Anda di halaman 1dari 12

1

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Saat ini, sumber energi utama di dunia berasal dari bahan bakar fosil yang
ketersediaannya semakin berkurang. Pembakaran bahan bakar fosil juga
menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan (Borges dan Diaz, 2012). Masalah
tersebut mendorong munculnya penelitian-penelitian untuk mencari energi alternatif
dari sumber yang dapat terbarukan. Salah satu bahan bakar alternatif yang banyak
dikembangkan adalah biodiesel. Biodiesel dapat menggantikan bahan bakar diesel
berbasis minyak bumi (petroleum) tanpa modifikasi terhadap mesin (Enweremadu
dan Mbarawa, 2009). Pembakaran biodiesel menghasilkan emisi yang lebih ramah
lingkungan dari pada diesel petroleum (Chen dkk., 2009).
Biodiesel dapat diproduksi dari minyak nabati dan lemak hewan. Sebagian
besar produksi biodiesel masih menggunakan bahan baku minyak nabati untuk
pangan seperti minyak sawit, kedelai dll (Endalew dkk., 2011). Namun, hal ini
menimbulkan persoalan lain karena semakin meningkatnya kebutuhan pangan dari
minyak tersebut. Di sisi lain, potensi dari minyak nabati yang bukan untuk keperluan
pangan belum banyak dikembangkan, contohnya adalah minyak sawit berkadar
asam lemak bebas (ALB) tinggi. Minyak ini dihasilkan dari pengolahan buah sawit
yang lewat matang, busuk, muda dan bentuknya abnormal (sawit off grade).
Pengolahan sawit ini akan menghasilkan CPO berkadar ALB tinggi (ALB > 5%),
minyak ini tidak dibutuhkan oleh industri refinery CPO karena menghasilkan
minyak goreng berkualitas rendah. Semetara itu, ketersediaan sawit off grade cukup
banyak, yaitu 7 10 % dari kapasitas olah sebuah pabrik CPO (Arifin, 2009).
Biodiesel dapat diproduksi melalui reaksi esterifikasi dan transesterifikasi
dengan menggunakan katalis homogen seperti Asam Sulfat, KOH atau NaOH.
Namun, penggunaan katalis homogen memiliki kekurangan seperti terbentuk sabun,
tahap pemisahan yang panjang, korosif dan jumlah limbah cair yang dihasilkan
banyak sehingga tidak ramah lingkungan (Istadi dkk., 2014). Untuk menutupi
kekurangan tersebut, maka digunakanlah katalis heterogen karena produk mudah
dipisahkan dari katalis dan by-produk, katalis dapat digunakan kembali, lebih ramah
lingkungan, pemurnian produk lebih sederhana dan yield metil ester yang dihasilkan
tinggi (Cao dkk., 2008).
Katalis heterogen telah banyak banyak digunakan dalam produksi biodiesel
contohnya CaO dan ZnO komersial (Istadi dkk., 2014). Berdasarkan beberapa hasil
penelitian dinyatakan bahwa penggunaan katalis ZnO lebih stabil, dapat digunakan
berulang kali dan tersedia secara komersil serta bersifat ramah lingkungan (Islam
dkk., 2013; Ngamcharussrivichai dkk., 2008).
1.2

Rumusan Masalah
Katalis ZnO komersial telah digunakan untuk membuat biodiesel berbahan
baku minyak jatropa (Highina dkk, 2011). Pada penelitian tersebut diperoleh yield
biodiesel yang paling maksimal diperoleh 98 % pada kondisi rasio mol minyak
dengan metanol 1 : 18, temperatur 67 oC dan jumlah katalis ZnO 1 %. Kumar dan

