Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PROBLEM

BASE LEARNING THD PRESTASI BELAJAR

rencanane variabele 3 dan sub variabel 2 strategi pembelajaran inquiry dipecah


menjadi 2 variabel lagi: 1. metode lemah, 2. metode kuat.
base learning juga di bagi 2: 1. metode lemah, 2. metode kuat
aku kekono gambaran disik paradigma berpikire yo... trims.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berikan deskripsi tujuan pendidikan nasional sesuai UU No. 20/2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.1
Berikan argumen dan deskripsi atau konsep terkait regulasi di atas, dan
kaitkan dengan pentingnya tercapainya prestasi belajar siswa (sebagai variabel Y).
Hal ini didasarkan bahwa permasalahan dalam penelitian semuanya harus dilihat
dari akibatnya (variabel Y), di mana kondisi ideal (das sein) dari prestasi belajar
seharusnya tinggi, namun pada kenyataannya kondisi di lapangan (das sollen)
prestasi belajar siswa rendah. Dalam hal ini terdapat kesenjangan antara das sein
dan das sollen sehingga pantas dinyatakan adanya permasalahan.
Nyatakan fenomena permasalahan di atas dengan disertai data dan fakta
yang mendukung sehingga memiliki bobot akademis yang tinggi untuk dijadikan
penelitian tesis. Oleh karena itu tetapkan terlebih dulu lokasi dan unit analisis
penelitian, di mana; SMA, SMP atw SD apa secara fix, sehingga judul dan
permasalahan terjadi saling keterkaitan.
Dari fenomena yang menunjukkan rendahnya prestasi belajar siswa (dalam
mata pelajaran tertentu, tetapkan juga terlebih dahulu) lantas eksplore secara
logika dan teoritis faktor-faktor apa yang mempengaruhinya. Bukti sebaiknya
empiris, baru didukung bukti teoritis. Misal rendahnya prestasi belajar siswa
dalam mata pelajaran Matematika di SMX XYZ setelah dilakukan observasi awal
diduga dipengaruhi oleh strategi pembelajaran inquiry dan program base learning,
sertakan fakta dan data. Setelah itu cari kerangka teori yang mendukung, sehingga
judul tesis memiliki relevansi dan urgensi untuk dilakukan penelitian.

B. Perumusan Masalah
1. Apakah strategi pembelajaran inquiry berpengaruh terhadap prestasi belajar
2. Apakah program base learning berpengaruh terhadap prestasi belajar

1
Bab I Ketentuan Umum pasal 1 Undang Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Duta Nusindo, Semarang, 2003, hlm. 4.
3. Apakah strategi pembelajaran inquiry dan program base learning
berpengaruh terhadap prestasi belajar

C. Tujuan Penelitian
1. Ingin mengetahui dan menganalisis pengaruh strategi pembelajaran inquiry
terhadap prestasi belajar
2. Ingin mengetahui dan menganalisis pengaruh program base learning terhadap
prestasi belajar
3. Ingin mengetahui dan menganalisis pengaruh strategi pembelajaran inquiry
dan program base learning terhadap prestasi belajar

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Urutan dalam pembahasan tinjauan pustaka mengikuti banyak konsep dan
variabel yang dibahas dalam penelitian, yaitu:
A. Landasan Teori
1. Konsep Strategi Pembelajaran Inquiry
Uraikan definisi dari berbagai ahli dan simpulkan dalam pengertian
variabel yang dimaksud dalam penelitian. Termasuk dalam hal ini uraian
tentang pemecahan menjadi 2 sub variabel, metode lemah dan metode kuat.
Di akhir bahasan konsep ini sertakan pula bagaimana nantinya variabel ini
mau diukur sebelum dituangkan dalam definisi operasional.
2. Konsep Program Base Learning
Uraikan definisi dari berbagai ahli dan simpulkan dalam pengertian
variabel yang dimaksud dalam penelitian. Termasuk dalam hal ini uraian
tentang pemecahan menjadi 2 sub variabel, metode lemah dan metode kuat.
Di akhir bahasan konsep ini sertakan pula bagaimana nantinya variabel ini
mau diukur sebelum dituangkan dalam definisi operasional.
3. Konsep Prestasi Belajar
Uraikan definisi dari berbagai ahli dan simpulkan dalam pengertian
variabel yang dimaksud dalam penelitian. Di akhir bahasan konsep ini
sertakan pula bagaimana nantinya variabel ini mau diukur sebelum
dituangkan dalam definisi operasional. (Tentang prestasi belajar, aku wis ana
Lex, tak sertakna ndik email).

