henti-hentinya
dicanangkan oleh Jenderal Suharto dan Jenderal Nasution yang diikuti oleh media
massa, 'pembasmian kaum komunis dan komunisme sampai ke akar-akarnya'. Dan
yang mereka maksud dan mereka laksanakan pertama-tama adalah pembasmian
fisik. Selanjutnya diikuti oleh penghapusan dan rekayasa memori sosial dengan
penghancuran segala macam dokumentasi, buku, perpustakaan, dan karya budaya
dan intelektual yang lain sebagai bagian dari vandalisme. Karena itu betapa tidak
masuk akalnya jika pembunuhan itu terjadi secara spontan tanpa perencanaan
matang.

Standar Ganda dan Terorisme Negara

Biarlah pembantaian itu berjalan terus, toh yang dibunuh orang komunis!
Begitulah standar ganda perikemanusiaan dan hak asasi manusia yang dianut rezim
Barat yang mereka terapkan sebagai yang telah dianut jurnalisme majalah Time
dalam artikel 'Vengeance in Smile' pada 15 Juli 1966 yang melukiskan pembantaian
massal itu sebagai "Kabar paling bagus bagi Barat selama bertahun-tahun di Asia",
"The West's best news for years in Asia."

Celakanya standar ganda semacam ini pun masih terus hidup di Indonesia sebagai
hasil gelombang fitnah tak berkesudahan termasuk lewat buku pelajaran sejarah dan
upaya cuci otak yang terus-menerus dilakukan rezim Orba selama 32 tahun, dalam
beberapa hal bahkan sampai saat ini, sering tanpa sadar dianut oleh jutaan rakyat
Indonesia termasuk sejumlah kecil intelektualnya. Untuk meletakkan nilai-nilai
perikemanusiaan yang adil dan beradab sesuai dengan Pancasila dan ajaran semua
agama, diperlukan daya upaya yang terus menerus tiada kenal lelah dari semua yang
memiliki kesadaran dan kemauan baik dengan memerangi standar ganda tersebut di
atas. Untuk itu diperlukan waktu, barangkali setidaknya setara dengan waktu
bercokolnya rezim militer Orba Suharto atau lebih. Menyebarkan nilai luhur sekaligus
memerangi kejahatan memerlukan waktu dan daya upaya jauh lebih besar daripada
kebalikannya.

Apabila terorisme didefinisikan sebagai ancaman, penistaan dan pembantaian


terhadap penduduk sipil dalam jumlah amat besar dalam waktu pendek, terhadap
mereka yang tidak tahu-menahu urusannya, tidak memiliki kemampuan melawan
atau membela diri sendiri beserta keluarganya serta tanpa peluang menyelamatkan
diri, maka ini merupakan terorisme paling hebat dan mengerikan di jaman modern,
terorisme yang dilakukan oleh negara. (Dipetik dari Harsutejo, "Sejarah Gelap G30S" -
revisi)

Upaya Mengelak Tanggung jawab

Sejumlah petinggi militer, sebagai yang pernah ditulis Jnderal Yasir Hadibroto yang
membanggakan diri sebagai eksekutor DN Aidit, ketika itu (1965-1966) merupakan
keadaan perang. Selanjutnya sejumlah pelaku dan penulis pendukung Orba seperti
Sulastomo, Fadly Zon, Mayjen Samsudin, menggambarkan seolah-olah ketika itu
dalam keadaan "membunuh atau dibunuh". Itu semua bohong dan tidak ada
buktinya, sekedar upaya mengelakkan tanggungjawab, agar pembantaian itu sah
adanya. Apa ada situasi "membunuh atau dibunuh" di kamp tahanan dan penjara
sebagai yang dipropagandakan untuk penyesatan oleh pendukung rezim Orba, agar
pembunuhan massal itu dapat diterima sebagai kewajaran.
Meski keadaan politik tegang tetapi situasi relatif aman sebagai yang direkam buku
yang populer disebut Cornell Paper yang disusun berdasarkan berita koran Orba
sampai dengan Desember 1965, karenanya laporan Benedict Anderson dan Ruth
McVey ini dinamainya A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in
Indonesia, 1971. Fakta-fakta yang terhimpun dalam buku ini didukung dan dilengkapi
dengan fakta-fakta berupa sejarah lisan dari berpuluh-puluh narasumber mereka
yang mengalami langsung pada 1965/1966 yang antara lain terekam dalam buku
John Roosa cs (ed), Tahun yang Tak Pernah Berakhir, , 2004 dan HD Haryo Sasongko,
Korupsi Sejarah dan Kisah Derita Akar Rumput, 2005.

Pembunuhan itu dilakukan dengan senjata bedil oleh pasukan militer, juga dengan
menggunakan golongan anti-komunis yang termakan propaganda hitam dan rakyat
yang dipaksa dan melakukannya baik dengan senjata api maupun senjata tajam,
termasuk dengan bambu runcing.

Apa pun celoteh mereka, termasuk mencoretnya dari buku-buku sejarah yang
diajarkan di sekolah, pembunuhan massal terhadap satu sampai tiga juta rakyat tak
berdosa itu merupakan kejahatan berat terhadap kemanusiaan yang tidak akan
dapat dilupakan dengan Jenderal Besar (Purn) Suharto sebagai pelaku tertingginya.
Serial G30S ( 3 - 17)
LUBANG BUAYA
Oleh: Harsutejo

Pada 1 Oktober 1965 telah terjadi penculikan dan pembunuhan enam orang jenderal
dan seorang perwira pertama AD yang kemudian dimasukkan ke sebuah sumur tua di
desa Lubang Buaya, Pondokgede oleh pasukan militer G30S. Pasukan ini berada di
bawah pimpinan Letkol Untung, Komandan Batalion I Resimen Cakrabirawa, pasukan
pengawal Presiden.

Pada 4 Oktober 1965, ketika dilakukan penggalian jenazah para jenderal di Lubang
Buaya, Mayjen Suharto, Panglima Kostrad menyampaikan pidato yang disiarkan luas
yang menyatakan bahwa para jenderal telah dianiaya sangat kejam dan biadab
sebelum ditembak. Dikatakan olehnya bahwa hal itu terbukti dari bilur-bilur luka di
seluruh tubuh para korban. Di samping itu Suharto juga menuduh, Lubang Buaya
berada di kawasan PAU Halim Perdanakusuma, tempat latihan sukarelawan Pemuda
Rakyat dan Gerwani. Perlu disebutkan bahwa Lubang Buaya terletak di wilayah milik
Kodam Jaya. Di samping itu disiarkan secara luas foto-foto dan film jenazah yang
telah rusak yang begitu mudah menimbulkan kepercayaan tentang penganiayaan
biadab itu. Hal itu diliput oleh media massa yang telah dikuasai AD, yakni RRI dan
TVRI serta koran milik AD Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha. Sementara
seluruh media massa lain dilarang terbit sejak 2 Oktober.

Jadi sudah pada 4 Oktober itu Suharto menuduh AURI, Pemuda Rakyat dan Gerwani
bersangkutan dengan kejadian di Lubang Buaya. Selanjutnya telah dipersiapkan
skenario yang telah digodok dalam badan intelijen militer untuk melakukan
propaganda hitam terhadap PKI secara besar-besaran dan serentak. Dilukiskan
terdapat kerjasama erat dan serasi antara Pemuda Rakyat dan Gerwani serta
anggota ormas PKI lainnya dalam melakukan penyiksaan para jenderal dengan
menyeret, menendang, memukul, mengepruk, meludahi, menghina, menusuk-nusuk
dengan pisau, menoreh silet ke mukanya. Dan puncaknya kaum perempuan Gerwani
itu dilukiskan sebagai telah kerasukan setan, menari-nari telanjang yang disebut
tarian harum bunga, sambil menyanyikan lagu Genjer-genjer, lalu mecungkil mata
korban, menyilet kemaluan mereka, dan memasukkan potongan kemaluan itu ke
mulutnya....

Maaf pembaca, itu semua bukan lukisan saya tapi hal itu bisa kita baca dalam koran-
koran Orba milik AD yang kemudian dikutip oleh media massa lain yang boleh terbit
lagi pada 6 Oktober dengan catatan harus membebek sang penguasa serta buku-
buku Orba. Lukisan itu pun bisa kita dapati dalam buku Soegiarso Soerojo, pendiri
koran AB, yang diterbitkan sudah pada 1988, .Siapa Menabur Angin Akan Menuai
Badai. Anda juga dapat menikmatinya dalam buku Arswendo Atmowiloto yang
direstui oleh pihak AD, Pengkhianatan G30S/PKI, yang dipuji sebagai transkrip novel
yang bagus dari film skenario Arifin C Noer dengan judul yang sama yang wajib
ditonton oleh rakyat dan anak sekolah khususnya selama bertahun-tahun. Dan
jangan lupa, fitnah ini diabadikan dalam diorama pada apa yang disebut Monumen
Pancasila Sakti di Lubang Buaya. Meski monumen ini berisi fitnah, tapi kelak jangan
sampai dihancurkan, tambahkanlah satu plakat yang mudah dibaca khalayak: “Di sini
berdiri monumen kebohongan perzinahan politik”, agar kita semua belajar bahwa
pernah terjadi suatu rezim menghalalkan segala cara untuk menopang kekuasaannya
dengan fitnah paling kotor dan keji pun. Penghormatan terhadap para jenderal yang
dibunuh itu ditunggangi Suharto dengan fitnah demikian.

Fitnah hitam dongeng horor itu semua bertentangan dengan hasil visum et repertum
tim dokter yang dilakukan atas perintah Jenderal Suharto sendiri yang diserahkan
kepadanya pada 5 Oktober 1965, bahwa tidak ada tanda-tanda penyiksaan biadab,
mata dan kemaluan korban dalam keadaan utuh. Laporan resmi tim dokter itu sama
sekali diabaikan dan tak pernah diumumkan.

Kampanye hitam terhadap PKI terus-menerus dilakukan secara berkesinambungan


selama bertahun-tahun tanpa jeda. Dalil intelijen menyatakan bahwa kebohongan
yang terus-menerus disampaikan akhirnya dianggap sebagai kebenaran. Bahkan
sampai dewasa ini pun, ketika informasi sudah dapat diperloleh secara bebas
terbuka, fitnah itu masih dimamahbiak oleh sementara kalangan seperti buta
informasi.

Apa tujuan kampanye hitam fitnah itu? Hal ini dimaksudkan untuk mematangkan
situasi, membangkitkan emosi rakyat umumnya dan kaum agama khususnya menuju
ke pembantaian massal para anggota PKI dan yang dituduh PKI sesuai dengan
doktrin membasmi sampai ke akar-akarnya. Dengan gencarnya kampanye hitam itu,
maka telah berkembang biak dengan berbagai peristiwa di daerah dengan kreatifitas
dan imajinasi para penguasa setempat. Selama kurun waktu 1965-1966 jika di
pekarangan rumah seseorang ada lubang, misalnya untuk dipersiapkan menanam
sesuatu atau sumur tua tak terpakai, apalagi jika si pemilik dicurigai sebagai orang
PKI, maka serta-merta ia dapat ditangkap, ditahan dan bahkan dibunuh dengan
tuduhan telah mempersiapkan “lubang buaya” untuk mengubur jenderal, ulama atau
dan tokoh-tokoh lawan politik PKI setempat. Dongeng tersebut masih dihidup-
hidupkan sampai saat ini.

Segala macam dongeng fitnah busuk berupa temuan “lubang buaya” yang
dipersiapkan PKI dan konco-konconya untuk mengubur lawan-lawan politiknya ini
bertaburan di banyak berita koran 1965-1966 dan terekam juga dalam sejumlah buku
termasuk buku yang ditulis Jenderal Nasution, yang dianggap sebagai peristiwa dan
fakta sejarah, bahkan selalu dilengkapi dengan apa yang disebut “daftar maut”
meskipun keduanya tak pernah dibuktikan sebagai kejadian sejarah maupun bukti di
pengadilan.

Seorang petani bernama Slamet, anggota BTI yang tinggal di pelosok dusun di Jawa
Tengah yang jauh dari jangkauan warta berita suatu kali mempersiapkan enam
lubang untuk menanam pisang di pekarangannya. Suatu siang datang sejumlah polisi
dan tentara dengan serombongan pemuda yang menggelandang dirinya ketika ia
sedang menggali lubang keenam. Tuduhannya ia tertangkap basah sedang
mempersiapkan lubang untuk mengubur Pak Lurah dan para pejabat setempat.
Dalam interogasi terjadi percakapan seperti di bawah.

“Kamu sedang mempersiapkan lubang buaya untuk mengubur musuh-musuhmu!”


“Lho kulo niki bade nandur pisang, lubang boyo niku nopo to Pak?” [saya sedang
hendak menanam pisang, lubang buaya itu apa Pak?] “Lubang boyo iku yo lubange
boyo sing ana boyone PKI!” [lubang buaya itu lubang yang ada buaya milik PKI]. Baik
pesakitan yang bernama Slamet maupun polisi yang memeriksanya tidak tahu apa
sebenarnya lubang buaya itu, mereka tidak tahu bahwa Lubang Buaya itu nama
sebuah desa di Pondokgede, Jakarta.

Dikiranya di situ lubang yang benar-benar ada buayanya milik PKI. Ini bukan anekdot
tetapi kenyataan pahit, si Slamet akhirnya tidak selamat alias dibunuh karena adanya
“bukti telak” terhadap tuduhan tak terbantahkan.

Demikian rekaman yang saya sunting dari wawancara HD Haryo Sasongko dalam
salah satu bukunya. (Dari berbagai sumber, petikan naskah belum terbit).

Serial G30S ( 2 - 17 )
GESTAPU, GESTOK
Oleh : Harsutejo
Gerakan 30 September merupakan nama "resmi" gerakan sesuai dengan apa yang
telah diumumkan oleh RRI Jakarta pada pagi hari 1 Oktober 1965. Nama ini untuk
keperluan praktis media massa kemudian ditulis dengan G-30-S atau G30S. Sedang
Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) suatu nama yang dipaksakan agar
berkonotasi dengan Gestapo-nya Hitler yang tersohor keganasannya itu. Rupanya
sang konseptor, Brigjen Sugandhi, pimpinan koran Angkatan Bersenjata, telah
banyak belajar dari sejarah dan jargon nazi Jerman. Jelas nama ini merupakan
pemaksaan dengan memperkosa kaidah bahasa Indonesia (dengan hukum DM),
kepentingan politik menghalalkan segala cara. Nama Gestapu digalakkan secara luas
melalui media massa, sedang dalam buku tulisan Nugroho Notosusanto maupun
Buku Putih digunakan istilah G30S/PKI. Barangkali ini merupakan standar ganda yang
dengan sengaja dilakukan; yang pertama untuk menggalakkan konotasi jahat
Gestapo dengan Gestapu/PKI, sementara buku yang ditulis oleh pakar sejarah itu
bernuansa "lebih ilmiah" bahwa G30S ya PKI.

Sementara itu sejumlah pakar asing dalam karya-karyanya menggunakan istilah


Gestapu ciptaan Orde Baru ini. Mungkin ada di antara mereka sekedar mengutip
istilah yang digunakan begitu luas dan gencar oleh media massa Orba secara
membebek tidak kritis. Dengan demikian dari istilah yang digunakan saja tulisan itu
sudah memulai sesuatu dengan berpihak secara politik kepada rezim Orba yang
berkuasa. Di antara pakar ini, Prof Dr Victor M Fic, seorang sejarawan Kanada,
telah menulis buku yang "menghebohkan" itu karena secara murahan menuduh Bung
Karno sebagai dalang G30S. Di seluruh bukunya ia menggunakan istilah Gestapu,
ketika dia menggunakan istilah netral 'Gerakan 30 September' selalu diikuti dalam
kurung (GESTAPU).

Sementara orang mengartikan penamaan Gestok (Gerakan 1 Oktober) hanya untuk


gerakan yang dilakukan oleh Mayjen Suharto pada tanggal tersebut daripada
gerakan Letkol Untung. Tetapi mungkin saja bahwa yang dimaksud Bung Karno
adalah gerakan yang dilakukan Letkol Untung menculik sejumlah jenderal dan
kemudian membunuhnya (terlepas dari adanya komplotan lain dalam gerakan yang
melakukan pembunuhan itu). Penamaan itu juga terhadap gerakan Mayjen Suharto
yang dilakukan menghadapi gerakan Untung serta mencegah kepergian Jendral
Pranoto dan Umar Wirahadikusuma menghadap Presiden ke PAU Halim, sekaligus
mengambilalih wewenang Men/Pangad Jenderal Yani yang sudah dipegang oleh
Presiden Sukarno serta membangkang terhadap perintah-perintah Presiden untuk
tidak melakukan gerakan militer.

Tentu saja penamaan Gestok tidak disukai oleh rezim Orba. Dalam pidatonya pada 21
Oktober 1965 di depan KAMI di Istora Senayan, Presiden Sukarno menyebutkan,
"..Orang yang tersangkut pada Gestok harus diadili, harus dihukum, kalau perlu
ditembak mati... Tetapi marilah kita adili pula terhadap pada golongan yang telah
mengalami peruncingan seperti Gestok itu tadi". Mungkin sekali ini maksudnya
setelah pelaku peristiwa 1 Oktober (Untung cs) yang hanya berumur sehari itu diadili,
maka juga terhadap pelaku yang membuat runcing persoalan sesudah itu, siapa lagi
kalau bukan Jenderal Suharto cs. Dalam pidato Pelengkap Nawaksara di Istana
Merdeka pada 10 Januari 1967 Presiden Sukarno dengan jelas menyebut
pembunuhan para jenderal itu dengan Gestok lalu dilanjutkan dengan bertemunya
tiga sebab (a) keblingernya pimpinan PKI, (b) kelihaian subversi Nekolim, (c) adanya
oknum "yang tidak benar"

Dalam dokumen yang disebut "Dokumen Slipi" yang berisi hasil pemeriksaan
Bung Karno sebagai saksi ahli dalam perkara Subandrio dan merupakan
kesaksian terakhir BK (1968),

"...1 Oktober 1965 bagi saya adalah malapetaka, karena gerakan yang melawan
G30S pada 1 Oktober 1965 itu telah melakukan pembangkangan terhadap diri saya,
sejak saat itu gerakan yang melawan G30S tidak tunduk pada perintah saya, maka
saya berpendapat G30S lawannya Gestok...". Jika dokumen ini memang benar
adanya, hal itu sesuai dengan seluruh perkembangan kejadian serta analisis BK
tentang G30S tersebut di atas. Brigjen Suparjo segera menghentikan gerakan G30S
sementara Mayjen Suharto meneruskan Gestok-nya. Tetapi sejarah juga
menunjukkan bahwa Presiden Sukarno tidak mengambil tindakan apa pun terhadap
jenderal yang satu ini, justru melegitimasi dengan mengukuhkan kedudukannya.
Sebenarnyalah peristiwa G30S di Jakarta hanya berlangsung selama satu hari,
sementara di Jawa Tengah yang tertinggal itu berlangsung beberapa hari (sesuatu
yang aneh dan perlu dikaji lebih lanjut). Gerakan selanjutnya, yang disebut BK
Gestok, dilakukan oleh Mayjen Suharto dengan menentang dan menantang perintah
Presiden dengan menindas PKI dan gerakan kiri lainnya, membantai rakyat dan
pendukung BK, ujungnya menjatuhkan Presiden Sukarno. Inilah tragedi sebenarnya
dengan pembukaan pembunuhan enam orang jenderal dan seorang perwira pertama
oleh pihak militer sendiri. (Dari berbagai sumber).

Serial G30S (1- 17)


G30S
Oleh : Harsutejo
Pada dini hari menjelang subuh 1 Oktober 1965 sekelompok militer yang kemudian
menamakan diri sebagai Gerakan 30 September melakukan penculikan 7 orang
jenderal AD. Jenderal Nasution dapat meloloskan diri, sedang yang ditangkap ialah
pengawalnya. Lolosnya jenderal ini telah dibayar dengan nyawa putrinya yang
kemudian tewas diterjang peluru. Keenam orang jenderal teras AD yang diculik dan
kemudian dibunuh itu terdiri dari: Letjen Ahmad Yani (Men/Pangad), Mayjen Suprapto
(Deputi II Men/Pangad), Mayjen Haryono MT (Deputi III Men/Pangad), Mayjen S
Parman (Asisten I Men/Pangad), Brigjen DI Panjaitan (Asisten IV Men/Pangad), Brigjen
Sutoyo (Oditur Jenderal AD).

Pada pagi-pagi 1 Oktober 1965, sebelum orang mengetahui apa yang sebenarnya
terjadi, Kolonel Yoga Sugomo sebagai Asisten I Kostrad/Intelijen serta merta
menyatakan bahwa hal itu pasti perbuatan PKI, ketika pengumuman RRI Jakarta pada
jam 07.00 menyampaikan tentang Gerakan 30 September di bawah Letkol Untung.
Maka Yoga pun memerintahkan, “Siapkan semua penjagaan, senjata, bongkar
gudang. Ini PKI berontak”. Jangan-jangan Kolonel Yoga, Kostrad, dan - siapa lagi kalau
bukan Jenderal Suharto – telah mengantongi skenario jalannya drama tragedi yang
sedang dan hendak dipentaskan kelanjutannya. Tentu saja pertanyaan ini amat
mengggoda karena dokumen-dokumen rahasia CIA pun mengungkapkan berbagai
skenario semacam itu dengan diikuti dijatuhkannya Presiden Sukarno sebagai babak
penutup.

Menurut tuduhan dan pengakuan Letkol (Inf) Untung, Komandan Batalion I Resimen
Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden RI yang secara formal memimpin Gerakan
30 September, para jenderal tersebut menjadi anggota apa yang disebut Dewan
Jenderal yang hendak melakukan kudeta terhadap kekuasaan Presiden Sukarno yang
sah pada 5 Oktober 1965. Karena itu Letkol Untung sebagai insan revolusi sesuai
dengan ajaran resmi yang didengungkan ketika itu, mengambil tindakan dengan
menangkap mereka guna dihadapkan kepada Presiden. Dalam kenyataannya mereka
dibunuh ketika diculik atau di Lubang Buaya, Jakarta.

Tentang pembunuhan yang tidak patut ini terjadi sejumlah kontroversi. Menurut
pengakuan Letkol Untung hal itu menyimpang dari perintahnya. Dalam hubungan ini
telah timbul berbagai macam penafsiran yang berhubungan dengan kegiatan
intelijen berbagai pihak, pihak intelijen militer Indonesia, Syam Kamaruzaman
sebagai Ketua Biro Chusus (BC) PKI, intelijen asing, utamanya CIA, dalam arena
perang dingin yang memuncak antara Blok Amerika versus Blok Uni Soviet dengan
Blok RRT yang anti AS maupun Uni Soviet. Menurut pengakuan Syam, pembunuhan
itu atas perintah Aidit, Ketua PKI. Pembunuhan demikian sangat tidak
menguntungkan pihak PKI yang dituduh sebagai dalang G30S, akan dengan
mudahnya menyulut emosi korps AD melawan PKI, sesuatu yang pasti tak
dikehendaki Aidit dan sesuatu yang tidak masuk akal. Dengan dibunuhnya Aidit atas
perintah Jenderal Suharto, maka pengakuan Syam yang berhubungan dengan Aidit
sama sekali tak dapat diuji kebenarannya. Dengan begitu Syam memiliki keleluasaan
untuk menumpahkan segala macam sampah yang dikehendakinya maupun yang
dikehendaki penguasa ke keranjang sampah bernama DN Aidit.

Banyak pihak menafsirkan bahwa Syam ini merupakan agen intelijen kepala dua
(double agent), atau bahkan tiga atau lebih. Hal ini di antaranya ditengarai dari
pengakuannya yang terus-menerus merugikan PKI dan Aidit.

Ini berarti dia yang posisinya sebagai Ketua BC CC PKI, pada saat itu menjadi agen
yang sedang mengabdi pada musuh PKI. Dari riwayat Syam ada bayang-bayang
buram misterius yang rupanya berujung pada pihak AD, khususnya Jenderal Suharto.
Aidit yang dituduh sebagai dalang G30S yang seharusnya dikorek keterangannya di
depan pengadilan segera dibungkam karena keterangan dirinya tidak akan
menguntungkan skenario Mahmillub yang dibentuk atas perintah Jenderal Suharto
sebagaimana yang telah dimainkan oleh Syam atas nama Ketua PKI Aidit.
Keterangan Syam mengenai perintah Aidit tentang pembunuhan para jenderal tidak
dapat diuji kebenarannya dan tidak dapat dipercaya. Beberapa pihak di Mahmillub
menyebutnya perintah itu dari Syam, tetapi siapa yang memerintahkan dirinya?
Pertanyaan ini mau-tidak-mau perlu dilanjutkan dengan pertanyaan, siapa yang
diuntungkan oleh pembunuhan para jenderal itu? Bung Karno tidak, Nasution tidak,
Aidit pun tidak. Hanya ada satu orang yang diuntungkan: Jenderal Suharto! Jika
Jenderal Yani tidak ada maka menurut tradisi AD Suharto-lah yang menggantikannya.
Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa ketika Presiden Sukarno menunjuk Jenderal
Pranoto sebagai pengganti sementara pada 1 Oktober 1965, maka Jenderal Suharto
menentang keras. Jelas dia berambisi menjadi satu-satunya pengganti yang akan
memanjat lebih jauh ke atas, padahal ketika itu nasib Jenderal Yani cs belum
diketahui jelas.

Perlu ditambahkan bahwa rencana pengambilan [penculikan] para jenderal telah


diketahui beberapa hari sebelumnya serta beberapa jam sebelum kejadian
berdasarkan laporan Kolonel Abdul Latief, bekas anak buah Suharto yang menjadi
salah seorang penting dalam G30S. Jenderal Suharto sebagai Panglima Kostrad tidak
mengambil langkah apa pun, justru hanya menunggu. Kenyataan ini membuat
kecewa dan dipertanyakan salah seorang bekas tangan kanan Suharto yang telah
berjasa mengepung Istana Merdeka pada 11 Maret 1966, Letjen (Purn) Kemal Idris.
Masih dapat ditambahkan lagi bahwa keenam jenderal yang dibunuh tersebut
memiliki riwayat permusuhan internal dengan Suharto karena Suharto melakukan
korupsi sebagai Pangdam Diponegoro.

Ada fakta sangat keras, dua batalion AD dari Jateng dan Jatim yang didatangkan ke
Jakarta dengan senjata lengkap dan peluru tajam yang kemudian mendukung
pasukan G30S, semua itu atas perintah Panglima Kostrad Mayjen Suharto yang
diinspeksinya pada 30 September 1965 jam 08.00. Tentunya dia pun mengetahui
dengan tepat kekuatan dan kelemahan pasukan tersebut beserta jejaring
intelijennya, di samping adanya tali-temali dengan intelijen Kostrad lewat tangan
Kolonel Ali Murtopo. Tentu saja masalah ini tak pernah diselidiki, jika dilakukan hal itu
dapat membuka kedok Suharto menjadi telanjang di depan korps TNI AD ketika itu.
Mungkin saja jejaring Suharto yang telah melumpuhkan logistik kedua batalion
tersebut, hingga Yon 530 dan dua kompi Yon 434 melapor dan minta makan ke
markas Kostrad pada sore hari 1 Oktober 1965. Kedua pasukan ini bersama pasukan
Letkol Untung dihadapkan pada pasukan RPKAD. Itulah sejumlah indikasi kuat
keterlibatan Jenderal Suharto dalam G30S, ia bermain di dua kubu yang dia hadapkan
dengan mengorbankan 6 jenderal.

Lalu siapa yang diuntungkan dengan dibunuhnya Aidit? PKI dan Bung Karno pasti
tidak, lawan-lawan politik PKI jelas senang (meski ada juga yang kemudian
menyesalkan, kenapa tidak dikorek keterangannya di depan pengadilan), di
puncaknya ialah Jenderal Suharto yang memang memerintahkannya. Jika Aidit diberi
kesempatan bicara di pengadilan, maka dia akan mempunyai kesempatan
membeberkan peran dirinya dalam G30S yang sebenarnya,

bukan sekedar menelan keterangan Syam di Mahmillub sesuai dengan kepentingan


Suharto cs. Jika ini berlaku maka skenario yang telah tersusun akan kacau.

Sejak 4 Oktober 1965, ketika dilakukan penggalian jenazah para jenderal di Lubang
Buaya, maka disiapkanlah skenario yang telah digodok dalam badan intelijen militer
untuk melakukan propaganda hitam terhadap PKI dimulai dengan pidato fitnah
Jenderal Suharto tentang penyiksaan kejam dan biadab, Lubang Buaya sebagai
wilayah AURI. Hari-hari selanjutnya dipenuhi dengan dongeng horor fitnah keji
tentang perempuan Gerwani yang menari telanjang sambil menyilet kemaluan para
jenderal dan mencungkil matanya. Ini semua bertentangan dengan hasil visum
dokter yang dilakukan atas perintah Jenderal Suharto sendiri yang diserahkan
kepadanya pada 5 Oktober 1965. Kampanye hitam terhadap PKI terus-menerus
dilakukan secara berkesinambungan oleh dua koran AD Angkatan Bersendjata dan
Berita Yudha, RRI dan TVRI yang juga telah dikuasai AD, sedang koran-koran lain
diberangus. Ketika sejumlah koran lain diperkenankan terbit, semuanya harus
mengikuti irama dan pokok arahan AD. Seperti disebutkan dalam studi Dr Saskia
Eleonora Wieringa, mungkin tak ada rekayasa lebih berhasil untuk menanamkan
kebencian masyarakat daripada pencitraan Gerwani (gerakan perempuan kiri) yang
dimanipulasi sebagai “pelacur bejat moral”. Kampanye ini benar-benar efektif dengan
memasuki dimensi moral religiositas manusia Jawa, khususnya kaum adat dan
agama.