Kant (2014) telah melakukan pembuatan biodiesel dari minyak sorgum dengan
katalis ZnO komersial, yield biodiesel yang paling maksimal adalah 96,5 % yang
diperoleh dengan kondisi rasio mol minyak dengan metanol 1 : 18, temperatur 65oC
dan jumlah katalis 1,5 %.
Penelitian diatas membuktikan bahwa ZnO komersial merupakan katalis
yang efektif dalam transesterifikasi minyak nabati menjadi biodiesel. Namun harga
katalis ZnO Komersil (Merck) relatif mahal, untuk satu kilogram, harganya 1,5 juta
rupiah. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan reaksi transesterifikasi
CPO berkadar ALB tinggi dengan metanol teknis dan katalis ZnO yang disintesis.
dari presipitant Zinc Karbonat. Untuk menghasilkan katalis sintesis ini seberat 400
gr dibutuhkan 1 kg Zinc Sulfat teknis (Rp. 30.000) dan 500 gr Natrium Karbonat
teknis (Rp. 25.000). Kondisi reaksi yang akan digunakan adalah waktu reaksi 100
menit, temperatur 65 oC, konsentrasi katalis 0,3 %, 0,4 % dan 0,5 %, rasio mol
minyak : metanol adalah 1 : 6, 1 : 12 dan 1 : 18.
1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini secara umum adalah melakukan pembuatan biodiesel
dari minyak sawit berkadar ALB tinggi menggunakan katalis heterogen ZnO. Secara
khusus tujuan penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1. Menentukan kinerja katalis ZnO sintesis dari presipitan Zinc Karbonat
dengan melakukan pengujian pada variasi jumlah katalis terhadap yield
biodiesel paling maksimal dari reaksi minyak sawit berkadar ALB tinggi
dengan metanol teknis.
2. Menentukan kinerja katalis ZnO sintesis dari presipitan Zinc Karbonat
dengan melakukan pengujian pada variasi rasio mol minyak : metanol
terhadap yield biodiesel paling maksimal dari reaksi minyak sawit berkadar
ALB tinggi dengan metanol teknis.
1.4

Luaran yang Diharapkan dan Manfaat


Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah didapatkan data-data
mengenai pembuatan biodesel dari CPO berkadar ALB tinggi dan diharapkan dapat
menjadi acuan untuk penerapannya dalam skala yang lebih besar. Hasil penelitian ini
juga diharapkan menjadi artikel ilmiah tentang pembuatan biodiesel dengan katalis
heterogen bagi peneliti lain.
Manfaat dari penelitian ini adalah dapat membantu pemerintah dalam
mencari solusi dalam upaya menjamin ketersediaan dan ketahanan energi nasional.
Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat berperan dalam perkembangan
industri biodiesel untuk mencari katalis dan kondisi operasi yang paling optimal
serta proses yang lebih ramah lingkungan.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1
Biodiesel
Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono alkil
ester yang terbuat dari minyak nabati atau lemak hewan. Biodiesel dapat
menggantikan diesel petroleum dan dapat diangkut serta dijual dengan
menggunakan infrastruktur yang ada sekarang ini. Penggunaan biodiesel memiliki
banyak keuntungan antara lain bersifat terbarukan, mengurangi emisi kendaraan,
mampu melumasi mesin sehingga dapat meningkatkan umur kendaraan, aman untuk
disimpan dan ditransportasikan karena bersifat nontoxic dan biodegreable dan dapat
mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil (Balat dan Balat, 2010).
Agar biodiesel hasil produksi bisa digunakan dengan baik, maka diperlukan
standar baku mutu. Di Indonesia standar baku mutu biodiesel diatur dalam SNI 047182-2006 seperti ditampilkan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Syarat Mutu Biodiesel dan Metode Uji yang Digunakan
No
1
2
3
4
5
6

Satuan
kg/m3
mm2/s

Parameter
Massa jenis pada 40oC
Viskositas kinematik pada 40oC
Angka setana
Titik nyala (mangkok tertutup)
Titik kabut
Korosi lempeng tembaga
(3 jam pada 50oC)
Residu karbon
- Dalam contoh asli, atau
- Dalam 10% ampas
destilasi
Air dan sedimen

