Anda di halaman 1dari 5

RELASI ANTARA MILITER DAN POLITIK DI MASA ORDE LAMA,

ORDE BARU, DAN REFORMASI


Vany Fitria/071411331004
Ilmu Politik Universitas Airlangga

Masa Orde Lama


Pada masa orde lama, awal dari titik keterlibatan militer dengan politik adalah ketika
presiden Soekarno meminta Nasution untuk menjadi mitra politiknya, dengan menjadi coformateur kabinet pada tahun 1957. Hal tersebut dilakukan oleh presiden soekarno untuk
mendapatkan dukungan dari tentara, dan Nasution menyambut intensi Soekarno dengan
positif namun dengan beberapa syarat, yakni; PKI tidak diikutkan dalam kabinet dan ada
wakil militer yang menjadi anggota kabinet. Akhirnya permintaan Nasution terealisasi dalam
kabinet Djuanda.1 Selanjutnya, TNI mulai menjadi kekuatan politik yang diakui secara sah,
karena ada anggota yang menjabat dalam pemerintah di luar bidang militer.
Namun kedekatan Soekarno dengan PKI yang ia anggap sebagai partai kuat dan dapat
dijadikan mitra baru, dilakukan untuk mengatur keseimbangan kekutaan politik antara militer
dan PKI, serta demi kepentingan Nasakomnya. Tak dapat dipungkiri bahwa kekuatan militer
semakin menguat yang tercermin dalam posisi politik mereka di lembaga-lembaga resmi
pada masa demokrasi terpimpin. Dengan sikap Soekarno yang cenderung menguntungkan
dan membela PKI pada masa itu, memancing kekecewaan dan kemarahan yang muncul di
pihak militer. Hubungan kerja sama antara Soekarno dan militer di awal, kini menjadi
hubungan ke arah permusuhan di antara keduanya.
Masa-masa ini, dimana Soekarno masih berada dalam tampuk pemerintahan tertinggi,
terjadi banyak hal yang tak terduga. Ketika Soekarno bermitra dengan tentara dan akhirnya
balik dimusuhi tentara, serta ketika ia menggandeng PKI untuk Nasakomnya, dan ia malah
diperalat balik oleh PKI untuk menguatkan kekuatannya dan menjadikan Nasakom hanyalah
sebuah strategi. Terkait dengan peristiwa G30S/PKI, banyak penafsirang yang diberikan oleh
tokoh-tokoh. Salah satu penafsirannya adalah yang diberikan oleh Robinson, yang
mengatakan bahwa Amerika turut ikut serta dalam kudeta dan memprovokasi angkatan Darat
untuk melakukan kudeta dan membangun rezim Soeharto.Lalu masalah baru lainnya yakni
kekuasaan Jenderal Soeharto dan misteri dari Supersemar, yang sampai sekarang pun masih
belum terjawab, kebenaran dari isi Supersemar itu sendiri. Apakah Soekarno sendiri yang
membuatnya? Apakah Supersemar hanyalah strategi Soeharto? Dimanakah naskah asli
Supersemar? Ujung dari kemelut politik ini sampai ke sebuah titik baru, yakni diangkatnya
Jenderal Soeharto sebagai presiden Indonesia yang menggantikan presiden sebelumnya,
yakni Soekarno, the architect of a nation.
Pada masa ini kita dapat melihat relasi militer dan politik yang begitu intens. Dimulai
dari kerjasama antara Soekarno dan Nasution dengan konsep mutual dependence. Dimana
1 Dalam Kabinet Karya yang dipimpin oleh Djuanda, Menteri Perdana sekaligus
menteri pertahanan, terdapat tiga perwira militer, yaitu Kolonel Azis Saleh,
Kolonel Nazir, dan Kolonel Suprayogi, dan dalam kabinet ini juga tidak ada orang
PKI. Tugas kabinet ini adalah normalisasi politik dan peningkatan pembangunan
ekonomi (Abdoel Fattah 2005: 105)
Page 1 of 5

Soekarno mengupayakan dukungan dari militer, dan militer sendiri menggunakan


kesempatan ini untuk dapat berperan langsung dalam panggung politik. Namun dalam
perjalanannya, hubungan ini tidak lagi harmonis, sehingga akhirnya kekuasaan presiden
Soekarno pun dijatuhkan, dengan diangkatnya Jenderal Soeharto sebagai Presiden Indonesia
yang baru dengan didukung oleh militer. Dampak positif dari relasi militer dalam politik ini
adalah dapat dilihat dari peran mereka untuk membersihkan dan menumpas PKI, yang jelasjelas ideologinya berbeda dengan ideologi negara Indonesia. Namun dampak buruk
keterkaitan mereka disini adalah mereka menjadi kelompok kekuatan tersendiri yang dapat
melakukan hal-hal diluar yang seharusnya, hingga mereka teridentifikasi dalam menjatuhkan
rezim Soekarno dan berperan dalam pembentukan rezim Soeharto.