Setelah lebih dari dua minggu propaganda hitam terhadap PKI dan organisasi kiri lain
berjalan tanpa henti, ketika emosi rendah masyarakat bangkit dan mencapai
puncaknya dengan semangat anti komunis anti PKI yang disebut sebagai golongan
manusia anti-agama dan anti-Tuhan, kafir dst yang darahnya halal, maka situasi
telah matang dan tiba waktunya untuk melakukan pembasmian dalam bentuk
pembunuhan massal. Dan itulah yang terjadi di Jawa Tengah setelah kedatangan
pasukan RPKAD di bawah Kolonel Sarwo Edhie Wibowo sesudah minggu ketiga
Oktober 1965, selanjutnya di Jawa Timur pada minggu berikutnya dan Bali pada
Desember 1965/Januari 1966. Sudah sangat dikenal pengakuan Jenderal Sarwo Edhie
yang membanggakan telah membasmi 3 juta jiwa manusia.

Dalam khasanah sejarah G30S ada gambaran yang disesatkan bahwa situasinya
seolah waktu itu “dibunuh atau membunuh” seperti dalam perang saudara. Ini sama
sekali tidak benar, tidak ada buktinya. Hal ini dengan sengaja diciptakan sesuai
dengan kepentingan rezim militer Suharto guna melegitimasi kekejaman mereka.
Situasi telah dimatangkan oleh propaganda hitam pihak militer di bawah Jenderal
Suharto beserta segala peralatannya yang menyinggung nilai-nilai moral dan agama
tentang perempuan sundal Gerwani sebagai yang digambarkan dalam dongeng horor
Lubang Buaya. Emosi ketersinggungan kaum agama beserta nilai-nilai moralnya
ditingkatkan sampai ke puncaknya untuk menyulut dan memuluskan pembantaian
anggota PKI dan kaum kiri lainnya yang disebut sebagai kaum kafir yang dilakukan
pihak militer dengan memperalat sebagian rakyat yang telah terbakar emosinya.

Setelah seluruh organisasi kiri, utamanya PKI dihancurlumatkan, sisa-sisa anggotanya


dipenjara, maka datang waktunya untuk menghadapi dan menjatuhkan Presiden
Sukarno yang kini dalam keadaan terpencil diisolasi. Dikepunglah Istana Merdeka
oleh pasukan AD di bawah pimpinan Kemal Idris, pada saat Presiden Sukarno sedang
memimpin rapat kabinet yang tidak dihadiri Jenderal Suharto pada 11 Maret 1966
yang ujungnya telah kita ketahui bersama berupa Supersemar. Kudeta merangkak ini
dilanjutkan dengan pengukuhan Jenderal Suharto sebagai Pejabat Presiden (sesuatu
yang menyimpang dari UUD 1945,

tak satu pun pakar yang berani buka mulut ketika itu), selanjutnya sebagai Presiden
RI. Maka berlanjutlah pemerintahan diktator militer selama lebih dari tiga dekade
yang menjungkirbalikkan segalanya, sampai akhirnya Indonesia menjadi salah satu
negara terkorup di dunia dengan utang sampai ke ubun-ubun.

G30S di bawah pimpinan Letkol Untung dirancang untuk gagal, artinya ada
rancangan lain yang tidak pernah diumumkan alias rancangan gelap di balik layar
dengan dalang-dalang yang penuh perhitungan untuk melaksanakan adegan yang
satu dengan yang lain. Maka tidak aneh jika mantan pejabat CIA Ralph McGehee
berdasar dokumen rahasia CIA menyatakan sukses operasi CIA di Indonesia sebagai
contoh soal, “supaya metode yang dipakai CIA dalam kudeta di Indonesia
yang dianggap sebagai penuh kepiawaian sehingga ia digunakan sebagai
suatu tipe rancangan atau denah operasi-operasi terselubung di masa yang
akan datang”. Itulah kudeta merangkak yang dilakukan oleh Jenderal Suharto sejak
pembunuhan para jenderal, pengusiran BK dari Halim, pembunuhan massal,
pengepunngan Istana Merdeka pada 11 Maret 1966, akhirnya dijatuhkannya Presiden
Sukarno. Keberhasilan operasi AS di Indonesia disebut Presiden Nixon sebagai hadiah
paling besar di wilayah Asia Tenggara.

Untuk melegitimasi segala tindakann dan memperkokoh kedudukannya, rezim militer


Orba menamakan gerakan Letkol Untung tersebut dengan G30S/PKI, pendeknya
nama keduanya saling dilekatkan. G30S ya PKI, bukan yang lain. Di sepanjang
kekuasannya rezim ini terus-menerus tiada henti mengindoktrinasi dan menjejali otak
kita semua, kaum muda dan anak-anak sekolah dengan kampanye ini. Ketika studi
sejarah di Indonesia tak lagi bisa dikekang, maka banyak pakar menolak kesahihan
penyebutan tersebut. Studi netral hanya menyebut Gerakan 30 September
sebagaimana yang tercantum dalam pengumuman gerakan di RRI Jakarta pada pagi
hari 1 Oktober 1965, atau disingkat untuk keperluan praktis sebagai G30S. Masih ada
arus balik riak yang membakari buku dalam tahun ini karena berbeda dengan
kepentingan rezim atau pejabat rezim sebagai bagian dari vandalisme masa lampau.
(Dari berbagai sumber).

Serial G30S [10]


HARI KESAKTIAN PANCASILA
Oleh : Harsutejo
Seperti kita ketahui pembunuhan enam orang jenderal dan seorang perwira pertama
AD yang dilakukan oleh gerombolan militer G30S terjadi pada pagi hari 1 Oktober
1965, selanjutnya pasukan tersebut dilumpuhkan oleh RPKAD. Kejadian itu
ditahbiskan sebagai Hari Kesaktian Pancasila dengan SK No.153/1967 27 September
1967, diteken oleh Pejabat Presiden Jenderal Suharto.

Sebagai yang ditulis oleh wartawan senior Joesoef Isak, pentahbisan 1 Oktober
sebagai Hari Kesaktian Pancasila merupakan "suatu perzinahan politik khas gaya
Suharto, menggunakan gugurnya para jenderal dan Pancasila untuk melegitimasi
kepemimpinannya. Apa yang dilakukan Suharto pada 1 Oktober 1965 ketika
sebelumnya Kolonel Latief memberitahukan kepadanya tentang gerakan perwira
muda yang akan menangkap sejumlah jenderal sebelum Hari ABRI 5 Oktober 1965?
Bukankah justru Suharto yang mengkhianati Pancasila, mengkhianati Saptamarga
dan para jenderal rekan-rekannya sendiri dengan membiarkan semua gerakan itu
berlangsung?

Kita semua baru tahu belakangan sesudah rencana konspirasi meledak – rupanya
informasi Kol. Latief itu berkaitan dengan gerakan Letkol. Untung terhadap Jenderal
Yani cs - tetapi apa yang dikerjakan Suharto yang sudah tahu beberapa hari sebelum
kejadian berlangsung?" Jenderal Suharto justru menangguk di air keruh, dia bagian
penting dari konspirasi itu dengan menempuh jalannya sendiri!

Jenazah para jenderal tersebut dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua di Lubang
Buaya yang kemudian digali pada 4 Oktober 1965. Dalam keadaan emosional
kesedihan orang banyak sejak penggalian jenazah, pemakaman di Kalibata,
dimulailah kampanye hitam terhadap PKI dan ormas pendukungnya, utamanya
Gerwani berupa dongeng horor fitnah tentang tindakan biadab terhadap para
jenderal seiring dengan fitnah terhadap AURI dan petingginya. Setelah situasi
matang, maka dilakukanlah gerakan militer untuk melakukan pembunuhan massal
dengan menggunakan emosi tinggi sebagian rakyat terhadap anggota PKI dan siapa
saja yang dianggap PKI serta pendukung Bung Karno yang lain di Jateng, Jatim, Bali,
dan akhirnya di seluruh Indonesia. Hal ini dilanjutkan dengan pembersihan terhadap
siapa saja, utamanya aparat yang mendukung BK, pertama-tama AURI selanjutnya di
kalangan ABRI yang lain. Muaranya ialah menjatuhkan Presiden Sukarno.

Hari Kesaktian Pancasila diabadikan dalam bentuk Monumen Pancasila Sakti yang
terletak di Lubang Buaya, Pondokgede, Jakarta. Gagasan mendirikan monumen ini
dituangkan dalam surat perintah Men Pangad Brigjen Hartono pada 2 Desember
1965, ketika pembantaian rakyar tak berdosa sedang berjalan. Disebutkan monumen
tersebut merekam fakta-fakta pemberontakan G30S/PKI, teror, penculikan,
pembunuhan, perebutan kekuasaan hendak meruntuhkan negara Pancasila RI.
Mayjen dokter Soedjono yang menulis buku Monumen Pancasila Sakti (1973)
melukiskan apa yang disebutnya kebiadaban di Lubang Buaya antara lain seperti
berikut.

Segerombolan perempuan Gerwani berteriak melompat-lompat, menari. Dengan


tiada rasa kemanusiaan mereka memainkan pisau silet ke tubuh Jenderal Prapto.
"Jenderal Prapto telah meninggal dianiaya oleh gerombolan haus darah yang tak
mengenal Tuhan kecuali dewa-dewa mereka Marx, Lenin dan Aidit"

Betapa entengnya Pak Jenderal Dokter tersebut ikut memfitnah, yang tentunya sudah
digodok dalam dinas intelijen. Kita tidak tahu apakah Pak Dokter yang tentunya
orang saleh beragama ini di kemudian hari menyesal akan fitnah yang ikut
disebarkannya dan menancap pada sebagian rakyat dan meracuni generasi muda
Indonesia. Fitnah model itulah yang antara lain diabadikan dalam diorama pada apa
yang disebut Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya.

Meski monumen ini berisi fitnah, tapi kelak jangan sampai dihancurkan,
tambahkanlah satu plakat yang mudah dibaca khalayak: "Di sini berdiri monumen
kebohongan", agar kita semua belajar bahwa pernah ada masanya suatu rezim
menghalalkan segala cara untuk menopang kekuasaannya, dengan fitnah paling
kotor dan keji pun.
Serial G30S [9]
GEMBONG G30S, SYAM KAMARUZAMAN
Oleh : Harsutejo
Telah lama beredar desas-desus, Syam Kamaruzaman, gembong G30S yang
misterius itu masih hidup. Setelah jatuhnya Suharto pada 21 Mei 1998, desas-desus
itu menjadi lebih gencar dalam alam keterbukaan. Bahkan ada yang mengaku pernah
bertemu dengan Syam di Meksiko. Eksekusi 1986 bersama Supono Marsudijoyo alias
Pono boleh jadi benar, tetapi Syam "yang lain," begitu argumennya. Amat menarik,
pihak AD telah mengidentifikasi paling tidak 3 (tiga) "Syam" seperti tersebut di
bawah. Selama itu penampilan Syam berubah-ubah, ia misterius antara lain karena
riwayat hidupnya yang tidak jelas. Konon ia membujang sampai umur 40 tahunan,
juga tidak diketahui bagaimana keluarganya. Nama aslinya ialah Syamsul Qomar bin
Mubaidah, dalam dokumen 1960-an disebut Kamarusaman bin Ahmad Mubaidah.
Nama samarannya Sjamsuddin, Djiman, Karman, Ali Muchtar, Ali Sastra. Nama
terakhir ini tertera di dalam KTP pada saat ditangkap di Cimahi 8 Maret 1967.

Menurut Letkol Ali Said SH, Syam bukan tokoh PKI sepele, ia dapat disejajarkan
dengan DN Aidit. Ia sebagai jendral intel PKI yang menjadi anggota PKI sejak 1949.
Teman-teman dekat Syam ketika muda tidak percaya ia memiliki kaliber semacam
itu. Sejak pindah ke Yogya riwayat yang sebenarnya menjadi buram. Ada yang
mengatakan ia adik kelas Munir (kelak ketua SOBSI) di Sekolah Dagang. Ada yang
mengatakan ia di Taman Siswa karena menjadi anggota diskusi 'Kelompok Pathuk' 43
yang mayoritasnya dari Taman Siswa. Menurut Prof Dr Ir Haryosudirjo, mantan
menteri masa Bung Karno, Syam bersekolah di SMT(teknik). Syam bertindak sebagai
intel di Resimen 22 Brigade 10, Divisi Diponegoro dengan pangkat Letnan Satu, eks
Laskar Gabungan Yogya. Begitu komentar spontan anggota tim Mahmillub, Subono
Mantovani SH ketika melihat foto Syam; di masa Yogya itu Subono Mantovani juga
berpangkat letnan satu, sebelumnya berada dalam satu kelompok Pathuk bersama
Letkol Suharto. Komandan resimennya ketika itu Mayor Haryosudirjo tersebut di atas.
Berdasar pengakuan Syam yang diceritakan kepada Latief, ia berada dalam pasukan
Suharto ketika SU 1 Maret 1949.

Syam seorang pemuda yang mendapatkan arahan Johan Syahruzah, tokoh PSI di
kelompok Pathuk. Para pemuda Pathuk ini yang memprakarsai permintaan agar Sri
Sultan mengajak anggota BKR Suharto untuk berdiplomasi dengan Jepang guna
menyerahkan senjatanya. Di antara para pemuda itu terdapat Sumantoro dan
Syamsul Qamar Mubaidah. Bersama Suharto mereka mendatangi markas Jepang
pada masa kemerdekaan itu. Jadi Suharto telah mengenal Syam sejak permulaan
kemerdekaan, demikian tulis AM Hanafi.

Sekitar 1947 Syam mulai berkenalan dengan DN Aidit yang mengajaknya untuk aktif
di Pemuda Tani, afiliasi BTI. Sebagai intel pada Batalyon 10 Yogya, Lettu Syam di
bawah Letkol Suharto. Sejak itu Syam berhubungan dekat dengan Aidit maupun
Suharto. Hubungan persahabatannya dengan Suharto berjalan selama 20 tahun.

Suharto tentu saja tak pernah menyinggung sedikit pun kalau ia telah mengenal
orang misterius yang bernama Syam ini sudah sejak lama, seolah ia orang yang tak
pernah tahu menahu dengan tokoh ini. Pada tahun 1949 Syam pindah ke Jakarta
membantu Munir di BTI. Sekitar 1950 Syam mendirikan SBP(elayaran) dan SBB(ecak)
yang bermarkas di Jl Guntur, Jakarta. Sebagai ketua SBP pada 1950 ia membantu
pembebasan Aidit yang baru datang dari Vietnam [menurut mitos] yang ditahan di
Tanjungpriok karena tidak punya tiket.

Pada tahun 1950-57 ia di SOBSI Jakarta, lalu sebagai sekretaris. Pada 1957 ia
diangkat sebagai pembantu pribadi Aidit, Ketua PKI. Dalam setahun ia masuk
kepengurusan sebagai anggota Departemen Organisasi. Ia disebut sebagai pernah
menjadi informan Komisaris Polisi Mudigdo di Pati yang kelak menjadi mertua Aidit.
Barangkali dari sini pulalah Aidit kemudian menjalin hubungan dekat dengan Syam,
serta memberikan kepercayaan besar kepadanya. Peter Dale Scott menyebut Syam
sebagai seorang kader PSI, pada tahun 1950-an ini juga ia sering datang dan
menginap di rumah Suharto di Yogya. Menurut Subandrio, yang juga Ketua Badan
Pusat Intelijen (BPI), pada 1958 Syam perwira intelijen AD serta mitra lokal CIA.
Dengan demikian Syam mempunyai hubungan tertentu dengan CIA, baik secara
langsung atau pun tidak. Ketika Kolonel Suharto memasuki Seskoad di Bandung,
Syam ikut serta dalam kursus militer itu, demikian menurut penyelidikan.
Poulgrain. Hubungan mereka begitu rumit. Kolonel Suwarto dididik di Amerika, ia
sahabat Guy Pauker, orang penting CIA dalam hubungan dengan Indonesia, pernah
mengajar di Barkeley, konsultan RAND Corporation yang menitikberatkan kontak-
kontaknya dengan kalangan militer AD Indonesia. Suwarto pernah diundang Pauker
meninjau perusahaan tersebut pada 1962. Pauker mendapat tugas melakukan sapu
bersih terhadap PKI. Antara lain lewat Suwarto lah CIA melakukan operasinya
misalnya dengan apa yang disebut civic mission AD, yang sebenarnya merupakan
civic action CIA dalam melakukan kontak-kontak dengan kelompok anti komunis di
kalangan AD. Rupanya lewat jalur inilah Suharto pertama kali berhubungan dengan
CIA.

Berdasar pemeriksaan dokumen-dokumen yang ada di AS, Belanda dan Indonesia,


dalam majalah resmi PSI nama Syam tercantum sebagai Ketua PSI Ranting
Rangkasbitung, Banten. Dalam arsip Belanda Syam tercatat sebagai intel Recomba
Jawa Barat. Recomba merupakan pemerintah federal boneka Belanda, bisa saja Syam
menyelundup menjadi spion untuk mengorek rahasia Belanda, akan tetapi hal ini
aneh. Dalam berbagai koran 1950-an ia disebut sebagai informan dari Komando
Militer Kota (KMK) Jakarta. Sejumlah narasumber perwira yang menjadi tapol di
Salemba menyebutkan Syam pada tahun 1951 tercatat sebagai kader PSI yang
mendapatkan pelatihan partai itu di antara 29 kader yang lain.

Syam - Sang Agen Ganda?

Pada 1960-an dengan bentuk lebih jelas pada 1964 Syam diangkat menjadi ketua
Biro Chusus (BC), suatu jaringan intelijen PKI yang hanya mempunyai hubungan
langsung dengan Aidit selaku ketua Politbiro CC PKI. Tugas Syam, pertama
mengumpulkan info untuk diolah dan diserahkan kepada Aidit. Kedua, membangun
sel-sel PKI di tubuh ABRI dan membinanya. Tugas Syam yang lain mengadakan
evaluasi dan melaksanakan tugas-tugas yang tak mungkin dilakukan alat-alat formal
PKI. BC mempunyai aparatnya sendiri yang tidak diketahui oleh pimpinan formal PKI.
Ia memberikan laporan, mengolah informasi dan menyampaikannya kepada Aidit
secara langsung. Oleh Aidit bahan-bahan dan keputusan disodorkan pada Politbiro
untuk disetujui dan dilaksanakan.

Menurut orang-orang PKI yang pernah dekat dengan dirinya, ia dengan enteng
mengeluarkan pestol dan meletakkannya di meja jika kehendaknya ditentang.
Menurut seseorang yang mengaku sebagai mantan agen CIA, Suharto mendapat
perhatian cukup dari BC PKI dan dibina melalui Syam, Untung dan Latief. Dalam hal
ini Suharto mendapat kategori sebagai 'orang yang dapat dimanfaatkan'.

Hal ini cocok dengan keterangan Untung dan Latief bahwa Suharto akan membantu
gerakan mereka, dan dibuktikan dengan didatangkannya Yon 530 dan Yon 454 dalam
keadaan siap tempur. Sedang yang lain menamainya sebagai trio sel PKI.

Pada tahun 1967 majalah Ragi Buana menamai Syam sebagai 'double agent' ia
menjadi informan Kodam Jaya sejak 1955 sampai kudeta 1965. Untuk memperdalam
ilmunya pada 1962 ia dikirim ke RRT, Korea Utara dan Vietnam, termasuk
memperdalam bidang intelijen terutama menyangkut strategi mempersiapkan dan
menggerakkan pemberontakan bersenjata. Di Vietnam ia melakukan pekerjaan
praktek di lapangan. Majalah ini menyebut Syam dan Aidit telah terjebak ke dalam
jaring-jaring spionase Washington, Peking dan Moskow. Sebutan double agent
digunakan koran-koran dan radio termasuk radio Nederland ketika itu, selanjutnya
pers tidak lagi menggunakan istilah tersebut. Rupanya Kopkamtib kemudian sangat
berkeberatan akan penggunaan istilah itu yang dapat merugikan Jenderal Suharto,
lalu melarangnya. Sebagai Ketua BC PKI, Syam lapor langsung kepada Aidit. Karena
Aidit satu-satunya pimpinan PKI yang membentuk BC serta mengetahui personelnya,
maka BC ini merupakan partai dalam partai dengan Syam sebagai orang
tertingginya.

Seperti disebutkan oleh Sudisman, BC dibentuk tanpa persetujuan CC PKI, dalam hal
ini Aidit telah melanggar konstitusi partai. Dengan demikian BC bukan aparat partai,
tetapi aparat Aidit. Di pihak lain yang mengontrol seluruh struktur aparat dan sepak
terjang BC bukan Aidit, tetapi Syam. Jika Syam seorang agen ganda, maka praktis
seluruh struktur BC merupakan alat dalam kendali musuh PKI.

Peran Syam

Banyak saksi sejarah teman-teman Syam meragukan peran besarnya dalam G30S. Ia
sama sekali tidak memberikan kesan sebagai pemikir, artinya ia sekedar wayang
yang dimainkan oleh dalang mahir di balik layar sejarah. Di Yogya ia memang pernah
berada di lingkungan olah pikir. Kadang-kadang ia datang ke kelompok diskusi
Mahameru I, sebuah rumah di belakang SMA 3 Yogya, kemudian menjadi kantor PSI.
Tempat itu untuk diskusi antara lain Sutan Syahrir dan HA Salim.
Menurut Sumadi Mukajin, Syam dikenal pendiam, tertutup dan... agak goblok. Sedang
Kelompok Pathuk kemudian berkembang menjadi salah satu simpul terkuat jaringan
politik bawah tanah Syahrir. Di situ buku-buku Marx, Adam Smith, Machiaveli, Gandhi,
Lenin dsb menjadi bahan kajian.

Terdapat persamaan modus operandi antara percobaan kudeta 3 Juli 1946 yang telah
menculik PM Syahrir dengan G30S. Mula-mula Letkol Suharto berada dalam satu kubu
dengan atasannya Komandan Divisi Mayjen Sudarsono. Mereka, termasuk pasukan
Suharto menduduki RRI dan Kantor Telepon Yogya pada 2 Juli 1946. Anehnya
kemudian Letkol Suharto berbalik menangkap kelompok yang mencoba melakukan
kudeta. Ketika itu Syam sebagai intel Batalion 10 pimpinan Letkol Suharto. Rupanya
G30S merupakan ulangan permainan politik semacam itu.

Bagaimana sebenarnya hubungan Syam dengan Letkol Untung cs?

Menurut Kolonel Latief, Syam telah memotong jalur atau melakukan intersepsi
terhadap pasukan Lettu Dularip. Ia mengenal Syam sebagai intel pembantu
atasannya Letkol Untung. Ketika Dularip bertanya bagaimana caranya mengajak para
jenderal itu untuk menghadap Presiden Sukarno, maka Syam tegas menjawab
dengan mantap, "Tangkap, hidup atau mati". Syam sendiri di Mahmilub menyebutnya
sebagai perintah Aidit, sesuatu yang bertentangan dengan perintah Letkol Untung.

Tidak ada bukti dan alasan apa pun juga yang dapat diketengahkan apa sebabnya
G30S membunuh para jenderal yang diculiknya dalam keadaan terpaksa meskipun
beberapa orang memang melawan. Dengan demikian ini merupakan skenario
aslinya.

Siapakah sebenarnya yang memerintahkan Syam melakukan tindakan semacam itu?


Yang pasti tindakan itu sama sekali tidak menguntungkan gerakan G30S. Berbagai
pengumuman Dewan Revolusi termasuk pembentukan Dewan Revolusi itu sendiri
yang sama sekali tidak menyebut nama Sukarno sangat tidak menguntungkan baik
G30S secara keseluruhan maupun Untung cs dan Aidit. Dengan telah
ditembakmatinya Aidit tanpa diajukan ke pengadilan maka Syam mempunyai
kesempatan untuk memonopoli seluruh keterangan tentang G30S dalam
hubungannya dengan PKI. Hanya Syam sebagai Ketua BC PKI dan Aidit sebagai Ketua
Politbiro PKI yang mengetahui seluk beluk biro tersebut dalam hubungan dengan
peristiwa G30S serta hubungannya dengan sejumlah perwira militer.

Demikianlah keterangan-keterangan Syam dalam persidangan Mahmillub, baik


sebagai terdakwa maupun saksi telah memonopoli fakta-fakta yang seluruhnya
menjurus kepada digiringnya Aidit dan PKI sebagai terdakwa yang sebenarnya,
dengan pion-pionnya Letkol Untung dan kawan-kawannya. Maka Syam bertindak baik
sebagai dirinya maupun sebagai Aidit tanpa secuwil pun keterangan Aidit.. Nama
Syam berada dalam daftar gaji Kodam Jaya. Di Kodam Jaya Syam berhubungan
dengan Latief, di samping hubungannya dengan Kostrad. Agar lebih meyakinkan
maka dalam semua proses kemunculan Syam, ia dilukiskan sebagai seorang komunis
sejati yang amat dekat dengan Ketua Aidit. Syam selalu mengakui dia yang
memberikan perintah, dan perintah itu semuanya berasal dari Aidit. Pendeknya Aidit
merupakan dalang seluruh peristiwa. Ia toh tidak akan membantahnya dari kubur.

Begitu Syam mempunyai kesempatan bicara, ia begitu bernafsu menceritakan apa


saja yang ia ketahui tentang G30S. Di pengadilan ia menyombongkan dirinya sebagai
otak di belakang gerakan. Buku Putih menyebutkan salah satu pekerjaan Syam
melakukan penyusupan ke tubuh Angkatan Bersenjata dan melakukan apa yang
disebut pembinaan. Dalam kenyataannya ia telah melakukan pembinasaan, bukan
pembinaan terhadap sejumlah besar personel ABRI yang berhaluan kiri dan
pendukung BK. Rupanya ia memang mempunyai misi melakukan infiltrasi ke tubuh
ABRI untuk mencari tahu dan mengidentifikasi siapa-siapa yang termasuk 30%
personel simpatisan PKI yang telah mencoblos palu-arit dalam pemilu 1955, untuk
didepak, dihukum dan dilenyapkan sebagai kelanjutan rasionalisasi yang tak tuntas
masa pemerintahan Hatta. Dengan demikian ia membentuk BC sebagai partai dalam
partai dengan pola yang sama seperti yang dilakukan AD yakni negara dalam negara.
Demikian analisis MR Siregar tentang peran besar Syam bagi PKI.

Seluruh pengakuan dan "pengakuan" serta tindakan Syam tidak secuwil pun
merupakan pembelaan terhadap PKI atau Aidit. Sebaliknya ia terus menerus
mendiskreditkannya. Dengan demikian ia tidak bekerja untuk PKI atau Aidit. Maka
tidak aneh jika banyak orang termasuk para pengamat dan pakar mempertanyakan
orang misterius ini, dan untuk siapa ia bekerja. Seluruh proses Mahmillub diarahkan
untuk menggiring pembenaran tuduhan terhadap PKI serta menjeratnya dari segi
hukum, sedang di lapangan dilakukan pembantaian tanpa ampun. Dengan demikian
seolah segalanya dilandasi hukum.

Kegiatan Setelah Gagal

Berbeda dengan tokoh PKI lain yang terus terbaca gerak geriknya selama buron
seperti ditulis Buku Putih, tampaknya buku ini "kesulitan" menjelaskan sepak terjang
Syam di Jawa Barat sebelum ditangkap pada tahun 1967. Bersama itu intelijen militer
mampu mengikuti terus kegiatan bawahtanah pimpinan PKI kecuali Syam. Begitu
hebatkah jenderal intel PKI ini berkelit bagaikan siluman hingga kegiatannya tidak
terdeteksi?

Baru saja didemonstrasikan betapa konyol dan cerobohnya rancangan dan jalannya
peristiwa G30S, sejak dari penculikan, eksekusi para jenderal dan pengumuman-
pengumuman RRI Jakarta atas nama Letkol Untung dengan Dewan Revolusinya,
buruknya logistik dsb. Seperti disebut Jenderal Nasution, mereka tidak membuat
rencana alternatif, dan ini berarti secara strategis sudah suatu kegagalan.
Selanjutnya ketika komandan kontrol G30S menghubungi tiga sektor yang telah
mereka bentuk, sebagai disebut Brigjen Suparjo, semuanya kosong. Bukankah ini
salah satu indikasi kuat Syam sebenarnya berada di kubu lain yakni kubu Jenderal
Suharto, yang kegiatan sebenarnya juga untuk sang jenderal? Dia sendiri yang
melakukan sabotase terhadap gerakan yang dikendalikannya. Gerakan ini dirancang
untuk gagal. Maka Latief berkeyakinan Syam tidaklah bertindak atas nama pribadi,
dan yang dituding olehnya tak lain daripada Jenderal Suharto.
Betapa rumitnya hubungan Syam yang konon pernah mengenyam pendidikan
intelijen di Vietnam, Korea Utara dan Cina ini, sekaligus juga pendidikan Seskoad.
Dunia intelijen memang selalu ruwet tidak sederhana, berliku-liku, terbuka untuk
segala hal dan kemungkinan yang paling kontradiktif pun serta hampir-hampir mokal,
tetapi tertutup rapat bagi dunia luar. Seorang ksatria pahlawan penumpas kudeta
militer berlumuran darah mungkin sekali adalah salah satu pelaku utama di baliknya,
suatu ironi yang menjungkirbalikkan segala hal. Dan itu bernama dunia intelijen.