Nilai
850 890
2,3 6,0
min. 51
min. 100
maks. 18
maks. no 3

Metode Uji
ASTM D 1298
ASTM D 445
ASTM D 613
ASTM D 93
ASTM D 2500
ASTM D 130

%-massa

maks. 0,05
maks. 0,30

ASTM D 4530

%-vol

maks. 0,05*

maks. 360
maks. 0,02
maks. 100

Gliserol bebas

C
%-massa
ppm-m
(mg/kg)
ppm-m
(mg/kg)
mg-KOH
/g
%-massa

ASTM D 2709 /
ASTM D 1796
ASTM D 1160
ASTM D 874
ASTM D 5453 /
ASTM D 1266
AOCS Ca 12-55

9
10
11

Suhu destilasi 90%


Abu tersulfaktan
Belerang

12

Fosfor

13

Angka asam

14
15

Gliserol total

%-massa

maks. 0,24

16
17
18

Kadar ester alkil


Angka iodium
Uji halphen

%-massa
%-massa

min. 96,5
maks. 115
Negatif

C
C

maks. 10
maks. 0,8
maks. 0,02

AOCS Cd 3d-63
/ ASTM D 664
AOCS Ca 14-56
/ ASTM D 6584
AOCS Ca 14-56
/ ASTM D 6584
Dihitung**
AOCS Cd 1-25
AOCS Cd 1-25

Sumber: SNI 04-7182-2006, 2006

2.2

Sawit Off Grade


Sawit off grade merupakan buah sawit yang berasal dari sisa sortiran TBS di
pabrik CPO. Faktor yang menyebabkan adanya sawit off grade adalah waktu

pemanenan terlalu cepat atau terlalu lambat, lamanya waktu tinggal di Tempat
Pengumpulan Hasil (TPH) maupun di pabrik. Jika tandan buah sawit (TBS) yang
telah dipanen tidak langsung diproses, akan menyebabkan peningkatan kadar ALB
ketika buah diekstraksi menjadi minyak. Kriteria buah sawit yang digolongkan
kepada sawit off grade adalah buah sawit muda, abnormal, lewat matang dan busuk
(Budiawan dkk., 2013). Keempat jenis buah sawit yang digolongkan ke dalam sawit
off grade ditampilkan pada Gambar 2.1.

a.

c.

b.

d.

Gambar 2.1. Klasifikasi Sawit Off grade : a. Sawit muda, b. Sawit abnormal,
c. Sawit lewat matang dan d. Sawit busuk (Budiawan dkk., 2013)
Dengan perlakuan yang tidak tepat disetiap pemanenan maupun pada saat
pertumbuhan sawit, maka jumlah sawit off grade akan terus meningkat.
Ketersediaan sawit off grade cukup banyak yaitu sekitar 2 3 ton perjam dari
sebuah pabrik CPO dengan kapasitas olah 30 ton perjam (Arifin, 2009).
2.3

Reaksi Pembuatan Biodiesel


Pembuatan biodiesel berbahan baku minyak nabati dapat dilakukan dengan
dua tahapan reaksi yaitu reaksi esterifikasi dan transesterifikasi.
2.3.1 Reaksi Esterifikasi
Reaksi esterifikasi adalah reaksi antara asam karboksilat dan alkohol
membentuk alkil ester. Senyawa ester merupakan senyawa organik dengan rumus
umum RCOOR dimana R dan R berupa alkil. Reaksi ini berlangsung dengan
katalis asam dan bersifat bolak-balik, reaksinya sebagai berikut (Arita, 2008):
RCOOH
Minyak

ROH
alkohol

Katalis

RCOOR + H2O .................................... 2.1


ester

2.3.2 Transesterifikasi
Reaksi transesterifikasi merupakan reaksi antara minyak (trigliserida) dan
alkohol yang menghasilkan produk berupa metil ester (Guo dan Fang, 2011).
Prosesnya sama seperti proses hidrolisis, tetapi menggunakan alkohol atau disebut
juga reaksi alkoholisis. Reaksi transesterifikasi adalah sebagai berikut:
RCOOR + ROH
minyak
Alkohol

Katalis

RCOOR + ROH ...................................... 2.2


FAME
Gliserol

Dalam pembentukan FAME dengan mereaksikan minyak atau asam lemak


(trigliserida) dengan metanol mekanisme reaksinya seperti berikut:
R1COOCH2
R2COOCH + CH3OH
R3COOCH2
Trigliserida
Metanol
HOCH2
R2COOCH +
R3COOCH2
Digliserida
HOCH2
HOCH +
R3COOCH2
Monogliserida