Masa Orde Baru


Hadirnya Orde Baru di bawah tangan Soeharto bertujuan untuk melakukan koreksi
terhadap segala penyimpangan pada masa Orde Lama. Soeharto bertekad untuk tidak
melakukan kesalahan yang dilakukan Soekarno. Oleh karenanya, ia menggunakan kekuatan
militer untuk bertumpu, yang didasarkan pada dwi fungsi ABRI/TNI. Dengan adanya konsep
ini, ABRI memiliki alasan untuk masuk ke dalam semua aspek kehidupan negara. Namun,
konsep dwifungsi ABRI pada masa orde baru memiliki dampak yang begitu luas, dimana
peranan ABRI mencakup segala aspek kehidupan tanpa batasan yang jelas. Oleh karenanya
banyak fungsi yang timpang tingdih, sehingga pelaksanaan tanggung jawab sulit dan tidak
jelas. Di sisi lain, ABRI kian menguasai aspek-aspek kehidupan masyarakat dengan praktikpraktik yang tidak wajar.
Soeharto memanfaatkan kekuatan ABRI tersebut sebagai alat kekuasaan dan alat
politik Orde Barunya, sehingga masyarakat menjadi kurang simpati terhadap ABRI/TNI.
Sebagai alat politiknya, tentara digunakan untuk mendukung Golkar sebagai partai
pemerintah. Soeharto dengan cerdasnya, menggunakan peran sosial politik ABRI tersebut
untuk mewujudkan stablitias politik dan ekonomi dalam format politik Orde Barunya.
Beberapa karakteristik format politik Orde Baru yang menonjol adalah: politik sentralisasi di
tangan eksekutif; pendekatan keamanan sebagai ciri yang menonjol; dominasi militer dengan
pendayagunaan dan perluasan dwifungsi ABRI; rendahnya apresiasi terhadap supremasi
hukum dan hak asasi manusia; dan otoritas birokrasi yang berlebihan. Akibatnya,
perkembangan civil society dan pembangunan demokkrasi di Indonesia pun tersendat.
Tampilnya dwifungsi ABRI telah memberikan gejolak yang luar biasa dalam
dinamika sosial politik Indonesia kala itu. Kecaman tak hanya datang dari golongan
mahasiswa, tokoh masyarakat, dan intelektual saja, tetapi juga dari kalangan militer sendiri.
pada tahun 1977 muncul kritik dari Seskoad di Bandung, lembaga pendidikan tertinggi di
Angkatan Darat, dengan Seskoad paper yang ditulis oleh para perwira Seskoad. Selain
Seskoad, terdapat juga kecaman yang datang dari Fosko, Forum Studi dan Komunikasi, yang
di dalamnya berkumpul sekelompok mantan perwira tinggi yang berpengaruh. Pada Juni
1978 juga muncul Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (LKB), yang beranggotakan tokohtokoh berbagai generasi dan profesi, seperti Mohammad Hatta, A.H. Nasution, Ali Sadikin,
Prof. Sunario, dan lainnya.
Namun keenganan Soeharto bertindak tidak merespons kritikan menyebabkan protes
yang berkelanjutan. Walaupun selama masa kepemimpinannya banyak jasa yang ia berikan,
namun hal tersebut juga disusul dengan kelemahan-kelemahan rezimnya. Hingga akhirnya
Page 2 of 5

gelombang reformasi yang dipelopori mahasiswa mencapai titik puncak, yakni dengan
turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan pada Mei 1998.
Pada Orde Baru ini kita dapat melihat bahwa ABRI/TNI merupakan alat kekuasaan
dan alat politik dari presiden Soeharto. TNI menjadi tonggak politik Orde Baru dan lebih
setia pada presdien Soeharto, dan kehilangan jati dirinya untuk berjuang atas nama rakyat,
yakni tentara nasional yang profesional. Pun juga demikian, peran politik TNI yang
overreach menyebabkan kehidupan demokrasi tidak berkembang dan tentara tidak
profesional lagi.
Format politik Orde Baru yang sentralistik di tangan Soeharto, perluasan Dwifungsi
ABRI, dan otoritas birokrasi yang berlebihan serta rendahnya apresiasi terhadap hak asasi
manusia dan supremasi hukum, telah menciptakan pemerintahan otoritarian yang tak
tertandingi, juga tak mengenal check and balence. Hal tersebut mengakibatkan pembatasan
kebebasan politik rakyat, depolitisasi, serta repsresi yang diiringi kekerasan. Implikasinya
adalah terhambatnya pertumbuhan civil society dan demokrasi. Demokrasi hanyalah sebatas
slogan karena pada nyatanya rezim Orde Baru menghalangi partisipasi politik rakyat,
meniadakan persaingan politik, serta mencegah organisasi masyarakat yang pluralis.