Menurut keyakinan sementara orang seperti tersirat dalam buku Hanafi dan
Subandrio, bertahun-tahun Syam sebenarnya telah memasang jebakan untuk Aidit
dengan menjalin hubungan pribadi maupun hubungan organisasi partai. Hubungan
itu terus meningkat dengan meningkatnya keterampilan Syam dalam bidang intelijen
yang telah digaulinya sejak jaman revolusi fisik. Begitu hebatkah tokoh ini, atau dan
begitu bodohnyakah DN Aidit sebagai Ketua Politbiro beserta pendukungnya?

Ada 'Tiga Orang Syam'?

Syam ditangkap pada 8 Maret 1967 di Cimahi. Berdasarkan dokumen-dokumen CIA


yang telah dibuka untuk umum seperti dicatat oleh Peter Dale Scott, pesakitan itu
merupakan orang ketiga yang diidentifikasi oleh pihak AD sebagai orang yang
bernama 'Syam'. Jadi paling tidak ada tiga orang 'Syam'. Ia ditahan di RTM Budi
Utomo Jakarta pada 27 Mei 1967. Beberapa bekas tahanan politik yang pernah
berkumpul atau dekat dengan sel tempat Syam, menyatakan selama ditahan ia
bertindak seperti seorang bos. Ia dapat mondar mandir dengan leluasa di tahanan,
mengenal banyak petugas militer seperti berada di lingkungannya sendiri. Banyak
tahanan politik yang dianggap cukup penting dibawa ke RTM untuk dapat
diidentifikasi oleh Syam agar bisa "mendapatkan tempat yang tepat". Sering ia tiba-
tiba tidak berada di tempat tanpa diketahui oleh orang lain akan keberadaannya.

Sangat umum diketahui para tapol, ada sejumlah orang yang dekat dengan para
pejabat, memberikan berbagai informasi yang benar maupun karangannya sendiri,
ketika diminta atau tidak untuk meringankan dirinya sendiri dan memberatkan orang
lain. Bahkan beberapa orang dijadikan interogator dan ikut menyiksa teman-
temannya sendiri, ikut serta dalam operasi penangkapan dsb. Orang semacam itu
biasanya disebut pengkhianat, biasanya dengan cepat dapat diketahui oleh tapol
yang lain. Syam jauh lebih rumit dan lebih "besar" daripada sekedar kelompok ini.
John Lumengkewas, seorang mantan Wakil Sekjen PNI dan ditahan selama 7 tahun
menuturkan kesaksiannya ketika ditahan di RTM tentang tokoh Syam. Ia punya
pengetahuan ensiklopedis bagi orang-orang yang dituduh PKI. Ia mendapat perlakuan
istimewa di RTM, berbeda dengan tapol lainnya. Fasilitas di selnya mewah untuk
ukuran waktu itu, menu makanannya berbeda, ia bebas berada di luar sel, akrab
berbincang-bincang dengan petugas. Dia sebentar-sebentar dipanggil oleh petugas
dari pintu blok, lalu pergi ke kantor RTM. Nampak sekali Syam sudah lama
berhubungan dengan kalangan ABRI tertentu. Oei Tjoe Tat SH, mantan Menteri
Negara yang juga pernah ditahan di RTM, menggambarkan Syam sebagai orang yang
tidak tahu diri. Kalau ia keluar untuk diperiksa, orang lain menjadi tidak tenteram
karena ulahnya. Ia orang misterius yang dijauhi oleh para tahanan yang lain.

Syam dijatuhi hukuman mati oleh Mahmillub pada 9 Maret 1968. Di tahun-tahun
berikutnya ia menyombongkan diri kepada rekan-rekannya di penjara bahwa ia masih
bertahan hidup meski sudah dijatuhi hukuman mati. Ia selalu memiliki informasi
untuk diberikan dalam kesaksian terhadap orang lain yang diadili selama bertahun-
tahun. Ia mulai masuk penjara Cipinang pada 27 Oktober 1972. Menurut kesaksian
para tapol, Syam dan komplotannya Subono masih bisa keluar penjara serta menulis
laporan untuk kepentingan AD. Bahkan pada awal tahun 1980, ia keluar masuk di
berbagai instansi militer. Menurut keterangan seorang mantan perwira Kopkamtib,
Syam memang dipakai sebagai informan militer.

Berdasarkan catatan, Syam diambil dari Cipinang pada 27 September 1986 jam
21.00 oleh petugas Litkrim Pomdam Jaya atas nama Edy B Sutomo (Nrp.27410), lalu
dibawa ke RTM Cimanggis. Tiga hari kemudian tengah malam bersama dua
kawannya ia dibawa dari Cimanggis dan pada jam 01.00 sampai ke Tanjungpriok.
Mereka diangkut dengan kapal laut militer ke sebuah pulau di Kepulauan Seribu dan
dieksekusi pada jam 03.00. Tak ada keterangan mengapa pelaksanaan eksekusi
terhadap Syam – dan sejumlah tokoh yang lain - terus diulur-ulur hingga 14 tahun
dihitung dari sejak masuk Cipinang, bahkan 18 tahun bila dihitung sejak vonis
Mahmillub.

Adakah itu Syam yang asli atau 'Syam' yang lain? Agaknya akan tetap menjadi
misteri sebagaimana misteri berbagai hal seputar G30S. Menurut pengakuan Latief
ketika ditahan di Cipinang pada 1990 ia berada satu blok dengan Syam. Sementara
itu seorang pejabat di lingkungan Depkeh RI menyatakan Syam dikeluarkan dari
Cipinang pada September 1986 atas izin Presiden Suharto. Antara dua keterangan ini
sekedar perbedaan waktu, mungkin saja Latief tidak akurat. Jalannya peristiwa
menunjukkan peran agen Syam menjadi salah satu kunci penting keberhasilan
operasi yang sedang dilancarkan oleh sahabat lamanya, Jenderal Suharto.
Mungkinkah orang yang agaknya tahu betul akan "isi perut" Suharto dalam hubungan
dengan G30S dibiarkan hidup bebas? (Petikan dari Harsutejo, "Sejarah Gelap G30S" -
revisi).

Serial G30S [8]


TOKOH G30S, BRIGJEN SUPARJO DIRANCANG UNTUK GAGAL
Oleh : Harsutejo
Ia berasal dari Divisi Siliwangi, pasukan Suparjo lah yang telah berhasil menangkap
gembong DI Kartosuwiryo dan mengakhiri pemberontakan DI di Jawa Barat.
Kemudian ia ditugaskan ke Kostrad, lalu menjabat sebagai Panglima Kopur II Kostrad
di bawah Jenderal Suharto. Tokoh ini juga cukup dekat dengan Suharto.

Hampir dapat dipastikan bahwa tokoh ini pun, seperti kedua tokoh sebelumnya yakni
Letkol Untung dan Kolonel Latief, seseorang yang memiliki kesetiaan tinggi kepada
Presiden Sukarno. Suparjo merupakan anggota kelompok yang biasa disebut
kelompok Kolonel Suwarto (Seskoad Bandung), yang di dalamnya terdapat Alamsyah,
Amir Makhmud, Basuki Rakhmad, Andi Yusuf, Yan Walandow. Yang terakhir ini
seorang kolonel yang ikut pemberontakan Permesta, kemudian menjadi pengusaha.
Ia mempunyai hubungan lama dengan CIA dan menjadi petugas Suharto dalam
mencari dana dari luar negeri. Ia pun anggota trio Suharto-Syam-Latief cs [Untung,
Suparjo]. Begitu tulis AM Hanafi. Ketika Mayjen Suharto melakukan perjalanan ke
Kalimantan sebagai Wakil Panglima Kolaga, ia menyempatkan diri menemui anak
buahnya, Brigjen Suparjo.

Sebagai komandan pasukan tempur dalam hubungannya dengan konfrontasi


terhadap Malaysia, Suparjo sangat risau terhadap korupsi para pembesar militer AD
dalam pengiriman suplai ke garis depan. Kenyataan itu sangat mengurangi kekuatan
dan semangat pasukannya bahkan membuat frustasi. Malahan dia tidak memiliki
pasukannya sendiri yang dapat digerakkan dengan efektif.
Peran apa pula yang dimainkan olehnya selain yang telah diumumkan oleh
Mahmillub? Adakah ketiga tokoh militer ini secara sendiri-sendiri atau pun bersama
(serta sejumlah yang lain) telah masuk ke dalam perangkap yang dipasang Syam
atas skenario Suwarto-Suharto-CIA? Ia disebutkan sebagai memiliki hubungan erat
dengan tokoh yang selalu 'berada di mana-mana', Syam Kamaruzaman. Sejauh mana
apa yang disebut sebagai 'hubungan erat' itu tidak ada penjelasan lebih jauh. Perlu
ditambahkan Brigjen Suparjo pernah mendapatkan pendidikan militer di Amerika
yakni di Fort Bragg dan Okinawa. Tentulah pemilihannya selain berdasar kriteria di
dalam negeri yakni pihak AD, juga telah melalui seleksi ketat baku yang dikendalikan
oleh CIA. Sampai di mana tangan dinas rahasia CIA bermain dalam hubungan ini?

Di depan Mahmilub jenderal ini telah menantang agar bukan cuma G30S yang diadili,
tetapi juga Dewan Jenderal (DJ). Untuk itu ia siap membuktikan keberadaan DJ,
kegiatan mereka masa prolog yang menjurus pada peristiwa G30S dan masa yang
sama serta bahan-bahan setelah kejadian. Tentu saja permintaan semacam itu hanya
menjadi suara di padang pasir tanpa gaung dalam situasi pengadilan penuh rekayasa
serta tekanan politik dan penindasan fisik masif rezim Orba.

Sedang permintaan sederhana yang amat wajar dari Sudisman di Mahmilub untuk
menghadirkan Suparjo sebagai saksi tidak dipenuhi.

Ia pribadi yang disukai bawahannya, seorang militer yang setia kepada BK. Ketika
ditahan di RTM Budi Utomo, Jakarta, dalam keadaan diisolasi ia mendapat simpati
banyak orang, dari petugas maupun tahanan lain. Ia tidak mau diistimewakan
meskipun ia seorang jenderal. Ia membagikan kiriman yang diterimanya kepada
tahanan lain.

Sikap dan tingkah lakunya pada hari-hari terakhirnya di RTM sangat mengesankan,
jantan, bermutu jenderal, sopan dan ramah terhadap siapa pun. Demikian yang
dicatat oleh Oei Tjoe Tat. Salah seorang putra Jenderal Suparjo mengisahkan detik-
detik terakhir sebelum dia dieksekusi pada 16 Mei 1970. Ketika bertemu keluarganya,
dia meminta mereka menggenggam dan menghancurkan sebuah apel, lalu dia
memberikan ke masing-masing anaknya apel yang telah digigitnya untuk
dihancurkan. "Kalau kalian terdiri dari kepingan-kepingan kecil, akan gampang
dihancurkan. Tapi jika kamu bersatu, mungkin akan hancur, tapi diperlukan kekuatan
besar.......". Pada saat terakhir, "Saya lihat ayah berjalan menuju tempat eksekusi.
Dia mengenakan baju olahraga putih yang menurut dia bisa sekaligus untuk kafan.
Ayah tenang berjalan menuju lapangan sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya"
Demikian yang ditulis Tempo 9 Oktober 2005.

Menurut ulasan David Johnson dari perjalanan karier ketiga tokoh G30S, maka
hubungan mereka bukan karena mereka tergolong "perwira progresif", tetapi karena
keterpautan ketiganya dengan Jenderal Suharto. Selanjutnya penetrasi intelijen AD
dan CIA terhadap AU dan Yon Cakrabirawa sangat masuk akal seperti halnya
penetrasi terhadap PKI. Menurut penulis yang sama, ketiga tokoh ini merupakan
aktor komplotan yang cerdik dari rancangan CIA-Suharto. Jika demikian halnya, CIA
juga akan melancarkan operasi perlindungan dan pemberian identitas baru bagi
mereka untuk kemudian dimukimkan di luar Indonesia, suatu prosedur standar CIA.

Akan tetapi risiko besar akan kebocoran menjadi lebih cocok jika mereka dilenyapkan
setelah dimanfaatkan David Johnson yang menulis makalahnya pada 1976 untuk
keperluan penyelidikan yang dilakukan oleh Komite Church pada Kongres AS seputar
peran AS dalam pembunuhan massal di Indonesia 1965/1966, luput mengamati
peran cukup penting sang agen yang sangat berpengalaman yang bernama Syam
Kamaruzaman.

Sebagai diulas oleh Letkol (Pnb) Heru Atmodjo, jika G30S itu suatu gerakan militer
yang serius, [bukan sekedar dirancang untuk gagal, hs], seharusnya dipimpin
seorang jenderal seperti Brigjen Suparjo yang secara intelektual maupun pengalaman
lapangan memadai. Salah satu kupasan mutakhir sejarah G30S ialah buku John
Roosa (2007) yang menganalisis apa yang disebut sebagai "dokumen Suparjo" yang
juga dijuluki sebagai "jenderal merah." [sayang penulis belum berhasil mendapatkan
buku ini]. Dalam buku Jenderal Nasution (1988), dokumen ini telah diulasnya secara
singkat, antara lain sbb :

(1) Tidak ada diskusi maupun rancangan Syam dkk menghadapi kegagalan gerakan,
semuanya beres, pasti menang;
(2) Setelah gagal, mereka bingung, tidak ada perintah jelas, pimpinan operasi tidak
menarik kesimpulan apa pun;
(3) Pasukan tidak mendapat makanan, bahkan ada yang minta ke Kostrad. Pasukan
meninggalkan RRI tanpa ada instruksi;
(4) Rapat memutuskan menghentikan perlawanan, masing-masing bubar, pulang,
sambil menunggu situasi.

Dari butir pertama, Jenderal Suparjo memposisikan dirinya berada di luar Syam dkk.
Hal ini sesuai dengan kenyataan ia tidak ikut serta dalam serangkaian pertemuan
persiapan yang dilakukan Syam dkk. Dari butir ini dan selanjutnya menjurus dan
memperkuat kesimpulan, G30S dirancang untuk gagal. (Petikan dari Harsutejo,
"Sejarah Gelap G30S," - revisi).

Serial G30S [7]


TOKOH G30S, KOLONEL ABDUL LATIEF
Oleh : Harsutejo

Pemeran G30S ini juga pernah menjadi anak buah Suharto di Divisi Diponegoro. Ia
ikut ambil bagian sebagai salah satu komandan kompi yang berani dalam SU 1 Maret
1949 di Yogya yang dipimpin Letkol Suharto. Akhirnya Latief menjadi Komandan
Brigade Infanteri I Kodam Jaya, suatu kedudukan strategis. Sebagai Komandan
Kostrad pun Suharto mendekati Kolonel Latief antara lain dengan mendatangi
rumahnya ketika Latief mengkhitankan anaknya. Menurut Subandrio hal ini
merupakan suatu langkah “sedia payung sebelum hujan”, suatu saat ia akan dapat
memanfaatkannya. Di samping itu “Latief mengantongi rahasia skandal Suharto
dalam Serangan Umum 1 Maret 1949” seperti yang tercantum dalam pembelaannya
di depan Mahmilub pada 27 Juni 1978.

Letkol Suharto tidak banyak mengambil bagian dalam SU itu, ia hanya enak-enak
berada di garis belakang yang aman sembari makan soto di warung sebagai yang
diceritakan Latief ketika pertempuran seru terjadi dan cukup banyak korban jatuh.
Adegan ‘Suharto makan soto babat’ itulah yang disebut Subandrio sebagai “skandal
Suharto”. Dalam pasukan Kapten Latief yang masuk ke Yogya dari Godean itu
bergabung juga laskar Pesindo yang sudah bersiap di dalam kota di bawah pimpinan
Supeno dan Pramuji, menurut AM Hanafi merupakan kekuatan militan serangan
umum tersebut.

Hubungan Latief Dengan Suharto

Latief sendiri menyatakan karier kemiliterannya nyaris selalu mengikuti jejak Suharto.
Pada gilirannya membuat hubungan Latief dan Suharto bukan lagi sekedar bawahan
dan atasan, melainkan sudah sebagai dua sahabat. Suharto tahu Latief tak akan
melakukan sesuatu yang dapat merugikan dirinya. Sudah sejak setelah agresi kedua,
Latief merasa selalu mendapatkan kepercayaan dari Suharto sebagai komandannya
yakni memimpin pasukan pada saat yang sulit. Ketika Trikora pun ia masih dicari
bekas komandannya itu, tetapi Latief sedang mengikuti Seskoad. Pada bulan Juni
1965 Mayjen Suharto meminta agar Latief dapat memimpin suatu pasukan di
Kalimantan Timur, akan tetapi Umar Wirahadikusuma menolak melepasnya karena
tenaganya diperlukan untuk tugas keamanan di Kodam V Jaya.

Di luar dinas Latief mempunyai hubungan kekeluargsaan yang cukup akrab dengan
Suharto dan sering berkunjung ke rumahnya. Ketika Sigit, anak Suharto dikhitan,
isteri Latief datang. Sebaliknya ketika Latief mengkhitankan anaknya maka Suharto
dan Ibu Tien juga datang ke rumahnya. Bahkan pada 28 September 1965 ketika
Latief berkunjung ke rumah Suharto di Jl HA Salim, ia membicarakan soal tukar-
menukar rumah dinas. Latief menawarkan rumah dinas baginya di Jl Jambu bekas
kedutaan Inggris yang lebih besar untuk ditukar dengan kediaman Suharto yang lebih
kecil yang sedang ditempatinya.

Menurut Subandrio, Suharto berhasil membentuk trio bersama kedua orang tersebut
di atas, keduanya memiliki posisi strategis yang lebih tinggi dibanding trio yang
pernah dibentuk sebelumnya bersama Ali Murtopo dan Yoga Sugomo yang telah
menghasilkan dirinya ditunjuk sebagai Panglima Diponegoro, lalu naik pangkat
menjadi Kolonel dengan menggeser calon kuat Kolonel Bambang Supeno yang
pengangkatannya tinggal menanti tandatangan saja.

Kolonel Latief : “Jenderal Suharto Terlibat G30S!”

Dalam pembelaannya Letkol Latief tetap menuduh Jenderal Suharto sebagai ikut
terlibat dalam G30S. Ia tidak memiliki ilusi apa pun terhadap Jenderal Suharto yang
sedang berkuasa, orang yang setiap saat dapat mengirimkan dirinya ke dunia lain
atau membebaskannya, menilik dalam kenyataannya selama rezim militer Orba,
Jenderal Suharto berada di atas hukum. Dapat disimpulkan ia memiliki suatu
kesadaran politik cukup tinggi. Selama penahanannya Latief mengalami siksaan luar
biasa seperti dipaparkan dalam pembelaannya. Menakjubkan ia masih bertahan
hidup meskipun badannya cukup rusak, semangat hidupnya luar biasa. Setelah
tekanan berbagai pihak di dalam dan luar negeri, ia baru dibebaskan dari penjara
pada permulaan 1999. Dengan keadaan badan yang rapuh, ia terkena stroke, akan
tetapi semangat hidupnya tidak pernah pudar. Sejak itu ia harus dibantu seorang
“penterjemah” untuk berkomunikasi dengan orang lain. Sekalipun demikian ia tetap
aktif mengikuti berbagai pertemuan, seminar, menulis makalah. Dalam suatu
kesempatan bertemu dengan penulis pada permulaan 2001, ia sedang
menyelesaikan bukunya tentang SU 1 Maret 1949.

Berbagai pertanyaan timbul terhadap kenyataan bahwa seorang Latief tidak dihukum
mati oleh pengadilan yang sekedar mementingkan proses formal dan mengabaikan
pembuktian material. Bahkan untuk tokoh yang masih menjabat sebagai menteri
pada tahun 1965 seperti Aidit dan Nyoto, dengan entengnya ‘dibereskan’ oleh
penguasa militer Orba. Rupanya pengadilan terhadap mereka tidak menguntungkan
sang penguasa. Sebagian orang mencurigai Latief sebagai melakukan deal tertentu
dengan Suharto, sampai saat ini tanpa bukti, atau barangkali menurut logika
intelijen. “Seseorang di suatu tempat dalam rezim tampaknya menghendaki ia tetap
hidup,” begitu tulis Carmel Budiardjo. Seseorang itu tidak bisa lain kecuali Jenderal
Suharto. Untuk kepentingan apa ia menghendaki Latief hidup, bagian dari suatu deal?
Macam apa kesepakatan itu, terlalu mahal untuk Latief dan terlalu riskan untuk
Suharto, ini bila ditinjau dari kacamata setelah G30S. Tentu saja Suharto pun selama
berkuasa dengan amat mudahnya setiap saat dapat melenyapkan Latief bagai
menepuk nyamuk.

Kenyataan bahwa Latief tidak dihukum mati, menimbulkan suatu spekulasi bahwa ia
memiliki keterangan yang lebih sempurna yang disimpan di luar Indonesia dengan
pesan supaya segera diumumkan jika ia dibunuh. Dalam majalah Far Eastern
Economic Review 2 Agustus 1990 diberitakan memoar Latief disimpan di sebuah
bank. Keterangan Latief memang memenuhi syarat untuk menyeret Jenderal Suharto
sebagai terlibat G30S golongan A, sesuai Pasal 4 Keputusan Kopkamtib 18 Oktober
1965, semua orang yang terlibat secara langsung, mereka yang mengetahui rencana
kup dan lalai melaporkan kepada yang berwajib.

Ada satu hal lagi yang amat mencolok, Kolonel Latief ditangkap sepuluh hari setelah
kegagalan gerakan, tetapi ia diadili 13 tahun kemudian pada 1978. Sedang vonisnya
baru mendapatkan kepastian hukum pada tahun 1982! Latief merupakan saksi kunci
yang dapat menggoyahkan kedudukan Jenderal Suharto. Pada masa permulaan
bahkan pada tahun-tahun permulaan pengikut BK masih cukup kuat, maka
diperlukan waktu bagi Suharto untuk mengkonsolidasikan diri dan kekuasaannya.
Dengan kata lain Suharto memerlukan waktu, pendeknya faktor waktu amat penting
dalam hal ini. Itulah sebabnya setelah usaha menyiksa dan mengisolasi Latief habis-
habisan selama 10 tahun tidak juga membunuhnya,

dengan berjalannya waktu ia tidak terlalu berbahaya lagi. Suharto sudah cukup kuat
dan mampu mengangkangi hukum dengan mudah. Demikian ulasan Joesoef Isak
yang sangat menarik, faktor waktulah yang diperlukan oleh rezim Suharto untuk
menaklukkan kesaksian dan bahan apa pun yang dimiliki Latief. Sudah jauh-jauh hari
kenyataan ini telah dimanipulasikan dengan keterangan juru bicara militer yang
menyatakan Latief dengan sengaja tidak mematuhi perintah dokter [berhubung luka-
luka yang dideritanya], sehingga ia tidak cukup sehat untuk muncul di pengadilan,
sebagai disiarkan Kompas 26 Maret 1966.

Peran apa sebenarnya yang telah dimainkan oleh Kolonel Latief, semata-mata
sebagai seorang militer yang setia kepada Presiden Sukarno, seseorang yang terseret
masuk ke dalam perangkap Syam, atau orang Suharto yang sepahnya dibuang
setelah habis manis, atau yang lain? Kalau dia sepah yang dibuang seharusnya ia
dilenyapkan setelah dikorek keterangan yang diperlukan kepentingan rezim, agar
selanjutnya bungkam. Seseorang yang menamakan dirinya sebagai mantan intel tiga
negara sekaligus RI-CIA-KGB mesinyalir Latief sebagai agen ganda, karena itu ia
selamat terus (Detak 5 Oktober 1998:9). Masih dapatkah kita mengharapkan sesuatu
yang lain di samping pledoinya di pengadilan, demi kepentingan sejarah bangsa?
Sayang sampai meninggalnya tokoh ini pada 2005, tidak ada informasi baru yang
disampaikannya.

Trio Sel Komunis?

Dalam berbagai diskusi informal tentang G30S sebagian orang mengutuk Latief
sebagai pengkhianat karena telah melaporkan gerakan yang diikutinya sendiri
kepada Jenderal Suharto. Hal ini perlu dipertanyakan apakah menemui Suharto
sebagai bekas komandannya dan orang yang cukup dekat dengan dirinya itu
inisiatifnya sendiri? Kalau bukan siapa yang memerintahkannya? Sebagian pihak
menyatakan dia itu sebenarnya anggota trio sel bawahtanah PKI bersama Letkol
Untung dan.... Jenderal Suharto di bawah binaan Syam [atau Aidit?] sebagai bagian
dari BC PKI. Dalam hubungan ini tak aneh jika ada pihak yang menyebut Jenderal
Suharto sebagai gembong PKI yang berkhianat. Ada cerita seorang tokoh yang tidak
mau disebut namanya, pada permulaan Oktober 1965 menemui Aidit di Jawa Tengah
ketika baru tiba dari Jakarta, DN Aidit menyatakan, “Wah celaka, kita ditipu oleh
Suharto!”

Di sepanjang kesaksiannya, Kolonel Latief tidak sekalipun menjatuhkan nama PKI,


sangat kontras dengan Syam, Ketua BC PKI. Sayang hal-hal di atas tidak dapat
dirujuk silang dengan narasumber lain maupun sumber sejarah yang dapat
dipertanggungjawabkan [atau belum?]. Apakah kita akan mimpi mendapatkan
tambahan keterangan dari Jenderal Besar (Purn) Suharto yang sedang didapuk
sebagai koruptor hiu paling akbar di dunia dan baru memenangkan Rp 1 triliun di
Mahkamah Agung RI menghadapi majalah Time? (Dipetik dari Harsutejo, Sejarah
Gelap G30S, revisi).

Serial G30S (7a)


KOLONEL LATIEF, GEMBONG ATAU KORBAN?
Oleh : Harsutejo
Jika Latief semasa hidupnya sudi menjelaskan secara rinci, terbuka dan jujur dalam
menjawab pertanyaan yang pernah diajukan kepadanya, mungkin akan lebih mudah
mendudukkan dirinya, meskipun tetap saja akan terbuka kemungkinan kontroversi.
Apalagi keterangan sejujur dan serinci apa pun yang diberikan setelah sekian puluh
tahun terjadinya suatu peristiwa sejarah, tetap terbuka kemungkinan kerancuan.
Sayang pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang diajukan ketika dia masih dapat
berkomunikasi dengan cukup, tidak pernah dijawabnya dengan jelas. Dapat saya
tambahkan bahwa pada tahun-tahun akhir hidupnya dia sulit berkomunikasi karena
serangan stroke yang telah menutup harapan adanya keterangan berharga yang lain
dari pihaknya, kecuali jika ada peninggalan tertulis yang belum pernah
dipublikasikan. Pertanyaan tersebut di antaranya meliputi :

(1) Dalam sejumlah pertemuan mereka yang menamakan diri Perwira Progresif
(termasuk Latief) sebelum 1 Oktober 1965, dihadiri (bahkan dipimpin) sejumlah
orang sipil yakni Syam, Pono dan Bono dari Biro Chusus (BC, ejaan lama) PKI.
Apakah ini berarti konsep G30S dari PKI (baca: Syam/Aidit)? Bagaimana
sebenarnya hubungan orang-orang militer ini dengan BC? Apa sekedar karena
sama-sama alat revolusi sesuai dengan ajaran Bung Karno (BK) dan pendukung
BK? Atau suatu komplotan? Hubungan ini diungkapkan dalam buku putih Orba
sebagai komplotan PKI (atau sebenarnya komplotan Aidit?).

(2) Dalam salah satu pertemuan (ke 5 pada 17 September 1965) anak buah Latief,
Mayor Inf Agus Sigit, Dan Yon 203, mendebat arahan Syam tentang rencana
G30S yang dipandangnya semrawut, tidak profesional. Usulan dia tentang
penutupan jalan masuk ke Jakarta dari arah Bogor, Tangerang dan Bekasi pada
saat gerakan, ditolak sebagai kekiri-kirian. Ia menyampaikan pertanyaan tajam,
apa sebab Presiden tidak memerintahkan segera menangkap Dewan Djenderal
(DD, ejaan lama)? Apa tidak mampu? Apa sebab orang-orang dalam pertemuan
itu yang harus menangkapnya? Selanjutnya (karena tidak setuju) ia tidak lagi
mengikuti pertemuan berikutnya, bahkan kemudian pasukannya tidak muncul.