CH3OH

Katalis

FAME
Katalis

Metanol
CH3OH

R1COOCH3

R2COOCH3
FAME

Katalis

Metanol

R3COOCH3
FAME

HOCH2
+ R2COOCH
R3COOCH2
Digliserida
+

HOCH2
HOCH
R3COOCH2
Monogliserida

CH2OH
+ CHOH ................ 2.3
CH2OH
Gliserin

2.4

Faktor faktor yang Mempengaruhi Pembuatan Biodiesel


Dalam proses pembuatan biodiesel, terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi yaitu jenis bahan baku dan reaktan, jenis dan jumlah katalis, rasio
minyak dengan alkohol, waktu reaksi dan temperatur reaksi.
2.4.1 Bahan Baku dan Reaktan
Terdapat berbagai jenis tumbuhan yang bisa dgunakan sebagai bahan baku
biodiesel diantaranya sawit, jarak, kelapa, bunga matahari dan lain-lain.
Karakteristik biodiesel dari berbagai jenis sumber minyak ditampilkan Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Karaketeristik Biodiesel dari Berbagai Bahan Baku
Bahan baku
minyak
Biji Kapas
Kedelai
Kacang Tanah
Sawit
Bunga Matahari

Massa jenis
(20oC)
kg/liter
0,885
0,883
0,880
0,860

Kadar
Iodin
117 143
80 106
35 61
110 - 145

Angka
setana
51
38
54
40
37

Titik
awan/kabut
,
o
C
1
5
13
1

Titik
tuang,
o
C

Titik
nyala
o
C

-4
-7
23 40
-16

110
178
176
164
183

Sumber: Chopade dkk., 2012

Tabel 2.2 menunjukkan bahwa masing-masing bahan baku menghasikan


biodiesel dengan karakteristik yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan karena
komposisi kandungan asam lemak dan jenis asam lemak yang terdapat di dalam
bahan baku tersebut (Budiawan dkk., 2013). Akan tetapi, industri biodiesel
menghadapi banyak rintangan ekonomi karena tingginya biaya bahan baku dan
rendahnya harga bahan bakar fosil. Berdasarkan hasil evaluasi kelayakan ekonomi
industri biodiesel, isu yang paling kritis adalah tingginya harga minyak nabati virgin
(Cao dkk., 2008). Biaya bahan baku dalam produksi biodiesel mencapai 60 75 %
dari biaya produksinya (Huang dkk., 2010). Oleh karena itu, bahan baku dengan
harga yang lebih murah sangat penting untuk menjamin nilai komersil biodiesel.
Bahan baku berbasis CPO yang berpeluang menjadi bahan baku biodiesel
diantaranya CPO dengan kadar FFA 5 20%, CPO parit dengan kadar FFA 20
70%, palm fatty acid distillate (PFAD) dengan kadar FFA > 70%, minyak goreng
bekas, stearin dan crude stearin (Hidayat, 2009). Umpan dengan kandungan FFA
yang tinggi dperkirakan dapat mengurangi biaya produksi biodiesel.
Untuk menghasilkan biodiesel, minyak akan direaksikan dengan alkohol.
Alkohol yang telah digunakan untuk produksi biodiesel adalah metanol, etanol,
propanol, isopropanol, butanol dan pentanol. Penggunaan metanol lebih
menguntungkan karena cepat bereaksi dengan trigliserida dan relatif lebih murah
(Meneghetti dkk., 2006). Transesterifikasi dengan metanol dapat berlangsung pada
temperatur yang lebih rendah ( 60 oC) sedangkan dengan butanol, yield yang sama
diperoleh pada temperatur yang lebih tinggi (75 114 oC) (Geise, 2002). Selain itu,
waktu reaksi menggunakan metanol lebih singkat. Pada transesterifikasi minyak
kastor, yield maksimum didapat pada waktu 1 jam dengan metanol dan waktu 5 jam
dengan etanol (Meneghetti dkk., 2006).
2.4.2 Jenis Katalis dan Jumlah Katalis
Reaksi transesterifikasi tanpa katalis berlangsung lambat, membutuhkan
tekanan 35 60 Mpa dan temperatur 250 400 oC (Kusdiana dan Saka, 2004).
Penjelasan lebih rinci tentang jenis katalis dapat dilihat pada sub-bab 2.5.
2.4.3 Rasio Reaktan
Karena reaksi transesterifikasi berjalan bolak-balik, maka dibutuhkan
metanol berlebih agar reaksi bergerak ke arah produk. Gemy (2015) melakukan
pembuatan biodiesel dari minyak sawit off grade dengan katalis ZnO. Rasio mol
minyak : metanol yang digunakan adalah 1 : 10, 1 : 14 dan 1 : 18 dan yield yang
didapat berturut-turut adalah 91,84 %, 92,62 % dan 94,26%.
2.4.4 Temperatur Reaksi
Dalam berbagai penelitian, suhu reaksi optimal untuk pembuatan biodiesel
adalah berkisar 45 65oC (Hayyan dkk., 2010). Penggunaan suhu optimum dalam
reaksi dapat meningkatkan laju reaksi dan mempersingkat waktu reaksi sedangkan