B. Penelitian Terdahulu
Dalam sub bab ini memuat tentang hasil penelitian sejenis dan serupa
dengan penelitian yang hendak anda lakukan, biasanya diambilkan dari; jurnal,
buku, ataupun hasil penelitian skripsi, tesis dan disertasi. Dengan adanya
kerangka pemikiran yang sama, paling tidak tidak kita memiliki acuan dan dasar
hukum yang kuat untuk melakukan penelitian dengan meminjam konsep atau
pemikiran dari penelitian terdahulu tersebut.

C. Kerangka Pemikiran Teoritis


Dalam sub bab ini peneliti hanya akan meresume pembahasan di sub bab
sebelumnya, dan umumnya di samping dengan argumen sepanjang 1 parafraf
disertai dengan gambar hubungan geometris antar variabel penelitian.
Sebagai contoh:

Strategi pembelajaran
Inquiry (X1)

. Prestasi Belajar
(Y)
Program Base Learning
(X2)

Gambar di atas jika terminologi penelitian mengarah ke penelitian


korelasional (hubungan antar variabel).
Sebagai contoh lainnya:

Strategi pembelajaran
Inquiry Metode Lemah
Prestasi Belajar
(Y)
Strategi pembelajaran
Inquiry Metode Kuat

dan

Program Base Learning


Metode Lemah
Prestasi Belajar
(Y)
Program Base Learning
Metode Kuat

Kedua gambar di atas jika terminologi penelitian mengarah ke penelitian


komparasi (perbandingan antar metode kuat dan lemah dalam pengaruhnya
terhadap prestasi belajar).

D. Hipotesis
Jika penelitian korelasional, maka hipotesis penelitian berbunyi:
1. Terdapat pengaruh positif strategi pembelajaran inquiry terhadap prestasi
belajar
2. Terdapat pengaruh positif program base learning terhadap prestasi belajar
3. Terdapat pengaruh positif strategi pembelajaran inquiry dan program base
learning terhadap prestasi belajar
Jika penelitian komparatif, maka hipotesis penelitian berbunyi:
1. Terdapat perbedaan strategi pembelajaran inquiry antara metode lemah dan
metode kuat terhadap prestasi belajar
2. Terdapat perbedaan program base learning antara metode lemah dan metode
kuat terhadap prestasi belajar

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Definisi Operasional
Dalam definisi operasional disajikan indikator dari masing-masing variabel
penelitian dengan mengacu pada bahasan konsep dan teori di bab kedua, dan
nantinya akan dituangkan dalam pertanyaan di kuesioner.
1. Strategi Pembelajaran Inquiry adalah bla... bla... bla...
Diukur dengan indikator sebagai berikut:
a. Taraf .....
b. Intensitas ....
c. Tingkat ......
d. Frekuensi .....
e. Banyaknya .....
f. Jumlah ......
2. Program Base Learning adalah bla.... bla....bla....
Diukur dengan indikator sebagai berikut:
a. Taraf .....
b. Intensitas ....
c. Tingkat ......
d. Frekuensi .....
e. Banyaknya .....
f. Jumlah ......
3. Prestasi Belajar adalah bla.... bla....bla....
Diukur dengan indikator sebagai berikut:
a. Taraf .....
b. Intensitas ....
c. Tingkat ......
d. Frekuensi .....
e. Banyaknya .....
f. Jumlah ......
Namun jika prestasi belajar yang dimaksud adalah pencapaian nilai akhir
siswa contohnya dalam mata pelajaran Matematika, maka indikator cukup
ambil nilai siswa pada semester tertentu. Misal pencapaian nilai siswa A
untuk mata pelajaran Matematika sebesar 7,8, siswa B sebesar 8,0, dan
seterusnya, sehingga indikatornya:
a. Nilai pencapaian hasil akhir siswa pada semester bla... bla.... bla...
B. Jenis dan Sumber Data
1. Data Primer
Data primer menurut Sutrisno Hadi (2004:134) adalah data yang didapat
langsung dari sumbernya. Data tersebut berupa jawaban responden atas
pertanyaan yang diajukan peneliti melalui kuesioner mengenai variabel–
variabel strategi pembelajaran inquiry, program base learning dan prestasi
belajar.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari
sumber utama penelitian, baik berupa keterangan maupun data yang ada
hubungannya dengan penelitian yang sifatnya melengkapi atau mendukung
data primer. Data sekunder bisa berupa; monografi sekolah, karya ilmiah yang
relevan dengan penelitian, kajian pustaka dan lain sebagainya.

C. Populasi dan Sampel

1. Unit analisis
Sebagai unit analisis atau elemen penelitian ini adalah siswa kelas XXX
di lokasi penelitian (SMA XYZ).

2. Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari unit analisis yang diteliti. Berdasarkan
observasi yang telah dilakukan, jumlah siswa kelas XXX di SMA XYZ
sebanyak berapa siswa (nyatakan secara fix). Pemilihan siswa kelas XXX ini
adalah berdasarkan atas pertimbangan bahwa siswa bersangkutan sesuai
dengan karakteristik dari variabel penelitian ini, dan memenuhi unsur
avaibilitas penelitian.