(3) Sebelum 1 Oktober Latief setidaknya menemui Jenderal Suharto dua kali. Siapa
yang menugaskan dirinya? Apa benar dia datang di RS Gatot Subroto bersama
Syam yang berada di tempat agak jauh seperti kesaksian Syam?
(4). Latief sebagai Dan Brigif I Kodam Jaya membawahi tiga batalion tetapi yang ikut
bergerak bersamanya cuma dua peleton Detasemen Kompi Markas. Lalu peran
apa sebenarnya yang dilakukannya pada 1 Oktober 1965, namanya tidak
tercantum dalam daftar Komando Gerakan, tetapi “hanya” sebagai anggota
Dewan Revolusi, sedang dari segi pangkat dia nomor dua setelah Brigjen
Suparjo. Apa sebab gerakan dipimpin Letkol Untung, kenapa bukan Brigjen
Suparjo yang paling tinggi pangkatnya?

(5) Berbagai macam persiapan (misalnya gerakan dipimpin Letkol Untung yang baru
lima bulan berada di pasukan Cakrabirawa/Jakarta, pasukan yang mengambil
bagian dalam gerakan tidak jelas atau terlalu sedikit tidak seperti yang
dilaporkan, logistik tidak memadai), dokumen-dokumen G30S tidak menyebut
kedudukan BK. Dekrit No.1 menyebutkan,

“Dengan jatuhnya segenap kekuasaan Negara ke tangan Dewan Revolusi


Indonesia, maka Kabinet Dwikora dengan sendirinya berstatus demisioner”;
dalam Keputusan No.2 disebut, “Berhubung segenap kekuasaan dalam Negara
RI pada 30 September 1965 diambilalih oleh Gerakan 30 September...” lalu ada
penurunan pangkat. Selanjutnya pasukan G30S membunuh tiga orang jenderal
di tempat, membunuh sisanya di Pondokgede/Lubang Buaya. Semuanya ini
mengarah pada suatu desain agar gerakan itu gagal.

(6) G30S tidak mempunyai rencana alternatif, tetapi hanya ada satu rencana, itu
merupakan permulaan kegagalan dari kacamata militer maupun politik seperti
ditulis Jenderal Nasution. Atau ini sebenarnya bagian dari skenario karena G30S
memang dirancang untuk gagal?

Mantan Kolonel Inf Latief tidak pernah menjawabnya sampai maut menjemputnya
pada 6 April 2005 di rumahnya di Tangerang. Kontroversi sejarah G30S masih akan
panjang. (Dari berbagai sumber dan narasumber).
Serial G30S [6]
TOKOH G30S, LETKOL UNTUNG
Oleh : Harsutejo
Tokoh ini tipikal seorang militer lapangan, sama sekali bukan tipe intelektual dengan
otak cemerlang yang mampu melakukan langkah manipulasi canggih penuh
perhitungan. Ia anak bodoh tetapi berani dan setia pada Sukarno. Hal ini amat
berbeda dan berbalikan dengan Jenderal Suharto beserta beberapa pembantunya
seperti Ali Murtopo [dan Yoga Sugomo] Begitu analisis Ben Anderson.. Sekalipun
demikian ia salah satu lulusan terbaik Akademi Militer.

Letkol Untung salah satu pelaku G30S yang sebelumnya pernah menjadi anak buah
Suharto di Jawa Tengah dalam Divisi Diponegoro. Ia pun pernah menjadi anggota
“Kelompok Pathuk” di Yogya meskipun bukan dalam kelas yang sama dengan
Suharto atau Syam. Mereka berpisah pada tahun 1950, kemudian bertemu kembali
pada tahun 1962 ketika bersama bertugas merebut Irian Barat, ia berada di garis
depan.

Mendengar kisah keberaniannya selama bertugas di medan Irian, ia dianugerahi


Bintang Penghargaan oleh Presiden, lalu ditarik menjadi Komandan Batalion I
Resimen Cakrabirawa, suatu kedudukan cukup strategis. Sebelumnya ia pernah
menjabat Komandan Yon 454 Diponegoro, pasukan yang memiliki kualitas yang
kemudian terlibat G30S.

Letkol Untung menikah pada umur yang agak terlambat pada akhir 1964. Acara
perkawinannya dilaksanakan di tempat cukup jauh di daerah udik di desa terpencil
Kebumen. Sekalipun demikian Mayjen Suharto memerlukan hadir bersama isterinya
ke tempat yang ketika itu tidak begitu mudah dicapai. Ia merupakan satu-satunya
perwira tinggi yang datang, ini merupakan kehormatan besar bagi Untung dan
menunjukkan hubungan keduanya cukup akrab. Bahkan yang mempertemukan
Untung dengan calon isterinya ialah Ibu Tien Suharto. Soal kehadiran Suharto ini
tidak pernah diungkapkan olehnya sendiri yang memiliki ingatan tajam itu, tetapi toh
terekam dalam sebuah berita koran Pikiran Rakyat.

Letkol Untung pernah dikirim belajar ke AS, tentunya CIA memiliki cukup catatan
tentang dirinya sehingga ia dapat direkomendasikan. Seperti tercantum dalam
catatan laporan CIA tertanggal 1 Oktober 1965 dalam CIA 2001:300, memorandum
untuk Presiden Johnson bahwa Untung memiliki “military police background and was
trained in the United States”. Sementara orang menyebut catatan CIA ini tidak akurat
karena Untung tidak pernah belajar ke AS. Banyak pihak menyatakan ia seorang
muslim yang taat, sangat muak dengan korupsi dan tingkah laku kehidupan sejumlah
perwira tinggi.
Menurut David Johnson, Letkol Untung bukanlah tergolong pada apa yang disebut
“perwira progresif”, ia pun bukan tergolong perwira yang tidak puas. Ia lebih
tergolong sebagai seorang militer profesional yang berhasil. Ia pun menunjukkan
tanda-tanda memiliki pandangan anti komunis.

Selama beberapa bulan berkumpul di Penjara Cimahi, Bandung, Subandrio mencatat


bahwa Untung bukan orang yang menyukai masalah politik, ia tipe tentara yang loyal
kepada atasan. Ia risau dengan adanya isu Dewan Jenderal yang hendak
menggulingkan Presiden Sukarno. Kepribadiannya polos dan jujur, hal ini antara lain
dibuktikan dengan kenyataan, sampai detik terakhir sebelum eksekusinya, ia masih
percaya vonis mati terhadap dirinya tidak mungkin dilaksanakan.

“Percayalah Pak Ban, vonis buat saya itu hanya sandiwara”, ujarnya kepada
Subandrio. Ia percaya Suharto mendukung tindakannya terhadap para jenderal dan
akan memberikan bantuan seperti dijanjikannya.

Dalam persidangan Letkol Untung terungkap ia baru mengenal Syam dan Bono ketika
dipertemukan oleh Mayor Udara Suyono kepada sejumlah perwira dalam pertemuan
pertengahan Agustus 1965 sebelum gerakan. Untung yang tidak pernah sepenuhnya
percaya kepada Syam, mencoba melakukan penyelidikan tentang hubungan
rahasianya dengan ketua PKI. Hal ini tidak berlanjut, dan menganggap lebih bijak
untuk tidak menantang Syam berhubung ia terdesak waktu bagi penyelesaian
agendanya sendiri. Bagi Letkol Untung agenda mereka adalah mengambil langkah-
langkah untuk menggagalkan kudeta Dewan Jenderal serta melindungi Presiden
Sukarno. Kudeta itu diyakininya akan terjadi pada 5 Oktober 1965.

Berdasarkan kesaksian Mayor AU Suyono maka dapat disimpulkan adanya berbagai


pertentangan di antara tokoh gerakan dengan ketegangan yang kian meningkat serta
bermacam perbedaan pendapat selama berjalannya waktu yang mendekat. Letkol
Untung menjadi cemas dan mungkin mempertimbangan untuk menghentikan
semuanya. Rencana gerakan semula adalah tanggal 25 September, tetapi karena
pasukan dari Jawa Timur belum tiba maka gerakan ditunda sampai 30 September.

Dapat disimpulkan Untung bukanlah seorang komunis bawah tanah. Jika ia seorang
komunis semacam itu, ia mungkin sekali akan mendapatkan akses lebih mudah
untuk menghubungi langsung ketua PKI DN Aidit untuk memastikan kedudukan Syam
yang sebenarnya. Andaikata ia seorang komunis demikian maka dalam kedudukan
dan pangkat yang disandangnya ia bakal memiliki serangkaian pendidikan dan
pengalaman politik yang cukup memadai yang akan dengan mudah membuang ilusi
pribadi terhadap Jenderal Suharto, bahwa Suharto telah berkhianat terhadapnya bagi
keuntungan diri dan kelompoknya. Dengan begitu ia akan menyadari kesalahan
analisisnya terhadap Suharto. Ia seorang prajurit yang setia kepada Bung Karno.

Dokumen yang terkenal dengan Cornell Paper menyebutkan sebelum peristiwa telah
bertahun-tahun, Sukarno, para jenderal [AD], pimpinan komunis dan golongan lain
telah terjerat dalam manuver politik yang rumit. Semua itu secara keseluruhan
menyebabkan Letkol Untung melakukan aksinya.

Letkol Untung dieksekusi mati pada tahun 1969 di Cimahi. Demikianlah nasib
seorang prajurit yang naif politik itu tetap memendam ilusi pribadi besar sampai saat
terakhir, yang pundaknya telah menjadi panjatan sang manipulator. Adatah itu
memang realitas kehidupan di sepanjang sejarah. Pemeo menyatakan itulah politik
dalam kenyataan telanjangnya, menghalalkan segala cara. (Petikan dari Harsutejo,
“Sejarah Gelap G30S” / revisi).
GERWANI
Oleh: Harsutejo

Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) didirikan pada 1954, sedang cikal bakalnya
sudah berdiri pada 1950. Organisasi ini sangat aktif sampai tragedi 1965, terutama di
kalangan rakyat kecil dari perkotaan sampai pedesaan. Para pemimpin Gerwani
terdiri dari kaum intelektual cerdik pandai maupun kaum aktivis buruh dan tani.
Mereka telah menghimpun kaum perempuan untuk berjuang bersama kaum laki-laki
merebut hak-hak sosial politiknya.

Di bidang pendidikan mereka telah mendirikan sekolah Taman Kanak-kanak,


utamanya untuk kalangan tak berpunya dengan bayaran kecil maupun gratis di
seluruh pelosok negeri. Gerakan ini juga giat mendirikan tempat penitipan anak-anak
bagi ibu pekerja dengan bayaran ringan maupun gratis.

Gerwani merupakan organisasi kaum perempuan paling luas menjangkau seluruh


pelosok Jawa khususnya. Mereka memberikan pendidikin kesadaran akan hak-hak
perempuan termasuk hak-hak politik dan kesadaran politik. Mereka aktif juga dalam
kesenian, kursus masak-memasak, pemeliharaan bayi dan anak, kesehatan
perempuan dan anak-anak. Pendeknya organisasi ini telah melakukan pemberdayaan
perempuan di seluruh kalangan, utamanya kaum buruh dan tani serta kaum
pinggiran, sesuai dengan cita-cita Ibu Kartini. Gerwani ini pula yang menjadi
primadona sasaran fitnah keji rezim militer Orba dengan segala macam dongeng
horornya. (Lihat Lubang Buaya).

Pertama-tama propaganda hitam Orba pada 1965 dimulai dengan menyerang


Gerwani habis-habisan sebagai bagian dari serangan terhadap PKI. Rusaknya nama
dan porak porandanya organisasi perempuan ini berarti rusak dan lumpuhnya separo
organisasi kiri Indonesia. Setelah itu dilakukan serangan fisik terhadap PKI dan
seluruh organnya sebagai bagian penumpasan lebih lanjut pada 1965/1966. Tidak
aneh jika kekejaman terhadap tapol perempuan anggota Gerwani maupun yang
didakwa Gerwani dilakukan dengan amat kejamnya, sering lebih mengerikan karena
harkat perempuannya. Seperti disebutkan dalam studi Dr Saskia Eleonora Wieringa,
mungkin tak ada rekayasa lebih berhasil untuk menanamkan kebencian masyarakat
daripada pencitraan Gerwani sebagai gerakan perempuan kiri yang dimanipulasi
sebagai “pelacur bejat moral”. Kampanye ini benar-benar efektif dengan memasuki
dimensi moral religiositas manusia Jawa, khususnya kaum adat dan agama.

Kaum perempuan tidak hanya mengalami penderitaan karena diciduk, ditahan,


dipenjarakan, dibuang, disiksa, tetapi juga ditelanjangi dan diperkosa bergiliran dan
dilecehkan martabat kemanusiaannya, dihancurkan rumahtangganya, pendeknya
mereka mengalami penderitaan luar biasa lahir dan batin. Perkosaan telah menjadi
kecenderungan umum para petugas keamanan ketika berhadapan dengan tapol
perempuan. Sering pelecehan seksual dan perkosaan terhadap tapol perempuan
menyebabkan kehamilan dan yang bersangkutan melahirkan di tempat tahanan.
Penderitaan itu menjadi lebih lengkap lagi karena mereka melihat kehancuran
keluarga dan nasib anak-anaknya, terpisah-pisah di tempat yang berbeda-beda
dengan kondisi terpuruk yang berbeda-beda pula dengan perlakuan buruk negara
dan masyarakat yang diprovokasi. Tak jarang para ibu ini telah kehilangan jejak
anak-anaknya selama bertahun-tahun setelah dibebaskan dari penjara, bahkan
sebagian sampai saat ini. Tak jarang pula setelah orangtua mereka dibebaskan,
anak-anak yang berkumpul kembali dengan orangtuanya, terutama dengan ibunya,
anak-anak memusuhi dirinya karena merasa menjadi korban perbuatan ibunya, suatu
penilaian amat tidak adil. Itulah salah satu buah indoktrinasi menyesatkan rezim
Orba selama bertahun-tahun yang sangat merusak.

Suami seorang perempuan kembang desa di Purwodadi yang anggota BTI ditangkap
pada November 1965, kemudian dibuang ke Pulau Buru. Setiap malam sang isteri
kembang desa ini digilir diperkosa oleh pamong desa setempat, tentara, pentolan
ormas agama dan nasionalis. Bahkan suatu kali datang seorang tokoh penjagal kaum
komunis yang ketika malam datang menidurinya dengan pakaian berlumuran darah
dan kelewang yang besimbah darah pula. Ini bukan dongeng horor model Lubang
Buaya, tetapi sejarah horor, sejarah hitam legam kaum militer Orba sebagai
panutannya yang telah menciptakan kondisi dan konsep kebuasan tersebut. (Baca
buku John Roosa cs [ed], Tahun yang Tak Pernah Berakhir, Elsam, Jakarta, 2004).

Sungguh nama baik Gerwani yang telah mengabdikan dirinya untuk Ibu Pertiwi dan
rakyat kecil umumnya itu, sebagai kelanjutan cita-cita Ibu Kartini telah dinodai dan
dirusak habis-habisan dengan fitnah jahat tiada tara. Dengan upaya bersama semua
pihak yang peduli, terlebih lagi kaum sejarawan dan aktivis perempuan, hari depan
negeri ini akan memberikan tempat yang layak bagi Gerwani dalam sejarah bangsa.
Mencari Dalang Gerakan 30
September 1965
[Urgensi Rekonstruksi Sejarah Kita]
Oleh Eep Saefulloh Fatah
Universitas Indonesia

Salah satu episode sejarah kita yang masih remang-remang, bahkan gelap, dan
karenanya mengundang kontroversi yang tak habis-habis hingga kini adalah
“Gerakan 30 September 1965” (G30S1965) – atau “Gerakan 1 Oktober” (Gestok),
atau apapun Anda mau menamainya *[1]. Salah satu pertanyaan utama yang
jawabannya hingga sekarang masih kabur dan menggantung adalah: Siapa
sesungguhnya dalang dari gerakan itu? Partai Komunis Indonesia (PKI), Sukarno,
Soeharto, Angkatan Darat (AD), kekuatan(-kekuatan) asing, atau siapa?

Di masa Orde Baru, ketika negara memposisikan dirinya sebagai pemonopoli tafsir
atas sejarah, kita hanya diperkenankan mengakses satu versi tunggal produk negara.
Menurut versi ini, pihak yang paling bertanggung jawab atas G30S1965 adalah PKI.
Singkatan G30S/PKI pun dimassalkan sebagai penamaan resmi peristiwa itu.

Sepeninggal Soeharto, dalam rentang waktu lebih dari tujuh tahun ini, negara tak lagi
berkuasa menjadi pemonopoli tafsir atas sejarah. Maka beragam versi tentang
episode gelap sejarah ini pun mulai termasalkan, bisa diakses secara leluasa oleh
masyarakat. Berbagai literatur yang berusaha memotret peristiwa tersebut dengan
perspektif yang beragam dan dalam beberapa hal saling bertentangan,
diterjemahkan dan diterbitkan ulang. Belakangan, kekayaan pemahaman kita atas
peristiwa itu bahkan diperkaya dengan terbitnya sejumlah memoir, biografi dan
otobiografi yang ditulis oleh atau tentang tokoh-tokoh yang sedikit banyak berkaitan
– langsung maupun tidak – dengan peristiwa itu. Maka, sebetulnya secara otodidak
siapapun bisa melakukan rekonstruksi atas episode sejarah yang belum juga terang
itu.

Sekalipun demikian, sejatinya belum ada upaya resmi, terlembagakan yang sungguh-
sungguh, sistematis, terorganisasi, seksama untuk melakukan rekonstruksi sejarah di
seputar peristiwa tragis itu. Tulisan ini berusaha menggarisbawahi urgensi
rekonstruksi sejarah peristiwa G30S1965 untuk mendudukkan sejarah secara patut
sebagai pijakan penting bagi perebutan masa depan yang lebih demokratis, adil, dan
terbuka.

Memfokuskan diri pada diskusi soal dalang G30S1965, tulisan ini akan dibuka dengan
pengungkapan kembali berbagai versi yang sempat beredar tentang G30S1965.
Bagian berikutnya merekonstruksikan perdebatan yang terjadi di penghujung Orde
Baru (akhir 1980-an hingga akhir 1990-an) yang dikristalisasi oleh terbitnya versi
resmi Orde Baru yang lebih dikenal sebagai Buku Putih. Akhirnya, akan digarisbawahi
unsur-unsur gelap dalam sejarah G30S1965 yang masih tersisa sepeninggal Soeharto
hingga hari ini. Masih terus tersisanya sisi-sisi gelap ini menggarisbawahi betapa
penting dan mendesaknya rekonstruksi sejarah atas peristiwa G30S1965 itu.

[1] Tulisan ini akan menggunakan istilah Gerakan 30 September (G30S) sebagai
istilah yang netral, bertolak dari fakta sejarah bahwa geger berdarah di tahun
1965 ini memang bermula secara konret dari gerakan yang terjadi pada 30
September 1965. Istilah lain, misalnya G-30-S/PKI, akan digunakan sejauh
memang tercantum dalam kutipan langsung dari literatur yang digunakan.

Beragam Versi

Sebagai sebuah peristiwa besar, G30S1965 telah mengundang perdebatan politik


dan akademik yang cukup ramai. Berikut adalah beberapa contoh analisis terkemuka
mengenai peristiwa berdarah itu yang ditulis oleh beragam kalangan dengan
beragam perspektif.

[1] Artikel Hall dan Cornell Paper

Tak lama setelah peristiwa G30S1965, setidaknya ada dua analisis yang muncul
dari pengamat asing yang, menariknya, keduanya bertentangan. Dalam
Reader's Digest edisi November 1966, Clerence W. Hall menggambarkan
G30S1965 sebagai manuver PKI dan Sukarno untuk melanjutkan skenario politik
yang telah mereka susun selama Demokrasi Terpimpin. Dalam versi Hall, PKI
dan Sukarno adalah dalang di belakang peristiwa berdarah itu.

Nyaris bersamaan dengan publikasi tulisan Hall, muncul Cornell Paper; makalah
Benedict R.O.G. Anderson dan Ruth McVey berjudul A Preliminary Analysis of The
October 1, 1965, Coup in Indonesia (1966). Anderson dan McVey menyimpulkan
bahwa G30S1965 adalah persoalan intern Angkatan Darat. PKI bukanlah dalang.
Menurut versi ini keterlibatan PKI terjadi dalam saat-saat akhir, itupun karena
PKI "dipancing untuk masuk" dan akhirnya benar-benar terseret masuk.
Keterlibatan PKI, menurut Cornell Paper, hanya bersifat insidental belaka.

Banyak yang meragukan kesahihan artikel Hall maupun Cornell Paper. Kedua
analisis ini dibuat pada saat Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) masih
menyidangkan para pelaku G30S1965 dan banyak dokumen belum terungkap.
Wajar jika Cornell Paper -- yang memang lebih terkenal ketimbang artikel Hall --
pun mendapatkan reaksi dari pelbagai penjuru.

[2] Bantahan terhadap Cornell Paper

Dari dalam negeri, dua tahun setelah publikasi Cornell Paper, muncul bantahan
dari Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh melalui buku The Coup Attempt of
The September Movement in Indonesia (1968). Ismail Saleh dan Notosusanto
membantah versi Anderson dan McVey dengan menunjukkan bahwa PKI lah
yang mendalangi kup yang gagal di penghujung September itu.

Menurut versi ini, Angkatan Darat sama sekali tidak menduga akan terjadi
peristiwa berdarah itu. Dengan begitu, versi ini membantah analisis Anderson
dan McVey bahwa peristiwa itu adalah ekspresi persoalan intern di dalam tubuh
Angkatan Darat.

Pada tahun yang sama (1968) terbit pula buku John Hughes berjudul The End of
Soekarno. A Coup that Misfired: A Purge that Ran Wild. Buku ini menunjukkan
G30S1965 lebih sebagai kup PKI daripada persoalan intern Angkatan Darat.
Hughes -- sebagaimana Ismail Saleh dan Notosusanto -- melihat militer sebagai
penyelamat keadaan, bukan dalang di belakang tragedi besar itu.
Bantahan terhadap Cornell Paper juga datang dari Anthonie C.A. Dake melalui
dua karyanya: In The Spirit of Red Banteng dan The Deviuos Dalang: Sukarno
and the So-Called Untung Putch. Eyewitness Report by Bambang S. Widjanarko.
Dake menilai bahwa Sukarno lah dalang G30S1965. Sukarno -- menurut Dake --
tidak sabar menghadapi tokoh-tokoh Angkatan Darat yang tidak suka program
revolusinya.

Melalui konspirasinya dengan kekuatan komunis -- "musuh" Angkatan Darat


sepanjang Demokrasi Terpimpin -- Sukarno merasa perlu untuk melakukan
"pembersihan".

Versi Dake tersebut memperoleh dukungan antara lain dari David Lowenthal
seorang profesor ahli Soviet-Jerman. Dengan mendasarkan diri pada dokumen-
dokumen otentik pemeriksaan Widjanarko, Lowenthal menunjukkan secara
eksplisit keterlibatan Sukarno dalam G30S1965. Menurut Lowenthal --
sebagaimana dikutip Soerojo (1989; xxvii) -- Sukarno mengkreasi peristiwa itu
untuk menghilangkan kerikil-kerikil yang mengganjal jalannya "revolusi yang
belum selesai".

[3] Keterlibatan Amerika

Versi lain mengungkapkan CIA sebagai dalang di belakang peristiwa G30S1965.


Versi ini antara lain diungkapkan melalui sebuah tulisan Peter Dale Scott -- Guru
Besar Universitas California, Berkeley -- yang termuat dalam Pacific Affairs
(1984).

Setelah publikasi versi Dale, pada Juli 1990, kontroversi soal keterlibatan CIA
kembali diungkap oleh Kathy Kadane, wartawati kantor berita States News
Service Amerika Serikat. Kadane menyatakan bahwa CIA lah yang memberikan
daftar 5000 nama tokoh PKI kepada TNI Angkatan Darat pada 1965. Tokoh-tokoh
yang ada dalam daftar itulah yang kemudian dihabisi seusai kegagalan
G30S1965.

Sebelum muncul artikel Kadane, ada bahan lain yang mengungkapkan


keterlibatan CIA, yakni buku CIA-KGB yang ditulis oleh Celina Beldowska dan
Jonathan Bloch (1987). Dalam buku ini tertulis tegas: "pada 1965, CIA dengan
sukses mengorganisir kampanye propaganda untuk menggulingkan Sukarno".

Dua belas tahun sebelum terbitnya buku Beldowska dan Bloch -- tepatnya April
1975 -- dalam Konferensi "CIA dan Perdamaian Dunia," Winslow Peck (analis
intelijen Dinas Keamanan AU Amerika) secara gamblang juga mengungkap
keterlibatan CIA. Peck menyebut penggulingan Sukarno di akhir 1960-an adalah
sukses CIA yang disokong oleh pelbagai pihak pro-Barat di Asia, terutama Asian
Regional Organization.

Versi keterlibatan Amerika -- terutama melalui CIA -- tersebut ditentang oleh


sejumlah kalangan. Dari kalangan resmi pemerintah AS, Marshall Green -- Duta
Besar Amerika di Jakarta yang menyaksikan sendiri perpindahan kekuasaan dari
Sukarno ke Soeharto -- mengajukan bantahan melalui bukunya Dari Sukarno ke
Soeharto: G 30 S - PKI dari Kacamata Seorang Duta Besar (1992).

Dalam ulasannya -- dengan bahasa diplomasi yang kental -- Green menilai


G30S1965 memiliki kaitan dengan gerakan komunis internasional yang saat itu
memang sedang menggencarkan perluasan ideologi komunis di Asia tenggara,
terutama melalui Vietnam dan Indonesia. Green bahkan menunjuk adanya
sejumlah indikasi keterlibatan RRC di belakang manuver PKI yang gagal itu.

Howard Palfrey Jones, mantan Dubes Amerika untuk Indonesia sebelum Green,
juga memaparkan versi yang serupa. Dalam bukunya Indonesia: The Possible
Dream (1971) Jones menggambarkan G30S1965 sebagai kudeta abortif
kekuatan komunis di Indonesia untuk melenyapkan pimpinan teras Angkatan
Darat

serta lebih lanjut membangun pemerintahan kiri. Amerika, di mata Jones, tidak
ikut serta mengkreasi kudeta itu atas nama kepentingan politik apa pun.

Dari kalangan akademisi, bantahan semacam itu pernah datang dari H.W.
Brands, asisten profesor pada sebuah Universitas di Texas. Melalui artikelnya,
"The Limits of Manipulation: How the United States Didn't Topple Sukarno"
(termuat di Journal of American History edisi Desember 1989), Brands
membantah keterlibatan Washington dalam penumbangan Sukarno.

Dengan menggunakan bahan yang sebagian besar diperoleh dari perpustakaan


Lyndon B. Johnson, Brands misalnya mengungkapkan betapa Amerika "tidak
mengenal Soeharto". Atas dasar itu, menurut Brands, adalah tak mungkin
Amerika ada di belakang penggulingan Sukarno di penghujung 1960-an itu.

Debat di Penghujung Orde Baru : Soegiarso, Manai, dan Buku Putih

Dalam rentang waktu sekitar satu dekade terakhir Orde Baru, ada setidaknya dua
perdebatan besar yang terjadi mengenai dalang G30S1965. Pertama, perdebatan
yang terus berlanjut hingga akhir tahun 1980-an di sekitar penerbitan buku Soegiarso
Soerojo, Siapa Menabur Angin akan Menuai Badai. Kedua, kontroversi yang
meramaikan terbitnya dua buku: karya Manai Sophiaan, Kehormatan Bagi yang
Berhak, dan Buku Putih yang diterbitkan Sekretariat Negara (1996).

Pandangan Soegiarso tentang G30S1965 tertulis di halaman 391 bukunya: "Kudeta


itu dilakukan PKI dengan dukungan dari luar dan dari dalam negeri, di samping
dukungan diam-diam dari Kepala Negara yang kebetulan juga seorang Marxis
konsekuen sejak muda."

Untuk mendukung pandangannya, Soegiarso menunjukkan argumen untuk


mendukung teori berperannya PKI, adanya pelbagai dukungan terhadap PKI dan
keterlibatan Sukarno. Dasar argumentasi Soegiarso kebanyakan didasarkan pada
bukti-bukti yang tersertakan dalam keputusan-keputusan MPRS soal pidato
Nawaksara Sukarno dan pelengkapnya maupun pada sejumlah indikasi yang ditemui
Soegiarso dalam praktek Demokrasi Terpimpin.

Lebih jauh Soegiarso bahkan sampai pada kesimpulan: "Maka menurut penulis,
segalanya memang sudah diatur rapi, bertahun-tahun sebelumnya, berdasarkan
suatu skenario tertentu. Siapa sutradaranya, menurut nalarku ya Pemimpin Besar
Revolusi itu sendiri" (hal. 392).