jika suhu yang digunakan di atas kondisi optimum tidak akan meningkatkan yield
tetapi hanya akan meningkatkan biaya produksi (Kapilakarn dkk., 2007).
2.4.5 Waktu Reaksi
Menurut Hayyan dkk. (2011) yield biodiesel dengan bahan baku berkadar
ALB tinggi meningkat dalam waktu 1 3 jam. Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Highina dkk. (2011) dalam transesterifikasi minyak Jatropa dengan
katalis ZnO, yield optimum didapat pada waktu 75 100 menit.
2.5

Katalis pada Transesterifikasi Biodiesel


Dalam pembuatan biodiesel ada empat kelompok katalis yang biasa
digunakan yaitu katalis alkali, asam, biokatalis dan katalis heterogen nonenzimatis.
2.5.1

Katalis Alkali
Transesterifikasi dengan katalis alkali menghasilkan biodiesel lebih cepat,
kondisi operasi dengan temperatur sedang dan alkohol yang lebih sedikit
dibandingkan transesterifikasi dengan katalis asam. Tetapi, proses ini menghasilkan
garam asam lemak (sabun) ketika kadar ALB dalam minyak tinggi. Hal ini terjadi
karena ALB dan air dinetralisasi oleh basa sehingga katalis dikonsumsi oleh reaksi
pembentukan sabun. Karena itu, katalis basa tidak efisien untuk operasi dimana
kadar air dan ALB bahan baku sulit dikendalikan (Vasudevan dan Briggs, 2008).
2.5.2

Katalis Asam
Katalis asam yang biasa digunakan dalam katalisis minyak adalah asam
hidroklorik dan asam sulfurik. Dipilihnya katalis asam dengan pertimbangan
harganya yang relatif murah dibandingkan katalis basa dan juga toleransinya
terhadap ALB dan air. Penggunaan katalis asam menjadi lebih efektif daripada
katalis basa ketika kadar ALB bahan baku lebih dari 1 %. Kelemahan lain dari
proses ini adalah reaksinya berjalan lebih lambat dari pada katalis jenis lain.
2.5.3

Biokatalis
Biokatalis yang telah diidentifikasi memiliki kemampuan untuk
menyelenggarakan reaksi transesterifikasi adalah enzim lipase. Enzim ini telah
diisolasi dari berbagai jenis spesies bakteri: Pseudomonas fluorescencs,
Pseudomonas cepacia, Rhizomucor miehei, Rhizophus orizae, Candidi rugosa,
Thermomices lanuginosus, dan candida antarctica (Vasudevan dan Briggs, 2008).
Berdasarkan penelitiani, Bakteri Pseudomonas cepacia adalah mikroorganisme yang
paling menjanjikan untuk memproduksi enzime lipase yang bisa digunakan untuk
transesterifikasi (Shah dan Gupta, 2007).
2.5.4