3. Sample Size
Pengertian sample size menurut Sutrisno Hadi (2004:199) adalah
“sebagian individu yang diselidiki, atau contoh (monster)”. Untuk
mendapatkan jumlah responden yang representatif, maka digunakan rumus
sample size dari sebagaimana dibawah ini.
N Z 2 p (1 − p )
n = ------- (Social Survey Series, 2000:8)
N d 2 + Z 2 p (1 − p )
Keterangan :
n = jumlah responden yang diambil sebagai sampel (sample size)
N = banyaknya populasi 2.048
Z = nilai normal untuk kepercayaan 95% = 1,96
p = harga patokan tertinggi (0,50)
d = sampling error (0,10)
Bila angka-angka tersebut dimasukkan dalam rumus akan dapat
ditentukan jumlah responden yang diharapkan dapat mewakili populasi yang
ada secara representatif. (Ambil contoh populasi sebanyak 2.048), sehingga
perhitungannya adalah:
2048 (1,96 ) 2 0,50 (1 − 0,50 )
n =
2048 (0,10 ) 2 + 1,96 2 0,50 (1 − 0,50 )
2048 x 3,8416 x 0,50 x 0,50
n =
2048 x 0,01 + 3,8416 x 0,50 x 0,50
1966 ,8992
n =
20 ,48 + 0,9604
1966 ,8992
n =
21,4404
n =91,74
Jadi dari seluruh populasi yang berjumlah 2.048 siswa, diambil 91,74
siswa dan untuk lebih meningkatkan representitas dibulatkan menjadi 100
responden.

4. Metode Pengumpulan Data


Dalam melakukan penelitian perlu diusahakan untuk mengumpulkan
data sesuai dengan masalah penelitian, karena dari apa yang diperoleh
tersebut digunakan untuk memecahkan masalah penelitian. Penelitian ini
menggunakan instrumen data kuesioner yang dibawakan kepada responden
dengan metode.
a. Wawancara
Kepada responden diajukan daftar pertanyaan untuk diisikan jawabannya,
melalui metode wawancara dan tanya jawab sepihak yang dikerjakan
dengan sistematis dan terstruktur.
b. Observasi
Observasi merupakan cara pengumpulan data dengan mengadakan
pengamatan secara langsung pada obyek penelitian. Penelitian melalui
observasi biasanya dilakukan sebelum penelitian sesungguhnya
berlangsung. Fungsinya sebagai relevansi atas permasalahan yang hendak
dibuktikan kebenarannya. Observasi dilakukan untuk memperoleh
informasi tentang kelakuan manusia seperti terjadi dalam kenyataan.

5. Metode Analisis Data


Metode analisis data yang digunakan adalah :
a. Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif yaitu analisis untuk membahas hasil penelitian dengan
menggunakan bahasa verbal berdasarkan data penelitian yang
dihubungkan dengan teori yang ada dan dimaksudkan untuk memperjelas
hasil perhitungan kuantitatif.
b. Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif berupa angka-angka hasil pengolahan data dengan
menggunakan alat analisis yang sesuai untuk menginterprestasikan hasil
penelitian.

6. Pengujian Instrumen Data


a. Uji Validitas
Uji validitas bertujuan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu
kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada
kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh
kuesioner tersebut. Dalam hal ini digunakan beberapa item pertanyaan
yang dapat secara tepat mengungkapkan variabel yang diukur tersebut.
Uji ini dilakukan dengan menghitung korelasi antara masing-masing skor
item pertanyaan dari tiap variabel dengan total skor variabel tersebut.
Uji validitas menggunakan korelasi product moment dari Pearson
(Husaini Usman, 2000):
Uji validitas menggunakan korelasi product moment dari Pearson (Husein
Umar, 2000) :