Soegiarso menguatkan tesisnya ini dengan menunjukkan betapa Sukarno tidak


bersikap tegas menghadapi pemberontakan PKI 1948, memberi angin bagi
pembesaran PKI sehingga berhasil menjadi salah satu partai di antara empat besar
dalam Pemilu 1955, membangun Demokrasi Terpimpin yang memberi peluang
kepada PKI untuk berkembang melalui konsep "kabinet berkaki empat", selalu
memihak dan melindungi PKI dalam Demokrasi Terpimpin. Peranan Sukarno dalam
G30S1965, menurut Soegiarso, adalah puncaknya.

Buku Manai Sophiaan mengajukan versi yang bertentangan dengan versi Soegiarso.
Manai secara gamblang menuturkan-ulang versi Sukarno sendiri tentang G30S1965.
Bahwa peristiwa berdarah itu terjadi karena tiga faktor: (1) keblinger-nya pemimpin
PKI; (2) lihainya kekuatan Barat atau kekuatan Nekolim (Neo Kolonialisme dan
Imperialisme); dan (3) adanya "oknum yang tidak benar".
Menurut Manai, para pemimpin PKI menjalankan gerakan itu tanpa persetujuan dari
bawah. Mereka terjebak oleh isu kudeta Dewan Jenderal. Berbeda dengan versi resmi
selama ini -- yang menganggap PKI sendirilah yang merekayasa isu Dewan Jenderal
itu -- Manai mencurigai intelijen Barat sebagai perekayasa isu.

Para pemimpin PKI kemudian keblinger karena khawatir dengan kemungkinan kudeta
yang akan dijalankan oleh para jenderal Angkatan Darat. Maka Biro Khusus PKI pun
mendahuluinya dengan Gerakan 30 September. Karena kekhawatiran itu pula --
menurut Manai -- PKI kemudian menjadikan para jenderal AD sebagai sasaran utama
dan pertama yang harus mereka bersihkan.

Lebih lanjut Manai juga menyebut soal kedekatan Amerika dengan pihak AD (A.H.
Nasution adalah nama yang disebut Manai sebagai jenderal AD yang dekat dengan
Amerika itu). Pihak-pihak yang dekat dengan Amerika inilah yang disebut Sukarno
(dan juga Manai) sebagai "oknum yang tidak benar".

Dengan memaparkan kedekatan Amerika-AD ini, Manai sepertinya ingin


menunjukkan bahwa Amerika memang memiliki peran dalam pemanasan suhu politik
saat itu. Para pemimpin PKI kemudian terpancing untuk mempercepat sebuah
gerakan untuk menyelematkan kepentingan PKI di tengah suhu politik yang makin
panas. Sementara Sukarno -- dalam pandangan Manai -- tidak terlibat dalam
pergolakan yang terjadi sebagai akibat memanasnya hubungan PKI dengan Angkatan
Darat itu. Sukarno tidak mengetahui, apalagi menjadi dalang, gerakan yang
dilakukan para pemimpin PKI yang keblinger itu. Sukarno -- simpul Manai -- tak
terlibat G30S1965.

Jika Soegiarso dan Manai sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang tegas dan
eksplisit, Buku Putih menghindari penyimpulan semacam itu. Buku Putih memang
secara gambling menunjuk PKI sebagai dalang G30S1965. Berbagai anasir yang
terlibat dalam gerakan ini, menurut Buku Putih, merupakan bagian dari kudeta
(gagal) yang dikendalikan oleh PKI. Namun, berbeda dengan buku Manai dan
Soergiarso yang memposisikan diri secara tegas menunjukkan dengan terang
ketidakterlibatan dan keterlibatan Sukarno dalam G30S1965, Buku Putih mengambil
posisi yang lebih "tersamar".

Dari Buku Putih tidak akan kita temui tuduhan tegas soal keterlibatan Sukarno dalam
peristiwa G30S1965. Bab VII buku ini -- dengan judul "Sikap Presiden Sukarno
terhadap Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia" -- hanya menunjukkan
fakta-fakta sejarah tentang ucapan dan tindakan Sukarno di seputar peristiwa itu.

Dalam konteks itu Ada tiga alinea penting dalam Bab ini. Yakni :

"Kenyataan yang terlihat dengan jelas adalah bahwa, baik pimpinan PKI maupun
jajaran Biro Khusus PKI memanipulasikan secara cerdik untuk kepentingan PKI
dan gerakan komunisme internasional seluruh peluang yang terbuka oleh
kebijaksanaan politik Presiden Sukarno yang terpusat pada konsepsi Nasakom"
(hal. 141).

"Pada periode epilog G-30-S/PKI, banyak sikap/tindakan Presiden Sukarno yang


bernada membela atau menguntungkan G-30-S/PKI. Sikap dan tindakan
Presiden Sukarno tersebut, bahkan identik dengan saran-saran D.N. Aidit yang
disampaikan melalui suratnya kepada Presiden Sukarno, setelah D.N. Aidit
melarikan diri dan bersembunyi di Jawa Tengah" (hal. 147).
"Apa yang dilakukan oleh Presiden Sukarno setelah gagalnya G-30-S/PKI adalah
mengarah kepada menyelamatkan organisasi PKI dan paham komunisme
sebagaimana diinginkan oleh D.N. Aidit" (hal. 150).

Dalam mengembangkan ketiga alinea penting itu, Buku Putih menyikapi keterkaitan
Sukarno dengan G30S1965 dalam beberapa sikap berikut.

Pertama,

G30S1965 dinilai oleh Buku Putih sebagai klimaks dari manuver PKI untuk
mengarahkan jalannya perpolitikan Demokrasi Terpimpin menuju "kemenangan
PKI dan gerakan komunisme internasional". Dalam konteks ini, Sukarno tidak
dinilai (secara eksplisit) sebagai aktor yang aktif dalam manuver itu.

Sukarno hanya dieksplisitkan sebagai seorang aktor politik yang pasif. Sukarno
hanya memberi peluang kepada PKI untuk memenuhi ambisi politiknya itu
melalui konsepsi Nasakom. PKI lah yang dengan cerdik memanfaatkan konsepsi
Sukarno itu untuk tujuan dan ambisi politiknya.

Inilah yang membedakan Buku Putih dengan buku Manai dan Soegiarso. Jika
Manai sama sekali membersihkan nama Sukarno, Soegiarso sebaliknya
menempatkan Sukarno sebagai dalang, Buku Putih berhenti pada "kesimpulan
yang mencari aman".

Kedua,

Buku Putih hanya memberi informasi mentah tentang sikap Sukarno di seputar
peristiwa G30S1965. Buku Putih tidak menuding Sukarno, melainkan hanya
mengajukan sejumlah indikasi tegas yang menunjukkan betapa Sukarno
bersikap sangat lunak terhadap pelaku G30S1965. Sukarno -- yang hanya
menganggap peristiwa besar itu sebagai "kejadian biasa dalam revolusi" --
dinilai kompromistis terhadap para pelaku kudeta yang gagal itu.

Ketiga, Buku Putih menampilkan -- sambil menyayangkan -- tindakan Sukarno yang


membela PKI dan faham komunis dalam epilog peristiwa G30S1965. Buku Putih
merepresentasikan sikap "pendukung Orde Baru" yang menyayangkan ketidakmauan
Sukarno membumihanguskan PKI beserta kekuatan-kekuatan di seputarnya.
Sebaliknya, Sukarno justru menunjukkan pembelaan yang tegas terhadap kekuatan
komunis setelah kup PKI yang gagal itu.

Dalam kerangka itu, Buku Putih menyajikan sejumlah fakta yang menunjukkan sikap
dan tindakan Sukarno yang lunak terhadap PKI bahkan cenderung menyelamatkan
partai komunis dan faham komunismenya itu. (Lihat Tabel)

Tabel
Pernyataan Sikap dan Tindakan Sukarno yang Lunak terhadap PKI

Pernyataan Sikap

1 Pidato kepada KAMI, 12 Desember 1965


2 Pidato 13 Desember 1965
3 Pidato 18 Desember 1965
4 Pidato HUT Dwikora, 21 Desember 1965
5 Pidato di depan Delegasi GMKI, 24 Desember

Tindakan
1 Tidak menindak Men/Pangau Omar Dhani sebaliknya mengizinkan Omar Dhani
menginap di Istana Bogor dan memberi penugasan ke luar negeri antara 19-10
s.d. 20-12-1965

2 Tidak mengambil tindakan hukum terhadap pimpinan pelaksanaan G-30-S/PKI,


Brigjen Soepardjo

3 Tidak menindak Aidit bahkan memberi tanggapan positif terhadap surat Aidit
dari persembunyiannya di Jawa Tengah

4 Mengizinkan Njoto (anggota Politbiro CC PKI) menyampaikan sikap PKI terhadap


masalah G-30-S-PKI dalam Sidang Paripurna Kabinet Dwikora (6-10-65). Bahwa
G-30-S/PKI adalah gerakan intern AD dan PKI mendukung pembersihan di dalam
Angkatan Darat

5 Sukarno yang berjanji akan memberikan political solution terhadap masalah G-


30-S/PKI malah membentuk Kabinet 100 Menteri yang di dalamnya terekrut
orang-orang yang jelas pro PKI.

6 Membubarkan KAMI pada 25 Februari 1966

7 Tatkala Sidang Umum IV MPRS memberi peluang kepada Sukarno untuk


memberikan pengertian kepada rakyat tentang G-30- S/PKI, Sukarno justru
menunjukkan keengganan dan kealpaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban
konstitusionalnya; dan pertanggungjawaban Sukarno melalui pidato Nawaksara
tidak cukup memberikan pertanggungjawaban atas terjadinya G-30-S/PKI
bahkan tidak menyinggung peranan PKI dalam gerakan tersebut.

Urgensi Rekonstruksi Sejarah 1965

Setelah kejatuhan Soeharto, 21 Mei 1998, jalan bagi rekonstruksi peristiwa G30S1965
mulai terbuka. Sejauh ini, telah terbentuk setidaknya tiga modus operandi bagi upaya
rekonstruksi ini. Pertama, diskusi terbuka melalui media massa yang menghirup
kebebasan baru setelah berbagai kebijakan liberalisasi pers dijalankan. Kedua,
penerjemahan dan penerbitan ulang dalam bahasa Indonesia berbagai versi – yang
antara lain diringkaskan di bagian terdahulu – yang sebelumnya tak diperbolehkan
diakses oleh masyarakat. Ketiga, penulisan memoir, biografi dan otobiografi yang
ditulis oleh atau tentang para pelaku sejarah yang berkait langsung maupun tidak
dengan peristiwa G30S1965.

Karena Soeharto sudah tak lagi berkuasa, maka salah satu spekulasi yang banyak
didiskusikan melalui tiga modus operandi itu adalah kemungkinan keterlibatan
Soeharto di dalam peristiwa berdarah itu. Di masa awal reformasi, misalnya,
sejumlah diskusi mengarahkan fokusnya pada terbukanya kemungkinan bahwa
Soeharto, tokoh yang selama ini dikenal sentral sebagai pembasmi PKI, bisa jadi
terlibat atau paling tidak mengetahui tapi membiarkan kup berdarah tersebut.

Salah satu titik yang menjadi benang merah ke arah kesimpulan ini adalah kedekatan
mantan presiden tersebut dengan tokoh-tokoh G30S1965, seperti Letkol Untung, Kol.
Latief, dan Brigjen Soepardjo. Selain itu, Soeharto juga dikenal aktif di sebuah
kelompok diskusi politik yang dikenal sebagai ''Kelompok Pathuk'', Yogyakarta di
masa awal kemerdekaan. Di kelompok inilah ia mengenal Sjam Kamaruzaman dan
Untung, dua tokoh lain yang menjadi tokoh kunci peristiwa G30S1965.

Pengakuan Latief melalui pledoi pengadilan Mahmilub pada 1978, yang antara lain
mengaku telah memberitahu Soeharto mengenai ''Dewan Jenderal'' serta rencana
sekelompok perwira untuk mencegah percobaan kup untuk menyingkirkan Bung
Karno, juga disinggung dalam laporan berbagai media. Tabloid Adil misalnya,
mengutip Latief: ''Saya sudah lapor kepadanya bahwa malam itu (30 September)
sejumlah jenderal akan diculik.”
Diamnya Soeharto (tidak melaporkan soal ini ke MenPangab Letjen Ahmad Yani),
kedekatannya dengan tokoh-tokoh kunci G30S1965, membuat sejumlah orang
membuat hipotesis mengenai kemungkinan keterlibatan Soeharto dalam peristiwa
tersebut. Sebetulnya, ini bukan hipotesis baru. W.F. Wertheim, dalam Whose Plot?
New Light on The 1965 Events yang diterbitkan pada 1979, telah menulis bahwa plot
G30S1965 dirancang oleh sebuah komplotan dalam klik Angkatan Darat: Sjam,
Kepala Biro Chusus Central PKI, yang (menurut Wertheim) bertugas membangun
jaringan di tubuh Angkatan Darat.

Menurut Wertheim, Biro Chusus bekerja bebas dari PKI sebagai partai dan organisasi.
Aidit, Ketua Comite Central tak melaporkan kegiatan Sjam ke organisasi. Menurut
tesis ini pula, klik antara Sjam dan Soeharto yang menyusup ke PKI itulah yang
menjadi dalang dibalik peristiwa G30S1965.

Tentu saja diperlukan penelusuran dan pembuktian lebih lanjut terhadap tesis itu.
Tetapi, bagaimanapun, reformasi telah memberi peluang bagi upaya pembongkaran
kembali data-data sejarah di seputar peristiwa penting ini. Dalam sebuah analisisnya,
sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam, mencatat bahwa ada enam sampai tujuh versi
yang berkembang dalam diskusi di awal masa reformasi itu. Ada versi yang
mengatakan PKI dalang peristiwa tersebut. Ada versi yang menyebut dalangnya
Sukarno. Ada versi yang mengatakan peran Soeharto tidak bisa diabaikan begitu saja
dalam peristiwa tersebut. Ada versi yang mengatakan dalangnya adalah satu klik di
AD. Ada pula versi yang mengemukakan faktor eksternal, yakni keterlibatan CIA
dalam konteks perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Siapa yang merancang dan mengendalikan G30S1965 adalah satu sisi gelap sejarah
yang hingga kini belum juga berhasil dibuat terang. Dalam kerangka ini, dibutuhkan
upaya rekonstruksi sejarah yang seksama sehingga bisa terbangun versi yang paling
bisa dipertanggungjawabkan secara akademik sekaligus secara politik.

Selain soal perancang dan pengendali G30S1965, sisi gelap lain yang perlu dibuat
terang adalah mengenai jaringan pelaku, tentang mereka yang secara massif
memang terlibat. Versi resmi pemerintah Orde Baru memposisikan siapa saja yang
terkait dengan PKI atau bahkan sekadar gerakan kiri di masa itu, sebagai mereka
yang terlibat dan mesti bertanggung jawab atas gerakan itu. Pendekatan gebyah
uyah (generalisasi serta merta) ini terbukti mendatangkan masalah.*[2] Banyak
sekali orang yang akhirnya diberi sanksi – yang bahkan berlapis-lapis hingga ke
keturunan mereka secara bertingkat-tingkat – atas kesalahan yang tak mereka
lakukan.

Sebagai akibat dari pendekatan yang tak bertanggung jawab itu, terparaktikkanlah
perlakuan politik yang tak manusiawi terhadap mereka yang diberi stigma
“komunis”. Maka, upaya rekonstruksi sejarah bukan saja dibutuhkan untuk
mengklarifikasi siapa saja yang selayaknya dimintai pertanggungjawaban atas
gerakan berdarah itu, melainkan juga untuk merehabilitasi status politik dan hukum
dari banyak sekali orang yang telah dimintai pertanggungjawaban untuk peristiwa
yang sejatinya mereka tak ikut terlibat di dalamnya.

Sisi gelap lainnya yang juga membutuhkan upaya rekonstruksi dan penjawaban-ulang
tak main-main adalah soal jumlah korban. Sejauh ini tersedia data jumlah korban
yang beragam.

Sumber-sumber resmi tentu saja menyebutkan jumlah korban yang minimal. Fact
Finding Commission yang dibentuk segera setelah peristiwa G30S1965 terjadi,
misalnya, menyebut jumlah korban 78.000 orang. Data itu jauh lebih kecil dari yang
disebutkan oleh Kopkamtib – sebagaimana dikutip oleh Frank Palmos (“One Million
Dead?”, The Economist, 20 Agustus 1966) dan Robert Cribb (ed., The Indonesian
Killings of 1965-1966, 1990) – yang menyebutkan jumlah korban sebesar 1 juta jiwa.

Cribb (1999) sendiri menyebut 500.000 jiwa sebagai jumlah korban yang wajar.
Sementara Iwan Gardono (dengan menjumlahkan dan merata-ratakan jumlah korban
yang disebut oleh 39 literatur) menyebut angka 430.590 orang. Terlepas dari
ketidaksepakatan mengenai jumlah korban itu, dibutuhkan upaya sungguh-sungguh
untuk menelusuri kembali berbagai sumber sejarah yang tersedia guna memperoleh
data jumlah korban yang kredibel.

Dalam konteks kontroversi peristiwa G30S1965 yang tak kunjung habis, Asvi Warwan
Adam (2005) pun menyebut 1965 sebagai “tahun yang tak pernah selesai.” Pengaruh
tahun 1965 hingga sekarang tak kunjung menyurut. Bukan hanya itu, implikasi
peristiwa di tahun itu terhadap kehidupan sejumlah besar orang hingga saat ini masih
terus berjalan. Sejumlah mantan tahanan politik akibat peristiwa 1965 itu, misalnya,
masih terus mencari keadilan hingga sekarang.

Sejarah memang penting bukan ketika peristiwanya terjadi melainkan karena apa
yang kemudian mengikutinya. Sejarah 1965 menjadi penting karena pengaruhnya
terasa hingga waktu-waktu setelah itu, hingga saat ini. Celakanya, sejarah lazimnya
dibuat oleh mereka yang menang. Setiap zaman pun akhirnya punya tuturan sejarah
sesuai dengan pemegang kendali kekuasaan di masa itu. Lalu, bagaimana halnya
dengan kita di hari ini, ketika demokratisasi terjadi dan semestinya kehidupan
menjadi lebih transparan, terbuka dan bertanggung jawab?

Demokratisasi sejatinya adalah usaha untuk mereposisi para pemegang kekuasaan


sehingga akhirnya penguasa sesungguhnya adalah orang banyak. Benar bahwa tak
pernah ada system demokratis yang secara ideal menjadikan orang banyak sebagai
pemegang kedaulatan politik tertinggi senyatanya dan sejatinya. Namun demikian,
sistem yang lebih demokratis seyogianya memfasilitasi perumusan ulang sejarah
atas nama tingkat kejujuran, objektivitas dan akuntabilitas yang lebih terjamin.

Maka, selayaknya, atas nama peningkatan kualitas demokrasi, upaya rekonstruksi


sejarah peristiwa G30S1965 dilakukan segera secara terlembagakan, seksama, dan
terorganisir.

Pemerintah selayaknya menugaskan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)


untuk segera membentuk tim yang independen secara politik dan kredibel secara
akademik/intelektual yang beranggotakan para ilmuwan – khususnya sejarawan –
yang kompeten. Tim ini selayaknya bekerja secara profesional dengan
memanfaatkan secara optimal sumber-sumber sejarah yang ada, mulai dari literatur
yang sesungguhnya kaya hingga para pelaku sejarah yang terkait dengan peristiwa
G30S1965 yang masih hidup.

Kita terlanjur mengenal peribahasa “bangsa yang besar adalah yang menghormati
para pahlawannya”. Sesungguhnya, ada rumusan yang lebih tepat dan komprehensif:

“Bangsa yang besar adalah yang pandai menghargai waktu sebagai tiga lipat masa
kini : masa lalu sebagai alat peringatan dan memori bagi masa kini, masa kini
sebagai tempat kerja keras dan memperbaiki diri, dan masa depan sebagai harapan
masa kini.” Rekonstruksi sejarah peristiwa G30S1965 adalah salah satu (dari sekian
banyak) pembuktian sebagai bangsa yang besar itu.

[2] Sejumlah karya sastra telah (dengan caranya sendiri yang khas) telah
mengeritik pendekatan ini dengan memperlihatkan betapa banyak orang yang
tak berdosa akhirnya terkena getah G30S1965 dan mesti menjalani hukuman
atas kesalahan yang tidak mereka buat. Untuk sekadar menyebut karya sastra
itu: trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari dan Para Priyayi-nya Umar
Kayam.

Biodata Singkat Penulis Eep Saefulloh Fatah lahir di Cibarusah, Bekasi, 13 November
1967. Lulus sarjana S1 dari Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(FISIP) Universitas Indonesia, dengan skripsi berjudul Negara dan Pengelolaan Konflik
Orde Baru 1967-1988: Studi Atas Kasus Malari, Petisi 50, dan Tanjung Priok. Sejak
2000 menjadi mahasiswa program PhD di Department of Political Science, The Ohio
State University, Columbus, Amerika Serikat.Pernah menjadi anggota MPR Utusan
Golongan (1 Juli 1998 – 8 September 1998). Menjadi anggota Tim 11 (Panitia
Persiapan Pembentukan Komisi Pemilihan Umum, P3KPU) antara lain bersama
almarhum Prof. Nurcholish Madjid, Prof. Miriam Budiardjo, Dr. Adnan Buyung
Nasution, yang bertugas memverifikasi partai-partai politik calon peserta Pemilu
1999. Di tengah persiapan dan pelaksanaan Pemilu 1999, mendirikan dan memimpin
Komite Pemberdayaan Pemilih (KPP), kemudian mendirikan dan memimpin
konsorsium berbagai LSM dan aktivis dalam bentuk Keluarga Indonesia untuk Pemilu
Damai (KIPD).Antara 1998-2000 pernah menjadi pemandu talk show radio, Hubungan
Sipil Militer (dipancarkan melalui jaringan radio secara nasional), talk show TV,
Wacana Pemilu (ANTV), dan Menuju Indonesia Baru serta Indonesia Baru (keduanya
disiarkan langsung oleh RCTI, RCTI, TPI, ANTV dan Indosiar). Selain itu, aktif
melakukan kegiatan riset, pendidikan publik dan penulisan. Menjadi anggota Dewan
Riset Nasional (1999-2004). Antara tahun 1994-2004, menulis dan menerbitkan
sepuluh judul buku tentang politik dan demokratisasi di Indonesia serta aktif menulis
di jurnal ilmiah dan media massa Indonesia. Saat ini, selain berstatus sebagai staf
pengajar di Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia, Depok, juga memimpin
Lingkaran Persaudaraan Pemberdayaan Warga Negara (sejak 1999) dan Konsorsium
Merebut Masa Depan Maritim Indonesia (sejak Januari 2005).

Sumber: Buku Antologi: "Tragedi Kemanusiaan 1965 - 2005";

Rekonstruksi dan Refleksi


Tragedi ’65
Oleh : Baskara T. Wardaya, SJ

Tahun 2005 merupakan tahun peringatan 40 tahun salah satu lembaran paling hitam
dalam sejarah Indonesia, yakni Tragedi 1965. Dalam tragedi itu ada tujuh orang
perwira tinggi Angkatan Darat ditangkap dan dibunuh sebagai akibat operasi militer
yang diadakan oleh Letkol Untung Syamsuri dan kawan-kawan. Selang beberapa
waktu kemudian ada ratusan ribu rakyat Indonesia yang dalam tempo beberapa
bulan tewas dibantai oleh rekan-rekan sesama warga negara. Lebih lanjut, selama
beberapa dekade berikut, ingatan akan tragedi yang terjadi pada tahun 1965-66 itu
terus diproduksi dan dikemas sedemikian rupa hingga menjadi alat efektif untuk
melayani berbagai macam kepentingan kelompok.

Oleh karena itu dalam berbicara mengenai Tragedi ’65 kita perlu merinci dan
menyoroti tiga unsur penting yang tampak tak terpisahkan namun sebenarnya
berbeda. Ketiganya adalah: (a) operasi militer Letkol Untung dkk, (b) pembunuhan
massal; dan (c) produksi ingatan atas tragedi tersebut. Tanpa bermaksud membela
atau menyalahkan PKI maupun berbagai pihak lain yang terlibat, tulisan ini
dimaksudkan untuk mengajak para pembaca agar mau secara kritis berpikir ulang
mengenai ketiga hal tersebut dan belajar dari refleksi atas ketiganya.

1. Operasi militer Letkol Untung dan kawan-kawan.

Ketika orang berbicara mengenai peristiwa G30S tahun 1965 biasanya versi
yang secara resmi dan umum berlaku adalah sebagai berikut. Pada tanggal 30
September 1965 melalui Pasukan Cakrabirawa, PKI telah melancarkan kudeta
dengan jalan membunuh tokoh-tokoh tertinggi militer Indonesia di Jakarta.
Begitu kejamnya orang-orang PKI itu sehingga enam orang Jendral plus seorang
Kapten telah menjadi korban. [Dalam salah satu operasi penangkapan, seorang
Jenderal berhasil lolos dari upaya itu, namun putrinya tewas secara
mengenaskan di tangan PKI.] Kekejaman PKI berlanjut di Lubang Buaya, dengan
jalan menyayat-nyayat tubuh para Jendral. Sekelompok perempuan yang
tergabung dalam organisasi Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) bahkan
memotong alat-alat vital para Jendral itu sambil menari-nari di tengah orgi yang
disebut “pesta harum bunga”. Mata sebagian para korban juga dicungkil dengan
alat khusus.

Menurut versi resmi ini, karena PKI dipandang sebagai satu-satunya “dalang”
dari peristiwa keji tersebut, maka “sudah selayaknya” bahwa ratusan ribu
anggota PKI di manapun mereka berada dikejar dan dibunuh secara beramai-
ramai. Pantas pula peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 itu
disebut “G30S/PKI” dengan tekanan pada “PKI”-nya karena PKI merupakan
pelaku utama. Juga, tepat kalau istilah yang dipakai adalah istilah “Gestapu”
(Gerakan September Tigapuluh). PKI juga layak ditumpas karena sebelumnya
mereka telah dua kali “memberontak” (tahun 1926/27 dan 1948), dan ingin
mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi komunis yang ateis.

Masih menurut versi di atas, siapapun yang telah berhasil “menyelamatkan”


negara dan bangsa ini dari kaum komunis dengan jalan memimpin operasi
pembantaian dan pemenjaraan massal atas mereka, “berhak” menjadi
pemimpin tertinggi Republik Indonesia. Tanpa kepemimpinannya (dan orang-
orang dekatnya) negeri ini akan terus menerus berada di bawah rongrongan
kaum komunis yang kejam.....

Lepas dari apakah kita setuju atau tidak dengan versi resmi di atas, tampak ada
sejumlah kejanggalan atau misteri yang belum terjawab berkaitan dengan narasi
mengenai apa yang terjadi di seputar tanggal 30 September dan awal Oktober
1965 itu. Misalnya saja soal tuduhan PKI sebagai pelaku utama G30S. Kita
ketahui, PKI adalah organisasi sipil. Sementara itu tokoh-tokoh kunci dalam
gerakan yang menamakan diri sebagai “Gerakan Tigapuluh September” (G30S)
itu – yakni Letkol Untung, Kolonel Abdul Latief dan Brigjen Soepardjo – adalah
justru personil-personil militer, khususnya dari kesatuan TNI-Angkatan Darat.
Perlu diingat, Angkatan Darat sendiri sejak Pemilu 1955 telah makin sengit
berlawanan dengan PKI. Penyebabnya antara lain adalah tingginya perolehan
suara PKI sementara, dalam pemilu tersebut perolehan partai IPKI (Ikatan
Pendukung Kemerdekaan Indonesia), yakni partai politik yang dipelopori oleh
Angkatan Darat, amat kecil. Pertanyaannya, sedemikian hebatkah PKI sehingga
meskipun merupakan organisasi sipil ia telah berhasil mempengaruhi atau
“membina” para perwira Angkatan Darat ini sehingga mereka tunduk dan mau
melaksanakan rencana PKI untuk melawan kesatuannya sendiri?

Dalam pledoinya, Kolonel Abdul Latief – Komandan Brigade Infanteri 1 Jayasakti


Kodam V Jaya dan salah seorang tokoh kunci G30S – mengatakan bahwa
sebelum dilaksanakannya operasi militer itu, pada tanggal 30 September 1965
sore ia telah melapor ke Pangkostrad Mayor Jendral Soeharto. Dikatakan bahwa
Soeharto juga telah mengetahui rencana move militer itu melalui salah seorang
bekas anak buahnya dari Yogyakarta yang bernama Subagiyo, yang
menemuinya pada tanggal 28 September 1965. Pertanyaannya, mengapa
Pangkostrad Soeharto tidak melaporkan rencana operasi militer itu ke
atasannya, yakni Jendral Ahmad Yani sebagai Panglima Angkatan Darat? Atau
mengapa ia tidak menyampaikan informasi tersebut ke Presiden Soekarno
sebagai Panglima Tertinggi? Padahal ia tahu bahwa operasi militer itu adalah
operasi besar dan serius, dan direncanakan akan berlangsung di Ibukota Negara.