Katalis Heterogen Nonenzimatis


Katalis heterogen yang paling banyak dipelajari adalah karbonat logam alkali
dan alkali tanah (Na2CO3, K2CO3, CaCO3), oksida logam alkai tanah (CaO, MgO,

SrO, BaO) dan oksida lain seperti ZnO (Romero dkk., 2011). Keunggulan utama
dari katalis ini adalah karena sifatnya yang tidak korosif, lebih ramah lingkungan
dan tahap pemisahan lebih singkat. Oleh karena itu, penggunaan katalis ini dapat
mengurangi biaya produksi biodiesel konvensional. Katalis heterogen juga
mengurangi pembentukan sabun bahkan dengan penggunaan minyak kualitas rendah
sekalipun (Romero dkk., 2011).
ZnO dalam bentuk serbuk putih biasanya dikenal dengan nama seng putih
atau mineral seng. Mineralnya biasanya mengandung sejumlah mangan dan unsur
lain dan berwarna kuning kemerah-merahan. Kristal ZnO bersifat temo-kromik yang
dapat berubah dari putih menjadi kuning ketika dipanaskan dan kembali menjadi
putih jika didinginkan. Hal ini disebabkan oleh hilangnya sejumlah kecil oksigen
pada suhu tinggi. ZnO merupakan oksida ampoterik. Oksida ini hampir tidak larut di
dalam air dan alkohol, tetapi larut (terdegradasi) di dalam larutan asam seperti asam
klorida, persamaan reaksinya sebagai berikut:
ZnO + 2HCl ZnCl2 + H2O ............................................................ 2.3
ZnO juga bereaksi dengan larutan basa seperti NaOH:
ZnO + 2NaOH + H2O Na2(Zn(OH)4) ...................................... 2.4
ZnO hanya terdekomposisi menjadi uap Zn dan oksigen pada suhu 1975 0C.
Hal ini menunjukkan kestabilannya terhadap suhu tinggi.
BAB 3. METODE PELAKSANAAN
3.1
Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan yaitu CPO berkadar ALB tinggi sebagai bahan baku,
metanol, H2SO4, ZnSO4.7H2O dan Na2CO3. Kemudian untuk kebutuhan analisis
karakteristik minyak dan biodiesel digunakan asam oksalat, KOH, indikator PP,
etanol 96% dan toluen.
Peralatan yang digunakan adalah labu leher tiga sebagai reaktor, kondenser,
termometer, muffle furnace, tube furnace, oven, piknometer, viscometer oswald,
close cup flash point tester, dan peralatan gelas lainnya.
3.2

Variabel Penelitian
Pada penelitian ini digunakan dua jenis variabel yaitu variabel tetap dan
variabel berubah. Variabel tetap yaitu temperatur reaksi (65 oC) dan waktu reaksi
(100 menit). Variabel berubah yaitu jumlah katalis (0,3, 0,4 dan 0,5 %-b/b minyak)
dan rasio mol minyak : metanol (1 : 6, 1 : 12 dan 1 : 18).