rxy =
n∑ XY − (∑ X ) (∑ Y )
2 2

(n ∑ X − (∑ X )) (n ∑ Y − (∑ Y ))
2 2

Keterangan :
rxy : koefisiensi korelasi (r-hitung)
∑X : skor variabel independen
∑Y : skor variabel dependen (perilaku hidup sehat)
∑XY : hasil kali skor butir dengan skor total
n : jumlah responden
Pengujian validasi pada taraf signifikan yang digunakan adalah (α ) =
5% yaitu apabila r-hitung ≥ r-tabel maka kuesioner dinyatakan valid
begitu pula sebaliknya apabila r-hitung < r-tabel maka kuesioner
dinyatakan tidak valid.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas bertujuan untuk mengukur konsistensi variabel penelitian.
Suatu kuesioner dikatakan reliable atau handal jika jawaban seorang
responden terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke
waktu. Suatu alat pengukur dikatakan reliable bila alat itu dalam
mengukur suatu gejala pada waktu yang berlainan senantiasa
menunjukkan hasil yang sama. Jadi, alat yang reliable secara konsisten
memberi hasil ukuran yang sama. Tingkat reliabilitas suatu variabel dapat
dilihat dari hasil uji statistik Cronbach Alpha. Suatu variabel dikatakan
reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60 (Nunnally dalam
Ghozali, 2001). Dalam penelitian ini, uji reliabilitas dilakukan dengan
cara One Shot atau pengukuran sekali saja. Di sini pengukuran hanya
sekali saja, kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau
mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan. SPSS memberikan fasilitas
atau mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha ( ∝ ).
Uji reliabilitas berguna untuk mengetahui apakah seluruh data yang telah
diperoleh benar-benar akurat dan fleksibel. Untuk menguji reliabilitas
variabel penelitian digunakan rumus Alpha Cronbach, dengan kaidah:
• Jika koefisien alpha < 0,6, maka dinyatakan butir-butir variabel yang
diteliti tidak reliabel.
• Jika koefisien alpha ≥ 0,6, maka dinyatakan butir-butir variabel yang
diteliti reliabel.

7. Pengujian Hipotesis
a. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda menurut Anto Dajan (1994:325)
menggunakan rumus:
Y = b1X1 + b2X2
Keterangan :
Y = Prestasi belajar
X1 = Strategi Pembeljaran Inquiry
X1 = Program Base Learning
b1,dan b2 = koefisien regresi
b. Uji F atau F-test
Uji F berguna untuk menguji hipotesis mayor atau hipotesis penelitian
nomor 3. Pengujian hipotesis menggunakan uji F dengan rumus (Sutrisno
Hadi, 2000 : 39) :
R 2 (N − m − 1)
F =
m (1 − R 2 )
Keterangan :
F = nilai F atau F-hitung
R = koefisien korelasi berganda
N = Jumlah sampel
m = Jumlah variabel bebas
Penentuan penerimaan atau penolakan hipotesis:
a) Apabila F hitung ≥ F tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima
b) Apabila F hitung < F tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak
Ho = Diduga tidak terdapat pengaruh dari variabel bebas (X1 dan
X2) secara simultan terhadap prestasi belajar (Y).
Ha = Diduga terdapat pengaruh dari variabel bebas (X1 dan X2)
secara simultan terhadap prestasi belajar (Y).
Gambar 3.1
Pengujian F (F-Test)

Uji F
Daerah penerimaan Ha
atau Daerah penolakan Ho

Daerah penolakan H1 atau


Daerah penerimaan Ho

0 Ftabel Fhitung
c. Uji t
Uji berguna untuk pengujian hipotesis minor atau hipotesis nomor 1 dan
nomor 2. Uji t atau t –test dengan rumus (J. Supranto, 1998:95) sebagai
berikut :
r n −2
t =
1 −r2
Keterangan =
r = Koefisien korelasi
t = Nilai kritis t yang dicari
n = Jumlah sampel
Ho = Diduga tidak terdapat pengaruh dari variabel bebas (X1 dan X2)
secara sendiri-sendiri (partial) terhadap prestasi belajar (Y).
Ha = Diduga terdapat pengaruh positif dari variabel bebas (X1 dan
X2) secara sendiri-sendiri (partial) terhadap prestasi belajar (Y).
Penentuan pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :
• Apabila t hitung ≥ t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini
berarti terdapat pengaruh positif yang signifikan dari variabel bebas
secara sendiri-sendiri (partial) terhadap prestasi belajar.
• Apabila t hitung < t tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak. Hal ini
berarti tidak terdapat pengaruh positif yang signifikan dari variabel
bebas secara sendiri-sendiri (partial) terhadap prestasi belajar.
Gambar 3.2
Uji T (T-Test)

Perhitungan Uji t

Daerah penerimaan Ha atau


Daerah penolakan Ho

Daerah penerimaan Ho
atau Daerah penolakan Ha

ttabel thitung

d. Koefisien Determinasi
Adapun untuk mengetahui besarnya pengaruh yang diberikan oleh kedua
variabel bebas terhadap variabel prestasi belajar digunakan rumus
koefisien determinasi. Koefisien Determinasi (R2) pada intinya mengukur
seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel
terikat. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R 2
yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel bebas dalam menjelaskan
variasi variabel terikat sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti
variabel-variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang
dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat. Kelemahan
mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah
variabel terikat yang dimasukkan ke dalam model. Oleh karena itu banyak
peneliti menganjurkan untuk mengajukan nilai adjusted R2 pada saat
mengevaluasi mana model regresi terbaik.