Pada waktu itu salah satu posisi paling penting dalam angkatan bersenjata di
Indonesia adalah posisi Pangkostrad (Panglima Komando Cadangan Strategis
Angkatan Darat) yang waktu itu dijabat oleh Mayjen Soeharto. Pertanyaannya,
kalau G30S itu adalah gerakan PKI untuk melawan Angkatan Darat, mengapa
Soeharto sebagai Pangkostrad tidak diapa-apakan? Terhadap pertanyaan ini ada
dua kemungkinan jawaban :

(a) Para pelaku G30S begitu bodoh sehingga mereka mengabaikan Soeharto dan
pasukannya;
(b) telah ada sikap “saling pengertian” antara para pelaku G30S dengan
Soeharto, atau bahkan Soeharto merupakan bagian dari G30S itu sendiri.
Mana dari kemungkinan ini yang lebih dapat diterima?

Dalam konteks Perang Dingin tentu ada banyak negara yang senang atau
sebaliknya khawatir dengan perkembangan politik di Indonesia waktu itu. Hal ini
terutama berkaitan dengan kecenderungan politik Presiden Soekarno, soal
konfrontasi Indonesia melawan Malaysia, perkembangan politis yang berujung
pada “segitiga ketegangan” antara PKI, Bung Karno dan militer (khususnya
Angkatan Darat). Sangat mungkin bahwa sejumlah negara, entah itu dari blok
kapitalis pimpinan Amerika Serikat maupun kubu komunis yang dipelopori Uni
Soviet dan Cina, ikut berkepentingan atas terjadinya perubahan mendasar
dalam perpolitikan di Indonesia waktu itu.

Dengan demikian pertanyaannya, bukankah tidak mungkin bahwa ada sejumlah


pihak asing yang – entah langsung atau tak langsung – ikut terlibat dalam aksi
militer yang diperkirakan akan membawa perubahan mendasar itu? Kalau
keterlibatan itu ada, benarkan PKI mampu mengorganisir berbagai kekuatan
asing itu?

Satu-satunya kaitan (link) yang menghubungkan Gerakan 30 September dengan


PKI adalah Ketua Biro Khusus PKI, yakni Sjam Kamaruzzaman alias Sjamsul
Qamar Mubaidah. Oleh PKI ia ditugasi untuk “membina” sejumlah anggota TNI-
AD agar mendukung PKI. Pertanyaannya, bagaimana dengan dugaan bahwa
sebenarnya Sjam adalah sekaligus bertindak sebagai agen ganda yang juga
bertugas memata-matai gerak PKI demi kepentingan kalangan militer? Kalau
dugaan itu benar, bagaimana mungin posisi Sjam yang masih meragukan itu
bisa dijadikan bukti bahwa PKI merupakan “dalang” dari operasi militer G30S?
“Misteri” tentang Sjam ini menjadi lebih menarik jika diingat bahwa meskipun
dituduh sebagai tokoh kunci PKI dalam G30S ia tidak dihukum mati seperti yang
lain. bahkan di mana kini ia berada masih merupakan tanda tanya besar yang
sepertinya tak seorang pun mau mengatakannya.
Sering dikatakan bahwa PKI adalah satu-satunya dalang dari operasi militer
kelompok G30S. Pertanyaannya, benarkah bahwa dalang dari operasi militer itu
tunggal? Tidak mungkinkah bahwa dalang dari peristiwa tersebut bukan satu
melainkan beberapa? Mustahilkah bahwa operasi militer yang dilakukan oleh
kelompok G30S itu merupakan muara dari berbagai kelompok kepentingan ( dari
dalam maupun luar negeri) yang sama-sama berharap menguasai perpolitikan di
Indonesia saat itu? Selanjutnya, tidak mungkinkah bahwa seandainyapun PKI
terlibat, ia merupakan salah satu dari berbagai kelompok kepentingan itu, tetapi
bukan satu-satunya?

Menurut versi resmi di atas, apa yang terjadi pada malam 30 September-1
Oktober 1965 itu merupakan suatu “pemberontakan”. Maksudnya tentu saja
pemberontakan yang dilakukan oleh PKI melawan pemerintah RI.
Pertanyaannya, tepatkah penggunaan istilah “pemberontakan” itu di sini? Jawab
atas pertanyaan ini penting, mengingat secara etimologis istilah tersebut
memiliki makna yang berbeda. Istilah pemberontakan dalam bahasa Inggris
adalah rebellion, yang berarti “an open defiance of or resistance to an
established government” – suatu tindakan menentang atau resistensi secara
terbuka terhadap pemerintah yang ada. Istilah itu perlu dibedakan dengan
istilah coup d’etat (kudeta), yang berarti perebutan kekuasaan yang dilakukan
oleh tentara bersama sipil; dengan istilah pronounciamento yang berarti
perebutan kekuasaan yang semua pelakunya adalah tentara; dan dengan istilah
putsch yang pengertiannya adalah perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh
sekelompok tentara. Dari definisi-definisi itu kelihatan bahwa operasi militer
yang dilakukan oleh Letkol Untung dan kawan-kawannya itu lebih dekat dengan
pengertian putsch daripada pemberontakan, karena tidak dimaksudkan untuk
menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno dan hanya dilakukan oleh
sekelompok tentara. Tetapi mengapa istilah yang dipakai oleh versi resmi selalu
saja istilah “pemberontakan” dan bukan putsch? Itupun selalu dikaitkan dengan
“pemberontakan-pemberontakan PKI” yang terjadi pada tahun 1926/27 dan
1948, biasanya tanpa pemahaman yang memadai tentang konteks dan kaitan
antara dua peristiwa tersebut.

Selain pertanyaan-pertanyaan di atas, tentu masih ada sejumlah pertanyaan lain


yang bisa diajukan terhadap versi resmi itu. Misalnya saja berkaitan dengan
benar atau tidaknya kisah tentang pencungkilan mata para korban, atau tentang
tarian orgi para anggota Gerwani yang berjoget sambil menyayat-nyayat bagian
tubuh para Jendral militer. Bisa diajukan pula pertanyaan mengenai benar atau
tidaknya pandangan bahwa TNI-Angkatan Udara merupakan bagian utama dari
G30S. Sementara itu kaitan geografis antara Markas TNI-AU di Halim
Perdanakusuma dengan lokasi pembuangan mayat para Jendral di Lubang
Buaya juga sering kabur – atau sengaja dikaburkan.

2. Pembunuhan Massal.

Apapun jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul di seputar kejanggalan


atau misteri versi resmi di atas, telah diketahui bahwa dalam waktu singkat
operasi militer yang dipimpin oleh Letkol Untung dan kawan-kawan itu diketahui
umum, dan pada tanggal 2 Oktober dinyatakan abortive atau gagal. Koran PKI
Harian Rakjat sempat menyatakan dukungan kepada operasi militer Letkol
Untung, tetapi siapa sebenarnya yang membuat pernyataan itu dan kapan
konsep pernyataan itu dibuat, kini banyak diperdebatkan. Letkol Untung pun
melarikan diri ke luar Jakarta. Bersamaan dengan itu tercerai-berai pula para
bekas pelaku utama Gerakan Tigapuluh September. Sejak itu berlangsung masa
yang relatif tenang, dalam arti tak terjadi pergolakan sosial besar-besaran di
masyarakat, meskipun di sana-sini muncul suasana tegang akibat pembunuhan
para Jendral di Jakarta beserta berita-berita tentang itu.

Pergolakan sosial baru terjadi sekitar tanggal 20-21 Oktober, ditandai dengan
pembunuhan massal yang berlangsung di Jawa Tengah, khususnya di daerah
Klaten dan Boyolali. Dengan kata lain, pembunuhan massal itu baru terjadi
sekitar dua atau tiga minggu setelah berlangsungnya operasi militer yang
dilakukan oleh kelompok G30S. Dan pembunuhan massal itupun terjadi secara
bergelombang. Pada bulan Oktober pembunuhan terjadi di Jawa Tengah,
selanjutnya pada bulan November merembet ke Jawa Timur, dan baru pada
bulan Desember terjadi di Pulau Bali.

Pembunuhan itu sendiri berlangsung secara sungguh keji dan sungguh massal.
Pada dinihari tanggal 23 Oktober 1965, misalnya, di Boyolali ada sekitar 250
orang yang dibunuh secara beramai-ramai, termasuk seorang guru SD dan
istrinya yang dilempar ke sumur dalam keadaan hidup-hidup. Dalam keadaan
tak menentu, banyak warga keturunan Cina di Semarang, Yogyakarta dan
Surakarta juga menjadi korban amuk massa. Tindakan kejam serupa terjadi di
berbagai tempat lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan sejumlah lokasi di luar
Jawa. Jumlah pasti tentang berapa korban yang tewas sulit ditentukan, tetapi
umumnya berkisar antara setengah juta sampai satu juta jiwa. Dengan demikian
secara umum dapat dikatakan bahwa dari segi skala kekejaman dan jumlah,
pembantaian massal 1965 di Indonesia merupakan salah satu kekejian
kemanusiaan di luar perang yang paling mengerikan.

Di sinilah terletak aspek tragedi dari apa yang terjadi pada tahun 1965-1966 itu.
Yakni

Pertama,
bahwa tujuh perwira tinggi militer telah dibunuh – bukan oleh musuh dari luar
Indonesia, melainkan oleh sesama warga negaranya, bukan di medan tempur
melainkan di rumah atau lingkungan masing-masing.

Kedua,
Pembunuhan atas para perwira itu disusul oleh pembantaian ratusan ribu
(kalau tak mau dikatakan jutaan) atas warga bangsa ini – juga bukan oleh
kekuatan asing, melainkan oleh rekan-rekan sesama warga bangsanya.

Ketiga,
Tak cukup berhenti disitu, pembantaian warga sipil dan militer tersebut
dilanjutkan dengan pemenjaraan massal atas mereka yang dituduh sebagai
punya kaitan dengan PKI, tanpa proses pengadilan. Hak-hak mereka sebagai
warga negara dicabut oleh rekan-rekan sebangsa mereka. Selanjutnya
mereka mengalami stigmatisasi yang akan merugikan secara sosial, politik
dan ekonomi secara berkepanjangan. Hak-hak asasi mereka sebagai manusia
dan sebagai warga negara telah dilanggar dan terus-menerus dilanggar.

Berkaitan dengan pembunuhan massal itu tentu ada banyak hal yang juga bisa
dipertanyakan. Antara lain adalah, mengapa pembunuhan massal itu tidak
berlangsung secara serempak, melainkan bergelombang atau bergiliran?
Adakah faktor-faktor tertentu yang menjadi pemicu bagi mulainya pembunuhan
massal itu di masing-masing daerah? Bahwa sejak diberlakukannya Undang-
undang Pokok Agraria (UUPA) dan UUBH (Undang-undang Bagi Hasil) pada tahun
1964 terjadi ketegangan antara PKI dan para tuan tanah memang betul; tetapi
mengapa pembantaian di masing-masing daerah itu baru mulai terjadi pada
tahun 1965 dan itupun pada bulan-bulan terakhir tahun tersebut dan awal tahun
1966? Di beberapa tempat, pembantaian berlangsung justru pada tahun 1967-
1968, saat ketika konon PKI telah berhasil ditumpas. Dan korbannya ternyata
memang bukan hanya para anggota PKI. Mengapa?

3. Produksi dan Reproduksi Ingatan.

Dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, tak dapat dipungkiri


bahwa tampaknya memang terdapat unsur kesengajaan untuk mengarahkan
atau bahkan memproduksi opini publik dan ingatan (memory) akan apa yang
terjadi pada tahun 1965 itu menurut versi tertentu demi tujuan-tujuan tertentu
pula. Misalnya saja penggunaan istilah “G30S/PKI”. Meskipun sebenarnya dalang
yang sesungguhnya dari pembunuhan para Jendral itu belum jelas – atau bahkan
setelah diketahui bahwa tokoh-tokoh kunci dari G30S itu adalah justru anggota
militer – tetap saja digunakan istilah tersebut dengan maksud untuk
memojokkan PKI. Bahkan penggunaan istilah “Gestapu” tampak sekali sengaja
dilakukan untuk mengasosiasikan operasi militer yang konon didalangi oleh PKI
itu dengan polisi rahasia Jerman Gestapo (Geheime Stat Polizei) yang terkenal
kejamnya.

Produksi ingatan akan apa yang terjadi pada tahun 1965 itu sudah dimulai
ketika pada dua pekan pertama bulan Oktober hampir semua koran disensor,
dan hanya koran-koran tertentu yang boleh terbit, khususnya harian Angkatan
Bersenjata dan Berita Yudha yang dikelola oleh Angkatan Darat. Melalui koran-
koran ini, dan melalui berbagai cerita yang beredar di masyarakat, dikisahkan
mengenai berbagai kekejaman PKI di Lobang Buaya, seperti kisah “pesta harum
bunga”, kisah pemotongan alat-alat vital, serta kisah pencungkilan mata yang
sampai sekarang belum terbukti itu. Dalam koran Angkatan Bersejata edisi 7
Oktober 1965, misalnya, dikatakan bahwa para Jendral itu “matanya dicongkel”.
Padahal, Brigjen TNI dr Rubiono Kertapati yang mengetuai tim dokter yang
melakukan autopsi atas para korban menyatakan dalam laporan visum et
repertum-nya bahwa tak ada penyiksaan atas tubuh para korban.

Lepas dari apakah orang setuju atau tak setuju dengan PKI, atau apakah
sebenarnya PKI bersalah atau tidak, faktanya adalah bahwa hanya kisah-kisah
resmi versi militer yang memojokkan PKI yang waktu itu boleh beredar. Bahkan
ketika ada anggota TNI AD yang ditugaskan sebagai wartawan Kantor Berita
Antara meliput kekejaman terhadap PKI ia malah “di-PKI-kan” dan dijebloskan ke
penjara selama bertahun-tahun. Akibatnya, rakyat menjadi mudah disulut untuk
melakukan tindakan massal dalam rangka menghabisi para anggota PKI atau
yang diduga anggota PKI. Slogan yang beredar di masyarakat adalah
“membunuh atau dibunuh” – persis slogan militer dalam perang. Pembunuhan
massal pun terjadi, dan bagaikan Perang Baratayudha, bangsa Indonesia “mandi
darah” saudara sendiri. Kemudian pembunuhan itu diikuti dengan pemenjaraan
massal di Jawa mau pun di luar Jawa, dan hampir semuanya tanpa didahului oleh
proses pengadilan yang memadai.

Selanjutnya, ingatan akan apa yang terjadi pada tahun 1965 menurut versi
resmi itu tidak hanya di-produksi melainkan juga terus di-reproduksi, karena
produksi dan reproduksi macam itu menguntungkan sejumlah pihak, baik dari
kalangan militer maupun sipil. Pembuatan, pemutaran dan pemaksaan untuk
menonton film yang berjudul Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer pada
tahun 1980-an hingga 1990-an hanyalah salah satu contoh. Dalam film yang
berat sebelah dan bernada propaganda atas versi resmi itu ditunjukkan
kekejaman yang terjadi pada dinihari 1 Oktober 1965 yang menurut film
tersebut jelas-jelas dilakukan oleh PKI.

Oleh kelompok-kelompok kepentingan tertentu produksi dan reproduksi ingatan


menurut versi resmi atas Tragedi ’65 itu dipandang penting, karena hal itu dapat
digunakan untuk menakut-nakuti masyarakat sehingga mudah dikontrol. Ia
menjadi semacam menara panotik-nya Foucault yang berfungsi sebagai sistem
pengawasan yang dominan tapi tak mudah diduga. Pembubuhan kode “ET” (Eks
Tapol) pada KTP milik orang-orang yang melawan kebijakan penguasa, misalnya,
membuat orang-orang itu ketakutan dan berpikir dua kali kalau tak mau tunduk
pada pemerintah.

4. Konsekuensi lebih jauh.

Lebih daripada sekedar membuat takutnya orang-orang yang KTP-nya diberi


kode “ET”, produksi dan reproduksi ingatan oleh penguasa yang bersifat sepihak
juga memiliki konsekuensi lebih jauh bagi kehidupan bersama sebagai bangsa.
Salah satunya ialah bahwa ingatan masyarakat akan apa yang terjadi pada
tahun 1965 itu menjadi kabur dan campur-aduk. Masyarakat bahkan sulit
membedakan antara (a) operasi militer yang dilakukan oleh Letkol Untung dan
kawan-kawan dengan (b) pembunuhan massal terhadap rakyat Indonesia oleh
rakyat Indonesia, serta (c) berbagai upaya produksi dan reproduksi ingatan akan
Tragedi 1965 yang telah dimanipulasi.

Kebiasaan memusatkan peringatan Tragedi ’65 pada bulan September adalah


contoh bagaimana masyarakat mengira bahwa “puncak” tragedi itu ada pada
bulan September. Seakan-akan pada bulan itu-lah tragedi tersebut terjadi.
Padahal pembunuhan para Jendral itu terjadi pada dinihari hari pertama bulan
Oktober, dan pada bulan Oktober pula mulai terjadi pembantaian massal di Jawa
Tengah, yang kemudian terus berlangsung pada bulan Nopember, Desember,
dst. [Kiranya sudah saatnya peringatan Tragedi ’65 digeser ke bulan Oktober
atau setelahnya, supaya bangsa Indonesia bisa belajar untuk tidak saling
membunuh].

Tidak lengkapnya ingatan masyarakat akan apa yang terjadi pada tahun 1965
itu juga membuat tidak adanya upaya hukum untuk secara serius mengadili
para pemberi komando maupun para pelaku-lapangan atas pembantaian massal
itu. Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) yang diadakan pada waktu itu
terkesan lebih dimaksudkan untuk memposisikan tokoh-tokoh PKI dan para
pelaku G30S sedemikian rupa agar mudah dijatuhi hukuman (mati). Selain itu
juga dimaksudkan untuk menciptakan ketakutan terhadap mereka yang punya
afiliasi dengan komunisme atau terhadap setiap gerakan kiri di negeri ini.

Konsekuensi praktisnya ialah, kalau membunuh ratusan ribu orang saja


dibiarkan, orang akan merasa tidak apa-apa ketika melakukan tindakan-
tindakan lain yang sebenarnya jahat, tetapi yang ia pandang “lebih ringan”
daripada apa yang terjadi pada tahun 1965 itu. Misalnya tindakan melakukan
penculikan dan pembunuhan atas beberapa mahasiswa, mencuri beberapa
milyar rupiah uang negara, menjual sumber-sumber daya alam ke negara lain,
menaikkan harga kebutuhan pokok rakyat bawah secara berlebihan, atau
memprovokasi konflik-konflik horisontal yang korbannya “hanya” beberapa ribu
orang, dsb. Akibat selanjutnya adalah begitu banyak kasus pelanggaran hak-hak
asasi manusia (HAM) berat yang tak pernah diselesaikan secara tuntas di
pengadilan, entah itu berkaitan dengan masalah Maluku, Aceh, Poso, Tanjung
Priok, Timor Leste, atau yang lain.

5. Belajar dari Sejarah.

Situasi demikian tentu tak dapat dibiarkan terus berlangsung. Perlu segera
dicarikan jalan keluarnya. Jika tidak, keadaan akan terus memburuk dan masa
depan Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa yang adil dan demokratis akan
semakin dipertanyakan. Peringatan 40 tahun Tragedi ’65 adalah momentum
yang amat berharga. Misalnya dengan menggeser puncak peringatan Tragedi
1965-1966 itu dari bulan September ke bulan Oktober atau sesudahnya.
Peringatan macam itu bisa menjadi kesempatan bagi semua pihak, baik para
sejarawan maupun masyarakat pada umumnya, untuk setiap tahun secara kritis
meninjau dan merekonstruksi kembali apa yang terjadi pada pertengahan tahun
1960-an dengan segala kompleksitasnya. Lebih dari itu, peringatan macam itu
akan mengundang kita untuk berefleksi dan belajar dari tragedi yang terjadi
pada tahun 1965 itu, yang kekejamannya nyaris tak tertandingi dalam sejarah
Indonesia dan yang dampaknya masih tetap mengganggu kehidupan bersama
kita sebagai bangsa sampai sekarang.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak takut untuk belajar dari
sejarahnya sendiri.

Dalang Tragedi 1965


Baskara T Wardaya

Menarik sekali, akhir-akhir ini wacana Tragedi 1965 mencuat lagi ke permukaan. Hal
itu terjadi antara lain berkat terbitnya buku terjemahan karya Antonie Dake, Sukarno
File: Berkas-berkas Sukarno 1965-1967, Kronologi Suatu Keruntuhan.

Telah timbul pro-kontra di masyarakat atas isi buku itu. Belum lama berselang harian
ini juga menurunkan dua artikel dan satu surat pembaca yang secara lugas
menanggapi buku itu (Kompas, 3 dan 13/12/2005).

Sedikit disayangkan, buku maupun kedua artikel itu lebih banyak berkisar pada
pertanyaan-pertanyaan di seputar siapa sebenarnya dalang di balik operasi militer
yang dilancarkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang menamakan diri Gerakan
Tiga Puluh September pada 1 Oktober 1965.

Sebagaimana diketahui, di bawah pimpinan Letkol Untung kelompok itu menjemput


paksa sejumlah perwira militer di Jakarta. Penjemputan paksa itu berujung pada
tewasnya sejumlah perwira tinggi dan menengah Angkatan Darat, yakni Aipda KS
Tubun, dan Ade Irma Surjani Nasution.

Siapa sebenarnya tokoh kunci operasi militer itu? Hingga kini masih merupakan
misteri, dan hal itu telah menjadi fokus berbagai wacana, termasuk tulisan-tulisan di
atas.

Ratusan ribu

Wacana demikian tentu amat perlu. Tetapi jika tidak hati-hati bisa menimbulkan
kesan, tragedi tahun 1965 hanya terbunuhnya para tokoh itu. Padahal, tragedi tahun
1965 bukan hanya itu. Ada tragedi lain yang tidak kalah dahsyat, yakni dibunuhnya
ratusan ribu warga masyarakat Indonesia beberapa saat setelah terjadinya peristiwa
pembunuhan para petinggi militer itu apa pun justifikasinya. Mereka dibunuh di Jawa
Tengah, Jawa Timur, Bali, dan sejumlah tempat lain di Tanah Air. Kebanyakan dari
mereka yang dibunuh itu adalah rakyat biasa yang kemungkinan besar tak ada
sangkut paut dengan operasi militer yang dilakukan Letkol Untung dan kawan-kawan
di Jakarta.

Dalam jumlah besar mereka dieksekusi tanpa melalui proses pengadilan, sementara
yang lolos dari eksekusi ditangkap dan dipenjara selama bertahun-tahun, juga tanpa
proses pengadilan.

Sejumlah tokoh militer dan politik yang diduga terkait operasi militer 1 Oktober 1965
itu memang diadili oleh suatu mahkamah khusus, tetapi sejauh mana pengadilan itu
fair masih merupakan tanda tanya. Jumlah yang dibunuh itu begitu besar sehingga
bisa jadi merupakan pembunuhan warga sipil terbesar yang pernah terjadi dalam
sejarah bangsa ini.

Lepas dari siapa yang benar atau salah, pembunuhan itu mengingatkan, dalam
sejarahnya bangsa kita pernah melakukan pembantaian terhadap sesama warga
dengan cara dan dalam jumlah yang amat mengerikan.

Karena itu, perlulah tragedi berdarah itu terus diteliti dan dipelajari sehingga
tindakan di luar perikemanusiaan yang adil dan beradab seperti itu tak akan terulang
di masa datang. Dalam konteks itu pula penting mencari tahu tidak hanya siapa
dalang di balik pembunuhan 1 Oktober 1965, tetapi juga dalang di balik pembunuhan
massal pada pekan-pekan terakhir tahun 1965.

Penting pula mempelajari siapa yang terutama diuntungkan, serta apa saja dampak
tragedi itu bagi Indonesia saat itu, kini dan di masa depan.

Dalang pembantaian

Secara teoretis, tampaknya tidak akan terlalu sulit menemukan dalang dari peristiwa
itu, khususnya pada tingkat nasional. Fakta bahwa pembunuhan terjadi pada minggu
ketiga Oktober di Jawa Tengah, bulan November di Jawa Timur, dan bulan Desember
di Bali, menunjukkan, pembunuhan itu tidak terjadi secara spontan dan serempak.
Terkesan ada koordinasi dan provokasi.

Dengan kata lain, ada unsur koordinatordan provokator, dan itu penting untuk segera
diketahui publik. Seorang perwira militer memang pernah memimpin dan
mengoordinasikan operasi pembantaian di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagainya,
tetapi tampaknya dia lebih merupakan semacam komandan lapangan saja (Siregar:
1995).

Besar kemungkinan, ada komando yang datang dari pihak yang lebih tinggi daripada
dia di Jakarta. Kemungkinan macam itu tentu amat penting untuk secepatnya dikaji
masyarakat.

Jika dalam kasus operasi militer yang dilakukan Gerakan Tiga Puluh September
dugaan tentang siapa dalangnya berkisar pada sejumlah pihak (seperti Bung Karno,
PKI, Letkol Untung, Mayjen Soeharto, dan CIA), dalam kasus pembunuhan massal
1965 dugaan serupa bisa lebih dipersempit.

Bung Karno tentu bukan dalangnya karena tak ada tanda-tanda dia pernah berpikiran
membunuh secara massal anggota Partai Komunis atau partai politik apa pun di
negeri ini. Letkol Untung juga bukan, karena pada 2 Oktober 1965 gerakan yang
dipimpinnya telah gagal dan ia melarikan diri.

PKI juga tidak karena justru merekalah korban pembunuhan massal itu. Akhirnya
yang tinggal hanya sedikit kemungkinan, dan itu mendesak untuk segera diteliti lebih
lanjut. Dengan begitu, diharapkan penelitian dan wacana tentang tragedi 1965 tidak
lagi hanya berkisar pada pencarian dalang Gerakan Tiga Puluh September saja, tetapi
juga dalang pembantaian massal 1965-1966. Dengan kata lain, bahkan jika dalang
dari operasi militer 1 Oktober 1965 telah ditemukan, masyarakat masih harus
mencari siapa sebenarnya dalang dari pembunuhan massal 1965.

Akhir kata, terpulang kepada masyarakat Indonesia (bukan hanya peneliti asing)
untuk mencari dan menemukan siapa sebenarnya tokoh kunci di balik pembunuhan
berskala besar itu. Terpulang kepada masyarakat, langkah apa yang mau diambil jika
tokoh itu akhirnya ditemukan.

Tambahan Fakta

Hubungan Soeharto dan tujuh Jendral korban G30S

Pertama-tama perlu kita simak bagaimana hubungan Mayjen Soeharto dengan


ketujuh jenderal rekannya yang kemudian menjadi korban pembunuhan G30S,
menurut Letkol Untung mereka tergabung dalam Dewan Jenderal yang akan
melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno. Jenderal Nasution luput dari
percobaan penculikan dan pembunuhan, sedang enam jenderal yang lain yang
terbunuh, Letjen Ahmad Yani, Mayjen Suprapto, Mayjen S Parman, Mayjen Haryono
MT, Brigjen Sutoyo, Brigjen Panjaitan.

Ketika Kolonel Soeharto menjabat sebagai Panglima Diponegoro, ia dikenal sebagai


sponsor penyelundupan dan berbagai tindak pelanggaran ekonomi lain dengan dalih
untuk kesejahteraan anak buahnya. Soeharto membentuk geng dengan sejumlah
pengusaha seperti Lim Soei Liong, Bob Hasan, dan Tek Kiong, konon masih saudara
tirinya. Dalam hubungan ini Kolonel Soeharto dibantu oleh Letkol Munadi, Mayor Yoga
Sugomo, dan Mayor Sujono Humardani. Komplotan bisnis ini telah bertindak jauh
antara lain dengan menjual 200 truk AD selundupan kepada Tek Kiong. Persoalannya
dilaporkan kepada Letkol Pranoto Reksosamudro yang ketika itu menjabat sebagai
Kepala Staf Diponegoro, bawahan Soeharto. Maka MBAD membentuk suatu tim
pemeriksa yang diketuai Mayjen Suprapto dengan anggota S Parman, MT Haryono
dan Sutoyo. Langkah ini diikuti oleh surat perintah Jenderal Nasution kepada Jaksa
Agung Sutarjo dalam rangka pemberantasan korupsi untuk menjemput Kolonel
Soeharto agar dibawa ke Jakarta pada 1959. Ia akhirnya dicopot sebagai Panglima
Diponegoro dan digantikan oleh Pranoto. Kasus Soeharto tersebut akhirnya
dibekukan krn kebesaran hati Presiden Soekarno.