Era Reformasi
Tumbangnya rezim Orde Baru, dan munculnya era reformasi pada 1998 mendorong
lahirnya paradigma baru dan reformasi internal TNI yang mengarah pada TNI yang
profesional, efektif, efisien, dan modern. Begitu juga dengan kembalinya jati diri TNI sebagai
tentara rakyat, tentara perjuangan, dan tentara nasional yang profesional, yang meninggalkan
peran kekuatan politik praktis serta fokus pada fungsi sebagai alat pertahanan negara.
Konsekuensi logisnya adalah bahwa TNI dapat mendukung demokrasi di Indonesia menuju
Indonesia baru yang modern berdaya saing zaman global. Upaya membangun ABRI yang
sesuai dengan tuntutan reformasi terus dilakukan. Pada tanggal 1 April 1999, ABRI secara
resmi melepaskan Polisi dari tubuhnya, dan pada tanggal 20 April 2000 Panglima TNI
Widodo Adisubroto mengumumkan penghapusan peran sosial politik TNI.
Transfer kekuasaan dari presiden Soeharto ke presiden Habibie tak pelak dinilai
banyak kalangan tak jauh berbeda dengan pemerintahan Soeharto, karena Habibie adalah
salah satu orang yang dipercaya oleh Soeharto serta telah lama duduk di kabinet. Namun
pada masa ini juga, atas kesalahan-kesalahan TNI di masa yang lalu, tuntutan untuk merevisi
konsep dwifungsi ABRI terus berdatangan. Akhirnya pada akhir Agustus 1998, Panglima
ABRI Jenderal Wiranto mengumumkan empat paradigma baru TNI. Pertama, militer
mengubah posisi dan metodenya agar tidak selalu di depan dan mendominasi. Kedua,
mengubah konsep menduduki menjadi memengaruhi. Ketiga, mengubah cara memengaruhi
secara langaung menjadi tidak langsung. Keempat, kesediaan untuk melakukan political and
role sharing dengan komponen bangsa lainnya.
Reformasi internal TNI juga dapat dilihat dari perubahan perannya. Pada masa orde
baru, mereka memiliki fungsi di bidang pertahanan keamanan dan sosial politik. Oleh
karenanya, dalam kerangka demokrasi, TNI mengatur kembali tugas dan fungsinya sebagai
alat pertahanan negara dan telah dikukuhkan dengan Ketetapan MPR No. VII/MPR/2000 dan
Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 serta Undang-Undang No. 34 Tahun 2004. Dengan itu,
TNI tidak lagi melakukan banyak fungsi lagi, dan tidak akan terlibat dalam politik praktis.

Page 3 of 5

Paradigma baru yang telah disebutkan di awal tadi, kemudian digantikan lagi pada 20
April 2000 ketika hasil Rapat Pimpinan TNI menyatakan bahwa TNI tidak lagi memiliki
fungsi sosial politik, karena lebih memusatkan perhatiannya pada peran dan tugas dalam
pertahanan. Berdasarkan hasil rapat tersebut, muncullah paradigma baru TNI yang lebih
menjangkau ke masa depan seperti berikut:
1. Pelaksanaan tugas TNI adalah senantiasa dalam rangka tugas negara, yaitu lebih
diarahkan untuk memperkuat kemampuan institusi fungsional.
2. Peran dan tugas TNI dalam kehidupan nasional senantiasa dilakukan atas kesepakatan
bangsa dengan pengaturan secara konstitusional.
3. Apa pun yang dilakukan TNI senantiasa bersama komponen masyarakat lainnya.
4. TNI adalah sebagai bagian dari sistem nasional.
5. Setiap tindakan TNI harus direstui melalui peraturan konstitusional.
Hal hal tersebut di atas dimaksudkan untuk memastikan peran dan tugas TNI adalah tugas
negara, yang dilakukan bersama unsur lain sesuai tugas dan fungsinya. Inti dari reformasi
internal TNI adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Meninggalkan peran sosial politik secara bertahap


Memusatkan perhatian pada tugas utama pertahanan nasional
Menyerahkan fungsi dan tanggung jawab keamanan internal negara kepada POLRI
Meningkatkan konsistensi implementasi doktrin gabungan
Meningkatkan prestasi urusan internal

Berdasarkan paradigma barunya, TNI terus melakukan berbagai upaya redefinisi, reposisi,
dan reaktualisasi perannya dalam kehidupan bangsa.

Daftar Pustaka
Fattah, Abdoel. 2005. Demiliterisasi Tentara: Pasang Surut Politik Militer 1945-2004.
Yogyakarta: LKiS Yogyakarta.
Marijan, Kacung. 2010. Sistem Politik Indonesia: Konsolidasi Demokrasi Pasca-Orde Baru.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Page 4 of 5

Sundhaussen, Ulf. 1988. Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI.
Jakarta: LP3ES.

Page 5 of 5