3.3
Prosedur Penenlitian
3.3.1 Persiapan Katalis
Katalis yang digunakan dalam tahap transesterifikasi adalah ZnO. Proses
sintesis ZnO yaitu 100 mL larutan ZnSO4 1 M ditambahkan dengan 100 mL larutan
Na2CO3 1 M secara perlahan sambil diaduk pada temperatur 50 oC. Setelah
penambahan Na2CO3 selesai, padatan ZnCO3 yang terbentuk didiamkan hingga
mengendap sempurna kemudian dipisahkan dari cairannya. Kemudian padatan
ZnCO3 yang didapat dpanaskan pada temperatur 200 oC selama 5 jam di dalam
muffle furnace untuk mendapatkan ZnO. Sebelum digunakan sebagai katalis, ZnO
terlebih dahulu diaktifasi. Proses aktifasi dilakukan di dalam tube furnace dengan
dialirkan gas nitrogen pada temperatur 500 oC selama 5 jam (Mukenga dkk, 2012).
3.3.2 Pengambilan dan analisa sampel.
a. Esterifikasi
Proses esterifikasi dilakukan karena bahan baku CPO mempunyai kadar
ALB lebih dari 2 %. CPO ditimbang sebanyak 150 gram dan dimasukkan ke dalam
reaktor batch berpengaduk dan ditempatkan di atas pemanas untuk menjaga suhu
reaksi. Setelah suhu reaksi tercapai yaitu 65oC, pereaksi metanol (rasio mol minyak :
metanol = 1:6, 1:12 dan 1:18) dan katalis H 2SO4 98% sebanyak 1%-b ditambahkan
secara terukur. Kondensor dipasang, pengaduk mulai dijalankan dan reaksi
berlangsung selama 40 menit.
b. Tansesterifikasi
Setelah reaksi esterifikasi, ditambahkan katalis ZnO (jumlah katalis 0,3, 0,4
dan 0,5 %-b/b minyak) ke dalam reaktor. Waktu awal reaksi mulai dihitung setelah
katalis diumpankan ke dalam reaktor. Reaksi transesterifikasi berlangsung selama 60
menit. Setelah itu, campuran dalam reaktor dipisahkan menggunakan corong pisah.
3.4

Pengujian Produk
Karakteristik biodiesel yang diuji meliputi angka asam, angka penyabunan,
massa jenis, titik nyala (flash point), viskositas kinematik dan kadar alkil ester. Hasil
yang diperoleh dibandingkan dengan syarat mutu biodiesel pada Tabel 2.1. Secara
umum, diagram alir proses penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.1.

10

Gambar 3.1 Diagram Alir Proses Penelitian


BAB IV. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
4.1 Anggaran Biaya
Tabel 4.1 Ringkasan Anggaran Biaya PKM-P
No
1
2
4
5

4.2

Jenis Pengeluaran
Peralatan Penunjang
Bahan Habis Pakai
Perjalanan
Lain- lain
Jumlah

Biaya (Rp)
4.384.500
4.510.000
1.034.000
2.221.500
12.150.000

Jadwal Kegiatan

Tabel 4.2 Jadwal Kegiatan PKM-P


No
1
2
3
4
5

Kegiatan
Pengadaan dan persiapan alat dan bahan
Persiapan katalis ZnO dan sampel CPO
berkadar ALB tinggi
Proses pembuatan biodiesel
Pengujian karakteristik bodiesel
Pengolahan data dan penyusunan laporan hasil
penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Bulan
3