Nasution mengusulkan agar Soeharto diseret ke pengadilan militer, tetapi tidak


disetujui oleh Mayjen Gatot Subroto (Subandrio 2000:10). Kemudian ia dikirim ke
Seskoad di Bandung. Soeharto sendiri dalam otobiografinya mencatat persoalan itu
sebagai menolong rakyat Jawa Tengah dari kelaparan, maka ia mengambil prakarsa
untuk melakukan barter gula dengan beras dari Singapura. Ia tidak menyinggung
sama sekali adanya tim penyelidik dari MBAD. Selanjutnya ketika Soeharto hendak
ditunjuk sebagai Ketua Senat Seskoad, hal itu ditentang keras oleh Brigjen Panjaitan
dengan alasan moralitas, artinya moral Soeharto sebagai manusia, apalagi sebagai
prajurit, tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Silang pendapat dengan Jenderal A Yani lebih serius, hal itu bersangkutan dengan
bagaimana seharusnya peranan Kostrad dengan merujuk sejarah Kostrad (Crouch
1999:104). Demikianlah sedikit banyak Soeharto memiliki pengalaman pribadi yang
tidak menyenangkan dengan ketujuh rekannya tersebut dalam perjalanan kariernya.
Selama 32 tahun kekuasaannya para anggota geng Soeharto mendapatkan tempat
terhormat yang setimpal, sebaliknya dengan lawan-lawannya termasuk Jenderal
Nasution setelah dicopot sebagai ketua MPRS dan juga dengan Mayjen Pranoto yang
kemudian ditahan bertahun-tahun tanpa proses. Perkembangan sejarah
menunjukkan bahwa Soeharto benar-benar tidak “sebodoh” yang diperkirakan
Jenderal Nasution, juga tidak sekedar koppig seperti yang disebut oleh Bung Karno

Tanggal 2 Oktober 65, 3 orang perwira intel Kodam V Jaya yaitu Ngatman, Teguh, dan
Batara dibunuh di Jalan Arteri Jakarta Timur yang belum jadi. Siapa pembunuhnya
tidak diketahui dan tidak tertangkap hingga kini. Ketiga perwira itu esok harinya
dimakamkan di Taman Makam Pahlawan dengan masing-masing dinaikkan
pangkatnya satu tingkat. Diduga mereka adalah anggota Biro Khusus yang tahu seluk
beluk G30S proyek AD. S. Utomo

Letkol (Purn) Soehardi :


Untung Sebenarnya Bernama
Kusman
OlehJulius Pour

Salah seorang sosok misterius dalam Peristiwa G-30-S (Gerakan 30 September)


namanya Untung. Dengan mendadak, dia muncul ke atas pentas. Dia tampil sebagai
tokoh utama sekaligus pusat peristiwa. Tetapi, hanya dua minggu nama Komandan
Dewan Revolusi tersebut bertahan, sebelum akhirnya bisa diringkus di Tegal, ditahan,
dan diajukan ke Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) kemudian dijatuhi hukuman
mati.

“Untung bernama asli Kusman, waktu kecil senangnya main bola, anggota KVC,
Keparen Voetball Club di Kelurahan Jayengan, Solo.” Orang tua tersebut melukiskan
semuanya dengan lancar. Dia bukan sekadar kenal melainkan, “…ayah angkatnya
bernama Samsuri, bekerja sebagai buruh batik di rumah orang tua saya. Maka kalau
Si Kus menyapa, dia selalu memanggil saya Gus Hardi.”

Pensiunan letnan kolonel yang mengungkapkan kisah di atas namanya Soehardi.


Tanggal 20 Mei lalu usianya genap 80 tahun. Oleh karena sudah di ambang senja, dia
kini bersedia membuka tabir sekitar Letnan Kolonel (Inf) Untung Samsuri.

Untung Samsuri menjadi sosok kontroversial dalam sejarah Indonesia baru dengan
jabatan resmi terakhir Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Resimen
Tjakrabirawa, kesatuan khusus pengawal Presiden Soekarno.

Untung kemudian terkenal dalam kaitan Peristiwa 30 September. Pada dini hari
tanggal 1 Oktober 1965 tersebut, dia memimpin gerombolan G-30-S menculik
sejumlah jenderal Angkatan Darat. Tujuh perwira tinggi akan ditangkap, dituduh
sebagai anggota Dewan Jenderal yang bermaksud menggulingkan Bung Karno.

Dari tujuh jenderal yang jadi sasaran, enam berhasil mereka tangkap. Sasaran
utama, KSAB Jenderal AH Nasution, justru berhasil meloloskan diri.

Sesudah enam jenderal ditangkap, paginya akan dihadapkan kepada Bung Karno “…
semuanya terserah kepada Bapak Presiden, apa tindakan yang akan dijatuhkan
kepada mereka,” demikian jawaban Untung pada sidang Mahmilub yang nantinya
menjatuhkan vonis hukuman mati dan eksekusinya dilaksanakan pertengahan tahun
1966.
Skenario di atas ternyata menjadi berantakan. Para jenderal yang baru saja diculik
oleh anak buah Untung kemudian dibunuh di Lubang Buaya. Siapa yang
memerintahkan? “Bukan saya, “ jawab Untung dalam sidang Mahmilub.

Nantinya diketahui, perintah justru diberikan oleh anggota Biro Khusus PKI. Dengan
membawa akibat, skenario awal tadi akhirnya lepas kendali, menyambar ke segala
arah dengan ekses berikut derita, yang meski telah empat dasawarsa berlalu,
dukanya belum bisa terpulihkan. Khususnya derita para keluarga korban aksi
pembunuhan massal yang menghabiskan sekurangnya 500.000 nyawa pengikut
komunis dan mereka yang sekadar dianggap sebagai komunis.

Sesama Tjakrabirawa

Soehardi anggota Tjakrabirawa, berasal dari CPM (Corps Polisi Militer) dengan jabatan
saat Peristiwa G-30-S meletus, Kepala Provost Tjakrabirawa. Ketika tahun 1966,
kesatuan tersebut dibubarkan dan tugas mengawal Presiden digantikan Yon
POMAD/Para, Soehardi tidak ikut di-bersih-kan karena tidak terlibat.

“Sesungguhnya, meski Untung menjabat Komandan Batalyon, hanya satu Kompi


bersedia mengikuti petualangannya ke Lubang Buaya. Anggota Tjakrabirawa lainnya,
tidak tahu apa-apa.” Memasuki masa pensiun tahun 1982. Sebelumnya, Soehardi di-
tugas-karya-kan di Inspektorat Jenderal Depdikbud, ketika Daoed Joesoef menjadi
menteri. Panjang jalan harus ditempuh oleh anak juragan batik asal Solo tersebut
dalam meniti karier militer, diawali dengan menjadi anggota PT (Polisi Tentara) di
masa perang kemerdekaan.

Awal tahun 1965, di Istana Merdeka, Soehardi bertemu kembali dengan teman masa
kecilnya. “Lho, Gus Hardi inggih wonten mriki? (Lho, Gus Hardi juga di sini),” begitu
tanya Untung spontan. Menurut Soehardi, “Saya langsung menjawab sambil
menghormat, siap Mayor.” Dia segera menambahkan, “Saya harus menghormat,
karena saya hanya Kapten, dia sudah Mayor. Meski saya sudah tugas di Istana
Presiden sejak tahun 1954 dan Untung baru saja pindah dari Semarang, dalam
kepangkatan kenyataannya dia lebih senior.”

Pengalaman semasa kecil, jarak sosial dan hal-hal lain menyebabkan Soehardi-
Kusman tidak akrab sesudah sama-sama di Jakarta. “Sebagai pejabat baru di
Tjakrabirawa dia tidak menonjol, tinggalnya di daerah Cikini, dekat dengan rumah DN
Aidit, Ketua CC PKI. Kami tidak pernah melakukan kontak, sebab sejak kecil dia
orangnya pendiam…”

Ayah kandung Untung namanya Abdullah, bekerja di toko peralatan batik milik warga
keturunan Arab di Pasar Kliwon, Solo. Tetapi sudah sejak kecil Untung diambil anak
oleh Samsuri, pamannya, yang bekerja sebagai buruh batik di rumah orang tua
Soehardi.

Untung masuk sekolah dasar di Ketelan, kemudian melanjutkan ke sekolah dagang.


“Pelajaran belum selesai, Jepang masuk dan dia menjadi Heiho...”

Meloloskan diri ke Madiun

Semasa perang kemerdekaan Untung berada di daerah Wonogiri, Solo, menjadi


anggota Batalyon Sudigdo. Ketika tahun 1948 Peristiwa Madiun meletus, Gubernur
Militer Kolonel Gatot Soebroto memperoleh informasi bahwa sebagian anak buah
Mayor Sudigdo disusupi orang-orang komunis, “Pak Gatot memerintahkan Letnan
Kolonel Slamet Riyadi, Komandan Brigade V Wehrkreise I, untuk memindahkan
mereka...”
Soehardi melukiskan, “Pak Slamet berhasil menarik Batalyon Sudigdo ke Cepogo,
lereng Gunung Merbabu, jauh dari Madiun. Kusman, waktu itu sersan mayor, bisa
lolos ke Madiun bergabung dengan rekan-rekannya…”

Mengapa keterlibatan dalam Peristiwa Madiun tidak diselesaikan? Soehardi, penyidik


semasa Peristiwa G-30-S, antara lain ikut menentukan lokasi Lubang Buaya hingga
meringkus Sofyan, pemimpin gerilya komunis di Kalimantan Barat, terus terang
mengatakan, “Tiba-tiba saja Belanda melancarkan agresi militer kedua.

Akibatnya, Peristiwa Madiun tidak pernah tuntas ditangani, sebab semua orang lantas
sibuk melawan Belanda sehingga segala kesalahan kemudian di-putih-kan…”
Sesudah Peristiwa Madiun, Kusman berganti nama jadi Untung, kembali bergabung di
TNI, bertugas di Divisi Diponegoro.

Tahun 1958, dalam operasi penumpasan PRRI, Letnan I Untung menjabat Dan Kie,
bertugas di Bukit Gombak, Batusangkar, Sumatera Barat.

Tanggal 14 Agustus 1962, Mayor Untung selaku Dan Yon 454 Para/Banteng Raiders,
diterjunkan di Sorong, Irian Barat. Tanggal 25 Agustus 1962, Panglima Mandala
Mayor Jenderal Soeharto mengeluarkan perintah gencatan senjata. Dengan demikian,
Untung sebenarnya belum pernah sekali pun bertempur melawan pasukan Belanda
selama sebelas hari bertugas di daratan Irian.

Kapan Untung kenal Soeharto? “Karier militer mereka sama-sama dari Diponegoro.
Sesudah kembali dari tugas menumpas pemberontakan Andi Azis di Makassar, Pak
Harto menjabat Dan Rem Salatiga, lantas Dan Rem Solo, Panglima Diponegoro,
masuk Seskoad di Bandung, sebelum akhirnya ditunjuk untuk menjadi Panglima
Mandala.

Mereka sudah kenal lama. Keakrabannya tampak, ketika bulan Februari tahun 1965
Untung menikah di Kebumen, Pak Harto rela naik jip dari Jakarta hanya untuk bisa
njagong…”.

Dari luar rumah suara adzan maghrib terdengar dengan jernih. Soehardi segera
minta diri untuk menuaikan sholat. Kisah mengenai Untung, untuk sementara
terpaksa berhenti sekian dulu.
Mengenang Tragedi 1965
Oleh FS Swantoro

TRAGEDI berdarah 1965 sampai sekarang masih menyisakan misteri. Konflik politik
PKI vs TNI-AD ini menjadi noda hitam politik Indonesia. Diperkirakan sejuta warga sipil
terbunuh dalam konflik itu.

Pertanyaannya siapa dalang di balik peristiwa itu? Apa motif tragedi tersebut dan
berapa korban yang mati sia-sia? Pertanyaan itu meski telah muncul 42 tahun silam,
sampai sekarang menjadi misteri yang belum terungkap.

Ada beberapa versi tragedi itu. Pertama, versi resmi pemerintah seperti "Buku Putih"
terbitan Sekretaris Negara (1994) atau tulisan Nugroho dan Ismail Saleh (1968),
menyebutkan tragedi 1965 dilakukan PKI. Melakukan kudeta dengan merekrut
perwira TNI-AD untuk menghancurkan Jenderal TNI-AD yang ingin merebut
kekuasaan. Kedua,versi seperti ditulis Anderson dan McVey dikenal Cornell Paper.
Disebutkan, upaya pemberontakan adalah urusan intern TNI-AD versus PKI yang
terlibat secara insidental.

Versi ketiga, terwakili Harold Crouch (1999) menyebutkan upaya kudeta merupakan
usaha bersama PKI dengan perwira TNI-AD pembangkang. Tiap kelompok punya
motif berbeda menghancurkan Dewan Jenderal.

Awal September 1965 muncul rumor yang menyebutkan PKI melancarkan isu Dewan
Jenderal akan merebut kekuasaan pada 5 Oktober 1965. Susunan Kabinet Dewan
Jenderal yang dicatat dalam Buku Putih itu hampir sama dengan yang diungkap
Letkol Untung dan Nyono, Ketua CC PKI. Munculnya isu Dewan Jenderal itu sampai
sekarang masih misterius, pelakunya tak pernah terkuak.

Isu itu dipicu merosotnya kondisi kesehatan Presiden Soekarno. Diperkirakan Bung
Karno bisa meninggal mendadak jika tidak mendapat perawatan intensif.

Dua pekan kemudian muncul pamflet mengungkap detail rapat PKI, membahas
kemungkinan mengambil alih kekuasaan andai kata Bung Karno meninggal. Isi
pamflet itu menimbulkan kecemasan di kalangan perwira AD, karena memuat daftar
nama jenderal yang akan dihabisi. Sebaliknya, PKI mendapat pamflet gelap berisi
rencana Dewan Jenderal untuk merebut kekuasaan dan mengeksekusi elite PKI. Ini
konflik PKI VS TNI AD yang menegangkan.

Dua minggu sebelum meletusnya G-30-S/PKI, Dubes AS di Jakarta, Marshall Green


minta CIA meningkatkan propaganda menyerang Bung Karno. Laporan intelijen
Inggris menyiarkan berita menyesatkan. Muncul berita tentang kapal bermuatan
senjata China untuk PKI sedang berlayar menuju Jakarta. (Ralph McGehee; The
Indonesian Massacres and the CIA). Mantan veteran CIA itu menyebut ada rekayasa
disinformasi. Kemudian dibuat dokumen palsu hingga sulit dibedakan dengan yang
asli, seperti dokumen tentang daftar nama jenderal yang akan dibunuh. CIA berhasil
menimbulkan ketegangan antara PKI dengan TNI-AD yang menjadi pemantik
penyulut tragedi.
PKI Versus TNI-AD

Puncak konflik politik ketika kelompok perwira dipimpin Letkol Untung, menyodorkan
anggota Dewan Jenderal kepada Bung Karno. Namun atas perintah Syam
Kamaruzaman Dewan Jenderal itu harus dieksekusi. Syam yang disebut tokoh
"misterius" menurut berbagai versi, pernah menjadi kader PSI, dan menjadi intel
Kodam Jaya yang disusupkan PKI.
Dia mengaku kepada aparat yang memeriksa dalam suatu penyidikan, Syam adalah
kader kepercayaan DN Aidit untuk membentuk Biro Khusus yang tugasnya
menginfiltrasi TNI-AD.

Anehnya, tak satu pun jajaran anggota Politbiro PKI mengetahui Biro Khusus itu dan
di mana Syam berada. Suatu hal yang sama misteriusnya dengan Aidit yang
dieksekusi TNI-AD di Boyolali. Eksekusi itu menutup kemungkinan pembuktian Biro
Khusus PKI.

Peter Dale Scott, melihat banyak kejanggalan. Dalam siaran di RRI, Letkol Untung
mengatakan Presiden Soekarno aman di bawah lindungan Dewan Revolusi. Padahal
Bung Karno berada di Halim Perdana Kusuma.

Dalam susunan Dewan Revolusi Letkol Untung sama sekali tidak pernah menyebut
Bung Karno terlibat tragedi 1965. Anehnya di seberang RRI adalah markas Kostrad
yang tidak pernah tersentuh. Sama seperti Biro Khusus PKI peran Letkol Untung sulit
diketahui. Ia sama seperti Aidit dieksekusi dalam pelariannya di Jawa Tengah.

Sedangkan Kol Latief dalam pledoinya menyebut dekat dengan Mayjen Soeharto dan
sudah dua kali menyampaikan informasi mengenai rencana kudeta Dewan Jenderal
itu. Namun, Soeharto tidak memberi reaksi karena sedang menunggui Tommy
anaknya yang sakit di RS Gatot Subroto. Latief disebut sebagai orang kedua setelah
Letkol Untung, dalam pledoinya, "Dewan Jenderal itu ada dan ingin menggulingkan
Bung Karno".

Pengungkapan kembali tragedi ini penting, bisa memulihkan penderitaan sejuta


rakyat yang pernah disiksa atas tuduhan terlibat G-30-S/PKI, tanpa tahu
kesalahannya (11).
G30S/PKI
Pada dini hari menjelang subuh 1 Oktober 1965 sekelompok militer yang kemudian
menamakan diri sebagai Gerakan 30 September melakukan penculikan 7 orang
jenderal AD. Jenderal Nasution dapat meloloskan diri, sedang yang ditangkap ialah
pengawalnya. Lolosnya jenderal ini telah dibayar dengan nyawa putrinya yang
kemudian tewas diterjang peluru. Keenam orang jenderal teras AD yang diculik dan
kemudian dibunuh itu terdiri dari: Letjen Ahmad Yani (Men/Pangad), Mayjen Suprapto
(Deputi II Men/Pangad), Mayjen Haryono MT (Deputi III Men/Pangad), Mayjen S
Parman (Asisten I Men/Pangad), Brigjen DI Panjaitan (Asisten IV Men/Pangad), Brigjen
Sutoyo (Oditur Jenderal AD).

Pada pagi-pagi 1 Oktober 1965, sebelum orang mengetahui apa yang sebenarnya
terjadi, Kolonel Yoga Sugomo sebagai Asisten I Kostrad/Intelijen serta merta
menyatakan bahwa hal itu pasti perbuatan PKI, ketika pengumuman RRI Jakarta pada
jam 07.00 menyampaikan tentang Gerakan 30 September di bawah Letkol Untung.
Maka Yoga pun memerintahkan, “Siapkan semua penjagaan, senjata, bongkar
gudang. Ini PKI berontak”. Jangan-jangan Kolonel Yoga, Kostrad, dan - siapa lagi kalau
bukan Jenderal Suharto – telah mengantongi skenario jalannya drama tragedi yang
sedang dan hendak dipentaskan kelanjutannya. Tentu saja pertanyaan ini amat
mengggoda karena dokumen-dokumen rahasia CIA pun mengungkapkan berbagai
skenario semacam itu dengan diikuti dijatuhkannya Presiden Sukarno sebagai babak
penutup.

Menurut tuduhan dan pengakuan Letkol (Inf) Untung, Komandan Batalion I Resimen
Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden RI yang secara formal memimpin Gerakan
30 September, para jenderal tersebut menjadi anggota apa yang disebut Dewan
Jenderal yang hendak melakukan kudeta terhadap kekuasaan Presiden Sukarno yang
sah pada 5 Oktober 1965. Karena itu Letkol Untung sebagai insan revolusi sesuai
dengan ajaran resmi yang didengungkan ketika itu, mengambil tindakan dengan
menangkap mereka guna dihadapkan kepada Presiden. Dalam kenyataannya mereka
dibunuh ketika diculik atau di Lubang Buaya, Jakarta.

Tentang pembunuhan yang tidak patut ini terjadi sejumlah kontroversi. Menurut
pengakuan Letkol Untung hal itu menyimpang dari perintahnya. Dalam hubungan ini
telah timbul berbagai macam penafsiran yang berhubungan dengan kegiatan
intelijen berbagai pihak, pihak intelijen militer Indonesia, Syam Kamaruzaman
sebagai Ketua Biro Chusus (BC) PKI, intelijen asing, utamanya CIA, dalam arena
perang dingin yang memuncak antara Blok Amerika versus Blok Uni Soviet dengan
Blok RRT yang anti AS maupun Uni Soviet. Menurut pengakuan Syam, pembunuhan
itu atas perintah Aidit, Ketua PKI. Pembunuhan demikian sangat tidak
menguntungkan pihak PKI yang dituduh sebagai dalang G30S, akan dengan
mudahnya menyulut emosi korps AD melawan PKI, sesuatu yang pasti tak
dikehendaki Aidit dan sesuatu yang tidak masuk akal. Dengan dibunuhnya Aidit atas
perintah Jenderal Suharto, maka pengakuan Syam yang berhubungan dengan Aidit
sama sekali tak dapat diuji kebenarannya. Dengan begitu Syam memiliki keleluasaan
untuk menumpahkan segala macam sampah yang dikehendakinya maupun yang
dikehendaki penguasa ke keranjang sampah bernama DN Aidit.

Banyak pihak menafsirkan bahwa Syam ini merupakan agen intelijen kepala dua
(double agent), atau bahkan tiga atau lebih. Hal ini di antaranya ditengarai dari
pengakuannya yang terus-menerus merugikan PKI dan Aidit. Ini berarti dia yang
posisinya sebagai Ketua BC CC PKI, pada saat itu menjadi agen yang sedang
mengabdi pada musuh PKI. Dari riwayat Syam ada bayang-bayang buram misterius
yang rupanya berujung pada pihak AD, khususnya Jenderal Suharto.

Aidit yang dituduh sebagai dalang G30S yang seharusnya dikorek keterangannya di
depan pengadilan segera dibungkam karena keterangan dirinya tidak akan
menguntungkan skenario Mahmillub yang dibentuk atas perintah Jenderal Suharto
sebagaimana yang telah dimainkan oleh Syam atas nama Ketua PKI Aidit.

Keterangan Syam mengenai perintah Aidit tentang pembunuhan para jenderal tidak
dapat diuji kebenarannya dan tidak dapat dipercaya. Beberapa pihak di Mahmillub
menyebutnya perintah itu dari Syam, tetapi siapa yang memerintahkan dirinya?
Pertanyaan ini mau-tidak-mau perlu dilanjutkan dengan pertanyaan, siapa yang
diuntungkan oleh pembunuhan para jenderal itu? Bung Karno tidak, Nasution tidak,
Aidit pun tidak. Hanya ada satu orang yang diuntungkan: Jenderal Suharto! Jika
Jenderal Yani tidak ada maka menurut tradisi AD Suharto-lah yang menggantikannya.
Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa ketika Presiden Sukarno menunjuk Jenderal
Pranoto sebagai pengganti sementara pada 1 Oktober 1965, maka Jenderal Suharto
menentang keras. Jelas dia berambisi menjadi satu-satunya pengganti yang akan
memanjat lebih jauh ke atas, padahal ketika itu nasib Jenderal Yani cs belum
diketahui jelas.

Perlu ditambahkan bahwa rencana pengambilan [penculikan] para jenderal telah


diketahui beberapa hari sebelumnya serta beberapa jam sebelum kejadian
berdasarkan laporan Kolonel Abdul Latief, bekas anak buah Suharto yang menjadi
salah seorang penting dalam G30S. Jenderal Suharto sebagai Panglima Kostrad tidak
mengambil langkah apa pun, justru hanya menunggu. Kenyataan ini membuat
kecewa dan dipertanyakan salah seorang bekas tangan kanan Suharto yang telah
berjasa mengepung Istana Merdeka pada 11 Maret 1966, Letjen (Purn) Kemal Idris.
Masih dapat ditambahkan lagi bahwa keenam jenderal yang dibunuh tersebut
memiliki riwayat permusuhan internal dengan Suharto karena Suharto melakukan
korupsi sebagai Pangdam Diponegoro.

Ada fakta sangat keras, dua batalion AD dari Jateng dan Jatim yang didatangkan ke
Jakarta dengan senjata lengkap dan peluru tajam yang kemudian mendukung
pasukan G30S, semua itu atas perintah Panglima Kostrad Mayjen Suharto yang
diinspeksinya pada 30 September 1965 jam 08.00. Tentunya dia pun mengetahui
dengan tepat kekuatan dan kelemahan pasukan tersebut beserta jejaring
intelijennya, di samping adanya tali-temali dengan intelijen Kostrad lewat tangan
Kolonel Ali Murtopo. Tentu saja masalah ini tak pernah diselidiki, jika dilakukan hal itu
dapat membuka kedok Suharto menjadi telanjang di depan korps TNI AD ketika itu.
Mungkin saja jejaring Suharto yang telah melumpuhkan logistik kedua batalion
tersebut, hingga Yon 530 dan dua kompi Yon 434 melapor dan minta makan ke
markas Kostrad pada sore hari 1 Oktober 1965. Kedua pasukan ini bersama pasukan
Letkol Untung dihadapkan pada pasukan RPKAD. Itulah sejumlah indikasi kuat
keterlibatan Jenderal Suharto dalam G30S, ia bermain di dua kubu yang dia hadapkan
dengan mengorbankan 6 jenderal.

Lalu siapa yang diuntungkan dengan dibunuhnya Aidit? PKI dan Bung Karno pasti
tidak, lawan-lawan politik PKI jelas senang (meski ada juga yang kemudian
menyesalkan, kenapa tidak dikorek keterangannya di depan pengadilan), di
puncaknya ialah Jenderal Suharto yang memang memerintahkannya. Jika Aidit diberi
kesempatan bicara di pengadilan, maka dia akan mempunyai kesempatan
membeberkan peran dirinya dalam G30S yang sebenarnya, bukan sekedar menelan
keterangan Syam di Mahmillub sesuai dengan kepentingan Suharto cs. Jika ini
berlaku maka skenario yang telah tersusun akan kacau.
Sejak 4 Oktober 1965, ketika dilakukan penggalian jenazah para jenderal di Lubang
Buaya, maka disiapkanlah skenario yang telah digodok dalam badan intelijen militer
untuk melakukan propaganda hitam terhadap PKI dimulai dengan pidato fitnah
Jenderal Suharto tentang penyiksaan kejam dan biadab, Lubang Buaya sebagai
wilayah AURI. Hari-hari selanjutnya dipenuhi dengan dongeng horor fitnah keji
tentang perempuan Gerwani yang menari telanjang sambil menyilet kemaluan para
jenderal dan mencungkil matanya. Ini semua bertentangan dengan hasil visum
dokter yang dilakukan atas perintah Jenderal Suharto sendiri yang diserahkan
kepadanya pada 5 Oktober 1965. Kampanye hitam terhadap PKI terus-menerus
dilakukan secara berkesinambungan oleh dua koran AD Angkatan Bersendjata dan
Berita Yudha, RRI dan TVRI yang juga telah dikuasai AD, sedang koran-koran lain
diberangus. Ketika sejumlah koran lain diperkenankan terbit, semuanya harus
mengikuti irama dan pokok arahan AD. Seperti disebutkan dalam studi Dr Saskia
Eleonora Wieringa, mungkin tak ada rekayasa lebih berhasil untuk menanamkan
kebencian masyarakat daripada pencitraan Gerwani (gerakan perempuan kiri) yang
dimanipulasi sebagai “pelacur bejat moral”. Kampanye ini benar-benar efektif dengan
memasuki dimensi moral religiositas manusia Jawa, khususnya kaum adat dan
agama.

Setelah lebih dari dua minggu propaganda hitam terhadap PKI dan organisasi kiri lain
berjalan tanpa henti, ketika emosi rendah masyarakat bangkit dan mencapai
puncaknya dengan semangat anti komunis anti PKI yang disebut sebagai golongan
manusia anti-agama dan anti-Tuhan, kafir dst yang darahnya halal, maka situasi
telah matang dan tiba waktunya untuk melakukan pembasmian dalam bentuk
pembunuhan massal. Dan itulah yang terjadi di Jawa Tengah setelah kedatangan
pasukan RPKAD di bawah Kolonel Sarwo Edhie Wibowo sesudah minggu ketiga
Oktober 1965, selanjutnya di Jawa Timur pada minggu berikutnya dan Bali pada
Desember 1965/Januari 1966. Sudah sangat dikenal pengakuan Jenderal Sarwo Edhie
yang membanggakan telah membasmi 3 juta jiwa manusia.

Dalam khasanah sejarah G30S ada gambaran yang disesatkan bahwa situasinya
seolah waktu itu “dibunuh atau membunuh” seperti dalam perang saudara. Ini sama
sekali tidak benar, tidak ada buktinya. Hal ini dengan sengaja diciptakan sesuai
dengan kepentingan rezim militer Suharto guna melegitimasi kekejaman mereka.
Situasi telah dimatangkan oleh propaganda hitam pihak militer di bawah Jenderal
Suharto beserta segala peralatannya yang menyinggung nilai-nilai moral dan agama
tentang perempuan sundal Gerwani sebagai yang digambarkan dalam dongeng horor
Lubang Buaya. Emosi ketersinggungan kaum agama beserta nilai-nilai moralnya
ditingkatkan sampai ke puncaknya untuk menyulut dan memuluskan pembantaian
anggota PKI dan kaum kiri lainnya yang disebut sebagai kaum kafir yang dilakukan
pihak militer dengan memperalat sebagian rakyat yang telah terbakar emosinya.

Setelah seluruh organisasi kiri, utamanya PKI dihancurlumatkan, sisa-sisa anggotanya


dipenjara, maka datang waktunya untuk menghadapi dan menjatuhkan Presiden
Sukarno yang kini dalam keadaan terpencil diisolasi. Dikepunglah Istana Merdeka
oleh pasukan AD di bawah pimpinan Kemal Idris, pada saat Presiden Sukarno sedang
memimpin rapat kabinet yang tidak dihadiri Jenderal Suharto pada 11 Maret 1966
yang ujungnya telah kita ketahui bersama berupa Supersemar. Kudeta merangkak ini
dilanjutkan dengan pengukuhan Jenderal Suharto sebagai Pejabat Presiden (sesuatu
yang menyimpang dari UUD 1945, tak satu pun pakar yang berani buka mulut ketika
itu), selanjutnya sebagai Presiden RI. Maka berlanjutlah pemerintahan diktator militer
selama lebih dari tiga dekade yang menjungkirbalikkan segalanya, sampai akhirnya
Indonesia menjadi salah satu negara terkorup di dunia dengan utang sampai ke
ubun-ubun.

G30S di bawah pimpinan Letkol Untung dirancang untuk gagal, artinya ada
rancangan lain yang tidak pernah diumumkan alias rancangan gelap di balik layar
dengan dalang-dalang yang penuh perhitungan untuk melaksanakan adegan yang
satu dengan yang lain. Maka tidak aneh jika mantan pejabat CIA Ralph McGehee
berdasar dokumen rahasia CIA menyatakan sukses operasi CIA di Indonesia sebagai
contoh soal, “supaya metode yang dipakai CIA dalam kudeta di Indonesia yang
dianggap sebagai penuh kepiawaian sehingga ia digunakan sebagai suatu tipe
rancangan atau denah operasi-operasi terselubung di masa yang akan datang”.
Itulah kudeta merangkak yang dilakukan oleh Jenderal Suharto sejak pembunuhan
para jenderal, pengusiran BK dari Halim, pembunuhan massal, pengepunngan Istana
Merdeka pada 11 Maret 1966, akhirnya dijatuhkannya Presiden Sukarno.
Keberhasilan operasi AS di Indonesia disebut Presiden Nixon sebagai hadiah paling
besar di wilayah Asia Tenggara
Untuk melegitimasi segala tindakann dan memperkokoh kedudukannya, rezim militer
Orba menamakan gerakan Letkol Untung tersebut dengan G30S/PKI, pendeknya
nama keduanya saling dilekatkan. G30S ya PKI, bukan yang lain. Di sepanjang
kekuasannya rezim ini terus-menerus tiada henti mengindoktrinasi dan menjejali otak
kita semua, kaum muda dan anak-anak sekolah dengan kampanye ini. Ketika studi
sejarah di Indonesia tak lagi bisa dikekang, maka banyak pakar menolak kesahihan
penyebutan tersebut. Studi netral hanya menyebut Gerakan 30 September
sebagaimana yang tercantum dalam pengumuman gerakan di RRI Jakarta pada pagi
hari 1 Oktober 1965, atau disingkat untuk keperluan praktis sebagai G30S. Masih ada
arus balik riak yang membakari buku dalam tahun ini karena berbeda dengan
kepentingan rezim atau pejabat rezim sebagai bagian dari vandalisme masa lampau.
(Dari berbagai sumber).

Mengenal Tokoh G30S/PKI


Letkol Untung bin Syamsuri, tokoh kunci Gerakan September 1965 adalah salah satu
lulusan terbaik Akmil. Pada masa pendidikan ia bersaing dengan Benny Moerdani,
perwira muda yang sangat menonjol dalam lingkup RPKAD (kelak Benny Moerdani
menjadi tokoh legendaris dalam Misteri Tragedi Tanjung Priok). Mereka berdua sama-
sama bertugas dalam operasi perebutan Irian Barat dan Untung merupakan salah
satu anak buah Soeharto yang dipercaya menjadi Panglima Mandala.

Sebelum ditarik ke Resimen Cakrabirawa, Untung pernah menjadi Komandan


Batalyon 545/Banteng Raiders yang berbasis di Srondol, Semarang. Batalyon ini
memiliki kualitas dan tingkat legenda yang setara dengan Yonif Linud 330/Kujang dan
Yonif Linud 328/Kujang II. Kelak dalam peristiwa G 30 S ini, Banteng Raiders akan
berhadapan dengan pasukan elite RPKAD dibawah komando Sarwo Edhie Wibowo.

Setelah G 30 S meletus dan gagal dalam operasinya, Untung melarikan diri dan
menghilang beberapa bulan lamanya sebelum kemudian ia tertangkap secara tidak
sengaja oleh dua orang anggota Armed di Brebes, Jawa Tengah. Ketika tertangkap, ia
tidak mengaku bernama Untung. Anggota Armed yang menangkapnya pun tidak
menyangka bahwa tangkapannya adalah mantan Komando Operasional G 30 S.
Setelah mengalami pemeriksaan di markas CPM Tegal, barulah diketahui bahwa yang
bersangkutan bernama Untung.

Setelah melalui sidang Mahmilub yang kilat, Untung pun dieksekusi di Cimahi, Jawa
Barat pada tahun 1969, 4 thn setelah G 30 S mengobarkan pemberontakannya.

Bagi Soeharto, Untung bukanlah orang lain. Hubungan keduanya cukup erat apalagi
dulunya Soeharto pernah menjadi atasan Untung di Kodam Diponegoro. Indikasi
kedekatan tersebut terlihat pada resepsi pernikahan Untung yang dihadiri oleh
Soeharto beserta Ny. Tien Soeharto. Pernikahan tersebut berlangsung di Kebumen
beberapa bulan sebelum G 30 S meletus. Kedatangan Komandan pada resepsi
pernikahan anak buahnya adalah hal yang jamak, yang tidak jamak adalah tampak
ada hal khusus yang mendorong Soeharto dan istrinya hadir pada pernikahan
tersebut mengingat jarak Jakarta - Kebumen bukanlah jarak yang dekat belum lagi
ditambah pada masa tahun 1965 sarana transportasi sangatlah sulit.

Kembali, suatu misteri yang tak terpecahkan sampai sekarang, apakah hubungan
Soeharto dengan Untung dan kaitannya dengan peristiwa September 1965 ?

Menyusul terjadinya tragedi September 1965, Latief sempat menjadi buronan


beberapa saat. Bersama Untung dan Kapt. Inf. Suradi, mereka melarikan diri ke arah
selatan sampai di desa Cipayung, Pasar Rebo, Jakarta. Setelah kelar menamam
semua senjatanya di desa Kebon Nanas, Bogor. Latief pada keesokan harinya
berusaha menemui Presiden Soekarno melalui Brigjen Soepardjo namun usaha
tersebut menemui kegagalan. Karena usaha untuk bertemu gagal, maka Latief
bersembunyi di daerah Pejompongan dan setelah dua malam bersembunyi, akhirnya
ia tertangkap oleh sepasukan tentara yang menggeledah daerah tersebut. Dengan
luka pada kaki kirinya dia masuk penjara sebagai tapol dan mengalami persidangan
berkali - kali.

Semula Latief mendapat hukuman mati kemudian Mahkamah Militer Agung pada
tahun 1982 mengganti vonisnya menjadi vonis seumur hidup. Setahun kemudian
pada tahun 1983, Latief resmi menjadi narapidana politik di LP Cipinang. Latief lalu
mengajukan permohonan hukuman seumur hidup diubah menjadi hukuman terbatas.

Soeharto melalui salah satu keppresnya akhirnya menambah hukuman Latief selama
lima tahun sampai dengan 18 Januari 1988 tapi setelah masa itu lewat, Latief tak
kunjung dibebaskan.

Pada 17 Agustus 1994, Omar Dhani mantan Menpangau, Dr. Soebandrio mantan
Menlu dan Ketua BPI serta Brigjen Pol. Sutarto serta Kol. Latief mengajukan grasi
pada Presiden Soeharto. Semua mendapat grasi kecuali Kol. Latief. Akhirnya pada era
pemerintahan Habibie lah baru Latief mendapatkan grasinya.
Eks Sersan Mayor Boengkoes adalah salah satu pelaku langsung dari Tragedi
September 1965. Dia dibebaskan dari LP Cipinang pada tanggal 25 Maret 1999.

Sebagai Komandan Peleton Kompi C Batalyon Kawal Kehormatan Cakrabirawa yang


berada di bawah Kol. Untung, dia mengaku bahwa dia hanya menjalankan perintah
atasannya yaitu Lettu Dul Arief.

Ia diperintahkan untuk 'mengambil' Mayjen MT. Haryono, hidup atau mati. Sebelum
dilakukan pengambilan tersebut, dia diberi penjelasan oleh atasannya tersebut
bahwa ada sekelompok jenderal yang menamakan dirinya "Dewan Jenderal" yang
bertujuan meng-coup Presiden Soekarno.

Ketika ditanya apakah Boengkoes mengerti dengan yang dimaksud "Dewan


Jenderal", dia menjawab dalam masa G 30 S tersebut ada dua kubu yang tampaknya
lagi berkonflik dalam kemiliteran terutama di Angkatan Darat. Yaitu apa yang disebut
sebagai "Dewan Jenderal" dan "Dewan Revolusi".

"Dewan Jenderal" adalah yang berniat melakukan coup pada Presiden Soekarno
sedangkan "Dewan Revolusi" adalah yang berniat menyelamatkan Presiden
Soekarno. Menurut Boengkoes ada ketidaserasian dalam Angkatan Darat tidak hanya
menyangkut Soekarno.

Sekitar pukul setengah tiga dini hari semua unsur pasukan yang bertugas untuk
melakukan penangkapan dikumpulkan dan diberi briefing akhir. Pasukan dibagi
dalam tujuh sasaran dengan dalam tiap titik sasaran terdiri atas satu peleton
pasukan. Waktu 'pengambilan' sangat singkat, antara 15 - 20 menit dan tidak
dihitung dengan waktu berangkat. Dan sebelum pukul 06.00 harus sudah dibawa ke
semua tujuh orang Jenderal tersebut.

Waktu itu Serma Boengkoes mendapat sasaran Mayjen MT. Haryono. Sebelum
penangkapan, Serma Boengkoes melakukan observasi dulu. Yang dia ingat adalah
waktu itu pintu menghadap ke selatan. Setelah Boengkoes mengetuk pintu dan
meminta ijin untuk kedua kalinya, pintu ditutup dan dikunci dari dalam. Waktu itu
keadaan gelap sekali karena oleh pemilik rumah semua lampu dimatikan.

Dalam hati Boengkoes timbul pertentangan antara melanjutkan atau tidak tetapi
sebagai seorang tentara dia teringat akan perintah komandannya yang harus
dituruti. Akhirnya didobraknyalah pintu tersebut dan ketika itu Boengkoes terkejut
karena melihat kelebatan bayangan putih dan secara reflek dia menarik pelatuk dan
terjadilah penembakan itu. Gugurlah satu bunga bangsa .. Mayjen MT. Haryono.
Menurut pengakuan Boengkoes pada saat dia melakukan penembakan, dia tidak
mengetahui bahwa yang ditembaknya adalah Mayjen MT. Haryono.

Pukul 05.30 pagi tanggal 01 Oktober, Boengkoes dan pasukannya sudah tiba di
tempat semula. Baru ketima matahari sudah panas dilakukanlah eksekusi terhadap
para jenderal yang masih hidup. dan itupun dilakukan dengan sopan dengan
dipapahnya para jenderal sampai bibir sumur dan baru kemudian ditembak.

Menurut pengakuan Boengkoes tidaklah benar kalau ada pesta dan nyanyi-nyanyi
seperti yang ditampakkan pada film G 30 S tersebut. Suasana saat itu benar-benar
sepi. Boengkoes mengatakan bahwa pada saat itu hanya terdengar tiga suara (yang
sampai sekarang masih terngiang-ngiang di telinganya jika mengingat kejadian
tersebut), yaitu suara desiran angin di pepohonan, suara tangis bayi dan suara ayam
berkokok **iiih .. gue kok merinding yaa .. ** . Semua orang yang ada disitu terdiam
dan tentara pun seperti robot bahkan air putih pun terasa pahit.
Boengkoes mengatakan bahwa dia benar-benar merasakan penyesalan yang
terdalam dan hatinya hancur begitu mengetahui semuanya .. . Bahkan ketika keluar
dari penjara pun terbersit banyak pertanyaan apakah nanti ia mampu hidup layak
dan wajar di tengah-tengah masyarakat.

Sebagaimana disebut tadi, menurut pengakuan Boengkoes, waktu penembakan atau


eksekusi para jenderal adalah jam setengah sembilan pagi.

Malam hari pada tanggal 01 Oktober pasukan Boengkoes dipindah ke suatu tempat,
entah ke mana. Yang jelas mereka melintasi lapangan udara. Tanggal 02 Oktober,
Boengkoes pulang ke Asrama. Setelah diterima oleh Kepala Asrama, kemudian
Boengkoes dibawa ke suatu tempat yang ternyata adalah LP. Cipinang

Sekarang kita bicarakan tentang Sjam Kamaruzzaman, tokoh Peristiwa September


1965 yang paling misterius.

Nama aslinya adalah Sjamsul Qamar Mubaidah. Dia adalah tokoh kunci G 30 S dan
orang nomor satu di Biro Khusus PKI yang bertugas membina simpatisan PKI dari
kalangan ABRI dan pegawai negeri sipil. Sjam kelahiran Tuban, Jawa Timur, 30 April
1924. Pendidikannya hanya sampai kelas tiga Land & Tunbow School dan
Suikerschool, Surabaya. Karena Jepang keburu masuk ke Indonesia, maka Sjam tidak
menamatkan sekolahnya. Pada tahun 1943 dia masuk sekolah dagang di Yogyakarta
tapi itu pun hanya sampai kelas 2.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Sjam ikut berjuang memanggul senjata dalam


pertempuran di Magelang tahun 1945 - 1946, Ambarawa dan Front Mranggen,
Semarang. Dia sempat memimpin kompi laskar di Front Semarang Barat.
Sekembalinya dari Front tersebut, ia menjadi anggota Pemuda Tani dan menjadi
pemimpin Laskar Tani di Yogyakarta.

Tahun 1947, menjelang Agresi Militer Belanda I (Clash I), ia membentuk Serikat Buruh
Mobil, sebuah organisasi buruh yang beraliran kiri. Pada akhir 1947, ketika SBKP
(Serikat Buruh Kapa dan Pelabuhan) didirikan, Sjam juga menjadi pimpinan, bahkan
kemudia menjadi ketua. Ia banyak mempelajari teori Marxis pada periode tersebut.

Tahun 1950, dia menajdi Wakil Ketua SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh
Indonesia) Jakarta Raya. Tahun 1951 sampai 1957. dia menjadi staf anggota Dewan
Nasional SOBSI. Dan barulah semenjak tahun 1957, dia menjadi pembantu pribadi
DN. Aidit. Mulai tahun 1960, Sjam ditetapkan menjadi anggota Departemen
Organisasi PKI. Empat tahun setelah itu, dia memperkenalkan bentuk
pengorganisasian anggota-anggota PKI yang berasal dari ABRI. Lahirlah apa yang
disebut Biro Khusus Sentral pada tahun 1964.

Sjam mengaku bahwa dia ditugaskan oleh Aidit untuk memimpin biro khusus
tersebut. Suatu biro yang menangani pekerjaan khusus yaitu pekerjaan yang tidak
dapa dilakukan melalui aparat-aparat terbuka yang lain, terutama di bidang militer
dan bidang lainnya yang harus dikerjakan secara klandestin atau bawah tanah.

Ketika mulai dekat dengan Aidit, Sjam menjalin hubungan dengan anggota ABRI.
Channel nya dia sangatlah mengagumkan. Ia pernah menjadi informan Moedigdo,
seorang komisari polisi. Kelak salah satu anak Mudigdo diperistri oleh Aidit. Sjam juga
disebut-sebut pernah menjadi intelnya Kolonel Soewarto, direktur seskoad pad tahun
1958. Melalui cabang-cabang di daerah, Sjam berhasil mengadakan kontak-kontak
tetap dengan kira-kira 250 perwira di Jawa Tengah, 200 di Jawa Timur, 80 sampai 100
di Jawa Barat, 40 hingga 50 di Jakarta, 30 - 40 di Sumatera Utara, 30 di Sumatra
Barat dan 30 di Bali.
Sjam ibarat hantu yang bisa menyusup kemana saja ia mau. Sehingga banyak orang
yang yakin bahwa sesungguhnya Ia adalah agen ganda. Dia bukan cuma bekerja
untuk PKI, tetapi juga bertugas sebagai spionase untuk kepentingan-kepentingan
lain. Ada lagi yang meyakini bahwa Sjam adalah agen rahasia ganda untuk KGB dan
CIA. Lalu ada juga yang bilang bahwa Sjam itu adalah orang sipil yang menjadi
informan tentara.

Sjam dianggap sebagai tokoh terpenting dalam peristiwa september 1965 ini yang
membuat bukan saja PKI, tetapi juga kekuatan-kekuatan politik nasionalis, runtuh
dalam beberapa hari seperti layaknya rumah kertas.

Setelah G 30 S meletus dan kemudian gagal (atau didesain untuk gagal), Sjam pun
menghilang.

Menurut Mayjen Tahir, perwira pelaksana Team Pemeriksa Pusat, Sjam ditangkap di
daerah Jawa Barat sekitar akhir tahun 1965 atau awal 1966.

Banyak orang sepakat bahwa sesungguhnya Sjam adalah tokoh kunci dalam
peristiwa September 1965 tersebut. Tetapi sejauh manakah peranan yang dia
mainkan ?

Saat Bung Karno jatuh sakit, Sjam dipanggil Aidit ke rumahnya tanggal 12 Agustus
1965 dan dalam pertemuan itu, Aidit mengemukakan suatu hal yaitu " seriusnya
sakit Presiden dan adanya kemungkinan Dewan Jenderal mengambil tindakan segera
apabila beliau meninggal"

Kemudian Aidit meminta Sjam untuk "meninjau kekuatan kita" dan "mempersiapkan
suatu gerakan". Atas dasar instruksi tersebut maka Sjam dan rekan-rekannya dari
Biro Khusus yakni Pono dan Walujo membicarakan kemungkinan ikut serta dalam
"suatu gerakan", dan memutuskan untuk mendekati Kolonel Latief, Komandan
Brigade Infantri I Kodam Jaya, Letkol Untung, komandan salah satu dari tiga batalyon
pasukan pengawal istana Cakrabirawa di Jakarta dan Soejono dari AU, komandan
pertahanan pangkalan Halim. Petunjuk inilah yang menunjukkan bahwa Sjam adalah
inisiator dari gerakan yang kemudian gagal.

Di sisi lain ada yang meragukan bahwa inisiatif itu datangnya dari Sjam. Keterangan
Untung dalalm sidang pengadilannya mengatakan bahwa semua gerakan itu adalah
idenya dan Kolonel Latief dan bukan ide Sjam.

Sementara itu, eksekusi terhadap para jenderal, juga bukan atas inisiatif Sjam.
Gathut Soekresno yang dihadapkan sebagai saksi atas perkara Untung pada tahun
1966,

memberi petunjuk bahwa Doel Latief lebih berperan, kendati sebetulnya Mayor Udara
Soejono adalah yang bertanggung jawab terhadap nasib para jenderal tersebut.

Di pengadilan, Sjam memang divonis mati. Akan tetapi, banyak mantan tahanan
politik penghuni RTM (Rumah Tahanan Militer) Budi Mulia, Jakarta Pusat, meragukan
apakah Sjam betul-betul dieksekusi.

Dari para mantan tapol penghuni RTM Budi Mulia, lebih banyak yang percaya, Sjam
dilepas. Ia ganti identitas dan hidup sebagaimana orang biasa, atau bahkan sudah
kabur ke luar negeri. Semua itu tidak lepas dari jasanya terhadap pemerintahan Orde
Baru dibawah Jenderal Soeharto.

Beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Sjam adalah agen ganda, memang
didasarkan pada logika yang dapat diterima. Dugaan itu sesuai dengan karakteristik
Sjam yang cukup cerdas dan penuh perhitungan, akan tetapi misterius. Dia tidak
banyak omong. Karakteristik tokoh ini ditampakkan oleh ciri-ciri fisiknya; berkulit
gelap, berambut keriting, tinggi 170 cm, sering memakai baju drill, dan ada codetan
di pipi dekat mata kanannya.

John Lumeng Kewas, Ketua Presidium GMNI tahun 1957 - 1965 dan juga wakil sekjen
PNI menceritakan percakapannya yang pernah terjadi dengan Sjam bahwa dia
menanyakan kepada Sjam kenapa PKI melakukan pemberontakan pada 30
September 1965. Dia dengan hati-hati mengatakan, "Bung John perlu tahu, bahwa
memang PKI berniat mengkup Bung Karno". Ketika John menanyakan alasannya,
kembali Sjam menjawab "Bung Karno memimpin revolusi itu secara plin-plan"

Perlakuan istimewa petugas LP terhadap Sjam juga diakui oleh banyak orang. Sjam
bisa lebih leluasa berada di luar sel dan tampak akrab berbincang-bincang dengan
petugas.

Eks Kolonel Latief mengatakan bahwa sekitar tahun 1990 Sjam Kamaruzzaman pun
masih ditahan di Cipinang. Sementara hal itu bertentangan dengan cerita seorang
mantan pejabat di lingkungan Depkeh RI bahwa Sjam dilepaskan pada malam hari di
bulan September 1986 atas seizin Soeharto.

Demikianlah sekelumit tentang misteri orang paling misterius dalam pemberontakan


September 1965 .. Sjam Kamaruzzaman ..

Brigjen Soepardjo berasal dari Divisi Siliwangi,yang kemudian dipertautkan dengan


Mayjen Soeharto pada satu garis komando. Dalam kapasitasnya sebagai Wakil
Panglima Komando Mandala Siaga (KOLAGA), bulan Agustus 1965 Mayjen Soeharto
disebut-sebut mengunjungi Kalimantan dan bertemu dengan Soepardjo.

Menjelang 30 September, Brigjen Soepardjo terbang dari Kalimatan khusus ke Jakarta


untuk ikut serta dalam gerakan bulan September 1965 tersebut. Dia yang
melaporkan penangkapan jenderal-jenderal kepada Soekarno. Dia juga yang
mendapat perintah Soekarno untuk menghentikan gerakan dan menghindari
pertumpahan darah.

Tengah hari 1 Oktober 1965, Brigjen Soepardjo membawa amanat itu pulang ke
Cenko II yang bertempat di rumah Sersan Udara Anis Suyatno, kompleks Lubang
Buaya. Perintah itu didiskusikan oleh para pimpinan pelaksana gerakan September
1965.

Brigjen Soepardjo dan pasukan Diponegoro, terlibat pertempuran bersenjata


melawan pasukan RPKAD yang menyerang mereka.

Bersama Sjam dan Pono, Brigjen Soepardjo menyelamatkan diri ke rumah Pono di
Kramat Pulo, Jakarta. Kemudian mereka menemui Sudisman di markas darurat CC
PKI.

Setelah tertangkap, Brigjen Soepardjo langsung diamankan ke RTM untuk kemudian


diadili dan dijatuhi hukuman mati. Berbeda dengan Sjam yang ditempatkan di ruang
VIP dalam tahanan militer, eks Brigjen Soepardjo berbaur dengan tapol lainnya.
Seorang mantan tapol yang biliknya berdekatan dengan Soepardjo memberikan
kesaksian, ketika esoknya akan dihukum mati, malamnya Soepardjo sempat
mengumandangkan adzan. Kumandang adzan itu sempat membuat hati para
sebagian penghuni penjara yang mendengarkan tersentuh dan merinding ...

Dalam memoarnya, sebagaimana pernah gue ceritain, Oei Tjoe Tat menuliskan
perihal kematian Soepardjo. Sebelum eksekusi, Soepardjo dengan sangat gentle
ambil bagian dalam "perjamuan terakhir" yang dihadiri oleh keluarganya dan petugas
militer. Pada waktu makan bersama pada perjamuan tersebut, Soepardjo memohon
pada petugas penjara agar diperbolehkan berpidato. Salah satu isinya: "Kalau saya
malam nanti menemui ajal saya, ajal saudara-saudara tak diketahui kapan. Itu
perbedaan saya dari kalian." Kemudian ia minta diperkenankan menyanyi lagu
kebangsaan Indonesia Raya.

Tiga hari sebelum eksekusi, familinya datang membesuk. Supardjo memberikan


kenang-kenangan berupa sepasang sepatu buat istrinya. Makanannya yang terakhir
sebelum dieksekusi, dibagikan kepada orang lain.

Oei Tjoe Tat mendikotomikan karakter Supardjo dengan sosok Sjam. Dua tokoh
utama gerakan September 1965 - yang satu Sjam, sipil, orang pertama Biro Khusus
yang kabarnya perancang dan pelaksana; yang lain Jenderal Supardjo, ujung tombak
militernya - menampakkan sikap yang berbeda ketika harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Jenderal Pardjo selama dalam tahanan di RTM mendapat simpati, baik dari para
petugas maupun dari para tahanan karena sikapnya. Ia tidak mau diutamakan lebih
dari yang lain, hanya karena ia seorang Jenderal. Bila menerima kiriman makanan, ia
selalu membagi-bagikan kepada para tapol lain yang melintas di depan selnya. Oei
Tjoe Tat melukiskannya dengan kata-kata: "Sangat mengesankan, jantan, benar-
benar bermutu jenderal, namun tetap sopan, ramah terhadap siapa pun".

Menurut penggambaran Oei Tjoe Tat, Supardjo merupakan orang yang loyal terhadap
Presiden. Tapi mengapa Supardjo ikut serta dalam gerakan September 1965 yang
mendemisionerkan kabinet dan tidak mencantumkan nama Soekarno dalam daftar
45 orang anggota Dewan Revolusi? Memang, ada kemungkinan, Supardjo
dijerumuskan (entah oleh siapa), sehingga ambil bagian dalam gerakan tersebut.

Satu kemungkinan, yang menjerumuskan Supardjo dalam hal itu adalah Sjam.
Kemungkinan lain sebagaimana dituturkan oleh Siregar, "Supardjo sekalipun
kemudian dibunuh juga oleh Soeharto menyusul hancurnya Gerakan 30 September
1965, tadinya bukan tidak mungkin adalah juga anggota dari kubu Soeharto.
Perekrutan atas Supardjo mungkin sekali ketika ia menjadi Wakil Panglima KOSTRAD
dan ketika kampanye Ganyang Malaysia dimana Soepardjo menjadi Panglima
Komando Tempur Kalimantan dibawah KOLAGA yang dikepala-staffi oleh Soeharto"

Akhir petualangan Lettu Doel Arif pun tak jelas. Sebagai komandan Pasukan Pasopati
yang menjadi operator G 30 S, ia adalah tokoh kunci. Ia bertanggung jawab terhadap
operasi penculikan jenderal-jenderal pimpinan AD. Tapi Doel Arief, yang ditangani
langsung oleh Ali Moertopo, hilang bak ditelan bumi.

Bentuk hukuman apa yang diberikan Ali Moertopo bagi Doel Arief? Mungkin saja ia
langsung di-dor, seperti halnya DN. Aidit oleh Kolonel Yasir Hadibroto. Atau, bukan
tidak mungkin, ketidakjelasan Doel Arief lebih mirip dengan misteri tentang Sjam
Kamaruzzaman.

Kalau dilihat secara holistik **dengan asumsi bahwa G 30 S betul-betul merupakan


skenario kudeta** peran Doel Arief tidak begitu penting. Setidaknya, ia hanyalah pion
yang dimainkan para elit diatasnya. Perannya hanya sebagai pelaksana untuk
menculik para jenderal. Namun kalau diasumsikan bhw G 30 S merupakan skenario
jenial untuk menabrakkan PKI dan AD guna memunculkan konstelasi politik baru di
Indonesia, maka Lettu Doel Arief adalah key person, seperti halnya Sjam.

Kesaksian para pelaku gerakan september 65 ini merupakan hal yang penting bagi
jalannya proses rekonstruksi sejarah Orde Baru. Sayangnya, sangatlah disayangkan
ada yang tercecer dari kesaksian para tokoh kunci gerakan tersebut hingga terjadilah
missing link yang masih misterius sampai dengan sekarang.
Akibat yang paling fatal adalah pertanyaan yang paling mendasar dan legendaris
sampai dengan saat ini yaitu : siapakah dalang dan otak sesungguhnya dari gerakan
30 September tersebut ?

Ketidakjelasan nasib para tokoh PKI dan juga para pelaku langsung G 30 S, ikut
menambah rumit konspirasi yang terjadi. Beberapa dari tokoh inti sudahlah jelas dan
terang nasibnya dengan mengalami eksekusi secara resmi di depan regu tembak
seperti eks Kol. Untung, eks Brigjen Sopeardjo, Sudisman yang anggota Politbiro PKI
dan Dipa Nusantara Aidit yang menjadi Ketua PKI.

Sementara itu Nyoto tidak diketahui sampai sekarang rimbanya. Alkisah tanggal 11
Maret 1966 sepulangnya dari sidang kabinet (Nyoto adalah salah satu mentri di
kabinet soekarno), ia diculik oleh sekelompok orang yang tidak diketahui identitasnya
dalam perjalanan pulang menuju rumahnya di Jl. Tirtayasa. Ada beberapa tapol yang
pernah melihatnya di Rutan Salemba tapi setelah itu mereka tidak melihat lagi
karena kemudian terhembus kabar burung bahwa Nyoto sudah dieksekusi di salah
satu kepulauan Seribu di Teluk Jakarta.

Yang menjadi suatu fenomena menarik adalah perlakuan ekstra judistrial bagi para
elite politik PKI. Jika ditelaah dan diperhatikan, mereka tidak pernah diadili secara
hukum dan menjalani tahap persidangan.