11

Arifin, J.K. 2009. Pemanfaatan Buah Sawit Sisa Sortiran sebagai Sumber Bahan
Baku Asam Lemak. Tesis. Program S2 Teknik Kimia Universitas Sumatra
Utara. Medan.
Arita, S., Dara, M.B., Irawan, J. 2008. Pembuatan Metil Ester Asam Lemak Dari
CPO Off Grade Dengan Metode Esterifikasi-Transesterifikasi. Jurnal Teknik
Kimia, No. 2, Vol. 15.
Badan Standarisasi Nasional. 2006. Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 047182:2006 tentang Biodiesel. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta.
Balat, M. Dan Balat, H. 2010. Progres in Biodiesel Processing. Journal of Applied
Energy. 87 : 1815 1835.
Borges, M.E. dan Diaz, L. 20012 . Recent developments on heterogeneous catalysts
for biodiesel production by oil esterification and transesterification
reactions: A review. Renewable and Sustainable Energy Reviews. 16 : 2839
2849.
Budiawan, R., Zulfansyah, Fatra W. dan Helwani, Z. 2013. Off-grade Palm Oil as a
Renewable Raw Material for Biodiesel Production By Two-Step Processes.
ChESA Conference. Januari. Banda Aceh. Chemical Engineering on Science
and Application. 7 : 40 50.
Cao, F., Chen, Y., Zhai, F., Li, J., Wang, J., Wang, X., Wang, S. dan Zhu, W. 2008.
Biodiesel Production from High Acid Value Waste Frying Oil Catalyzed by
Superacid Heteropolyacid. Biotechnology. Bioengineering. 101 : 93 100.
Chen, Y., Xiao, B., Chang, J., Fu, Y., Lv, P. Dan Wang, X. 2009. Synthesis of
biodiesel from waste cooking oil using immobilized lipase in fixed bed
reactor. Energy Conversion and Management. 50 : 668 673.
Chopade, S.G., Kulkarni, K.S., Kulkarni, A.D. dan Topare, N.S. 2012. Solid
Heterogeneous Catalysts Production of Biodiesel from Transesterifications
of Triglycerides with Methanol : A Review. Acta Chimica and
Pharmaceutica Indica (ISSN 2277-2288X). 2 (1) : 8 14.
Enweremadu, C.C. dan Mbarawa, M.M. 2009. Technical aspects of production and
analysis of biodiesel from used cooking oil a review. Renewable and
Sustainable Energy Review. 3 : 2205 2224.
Geise, R. 2002. Biodiesels Bright Future Deserves Equality. Render Magazine. 31 :
16 17, ISSN 0090-8932.
Guo, F. dan Fang, Z. 2011. Biodiesel Production with Solid Catalysist, Biodiesel
Feed Stocks and Processing Technologies, Margareta Stoytcheva (Ed.),
ISBN : 978-953-307-713-0, InTech. http://www.intechopen.com/. 14
November 2014 (14:15).
Hayyan, A., Alam, M.Z., Mirghani, M.E.S., Kabbashi, N.A., Hakimi, N.I.N.M.,
Siran, Y.M. dan Tahiruddin, S. 2010. Sludge Palm Oil as a Reneweble Raw
Material for Biodiesel Production by Two Step Processes. Journal of
Bioresouce Technology. 101 : 7804 7811.

12

Hidayat, W. 2009. Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil
Transesterifikasi menjadi Biodiesel Sawit dengan Kapasitas 50 Ton/hari.
Tugas Akhir. Jurusan Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Medan.
Highina, B.K., I.M. Bugaje, dan B. Umar. 2011. Biodiesel Production From Jatropa
Caucus Oil in a Batch Reactor Using Zinc Oxide as Catalyst. Journal of
Petroleum Technology and Alternative Fuels. 2 : 146 149.
Istadi, I., Anggoro, D. D., Buchori, L., Rahmawati, D. A. dan Intaningrum, D. 2014.
Active Acid Catalyst of Sulphated Zinc Oxide for Transesterification of
Soybean Oil with Methanol to Biodiesel. Journal Environmental Science.
23 : 385 393.
Kapilakarn, K. dan Peugtong A. 2007. A Comparison of Cost of Biodiesel
Production from Transesterification. International Energy Journal. 8 :1-6.
Kumar, V. dan Kant, P. 2014. Biodiesel Production from Sorghum Oil by
Transesterification Using Zinc Oxide as Catalyst. Journal of Petroleum and
Coal. 56 : 35 40.
Kusdiana, D. dan Saka, S. 2004. Effects of water on biodiesel fuel production by
supercritical methanol treatment. Journal of Bioresource Technology. 91 :
289295.
Meneghetti, S.M.P., Meneghetti, M.R., Wolf, C.R., Silva, E.C., Lima, G.E.S., De
Lira Silva, L., Serra, T.M., Cauduro, F. dan De Oliveira, L.G. 2006. Biodiesel
from Castor Oil: A Comparison of Ethanolysis versus Methanolysis. Journal
Energy and Fuels. 20 (5) : 2262 2265, ISSN 08870624.
Romero, R., Martinez, S.L. dan Natividad, R. 2011. Biodiesel Production by Using
Heterogenous Catalyst. Alternative Fuel. ISBN 987-953-372-9.
Shah, S. dan Gupta, M.N. 2007. Lipase Catalyzed Preparation of Biodiesel from
Jatropha Oil in a Solvent Free System. Proc Biochem. 42 : 409 414.
Vasudevan, P.T. dan Briggs, M. 2008. Biodiesel ProductionCurrent State of The
Art and Challenges. J Ind Microbiol Biotechnol. 35 : 421 430. PMID:
18205018.